Anatomi dan Bagian Bagian Batang Tanaman

22  16  Download (0)

Teks penuh

(1)

TUGAS TERSTRUKTUR

MATA KULIAH BUDIDAYA TANAMAN TAHUNAN

“ANATOMI DAN BAGIAN-BAGIAN BATANG TANAMAN KARET ( Hevea brasiliensis )”

Semester: Gasal 2014/ 2015

Oleh:

Nama : Tri Mumtihatul Khoiriyah NIM : A1L012167

Prodi : Agroteknologi C

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO

(2)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas terstruktur mata kuliah budidaya tanaman tahunan dengan judul “Anatomi dan Bagian-Bagian Batang Tanaman Karet ( Hevea Brasiliensis )”. Tugas terstruktur ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memenuhi nilai mata kuliah budidaya tanaman tahunan.

Penulis menyadari bahwa terselesainya tugas terstruktur ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dosen mata kuliah Budidaya Tanaman Tahunan;

2. Semua pihak yang telah membantu sehingga tugas terstruktur ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas terstruktur mata kuliah budidaya tanaman tahunan ini masih banyak kekurangan. Namun demikian, penulis berharap tugas terstruktur ini bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Purwokerto, 8 Oktober 2014

(3)

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Karet (Hevea brasiliensis Muell.-Arg) berasal dari Brazilia, Amerika Selatan, mulai dibudidayakan di Sumatera Utara pada tahun 1903 dan di Jawa pada tahun 1906. Tanaman ini berasal dari sedikit semai yang dikirimkan dari Inggris ke Bogor pada tahun 1876, sedangkan semai-semai tersebut berasal dari biji karet yang dikumpulkan oleh H. A. Wickman, kewarganegaraan Inggris, dari wilayah antara Sungai Tapajoz dan Sungai Medeira di tengah Lembah Amazon (Semangun, 2000).

Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Universitas Free, Belanda, pada tahun 2020 mendatang kebutuhan karet dunia mencapai lebih dari 13,472 juta ton karet alam. Padahal kemampuan negara-negara produsen karet alam untuk memenuhinya hanya sekitar 7.8 jut ton. Bagi Indonesia, meningkatnya kebutuhan karet alam dunia memberikan harapan yang cerah karena peluang untuk mengisi pasar internasional semakin terbuka (Semangun, 2000).

Di Indonesia karet alam merupakan komoditas strategis terutama ditinjau dari total area (3,1 juta ha), sumber devisa (lebih dari 1 milyar US$), jumlah penduduk yang mata pencariannya bergantung pada perkaretan (12 juta jiwa) dan perannya sebagai pelestari lingkungan (Setyamidjaja, 1993). Selain sebagai sumber devisa, karet juga digunakan untuk bahan baku di dalam negeri terutama untuk industri ban (Setyamidjaja, 1993).

(4)

peremajaan tanaman karetnya yang lebih mapan, juga sedang menata diri untuk merebut pasar karet yang sangat prospektif dalam dua dekade mendatang (Depertemen Pertanian, 2007).

Dengan melihat pentingnya komoditi karet dimasa mendatang, maka diperlukan pengetahuan yang memadai tentang anatomi tanaman karet secara baik guna menunjang perkembangan perkebunan Karet di Indonesia.

B. Tujuan

(5)

II. ISI

A. Deskripsi Tanaman Karet

Tanaman karet adalah tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS dan 150 LU. Bila di tanam di luar zone tersebut, sehingga memulai pertumbuhannya pun lebih lambat, sehingga memulai produksinya pun lebih lambat (setyamidjaja, 1993).

Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas. Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring kea rah utara. Batang tanaman ini mengandung getah yang dikenal lateks (Anonim, 1999).

Memang, tanaman karet tergolong mudah diusahakan. Apalagi kondisi Negara Indonesia yang beriklim tropis, sangat cocok untuk tanaman yang berasal dari Daratan Amerika Tropis, sekitar Brazil. Hampir di semua daerah di Indonesia, termasuk daerah yang tergolong kurang subur, karet dapat tumbuh baik dan menghasilkan lateks. Karena itu, banyak rakyat yang berlomba-lomba membuka tanahnya untuk dijadikan perkebunan karet.

(6)

Menurut Cahyono, dalam ilmu tumbuhan, tanaman karet diklasifikasikan sebagai berikut : (Cahyono, 2010).

Kingdom/Philum : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub divisi : Angiospermae (biji berada dalam buah)

Kelas : Dycotyledonae (biji berkepin dua)

Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiales

Genus : Hevea

Spesies : Hevea bransiliensis

B. Anatomi dan Bagian-Bagian Batang Tanaman Karet

Kulit batang karet pada batang pohon yang telah matang sadap dari luar menuju kedalam kearah kambium tersusun dengan urutan sebagai berikut : (Setyamidjaja, 1993).

 Kulit gabus, yang merupakan lapisan paling luar dari batang

 Kulit keras yang terdiri atas sel-sel batu parensim, pembuluh tapis, dan saluran lateks yang tidak teratur

 Kulit lembut dimana terdapat saluran-saluran lateks dan  Kambium.

a. Batang atas

(7)

Untuk mendapatkan bahan tanam hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang baik, Pada dasarnya mata okulasi dapat diambil dari dua sumber, yaitu dari entres cabang kebun entres dan entres dari kebun produksi. Dari dua macam sumber mata okulasi ini sebaiknya dipilih entres dari kebun entres murni, karena kelemahan diantaranya entres cabang dari kebun entres akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya tidak seragam, mudah terserang hama dan penyakit, membutuhkan jumlah air yang banyak dan keberhasilan okulasinya rendah. Mata entres dari kebun entres murni lebih baik karena akan menghasilkan tanaman yang seragam (Anwar, 2006).

Pemupukan tanaman bahan okulasi bertujuan untuk memperoleh pertumbuhan kayu okulasi yang baik, yang memiliki jumlah mata tunas yang banyak untuk tiap satuan panjang kayu bahan okulasi (entres). Pemupukan diberikan tiap tiga bulan sekali dengan dosis pemupukan yang dianjurkan adalah: Tahun pertama; 20 gram ZA (10 gram Urea)+ 10 gram TSP+10 gram ZK (10 gram KCI) per pohon. Tahun kedua; 30 gram ZA (15 gram Urea)+15 gram TSP+15 gram ZK (15 g KCI) per pohon (Semoiraya, 2010).

b. Kulit Pohon a. Seri kulit

Kulit pohon karet yang disadap dibagi menjadi 4 kulit, yaitu :

1. Seri kulit A : kulit perawan atau kulit pulihan purna (licin dan tidak berbenjol) untuk sadap bawah normal

2. Seri kulit B : kulit pulihan agak berbenjol, kurang rata dan kurang sempurna untuk sadap normal

3. Seri kulit C : kulit berbenjol agak tipis untuk disadap ATS atau Upward Tapping

4. Seri kulit D : kulit berbenjol-benjol sangat tipis disadap mati b. Tebal kulit

1. Ketebalan kulit untuk pohon dengan pertumbuhan normal adalah 7 mm dan pada pohon di tanah tandus 6 mm

(8)

3. Secara ekonomis tebal kulit pohon harus mencapai 7 mm, pemulihan kulit yang tipis tidak menguntungkan.

Gambar 2.1 Struktur Batang Tanaman Karet

(9)

5. Pepagan

Konsumsi kulit untuk bidang sadap bawah diukur secara vertikal pada bidang sadap. Tingkat konsumsi kulti ditentukan oleh sistem sadap yang digunakan. Karena kulit pohon merupakan modal utama bagi usaha budidaya tanaman karet, masalah menejemen pemakaian kulit harus medapatkan perhatian khusus. Penyadpan dengan penggunaan kulit yang baik dan teratur akan dapat mewujudkan umur ekonomis pohon karet yang optimal. d. Kedalaman Sadapan dengan struktur kulit karet

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, penyadapan dilakukan dengan kedalaman 1 – 1,5 mm dari kambium. Karena pada kedalaman tersebut terdapat pembuluh lateks paling banyak. Oleh karena itu menyadap dangkal, yaitu 1,5 mm dari kambium hanya dapat menghasilkan 48% dari produksi maksimum.

C. Lateks

(10)

(preservative). Lateks dibentuk dalam pembuluh lateks. Pembuluh ini terdiri dari 2 macam. Pertama pembuluh lateks yang berasal dari 1 sel yang kemudian bercabang-cabang membentuk suatu pembuluh seperti amuba. Pembuluh lateks seperti ini disebut pembuluh lateks simple, misalnya terdapat pada biji. Kedua pembuluh lateks yang berasal dari deretan sel-sel dimana dinding-dinding sel kearah tegak lurus masing-masing melebur membentuk suatu pembuluh. Pembuluh lateks ini disebut pembuluh kompoun dan inilah yang terdapat pada tanaman karet yaitu pada kulit lunak dan kulit keras (Lukman, 1984).

a. Pembuluh Lateks

Pembuluh lateks mengandung pembuluh dengan dinding yang permanen dan elastis. Sebelum melakukan penyadapan tekanan didalam pembuluh lateks tinggi. Pengaliran lateks disebabkan karena tekanan dalam pembuluh serta pergerakan cairan lateks akibat perbedaan konsentrasi setelah pohon disadap. Pada mikroskop elektron dapat dilihat partikel lateks yang rusak akan mengeluarkan lateks (Southorn, 1961).

Jika penampang melintang tanaman karet dipelajari, bagian tengah terdapat jaringan kayu (xylem) yang dilapisi oleh kambium. Pada bagian luar dijumpai kulit lunak yang menyusul kulit keras pada kulit luar sel gabus sebagai lapisan terakhir. Di dalam kulit lunak tersebut terdapat sederetan pembuluh tapis atau floem yang berdiri agak condong ke kanan.

Menurut Southorn (1961), lateks merupakan suatu sistem pembuluh berupa pipa saluran di dalam jaringan floem yang halus dari karet. Pembuluh ini berada dekat dengan kambium, pertama-tama membentuk sel tunggal lalu membentuk suatu jaringan pembuluh melalui anatomisis. Gills dan Suharto (1976) menyatakan bahwa semakin dekat dengan kambium maka aliran pembuluh semakin kecil dengan ukuran 30 mikron.

(11)

perkembangannya tergantung pada tingkat pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepadatan tanaman dan status hara dan juga oleh klon (Webster dan Baulkwill, 1989).

b. Struktur Lateks

Lateks merupakan suatu sistem koloid yang bermuatan negatif berupa serum yang berisi protein anionik yang membentuk suatu badan yang dikelilingi oleh membran (lutoid) yang merupakan suatu sistem koloid kedua yang mengandung asam yang kebanyakan cation serum (Southorn dan Yip, 1968).

Menurut Subronto dan Napitupulu (1978), menayatakan bahwa lateks mengalir karena adanya proses pengenceran sebelum disadap tugor tanaman adalah tinggi akan tetapi setelah disadap menjadi penurunan tugor terutama dalam sel pembuluh lateks. Semakin tinggi tugor antara sel sekitar pembuluh maka proses pengenceran semakin lama.

Dijkman (1951), melaporkan bahwa lateks yang keluar dari organ muda lebih sedikit mengandung karet bila dibandingkan dengan lateks yang keluar dari kulit batang tanaman yang berumur 5-10 tahun, tetapi proses penggumpalan lateks lebih lama terjadi pada lateks yang keluar dari organ muda, sebab partikel dari organ ini sangat sedikit dan viskositas lateksnya lebih rendah.

c. Aliran Lateks

Pembuluh lateks adalah sel-sel hidup yang mengandung larutan seperti gula, protein dan garam mineral yang dapat menyimpan air dari jaringan yang berada disekitarnya. Ketika tanaman karet disadap lateks berhenti beberapa saat. Adapun faktor yang berhubungan dengan aliran lateks, yaitu :

(12)

Sifat-sifat fisiologi aliran lateks antara lain dicirikan oleh indeks penyumbatan, kecepatan aliran lateks, indeks produksi, kadar karet kering, total solud konten serta anatomi kulit yang meliputi jumlah, diameter dan kerapatan pembuluh lateks (Rasjidin, 1989).

2. Proses Pengaliran Lateks

Apabila suatu alur sadap dibuka maka keluarlah lateks oleh tekanan dari dalam. Pengurangan terjadi secara berlanjutan sepanjang pembuluh lateks sehingga mengalirnya lateks menuju bagian yang dipotong. Pada saat yang sama akibat menurunnya tekanan dalam sel pembuluh lateks maka mengalirlah air ke dalam pembuluh dari sel sekelilingnya sehingga mengencerkan lateks (Rasjidin, 1989).

3. Daerah Aliran Lateks

Penelitian fisiologi tentang luasnya daerah pengaliran lateks yang secara efektif turut serta mengalirkan lateks selama penyadapan dilakukan oleh Frey Wysling (1993) dan Scheweizer (1941) hasil penelitiannya disimpulkan bahwa daerah aliran lateks hampir seluruhnya terdapat dibawah alur sadap hanya sebagian kecil dari samping alur sadap, luasnya tergantung kapasitas produksi pohon yang berproduksi tinggi daerah pengaliran pengaliran vertikal mencapai 171 cm (Rasjidin, 1989).

4. Indeks Penyumbatan

Indeks penyumbatan dan panjang alur sadap sewaktu penyadapan juga menentukan pola aliran lateks. Semakin panjang alur sadapan, indeks penyumbatan semakin kecil sehingga lateks yang mengalir lebih lama. Sebaliknya semakin pendek alur sadap, indeks penyumbatan semakin besar. Sebab utama terjadinya penyumbatan pembuluh lateks adalah pecahnya butir lutoid yang terdapat dalam lateks akibat gesekan yang terjadi ketika lateks mengalir. Terjadinya penyempitan pada pembuluh lateks kemungkinan dapat mengganggu aliran lateks sehingga menyebabkan pola aliran lateks untuk setiap klon berbeda (Boerhendy, 1988).

(13)

akibat terjadinya variasi produksi antara pohon dan variasi harian (Subronto dan Napitupulu, 1978).

5. Kecepatan Aliran Lateks

Pengamatan kecepatan aliran lateks dimaksudkan untuk mengetahui pola aliran lateks. Pada awalnya aliran lateks mengalir cepat, kemudian lambat dan akhirnya berhenti. Lambat cepatnya aliran lateks sewaktu disadap berpengaruh terhadap tinggi rendahnya produksi. Semakin cepat dan lama lateks mengalir, maka hasil lateksnya semakin tinggi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, ternyata pola aliran lateks itu berbeda-beda setiap klon. Perberbeda-bedaan aliran lateks ini memungkinkan disebabkan oleh banyaknya pembuluh lateks yang terpotong. Selain itu, komposisi pembuluh lateks juga berbeda. Berdasarkan hasil itu maka pola aliran lateks berbeda untuk setiap klon sehingga hasil juga berbeda (Boerhendy, 1988).

Subronto dan Harris (1977), menyatakan bahwa kecepatan aliran akan menggambarkan aliran lateks per satuan waktu per panjang alur sadap yang dilalui. Kecepatan aliran lateks berkorelasi positif dengan produksi.

d. Pengumpulan Lateks di Kebun

Untuk mendapatkan hasil olah karet yang bermutu baik, syarat yang harus dipenuhi adalah tingkat kebersihan lateks dan penanganan pengumpulan lateks hasil penyadapan di kebun (Cahyono, 2010)

Selain dari kemungkinan terjadinya pengotoran lateks oleh kotoran-kotoran yang kelak sukar dihilangkan, kotoran-kotoran-kotoran-kotoran tersebut dapat pula menyebabkan terjadinya prakoagulasi dan terbentuknya lump sebelum lateks sampai di pabrik untuk diolah. Pengumpulan lateks dilaksanakan 3-4 jam setelah penyadapan dilakukan. Tetapi pada pohon-pohon yang aliran lateksnya lambat berhenti (late drops) dapat dilakukan pengumpulan kedua.

(14)

kebun dalam satu atau beberapa bak pencampur di pabrik, sehingga dapat diharapkan hasil yang seragam. Jika keadaan tempat memaksa untuk dilakukan koagulasi dikebun, jumlah lateks yang dikoagulasi sedapat mungkin harus dibatasi. Cara terakhir ini dilaksanakan kalau lateks akan diolah menjadi crepe atau karet remah, sedangkan kalau akan diolah menjadi sheet, proses koagulasi harus dilaksanakan di pabrik (Setyamidjaja, 1993).

Mikroba mempunyai sifat dapat menyesuaikan diri pada lingkungan hidupnya, sehingga pada lateks kebun walaupun telah diberi bahan pengawet amonia bila tertunda terlalu lama di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) kebun, mutunya dapat menurun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa dengan dosis ammonia 0,30% di TPH kebun setelah penyimpanan 5 jam jumlah mikroba masih sekitar 2 x 103 sel/ml lateks dan setelah 15 jam terjadi peningkatan jumlah mikroba menjadi 2 x 107 sel/ml lateks dan kemudian setelah penyimpanan 25 jam lateks kebun tersebut telah mengalami prakoagulasi. Oleh karena itu diharapkan lateks kebun telah terkumpul di tangki penerima pabrik paling lambat 10 jam setelah penyadapan (Ompusunggu, 1991).

Sarana transportasi, baik jalan atau kendaraan, yang buruk akan menambah frekuensi terjadinya prakoagulasi. Jalan yang buruk atau angkutan yang berguncang-guncang mengakibatkan lateks yang diangkut terkocok-kocok secara kuat sehingga merusak kestabilan koloidal. Jarak yang jauh yang menyebabkan lateks baru tiba di tempat pengolahan pada siang hari dan sempat terkena terik matahari di perjalanan juga dapat menyebabkan terjadinya prakoagulasi (Anonim, 1999).

D. Penyadapan

(15)

produksi karet. Penyadapan dilaksanakan dikebun produksi dengan menyayat atau mengiris kulit batang dengan cara tertentu, dengan maksud untuk memperoleh lateks atau getah. Kulit batang yang disadap adalah modal utama untuk berproduksinya tanaman karet. Kesalahan dalam penyadapan akan membawa akibat yang merugikan baik bagi pohon itu sendiri maupun bagi produksinya.

Pada tanaman muda, penyadapan umumnya telah dimulai pada umur 5-6 tahun, tergantung pada kesuburan pertumbuhannya. Penyadapan pada tanaman muda, sebelum sadapan rutin berjalan, terlebih dahulu melakukan bukaan sadapan yang merupakan saat pertama dimulainya penyadapan pada tanaman yang telah memenuhi syarat untuk disadap.

Gambar 2. 2 Penyadapan tanaman karet

Tanaman karet merupakan tanaman yang menghasilkan getah. Tanaman ini dipanen dengan cara disadap, yaitu menyayat atau mengiris kulit batang dengan cara tertentu, dengan maksud untuk memperoleh lateks atau getah.kulit batang yang disadap adalah modal utama berproduksinya tanaman karet. Kesalahan dalam penyadapan akan membawa akibat yang sangat merugikan baik bagi pohon itu sendiri maupun bagi produksinya.

(16)

Syarat-syarat penyadapan yang baik :

1. Dapat memberikan hasil karet kering yang tinggi baik per pohon maupun per hektar

2. Hemat dalam penggunaan kulit

3. Mudah dilaksanakan dan efisien tenaga serta biaya

4. Mempertimbangkan kesehatan tanaman dan stabilitas produktivitas dalam jangka panjang

Komposisi umur tanaman menghasilkan karet yang standart (25 tahun sadengan sifat produksinya sebagai berikut :

Table 2.1 Komposisi Umur TM Dengan Sifat Produksinya Umur Tanaman

(tahun)

Kelas Standart Luas (%) Sifat Produksi

6 – 12 tahun Taruna 23 Belum potensi

13 – 18 tahun Muda 20 Potensial

19 – 23 tahun Dewasa 17 Sangat potensial

24 – 27 tahun Tua 13 Kurang potensial

>27 tahun Tua renta 10 Tidak potensial

Sumber : Pedoman Budidaya Pengelolaan Karet (1997)

Macam Sadapan

Berdasarkan cara dan arah penyadapan, maka sadapan karet dibedakan menjadi 5 macam, yaitu :

a. Sadap tusuk (Puncture Tapping)

b. Sadap ke arah bawah (Down Ward Tapping)

c. Sadap ke arah atas (Up Ward Tapping), sadap ke arah atas biasa dan sadap ke arah atas ATS (Alternate Tapping Sistem)

d. Sadap kombinasi arah atas dan bawah bersamaan e. Sadap mati/cacah runcah (CCRC)

Pola Dasar Sadapan Kriteria Matang Sadap

Tanaman karet dapat disadap apabila telah memenuhi kriteria matang sadap, yaitu :

(17)

b. Lilit batang pada ketinggian 100 cm dari pertautan okulasi minimal 45 cm c. Jumlah tanaman karet dalam 1 blok/areal tanaman yang sama dengan lilit

batang minimal 45 cm telah mancapai minimal 60% dari populasi

d. Ketebalan kulit pada ketinggian 100 cm untuk daerah subur telah mencapai 7 mm, sedang daerah kurang subur telah mencapai 6 mm.

Persiapan TM 1

a. Pengukuran lilit batang

Pengukuran lilit batang dilakukan pada ketinggian 100 cm dari pertautan okulasi pada setiap pohon, dengan tujuan untuk menginventarisasi jumlah pohon yang lilit batangnya telah memenuhi criteria matang sadap. Pengukuran lilit batang terakhir dilakukan pada bulan Agustus.

Pada pohon yang lilit batangnya mencapai 45 cm atau lebih diberi tanda 2 totolan dan 35 – 45 diberi tanda 1 totolan. Pemberian tanda totolan pada ketinggian 150 cm dari pertautan okulasi dengan menghadap ke arah jalan.

Gambar 2.3 Lilit batang tanaman karet b. Waktu buka sadap baru

(18)

c. Pembagian hanca

Pembagian hanca pada tanaman TM 1 dilaksanakan pada akhir masa TBM dengan cara sebagai berikut :

1) Lilit batang 35 cm keatas dihitung sampai dengan jumlah 500 pohon 2) Setiap hanca disisipkan 500 pohon walaupun pada kenyataannya

yang disadap kurang dari 500 pohon. Akan tetapi pada akhir TM 1 yang disadap akan mencapai 500 pohon dengna pertimbangan agar tidak selalu merubah hanca.

3) Setiap batas hanca diberi tanda gelang 5 cm, ketinggian dari tanah 2m 4) Setiap setengah hanca diberi warna merah dan setengah hanca sadap dua hari istirahat (disadap 3 hari sekali).

Intensitas Sadap

a. Menunjukkan tingkat kekuatan/beban sadapan dan dinyatakan dalam % b. Sebagai tolok ukur intensitas sadap sesuai kesepakatan bersama untuk

1SD1 = 400%

(19)

Waktu Penyadapan

Semakin pagi pelaksanaan penyadapan, produksi yang dihasilkan makin tinggi karena tekanan turgor tanaman masih tinggi. Perlu dipertimbangkan tentang :

a. Keahlian penyadap, menyadap pada keadan gelap lebih mudah terkena kayu

b. Kesehatan penyadap

c. Penyadap yang mengadap terlalu pagi serta dalam suasana yang lembab, kemungkinan terserang penyakit lebih besar.

Waktu penyadapan dimulai dan dapat diselesaikan sepagi mungkin (disesusikan dengan kondisi iklim/musim). Keluarnya lateks ipengaruhi oleh tekanan sel pembuluh lateks dan sel-sel parenkim disekitar pembuluh lateks. Tekanan turgor ini dipengaruhi oleh suhu udara.  Pelaksanaan Buka Sadap Baru

a. Irisan sadap pertama dimulai dari batas 1 cm diatas garis sadap paling atas dengan kedalaman sadap 4,5 mm dari cambium

b. Sadapan diteruskan scara bertahap sampai mencapai garis sadap teratas (dilakukan sebanyak ±5 kali) dengan kedalaman 1,5 mm dari kambium dan sudah menghasilkan lateks

(20)

III. KESIMPULAN

1. Kulit batang karet pada batang pohon yang telah matang sadap dari luar menuju kedalam kearah kambium tersusun dengan urutan sebagai berikut :

 Kulit gabus, yang merupakan lapisan paling luar dari batang

 Kulit keras yang terdiri atas sel-sel batu parensim, pembuluh tapis, dan saluran lateks yang tidak teratur

 Kulit lembut dimana terdapat saluran-saluran lateks dan  Kambium.

2. Rumus sadapan

 Symbol sadapan

S (Spiral) = keratin sadapan sepanjang 1 spiral dengan susut 400 D (Day) = hari, menunjukkan hari sadap

 Pedoman

½ S = angka pertama di depan S menunjukkan jumlah atau panjang keratan

D3 = angka di belakang D menunjukkan hari sadap (rotasi sadap) ↓ = tanda panah menunjukka arah sadapan

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1999. Panduan Lengkap Karet. Penebar Swadaya, Jakarta.

Anwar. 2006. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.

Boerhendy, 1988. Efek Okulasi Tajuk terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Karet. Universitas Jambi Press. Jambi

Cahyono, 2010. Karet. Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam- Universitas Sumatera Utara.

Depertemen Pertanian, 2007. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Karet. Edisi ke 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

Dijkman M. J. 1951. Hevea. Thirty Years of Research in the Far East. University of Miami Pr. Florida. 329 p.

Direktorat Perlindungan Perkebunan. 2003. Pedoman Pengamatan dan Pengendalian OPT Karet. Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan. Departemen Pertanian. Jakarta..

Lukman, 1984. Penyadapan dan Stimulasi Tanaman Karet. Medan : BPP.

Marsono dan Sigit, 2005. Karet. Penebar Swadaya. Jakarta

Rasjidin, 1989. Bercocok Tanam Karet. Penebar Swadaya. Jakarta

Semangun, 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Semoiraya, 2010. Budidaya Karet. http:// semoiraya

(22)

Setyamidjaja, 1993.. Karet budidaya dan Pengolahan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Southorn, 1961. Micropy of Havea Lateks. Illinois University Press

Southorn dan Yip, 1968. Some physiologial properties of latex from anther somatic plants derived from two hevea clones. In: Physiology & Exploitation of Hevea brasiliensis. Proceeding of IRRDB Symposium. Kunming China, 6-7 October 1990. The International Rubber Research & Develop-ment Board. p. 14-19.

Subronto dan Napitupulu. 1978. Pengujian Klon Karet. Bentang Pustaka. Medan

Figur

Gambar 2. 2 Penyadapan tanaman karet

Gambar 2.

2 Penyadapan tanaman karet p.15
Table 2.1 Komposisi Umur TM Dengan Sifat Produksinya

Table 2.1

Komposisi Umur TM Dengan Sifat Produksinya p.16

Referensi

Memperbarui...