BEBERAPA HUKUM TENTANG WUDHU'
DAN TAYAMMUM
QSj^S
Artinya: 5. Hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik dan makanan orang-orang yang pernah diberi kitab (ahli kitab) juga halal bagimu, dan makananmu juga halal bagi mereka. Dan (halal juga bagimu) perempuan-perempuan terpelihara dari orang-orang mukmin dan juga perempuan-perempuan terpelihara dari orang-orang yang pernah diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu berikan kepada mereka maskawin-maskawin mereka dengan tidak bermaksud berbuat mesum (zina) dan mengambilnya sebagai gundik; dan barangsiapa menolak iman, maka sia-sialah amalnya, dan kelak di akhirat dia tergolong orang-orang yang rugi. 6. Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu berdiri (hendak) shalat, maka basuhlah muka-mukamu dan tangan- tanganmu sampai siku, dan usaplah kepala-kepalamu dan kaki-kakimu sampai mata kaki; dan jika kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah; dan jika kamu dalam keadaan sakit atau sedang dalam bepergian atau salah seorang dari antara kamu itu datang dari buang air atau kamu (selesai) menyentuh (bercampur) dengan perempuan lalu kamu tidak mendapatkan air, maka tayammumlah dengan tanah yang
bersih, yaitu usaplah wajah-wajahmu dan tangan- tanganmu idari padanya.i Sebab Allah tidak menghendaki untuk menjadikan sesuatu keberatan atas kamu, tetapi Dia menghendaki untuk menyucikan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu, supaya kamu bersyukur. (QS al-Maidah).
TAFSIRNYA
1. Didahulukannya "perempuan-perempuan terpelihara dari orang-orang mukmin daripada ahli kitab", untuk menunjukkan keutamaan kawin dengan perempuan mukminah daripada perempuan ahli kitab, kendatipun kawin dengan perempuan ahli kitab itu halal. Namun perempuan mukminah justru lebih baik. Jadi kawin dengan perempuan mukminah adalah lebih baik, karena sabda Rasulullah saw.:
"Maukah kalian kubentahukan tentang sesuatu simpanan seseorang yang sangat baik? Yaitu: Perempuan shalihah...."
Sedang yang disebut perempuan shalihah itu hanya ada pada perempuan mukminah. Inilah rahasia diikatnya perkawinan itu dengan perempuan-perempuan mukminah, sebagaimana tersebut di surat Al-Ahzab 49: "Hai orang-orang yang beriman! Apabila kamu kawin dengan perempuan-perempuan mukminah...."
2. Halalnya perempuan yang dikawini itu diikat dengan maskawin. adalah untuk menunjukkan akan kerasnya kewajiban membayar maskawin. Dengan demikian, maka barangsiapa yang kawin dengan seorang perempuan dengan niat tidak akan memberi maskawin, maka perkawinan semacam itu tak ubahnya dengan zina.
Kemudian dinamainya maskawin itu dengan "ajr" (upah) untuk menunjukkan, bahwa maskawin itu tidak ada suatu ketentuan yang tertentu, sebagaimana halnya upah yang tidak dapat ditentukan, tetapi hanya terjadi atas keSepakatan kedua belah pihak.
3. Ungkapan "Barangsiapa menolak iman..." ini termasuk "majaz mursal", sedang yang dimaksud ialah: Barangsiapa yang kufur terhadap kalimah tauhid "lailaha illallah". Di sini kalimah tauhid itu disebut "iman", karena merupakan suatu kepastian dalam iman. Ada juga yang mengatakan, bahwa yang dimaksud oleh kalimat tersebut, yaitu kufur terhadap syari'at Allah, atau kufur terhadap agama Allah. Yang dengan itu maka amalnya menjadi sia-sia. Kedua-duanya mirip, dan termasuk majaz.
4. Membawakan kata "mas-hu" (mengusap) dalam ayat wudhu' ini, mengandung pengertian mengusap anggota-anggota yang wajib dibasuh. Di sini ada suatu isyarat yang lembut sekali, yang menunjukkan harus adanya tertib wudhu', yaitu pertama- tama membasuh muka, kemudian kedua tangan sampai ke siku, lalu mengusap kepala, kemudian baru membasuh dua kaki. Inilah tertibnya wudhu', kendati oleh sebagian pendapat dikatakan bukan wajib, namun 'ala kulli hal tertib itu diperlukan dan dianjurkan (mandub). Jadi mei/gikuti petunjuk Nabi lebih sempurna dan lebih utama.
KANDUNGAN HUKUM
1. Hukumnya penyembelihan ahli kitab.
Umumnya ahli tafsir berpendapat, bahwa yang dimaksud "makanan orang-orang yang pernah diberi kitab halal bagimu" itu adalah sembelihan ahli kitab; dan itulah yang betul. Jadi bukan sekedar roti, buah-buahan dan makanan-makanan lainnya, seperti yang diduga oleh sebagian orang. Sebab sembelihan- sembelihan itulah yang menyebabkan binatang itu menjadi halal. Adapun roti dan buah-buahan, selamanya sudah halal bagi orang- orang mukmin, sebelum menjadi miiik orang-orang ahli kitab ataupun sesudah dimilikinya. Jadi dalam masalah makanan ini tidak ada jalan untuk dikecualikan bagi ahli kitab.
Dikecualikannya hukum ini bagi ahli kitab, karena sembelihan penyembah-penyembah berhala itu tidak halal buat orang mukmin, begitu juga tentang mengawini perempuan- perempuan mereka, berdasar firman Allah: "dan jangan kamu makan dari binatang yang tidak disebut asma Allah atasnya" dan firman-Nya: "dan jangan kamu mengawini perempuan- perempuan musyrikah sehingga mereka itu beriman."
Adapun ahli kitab, dari segi penyembelihan dan pernikahannya, mempunyai hukum khusus. Sedang Majusi diperlakukan seperti ahli kitab dalam hal jizyah (upeti), bukan soal sembelihan dan pernikahan.
Diriwayatkan dari 'Ali r.a., bahwa ia pernah mengecualikan Nashrani Bani Taghlab, seraya berkata: Mereka itu bukan beragama Nashrani dan tidak pernah mengambil (ajaran) Nashrani itu, kecuali dalam hal minum arak. Pendapat inilah yang kemudian diambil oleh Imam Syafi'i.
Dari Ibnu 'Abbas r.a., sesungguhnya ia pernah ditanya tentang penyembelihan orang-orang Nashrani Arab, maka jawabnya: Tidak mengapa. Dan itulah yang diambil oleh Abu Hanifah 428)
Dalam ayat itu Allah hanya menyebut "Makananmu halal buat mereka", dengan tidak menyebut "perempuan", untuk menunjukkan adanya perbedaan hukum antara penyembelihan dan perkawinan, di mana halalnya penyembelihan itu terjadi pada kedua belah pihak, sedang soal perkawinan hanya berlaku di satu
pihak. Di sini ada perbedaan yang cukup jelas. Sebab kalau sekiranya seorang laki-laki ahli kitab itu dibolehkan kawin dengan perempuan muslimah, niscaya akan dibenarkan oleh syara" penguasaan kuffar atas wanita muslimah melalui perkawinan itu, padahal Allah sudah jelas tidak memberi kesempatan kaum kuffar untuk menguasai orang-orang mukmin. Berbeda dengan masalah makanan yang dibolehkan dari kedua belah pihak, dan tidak ada hal yang terlarang.
2. Hukumnya kawin dengan perempuan Yahudi dan Nashrani Kebanyakan ahli fiqih berpendapat, bahwa kawin dengan perempuan kafir dzimmi, baik Yahudi maupun Nashrani itu hukumnya halal. Mereka berdalil dengan ayat ini, yaitu "Dan (halal) perempuan-perempuan yang terpelihara dari orang-orang yang pernah diberi kitab sebelummu."
Tetapi Ibnu 'Umar tidak berpendapat begitu, dengan alasan firman Allah, "Dan jangan kamu kawin dengan perempuan-perempuan musyrik, hingga mereka itu beriman", seraya berkata: Aku tidak tahu suatu kemusyrikan yang lebih besar daripada ucapan seorang perempuan: "Sfesungguhnya Tuhan kami adalah Isa." Ia juga berdalil dengan I penegasan Allah sendiri yang mengharuskan (kaum muslimin) untuk menjauhi orang-orang kafir, seperti - tersebut dalam firman-Nya: "Janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai pemimpin." (QS al- Mumtahinah 1).
Aku (ash-Shabuni) berkata: Ayat tersebut tegas membolehkan laki-laki muslim kawin dengan perempuan- perempuan ahli kitab. Ayat itulah satu-satunya dalil yang jelas yang dipakai oleh Jumhur. Tetapi barangkali Ibnu 'Umar memakruhkan kawin dengan hali kitab itu karena dikuatirkan akan keadaan suami atau anak-anaknya. Sebab suami isteri itu harus hidup penuh rasa cinta kasih. Sebab bisa jadi kalau rasa cinta seorang suami kepada isterinya sangat kuat, akan menyebabkan suami condong kepada agama isteri, dan anak- anak pun akan condong kepada ibunya lebih banyak daripada kepada bapak. Ini pula barangkali sebab terpengaruhnya laki-laki kepada agama perempuan Nashrani dan Yahudi, sehingga perkawinan yang demikian itu akan berbahaya bagi kehidupan anak-anak. Sedang kalau kekhawatiran akan terjadinya fitnah itu tetap ada, maka jelas perkawinan semacam itu hukumnya haram.
Tetapi kalau kekhawatiran seperti itu tidak ada, atau mungkin malah diharapkan dengan perkawinan seperti itu si isteri akan masuk Islam,
maka tidak ada jalan untuk mengharamkan perkawinan itu. Wallahu a'lam.
3. Wudhu' bagi orang yang tidak berhadats.
Zhahirnya firman Allah "Apabila kamu hendak mengerjakan shalat...." itu menunjukkan wajibnya wudhu' bagi setiap orang yang hendak shalat, sekalipun dia tidak batal (hadats). Tetapi para 'ulama telah sepakat bahwa wudhu' itu tidak wajib, kecuali bagi orang yang hadats. Jadi ikatan "hadats" itu terkandung dalam ayat tersebut, sehingga bolehlah ayat itu kita artikan sbb.: "Jika kamu hendak mengerjakan shalat, padahal kamu sedang hadats...." Namun penafsiran/ta'wil ayat ini dengan pengertian tersebut dasarnya ialah ijma', di samping juga dalam ayat itu sendiri ada kalimat yang menunjukkan demikian, yaitu dalam hal tayammum, sedang tayammum adalah ganti wudhu' dan menempati hukum wudhu', di mana dalam wajibnya tayampium itu diikat dengan adanya hadats. Maka yang pokok di sini harus adanya ikatan itu, yang membawa suatu konsekuensi, bahwa penggantinya pun harus menduduki tempat yang pokok itu. Dan oleh karena perintah wudhu' itu sama dengan perintah mandi di mana mandi itu terikat oleh hadats, sebagai tersebut dalasm firman Allah, "Dan jika kamu dalam keadaan junub maka bersucilah", maka persamaannya yaitu perintah wudhu' itu harus juga terikat oleh hadats (yang selanjutnya disebut hadats kecil).
Di antara dalilnya pula, yaitu riwayat Nabi saw. yang pernah shalat lima kali pada hari fat-hu Mekkah dengan sekali wudhu', sehingga mengundang pertanyaan 'Umar:
• jv-t-V.
Ya Rasulullah! Engkau telah berbuat sesuatu yang se/ama ini
belum pernah engkau kerjakan? Maka jawab Nabi: Memang itu sengaja kulakukan hai 'Umar.
Ya'ni, Nabi berbuat demikian itu untuk menerangkan kepada ummatnya, bahwa cara seperti itu boleh.
Adapun riwayat yang menerangkan, bahwa Nabi dan para khalifahnya biasa wudhu' setiap kali shalat itu, bukan karena wajib, tetapi karena sunnat. Sedang Nabi saw. selalu senang kepada perbuatan yang afdhal. Jadi perbuatannya seperti itu tidak berarti menunjukkan wajib wudhu' untuk setiap kali shalat.
4. Hukumnya mengusap kepala dan ukurannya.
Ahli-ahii fiqih telah sepakat, bahwa mengusap kepala itu termasuk salah satu fardhunya wudhu', berdasar firman Allah, "dan usaplah kepalamu". Akan tetapi mereka juga berbeda pendapat tentang ukuran mengusapnya itu:
a. Ulama' Malikiyah dan Hanbali berpendapat wajib mengusap semua kepala, karena ihtiyath.
b. Ulama' Hanafiyah berkata: Diharuskan mengusap seperempat kepala, berdasar fi'liyah Nabi saw. yang mengusap ubun-ubunnya.
c. Ulama' Syafi'iyah berkata: Cukup mengusap sebagian kecil dari kepala, asal sudah bisa disebut mengusap, sekalipun misalnya hanya mengusap beberapa utas rambut, asal sudah benar-benar yakin.
Dalil-dalilnya:
Malikiyah dan Hanabilah berdalil atas. wajibnya mengusap semua bagian kepala itu, karena "ba"' dalam kata "biru'usikum" itu ziyadah (tambahan) yang gunanya adalah litta'kid (untuk memperkuat saja). Jadi arti ayat tersebut adalah sbb.: usaplah kepaia-kepalamu.
Mereka juga berkata, bahwa ayat wudhu' itu serupa dengan ayat tayammum, di mana Allah memerintahkan untuk mengusap semua wajah" maka usaplah wajah-wajahmu dan tangan-tanganmu...". Oleh karena mengusap wajah dalam tayammum itu meliputi seluruh bagian wajah, maka di dalam wudhu' pun harus mengusap semua bagian kepala, tidak cukup sebagiannya saja. Ini diperkuat oleh fi'liyah Nabi saw. di maila ia mengusap kepala itu seluruhnya.
Hanafiyah dan Syafi'iyah beralasan, bahwa "ba"' di situ 1 ittab'idh untuk menunjukkan sebagian, bukan ziyadah. Maka ayat tersebut berarti: usaplah sebagian kepalamu, hanya saja Hanafiyah menentukan sebagian kepala itu ialah seperempat, karena sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Mughirah, bahwa Nabi saw. dalam suatu bepergian, lalu singgah di suatu tempat untuk buang aiT, lalu ia datang dan wudhu' dengan mengusap ubun-ubunnya.429)
Adapun Syafi'iyah berpendapat, bahwa ba' di situ adalah littab'idh. Sedang sedikitnya apa yang disebut "mengusap" itu kalau
429HR Muslim. Nabi menerangkan, bahwa mengusap sebagian itu sudah dipandang cukup, yaitu Nabi saw. mengusap ubun-ubunnya. Di tempat lain ia pun berkata. Kalau ada pertanyaan, bahwa tentang tayammum A llah berfirman "usaplah muka-mukamu", apakah ini cukup mengusap sebagiannya saja? Maka dapat dijawab sbb.: Mengusap wajah dalam tayammum adalah sebagai ganti mandi, yang harus meratakan air pada seluruh bagian yang harus disiram, dan mengusap kepala adalah bagian yang pokok. Jadi di sini ada bedanya antara mengusap kepala dengan mengusap wajah.
Al-Qurthubi berkata: Ulama'-ulama' kami menjawab tentang kedudukan hadits (Nabi mengusap ubun-ubunnya) itu, sebagai mengatakan: "Barangkali ketika itu Nabi saw. mengerjakannya karena udzur, dan ini jelas sekali karena peristiwa itu terjadi dalam bepergian yang pada umumnya membawa udzur yang juga sering terjadi menuntut perbuatan yang tergesa-gesa dan ringkas. Namun ia pun agaknya tidak cukup mengusap ubun-ubunnya saja, tetapi diusapnya juga sorbannya. Jadi seandainya mengusap seluruh kepala itu tidak wajib, sudah barang tentu ia tidak akan mengusap sorbannya." 43°)
Aku (ash-Shabuni) berkata: Ba' dalam bahasa Arab pada mulanya dipergunakan untuk arti tab'idh (sebagian). Sedang dengan arti zaidah menyalahi arti pokok. Maka selama masih memungkinkan untuk dipergunakan dengan arti tab'idh, sebagai arti yang hakiki sesuai perbuatannya, maka haruslah dipergunakan arti tersebut. Dengasn demikian, maka yang wajib (dalam berwudhu') itu adalah mengusap sebagian kepala, dan sunnat mengusap seluruh kepala. Jadi dalam hal ini pendapat
Syafi'iyah dan Hanafiyahlah yang lebih tepat. Tetapi pendapat Malikiyah dan Hanabilah lebih berhati-hati.430) Wallahu a'lam.
5. Pengertian janabat dan larangannya.
Janabat dalam pengertian syara' yaitu menjauhi shalat, membaca al-Qur'an, menyentuh al-Qur'an dan masuk masjid, hingga orang yang junub itu mandi, berdasar firman Allah: "Dan jika kamu dalam keadaan junub, maka bersucilah,"
Terjadinya junub ini dijelaskan oleh hadits, karena dua sebab:
a. Karena keluar mani, seperti sabda berbeda pendapat. Ulama-ulama Maliki dan Syafi'i berpendapat tidak wajib, sedang ulama-'ulama Hanafi dan Hambali berpendapat wajib.
Alasan pendapat 'ulama-'ulama Maliki dan Syafi'i, riwayat yang
Sedang alasan ularna'-ulama' Hanafi dan Hanbali, bahwa perintah hadits tersebut untuk menerangkan, bahwa wudhu' sesudah mandi itu tidak
b. Bertemunya dua kemaluan laki-laki dan perempuan, seperti sabda Nabi saw.:
"Apabila dua kemaluan itu telah bertemu, maka wajib mandi." 432)
Dan juga tersebut dalam hadits Fathimah binti Abu Hubaisy, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda kepadanya:
apabila terkena oleh air. sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas dan sejumlah tabi'in, bahwa yang dimaksud "si sakit" di situ ialah serius dan yang berbahaya kalau kena air. Atas dasar itu, maka menurut para 'ulama' fiqih, bahwa sakit itu ada beberapa macam:
a. Sakit yang dapat membahayakan jiwa dan anggota apabila memakai air. Dan ini dapat diketahui atas dasar keyakinan atau pemeriksaan seorang dokter muslim yang mahir. Waktu itu si sakit boleh tayammum, dengan kesepakatan para 'ulama'.
b. Sakit yang bertambah parah atau lambat sembuhnya apabila kena air. Dalam hal ini menurut ulama-ulama Malikiyah dan Hanafiyah, boleh tayammum; dan itulah pendapat yang paling sah menurut salah satu pendapat Syafi'i, berdasar riwayat sejumlah shahabat yang keluar dalam satu bepergian, lalu salah seorang di antara mereka itu kepalanya terbentur oleh batu hingga luka, lalu ia bermimpi keluar mani, dan kuwatir bertambah sakit kalau ia berwudhu'... dst.434)
c. Sakit yang tidak dikuatirkan bahaya atau lama sembuhnya kalau kena air. Dalam keadaan demikian, si sakit tidak boleh tayammum. Begitu menurut 'ulama-'ulama Hanafi dan Syafi'i, karena waktu itu dia tidak dapat dikecualikan dari kemungkinan menggunakan air. Jadi baginya tidak ada rukhshah untuk tayammum. Tetapi menurut 'ulama-'ulama Malikiyah, dia boleh tayammum berdasar kemutlakan ayat "dan jika kamu sakit... dst."
d. Sakit yang terdapat pada salah satu anggota badan. Jika yang banyak itu yang sehat, maka yang sehat itu harus dibasuh dengan air dan yang sakit itu diusap (sekadarnya), tidak boleh tayammum. Tetapi jika yang luka itu yang lebih banyak, maka boleh tayammum. Begitu menurut Hanafiyah. Adapun menurut Syafi'iyah, yang sehat itu dibasuh dengan air, dan dia harus tayammum. Tetapi menurut Malikiyah, boleh tayammum secara mutlaq.
Dari situ jelaslah, bahwa orang yang sakit itu diberi rukhshah (kemurahan) untuk tayammum sekalipun ada air. Berbeda dengan musafir yang diperkenankan tayammum itu terikat oleh tidak adanya air.
434) Hadits ini sudah terdahulu di surat an-Nisa'. (Lihat halaman ....)
8. Batas mengusap tangan dalam tayammum.
Sudah terdahulu, bahwa yang dimaksud "sha'id" dalam ayat tayammum itu ialah "turab" (debu) yang bersih, berdasar pendapat yang terpilih. Dan tayammum yang diperintahkan oleh syara' itu ialah mempergunakan debu tersebut pada dua anggota yang telah ditentukan, dengan niat bersuci, yaitu muka dan kedua tangan. Dan dua tangan ini -menurut Hanafiyah - harus sampai siku. Dan itulah yang benar
menurut Syafi'iyah. Tetapi menurut Malikiyah dan Hanabilah cukup sampai pergelangan.435)
Alasan-alasan:
Ulama'-ulama' Hanafiyah dan Syafi'iyah beralasan, bahwa "tangan" yang dimaksud dalam firman Allah "maka usaplah wajah-wajahmu dan tangan-tanganmu" itu, meliputi lengan semuanya, hanya saja tayammum itu sebagai ganti wudhu', sedang pengganti tidak boleh menyalahi pokok, kecuali dengan dalil. Oleh karena membasuh tangan dalam wudhu' itu harus sampai ke siku, maka mengusap tangan dalam tayammum pun harus sampai siku pula. Dalilnya ialah hadits Jabir bin 'Abdullah, yang berbunyi:
° 0 ° -f
"Tayammum itu dua kali tepukan, sekali tepukan untuk wajah dan sekali lagi tepukan untuk dua lengan sampai siku."
Abu Hayyan berkata dalam al-Bahrul Muhith: Dan diriwayatkan dari Abu Hanifah dan Syafi'i sebagai mengatakan, bahwa mengusap tangan sampai siku itu wajib, dan satu golongan berpendapat hanya sampai pergelangan; dan yang demikian itu adalah pendapat Ahmad, Thabari dan as-Syafi'i dalam qaul qadimnya yang juga diriwayatkan dari Imam Malik. Dan diriwayatkan juga dari asy-Sya'bi, bahwa ia mengusap telapak tangan saja; dan itulah yang menjadi pendirian sebagai ulama' hadits; dan itu pula yang harus dijadikan pegangan karena keesahan haditsnya, antara lain seperti yang diriwayatkan oleh 'Ammar bahwa RasuluIIah saw. bersabda:
^^Lc 3 p^UOJ* ^ T^y ^ 0 ^ I
C ^ ) •. cSl&'s 5
"Hanyalah cukup bagimu menepuk tanah dengan tanganmu, kemudian meniupnya dan kemudian mengusapkannya pada wajahmu dan telapak tanganmu." (HR Muslim).
'Ammar juga mengatakan dalam mensifati tayammumnya Nabi saw. sebagai berikut:
"Dan ia (Nabi saw.) menepuk tanah dengan tangannya lalu meniupnya kemudian mengusapkannya pada wajah dan telapak tangannya." (HR Muslim).
"Kemudian Nabi saw. mendekatkan kedua tangannya itu pada mulutnya (untuk ditiup), lalu ia usapkannya pada wajahnya dan telapak tangannya." (HR Bukhari).
Hadits-hadits shahih inilah sebagai penjelasan atas kemungkinan (ihitimal) dalam ayat tayammum sekitar masalah tempat mengusap dan caranya itu.43?)
KESIMPULAN
1. Sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) adalah halal. 2. Halal kawin dengan perempuan-perempuan mukminah dan ahli kitab yang terpelihara (muhshanah).
3. Suci dari hadats kecil dan besar adalah syarat sahnya shalat. 4. Apabila tidak ada air atau tidak bisa menggunakan air (karena udzur), ketika itu boleh tayammum.
5. Islam adalah agama mudah, tidak ada kesukaran dan kesempitan dalam hukumnya.
HIKMATUT TASYRI'
Di antara program syari'ah Islamiyah yang indah itu iaiah membersihkan manusia dari segala kotoran, jasmani maupun rohani, yang nampak maupun yang tidak nampak dan rohaninya supaya siap untuk meng'nadap Tuhan Yang Maha Suci, yang dengan itu manusia akan naik ke cakrawala yang memancarkan keagungan, kehebatan dan kesempurnaan.
Islam mensyari'atkan wudhu' dan mandi bagi seorang mukmin sebagai pencerminan kesucian lahiriyah, di samping menyerukan untuk menjauhi kema'shiatan dan dosa sebagai lambang kesucian rohani. Jadi wudhu' dan mandi adalah bertujuan kebersihan (kesucian jasmani), supaya manusia terbiasa hidup dalam kesucian jiwa, akhlaq dan agama. Prinsip kebersihan ini selanjutnya supaya dijadikan sebagai tradisi dalam berbagai aspek kehidupannya, termasuk dalam jasmaninya, pakaiannya dan makanannya. Islam menghasung yang demikian itu, karena ia adalah agama suci dan bersih, seperti diungkapkan "dan hendaklah engkau sucikan pakaianmu". Kebersihan lahiriyah salah satu bagian dari kebersihan rohani.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalau Syari'ah Islamiyah yang indah ini justru mcnghendaki manusia supaya bersih dan suci, sebagaimana disabdakan Nabi saw.:
__^ a ^ p , ■ ^ y
/IS8
"Kesucian - dalam satu riwayat: kebersihan - itu adalah sebagian dari iman."
Dan hikmahnya dijelaskan oleh Allah swt. dalam akhir ayat itu sendiri: "Karena Ia tidak menghendaki adanya kesukaran atas kamu, tetapi Allah berkehendak untuk mensucikan kamu dan menyempurnakan ni'mat-Nya atas kamu, supaya kamu bersyukur."
Suci adalah dasar pokok dalam kehidupan seorang muslim. Kalau dalam shalat (sebagai perbuatan lahiriyah) Allah tidak menerimanya kecuali harus suci lahiriyah, maka bagaimana mungkin Ia akan menerima seseorang yang rohaninya berlumuran kotoran dan dosa, lalu dia akan masuk di sisi Tuhannya kelak di hari kiyamat?
Islam adalah agama suci. Suci lahiriyah adalah cabang, sedang suci bathiniyah adalah pokok. Dan suci lahiriyah adalah syarat sahnya shalat, sebagaimana halnya suci bathiniyah adalah syarat masuk surga.
"Pada hari ini harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat." (QS Shad 84).
Suci lahiriyah dan bathiniyah ini kedua-duanya, adalah syarat dicintai Allah: "Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang banyak taubat dan dalam keadaan suci." (QS al-Baqarah 222).
\
'^J^yi/V
Artinya: 33. Sesungguhnya balasan orang-orang yang memerangi Allah
dan Rasul-Nya serta berjalan di permukaan bumi dengan membuat kerusakan, ialah dengan dibunuh, atau disalib, atau tangan dan kakinya dipotong- potong dengan selang-seling atau diasingkan dari bumi (tempat mereka tinggal); yang demikian itu satu kehinaan bagi mereka di dunia dan kelak di akhirat mereka akan mendapatkasn siksaan yang besar. 34. Kecuali orang-orang yang taubat sebelum kamu sekalian berkuasa (menangkap) atas mereka, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 35. Hai orang-orang yang beriman! Takutlah kepada Allah dan carilah wasilah (untuk bisa sampai) kepada-Nya, dan berjuanglah kamu di jalan- Nya supaya kamu berbahagia. 36. Sesungguhnya orang- orang kafir itu kalau seandainya semua yang ada di bumi ini dan yang seumpamanya itu menjadi milik mereka, untuk dijadikan menebus (diri) dari adzab hari kiyamat, niscaya tidak akan diterima (tebusan) itu dari mereka; dan mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. 37. Mereka berkehendak untuk keluar dari neraka, tetapi mereka tidak bakal bisa keluar dari neraka itu; dan mereka akan mendapatkan siksaan nan abadi. 38. Dan pencuri laki-laki dan perempuan hendaklah kamu potong tangan-tangan
mereka itu, sebagai hukuman atas apa yang mereka lakukan sebagai contoh yang menakutkan dari Allah, dan Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. 39. Kemudian barangsiapa yang taubat sesudah perbuatannya yang zhalim itu dan berbuat baik, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. 40. Apakah engkau tidak tahu, bahwasanya Allah itu memiliki kerajaan langit dan bumi, la akan menyiksa siapa saja yang dikehendaki dan Ia pun akan mengampuni siapa saja yang dikehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS al-Maidah).
SABABUN NUZUL
Diriwayatkan, bahwa ada serombongan manusia dari 'Urainah datang ke Medinah, lalu mereka merasa tidak enak badan di Medinah itu. Kemudian oleh Rasulullah saw. riikirimrya onta sedekah dan menyuruhnya mereka supaya minum air susu dan kencing onta-onta tersebut, lalu mereka mengeriafeannya dan menjadi sehat. Tetapi tiha-tiba mereka murtad, lalu membunuh penggembala onta tersebut dan merampas onta-onta tersebut. Lalu Rasulullah saw. mengirim pasukan untuk mengikuti jejak mereka, maka setelah mereka tertangkap, lalu tangan dan kakinya dipotong dengan berselang-seling, matanya dicocok dengan paku lalu dilempar ke tempat yang panas hingga mati. Begitulah, lalu turun ayat 33 itu.438)
MUNASABTUL AYAT
yang erat sekali antara hukuman pencurian
dan penyamun dengan dosa pembunuhan.
TAFSIRNYA
1) Menyebut kata "memerangi Allah" di sini adalah majaz. Sebab
Allah swt. tidak mungkin dapat diperangi dan dikalahkan, sebab Allah bersifat kamal (sempurna) dan bersih dari sifat sama (dengan
makhluk). Jadi perkataannya di sini ada idhafah yang di- buang, yaitu
kata "auliya". Ya'ni: Barangsiapa memerangi wali-wali Allah. Di sini kata wali itu dinisbahkan kepada Dzat-Nya untuk menunjukkan betapa besar disanya menyakiti wali-wali Allah itu. Sebagaimana halnya mengungkapkan fakir dan dhu'afa' kepada Dzat- Nya juga, yaitu dalam firman-Nya: "Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik...," adalah untuk menganjurkan supaya kita berbelas kasih kepada fuqara wal masakin itu. Yang senada dengan ini disebutkan dalam hadits qudsi; Allah berfirman:
"Hai Ibnu Adam, mengapa Aku minta makan kepadamu tetapi engkau tidak memberi Aku makan?"
2) Kata "mengasingkan dari bumi" itu, maksudnya dikucilkan atau dijauhkan, misalnya dengan ditahan/dipenjara. Diriwayatkan dari Imam Malik, sesungguhnya ia berkata: Kata "mengasingkan" di situ maksudnya ialah dengan dipenjarakan, di mana penjara itu dapat meniadakan kebebasan dunia, menuju kesempitan dunia. Seolah-olah kalau seseorang dipenjarakan, maka berarti dia telah diasingkan dari bumi ini, karena dengan begitu dia tidak lagi melihat kekasih-kekasihnya, dan tidak dapat memanfaatkan sesuatu kelezatan dan keindahan dunia ini.
Imam Fakhrur Razi berkata: Ketika orang-orang pada memenjarakan Shalih bin Abdul Quddus dalam sebuah rumah penjara
yang sempit sekali, karena tuduhan sebagai zindiq (munafiq), dan setelah ia lama tinggal di penjara itu, lalu ia bersyair:
Kami keluar dari dunia, dan keluar dari berhubungan dengan penduduk dunia ini, dengan keadaan tidak hidup dan tidak mati. Kalau polisi penjara itu datang menjenguk kami, pada suatu hari karena suatu keperluan, kami merasa he ran dan kami katakan: orang ini datang dari dunia.
3) Az-Zamakhsyari berkata: Perkataan "supaya mereka menebus dengannya" itu, adalah suatu tamsil tentang kepastian adzab itu bagi mereka, yang sudah tidak ada jalan lagi untuk selamat
dari adzab itu dengan cara apa pun. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Kelak di hari kiyamat orang kafir akan ditanya: Bagaimana pendapatmu seandainya engkau mempunyai emas sepenuh bumi ini? Apakah engkau akan menebus (untuk membebaskan dirimu) dengan emas itu? Dia akan menjawab: Ya. Lalu dia akan dijawab: Se ben amy a engkau diminta yang lebih mudah dari itu, yaitu hendaknya engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, tetapi engkau enggan." (HR Bukhari dan Muslim, dari Qatadah).
( 03 Li- -j
4) Didahulukannya kata "pencuri laki-iaki" daripada "pencuri perempuan" di sini, sedang dalam ayat tentang zina, perempuan didahulukan daripada laki-iaki, yaitu "azzaniyatu wazzani" (QS An Nur 2), adalah karena dalam hal pencurian laki- iaki biasanya lebih maju daripada perempuan, sedang dalam hal zina perempuan lebih jelek daripada laki-laki. Jadi masing-masing mempunyai kedudukan sendiri-sendiri.431)
5) Al-Ashmu'i berkata: Aku pernah membaca ayat ini, sedang ketika itu di sampingku ada seorang baduwi. Lalu sampailah aku pada ayat "Allah Pengampun Iagi Penyayang" dan itu sangat mudah sekali. Maka jawab si baduwi itu: Itu perkataan siapa? Kujawab: Itu adalah kalamullah. Maka baduwi itu berkata: Coba ulang sekali lagi. Lalu kuulangnya "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Baduwi itu lalu berkata: Itu bukan kalamullah. Ketika itu aku menjadi sadar, lalu aku berkata, "Allah Maha Gagah lagi Maha Bijaksana". Maka jawab baduwi itu selanjutnya: Nah, itu benar, itulah kalamullah. Kemudian aku balik bertanya: Apakah anda pernah membaca al-Qur'an? Ia menjawab: Tidak! Aku bertanya lagi: Lalu darimana engkau bisa mengetahui, bahwa aku keliru? Ia menjawab: Ya ini, Dia gagah, karena itu lalu Dia memotong tangan. Kalau Dia itu Pengampun dan Penyayang tidak perlu memotong tangan. 44°)
Aku (ash-Shabuni) berkata: Ini menunjukkan kecerdikan si baduwi dan betapa eratnya kaitan dan homoginnya permulaan ayat itu dengan akhirannya.
6) Sebagian orang kafir dalam menentang syari'at potong tangan ini mengatakan, seraya bersyair:
Satu tangan karena mencuri 500 uang emas dapat ditebus Tetapi mengapa dia dipotong hanya mencuri seperempat dinar
Ia dihukum dan kita hanya bisa diam
Kita hanya bisa minta perlindungan kepada Tuhan kami dari neraka.
Sindiran itu dijawab oleh seorang hukama':
431Lebih lanjut lihat tafsir surat an-Nur, juz II.
Menegakkan amanat itulah yang lebih mahal harganya Sungguh murahnya kerendahan khiyanat. Nalarilah kebijaksanaan Allah ini.
KANDUNGAN HUKUM
1) Kejahatan yang dapat dikategorikan sebagai penyamun. Ayat di atas jelas menunjukkan tentang hukumannya orang yang memerangi Allah dan Rasul serta merr.buat kerusakan di permukaan bumi, yaitu dengan diambil tindakan pembunuhan, disalib, dipotong tangan dan kakinya berselang seling atau diasingkan dari bumi (tempat dia tinggal). Sekarang yang menjadi persoalan - dan justru di sinilah yang dipcrselisihkan oleh kaiangan fuqaha' - yaitu siapa yang disebut memerangi itu?
a. Imam Malik berkata: Yang disebut "orang yang memerangi" itu, ialah orang yang mendatangi orang lain dengan membawa senjata dan mengancam mereka, di kota (tempat yang ramai) ataupun di udik (yang tidak berpenduduk).
b. Abu Hanifah berkata: Orang yang memerangi yang dapat dikategorikan penyamun itu, ialah orang yang membawa senjata baik di hutan belantara ataupun di udik (yang tidak berpenduduk). Adapun di kota, tidak dapat dinamakan penyamun, sebab orang yang diganggu itu masih mungkin mendapat pertolongan orang lain.
c. Syafi'i berkata: Barangsiapa mencuri besar-besaran di kota (sekarang dikenal dengan sebutan 'bromocorah' - pen.), dapat dinamakan sebagai orang yang memerangi. Baik pencuriannya itu dilakukan di rumah-rumah, di jalan-jalan ataupun di pinggiran kota. Desa dapat dihukumi kota.
d. Ibnul Mundzir berkata: Al-Qur'an ini berbicara secara umum, sehingga tidak satu pun golongan yang dapat dikeluarkasn dari jumlah ayat ini tanpa suatu alasan. Masing-masing dapat dinamakan memerangi.
Aku (ash-Shabuni) berkata: Barangkali pendapat al-Mundzir inilah yang lebih cocok, karena umumnya ayat tersebut. Sebab mungkin saja di suatu tempat ada sekelompok manusia (semisal bromocorah) yang selalu mengancam harta dan nyawa manusia, yang lebih hebat daripada penyamun di hutan belantara.
2) Apakah ada alternatif dalam hukuman-hukuman tersebut di atas ini?
Sebagian ulama' berkata: Seorang imam (kepala) boleh memberikan alternatif hukuman terhadap pelaku-pelaku kejahatan itu, dengan salah satu hukuman-hukuman yang telah ditetapkan Allah: bunuh, salib, potong tangan dan kaki berselang-seling dan diasingkan, berdasar zhahir ayat "hendaklah dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki dengan berselang- seling atau diasingkan dari bumi." Demikian pendapat Mujahid, Dhahhak, dan Nakha'i, yang juga menjadi madzhab Malik.
Ibnu 'Abbas berkata: Setiap kata "au" (atau) dalam al- Qur'an, mempunyai pengertian khiyar (memilih).
Segolongan ulama' salaf berkata: Ayat ini menunjukkan tertib hukuman yang dibagi pada bentuk tindak kejahatan. Maka barangsiapa yang membunuh dan merampas harta orang, dibunuh dan disalib. Kalau hanya merampas (mencuri) cukup dipotong tangannya dan kakinya dengan berselang-seling. Penyamun yang hanya menakut-nakuti orang yang sedang berhulu-halang, tetapi dia tidak membunuh dan tidak merampas harta orang, diasingkan dari tempat tinggalnya. Begitulah pendapat dalam madzhab Syafi'i dan dua rekan Abu Hanifah; dan itu pula yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas.
Sedang Abu Hanifah sendiri membawakan ayat ini dalam arti takhyir (boleh memilih), tetapi tidak mutlaq untuk semua yang disebut memerangi, bahkan untuk memerangi dalam arti tertentu, yaitu orang yang membunuh dan merampas harta orang lain. Dalam hal ini imam (pemimpin) boleh memberikan alternatif dalam empat hal:
a. Boleh mengambil hukuman potong tangan dan kaki berselang-seling dan membunuh.
b. Boleh mengambil hukuman potong tangan dan kaki berselang-seling dan menyalib.
c. Boleh menyalib saja, tanpa potong tangan dan kaki.
d. Boleh mengambil hukuman bunuh saja, sesuai tuntutan kemaslahatan.
Menurutnya, bunuh atau salib itu harus dipadukan dengan potong tangan, sebab kejahatannya itu berupa pembunuhan dan merampas harta, sedang bunuh itu sendiri adalah hukuman bagi pembunuhan dan potong tangan adalah hukuman bagi perampasan/pencurian. Oleh karena itu tidak masuk akal kalau hukuman dalam dua hal yang
menakutkan dan membimbangkan itu justru hanya dipotong tangannya. Begitulah pendapat Abu Hanifah.
3) Teknik hukuman salib.
Jumurul fuqaha' berpendapat, bahwa imam boleh memilih salah satu dari macarn hukuman itu, menurut zhahir ayat. Jadi menurutnya orang yang memerangi Allah dan Rasul itu boleh disalib (saja), karena firman Allah "atau disalib". Sedang teknik penyaliban, yaitu disalib dalam keadaan masih hidup, di tempatkan di jalan ray a selama sehari penuh atau selama tiga hari, untuk memberi peringatan kepada penjahat-penjahat lainnya. Setclah itu lalu ditusuk dengan tombak hingga mati. Demikian menurut pendapat madzhab Malikiyah dan Hanafiyah. Sementara satu golongan berpendapat tidak pantas disalib sebelum dibunuh, tetapi yang patut penyaliban itu dilakukan sesudah dibunuh lebih dahulu. Tujuannya supaya sebelum dibunuh itu masih berkesempatan shalat dan makan serta minum. Oleh karena itu dia dibunuh dahulu, lalu dishalati dan setelah itu baru disalib. Demikian menurut madzhab Syafi'iyah.
4) Bila si pencuri itu dipotong tangannya dan apa saja syarat- syaratnya?
"Sariqah" (mencuri) dalam bahasa ialah: mengambil harta orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi dan dengan suatu taktik (helah). Sedang menurut definisi syara' yang ditetapkan para fuqaha' yaitu: Seorang yang sadar dan sudah dewasa mengambil harta orang lain dalam jumlah tertentu secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanannya yang sudah maklum (spesial) dengan cara yang tidak dibenarkan oleh hukum dan tidak karena syubhat.
Sedang orangnya disebut "sariq", pencuri, karena dia mengambil harta itu dengan sembunyi-sembunyi. Perkataan ....
(mencuri pendengaran) - istilah Al-Qur'an untuk syetan yang ingin mengetahui rahasia catatan manusia - karena syetan itu mendengarkan catatan itu dengan sembunyi- sembunyi.
Adapun disebutkannya di situ "harus sadar dan dewasa", karena pencurian itu satu tindak kejahatan (kriminalitas) sedang apa yang disebut kejahatan itu tidak akan dianggap kaiau tidak sadar dan belum dewasa, misalnya oleh orang yang gila dan anak kecil yang justru keduanya itu tidak mukallaf, tidak dikenakan beban agama. Apa yang mereka kerjakan tidak termasuk dalam daerah taklif yang dapat dikenakan sanksi hukum. Kalau pencurian itu dilakukan oleh seorang anak kecil, maka si anak ini tidak dikenakan tindak an potong tangan. Hanya cukup dihukum ta'zir (hukuman sekedar pengajaran).
Adapun jumlah ha rang curian yang dikenakan sanksi potong tangan itu, para ahli fiqih sendiri masih berbeda pendapat:
a. Abu Hanifah dan Tsauri mengatakan: Tidak ada potong tangan, melainkan mencuri uang sebesar 10 dirham atau barang yang seharga sepuluh dirham ke atas.
b. Malik dan Syafi'i berkata: Tidak ada potong tangan melainkan mencuri seperempat dinar atau tiga dirham.
Alasan-alasan:
Abu Hanifah beralasan dengan: a. Sabda Nabi saw.:
o a^-x. cjj s y
"Tidak ada potong tangan dalam hal yang kurang dari sepuluh dirham."
b. Apa yang diriwayatkan dari Ibnu 'Abbas, Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Umar dan 'Atha\ semuanya itu mengatakan: Tidak ada potong tangan melainkan dalam sepuluh dirham.
- Malikiyah dan Syafi'iyah beralasan dengan: a) Riwayat 'Aisyah r.a., ia berkata:
"Nabi saw. pernah memotong tangan seorang pencuri (yang mencuri) seperempat dinar ke atas." (HR Abu Daud, Nasai dan Tirmidzi).432)
b) Hadits Nabi saw., ia bersabda:
432Dalam riwayat Bukhari, berbunyi sbb.: f-O tjj J^jU-Jl Ag. fi>JL.
'Tangan pencuri itu dipotong karena mencuri seperempat dinar."
"Tidak dipotong tangan pencuri, melainkan dalam seperempat dinar ke atas. " (HR Muslim).
Dan ini pula yang diriwayatkan dari Abubakar, Umar, Utsman dan Ali r.h.m.
c. Apa yang diriwayatkan dari Ibnu 'Umar, bahwa Nabi saw. pernah memotong tangan pencuri yang mencuri perisai seharga tiga dirham. (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Fadhilatusy Syekh Ali Sayis berkata: Apabila diperhatikan, bahwa hukuman-hukuman itu dapat dihindari karena syubhat, dan berhati-hati (ihtiyath) adalah suatu perkara yang harus diperberhati-hatikan, sedang larangan harus didahulukan daripada mubah, maka kiranya mungkin pendapat Abu Hanifah-lah yang harus dipakai. Sebab perisai yang dicuri yang menyebabkan tangan pencurinya dipotong di zaman Nabi saw. itu, riwayatnya berbeda-beda, ada yang mengatakan seharga tiga dirham, ada yang mengatakan seharga empat dirham, ada yang mengatakan seharga lima dirham, ada yang mengatakan seharga seperempat dinar dan ada pula yang mengatakan seharga sepuluh dirham. Sedang mengambil harga yang lebih banyak dalam hal ini akan lebih selamat, sebab harta yang sedikit itu adalah syubhat. Sedang hukuman itu dapat terhindar karena syubhat. Memberikan ukuran yang sedikit itu bisa menyebabkan terjadinya hukuman yang kurang dari sepuluh dirham. Sedang memberikan ketentuan seharga sepuluh dirham itu dapat menghindarkan hukuman terhadap pencurian yang kurang dari itu. Padahal larangan harus didahulukan daripada yang membolehkan.433)
Adapun disebutnya, bahwa barang yang dicuri itu harus dalam tempat simpanannya, karena ada sebuah hadits Nabi saw.:
"Tidak ada potong (tangan) karena (mencuri) buah-buahan yang masih bergantung (dipohonnya) dan tidak juga mencuri barang yang masih di gunung, tetapi kalau sudah disimpan oleh pembawanya atau oleh tukang tepung. maka barulah ada potong tangan itu dalam barang yang mencapai seharga perisai. " (HR Malik dalam al-Muwaththa' dari Abdullah bin Abdurrahman al-Makki).
433 Tafsir al-Ahkam oleh Ali Sayis 2:189.
Sedang yang dimaksud tempat penyimpanan itu lazimnya tempat yang biasa dipakai untuk menyimpan barang, seperti rumah, kemah dan tenda yang dihuni oleh manusia untuk melindungi barang-barang mereka. Kadang-kadang yang dimaksud tempat penyimpanan itu ialah si penjaga barang itu sendiri, yang sengaja mengawasi barangnya itu. Maka jika barang itu dicuri dari si penjaga tersebut, si pencurinya harus dipotong
"Aku tidur di masjid yang di dekatku (kuletakkan) bajuku seharga 30 dirham. Lalu datanglah seorang laki-laki menyeret pakaian itu dariku, lalu kutangkap laki-laki itu dan kubawa dia ke tempat Nabi saw., kemudian Nabi menyuruhnya supaya dipotong (tangannya). Maka aku bertanya: Apakah akan engkau potong (tangan)nya hanya karena mencuri (barang seharga) 30 dirham? Kalau begitu akan kujual barangku itu kepadanya dengan pembayaran menyusul. Nabi menjawab: Mengapa ini tidak sebelum engkau serahkan kepadaku? (HR Abu Daud).
Adapun diharuskan tidak ada syubhat, karena ada hadits Nabi saw. yang mengatakan:
"Hindarilah hukuman-hukuman karena syubhat (dengan) apa
yang kamu mampu. "
Hadits ini sudah sangat populer seperti barang yang sudah otomatis dimengerti. Oleh karena itu seorang hamba tidak dijatuhi hukuman potong tangan karena mencuri harta tuannya, ayah karena mencuri harta anaknya, kawan kongsi mencuri harta kawan sekongsinya, orang yang berhutang mencuri harta dari orang yang dihutanginya. Semuanya itu karena ada syubhat.
5) Batas potong tangan.
Firman Allah "maka potonglah tangan mereka" itu, jelas menunjukkan wajib dipotong tangan si pencuri; dan para fuqaha' pun telah sepakat, bahwa tangan yang dipotong itu ialah tangan yang kanan, karena satu qira'ah Ibnu Mas'ud mengatakan:
"Maka potonglah kanan-kanan mereka."
Kemudian para fuqaha' juga berbeda pendapat tentang batas potong tangan itu:
- Fuqaha' Amshar mengatakan: Potong tangan itu dari batas pergelangan, bukan dari batas siku, tidak juga dari batas ketiak.
- Al-Khav/arij mengatakan: Batas potong tangan itu sampai ketiak.
- Satu golongan berpendapat: Batas potong tangan itu hanya jari-jarinya saja.
Adapun alasan jumhur ialah riwayat yang mengatakan, bahwa Rasulullah saw. pernah memotong tangan pencuri dari batas pergelangan. Begitu juga riwayat dari Ali dan 'Umar ibnul Khaththab yang juga pernah memotong tangan pencuri sampai batas pergelangan. Dan inilah yang harus diutamakan.
Tetapi kalau pencuri itu mengulangi mencuri lagi, maka berdasar kesepakatan fuqaha', dia harus dipotong kakinya yang kiri, karena ada satu riwayat dari Nabi saw., ia bersabda:
"Apabila ada seorang pencuri mencuri, maka potonglah tangannya, kemudian apabila dia mengulangi lagi, maka potonglah kakinya yang kiri."
Juga fi'liyah 'Ali dan 'Umar yang pernah memotong tangan pencuri dan kemudian kakinya yang kiri. Peristiwa itu disaksikan oleh para shahabat dan tidak seorang pun yang menentangnya. Maka peristiwa itu dinilai sebagai ijma'.
Dan kalau dia mengulangi lagi yang ketiga kalinya, maka menurut Hanafiyah dan Hanabilah tidak perlu dipotong, tetapi barang yang dicuri itu harus menjadi tanggungan pencuri dan dia dipenjarakan sampai taubat. Tetapi menurut Syafi'iyah dan Malikiyah, apabila dia mencuri lagi yang ketiga kalinya, maka dia harus dipotong tangannya yang kiri, dan kalau mengulangi lagi yang keempat kalinya, maka dipotonglah kakinya yang kanan.
Diriwayatkan, bahwa Abu Hanifah mengatakan: Sesungguhnya aku merasa malu kepada Allah membiarkan pencuri itu tanpa tangan yang justru terpakai untuk makan, dan tanpa kaki yang justru buat jalan. Pendapat inilah yang juga diriwayatkan dari Ali, Umar dan beberapa shahabat lainnya.
HIKMATUT TASYRP
Islam, dengan syari'atnya yang abadi itu akan selalu melindungi kehormatan manusia, sehingga dianggapnya perbuatan memusuhi jiwa manusia, merampas harta dan menodai nama baik manusia itu, sebagai kejahatan.yang sangat berbahaya yang harus dihukum dengan setimpal. Kejahatan berupa pembunuhan dan merampas hak orang serta mengganggu ketenangan dengan pencurian harta, kesemuanya itu adalah kejahatan yang perlu diberantas dengan tegas dan keras, sehingga tidak ada lagi penjahat-penjahat di bumi ini yang akan membuat kerusuhan, dan tidak ada lagi perbuatan-perbuatan yang mengganggu keamanan seseorang dan masyarakat.
Di sini Islam meletakkan berbagai hukuman terhadap penjahat-penjahat itu, seperti: hukuman bunuh, salib, potong tangan dan kaki, dan pengasingan. Sedang untuk pencuri itu sendiri diberinya sanksi potong tangan.
Hukuman-hukuman ini semua dinilai sebagai usaha mengikis habis kejahatan itu seakar-akarnya, dan diberantasnya kejahatan itu dari buaiannya, sehingga manusia akan hidup dengan penuh keamanan, ketenangan dan ketenteraman. Tetapi musuh-musuh kemanusiaan menganggap besar dan berat atas pembunuhan terhadap pembunuh dan memotong tangan pencuri. Mereka beranggapan, karena mereka itu rela menyandang sakit jiwa. Hukuman seperti itu tidak layak bagi masyarakat modern yang selalu berusaha untuk membentuk kehidupan yang bahagia dan terhormat. Mereka ini mengharapkan kasih sayang masyarakat kepada penjahat, tetapi tidak meminta kasih sayang dari penjahat terhadap masyarakat, yang justru penjahat itu telah merenggut nyawa manusia dan mengganggu ketenteraman masyarakat, sehingga masyarakat selalu dicekam oleh rasa takut, takut keamanan dirinya, hartanya dan nyawanya.
Pikiran-pikiran seperti ini sama sekali tidak rasional dan tidak logis. Sehingga di beberapa negara banyak terdapat gang- gang yang merenggut nyawa manusia, menumpahkan darah dan merampok harta manusia. Kejahatan demi kejahatan teras bermaharajalela, keamanan terganggu, masyarakat menjadi rusak dan rumah-rumah penjara penuh dengan penjahat dan penyamun.
Yang sangat mengherankan justru orang-orang Barat yang menganggap kekakuan dan kekerasan hukum Islam bagi masyarakat modern sekarang ini, sehingga dihapuslah hukuman qishash, zina dan potong tangan dan seterusnya itu, justru mereka sendiri berbuat sesuatu yang dapat memusingkan kepala dan mendebarkan jantung. Peperangan yang mereka kobarkan, kebiadaban yang mereka lakukan seperti pembunuhan atas diri orang-orang yang tak berdosa, anak-anak
dan orang perempuan serta rumah-rumah tumbang bersama penghuninya itu, semua dalam pandangan mereka tidak dianggap sebagai kebengisan. Kiranya sungguh tepat sekali apa yang diungkapkan seorang penyair dalam melukiskan logika Barat itu sebagai berikut:
O 1 . ', „ s A/e << J> »
Membunuh seorang di hutan belantara dianggap suatu dosa yang tidak terampuni. Tetapi membunuh suatu bangsa yang sedang dalam kedamaian dianggap suatu masalah yang perlu dipikirkan.
Betul, bahwa Islam mensyari'atkan hukuman potong tangan bagi pencuri dan itu adalah hukuman yang kejam, tetapi justru dengan itu akan melindungi harta dan nyawa manusia. Tangan jahat yang dipotong itu adalah anggota yang menjadi sumber penyakit, karena itu tidak patut tangan seperti itu dibiarkan qienularkan penyakit ke seluruh badan. Tetapi sungguh akan lebih baik kalau anggota seperti itu dihabiskan saja supaya seluruh badan bisa selamat. Satu tangan saja sudah cukup menjamin untuk membuat penjahat-penjahat itu grogi serta menahan permusuhan dan membuat masyarakat dalam situasi aman dan tenteram. Kalau begitu mana yang lebih dapat melindungi jiwa, harta dan nyawa. Syari'at mereka ataukah syari'at Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu itu?
430) Tafsir al-Qurthubi 6:88.
432) Yang sema'na dengan mi dinwayatkan Musl.m dan Bukhan.
435) Menurut hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi mengusap "dua tapak tangannya"; dan inilah bayan/penjelasan atas ayat tayammum itu; dan ini pula yang menjadi pendirian kami. (Lihat BM H:139-140) (Pen.)
436) Hadits ini mauquf dan tidak sah. (Lihat Nailul Authar 1:332, terjemahan Butughul Maram oleh A. Hassan, 1:100). Pen. 437) Tafsir al-Bahrul Muhith, oleh Abu Hayyan 3:290.
438) Kissah ini lebih lengkap, dapat dibaca di Bukhari dan Muslim. 440) Tafsir ar-Razi 11:229; Ibnul Jauzi 2:254.