• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekuasaan dan Intervensi Pemilik Stasiun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kekuasaan dan Intervensi Pemilik Stasiun"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

“Kekuasaan dan Intervensi Pemilik Stasiun TV Terhadap Isi Siaran di

Luar Kepentingan Publik (Iklan Partai Perindo)”

Oleh: Adzani Suci Tienisaa

0802514001

PEMINATAN BROADCASTING AND NEW MEDIA

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)

I. PENDAHULUAN

Dunia semakin cepat berubah dan perkembangan teknologi sudah semakin pesat, hal itu langsung berdampak pada segala aspek kehidupan manusia. Salah satu hal yang berkembang sangat pesat dan menjadi pemicu dari perkembangan yang ada adalah Teknologi Televisi. Dalam perkembangan dunia informasi, televisi merupakan teknologi yang mengalami perubahan yang sangat cepat. Dengan perubahan tersebut, maka televisi pun akhirnya menjadi bagian yang sangat penting dalam melengkapi kehidupan manusia. Peranan media televisi ini begitu kuat bagi publik. Berbagai program yang disajikan bersaing untuk menarik hati publik sangat ketat. Konten-konten yang disajikan pun dibuat dan dirancang sedemikian rupa agar bisa diterima publik. Tidak hanya konten program yang berpengaruh terhadap kualitas hasil suatu program. Kemajuan teknologi yang digunakan juga penting dalam menunjukkan kualitas suatu program.

Sistem demokrasi yang digunakan Indonesia membuat publik atau masyarakat menjadi sasaran utama stasiun televisi untuk menyampaikan informasi. Oleh karena itu media yang ada di Indonesia harus menjalankan fungsi utamanya yaitu menyiarkan segala bentuk informasi mengenai pendidikan, budaya, hiburan, serta informasi lainnya yang berkepentingan langsung dengan publik.

(3)

II. PERMASALAHAN

Berawal dari sebuah perusahaan sekuritas yang bergerak dibidang jasa keuangan sejak tahun 1989, PT MNC Investama Tbk, yang dikenal sebagai MNC Group kini bertransformasi menajdi sebuah grup investasi di Indonesia.1

Di bawah kepemimpinan pendiri MNC Group Hary Tanoesoedibjo, perseroan ini berfokus pada 3 investasi strategis yaitu media, jasa keuangan, dan properti. MNC Group adalah pemilik media terbesar di Indonesia yang terdiri dari 4 stasiun TV nasional Free-To-Air (FTA) yaitu RCTI, MNCTV, GlobalTV, dan INewsTV serta 22 channel yang disiarkan di TV berlangganan, MNC Channels.2

Permasalahan utama adalah media penyiaran tersebut dikuasai oleh pemilik untuk kepentingan pribadi dan kepentingan politiknya. Dengan secara terus menerus menyajikan iklan-iklan politik sang pemilik media, cuplikan pidato yang dilakukan ketua partai, serta bermain peran di dalam sinetron yang disajikan oleh media tersebut. Hal seperti ini tentu sudah jelas menyimpang dan sudah tidak sesuai dengan fungsi awal yaitu media sebagai sumber informasi untuk kepentingan publik.

Sebagai group media terbesar di Indonesia, MNC Group juga tidak menggunakan P3 SPS sebagai pedoman untuk memberikan kualitas yang baik kepada publik. Dengan seringnya iklan partai tersebut muncul, masyarakat secara tidak sadar telah dikuasai dan dipaksakan oleh media tersebut untuk pro kepada partai Perindo yang diketuai oleh Hary Tanoesoedibjo, sang penguasa media.

Siaran iklan Partai Perindo tidak mengikuti ketentuan P3 & SPS yang menyatakan bahwa program siaran wajib untuk dimanfaatkan demi kepentingan publik dan tidak untuk kepentingan kelompok tertentu.3 Hal ini tentu saja menimbulkan permasalahan sehingga Komisi Penyiaran

Indonesia (KPI) memberi teguran kepada 4 stasiun TV tersebut hingga akan mencabut izin penyelanggaraan jika masih melakukan kesalahan tersebut.

III. KERANGKA PEMIKIRAN

1 Admin, Website MNC Group. Tanpa Tanggal. Sekilas Perusahaan.

http://www.mncgroup.com/page/about/sekilas-perusahaan diakses pada tanggal 24 Oktober 2017, pukul 13.10 WIB 2Ibid

3 Abba Gabrillin. Kompas.com. 2017. Siarkan Iklan Perindo, Empat Stasiun TV diberi Sanksi Oleh KPI.

(4)

3.1. Kekuasaan menurut Max Weber

Menurut Max Weber (Economy & Society 2008) kekuasaan adalah kemampuan untuk, dalam suatu hubungan sosial melaksanakan kemauan sendiri sekalipun mengalami perlawanan dan apapun dasar kemampuan ini. Pengertian kekuasaan oleh Max Weber ini dapat katakan bahwa kekuasaan adalah keegoisan dalam suatu kelompok akan tetapi walaupun keegoisan tersebut memiliki pertentangan, tetap tidak dapat melawan karena adanya kekuasaan tersebut.4

Terdapat tiga bentuk dominasi kekuasaan menurut Weber. Pertama, dominasi kekuasaan legal rasional adalah bentuk dominasi kekuasaan yang dibentuk dan diatur dengan sebuah aturan legal, yang termasuk dalam bentuk dominasi kekuasaan ini adalah negara dan kepala negara. Kedua adalah kekuasaan tradisional, yaitu kekuasaan yang dihasilkan oleh kepercayaan tradisional. Contoh dominasi kekuasaan ini adalah kerajaan dan raja. Terakhir adalah dominasi kekuasaan karismatik, yaitu dominasi akibat karisma atau kemampuan individu yang dijadikan pemimpin.5

3.2. Intervensi

Secara garis besar, intervensi merupakan sebuah perbuatan/tindakan campur tangan yang dilakukan oleh suatu lembaga terhadap sebuah permasalahan yang terjadi diantara kedua belah pihak atau beberapa pihak sekaligus. Intervensi sosial adalah upaya perubahan terencana terhadap individu, kelompok, maupun komunitas. Dikatakan ‘perubahan terencana’ agar upaya bantuan yang diberikan dapat dievaluasi dan diukur keberhasilannya. Intervensi Sosial bisa terjadi dalam level komunitas, didalam Ilmu Kesejahteraan Sosial6

3.3. Televisi

Menurut Wahyudi (1994), Televisi berasal dari 2 kata yang berbeda yaitu Tele

4 Weber, Max. 1978. Economy and Society. London: University of California Press. Hal 212 5 Weber, Max. 1978. Economy and Society. London: University of California Press. Hal 215

(5)

(bahasa Yunani) yang berarti jauh, dan visi (videre berasal dari bahasa latin) yang berarti penglihatan. Dengan demikian, Televisi dapat diartikan dengan melihat jauh. Melihat Jauh disini diartikan dengan gambar dan suara yang diproduksi di suatu tempat studio Televisi).7

Pengelolan stasiun penyiran dituntut untuk memiliki kreativitas seluas mungkinuntuk menghasilkan berbagai program yang menarik. Berbagai jenis program itudapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar berdasarkan jenis yaitu:

Satu program informasi (Berita) dan program hiburan (entertainment). Program informasi kemudian dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu berita keras (hard news) yang merupakan laporan berita terkini yang harus segera disiarkan dan berita lunak (soft news) yang merupakan kombinasi dari fakta, gosip dan opini.8

3.4. Siaran Televisi

Berdasarkan Undang-undang penyiaran No.32 tahun 2002 pasal 4 no 1 yang mengatakan bahwa penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial.9

Oleh karena itu siaran TV tidak boleh menyimpang dari kepentingan publik dan harus mengandung informasi tentang pendidikan, budaya dan informasi lainnya yang berguna bagi publik.

3.5. Publik

Menurut Gruth & Marsh dalam Estawara (2012) mendefinisikan public sebagai: “An y group of people who share common interests or values in a particular situations especial ly interests or values they might be willing act upon”. Dengan ini dapat diartikan bahwa publik adalah setiap kelompok orang yang memiliki minat atau nilai-nilai bersama dalam situasi tertentu, terutama kepentingan atau nilai-nilai yang bertindak atas kesediaan.10

7Latif Rosyidi. 1989. Dasar-Dasar Retorika Komunikasi dan Informasi, cetakan 11. Medan : Firman Rainbaow. Hal

221-222

8 Darwanto Sastro Subroto. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Hal 34-36 9 Undang-Undang Penyiaran No.32 Tahun 2002

(6)

IV. ANALISA & DISKUSI

Dari kerangka pemikiran tersebut, dapat dianalisa atau dikaitkan dengan permasalahan yang penulis bahas mengenai kekuasaan dan intervensi pemilik stasiun TV terhadap isi siaran di luar kepentingan publik yaitu penayangan iklan Partai Perindo secara terus-menerus dilakukan oleh MNC Group, sebagai berikut ini:

1. Iklan Partai Perindo bukan Kepentingan Publik

Siaran iklan Partai Perindo tidak mengikuti ketentuan P3 & SPS yang menyatakan bahwa program siaran wajib untuk dimanfaatkan demi kepentingan publik dan tidak untuk kepentingan kelompok tertentu. Tetapi yang dilakukan oleh 4 stasiun TV tersebut beerbeda dari yang seharusnya, 4 stasiun ini justru secara terus menerus menayangkan iklan partai Perindo serta memasukan segala unsur partai tersebut ke dalam sinetron, kuis, serta iklan. Oleh karena itu 4 stasiun TV tersebut telah melanggar Pasal 11 P3 KPI tahun 2012 serta Pasal 11 ayat (1) SPS KPI tahun 2012.

BAB VII PERLINDUNGAN KEPENTINGAN PUBLIK

“Pasal 11 (1) Program siaran wajib dimanfaatkan untuk kepentingan publik

dan tidak untuk kepentingan kelompok tertentu.

11

2. Iklan Partai Perindo untuk Kepentingan Pemilik

Siaran iklan partai Perindo merupakan kepentingan pemilik juga kepentingan politik, dimana Hary Tanoesoedibjo selaku pemilik dan juga ketua partai telah memanfaatkan media yang ia miliki untuk melakukan kampanye partainya, dengan menayangkan secara terus menerus iklan partai Perindo, memasukan unsur partai Perindo di program kuis, menampilkan Hary Tanoe di dalam sinetron RCTI dengan membawa nama partai Perindo. Secara tidak langsung hal tersebut memaksa publik untuk mengkonsumsi dan pro terhadap partai Perindo. Padahal kenyataannya hal tersebut bukanlah yang seharusnya diterima oleh publik, jika dikaitkan dengan pasal 11 P3 KPI tahun 2012 serta pasal 11 ayat (2) SPS KPI tahun 2012 yang melarang pemilik lembaga penyiaran untuk menguasai siaran tersebut.

(7)

BAB VII PERLINDUNGAN KEPENTINGAN PUBLIK

“Pasal 11 (2) program siaran dilarang dimanfaatkan untuk kepentingan

pribadi pemilik lembaga penyiaran bersangkutan dan /atau

kelompoknya.”

12

3. Kesalahan yang dialakukan MNC Group

Pemanfaatan lembaga penyiaran untuk kepentingan pribadi dan/atau kelompok. 1. September 2013: Dari 39 berita politik, 17 berisi Hanura.

2. 25 Oktober 2013: Dari 5 segmen berita politik, semua berisi Hanura 3. 1 November 2013: 3 segmen berita politik, semua berisi Hanura 4. 1 Desember 2013: 1 segmen berita untuk Hanura

5. Iklan kampanye di luar masa kampanye masuk kedalam UU Pemilu: Pasal 83 (2)

6. 21 Desember 2013 kuis kebangsaan. Program dibiayai/disponsori oleh partai politik, tidak menjaga netralitas isi siaran, dan Pemanfaatan untuk kepentingan pribadi pemilik dan/atau kelompoknya. Masuk ke dalam P3: Pasal 11, Pasal 50 (4) SPS: Pasal 11 (1-2), Pasal 71 (4)

7. 1 Februari 2014 sinetron Tukang Bubur Naik Haji, Memanfaatkan program siaran untuk kepentingan pribadi pemilik lembaga penyiaran dan/atau kelompoknya. SPS: Pasal 11 (1-).

8. Iklan Partai Nasdem (23 Maret 2014) ‘Kehadiran Anggota DPR Hanya 48,7%’ hal ini Menyinggung atau merendahkan pribadi atau kelompok lain Etika Pariwara Indonesia (EPI). P3: Pasal 43 SPS: Pasal 58 (1 & 4a)13

12 Ibid

13

Administrator. 2014.

Dampak Konsentrasi

Kepemilikan & Intervensi Pemilik

terhadap isi siaran yang

merugikan publik dalam pemilu

(8)

V. KESIMPULAN

Dari analisa yang sudah penulis lakukan dengan mengaitkan kepada kerangka pemikiran, dapat disimpulkan bahwa:

 MNC Group tidak sepenuhnya menyiarkan informasi untuk kepentingan publik. Di

setiap siarannya selalu memasukan unsur partai politik dimana hal tersebut adalah untuk kepentingan politik sang pemilik media.

 Kampanye partai politik dilakukan secara terus menerus dan tidak pada waktu

kampanye. Hal tersebut dilakukan tidak hanya di 1 stasiun TV tetapi 4 Stasiun TV melakukan hal yang sama sehingga stasiun TV tersebut mendapat sanksi yang sama dari KPI.

 MNC Group secara berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama walaupun sudah

diberi teguran dan sanksi oleh KPI. Sehingga seharusnya izin siar sangat kuat untuk diberhentkan bahkan dicabut.

 Media terbesar di Indonesia yang terdiri dari 4 stasiun TV, 22 Channels di media

berlangganan, 1 stasiun radio ini dikuasai atau dimiliki oleh satu orang pemimpin yang juga memiliki partai dan berjabat sebagai ketua di partai tersebut. Hal ini tentunya menjadi tanda tanya untuk publik bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apakah polisi media tidak bisa menindak tegas hal tersebut?

https://aji.or.id/upload/SANKSI%20KPI-PEMILU.pdf

. Diakses pada

(9)

VI. DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Weber, Max. 1978. Economy and Society. London: University of California Press.

Adi, Isbani Rukminto. 2008. Intervensi Komunitas dan Pengembangan Masyarakat.

Jakarta: PT Raja Grafindo.

Latif Rosyidi. 1989. Dasar-Dasar Retorika Komunikasi dan Informasi,

cetakan 11. Medan : Firman Rainbaow.

Darwanto Sastro Subroto. 1994. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Estaswara, Helpris. (2010). Stakeholder Relationship in Integrated Marketing Communication. Jakarta : Universi tas Pancasila.

Website:

Admin, Website MNC Group. Tanpa Tanggal. Sekilas Perusahaan.

http://www.mncgroup.com/page/about/sekilas-perusahaan diakses pada tanggal 24 Oktober 2017, pukul 13.10 WIB.

Abba Gabrillin. Kompas.com. 2017. Siarkan Iklan Perindo, Empat Stasiun TV diberi Sanksi Oleh KPI.

(10)

Administrator. 2014. Dampak Konsentrasi Kepemilikan & Intervensi Pemilik terhadap isi siaran yang merugikan publik dalam pemilu 2014. Aliansi Jurnalis

Independen. https://aji.or.id/upload/SANKSI%20KPI-PEMILU.pdf. Diakses pada tanggal 28 Januari 2018 Pukul 13.20 WIB.

Undang-Undang:

Undang-Undang Penyiaran No.32 Tahun 2002.

(11)

Referensi

Dokumen terkait