Batasan Peran dan Kejujuran
Selamat pagi rekan-rekan penerjemah yang budiman (kali-kali salamna rada pormal ah hohoho). Apa kabar? Mudah-mudahan kita semua selalu ada dalam keadaan sehat walafiat, tidak kurang satu apapun dan tentunya selalu bersemangat dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.
Pada artikel sebelumnya kita sempat membahas mengenai salah satu kode etik penerjemah yaitu SIKAP NETRAL atau bahasa sundanya mah Impartiality (istilah ini sebetulnya tidak hanya digunakan di dunia penerjemah saja).
Sikap netral tidak hanya berhubungan dengan bagaimana kita menangani klien dan melakukan pekerjaan tetapi berkaitan erat juga dengan batasan peran yang kita jalankan.
Setiap orang tentu memiliki batasan peranan dan ruang lingkup dalam pekerjaannya. Pertanyaannya, apakah peranan seorang interpreter hanya sebatas “menerjemahkan” saja? Secara teori, IYA, akan tetapi di lapangan belum tentu seperti itu.
Ada interpreter merangkap staff purchasing? Banyak
Ada interpreter merangkap engineer? Tidak sedikit
Ada interpreter merangkap pengacara? Pabalatak (banyak banget)
Ada interpreter merangkap HR, GA, atau pekerjaan-pekerjaan administratif lainnya? Wah, ini kalo disensus, bisa jadi paling banyak.
Meskipun demikian, interpreter tidak boleh melewati batasan peranan profesionalnya dan menahan diri agar tidak melakukan keterlibatan yang bersifat pribadi.
Saya pernah menerjemahkan artikel berjudul “NCIHC National Standards of Practice for Interpreters in Health Care”, di dalamnya tercantum poin sebagai berikut,
14. Seorang interpreter membatasi kedekatan dirinya secara pribadi dengan semua pihak saat melakukan tugasnya.
15. Interpreter membatasi aktivitasnya secara profesional dalam suatu pertemuan.
Sebagai contoh, seorang interpreter tidak menyarankan kliennya dengan berupa pertanyaan, tapi mengarahkan klien untuk bertanya pada seseorang.
Poin 14 menitikberatkan pada “membatasi kedekatan diri secara pribadi dengan semua pihak saat bertugas”, maksudnya apa sih?
Interpreter itu gudangnya informasi, baik dari yang sifatnya gosip, maupun informasi-informasi rahasia yang jika bocor akan berdampak pada bisnis suatu perusahaan atau keselamatan individu. Artinya seorang interpreter tidak diperkenan untuk membagi atau membocorkan informasi yang sifatnya pribadi saat bercakap-cakap dengan klien.
Teorinya sih begitu, tapi di lapangan? Beda kan yah?
Pernah ngalamin dideketin seseorang yang ngakunya dari perusahaan tertentu, tapi ternyata dia mau nyuplai barang ke tempat kita bekerja, dengan iming-iming kita akan diberi persenan atau “uang terima kasih”, pernah? Udah jujur aja, pernah gitu (ini saya ngomong ke diri saya sendiri). Memang sih sah-sah saja kalau memang mau “berbisnis dalam bisnis”, tapi hati-hati, jangan pernah berani-berani menggunting dalam lipatan….
Poin 15 menitikberatkan pada “seorang interpreter tidak boleh jadi provokator”, jadi meskipun kita tahu segalanya, serba bisa, banyak relasi, bukan berarti diperbolehkan jadi provokator. Tapi kalau boleh jujur, ini cukup sulit dikendalikan. Mengapa? karena kita berhadapan dengan orang. Orang kalau sudah ngobrol, pasti banyak yang diceritakan kan? So pasti, bukan cuma urusan kerjaan sob, mulai dari curhat kerjaan, malah ada yang sambil menyelam minum air (cari jodoh). Itu mah sah-sah saja, tapi ingat batasan.
Poin 16 menitikberatkan ke “jobdesk boleh merangkap, tetapi saat sedang bertugas sebagai interpreter, ya jalankan sesuai kapasitas kita.”
Sebetulnya apa yang saya gambarkan di atas adalah realita yang terjadi di dunia kerja, bukan hanya dunia interpreter saja.
Memang sih sudah rahasia umum kalau bekerja di perusahaan Jepang kita dituntut multitasking, jadi wajar aja kalo dikasi job merangkap.
Cuma di sini yang ingin saya tekankan bukan menyalahkan realita yang terjadi atau protes, toh ketika kita memilih perusahaan Jepang sebagai ladang mata pencaharian, seharusnya kita sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Saya ingin mengenalkan kepada rekan-rekan yang barangkali ingin terjun ke dunia para penerjemah atau bekerja di perusahaan Jepang, anda akan menemukan kondisi seperti ini. Ini juga bukan bicara adil atau tidak, sepadan atau tidak, kita bicara batasan peran.
Kalau kita kembalikan lagi ke pembicaraan semulai mengenai bagaimana seorang interpreter harus bersikap dalam membatasi perannya, maka kesimpulannya.
2. Kejujuran dan komitmen dalam menjalani tugas adalah kunci kesuksesan yang mutlak, APAPUN PROFESINYA.
3. Kita sebagai praktisi bahasa, “menjual” jasa dan kemampuan kita kepada manusia, bukan ke mesin, artinya kita harus selalu siap dengan segala kondisi dan risiko yang sedang atau akan terjadi di lapangan. Jadi kalo ketemu klien rese, jangan aneh, begitulah seninya berhubungan dengan manusia.
4. Dalam dunia kerja atau bisnis, peluang dan kesempatan itu akan selalu datang, tapi… kita yang memilih, mau ambil jalan yang positif atau negatif.
Its up to you, kumaha anjeun. Segitu dulu semoga tidak puas.