BAB I PENDAHULUAN. Pajak merupakan salah satu sektor perekonomian yang menjadi pilihan

Download (0)

Teks penuh

(1)

1

Pajak merupakan salah satu sektor perekonomian yang menjadi pilihan utama sumber penerimaan negara. Pajak sebagai sumber utama penerimaan negara perlu terus ditingkatkan sebagai modal pembangunan nasional serta dilaksanakan dengan kemampuan sendiri berdasarkan prinsip kemandirian (Ardani, 2010).

Prinsip kemandirian dalam pembiayaan pembangunan belum mampu dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Klungkung karena sumber pembiayaan pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan PAD. Dalam APBD kabupaten Klungkung tahun anggaran 2009 sampai dengan tahun anggaran 2014, realisasi PAD lebih rendah dibandingkan dengan realisasi Dana Perimbangan. Dana perimbangan merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang terdiri atas Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus (UU No 33 Tahun 2004). Bagian Penjelasan UU Nomor 33 Tahun 2004 menuliskan bahwa kebijakan keuangan daerah diarahkan untuk meningkatkan PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah yang dapat dipergunakan oleh daerah dalam rnelaksanakan pemerintahan dan pembangunan daerah sesuai dengan kebutuhannya guna memperkecil ketergantungan dalam mendapatkan dana dari pemerintah tingkat atas. Realisasi

(2)

pendapatan dalam APBD Pemerintah Kabupaten Klungkung disajikan dalam Tabel 1.1.

Tabel 1.1.

Realisasi Pendapatan Pemerintah Kabupaten Klungkung (Dalam Jutaan Rupiah)

Jenis

Pendapatan/Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Pendapatan Asli

Daerah

29.566

31.329

40.734

48.560

67.400

98.836 Pendapatan

Transfer

398.584

414.182

460.867

534.935

643.156

718.965 Lain-Lain

Pendapatan Yang Sah

10.265

1.554

1.265

6.735

847

9.226

Total

438.416

447.067

502.868

590.232

711.405

827.029 Sumber: Dinas PPKA Kabupaten Klungkung, 2015.

Data Tabel 1.1. menunjukkan rata-rata realisasi penerimaan PAD adalah 9%

terhadap total realisasi pendapatan untuk periode tahun anggaran 2009-2014.

Realisasi PAD tersebut merupakan kontribusi dari realisasi empat jenis PAD yang dalam APBD Pemerintah Kabupaten Klungkung seperti tersaji dalam Tabel 1.2.

Tabel 1.2.

Realisasi PAD Pemerintah Kabupaten Klungkung (Dalam Jutaan Rupiah)

Jenis PAD/Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Pajak Daerah 2.052 3.683 5.017 3.480 13.234 19.654 Retribusi Daerah 19.108 20.122 26.782 0 10.597 22.441 Hasil Pengelolan

Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan

3.302 4.166 5.157 5.962 8.595 8.093 Lain-Lain PAD yang

sah 5.104 3.358 3.778 39.118 34.974 48.648

Total 29.566 31.329 40.734 48.560 67.400 98.836 Sumber: Dinas PPKA Kabupaten Klungkung, 2015

(3)

Data Tabel 1.2 menunjukan rata-rata realisasi penerimaan pajak daerah terhadap total realisasi PAD untuk periode tahun anggaran 2009-2014 adalah 15%

dan hanya 1% dari total realisasi pendapatan dalam APBD tahun anggaran 2009- 2014. Nilai tersebut sangat kecil dibandingkan dengan rata-rata kontribusi pajak terhadap total pendapatan negara dalam APBN tahun anggaran 2010-2014 yakni 73.7% (www.fiskaldepkeu.go.id).

Pasal 2 Ayat (2) UU Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menyebutkan bahwa terdapat 11 jenis pajak kabupaten/kota.

Pemerintah kabupaten/kota diberikan kewenangan penuh untuk menggali 11 jenis obyek pajak daerah tersebut untuk dijadikan sumber penerimaaan berupa pajak daerah sebagai sumber pembiayaan mandiri pembangunan di daerah sesuai dengan konsep pelaksanaan otonomi daerah dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Salah satu jenis pajak daerah yang memiliki potensi besar di kabupaten Klungkung adalah pajak hotel. Potensi ini muncul karena keberadaan usaha hotel di pulau Nusa Lembongan dan Nusa Penida sebagai bagian wilayah Kabupaten Klungkung. Pulau Nusa Lembongan menjadi salah satu dari 16 Kawasan Pariwisata Prioritas yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali. Berdasarkan data BPS Kabupaten Klungkung (2014), kunjungan wisatawan ke Kabupaten Klungkung pada periode tahun 2011 sampai dengan 2013 secara berturut-turut adalah 269.814 orang, 280.871 orang, dan 242.612 orang dengan rata-rata menginap di hotel atau penginapan untuk wisatawan mancanegara secara berturut-

(4)

turut adalah 2,7 malam, 2,35 malam dan 4,05 malam. Data dari Bidang Pajak Daerah dan Pendapatan Lainnya di Dinas PPKA Pemerintah Kabupaten Klungkung bahwa per 31 Desember 2014 terdapat 148 hotel di kabupaten Klungkung dengan 98% usaha hotel tersebut berlokasi di pulau Nusa Lembongan dan Pulau Nusa Penida.

Data lain yang menunjukan tentang potensi pajak hotel di Kabupaten Klungkung adalah hasil pemeriksaan khusus BPK RI Perwakilan Propinsi Bali terhadap PAD tahun anggaran 2010 dan 2011. Hasil utama terhadap pemeriksaan obyek pajak hotel dan pajak restauran tersebut (LHP BPK RI Nomor 367/S/XIX.DPS/12/2012) adalah:

1) Pajak Hotel dan Pajak Restauran tahun 2010 dan 2011 kurang ditetapkan minimal sebesar Rp1.935.349.835,-

2) Penetapan Pajak secara jabatan tanpa dasar perhitungan yang memadai sehingga potensi pendapatan pajak hotel dan restaurant tahun anggaran 2010 dan 2011 tidak dapat diterima minimal sebesar Rp1.744.289.912,-

Secara umum, hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa terjadi penyimpangan sebesar 59,46% pada realisasi pendapatan pajak daerah dalam APBD Pemerintah Kabupaten Klungkung TA 2010 serta sebesar 74,39% pada realisasi pendapatan pajak daerah dalam APBD Pemerintah Kabupaten Klungkung TA 2011.

Penyimpangan pajak tersebut merupakan potensi penerimaan daerah dari sektor pajak hotel dan pajak restoran.

Temuan lain dalam hasil pemeriksaan BPK RI adalah terdapat 74 Hotel/Restauran yang belum terdata sebagai wajib pajak serta 95 hotel/restauran

(5)

belum memiliki izin operasional (LHP BPK RI Nomor 367/S/XIX.DPS/12/2012).

Data tersebut menunjukan bahwa tingkat kesadaran pengusaha hotel/restoran untuk mendaftar sebagai wajib pajak hotel masih rendah yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap penerimaan pajak daerah.

Penelitian Ikhsan (2007) menyatakan bahwa perolehan penerimaan pajak tidak hanya disebabkan oleh usaha-usaha fiskus dalam menggarap potensi pajak namun juga karena peran serta masyarakat wajib pajak dalam memenuhi kewajiban membayar pajak berdasarkan ketentuan perpajakan. Chau dan Leung (2009) menuliskan bahwa kepatuhan pajak yang tidak meningkat akan mengancam upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Al-Mamun dkk. (2014) menuliskan bahwa kesadaran masyarakat untuk mematuhi ketentuan perpajakan sangat penting karena hasil sikap patuh tersebut akan kembali kepada masyarakat itu sendiri.

Menurut James dkk. (2004), peran serta aktif masyarakat untuk melaksanakan kewajiban perpajakan dapat berupa sikap patuh terhadap ketentuan perpajakan. Penelitian Troutman (1993) memberikan bukti empiris bahwa terdapat hubungan signifikan antara sikap dengan kepatuhan wajib pajak.

Kesadaran masyarakat untuk menjadi wajib pajak yang patuh sangat erat terkait dengan persepsi masyarakat tentang pajak (Dharmawan, 2013). Kebijakan atau kegiatan yang bisa menimbukan persepsi, bahwa pajak itu adil bagi semua orang akan sangat membantu menyadarkan wajib pajak untuk memenuhi kewajiban untuk membayar pajak (Mc Mahon, 2001). Menurut Robbins (2006:97), persepsi adalah kesan yang diperoleh oleh individu melalui panca indera kemudian di

(6)

analisa (diorganisir), diintepretasi dan kemudian dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna. Persepsi mempunyai sifat subjektif, karena bergantung pada kemampuan dan keadaan dari masing-masing individu, sehingga akan ditafsirkan berbeda oleh individu yang satu dengan yang lain. Persepsi merupakan proses perlakuan individu yaitu pemberian tanggapan, arti, gambaran, atau penginterprestasian terhadap apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan oleh indranya dalam bentuk sikap, pendapat, dan tingkah laku atau disebut sebagai perilaku individu (Haryanto, 2015).

Persepsi-persepsi tersebut memiliki dampak berupa pembentukan sikap, perilaku dan tanggapan pribadi (Sunaryo, 2004). Pembentukan sikap dan perilaku terhadap pajak akibat pembentukan persepsi tentang pajak juga dialami oleh wajib pajak. Mas’ut (2004) menuliskan bahwa bentuk perilaku masyarakat terhadap pajak adalah patuh atau kecenderungan masyarakat untuk menghindari kewajiban perpajakan Penelitian Purnomo (2008) menemukan bahwa persepsi wajib pajak tentang sanksi berpengaruh positif signifikan pada kepatuhan perpajakan. Wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakan bila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya (Jatmiko, 2006 dan Mustikasari, 2013). Nugroho (2006) menuliskan bahwa wajib pajak akan mematuhi kewajiban perpajakannya dengan memandang sanksi perpajakan yang ada lebih banyak merugikan wajib pajak. Menurut Mardiasmo (2009:39), sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) dituruti/ditaati/dipatuhi, bisa dikatakan sanksi perpajakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan. Menurut Ali dkk.

(7)

(2001), sanksi perpajakan dan audit adalah suatu kebijakan yang efektif untuk mencegah ketidakpatuhan wajib pajak.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka akan dilakukan penelitian tentang kepatuhan wajib pajak hotel di kabupaten Klungkung dengan menggunakan persepsi wajib pajak hotel tentang sanksi administrasi sebagai variabel pengaruhnya. Penelitian ini menggunakan kecerdasan emosional dari wajib pajak hotel sebagai variabel moderasi berdasarkan teori persepsi dari Gibson (1996) dalam Notoatmodjo (2005) yang menyatakan bahwa emosi merupakan salah satu faktor internal dari individu yang mempengaruhi pembentukan persepsi.

Penggunaan emosi secara cerdas, dengan maksud membuat emosi tersebut bermanfaat dengan menggunakannya sebagai pemandu perilaku dan pemikiran sedemikian rupa akan memberikan manfaat yang utama merupakan definisi kecerdasan emosional (Emotional intelligence) menurut Weisinger (2010) dalam Kennedy (2013). Berdasarkan teori persepsi dan teori kecerdasan emosional, persepsi sebagai variabel independen memiliki hubungan dengan kecerdasan emosional sebagai variabel moderasi. Dengan demikian, diduga kecerdasan emosional memperkuat hubungan persepsi wajib pajak tentang sanksi administrasi dengan kepatuhan wajib pajak hotel di Kabupaten Klungkung, namun perlu dibuktikan lebih lanjut secara empiris.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan dalam sub bab latar belakang, dirumuskan pokok masalah yang menjadi fokus penelitian yakni:

(8)

1) Apakah persepsi tentang sanksi administrasi berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak hotel di Kabupaten Klungkung?

2) Apakah kecerdasan emosional memperkuat hubungan persepsi tentang sanksi administrasi dengan kepatuhan wajib pajak hotel di Kabupaten Klungkung?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris tentang:

1) Pengaruh persepsi tentang sanksi administrasi terhadap kepatuhan wajib pajak hotel di Kabupaten Klungkung.

2) Pengaruh kecerdasan emosional terhadap hubungan persepsi tentang sanksi administrasi dengan kepatuhan wajib pajak hotel di kabupaten Klungkung.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:

1) Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi terhadap pengembangan literatur teori kepatuhan (compliance theory), teori persepsi dan teori kecerdasan emosional.

2) Manfaat praktis

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk Pemerintah Kabupaten Klungkung dalam penetapan dan penerapan sanksi administrasi terhadap wajib pajak hotel.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di