• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH RAP AT PEMBICARAAN TINGKAT III RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG. PEI\tiBUATAN DAN PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL RAPATKERJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RISALAH RAP AT PEMBICARAAN TINGKAT III RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG. PEI\tiBUATAN DAN PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL RAPATKERJA"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH RAP AT

PEMBICARAAN TINGKAT III RANCANGAN UNDANG-UNDANG

TENTANG

PEI\tiBUATAN DAN PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

RAPATKERJA

MASA PERSIDANGAN IV TAHUN SIDANG 1999/2000 RAPATKERJA

RAPATKE TANGGAL

: 3 :3

: 6 Juli 2000

BAGIAN SEKRETARIAT KOMISI I DPR-RI

SEKRETARIAT JEINDERAL DPR-RI /

(2)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

REPUBLIK INDONESIA

RISALAII RAPAT

RAP AT KERJA PANITIA KHUSUS PROSES PE:MBAHASAN R..-'\NCANGAN UNDJ\NG-UND.-'\NG

TEN TANG

PE!vffiUATA.t"l DAN PENGESAHAN PERJANJIAN J1-.11ERNASIONAL

Tahun Sidang Maqa Pentidangan Rapat

Jenis Rapat Hari I tangga.l Pukul Tempat KetuaRapat Sekrelaris Rapal Ac ara

Iladir

At~ggota DPR -RI ;

:1999/2000 :IV

: kc-3

: Rapat Ket:ia

: Kamis, 6 Juli 2000 : 9.00 s.d. 16.00 WIB

: Rua.ng Kaca Gedun,g Nustmtara 'NIPRrDPR-RI : Drs. Yasril Ananta Baharuddin

: Ny. Siii Kaemi, SH.

: Pen•baha.un Ting.kat

m

R tIT J ten

tang

Pemhuatan dan Penges.ahan Perjanjian Intemas.ional

1. Drs. Yasril Ananta Daharuddin, 2. RK. Sembiring l\feliala, 3. FX. Feny Tinggogoy, 4.

Prof.

Dr ..

Astrid S. Susanto, 5. Sophan Sohiaan, 6. Pennadi, SH., 7. Pataniari Siahaan, 8.

Nuah Tor~ 9. Paulus Widiyauto., 10. Abdull\tladjid, 11. Annis Has~ MA.,lO. Dra.

Susaningtyas, NH., 11. Drs. Jacob Tobing. MPA., 12. lJr. H. Happy Bone Zulkarnaen.

13. Drs. Hajriyaanto Y. Thoharl? I\iA., 14. Drs. Setya Novanto, 15. Ibrahim Am.bong, 1viA., 16. Prof. Dr. H. Anwar Arifm, S.IP, DIDS, 11. Drs. H. Nadhwr Muhamllla(~ MA., 18. Drs. H. AR. Ra.o;;yidi, 19. Ny. Hj. AH1yall Attliny, SH., 20. H. Achtnad Kant1ani, SH., 21. Drs. Effendy Choirie, s.AG., 22. Syarief UsnW1 Yahya, 23. Drs. HertlWl L. Datuk Rangkayo D., 24. Masha~ 25. Drs. Djoko Susilo, MA., 26. Sri Il.ardjendro, 27 II.

Ahmad Suma:rgono, SE., 28. Prof. Dr. KH. Muhibbudin Waly, MA., 29. Drs. KH.

AsnaV~ri I .atiet~ 30. Sutradara C'Tintings

Pemerintah : Menteri Luar Negeri beserta

.i:.\iarannya.

(3)

KETUA RAPAT (DRS. YUSRIL A. BAHARUDDIN) Yang terhormat Anggota Komisi I DPR-RI;

Yang terhormat Saudara Menteri Luar Negeri beserta segenap Jajarannya.

Assalamu•alaikum Warakhmatullahi Wabarakatuh.

Selamat pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semuanya.

Sesuai dengan jadual Rapat Kerja yang telah kita sepakati bersama maka pada hari ini tanggal 6 Juli 2000 ini kita mulai pada pukul 10.00 seharusnya. namun demikian sebagaimana yang kami informasi- kan sedang ada Rapat Paripurna dan toleransi kita terlambat maksimal memang setengah jam. Oleh karena itu setelah diiformas- ikan oleh pihak Sekretariat bahwa jumlah yang hadir sudah 30 orang. maka berarti korum sesuai yang diamanatkan oleh Tata Tertib telah dipenuhi dan Rapat Kerja ini menjadi sah dan kami nyatakan dibuka dan terbuka

sore kita cabut.

untuk umum serta skorsing kemarin

Ketuk Palu F-PDIP (PAULUS WIDIYANTO)

Bapak Ketua, intrupsi sebentar membaca risalah rapat ki ta yang sudah dibagikan kehadiran PDI Perjuangan tidak ada dalam

risalah rapat. kami minta klarifikasi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik terima kasih dari Fraksi PDI Perjuangan dari pihak Sekretariat semen tara belum ada di tempat tapi ki ta pastikan bersama karena ki ta saksi hidup semuanya bahwa PDI P hadir dan itu bisa dari absensi kemarin pak diulangi, mohon maaf atas nama sekretariat atas kekurangan yang ada. terima kasih pak.

Balk kami lanjutkan Bapak Ibu sekalian, sekarang kita sudah memasuki DIM nomor 27 Pasal

s.

sebelum sampai ke situ kami men-

.1

(4)

gingatkan bahwa hari ini adalah hari terakhir dari Rapat Kerja di tingkat Plena ini yang telah dialokasikan bagi kita sekalian.

Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kerjasama dan partisipa- si saudara-saudara, pengertiannya ~;.hususnya agar Rapat Kerja ki ta bisa selesai sampai dengan sore hari sesuai jadual Tata Tertib, sebab kalau tidak ki ta terpaksa harus lanjutkannya pada malam hari. dan kami tahu persis hal ini tentu tidak ki ta inginkan kalau tidak terpaksa. Oleh karena i tu mohon agar yang sudah tetap di sini i tu hanya membc2rikan kesempatan kepada fraksi pengusul untuk berbicara.

Baik kami lanjutkan nomor DIM 27 Pasal 5 sesuai yang ada di RUU ayat (1) Pembuatan perjanjian internasional dilakukan melalui tahap penjajagan, per·undingan, s:;>erumusan naskah, penerimaan, dan penandatanganan. Dar·i fraksi-fraksi terdapat usul perubahan dan pertanyaan yang disampaikan oleh Fraksi POI, Fraksi Reformasi, Fraksi TNI/Polri, Fraksi PBB dan Fraksi POKB.

Yang pertama kami persilakan kepada Fraksi PDIP.

F-PDIP (PAULUS WIDIYANTO) :

Terima kasih saudara pimpinan, saudara Menteri dan seluruh Jajarannya. Dari Fraksi POI Perjuangan ada usulan perubahan atau penambahan tetapi dalam draft DIM ini ada yang keliru mengetiknya sehingga saya bacakan usulan kami dan ini tingkat sekedar penega- san dari draft Pasal 5 kami bacakan pembuatan perjanjian interna- sional dilakukan melalui tahap pe1njajagan, perundingan, perumusan naskah, pernerimaan, dan penandatanganan oleh lembaga a tau de- partemen terkai t. Itu usulan dari Fraksi POI Perjuangan untuk menegaskan apa yang sudah kita bicarakan kemarin.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari Fraksi PDIP, kami lanjutkan dari Fraksi Reformasi Pak Joko Fraksi Reformasi.

F- REFORMASI (DJOKO SUSILO) :

Terima kasih pak ketua, ini kami dari Fraksi Reformasi

(5)

mengajukan usul sedik.i t jadi ba.gairnana kalau bisa dibuat pemisa- han pada masing-masing taha.p, siapa yang bertugas melakukan perjanjian internasional tersebut. Misalnya tahap penjajagan dilakukan oleh pejaba.t yang terkait dengan bidang perjanjiannya, begitu juga pada tahap perundingan, perumusan naskah. Namun pada saat penandatanganan harus dilakukan oleh menteri sebagaimana dikemukakan pada Pasa.l 1.4, tapi nanti tolong bagaimana teknisnya

kita bisa lebih detil Terima kasih pak ketua.

KETUA RAPAT :

Terimas kasih pembicara dar:i Fraksi Reformasi, kami persila- kan selanjutnya dari Fraksi TNI/Polri.

F-TNI/POLRI (SRI HARDJENRO) :

Terima kasih pimpinan, Bapak Ibu sekalian. Pasal 5 Fraksi TNI/Polr·i mengusulkan ada perubahan dihapus dan diganti dengan ketentuan pejabat yang berwenang menandatangani perjanjian inter- nasional, sehingga SE!telah pe!rubahan Pasal 5 menjadi perjanjian internasional ditandatangani oleh menteri atau pejabat lain yang mendapat surat kuasa. Mengapa ini Fraksi usulkan karena Pasal 5 ayat (1) itu kalau kita baca aslinya merupakan suatu penjelasan, sehingga tidak tepat untuk dijad:ikan pasal dari UU ini.

Demikian terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih kami lanjutkan dari Fraksi PBB, karena belum hadi r maka dari oh dari Fraksi PDKB juga belum hadi r. Baiklah atas usulan dan pertanyaan tad:i kami persilakan sekarang dari pemerintah untuk menanggapi.

PEMERINTAH (MENLU)

Terima kasih bapak pimpinan, sebelum kami menanggapi usul- usul yang disampaikan ada usul ~~merintah yang ingin kami sampai- kan di sini masukan paragraf berikut ini pada bagian penjelasan pasal 5. Penjajagan merupakan tahap awal dari kedua pihak yang

(6)

berunding mengenai ke,mungkinan dibuatnya suatu perjanjian inter- nasional. Perundingan adalah tahap kedua untuk membahas substan- si dan masalah-masalah teknis yang akan disepakati dalam perjan- jian inter'nasional. Perumusan naskah disebut juga drafting untuk membuat rancangan suatu perjanj:ian internasional. Peneri- maan adalah tahap selanjutnya setelah kesepakatan tercapai diantara para pihak. Dalam perundingan bilateral kesepakatan atas naskah awal hasil perunding.an dapat disebut penerimaan yang biasanya dilakukan dengan membubuhkan inisial atau paraf pada naskah perjanjian internasional oleh masing-masing ketua delega- si. Dalam perundingan multilateral proses penerimaan acceptance, approval biasanya merupakan tindakan pengesahan sautu negara pihak atas perubahan perjanjian internasional. Penandatanganan : merupakan tahap akhir perundingan bilateral untuk melagalisir suatu naskah perjanjian internas:ional yang telah disepakati oleh kedua pihak. Untuk perjanJ~an multilateral penandatanganan perjanjian inter·nasional bukan merupakan pengikatan diri sebagai nagar pihak, keterikatan terhadap perjanjian internasional dapat dilakukan melalui pengesahan (ratification/acceptance/approval).

Adapun tanggapan tentang usulan-usulan tersebut saya persilakan Staf Ahli.

KETUA RAPAT :

Baik sebelum masuk ke tangg.apan pemerintah yang dimaksudkan Saudara Menteri Luar Negeri tadi adalah yang kita masukan yang dibacakan itu di dalam Penjelasan Pasal 5 ayat (1) begitu. yang sebelumnya ini 'kan cukup jelas. Ya jadi kita masukan yang baru.

kalau boleh pak anunya draftnya nanti ki ta dapatkan, ini 'kan Pasal 5 ayat (1) cukup jelas di buku ini, ini tadi di tambahkan dimasukan di Penjelasan ada yang baru dari pemerintah. oleh karena itu kami sudah kami mintal<.an anunya pak draft yang dibaca- kan oleh Bapak Menteri Luar Negeri.

Baik selanjutnya mengenai tanggapan terhadap usul itu.

PEMERINTAH :

Terima kasih, tanggapan pemerintah atas usulan Fraksi PDIP

4

(7)

~'·=tit.u untuk nleiV:'Imb.?..h kata.kata oleh leiObaga atau departernen ter- kait setelah pada akhir kctiimat, kiranya kurang tepat karena akan mengubah pengertian pasal ini yang membagi tahap-tahap perjanjian inetrnasional. Pengertian masing-masing tahap akan dumasukan dalam bagian penjelasan sebagaimana tadi diusulkan oleh Bapak Menteri Luar Negeri.

Mengenai usulan Fraksi Reformasi, juga membuat pemisahan mengenai pejabat yang di tugaskan pada tiap tahap pembuatan perjanjian internasional ki ranya kurang tepat karena pacta dasarnya tahap- tahap tersebut dilakukan oleh delegasi RI yang dapat saja terdiri dari berbagai pejaba t ins tansi terl<ai t. Pernbagian tugas dalam tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional tersebut biasanya diser·ahkan kepad delegasi RI baH; pacta perundingan yang si fatnya teknis maupun politis. Penerimaan dan penandatanganan juga dapat di lalwkan oleh pejabat yang berwenang selain menteri asalkan memperoleh surat kuasa. Mengenai usulan Fraksi TNI/Polri untuk mengubah ke t.entuan pasal ini menjadi per janj ian internasional ditandatangani oleh menteri atau pejabat lain yang mendapat sudat kuasa. kiranya juga kurang tepat karena pasal ini mengatur menge- nai tahap-tahap pembuatan perjanjian internasional dan bukan penandatanganannya oleh pejabat yang berwenang.

Mengenai usulan Fraksi PBB untuk menambahkan kata ratifikasi dan registrasi pada akh.ir kalimat pasal ini kiranya juga kurang tepat karena proses pembuatan perjanjian internasional yang lazirn adalah sebagaimana disebutkan dalam ayat ini. Ratifikasi dan t·egi s trasi tidak met·upakan bagian dalam pembua tan, tetapi masuk da1am bab III yang mengatur tentang pengesahan dan ratifikasi dan regist.rasi ini mernang merupakan sesua.tu yang sesuai dengan hukum int.ernasional harus dilakuJ<an oleh suatu negara yang melakukan su-3 tu pengesahan tet'h.::l.dap per janj ian internasional.

Te rima kasih.

KETUA RAPAT : Dari PDKB pak.

(8)

PEMERINTAH :

Usul dari PDKB untuk melibatkan DPR dalam ayat ini kiranya kurang tepat karena adanya pembagian wewenang antara lembaga legisla ti f dan eksekut~i f seperti telah ki ta jelaskan pada waktu membahas Pasal 2 di at.as.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, demikianlalh tanggapan pemerintah terhadap usul peru bahan dan pertanyaan dari fraksi-fraksi yang mengusulkan tadi sebagai tahap selanjutnya taha.p a.khir, mungkin ada pendapat lagi dari fraksi yang ingin tadi mengusulkan.

Saya persilakan dari Fr·aksi PDIP yang pertama, saya kira ini sudah masuk tadi, silakan dari Fraksi PDIP.

F-PDI (SOPHAN SOPHIAAN) :

Terima kasih Sauclar-a Pimpinan. setelah mendengarkan penjela- san dari pemerintah buat kami cukup jelas dan cukup bisa dimen- gerti. Oleh karena itu kami mencabut usulan kami ini.

KETUA RAPAT :

Baik terima kasih, karena itu sudah dimasukan di dalam penjelasan nanti. Kemudian dari Fraksi Reformasi saya kira.

F-REFORMASI (DJOKO SUSILO) :

Kami juga bisa me1ner·ima penjelasan pemerintah terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih Fraksi Reformasi, dar·i Fraksi TNI/Polri pak.

F-TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO) :

Terima kasih, da.ri penjelas.an pemerintah tentang ayat ini cukup jelas, sehingga saran saya akan saya cabut kembali.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, selanj utnya dari PBB tapi PBB sudah sejalan

(9)

tadi dn belum hadir, kemudian dari PDKB saya kira.

F-PDKB (PROF. ASTRID S) :

Dapat menerima dar·i pemerintah, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, Bapak ibu sekalian demikianlah pembahasan dari Pasal S ayat (1) ini dengan demikian nomor DIM 27 Pasal 5 ayat (l) kita terima seperti apa yang ada di sini di dalam RUU dan telah kami bacakan di tam bah lagi dengan penj elasan yang tadi di tambahkan disampaikan oleh pemerintah dalam hal ini Menteri Luar Negeri.

Dapat kita setujui ?

Ketuk Palu

Kami lanjutkan dengan nomor DIM 28 yakni Pasal 5 ayat (2) dalam RUU Penandatanganan suatu perjanjian internasional merupa- kan persetujuan atas naskah perjanjian intrnasional yang telah dihasilkan dan atau mer-upakan pernyataan untuk mengikatkan diri secara defini ti f sesuai kesepakatan para pihak pada perjanjian intrnasional.

Dari fraksi-fraksi kami melihat dapat usul perubahan ataupun pertanyaan dari Fraksi TNI/Polri, Fraksi PBB dan Fraksi POKB, untuk itu kami perislakan kepada Fraksi TNI/Polri yang pertama.

F-TNI/POLRI (SRI HARDJENORO) :

Sebagaimana ayat (1) pasal 5 di atas juga ayat (2) Fraksi TNI/Polri tadinya mernpunyai pandangan untuk merubah ayat ini untuk bisa diganti dengan pejabat yang berwenang menandatangani perjanjian internasional akan tetapi dengan penjelasan pemerintah tentang ayat (1) khusus penjelasa keseluruhan pasal 5 ini, maka saran atau usul perubahan dari Fraksi TNI/Polri kami cabut.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih kepada Fraksi TNI/Polri. dari Fraksi PBB karena

(10)

belum hadir maka kita lanjut ke Fraksi PDKB.

F-PDKB (PROF. ASTRID S) :

Terima kasih. ini juga sama dengan tadi jadi kami mengerti sikap dari pemerintah dan dengan demikian kami cabut. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih Fralo.si PDKB, dengan demikian bapak ibu yang kami hormati karena tidak ada masalah maka nomor DIM 28 Pasal 5 ayat (2) dari RUU ini sebagaimana yang telah kami bacakan kami mohonkan untuk dapat kita setujui, dapat kita setujui ?

Ketuk. Palu

Baik, selanjutnya kami meni.ngkat ke nomor DIM 29 berkenaan dengan Pasal 6 dari RUU ini l.;.ami bacakan Pasal 6 ayat (l)Seseo- rang yang mewakili pemerintah Republik Indonesia dengan tujuan menerima atau menanda.tangani naskah suatu perjanjian atau mengi- katkan diri pada perjanjian internasional memerlukan Surat Kuasa.

Say a ki ra demikian namun ada usul perubahan dari fraksi -fraksi, pertama dari F-PDIP selanjutnya dari F-PDKB. Kami persilakan FPDIP.

F-PDIP (PAULUS WIDIYANTO) :

Setelah mendengar uraian dari pihak pemerintah dan terkai t dengan Pasal 1 butir 4 rnaka usulan kami dari Fraksi PDi Perjuan- gan karni cabut.

KETUA RAPAT

Terirna kasih dari Fraksi PDIP, kemudian dari Fraksi PDKB saya kira.

F-PDKB (PROF. ASTRID S) :

Terima kasih, kami juga melihat keterkai tan dengan pasal- pasal terdahulu ayat tet~dahulu, tapi kami ingin menekankan jadi

(11)

di sini bahwa keinginanya adalah bahwa adanya lebih banyak keter- tiban di dalam surat kuasa tersebLit dan one gate policy agar supaya semuanya dipool di Deplu sebagai pihak yang paling menge- tahui dan mengumpulkan semua perjanjian tersebut. demikian jadi dengan ini kami bisa mencabutnya pula.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik ~ terima kas.ih keterangan dari PDKB mungkin nantgi di Panja bisa diusulkan ke Penjelasan. Oleh karena itu atas seijin Bapak ibu sekalian maka nomor DIM 29 dari RUU ini Pasal 6 ayat (1).

PEMERINTAH :

Bapak Ketua ada usul pemerintah masukan paragraf berikut ini pada penjelasan pasal 6 ayat (1) Surat Kuasa (Full Powers) dike- luarkan oleh Menlu sesuai dengan praktek internasional yang telah dikukuhkan oleh Konvensi Wina 1969.

KETUA RAPAT :

Baik, demikian makin memperjelas karena dalam penjelasan di sini ayat (1) i tu sebenarnya cukup jelas tapi dengan tambahan dari pemerintah makin mengkukuhkan a.pa yang diinginkan oleh kita semua.

Dengan demikian saudara-saudara sekalian kami sekalilagi ingin menanyakan apakah nomor DIM 29 Pasal 6 ayat (1) dapat kita setu- jui ?

Ketuk Palu

Baik, kita lanjutkan, dengan nomor DIM 30 takni Pasal 6 ayat (2) Pejabat yang tidak memerlukan surat kuasa sebagaimana dimak- sud dalam Pasal 1 angka 3 adalah : a. Presiden; dan b. Menteri.

Dari fraksi-fraksi t43rdapat usulan dari Fraksi PPP dan Fraksi PDKB. untuk i tu kami persilakan kepada Fraksi Prtai Persatuan Pembangunan.

(12)

F-PP (NY. AISYAH AMINI, SH) :

Ini sederhana saja ,, karena ini masalah bahasa kalau a presi- den b menteri tidak pakai dan, namun i tu silakan nanti Timmus saja.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, dari usul ird maka kami lanjutkan ke Fraksi PDKB.

F-PDKB (PROF. ASTRID S) :

Maksudnya sama juga supaya agak jelas begitu.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih Fralc:si dari PD~\8, apakah dari pihak pemerintah ada tambahan lagi cuku ?. silakan dari Fraksi PDIP.

F-PDIP (SOPHAN SOPHIAAN) :

Terima kasih pimpinan, meski.pun pada DIM ini POI menyatakan tetap tapi kami ada mungkin ada pikiran yang berubah sebab, kami lihat DIM nomor 30 ini Pasal 6 ayat (2) itu apakah tidak sebaik- nya kita hapuskan saja, sebab kita 'kan memerlukan suatu UU yang singkat dan padat. Kalau saya kaitkan Pasal 6 ayat (2) ini, ini 'kan sudah tercakup dalam Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 di poin 4 i tu, i tu • kan jelas di sana dikatakan sur at kepercayaan a tau credentials adalah surat yang dikeluarkan oleh presiden atau menteri yang memberikan kuasa pada satu atau beberapa orang mewakili pemerintah Republik Indonesia untuk rnenmghadiri merund- ingkan dan atau menerima hasil akhir suatu pertemuan internasion- al. Ini jelas bahwa yang mengeluarkan yang tidak perlu mempero- leh surat kuasa itu presiden dan menteri, sedangkan di sini 'kan dijelaskan. Menurut saya sebaiknya ini dicabut, karena sudah tercakup dalam ini.

Terima kasih.

J.O

(13)

KETUA RAPAT ;

Baik pemerintah silakan.

PEMERINTAH :

Terima kasih, memang benar apa yang dikatakan oleh Fraksi PDIP bahwa di dalam Pasal 1 mengenai definisi dari surat kuasa atau credentials surat kuasa atau full power, surat kepercayaan atau credentials disbeutkan disitu yang mengeluarkan presiden atau menteri, kalau demikian yang ada di dalam Bab II itu adalah aturannya yang menetapkan9 yang mengeluarkan siapa jadi kalau disini definisien~ kalau ini aturannya demikian. Jadi barangkali kalau itu bisa diterima.

KETUA RAPAT :

Terima kasih pemerintah, saya kira Fraksi PDIP sudah men- gangguk apakah berarti dapat menerimanya ?

F-PDIP (SOPHAN SOPHIAAN) :

Pimpinan. kalau di Arab mengangguk tidak setuju, begini setuju, nggak kami hanya memberikan alternatif karena kita kema-

rin sepakat bahwa sebaiknya UU ini singkat padat dan mudah dimen- gerti, kalau memang demikian ya kami setuju.

KETUA RAPAT :

Baik bapak ibu sekalian yang kami hormati dengan demikian, apakah nomor DIM 30 Pasal 6 ayat (2) dapat kita setujui ?

Ketuk Palu

Baik, kita lanjutkan ke nomor DIM 31 yakni Pasal 6 ayat {3) Satu atau beberapa orang yang menghadiri, merundingkan, dan atau menerima hasil akhir suatu pertE~muan internasional, memerlukan surat kepercayaan. Oari fraksi-fraksi disini terdapat usul peru- bahan maupun pertanyaan dari Fraksi PDIP. dari Fraksi PPP, dari Fraksi TNI/Polri.

11

(14)

Kami persilakan dari Fraksi PPP dulu.

F-PP (NY. HJ. AISYAH AMINI, SH) :

Terima kasih pimpinan, kami dalam ayat (3) ini, kami ingin merefer ayat sebelumnya, selain yang disebutkan dalam ayat (2) yang menghadiri pet'Undingan ini karena memang di atas itu yang tidak memerlukan itu adalah presiden dan menteri. Oleh karena itu siapapun tentunya har·us memerlu•"an surat kepercayaan eh surat kuasa itu maksud kami.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih dari Fraksi PPP, selanjutnya dari Fraksi TNI/Polri.

F-TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO) :

Terima kasih pimpinan, Fraksi TNI/Polri memberi usul peruba- han tentang ayat (3) ini kata menghadiri dihapus selanjutnya penyebutan pertemuan internasional diganti dengan perjanjian internasional, sehing~1a setelah perubahan ayat (3) ini satu atau beberapa orang yang merundingkan dan atau menerima hasil akhir suatu perjanjian intel~nasional me1merlukan surat kepercayaan yang dikeluarkan oleh menteri. Mengapa ini saya sampaikan karena satu atau beberapa orang yang merundingkan itu tentu sudah hadir dia, sehingga tidak perlu diperkuat lagi dengan menghadiri. Demikian juga dengan pertemuan internasional, ini tiba-tiba muncul kata- kata pertemuan padahal l<.i ta berbicara tentang perjanjian interna- sional.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik jadi jadi bukan cuma menteri presiden juga harus kon- sekuen dengan itunya, tapi kami lanjutkan dulu ke Fraksi PDIP.

F-PDIP (PAULUS WIDIYANTO) :

Dari Fraksi POI Pe1·juangan ingin mencabut usulan ini karena

(15)

sudah terkai t dengan perubahan·-perubahan a tau pencabutan pada butir-butir sebelurnnya.

Terima kasih.

J.:.;

(16)

KETUA RAPAT :

Silakan kepada. pemerintah untuk menanggapinya, silakan dari Fraksi Partai Golkar.

F-P.GOLKAR (IBRAHIM AMBONC3) :

Sebelum ditanggapi, terima kasih ketua. Kami sekalian mau minta penjelasan me,nge1nai perbedaan full powers ini dengan surat kepercayaan, karena kelihatannya ada yang sama misalnya menerima atau menandatangani. naskah suatu perjanjian itu pada butir 29.

Sementara butir 3! juga mengatakan menerima hasil akhir suatu pertemuan internasiaal.

jangan sampai kabur ini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan pemerintah.

PEMERINTAH :

Itu mahan dipertajam perbedaannya itu

Sebelum menanggapi usulan-usulan dari fraksi. ada koreksi dari pemerintah terhadap Pasal 6 ayat (3). jadi seyagyanya dibaca begini Satu atau beberapa aran~~ yang menghadiri, merundingkan dan atau menerima hasil akhir suatu pertemuan internasional memerlu- kan surat kepercayaan, nah yang dikeluarkan aleh menteri ini dihapus, karena ini bertentangan dengan Pasal 1 angka 4 ketentuan umum RUU ini yang menyebutkan bahwa credentials juga dapat dike- luarkan oleh presiden. Satu usul pemerintah untuk memasukan paragraf ini pada bagian pemje1lasan Pasal 6 ayat (3) yai tu Cre- dentials hanya diperlukan untuk perundingan multilateral, adapun

tanggapan terhadap usulan kami persilakan Pak Ari.

PEMERINTAH (STAF AHLI) :

Terima kasih, mengenai penjelasan mengenai tadi perbedaan full powers atau surat kuasa dan surat kepercayaan atau creden- tials. SUI~at kuasa i tu memang diberikan pada seorang pejabat yang mewakili pemerintah untuk menandatangani atau untuk menerima juga

-14-l

(17)

hasil dari satu pertemuan intei~nasional. Tapi kalau surat keper- cayaan atau credentials itu lebih ke suatu dokumen yang isinya menjelaskan bahwa nama-nama yan~~ dicantumkan dalam surat keper- cayaan tersebut i tu adalah orang yang sah mewakili pemerintah Republik Indonesia. Jadi isinya bisa berupa daftar delegasi katakanlah misalnya Indonesia mengirimkan suatu delegasi ke Majelis Umum PBB yang diketuai oleh Bapak Menteri Luar Negeri dengan anggota pejabat-pejabat pemerintah termasuk saya kira sebagai advisor anggota DPR, ditulah surat kepercayaan ditanda- tangani yang menyatakan bahwa ini adalah delegasi resmi dari pemerintah Indonesia. Di dalam praktek organisasi internasional ada kalanya suatu credentials juga bisa memuat semacam tambahan full powers yang memberikan wewenang kepada salah seorang pejabat dalam delegasi i tu untuk menandatangani a tau menginisial hasil dari suatu konferensi. Saya ambil contoh barangkali di dalam suatu konferensi di. international maritim organization yang membuat suatu konvensi yang misalnya katakanlah mengenai masalah polusi, nah delegasi Indonesia itu disamping dalam credentialsnya bisa disebutkan bahwa sekaligus mempunyai wewenang untuk inisial di situ. Jadi ini juga bisa berlaku ada variasinya tapi pada dasarnya memang credentials itu menjelaskan bahwa nama-nama yang ada di dalam surat tersebut adalah delegasi sah. delegasi resmi dari suatu negara. Sedangkan kalau surat kuasa adlah memang kuasa yang diberikan kepada yang ber·sangkutan untuk mewakili negara dalam melakukan suatu penandatanganan atau hal-hal yang lain yang disebutkan di dalam pasal ini.

Kemudia untuk menjawab usulan dari TNI/Polri, mengenai dihapuskan kata menghadiri dan mengganti penyebutan pertemuan internasional menjadi per janj ian inte~rnasional, kami juga menganggap di sini kurang tepat karena yang dimaksud di sini hasil akhir dari perte- muan internasional dan bukan perjanjian internasional. Jadi hasil suatu pertemuan intenasional i tu merupakan mungkin suatu draft konvention yan,g harus diinisial dan sebagainya, jadi bukan hasil dari perjanjian internasional. jadi perjanjian internasion- al adalah dokumennya, begitu pak. Jadi oleh karena itu perjanji- an eh pertemuan int.ernasional menjadi perjanjian internasional

-215 -

(18)

Kami anggap di sini cukup kurang tepat.

Mengenai usulan dari Fraksi PPP untuk menambahkan kalimat pada awal ayat ini yang berbunyi selain yang disebut dalam dalam ayat (2) kiranya juga kurang tepat, karena ayat (2) mengatur mengenai surat kuasa, sedangkan ayat (3) mengatur mengenai eh mengenai surat kepercayaan atau credentials.

Terima kasih.

F-PP (NY. HJ. AISY AH AMf\TI, SH) :

Mohon pertanyaan sedikit, apakah kalau menteri luar negeri juga diperlukan sudat credentials surat kepercayaan ini.

PEMERINT AH (STAR AHLI) :

Namanya bisa masuk ke dalam surat kepercayaan, jadi saya ambit contoh misalnya delegasi Indonesia ke Sidang Majelis Umum PBB, itu namanya bisa masuk.

F-PP (NY. HJ. AISY AH AMINI, SH) :

Kalau menteri luar negeri yang pergi, apakah surat itu juga diperlukan.

PEMERINT AH (STAF AHLI) : Ya.

F-PP (NY. HJ. AISY AH AMINI, SH) :

Baik, kalau memang demikian kami cabut usul kami.

Terima kasih.

KETUA RAP AT :

Terima kasih dari pemerintah dan dari fraksi-fraksi, cuma ingin kami ingatkan koreksi yang dilakukan oleh pemerintah tadi, memang pemerintah membacakan dasarnya itu yang ada di RUU di buku ini, sementara yang di DIM Saudara Menteri Luar Negeri itu yang memang sudah dikeluarkan yang dibacakan. Jadi mungkin tadi pemerintah membacakan yang ada di buku aslinya pak, tetapi yang DIM memang yang dikoreksi sudah tahu lebih dalu Pak Sembiring bilang. Oleh karena itu atas izin bapak-bapak maka nomor DIM 31 Pasal3 dari RUU eh Pasal6 ayat (3) dari RUU ini dapat kita setujui?

Ketuk Palu

Terima kasih, kita lanjutkan dengan nomor DIM 32 yakni Pasal 6 ayat (4) Surat Kuasa dapat diberikan secara terpisah atau disatukan dengan Surat Kepercayaan, sepanjang dimungkinkan menurut ketentuan dalam suatu perjanjian intemasional atau pertemuan intemasional. Dari fraksi-fraksi rnemang disini kelihatannya tidak ada usul perubahan, dan saya kira penjelasan itu baru saja dijelaskan oleh pemerintah, jadi dengan demikian sudah cukup jelas. Atas dasar itu kami usulkan agar nomor DIM 32 Pasal 6 ayat (4) dapat kita setujui?

Ketuk Palu.

- 16-

(19)

Baik, kita sekarang laiJ~utkan dengan nomor DIM 33 Pasal 6 ayat (5) Penandatanganan suatu perjanjian intemasional yang menyangkut kerjasama teknis sebagai pelaksanaan dari petjanjian yang sudah berlaku dan materinya berada dalam lingkungan kewenangan suatu lembaga pemerilntah atau lembaga pemerintah non departemen dilakukan tanpa memerlukan Surat Kuasa. Dari fraksi-fraksi terdapat usul perubahan maupun pertanyaan, yang pertama dari Fraksi PDIP, dari Fraksi PPP, dari Fraksi TNI/Polri. Untuk itu kami persilakan dari Fraksi PDIP.

F-PDIP (PAULUS WIDIYANTO):

Usulan perubahan dari Fraksi PDI Petjuangan hanya soal rasa bahasa saja, soal kata dari itu mubajir jadi usulnya nanti bisa diserasikan di Timmus.

Terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih Fraksi PDIP, dari Fraksi PPP mungkin.

F-PP (NY. HJ. AISYAH AMINI, SH):

Setelah membaca kembali kami dapat memahaminya barangkali tidak perlu, terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih bu dari Fraksi PPP, sekarang dari Fraksi TNI/Polri.

F-TNIIPOLRI (SRI HARDJENDRO):

Fraksi TNI/Polri mengenai ayat ini memandang bahwa ayat ini sudah tidak diperlukan lagi sebenamya, karena ini merupakan pelaksanaan dari perjanjian intemasional yang sudah berlaku. Sehingga saran perubahan ayat ( 5) ini dihapus, terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih dari Fraksi TNI/Polri, kami persilakan ke pemerintah sekarang untuk menanggapi.

PEMERINTAH :

Terima kasih, saran fraksi TNI/Polri untuk menghapuskan ayat ini kiranya kurang tepat karena kami maksudkan ayat ini untuk mengatur perjanjian intemasional yang penandatanganannya tidak memerlukan surat kuasa. Jadi perjanjian intemasional itu yang penting-penting itu semuanya harus dengan surat kuasa, tapi adakalanya perjanjian yang merupakan suatu pelaksanaan hanya proyek-proyek saja yang sudah perjanjian induknya sudah mendapat surat kuasa dan hanya merupakan pelaksanaan barangkali dari antar satu Dirjen di bawah perhubungan laut misalnya, lalu dirjen perhubungan laut dari suatu negara yang lain yang merupakan suatu pelaksanaan saja dari sesuatu yang sebelumnya sudah diberikan surat kuasa itu bisa langsung berlaku dan tanpa surat kuasa.

Jadi untuk mengcover kemungkinan itu saja, karena yaitu perjanjian internasional itu ada tingkat-tingkatannya yang paling penting san1pai sesuatu yang cukup pelaksanaannya saja itu tidak memerlukan, sebab kalau semua hams dengan surat kuasa juga saya kira

- 17 -

(20)

juga tidak pada tempatnya, kita nanti terlalu banyak, mungkin departemen lain juga tidak suka orang cuma pelaksanaannya saja kok harus. Tapi biasanya memang surat kuasa sudah diberikan tapi tidak berarti bahwa konsultasi atau informasi itu tidak datang ke Deplu. Jadi Deplu juga mengetahui apa yang dilakukan hanya kita tidak memandang perlu surat kuasa dan biasanya juga di dalam perjanjian itu sendiri tidak disebutkan kata- kata misalnya juli outoris by den~spectif government itu kata-kata itu tidak ada, dan itu memang merupakan kesepakatan dari kedua belah pihak antara Indonesia dengan negara mana kita mengadakan kerjasama itu.

Jadi hanya ini untuk memungkinkan perjnajian yang tidak memerlukan surat kuasa.

T erima kasih.

K.ETUA RAPAT:

Terima kasih dari pemerintah, Fraksi TNI/Polri apakah masih ad yang ingin disampaikan.

F-TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO) :

Saya masih memerlukan suatu penjelasan kembali mengenai ayat ini, andaikata ayat ini tidak ada, apakah memang akan terjadi bahwa pelaksanaan dari suatu perjanjian intemasional yang sudah berlaku itu tidak tabu pelaksanaannya harus otomatis atau harus memerlukan surat kuasa lagi. Karena ini merupakan suatu pelaksanaan dari suatu perjanjian intemasional yang sudah berlaku, padahal pada ayat-ayat dan pasal sebelumnya itu sudah diberikan penjelasan bahwa yang memerlukan surat kuasa ini-ini.

Tentu yang lain jabaran dari pelaksanaan perjanjian itu tidak diperlukan lagi, menurut saya ayat ini andaikatapun tidak dicantumkan disini juga tidak ada pengaruhnya.

Terima kasih.

KETUA RAP AT;

Silakan pemerintah, pakar hukum.

PEMERINTAH :

Melalui Pak Menteri Luar Negeri, saudara ketua, ini Pasal 6 ayat (5) ini adalah pengecualian, jadi memang harusnya itu harus filii powers seluruhnya, tapi karena ini hanya menyangkut kerjasama teknis yang merupakan sebetulnya lanjutan atau implementasi atau pengejewantahan dari perjanjian induknya, maka dalam hal ini tidak memerlukan surat kuasa, ini maksudnya. Jadi ada klausula tidak tidak rejim, sekian terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik dari pemerintah masih ada lagi silakan.

PEMERINTAH :

Sebetulnya memberikan kewenangan kemungkinan bahwa peiJanJtan yang sifatnya teknis dan merupakan suatu pelaksanaan itu tidak perlu, tapi itu 'kan harus ditulis sehingga ada pegangan bahwa memang diperbolehkan oleh undang-undang dan tidak dilarang, itu maksudnya kami memasukan ayat ini.

T erima kasih.

- 18-

(21)

KETUARAPAT:

Baik mungkin yang terakhir, dari Fraksi TNI/Polri.

F-TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO):

Terima kasih, atas penjelasannya dan memang kalau toh memang ini diperlukan untuk memperjelas dari undang-undang saya kira I~raksi TNI/polri mencabut saran.

K.ETUARAPAT:

Terima kasih dari Fraksi TNI/Polri, denga:n demikian Bapak ibu sekalian Nomor DIM 33 Pasal 6 ayat (5) sebagaimana yang telah kami bacakan tadi kami usulkan untuk dapat disetujui, dapat disetujui ?

Ketuk Palu.

Baik sekarang kita lanjut ke halaman 24 dengan nonor DIM 34 Pasal 7 ayat (1) Pemerintah Republik Indonesia dapat melakukan pensyaratan dan atau Pemyataan, kecuali ditentukan lain dalam perjanjian internasional tersebut.

Oari fraksi-fraksi terdapat usulan dari Fraksi PDIP, Fraksi PPP, Fraksi TNI/Polri, Fraksi PDU dan Fraksi PDKB, kami persilakan dari Fraksi PDKB.

F-PDKB (PROF. ASTRID S):

Terima kasih bapak ketua, maksud disini adalah sedikit sisipan yaitu karena disini yang disebut adalah Pemerintah Republik Indoensia dapat melakukan pensyaratan dan atau pemyataan, kecuali ditentuk.an lain dalam perjanjian internasional tersebut. Karena ini adalah suatu undang-undang jadi dia mengikat ke dalam dan sesudah itu baru keluar maka saya mohon dapat disetujui bahwa dimasukan di sini juga sedikit sisipan yaitu untuk memperjelas sedikit. Dalam suatu perjanj:ian intemasional jadi bisa pensyaratan terutama apabila dituntut untuk DPR-Rl, masalahnya ialah karena kami mungkin dan mudah-mudahan tidak akan terjadi lagi dalam sejarah Republik Indonesia sudah mengalami masalah seperti yang terjadi dengan Timor-Timur, ya akhimya sudah ada ini sudah ada aggreement presiden bicara lalu tahu-·tahunya sudah lepas begitu. Itu saja tujuannya oleh karena itu kami mohon dapat disisp. Terima kasih.

K.ETUA RAP AT :

Terima kasih dari FPDKB, kami lanjutkan dari Fraksi PDU.

F-PDU (ASNAWI LATIF):

Saudara pimpinan, Fraksi kami cuma ketika membaca pasal ini untuk mengkongritkan bahwa pensyaratan itu terjemahan dari reservation kemudian pemyataan terjemahan dari deklaration, jadi oleh karena itu kami menyisipkan kata aslinya disitu.

Akan tetapi kemarin sudah dijelaskan bahwa sitilah-istilah yang baku itu apabila memang tidak diperlukal1 kami juga tidak mengharuskan ada dalam kurung ini.

Terima kasih.

KETUA RAP AT:

(22)

Terima kasih Fraksi PDU, selanjutnya Fraksi TNI/Polri.

F~ TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO) :

Terima kasih pimpinan, untuk Pasal 7 ayat (1) ini Fraksi TNI/Polri juga konsekuen dengan hasil diskusi kita dari pasal sebelunmya yaitu pasal 1 bahwa apa yang disarankan Fraksi TNI/Polri untuk mengganti istilah ternyata akan di Timmuskan sebagaimana nanti juru bahasa untuk memperkaya bahasa kita apabila perlu, itu sampai dengan Pasal 7 sampai dengan ayat (3) Fraksi TNI/Polri pada prinsipnya masalah istilah yang sudah kita sepakati untuk di Timmuskan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Fraksi TNI/Polri, selanjutnya kami persilakan Fraksi PPP.

F-PP (NY. HJ. AISYAHAMINI, SH):

Terima kasih pimpinan, kami awalnya hanya mengenai masalah bahasa dan ini tentu bisa di Timmus apakah itu melakukan atau memberikan, nanti dapat di Timmus.

Namun kami juga mempertimbangkan apa yang dikemukakan oleh PDKB, kalau kita mengenai perjanjian inetmasiona1 yang membutuhkan persetujuan DPR tentunya bukan hanya pemerintah yang memberikan pensyaratan itu akan tetapi DPR bersama pemerintah. Barangkali perlu diberikan penjelasan kalau pemerintah kalau itu hanta mengenai suatu perjanjian internasional yang di Keppreskan dan itupun belum kita bahas, tapi kalau dia melalui DPR pasti harus dengan persetujuan DPR tidak bisa dengan pemerintah saja. Kemudian mengenai reservation terjemahannya kami tetap itu pensyaratan karena itu sudah t'elah disepakati setiap kita membuat undang~undang

pengesahan konvensi di DPR ini lalu menterjemahkan reservation itu dengan pensyaratan dan itu sudah dikomunikasikan dengan ahli bahasa.

Terima kasih.

KETUA RAP AT:

Baik dari fraksi-fraksi demikian pemandangannya jadi sebelum ke pemerintah saya kira konsem dari PDKB, itu dari pengalaman. Baik PDIP dulu terlupakan karena ini mau di Timmuskan, silakan.

F-PDIP (SOPHAN SOPHIAAN) :

Terima kasih pimpinan, sebetulnya PDI tidak ada perubahan hanya bertanya,maka itu konsisten dengan apa yang telah kita sampaikan di depan yang berkaitan dengan DIM 14 Bab I Pasal 1, maka pe11anyaannya sama karena sudah dijelaskan di sana karni mengertilah.

Terima kasih.

KETUARAPAT:

Baik dari fraksi-fraksi, saya ulangi dari PDKB itu konsernnya sama masalah Timtim tadi dan juga lbu Aisyah mengatakan betapa pentingnya, karena pengalaman kita dulu bersama Departemen Luar Negeri juga itu banyak yang Sekneg malas atau waktunya untuk undang-undang itu lama jadi langsung di Keppreskan, cari gampangnya

- 20 -

(23)

saja, padahal yang berdampak publik luas 'kan harusnya melalui undartg-undang, kalau yang agak teknis nggak apa~apa mdalui Keppr,es saya berani mengatakan demikian karena saya pengalaman mengikuti ini termasuk Polri mandiri katanya ini. Jadi demikianlah saya minta sekarang keterangan dari pemerintah, tanggapannya. Terima kasih.

PEMERINTAH :

Pak Menlu saya ingin menjawab, jadi pertama mengenai apakah baku atau tidak, memang sebetulnya sudah jadi baku, apakah itu dulu menurut bahasa Indonesia betul atau salah tapi itu sudah menjadi praktek yang kita lakukan. Bahkan yang kita sampaikan itu hanya memang sebagai terj1emahan daripada reservation adalah pensyaratan dan pernyataan untuk declaration. Ini juga kita sendiri juga, saya ambil contoh kata lain yang barangkali dulu katanya salah kaprah tapi sekarang sudah jadi undang-undang juga, undang-undang nomor 1 tahun 1973 mengenai landas kontinen. Landas kontinen itu is't a good translation dari continental sheal itu munkin menurut ahli bahasa tidak, tapi itu sudah menjadi kata yang sudah seharihari sekarang ini dan bahkan sudah menjadi undang-undang. Jadi kadang-kadang bahasa itu yang akhimya yang dipraktekan itulah yang akhirnya menjadi benar, tapi saya tidak ingin lebih lanjut mengenai masalah ini.

Mengenai usul Fraksi PPP untuk menggantikan kata melakukan menjadi memberikan, kami hanya ingin menyampaikan bahwa sebetulnya masalah pensyaratan itu, adalah pensyaratan itu adalah suatu tindakan suatu act bahwa kita ingin mengecualikan ketentuan yang ada di dalam pe1janjian internasional itu khususnya di dalam konvensi multilateral. Jadi kami anggap lebih tepat untuk menggunakan kata melakukan, tapi tentu kami sepakat kalau memang akan diajukan ke Timmus untuk ditanyakan kepada ahli bahasa, saya kira silakan saja tapi itu penjelasan yang ingin kami sampaikan.

Khusus mengenai usul dari PDKB saya kira Ibu Astrid, ingin kami sampaikan bahwa pada dasarnya pensyaratan atau pernyataan itu kita lakukan untuk suatu petjanjian yang sifatnya multilateral, jadi tadi Ibu Aisyah juga mengatakan dalam beberapa konvensi yang kita ratifikasi atau kita sahkan kita membuat reservation atau pensyaratan maupun declaration atau pernyataan ini, dan biasanya itu adalah pemerintah yang mengajukan kepada DPR bahwa kita mengajukan rancangan undang-undang untuk pengesahan kita bisa menerima secara umum pasal-pasal atau ketentuan yang dalam suatu konvensi tapi pemerintah juga mengatakan kepada DPR bahwa untuk pasal ini kita berat , karena kita misalnya tidak tunduk pada yuridiksi ICG misalnya, itu memang pada dasarnya kita tidak, jadi kita hams masukan. Atau juga keberatan ke berbagai ketentuan lain yang ada di konvensi itu, namun seperti yang saya juga jelaskan kemarin reservation atau pernyataan ini akan dilakukan apabila memang pe1janjian itu sendiri memungkinkan bisa mengadakan suatu reservation atau pensyaratan. Saya kemarin mengambil suatu contoh suatu konvensi yang tidak bisa diibuat suatu pemyataan atau suatu reservation, misalnya United Nation Convention on the law of the sea konklud 82 itu harus diterima secara utuh, kalau ada reservation dia gugur menjadi pihak. Oleh karena itu ini salah satu juga jadi kendala dari Amerika Serikat yang sampai sekarang belum mau menjadi pihak karena mereka masih punya keberatan terhadap bagian pasal-pasal yang ada di konvensi tersebut, tapi Indonesia tidak mempunyai oleh karena kita sudah menjadi pihak.

Kemudian tadi untuk juga memberikan satu yang fair tadi kalau dikatakan oleh Pak.

Ketua bahwa barangkali Seskabnya agak malas atau ingin cepat-cepat bukan saya

(24)

membela Setneg, tapi saya ingin meluruskanlah bahwa sebetulnya justru Deplu dan Setneg yang mencoba untuk bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tapi kadang-kadang departemen teknislah yang akan mengajukan untuk itu tidak dilakukan seperti itu saya ambil contoh saja pada waktu 1998 Indonesia akan mengesahkan konvensi ILO mengenai freedom of assosiasion, kami di Deplu menganjurkan atau menyarankan agar ini dilakukan dengan suatu undang-undang, tapi pemerintah pada waktu itu sudah ada keputusan dari Menteri Tenaga Kerja dan Presiden untuk, karena ini waktu itu Pak Dr. Mochtar Pakpahan yang akan pergi ke Jenewa untuk menghadiri International Labor Confrence dari Drasmen .. bahwa Indonesia kita sudah meratifikasi konvensi mengenai kebebasan berserikat ini, jadi untuk itu harus cepat-cepat, kalau melalui DPR nanti lama, tapi saya sudah menyampaikan di Deplu dalam surat kepada Presiden disebutkan bahwa ini seyogyanya dengan undang-undang. Kalau itu diputuskan oleh dia yaitu di luar kekuasaan Menlu, Menlu sudah mengusulkan kalau Presiden minta Keppres siapa yang bisa ini. Itulah yang terjadi, nah nanti dengan ada undang-undang ini kita harapkan hal-hal semacam itu tidak akan terjadi lagi dan dengan demikian saya juga tidak membela tapi itulah yang teijadi dan Seskab tentunya ya bikin Kepres yang dibikin, karena itu adalah keputusan dari bapak Presiden.

Terima kasih.

": 22 -

(25)

Sambungan dari kaset 3 Prof. Dr. ASTRID S. SUSANTO (Fraksi PDKB) :

Interupsi boleh pak sebelum diteruskan. Terimakasih. Khusus mengenai ini suatu kasus yang bisa kasus Timor Timur bisa kita pakai untuk membereskan hubungan antara Deplu dan DPR RI one and fall all pak. Kan itu perja.I'\jian bulan Mei 5 Mei. Saya kira orang DPR saja belum tahu, ini ini bukan menyalahkan tetapi corection to a wrong dan in the part, koreksi terhadap suatu kesalahan masa lalu. Jadi ini karena ini saya ajukan. Jadi orang DPR saja belum tahu itu tahu saya, saya orang luar waktu itu. Saya mendapat undang, perjanjian itu dari 5 Mei, itu lewat email yang saya minta khusus dari Singapura, karena itu saya tahu ini ada. Kami sudah mengatakan pada waktu ini sesuatu ya sidang umum MPR saja berjalan banyak anggota DPR tidak tahu mengenai eksistensi dari perjanjian 5 Mei itu sehingga saya yang ikut main-main distribusi ke Fraksi-fraksi ini lho perjanjiannya Iho. Maksud saya adalah karena itu sekaliguslah kita mengoreksi itu is the good intention. Kalau bisa supaya kalau ada suatu agrement itu cepat diberikan ke DPR karena belum sempat OPR belum tahu ada perjanjian itu tahu-tahu presiden sudah bicara. Seandainya itu sudah ada di DPR perjanjian saya kira kemungkinan akan ada reaksilah begitu. Nah lalu sesudah itu say atentu bertanya juga OK presiden Sukar-Suhar-Habibie sudah bicara, iya nggak. Apakah secara diplomatis tidak ada suatu ya lobilah masih sedikit imbangi, masih sedikit mengimbangi, koq yang dadak 200 juta penduduk begitu saja didikte. Nah inilah saya mau membandigkan ini dengan sikap dari Nederland sendiri pada waktu pak tahun 1962 harus menerima bankers blank itu, itu karena mengenai pelepasan wilayah yang namanya Irian Jaya sampai- sampai dibawah dulu ke DPR. Parlemen Belanda menerima dulu baru sesudah itu disampaikan pad a .... Its OK Soekarno nggak percaya sehingga ada 8 cable an tara utang dan Soekarno untuk menandatangani itu padahal negeri Belanda, Parlemennya selain pemerintah sudah menandatangani. Ini sebagai contohlah.

Drs. EFFENDI CHORIE, S. Ag. (Fraksi PKB) :

Pimpinan mau interupsi supaya nggak melebar begitu pada fokus terimakasih.

Drs. Y ASRIL AN ANT A BAHARUDDIN {Pimpinan Rapat) :

Terimakasih juga beri kesempatan sedikit, jadi sebenamya saya kira concern beliau, saya kita concern kita semua, ya kita sama-sama puny a kelemahan yang lalu, baik OPR sendiri maupun pemerintah, untuk selanjutnya kita mudah-mudahan selanjutnya kita ikat sekecil mungkin. Yang satu yang ingin saya informasikan kepada Ibu Astrid tadi juga waktu itu sebenamya kami dari DPR di Komisi I yang dipimpin oleh Ibu Aisah Aminy saya kira kita ada rapat kerja biasa reguler dengan Menteri luar negeri dan menteri luar negeri juga m menyampaikan secara berkala itu, memang tidak jntensif harus kita akui dan masing-masing punya kelemahanlah tetapi itu jadi pelajaran. Jadi ini sekedar untuk informasi bahwa sebenarnya sudah ada komunikasi antara Pemerintah dan DPR. Baiklah supaya tidak abis waktu lebih lanjut.

Ny. Hj. AISAH AMINY, S.H. {Fraksi PPP) :

Pimpinan kami usulkan untuk jalan keluar kan~a memang apalagi perjanjian-perjanjian multilateral tentu kita harapkan jangan sampai ada yang dengan KEPRES. Nah karena ini akan ada UUnya sekarang itu, oleh karena itu kami usulkan kalimatnya, Pemerintah RI dengan persetujuan DPR dapat melakukan persyaratan dan selanjutnya. Jadi karena toh nanti semua perjanjian internasional yang tadi dikatakan persyaratan itu adalah perjanjian yang bilateral, apakah mungkin nanti akan ada perjanjian multilateral yang hanya dilindungi KEPRES, kami mengharapkan tidak. Terimakasih.

(26)

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) ;

Baik, saya hanya kira hanya minta keterangan saja. Jadi Bapak ibu sekalian yang kami muliakan dengan demikian nomor DIM 34 1n1 yakni pasal (7) ayat 1 RUU :ttang kami telah bacakan tadi dapat disetujui (setuju, ketok palu 1X).

Ny. Hj. AISAH AM!NY, S.H. (Fraksi PPP) Baik, disetujui di Panja.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUODIN (Pimpinan Rapat) ; Yang panting dapat disetujui prinsip dulu.

Ny. Hj. AISYAH AMINY, S.H. (Fraksi PPP) : Ke panja pak ya,

PEMERINTAH

Bukan, disetujui. Dibawa ke Panja. Karena kalau disetujui berarti tidak dibicarakan lagi.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUODIN (Pimpinan Rapat) :

Baik saya ingatkan kepada kita semua apakah nomor DIM 34 pasal (7) ayat 1 ini sebagaimana yang telah kita bahas tadi ada bebera- pa usulan perubahan disini, mungkin ada yang dicabut,ditimus begitu. berarti kita mintakan justru persetujuan karena pada akhirnya dibaca lagi dipleno, kalau ada tambahan tidak bisa dilakukan lagi. Itu prinsip tadi saya kira kita tidak ada hal- hal yang sangat mendasar yang untuk kita dalami.

Prof. Dr. ASTRID S. SUSANTO (Fraksi PDKB) :

Interupsi saudara, saya kira ini ada satu masalah yang panting saudara. Jadi seperti yang dibilang Ibu Aisah Aminy saya saran- kan ke Panja saja. Terimakasih.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDI)IN (Pimpinan Rapat) : OK, dapat disetujui ini kita ke Panja, Pemerintah.

Drs. EFFENDI CHORIE,S.Ag. (Fraksi PKB) :

Sebentar pimpinan. Ki ta belum jelas d:isini sebetulnya mana yang substansi mana yang dipersoalkan dan

saya kalau secara keseluruhan nggak

mana yang diterima. Menurut ada problem disini. Setelah

- 24 ...

(27)

memperoleh beberapa penjelasan dari pemerintah. Dimana sebetul- nya yang menjadi problem sehingga kemudian menjadi agenda baru kita sehingga kemudian dibawa ke Timus atau Panja.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) :

Baik saya kira sudah dikatakan bahwa secara prinsip sudah disetu-

JU~, namun demikian ada beberapa usulan tadi apakah mungkin di terangkan dalam penjela::•an dan juga ada beberapa bahasa yang mungkin di Tim us oleh ahli. bahasa say a ki ra kalau qorum semua dapat menyetujui, prinsip kita menyetujui ini kalaupun ada tamba- han lain ini kita serahkan ke Panja.

Drs. IBRAHIM AMBONG, M.A- (Fraksi PG)

Sebentar saudara, saya kira tidak bE!gi tu statement yang keluar i tu saya kira tidak begi tu. Bahkan sebaliknya secara prinsip di terima karena ini menyangkut DPR yang dibicarakan usulan dari PDKB jadi ketua jangan sebagai orang Deplu bicaranya, jadi harus ada tambahan,makasih pak.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) :

Terimakasih saya kira dari keterangan dari perdebatan dan tolong juga diingat bahwa pembahasan pasal ini jugakan membuat ini bukan pengesahan, DPR kerjanya buk.an membuat ini, kan sudah disepakati kemarin, kan ki taa melihatnya jangan pasal perpasal saja tetapi melihat sEscara terintegrasi terpadu begitu.

Silahkan saja.

Prof. Or. ASTRID S. SUSANTO (Fraksi POKB) :

Sediki t saja. Jadi sebenarnya dimaksudkan bahwa ada kepastian pak, saya sangat sependapat tentang sangat sangat yakin tentang the good will dari Deplu apa sekarang dan seterusnya. Suatu UU itu harusnya jangka panjang. Jadi kalau bisa sarannya kalaupun tidak disini dalam penjelasan juga boleh tetapi harus hi tam diatas putih pak. Hanya itu saja pak, karena itu kalau ke Panja bisa ini.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpina.n Rapat) : Baik.

PEMERINTAH :

Kami tadi sudah mengajukan usul dan ditarik. kami kura.ng memahami apa yang diperdebatkan dalam pasal (9) tadi. Kalau kami tangkap inikan hanya merupakan suatu penjelasan dan terkait dengan pasal

(28)

(2) tentunya. Disini tidak mencakup masalah endoorsment apakah menyangkut masalah pengesahan, belum ada sebetulnya disini- Sehingga kami melihat bahwa sebetulnya masih bisa berjalan. Dan kami ingin mengingatkan kepada ki ta semua bahwa dimanapun UU sudah sebetulnya tidak bisa bab per bab hanya pembahasan pak

telapi harus dipahami secara menyeluruh konferensif supaya kita bisa melakukan suatu ini. kembali.. t1enurut kami toh walaupun ki ta sudah selesai ke Panja Timus toh tidak berarti langsung kesana. Bahkan masih kita evaluasi total baru kita finalkan_ Jadi kami pikir kalau bisa sambil jalan kita teruskan saja. Sekian terima kasih.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) :

Oleh karena i tu sekali lagi saaya tanyakan pendapat Bapak ibu sekalian nomor DIM 34 pasal (7) ayat l ini apakah dapat disetu- jui. (setuju ya ketok palu 1 X).

Sekarang kita berbicara nomor DIM 35. Pasal (7) ayat 2 dari RUU yang kita bahas : pensyaratan dan pernyataan yang dilakukan pada saat perjanJ1an internasional harus ditegaskan kembali pada saat perjanjian tersebut disahkan.

Bapak Pimpinan

Dari fraksi-fraksi terdapat 2 usul perubahan yang pertama dari Fraksi PPP yang kedua dari Fraksi TNI/POLRI. Namun demikian karena Fraksi TNI/POLRI sudah menyatakan bahwa pasal {7) ayat 1

sampai 3 i ni di bahas di Tim us ka ren;a menyangkut bahasa maka dengan demikian tinggal satu usulan fr·aksi yang kami persilahkan kepada PPP untuk mengemukakannnya. Kami persilah Bu.

Ny. Hj. AISAH AMINY, S.H. (Fraksi PPP) : Seperti biasa inikan kata-kata

dibicarakan di Timus.

dilakuk.an dirubah, ini dapat

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) :

Baik, terimakasih dari Fraksi PPP, dengan demikian apakah nomor DIM 35 pasal (7) ayat, oh dari pemerintah ada tambahan.

PEMERINTAH :

Dari pemerintah ada. Untuk mempergunakan disini ada usul masukan paragraf berikut ini pada bagian penjelasan pasal (7) ayat 2, penegasan kembali tersebut dituangkan dalam instrumen pengesa- han seperti piagam ratifikasi atau piagama aksesi.

- 26-

(29)

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan RaJ:~.:t.t) :

Demikian tadi keterangan dari ~lflerintah merupakan tambahan dalam rangka penjelasan pasal (7) ayat 2 yang aslinya inikan cukup jelas tetapi ditambahkan oleh Pemerintah.

SOPHAN ~OPHIAN (Fraksi PDIP) :

Pimpinan, saya mengusulkan untuk selanjutnya kalau pemerintah ada usulan-usulan baru itu pagi hari dapat diberikan pak. Kan usulan RUU inikan dari pemerintah~ jadi jangan sambil berjalan jadi memakan waktu. Makasih.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat)

Makasih, dari Fraksi PDIP, dengan demikian sekali lagi nomor DIM 35 pasal (7) ayat 2 ini ditambahkan dengan keterangan pemer- intah tadi untuk penjelasan pada pasal (7) ayat 2 ini dapat kita setujui. (setuju,. ketok pa.lu lX).

Terimakasih selanjutnya nomor DIM .36 yakni pasal (7) ayat 3.

Persyaratan dan pernyataan yang di tetapkan pemerintah RI dapat di tarik kembali setiap saat melalui pernyataan tertulis atau menu rut tata car a yang di t.etapkan dalam perjanj ian internasion- al. Dari sini fraksi-fraksi terdapat usul atau pertanyaan dari Fraksi PDIP, dari Fraksi TNI/POLRI dan Fraksi PDKB. Sebagaimana yang diatas tadi maka saya kira fraksi TNI/POLRI tadi langsung ke Timus oleh karena itu kami teruskan ke Fraksi PDIP.

FRAKSI PDIP :

Usulan kami akan di-Timus-kan. Terimakasih.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) :

Terimakasih dari Fraksi PDIP, kemudian dari Fraksi PDKB.

Prof. Dr. ASTRID S. SUSANTO (Fraksi PDKB)

Saya kira sama juga di Timus kan itu soal bahasa.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpina.n Rapat) :

Baik terimakasih. Dari pemerintah ada tambahan., baik terimaka- sih. Dengan demikian nomor DIM 36 pasal (7) ayat 3 dari RUU yang telah kami bacakan apakah dapat kami setujui. (setuju, ketal<

palu lX) •• Terimakasih.

(30)

Sekarang ki ta lanjutkan kBpembahasan nomor DIM 37 yakni pasal (8), yang berbunyi sebagai berikut · pemerintah RI mengikatkan diri pada perjanjian internasional

berikut:

melalui cara-cara sebagai

aw penandatanganan;

b. pengesahan;

c. pertukaran dokumen perjanjian/nota diplomatik;

d. cara-cara lain sebagaimana disepakati masing-masing dalam perjanjian internasional.

pihak

Dari fraksi-fraksi terdapat usul perubahan maupun pertanyaan, yang pertama dari Fraksi PDIP, yang kedua dari Fraksi PPP, yang ketiga dari Fraksi TNI/POLRI, fraksi PBB dan Fraksi PDU. Kami persilahkan dari Fraksi PDU.

Drs. K.H. ASNAWI LATIEF (Fraksi PDU) :

Saudara pimpinan usul fraksi kami itu pada huruf c itu dinyatakan pertukaran dokumen/nota diplomatik. kalau dibaca begi tu i tu artinya pertukarana nota P<lli tik. Pada hal dalam praktek bahwa pertukaran dokumen perjanjian i tu melal.ui nota diplomatik. Oleh karena itu usul konkrit dari fraksi kami garis miring itu dib- uang sehingga berbunyi pertukaran dokumen perjanjian melalui nota diplomatik titik. Terimakasih.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat)

Terimakasih pak dari Fraksi PDU selanjutnya kami persilahakan dari Fraksi TNI/POLRI karena fraksi PBB belum ada.

SRI HARDJ'ENDRO (Fraksi TNI/POLRI) :

Makasih pimpinan, kami mencoba untuk memberikan usul perubahan dari pasal (8) ini. Kalau kita lihat bab II secara keseluruhan bagaimana ki ta membuat suatu perjanj ian internasional sehingga judulnya pembuatan perjanjian internasional. Mulai dari pasal (3) sampai pasal (7) i tu adalah cara-cara pembuatan perjanjian internasional tetapi dalam pembuatan pasal (8) ini fraksi TNI memandang bahwa ~n~ tidak jelas l<;ai tannya dengan pembuatan

perjanJ~an internasional dengan pembuatan perjanjiana interna- sional ini. Sehingga perlu disarankan dihapus saja pasal (8) ini. Makasih.

- 28 -·

(31)

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDD.IN (Pimpinan Rapat) ·

Makasih dari fraksi TNI/POlRI, selanjutnya dari fraksi PPP.

Ny. Hj. AISAH AMINY, S.H. (Fraksi PPP) :

Ini konkordan dengan yang lalu i tu mengenai lembaga swasta dengana demikian itu kami anggap itu kita delay sampai nanti ada ketentuan mengenai itu.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDl)IN (Pimpi nan Rapat) :

Terimakasih dari PPP, yang terakhir dari Fraksi PDIP.

PAULUS WIDIJANTO (Fraksi PDIP)

Makasih saudara pimpinan, kami sebelumnya akan menanyakan apakah ada perbedaan antara perjanjian dengan nota diplomatik yang ditulis secara garis miring. Kalau menurut kami ini sesuatu yang berbeda, sehingga usulan kami tidak at.au, bukan garis miring, itu pertanyaan sekaligus usulan, terimaka.sih-

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) ·

Baik terimakasih, fraksi PDIP. Demikianlah pandangan dari frak- si-fraksi terhadap perubahan selanjutnya kami persilahkan pemer- intah untuk menanggapi.

MENTER! LUAR NEGERI (PEMERINTAH) :

Usul dari PDIP tadi tambahan untuk bagian penjelasan, mudah- mudahan besok pagi ki ta sudah bagi. Jadi ada tambahan sediki t lagi masukan paragraf ber·ikut ini pada bagian penjelasan pasal

(8). Keterikatan pemerintah RI pada suatu perjanjian interna- sional didasarkan pada beberapa cara yang telah disepakati oleh beberaapa pihak dalam perjanjian tersebut yaitu melalui penand- taangan bagi perjanJ1an interansional yang langsung berlaku setelah ditandatangani; atau melalui proses yang dilakukan menu-

rut prosedur konstitusional masing-masing pihak; atau melalui pertukaran nota dan caraa-cara lain yang disepakati oleh para pihak misalnya (simple figh considere)i dimana para pihak secara otomatik terikat oleh ptarjanjian internasional apabila dalam masa tertentu tidak menyampaikan notefikasi tertulis terhadap keterikatannya terhadap sesuatu perjanjian internasional. Ini tambahan kalau usul tadi saya kira pertukarana dokumen perjan- jian a tau nota diplomatik ,selanjutnya ber·beda. Pak Hari (interup- si : usul kami melalui nota diplomatik).

(32)

HARI (PEMERINTAH) :

Karena masalahnya dua hal yang berbeda maka nota diplomatik itu berbeda dengan dokumen perjanjian sehingga dapat dikatakanlah atau yang lebih tepat disitu. Sebelumnya usul atau bukan hanya a tau.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpi.nan Rapat) :

(interupsi saudara ketua boleh), pemerintah sudah atau pemerin- tah?

PEMERINTAH

Belum pemerintah belum.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinc:~n Rapat) :

Pemerintah saya kira banyak tadi yang di tanyakan diselesaikan dulu, sebelum putaran berikut.

PEMERINTAH :

Jadi yang ada dipasal (8) butir c pe1rtukaran dokumen perjanjian dari menteri nota diplomatik adalah atau dan bukan dan. Jadi karena atau lebih baik sa~'a memberikan contoh. Dalam suatu per- tukraan dokumen perjanjian i tu yang dimaksudkan adalah apabila perjanjian i tu sudah di tandangani maka kalau perjanjian tidak dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangnya maka diadakan suatu pertukarana dokumen perjanjian atau nota diploma- tik tersebut di tulis didokumen tersebut bahwa misalnya Indone- sia sudah melakukan apa pengesahan dan pada saat i tulah mulai disahkan sebagaia tanggal mulainya perjanjian. Tetapi adakalanya juga pertukaran yang dimaksud adalah apabila disebutkan didalam perjanjian tersebut bahwa mulai berlaku pada nota diplomatik yang terakhir yang dipakai karena kadang-kadang pengesahan mas- ing-masing negara itu tidak terjaadi pada saat yang sama. Kataka- nalah Indonesia mempunyai suatu pel~setujuan dengan Malaysia, Malaysia sudah meratifikasi bulan Mei dan Indonesia pada bulan .Juni. maka pertukaran i tu mulai berlaku pada tanggal otomatis dari nota Malaysia bulan Mei nya dan Indonesia mulai bulan Juni pada tanggal itulah mulai berlaku perjanjian dimaksud.

Usul POLRI untuk menghapus pasal ini, kamikira pasal ini tetap diperlukan hanya memang kami pemerintah ini adalah .•.• sudah agak sulit memikirkan karena disini keterikat itu bisa belum disahkan atau sudah disahkan. Kalau kita lihat butir a,b,c,d. Oleh karena itu memang ini merupakan suatu teori antara barangkali bisa

- 30 -

(33)

di tempatkan di bab I mengenai keterangan umum. J'adi dipindah- kanpasal ini sehingga merupakan bagian dari bab II yang mengatur mengenai pembuatan karena di dalam ini tidak dikai tkan dengan mulai mengikatkan di ri a tau berlakunya i tu dengan pengesahan sehingga itu memang letaknya diantara bab II dan bab III tetapi kita tidak bisa buatkan judul jadi barangkali kalau tidak dise- tujui dimasukan pada bab I mengenai ketentuan umum bahwa menge- nai pernyataan dini i tu ki ta pada wak.tu penandatangan baik saat pembuatan maupun pada waktu pengesahan. Terimakasih.

Drs. YASRIL ANANTA 8AHARUDDIN (Pimpinan Rapat)

Terimakasih pemerintah.. jadi dengan demikian ada dua hal yang paling penting yang tadi dari nomor DIM 37 ini pasal (8) itu c buti r c pemerintah mengusulkan per·tukaran dokumen perjanjin ataunota diplomatik dengan hal atau alasan yang sudah dikemukakan dari Fraksi PDU sudah dapat menerimanya tadi. Kemudian terhadap usul dari Fraksi TNI/POLRI pemerintah bisa mengambil jalan kom- promi agar pasal (8) ini karena memang dimasukan berada diantara bab II dan III sehingga judulnya nggak .ada tetap dianggap perlu oleh karena itu diusulkan atas persetujuan kita semua ini dapat dimasukkan pada bab I pada ketentuan umum. Apakah hal ini dapat disetujui, kami kami mohon pandangan dari masing-masing fraksi.

(34)

K-4 (F-PPP)

NY.HJ AISY AH

AMINY~

SH

Supaya panja nanti melihat dimana tempatnya.

KETUARAPAT

Baik, apakah dengan demikian Norrior

DIM 37 Pasal 8 mt.

Kita teruskan pada Panja dapat di setujui. ( Ketok lx)

(F-PDKB) PROF.DR.ASTRID S.SUSANTO

Intruksi Saudara Ketua tadi ada tambahan penjelasan yang belum di berikan tertulis. Saya kira saya angkat itu penting karena ada kalimat berlaku dengan segera setelah itu. Dan inilah karena kita tidak dapat secara tertulis kita tidak bisa tertulis kita tidak

bisa

menelitinya.

Apakah

itu otomatik yang sudak ekslusif atau kan kita bahas berikut. Itu saja pertanyaan dari saya, terima kasih.

KETUARAPAT

BapakJbu sekalian yang kami hormati kami mulyakan mengingat sekarang sudah pukul

12.00.

Mak.a sesuai dengan tata tertib yang ada kita harus beristirahat sholat dan makan siang oleh karena itu rapat kami skors dan kita berkumpul kembali paeda pukul 13.00 tepat atau pukul 1 siang.

Agar sore hari inL kita bisa menyeJesaikan ini, kalau tidak kita berarti selesaikan sapai malam hari. Sekarang terpulang pada kita semua. Terima kasih.

KETUARAPAT

Bapak,Ibu yang kami mulyakan. Anggota Dewan dan Pemerintah sesuai dengan keputusan kita bersama tadi maka pukul 13.00. Kita sudah berada disini sekarang kita sudah puku1 13.20 oleh karena

itu

skors rapat kami cabut dan rapat kerja ini kita lanjutkan kern bali. (ketok 1 x)

(F-PG) IBRAHIM AMBONG,MA

Ada sedikit catatan dari kami sebelum masuk lagi pada DIM mengenai Laporan atau Risalah Rapat yang di buat oleh Sekjen DPR-RI ini.

1.Daftar Hadir pada pertemuan kemarin itu tidak lengkap mohon di

sempumakan dan beberapa

Ternan

ti<lak masuk di dalamnya.

Termasuk kita

di dalamnya yang hadir kemarin.

- 32 -

Referensi

Dokumen terkait