Fakultas Ilmu Komputer
476
Perbandingan Jumlah
Membership
Dan Model
Fuzzy
Terhadap Perubahan
Suhu Pada Inkubator Penetas Telur
Dini Ismawati1, Dahnial Syauqy2, Barlian Henryranu Prasetio3
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
Abstrak
Suhu yang ideal pada inkubator merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses penetasan telur ayam. Untuk menjaga suhu agar tetap ideal, dapat dilakukan dengan membuat sistem otomatis dan menerapkan metode fuzzy menggunakan software NI LabVIEW yang berbasis grapichal programming. Pada fuzzy terdapat membership function dan model, akan tetapi saat ini pemilihan jumlah membership
dan model fuzzy belum didasarkan pada suatu panduan. Pada penelitian ini membandingkan outputfuzzy
dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu ideal, jika sistem tidak menerapkan metode fuzzy dan menerapkan metode fuzzy dengan 3, 5 dan 7 membership dan pada masing-masing membership
menggunakan model Gaussian, Trapezoid dan Triangle. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, diperoleh nilai selisih dari ketiga jenis membership sebesar 12,9 dan dari tiga model fuzzy sebesar 0,8. Penelitian ini membuktikan bahwa jumlah membership sangat berpengaruh terhadap output fuzzy
sedangkan model fuzzy berpengaruh sangat kecil. Sistem yang tidak menggunakan metode fuzzy
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu ideal dari pada sistem yang menggunakan
fuzzy. Dengan menggunakan fuzzy 7 membership, nilai selisih output fuzzy semakin kecil dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu ideal semakin cepat.
Kata kunci: suhu, LabVIEW, fuzzy, membership
Abstract
Incubator’s Ideal temperature is one of important factors that need to consider in egg hatching process.
By designing an automation system using fuzzy logic, the ideal temperature can be maintained. The system using NI LabVIEW as graphical programming language software to design the user interface monitoring temperature in incubator. There are few membership functions and models in fuzzy logic. However, still there is no guideline about selection of membership amount and fuzzy model of
parameters that using in fuzzy process.In this research, compare and analyze the difference between
system that didn’t using fuzzy logic and system that using fuzzy logic with variant amount of memberships, those are 3, 5 and 7 memberships, where in each variant is using different model, those are Gaussian, Trapezoid, and Triangle. Based on the result of testing, difference of those three variant memberships is 12.9 and difference of those three fuzzy models is 0.8. Furthermore, amount of membership affects the output of fuzzy system, while fuzzy model is not really affected the output fuzzy system. In temperature testing, the result shows the system that didn’t using fuzzy logic method took a long time to reach ideal temperature rather than system that using fuzzy logic method. Fuzzy system that using 7 memberships got smallest difference is 0.49 and took fastest time to get ideal temperature.
Keywords: temperature, LabVIEW, fuzzy, membership
1. PENDAHULUAN
Suhu yang ideal pada inkubator penetas telur ayam, memiliki peranan penting untuk menentukan kesuksesan ketika panen. Suhu ideal untuk penetasan telur ayam berkisar antara 36o– 40o celcius atau dapat diseragamkan pada
suhu antara 37o– 39o celcius. (Hartono & Isman,
2010).
Sistem otomatis untuk mengidealkan suhu inkubator telur ayam dapat dibuat dengan menggunakan metode fuzzy karena algoritma
Fuzzy adalah metodologi sistem pemecahan
(membership function) yang merupakan suatu kurva yang menunjukkan pemetaan titik-titik
input data atau disebut dengan derajat
keanggotaan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai keanggotaan adalah dengan melalui pendekatan fungsi atau model, seperti kurva segitiga (triangle), kurva trapezium (trapezoid), kurva gauss (gaussian), dan sebagainya (Wardhani & Haerani, 2011).
Akan tetapi saat ini pemilihan jumlah
membership dan model fuzzy untuk parameter-parameter yang digunakan dalam proses fuzzy
masih belum didasarkan kepada suatu panduan. Karena tidak adanya panduan, umumnya model fungsi keanggotaan yang dipilih adalah model fungsi keanggotaan yang paling sering digunakan.
Pada penelitian sebelumnya mengenai pengaruh jumlah membership dan model fuzzy
pada output sistem diperoleh rata-rata selisih antara tiga jenis membership sebersar 30,8 dan rata-rata nilai selisih antara tiga model fuzzy
sebesar 0,62 (Huda, 2016). Kemudian diperoleh rata-rata nilai selisih model fuzzy sebesar 2,33 jika menggunakan jumlah membershipinput dan
output yang berbeda (Castro et al., 2012). Berdasarkan dua penelitian yang pernah dilakukan oleh Miftahul Huda dan Jaqueline, belum ada yang melakukan analisa mengenai perbandingan jumlah membership dan model
fuzzy terhadap sistem yang mengidealkan suhu inkubator secara otomatis. Oleh karena itu, perlu dirancang suatu sistem untuk mengetahui perubahan suhu inkubator jika menggunakan
membership dan model fuzzy yang berbeda serta
untuk mengetahui nilai selisih membership dan model fuzzy. Secara garis besar sistem ini dibuat untuk melakukan perbandingan terhadap output
sistem yaitu PWM kipas dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu ideal jika menggunakan membership dan model yang berbeda.
Pada sistem ini menggunakan LabVIEW, karena LabVIEW merupakan pemrograman yang berbasis Graphical dan menyediakan
toolkit yang lengkap untuk pemrograman fuzzy
dan toolkit lainnya. Perancangan fuzzy pada LabVIEW tidak perlu menginstall library atau melakukan inisialisasi dalam pembuatan variabel input atau outputnya sehingga programmer dapat membuat variable input
output, memberikan nilai domain dan membuat
rule dengan sangat mudah. Selain itu pada LabVIEW juga menyediakan front panel
windows untuk menampilkan interface system sehinggaa programmer tidak perlu membuat program interface kembali, dan LabVIEW juga dapat menyimpan data yang memudahkan dalam menganalisa output sistem..
2. PERANCANGAN DAN
IMPLEMENTASI
Pada tahap perancangan terbagi menjadi dua bagian, yaitu perancangan hardware dan perancangan software. Seperti pada Gambar 2.1
Gambar 2.1 Alur Perancangan Sistem
Pada perancangan perangkat keras, yaitu rangkaian electric dan pembangunan prototype
sistem agar dalam tahap implementasi dapat berjalan sesuai dengan harapan. Perancangan dan impementasi prototype inkubator penetas telur seperti pada Gambar 2.2 dan Gambar 2.3.
Gambar 2.2 Perancangan Prototype Inkubator
Gambar 2.3 Implementasi Prototype Inkubator
Pada Gambar 2.2 dan Gambar 2.3 di dalam
prototype inkubator terdapat 1 buah bohlam 25
belakang, terdapat 2 kipas DC 12 V sebagai pendingin suhu inkubator. Pada bagian belakang inkubator harus terdapat lubang untuk sirkulasi udara sebesar kipas dan kipas salah satunya dipasang terbalik agar 1 kipas berfungsi menghasilkan udara dan 1 kipas lainnya berfungsi untuk menghirup udara pada inkubator. Sensor DHT11 diposisikan pada bagian bawah lampu bohlam agar suhu terdeteksi dengan baik.
Pada perancangan dan implementasi rangkaian elektrik seperti pada Gambar 2.4 dan Gambar 2.5
Gambar 2.4 Perancangan Rangkaian Elektrik
Gambar 2.5 Perancangan Prototype Inkubator
Pada Gambar 2.4 dan Gambar 2.5, pin data sensor DHT11 dihubungkan dengan pin digital 2 Arduino Mega. Selanjutnya perancangan driver
motor L298N dimana port IN1 terhubung dengan pin 8 dan port IN3 terhubung dengan pin 9 digital Arduino dan port output terhubung dengan kipas pendingin. Kemudian perancangan
driver lampu dimana port output terhubung
dengan pin digital 3 Arduino Mega.
Perancangan software dalam pembuatan sistem ini adalah perancangan user interface dan pengolahan data sensor dengan menggunakan pemrograman NI Labview. Perancangan
software berkaitan dengan cara kerja dan
algoritma sistem yang akan dibuat sesuai dengan kebutuhan yang telah ditentukan. Software desain sangat erat kaitannya dengan proses yang dilakukan oleh hardware. Diagram blok
software desain yang berkaitan dengan sistem
hardware seperti Gambar 2.6.
Gambar 2.6 Diagram Blok Software Desain Berhubungan dengan Hardware
Untuk mengidealkan suhu, dibutuhkan sistem fuzzy. Fuzzy bekerja didalam program aplikasi PC monitoring dengan acuan desain
membership function beserta rules
menggunakan system fuzzy designer NI LabVIEW dan library fuzzy yang terdapat di dalam pemrograman NI LabVIEW. Diagram blok desain sistem pembacaan data fuzzy seperti pada Gambar 2.7.
Gambar 2.7 Diagram Blok Desain Sistem Fuzzy
Gambar 2.8 Alur Perancangan Software
memiliki tujuan agar sensor DHT11 dapat membaca kondisi suhu dan kelembaban melalui
mikrokontroller Arduino Mega dan data sensor diolah oleh program PC Monitoring yang kemudian akan menghasilkan data atau nilai suhu dan kelembaban udara pada inkubator di dalam tampilan monitoring dengan tujuan agar sistem dapat mengolah data untuk menentukan kualtas suhu inkubator, Kemudian sistem dapat mengidealkan suhu inkubator tanpa menggunakan metode fuzzy dan meggunakan metode fuzzy. Sistem dapat melakukan log data monitoring sesuai waktu yang dipilih oleh user yatu 3, 5, atau 10 detik sekali. Serta sistem dapat melakukan penyimpanan data monitoring sesuai dengan nama yang diberikan user. Sehingga dapat mengetahui perbedaan perubahan suhu
dan outputfuzzy jika menggunakan metode yang
berbeda-beda.
1) Perancangan Program Tanpa Fuzzy
Pada perancangan program tanpa fuzzy
untuk driver lampu dan driver kipas, dilakukan konfigurasi output PWM lampu dan PWM kipas dengan Scalling and Mapping seperti pada Tabel 2.1 dan Tabel 2.2.
Tabel 2.1 Scalling and Mapping Driver Kipas
X Y
0 0
50 255
Pada Tabel 2.1 merupakan tabel Scalling
and Mapping Driver Kipas. Dimana X
merupakan sinyal input dari suhu / temperature
dan Y merupakan output PWM untuk kipas. Apabila nilai suhu pada inkubator adalah 0 derajat celcius maka output PWM kipas adalah 0 dan ketika suhu 50 derajat celcius maka output
pwm adalah 255. Untuk nilai suhu diantara 0 sampai dengan 50 sistem secara otomatis akan melakukan scalling and mapping nilai output
pwm yaitu antara 0 – 255.
Scalling and Mapping juga digunakan
untuk mengatur output PWM untuk driver
lampu, seperti pada Tabel 2.2
Tabel 2.2. Scalling and Mapping Driver Lampu
X Y
0 255 39 0
Pada Tabel 2.2 merupakan tabel Scalling
and Mapping Driver Lampu. Dimana X
merupakan sinyal input dari suhu / temperature
dan Y merupakan output PWM untuk kipas. Apabila nilai suhu pada inkubator adalah 0 derajat celcius maka output PWM lampu adalah 255 dan ketika suhu 39 derajat celcius maka
output pwm adalah 255. Untuk nilai suhu
diantara 0 sampai dengan 50 maka sistem secara otomatis akan melakukan scalling and mapping
nilai output pwm yaitu antara 255 - 0.
2) Perancangan Program Fuzzy
Pada perancangan fuzzy terdapat beberapa tahap yaitu fuzzifikasi, inferensi, dan defuzzifikasi. Pada tahap fuzzifikasi adalah menentukan nilai keanggotaan variabel input suhu dan kelembaban, kemudian variabel output.
a. 3 Membership
Gambar 2.8 Variabel Input Suhu Model Gaussian
dan Trapezoid 3 Membership
Gambar 2.9 Variabel Input Suhu Model Triangle 3
Membership
Gambar 2.10 Variabel Input Kelembaban Model
Gaussian dan Trapezoid 3 Membership
Gambar 2.11 Variabel Input Kelembaban Model
Gambar 2.12 Variabel Output Model Gaussian dan
Trapezoid 3 Membership
Gambar 2.13 Variabel Output Model Triangle
Model Triangle 3 Membership
b. 5 Membership
Gambar 2.14 Variabel Input Suhu Model Trapezoid
dan Gaussian 5 Membership
Gambar 2.15 Variabel Input Suhu Model Triangle
Gambar 2.16 Variabel Input Kelembaban Model
Trapezoid dan Gaussian 5 Membership
Gambar 2.17 Variabel Input Kelembaban Model
Trapezoid dan Gaussian 5 Membershi
Gambar 2.18 Variabel Output Model Trapezoid dan
Gaussian 5 Membership
Gambar 2.19 Variabel Output Model Triangle dan
Gaussian 5 Membership
c. 7 Membership
Gambar 2.20 Variabel Input Suhu Model Gaussian
dan Trapezoid 7 Membership
Gambar 2.21 Variabel Input Suhu Model Triangle 7
Membership
Gambar 2.22 Variabel Input Kelembaban Model
Gaussian dan Trapezoid 7 Membership
Gambar 2.23 Variabel Input Kelembaban Model
Gambar 2.24 Variabel Output Model Gaussian dan
Trapezoid 7 Membership
Gambar 2.25 Variabel Output Model Triangle 7
Membership
Pada tahap rule based dan inferensi fuzzy
merupakan bentuk relasi atau implementasi if -then, yang kemudian akan dilakukan proses implikasi dalam menalar nilai masukan untuk menentukan nilai keluaran sebagai bentuk pengambilan keputusan. Berikut adalah perancangan rule based dan inferensi fuzzy.
a) 3 Membership
Tabel 2.3 Rule Fuzzy 3 Membership
b) 5 Membership
Tabel 2.4 Rule Fuzzy 5 Membership
c) 7 Membership
Tabel 2.4 Rule Fuzzy 5 Membership
Pada tahap defuzzifikasi adalah dimana user dapat memilih metode yang digunakan dalam proses pemetaan dari himpunan fuzzy ke himpunan tegas. Pada penelitian ini sistem fuzzy
menggunakan metode Center Of Area seperti pada Gambar 2.26.
Gambar 2.26 Metode Defuzzyfikasi
Pada sistem ini terdapat interface monitoring seperti pada Gambar 2.27.
Gambar 2.27 Interface Program Utama
Gambar 2.28 Interface Monitoring Suhu
3. HASIl PENGUJIAN DAN ANALISIS
Pengujian pada penelitian ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu:
1. Pengujian output fuzzy berdasarkan jumlah memberhip
2. Pengujian output fuzzy berdasarkan model
fuzzy
3. Pengujian waktu perubahan suhu untuk mencapai suhu ideal
3.1. Pengujian Output Fuzzy Berdasarkan Jumlah Membership
Pada pengujian pertama, yaitu pengujian
output fuzzy bersarkan jumlah membership
bertujuan untuk mengetahui selisih output dari masing-masing membership dan mengetahui pengaruh jumlah membership.
Tabel 3.1 Hasil OutputFuzzy 3 Membership
Dari hasil Tabel 3.1 diperoleh rata-rata ouput fuzzy 19,63 – 172,63 dengan tiga buah model fuzzy menggunakan 3 membership
function dan dengan nilai sensor yang berbeda.
Tabel 3.2 Hasil OutputFuzzy 5 Membership
Dari hasil Tabel 3.2 diperoleh rata-rata ouput fuzzy 28,17 – 132,61 dengan tiga buah model fuzzy menggunakan 5 membership
function dan dengan nilai sensor yang berbeda.
Tabel 3.3 Hasil OutputFuzzy 7 Membership
Dari hasil Tabel 3.3 diperoleh rata-rata ouput fuzzy 30,31 – 119,95 dengan tiga buah model fuzzy menggunakan 7 membership
function dan dengan nilai sensor yang berbeda.
Tabel 3.4 Selisih output pada masing-masing
membership
Keterangan :
C : Data Suhu (Celcius)
RH : Data Kelembaban (RelativeHumidity) n0 : Rata-rata ouput 3 memberhip function
n1 : Rata-rata output 5 membershipfunction
n2 : Rata-rata output 7 membershipfunction
selisih : Selisih n-maksimum dengan n-minimum
Dari hasil Tabel 3.4 diperoleh rata-rata selisih yang merupakan rata-rata selisih dari nilai
output dari masing-masing membership yaitu
12,906 dengan tiga jenis membership.
Berdasarkan pengujian output fuzzy
berdasarkan jumlah membership, pada 3
membership dengan 3 model fuzzy, diperoleh rata-rata output fuzzy yaitu antara 19,63 – 173, 63. Pada 5 membership diperoleh rata-rata antara 28,17 – 132,61 dan pada 7 membership diperoleh rata-rata antara 30,3 – 119,9.
Dari ketiga rata-rata output tiga jenis
membership rata-rata nilai selisih sebesar 12,9. Dapat disimpulkan bahwa jumlah membership
sangat berpengaruh pada output fuzzy. Hal ini disebabkan karena jumlah membership yang digunakan memiliki selisih yang cukup jauh yaitu 3, 5 dan 7 membership. Sehingga grafik dari rules maupun nilai domain desain
membership fuzzy akan berbeda juga. Selain tu perancangan rule juga nilai domain yang ditentukan juga sangat berpengaruh terhadap perbedaan selisih dari output fuzzy pwm kipas yang mengakibatkan nilai selisih pada output
fuzzy cukup besar jika menggunakan
perbandingan tiga jenis membership.
3.2. Pengujian Output Fuzzy Berdasarkan Model Fuzzy
Pada pengujian kedua, yaitu pengujian
output fuzzy bersarkan model bertujuan
memastikan masing-masing outputfuzzy dengan seluruh kombinasi model dan membership yang dibuat sesuai dan memiliki nilai selisih yang kecil dari selisih masing-masing metode serta mengetahui seberapa bersar pengaruh jumlah
Tabel 3.5 Selisih Output Tiga Model Fuzzy 3
Membership
Dari hasil Tabel 3.5 diperoleh hasil rata-rata selisih yang merupakan rata-rata selisih dari nilai
output dari masing-masing model pada fuzzy
yaitu Gaussian, Trapezoid dan Triangle pada 3
membershipfunction yaitu sebesar 1,65.
Keterangan :
C : Data Suhu (Celcius)
RH : Data Kelembaban (RelativeHumidity) selisih : Selisih maksimum dengan n-minimum
Tabel 3.6 Selisih Output Tiga Model Fuzzy 5
Membership
Dari hasil Tabel 3.6 diperoleh hasil rata-rata selisih yang merupakan rata-rata selisih dari nilai
output dari masing-masing model pada fuzzy
yaitu Gaussian, Trapezoid dan Triangle pada 5
membershipfunction yaitu sebesar 0,74.
Tabel 3.7 Selisih Output Tiga Model Fuzzy 7
Membership
Dari hasil Tabel 3.7 diperoleh hasil rata-rata selisih yang merupakan rata-rata selisih dari nilai
output dari masing-masing model pada fuzzy
yaitu Gaussian, Trapezoid dan Triangle pada 7
membershipfunction yaitu sebesar 0,49.
Berdasarkan Tabel 3.5, 3.6 dan 3.7 yang merupakan selisih output model fuzzy dari masing-masing membership pada 3 membership
diperoleh niai selisih sebesar 1,16, kemudian pada 5 membership diperoleh selisih sebesar 0,74 dan 7 membership diperoleh selisihsebesar 0,49 sehingga diperoleh rata-rata nilai selisih dari tiga jenis model fuzzy berdasarkan 3 jenis
membership adalah 0,8.
Hal ini membuktikan bahwa model fuzzy
berpengaruh sangat kecil pada rules dari
membership yang digunakan, sehingga output
fuzzy pwm memiliki selisih yang sangat tipis bahkan nol. Selain itu pengujian output fuzzy
membuktikan bahwa jika jumlah membership
semakin besar, pada penelititan ini tepatnya 7
membership, akan memiliki nilai selisih ouput
fuzzy semakin kecil.
3.3. Pengujian Waktu Perubahan Suhu Untuk Mencapai Suhu Ideal
Pada pengujian ketiga yaitu pegujian perubahan suhu bertujuan untuk mengetahui perubahan suhu jika sistem tidak diterapkan metode fuzzy dan diterapkan metode fuzzy
dengan 3, 5 dan 7 memberhsip dimana pada masing-masing membership direpresentasikan model yang berbeda yaitu Gussian, Trapezoid
dan Triangle. Pengujian ini dilakukan pada
lingkungan yang memiliki suhu di atas kondisi ideal yaitu 41 derajat dan dilakukan pada lingkungan yang memiliki suhu di bawah kondisi ideal yaitu 35 derajat celcius.
Pada sistem yang tidak menggunakan metode fuzzy, ketika pengujian dilakukan pada kondisi panas, membutuhkan waktu 35 detik untuk mencapai suhu ideal. Sedagkan ketika pengujian pada suhu dingin, membutuhkan waktu > 60 detik. Sehingga jumlah waktu yang diperlukan adalah > 90 detik.
Tabel 3.8 Waktu Stabil Dengan Tiga Jenis
Membership Pada Kondisi Panas
Dari hasil Tabel 3.8, pada sistem yang diterapkan metode fuzzy dengan 3, 5, 7
membership dan dengan tiga model yaitu
Tabel 3.9 Waktu Stabil Dengan Tiga Jenis
Membership Pada Kondisi Dingin
Dari hasil Tabel 3.9, pada sistem yang diterapkan metode fuzzy dengan 3, 5, 7
membership dan dengan tiga model yaitu
Gaussian, Trapezoid dan Triangle diperoleh rata-rata waktu untuk mencapai kondisi ideal dari suhu awal 35 derajat celcius adalah 36,67
– 41,67 detik.
Tabel 3.10 Rata-Rata Waktu Stabil Dengan Tiga Jenis Membership
Berdasarkan hasil pengujian waktu perubahan suhu, pengujian dengan menggunakan 10 metode menunjukkan bahwa tanpa menggunakan metode fuzzy, ketika pengujian dilakukan pada suhu panas, suhu mencapai kondisi ideal dengan waktu 35 detik. Sedangkan ketika pengujian dilakukan pada kondisi dingin, suhu mencapai kondisi ideal memerlukan waktu lebih dari 60 detik, sehingga waktu yang diperlukan lebih dari 95 detik.
Pada sistem yang meggunakan metode
fuzzy, ketika pengujian dilakukan pada kondisi panas dan dingin, pada 3 membership
membutuhkan waktu 47,3 detik, pada 5
membership membutuhkan waktu 46,4 detik dan
pada 7 membership membutuhkan waktu 45.6 detik. Dapat disimpulkan bahwa dengan 7
membership, waktu yang diperlukan untuk
mencapai suhu ideal semakin cepat.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian dan analisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Jumlah membership fuzzy mempengaruhi ouput nilai fuzzy, dari ketiga membership
dengan 3 model fuzzy, pada 3 membership
diperoleh rata-rata output fuzzy yaitu antara 19,63 – 173, 63. Pada 5 membership
diperoleh rata-rata antara 28,17 – 132,61 dan pada 7 membership diperoleh rata-rata antara 30,3 – 119,9. Dari ketiga rata-rata output tiga jenis membership rata-rata nilai selisih sebesar 12,9. Dapat disimpulkan bahwa jumlah membership sangat berpengaruh pada
outputfuzzy.
2. Model fuzzy memiliki pengaruh terhadap
outputfuzzy, akan tetapi sangat kecil bahkan mendekati 0. Dari ketiga model fuzzy dari 3 jenis membership, pada 3 membership
diperoleh niai selisihsebesar 1,16, kemudian pada 5 membership diperoleh selisih sebesar 0,74 dan 7 membership diperoleh selisih sebesar 0,49 sehingga diperoleh rata-rata nilai selisih dari tiga jenis model fuzzy
berdasarkan 3 jenis membership adalah 0,8. Dapat disimpulkan bahwa model fuzzy hanya berpengaruh sangat kecil terhadap output fuzzy.
3. Perubahan suhu ketika tanpa menggunakan metode fuzzy, ketika pengujian dilakukan pada suhu panas, suhu mencapai kondisi ideal dengan waktu 35 detik. Sedangkan ketika pengujian dilakukan pada kondisi dingin, suhu mencapai kondisi ideal memerlukan waktu lebih dari 60 detik, sehingga waktu yang diperlukan lebih dari 95 detik. Sedangkan dengan menggunakan metode fuzzy, ketika pengujian dilakukan pada kondisi panas dan dingin, dengan menggunakan 3 membership jumlah waktu untuk mencapai suhu ideal adalah 47,3 detik. Pada 5 membership mencapai suhu ideal dengan jumlah waktu 46,4 detik dan pada 7
membership mencapai suhu ideal dengan
jumlah waktu 45.6 detik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan 7
membership, jumlah waktu yang diperlukan
untuk mencapai suhu ideal semakin cepat.
5. SARAN
1. Pada penelitian ini didapatkan selisih pada
membership sebesar 12,9 dan pada model
fuzzy sebesar 13,7. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan dapat meminimalkan nilai selisih dengan lebih memperhitungkan lagi dalam penentuan nilai domain yaitu dapat mengurangi atau menambah nilai domain dan lebih memperhatikan dalam penentuan rule base pada fuzzy.
2. Pada waktu perubahan suhu untuk mencapai suhu ideal, diperoleh selisih yang belum terlalu jauh jika menggunakan jenis
membership yang berbeda, sehingga waktu
belum terlihat perubahannya seacara signifikan. Diharapkan pada penilitian selanjutnya dapat melakukan penelitian yang dapat menunjukkan selisih waktu dengan cara melakukan pengujian masing-masing
membership dengan suhu yang sama dan
dengan kelembaban yang tidak terlalu jauh. Karena kelembaban juga berpengaruh pada perubahan suhu. Perubahan suhu juga dipengaruhi oleh fuzzy yang kurang sesuai, sehinggal berkaitan juga dengan saran nomor 1.
3. Berdasarkan pengujian pada fuzzy dan waktu perubahan suhu, dengan menggunakan 7
membership diperoleh selisih fuzzy sangat kecil dan waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu ideal semakin cepat, oleh karena itu untuk penelitian selanjutnya dapat mengimplementasikan secara langsung pada penetasan telur ayam, sehingga akan diketahui seberapa besar keakurasian sistem dalam proses penetasan telur ayam.
DAFTAR PUSTAKA
Tirto Hartono, I. (2010). Kiat Sukses
Menetaskan Telur Ayam. Jakarta: PT
AgroMedia Pustaka.
Thiang, R. W. (t.thn.). Aplikasi Kendali Fuzzy
Logic untuk Pengaturan Kepcepatan Motor Universal.
Luh Kesuma Wardhani, E. H. (2011). Analisis Pengaruh Pemilihan Fuzzy Membership Function Terhadap Output Sebuah Sistem
Fuzzy Logic.
Dhanny Jufril, D. B. (2015). Implementasi Mesin Penetas Telur Ayam Otomatis Menggunakan Metode Fuzzy Logic Control.
Huda, M. (2016). Sistem Kontrol Dan Monitoring Kualitas Air Tambak Menggunakan Fuzzy Logic Control Berbasis GraphicalProgramming.
J.Gayathri Monicka, D. G. (2011). Performance Evaluation of Membership Functions on
Fuzzy Logic Controlled AC Voltage
Controller for Speed Control of Inducion Motor Drive.