Informasi Dokumen
- Penulis:
- Asri Rahma Pangastuti
- Pengajar:
- Matheus Wasi Bantolo, S.Sn, M.Sn
- Sekolah: Institut Seni Indonesia Surakarta
- Mata Pelajaran: Seni Tari
- Topik: Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo
- Tipe: skripsi
- Tahun: 2017
- Kota: Surakarta
Ringkasan Dokumen
I. PENDAHULUAN
Bagian ini menguraikan latar belakang penelitian, yang menekankan pentingnya sendratari sebagai bentuk seni pertunjukan yang menggabungkan elemen drama dan tari. Penelitian ini berfokus pada karya Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo karya Ambarwati, yang terinspirasi dari kesenian tradisional Jaranan di Kediri. Penulis menjelaskan bahwa sendratari harus berkembang sejalan dengan perubahan masyarakat, sesuai dengan pemikiran James R. Brandon. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penciptaan dan sajian dari karya tersebut, yang diharapkan dapat memberikan wawasan dan memperluas eksistensi kesenian di masyarakat.
1.1. Latar Belakang
Latar belakang menjelaskan bahwa karya Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo diciptakan pada tahun 2012 oleh Ambarwati, terinspirasi dari cerita asal mula Jaranan. Penulis menekankan pentingnya kesenian tradisi dalam menciptakan karya baru yang relevan dengan perkembangan masyarakat. Penelitian ini didasari oleh pemikiran bahwa sendratari sebagai warisan budaya harus diperkenalkan dan dilestarikan.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah berfokus pada dua pertanyaan utama: bagaimana proses penciptaan karya Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo dan bagaimana sajian dari karya tersebut. Pertanyaan ini menjadi landasan untuk menganalisis dan mendalami aspek-aspek penting dari karya yang diteliti.
1.3. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses penciptaan dan sajian karya Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan seni tari dan memberi pemahaman yang lebih dalam mengenai kesenian tradisional.
1.4. Manfaat
Manfaat dari penelitian ini mencakup peningkatan eksistensi karya seni di masyarakat, penambahan wawasan mengenai sejarah kesenian rakyat, serta memberikan informasi yang berguna bagi mahasiswa dan seniman tari dalam memahami proses penciptaan karya seni.
1.5. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka dilakukan untuk mendapatkan referensi yang relevan dengan penelitian ini. Penulis mencantumkan beberapa skripsi dan buku yang menjadi acuan dalam penelitian, menunjukkan perbedaan dan orisinalitas penelitian yang dilakukan.
1.6. Landasan Pemikiran
Landasan pemikiran dalam penelitian ini berfokus pada teori-teori yang digunakan untuk menganalisis proses penciptaan dan sajian karya. Pemikiran Alma M. Hawkins mengenai proses kreatif dan Harymawan mengenai unsur-unsur drama dalam sendratari menjadi acuan utama.
1.7. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Penulis melakukan observasi, wawancara, dan studi pustaka untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian.
1.8. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan diuraikan untuk mempermudah pemahaman pembaca mengenai struktur penelitian. Penulisan dibagi menjadi beberapa bab yang mencakup pendahuluan, proses penciptaan, sajian, dan penutup.
II. PROSES PENCIPTAAN SENDRATARI SONGGO LANGIT PATEMBOYO KROMO OLEH AMBARWATI
Bagian ini menjelaskan secara detail proses penciptaan karya Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo oleh Ambarwati. Proses penciptaan ini melibatkan eksplorasi, improvisasi, dan komposisi, yang masing-masing memiliki peran penting dalam menghasilkan karya seni yang berkualitas. Penulis menguraikan bagaimana pengalaman dan latar belakang Ambarwati sebagai koreografer mempengaruhi hasil karya yang diciptakan.
2.1. Koreografer Ambarwati
Ambarwati sebagai koreografer memiliki pengaruh besar terhadap karya yang diciptakan. Latar belakangnya dalam seni tari dan pengalaman berkesenian memberikan kontribusi yang signifikan dalam proses penciptaan. Penulis menjelaskan perjalanan karier Ambarwati dan karyanya yang telah dihasilkan sebelumnya.
2.2. Ide Penciptaan
Ide penciptaan karya ini berawal dari observasi terhadap kesenian Jaranan di Kediri. Ambarwati menemukan inspirasi dari cerita asal mula kesenian tersebut, khususnya mengenai tokoh Dewi Songgo Langit. Penulis menguraikan bagaimana ide ini menjadi dasar untuk mengembangkan alur cerita dalam karya sendratari.
2.3. Proses Penciptaan Karya
Proses penciptaan karya meliputi tiga tahap: eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Setiap tahap memiliki peran penting dalam mengembangkan gerak dan karakter yang ditampilkan dalam pertunjukan. Penulis menjelaskan secara rinci setiap tahap dan bagaimana Ambarwati mengimplementasikan ide-ide kreatifnya.
2.4. Eksplorasi
Eksplorasi merupakan tahap awal dalam proses penciptaan, di mana Ambarwati mencari gerak dan karakter yang sesuai dengan tokoh dalam cerita. Penulis menjelaskan bagaimana Ambarwati melakukan eksplorasi terhadap gerakan tari yang diadaptasi dari kesenian tradisional, serta bagaimana penari berperan dalam proses ini.
2.5. Improvisasi
Improvisasi adalah tahap di mana penari diberi kebebasan untuk mengekspresikan gerak yang telah dieksplorasi. Penulis menguraikan bagaimana proses improvisasi berlangsung dan bagaimana penari berkolaborasi dengan koreografer untuk menciptakan gerakan yang harmonis dan artistik.
2.6. Komposisi
Komposisi adalah tahap akhir dalam proses penciptaan, di mana semua elemen yang telah dieksplorasi dan diimprovisasi disusun menjadi satu kesatuan yang utuh. Penulis menjelaskan bagaimana Ambarwati menyusun elemen-elemen drama dan tari dalam karya ini, serta bagaimana hal ini mempengaruhi sajian keseluruhan.
2.7. Pementasan Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo
Pementasan karya ini merupakan hasil dari seluruh proses penciptaan yang telah dilakukan. Penulis menjelaskan bagaimana karya ini disajikan di berbagai acara dan bagaimana perubahan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pementasan dari waktu ke waktu.
III. SAJIAN SENDRATARI SONGGO LANGIT PATEMBOYO KROMO
Bagian ini menguraikan sajian dari Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo, yang merupakan perpaduan antara seni drama dan seni tari. Penulis menjelaskan berbagai elemen yang membentuk sajian ini, termasuk tema, karakter, alur cerita, gerak tari, musik, properti, rias dan kostum, serta skenario.
3.1. Sendratari sebagai Bentuk Sajian
Sendratari sebagai bentuk sajian menggabungkan elemen-elemen drama dan tari. Penulis menjelaskan bagaimana elemen-elemen ini saling berinteraksi untuk menciptakan pengalaman yang mendalam bagi penonton.
3.2. Premise/Tema
Tema dari karya ini berfokus pada kisah sayembara Dewi Songgo Langit. Penulis menguraikan bagaimana tema ini diangkat dan dikembangkan dalam sajian, serta relevansinya dengan konteks budaya lokal.
3.3. Karakter
Karakter-karakter dalam karya ini memiliki peran penting dalam menyampaikan alur cerita. Penulis menjelaskan karakter-karakter utama dan bagaimana mereka digambarkan melalui gerak dan ekspresi.
3.4. Alur Cerita
Alur cerita dalam Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo mengikuti perkembangan kisah sayembara. Penulis menguraikan struktur alur dan bagaimana setiap adegan saling terhubung untuk membangun narasi yang utuh.
3.5. Gerak Tari
Gerak tari dalam karya ini merupakan hasil eksplorasi dan improvisasi yang dilakukan selama proses penciptaan. Penulis menjelaskan bagaimana gerak tari dirancang untuk mencerminkan karakter dan tema yang diangkat.
3.6. Musik Tari
Musik tari berperan penting dalam menciptakan suasana dan mendukung narasi. Penulis menjelaskan bagaimana penataan musik dilakukan dan bagaimana musik berinteraksi dengan gerak tari.
3.7. Properti
Properti yang digunakan dalam pementasan juga memiliki makna simbolis. Penulis menguraikan berbagai properti yang digunakan dan bagaimana mereka berkontribusi terhadap keseluruhan sajian.
3.8. Rias dan Kostum
Rias dan kostum dalam Sendratari ini dirancang untuk memperkuat karakter dan tema. Penulis menjelaskan bagaimana pemilihan kostum dilakukan dan bagaimana hal ini mempengaruhi penampilan penari di atas panggung.
3.9. Skenario
Skenario dari Sendratari ini menjadi panduan bagi para penari dan tim produksi. Penulis menjelaskan bagaimana skenario disusun dan bagaimana hal ini membantu dalam pelaksanaan pementasan.
IV. PENUTUP
Bagian penutup menyajikan simpulan dari penelitian ini, serta saran untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang seni tari. Penulis menekankan pentingnya melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional melalui karya-karya baru yang relevan.
4.1. Simpulan
Simpulan menegaskan bahwa Sendratari Songgo Langit Patemboyo Kromo merupakan karya yang berhasil menggabungkan elemen-elemen drama dan tari dengan baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa proses penciptaan yang dilakukan oleh Ambarwati sangat berpengaruh terhadap kualitas sajian.
4.2. Saran
Saran diberikan untuk seniman dan peneliti selanjutnya agar terus mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional. Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian berikutnya dalam bidang seni tari.
Referensi Dokumen
- Ketika Cahaya Merah Memudar ( Murgiyanto, Sal. )
- Joged Tradisi Gaya Kasunanan Surakarta ( Prihatini, Nanik Sri dkk. )
- Dramatari di Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan ( Narwati, Tati dan Soedarsono. )
- Java in the 14th Century ( Pigeaud, Th. G. Th. )
- Serat Babad Kadhiri ( Poerbawidjaja, Mas Ngabehi dan Mangoenwidjaja, Mas Ngabehi. )