• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS TERHADAP HAK PILIH TNI DAN POLR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS TERHADAP HAK PILIH TNI DAN POLR"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Set iaj eng Kadarsih dan Tedi Sudraj at

Fakult as Hukum Universit as Jenderal Soedirman Purwokert o E-mail: Set iaj eng. kadarsih@unsoed. ac. id dan t _sudraj at @yahoo. com

Abst ract

In t hi s r ef or mat ion er a, t her e wer e di scour ses on t he r ecover y of t he r ight t o vot e f or member s of t he Indonesi an Nat i onal Ar my (TNI) and Indonesi an Nat ional Pol i ce (Pol r i ) i n t he Gener al El ect i on. The wi l l i ngness of t hose r ecover y based on t he devel opment of democr at izat ion and human r i ght s, t hat pl aces t he r i ght t o vot e as a f undament al r i ght t hat cannot be i nf r i nged by t he st at e. The pr obl em t hat ar i ses ar e how t he ar r angement of t he r i ght t o vot e f or t he TNI and Pol r i i n t he Indonesi an Gener al El ect i on when it viewed f r om t he per spect ive of t he pol i t i cal hi st or y and how t he l egal synchr oni zat i on bet ween t he r i ght t o vot e f or TNI and Pol r i when it vi ewed f r om t he concept i on of human r i ght s i n t he cont ext of a democr at i c societ y in Indonesi a. Based on t he r esul t s, i t known t hat t her e ar e set back i n t he ar r angement of t he r i ght t o vot e f or ar med f or ces and pol i ce i n t hr ee per iods. In ol d or der , ar med f or ces and pol ice wer e given t he r ight t o vot e i n t he elect ion. In t he new or der , t he Ar med For ces wer e not ent it l ed t o vot e, but t he pr esence of ar med f or ces in t he r eal m of r egul at ed pol i t i cal spher e i n par t icul ar t hr ough t he l i f t ing mechani sm in t he l egi sl at ur e. Whi le i n r ef or mat ion er a, t he r i ght t o vot e and vot e f or member s of t he mi l i t ar y and pol i ce wer e r emoved, so t he mi l i t ar y and pol i ce only car r y out t he st at e t asks wi t hout any pol i t i cal r i ght s i nher ent i n t hat inst it ut i on. Thi s i ndi cat es t hat t he l egal ar r angement s concer ni ng t he r i ght t o vot e accor di ng t o t he per spect i ve of human r i ght s i n t he cont ext of a democr at i c societ y i s not yet i n sync wit h each ot her .

Key wor ds : Human r i ght s, democr at i c soci et y and l egal synchr oni zat i on

Abst rak

Pada era ref ormasi ini, t erdapat wacana t ent ang pemulihan hak pilih bagi anggot a Tent ara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada Pemilihan Umum. Adapun keinginan pemulihan hak t ersebut didasarkan pada perkembangan proses demokrat isasi dan Hak Asasi Manusia yang menempat kan hak pilih sebagai hak dasar yang t idak dapat disimpangi/ dilanggar oleh negara. Permasalahan yang t imbul adalah bagaimanakah pengat uran t ent ang hak pilih bagi TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum di Indonesia apabila dilihat dari perspekt if sej arah dan polit k hukum sert a bagaimanakah sinkronisasi hukum t erhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Manusia dalam kont eks masyarakat demokrat is di Indonesia. Berdasarkan hasil penelit ian dapat diket ahui bahwa pengat uran pada t iga periode kekuasaan mengalami kemunduran. Pada masa Orde Lama, angkat an bersenj at a dan polisi diberikan hak memilih dalam Pemilu. Pada Orde baru, ABRI t idak diberikan hak unt uk memilih, namun keberadaan ABRI dalam ranah ranah polit ik diat ur secara khusus melalui mekanisme pengangkat an dalam lembaga legislat if . Sedangkan pada era ref ormasi, hak pilih dan memilih bagi anggot a TNI dan Polri dihilangkan sehingga TNI dan Polri hanya melaksanakan t ugas negara t anpa adanya hak polit ik yang melekat dalam diri inst ansi t ersebut . Hal t ersebut mengindikasikan bahwa pengat uran hukum t ent ang hak pilih menurut perspekt if Hak Asasi Manusia dalam kont eks masyarakat demokrat is belumlah sinkron sat u dengan lainnya. Hal ini dikarenakan krit eria part isipasi dan ket erwakilan sebagaimana t ermakt ub dalam nilai-nilai ideal demokrasi belumlah t erwuj ud.

Kat a kunci : Hak asasi manusia, masyarakat demokrat is dan sinkronisasi hukum

(2)

Pendahuluan

Membicarakan masalah hak asasi dalam perkembangan masyarakat demokrat is, maka ini memiliki korelasi yang erat dengan ke-but uhan dan keinginan manusia unt uk ber-int eraksi dengan sesama guna menunj ukan eksist ensi dan upaya pencapaian t uj uan. Hak asasi t ersebut kemudian menj elma t at kala Tuhan Yang Maha Esa mencipt akan seperangkat

hak yang menj amin deraj at nya sebagai

manusia. Hak-hak inilah yang kemudian disebut dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Secara nor-mat if , HAM didef inisikan sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan set iap manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang waj ib dihormat i, dij unj ung t inggi, dan di-lindungi oleh Negara, Hukum, Pemerint ahan, dan set iap orang, demi kehormat an sert a per-lindungan harkat dan mart abat manusia (Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 t ent ang Hak Asasi Manusia, dan UU No. 26 Tahun 2000 t ent ang Pengadilan Hak Asasi Manusia). Hal ini berart i bahwa yang dimaksud sebagai HAM adalah hak yang melekat pada diri set iap pri-badi manusia dan oleh karena it u set iap manu-sia dicipt akan kedudukannya sederaj at dengan hak-hak yang sama sehingga prinsip persamaan dan kesederaj at an t elah menj adi hal ut ama dalam int eraksi sosial. 1

HAM selalu t erkait dengan sist em polit ik demokrasi dalam suat u negara. Demokrasi me-rupakan sarana guna t ercipt anya peran sert a polit ik masyarakat secara luas dengan inst ru-men pokoknya adalah part ai polit ik (parpol). Dalam kait an ini, peran sert a masyarakat men-j adi sat u kunci dalam mengident if ikasi kualit as kiprah dari lembaga-lembaga sosial polit ik yang hidup di masyarakat . Dengan meluasnya gagas-an bahwa rakyat harus diikut sert akgagas-an dalam proses polit ik, maka parpol lahir dan ber-kembang menj adi penghubung pent ing ant ara rakyat dan pemerint ah, bahkan parpol dianggap sebagai perwuj udan at au lambang negara modern. Hal ini bermakna bahwa peran sert a

1 Hest i Ar miwul an, “ Hak Asasi Manusia dan Hukum” , Jur

-nal Yust i ka, Vol . 7 No. 2, Desember 2004, Sur abaya:

Fa-kul t as Hukum Universit as Sur abaya, hl m. 313.

merupakan persoalan relasi kekuasaan at au relasi ekonomi-polit ik ant ara negara (st at e) dan

masyarakat (societ y). Negara adalah pusat

ke-kuasaan, kewenangan dan kebij akan unt uk me-ngat ur (mengelola) alokasi barang-barang (sum-berdaya) publik pada masyarakat , sedangkan di dalam masyarakat sendiri t erdapat hak sipil dan polit ik, kekuat an massa, kebut uhan hidup, dan lain-lain. Dengan demikian, peran sert a dij adi-kan sebagai j embat an penghubung ant ara negara dan masyarakat agar dapat menyeleng-garakan pemerint ahan yang demokrat is dan membuahkan kesej aht eraan sert a human wel l bei ng.

Mencermat i perj alanannya, konsep demo-krasi kemudian memberikan gambaran t ent ang peran sert a sebagai unsur yang sangat dibut uh-kan unt uk membangun pemerint ahan yang bert anggungj awab (account abi l i t y), t ransparan (t r anspar ency), dan responsif (r esponsi bi l i t y)

t erhadap kebut uhan masyarakat . Tiadanya ran sert a masyarakat akan membuahkan pe-merint ahan yang ot orit er dan korup. Dari sisi masyarakat , peran sert a dimaksudkan sebagai

kunci pemberdayaan (empower ment ). Peran

sert a memberikan ruang dan kapasit as bagi masyarakat unt uk memenuhi kebut uhan dan hak-haknya, mengembangkan pot ensi dan pra-karsa lokal, mengakt if kan peran masyarakat sert a membangun kemandirian masyarakat . Hal ini berart i bahwa keberadaan dari peran sert a merupakan penj abaran dari demokrasi yang bert aut an dengan nomokrasi yang t erj elma dalam bent uk hak polit ik.

Berdasarkan hal di at as, maka demokrasi dilihat dari bent uknya t elah diwarnai oleh pan-dangan hidup/ ideologi bangsa, di mana sub-st ansinya adalah sama yait u menunj ukan ada-nya peran sert a/ part isipasi akt if rakyat di dalam pemerint ahan yang dilandasi persamaan dan kemerdekaan/ kebebasan. Part isipasi akt if at au part isipasi polit ik merupakan ukuran t en-t ang been-t apa penen-t ingnya kedudukan dan hu-bungan individu dalam negara. Hal t ersebut bermakna bahwa pengakuan kebebasan dalam

(3)

me-lalui kehidupan kenegaraan dan kegiat an pe-merint ahan. Hak-hak sipil dan polit ik adalah hak yang bersumber dari mart abat dan melekat pada set iap manusia yang dij amin dan di hormat i keberadaannya oleh negara agar manu-sia bebas menikmat i hak-hak dan kebebasannya dalam bidang sipil dan polit ik. Adapun yang berkewaj iban unt uk melindungi hak-hak sipil dan polit ik warga negara adalah pemerint ah sesuai dengan Pasal 8 Undang-undang No. 39 t ahun 1999 t ent ang HAM yang menegaskan bahwa perlindungan, pemaj uan, penegakan dan pemenuhan HAM t erut ama menj adi t anggung j awab pemerint ah.2

Bent uk implement asi dari pemenuhan HAM menurut perspekt if polit ik adalah ke-bebasan unt uk berserikat , berkumpul dan mengeluarkan pikiran.3 Hak t ersebut merupa-kan indikat or bahwa suat u negara t elah me-laksanakan demokrasi. Set iap negara yang mengaku sebagai negara hukum yang demokra-t is harus memasukan aspek peran serdemokra-t a akdemokra-t if rakyat di dalam konst it usinya yang dilandasi persamaan dan kemerdekaan/ kebebasan. Ber-dasarkan hal t ersebut , maka set iap warga negara dij amin oleh konst it usi unt uk dapat ber-peran sert a akt if dalam proses polit ik sebagai sarana unt uk mencapai t uj uannya dalam rangka merealisasikan kebebasan berserikat , berkum-pul dan mengeluarkan pikiran bagi warganegara dalam kehidupan kenegaraan. Di Indonesia, j aminan warganegara t erhadap kebebasan ber-serikat , berkumpul dan mengeluarkan pikiran diat ur pasal 28E UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyat akan bahwa set iap orang berhak at as kebebasan berserikat ,

2 Syamsiar Jul ia, “ Pel anggar an HAM dan Per anan Pol ri

Da-l am Penegakan Hukum di Indonesia” , Jur nal Equal i t y

Vol . 11 No. 2, Agust us 2006, Medan: Fakul t as Hukum Uni versit as Sumat era Ut ara, hl m. 116.

3 Hak-hak yang di akui sebagai Hak-Hak Sipil dan Pol i t ik

sebagai mana dil ansir di Depart emen Hukum dan HAM Republ ik Indonesia adal ah 1. Hak hi dup; 2. Hak bebas dar i penyiksaan dan perl akuan t i dak manusiaw i; 3. Hak bebas dari perbudakan dan kerj a paksa; 4. Hak at as kebebasan dan keamanan pri badi ; 5. Hak at as ke-bebasan berger ak dan ber pindah; 6. Hak at as pengaku-an dpengaku-an perl akupengaku-an ypengaku-ang sama dihadappengaku-an hukum; 7. Hak unt uk bebas berf ikir, berkeyaki nan dan beragama; 8. Hak unt uk bebas berpendapat dan berekspresi; 9. Hak unt uk berkumpul dan berser ikat ; 10. Hak unt uk t urut sert a dal am pemeri nt ahan.

kumpul dan mengeluarkan pikiran. Sedangkan j aminan yang sif at nya diakui secara Int er-nasional diat ur dalam ket ent uan ar t i cl e 20, Decl ar at ion of Human Ri ght . Di dalam ket ent

u-an pasal ini dinyat aku-an bahwa :

“ ever yone has t he r i ght t o f r eedom of peacef ul l assembl y and asoci at ion and no one may be compi l l ed t o bel ong an associ at ion” .

Analog isi pasal t ersebut adalah per t ama,

set iap orang mempunyai hak at as kebebasan berkumpul dan berpendapat ; dan kedua, Tiada

seorang j uapun dapat dipaksa memasuki salah sat u perkumpulan. Kebebasan sepert i diuraikan dalam ar t i cl e 20 t ersebut bersif at universal

na-mun yang t idak universal adalah implement asi-nya dalam produk perundang-undangan. Hal inilah yang kemudian menimbulkan pert anyaan bagi Pegawai negeri,4 khususnya Tent ara Nasio-nal Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Repu-blik Indonesia (Polri) t erhadap hak polit ik be-rupa hak pilih yang seharusnya melekat dalam st at usnya.

Pada awalnya, wacana t ent ang hak pilih TNI disampaikan oleh mant an Panglima TNI Jenderal Endriart ono Sut art o agar anggot a TNI menggunakan hak pilihnya, karena dalam Pe-milu 2004 TNI dan Polri t idak berhak mengguna-kan hak pilihnya.5 Saat ini, t erdapat 2 (dua) kelompok yang saling memberikan argument asi-nya. Kelompok pro adalah akt ivis prodemokrasi dan HAM yang menilai bahwa hak polit ik per-orangan merupakan hak asasi manusia yang harus diberikan kepada siapa pun, t ermasuk anggot a milit er. Kedua, kelompok polit ikus yang menilai dari sisi idealisme demokrasi dan TNI sudah cukup dewasa unt uk melakukannya. Sedangkan mereka yang belum set uj u pada umumnya dat ang dari kelompok prof esional

4 Mengenai j enis pegawai negeri didasarkan pada Pasal 2

ayat (1) UU No. 43 Tahun 1999 t ent ang Pokok-Pokok Kepegaw ai an yang menyat akan bahwa Pegawai Neger i di bagi menj adi Pegaw ai Negeri Sipil , Anggot a Tent ar a Nasional Indonesia, dan Anggot a Kepol isian Negar a Republ ik Indonesi a.

5

(4)

yang mengedepankan realisme. Kelompok kon-t ra memandang realikon-t as kondisi sosial-ekonomi yang belum memadai dan kult ur polit ik (t erut ama elit e) yang belum baik, harus diper-t imbangkan. 6

Permasalahan

Ada dua permasalahan yang hendak di bahas pada art ikel ini. Pert ama, bagaimanakah pengat uran t ent ang hak pilih bagi TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum di Indonesia?; dan

keduan, bagaimanakah sinkronisasi hukum

t erhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Manusia dalam kont eks masyarakat demokrat is di Indonesia?

Met ode Penelitian

Penelit ian ini merupakan penelit ian nor-mat if dengan menggunakan beberapa pende-kat an masalah yang meliput i pendepende-kat an Un-dang-Undang (st at ut e appr oach), pendekat an

konsept ual (concept ual appr oach) dan

pende-kat an sej arah (hi st or i cal appr oach). Dalam

menganalisis permasalahan pert ama digunakan penelit ian t erhadap asas-asas hukum. Dalam t ingkat an ini dilakukan penelit ian t erhadap kaidah-kaidah hukum yang merupakan pat okan bersikap dan berperilaku bagi manusia. Ke-mudian pada t ingkat an kedua, penelit ian ini dif okuskan pada sinkronisasi hukum, baik secara vert ikal mampun horizont al yang ber-t uj uan unber-t uk mengungkapkan kenyaber-t aan, sam-pai sej auh mana perundang-undangan t ert ent u serasi secara vert ikal dan horizont al. Hak pilih TNI dan Polri dalam Pemilu kemudian di korelasikan dengan mat eri muat an dalam hukum administ rasi dan hak asasi manusia

unt uk menget ahui pasangan nilai sert a

kesesuaian makna dalam pengat urannya. Met ode met ode analisis yang digunakan adalah normat if kualit at if . Met ode analisis t er-sebut dilakukan dengan cara mengint erpret asi-kan dan mendiskusiasi-kan bahan hasil penelit ian berdasarkan pada asas-asas hukum, t eori-t eori

6 Depart emen Pert ahanan dan Keamanan, 24 Juni 2010,

Hak Pi l i h TNI, Bagai Pedang Ber mat a Dua, dapat di akses

dal am ht t p: / / www. dephan. go. id/ modul es. php?name= News& f il e=-art icl e& si d=7514

hukum, pengert ian hukum, norma hukum, sert a konsep yang berkait an dengan pokok per-masalahan. Analisisnya dilakukan secara de-dukt if yait u menarik kesimpulan dari suat u masalahan yang bersif at umum t erhadap per-masalahan yang dihadapi. Dalam menganalisis bahan hukum berupa perat uran perundang-un-dangan digunakan beberapa j enis int erpret asi yang meliput i int erpret asi gramat ikal, int er-pret asi sist emat is dan int erer-pret asi menurut pe-net apan suat u ket ent uan perundang-undangan (wet hi st or ische-i nt er pr et at ie).

Pembahasan

Pengaturan tent ang hak pilih bagi TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum di Indonesia

Pengat uran t ent ang hak pilih Tent ara Na-sional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) pada dasarnya dipengaruhi oleh perkembangan demokrat isasi di Indonesia dan sej arah hukum dari masing-masing lembaga t ersebut . Dalam pembahasan ini, perspekt if sej arah digunakan dalam rangka penelaahan sej umlah perist iwa-perist iwa yuridis dari zaman dahulu yang disusun secara kronologis. Dalam hal ini, hukum sebagai gej ala sej arah berart i t unduk pada pert umbuhan yang t erus menerus. Pengert ian t umbuh membuat dua art i yait u perubahan dan st abilit as. Hukum t umbuh, ber-art i bahwa t erdapat hubungan yang erat , sambung-menyambung at au hubungan yang t ak t erput us-put us ant ara hukum pada masa kini dan hukum pada masa lampau. Hukum pada masa kini dan hukum pada masa lampau me-rupakan sat u kesat uan. Ini berart i bahwa kit a dapat mengert i hukum kit a pada masa kini, hanya dengan penyelidikan sej arah, bahwa mempelaj ari hukum secara ilmu penget ahuan harus bersif at j uga mempelaj ari sej arah. Dalam kait an ini, sej arah pengat uran hukum mem-punyai art i pent ing dalam rangka pembinaan hukum nasional, oleh karena usaha pembinaan hukum t idak saj a memerlukan bahan-bahan t ent ang perkembangan hukum masa kini saj a, akan t et api j uga bahan-bahan mengenai

(5)

masa yang lalu, hal mana akan dapat mem-berikan bant uan unt uk memahami kaidah-kaidah sert a inst it usi-inst it usi hukum yang ada dewasa ini dalam masyarakat bangsa kit a.7

Berdasarkan perspekt if t ersebut , sif at dan arah hukum mengenai hak pilih TNI dan Polri selalu diwarnai oleh kepent ingan polit ik penguasa. Perj alanan polit ik bangsa menunj u-kan kecenderungan yang sangat kuat s bahwa milit er merupakan inst rumen polit ik yang sa-ngat ef ekt if yang dibangun oleh sebuah rezim guna membesarkan dan mempert ahankan ke-kuasaan yang ada.8 Hal it u sebenarnya bukanlah sesuat u yang baru, karena pola-pola peman-f aat an milit er sebagai inst rumen polit ik rezim t erj adi sej ak pemerint ahan kolonial. Unt uk

memperj elas perj alanan demokrasi dalam

perspekt if sej arah dan polit ik hukum t erkait dengan hak pilih angkat an bersenj at a (TNI) dan Polri dapat dicermat i dengan penelaahan t er-hadap 3 (t iga) periode kekuasaan di Indonesia yang meliput i Orde Lama, Orde baru dan ref ormasi.

Pengaturan hak Pilih Angkat an Bersenj at a dan Polri pada masa Orde Lama

Moment um hist oris perkembangan demo-krasi set elah kemerdekaan dit andai dengan keluarnya Maklumat No. X pada 3 November 1945 yang dit andat angani oleh Muhammad Hat t a. Dalam maklumat t ersebut dinyat akan bahwa perlunya berdirinya part ai-part ai polit ik sebagai bagian dari demokrasi, sert a rencana pemerint ah menyelenggarakan pemilu pada Januari 1946. Maklumat Muhammad Hat t a ber-dampak sangat luas, melegit imasi part ai-part ai polit ik yang t elah t erbent uk sebelumnya dan mendorong t erus lahirnya part ai-part ai polit ik baru. Pada t ahun 1953, Kabinet Wilopo berhasil menyelesaikan regulasi pemilu dengan dit et ap-kannya Undang-Undang No. 7 t ahun 1953 t en-t ang Pemilihan Anggoen-t a Konsen-t ien-t uanen-t e dan

7

Lihat dan bandingkan dengan Hasnat i, “ Pert aut an Ke-kuasaan Pol it ik dan Negara Hukum” , Jur nal Hukum Res-publ i ca, Vol . 3 No. 1, Tahun 2003, Pekanbaru: Fakul t as

Hukum Universit as Lancang Kuni ng, hl m. 102-113. 8 Nurhasan, “Pasang Sur ut Penegakan HAM dan

Demo-kr asi di Indonesi a” , Jur nal Il mu Hukum Li t i gasi , Vol . 6

No. 2, Juni 2005, Bandung: Fakul t as Hukum Univer si t as Pasundan, hl m. 215.

got a Dewan Perwakilan Rakyat . Pemilu mult i-part ai secara nasional disepakat i dilaksanakan pada 29 Sept ember 1955 (unt uk pemilihan par-lemen) dan 15 Desember 1955 (unt uk pemilihan anggot a konst it uant e).9

Mencermat i aspek kesej arahannya, Pe-milihan Umum Indonesia 1955 adalah pePe-milihan umum pert ama di Indonesia dan diadakan pada t ahun 1955. Pemilu ini dapat dikat akan sebagai pemilu Indonesia yang paling demokrat is. Bahkan Indonesianis sepert i Herbert Feit h me-nilai bahwa Pemilu 1955 adalah yang paling demokrat is dibandingkan pemilu sepanj ang pemerint ahan Orde Baru. Walapun Pemilu 1955 dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif ,10 namun anggot a angkat an bersenj at a dan polisi diikut sert akan unt uk memilih. Mereka yang bert ugas di daerah rawan kemudian diberikan kesempat an unt uk dat ang ke t empat pemilihan dan pada akhirnya Pemilu berlangsung dalam sit uasi yang aman.

Pengat uran t ent ang hak memilih bagi anggot a angkat an bersenj at a dan Polri dit egas-kan dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1953 t ent ang Pemilihan Anggot a Konst it uant e dan Anggot a Dewan Perwakilan Rakyat . Pada Pasal 1 ayat (1) dit ent ukan bahwa :

Anggot a Konst it uant e dan anggot a Dewan Perwakilan Rakyat dipilih oleh warga negara Indonesia, yang dalam t ahun pe-milihan berumur genap 18 t ahun at au yang sudah kawin lebih dahulu.

Pasal 3 ayat (1) menent ukan bahwa

Pemerint ah mengadakan ket ent uan-ke-t enuan-ke-t uan khusus unuan-ke-t uk memungkinkan pe-laksanaan hak-pilih bagi anggot a-anggot a Angkat an Perang dan Polisi, yang pada hari dilakukan pemungut an suara sedang

9 Pemil u i ni bert uj uan unt uk memil ih anggot a-anggot a

DPR dan Konst it uant e. Juml ah kursi DPR yang diper e-but kan berj uml ah 260, sedangkan kur si Konst it uant e berj uml ah 520 (dua kal i l i pat kursi DPR) dit ambah 14 wakil gol ongan minor it as yang di angkat pemerint ah. Pemil u ini diper si apkan di baw ah pemerint ahan Perdana Ment er i Al i Sast roamidj oj o. Namun, Al i Sast roamidj oj o mengundurkan diri dan pada saat pemungut an suara, kepal a pemer int ahan t el ah dipegang ol eh Perdana Ment er Bur hanuddin Harahap.

10 Keadaan ini di sebabkan karena beber apa daerah

(6)

dalam menj alankan t ugas operasi at au t ugas biasa di luar t empat kedudukannya dan apabila perlu dengan mengadakan dalam wakt u sependek-pendeknya pemu-ngut an suara susulan unt uk mereka it u.

Mencermat i hal diat as, maka pada era Orde Lama anggot a angkat an bersenj at a dan Polri diberikan hak yang sama sebagai warga negara dalam ranah polit ik. Hal ini dikarenakan pada era revolusi kemerdekaan, angkat an ber-senj at a dan Polri senant iasa menghadapi per-masalahan sosial, polit ik, dan ekonomi sehingga mereka memiliki kedewasaan dalam pelaksana-an t ugasnya dpelaksana-an t idak memiliki t endensi ke-kuasaan. Perlu dicermat i bahwa walau mereka memilih beragam part ai, namun inst it usi ang-kat an bersenj at a dan Polri t et ap ut uh. Adapun mengenai polit isasi angkat an bersenj at a dan Polri t idaklah hadir pada saat pemilu, melain-kan ket ika t erj adi persoalan dalam hubungan ant ara pemerint ah pusat dan daerah.11.

Hal diat as bermakna bahwa Pemilihan Umum pert ama nasional di Indonesia pada 1955 t elah mendekat i krit eria demokrat is, sebab selain j umlah parpol t idak dibat asi, ber-langsung dengan ber-langsung umum bebas rahasia (luber), sert a mencerminkan pluralisme dan repr esent at i veness karena melibat kan seluruh

elemen masyarakat , t ermasuk didalamnya

adalah anggot a angkat an bersenj at a dan

kepolisian.

Pengaturan Hak Pilih Angkat an Bersenj at a Republik Indonesia (ABRI) pada masa Orde Baru

Pada masa Orde Baru, lembaga TNI dan Polri dij adikan sebagai alat unt uk memper-t ahankan rezim pemerinmemper-t ahan yang dipimpin oleh Presiden Soehart o yang not abene dari

ka-langan milit er. Unt uk mempert ahankan ke-kuasaannya, Presiden Soehart o t idak hanya menj adikan TNI dan Polri sebagai alat per-t ahanan dan keamanan, per-t eper-t api j uga menj adi-kannya sebagai kekuat an sosial, polit ik, dan

11

Saat i t u masih banyak sekal i komandan daer ah yang yang t idak t unduk pada komando TNI di Jakart a. Pol i -t isasi semaki n ken-t al pada era Demokrasi Terpi mpin sa-at t erj adi per masal ahan int ernal ant ara Presi den Soe-karno, TNI AD, dan PKI.

ekonomi yang punya akses berlebih unt uk mengat ur kehidupan berbangsa dan bernegara melalui f ormat dwif ungsi ABRI.

Adapun pengat uran pada masa Orde baru yang menegaskan t erdapat nya upaya polit isasi lembaga milit er t ermakt ub dalam Ket et apan No. XXIV/ MPRS/ 1966 t ent ang Kebij aksanaan Dalam Bidang Pert ahanan dan Keamanan yang menyat akan bahwa dibent uknya suat u int egrasi t iga angkat an dan kepolisian dalam ABRI dan Dephankam. Penegasan t erhadap Ket et apan t ersebut dit uangkan kembali dalam Keput usan Presiden No. 132 t ahun 1967 pada t anggal 24 Agust us 1967 t ent ang pokok-pokok organisasi depart emen Hankam yang menyat akan bahwa ABRI t erdiri at as t iga angkat an dan kepolisian, semuanya di bawah Dephankam.

Adapun mengenai keberadaan ABRI dalam proses polit ik dit egaskan dalam Undang-Undang No. 15 t ahun 1969 t ent ang Pemilihan Umum Anggot a-Anggot a Badan Permusyawarat an/ Per-wakilan Rakyat . Khususnya Pasal 11 yang me-nyat akan bahwa Anggot a Angkat an Bersenj at a Republik Indonesia t idak menggunakan hak memilih sert a Pasal 14 yang menyat akan bahwa Anggot a Angkat an Bersenj at a Republik Indo-nesia t idak menggunakan hak dipilih.

Dasar dari t idak diberikannya hak pilih dan memilih bagi anggot a ABRI dikarenakan

(7)

ikut sert anya segala kekuat an dalam masyarakat represent at if dalam lembaga-lembaga t ersebut .

Hal diat as menegaskan bahwa memang ABRI t idak diberikan hak unt uk memilih dan dipilih, namun didalam wadah ABRI t et ap diberikan kewenangan dalam proses polit ik me-lalui proses pengangkat an guna menj adi ang-got a legislat if . Adapun hal t ersebut dit egaskan dalam Pasal 10, 14 dan 24 Undang-Undang No.

16 t ahun 1969 t ent ang Susunan dan Kedudukan Maj elis Permusyawarat an Rakyat , Dewan Per-wakilan Rakyat dan Dewan PerPer-wakilan Rakyat Daerah.

Mencermat i pengat uran di at as, maka dalam kurun wakt u orde baru, dapat dikat akan bahwa milit er t urut mendominasi kehidupan sosial-polit ik nasional dengan menggunakan berbagai j ust if ikasi, sepert i konsep dwif ungsi ABRI melalui mekanisme pengangkat an dalam lembaga legislat if , bukan melalui pemilihan umum. Hal ini memiliki makna bahwa hak pilih yang melekat pada anggot a ABRI mulai digerus dan dipolit isir oleh penguasa. Hal ini kemudian berdampak pada pencit raan negat if dalam diri ABRI karena diberi akses masuk ke dalam lem-baga legislat if dan eksekut if melalui mekanisme yang t idak demokrat is, sert a dianggap me-nyalahgunakan kekuasaannya unt uk kepent ing-an penguasa.

Pengaturan hak Pilih TNI dan Polri pada Era Reformasi

Posisi ist imewa ABRI dalam kehidupan ber-bangsa dan bernegara berakhir pada t ahun 1998, set elah t erj adinya gerakan ref ormasi yang berhasil merunt uhkan rezim yang t elah memberinya t empat ist imewa yait u Rezim Orde Baru. Ref ormasi di t ubuh ABRI kemudian memecahkan TNI dan Polri kedalam dua wadah yang berbeda, dengan mengubah paradigma, peran dan f ungsi, sert a t ugas TNI dan Polri.

Dit inj au dari aspek normanya, ref ormasi TNI dan Polri t erkait dengan hak memilih dan dipilih dalam proses polit ik diawali dengan dikeluarkannya Tap MPR No. VI/ 2000 t ent ang Pemisahan TNI dan Polri sert a Tap MPR No. VII/

2000 t ent ang Peran TNI dan Polri. Adapun perat uran yang mengat ur hak pilih anggot a TNI t ert uang dalam pasal 5 ayat (2) dan (4) Tap MPR No VII/ MPR/ 2000 yang menent ukan

TNI bersikap net ral dalam kehidupan po-lit ik dan t idak melibat kan diri dalam kehidupan polit ik prakt is. Anggot a TNI t i-dak menggunakan hak memilih dan di pilih. Keikut sert aan TNI dalam menent u-kan arah kebij au-kan nasional disaluru-kan melalui MPR paling lama sampai dengan t ahun 2009.

Perat uran yang mengat ur hak pilih ang-got a Polri t ert uang dalam pasal 10 ayat (1) dan (2) Tap MPR No VII/ MPR/ 2000 yang menent ukan Polri bersikap net ral dalam kehidupan polit ik dan t idak melibat kan diri dalam kehidupan polit ik prakt is. anggot a Polri t idak menggunakan hak memilih dan dipilih. Keikut sert aan Polri dalam menen-t ukan arah kebij akan nasional disalurkan melalui MPR paling lama sampai dengan t ahun 2009.

Perat uran-perat uran t ersebut pada prin-sipnya bert uj uan agar t ercipt a sikap prof esional dari kedua inst it usi ini dalam menj alankan t ugas dan wewenangnya. Hal ini senada dengan pernyat aan Prof Dr. B. J Habibie dalam Rapat Paripurna Sidang Umum ke-8 MPR-RI t anggal 14 Okt ober 1999 yang menyat akan bahwa bahwa

(8)

mera-t a mera-t anpa mempermera-t imbangkan golongan maupun aliran polit ik yang ada.12

Mencermat i konsepsi t ent ang net ralit as polit ik di at as, maka pemerint ah kemudian melakukan perubahan mendasar t erhadap hak pilih dari kepolisian Tent ara Nasional Indonesia sebagaimana di at ur dalam Pasal 28 Undang-Undang No. 2 t ahun 2002 t ent ang Kepolisian Republik Indonesia dan Pasal 39 Undang-Un-dang No. 34 t ahun 2004 t ent ang Tent ara

Nasional Indonesia.

Melihat sej arah dari pengat uran bagi TNI dan Polri di bidang perpolit ikan, maka t erdapat makna bahwa pemerint ah t elah menghilangkan hak dasar berupa hak memilih dan dipilih bagi anggot a TNI dan Polri guna mencipt akan sit uasi yang diinginkan oleh negara. Namun apabila dalam perkembangan demokrat isasi di Indo-nesia, maka pengat uran pada era ref ormasi mengalami kemunduran yang signif ikan karena pada masa Orde Lama, angkat an bersenj at a dan polisi diberikan hak memilih sebagaimana t ermakt ub dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1953. Pada Orde baru, ABRI t idak diberikan hak unt uk memilih, namun keberadaan ABRI dalam ranah ranah polit ik diat ur secara khusus melalui mekanisme pengangkat an dalam lembaga legis-lat if . Sedangkan pada era ref ormasi, hak pilih dan memilih bagi anggot a TNI dan Polri di hilangkan sehingga TNI dan Polri hanya melak-sanakan t ugas negara t anpa adanya hak polit ik yang melekat dalam diri inst ansi t ersebut .

Sinkronisasi hukum t erhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Ma-nusia dalam kont eks masyarakat demokrat is di Indonesia

Pengat uran t ent ang hak pilih dalam pers-pekt if pemerint ah, pada hakikat nya merupakan upaya unt uk memperoleh kepast ian hukum gu-na membat asi kekuasaan t erhadap kemungkin-an bergeraknya kekuasakemungkin-an at as nalurinya sen-diri, yang pada akhirnya mengarah pada penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power ).

Konsep pembat asan dalam kont eks negara

12 Risal ah Rapat Par ipurna Sidang Umum ke-8 MPR-RI t

ang-gal 14 Okt ober 1999

kum pada awalnya dikemukakan oleh Plat o melalui konsepsi nomoi yait u suat u negara di

mana semua orang t unduk kepada hukum, t er-masuk j uga penguasa at au raj a unt uk mencegah agar mereka t idak bert indak secara sewenang-wenang. Gagasan bahwa kekuasaan harus di bat asi dikemukakan j uga oleh Lor d Act on yang

mengingat kan bahwa pemerint ahan selalu di selenggarakan oleh manusia dan bahwa pada manusia it u t anpa kecuali melekat banyak kelemahan. Dalilnya yang kemudian menj adi t ermasyur adalah “ manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung unt uk menyalahgunakan kekuasaan it u, t et api manusia yang mempunyai kekuasaan t ak t erbat as past i akan menyalah-gunakan secara t ak t erbat as pula (Power t ends t o cor r upt , but absol ut e power cor r upt ab-sol ut el y). ”

Berdasarkan hal di at as, maka pembat as-an kekuasaas-an memiliki korelasi yas-ang erat de-ngan upaya membat asi perilaku dari penguasa, dan unt uk dapat menegaskan aspek kepast ian hukumnya, maka didalam set iap perat uran memiliki pembat asan t erhadap keberlakuan-nya. Art inya t idak ada sat upun perat uran yang keberlakuannya sepanj ang zaman dan me-menuhi kebut uhan realit as sosial yang t erus berubah, sehingga set iap perubahan pada haki-kat nya merupakan konsekuansi logis bagi set iap keinginan unt uk memenuhi t unt ut an zaman. Terkait dengan pembat asan t ersebut , maka di dalam hubungan hukum ant ara negara dengan pegawai negeri (TNI dan Polri) t erdapat ke-t enke-t uan pembake-t asan perilaku bagi pegawai yang bekerj a dalam inst ansi negeri. Hubungan ini disebut dengan hubungan dinas publik yang menurut Logemann, hubungan ini t erj adi bila-mana seseorang mengikat kan dirinya unt uk t unduk pada suat u perint ah dari pemerint ah unt uk melakukan sesuat u at au beberapa ma-cam j abat an negeri yang dalam melakukan sua-t u asua-t au beberapa macam j abasua-t an isua-t u di hargai dengan pemberian gaj i dan beberapa keunt ung-an lain. Hal ini berart i bahwa int i dari hubung-an dinas publik adalah kewaj ibhubung-an bagi pegawai

(9)

bersang-kut an t idak menolak (menerima t anpa syarat ) pengangkat annya dalam sat u j abat an yang t e-lah dit ent ukan oleh pemerint ah di mana se-baliknya pemerint ah berhak mengangkat sese-orang pegawai dalam j abat an t ert ent u t anpa harus adanya penyesuaian kehendak dari yang bersangkut an.13

Hubungan dinas publik ini dalam pene-rapannya berkait an dengan segi pengangkat an Pegawai Negeri yang dikenal dengan t eori Con-t r ac Sui gener i s. Teori ini dikemukakan oleh

Buys bahwa dalam Cont r ac Sui gener i s

men-syarat kan pegawai negeri harus set ia dan t aat selama menj adi Pegawai Negeri, meskipun dia set iap saat dapat mengundurkan diri. Dari pen-dapat Buys ini pen-dapat disimpulkan bahwa selama menj adi Pegawai Negeri, mereka t idak dapat melaksanakan hak-hak asasinya secara penuh. Karena it u, apabila Pegawai Negeri akan melak-sanakan hak-hak asasinya secara penuh, peme-rint ah dapat menyat akan yang bersangkut an bukanlah orang yang diperlukan bant uannya oleh pemerint ah.

Makna pemberlakuan hubungan dinas publik adalah t imbulnya pembat asan t erhadap diri Pegawai Negeri melalui perat uran yang dikenakan kepadanya, t ermasuk didalamnya adalah hak-hak yang bersif at asasi. Dalam kait an ini, walaupun hak asasi manusia diakui sebagai hak yang pada dasarnya t ak dapat di kurangi, dirampas sedikit pun oleh siapapun, namun demikian hak asasi manusia bukanlah sesuat u yang bisa dinikmat i t anpa bat as. Ter-dapat adagi um dalam hukum bahwa penikmat

an hak seseorang dibat asi yakni oleh penikmat -an hak or-ang lain. Hal ini memiliki makna bahwa suat u perbuat an (penikmat an hak) t idak menimbulkan kerugian pada orang lain, maka t idak ada legit imasi bagi negara unt uk me-represi suat u penikmat an hak.14 Sebaliknya j ika memang penikmat an hak akan mengganggu orang lain, maka pembat asan t erhadapnya di

13

Tedi Sudraj at , “ Probl emat ika Penegakan Hukuman Disi pl in Kepegaw ai an” , Jur nal Di nami ka Hukum, Vol . 8

No. 3, Sept ember 2008, Purwokert o: Fakul t as Hukum Uni versit as Jender al Soedirman, hl m. 214.

14 Lihat dan bandingkan dengan M. Nur Hasan, “ Tant angan

Demokrasi di Indonesi a” , Jur nal Aspi r asi Vol . 16 No. 1,

Jul i 2006, Jakart a: Magi st er Il mu Hukum Tr isakt i , hl m. 33-40.

mungkinkan t erj adi. Akan t et api, perlu dit egas-kan bahwa pembat asan haruslah dit ent uegas-kan dengan hukum semat a-mat a unt uk t uj uan kesej aht eraan umum dalam suat u masyarakat yang demokrat ik. Univer sal Decl ar at ion of Hman Ri ght (UDHR) Pasal 29 ayat (2) menent

u-kan bahwa

In t he exer ci se of hi s r i ght s and f r ee-doms, ever yone shal l be subj ect onl y t o such l i mi t at ions as ar e det er mi ned by l aw sol el y f or t he pur pose of secur ing due r ecogni t ion and r espect f or t he r i ght s and f r eedoms of ot her s and of meet ing t he j ust r equi r ement s of mo-r al i t y, publ i c omo-r demo-r and t he genemo-r al wel f ar e i n a democr at i c soci et y.

The Int er nat i onal Covenant on Economi c, Soci al and Cul t ur al Ri ght s (ICESCR)15 menent u-kan bahwa hak-hak yang ada di dalam kovenan bisa dibat asi oleh hukum sej auh berkesesuaian dengan sif at dari hak it u dan semat a-mat a unt uk mencapai kesej aht eraan umum dalam suat u masyarakat yang demokrat ik. Pasal 4 ICESCR menent ukan bahwa

The St at es par t i es t o t he pr esent Cove-nant r ecogni ze t hat , i n t he enj oyment of t hose r i ght s pr ovi ded by t he St at e in conf or mi t y wi t h t he pr esent Covenant , t he St at e may subj ect such r i ght s onl y t o such l i mi t at ions as ar e det er mi ned by l aw onl y i n so f ar as t hi s may be com-pat i bl e wit h t he nat ur e of t hese r i ght s and sol el y f or t he pur pose of pr omot ing t he gener al wel f ar e i n a democr at i c soci et y.

Sedikit ber beda dengan UDHR dan

ICESCR, dalam The Int er nat ional Covenant on Ci vi l and Pol it i cal Ri ght s (ICCPR)16 t idak di j umpai ket ent uan pembat asan yang berlaku umum at as set iap pasal di dalam konvensi. ICCPR memungkinkan suat u negara pesert a un-t uk membaun-t asi (t o l i mi t ) at au menunda

15

The Int er nat i onal Covenant on Economi c, Soci al and Cul t ur al Ri ght s (ICESCR) was adopt ed by t he Gener al Assembl y i n December 1966 and ent er ed i nt o f or ce i n 1976. It el abor at es t he pr i nci pl es l ai d out i n UDHR and i s l egal l y bi ndi ng on al l st at es who have si gned and r at i f i ed i t s pr ovi si ons.

16 The Int er nat i onal Covenant on Ci vi l and Pol i t i cal Ri ght s

(10)

pend) penikmat an hak dalam hal secara resmi

dinyat akan bahwa negara dalam keadaan darurat yang mengancam kelangsungan hidup suat u bangsa. Pasal 4 ayat (1) ICCPR menent u-kan bahwa

In t i me of publ i c emer gency whi ch t hr ea-t ens ea-t he l i f e of ea-t he naea-t i on and ea-t he exi s-t ence of whi ch i s of f i cial l y pr ocl ai med, t he St at es Par t ies t o t he pr esent Cove-nant may t ake measur es der ogat ing f r om t heir obl i gat i ons under t he pr esent Cove-nant t o t he ext ent st r i ct l y r equir ed by t he exi gencies of t he sit uat ion, pr ovi ded t hat such measur es ar e not i nconsi st ent wi t h t heir ot her obl i gat ions under i nt er nat ional l aw and do not i nvol ve di scr i mi nat i on sol ely on t he gr ound of r ace, col our , sex, l anguage, r el i gi on or soci al or i gi n.

Sebagaimana dit ent ukan dalam Pasal 4 di at as, kemungkinan unt uk it u (membat asi dan menunda) hanya diij inkan dalam hal sangat diperlukan dalam sit uasi yang amat gent ing yang mengancam kehidupan bangsa, sert a t ak boleh diskriminat if semat a pada ras, warna kulit , j enis kelamin, bahasa, agama at au asal sosial.

Pada level perundangan nasional, UUD 1945 hasil amandemen memberikan pembat as-an das-an kewaj ibas-an hak asasi mas-anusia dengas-an menyat akan: set iap orang waj ib menghormat i hak asasi manusia orang lain dalam t ert ib kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan ber-negara (Pasal 28 J ayat (1) UUD 1945).

Lebih lanj ut Pasal 28 J ayat (2) menent u-kan

Dalam menj alankan hak dan kebebas-annya, set iap orang waj ib t unduk kepada pembat asan yang dit et apkan dengan Undang-Undang dengan maksud semat a-mat a unt uk menj amin pengakuan sert a penghormat an at as hak dan kebebasan orang lain dan unt uk memenuhi t unt ut an yang adil sesuai dengan pert imbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ket ert iban umum dalam suat u masya-rakat demokrat is.

Pembat asan hak asasi manusia dij umpai dalam Piagam Hak Asasi Manusia yang t er-cant um dalam Ket et apan Maj elis

Permusya-warat an Rakyat No. XVII/ MPR/ 1998 Pasal 34 yang menent ukan bahwa set iap orang waj ib meng-hormat i hak asasi manusia orang lain dalam t ert ib kehidupan bermasyarakat , ber-bangsa, bernegara. Piagam Hak Asasi Manusia j uga menegaskan bahwa penikmat an hak asasi manusia bisa dibat asi oleh hukum. Dit ent ukan oleh Pasal 36 dari Ket et apan MPR t ersebut bahwa

Di dalam menj alankan hak dan kebebas-annya set iap orang waj ib t unduk kepada pembat asan-pembat asan yang dit et apkan oleh Undang-Undang dengan maksud semat a-mat a unt uk menj amin pengakuan sert a penghormat an at as hak dan ke-bebasan orang lain, dan unt uk memenuhi t unt ut an yang adil sesuai dengan pt imbangan moral, keamanan, dan kept er-t iban umum dalam suaer-t u masyarakaer-t demokrat is.

Sement ara it u Pasal 70 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 t ent ang Hak Asasi Manusia j uga mengat ur limit asi hak asasi manusia de-ngan menent ukan bahwa

Dalam menj alankan hak dan kebebasan-nya, set iap orang waj ib t unduk kepada pembat asan yang dit et apkan Undang-Undang dengan maksud unt uk menj amin pengakuan sert a penghormat an at as hak dan kebebasan orang lain dan unt uk me-menuhi t unt ut an yang adil sesuai dengan pert imbangan moral, keamanan, dan ke-t erke-t iban umum dalam suake-t u masyarakake-t demokrat is.

Hal di at as bermakna bahwa pembat asan t erhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dimaksud-kan agar penyelenggaraan t ugas pemerint ah berupa pert ahanan dan keamanan dilaksanakan secara penuh oleh anggot a TNI dan Polri. Na-mun permasalahannya adalah perkembangan masyarakat demokrat is di Indonesia semakin mengarah pada konsolidasi polit ik dalam hal pemberian hak yang sama pada set iap warga negara. 17

Konsolidasi demokrasi adalah suat u pro-ses pemapanan sist em demokrasi, unt uk me-nuj u pada sist em polit ik yang st abil dan mapan.

17 Sumal i, “ Urgensi TNI di Bingkai Konst it usi Dal am

Pers-pekt i f Yuri di s Pol it i s” , Jur nal Hukum Respubl i ca, Vol . 3

(11)

Konsolidasi demokrasi memerlukan t iga hal, yait u: per t ama, pendalaman demokrasi (demo-cr at i c deepenning), yakni st rukt ur-st rukt ur

polit ik menj adi semakin t erbuka (liberal), akunt abel, represent at if dan aksesibel. Ini ber-art i kebebasan polit ik dij amin t et api sekaligus j uga t unduk pada hukum; kedua, pelembagaan

polit ik (pol i t i cal i nst i t ut ional i zat i on), yait u

t erbangun dan t ert at anya st rukt ur-st rukt ur po-lit ik dan pemerint ahan unt uk menj amin t er-selenggaranya birokrasi yang melayani kebut uh-an publik, pemerint ahuh-an perwakiluh-an yuh-ang ma-pan dan bert anggungj awab (part ai polit ik, pemilu, badan-badan pemerint ahan) yang men-cerminkan pluralit as kepent ingan masyarakat . Art inya, demokrasi akan dij adikan sebagai mo-del dan at uran main bersama unt uk menyele-saikan berbagai persoalan yang dihadapi baik secara sosial, polit ik, ekonomi dan budaya. Oleh karena it u, salah sat u ciri dari konsolidasi demokrasi adalah semakin kuat nya nilai-nilai demokrasi, khususnya j aminan kebebasan unt uk berserikat dan berkumpul sert a berorganisasi dan t idak adanya t ekanan-t ekanan polit ik oleh rezim menj adi salah sat u dari sekian indikat or. Konsolidasi demokrasi j uga dicirikan oleh kuat -nya pemahaman elit polit ik bahwa model demokrasi (sist em demokrasi) adalah pilihan sat u-sat unya bagi pelaksanaan dan mekanisme unt uk melaksanakan pemerint ahan.18

Mencermat i relevansi dari subst ansi peng-at uran t ent ang pembpeng-at asan penikmpeng-at an hak asasi manusia karena pert imbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ket ert iban umum dalam suat u masyarakat demokrat is apabila dikait kan dengan hak pilih bagi anggot a TNI dan Polri, maka pengat uran t ersebut masih perlu unt uk dievaluasi dengan pemikiran bahwa konsep demokrasi t ersebut t elah mencederai nilai-nilai ideal demokrat is dengan adanya penghapusan hak asasi dan dihilangkannya ke-t erwakilan lembaga TNI dan Polri dalam ranah

18

T. Hari Prihat ono, 2008, “Depar t emen Per t ahanan-TNI-Masyar akat Si pi l : Rel asi dal am For mul asi Kebi j akan dan Tr anspar ansi Impl ement asi , ” dal am di skusi unt uk si mposi um “ 10 Tahun Ref or masi Sekt or Keamanan di Indonesi a” dengan t ema ” Ref or masi TNI dan Depar

-t emen Per -t ahanan RI Pasca Or de Bar u di Indonesi a” , yang disel enggar akan at as kerj a sama Lesperssi-HRWG-IDSPS-DCAF, Hot el Sul t an - Jakar t a 28-29 Mei 2008.

polit ik.19 Hal ini t erlihat secara t egas dalam Pasal 5 ayat (2) dan (4) Tap MPR No VII/ MPR/ 2000 yang menent ukan bahwa

(2) TNI bersikap net ral dalam kehidupan polit ik dan t idak melibat kan diri da-lam kehidupan polit ik prakt is.

(4) Anggot a TNI t idak menggunakan hak memilih dan dipilih. Keikut sert aan TNI dalam menent ukan arah kebij ak-an nasional disalurkak-an melalui MPR paling lama sampai dengan t ahun 2009.

Hak pilih anggot a Polri diat ur dalam pasal 10 ayat (1) dan (2) Tap MPR No VII/ MPR/ 2000 yang menent ukan bahwa

Polri bersikap net ral dalam kehidupan polit ik dan t idak melibat kan diri dalam kehidupan polit ik prakt is. anggot a Polri t idak menggunakan hak memilih dan di pilih. Keikut sert aan Polri dalam menent u-kan arah kebij au-kan nasional disaluru-kan melalui MPR paling lama sampai dengan t ahun 2009.

Nilai-nilai demokrat is t ersebut dapat di cermat i pula melalui konsepsi demokrasi per-wakilan yang dikemukakan oleh Henry B. Mayo dalam karyanya yang berj udul “An Int r oduct ion t o Democr at i c Theor y” yang menegaskan

bahwa :

A Democr at i c pol i t i cal syst em i s one in whi ch publ i c pol i ci es ar e made on a ma-j or it y basi s, by r epr esent at i ves subma-j ect t o ef f ect ive popul ar cont r ol at per iodi c el ect ions whi ch ar e conduct et on t he pr i nci pl e of pol i t i cal equal i t y and under condi t ions of pol i t i cal f r eedom”20

Berdasarkan uraian t ersebut , maka dapat dikat akan bahwa unsur ket erlibat an at au par-t isipasi separ-t iap warga masyarakapar-t dalam proses penyelenggaraan pemerint ahan adalah sesuat u yang mut lak, t erlepas apakah ket erlibat an it u secara langsung maupun t idak langsung melalui wakil-wakilnya yang duduk dalam

lembaga-lembaga perwakilan. Kesahan at au legit imasi

19

Lihat dan Bandi ngkan dengan Al bert Hasi buan, “ Pol it ik Hak Asasi Manusia (HAM) Dan UUD 1945” , Law Revi ew

Fakul t as Hukum Universi t as Pel it a Harapan, Vol . 8 No. 1, Jul i 2008, hl m. 43-62.

20 Lihat dal am I Gede Pant j a Ast awa, 2000, Hak Angket

Dal am Si st em Ket at anegar aan Indonesi a Menur ut Undang Undang Dasar 1945, Di sert asi, Bandung UNPAD,

(12)

suat u pemerint ahan dalam perspekt if demo-krasi dapat dilihat sampai seberapa besar par-t isipasi rakyapar-t dalam pemerinpar-t ahan. Tingginya part isipasi polit ik menunj ukan bahwa rakyat mengikut i dan memahami masalah polit ik dan ingin melibat kan diri dalam kegit an it u. Jadi part isipasi polit ik merupakan pengej awant ahan kekuasaan polit ik yang absah.Dalam kait an ini, konsep ket erwakilan menunj ukan hubungan ant ara orang-orang, yakni pihak yang mewakili dan diwakili, dimana orang yang mewakili mempunyai sederet kewenangan sesuai dengan

kesepakat an ant ar keduanya. Perwakilan

me-rupakan suat u konsep bahwa seseorang at au suat u kelompok mempunyai kemampuan at au kewaj iban unt uk berbicara at au bert indak at as nama suat u kelompok yang lebih besar. wakilan ini disebut perwakilan polit ik. Per-wakilan polit ik menggambarkan hubungan per-wakilan (yang t ersusun dalam lembaga at au badan perwakilan) di mana si wakil bert indak sebagai wakil rakyat yang diwakilinya.

Robert Dahl, dalam kait an ini menge-mukakan t uj uh krit eria demokrasi unt uk meng-amat i ada t idaknya demokrasi yang diwuj udkan dalam suat u pemerint ahan negara. Per t ama, Cont r ol over gover nment deci ci ons about pol i cy i s const i t usi onal l y vest ed i n el ect ed of f i cial s; kedua, Elect ed of f i ci al s ar e chosen and peacf ul l y r emoved i n r el at ivel y f r equent , f ai r and f r ee el ect ions i n whi ch coer cion i s qui t e l imi t ed; ket i ga, Pr act i cal l y al l adul t s have t he r i ght i n vot e i n t hese el ect ions; keempat , Most adul t s have t he r igt h t o r un f or publ i c of f i cer f or whi ch candi dat es r un i n t hese elect ions; kel i ma, Cit i zens have an ef f ect if l y enf or ced r i ght t o f r eedom of expr ession, par t i cul ar y pol it i cal expr essi on, i ncl udi ng cr i t i csm of of t he of f i ci al s, t he conduct of t he gover nment , t he pr eval l i ng pol i t i cal , economi c, and social syst em, and t he domi nant s i di ology; keenam, These ol so have acces of al t er nat ive sour ces of i nf or mat ion t hat ar e not monopol i zed by t he gover nment or any ot her si ngl e gr oup; dan ket uj uh, Fi nal l y t he have and ef f ect ivel y enf or ced r ight t o f or m and j oi n aut onomous associ at ions, i ncl udi ng pol i t i cal par t ies i nt er est gr oups, t hat

at t empt t o i nf l unce t he gover nment by compet i ng i n el ect ions and by ot her peacef ul means. (Pada akhirnya mereka mempunyai

hak-hak yang diperj uangkan secara ef ekt if unt uk

membent uk dan bergabung pada sosiasi

ot onom, t ermasuk kelompok kpent ingan part ai

polit ik, yang mencoba mempengaruhi

pemerint ah dengan berkompet isi dalam

pemilihan dan melakui sarana-sarana damai lainnya).21

Krit eria ideal yang disampaikan oleh Robert Dahl t idak selaras dengan pengat uran negara t erhadap pembat asan hak anggot a TNI dan Polri dalam proses polit ik, karena t idak diberikannya akses perwakilan di lembaga legislat if dan t idak diberikan hak unt uk dipilih dalam Pemilihan Umum. Hal ini mengindikasi -kan bahwa t idak t erdapat nya sinkronisasi hukum ant ara pembat asan hak pilih bagi TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Manusia dalam kont eks masyarakat demokrat is di Indonesia.

Konsep hak (r i ght ) dengan aj ekt if

ma-nusia (human) mempunyai implikasi inst rinsik

bahwa hak-hak it u dimiliki oleh laki -laki mau

pun perempuan (men and women) secara sama.

Seluruh manusia dimanapun dan kapanpun karena kemanusiaannya (humani t y) t anpa

me-mandang j enis kelamin, ras, usia, kelas sosial, kewarganegaraan, et nis at au af iliasi kesukuan, kekayaan, j abat an, keahlian, agama, ideologi, dan komit men-komit men lainnya. Dengan ke-seluruhan pemikiran di at as, maka t epat yang dikat akan oleh Todung Mulya Lubis, bahwa menelaah HAM sesungguhnya adalah menel aah t ot alit as kehidupan, sej auh mana kehidupan kit a memberi t empat yang waj ar kepada kemanusiaan.22 Hal inilah yang kemudian me-ngant ar pada eksist ensi hukum dalam negara yang seharusnya memberikan t empat dan hak polit ik bagi anggot a TNI dan Polri ke dalam kat egori i nal ienabl e, t idak dapat dialihkan,

dirampas, at au diganggu gugat ; dan i mpr

21

Af an Gaf f ar, 2000, Pol i t i k Indonesi a: Tr ansi si Menuj u Demokr asi , Yogyakart a: Pust aka Pel aj ar, hl m. 6-7.

22 Todung Mul ya Lubis, “ Menegakan Hak Asasi Manusia,

Menggugat Di skri mi nasi ” , Jur nal Hukum dan Pemba-ngunan, Vol . 39 No. 1, Januar i–Maret 2009, Jakar t a:

(13)

scr i pt i bl e, t idak dapat hilang, bet apapun t elah

digerogot i at au gagal dalam pemenuhannya. Perlu dicermat i bahwa keberadaan dari HAM memberikan kewaj iban kepada negara, yakni kewaj iban unt uk menghormat i (t o r es-pect ), kewaj iban unt uk melindungi (t o pr o-t eco-t ), dan kewaj iban uno-t uk memenuhi (o-t o f ul f i l ) HAM. Jika suat u negara gagal dalam

memenuhi sat u dari kewaj iban it u maka suat u negara bisa dikat akan t elah melanggar HAM. Kewaj iban unt uk menghormat i HAM mensyarat -kan negara unt uk mencegah at au menahan dari melanggar at au mengurangi penikmat an hak asasi warga. Kewaj iban unt uk melindungi men-syarat kan negara unt uk melindungi warga dari pelanggaran hak asasi oleh pihak ket iga. Se-dangkan kewaj iban unt uk memenuhi HAM men-syarat kan negara unt uk mengambil langkah-langkah legislasi, administ rasi, keuangan, per-adilan dan upaya-upaya lain unt uk mewuj udkan hak t ersebut . Dengan demikian, hak polit ik WNI yang kebet ulan j adi anggot a TNI dan Polri t idak dapat dihapuskan oleh siapapun, kecuali j ika mereka t ak bersedia menggunakannya. Pro-blemat ika dalam melet akkan supremasi hukum sebagai landasan ut ama berdemokrasi dan upaya penegakan keadilan t idak semat a-mat a t erlet ak pada halangan st rukt ural at as lemah-nya pol it i cal wi l l penegak hukum dalam

pene-gakan prinsip j ust i ce f or al l , t et api j uga pada

sangat mudahnya norma hukum t idak saj a belum t erisi oleh nilai -nilai keadilan, t et api hukum j uga sering kali mengabdikan diri se-bagai inst rumen kekuasaan.23 Perlu dit egaskan bahwa hak pilih anggot a TNI dan Polri pernah dilaksanakan pada Pemilu 1955 t anpa menim-bulkan polarisasi at au gangguan keamanan se-bagaimana dikhawat irkan sement ara kalangan dewasa ini.

Penut up Simpulan

Pengat uran t ent ang hak pilih bagi ang-got a TNI dan Polri dalam t iga periode t erakhir

23 Mar cus Pr iyo Gunart o, “ Perl indungan Hak Asasi Manusi a

Dal am Di namika Gl obal ” , Jur nal Mi mbar Hukum, Vol .

19 No. 2, Juni 2007, Fakul t as Hukum Univer sit as Gadj ah Mada, hl m. 259

mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan pada masa Orde Lama, angkat an bersenj at a dan polisi diberikan hak memilih sebagaimana t ermakt ub dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1953 t ent ang Pemilihan Anggot a Konst it uant e dan Anggot a Dewan Perwakilan Rakyat . Pada Orde Baru, ABRI t idak diberikan hak unt uk memilih, namun keberadaan ABRI dalam ranah ranah polit ik diat ur secara khusus melalui mekanisme pengangkat an dalam lembaga legis-lat if dan diat ur dalam Undang-Undang No. 15 t ahun 1969 t ent ang Pemilihan Umum Anggot a-Anggot a Badan Permusyawarat an/ Perwakilan Rakyat . Pada era ref ormasi, hak pilih dan memilih bagi anggot a TNI dan Polri dihilangkan sebagaimana diamanat kan oleh Tap MPR No. VII/ 2000 t ent ang Peran TNI dan Polri, Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 t ent ang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Undang-Undang No. 34 t ahun 2004 t ent ang Tent ara Nasional In-donesia, sehingga TNI dan Polri hanya melak-sanakan t ugas negara t anpa adanya hak polit ik yang melekat dalam diri inst ansi t ersebut .

Hak memilih adalah hak yang bersif at personal dan bukan inst it usional, oleh karena it u negara mempunyai kewaj iban unt uk meng-hormat i hak asasi manusia dan mencegah at au menahan dari melanggar at au mengurangi pe-nikmat an hak asasi dari warga negaranya. Dengan demikian, hak polit ik WNI yang menj adi anggot a TNI dan Polri t idak dapat dihapuskan oleh siapapun, kecuali j ika mereka t ak bersedia menggunakannya. Hal ini bermakna bahwa pa-da era ref ormasi ini belum t erpa-dapat nya sin-kronisasi hukum, baik secara vert ikal maupun horizont al ant ara penghapusan hak pilih bagi TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Manu-sia dalam kont eks masyarakat demokrat is. Hal ini dikarenakan krit eria part isipasi dan ket er-wakilan sebagimana t ermakt ub dalam nilai-nilai ideal demokrasi belumlah t erwuj ud.

Saran

Perlu adanya perubahan pengat uran t er-hadap hak pilih TNI dan Polri di Indonesia.

(14)

memilih dalam pemilu. Semua warga negara pada prinsipnya mempunyai hak dan kewaj iban sama.

Upaya-upaya prevent if yang dapat dilaku-kan pemerint ah dalam rangka pemulihan hak pilih bagi anggot a TNI dan Polri dapat berupa

Per t ama, menumbuhkan sikap prof esional pada

anggot a TNI dan Polri dalam menj alankan t u-gasnya. . Selain it u, anggot a TNI dan Polri harus merespon perkembangan ekst ernal, guna di j adikan pert imbangan dalam menj alankan re-f ormasi int ernalnya. Kedua, memperbaiki

kese-j aht eraan anggot anya ut amanya yang berpang-kat rendah. Kesej aht eraan dapat menghindar-kan anggot a TNI dan Polri dari kemungkinan pemanf aat an j asa mereka oleh pihak t ert ent u unt uk meraih kepent ingan pribadi at au go-longannya dalam bidang polit ik, khususnya pada saat pemilu. Peningkat an kesej aht eraan ini salah sat unya dapat dilakukan dengan cara mengurangi perekrut an anggot a TNI dan Polri karena dalam perkembangan dunia pert ahanan keamanan, j umlah anggot a milit er t ak lagi menj adi penent u ut ama, t et api t ergant ikan oleh t eknologi. Dengan pengurangan rekrut men anggot a TNI dan Polri, maka anggaran yang t i-dak t erpakai dapat dialihkan pengalokasiannya unt uk t eknologi pert ahanan keamanan sert a unt uk meningkat kan kesej aht eraan anggot a-nya.

Daft ar Pust aka

Armiwulan, Hest i. “ Hak Asasi Manusia dan Hu-kum” . Jur nal Yust i ka. Vol . 7 No. 2.

De-sember 2004. Surabaya: Fakult as Hukum Universit as Surabaya;

Ast awa, I Gede Pant j a. 2000. Hak Angket Da-l am Si st em Ket at anegar aan Indonesi a Menur ut Undang Undang Dasar 1945.

Di-sert asi. Bandung: UNPAD;

Depart emen Pert ahanan dan Keamanan, 24 Juni 2010, Hak Pi l i h TNI, Bagai Pedang Ber mat a Dua, dapat diakses dalam

ht t p: / / www. dephan. go. id/ modules. php? name= News&f ile=-art icle& sid=7514;

Gaf f ar, Af an. 2000. Pol it i k Indonesia: Tr ansi si Menuj u Demokr asi . Yogyakart a: Pust aka

Pelaj ar;

Gunart o, Marcus Priyo. “ Perlindungan Hak Asasi Manusia Dalam Dinamika Global” . Jur nal Mi mbar Hukum Vol. 19 No. 2. Juni 2007.

Yogyakart a: Fakult as Hukum Universit as Gadj ah Mada;

Hasan, M. Nur. “ Tant angan Demokrasi di Indonesia” , Jur nal Aspir asi . Vol. 16 No.

1. Juli 2006. Jakart a: Magist er Ilmu Hu-kum Trisakt i;

Hasibuan, Albert “ Polit ik Hak Asasi Manusia (HAM) Dan UUD 1945” , Law Revi ew. Vol.

8 No. 1. Juli 2008. Jakart a: Fakult as Hu-kum Universit as Pelit a Harapan;

Hasnat i. “ Pert aut an Kekuasaan Polit ik dan Negara Hukum” . Jur nal Hukum Respubl i -ca. Vol. 3 No. 1. Tahun 2003. Pekanbaru:

Fakult as Hukum Universit as Lancang Ku-ning;

Julia, Syamsiar. “ Pelanggaran HAM dan Peranan Polri Dalam Penegakan Hukum di Indo-nesia” . Jur nal Equal i t y. Vol. 11 No. 2.

Agust us 2006. Medan: Fakult as Hukum Universit as Sumat era Ut ara;

Lubis, Todung Mulya. “ Menegakan Hak Asasi Manusia, Menggugat Diskriminasi” . Jur nal hukum dan Pembangunan. Vol. 39 No. 1.

Januari–Maret 2009. Jakart a: Fakult as Hukum Universit as Indonesia;

Nurhasan. “ Pasang Surut Penegaka; n HAM dan Demokrasi di Indonesia” . Jur nal Il mu Hukum Li t i gasi . Vol. 6 No. 2. Juni 2005.

Bandung: Fakult as Hukum Universit as Pasundan;

Prihat ono, T. Hari. 2008. “Depar t emen Per t a-hanan-TNI-Masyar akat Si pi l : Rel asi dal am For mul asi Kebi j akan dan Tr anspar ansi Impl ement asi , ” dal am di skusi unt uk si m-posi um “ 10 Tahun Ref or masi Sekt or Kea-manan di Indonesi a” dengan t ema ”

Re-f ormasi TNI dan Depart emen Pert ahanan RI Pasca Orde Baru di Indonesia” , yang diselenggarakan at as kerj a sama Les-perssi-HRWG-IDSPS-DCAF, Hot el Sult an, Jakart a 28-29 Mei 2008;

Sudraj at , Tedi “ Problemat ika Penegakan Hu-kuman Disiplin Kepegawaian” , Jur nal Di nami ka Hukum. Vol. 8 No. 3. Sept

em-ber 2008. Purwokert o: Fakult as Hukum Universit as Jenderal Soedirman;

Sumali. “ Urgensi TNI di Bingkai Konst it usi Da-lam Perspekt if Yuridis Polit is” . Jur nal Hukum Respubl i ca. Vol. 3 No. 1. Tahun

Referensi

Dokumen terkait

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Pipit Noviani, menyatakan bahwa skripsi dengan judul: ANALISIS PENGARUH PENGADOPSIAN IFRS TERHADAP RELEVANSI NILAI DAN

Relevansi nilai arus kas yang kecil dari arus kas operasi juga menunjukkan bahwa investor lebih baik menggunakan informasi laba akuntansi daripada arus kas operasi pada

Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 9 Tahun 2011 menetapkan tarif pajak yang dikenakan untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah 5% x Nilai Perolehan Objek Pajak

Berdasarkan pertimbangan dari hakim MA, terbukti bahwa Pasal 11 dan Pasal 12 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 1 Tahun 2018 tentang Paralegal

Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 9 Tahun 2011 menetapkan tarif pajak yang dikenakan untuk Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan adalah 5% x Nilai Perolehan Objek Pajak

Volume 5 Nomor 2-Desember 2023 | 41 ANALISIS KENAIKAN NILAI JUAL OBJEK PAJAK TERHADAP BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN DI BADAN PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN BUTON SELATAN