• Tidak ada hasil yang ditemukan

Valuasi Kelayakan Rencana Pembangunan Pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Valuasi Kelayakan Rencana Pembangunan Pe"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

Valuasi Kelayakan Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik

Tenaga Biomasa Bambu di Kab. Kayong Utara

Oleh: Herry Purwanto, S.IP

Mahasiswa Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Lingkungan Universitas Tanjungpura Pontianak Tahun 2014/2015 (PNS Kab. Kayong Utara, Kalimantan Barat/email:

[email protected])

BAB I PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang

Sejalan dengan upaya pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kebutuhan listrik akan terus meningkat. Dibeberapa daerah di pulau Jawa, kebutuhan listrik masyarakat masih terkendala defisit daya mampu dari pembangkit listrik yang memasok daya ke wilayah tersebut. Sesuai kebijakan Pemerintah tentang Bauran Energi (Energy Mix) untuk meningkatkan persentase penggunaan energi baru dan terbarukan serta mengurangi penggunaan energi fosil terutama BBM maka penambahan pasokan daya mampu dengan membangun pembangkit listrik baru diupayakan menggunakan sumber energi baru dan terbarukan yang cocok dan layak sesuai potensi wilayah setempat.

Kebutuhan listrik semakin bertambah sejalan dengan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kayong Utara. Saat ini masih terdapat kendala defisit daya mampu dari pembangkit listrik yang memasok daya ke wilayah tersebut, dan mahalnya biaya produksi listrik karena pembangkit yang ada masih mengandalkan bahan bakar minyak, sehingga perlu alternatif solusi berupa pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi baru dan terbarukan sesuai potensi di Kabupaten Kayong Utara.

(2)

Kabupaten Kayong Utara (KKU) berada pada garis koordinat 00o45

sampai dengan 18’ lintang selatan (LS) dan 108o05’ sampai dengan 110o15’

bujur timur (BT). Secara geografis letak batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

1. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pontianak. 2. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Ketapang. 3. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

4. Sebelah barat berbatasan dengan Laut Jawa.

KKU merupakan pemekaran dari Kabupaten Ketapang berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 6 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Kayong Utara, tanggal 2 Januari 2007. Luas wilayah keseluruhannya adalah 4.089Km2, terdiri dari 6 kecamatan yaitu:

1. Kecamatan Sukadana.

adalah Kecamatan Seponti dengan luas 146 Km2 atau 3,46%.

Selain memiliki akses ke wilayah perhuluan, karena berbatasan langsung dengan wilayah pedalaman, serta ke wilayah pesisir, yaitu Kabupaten Ketapang dan sekitarnya, KKU juga memiliki akses ke laut dan memiliki banyak pulau yang tersebar di Kecamatan Kepulauan Karimata, Kecamatan Pulau Maya dan Kecamatan Sukadana.

I. 3. Visi dan Misi Kabupaten Kayong Utara

(3)

Kabupaten Kayong Utara Nomor 5 Tahun 2009, Visi Pembangunan Kabupaten Kayong Utara adalah: “Kabupaten Kayong Utara Mandiri dan Sejahtera Tahun 2025”.

Untuk mewujudkan Visi tersebut, Kabupaten Kayong Utara mempunyai delapan Misi Pembangunan, yaitu:

1. Mewujudkan perekonomian yang maju dengan mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, yang berorientasi pada peningkatan kemampuan produksi pertanian, perikanan, kelautan, dan perkebunan serta pengolahan hasil akhir produk, dalam upaya memperluas kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

2.Mewujudkan masyarakat yang sehat, cerdas, produktif dan inovatif untuk meningkatkan daya saing serta penguasaan dan penggunaan IPTEK. 3.Mewujudkan infrastruktur dasar yang memadai untuk membuka kawasan

terisolir dan tertinggal sekaligus untuk mengembangkan kegiatan investasi. 4.Mewujudkan kemampuan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan dan menjaga fungsi lingkungan hidup secara berkelanjutan, berkeadilan, dan berkesinambungan, untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

5.Mewujudkan pembangunan wilayah yang merata dan berkeadilan dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengurangan kesenjangan antar wilayah, penataan ruang dan pertanahan, dan percepatan pembangunan wilayah tertinggal/miskin.

6.Mewujudkan masyarakat yang bermoral, berbudaya, dan religius, serta memiliki kultur produktif-inovatif dan mandiri berlandaskan kepada nilai-nilai luhur Pncasila, budaya bangsa, dan agama.

7.Mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat berbasis supremasi hukum dan tata pemerintahan yang baik.

(4)

BAB II

KONDISI KELISTRIKAN DI PROPINSI KALIMANTAN BARAT

II.1.Sistem Kelistrikan

Berdasarkan Data dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) Tahun 2013-2022, Sistem Kelistrikan di Kalimantan Barat terdiri atas satu sistem interkoneksi 150 kV dan beberapa sistem isolated. Sistem interkoneksi meliputi sekitar Pontianak hungga Singkawang. Sistem isolated terdiri dari sistem Sambas, Bengkayang, Ngabang, Sanggau, Sekadau, Sintang, Nanga Pinoh, Putussibau, Ketapang dan sistem tersebar.

II.2.Beban Puncak, Daya Terpasang dan Daya Mampu

Beban puncak di Sistem kelistrikan Kalimantan Barat sampai dengan bulan September 2013 adalah 343 MW dengan kapasitas daya terpasang pembangkit sebesar 449,6 MW serta daya mampu 369,1 MW yang menghasilkan produksi listrik 1.756 GWh. Sistem interkoneksi Pontianak-Singkawang merupakan yang terbesar dimana sekitar 67% produksi listrik di Kalimantan Barat berada di sistem ini. Sampai bulan September 2013 sebanyak 98,94% produksi listrik di Kalimantan Barat bersumber dari pembangkit listrik berbahan bakar minyak. Kecukupan dan keandalan pasokan listrik masih relatif rendah karena umur beberapa mesin diesel sudah tua dan cadangan pembangkitan masih kurang memadai.

(5)

Sistem isolated Ketapang masih mengandalkan pasokan listrik dari PLTD milik PLN dan PLTD Sewa dengan beban puncak sebesar 27,5 MW, daya terpasang sebesar 28,9 MW dan daya mampu sebesar 28,9 MW.

Profil konsumen pengguna listrik di Propinsi Kalimantan Barat masih didominasi oleh konsumen rmah tangga dan sosial (62,9%), sektor publik/sarana umum (8,63%) dan konsumen industri (5,35%).

Dari hasil survey yang dilakukan Tim Lembaga Teknologi Fakultas Kabupaten Kayong Utara baru mencapai 52% dari target tahun 2013 sebesar 70%. Beban puncak untuk sistem ini sebesar 24,2 MW dengan daya mampu sebesar 24 MW, dimana 22 MW mengandalkan PLTD berbahab bakar solar milik PLN dan pembangkit sewa ditambah 2 MW pembelian excees power dari pembangkit listrik milik perusahaan swasta (PT. Sukajaya Makmur). Dengan adanya kekurangan daya mampu sebesar 0,2 MW tersebut maka permintaan penyambungan baru di wilayah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara yang mengalami penundaan, terutama permintaan sambungan daya yang cukup besar untuk industri.

II.3.Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik 2013-2022

Pada tahun 2007-2012 dari data pada RUPTL PLN, kebutuhan tenaga listrik di Propinsi Kalimantan Barat mengalami pertumbuhan cukup tinggi yaitu sekitar 10% per tahun. Dalam kurun waktu yang sama, pertumbuhan ekonomi Propinsi Kalimantan Barat per tahun rata-rata mencapai 5,5%. Sementara Rasio Elektrifikasi di Propinsi Kalimantan Barat saat ini mencapai 67,5%.

(6)

daya listrik dan beban puncak di Propinsi Kalimantan Barat untuk tahun 2013-2022 akan semakin besar pada beban puncak dibandingkan pertumbuhan ekonomi Propinsi Kalimantan Barat, hal ini harus diantisipasi dengan menyiapkan cadangan daya mampu dari pengembangan pembangkit listrik dan kesiapan pengembangan jaringan transmisinya. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 1.

Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Propinsi Kalbar 2013-2022

Tahun Pertumbuhan

2013 6,2 1.788 2.046 371 834.147

2014 6,5 1.997 2.289 402 874.156

2015 6,6 2.230 2.541 457 918.602

2016 6,6 2.486 2.850 512 964.400

2017 6,6 2.767 3.172 569 1.012.070

2018 6,6 3.075 3.528 632 1.061.362

2019 6,6 3.415 3.917 701 1.112.432

2020 6,6 3.788 4.344 777 1.165.896

2021 6,6 4.200 4.815 860 1.221.551

2022 6,6 6.653 5.325 951 1.279.864

Growt

h 6,6 11,2% 11,2% 11.0% 4,9%

Sumber: Lembaga Teknologi Fak.Teknik Universitas Indonesia, Maret 2014.

(7)

BAB III

RENCANA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BIOMASA BAMBU

III. 1. Permasalahan

Dari realita kondisi kelistrikan yang ada, dapat disimpulkan bahwa untuk wilayah Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara saat ini masih mengalami defisit daya mampu PLN untuk melayani beban puncak, kendala itu akan diatasi dengan PLTU IPP 2x6 MW dan PLTU milik PLN 2x10 MW berbahan bakan batubara yang akan beroperasi pada tahun 2014-2015.

Namun demikian, masih terdapat resiko kontinuitas dan kepastian pasokan bahan bakar terhadap kedua pembangkit tersebut mengingat kebutuhan batubaranya masih harus didatangkan dari wilayah Kalimantan Selatan ditambah harga solar non subsidi yang semakin mahal sebagai bahan bakar PLTD eksisting.

III. 2. Mencari Solusi

Untuk meningkatkan pasokan daya mampu di wilayah Kabupaten Kayong Utara, Pemerintah Kabupaten Kayong Utara merencanakan membangun pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar energi baru dan terbarukan (EBT) yang berasal dari potensi lokal di Kabupaten Kayong Utara yaitu potensi bambu, yang banyak dan dapat dikembangkan dilahan jenis apapun di Kabupaten Kayong Utara.

(8)

3.Mewujudkan infrastruktur dasar yang memadai untuk membuka kawasan terisolir dan tertinggal sekaligus untuk mengembangkan kegiatan investasi.

4.Mewujudkan kemampuan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkelanjutan dan menjaga fungsi lingkungan hidup secara berkelanjutan, berkeadilan, dan berkesinambungan, untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

5. Mewujudkan pembangunan wilayah yang merata dan berkeadilan dalam rangka mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui pengurangan kesenjangan antar wilayah, penataan ruang dan pertanahan, dan percepatan pembangunan wilayah tertinggal/miskin.

III. 3. Tanah Tanam

Kontinuitas pasokan bahan bakar bambu sangatlah penting dalam pembangunan pembangkit listrik, oleh sebab itu diperlukan luasan area minimum untuk penanaman bahan bakunya.

Bambu sebagai bahan bakar dapat diperoleh dengan mengembangkan perkebunan inti-plasma dengan memberdayakan masyarakat setempat sehingga antara pihak perusahaan sebagai pengelola dan masyarakat sama-sama mendapatkan keuntungan (lapangan kerja baru bagi masyarakat).

Tanaman bambu pada umumnya sangat menyukai jenis tanah asam, namun hanya beberapa jenis bambu yang bisa tumbuh ditanah yang tegenang air hingga berbulan-bulan. Oleh sebab itu lokasi penanaman bambu sebaiknya ditanah yang relatif kering/tidak tergenang air.

Bila tanah tersebut adalah jenis tanah gambut, maka diperlukan drainase yang baik sehingga air dapat mengalir dan akar tidak tergenang. Paling tidak permukaan tanah yang ditanami bambu harus berada 1 meter dari dasar drainase untuk menghindari permukaan tanah selalu basah.

(9)

pasir untuk membentuk aerasi dalam tanah. Tanah latosol, alluvial merupakan tanah yang disukai oleh bambu.

Untuk mendapatkan bambu dengan dinding yang lebih tebal, diperlukan tanah yang kurang baik, sehingga pemadatan sel-sel akan terjadi yang menyebabkan bambu akan lebih tebal sehingga secara otomatis bambu menjadi lebih berat. Sebagai akibat penanaman bambu pada lahan yang tidak cocok keadaan tanahnya, maka pertumbuhan bambu akan lebih lambat sehingga produksi batang berkurang dibandingkan bambu tumbuh di tanah yang subur dengan diameter batang mungkin lebih besar dan ketebalan dinding yang lebih tipis.

Berdasarkan data lahan Kabupaten Kayong Utara yang ada, secara keseluruhan terdapat luas 2.072,14 Ha dapat digunakan sebagai perkebunan bambu.

III. 4. Budidaya Bambu Untuk Pembangkit Listrik (Pasokan Bambu) Pemanfaatan bambu untuk pembangkit tenaga listrik dan biofuel sudah digunakan digunakan dibanyak negara, contohnya Afrika Selatan, India, bahkan Malaysia. Jenis bambu yang akan dikembangkan di

(10)

Kebutuhan bambu kering untuk bahan bakar pembangkit listrik dengan kapasitas 10 MW diperkirakan 12-15 ton/jam dengan moisture content 30-40%, sehingga dalam 1 hari jika pembangkit tersebut menyala selama 24 jam diperlukan bambu kering dengan jumlah berkisar 288-360 ton/hari; berdasarkan hasil perhitungan tersebut , produktivitas bambu yang dihasilkan adalah 96 ton/Ha dengan demikian diperlukan lahan seluas 3,00 - 3,75 Ha untuk memenuhi kebutuhan bambu dalam 1 hari.

Bila produksi listrik dalam 1 tahun adalah sekitar 300 hari, maka jumlah lahan yang diperlukan untuk memasok kebutuhan bambu adalah sekitar 900 - 1.125 Ha. Untuk menjaga keamanan dan kontinuitas bahan bakar bambu, salah satu alternatif yang bisa dipilih adalah dengan menggunakan sistem panen bergantian tiap tahun, sehingga secara keseluruhan diperlukan lahan seluas 900 s.d 1.125 Ha dikalikan 3 tahun (karena batang bambu dipanen 3 tahun sekali pada 1 lokasi), yaitu menjadi seluas 2.700 - 3.375 Ha.

III. 5. Manfaat (Eksternalitas Positif)

Ada beberapa manfaat dari kegiatan pembangunan pembangkit listrik tenaga biomasa bambu, diantaranya;

1) Mewujudkan kemampuan Pengelolaan / Pemanfaatan potensi SDA lokal sebagai penopang kehidupan (Life Support System).

2) Mengembangkan kegiatan Investasi. 3) Sumber Ilmu pengetahuan baru. 4) Mensejahterakan Rakyat;

- Lapangan Kerja Baru.

- Membuka daerah terisolir (kelistrikannya).

5) Penerapan "INTI PLASMA" → Masyarakat + Pemda + Swasta. 6) Menopang kekurangan pasokan Listrik.

7) Kebun bambu bermanfaat bagi ekosistem hayati.

(11)

Adapun isu lingkungan yang berpotensi berkembang dari

4) Mobilitas → Kemacetan (bongkar muat).

5) Musim hujan → hilangnya hasil tanaman sebagai akibat erosi tanah. 6) Musin kemarau → menyebabkan kontaminasi tanah.

7) Mesin Biosmasa bambu memerlukan stok air yang banyak. 8) Perubahan kawasan resapan air.

9) Kriminalitas → ex. pencurian rebung (bakal bambu), dsb.

10) Limbah bambu (Sisa potongan, Daun, Ranting dan Debu pemotongan).

11) Limbah pembangkit (pembuangan air dari pembakaran, dsb.). 12) Perilaku anti-sosial.

III. 7. Internalisasikan Ekternalitas

Ada dua jenis cara untuk menginternalisasikan eksternalitas, yaitu; 1) Pajak Korektif merupakan alat utama yang digunakan untuk

internalisasi eksternalitas negatif.

Akan menimbulkan masalah baru (peluang konfik jika pajak dibebankan pula pada konsumen melalui tarif listrik dengan jumlah tinggi/mahal).

2) Subsidi Korektif merupakan alat utama yang digunakan untuk internalisasi eksternalitas positif.

Subsidi korektif adalah pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah baik pembeli atau penjual barang sehingga harga yang dibayar oleh konsumen menjadi berkurang.

(12)

Kerja sama pola kemitraan inti-plasma dalam mengelola suatu usaha budidaya tanaman perkebunan adalah model kemitraan yang dirancang untuk memacu perkembangan suatu usaha berskala besar dengan melibatkan masyarakat sekitar yang memenuhi kriteria sebagai plasma dan bermitra dangan perusahaan sebagai inti. Tujuannya agar inti dan plasma dapat bekerjasama dengan baik agar usaha yang dikembangkan dapat berhasil.

Beberapa keunggulan pola kemitraan inti plasma:

1.Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dengan terciptanya lapangan kerja

2.Memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia dengan lebih bijak

3.Sarana berbagi pengetahuan perihal perkebunan kepada masyarakat

4.Optimasi kapasitas pabrik inti 5.Mengurangi gangguan produksi inti 6.Menjaga citra kebun inti

7.Tanggung jawab sosial perusahaan inti terhadap masyarakat sekitar

8.Keuntungan/benefit jangka panjang bagi petani plasma berupa kepastian pembelian hasil kebun.

(13)

Gambar. Pola Kemitraan inti Plasma

Komunikasi Sosialisasi Sumber : Bagan dibuat sendiri, berdasarkan model Penelitian

Fak.TeknikUniversitas Indonesia, April 2014.

III. 9. Jenis bambu yang potensial ditanam di Kabupaten Kayong Utara Pada dasarnya semua jenis bambu dapat dijadikan sebagai sumber bahan bakar pembangkit listrik, akan tetapi jenis bambusa balcooa lebih memiliki ketebalan yang sangat baik jika dibanding dengan jenis bambu lainnya.

PERUSAHAAN INTI KEBIJAKAN MANAJEMEN Tanggung jawab sosial

PETANI PLASMA POTENSI LINGKUNGAN (Lahan, tenaga kerja, dll)

PEMDA

KEBIJAKAN PEMERINTAH (Dukungan Program, Perijinan, Payung Hukum)

KEMITRAAN Membutuhkan

(14)

Adapun jenis-jenis bambu yang potensial ditanam di Kabupaten Kayong Utara adalah sebagai berikut (gambar) :

1. Bambu Balku (Bambusa balcooa)

Sumber : Istemewa

Tingginya mencapai 17,5 m (dinding batang setebal lebih dari 2 cm dengan bulu batang tebal berwarna coklat kehitaman); diameter 2,5-10 cm (jarak buku 20-45 cm); warna batang coklat kehijauan.

2. Bambu Ori (Bambusa bambos (L) Vass)

Sumber: Istimewa

(15)

3. Bambu Ampel Hijau (Bambusa vulgaris)

Sumber : Dok. Pribadi / Istimewa

Bambu Ampel Hijau rumpunnya tegak, tinggi 10 – 20 m, diameter 4 – 10 cm, permukaan batang hijau mengkilap, kuning, atau kuning bergaris-garis hijau; internodus berjarak 20-45 cm, permukaan batang berambut hitam dan dilapisi lilin putih ketika muda dan berangsur-angsur menjadi halus tak berambut dan mengkilap; nodus tenggelam. Cabang-cabang muncul dari nodus tengah dan atas dari rumpun. Selubung rumpun berbentuk segitiga lebar; daun lurus, berbentuk segitiga lebar (broadly triangular), panjang 4-5 cm dan lebar 5-6 cm, ujung daun meruncing, berambut pada kedua permukaan daun dan di tepi-tepi daun; panjang ligula 3 mm, bergerigi.

(16)

Sumber: Dok. Pribadi / Istimewa

Bentuknya ruasnya longgar dan batangnya tidak memiliki duri. Warna batangnya seperti kuning lemon dengan garis-garis hijau dan daun hijau gelap. Tingginya10-20 meter (30-70 kaki) dengan diameter 4-10 cm. Dinding batannya tebal. Ruasnya bisa mencapai 20-45 cm (7,9-17,7 cm).

5.Bambu Lemang (Schizostachyum brachycladum Kurz)

(17)

Buluh tegak, tinggi 7—15 m, diameter 7—10 cm, warna hijau, hijau kebiruan atau kuning keemasan biasanya dengan garis-garis hijau yang dangkal, licin, biasanya ketika muda ditutupi dengan rambut-rambut putih yang menyebar, kemudian menjadi gundul ketika dewasa. Cabang muncul dari buku pada buluh tengah menuju keatas, pada tiap -tiap nodus dengan 25—30 cabang yang agak sama besar. Pelepah buluh kaku, tidak mudah gugur, tertutup dengan rambut berwarna coklat muda hingga coklat, daun pelepah buluh menyegitiga, tegak, kaku, biasanya gundul, kuping pelepah daun kecil, dengan bristle 4—5 mm panjangnya. Daun melanset, berbulu di bagian bawah, diatasnya gundul, kuping pelepah daun sangat kecil, dengan bristle panjang.

6.Bambu Lampar (Schizostachyum zollingeri Steudel)

Sumber: Dok. Pribadi

Bambu ini hampir mirip dengan bambu lemang, namun lebih tebal jika dibandingkan dengan buluh lemang.

III. 10. Idendifikasi Kegiatan

1)Sosialisasi → Masyarakat + Stakeholders → Evaluasi ( Thn : 0)

(18)

3)Pembibitan (Thn 1)

4)Pengerjaan Lahan Tanam (Thn 1)

5)Proses Penanaman Bambu (Thn 2)

6)Pembangunan Gedung + Mesin Pembangkit (Thn 2)

7)Rekrutmen tenaga kerja (Thn 1)

8)Bahan / Alat / Material (Thn 0 - 1)

9)Pengadaan Pupuk (Thn 1)

10) Pemupukan masa tanam (Thn 1)

11) Prosedur / Administrasi : AMDAL, dsb (Thn 0-1)

12) Musin kemarau → Ancaman tanaman mati / tidak subur (Ketersediaan stok bahan bakar bambu) → Ketersediaan air..?

13) Keamanan (Security) Lahan dan Mesin Pembangkit.

14) Panen (Thn 3-4)

15) Operasional ( Thn 4-5)

BAB IV PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan

Dari uraian yang penulis paparkan diatas, didapat kesimpulan sebagai berikut:

(19)

mampu. Sehingga memang diperlukan membangun pembangkit listrik energi baru dan terbarukan dengan bahan baakar yang berasal dari potensi lokal Kabupaten Kayong Utara untuk memenuhi kebutuhan listrik, menutupi defisit daya mampu pembangkit dan mengurangi ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik di Propinsi Kalimantan Barat, yaitu direncanakan menggunakan Pembangkit Listrik Biomasa Bambu.

2.Pembangkit listrik tenaga biomasa bambu ini akan menggunakan teknologi berbasis tenaga uap dengan sistem pembakaran CFBC (Circulating Fluidize Bed Combustion).

3.Kebutuhan bambu kering untuk bahan bakar pembangkit listrik dengan kapasitas 10 MW diperkirakan 12-15 ton/jam dengan moisture content 30-40%, sehingga untuk menjamin keamanan dan kontinuitas pasokan bahan bakar diperlukan lahan seluas 2.700 - 3.375 Ha.

4.Bentuk kerjasama pemberdayaan masyarakat sekitar dalam penyediaan pasokan bahan bakar yaitu melalui pola kemitraan inti-plasma perkebunan bambu yang saling menguntungkan.

IV. 2. Saran

(20)

Namun perlu diperhatikan juga agar pembangkit listrik tersebut dibangun dengan memperhatikan lingkungan, agar limbah dan asap dari pembakaran tidak berdampak buruk pada masyarakat sekitar.

≈ ≈ ≈

Daftar Pustaka

Dransfield, S. & Widjaja, E. A. (Editors). 1995. Plant Resources of South-East Asia No.7. Bamboos. Backhuys Publisher, Leiden. 189 pp.

Sastrapradja, S. Widjaja, E. A. Prawiroatmodjo, S. Soenarko, S. 1977.

Beberapa Jenis Bambu. Proyek Sumber Daya Ekonomi, Lembaga Biologi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor

Widjaja, E. A. Utami, N.W., Saefudin. 2004. Panduan Membudidayakan Bambu. Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bogor

Daftar Laman

Gambar

Tabel 1. Proyeksi Kebutuhan Tenaga Listrik Propinsi Kalbar 2013-2022

Referensi

Dokumen terkait

laporan bulanan, dapat dilihat sudah ada pemisahan tugas yang cukup dalam prosedur penerimaan kas daerah yaitu pemisahan tugas penerima pajak/retribusi oleh bagian Bendahara

Berdasarkan beberapa permasalahan yang ditemui pada Rumah Sakit X Kota Medan, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Pengaruh Motivasi Ekstrinsik Terhadap Kinerja

Secara institusional, paradigma bermazhab pada pontren salafi maupun khalafi dapat dijumpai pada kebijakan pemakaian bahan ajar dan tujuan pembelajaran fikih itu sendiri

Tentu masih banyak hal baik lainnya yang berkaitan dengan serangga, meskipun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian kecil serangga merupakan hama tanaman,

Perubahan sisi dalam ini adalah kunci bagi manusia untuk menjadi berdaya, sehebat apa pun pemberdayaan yang diberikan oleh orang-orang yang memiliki daya dan

QUR'AN HADITS, AKIDAH AKHLAK, FIQH, SKI, BAHASA ARAB, GURU KELAS RA, DAN GURU KELAS MI TAHUN 2012.. PROPINSI : JAMBI STATUS :

dengan masalah-masalah dalam persidangan, seperti halnya jawaban, replik, duplik, pembuktian dalil gugatan dan bantahannya. Kesemuanya itu harus didukung oleh dasar hukum yang

Tidak punya risiko Tidak Ya Ya Tidak Tidak Dispnea & batuk Tidak punya risiko ya Tidak Tidak Tidak Serak 1 gejala klinis. Merokok ya Ya Tidak Ya Tidak