35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi data hasil penelitian sebagai hasil akhir perhitungan dalam studi meta-analisis pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar akuntansi di sekolah dengan menentukan nilai effect size yang diperoleh dari skripsi dan artikel jurnal penelitian eksperimen yang relevan, serta pembahasan mengenai data hasil penelitian sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
A. Hasil Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan tahapan Preferred Reporting Items For Systematic Reviews and Meta-Analyses atau PRISMA. Hasil yang teridentifikasi yang layak untuk disintesis setelah dilakukan beberapa tahapan yaitu terdapat dua skripsi dan dua belas artikel dari empat skripsi dan dua puluh dua artikel yang telah dikumpulkan. Berikut merupakan diagram PRISMA terkait topik pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar akuntansi di sekolah, sebagai berikut:
Gambar 4.1 Diagram PRISMA Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Akuntansi di Sekolah
Data hasil penelitian skripsi dan artikel yang layak disintesis akan dibagi menjadi beberapa bagian sesuai klasifikasi yang telah ditentukan sebelumnya. Adapun data hasil penelitian sebagai berikut:
1. Data Hasil Effect Size Berdasarkan Klasifikasi Model Discovery Learning Klasifikasi model discovery learning pada implementasinya terdapat dua jenis dari model tersebut, yaitu free discovery learning dan guided discovery learning. Data besar effect size dapat dilihat pada tabel 4.1. sebagai berikut:
Tabel 4.1 Effect Size Berdasarkan Klasifikasi Model Discovery Learning
No Nama Peneliti dan Tahun Penelitian
Jumlah Sub Effect
Size
Effect
Size ES̅ Kategori
Klasifikasi Model Discovery
Learning N
1. Adeka Dewita Sari
(2017) 1 0.0945
0.2335 Efek Sedang
Free Discovery
Learning 6 2. Justhin Andrew
Situmorang (2016) 1 0.2492 3.
Sahade dan
M. Yusuf A. Ngampo (2017)
3
0.1184 0.2021 0.0972 4. Indri Nugraha, Dr. Asep
dan M. Arief (2017) 1 0.5143 5. Dumaria Pohan (2017) 1 0.351 6. Yayu Ramadhani (2019) 2 0.4503
0.0246 7. Aprilia dan Susanti
(2014) 1 0.1174
0.3305 Efek Besar
Guided Discovery
Learning 8 8. Okafor dan Dr. Ile
(2014) 1 0.94
9. Nur Aisyah (2019) 1 0.2391 10. Arik dan Rochmawati
(2015) 2 0.2362
0.2357 11. Yulia dan Agung (2015) 2 0.1874 0.0725 12. Mawardah Warahmah
(2017) 1 0.2665
13. Martha Novia (2019) 1 0.6795 14. Ernest, Taiwo, dan Ige
(2020) 1 0.720
Rata-rata Effect Size 0.2820 (Efek Besar)
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa model discovery learning diklasifikasikan menjadi dua yaitu, free discovery learning dan guided discovery learning. Pada penelitian yang menggunakan model free discovery learning sebanyak satu skripsi dan lima artikel dengan besar efek ES̅ = 0.2335, kemudian penelitian yang menggunakan model guided discovery learning sebanyak satu skripsi dan tujuh artikel dengan besar efek ES̅ = 0.3305. Dari data diatas diketahui rata-rata effect size terbesar diperoleh dengan menggunakan model guided discovery learning kemudian free discovery learning. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model discovery learning berdasarkan klasifikasinya memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar dengan besar efek ES̅ = 0.2820.
2. Data Hasil Effect Size Free Discovery Learning terhadap Hasil Belajar Data hasil effect size free discovery learning pada hasil belajar diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Berikut data hasil effect size skripsi dan artikel penelitian pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar yang menggunakan jenis model free discovery learning terhadap hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotorik, sebagai berikut:
Tabel 4.2 Effect Size Berdasarkan Klasifikasi Free Discovery Learning terhadap Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
No Nama Peneliti dan Tahun Penelitian
Effect
Size ES̅ Kategori Klasifikasi Hasil Belajar N 1. Justhin Andrew
Situmorang (2016) 0.2492
0.2693 Efek
Besar Kognitif 5 2. Adeka Dewita Sari
(2017) 0.1777
3.
Sahade dan
M. Yusuf A.
Ngampo (2017)
0.1184 4. Dumaria Pohan
(2017) 0.351
5. Yayu Ramadhani
(2019) 0.4503
6.
Sahade dan
M. Yusuf A.
Ngampo (2017)
0.0972
0.0609 Efek
Kecil Afektif 2 7. Yayu Ramadhani
(2019) 0.0246
8.
Sahade dan
M. Yusuf A.
Ngampo (2017)
0.2021
0.3582 Efek
Besar Psikomotorik 2 9.
Indri Nugraha, Dr.
Asep dan M. Arief (2017)
0.5143
Rata-rata Effect Size 0.2294 (Efek Sedang)
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa penggunaan model discovery learning menggunakan jenis model free discovery learning terhadap ketiga aspek hasil belajar memiliki hasil effect size yang berbeda- beda pada sampel satu skripsi dan lima artikel penelitian. Penelitian dengan effect size terbesar yaitu terhadap hasil belajar psikomotorik dengan besar efek ES̅ = 0.3582 yang memiliki efek besar, kemudian penelitian terhadap hasil belajar kognitif dengan besar efek ES̅ = 0.2693 yang memiliki efek besar dan yang terakhir penelitian terhadap hasil belajar afektif dengan besar efek ES̅ = 0.0609 yang memiliki efek kecil. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model discovery learning menggunakan
jenis model free discovery learning terhadap hasil belajar memiliki pengaruh yang sedang dengan besar efek ES̅ = 0.2294.
3. Data Hasil Effect Size Guided Discovery Learning terhadap Hasil Belajar Data hasil effect size guided discovery learning pada hasil belajar juga dibagi menjadi tiga ranah, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Berikut data hasil effect size skripsi dan artikel penelitian pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar yang menggunakan jenis model guided discovery learning terhadap hasil belajar pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, sebagai berikut:
Tabel 4.3 Effect Size Berdasarkan Klasifikasi Guided Discovery Learning terhadap Hasil Belajar Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik
No Nama Peneliti dan Tahun Penelitian
Effect
Size ES̅ Kategori Klasifikasi Hasil Belajar N 1. Aprilia dan Susanti
(2014) 0.1174
0.3495 Efek
Besar Kognitif 5 2. Okafor dan Dr. Ile
(2014) 0.94
3.
Arik dan Rochmawati (2015)
0.2362 4. Yulia dan Agung
(2015) 0.1874
5. Mawardah
Warahmah (2017) 0.2664 6. Nur Aisyah (2019) 0.2391
0.2390 Efek
Sedang Afektif 2 7. Ernest, Taiwo, dan
Ige (2020) 0.720
8.
Arik dan Rochmawati (2015)
0.2357
0.3292 Efek
Besar Psikomotorik 2 9. Yulia dan Agung
(2015) 0.0725
10. Martha Novia
(2019) 0.6795
Rata-rata Effect Size 0.3059 (Efek Besar)
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa penggunaan model discovery learning menggunakan jenis model guided discovery learning terhadap ketiga
aspek hasil belajar memiliki hasil effect size yang berbeda-beda pada sampel satu skripsi dan tujuh artikel penelitian. Penelitian dengan effect size terbesar yaitu terhadap hasil belajar kognitif dengan besar efek ES̅ = 0.3495 yang memiliki efek besar, kemudian penelitian terhadap hasil belajar psikomotorik dengan besar efek ES̅ = 0.3292 yang memiliki efek besar dan yang terakhir penelitian terhadap hasil belajar afektif dengan besar efek ES̅ = 0.2390 yang memiliki efek sedang. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa penggunaan model discovery learning menggunakan jenis model guided discovery learning terhadap hasil belajar memiliki pengaruh yang besar dengan besar efek ES̅ = 0.3059.
B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai besarnya pengaruh model discovery learning terhadap hasil belajar akuntansi di sekolah dengan cara menganalisis penelitian eksperimen yang telah dilakukan sebelumnya mengenai penggunaan model discovery learning. Penelitian ini dibatasi dengan model discovery learning yang diklasifikasikan menjadi dua jenis pada implementasinya yaitu free discovery learning dan guided discovery learning. Pada hasil belajar dibatasi dengan hasil belajar yang diklasifikasikan pada tiga ranah, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Data penelitian eksperimen mengenai hasil belajar pada ranah kognitif menggunakan data pretest–posttest pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, hasil belajar pada ranah afektif pengambilan data menggunakan angket dan hasil belajar pada ranah psikomotorik menggunakan data observasi dan angket. Untuk mengetahui berbagai besarnya pengaruh yang dihasilkan dalam pembelajaran ini, maka perlu dilakukan perhitungan besar pengaruh atau effect size sehingga dapat dianalisis berbagai besarnya pengaruh yang terlibat dalam pembelajaran model discovery learning terhadap hasil belajar akuntansi di sekolah.
Dari empat skripsi dan dua puluh dua artikel penelitian yang dikumpulkan, beberapa skripsi dan artikel tersebut tidak termasuk kedalam kriteria dan beberapa skripsi dan artikel tidak dapat diperhitungkan effect size-nya, karena faktor tidak
lengkap nya data yang dibutuhkan sehingga pada akhirnya harus dieliminasi dan tidak dapat dilakukan sintesis pada skripsi dan artikel penelitian tersebut. Dari skripsi dan artikel penelitian yang diperoleh, pada akhirnya terdapat dua skripsi dan dua belas artikel penelitian yang sesuai dengan kriteria, sehingga dapat dilakukan perhitungan menggunakan formula yang telah ditentukan yaitu perhitungan effect size menggunakan rumus eta-square untuk masing-masing skripsi dan artikel penelitian. Berikut pembahasan hasil dari effect size pada masing-masing skripsi dan artikel penelitian sesuai dengan kategori:
1. Pengaruh Model Pembelajaran Berdasarkan Klasifikasi Model Discovery Learning
Berikut merupakan uraian mengenai meta-analisis pengaruh model pembelajaran berdasarkan klasifikasi jenis - jenis model discovery learning dari hasil perhitungan pada tabel 4.1 yaitu free discovery learning dan guided discovery learning.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa implementasi model discovery learning yang memberikan pengaruh terbesar adalah jenis model guided discovery learning dengan sampel sebanyak satu skripsi dan tujuh artikel penelitian yang menghasilkan ES̅ 0.3305 (efek besar), kemudian pada model free discovery learning dengan sampel sebanyak satu skripsi dan lima artikel penelitian yang menghasilkan ES̅ 0.2335 (efek sedang), hal ini menunjukkan bahwa penggunaan jenis model guided discovery learning efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian skripsi dan artikel menunjukkan bahwa perlakuan pada kelompok eksperimen dengan model guided discovery learning lebih efektif atau menghasilkan hasil belajar yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Dengan hasil perhitungan efek dalam penelitian ini, kita dapat melihat seberapa efektif model guided discovery learning dengan menggunakan partisipasi kelompok pembanding yaitu kelompok kontrol di setiap sub penelitian.
Pada hasil penelitian Muryani (2015) menunjukkan bahwa model guided discovery learning memungkinkan untuk lebih baik digunakan karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa dibandingkan dengan model free discovery
learning. Hal ini dikarenakan pada guided discovery learning, siswa memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi materi dan membangun pengetahuannya sendiri untuk pemahaman yang lebih mendalam. Pembelajaran menggunakan model guided discovery learning, siswa dapat menemukan hal-hal yang relevan sesuai dengan materi yang diajarkan, sehingga siswa dapat memahami materi dengan baik karena siswa berperan langsung dalam menemukan konsep dan guru berperan sebagai pembimbing agar proses kegiatan pembelajaran dapat terarah sesuai tujuan yang diharapkan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Onikarini dkk., (2019) dan Purba & Djulia (2017) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa yang belajar dengan model guided discovery learning dan siswa yang belajar dengan menggunakan model free discovery learning. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pada pengetahuan prosedural siswa yang diajarkan dengan model guided discovery learning lebih tinggi dibandingkan dengan model free discovery learning.
Alasan yang mendasari keunggulan model guided discovery learning dalam meningkatkan hasil belajar adalah peran guru. Penggunaan model guided discovery learning harus dapat membimbing siswa agar dapat merumuskan masalah, merumuskan hipotesis dan melakukan eksperimen yang diharapkan.
Peran guru harus lebih kreatif dalam membimbing dengan memberikan masalah yang berkaitan dengan topik yang mudah dipahami siswa untuk mencapai apa yang diharapkan guru. Guru lebih memperhatikan dan membimbing siswa yang pasif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran khususnya praktikum agar siswa mau bekerjasama dengan siswa yang lainnya. Pada model free guided discovery learning harus memerlukan kondisi siswa yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan harus beradaptasi pada materi dan waktu yang relatif lama untuk melatih siswa agar terbiasa pada proses pembelajaran yang menggunakan model free discovery learning. Dalam proses pembelajarannya, model guided discovery learning lebih efektif untuk digunakan dalam kelas dibandingkan model free discovery learning, karena model free discovery learning harus memperhatikan kondisi siswa terlebih dahulu dan membutuhkan waktu yang lama, walaupun
secara keseluruhan keduanya mampu untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan ES̅ 0.2820 (efek besar). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian meta- analisis menurut Karlina (2021) yang menunjukkan bahwa model discovery learning mampu meningkatkan hasil belajar matematika dari 15 artikel yang telah di analisis dihasilkan effect size rata-rata sebesar 3.55.
Penerapan model discovery learning secara keseluruhan dalam teori konstruktivisme menurut Bruner, siswa dituntut belajar secara aktif dengan lingkungannya, kemudian siswa mengembangkan pikirannya dan siswa mencari sendiri pemahaman konsep dan ide-ide baru melalui belajar penemuan. Pada implementasinya model free discovery learning dan model guided discovery learning terdapat perbedaan, yaitu pada peran guru dan kondisi siswa. Pada model free discovery learning siswa menemukan pengetahuannya sendiri tanpa adanya bimbingan dari guru dan guru hanya sebagai fasilitator, sedangkan model guided discovery learning secara aktif menuntut siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri atas bimbingan dan arahan dari guru.
2. Pengaruh Model Free Discovery Learning Berdasarkan Klasifikasi Hasil Belajar
Model free discovery learning memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa di sekolah. Hasil belajar dalam analisis ini diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penggunaan jenis model free discovery learning terhadap hasil belajar yang memberikan pengaruh terbesar terdapat pada ranah psikomotorik dengan sampel sebanyak dua artikel penelitian dengan ES̅ 0.3582 (efek besar), kemudian pada ranah kognitif memberikan pengaruh dengan ES̅ 0.2693 (efek besar) dengan sampel sebanyak satu skripsi dan empat artikel penelitian, yang terakhir pada ranah afektif memberikan pengaruh yang kecil dengan ES̅ 0.0609 (efek kecil) dengan sampel sebanyak satu skripsi dan satu artikel penelitian.
Pengaruh penggunaan model free discovery learning terhadap hasil belajar terbesar terdapat pada ranah psikomotorik. Hasil psikomotorik siswa diukur melalui lembar observasi dan angket yang mencakup pada tiga aspek pengamatan. Aspek tersebut yaitu mampu mempraktikkan pengetahuan
berdasarkan teori yang sudah dipelajari, mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu, dan mampu membangun ide-ide dan konsep-konsep baru dengan menafsirkannya melalui perbandingan dengan pengetahuan yang sebelumnya.
Hasil penelitian yang relevan, menurut Sahade dan Ngampo (2017) menunjukkan bahwa model free discovery learning pada ranah psikomotorik memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan model konvensional.
Hasil psikomotorik akuntansi berupa keterampilan atau praktik siswa contohnya dalam membuat siklus akuntansi. Pengaruh yang besar terhadap hasil belajar pada ranah psikomotorik dapat memberikan informasi yang lengkap yang diperoleh siswa saat menemukan pengetahuannya sendiri dari proses belajarnya.
Pengaruh penggunaan model free discovery learning terhadap hasil belajar pada ranah kognitif juga memiliki efek yang besar. Hasil kognitif siswa diukur melalui hasil pretest-posttest kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol atau pembanding. Hasil belajar kognitif siswa meliputi pengetahuan serta pemahaman yang dibangun oleh siswa itu sendiri terhadap materi yang diberikan. Hasil penelitian menurut Ramadhani (2019) menunjukkan bahwa model free discovery learning memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa pada ranah kognitif. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Kadri dan Rahmawati (2015) yang menunjukkan bahwa model discovery learning dengan menggunakan model free discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan rata-rata nilai kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Pengaruh penggunaan model free discovery learning terhadap hasil belajar yang memiliki besaran efek kecil terdapat pada ranah afektif. Hasil afektif siswa diukur melalui angket yang meliputi siswa terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada siswa lain atau guru apabila ada kendala yang dihadapi, berusaha mencari dan menemukan informasi untuk pemecahan masalahnya, melaksanakan diskusi kelompok, mampu menerima respon dengan cepat, dan mampu memadukan nilai-nilai yang diyakini dalam tingkah laku sehari-hari.
Hasil penelitian menurut Sahade dan Ngampo (2017) hasil belajar pada ranah
afektif memiliki hasil yang lebih rendah dibandingkan pada ranah kognitif dan psikomotorik.
Model free discovery learning pada hasil belajar ranah psikomotorik lebih besar karena model ini dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa. Sejalan dengan penelitian Rismasellia (2017) siswa dengan kemandirian belajar yang tinggi akan menghasilkan kemampuan membuat karya atau tulisan, karena pada saat proses pembelajarannya siswa dituntut untuk menemukan jawaban atas masalah yang diberikan, sehingga kemampuan psikomotorik siswa akan mengalami peningkatan yang dapat menumbuhkan kemampuan kognitifnya untuk memecahkan permasalahan yang ada. Hasil belajar pada ranah afektif rendah, hal ini dibuktikan dengan penelitian yang relevan Nathalia (2019) yang menunjukkan bahwa guru belum memaksimalkan media pembelajaran yang ada, sehingga pembelajaran dengan menggunakan model free discovery learning tidak menarik perhatian siswa yang berdampak pada kemampuan komunikasi siswa. Model free discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik apabila siswa memiliki kemampuan yang cukup untuk belajar penemuan, guru mampu menciptakan suasana dan fasilitas pembelajaran yang memadai dan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Secara keseluruhan penggunaan model free discovery learning dapat membangun rasa percaya diri siswa karena siswa dituntut untuk belajar mandiri dan dapat meningkatkan kolaborasi antar siswa untuk menemukan pengetahuan yang baru. Model free discovery learning memiliki keunggulan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu, siswa memperoleh kesempatan untuk lebih banyak mengembangkan keterampilan berpikir kreatifnya, siswa juga menjadi lebih mandiri dalam menyelesaikan masalahnya dan adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dengan memiliki berbagai alternatif cara untuk menyelesaikannya tergantung bagaimana siswa mengkontruksi sendiri pengetahuannya (Sanjaya, 2008). Pada pembelajaran free guided discovery learning siswa diberikan kesempatan untuk menemukan
sendiri ide-ide sebanyak-banyaknya dan guru hanya sebagai fasilitator (Suprihatiningrum, 2013).
Dari kekurangannya, model free discovery learning kurang efektif untuk diterapkan pada siswa yang memiliki kemampuan yang kurang baik karena memerlukan waktu yang lama untuk beradaptasi. Model ini memerlukan siswa yang memiliki kemampuan yang baik, apabila kondisi siswa sudah cukup untuk memungkinkan menggunakan model ini maka model free discovery learning dapat membantu untuk meningkatkan hasil belajarnya (Onikarini dkk., 2019).
3. Pengaruh Model Guided Discovery Learning Berdasarkan Klasifikasi Hasil Belajar
Model guided discovery learning memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa di sekolah. Hasil belajar dalam analisis ini juga diklasifikasikan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penggunaan jenis model guided discovery learning terhadap hasil belajar yang memberikan pengaruh terbesar terdapat pada ranah kognitif dengan sampel sebanyak satu skripsi dan empat artikel penelitian dengan ES̅ 0.3495 (efek besar), kemudian pada ranah psikomotorik yang memberikan pengaruh dengan ES̅ 0.3292 (efek besar) dengan sampel sebanyak tiga artikel penelitian, yang terakhir pada ranah afektif memberikan pengaruh dengan ES̅ 0.2390 (efek sedang) dengan sampel sebanyak dua artikel penelitian.
Pengaruh penggunaan model guided discovery learning terhadap hasil belajar pada ranah kognitif memiliki efek yang besar. Hasil kognitif siswa diukur melalui hasil pretest-posttest kepada kelas eksperimen dan kelas kontrol atau pembanding. Hasil penelitian menurut Astutik (2014) menunjukkan bahwa penerapan model discovery learning dengan menggunakan model guided discovery learning dapat menciptakan suasana belajar yang lebih aktif. Siswa tidak hanya mendapatkan materi yang diberikan oleh guru, melainkan siswa dapat memecahkan masalah dan mencari sendiri pengetahuannya melalui referensi-referensi yang ada tetapi juga adanya bimbingan dari guru dan model ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ferdiansyah dan Airlanda (2021) yang menunjukkan bahwa model discovery
learning dengan menggunakan model guided discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil uji effect size dengan menggunakan uji- t memiliki besaran 1.86 yang dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan berpengaruh dalam meningkatkan hasil belajar kognitif siswa.
Pengaruh penggunaan model guided discovery learning terhadap hasil belajar pada ranah psikomotorik juga memiliki efek yang besar. Hasil psikomotorik siswa diukur melalui hasil observasi dan angket yang dibuat oleh guru untuk mengetahui kegiatan apakah siswa mampu mempraktikkan pengetahuan berdasarkan teori yang sudah dipelajari, mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu, dan mampu membangun ide-ide dan konsep-konsep baru dengan menafsirkannya melalui perbandingan dengan pengetahuan yang sebelumnya dengan bimbingan guru. Hasil penelitian Novia (2019) menunjukkan bahwa penggunaan model discovery learning menggunakan model guided discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar pada ranah psikomotorik. Hasil psikomotorik ini dapat diharapkan setelah siswa mempelajari materi yang dipelajari, siswa dapat mempraktikannya di kehidupan sehari-hari. Pengaruh penggunaan model guided discovery learning terhadap hasil belajar yang memiliki besaran efek sedang terdapat pada ranah afektif.
Hasil penelitian menurut Rhenata (2020) menunjukkan bahwa keaktifan siswa meningkat pada saat menggunakan model discovery learning dengan menggunakan model guided discovery learning, hal ini ditunjukkan dengan siswa yang berani mengemukakan pendapat serta berani mengajukan pertanyaan tanpa menunggu ditunjuk oleh guru.
Model guided discovery learning pada hasil belajar ranah kognitif lebih besar karena model ini dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Guru memberikan rangsangan dan pengarahan yang baik pada proses belajar penemuan dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan psikomotorik siswa.
Siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan melalui bimbingan dari guru, siswa yang belum terbiasa akan lebih mudah apabila proses pembelajarannya dirancang dengan baik oleh guru. Selain itu, hasil belajar pada ranah afektif siswa juga dapat meningkat apabila guru mampu memberikan media
pembelajaran yang sesuai dan mampu menarik perhatian siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian Wati, (2015) dan Seda, dkk., (2019) yang menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan menggunakan model guided discovery learning.
Secara keseluruhan penggunaan model guided discovery learning dapat meningkatkan motivasi karena guru memberikan rangsangan dan arahan pada pembelajaran dan dapat mendorong partisipasi belajar siswa karena siswa dituntut untuk aktif membangun pengetahuannya. Model guided discovery learning memiliki keunggulan untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu, mendukung kemampuan pemecahan masalah siswa, materi yang dipelajari lebih lama tersimpan dimemori siswa karena siswa dilibatkan dalam proses menemukan masalahnya, menggunakan model ini lebih terarah sehingga dapat mencapai tujuan yang diinginkan dan tidak menimbulkan kekacauan atas materi yang dipelajari (Markaban, 2018). Sejalan dengan teori konstruktivisme dari Bruner yang menyatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri ide-ide dan konsepnya. Pada pembelajaran guided discovery learning kegiatan pembelajaran memerlukan bimbingan guru agar siswa lebih terarah dalam menemukan sendiri ide-ide dan konsepnya (Suprihatiningrum, 2013).
Dari keunggulannya, model guided discovery learning ini efektif untuk diterapkan pada siswa yang memiliki kemampuan yang kurang baik dan tinggi dibandingkan model free discovery learning karena pembelajaran ini memerlukan bimbingan dan arahan dari guru untuk membangun pemahaman dan pengetahuannya. Hasil penelitian ini didukung oleh Ernawati dan Nurhasanah (2016) yang menunjukkan bahwa hasil belajar IPA siswa yang menerapkan model guided discovery learning lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang menerapkan model free discovery learning.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka dijelaskan bahwa model discovery learning mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara keseluruhan. Sejalan dengan teori konstruktivisme menurut Bruner, siswa dituntut belajar secara aktif dengan lingkungannya, kemudian siswa mengembangkan pikirannya dan siswa
mencari sendiri pemahaman konsep dan ide-ide baru melalui belajar penemuan.
Hasil penelitian tersebut mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa, seperti penelitian yang dilakukan oleh Okafor dan Ile (2014); Fahrullah (2016); Sari (2017); Sopia dkk (2017); Warahmah (2017); Widiarochmawati (2020); Satiti (2020). Hasil penelitian effect size menunjukkan bahwa jenis model guided discovery learning memiliki efek yang besar dibandingkan dengan free discovery learning. Perbedaan kedua jenis model tersebut adalah peran guru, pada free discovery learning guru hanya sebagai fasilitator dan berperan untuk memotivasi siswa pada pemberian rangsangan, sedangkan guided discovery learning guru berperan sebagai pembimbing untuk mengarahkan siswa menyelesaikan masalah yang ada. Hal ini sesuai dengan penelitian Muryani (2015); Purba dan Djulia (2017); Onikarini dkk., (2019) yang menunjukkan bahwa model guided discovery learning lebih efektif untuk digunakan dibandingkan model free discovery learning. Pada free discovery learning, hasil belajar yang memberikan pengaruh terbesar terdapat pada ranah psikomotorik, kemudian ranah kognitif dan ranah afektif. Pada guided discovery learning, hasil belajar yang memberikan pengaruh terbesar terdapat pada ranah kognitif, kemudian ranah psikomotorik, dan ranah afektif. Hasil belajar dapat dicapai dengan baik apabila guru mampu menguasai pembelajaran dan memahami kondisi kemampuan belajar siswa.