1
Krisis Kebudayaan di Tengah Revolusi Mental: Tinjauan Teori Kritis atas Tiga
Fenomena Sosial Mutakhir di Indonesia1
oleh
Teguh Prasetyo, 1506701590 Program Studi Sastra
Setelah Era kepemimpinan Presiden Joko Widodo—atau yang sering disapa Jokowi—datang, marak semboyan-semboyan mengenai revolusi mental. Ideologi dan praksis yang terkandung dalam gagasan revolusi mental tersebut sebenarnya merupakan gagasan yang cukup positif untuk masyarakat kembali mencecap manisnya kebudayaan dan
humanisme. Revolusi mental ini pada intinya ingin mengembalikan sikap-sikap manusia yang sadar akan dirinya, sadar lingkungannya, terbentuk toleransi, serta semangat bekerja penuh integritas dan gotong royong. Namun, dalam setahun lebih kepemimpinan Presiden Jokowi, tampaknya gagasan dan semboyan revolusi mental tesebut belum membumi di masyarakat maupun kaum birokrat. Hal itu terlihat dari maraknya fenomena-fenomena dan isu dekadensi moral yang muncul di tengah-tengah masyarakat dan pemerintahan.
Sebut saja Setya Novanto yang menjadi sorotan karena kasus “papa minta saham” yang dilakukannya bersama Direktur PT Freeport Indonesia dan Pengusaha Minyak kelas kakap, Riza Chalid. Selain itu, muncul pula di tengah masyarakat bermacam kasus prostitusi, dan yang marak adalah prostitusi artis atau selebritas yang akhir-akhir ini menyeret nama Nikita Mirzani dan Puty Revita yang memang terkenal sensual di layar kaca. Kasus prostitusi artis juga sebelumnya telah menyeret nama Robby Abbas sebagai tersangka, yang membawa nama-nama selebritas, seperti Amel Alvi, Tyas Mirasih, dan Sinta Bachir. Tidak hanya itu, akhir-akhir ini, isu mengenai ISIS juga marak terdengar di masyarakat. Bahkan, di beberapa daerah terjadi beberapa tindak terorisme yang dilatarbelakangi oleh radikalisme umat beragama, seperti pembakaran bebrapa gereja di Aceh Singkil. Isu-isu tersebut memunculkan adanya anggapan mengenai kebudayaan yang krisis, seperti yang terjadi pada era fasisme di Eropa. Tentunya, kasus-kasus ini menjadi sangat menarik jika dilihat dari perspektif Teori
Kritis Mazhab Frankfurt.
Pertama, kita bisa melihat kasus “papa minta saham” yang terjadi pada Setya Novanto. Setya Novanto, seperti dikabarkan dalam beberapa media massa di Indonesia, telah
1 Tiga fenomena tersebut ialah kasus “papa minta saham” Setya Novanto dengan PT Freeport
2
mencatut nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla demi negosiasi persetujuan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia hingga 2041. Setnov, sebutan untuk Setya Novanto, telah menemui Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, di Ritz-Carlton, Pacific Place, untuk membicarakan masalah perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Kemudian, di pertemuan selanjutnya, mereka melibatkan pengusaha Riza Chalid sebagai konsultan dalam negosiasi. Pertemuan ini kemudian menimbulkan polemik yang berkepanjangan karena Setya Novanto dianggap telah melangkahi wewenang Presiden. Dari pertemuan ini, didapatkan sebuah rekaman yang oleh Sudirman Said kemudian dijadikan
bukti untuk mengadukan Setya Novanto pada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Rekaman tersebut pada awalnya berdurasi 120 menit, tetapi yang diajukan ke MKD hanya
11,38 menit. Hal ini kemudian memicu perdebatan, terutama mengenai adanya anggapan perekayasaan rekaman dan pemutarbalikan fakta karena rekaman yang diberikan tidak secara keseluruhan.
Tidak hanya perkara rekaman saja yang menjadi perdebatan. MKD sendiri pada awalnya sempat menyangsikan laporan Sudirman Said. Sebab, pada saat itu, Sudirman Said merupakan seorang menteri, sedangkan idealnya pelapor adalah masyarakat yang bebas dari atribut-atribut pemerintahan. Sudirman Said pun balik menyangkal bahwa ia datang dengan kapasitasnya sebagai warga negara biasa. Namun, hal itu banyak menuai kritik, terutama dari pihak pendukung Setya Novanto. Tidak sampai di situ saja, kontroversi masih terjadi ketika sidang telah dilaksanakan, mulai dari kesaksian Maroef Sjamsoeddin yang mengatakan bahwa ia yang membuat rekaman, Sudirman Said yang mengatakan dirinya tidak menuduh Setya Novanto, perbedaan pandangan di parlemen, hingga penyeretan beberapa nama menteri yang disebut-sebut dalam rekaman. Berbagai dukungan dan pernyataan kontra terhadap Setya Novanto dan Sudirman Said terus berdatangan. Menko Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli, menyebut kasus perseteruan ini bak sebuah sinetron yang menggambarkan perseteruan dengan berbagai kepentingan. Namun, Akhir-akhir ini, telah diketahui bahwa MKD menetapkan Setya Novanto sebagai tersangka dengan hukuman pencabutan jabatan dan beberapa sanksi sedang.
3
negosiasi sehingga ia menjadikan berbagai atribut kenegeraan sebagai komoditas. Dalam hal ini, atribut yang terkomodifikasi adalah jabatan Presiden dan Wakil Presiden yang dicatut oleh Setya Novanto. Terlebih lagi, adanya embel-embel permintaan saham menunjukkan kapitalisme telah membuat Setya Novanto menciptakan sebuah kebahagiaan semu, yakni dari proses negosiasi dan permintaan saham, yang sebenarnya malah menjerumuskannya dan membelenggunya di bawah kapitalisme. Poin kedua, kapitalisme telah menimbulkan adanya fetisisme pada berbagai hal. Dalam hal ini tentunya, fetisisme terjadi pada kepentingan dan kekuasaan dari masing-masing pihak. Uang, kekayaan, jabatan, dan kepentingan adalah
hal-hal yang difetiskan oleh pihak pelapor dan Setya Novanto sehingga keduanya membuat sebuah pernyataan yang kemudian menjadi perdebatan dan kontradiktif. Dalam hal ini,
kemudian Setya Novanto juga menjadi pihak yang tereifikasi karena kapitalisme dan feitisisme yang juga berimbas pada demoralisasi pada dirinya. Poin ketiga, penggunaan rekaman pada akhirnya memicu tindak dehumanisasi. Rekaman tersebut memang kemudian menjadi alat sebagai pemutarbalikkan fakta dan jadi alat pemicu tuduh-menuduh yang membuat pihak Setya dan pihak oposisinya terdegradasi sebagai manusia bermoral.
Berikutnya, maraknya kasus prostitusi artis menjadi fenomena yang mencengangkan. Nikita Mirzani dan Puty Revita di awal Desember 2015 tertangkap basah di Hotel Kempinski sedang melakukan transaksi senohnoh, yakni prostitusi. Mereka kemudian diciduk dan dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa sebagai korban sekaligus saksi. Nikita Sendiri diminta untuk membawa ponsel dan celana dalamnya saat digerebek sebagai barang bukti. Kemudian, dari kesaksian mereka, ditangkaplah tersangka dengan inisial O dan F sebagai muncikari. Dari pengakuan O dan F, mereka bekerja dikoordinasi oleh A. Saat ini, A masih dalam pengejaran. Diduga, selain Nikita dan Puty, masih ada beberapa nama artis lain yang terlibat dalam kasus prostitusi ini. Sebelumnya, kasus prostitusi yang serupa juga sempat terjadi dan menyeret Robby Abbas sebagai tersangka, dan melibatkan Amel Alvi, Tyas Mirasih, dan Sinta Bachir sebagai korban sekaligus saksi.
4
bersekongkol untuk membuat sebuah kerja sama dan transaksi terhadap pelanggan mereka. Jika mereka adalah pihak yang memfetiskan uang, secara tidak langsung, selebitas pelaku prostitusi merupakan sosok yang tereifikasi, teralienasi sebagai subjek, dan terkomodifikasi. Sementara itu muncikari juga menjadi pihak yang tereifikasi sekaligus mengkomodifikasi para selebritas pelaku prostitusi.
Terakhir, yang tidak kalah hangat dengan kedua kasus di atas adalah kasus radikalisme golongan tertentu, contohnya ISIS. Semenjak diproklamasikan di Irak dan Suriah, ISIS kemudian merekrut anggota-anggota dari berbagai wilayah di Asia, Afrika,
Eropa, hingga Amerika, tak terkecuali di Indonesia. Kelompok ini melakukan perekrutannya melalui berbagai macam cara, misalnya dakwah dan pidato hegemonial melalui video yang
diunggah ke situs-situs tertentu, seperti YouTube. Di Indonesia, dikabarkan dari berbagai media massa, ISIS telah merangkul sebagian warga, dan tidak sedikit di antaranya merupakan orang yang telah berpartisipasi dalam kelompok radikal dan terlibat terorisme. Menurut data kepolisian, 159 orang Indonesia telah tergabung dengan ISIS. Namun, menurut Sidney Jones, Ahli Terorisme Asia Tenggara, sekiranya 500 orang Indonesia telah tergabung dalam gerakan tersebut. Sebagian besar mereka bergabung dengan ISIS karena ingin hidup dalam wilayah yang diandaikan menjalankan keislaman secara penuh. Salah satu media sempat menyebutkan bahwa di Jawa Timur tertangkap salah seorang mantan anggota ISIS yang bergabung dengan ISIS hanya demi uang. Ia menyebutkan bahwa dalam video propagandanya, ISIS menawarkan gaji yang setara puluhan juta per bulan, tetapi kenyataannya ia hanya digaji tidak sampai sejuta per bulan. Jumlah tersebut tidak lebih besar dari penghasilannya saat berjualan bakso, yang kemudian menjadi alasannya untuk kembali ke Indonesia. Selain gerakan ISIS, di Indonesia sendiri terdapat pula beberapa gerakan radikal yang hangat di telinga masyarakat. Setahun yang lalu, bermunculan kabar bahwa di Papua terjadi kasus terbakarnya masjid karena gerakan protes kaum radikal yang mengatasnamakan agama. Tidak hanya itu, di Aceh Singkil beberapa waktu yang lalu, juga terjadi pembakaran beberapa gereja, juga oleh kaum radikal yang mengatasnamakan agama. Yang terbaru, tentunya, maraknya aksi terror menjelang Natal di berbagai gereja.
5
Mereka menjadi objek-objek penggerak ideologi yang sangat disakralkan hingga memandang buruk terhadap yang lain. Tentunya, fetisisasi ideologi keagamaan ini berdampak pada dekadensi moral yang membuatnya menjadi kelompok yang destructive. Meskipun fetisisasi ideologi menjadi hal yang ihwal, ternyata fetisisme karena komoditas dan kapitalisme juga muncul pada kasus pemuda Jawa Timur yang bergabung ISIS hanya karena alasan ekonomi. Tidak hanya itu, kasus gerakan radikal ini, juga melibatkan teknologi dalam menyebarkan Ideologinya, yakni penggunaan video di Internet. Penyebaran video ini juga sedikit banyak mempengaruhi masyarakat yang kemudian mengalami dehumanisasi.
Dari ketiga kasus di atas yang dianalisis dengan Teori Kritis Mazhab Frankfurt, tentu dapat ditarik kesimpulan bahwa fitisisme terhadap komoditas telah membelenggu perilaku
masyarakat, manusia secara umum, sebagai subjek yang teralienasi. Mereka tercerabut dari kesadarannya seagai subjek. Karena itu, mereka tidak bisa bersikap kritis terhadap dirinya sendiri. Selain itu, kapitalisme juga ternyata turut berperan besar dalam proses reifikasi tersebut. Hal ini tentunya menjadi ironis. Di tengah penggalangan revolusi mental agar manusia dapat mencecap kembali kesadarannya dan kebudayaannya, fetisisme dan kapitalisme justru menyeruak, meracuni setiap individu, dan mengeram dalam kesadaran kolektif manusia Indonesia sehingga terjadi sebuah krisis kebudayaan. Tentunya, dalam hal ini, pemerintah harus bersikap lebih tegas dan lebih massif dalam penyuaraan revolusi mental, salah satunya melalui pendidikan dan tayangan edukatif.
Sumber Bacaan Referensi:
Hardiman, Francisco Budi. 1990. Kritik Ideologi: Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta: Kanisius.
Lubis, Akhyar Yusuf. Pemikiran Kritis Kontemporer: Dari Teori Kritis, Culture Studies, Feminisme, Postkolonial, hingga Multikulturalisme. Depok: Raja Grafindo Persada.
Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Yogyakarta: Kanisius.
Laman:
Andinni, Alfani Roosy. Kronologi Pertemuan Setya Novanto dan PT Freeport. Sindonews.com. Diakses pada 26 Desember 2015.
6
BBC Indonesia. Khas ISIS: Serangan Kimia Depok. bbc.com/Indonesia. Diakses 26 Desember 2015.
___________. Polisi Menangkap Lima Tersangka Perekrut WNI ke Suriah. bbc.com/Indonesia. Diakses 26 Desember 2015.
___________. MKD Anggap Pengadilan Setya Novanto Kurang Laik. Bbc.com/Indonesia. Diakses 26 Desember 2015.
DetikHot. Catatan Akhir Tahun Selebritas 2015. Detiknews.com. Diakses pada 26 Desember 2015.
Hidayat, Ady Riza dan Agnes Theodora. Para Menteri Dukung Sikap Presiden dalam Kasus
Freeport. Kompas.com. Diakses pada 26 Desember 2015.
Kholid, Idham. Kasus Prostitusi Artis, tersangka A Masih Diburu Bareskrim Polri. Detiknews.com. Diakses pada 26 Desember 2015.
___________. Nikita Mirzani dan Puty Diperiksa di Luar Bareskrim di Tempat Terpisah. Detiknews.com. Diakses pada 26 Desember 2015.