BAGAN PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA
SITI QAMARURRIZKI MUNGKUR 140302026
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
SITI QAMARURRIZKI MUNGKUR. Studi Kelayakan Ekonomi Usaha Tambak Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) terhadap Kesejahteraan Petambak di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi
Sumatera Utara. Dibimbing oleh Indra Lesmana, S.Pi., M.Si dengan penguji Dr. Budi Utomo, SP., MP. dan Ir. Syammaun Usman, M.Si.
Udang vannamei merupakan komoditas perikanan yang saat ini sedang digemari banyak orang. Hal ini disebabkan udang vannamei lebih bebas dan tahan terhadap penyakit serta merupakan prospek usaha yang menjanjikan bagi pembudidaya.
Usaha tambak udang vannamei pada Tambak Udang Naga di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara adalah usaha pembesaran dengan komoditas udang vannamei. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya dan pendapatan usaha tambak udang vannamei, studi kelayakan usaha tambak udang vannamei dan mentoleransi kenaikan biaya variabel pada usaha tambak udang vannamei. Hal ini dilakukan untuk mengkaji usaha budidaya tersebut layak atau tidak layak untuk dikembangkan. Berdasarkan studi usaha yang dilakukan dapat diketahui bahwa Usaha Tambak Udang Naga di Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara menguntungkan. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu : 1) Total biaya usaha budidaya udang vannamei sebesar Rp 32.091.400. Total biaya usaha tambak udang vannamei yang dihasilkan dari penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel.
Total pendapatan usaha tambak udang vannamei sebesar Rp 66.408.600. 2) Studi kelayakan ekonomi usaha tambak udang vannamei di Tambak Udang Naga menghasilkan R/C Rasio sebesar 3,07, B/C Rasio sebesar 2,07, Break Event Point (BEP) terbagi atas 2, yaitu BEPVolume dan BEPHarga. BEPVolume mendapatkan nilai sebesar 458 kg, sedangkan BEPHarga mendapatkan nilai Rp 21.394 dan Payback Period (PP) dalam jangka waktu 0,9 atau sama dengan 10,8 bulan. NPV yang diperoleh sebesar Rp 426.626.463,38.
Kata Kunci : Pendapatan, Studi Kelayakan Usaha Udang Vannamei, NPV, Tambak Udang Naga.
SITI QAMARURRIZKI MUNGKUR. Economic Feasibility Study of Vannamei Shrimp Pond (Litopenaeus vannamei) Business on Farmer Welfare in Bagan Percut Village Percut Sei Tuan Subdistrict Deli Serdang Regency of North
Sumatra Province. Guided by Indra Lesmana, S.Pi., M.Si with Examiners Dr. Budi Utomo, SP., MP. and Ir. Syammaun Usman, M.Si.
Shrimp vannamei is a fishery commodity that is vogue many people. This is because vannamei shrimp is more free and resistant to disease and is a promising business prospect for farmers. Shrimp farming in Pond Naga in Percut Sei Tuan Subdistrict, Deli Serdang Regency of North Sumatra Province is an enlargement effort with shrimp vannamei commodity. This study aims to determine the cost and income of vannamei shrimp farming, feasibility study of the vannamei shrimp farming and tolerate variable costs increase in vannamei shrimp farming. This is done to assess the cultivation is feasible or not feasible to be developed. Based on the business studies conducted, it can be seen that the Dragon Shrimp Farming in the Percut Sei Tuan District of Deli Serdang Regency of North Sumatra Province is profitable. The results obtained are: 1) The total cost of shrimp vannamei cultivation of Rp 32.091.400. The total cost of shrimp vannamei cultivation business resulting from the sum of fixed costs and variable cost. And total opinion of vannamei shrimp farming business is Rp 66.408.600. 2) The economic feasibility study of vannamei shrimp farming in Tambak Udang Naga resulted in R/C ratio of 3,07, B/C ratio of 2,07, Break Event Point (BEP) divided into 2, is BEPVolume and BEPPrice. BEPVolume received a value of 458 kg, while BEPPrice
earned a value of Rp 21.394 and Payback Period (PP) within a period of 0,9 or equals 10,8 months. The NPV obtained is Rp 426.626.463,38.
Keywords : Income, Feasibility Study of Vannamei Shrimp, NPV, Tambak Udang Naga
Siti Qamarurrizki Mungkur dilahirkan di Medan pada tanggal 10 Mei 1996. Anak pertama dari dua bersaudara ini merupakan putri dari pasangan Syahmadi Mungkur dan Rohani Lubis. Pada tahun 2002, penulis diterima di SD Swasta Sabilina Medan dan lulus pada tahun 2008.
Pada tahun 2008, penulis diterima di YPI Hikmatul Fadhillah Medan dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun 2011, penulis diterima di MAN 2 Model Medan dan lulus pada tahun 2014. Pada tahun 2014, penulis diterima di Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), terdaftar sebagai mahasiswi pada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian. Penulis mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan pada tahun 2017 dari bulan Juli sampai Agustus.
Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam kegiatan Ikatan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (IMASPERA) Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan menjabat sebagai peserta.
Kemudian pada bulan Juli sampai September 2018, penulis melaksanakan penelitian untuk Tugas Akhir di Tambak Udang Vannamei di Jalan Tilang Kapur Dusun XV Desa Bagan Percut dengan judul skripsi “Studi Kelayakan Ekonomi Usaha Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) terhadap Kesejahteran Petambak di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara”.
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang merupakan tugas akhir dalam menyelesaikan studi pada Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara dengan mengangkat judul “Studi Kelayakan Ekonomi Usaha Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) terhadap Kesejahteran Petambak di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara”.
Dalam penyusunan Skripsi ini, penulis tidak lepas dari bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Orangtua tercinta, yaitu Syahmadi Mungkur dan Rohani Lubis, adik tercinta penulis, Syahrinal Azhar Mungkur, serta keluarga yang telah memberikan semangat dan motivasi.
2. Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc. selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Indra Lesmana S.Pi., M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan, arahan, bimbingan, dan ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
4. Bapak Dr. Budi Utomo, SP., MP. dan Bapak Ir. Syammaun Usman, M.Si.
selaku Dosen Penguji yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
6. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
7. Tambak Udang Naga yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian.
8. Teman-temanku yang telah memberikan dukungan, semangat, dan bantuannya, Raja Suhanda Lubis, Merry Ati Panjaitan, Fitri Nava Kasat, Devi Septiani, Rosmawati Waruwu, S.Pi., serta seluruh teman dari stambuk 2014 Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
9. Abangda Aulia Rahman Lubis, S.Sos., Amrin Hakim Lubis, Amd., dan Bripka. Herman Candra Lubis, SH. Kakak Elsyah Putri, S.Psi., M.Psi., Rahmi Fentina Sari, S.Pd., M.Pd., Siti Rizkya, SE, Nurhana Lubis dan Miskah Lubis.
Serta Adik-adik junior stambuk 2015 Sri Wulandari dan Muhammad Lhauri, Atas bimbingan, arahan, dan bantuan semua pihak tersebut, maka penulis mendoakan semoga amal baik yang telah diberikan itu mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa, Amin. Akhir kata semoga Skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang Manajemen Sumberdaya Perairan.
Medan, Maret 2019
Penulis
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 3
Tujuan Penelitian ... 4
Manfaat Penelitian ... 4
Kerangka Pemikiran ... 5
TINJAUAN PUSTAKA Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) ... 6
White Spot Syndrome Virus (WSSV) ... 12
Analisis Kelayakan Usaha ... 15
Aspek Teknis ... 16
Aspek Manajemen ... 19
Aspek Finansial ... 22
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 25
Jenis dan Sumber Data ... 26
Alat dan Bahan Penelitian ... 26
Metode Pengumpulan Data ... 27
Prosedur Penelitian ... 28
Analisis Data ... 28
Aspek Finansial ... 29
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 35
Analisis Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 35
Aspek Finansial Jangka Pendek ... 41
Studi Kelayakan Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 47
Aspek Finansial Jangka Panjang ... 48
Pembahasan ... 50
Budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei ) ... 50
Analisis Usaha ... 56
Studi Kelayakan Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 58 Pendapat Masyarakat Terkait Usaha Budidaya Tambak
Kesimpulan ... 63 Saran ... 63 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
No Teks Halaman
1 Kerangka Pemikiran Penelitian ... 5
2 Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) ... 7
3 Peta Lokasi Penelitian ... 25
4 Grafik Respon Masyarakat ... 61
No Teks Halaman
1 Rincian Komponen Investasi Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 41
2 Rincian Biaya Tetap Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 43
3 Rincian Rata-rata Biaya Variabel Usaha Budidaya Udang Vannamei 44
4 Jumlah Udang yang Diproduksi Selama Satu Periode ... 45
5 Rincian Penerimaan Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 46
6 Rincian Pendapatan Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 46
7 Studi Kelayakan Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 47
8 Nilai Net Present Value (NPV) ... 49
No Teks Halaman
1 Kuisioner Survei Valuasi Ekonomi Tambak ... 71
2 Kuisioner Survei Valuasi Ekonomi Tambak ... 76
3 Alat dan Bahan Penelitian ... 77
4 Alat-alat Investasi Usaha Budidaya Tambak Udang Vannamei di Desa Bagan Percut ... 79
5 Proses Pemanenan Udang ... 81
6 Perhitungan Jumlah Masyarakat Sebagai Responden ... 82
7 Cash Flow Usaha Budidaya Tambak Udang Vannamei ... 83
8 Rincian Biaya Penyusutan Usaha Budidaya Udang Vannamei .... 87
9 Studi Kelayakan Usaha Budidaya Udang Vannamei ... 89
10 Perhitungan Jumlah Udang yang Diproduksi Selama Satu Periode .. 91
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan mempunyai panjang garis pantai 81.000 km yang memiliki potensi sumber daya lahan pantai pasang surut seluruhnya sekitar 7.000.000 ha dengan luas perairan 3 kali lebih luas dibanding daratan. Sementara menurut Dahuri (2002), Indonesia adalah salah satu negara penting dalam budi daya udang. Spesies udang yang dibudidayakan antara lain udang vanname (Litopenaeus vanname). Udang sebagai komoditas ekspor berhasil meningkatkan devisa negara dari sektor non-migas. Volume ekspor udang ke berbagai negara tujuan (Jepang, Hongkong, Singapura, Jerman, Australia, Malaysia, Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Luxemburg dan lainnya) baik yang disumbangkan dari tambak berpola tradisional, semi intensif ataupun intensif juga selalu meningkat produk hasil panennya.
Udang merupakan salah satu komoditas yang banyak diminati di sub sektor perikanan yang diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Permintaan pasar di luar negeri yang cenderung meningkat setiap tahunnya memberikan peluang yang besar bagi Indonesia ikut serta berkontribusi dalam membudidayakannya. Sumber daya yang cukup tersedia di Indonesia memberikan peluang yang sangat besar untuk dapat dikembangkan budidayanya. Tingginya permintaan udang di dalam maupun luar negeri bisa dilihat dalam ekspor perikanan Indonesia, udang menyumbang nilai ekspor sebesar US$ 1,280 juta (Sutardjo, 2014).
Kehadiran jenis vannamei (Litopenaeus vannamei) diharapkan tidak hanya menambah pilihan bagi petambak tapi juga menopang kebangkitan usaha
pertambakan terutama komoditas udang. Diharapkan jenis udang vannamei menjadi salah satu kunci perwujudan mimpi untuk memperkaya dan menambah peluang investasi pertambakan udang yang diyakini bakalan kembali menjadi prospektif. Sehingga hasil dari pertambakan dapat membuat suatu kelayakan ekonomi kepada petani masyarakat. Oleh karena itu melihat peluang pasar yang masih terbuka lebar, maka pemerintah mengupayakan untuk meningkatkan jumlah produksi udang dan desa bagan percut merupakan salah satu daerah yang menjadi bagian dalam peluang kelayakan investasi.
Oleh karena itu, diharapkan jenis udang vannamei menjadi salah satu kunci perwujudan mimpi untuk memperkaya dan menambah peluang investasi pertambakan udang yang diyakini bakalan kembali menjadi prospektif. Sehingga hasil dari pertambakan dapat membuat suatu kelayakan ekonomi kepada para petani masyarakat. Dan oleh karena itu melihat peluang pasar yang masih terbuka lebar, maka pemerintah mengupayakan untuk meningkatkan jumlah produksi udang dan desa bagan percut merupakan salah satu daerah yang menjadi bagian dalam peluang kelayakan investasi.
Dalam hal ini penelitian dilakukan pada usaha budidaya tambak udang Naga di Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Sehingga diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan informasi atau masukan dan bahan pertimbangan bagi pengusaha budidaya udang dalam peningkatan usaha dalam rangka mencapai keuntungan yang maksimal dan dapat dijalankan. Sehingga bahan informasi dan referensi bagi peneliti yang melakukan penelitian yang sama di masa yang akan datang.
Rumusan Masalah
Masalah utama dalam usaha budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara adalah usaha ini memerlukan investasi dan modal yang cukup tinggi dalam menjalankannya, hal tersebut merupakan upaya para petani tambak udang untuk meningkatkan hasil produksi yang secara bersamaan juga meningkatkan pendapatan para pemilik tambak. Dengan membaiknya tingkat pendapatan petani tambak maka semakin baiknya kelayakan ekonomi mereka. Selain itu diperlukan juga tenaga kerja yang terampil dibidangkan yang bisa menjalankan proses pembenihan dari mulai persiapan lahan sampai dengan pemanenan. Dalam hal ini skill atau faktor enterpreunership yang dimiliki tenaga kerja sangat mempengaruhi untuk kelangsungan usaha ini.
Oleh karena itu, perlu diketahui berapa besar seluruh biaya yang telah dikeluarkan dan seberapa besar penerimaan yang dicapai. Selain itu juga perlu studi kelayakan usaha untuk meyakinkan bahwa usaha tersebut dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Kemudian dalam penelitian ini juga dianalisis Net Present Value yang terjadi dalam menjalankan usaha budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei), dengan demikian penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam mengambil keputusan untuk menyusun alternatif-alternatif demi kemajuan usaha dan memberikan keuntungan bagi pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan usaha tersebut. Sehingga dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana biaya dan pendapatan usaha budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara?
2. Bagaimana usaha budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara agar layak untuk dijalankan?
3. Bagaimana nilai Net Present Value (NPV) pada usaha budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) agar usaha yang dilaksanakan tidak mengalami kerugian?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui aspek non finansial (aspek teknis dan aspek manajemen) usaha budidaya udang Vannamei di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.
2. Mengetahui studi kelayakan finansial usaha budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara dilihat dari aspek finansial jangka pendek dan jangka panjang.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat ataupun tambahan pengetahuan antara lain :
1. Bagi tambak yang diusahakan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan untuk usaha yang dilakukan dalam pengambilan keputusan sehingga dapat memberikan keuntungan yang maksimal.
2. Bagi penulis, penelitian ini berguna untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang diperoleh selama kuliah dan juga sebagai salah satu syarat mendapatkan gelar sarjana.
3. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan reterensi dan perbandingan untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan perencanaan kelayakan ekonomi suatu usaha di bidang pertambakan maupun bidang lainnya.
Kerangka Pemikiran
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Usaha Budidaya Udang Vannamei Di Desa Bagan Percut Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara
Studi Kelayakan Usaha
Aspek Finansial Aspek Non Finansial
Jangka Pendek Jangka Panjang
1. Analisis Modal 2. Penerimaan 3. R/C Ratio 4. Pendapatan 5. Break Even Point (BEP)
1. Net Present Value (NPV) 2. Net Benefit
Cost Ratio (Net B/C Ratio) 3. Payback
Period (PP)
1. Aspek Teknis 2. Aspek Manejemen
Layak Tidak Layak
TINJAUAN PUSTAKA
Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei)
Udang vannamei merupakan salah satu udang yang mempunyai nilai ekonomis dan merupakan jenis udang alternatif yang dapat dibudidayakan di Indonesia. Udang vannamei tergolong mudah untuk dibudidayakan. Hal itu pula yang membuat para petambak udang di tanah air beberapa tahun terakhir banyak yang mengusahakannya (Nababan et al., 2015).
Udang vannamei memiliki keunggulan yang tepat untuk kegiatan budidaya udang dalam tambak antara lain, responsif terhadap pakan/nafsu makan yang tinggi, lebih tahan terhadap serangan penyakit dan kualitas lingkungan yang buruk pertumbuhan lebih cepat, tingkat kelangsungan hidup tinggi, padat tebar cukup tinggi dan waktu pemeliharaan yang relatif singkat yakni sekitar 60-90 hari per siklus (Amirna et al., 2013).
Klasifikasi udang vannamei sebagai berikut : Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda Kelas : Crustaceae Ordo : Decapoda Famili : Penaeidae Genus : Penaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei (Wyban dan Sweeney, 2000)
Gambar 2. Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) 1. Morfologi Udang Vannamei
Secara garis besar morfologi udang vannamei terdiri dari dua bagian utama yaitu kepala (cephalothorax) dan perut (abdomen). Kepala udang vannamei dibungkus oleh lapisan kitin yang berfungsi sebagai pelindung, terdiri dari antennulae, antenna, mandibula, dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang maxiliped dan lima pasang kaki jalan (peripoda) atau kaki sepuluh (decapoda) (Kitani, 1994).
Abdomen terdiri dari 6 segmen. Setiap segmen tubuh memiliki anggota badan yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri. Pada abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropoda (mirip ekor) yang membentuk kipas bersama-sama telson. Ukuran udang udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dapat mencapai panjang total 24 cm (betina) dan 20 cm (jantan) dengan warna tubuh putih berbintik kemerahan, transparan (bening), berkulit licin dan halus.
2. Siklus Hidup Udang Vannamei
Siklus hidup Udang Vannamei bersifat nocturnal, yaitu melakukan aktivitas pada malam hari. Proses perkawinan ditandai dengan loncatan betina
secara tiba-tiba. Pada saat meloncat tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur.
Pada saat yang bersamaan udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung sekitar 1 menit. Sepasang Udang Vannamei berukuran 30-45 gram dapat menghasilkan 140.000 sel telur yang berukuran 0,22 mm.
Menurut Wyban dan Sweeney (1991), Siklus hidup udang vannamei sejak telur mengalami fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu :
a. Nauplius
Stadia nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam. Larva berukuran 0,32-0,58 mm. Sistem pencernaan belum sempurna, memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga tidak membutuhkan makanan dari luar.
b. Zoea
Stadi zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama sekitar 4 hari.
Larva zoea berukuran 1,05-3,30 mm. Pada stadia ini larva mengalami molting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, dan zoea 3. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan makanan berupa fitoplankton.
c. Mysis
Stadia Mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
d. Post larva
Pada stadia post larva sudah seperti udang dewasa. Hitungan stadia berdasarkan hari, misalnya PL1 berarti post larva berumur satu hari. Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larva bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.
Udang termasuk golongan omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan udang antara lain, udang kecil (rebon), fitoplankton, cocepoda, polychaeta, larva keran dan lumut. Udang Vannamei mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu-bulu halus (setae). Organ sensor ini terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antena, dan maxilliped. Dengan bantuan sinyal kimiawi yang ditangkap, udang akan merespon untuk mendekati atau menjauhi sumber pakan.
3. Habitat dan Penyebaran Udang Vannamei
Habitat udang vannamei usia muda adalah air payau, seperti muara sungai
dan pantai. Semakin dewasa udang jenis ini semakin suka hidup di laut.
Ukuran udang menunjukkan tingkat usai. Dalam habitatnya, udang dewasa mencapai umur 1,5 tahun. Pada waktu musim kawin tiba, udang dewasa yang sudah matang telurnya atau calon spawner berbondong-bondong ke tengah laut yang dalamnya sekitar 50 meter untuk melakukan perkawinan. Udang dewasa biasanya berklompok dan melakukan perkawinan, setelah betina berganti cangkang (Wyban dan Sweeney, 1991).
4. Pertumbuhan dan Mortalitas Udang Vannamei
Pertumbuhan merupakan perubahan yang diketahui dan ditentukan berdasarkan sejumlah ukuran dan kuantitasnya. Proses yang terjadi pada pertumbuhan adalah proses yang irreversible (tidak kembali kebentuk semula).
Namun, pada beberapa kasus ada yang bersifat reversible karena pertumbuhan terjadi pengurangan ukuran dan jumlah sel akibat kerusakan sel atau diferensiasi.
Sedangkan mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi (Ferdinand dan Ariebowo, 2007).
Pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan udang akan menimbulkan masalah karena sisa-sisa pakan yang tidak habis dimakan udang akan menjadi limbah dan menurunkan kualitas air. Pakan powder (serbuk) untuk ukuran udang stadium larve, flake (serpihan) ukuran udang PL1-PL15, crumble (remahan) untuk ukuran udang PL 1-10 g. Dan lodan untuk udang ukuran 1-10 g.
Pakan umumnya dilihat dari komposisi zat gizinya. Beberapa komponen nutrisi yang penting dan tersedia dalam pakan udang antara lain : protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral (Kordi, 2010).
Menurut Mawaidi (2016), air merupakan media hidup bagi udang vannamei dan memiliki peran vital karena akan menentukan kelangsungan hidup udang yang akan dibudidayakan. Ada beberapa parameter yang selalu dijaga dan dikontrol dalam pelaksanaan pembesaran, seperti :
a. Salinitas. Merupakan total garam terlarut yang terukur ke dalam sampel air dalam satuan ppt. Pada umumnya budidaya udang vannamei menggunakan air payau, yaitu campuran air laut dan tawar. Besar salinitas yang diketahui pada penelitian berkisar antara 20-25 ppt.
b. Suhu. Suhu optimal untuk pertumbuhan udang vannamei adalah berkisar antara 6-32 oC. Jika suhu lebih dari angka optimum, maka metabolisme udang akan berlangung cepat dan kebutuhan oksigen akan meningkat. Kadar oksigen dalam tambak mengalami titik jenuh pada kadar yang berkisar antara 7-8 ppm. Namun udang dapat tumbuh baik pada kadar oksigen minimum berkisar antara 4-6 ppm. Pada kisaran suhu yang optimal, konsumsi oksigen cukup tinggi sehingga nafsu makan udang tinggi. Sedangkan pada suhu di bawah 20 oC, nafsu makan udang menurun.
c. Dissolved Oxygen. Merupakan kadar oksigen yang terlarut dalam air dan dibutuhkan oleh biota perairan. Kuantitas oksigen dijaga dengan cara pemberian kincir. Ukuran ini dijaga hingga di atas 4 ppm karena di bawah angka itu maka kemungkinan udang akan mengalami kematian. Pada Tambak Naga usaha untuk menjaga kadar oksigen tetap stabil menggunakan kincir air yang optimalnya dapat mengalirkan oksigen untuk 100 ekor.
d. Derajat Keasaman (pH). Pada pembesaran udang vannamei, pengecekan pH dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan menggunakan pH meter. Sebagian besar udang vannamei pada Tambak Naga usaha sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7-8,5.
e. Kedalaman Air. Pada umumnya kedalaman yang ideal untuk kolam budidaya yaitu 60 cm karena air yang terlalu dangkal dapat menyebabkan perubahan suhu yang terlalu besar. Pada Tambak Naga usaha pengukuran air dilakukan pagi dan sore hari dengan kedalaman air rata-rata sebesar 60-110 cm yang disesuaikan dengan luas kolam dan jumlah padat tebar udang.
Salinitas dan pH air di tambak berhubungan erat dengan keseimbangan ionic dan proses osmoregulasi di dalam tubuh udang. Udang muda yang berumur antara 1-2 bulan memerlukan kadar garam yang berkisar antara 15-25 ppt agar pertumbuhannya dapat optimal. Setelah umur udang lebih dari dua bulan, pertumbuhan relatif baik pada kisaran salinitas 5-30 ppt. Pada waktu-waktu tertentu seperti saat musim kemarau, salinitas air tambak dapat menjadi hypersaline (berkadar garam tinggi, lebih dari 40 ppt). Air tambak memiliki pH ideal berkisar antara 7,5-8,5. pH air tambak dapat berubah menjadi asam karena meningkatnya benda-benda membusuk dari sisa pakan atau dari yang lainnya.
pH air yang asam dapat diubah menjadi alkalis dengan penambahan kapur (Suyanto dan Mudjiman, 2001).
White Spot Syndrome Virus (WSSV)
Organisme perairan merupakan salah satu inang yang menjadi objek bagi beberapa kelompok virus untuk hidup. Oleh karena virus bukanlah suatu jenis organisme independen, maka virus berusaha mencari inang penempelan yang memiliki struktur fisiologi sama dengan materi genetik virus. Seiring berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi, beberapa kelompok virus yang menyebabkan penyakit pada komoditas perairan telah berhasil diteliti dan diidentifikasi.
Sejumlah komoditas perairan telah menjadi sasaran infeksi berbagai kelompok virus, seperti Iridovirus, Herpesvirus, Birnavirus, Adenovirus, Rhabdovirus, Reovirus, Retrovirus, dan beberapa jenis virus lainnya (Kurniawan, 2012).
White spot merupakan penyakit yang paling banyak menimbulkan kerugian secara ekonomi, diperkirakan lebih dari 300 juta dollar AS per tahun (Rukyani, 2000). Penularan WSSV sangat cepat dan menyebabkan kematian
100% dalam waktu 3-10 hari sejak timbul gejala klinis. Virus ini dapat menginfeksi udang pada post larva (PL) sampai ukuran 40 g. Penyebaran WSSV dapat secara vertikal melalui induk menularkan ke larvanya dan secara horizontal melalui air (waterborne transmission), kotoran udang yang terinfeksi, kanibalisme, makanan alami/segar jenis krustasea dan hama tambak jenis krustasea. Dalam sistem budidaya, WSSV dapat ditransmisikan melalui air yang terkontaminasi (Rahma et al., 2014).
White syndrome disease dikenal juga dengan nama white spot disease (WSD) merupakan penyakit menular akibat virus yang menyerang udang jenis Penaeid. Penyakit lain yang juga sering ditemukan pada udang adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi hepatopancreatic parvovirus (HPV) dan monodon baculovirus (MBV). Berkenaan dengan infeksi virus WSSV, beberapa jenis udang Penaeid yang dibudidayakan dapat menjadi inang bagi WSSV, yaitu P. monodon, Marsupenaeus, L. vannamei, dan Fenneropenaeus. Beberapa jenis crustacea lainnya seperti rajungan (Portunus spp), lobster (Panulirus spp dan Cherax spp), kepiting (Scylla spp), serta udang air tawar (Macrobrachium spp) juga dapat terinfeksi WSSV (Kurniawan, 2012).
WSSV adalah virus DNA dengan bentuk seperti batang yang menyelubung dan nampak berpori. Udang yang terinfeksi WSSV akan mengalami kematian mencapai 100% sehingga akan merugikan pembudidaya udang secara ekonomis dan akan berdampak negatif terhadap masyarakat yang mengkonsumsi udang yaitu mual, sakit perut. Beberapa penelitian telah menginvestigasi keberadaan WSSV pada beberapa organ. Distribusi WSSV terdapat pada insang, kaki renang (pleiopod), kaki jalan (pereiopod), jantung, dan organ lainnya.
Beberapa penelitian infeksi artifisial dengan analisis patogenik kuantitatif menunjukkan bahwa jaringan target major dari proses replikasi WSSV terdapat pada insang, lambung dan epitel kutikula tubuh, jaringan hematopoietik, organ limfoid dan kelenjar antenal (Yanti et al., 2017).
Pada kasus WSSV, adanya bintik atau spot putih pada bagian karapas sudah menjadi tanda umum, tetapi pada induk udang warnanya menjadi merah.
Udang yang terserang penyakit ini, dalam waktu singkat udang dapat mengalami kematian. Bila udang yang terserang WSSV tetapi belum terdapat tanda bintik putih, dikategorikan pada tipe III (kronis) di mana infeksi yang dialami oleh jaringan rendah sehingga bintik putih dan kemerahan pada udang tidak tampak.
Kemudian disebutkan pula bahwa kematian akan tejadi lebih lama yaitu 15-28 hari. Organ-organ target yang diserang yang dapat dijadikan sebagai indikator serangan yaitu sel-sel insang, hepatopankreas dan usus. Sel-sel hepatopankreas, usus dan insang yang terserang penyakit WSSV mengalami kerusakan yang ditandai dengan hipertopi inti (eosinofilik hipertropi) dan inclusion bodies sel (Hidayani et al., 2015).
Penyakit ini disebabkan oleh white spot syndrome virus (WSSV), yaitu suatu jenis virus yang memiliki envelope, berbentuk batang (rod) yang mengandung double-stranded DNA genom. Virus WSSV dikelompokkan ke dalam anggota Keluarga Nimaviridae. Virus ini menginfeksi berbagai jenis crustacean, khususnya udang. Udang yang terkena penyakit ini memiliki gejala
klinis, yaitu munculnya bintik-bintik putih berdiameter 0.5-2.0 mm, perubahan warna menjadi kemerahan, dan pelepasan kutikula udang. Luka sering dijadikan indikasi kerusakan sistemik jaringan ektodermal dan mesodermal, termasuk
jaringan haemopoietic, insang, epitelium subkutikula, epidermis kutikula perut, dan organ lymphoid. Indikasi terinfeksinya jaringan ditunjukkan oleh adanya titik nekrosis yang tersebar dan sel-sel yang terdegenerasi ditandai dengan adanya inti- yang mengalami hiperthrophy (membesar) dengan kromatin yang terpinggirkan, inklusi intranuklear eosinofil sampai basofil, dan enkapsulasi hemosit dari sel nekrosis terlihat sebagai massa berwarna coklat di perut (Kurniawan, 2012).
Hampir semua penyakit WSSV di Taiwan meledak pada musim penghujan, musim panca roba dan musim dingin. Di benua Amerika, kematian P. vannamei akibat WSSV paling banyak terjadi pada musim dingin. Hal ini dikarenakan faktor suhu dan salinitas. Salinitas dan suhu menurun secara tiba-tiba dan hal ini menyebabkan stres pada udang sehingga udang mudah terserang penyakit seperti WSSV (Soetrisno, 2004). Pengaruh langsung salinitas yaitu efek osmotiknya terhadap osmoregulasi dan pengaruh tidak langsung salinitas mempengaruhi organisme akuatik melalui perubahan kualitas air (Lantu, 2010).
Analisis Kelayakan Usaha
Kelayakan usaha merupakan suatu bahan yang digunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan apakah menerima atau menolak dari suatu gagasan usaha/proyek yang direncanakan (Ibrahim, 2003). Sementara menurut Umar (2005), studi kelayakan usaha/bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidaknya suatu usaha dibangun, tetapi juga saat dioperasikan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan.
Setiap sektor usaha yang akan didirikan, dikembangkan dan di perluas ataupun dilikuidasi selalu didahului dengan satu kegiatan yang disebut studi
kelayakan. Metode penyusunan studi kelayakan tidak ada yang baku, namun pada umumnya terdiri atas beberapa aspek, yaitu : (1) aspek pasar dan pemasaran;
(2) aspek teknis produksi dan teknologis; (3) aspek manajemen; (4) aspek legal dan perizinan, dan (5) aspek keuangan (Subagyo, 2007).
Aspek Teknis
Menurut Kasmir dan Jakfar (2003), aspek teknis dikatakan juga sebagai aspek produksi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam aspek teknis adalah masalah dalam penentuan produksi, tata letak (lay out), peralatan usaha dan produksinya termasuk pemilihan teknologi. Kelengkapan kajian aspek operasional sangat tergantung dari jenis usaha yang dijalankan karena setiap jenis usaha memiliki prioritas sendiri. Menurut Ibrahim (1998), aspek teknis produksi merupakan aspek yang berhubungan dengan pembangunan dari proyek yang direncanakan, baik dilihat dari faktor lokasi, luas produksi, penggunaan teknologi (mesin/peralatan, maupun keadaan lingkungan yang berhubungan dengan faktor produksi).
Menurut Fauzi (2006), faktor produksi terdiri dari sumber daya alam, sumber daya manusia, serta sumber daya buatan. Sumber daya alam adalah suatu sumber daya hayati maupun non hayati yang dimanfaatkan oleh manusia maupun makhluk hidup lainnya untuk bertahan hidup. Fungsi dari sumber daya alam adalah sebagai sumber pangan, bahan baku dan sumber energi. Sumber daya alam merupakan faktor produksi dari alam yang digunakan untuk memproduksi barang/jasa untuk kegiatan ekonomi. Sumber daya manusia merupakan bagian dari manajemen keorganisasian yang memfokuskan untuk mengelola unsur manusia secara baik agar diperoleh tenaga kerja yang berkualitas (Umar, 2003).
Sementara sumber daya buatan menurut Arifin (2007) merupakan sumber daya dari hasil ciptaan manusia yang digunakan untuk mempermudah terlaksananya suatu kegiatan manusia sendiri. Bentuk dari sumber daya buatan atau modal dapat berbentuk uang maupun bentuk fisik seperti gedung, peralatan, mesin dan bahan mentah.
Adapun teknis budidaya udang vannamei terdiri dari persiapan tambak, perbaikan kontruksi tambak, pengapuran dan pemupukan tambak, pengeringan tambak, pemberantasan hama, pengisian air, penebaran benur, pemeliharaan dan pemanenan (Kasmir dan Jakfar, 2003).
1. Persiapan tambak/lahan. Merupakan awal dari kegiatan budidaya udang vannamei tujuannya agar produksi atau budidaya berjalan dengan baik.
Persiapan lahan dilakukan dalam beberapa tahap yaitu perbaikan kontruksi tambak, pengeringan tambak, pemberantasan hama, pengisian air, penebaran benur, pemeliharaan, hingga panen.
2. Perbaikan kontruksi tambak. Kondisi pematang harus kuat dan tidak boleh terdapat kebocoran, perbaikan pintu air serta kemiringan dasar tambak diarahkan ke pintu pengeluaran gunanya untuk memudahkan penyimpanan sisa pakan dan kotoran keluar tambak. Dasar tambak juga dapat didesain model konikal (bagian tengah lebih rendah dari pada bagian pinggir) untuk mempermudah pembuangan tambak melalui pipa di tengah tambak.
3. Pengeringan tambak. Pengeringan adalah pengeluaran air dari tambak hingga kandungan air dalam tambak mencapai 60-90%. Pengeringan dilakukan selama 7 hari hingga tanah terlihat retak-retak tergantung pada musim.
Pengeringan bertujuan untuk memutus siklus hidup pathogen dengan cara
menghambat sistem transmisinya (sistem penyediaan air bersih untuk mengalirkan air dari sumber air ke reservoir air dan instalasi pengolahan air, serta dari reservoir air ke reservoir air lainnya), menguapkan gas-gas beracun dan membantu mikroba melakukan penguraian bahan organik.
4. Pemberantasan hama dan penyakit. Hama merupakan salah satu faktor yang dapat menganggu bahkan dapat mengancam kehidupan udang vannamei.
Penyakit pada udang dapat disebabkan oleh virus, jamur, maupun bakteri.
Salah satu virus yang sering menyerang udang adalah White Spot Syndrome Virus (WSSV). Untuk itu, hama dan penyakit udang harus diantisipasi sedini mungkin agar kehidupan udang vannamei cepat tumbuh dengan baik sampai dengan panen.
5. Pengisian air. Dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak telah selesai dan air dimasukkan ke dalam tambak secara bertahap. Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam tambak selama 1 minggu dua kali sampai kondisi air betul- betul siap ditebari benih udang. Tinggi air di petak pembesaran diupayakan kurang dari 110 cm.
6. Penebaran benur. Dilakukan setelah plankton tumbuh baik (sekitar 14 hari) sesudah dilakukan pemupukan. Kriteria benur udang vannamei yang baik adalah setelah mencapai PL 10 atau organ insangnya telah sempurna, seragam atau rata, tubuh benih dan usus sudah terlihat jelas, serta dapat berenang melawan arus. Sebelum benur ditebar, dilakukan aklimatisasi terlebih dahulu terhadap suhu dan lingkungan dengan cara mengapungkan kantong yang berisi benur ditambak udang dan menyiram dengan perlahan-lahan.
Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas dilakukan dengan membuka
kantong dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 30-60 menit.
Selanjutnya kantong benur dimiringkan dan perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benur dilakukan pada malam hari.
7. Pemeliharaan dan pemanenan. Pada awal budidaya sebaiknya di daerah penebar benur disekat dengan hapa untuk memudahkan pemberian pakan.
Sekat dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan/pergantian air dilakukan dengan berhati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan air yang drastis mulai umur 25 hari dilakukan sampling untuk mengetahui perkembangan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 60 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 100. Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Sementara itu, pemanenan udang vannamei dapat dipanen setelah memasuki ukuran pasar (140.000-1300 ind/kg). Panen total dilakukan dengan menggunakan jaring pukat yang dipasang pada pintu air, kemudian dilakukan dengan mesin pompa. Udang yang masih tersisa dapat diambil menggunakan tangan. Pengeringan air untuk panen total dilakukan dengan cepat untuk menghindari udang molting (pergantian kulit). Waktu pemanenan maksimal 2 jam, lebih dari itu udang akan stres.
Aspek Manajemen
Menurut Arief (2003), pada umumnya manajemen dibagi menjadi beberapa fungsi yaitu merencanakan, mengkoordinasikan, mengawasi dan
mengendalikan kegiatan dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara efektif dan efisien.
1. Perencanaan
Menurut Kevin dan Ronny (2013), rencana pemasaran adalah instrumen sentral untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan usaha pemasaran. Rencana pemasaran beroperasi pada tiga tingkat yaitu strategis, operasional dan kontinjensi. Perencanaan strategis menjelaskan pasar sasaran dan proporsi nilai yang akan ditawaran perusahaan, berdasarkan pada analisis peluang terbaik.
Perencanaan operasional menspesifikasikan taktik pemasaran termasuk fitur produk, promosi, penyediaan barang, penetapan harga, saluran pemasaran serta layanannya. Perencanaan kontinjensi adalah untuk membuat rencana-rencana alternatif guna berbagai kemungkinan kondisi bisnis yang terjadi.
Untuk perencanaan yang dilakukan oleh tambak udang naga, meliputi perencanaan pengalokasian dan sumber dana yang akan digunakan dalam proses produksi. Sumber dana yang digunakan pada tambak udang naga ini berasal dari modal pibadi. Adapun perencanaan terhadap sarana prasarana, jumlah tenaga kerja di luar anggota kelompok, tidak tertulis secara terperinci sehingga terkadang bersifat refleks tersirat pada angan dan segera diterapkan.
2. Pengorganisasian
Menurut Rico et al (2013), pengorganisasian merupakan proses pemberian perintah, pengalokasian sumber daya serta pengaturan kegiatan secara terkoodinir kepada setiap individu dan kelompok untuk menerapkan rencana. Kegiatan dalam pengorganisasian mencakup tiga kegiatan yaitu membagi komponen kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan sasaran dalam kelompok; membagi
tugas kepada manajer dan bawahan untuk mengadakan pengelompokan tersebut;
menetapkan wewenang di antara kelompok atau organisasi.
Pengorganisasian yang dilakukan oleh tambak udang naga yaitu dengan cara membagi jumlah karyawan yang ada dan disesuaikan dengan jumlah tambak.
Adapun anggota pada kelompok tambak udang naga sebanyak 4 orang dimana keseluruhan memiliki hubungan kekerabatan. Jumlah anggota yang ada dibagi sesuai jumlah petak pada tambak yang digunakan. Untuk jumlah tambak yang tersedia yaitu sebanyak 1 petak.
3. Pengarahan
Di saat proses sterilisasi selesai, pemilik usaha tambak udang naga sebelum proses produksi akan memberikan pengarahan seperti jumlah anggaran yang akan dikeluarkan, jumlah benur yang akan ditebar, serta pakan yang akan digunakan untuk proses produksi. Pengarahan bersifat penting dilakukan guna memberikan pemahaman kepada para pelaku produksi serta guna meminimalisir kesalahan-kesalahan yang akan terjadi.
4. Pengawasan
Pengawasan dilakukan langsung oleh Bapak Susanto sendiri selaku manajer tambak dengan cara mengontrol segala aktivitas, mulai dari pra hingga pasca produksi udang vannamei. Dari keseluruhan anggota yang juga masih memiliki hubungan keluarga dengan Bapak Susanto, juga terjun ke lapangan selama proses produksi dikarenakan agar menjalin komunikasi dan interaksi yang baik dengan anggota serta bisa mengetahui secara langsung kendala yang ditemui selama di lapangan.
Aspek Finansial
1. Analisis Jangka Pendek
Ada beberapa metode yang digunakan dalam analisis kelayakan usaha, di mana masing-masing metode memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda.
Berikut beberapa analisis kelayakan usaha yang umum digunakan dalam usaha : a. Biaya Produksi (Modal)
Modal adalah nilai, daya beli, atau kekuasaan memakai atau menggunakan barang-barang modal. Modal yang menunjukkan bentuknya disebut dengan modal aktif, sedangkan modal yang menunjukkan sumbernya atau asalnya disebut modal pasif. Modal dibagi menjadi dua antara lain modal variabel dan modal tetap.
Menurut Luntungan (2012), biaya dalam pengertian ekonomi adalah semua bahan yang harus ditanggung untuk menyediakan barang agar siap dipakai oleh konsumen, biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1) Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang mempunyai nilai yang stabil (tetap) tanpa dipengaruhi jumlah unit yang diproduksi, misalnya sewa lahan, gaji tenaga kerja, upa panen, penyusutan dan biaya pemeliharaan.
2) Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang nilainya tergantung pada banyak tidaknya jumlah barang yang diproduksi misalnya biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku.
b. Penerimaan (Total Revenue)
Menurut Hasnidar et al (2012), penerimaan atau total revenue (TR) adalah jumlah nilai rupiah yang diperhitungkan dari seluruh produk yang terjual. Dengan kata lain penerimaan usaha merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi (Q) dengan harga jual (P).
c. Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)
Analisis R/C merupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha dalam satu tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Suatu usaha dikatakan layak bila R/C lebih dari 1 (R/C>1). Hal ini menggambarkan semakin tinggi nilai R/C maka tingkat keuntungan suatu usaha akan semakin tinggi (Jamaludin, 2015).
d. Pendapatan (Keuntungan)
Pendapatan atau keuntungan diperoleh dari total penerimaan yang dikurangi dari biaya total atau selisih antara penerimaan dengan total biaya sehingga pendapatan di tentukan oleh besarnya penerimaan dan biaya yang dikeluarkan (Irwandi et al., 2015).
e. Break Even Point (BEP)
Break Even Point (BEP) adalah suatu teknik untuk menentukan sebuah titik dimana berada dalam titik impas, dalam artian perusahaan/usaha yang diusahakan tidak untung dan juga tidak rugi. Break even point digunakan untuk mengetahui hubungan antara beberapa variabel di dalam kegiatan yang diusahakan (Sofyan, 2018).
Menurut Dimisyqiyani et al (2014), analisis break even point adalah suatu teknik untuk menentukan sebuah titik baik dalam satuan rupiah maupun unit untuk menentukan perencanaan tingkat keuntungan di mana terdapat hubungan antara penerimaan total, biaya total dan laba total pada berbagai tingkat output.
2. Analisis Jangka Panjang a. Net Present Value (NPV)
Net Present Value adalah metode menghitung nilai bersih (netto) pada waktu sekarang (present). Untuk menghitung nilai sekarang tersebut perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat suku bunga yang dianggap relevan. Asumsi present yaitu menjelaskan waktu awal perhitungan bertepatan dengan saat evaluasi dilakukan atau pada periode tahun ke-0 (nol) dalam perhitungan cash flow investasi. Apabila lebih besar daripada nilai sekarang investasi, maka proyek ini dikatakan menguntungkan sehingga diterima. Sedangkan apabila lebih kecil (NPV negatif), proyek ditolak karena tidak menguntungkan (Afan et al., 2015).
b. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio)
Net B/C Ratio merupakan perbandingan jumlah present value penerimaan dengan jumlah present value biaya. Net B/C Ratio merupakan perbandingan jumlah nilai bersih sekarang positif dengan jumlah nilai bersih sekarang negatif.
Angka ini menunjukkan tingkat besarnya tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu satuan. Jika diperoleh nilai Net B/C > 1, maka proyek layak dilaksanakan, tetapi jika nilai Net B/C < 1, maka proyek tidak layak untuk dilaksanakan (Witoko et al., 2018).
c. Payback Period (PP)
Payback Period (PP) merupakan metode yang menghitung berapa cepat investasi yang dilakukan bisa kembali. Analisis PP perlu ditampilkan untuk mengetahui berapa lama usaha yang dikerjakan baru dapat mengembalikan investasi. PP dihitung dari perbandingan antara total biaya variabel dan keuntungan yang yang diperoleh (Berlia et al., 2017).
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan September 2018. Kegiatan penelitian pendapatan usaha budidaya Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dilakukan di Tambak Udang Naga milik Bapak Jhoni yang diusahakan oleh Bapak Susanto yang berada di Jalan Tilang Kapur Dusun XV Desa Bagan Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Lokasi penelitian berada pada titik koordinat 3º42’34,10”N dan 98º46’21,10”E. Di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Medan, di sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Batang Kuis dan Kecamatan Pantai Labu dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Labuhan Deli Kota Medan. Luas area tambak tersebut 550 m2 dengan kolam tambak sebanyak 1 petak.
Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian
Jenis dan Sumber Data 1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya. Data ini diperoleh secara langsung dengan melakukan pengamatan dan pecatatan dari hasil partisipasi aktif dan wawancara dengan Bapak Susanto, buruh tani dan informan lainnya yang ditetapkan secara purposive sampling dapat dilihat pada Lampiran 1. Data primer seperti harga input dan output, biaya dan jumlah produksi, jumlah penjualan serta data lain yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 2.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah informasi yang sudah tersedia yang mungkin berguna untuk tujuan survei tertentu. Data ini mungkin tersedia dari dalam (internal) atau dari luar (external).
Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Global Positioning System (GPS), pH meter, DO meter, refraktometer, termometer, tongkat ukur, timbangan analitik, kamera digital, alat tulis, kalkulator dan laptop dapat dilihat pada Lampiran 3.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data non spasial seperti data produksi tambak udang vannamei, data pekerja pada usaha budidaya tambak udang dan data lahan usaha budidaya Tambak Udang Naga Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.
Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data (data kualitatif dan kuantitatif) dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Angket/Kuisioner
Pembagian angket/kuisioner adalah suatu cara pengumpulan data dengan memberikan dan menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden, dengan harapan mereka dapat memberi respon atas daftar pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 4. Dalam penelitian ini, responden diminta untuk menjawab beberapa hal yang berkaitan dengan identitas diri, dan pertanyaan yang berkaitan dengan judul penelitian.
Keterangan :
n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi
e = Tingkat kesalahan yang ditoleransi yaitu 10%
2. Wawancara
Proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi- informasi atau keterangan-keterangan dari responden.
3. Dokumentasi
Pengumpulan data dilakukan dengan cara mencatat arsip dan catatan penting lainnya yang berhubungan dengan objek penelitian mulai dari produksi,
sarana dan prasarana yang ada di kediaman Bapak Susanto meliputi produksi dan lain sebagainya.
4. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan dengan cara mempelajari dan mengambil data dari literatur terkait dan sumber-sumber lain yang dianggap dapat memberikan informasi mengenai penelitian ini seperti majalah dan internet.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menentukan lokasi berlangsungnya penelitian dengan mengamati proses usaha budidaya udang vannamei sejak proses persiapan tambak, penebaran benur, pemeliharaan, sampai dengan proses pemanenan. Keseluruhan proses usaha budidaya udang vannamei tersebut diuraikan secara lebih terinci pada hasil dan pembahasan khusus untuk data pemanenan dengan cara menjala udang, menyortir sampai packing udang. Dapat dilihat pada Lampiran 5. Teknis penetapan responden dipilih sesuai dengan jumlah populasi. Jumlah populasi adalah jumlah kartu keluarga (40 orang) yang berada di Jalan Tilang Kapur. Metode pengambilan responden dapat dilihat pada Lampiran 6.
Analisis Data
Metode analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif akan dianalisis secara deskriptif, sedangkan analisis data kuantitatif dilakukan untuk mengetahui biaya usaha dan penerimaan sehingga dapat diketahui tingkat pendapatan dari usaha budidaya udang di Tambak Udang Naga Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli
Serdang Provinsi Sumatera Utara dalam satu siklus produksi. Selain itu menganalisis kelayakan usaha untuk melihat sejauh mana suatu kegiatan usaha dapat dikatakan memiliki manfaat dan layak untuk dikembangkan di lihat dari analisis rasio penerimaan atas biaya (R/C Ratio), analisis rasio keuntungan atas biaya (Net B/C Ratio), Break Even Point (BEP), Payback Period (PP), Net Present Value (NPV). Pengolahan data kuantitatif ini menggunakan alat bantu berupa kalkulator dan software komputer melalui program Microsoft Excel 2007.
Aspek Finansial 1. Jangka Pendek
a. Analisis Biaya dan Pendapatan
Analisis biaya dan pendapatan digunakan untuk mengetahui biaya-biaya apa saja yang dibutuhkan dalam produksi. Selain itu juga untuk megetahui besar pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut. Rumus perhitungan biaya produksi yaitu sebagai berikut :
1) Biaya Produksi
Menurut Chusnul et al (2010), biaya produksi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah biaya yang mempunyai nilai yang stabil (tetap) tanpa dipengaruhi jumlah unit yang diproduksi, misalnya sewa lahan, gaji tenaga kerja, upah panen, penyusutan dan biaya pemeliharaan. Sedangkan biaya variabel merupakan biaya yang nilainya tergantung pada banyak tidaknya jumlah barang yang diproduksi misalnya biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku.
Biaya total adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut :
Keterangan :
TC = Total Cost (biaya total) FC = Fixed Cost (total biaya tetap) VC = Variable Cost (total biaya variabel) 2) Penerimaan
Penerimaan (total revenue) adalah nilai uang yang diterima dari penjualan produksi usaha budidaya dengan perkalian antara jumlah produksi (Q) yang diperoleh dengan harga jual (P) dengan menggunakan formasi rumus sebagai berikut (Arli, 2013).
Keterangan :
TR = Total penerimaan P = Price (harga jual)
Q = Quantity (hasil produksi yang diperoleh dalam suatu usaha tani) 3) Keuntungan (Pendapatan)
Keuntungan atau pendapatan diperoleh dari total penerimaan yang dikurangi biaya total (Wullur et al., 2013).
Keterangan :
π = Pendapatan bersih atau keuntungan TR = Total Revenue (penerimaan total) TC = Total cost (biaya total)
4) Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)
Analisis R/C merupakan alat analisis untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha dalam satu tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Suatu usaha dikatakan layak bila R/C lebih dari 1 (R/C>1). Analisis ini digunakan untuk melihat perbandingan total penerimaan dengan total biaya usaha dapat dilihat pada Lampiran 9, dengan kriteria hasil :
Keterangan :
a. R/C Ratio > 1, artinya pembudidaya udang vannamei yang diusahakan layak untuk diusahakan.
b. R/C Ratio < 1, artinya pembudidaya udang vannamei yang diusahakan tidak layak untuk diusahakan.
c. R/C Ratio = 1, artinya pembudidaya udang vannamei yang diusahakan berada pada titik impas (break even point) (Yunita, 2017).
Analisis ini dugunakan untuk melihat keuntungan dan kelayakan dari usaha. Usaha tersebut dikatakan menguntungkan jika nilai R/C lebih besar dari satu (R/C >1). Hal ini menunjukan bahwa setiap nilai rupiah yang dikeluarkan dalam produksi akan memberikan manfaat sejumlah nilai penerimaan yang diperoleh.
5) Break Even Point (BEP)
Menurut Pulungan et al (2015), analisis Break Even Point (BEP) atau titik impas atau sering juga disebut titik pulang pokok adalah suatu keadaan yang menggambarkan hubungan antara biaya, keuntungan dan volume penjualan atau
produksi, dengan kata lain keadaan kondisi usaha tidak mengalami keuntungan maupun kerugian dapat dilihat pada Lampiran 9. Dirumuskan sebagai berikut :
Kriteria uji : Titik impas yang terlampaui apabila nilai masing-masing variabel lebih tinggi dari hasil perhitungan BEP (Break Even Point).
2. Jangka Panjang
a. Net Present Value (NPV)
Menurut Diatin dan Kusumawardany (2010), Net Present Value (NPV) atau nilai sekarang bersih adalah nilai sekarang dari keuntungan bersih yang akan diperoleh pada masa mendatang dan selisih nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari biaya. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Keterangan :
Bt = Manfaat dari usaha pada tahun ke-t Ct = Biaya dari usaha pada tahun ke-t i = Tingkat suku bunga (10%) t = Umur proyek (10 tahun)
Kriteria kelayakan usaha dalam metode NPV adalah :
a. NPV > 0, artinya usaha budidaya udang vannamei layak untuk terus dilaksanakan
b. NPV < 0, artinya usaha budidaya udang vannamei tidak layak untuk dilaksakan
c. NPV = 0, artinya usaha budidaya udang vannamei berada pada titik impas b. Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio)
Menurut Nurmasyitah dan Zuriani (2017), analisis keuntungan dan biaya (Net B/C Ratio) adalah perbandingan antara total keuntungan yang diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan layak dan memberi manfaat apabila nilai Net B/C Ratio lebih besar dari nol. Semakin besar nilai Net B/C, maka semakin besar nilai manfaat yang akan diperoleh dari usaha tersebut.
Dapat dilihat pada Lampiran 9. Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
c. Payback Period (PP)
Menurut Jayanto et al (2013), analisis Payback Period (PP) pada dasarnya digunakan untuk mengetahui seberapa lama (periode) modal/investasi yang digunakan dalam melakukan usaha, atau dengan kata lain untuk mengetahui waktu yang dapat digunakan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan keuntungan sebagai perbandingan.
d. Nilai Penyusutan
Menurut Ruslan (2004), nilai penyusutan adalah nilai yang dihasilkan dari pengurangan harga pembelian dengan harga terpakai yang dibagi dengan lamanya pemakaian dalam tahun (umur teknis). Rincian biaya penyusutan dapat dilihat pada Lampiran 8. Adapun nilai penyusutan dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Analisis Usaha Budidaya Udang Vannamei
Berdasarkan hasil analisis usaha budidaya Udang Vannamei Tambak Naga, dapat diketahui gambaran atau keadaan usaha yang sedang dijalankan.
Adapun aspek teknis yang dianalisa sebagai berikut : 1. Sarana dan Prasarana
Sarana yang digunakan dalam proses produksi udang vannamei pada Tambak Naga yang terdiri dari 1 petak dengan menggunakan sistem semi intensif yang di sewa/diusahakan oleh Bapak Susanto yang ditandai dengan menggunakan terpal dan kincir air. Untuk kolam tambak dengan ukuran 22 x 25 m. Status kepemilikan lahan adalah Bapak Jhoni yang diusahakan oleh Bapak Susanto setempat yang menjadi pemilik lahan dengan harga sewa sebesar Rp. 5.000.000 satu kali tanam (periode).
Prasarana yang diusahakan oleh Bapak Susanto dalam mempermudah proses produksi udang vannamei antara lain genset yang disediakan jika terdapat kendala pemadaman listrik, sumber air bersih dimana sebagai media berkembangnya udang vannamei.
2. Proses Produksi pada Usaha Budidaya Udang Vannamei a. Persiapan Tambak
Hal utama sebelum penyebaran benur adalah pengolahan tanah dasar pada kolam yang akan digunakan. Pengolahan tanah dasar kolam meliputi pencangkulan tanah dasar kolam dengan cara membalikkan tanah, serta
membentuk kemiringan permukaan tanah dasar kolam. Tujuan pengolahan tanah ini agar tanah menjadi kedap air sehingga dapat menahan air, struktur tanah baik sehingga dapat memperlancar proses penguraian bahan organik dan tanah menjadi higienis karena terbebas dari gas-gas beracun.
Selanjutnya dilakukan penyemprotan untuk mengangkat bakteri ataupun penyakit yang masih menempel pada permukaan tanah, juga untuk mengangkat lumpur hitam pada permukaan yang bersifat racun. Pengerjaan penyemprotan bisa berlangsung hingga seminggu.
Tahap selanjutnya adalah pengapuran yang bertujuan untuk menaikkan alkanitas dan pH air. Apabila pH air rendah, maka dosis yang digunakan adalah 0,1 kg/m2 sehingga pH akan meningkat dan kondisi stabil. Pada umumnya kapur yang digunakan adalah kapur dolomite/kaptan yang mengandung unsur magnesium dengan dosis 20 ppm. Pengapuran disebar secara merata di seluruh permukaan tanah dasar tambak kemudian dibiarkan selama ± 2-3 hari untuk dialiri air yang sudah diproses melalui penyaringan.
Langkah selanjutnya setelah pengapuran adalah penyediaan pelindung (shelter) yang diperlukan untuk tempat berlindung ketika udang vannamei akan melakukan proses pergantian kulit.
b. Pengisian Air Kolam
Setelah persiapan kolam selesai, proses selanjutnya adalah pengisian air ke dalam kolam. Dalam hal ini air disalurkan dengan menggunakan pipa satu lapis dengan di bagian depan menggunakan waring (ukuran lubang 4-5 mm) dan di belakang dengan kantong hapa (ukuran lubang 2-3 mm). Kedalaman air dibuat setinggi 60 cm dan didiamkan selama 7 hari hingga air tampak bewarna biru,
kemudian ditambahkan secara perlahan hingga mencapai ketinggian ± 0,8-1 m dan siap untuk ditebari.
Kolam yang digunakan lebih pada pola semi intensif karena dilengkapi dengan pompa air, kincir, pakan 100% Lodan dan tingkat penebaran yang tinggi.
Setiap kolam mempunyai saluran pengisian dan pemasukan yang terpisah untuk keperluan penggantian, penyiapan kolam sebelum penebaran benih, sirkulasi air dan pemanenan.
c. Penebaran Benur
Benur yang digunakan oleh Bapak Susanto berasal dari PT. DMJ Mabar.
Harga benur jenis sebesar Rp 50,-/ekor. Jumlah benur yang digunakan dalam satu kali panen adalah berkisar 140.000 benur.
Sebelum penebaran benur dilakukan proses aklimitasi atau adaptasi udang vannamei terhadap kondisi tambak yaitu dengan cara memasukkan benur ke dalam plastik bening dan diberi air tambak lalu apungkan di atas air tambak selama 30-60 menit, setelah itu benur bisa ditebar perlahan di atas tambak.
Penebaran benur dilakukan pada malam hari karena pada kondisi ini suhu air tambak rendah sehingga proses penyesuaian udang dengan kondisi air tambak berlangsung cepat.
d. Pengelolaan Pakan
Pemberian pakan udang vannamei dilakukan tiga kali dalam sehari sehingga mengharuskan petambak memberikan pakan berupa lodan tiga kali sehari. Untuk udang berumur kurang dari 30 hari, pemberian pakan dilakukan sebanyak satu kali yaitu pada siang hari hal ini dikarenakan udang masih bisa memanfaatkan pakan alami yang berasal dari dasar kolam. Sementara menginjak
umur dua bulan, pemberian pakan dilakukan sebanyak tiga kali dalam sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari karena nafsu makan dari udang vannamei semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
Dalam pemberian jumlah pakan, tambak udang naga melakukan perhitungan jumlah pakan dengan perbandingan 1 : 1 artinya dimana padat tebar 140.000 ekor akan diberikan pakan sebanyak 1 kg. Jumlah pemberian pakan bergantung pada umur udang jika udang berumur kurang dari 40 hari, makan pemberian pakan diberikan sebanyak 0,5 kg dicampurkan sebanyak ½ sendok makan Lodan, 1 kg jika udang berumur lebih dari 40 hari dan 1 kg jika udang telah berumur 1,5 bulan.
Dalam pengontrolan pakan digunakan anco yang merupakan alat terbuat dari jaring selambu berbentuk kotak yang dikaitkan dengan menggunakan tali tambang pada bambu yang dibuat menyerupai jembatan. Pakan diletakkan di atas alat tersebut dan diturunkan ke dalam kolam perlahan, pengecheckan dilakukan selama 2 jam. Apabila pakan pada anco habis menandakan jika pemberian pakan selanjutnya jumlahnya ditambah, namun jika sebaliknya pakan pada anco tidak habis dan bersisa, maka untuk pemberian pakan selanjutnya jumlahnya dikurangi.
Penambahan maupun pengurangan pakan disesuaikan dengan usia udang.
Apabila umur udang masih di bawah 40 hari, dilakukan pengurangan pakan sebanyak 0,5 kg, menginjak 40 hari dilakukan penambahan pakan sebanyak 1 kg, dan ketika melebihi umur 40 hari dilakukan penambahan pakan sebanyak 2 kg.
Hal ini dikarenakan pada saat masih usia larva, udang cenderung mencari makan di alam dan dalam jumlah yang sedikit sehingga pemberian pakan pun hanya dalam jumlah sedikit. Namun, semakin bertambahnya umur udang, maka