• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN AKADEMIK USULAN PENETAPAN KEPUTUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KAJIAN AKADEMIK USULAN PENETAPAN KEPUTUS"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN AKADEMIK

USULAN PENETAPAN KEPUTUSAN PRESIDEN RI

TENTANG

PENETAPAN 1 JUNI 1945 SEBAGAI HARI LAHIRNYA

PANCASILA SEBAGAI DASAR DAN IDEOLOGI NEGARA

REPUBLIK INDONESIA

DIAJUKAN OLEH:

DEWAN PENGURUS PUSAT

PERSATUAN ALUMNI GERAKAN MAHASISWA NASIONAL

INDONESIA

(DPP PA GMNI)

JAKARTA

(2)

A. Latar Belakang

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara secara historis lahir dari proses eksplorasi dan dialektika pemikiran filsafat bernegara yang panjang. Adalah Ir. Soekarno tokoh dan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang pertama kali mengintrodusir istilah dan konsep tentang Pancasila itu dalam Sidang BPUPKI pada tanggal 1 Juni 1945. Pidato yang menjadi maha karya ideologi dan dasar negara ini, hampir dimarginalisasi dalam kehidupan aktualita banyak kalangan, bahwa dari pidato itulah sebenarnya Pancasila lahir dan ada sebagai norma dasar (grundnorm) yang tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Norma dasar inilah yang tidak saja menjadi norma fundamental negara, akan tetapi norma dasar dalam pidato itu juga menjadi roh dan jiwa bangsa yang menuntun terbentuknya Negara Indonesia merdeka, yang berdaulat, adil dan makmur. Norma dasar (Pancasila) itulah yang menjadi bintang pemandu (leitstar) yang menggerakkan suasana kebathinan dan semangat bernegara yang bertumpu pada cita negara (staatsidee) Indonesia merdeka untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia.

(3)

nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dsb-nya. Sedangkan, faktor-faktor dari dalam diantaranya adalah, semakin memudarnya internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai Pancasila dalam aktualita kehidupan masyarakat dan para penyelenggara negara/pemerintahan, baik Pancasila dalam posisi sebagai dasar negara maupun Pancasila sebagai ideologi negara. Pancasila hanya dipahami sebagai atribut formal negara tanpa dipahami kandungan substansinya termasuk nilai-nilai dasar yang secara intrinsik ada di dalamnya. Jiwa dan nilai-nilai dasar Pancasila juga tidak seluruhnya mengakar kuat dalam berbagai sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Lahirnya semangat primordialisme (egoisme kedaerahan) yang berlebihan, konflik horisontal antar umat beragam, konflik antar etnik/ras, melunturnya persatuan dan kesatuan (nasionalisme) di dalam masyarakat dan kalangan generasi muda dan pelajar, berkembangnya aliran-aliran fundamentalis dalam masyarakat yang memicu konflik horisontal, dan sebagainya, merupakan contoh-contoh yang nyata, betapa rapuhnya internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai fundasi bangunan jiwa masyarakat dan bangsa kita; Betapa nilai-nilai Pancasila ternyata masih belum kokoh mengakar dalam diri sanubari bangsa Indonesia. Maka, dilatarbelakangi masalah-masalah tersebut itulah, gagasan untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi urgen untuk segera dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan salah satu cara untuk melakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila itu adalah dengan cara memberikan kedudukan dan tempat yang tepat serta pasti bagi Pancasila, baik sebagai dasar maupun ideologi negara Republik Indonesia. Sejarah kelahiran Pancasila dan juga nilai-nilai dasar serta substansi filsafat bernegara yang menjadi bagian esensialia dari Pancasila, juga sudah saatnya ditetapkan oleh negara untuk menghindari spekulasi dan perdebatan politik yang kontra histori dan kontra produktif menyangkut eksistensi dan sejarah kelahiran Pancasila.

Negara melalui Pemerintah Republik Indonesia pada akhirnya juga harus memastikan, bahwa sebagai norma dasar bernegara yang tertinggi, sekaligus sebagai sumber dari segala sumber hukum negara, Pancasila yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam Sidang BUPKI itu adalah maha karya ideologi dan dasar negara yang keberadaannya bersifat conditio sine quanon bagi kelangsungan dan kejayaan bangsa dan negara Indonesia. Negara, oleh sebab itu harus memberikan kepastian dan tempat yang tertinggi untuk itu.

(4)

Isu atau masalah hukum (legal issue) adalah serangkaian rumusan pernyataan atau pertanyaan yang bersumber dari kesenjangan atau gap antara das sein dan das sollen – antara yang seharusnya dan realitasnya. Isu atau masalah hukum penting untuk dieksplisitkan, karena dengan demikian, ia secara metodologis akan memberikan panduan ontologis bagi pengkaji/peneliti untuk melakukan kajian atau telaah keilmuan mengenai sesuatu hal tentang pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Dalam menyusun kajian tentang pendapat hukum (legal oppinion), isu hukum sangat penting dirumuskan, karena dari rumusan isu hukum itu, pengkaji/peneliti memulai titik anjaknya untuk bekerja melakukan kajian/telaah atas isu-isu hukum yang ada

Isu atau masalah hukum (legal issue) yang diidentifikasikan dan akan dikaji dalam naskah pendapat hukum (legal oppinion) ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Kapan seharusnya hari lahirnya Pancasila itu ditetapkan dan diperingati oleh Pemerintah negara republik Indonesia?

Untuk sampai pada kajian/telaah atas isu hukum tersebut di atas, berikut ini akan berturut-turut dikaji terlebih dahulu isu-isu hukum mengenai tempat terdapatnya Pancasila dan hubungan antara Pancasila dengan UUD 1945.

C. Pengkajian: Dimana Tempat Terdapatnya Pancasila?

Kita semua dapat menerima, bahwa untuk pertama kalinya UUD 1945 itu disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945. Dilihat dari segi substansinya, PPKI pada saat itu mengesahkan UUD 1945 yang terdiri atas Pembukaan dan Batang Tubuhnya (pasal-pasal). Akan tetapi, ketika kita dihadapkan dengan pertanyaan, apakah PPKI pada saat itu (tanggal 18 Agustus 1945) juga mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara, mengingat alinea keempat Pembukaan UUD 1945 itu berisi rumusan Pancasila? Maka terhadap pertanyaan ini, kita mesti mengkajinya terlebih dahulu, tentang dimanakah sebenarnya tempat Pancasila itu ? Apakah benar Pancasila itu ada di dalam Pembukaan UUD 1945 aliena keempat? Atau, apakah Pancasila itu tempatnya memang di dalam Pembukaan atau Mukadimah Konstitusi atau Undang-Undang Dasar?

(5)

Pertama, adalah di dalam Aliena Keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kedua, adalah di dalam alinea ketiga Mukadimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat, yang menyatakan sebagai berikut:

Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk republik federasi, berdasarkan pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa, peri kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Ketiga, adalah di dalam alinea keempat Mukadimah Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia:

Maka demi ini kami menyusun kemerdekaan kami itu dalam suatu piagam negara yang berbentuk republik – kesatuan, berdasarkan pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan, dan keadilan sosial, untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan, perdamaian, dan kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia merdeka yang berdaulat sempurna. (cetak tebal dari penulis).

Adalah pandangan Notonagoro yang mengatakan bahwa tempat terdapatnya Pancasila itu ialah dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.1

Menurut Notonagoro:

(6)

pertanyaan yang mendasar. Pertama, jika benar bahwa Pancasila itu ada di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, maka sebenarnya Pancasila sebagai dasar negara itu pernah mengalami perubahan, ketika UUD 1945 diganti dengan Konstitusi RIS pada tahun 1949 dan kemudian Konstitusi RIS 1949 diganti dengan UUD Sementara pada tahun 1950. Pertanyaannya adalah, apakah Pancasila sebagai dasar negara itu dapat diubah-ubah atau diganti bersamaan dengan diubah atau digantikannya Konstitusi atau Undang-Undang Dasar? Jawabannya, jelas seharusnya tidak! Konstitusi atau UUD dapat saja berubah sewaktu-waktu, akan tetapi Pancasila sebagai dasar negara, tidak boleh diubah atau diganti. Oleh karena itu, sebenarnya tempat Pancasila sebagai dasar negara itu bukan berada di dalam Pembukaan atau Mukadimah suatu Konstitusi atau UUD. Bahwa alinea keempat Pembukaan UUD 1945, alinea ketiga Mukadimah Konstitusi RIS 1949 dan alinea keempat Mukadimah UUDS 1950 itu merumuskan Pancasila, kita dapat mengatakan, bahwa rumusan itu sebenarnya adalah penjelmaan dari esensi Pancasila. Adapun Pancasila nya sendiri tempatnya berada di dunia abstrak.

Merujuk pada Teori Hans Kelsen atau yang dikenal dengan Stufenbautheorie dalam General Theory of Law and States tertulis :

...The legal order, espesially the legal order the personification of which is the State, is therefore not a system of norms coordiinated to each other, standing, so to speak, side by side on the same level,but hierarchies of different levels of norms. The unity of these norms is constituted by the fact and that the creation of one norm –the lower one -is determined by another – the higher – the creation – of which is determined by a still higher norm, and that this regressus is terminated by a highest, the basic norm which, being the supreme reason of validity of the whole legal order, constitutes its unity.3

Gagasan Kelsen dengan Stufenbautheorie pada hakikatnya merupakan usaha untuk membuat kerangka suatu bangunan hukum yang dapat dipakai di manapun,4 dalam perkembangan selanjutnya diuraikan Hans Nawiasky dengan

theorie von stufenbau der rechtsordnung yang menggariskan bahwa selain susunan norma dalam negara adalah berlapis-lapis dan berjenjang dari yang tertinggi sampai terendah, juga terjadi pengelompokkan norma hukum dalam negara,5 yakni mencakup norma fundamental negara (staatsfundementalnorm),

aturan dasar negara (staatsgrundgesetz), undang-undang formal (formalle

3 Hans Kelsen, General Theory of Law and State (Translated by : Andres Wedberg), Russel &

Russel, New York, 1973, hal. 124

4 Khudzaifah Dimyati, Teorisasi Hukum : Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990, Genta Publishing, Yogyakarta, 2010, hal. 69.

5 Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundang-undangan; Dasar-dasar dan

(7)

gesetz), dan Peraturan pelaksanaan dan peraturan otonom (verordnung en outonome satzung). Tatanan hukum tertinggi dalam pandangan Kelsen adalah berpuncak pada basic norm atau grundnorm (norma dasar).6

Lapisan tertinggi yang menjadi sumber dan dasar dalam sistem hirarki norma hukum baik pandangan Kelsen ataupun Nawiasky berakhir pada norma yang tidak dibentuk oleh norma hukum yang lebih tinggi lagi, tetapi bersumber pada cita hukum yang bersifat pre-supposed, yang telah ditetapkan sebelumnya oleh masyarakat dalam suatu negara, untuk kemudian menjadikannya sebagai tempat bergantungnya setiap norma hukum yang akan dibentuk.7

Grundnorm atau basic norm menurut Kelsen tidak dibuat melalui suatu prosedur hukum oleh instansi Validitas grundnorm tidak ditentukan karena ia dibuat melalui mekanisme dan bentuk tertentu.Tetapi ia berlaku dan valid karena dianggap valid. Grundnorm harus dianggap valid karena kalau tidak demikian, maka tidak akan ada perbuatan manusia yang dapat dipahami sebagai sebuah perbuatan hukum yaitu perbuatan yang menciptakan norma.8 Dengan demikian

grundnorm itu sendiri bukan sebuah norma hukum, ia berada di luar hukum (meta legal).

Kesahihan dan validitasnya sebagai norma dasar (grundnorm) atau sumber dari segala sumber hukum harus dianggap final, dan kita semua harus menerima kesahihan dan validitasnya itu, tanpa mempersoalkan atau mempertanyakan lagi. Sebab jika tidak diasumsikan demikian, maka kedudukan Pancasila sebagai norma dasar yang tertinggi dalam kehidupan bernegara, akan selalu menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah usai untuk diperdebatkan. Jadi, semua komponen bangsa harus bersepakat bahwa kesahihan dan validitas Pancasila sebagai norma dasar yang tertinggi dalam negara tidak perlu diragukan lagi, dan karena itu Pancasila harus diterima sebagai sesuatu yang benar (sahih) dan valid.

Kedudukan Pancasila sebagai grundnorm yang berada di luar hukum (bukan norma hukum) dapat dilihat dari hierarki peraturan perundang-undangan Indonesia sebagaimana yang diatur dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Adapun jenis

6 H. Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik, Tokoh-tokoh Ahli Pikir Negara dan Hukum, Nuansa,

Bandung, 2010, hal. 250

7 Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu..., hal.28.

8 Hari Chand, Modern Jurisprudence, Selangor : International Law Book Series, 2005, hal.

(8)

dan hierarki norma hukum yang dianut Indonesia saat ini sebagaimana Pasal 7 ayat (1) di atas adalah sebagai berikut :

1) Undang-Undang Dasar NRI Tahun 1945 2) Ketetapan MPR

3) Undang-Undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 4) Peraturan Pemerintah

5) Peraturan Presiden

6) Peraturan Daerah Provinsi

7) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Dari jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan tersebut, Pancasila tidak dimasukkan dalam kategori sebagai norma hukum melainkan sebagai grundnorm yang berada di luar hukum (meta legal). Sehingga tempat Pancasila sebagai dasar negara itu bukan berada di dalam Pembukaan atau Mukadimah UUD NRI Tahun 1945.

Kedua, menempatkan Pancasila sebagai bagian dari Konstitusi atau Undang-Undang Dasar (misalnya dalam Pembukaan atau Mukadimah Konstitusi) sebenarnya menurunkan derajat atau kualitas (bobot) Pancasila sebagai norma dasar (grundnorm) tertinggi di dalam negara kita. Dengan mengatakan, bahwa Pancasila itu ada di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, maka sesungguhnya pada saat itu kita telah menurunkan derajat Pancasila itu sehingga sama kedudukannya dengan Konstitusi atau UUD 1945. Pandangan ini jelas tidak tepat. Pancasila bukan menjadi bagian dari Konstitusi atau UUD, tetapi Pancasila seharusnya menjadi sumber hukum bagi validitas Konstitusi atau UUD yang akan dibentuk. Oleh karena itu, mengatakan bahwa Pancasila itu ada di dalam alinea keempat UUD 1945 sebenarnya pandangan ini tidak tepat, karena kedudukan Pancasila sebagai sumber hukum Konstitusi atau UUD harus lebih tinggi dari konstitusi atau UUD nya sendiri.

(9)

ketatanegaraan di Indonesia. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan, bahwa Pancasila ada di dalam Pembukaan UUD atau Mukadimah Konstitusi atau UUD, adalah pandangan yang tidak tepat, karena jika Pancasila menjadi substansi dari Konstitusi atau UUD maka teoretis-yuridis, Ia (Pancasila) akan menjadi substansi atau materi yang dapat diubah juga. Ingat, Pasal 37 UUD NRI Tahun 1945 memberikan ruang bagi perubahan terhadap UUD (baik itu menyangkut isi pasal-pasal maupun juga pembukaan/mukadimahnya). Akan sangat berbahaya bagi eksistensi Pancasila, jika ia ditempatkan di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Pancasila tidak boleh menjadi bagian dari Konstitusi atau UUD, apakah itu masuk di dalam Pembukaannya maupun pasal-pasalnya. Bahwa ada rumusan Pancasila di dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, itu sebenarnya adalah penjelmaan/penjabaran dari sila-sila Pancasila, bukan Pancasilanya sendiri. Eksistensi Pancasilanya sendiri ada dalam dunia abstrak yang tidak perlu dilegalisasi oleh hukum positif negara. Sebab, legalisasi oleh negara melalui hukum positif akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan hukum yang tidak akan pernah tuntas. Misalnya, siapa yang harus menetapkan/mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara? Apa bentuk hukum (rechtsvorm) penetapan atau pengesahnnya? Apakah ditetapkan dengan konstitusi atau UUD ataukah dengan bentuk hukum lainnya?

Tabel 1

Perbandingan Rumusan Pancasila di dalam Pembukaan UUD 1945, Mukadimah Konstitusi RIS 1949 dan Mukadimah UUDS 1950

(10)

Indonesia.

D. Pengkajian: Apa hubungan antara Pancasila dan UUD 1945 ?

Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Ia adalah norma dasar negara yang tertinggi. Adapun Konstitusi atau Undang-Undang Dasar adalah hukum dasar yang tertinggi, yang validitasnya atau keabsahannya bersumber dari norma dasarnya --- Pancasila. Oleh karena Pancasila menjadi sumber hukum bagi keabsahan (validitas) Konstitusi atau Undang-Undang dasar, maka sudah semestinya kedudukan Pancasila adalah norma yang lebih tinggi dari Konstitusi atau UUD yang dibentuknya.

Dengan perspektif ini juga dapat dikatakan, maka pemikiran atau pandangan yang menempatkan Pancasila di dalam alinea keempat dari Pembukaan UUD 1945, jelas merupakan pendapat atau pemikiran yang salah. Pandangan itu tidak saja telah mensejajarkan Pancasila sama dengan Konstitusi atau UUD, akan tetapi juga menurunkan derajat kualitasnya dari norma dasar yang tertinggi (sekaligus sebagai sumber hukum tertinggi) di dalam negara menjadi norma hukum yang lebih rendah dan menjadi sederajat dengan konstitusi atau UUD.

E. Pengkajian: Kapan Hari Lahirnya Pancasila sebagai Ideologi dan Dasar Negara Indonesia Merdeka?

Cita negara (staatsidee) tentang apa dasar kita bernegara untuk pertama kali dalam sidang BPUPKI dikemukakan dalam pidato Ir. Soekarno sebagai anggota resmi BPUPKI. Persidangan pertama BPUPKI tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 agendanya adalah khusus untuk membicarakan dasar negara Indonesia merdeka. Pidato Ir. Soekarno menguraikan lima prinsip dasar Indonesia merdeka, yang disebut Pancasila. Pidato Ir. Soekarno 1 Juni 1945 diterima secara aklamasi oleh peserta sidang BPUPKI.

Pidato Ir. Soekarno tanggal 1 Juni 1945 ini diterbitkan pada tanggal 1 Juli 1947 oleh Kementerian Penerangan di Yogyakarta dengan judul “Lahirnya Pancasila”. Kata Pengantar ditulis oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, mantan Ketua BPUPKI.9

9 Lihat footnote 7, Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan

(11)

Berdasar pada fakta inilah, maka tepatlah, bahwa hari lahirnya Pancasila itu adalah tanggal 1 Juni 1945. Pertama, karena istilah Pancasila itu untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Ir. Soekarno saat menyampaikan pidatonya di depan Sidang BUPKI yang dipimpin oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat di Gedung Tyuuoo Sangi-In. Kedua, adalah kesaksian sejarah yang diberikan oleh buku yang berjudul ‘Lahirnya Pancasila’ yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan pada tanggal 1 Juli 1947, Kata Pengantar-nya diberikan oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat. Adalah jelas tidak mungkin sekapasitas Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat (mantan Ketua BPUPKI) akan bersedia memberikan sebuah ‘Kata Pengantar’ pada buku yang berjudul ‘Lahirnya Pancasila’ itu, jika, baik judul maupun isi buku yang diterbitkan itu ternyata a histori. Ketiga, Kementerian Penerangan sebagai institusi Pemerintah Republik Indonesia yang secara resmi menerbitkan buku yang berjudul ‘Lahirnya Pancasila’ itu sudah pasti memiliki maksud dan tujuan. Maksud dan tujuan penerbitan buku itu adalah ingin menyampaikan pesan, bahwa Pancasila itu lahir pada tanggal 1 Juni 1945, yaitu saat Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya yang menguraikan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia di depan Sidang BPUPKI.

F. Pengkajian: Apakah Hari Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 Perlu Ditetapkan oleh Pemerintah?

Hari lahirnya Pancasila perlu ditetapkan oleh Pemerintah karena beberapa pertimbangan yang sangat prinsipiil. Pertama, Pancasila adalah dasar dan ideologi negara Indonesia yang harus diketahui asal-usulnya oleh bangsa Indonesia dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi. Menetapkan hari lahirnya Pancasila sama dengan mengukuhkan kelestarian dan kelanggengan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang kokoh berkesinambungan dari generasi satu ke generasi yang lainnya. Kedua, untuk memberikan kepastian hukum, agar perdebatan panjang menyangkut siapakah yang pertama kali berpidato tentang dasar negara dalam sidang BPUPKI dan soal apakah Pancasila itu lahir pada tanggal 1 Juni 1945 ataukah pada tanggal 18 Agustus 1945, saat PPKI menetapkan UUD 1945, dapat segera diakhiri.

Sebelum tahun 1968, setiap 1 Juni selalu diperingati sebagai Hari Lahirnya Pancasila. Di samping itu, berbagai kalangan, baik sipil maupun militer, juga telah mengakui bahwa Penggali Pancasila adalah Bung Karno.10 Sejak tahun 1968, telah

terjadi praktik de-Soekarnoisasi, lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 tidak lagi

10 A.B Kusuma, Lahirnya Undang-Undang Dasar, Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Hukum

(12)

diperingati, Bung Karno sebagai Penggali Pancasila juga tidak lagi diakui. Setelah dikeluarkannya Tap MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), sosialisasi Pancasila dilakukan dengan cara-cara indoktrinatif.

Dalam versi Pemerintahan Orde Baru, Nugroho Notosusanto dalam Buku “Naskah Proklamasi yang otentik Dan Rumusan Pancasila Yang Otentik” (1971) mengatakan bahwa M.Yamin pada tanggal 29 Mei 1945 dan Supomo pada tanggal 31 Mei 1945 lebih dahulu berpidato tentang dasar negara. Menurut Nugroho Notosusanto, M. Yamin dalam pidatonya menguraikan dasar negara sebagai berikut: 1) Peri Kebangsaan, 2) Peri Kemanusiaan, 3) Peri Ketuhanan, 4) Peri Kerakyatan, 5) Kesejahteraan Rakyat. Terhadap pembelokan sejarah oleh Nugroho Notosusanto ini secara resmi telah dibantah oleh A.B. Kusuma (2009) dalam Buku “Lahirnya Undang-undang Dasar 1945” dengan menyelidiki dokumen-dokumen rapat BPUPKI hingga ke negara Belanda yang menyatakan Tidak Benar Muhammad Yamin dan Supomo Yang Pertama Mengungkapkan Tentang Pancasila, sesuai dengan dokumen-dokumen otentik sidang BPUPKI yang berhasil ditemukan sangatlah jelas bahwa Ir. Soekarno lah yang pertama kali berpidato tentang dasar negara Pancasila.

Sangat jelas dari perspektif sejarah ketatanegaraan Indonesia, bahwa ide atau gagasan tentang Pancasila untuk pertama kalinya disampaikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Prof. Dr. Drs. Notonagoro, S.H. mengemukakan:

Menjadinya Pancasila sebagai dasar filsafat negara tentu saja pada waktu ditetapkan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu, pada tanggal 18 Agustus 1945, akan tetapi asal mulanya lebih tua. Kedua-duanya mempunyai sejarah. Untuk pertama kalinya Pembukaan direncanakan pada tanggal 22 Juni 1945, yang terkenal sebagai Djakarta-Charter (Piagam Jakarta), akan tetapi Pancasila telah lebih dahulu diusulkan sebagai dasar filsafat negara Indonesia Merdeka yang akan didirikan, yaitu pada tanggal 1 Juni 1945, dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.11

Merujuk pendapat Notonagoro juga pada saat pidato pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Ir. Soekarno 19 September 1951 yang mengatakan bahwa pengakuan terhadap Pancasila 1 Juni 1945 bukan terletak pada bentuk formal yang urut-urutan sila-silanya berbeda dengan rumusan sila-sila Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945, pengakuan tersebut justru terletak

(13)

dalam asas dan pengertiannya yang tetap sebagai dasar filsafat negara. Melalui berbagai penjelasan tersebut, maka dalam menafsir dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila dalam konteks kekinian termasuk dalam pembentukan Undang-Undang, seharusnya rujukannya adalah Pidato Ir.Soekarno 1 Juni 1945.

Ketiga, penetapan hari lahirnya Pancasila itu tanggal 1 Juni 1945 oleh Pemerintah, harus dibaca dan dipahami sebagai sebuah pengertian, bahwa pada tanggal 1 Juni 1945 itulah memang istilah Pancasila sebagai dasar negara Indonesia Merdeka untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Ir. Soekarno di depan sidang BPUPKI. Dan, oleh sebab itu Kementerian Penerangan RI pada tanggal 1 Juli 1947 menerbitkan buku yang berisi pidato Ir. Soekarno dengan judul ‘Lahirnya Pancasila’. Bahkan, dalam buku itu, Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat (mantan Ketua BPUPKI) memberikan Kata Pengantar–nya. Keempat, penetapan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 itu sebenarnya mempertegas dan melanjutkan langkah dan kebijakan yang telah ditempuh Kementerian Penerangan RI pada tanggal 1 Juli 1947 yang menerbitkan buku yang berjudul ‘Lahirnya Pancasila’.

G. Rekomendasi

Berdasarkan dari apa yang telah dikaji/ditelaah dalam naskah pendapat hukum (legal oppinion) ini, maka perlu direkomendasikan beberapa hal berikut ini:

(1) Pemerintah perlu segera memberikan legalitas yuridis dan kepastian historis untuk menetapkan hari lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Republik Inonesia itu tanggal 1 Juni 1945. Penetapan hari lahirnya Pancasila ini sangat penting untuk memberikan segi kepastian yuridis dan historis tentang lahirnya Pancasila, serta dalam rangka untuk menghindari munculnya spekulasi-spekulasi politik yang kontra-histori dan kontra-produktif bagi kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;

(2) Langkah untuk menetapkan hari lahirnya Pancasila itu dapat diberikan bentuk hukum (rechtsvorm) berupa Keputusan Presiden Republik Indonesia, yang dalam naskah pendapat hukum ini ini ditempatkan dalam lampiran.

(14)

USULAN RANCANGAN

KEPUTUSAN PRESIDEN RI

TENTANG PENETAPAN

HARI LAHIRNYA PANCASILA 1 JUNI 1945

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR ... TAHUN 2015

TENTANG

PENETAPAN HARI LAHIRNYA PANCASILA SEBAGAI

DASAR DAN IDEOLOGI NEGARA REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:

a. bahwa pada tanggal 1 Juni 1945 Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka

untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya di depan

sidang BPUPKI yang dipimpin oleh Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat;

b. bahwa rangkaian dokumen sejarah perumusan Pancasila yang bermula dari

kelahirannya 1 Juni 1945, 22 Juni 1945, hingga ditetapkan pada tanggal 18 Agustus

1945 merupakan kesatuan proses yang masing-masing memiliki sumbangsih bagi

keberlakuan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara hingga saat ini.

c. bahwa tanggal 18 Agustus telah ditetapkan sebagai hari konstitusi berdasarkan

Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 2008, sehingga untuk melengkapi sejarah

ketatanegaraan Indonesia perlu ditetapkan hari kelahiran Pancasila yang dari segi

hierarki norma hukum berbeda kedudukannya dengan konstitusi mengingat Pancasila

merupakan norma dasar negara yang abstrak dan tertinggi dan merupakan sumber dari

segala sumber hukum negara.

d. bahwa sehubungan dengan hal tersebut, dipandang perlu menetapkan tanggal 1 Juni

1945 sebagai Hari Lahirnya Pancasila dengan Keputusan Presiden.

Mengingat:

Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:

KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN HARI LAHIRNYA PANCASILA

SEBAGAI IDEOLOGI DAN DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERTAMA

: Tanggal 01 Juni 1945 ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Pancasila sebagai

Dasar dan Ideologi Negara Republik Indonesia.

KEDUA

: Hari Lahirnya Pancasila itu diperingati setiap tanggal 01 Juni oleh

Pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia,

dan ditetapkan sebagai hari libur nasional.

KETIGA

: Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

(15)

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

ttd.

Gambar

Tabel 1Perbandingan Rumusan Pancasila di dalam Pembukaan UUD 1945,

Referensi

Dokumen terkait