• Tidak ada hasil yang ditemukan

mandiri Psikolinguistik adalah penggabungan antar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "mandiri Psikolinguistik adalah penggabungan antar"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Psikolinguistik adalah penggabungan antara dua kata 'psikologi' dan 'linguistik'. Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa. Kajiannya semula lebih banyak bersifat filosofis, karena masih sedikitnya pemahaman tentang bagaimana otak manusia berfungsi. Oleh karena itu psikolinguistik sangat erat kaitannya dengan psikologi kognitif. Penelitian modern menggunakan biologi, neurologi, ilmu kognitif, dan teori informasi untuk mempelajari cara otak memroses bahasa.

Psikolinguistik meliputi proses kognitif yang bisa menghasilkan kalimat yang mempunyai arti dan benar secara tata bahasa dari perbendaharaan kata dan struktur tata bahasa, termasuk juga proses yang membuat bisa dipahaminya ungkapan, kata, tulisan, dan sebagainya. Psikolinguistik

perkembangan mempelajari kemampuan bayi dan anak-anak dalam mempelajari bahasa, biasanya dengan metoda eksperimental dan kuantitatif (berbeda dengan pengamatan naturalistik seperti yang dilakukan Jean Piaget dalam penelitiannya tentang perkembangan anak).

BAB III: BAGAIMAN MANUSIA MEMAHAMI UJARAN 1. Struktur Batin dan Struktur lahir

Perbedaan antara struktur lahir dan batin ini sangat penting untuk pemahaman kalimat karena proses mental yang dilalui oleh manusia dalam menanggapi kalimat-kalimat seperti ini berbeda dengan kalimat-kalimat yang tidak ambigu. Meskipun konsep struktur batin dan lahir ini sudah tidak diikuti lagi oleh penggagasannya (Chomsky 1996), dalam kaitannya dengan komprehensi ujaran kedua konsep ini rasanya masih sangat bermamfaat.

2. Proposisi

Unit-unit makna pada kalimat dinamakan proposisi (Clark dan Clark 1977:11). Lobner

memdefinisikannya sebagai a set of the referents of all referring element and how they are linked (Lobner, 2002:23-29 dan 99-120). Proposisi terdiri dari dua bagian (a) argument, yakni ihwal atau ihwal- ihwal yang dibicarakan, dan (b) predikasi, yakni pernyataan yang dibuat mengenai argument.

3. Konstituen Sebagai Realita Psikologis

(2)

4. Strategi Dalam Memehami Ujaran

Dalam memahami suatu ujaran, ada tiga faktor yang ikut membatu kita. Pertama adalah faktor yang berkaitan dengan pengetahuan dunia. Tidak jarang pula pengetahuan dunia ini merupakan satu-satunya faktor yang membantu kita memahami isi suatu ujaran. Pengetahuan tentang dunia yang sifatnya tidak universal adalah pengetahuan yang spesifik terdapat pada budaya atau masyarakat tertentu.

Di samping pengetahuan tentang dunia, memahami tentang ujaran kita juga dibantu oleh faktor-faktor sintatik. Dengan kata lain, kita memakai strategi-strategi sintatik untuk membantu kita memahami suatu ujaran. Strategi itu antara lain:

a) Setelah kita mengidentifikasi kata pertama dari suatu konstituen yang kita dengar, proses mental kita akan mencari kata lain yang selaras dengan kata pertama dalam konstuen tersebut.

b) Setelah mendnegar kata yang pertama dalam konstituen, perhatikan apakah kata berikutnya mengakhiri konstruksi itu.

c) Setelah kita mendengar suatu verba, carilah macam serta argumen yang selaras dengan verba tersebut.

d) Tempelkanlah tiap kata baru pada kata yang baru saja mendahuluinya. Strategi ini berkaitan dengan kenyataan bahwa wujud kalimat memang dalam bentuk linier sehingga kata yang mengikutinya biasanya menjelaskan kata yang mendahuluinya.

e) Pakailah kata pertama atau konstituen dari suatu klausa untuk mengidentifikasi fungsi dari klausa tersebut.

f) Pada bahasa tertentu seperti bahasa inggris, afiks juga memberikan bantuan dalam pemahaman. Di samping strategi sintatik, orang juga memakai strategi semantik dalam memahami ujaran. Berikut ini beberapa strategi semantik yang kita pakai ialah:

a) Pakailah nalar dalam memahami ujaran.

b) Carilah konstituen yang memahami syarat-syarat semantk tertentu.

c) Apabila ada urutan kata N V N, maka N yang pertama adalah pelaku perbuatan, kecuali ada tanda-tanda lain yang mengingkarinya.

d) Bila dalam wacana kita temukan pronominal seperti dia, mereka, atau kami, carilah antesiden untuk pronominal ini.

e) Informasi lama biasanya mendahului informasi baru.

(3)

5. Ambiguitas

Dalam beberapa hal kadang kita menemukan kalimat yang bermakna lebih dari satu yang umumnya disebut sebagai kalimat yang ambigu atau raksa.

5.1 Macam Ambiguitas

Dilihat dari segi unsur leksikal dan struktur kalimatnya, ambiguitas dapat dibagi menjadi dua macam: (a) ambiguitas leksikal, dan (b) ambiguitas gramatikal. Sesuai dengan namanya, ambiguitas leksikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk leksikal yang dipakai.

Ambiguitas gramatikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk struktur kalimat yang dipakai. Ambiguitas gramatikal dapat dibagi menjadi dua macam yaitu ambiguitas sementara (local ambiguity), dan ambiguitas abadi (standing ambiguity) (Gleason dan Ratner 1998).

5.2 Teori Pemrosesan Kalimat Ambigu

Pada dasarnya ada dua macam teori ambigu mengenai pemrosesan kalimat yang bermakna ganda. Teori pertama dinamakna Garden Path Theory (GPT). Menurut teori Fraizer tahun 1987 ini, orang membangun makna berdasarkan pengetahun sintatik. Ada dua principle dalam teori ini: (1) Minimal Attachment Principle (MAP), dan Late Closure Principle (LCP).

5.3 Pemrosesan Kalimat Non-harfiah

Sebagian teori menyatakan bahwa ada tiga tahap dalam pemrosesannya. Pertama, kita berikan tanggapan secara harfiah untuk tiap kata yang msuk terlebih dahulu. Kedua kita berikan makna harfiah terhadap kata-kata yang kita dengar itu. Dan ketiga mencari makna lain di luar makan harfiah yang mustahil itu.

5.4 Pemrosesan Secara Sintatik atau Semantik

Seperti dinyatakan sebelumnya, ada dua macam pendekatan yang membantu kita mempersepsi dan memahami ujaran, dan kedua pendekatan ini seolah-olah merupakan dua kelompok yang berdiri sendiri-sendiri. Dalam kenyataannya kedua kelompok ini saling membantu.

Kompetensi kita sebagai penutur asli tentang sintaksis bahasa kita tentu merupakan bekal intuitif yang membimbing kita untuk menerima, menolak, meragukan, dan mendeteksi ambiguitas suatu kalimat. Sebagai penutur asli, kita juga memiliki intuisi semantik, baik yang bersifat universal maupun yang lokal.

6. Penyimpanan Kata

(4)

Pada dasarnya retrival kata dipegaruhi oleh pelbagai faktor yaitu, Frekuensi kata, Ketergambaran, Keterkaitan semantik, kategori gramatikal, dan fonologi.

6.2 Teori Tentang Makna

Ada dua teori untuk memahami makna yaitu teori fitur dan teori berdasarkan pengetahuan. Teori fitur pada dasarnya menyatakan bahwa kata memiliki seperangkat fitur, atau ciri yang menjadi bagian integral dari kata itu. Manusia dapat memahami ujaran karena mereka dapat mengenali kata-kata yang mereka dengar secara intuitif yang sebenarnya berdasarkan peda pengetahuan yang mereka miliki tentang bahasa dan budaya mereka.

Proses produksi ujaran bermula dari proses mental (tahap-tahap ketika orang mau berujar; intangible) dan berakhir pada tindakan motorik (tangible). Jelaskan dengan rinci

- Tahap ketika orang mau berujar (intangible) / perencanaan, ada 3 macam dalam proses intangible:

a. Wacana (perencanaan ini mengenai topik yang akan diujarkan), topik atau tema yang akan diujarkan masih berupa konsep yang masih ada didalam pikiran.

b. Kalimat (Perencanaan produksi kalimat) ada tiga kategori yaitu:

1) Menentukan proposisi apa yang ingin dinyatakan (muatan proposional) dengan pemilahan peristiwa atau keadaan menjadi ihwal yang seolah-olah terpisah-pisah.

Contohnya: jika kita melihat seseorang wanita cantik yang memakai gaun bagus. Pemilahanya berupa;

Ada seseorang wanita. Wanita itu cantik. Ada gaun. Gaun yang bagus.

2) Muatan ilokusioner / makna yang akan disampaikan itu akan diwujudkan dalam kalimat seperti apa, apakah dengan kalimat representatif atau kalimat direktif. Jadi pada tahap ini seseorang ingin membuat kalimat/ujaran yang sesuai keinginan penutur dan mempunyai maksud menyampaikan pesan tertentu terhadap mitra tutur.

Contohnya: “Hari ini film yang diputar di cinema 21 bagus nggak beb?”

Kalimat diatas terproses didalam kategorisasi pembentukan kalimat yang diharapkan sesuai dengan apa yang diinginkan penutur. Meskipun contoh diatas menggunakan kalimat tanya, penutur

sebenarnya ingin mengajak / diajak pacar untuk menonton film di cinema 21.

3) Struktur tematik / menentukan berbagai unsur dalam kaitanya dengan fungsi gramatikal atau sematik dalam kalimat. Misalnya penutur cenderung ingin mengungkapkan sesuatu dalam kalimat aktif atau pasif.

Contohnya: Penutur ingin mengujarkan suatu kejadian

(5)

Atau

“Pengendara sepeda motor tertabrak kereta api” (kal. Pasif)

Penutur secara umum mungkin lebih memilih kalimat Pasif dari contoh diatas karena lebih berterima daripada contoh yang menggunakan kalimat aktif.

c. Konstituen (perencanaan produksi konstituen yang membentuk kalimat)

Tahapan ini si penutur ingin memilih konstituen / unsur pokok / pilihan kata yang maknanya sesuai dengan apa yang diinginkan penutur.

Contoh dalam bahasa jawa:

- jika bertemu / reuni dengan kawan lama yang sangat akrab “Woi ndes, iseh urip to awakmu?”

- jika bertemu / reuni dengan kawan lama yang tidak akrab / biasa saja “Woi mas bro, pie kabarmu, waras to?”

Perencanaan konstituen / tahap memilih kata dengan makna yang sangat tepat dapat dilihat seperti contoh diatas meskipun terkadang secara struktur hierarkis sangat berbalik antara makna kalimat dengan makna ujaran.

- Tahap tangible (tindakan motorik) / Pelaksanaan (Artikulasi)

Setelah kalimat yang ingin diujarkan sudah dipersiapkan melalui tahap intangible, maka bagian otak yang disebut ‘broca’ memerintahkan ‘korteks motor’ untuk berkerja. Korteks motor meliputi jalur diotak yang mengendalikan lidah, rahang gigi, pita suara, dan perangkat wicara lainya.

Contoh singkat ketika mau mengujarkan kata ‘roti’. Maka yang terjadi adalah korteks motor memerintahkan;

(-) pita suara untuk bersiap-siap bergetar untuk menghasilkan bunyi (-) menempelkan ujung lidah kedaerah alveolar dan digetarkan berkali

(-) pita suara bergetar bersamaan dengan lidah yang bergetar didaerah alveolar (-) uvula menempel pada tenggorokan agar udara tidak keluar lewat hidung

(6)

MAKALAH ISBD "PERKEMBANGAN BUDAYA INDONESIA"

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, terkenal dengan keanekaragaman dan keunikannya.

“Kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan kebudayaan yang majemuk dan sangat kaya ragamnya. Perbedaan yang terjadi dalam kebudayaan Indonesia dikarekan proses pertumbuhan yang berbeda dan pengaruh dari budaya lain yang ikut bercampur di dalamnya”. (Kong Fu Tse, 1970). Di setiap budaya tersebut terdapat nilai-nilai sosial dan seni yang tinggi. Seiring dengan masuknya era globalisasi saat ini, turut mengiringi budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Negara Indonesia mempunyai norma-norma yang harus dipatuhi oleh masyarakatnya. Setiap butir norma memiliki peranan masing-masing dalam mengatur hidup manusia (Soekamto, 1984). Norma merupakan suatu ketetapan yang ditetapkan oleh manusia dan wajib dipatuhi oleh masyarakat dan memiliki manfaat positif bagi kelangsungan hidup khalayak.

Pada kondisi saat ini, kebudayaan mulai ditinggalkan bahkan sebagian masyarakat Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Hal ini mengakibatkan hilangnya

keanekaragaman budaya Indonesia secara perlahan-lahan, yang tidak terlepas dari pengaruh budaya. Generasi muda termasuk mahasiswa di dalamnya, baik disadari atau tidak memegang amanah dalam menjaga kelestarian keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam menjaga

kelestarian budaya Indonesia tersebut banyak cara yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan dan batasan-batasan yang ada.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana dampak kebudayaan yang ada di Indonesia baik secara negatif maupun positifnya serta bagaimana perkembangan kebudayaan di Indonesia.

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Perkembangan Budaya Indonesia

2. Untuk Mengatahui Perbedaan antara Kebudayaan dan Peradaban 3. Konsep nilai dan sistem nilai budaya

(7)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Perkembangan budaya Indonesia

Perkembangan budaya indonesia saat ini sudah mulai terkikis perlahan-perlahan seiring dengan perkembangan zaman yang lebih maju dan modern, saat ini banyak masyarakat secara perlahan meninggalkan budaya local atau tradisional dan lebih memilih budaya yang lebih modern. Ini terjadi karena adanya proses perubahan social seperti Akultursi dan Asimilasi. Akulturasi adalah proses masuknya kebudayaan baru yang secara lambat laun dapat diterima dan diolah dengan kebudayaan sendiri, tanpa menghilangkan kebudayaan yang ada.

Asimilasi adalah proses masuknya kebudayaan baru yang berbeda setelah mereka bergaul secara intensif, sehingga sifat khas dari unsur kebudayaan itu masing-masing berubah menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran.

Sebagai contoh adalah batik hasil dari budaya indonesia, batik tersebut belakangan ini termasuk bahan-bahan yang diminati oleh masyarakat luar. Muncul trend ini dikarenakan batik telah

diresmikan bahwa batik tersebut telah ditetapkan oleh UNESCO pada hari jumat tanggal 02 oktober 2009 sebagai warisan budaya indonesia, dan hari itulah ditetapkannya sebagai hari batik nasional. B. Perbedaan antara kebudayaan dan peradaban

1. Kebudayaan

Kebudayaan dan peradaban memang merupakan aspek-aspek kehidupan sosial manusia yang memiliki sedikit perbedaan tapi dari perbedaan tersebut dapat diambil jalan tengah yaitu peradaban dan kebudayaan adalah dua aspek dalam kehidupan manusia, ada hubungan timbal balik antara keduanya. Sebagaimana hubungan antara aspek spiritual, mental dan material dalam diri manusia. Kebudayaan ataupun peradaban, mengandung pengertian yang luas, meliputi pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks, meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat.

(8)

2. Peradaban

Adapun istilah peradaban dapat kita sejajarkan dengan kata asing civilization . Istilah itu biasanya dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti : kesenian, ilmu pengetahuan, serta sopan-santun dan sistem pergaulan komplex dalam suatu masyarakat dengan struktur yang komplex. Sering juga istilah peradaban dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan dan ilmu pengetahuan yang maju dan komplex.

C. Konsep nilai dan sistem nilai budaya

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi. Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi.

Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu :

Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata (jelas) Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut

Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

Sistem Nilai Budaya, Pandangan Hidup, dan Ideologi. Sistem budaya merupakan tingkatan tingkat yang paling tinggi dan abstrak dalam adat istiadat. Hal itu disebabkan karena nilai – nilai budaya itu merupakan konsep – konsep mngenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari dari warga suatu masyarakat mengenai apa yang mereka anggap bernilai , berharga, dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat itu sendiri.

(9)

masyarakat ada sejumlah nilai budaya yang satu dan yang lain berkaitan satu sama lain sehingga merupakan suatu sistem, dan sistem itu sebagai suatu pedoman dari konsep –konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhadap arah kehidupan masyarakat.

D. Dampak Positif dan Negatif Dalam Kebudayaan 1. Secara garis besar kebudayaan Indonesia

Dapat kita klasifikasikan dalam dua kelompok besar. Yaitu Kebudayaan Indonesia Klasik dan Kebudayaan Indonesia Modern. Para ahli kebudayaan telah mengkaji dengan sangat cermat akan kebudayaan klasik ini. Mereka memulai dengan pengkajian kebudayaan yang telah ditelurkan oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Sebagai layaknya seorang pengkaji yang obyektif, mereka mengkaji dengan tanpa melihat dimensi-dimensi yang ada dalam kerajaan tersebut. Mereka mempelajari semua dimensi-dimensi tanpa ada yang dikesampingkan. Adapun dimensi yang sering ada adalah seperti agama, tarian, nyanyian, wayang kulit, lukisan, patung, seni ukir, dan hasil cipta lainnya.

Seorang pengamat memberikan argumennya tentang kebudayaan Indonesia modern. Dia

mengatakan bahwa kebudayaan Indonesia modern dimulai ketika bangsa Indonesia merdeka. Bentuk dari deklarasi ini menjadikan bangsa Indonesia tidak dalam kekangan dan tekanan. Dari sini bangsa Indonesia mampu menciptakan rasa dan karsa yang lebih sempurna.

Kebudayaan Indonesia yang multikultur seperti itu, ketika dikaji dari sisi dimensi waktu, dapat dibagi pula pengertiannya :

a) Pertama, kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang sudah terbentuk. Definisi ini mengarah kepada pengertian bahwa kebudayaan Indonesia adalah keseluruhan pengetahuan yang tersosialisasi/internalisasi dari generasi-generasi sebelumnya, yang kemudian digunakan oleh umumnya masyarakat Indonesia sebagai pedoman hidup. Jika dilacak, kebudayaan ini

terdokumentasi dalam artefak/atau teks. Melihat kebudayaan dari sisi ini, kita akan mudah terjebak kepada apa yang sudah ada itu diterima sebagai sesuatu yang sudah baik bahkan paripurna.

Ungkapan seperti kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang adiluhung, merupakan contoh

terbaiknya. Di sini, apa yang disebut kebudayaan adalah dokumen teks (Jawa termasuk sastra-sastra lisan) yang harus dijadikan pedoman kalau kita tidak ingin kehilangan ke-jawa-annya. Ungkapan: “ora Jawa” atau “durung Jawa” adalah ungkapan untuk menilai laku (orang Jawa) yang sudah bergeser dari teks tersebut.

(10)

dicegah. Kalau begitu, pertanyaannya ialah: membatasi, menolak, atau mengambil alih nilai-nilai positif yang ditawarkan.

c) Ketiga, adalah kebudayaan (Indonesia) adalah kebudayaan yang direncanakan untuk dibentuk. Ini adalah definisi yang futuristik, yang perlu hadir dan dihadirkan oleh warga bangsa yang

menginginkan Indonesia ke depan harus lebih baik. Inilah yang seharusnya menjadi fokus kajian serius bagi pemerhati Indonesia, khususnya para mahasiswa dan pemerhati budaya.

2. Kondisi sosial budaya Indonesia saat ini adalah sebagai berikut :

a) Bahasa, sampai saat Indonesia masih konsisten dalam bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Sedangkan bahasa-bahasa daerah merupakan kekayaan plural yang dimiliki bangsa Indonesia sejak jaman nenek moyang kita. Bahasa asing (Inggris) belum terlihat populer dalam penggunaan sehari-hari, hanya pada saat seminar, atau kegiatan ceramah formal diselingi dengan bahasa Inggris sekedar untuk menyampaikan kepada audien kalau penceramah mengerti akan bahasa Inggris.

b) Sistem teknologi, perkembangan yang sangat mencolok adalah teknologi informatika. Dengan perkembangan teknologi ini tidak ada lagi batas waktu dan negara pada saat ini, apapun kejadiannya di satu negara dapat langsung dilihat di negara lain melalui televisi, internet atau sarana lain dalam bidang informatika.

c) Sistem mata pencarian hidup/ekonomi. Kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih dalam situasi krisis, yang diakibatkan oleh tidak kuatnya fundamental ekonomi pada era orde baru. Kemajuan perekonomian pada waktu itu hanya merupakan fatamorgana, karena adanya utang jangka pendek dari investor asing yang menopang perekonomian Indonesia.

d) Organisasi Sosial. Bermunculannya organisasi sosial yang berkedok pada agama (FPI, JI, MMI, Organisasi Aliran Islam/Mahdi), Etnis (FBR, Laskar Melayu) dan Ras.

e) Sistem Pengetahuan. Dengan adanya LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) diharapkan perkembangan pengetahuan Indonesia akan terus berkembang sejalan dengan era globalisasi. f) Religi. Munculnya aliran-aliran lain dari satu agama yang menurut pandangan umum bertentangan dengan agama aslinya. Misalnya : aliran Ahmadiyah, aliran yang berkembang di Sulawesi Tengah (Mahdi), NTB dan lain-lain.

(11)

masyarakat-masyarakat Indonesia juga mengalami perubahan-perubahan, baik karena faktor internal maupun eksternal.

3. Berikut dampak kebudayaan Indonesia bagi masyarakat, antara lain, pengaruh positif dapat berupa :

a) Peningkatan dalam bidang sistem teknologi, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. b) Terjadinya pergeseran struktur kekuasaan dari otokrasi menjadi oligarki

c) Mempercepat terwujudnya pemerintahan yang demokratis dan masyarakat madani dalam skala global.

d) Tidak mengurangi ruang gerak pemerintah dalam kebijakan ekonomi guna mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

e) Tidak berseberangan dengan desentralisasi. f) Bukan penyebab krisis ekonomi.

4. Pengaruh Negatif berupa :

a) Menimbulkan perubahan dalam gaya hidup, yang mengarah kepada masyarakat yang konsumtif komersial. Masyarakat akan minder apabila tidak menggunakan pakaian yang bermerk (merk terkenal).

b) Terjadinya kesenjangan budaya. Dengan munculnya dua kecenderungan yang kontradiktif. Kelompok yang mempertahankan tradisi dan sejarah sebagai sesuatu yang sakral dan penting (romantisme tradisi). Dan kelompok kedua, yang melihat tradisi sebagai produk masa lalu yang hanya layak disimpan dalam etalase sejarah untuk dikenang (dekonstruksi tradisi / disconnecting of

culture).

c) Sebagai sarana kompetisi yang menghancurkan. Proses globalisasi tidak hanya memperlemah posisi negara melainkan juga akan mengakibatkan kompetisi yang saling menghancurkan.

d) Sebagai pembunuh pekerjaan. Sebagai akibat kemajuan teknologi dan pengurangan biaya per unit produksi, maka output mengalami peningkatan drastis sedangkan jumlah pekerjaan berkurang secara tajam.

e) Sebagai imperialisme budaya. Proses globalisasi membawa serta budaya barat, serta kecenderungan melecehkan nilai-nilai budaya tradisional.

f) Globalisasi merupakan kompor bagi munculnya gerakan-gerakan neo-nasionalis dan fundamentalis. Proses globalisasi yang ganas telah melahirkan sedikit pemenang dan banyak pecundang, baik pada level individu, perusahaan maupun negara. Negara-negara yang harga dirinya diinjak-injak oleh negara-negara adi kuasa maka proses globalisasi yang merugikan ini merupakan atmosfer yang subur bagi tumbuhnya gerakan-gerakan populisme, nasionalisme dan

(12)

g) Malu menggunakan budaya asli Indonesia karena telah maraknya budaya asing yang berada di wilayah Indonesia.

5. Beberapa contoh perkembangan budaya a) Cara Berpakaian

Sekarang ini masyarakat Indonesia lebih menyukai berpakaian yang lebih terbuka seperti bangsa barat yang sebenarnya tidak sesuai dengan adat ketimuran bangsa Indonesia yang dianggap berpakaian lebih sopan dan tertutup.

b) Alat Musik

Perkembangan alat musik saat ini juga dibanjiri dengan masuknya budaya asing, kita dapat mengambil contoh dari kebudayaan asli betawi di Jakarta, pada saat ini sudah tidak ada lagi terdengar alat musik Tanjidor musik khas dari tanah Betawi, saat ini yang sering kita dengar adalah alat-alat musik modern yang biasanya menggunakan tenaga listrik.

c) Permainan Tradisional

Bahkan masuknya budaya asing juga mempengaruhi permainan tradisional, seperti permainan gangsing atau mobil-mobilan yang terbuat dari kayu, pada saat ini sudah jarang kita temukan, yang saat ini kita temukan adalah produk-produk permainan yang berasal dari Cina, seperti mainan mobil remote control yang berbahan baku besi atau plastic.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Ada kondisi saat ini, kebudayaan mulai ditinggalkan bahkan sebagian masyarakat Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Hal ini mengakibatkan hilangnya

keanekaragaman budaya Indonesia secara perlahan-lahan, yang tidak terlepas dari pengaruh budaya luar. Generasi muda termasuk mahasiswa di dalamnya harus menjaga kelestarian keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Jangan sampai di saat budaya kita diambil bangsa lain, baru kita menyadari betapa bagusnya nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita itu sendiri. Perkembangan zaman dan teknologi yang semakin lama semakin canggih serta perdagangan bebas yang telah terjadi di dunia khususnya Indonesia telah meracuni bangsa Indonesia terhadap moral akhlak dan tatakrama pergaulan anak remaja, adat budaya Indonesia yang dulu katanya Indonesia kaya akan budayanya kini terhapus semua oleh yang namanya kemajuan zaman.

Pada kondisi saat ini, kebudayaan mulai ditinggalkan bahkan sebagian masyarakat Indonesia malu akan kebudayaannya sebagai jati diri sebuah bangsa. Hal ini mengakibatkan hilangnya

(13)

dalamnya, baik disadari atau tidak memegang amanah dalam menjaga kelestarian keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam menjaga kelestarian budaya Indonesia tersebut banyak cara yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan dan batasan-batasan yang ada.

Jangan sampai di saat budaya kita diambil bangsa lain, baru kita menyadari betapa bagusnya nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kita itu sendiri. Perkembangan zaman dan teknologi yang semakin lama semakin canggih serta perdagangan bebas yang telah terjadi di dunia khususnya Indonesia telah meracuni bangsa Indonesia terhadap moral akhlak dan tatakrama pergaulan anak remaja, adat budaya Indonesia yang dulu katanya Indonesia kaya akan budayanya kini terhapus semua oleh yang namanya kemajuan zaman

B. Saran

Setelah diamati dampak dari masuknya unsur-unsur budaya asing ke Indonesia, penulis memberikan saran kepada para pembaca karya tulis ini umumnya dan para generasi penerus bangsa indonesia khususnya, agar mengantisipasi terhadap budaya asing yang yang masuk ke indonesia karena budaya tersebut tidak sesuai dengan norma-norma kebudayaan kita dan akan berdampak sangat buruk terhadap eksistensi budaya ini.

Referensi

Dokumen terkait