Apa yang Tidak Dibicarakan Ketika Membic

17 

Teks penuh

(1)

Apa yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Lagu Cinta Irfan R. Darajat Beberapa orang memandang bahwa lagu cinta adalah sebuah kenistaan, terlepas dari persoalan kehidupan sehari-hari; terisolasi. Beberapa kritik dialamatkan kepada deret lagu populer yang berbicara soal cinta, baik dari rezim maupun penulis kritik musik. Remi Sylado pernah mengungkapkan kritiknya dalam “Satu Kebebalan Sang Mengapa”. Ia mempersoalkan bagaimana lagu populer Indonesia berhenti pada pertanyaan mengapa, dan tak kunjung beranjak pada perenungan atas pertanyaan tersebut; bebal1. Abdurrahman Wahid tak berbeda, dalam pandangannya lagu cinta populer yang banyak terdengar di sekitar kita tidak memberikan fungsinya sebagai bahan edukasi.2 Ada pula pandangan yang memisahkan lagu protes dengan lagu cinta; lagu politik dan lagu cinta.3 Kalaupun benar adanya sebutan lagu protes itu, lalu bagaimana jika protes dan gugatan dialamatkan kepada seseorang yang telah membuat remuk hatinya? Bukankah itu sebuah protes? Persoalan politik hidup harian? Lalu bagaimana dengan lagu yang tidak membicarakan cinta maupun protes? Bagaimana menempatkan lagu tersebut? Hal inilah yang kemudian menuntut kehati-hatian dalam melakukan kategorisasi pada tema lagu dalam sebuah kritik.

Sebelum terlalu terburu-buru dan lebih jauh membuat kesimpulan yang tak jelas, ada baiknya untuk mencoba melakukan penilikan ulang terhadap definisi politik. Urusan politik bisa jadi tidak melulu persoalan protes masyarakat dan negara, atau urusan negara yang menekan rakyatnya. Urusan politik bisa jadi menjadi urusan yang biasa kita temui sehari-hari dan mungkin remeh-temeh.4

Melakukan usaha pembongkaran atas sikap politik lagu-lagu cinta mungkin saja menjadi usaha yang muskil. Tapi, mencoba membaca lagu cinta pada era tertentu bisa jadi cara yang baik untuk memahami alam pikir dan konteks keseharian sebuah masyarakat. Meskipun tidak sesederhana itu pula, lagu cinta yang dibicarakan dalam tulisan ini akan serta-merta mendemonstrasikan langsung apa yang terjadi pada konteks sosial di luar. Melalui lirik-lirik lagu cinta kiranya kita dapat melacak dan memperkirakan diskursus yang tersirat di dalamnya—sebuah wacana akan hal tertentu.

1 Remy Sylado, Satu Kebebelan Sang Mengapa, Jurnal Prisma bulan Juni 1977, halaman 23 – 31.

2Disarikan dari Gus Dur dan Kritik Musik Pop Indonesia,s

www.tribunnews.com/tribunners/2011/08/29/gus-dur-dan-kritik-musik-pop-indonesia-1

3 WarningMagz! Edisi #5, Folk: They Are A Changin.

(2)

Semua Sama di Hadapan Musik Pop

Sedikit mengulang kilasan sejarah, musik pop kerap kali ‘diatur’ oleh rezim sebagaimana diharapkan menjadi representasi atas identitas dan karakter bangsa. Kenangan tentang terminologi ‘ngak ngik ngok’ yang dimaklumatkan oleh Presiden Sukarno tentu telah menunjukkan bukti yang kuat. Koes Plus— dan pemusik pop lain pada zamannya—harus secara tidak langsung ikut bertanggung jawab dalam membentuk identitas dan karakter bangsa melalui musiknya.5 Harmoko, sebagai representasi rezim Suharto pun demikian dalam memperlakukan Betharia Sonata. Dengan jelas Harmoko memberi pernyataan bahwa lagu yang dilantunkan oleh Betharia Sonata, ‘Hati yang

Luka’, memberi pengaruh yang tidak baik bagi masyarakat karena dianggap

cengeng dan tidak mencerminkan kepribadian bangsa atau masyarakat pada

saat itu6.

Nasib buruk sepertinya memang menaungi musik pop; sebagai varian musik yang berada di wilayah industri kehadirannya kerap ditanggapi dengan sinisme. Kritik terhadap lagu cinta banyak diarahkan kepada lirik dan tema. Sedangkan kedudukan komposisi musik, penggunaan instrumen, dan struktur lagu dianggap sudah mentok pada keterikatan terhadap pengaruh standardisasi musik pop barat.

Membicarakan sisi lain dari lagu cinta populer dalam tulisan ini menjadi penting. Setidaknya kita dapat melihat musik pop sebagai karya yang dapat memunculkan diskusi lain selain kemerosotan kualitas karya. Di samping itu, kita pun lantas berkesempatan mendudukkan lagu-lagu cinta pada posisi yang setara dengan lagu bertema lain.

5 Hal ini berlangsung pada antara tahun 1930-1960, dan pada tahun akhir 1950 arus musik Rock ‘n Roll menjadi sangat digandrungi kaum muda Indonesia, dengan kiblat musik bergaya The Comet, Elvis Presley, The Beatles, The Rolling Stones. Keadaan ini meresahkan Presiden Soekarno, karena dia menganggap era ini adalah era untuk melawan semua bentuk penjajahan atau yang dia sebut sebagai kolonialisme dan imperialisme, dan membangun karakter bangsa. Musik yang demikian itu kemudian disebut oleh Bung Karno sebagai musik “ngak-ngik-ngok”. Seperti dikutip dalam Penemuan Kembali Revolusi Kita: Manifesto Politik Bung Karno, Penerbitan Chusus Pemuda, Jakarta, 1959. Hal. 27: “Dan engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi... ...engkau jang menentang imprialisme politik; kenapa di kalangan engkau banjak jang tidak menentang imprialisme kebudajaan? Kenapa di kalangan engkau banjak jang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansi-dansian ala cha-cha- cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainja lagi? “

(3)

Kekosongan pesan dan makna, alienasi, dan tidak peka terhadap sekitar seringkali menjadi kata sakti untuk menjelaskan betapa lagu cinta tiada gunanya. Bagaimana jika pandangan lain mengemukakan bahwa lagu cinta memiliki sisi politisnya sendiri? Lantas di mana, dan bagaimana caranya bekerja? Mari kita simak lirik berikut;

Kangen (Dewa 19, 1992)

Ku terima suratmu, t’lah kubaca dan aku mengerti Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku

Di dalam hari-harimu, bersama lagi

Kau tanyakan padaku kapan aku akan kembali lagi Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada

Yang membara menahan rasa pertemuan kita nanti Saat bersama dirimu

Semua kata rindumu

Semakin membuatku tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa

Percayalah padaku akupun rindu kamu Ku akan pulang melepas semua kerinduan

Yang terpendam...

Kau tuliskan padaku kata cinta Yang manis dalam suratmu Kau katakan padaku saat ini

Kuingin hangat pelukmu Dan belai lembut kasihmu

Takkan kulupa s’lamanya Saat kau ada di sisiku

Jangan katakan cinta Menambah beban rasa Sudah simpan saja sedihmu itu

(4)

Dengan melihat bangunan cerita yang disusun dalam lirik lagu ini, dapat dilihat beberapa faktor dan elemen yang penting dalam lagu ini. Pertama, persoalan jarak dan media komunikasi. Keterputusan perjumpaan fisik dan kurangnya komunikasi yang terbangun antar sepasang kekasih ini disebabkan oleh jarak yang jauh. Media komunikasi yang coba dihadirkan dalam lagu ini adalah surat. Surat memiliki efek delay dalam pengiriman dan penerimaan pesan. Lagu ini lebih bersifat solilokui setelah menerima surat balasan dari surat yang mungkin saja telah dikirimkan sebelumnya.

Kata ‘pertemuan’ tercatat muncul dalam lirik lagu ini. Mengisyaratkan bahwa mereka telah merencanakan pertemuan. Tapi, tidak hanya rasa rindu yang coba dimunculkan dalam lagu ini, ‘Aku’ liris dalam lagu ini pun mencoba untuk menghapus keraguan yang muncul dari kekasihnya. Terbaca pada kalimat, “Percayalah padaku akupun rindu kamu / Ku akan pulang melepas semua kerinduan / Yang terpendam // … Jangan katakan cinta / Menambah beban rasa / Sudah simpan saja sedihmu itu / Ku akan datang//”.

Membayangkan bahwa lagu ini memiliki kekosongan pesan rupanya agak sulit bagi saya. Mendudukkan lagu ini pada kondisi individualis dan terasing mungkin memang ada benarnya, tapi, melihat pada konteks zaman di mana lagu ini ditulis akan memberikan gambaran bahwa kejadian ini bukanlah persoalan yang semata-mata mengada-ada. Kita bisa membayangkan seorang pekerja luar kota yang setiap harinya menghabiskan waktu bekerja dan membanting tulang, dan tidak sempat mengurusi persoalan politik apalagi filsafat, tentu akan mudah menemui saat-saat menyendiri dalam istirahatnya—yang mungkin hanya sejenak—untuk merindukan kekasihnya. Pada tataran inilah diskursus yang ada dalam lagu ini bekerja, membicarakan suasana hati yang personal. Dengan mengaitkan tema yang personal ini pada person-person yang lain, maka terjadilah sebuah diskursus intra-personal. Demikianlah bagaimana lagu ini sulit untuk ditampikkan dari dalam benak pendengarnya. Ia menjadi representasi suara hati yang lirih.

(5)

kerinduan kini dipersepsikan, jika telah tersedia berbagai macam media komunikasi untuk mengatasinya.

Dalam persoalan ini, saya tidak menafikan bagaimana lagu ini ada pada wilayah musik pop. Musik pop sendiri adalah musik niaga, industri musik tentu akan memikirkan laba. Hal tersebut sudah merupakan hukum pasti. Kemudian dari situ, tentu kita dapat berperilaku adil dalam mendudukkan semua tema dalam musik pop.

Ambil contoh, lagu bertemakan protes milik Iwan Fals. Ketika Bento” atau

Bongkar” masuk ke wilayah musik pop, lagu ini pun sudah seharusnya dipandang sebagaimana memandang lagu bertema lain pada wialayah musik pop. Sama dalam hal ada pada wilayah komoditas. Standardisasi, kategorisasi, dan komodifikasi tentu berjalan dalam logika produser album ini.7

Lagu “Bento” dan atau “Bongkar”memang memiliki efek untuk menimbulkan kesadaran kritis dan membicarakan hal lain di luar diri sendiri. Ia ada pada wilayah komunal, ia bisa mendapat perilaku represif rezim, pembredelan dan segala macam tindakan lain yang politis secara telanjang. Tapi, ada pula efek samping yang kemudian harus dideritanya sebagai lagu pop. Ia telah menjadi mitos, lagu dan sosok Iwan Fals menjadi simbol pemberontakan pada zamannya, kini telah tunduk menjadi hanya sekadar slogan produk kopi instan.

Kedua lagu tersebut mungkin telah kehilangan makna relevansinya jika ditempatkan pada konteks masa sekarang. “Kangen” telah kehilangan media surat; jarak dan waktu telah dipangkas oleh media dan teknologi yang kita hadapi kini, sedangkan “Bento” dan “Bongkar” kerap kali hanya menjadi selebrasi atas glorifikasi sosok Iwan Fals, dan tak menumbangkan kuasa apapun dewasa ini.

Tema politik, protes, dan cinta personal bisa jadi memiliki kedudukan yang sama di mata industri: sebagai komoditas. Lagu cinta memang tidak serta-merta menunjukkan sisi lain yang politis dalam liriknya, namun ia dapat dibaca sebagai sebuah diskursus yang menandai zamannya. Konsep keterwakilan perasaan personal lewat lagu “Kangen”, dapat dimaknai sebagai penyambung suara hati, bahwa dia sedang menyanyikan derita yang tengah dirasakan oleh satu orang pada kondisi tertentu. Dari satu person yang juga dirasakan oleh person lain, ia menjadi inter-personal.

Hal inilah yang mendorong saya menawarkan pandangan untuk adil dalam melihat setiap tema dalam musik pop. Bahwa dalam lagu protes juga lagu

(6)

cinta, jika ditelusuri secara menyeluruh dan dibaca sesuai gerak zaman, dapat dilacak suatu diskursus tertentu, yang lekat pada periode tertentu dan bersifat sangat sementara.

Reproduksi dan Modifkasi Tema Lagu Cinta

Pada tahun awal dekade ‘90an, Slank menulis lagu dengan lirik yang secara tema membicarakan cinta. Tapi, dalam diskursus yang lebih jauh lagi dia membicarakan kelas sosial yang berbeda antara golongan pemuda kaya dan tak punya. Pun demikian, Slank menuliskannya dengan nuansa optimisme untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis pujaan yang disebut sebagai “Mawar Merah”.

Mawar Merah (Slank, 1991)

Memang ku tak mampu belikan dia perhiasan Tak pernah atau memberi kemewahan

Tapi kuyakin dia bahagia Tanpa itu semua…

Walau memang dirimu bernasib baik… Bapak lo kaya Yang s’lalu kau andalkan untuk mendapatkannya

Percuma kau dekati dia Karena cintanya pasti untukku Aya ya ya… Simpan saja uangmu Aya ya ya… Bawa pergi Mercy-mu Aya ya ya… Enyahlah dari bunga mawarku Aya ya ya… Enyahlah dari mawar merahku

Karena dia milikku

Memang penampilanku, juga rupaku slengean

Memang cara hidupku tak teratur pengangguran (kata orang sih!) Tapi kuyakin dia bahagia karena dia mawar merahku

(7)

dipermasalahkan olehnya. Dalam hal ini, Slank telah mewakili sebuah kelas sosial tertentu dalam wacana lagu cinta. Jurang kepercayaan diri yang cukup lebar yang terjadi pada masa itu dapat dipangkasnya. Kaum pas-pasan, atau tak punya bisa sedikit merasakan kemenangan dalam hal bersaing dengan orang kaya, setidaknya dalam lagu.

Lanskap teknologi media dan konteks sosial yang sedemikian turut berpengaruh dalam membentuk lanskap musik pop Indonesia. Tema cinta, harapan yang tak sesuai dengan kenyataan, patah hati, perselingkuhan terus menerus direproduksi.

Kau dan Dia (Ahmad Band, 1998) Hancur hatiku mengenang dikau Menjadi keping-keping setelah kau pergi

Tinggalkan kasih sayang yang pernah singgah antara kita Masihkah ada sayang itu

Memang salahku, yang tak pernah bisa Meninggalkan dirinya tuk bersama kamu

Walau tuk terus bersama Kan ada hati yang kan terluka

Dan ku tahu kau tak mau Sekali lagi maafkanlah Karena aku cinta kau dan dia

Maafkanlah ku tak bisa Tinggalkan dirinya

Mungkin tak mungkin untuk terus bersama Jalani semua cinta yang telah dijalani Tapi bila itu yang kau pikir yang terbaik untukmu

Bahagiaku untuk dirimu

Simpan sisa-sisa cerita cinta berdua Walau tak tersisa cerita cinta berdua

Still love her in my mind Still love her forever

(8)

lain jika dibandingkan dengan tema perselingkuhan pada tahun ‘80an. Betharia Sonata mengambil sudut pandang perselingkuhan dalam rumah tangga, sedangkan Ahmad Dhani mengambil konteks pacaran.

Konsep relasi yang terbedakan ini juga dapat dilihat sebagai perbedaan nilai. Generasi yang mendiami Lagu Ahmad Band ini kemudian memiliki kecenderungan untuk lebih menyeriusi pacaran sebelum berumah tangga. Mungkin kita bisa melacaknya pada komentar orang tua pada anaknya sewaktu saya masih berada di bangku Sekolah Menengah Pertama, atau Sekolah Menengah Akhir. Ketika ada teman yang pacaran lalu putus dan patah hati, dia akan bersedih-sedih ria, seperti hal itu merupakan akhir dunia dan komentar orang tua akan sampai pada, “baru pacaran ini, gagal nggak papa, toh juga masih SMP/SMA”.

Deretan grup musik seperti, Slank, Gigi, Padi, hingga Sheila on 7 memang tengah memancarkan sinarnya. Lagu-lagu mereka bahkan digemari di Malaysia. Temanya tentu saja tentang cinta, secara musikalitas mereka memang memiliki kualitas dan hal ini membuat mereka dapat menempati benak para pendengarnya, dan tentu saja industri musik besar menangkap hal tersebut dengan sangat gembira.

Sephia (Sheila on 7, 2000) Hey Sephia

Malam ini ku tak kan datang Tak usah kau berpaling sayang

Mencoba tuk berpaling sayang dari cintamu Hey Sephia

Malam ini ku takkan pulang

Tak usah kau mencari aku, demi cintamu Hadapilah ini

Kisah kita takkan abadi

Selamat tidur kekasih gelapku, oh Sephia S’moga cepat kau lupakan aku

Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk melupakanmu Slamat tidur kasih tak terungkap, oh Sephia

S’moga kau lupakan aku cepat

Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu Hey Sephia

(9)

bila kita bertemu lagi di lain hari

Sheila on 7 dalam lirik lagu Sephia telah kembali mengulang tema perselingkuhan. Dalam hal ini, ‘aku’ liris merelakan kekasihnya pergi bersama kekasih sejatinya. Dia menempatkan diri sebagai kekasih yang kedua dan dia mempopulerkan terminologi ‘kekasih gelap’. Tema perselingkuhan dan melankolia yang melingkupinya kembali diulang, dengan demikian perselingkuhan dan merelakan dirinya di selingkuhi menjadi sebuah pemakluman yang baru. Sekali lagi, bukan berarti serta merta lagu ini meniru atau membahasakan kejadian umum pada masyarakat, dan bahwa gosip yang melatari lagu ini berdasar pada kisah nyata tentu tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Urusan personal dan remeh-temeh, pada tulisan ini merupakan urusan yang paling penting untuk disoroti.

Kasih Tak Sampai (Padi, 2001) Indah begitu indah

Bila kita terbuai dalam alunan cinta Sedapat mungkin terciptakan rasa

Keinginan tuk saling memiliki

Namun bila itu semua dapat terwujud dalam satu ikatan cinta Tak semudah seperti yang pernah terbayang

Menyatukan perasaan kita Tetaplah menjadi bintang di langit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari lama ini Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua Sudah Terlambat sudah Kini semua harus berakhir

Mungkin inilah jalan yang terbaik Dan kita mesti relakan kenyataan ini

(10)

Remi Sylado dalam “Satu Kebebalan Sang Mengapa”, bahwa persoalan cinta yang muncul dalam lirik lagu pop Indonesia hanya mengemukakan persoalan, pertanyaan sang mengapa, dan tak pernah berhasil menjawabnya. Pada lagu ini, perenungan dilakukan si ‘aku’ liris, dan kerelaan merupakan suatu jalan keluar yang ditawarkan dalam menghadapi persoalan kasih tak sampai.

Lagu-lagu yang disebutkan di atas memang tidak serta-merta menggambarkan apa yang terjadi pada kondisi sosial sekitar, bukan juga kumandang heroik tentang mahasiswa yang berhasil menggulingkan rezim. Namun setidaknya, lagu ini patut dicatat sebagai penanda varian lagu cinta melankolia yang menggambarkan pergeseran nilai dalam menyikapi sebuah hubungan asmara yang menyasar langsung kepada generasi muda. Pada zaman setelah ini, tidak dibahas lagi tentang rezim yang merasa keberatan dengan lagu cinta yang menimbulkan melankolia berkepanjangan. Tema lagu cinta dan melankolia ini terus-menerus direproduksi. Secara garis besar, tema yang diangkat masih berada pada wilayah yang sama. Patah hati, perselingkuhan, dan konsep sepasang kekasih.

Slank memberikan tempat bagi kaum muda kalah dalam percintaan lewat lagu “Mawar Merah”. Tentu kita dapat melihat jelas keberpihakkan Slank yang menjadi representasi kaum tersebut. Tema cinta segitiga dalam “Aku Cinta Kau dan Dia” dengan “Sephia” dapat kita maknai secara berbeda meski tema besarnya sama. Dari sini kita dapat melihat pergeseran tema yang diulang, namun telah dimodifikasi. Dari pembacaan ini pula, dapat kita temui bagaimana nilai dan diskursus yang bergeser. Selanjutnya, apakah dapat dengan mudahnya kita simpulkan bahwa lirik lagu di sini merupakan cermin dari apa yang terjadi dalam masyarakat? Tentu kita tak boleh juga terburu-buru menyimpulkan hal tersebut.

Namun, ilham penulis lagu tersebut untuk memunculkan diskursus tersebut pastinya tidak didapat dari ruang hampa. Mereka pun hidup dalam suasana tertentu, dalam relasi-relasi tertentu, dalam pewacanaan sistem, kelas, dan nilai-nilai sosial tertentu. Bisa jadi mereka berada di wilayah yang terisolasi, namun ketika pengalaman mereka dituangkan dalam sebuah lagu, dan berada pada wilayah populer maka diskursus tersebut akan tersebar. Dalam hal ini, kita bisa melihat, bukan apa yang memengaruhi apa, tapi bagaimana mereka saling memengaruhi, karena sesungguhnya wacana itu bersifat produktif.

Musik Sebagai Pengetahuan

(11)

media cetak. Perkembangan televisi sedang berada pada puncaknya. Optimalisasi kanal informasi dan suguhan hiburan terfokus pada televisi. Grup musik pada saat itu memiliki kanal yang jelas dan terpusat dalam hal media promosi. Televisi menjadi acuan siapa yang telah menjadi bintang besar dan siapa yang belum; sederhananya dengan ukuran apakah ia pernah muncul di TV.

Televisi merupakan ruang tersendiri bagi acara musik, tangga lagu dihadirkan dengan sistem yang diadopsi dari radio.8 Selain konteks media yang sedemikian itu, jangan lupakan pula konteks sosial pada zaman tersebut. Kala itu, geliat protes terhadap rezim Suharto telah jadi benih yang pada akhirnya nanti dipanen pada pecahnya gerakan Reformasi.

Relasi anak muda dengan rezim Orde Baru dapat dilihat sebagai relasi yang berstruktur bapak-anak. Pada masa ‘70-‘80an, persoalan gaya rambut dan berpakaian, juga selera musik diatur oleh negara. Pemuda dibentuk dengan nilai ideal dalam masyarakat Jawa, juga impian hidup, cara hidup dan jalan hidup pemuda dibentuk dengan membangun impian hidup ideal pada masa itu.9 Krisis moneter yang melanda Indonesia kemudian mengubah pandangan ini, sekaligus memunculkan sebuah gerakan dan pola pikir yang baru dalam benak pemuda, konsep ‘yang senang aja’—melakukan apa yang disenangi dan dinikmati—bekerja pada sebagian pemuda dari kelas menengah.10 Hal inilah yang menjelaskan kehadiran lagu-lagu cinta top hits yang dianggap terlepas dari konteks sosial (geliat reformasi) sekitar pada saat itu, sementara lagu-lagu perjuangan dikumandangkan di kampus-kampus. Tentu perkembangan lagu tersebut tidak dapat dijadikan pengetahuan yang dengan mudah dapat tersebar secara mudah, massal, dan populer. Pengetahuan ini hanya dimiliki oleh kelas intelektual yang terlibat dalam pergerakan kampus.

Masa setelah reformasi memberikan lanskap baru dalam perkembangan musik pop di Indonesia. Perkembangan media, teknologi, infotainment, menjadi poin utama dalam masa ini. Jika pada era ‘90an, media masih terpusat pada televisi, maka lain dengan masa 2000an. Munculnya variasi media teknologi komunikasi turut berperan dalam membentuk lanskap tersebut.

Televisi pada era ‘90an memberi informasi yang kemudian berlanjut dari lanskap musik yang kita hadapi sekarang. Indosiar pernah menayangkan deret lagu pop melayu asal Malaysia. Pada saat yang bersamaan siaran

8 Beberapa Stasiun Televisi Swasta memiliki acara tangga lagu populer seperti Delta (deretan Lagu Terbaik), MTV Ampuh (Ajang musik Pribumi Dua Puluh).

9 Lihat Aria Wiratma Yudhistira, Dilarang Gondrong!; Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an, Marjin Kiri, 2010.

(12)

televisi Music Television dapat diakses oleh beberapa orang di Indonesia.11 Meskipun mereka memiliki siaran khusus musik Indonesia, tapi siaran ini bersifat lebih internasional. Mereka menampilkan deret grup musik seperti

Oasis, Blur, Nirvana, Pearl Jam, Guns N Roses, dan banyak lagi. Hal ini berdampak pada pengetahuan musik selain musik Indonesia dan kemunculan genre musik serupa di Indonesia. Sementara itu, musik melayu tidak begitu digemari pada saat itu.

Raka Ibrahim membuat catatan tentang musik pop Indonesia yang belakangan dianggap murahan,12 dengan meminjam analisis Xenocentrism pada artikel Jeremy Wallach.13 Raka menceritakan bagaimana kesadaran akan stratifikasi kelas tercermin dalam strategi pemasaran industri musik kita. Produksi rilisan musik pada saat itu disesuaikan dengan konsumennya. Selanjutnya, fenomena musik pop yang terjadi masa kini seringkali dianggap sebagai hal yang tak berkesinambungan. Band pop melayu yang sempat mewabah di Indonesia dianggap sebagai sebuah ujug-ujug yang sulit dimengerti sebabnya. Menurut saya, fenomena ini terjadi bukan tanpa sebab. Kemunculan ini harus dilihat sebagai sebuah dampak yang terjadi secara sistematis. Hal ini dapat ditelusuri melalui anatomi perkembangan media dan gerak zaman yang terjadi.

Musik pop melayu, yang dulunya tidak begitu diminati kini menjadi bertebaran karena dia tetap berada di wilayah media televisi, sementara musik-musik pop yang banyak dihadirkan oleh MTv bergeser medianya. Produksi dan konsumsi musik di Amerika dan Eropa telah bergeser. Mereka hadir di media internet seperti Youtube, iTunes, Soundcloud, dan sebagainya. Pola konsumsi dalam era internet pun telah bergeser yang kemudian memunculkan aktivitas unduh gratis, atau kemudian disebut pembajakan. Awalnya, perbedaan kelas ini akan terlihat jelas dengan menentukan pilihan medianya. Siapa yang konsumsi musik dari televisi maka akan dihidangkan dengan acara musik pagi, dengan grup musik dan warna musik yang itu-itu saja. Siapa yang proaktif mencari dan menambah pengetahuan tentang grup musik atau warna musik yang berkembang secara internasional akan menjauhi televisi. Dia akan mencari melalui internet.

11 Tercatat sejak Mei 1995 MTV mulai tayang di Televisi Indonesia. MTV merupakan saluran televisi yang sebagian besar kontennya berisi musik dan budaya anak muda. Awalnya MTV muncul serentak berdasar kawasan Asia dan tayang pada layanan

13 Jeremy Wallach, Exploring Class, Nation, and Xenocentrism in Indonesian Cassette

(13)

Grup musik yang hidup di televisi akan dibesarkan dengan sensasi dan infotainment, bukan hanya sekadar lagunya. Hal ini yang membuat sifat kehadiran mereka sementara, dibahas menjadi buah bibir di mana pun dan sesegera mungkin hilang dan berganti dengan yang baru. Pola ini berulang. Dengan logika musik pop sebagai komoditas, mestinya hal ini tak lagi mengejutkan, karena hal ini merupakan siasat dagang pula. Adalah Kangen band, Wali, dan sederet grup pop-Melayu yang kemudian muncul, terkenal, dan tenggelam. Melalui kontroversi, infotainment, dan semua hal selain musik mereka, yang muncul setelah delay beberapa tahun lamanya.

Penantian yang Tertunda (Kangen Band, 2007) Kumohon kau mengerti cobalah kau tabahkan hati

Mungkin di saat ini cinta kita sedang diuji Tegarkanlah hatimu oleh siksa orang tuamu Kuyakin kita mampu bila kita saling menunggu Saat kita melangkah dandani sayap cinta yang patah

Kuyakin engkau setia untuk selama lamanya Kuyakin engkau bidadari dalam tidurku Kuyakin engkau yang pantas aku tunggu Kuyakin engkau hadir dalam mimpi indahku

Kau yang terbaik bagiku dan nomor satu

Ku kan slalu tetap menunggu walau sebagai simpananmu Ku kan slalu tegar menanti walau engkau takkan kumiliki Ku kan slalu tetap menunggu walau hanya kekasih gelapmu

Ku kan slalu tegar menanti hingga saat nafasku terhenti

Terlihat bagaimana Kangen band menyusun lirik seperti mozaik dari lirik-lirik yang telah muncul sebelumnya pada band sebelumnya. Judul lagu ini nyaris sama dengan album milik Padi pada tahun 2001 yang berjudul ‘Sesuatu yang Tertunda’, frasa dalam lirik lagu ini yang berbunyi ‘sayap cinta yang patah’ telah dipopulerkan oleh Dewa 19 pada lagu berjudul ‘Sayap-Sayap Patah’, dalam album Bintang Lima tahun, dan frasa ini pun telah dipopulerkan oleh Kahlil Gibran pada tahun-tahun jauh sebelumnya. Frasa selanjutnya adalah ‘Kekasih Gelapku’ yang dipopulerkan oleh Sheila on 7 dalam lagu Sephia. Frasa ini kemudian menjadi frasa yang paling sering digunakan dalam menyebut selingkuhan.14

(14)

Begitu pula lagu dari Wali;

Cari Jodoh (Wali, tahun?) Apa salahku apa salah ibuku

Hidupku dirundung pilu

Tak ada yang mau dan menginginkan aku Tuk jadi pengobat pilu

Tuk jadi penawar rindu Tuk jadi kekasih hatiku Timur ke barat selatan ke utara

Tak juga aku berjumpa

Dari musim duren hingga musim rambutan Tak kunjung aku dapatkan

Tak jua aku temukan Oh Tuhan inikah cobaan

Ibu-ibu, bapak-bapak Siapa yang punya anak Bilang aku aku yang tengah malu

Sama teman-temanku

Karna cuma diriku yang tak laku-laku Pengumuman-pengumuman

Siapa yang mau bantu Tolong aku kasihani aku Tolong carikan diriku kekasih hatiku

Siapa yang mau Ibu bapak punya anak

Bilang-bilang aku aku yang tengah malu Sama teman-temanku

Karena cuma diriku yang tak laku-laku

(15)

Kelas sosial yang tak memiliki akses terhadap media selain televisi dan radio tentu menjadikan Wali ini pemusik idola.

Lain halnya kelas menengah, kaum terdidik sudah lama bermigrasi media dalam mengkonsumsi musik. Youtube, streaming menjadi media baru dalam perkembangan era ini. Mereka hanya bisa mencela dan menjauh, mencela dari kejauhan dan menyepi di tempat keramaian yang lain: media sosial. Mereka memiliki pengetahuan untuk memilih apa yang akan mereka cari di internet.

Lalu bagaimana dengan kini, ketika akses terhadap media telah sama mudahnya? Kemunculan ponsel pintar dengan harga murah telah tersedia, semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memiliki akses dan pengetahuan yang sama? Tidak sesederhana itu. Pengetahuan yang dimaksud di sini adalah bukan semata-mata akses. Kita perlu memahami bahwa apa yang terjadi dalam perkembangan media dan teknologi di sekitar kita berlangsung tidak merata dan tidak serta merta. Ada gap dan delay yang terjadi. Kelas yang terbiasa mengkonsumsi musik dari televisi tidak serta-merta mengakses Bon Iver bukan? Mereka akan mencari sesuai dengan apa yang biasa dengarkan dan mereka ingin dengarkan. Mereka tidak memiliki waktu dan suasana yang tepat untuk melakukan pekerjaan ngulik referensi lagu ‘enak’ dari barat. Kemungkinan untuk terjebak dalam aktivitas terjun bebas karena meng-klik sebuah situs, atau menelusuri sugesti yang ditawarkan mesin pencari memang tetap ada, tapi hal itu pun tidak menjamin bahwa pengetahuan tersebut akan berguna bagi mereka. Karena mereka memperlakukan akses internet dengan perilaku yang sama, konsumsi. Sementara kelas sosial mengah ke atas memperlakukan internet sebagai referensi, karena mereka memiliki pengetahuan awal yang tidak dimiliki oleh kelas sosial bawah. Dalam hal ini, dapat diamati bagaimana musik ditempatkan sebagai pengetahuan.

Apakah ini persoalan selera? Mungkin saja iya, mungkin saja bukan. Persoalan selera bisa jadi sangat menjebak, ketika berada dalam wilayah musik pop dan industri. Pemusik yang bermunculan kini seringkali berlindung dibalik pernyataan ‘selera pasar’. Pemusik dengan sistem industri yang berlogikakan jualan, maka akan terus mereproduksi barang dagangan yang sudah pasti ada yang beli, yaitu tema cinta. Standardisasi varian dalam lagu cinta berkisar antara patah hati, jatuh cinta, perselingkuhan, mentok. Dengan pola yang seperti ini pemusik secara otomatis akan terbentuk mengikuti pola tersebut.

(16)

bahwa dia lebih tahu banyak soal varian musik, musik yang ia dengarkan ‘lebih baik’ dan bergengsi daripada apa yang ada di televisi, yang biasa orang-orang dengarkan. Kuasa memang bersifat tersebar dan tidak terpusat, begitu pun pengetahuan. Tapi dalam kasus ini pengetahuan musik tidak tersebar dengan merata. Ia dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti akses atas media, pengetahuan sebelumnya, kelas sosial, dan wacana yang lebih luas.

Dengan demikian, melihat dan memaknai lagu cinta tidak sesederhana menobatkannya sebagai wakil generasi terisolasi, teralienasi, dan antipolitik. Bahkan, jika ditelusuri dengan lebih mendalam kita dapat melihat politik ekonomi pada industri musik dengan membedah lagu cinta utuh-utuh seturut konteksnya. Memang kita tidak bisa secara langsung menjelaskan konteks sosial melalui lagu cinta, atau membicarakan lagu cinta untuk menjelaskan konteks sosial pada saat itu. Namun dengan melihat secara menyeluruh unsur lain yang menyokong musik pop, media dan teknologi, infotainment, kelas sosial, kita akan dapat mengumpulkan diskursus yang tercecer dalam lagu pop. Kiranya hal ini dapat memberi cara pandang baru dalam melihat musik pop. Bahwa kategorisasi personal-sosial: lagu cinta-lagu protes bukanlah cara pandang kritik yang tunggal.

***

Referensi

Adorno, Theodor. Music and Language: A Fragment (Quasi Una Fantasia), Essays on Modern Music. London: Verso, 1956.

Adorno, Theodor. "On Popular Music." Studies in Philosophy and social sciense New York: Institute of Social Research, 1941: 17-48.

Luvaas, Brent. DIY Style; Fashion, Music and Global Digital Cultures. London: Berg, 2012.

Scheff, Thomas J. "Individualism and Alienation in Popular Love Songs." 2001. Sen, Krishna, and David T Hill. Media, Culture anda Politics in Indonesia.

Jakarta: PT. Equinox Publishing Indonesia, 2000, 2007.

Sokes, Martin. The Republic of Love. Chicago: The University of Chicago Press, 2010.

Sylado, Remi. "Satu Kebebalan Sang Mengapa." Prisma, 1977: 23-31. Yampolsky, Philip. "Hati Yang Luka", an Indonesian Hit." Southeast Asia

(17)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Antara Kau dan Cinta