• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARIWISATA PEDESAAN DAN PEMBANGUNAN PERT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PARIWISATA PEDESAAN DAN PEMBANGUNAN PERT"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN 

Menurut Dirjen Pembangunan Desa, wilayah pedesaan meliputi ciri-ciri (1) perbandingan tanah dan

manusia (man land ratio) yang besar, (2) lapangan kerja agraris, (3) hub-ungan penduduk yang akrab (3) sifat yang menurut tradisi (tradisional). Sedangkan menurut Wibberley

wila-B i n a W i s a t a N u s a n t a r a

PARIWISATA PEDESAAN DAN

PEM-BANGUNAN

PERTANIAN BERKELANJUTAN

KUSMAYADI

Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti

Sebagai negara kepulauan, Indonesia dihuni oleh sebagian besar penduduk yang tinggal di pedesaan, dengan pola hidup yang bergantung pada hasil-hasil pertanian. Keadaan wilayan pedesaan sendiri mempunyai kekayaan sumber daya alam baik hayati dan non hayati maupun khasanah ke-budayaan yang sangat berragam.

Pendekatan pembangunan pedesaan selama ini dapat diistilahkan sebagai membangun di desa dan bukan membangun desa, sehingga pembangunan ter-sebut lebih bersifat eksploitasi sumber daya pedesaan untuk kepentingan orang kota. Di samping itu, pembangunan yang dilakukan tidak menc-erminkan keterpaduan antar sector dan sub sector, sehingga hanya terfokus pada sub sector produksi pertanian saja.

(2)

yah pedesaan menunjukkan bagian negeri yang memperlihatkan penggunaan tanah yang luas sebagi ciri penentu, baik masa sekarang maupun beberapa masa yang lampau.

Lebih dari setengah wilayah dara-tan Indonesia termasuk pedesaan. Dari luas wilayah tersebut, dihuni oleh lebih dari 70 persen penduduk Indonesia. Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 1995, mem-perkirakan bahwa pada tahun 2000 penduduk Indonesia berjumlah 204 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 65 persen berdomisili di pedesaan dengan mata pencaharian berasal dari sektor pertanian.

Selama PJP-I, pembangunan In-donesia dititik beratkan pada pertum-buhan ekonomi yang bertumpu pada sektor industri yang ditopang oleh sektor pertanian. Ternyata paradigma pembangunan tersebut berdampak pada pondasi ekonomi yang rapuh, karena penggerak ekonomi oleh sektor industri tidak didukung oleh kemampuan sumber daya dan pen-guasaan teknologi yang memadai.

Untuk pembangunan jangka pan-jang tahap kedua, paradigma tersebut perlu diubah dengan pendekatan per-tumbuhan ekonomi untuk pemer-ataan yang ditopang oleh sektor pari-wisata berbasis pedesaan dan per-tanian. Pembangunan pariwisata alam berbasis pedesaan diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan pedesaan

an-tara lain dengan (1) re-distribusi pen-dapatan dari kota ke desa, (2) re-urbanisasi tenaga kerja produktif dan (3) meningkatkan investasi di desa.

Dengan demikian, bagi Indone-sia, seharusnya pedesaan merupakan pusat pembangunan karena, pertama bahwa kurang lebih 65 persen dari penduduk berada di pedesaan sehing-ga apabila pembangunan nasional bertujuan meningkatkan kesejahaan rakyat, maka pembangunan ter-sebut harus melibatkan masyarakat pedesaan. Kedua, potensi sumber daya alam sebagian besar terdapat di pedesaan yang berupa lahan per-tanian, sumber air, hutan, udara ber-sih dan tenaga kerja.

REALITAS SOSIAL MASYARAKAT  PEDESAAN 

Selain potensi di atas, banyak sekali permasalahan yang dihadapi masyarakat di pedesaan, mereka yang selamanya menjadi objek kebijakan pembangunan, sangat minimum ter-hadap segala aspek kehidupan. Saefudin (1992) menilai penyebab kelemahan masyarakat di pedesaan tersebut bersumber dari dalam mereka sendiri (faktor internal) dan berasal dari fihak luar (faktor external). Faktor internal yang menyebabkan kelemahan tersebut adalah:

(3)

apa adanya, tak kuasa untuk membela dan bergerak.

2. Faktor perpaduan antara internal dan external menyebabkan tak dimilikinya akses terhadap sum-ber informasi, keterampilan, teknologi, permodalan, pasar dan sumber fasilitas lainnya.

3. Faktor external umumnya disebabkan karena faktor struktural; adanya perilaku ketid-ak adilan dalam hal (Azis, 1992):

a. Proses pengambilan kepu-tusan dalam menentukan ke-bijakan pembangunan antara sektor pertanian (pedesaan) dan sektor industri atau sektor non pertanian lainnya.

b. Tidak adilnya penumpukan modal, khususnya uang, kare-na sebagian dakare-na tertarik ke kota karena: lembaga-lembaga perbankan dikuasai oleh konglomerat yang berorientasi kota, pengembangan industri dan jasa lebih cepat menda-tangkan keuntungan,

c. Masih terdapat kelemahan kebijakan dalam pengem-bangan organisasi ekonomi masyarakat;

d. Kurang terpadunya kebijakan dalam birokarasi pemerintah antara sektor pertanian, perdagangan dan industri;

Menurut Koentjoroningrat adan-ya anggapan bahwa orang desa (baca:

petani) mereka bekerja keras hanya terbatas untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga dan orientasi para petani terbatas pa-da masa kini, orang hidup harus selaras dengan alam. Dalam hub-ungan dengan sesamanya petani cenderung sama sehingga daya kom-petitif diantara sesamanya cenderung rendah. Sebaliknya orang kota beranggapan bahwa manusia bekerja untuk mendapat kedudukan, kekuasaan dan simbol-simbol lahiriah dari kemakmuran. Orientasi lebih ditentukan oleh masa lampau, terlalu banyak menggantungkan nasib pada orang lain dan cenderung menunggu perintah dari atasan.

Etos kerja yang ada sangat ren-dah, mereka terperangkap di dalam lingkaran keterbelakangan. Perangkap keterbelakangan seperti dilukiskan Ramona (1976) sebagai berikut:

1. Tingkat pendapatan rendah be-rakibat rendahnya gizi dan daya tahan terhadap penyakit sehingga produktivitas rendah dan pengaruh pada sikap atau etos kerja: malas, kurang bergairah un-tuk mengubah nasib, dan motivasi kurang.

(4)

3. Pendapatan rendah berakibat ren-dahnya kemampuan membayar pajak (zakat, infak sodakoh) se-hingga pendapatan masyarakat atau negara rendah dan kurang mampu membuka atau memper-luas lapangan kerja, yang berarti rendahnya produktivitas dan be-rakhir pada kemiskinan.

4. Rendahnya tingkat pendapatan berakibat tabungan dan investasi rendah sehingga kesempatan kerja akan sempit dan tingkat produk-tivitas pun rendah: dana juga ku-rang, sehingga kemajuan inovasi, invensi dan adaptasi teknologi, penelitian dan pengembangan pun rendah; akhirnya tingkat produk-tivitas untuk mampu mengisi pasar yang bersaing dalam mutu dan harga juga rendah.

5. Pendapatan yang rendah beraki-bat rendahnya daya beli masyara-kat, sehingga pasar menjadi sepi dan sempit.

6. Keterbelakangan dalam pengem-bangan teknologi berpengaruh terhadap produktivitas dan krea-tivitas untuk berkembang maju sehingga kurang mendorong se-mangat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Walaupun tidak sepenuhnya benar, keenam kenyataan tersebut masih diderita oleh kebanyakan masyarakat pedesaan sampai saat ini. Untuk membangun pedesaan agar lebih maju, perlu diadakan perubahan

paradigma pembangunan yang meni-tikberatkan pada input pengetahuan dan penguasaan teknologi bagi masyarakat pedesaan. Dimana tujuan utamanya adalah (Wordl Bank, 1997:4) perbaikan ekonomi, pembangunan sosial dan pelestarian serta perbaikan lingkungan hidup.

PARIWISATA PEDESAAN 

Ditinjau dari sudut kepa-riwisataan, desa merupakan asset yang tak ternilai harganya. Sumber daya desa di Indonesia memiliki un-sur keindahan (natural-beauty), keaslian (originality), kelangkaan ( scar-city) dan keutuhan (wholesomeness). Di samping itu, desa juga memiliki keanekaragaman flora dan fauna, agroekosistem dan gejala alam, adat-istiadat yang dapat dijadikan sebagai objek daya tarik wisata bila dikemas secara profesional.

Keadaan yang seperti digam-barkan di atas, merupakan keunggu-lan dan keandakeunggu-lan pariwisata Indone-sia. Keunikan dan kekhasan seni-budaya dan keadaan ekosistem desa setempat merupakan arah selera dunia masa kini. Oleh karena itu ha-rus dilestarikan, dikembangkan, di-promosikan dengan penuh percaya diri guna memperkokoh jati diri desa.

(5)

pembangunan pariwisata yang masih berpegang pada paradigma lama kepariwisataan yaitu pariwisata untuk kemewahan, hura-hura, massal dan kesenangan belaka, (2) masih ku-rangnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap pembangunan pariwisata berkelanjutan dan (3) masih rendahnya peranan lembaga pendidikan dan penelitian yang mengembangkan desa dengan orien-tasi pariwisata.

Pendekatan pembangunan pedesaan yang hanya terbatas pada produksi pertanian ternyata sampai saat ini belum mencapai keadaan yang diharapkan. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya impor produk-produk pertanian. Upaya lain yang perlu dicoba adalah dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan berbasiskan pariwisata (ruraltourism).

Banyak negara lain yang mengembangkan pariwisata pedesaan antara lain negara Hungaria. Menc-ermin dari negara tersebut, rural tour-ism merupakan salah satu bagian dari industri pariwisata. Padahal Hunga-ria suatu negara yang tidak memiliki atraksi alami yang spektakuler, tanpa pemandangan yang indah, gunung-gunung yang menjulang, hutan bel-antara ataupun binatang-binatang langka. Namun, ragam budaya yang atraktif dengan desa-desa kecil, sungai-sungai dan danau, dipadukan dengan keramahan masyarakat tradi-sional mampu memberikan tawaran

yang menyenangkan bagi wisatawan yang mencari kenyamanan dan hi-buran dari suasana yang tenang. Pa-riwisata pedesaan sangat penting ka-rena dapat memberikan suplai dan kreasi yang lebih kompleks, dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi untuk meningkatkan viabilitas desa yang berkembang dan untuk mening-katkan standar kehidupan penduduk setempat.

Indonesia dengan lebih kurang 400 etnis sangat potensial untuk mengembangkan pariwisata semacam demikian ditambah pula dengan keanekaragaman sumberdaya hayati dari kekayaan bawah laut, dalam tanah (gua), sampai ke puncak pegunungan. Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana cara melakukannya? Bagaimana keber-lanjutan tersebut dimonitor dan di-promosikan di daerah tujuan wisata?

SUSTAINABLE TOURISM DEVELOP‐ MENT 

Konsep mengenai sustainable de-velopment telah diperkenalkan oleh World Commision on Environtment and Development di Brundtland Re-port pada tahun 1987, yang mendefin-isikannya sebagai "development that meets the needs of the present without compromising the ability of future genera-tions to meet their own needs".

(6)

dengan definisi dari Federation of Na-ture and National Parks, pariwisata yang berkelanjutan adalah "seluruh bentuk dari pengembangan, pengelolaan dan kegiatan pariwisata yang berpedoman lingkungan, integritas sosial dan ekonomi, alam yang tertata dengan baik serta mengembangkan sumberdaya budaya secara terus menerus." (FNNP, 1993).

Sedangkan Tourism Concern and te World Wide Fund for Nature mendefinisikan sebagai "operates with-in natural capacities for the regeneration and future productivity of natural re-sources; recognises the contribution that people and communities, custom and life-styles, make to the tourism experience; accepts that these people must have a equi-table share in the economic benefits of tour-ism; and is guided by the wishes of local people and communities in the host areas".

Meskipun definisi yang telah ada membedakan fokus mereka atau ting-kat elaborateness-nya, pesan utama dari laporan ini lebih dan lebih diterima oleh seluruh industri pari-wisata di dunia ini. Bagaimanapun, arti sustainability sangat kompleks dan memiliki banyak ramifications (Mowforth & Munt, 1998).

Ecologycal sustainability, yang be-rarti pembangunan pariwisata tidak disebabkan oleh perubahan yang irre-versible dalam suatu ekosistem yang telah ada, dan menjadi dimensi yang secara umum diterima sejak adanya kebutuhan untuk melindungi sum-berdaya alam dari dampak negatif

kegiatan pariwisata. Pertumbuhan umum dari kesadaran lingkungan te-lah secara signifikan dikontribusikan ke dalam trend ini.

Social sustainability sesuai dengan kemampuan suatu kelompok untuk menyerap wisatawan tanpa men-imbulkan ketidakharmonisan hub-ungan sosial.

Cultural sustainabulity dalam konteks ini mengasumsikan bahwa kelompok mampu menyerap perilaku budaya yang disebut "tourist culture" dan "residual culture" yang dimiliki oleh pengunjung, (Jafari 1987).

Aspek sustainability yang berbeda sebaiknya tidak mempengaruhi, tetapi harus dilihat sebagai hal yang sama-sama penting. Tingkat keuntungan yang tinggi jangan dianggap sebagai alat untuk menutupi kesalahan yang telah dibuat untuk memperbaiki sum-berdaya sosial dan budaya, tetapi kelemahan ini jangan menjadikan lingkungan yang kurang baik dimana pertimbangan ekonomi jarang dil-akukan dengan baik. Sustainable tour-ism harus mampu dilihat secara ekonomis dan alami serta memiliki sensitivitas budaya pada saat yang bersamaan.

(7)

seorang pengambil keputusan harus memperhatikan faktor-faktor yang terjadi dalam proses. Dalam men-gukur tujuan bahwa tujuan pribadi adalah mewujudkan pengembangan pariwisata yang sustainable, indikator-indikator sustainability biasanya diterima sebagai salah satu alat yang berguna.

INDIKATOR PENGEMBANGAN PA‐ RIWISATA BERKELANJUTAN 

Indikator merupakan alat untuk mengukur informasi sehingga seorang pengambil keputusan dapat mengu-rangi peluang terjadinya pengambilan keputusan yang salah (WTO, 1996). Dengan kata lain indikator merupa-kan kumpulan faktor-faktor yang penting untuk membuat keputusan. "Indikator-indikator merupakan alat untuk mengelola saat ini dan sebagai alat investasi di masa yang akan da-tang, sejak mereka mengurangi resiko terjadinya kerusakan untuk basis sumberdaya yang dimana industri pariwisata berada".

Indikator pengembangan pari-wisata berkelanjutan seperti pada tabel 1.

KONSEP PARIWISATA PEDESAAN  

Pariwisata Pedesaan (Rural Tour-ism) merupakan fenomena yang baru sekaligus lama pada saat yang bersa-maan. Minat terhadap rekreasi di luar kota berawal sejak abad ke 19 sebagai reaksi terhadap tekanan

mening-katnya urbanisasi dan industrialisasi. Suasana desa sangat dikagumi oleh pembuat puisi dan para artis. Jaringan transportasi yang baru dibuka untuk menarik lebih banyak wisatawan da-tang ke luar kota. Namun, rural tour-ism dalam era ini berbeda: jumlah wisatawan yang terlibat meningkat secara signifikan dan pariwisata telah berkembang di seluruh aspek.

(8)

Pariwisata  Pedesaan  di  Negara‐ negara Barat 

Rural tourism memiliki pengertian yang berbeda di setiap negara. Di Finlandia misalnya biasa diartikan Tabel 1. Indikator Sustainable tourism development

Indikator Alat ukur

1. Tekanan Jumlah pengunjung (per tahun/per musim)

2. Tekanan Sosial Rasio jumlah pengunjung dengan jumlah penduduk (per

ta-hun/musim)

3. Daya tarik Daftar sumberdaya alam dan budaya

Tingkat daya tarik terhadap sumberdaya

4. Proses Perencanaan Keberadaan rencana lokal/regional untuk pembangunan

5. Proses Perencanaan

Pariwisata

Keberadaan rencana lokal/regional untuk pengembangan pa-riwisata

6. Lahan perlindungan Kategori perlindungan

Persentase lahan yang dilindungi dibandingkan dengan se-luruh lahan yang ada

7. Keterlibatan

masyarakat lokal

Rasio jumlah masyarakat yang memiliki bisnis pariwisata dengan jumlah seluruh bisnis pariwisata

8. Kontrol masyarakat

local

Keberadaan ukuran umum untuk memastikan kontrol masyarakat setempat dalam rencana pengembangan dan im-plementasinya.

9. Tenaga kerja Jumlah pekerjaan yang diciptakan oleh sektor pariwisata

Rasio jumlah pekerja setempat dengan jumlah tamu 10.Kontribusi

pari-wisata

Proporsi jumlah pajak total yang digenerasikan hanya oleh sektor pariwisata

11.Keragaman

ekonomi

Pembagian kegiatan ekonomi yang berbeda dalam pendapatan pajak total

12.Konsumsi energi Rasio sumberdaya energi

13.Pengelolaan yang

sia-sia

Persentase alatalat rumahtangga yang digunalan Persentase buangan yang memerlukan tindakan lanjut 14.Pendidikan &

kur-sus

persentase masyarakat lokal yang terlibat dalam sektor pari-wisata dengan pendidikan dan kursus yang profesional distribusi tenaga kerja

persentase tenaga kerja yang bergerak di sektor pariwisata

15.Kepuasan

masyara-kat

Seluruh persepsi yang muncul sebagai dampak dari kegiatan pariwisata di dalam kehidupan masyarakat setempat.

16.Kepuasan

wisatawan

Seluruh kepuasan yang dirasakan wisatawan menganai kuali-tas yang diberikan

(9)

sebagai cottages yang disewakan kepada pengunjung atau pelayanan makanan yang tersedia di luar kota. Di Hongaria, disebut dengan "village tourism", yang mengindikasikan bahwa hanya kegiatan dan pelayanan yang disediakan di village yang ter-masuk dalam pariwisata jenis ini. Di Slovenia, komponen yang paling penting dalam rural tourism adalah keluarga petani, dimana tamu tinggal bersama dengan mereka atau di penginapan, tetapi datang ke per-tanian untuk memenuhi kebutuhan makannya (Verbole, 1995). Di Neth-erland, pariwisata ini berarti melakukan kemping di lahan per-tanian, jalan-jalan atau naik kuda mengelilingi seluruh lahan pertanian (Peters et al, 1994). Di Greece, yang menjadi bagian paling penting adalah sarana akomodasi yang tradisional dengan masakan tradisional. Kegiatan lain yang menunjang ada-lah-walaupun masih dalam skala yang kecil-termasuk restoran dan fasilitas hiburan atau kegiatan rekreasi (Turner, 1993).

Rural tourism merupakan salah sa-tu prioritas utama dari pengembangan pariwisata di negara-negara Eropa. Keinginan pasar terhadap liburan di pedesaan ini tumbuh seiring dengan perjalanan menuju masa depan yang tidak pasti, terutama karena peru-bahan di bidang pertanian, atau menurunnya standar hidup masyara-kat. Rural tourism merupakan alat yang tepat untuk merevitalisasi

penyempitan lahan pertanian serta untuk memastikan keberlanjutan di masa depan dengan kemampuan menciptakan lapangan pekerjaan, kemampuan menampung tenaga ker-ja, meningkatnya keragaman peker-jaan, kemampuan melayani, lahan konservasi serta produsen cinderama-ta sebagai daya cinderama-tarik bagi wisacinderama-tawan. Rural tourism biasanya memberikan insentif untuk pengembangan sarana infrastruktur yang dikontribusikan untuk pengembangan kegiatan perekonomian lainnya. Keuntungan yang spesifik dari pengembangan pa-riwisata ini dapat meningkatkan pelu-ang hubungan interaksi bagi masyarakat setempat yang hidupnya terisolasi di dalam komunitas per-tanian (swarbrooke, 1996).

Pariwisata Pedesaan di Indonesia 

Kegagalan pembangunan pari-wisata Indonesia saat ini antara lain belum adanya perencanaan yang pengembangan pariwisata yang terpadu, dan menyeluruh untuk skala nasional. Msih belum adanya kese-pahaman antar pengambil keputusan menyebabkan berbenturannya berbagai kepentingan. Sehingga pembangunan pedesaan lebih mengarah pada eksploitasi sumber daya pedesaan untuk kepentingan sepihak.

(10)

a. berkurangnya bahkan hilangnya keaslian pedesaan,

b. berubahnya budaya masyarakat lokal mengikuti kebiasaan dan atau budaya pendatang/wisa-tawan;

Wisata desa yang dikembangkan akhir-akhir ini belum ditanggapi secara luas oleh masyarakat dan in-dustri secara luas, karena salah satu kendalanya adalah kemauan masyarakat tuan rumah untuk men-jadi kreatif dan inovatif (Lankford, 1993).

PARIWISATA PEDESAAN DAN PER‐ TANIAN  BERKELANJUTAN  

Rural tourism seringkali dipan-dang sebagai intrinsically sustainable, untuk menarik sejumlah pengunjung, yang tidak memerlukan pengem-bangan sarana infratruktur, wisatawan biasanya tertarik pada bu-daya serta tradisi masyarakat setem-pat. Salah satu daya tarik dari berlibur di desa adalah interaksi antara sesama sehingga baik pribumi dan tamu dapat membagi ide serta pengetahuan yang dimiliki yang tentunya dapat meningkatkan "industry if peace" se-bagai salah satu hubungan saling menguntungkan.

Namun bila pengembangan rural tourism dianalisis lebih dalam lagi akan muncul keraguan sehubungan intrinsic sustainabily tadi. Isu yang paling signifikan yang harus dicari adalah keuntungan dari pelayanan

yang diberikan karena pariwisata ber-sifat musiman, tingkat okupansi yang rendah dan investasi yang diperlukan untuk menciptakan atau mengem-bangkan fasilitas yang akan digunakan oleh para wisatawan.

Melihat pada sustainability ling-kungan, pengalaman mengajarkan bahwa mempertimbangkan investasi diperlukan untuk pengelolaan ling-kungan dan dapat menjadikan rural tourism cocok dalam segala suasana. Para wisatawan biasanya sangat ter-tarik dengan industri yang sensitif un-tuk kepentingan manusia. Sebagai tambahan, pengelolaan lahan per-tanian tidak selalu dapat memenuhi keinginan wisatawan berdasarkan imej "traditional rural" yang dimun-culkan dalam literatur atau lembaran promosi.

(11)

atau merusak lahan pedesaan, menurunkan nilai budaya, merubah stratifikasi sosial (juga dapat diinter-pretasikan sebagai perubahan positif), memberikan tekanan tambahan pada masyarakat setempat, mengubah gaya hidup, menekan privacy mereka dan menyerap perilaku wisatawan yang datang.

Di dalam mengembangkan pari-wisata pedesaan dan pertanian secara berkelanjutan, hendaknya memenuhi tiga prinsip dasar pembangunan yaitu (1) holistic approach, (2) futurity dan (3) equity.

Pendekatan pembangunan pedesaan secara holistic mengandung perspektif di mana pembangunan berkelanjutan hanya akan dapat di-capai manakala pembangunannya memperhatikan aspek politik global, sosio-ekonomi, dan aspek lingkungan. Lane (1994) menggambarkan bahwa pembangunan berkelanjutan sebagai wujud keseimbangan antara tiga komponen yaitu penduduk local dan ekosistemnya, tamu atau wisatawan, dan industri pariwisata.

Pedekatan futurity mensiratkan bahwa dalam pembangunan pari-wisata pedesaan berkelanjutan hen-daknya mempertimbangkan kelang-sungan hidup generasi yang akan da-tang.

Kebijakan pembangunan pari-wisata pedesaan yang berkelanjutan juga harus mengandung prinsip per-samaan di mana keberadaan tamu,

masyarakat local dan semua yang ter-libat di alam kepariwisataaan mempunyai kedudukan dan peluang yang sama.

GERAK BANGSA: PEMBANGUNAN  PERTANIAN BERNUANSA PARI‐ WISATA 

Konsep strategi pengembangan pariwisata dan pertanian pedesaan berkelanjutan semuanya bermuara pada hasil akhir yaitu pemberdayaan masyarakat pedesaan. Berbagai pen-dekatan telah diterapkan untuk men-capai sasaran, ada yang mengadakan pendekatan melalui kredit pedesaan atau program- program pedesaan lainnya.

Pendekatan kelompok dalam meningkatkan partisipasinya terhadap pembangunan merupakan kata kunci di dalam program. Program pengem-bangan harus "membangun pedesaan bertolak dan akar budaya desa". Yang menjadi akar budaya desa ada-lah ciri-ciri kebersamaan, keke-luargaan dan kegotong-royongan. Se-luruh program dirangcang melalui pendekatan dari bawah botton-up ap-proach dengan lima gerakan:

1. Gerakan Produktivisasi sumber daya alam dan manusia;

2. Gerakan Kaderisasi masyarakat desa

3. Gerakan Reurbanisasi masyarakat desa

(12)

5. Gerakan Informatisasi pedesaan.

Gerakan  Produktivisasi  Sumberdaya  Alam dan Manusia 

Pariwisata pedesaan sangat di-pengaruhi oleh tingkat kesuburan la-hannya, karena dengan lahan yang tandus sebagai ciri dari kerusakan alam tidak ada daya tarik bagi pari-wisata desa.

Akhir-akhir ini, lahan yang ter-bentang di pedesaan baik lahan basah -pesawahan- maupun lahan kering atau tegalan, umumnya telah men-galami penurunan daya dukungnya terhadap produksi pertanian. Untuk meningkatkan daya dukungnya ter-hadap produksi pertanian tersebut diperlukan usaha-usaha yang mengarah kepada perbaikan struktur dan tekstur, serta mengembalikan top-soil tanah.

Namun perlu di sadari untuk mengolah lahan yang sudah mulai mengalami keadaan kritis, diperlukan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, edukatif, kerja keras dan dinamis. Dalam usaha pengem-bangan sumber daya alam dilakukan usaha bersama untuk mempertahan-kan/konservasi agroekosistem yang telah menurun daya dukungnya dengan jalan; (1) gerakan konservasi lahan kering, (2) Integrated Farming dan (3) pola pertanian terpadu yang berwawasan lingkungan.

Dukungan sumber daya manusia yang kreatif artinya mampu

mencip-takan terobosan-terobosan baru dengan multi-metode dalam upaya perbaikan lahan pertanian.

Gerakan Kaderisasi Masyarakat Desa 

Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan input pengetahuan wawasan dan keterampilan masyara-kat petani pedesaan dengan muatan dan kesadaran pentingnya pariwisata dalam pembangunan desanya, selain tujuan diatas, gerakan kaderisasi petani yang ditunjukan untuk mendapatkan "leader" penggerak desa yang berasal dari kalangan masyara-kat desa sendiri.

Keunggulan utama leader dari penduduk local adalah mengetahui keunggulan dan kelemahan masyara-kat itu sendiri secara mendalam. Gerakan kaderisasi petani desa dil-akukan dengan pelatihan, kursus reg-uler partisipatif yang diikuti kegiatan nyata (follow up).

Hasil akhir dari program gerakan kaderisasi desa, bahwa masyarakat desa mampu menjadi pembina diling-kungan mereka sendiri dan maupun meningkatkan leadership dan di-harapkan secara "endemi" mampu menularkan atau bahkan membina desa/kelompok binaan lainnya.

Gerakan Reurbanisasi 

(13)

di-harapkan adalah mereka yang menamatkan pendidikan di kota akan menjadi putra daerah yang mem-bangun daerahnya sendiri, karena mereka lebih mengetahui aspek sosio -kultur dan root-culture dari daerah ter-sebut.

Usaha ke arah ini dapat dil-akukan dengan membuka kesempatan lapangan kerja di pedesaan sebagai rangsangan untuk kembali. Diharap-kan pengalaman dan ilmu yang di-peroleh selama di bangku pendidikan dapat dimanfaatkan untuk mem-bangun daerahnya. Ini merupakan salah satu tujuan gerakan Reurban-isasi.

Gerakan Industrialisasi Pedesaan 

Industrialisasi pedesaan dengan nuansa pariwisata, akan memberikan effek ganda yang sangat besar. Poten-si desa sebagai sumber bahan baku pangan dan serat akan mengalami ledakan produksi (overproduct) komod-itas yang mempunyai keunggulan komparatif pada agroekosistemnya. Maka untuk mengatasi ledakan produksi tersebut diperlukan usaha penanganan hasil panen dengan pen-golahan atau dijadikan produk lain. Usaha ini akan dapat dilakukan jika dan hanyajika dilakukan usaha indus-trialisasi pedesaan. Industri yang pal-ing tepat dilakukan di pedesaan ada-lah jenis Agroindustri.

Dalam usaha industrialisasi pedesaan yang ideal menurut

Simatu-pang (1991) harus memiliki syarat-syarat sbb:

1. Bernilai tambah besar

2. mempunyai kaitan input out-put yang tinggi dengan industri- in-dustri lain

3. nilai tambah yang dihasilkan ha-rus diterima oleh penduduk desa

4. padat tenaga kerja

5. produk yang dikembangkan terse-but dikonsumsi oleh desa dengan elastisitas permintaan yang tinggi.

Gerakan Informatisasi Pedesaan 

Pariwisata adalah industri global, oleh karena itu, informasi masuk pedesaan mutlak diperlukan untuk meningkatkan akselerasi pengem-bangan desa tersebut.

Tujuan utama gerakan ini adalah memberikan kesempatan kepada masyarakat desa untuk memiliki akses terhadap informasi baik infor-masi teknologi atau inforinfor-masi pari-wisata dan informasi lainnya.

Gerakan ini harus ditunjang dengan kreativitas membaca dan menulis dari penduduk desa tersebut. Usaha-usaha yang dapat dilaksanakan adalah dengan mengadakan buletin desa, majalah pedesaan atau koran masuk desa bahkan bila perlu radio pedesaan.

PENUTUP 

(14)

pertanian berkelanjutan telah mem-berikan dampak positif dalam pem-bangunan pedesaan, seperti telah dikembangkan di negara-negara Bar-at.

Bercermin dari itu, maka Indone-sia sangat berpeluang untuk mengem-bangkan model tersebut mengingat Indonesia sangat kaya akan sumber daya pariwisata terutama di pedesaan.

Pembangunan pariwisata yang berbasiskan pertanian berkelanjutan hendaknya menjadi arah pengem-bangan pariwisata Indonesia sekarang dan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA 

Federation of Nature and National Parks (1993): Loving Them to Death ? Sustainable Tourism in Europe's Nature and National Parks, Grafenau.

Hall, C.M and Weiler, B. (1992): In-troduction. What's Special about Special Interest Tourism?. In B. Weiler and C.M. Hall (eds.): Spe-cial Interest Tourism, Belhaven Press, London, pp.1-14

Jafari, J. (1987): Tourism Models: The Sociocultural Aspects, Tour-ism Management 8(2), 151-159

Keane, M.J. and J.Quinn (1990): Ru-ral Development and RuRu-ral Tour-ism, Social Sciences Research Centre, University College Gal-way, Galway

te Kloeze, J.W. (1990): Farm Camp-ing in the Netherlands, Paper given in the Institute of Sociology International Conference "Bulgar-ian Agriculture in the Future", Sofia

Miller, G. (1998): Ending the Name Game: Criteria for Tourism to be Sustainable, Paper given in the 7th International Symposium on So-ciety and Resource Management, University of Missouri-Columbia, Missouri-Columbia, Missouri

Mowforth, M. and Munt, I. (1998): Tourism and Sustainability. New Tourism in the Third World, Routledge, London

Murphy, P.E. (1994): Tourism and Sustainable Development, In W.F. Theobald (ed.): Global Tour-ism: The Next Decade, Butter-worth-Heinemann Ltd, Oxford, 274-290

Saefudin, AM. (1992). Realitas Sosial Kaum dhuafa Pedesaan. Makalah diskusi tidak dipublikasikan.

Swarbrooke, J. (1996): Towards the Development of Sustainable Ru-ral Tourism in Eastern Europe, In G. Richards (ed.): Tourism in Central and Eastern Europe: Educat-ing for Quality, ATLAS, Tilburg, 137-163

(15)

Unwin, T. (1996): Tourist Develop-ment in Estonia, Tourism Man-agement, 17(4), 265-276

Wallace, J.M.T. (1997): Putting "Cul-ture" into Sustainable Tourism: Negotiating Tourism at Lake Ba-laton, Hungary, Department of Sociology & Anthropology, North Carolina State University, North Carolina

Wight, P. (1993): Sustainable Eco-tourism: Balancing Economic, Environmental and Social Goals Within an Ethical Framework, The Journal of Tourism Studies, 4(2), 54-66

World Commission on Environment and Development (1987): Our Common Future, Oxford Uni-versity, Oxford

WTO (1996): What Tourism Manag-ers Need to Know, A Practical Guide to the Development and Use of Indicators of Sustainable Tourism, WTO, Madrid

WTO (1998): Nyertesek és vesztesek a turizmusban, TTG Hungary 9 (5), 9

WTTC (1996b): The 1996/7 WTTC Travel & Tourism Report, WTTC, London

Yale, P. (1991): Countryside Attrac-tions, In P.Yale: From Tourist At-tractions to Heritage Tourism, ELM Publications, Kings Ripton, 157-177

Gambar

Tabel 1. Indikator Sustainable tourism development

Referensi

Dokumen terkait

Anu't anuman, kononsidera ni Onofre na ipasok sa ospital si Angela, lalu na nang kakitaan niya ito ng malalang pakikipagtalo sa sarili sa kanyang pag-iisa, ng pagpupumilit sa buwan

Bahwa Pasal 310 Undang-Undang a quo tidak memberikan penjelasan secara khusus mengenai frasa “kelalaiannya” dan “orang lain” sehingga tidak memberikan kepastian hukum,

Namun terjadi penurunan pada perlakuan pengukusan 50 menit dan waktu kempa 60 menit yang dapat disebabkan oleh kesalahan teknis seperti jarak yang ditempuh dari

a) Penerima dukungan, seseorang tidak akan memperoleh dukungan bila mereka tidak ramah, tidak mau menolong orang lain dan tidak membiarkan orang lain mengetahui bahwa

Penjelasan mengenai kajian lingkungan hidup strategis ini terdapat dalam Penjelasan Umum angka 3 dari Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan

Dilihat dari hasil jawaban kuesioner dukungan suami didapatkan data bahwa dukungan yang paling banyak tidak diterima atau dirasakan ibu dari 3 responden tersebut

BLDC motor dengan tiga struktur slot stator yang berbeda dirancang dengan menggunakan perangkat lunak RMxprt Ansys Maxwell untuk mengetahui efisiensi BLDC motor

Galur mutan putatif M5-Selayar berbeda nyata lebih kecil dibanding varietas Selayar pada karakter tinggi tanaman, jumlah anakan dan panjang malai, namun berbeda