i
Proceeding
OASE (THE OVERSEAS ACADEMIC STUDY EXCHANGE PROGRAM)
Seminar, Discussions, Academic Field Studies, Campus,
and Education Institution Visit
PROCEEDING
OASE (The Overseas Academic Study Exchange Program)
Seminar, Discussions, Academic Field Studies, Campus and Education Institution Visit
ISSN: 2686-4312 Vol. 2, No. 1
Diterbitkan Oleh:
Direktorat Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Penanggung Jawab Akhsanul In’am., Ph.D.
Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Dewan Editor
Mokhamad Najih., Ph.D (Koordinator) Dr. Diah Karmiyati., M.Si
Dr. Wahyudi., M.Si
Prof. Dr. Yus Moch Cholili., M.Pd Dr. Moh. Nurhakim., M.Ag
Dr. Hartono., M.Pd Dr. Ribut Wahyu Eriani., M.Pd
Dr. Eko Handayanto., M.M Dr. Bambang Yudi Aryadi Luluk Dwi Kumalasari., M.Si
Desain Grafis Nurisma Sofiana., S.Pd Zumrotul Sholihah, S.Ikom
Alamat Redaksi
Kampus 3: GKB 4 Lantai 1 – 3 Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang, East Java, Indonesia 65144 Phone: +62 341 46418-19 (Hunting)
Fax : +62 341 460782
iii
Kata Pengantar …
Alhamdulillah, puji syukur dihaturkan kepada Allah SWT, berkat rahmat, taufiq dan hidayah-Nya proceeding OASE 2018 ini dapat diterbitkan dengan baik. Meskipun terlambat, tetapi dapat di wujudkan dengan perjuangan yang lumayan melelahkan.
Program OASE (The Overseas Academic Study Exchange Program) 2018 merupakan program pengembangan dan pengenalan kepada mahasiswa pascasarjana pada DPPS UMM untuk angkatan tahun 2017. Adapun tujuan program ini adalah membekali pengalaman pada mahasiswa pascasarjana presentasi karya ilmiah di forum internasional. Perlu disampaikan bahwa tidak semua makalah diterbitkan dalam proceediung ini, hanya yang memenuhi syarat dan lolos uji plagiasi sampai 50% yang diterbitkan. Sedangkan yang tidak memenuhi syarat hanya abstaraksinya atau judulnya saja.
OASE 2018 dilaksanakan pada tanggal, 1 – 4 Desember 2018 dengan tujuan 3 (tiga) kampus utama di Malaysia yaitu Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universiti Malaya (UM) dan 1(satu) institusi di Singapura (Persyarikatan Muhammadiyah).
Proceeding yang seedrhana ditangan pembaca ini, adalah karya mahasiswa yang ditulis untuk kegiatan OASE 2018 tersebut. Mengingat beragamnya tema yang buat oleh mahasiswa maka kualifikasi disusun berdasarkan program studi dan berdasarkan urutan abjad nama penyusunnya.
Atas terbitnya proceeding ini, kami menyampaikan terimakasih kepada Direktur pascasarjana UMM beserta jajaran staf atas dukungan dan bantuannya. Khsusunya kepada sdri Zumrotul Sholihah S.Ikom, dan Nurisma Sofiana, SPd., yang telah menyusun dan melakukan editing sehingga dapat tersusunnya proceeding ini.
Malang, 25 Maret 2019 Panitia
Daftar Isi …
MAGISTER BAHASA INGGRIS 1
STUDENTS’ SELF-ESTEEM IN LEARNING SPEAKING AT KAMPOENG INGGRIS SMART ENGLISH COURSE
Amanaturrohmah 2
APPLYING ENGLISH PROGRAM IN OUTSIDE OF LECTURE TO IMPROVE ESP (ENGLISH FOR SPECIFIC PURPOSES) OF PUBLIC HEALTH SCIENCE'S STUDENTS
Dwi Priyo Santoso 8
A STUDY ON THE TEACHING MEDIA USED BY THE ENGLISH TEACHER AT SMP MUHAMMADIYAH 2 MALANG
Fajar Wirawan 12
THE STRUGGLE OF MILITARY CADETS TO LEARN ENGLISH IN THE CLASSROOM
Ida Setianingsih 19
LANGUAGE TESTING
Mulis 25
THE MOTIVATION OF STUDENTS IN LEARNING ENGLISH AT NURSING STUDENTS
Pendik Setiawan 34
CLASSROOM MANAGEMENT FOR AN EFFECTIVE LEARNING ENVIRONMENT AT THE EIGHT GRADE STUDENTS OF STATE ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL OF BATU
Sukma Widya Sasmi Sabbu 41
EFFECTIVE TEACHER STYLE IN INCREASING STUDENTS’ MOTIVATION IN ENGLISH FOR FASHION DESIGN
Sulastri 47
REDEFINING EFFECTIVE CLASSROOM MANAGEMENT: A STUDY OF
CUSTOMIZED CLASSROOM MANAGEMENT AT PUBLIC SENIOR HIGH SCHOOL (SMAN) 1 PAITON PROBOLINGGO, INDONESIA.
v
MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA 58
STUDENT RESPONSE PROFILE BASED ON SOLO TAXONOMY IN SOLVING THE PROBLEM IN THE MATERIAL GEOMETRY IS REVIEWED FROM ADVERSITY QUOTIENT
Abdul Wahab 59
FINISHED COMPETITION METHOD TO INCREASE UNDERSTANDING OF PARTICIPANTS IN NON-OPERATING OPERATIONS
Achmad Syahirul Alim 67
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PENGGUNAAN SPSS DI KELAS STATISTIK INFERENSIAL
Arief Rahman Hakim 77
ANALYSIS OF STUDENT BALANCE CAPABILITIES BASED ON SETTLEMENT OF MULTIPLE CHOICE TYPE TIMSS PROBLEMS
Arkadius Kiang Lagamakin 83
UNDERSTAND THE CONCEPT OF TRANSFORMATION GEOMETRY WITH THE HELP OF SOFTWARE GEOGEBRA THROUGH TECHNIQUES PREDICT, OBSERVE, AND EXPLAIN
Azimatul Munirah 94
APPLICATION OF E-LEARNING BASED MEDIA EDMODO TO INCREASE ACTIVITY AND LEARNING OUTCOMES GEOMETRY
Danang Lipianto 99
IMPLEMENTATION OF CHARACTER EDUCATION THROUGH MATHEMATICS LEARNING
Defriana Dwi Lestari 111
THE ANALYSIS OF STUDENT’S MATHEMATICAL WRITING ABILITY OF VIII GRADE STUDENTS AT ISLAMIC JUNIOR HIGH SCHOOL MUHAMMADIYAH 1 MALANG
Dita Latifatu Syarifah 117
MATHEMATICAL LEARNING MIND MAPPING MODEL EDRAW MIND MASTER ASSISTED IN TRIGONOMETRY
Fika Puspitasari 123
PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PENALARAN DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA
Imroatul Kosia 128
THE EFFECTIVENESS OF COOPERATIVE LEARNING WITH COURSE REVIEW HORAY TO IMPROVE THE STUDENT’S ACHIEVEMENT
Karimah Mabrukah 136
HUBUNGAN ANTARA LONELINESS DAN PENALARAN MATEMATIKA
Lisda Ramdhani 142
ANALYSIS OF STUDENTS PROCEDURAL ABILITY TO SOLVE THE PROBLEM OF THE LINEAR EQUATION SYSTEM TWO VARIABLES
Lusia Bince Kumanireng 148
VALIDITY AND PRACTICALITIES STUDENT WORKSHEET CONTENT-BASED CONTEXTUAL APPROACH BUILD SPACE FLAT SIDE OF STUDENTS OF SMP
Romadhon 156
MATHEMATICAL PROBLEM SOLVING ANALYSIS ON CIRCLE GEOMETRY USING ESSAY TESTS
Roro Dyar Ayu Maulitasari 165
THE ANALYSIS OF TEACHER'S DIFFICULTIES IN IMPLEMENTING PRODUCT ASSESSMENT IN MATHEMATICS LEARNING
Silvia Irene 171
IMPLEMENTATION OF LEARNING METHODS TWO STAY TWO TO STRAY HELPFUL GEOGEBRA IMPROVE RESULTS
Sunaryo Sinto Sidul 177
THE ANALYSIS OF STUDENT MISCONCEPTION IN CONGRUENCE AND SIMILARITY MATERIALS USING TWO - TIER MULTIPLE CHOICE
Windy Tunas Putri 185
RESPON SISWA SMP TERHADAP GAME MATEMATIKA EDUKATIF
Zulkipli 192
MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA 197 KESENJANGAN BUDAYA KOMUNIKASI BERDASARKAN STRATAFIKASI
SOSIAL PADA KETURUNAN AMAQ DENGAN MENAQ DI LOMBOK
Agus Darma Putra 198
EKSISTENSI PEMBELAJARAN BIPA DI KANCAH INTERNASIONAL
Ainur Trihana Indrawati 206
DISTRIBUSI SENYAPAN DALAM TUTURAN BAHASA INDONESIA (KAJIAN PSIKOLINGUISTIK)
Mey Lisawatul Munawaroh 222
BAHASA KHOTBAH JUMAT DI MASJID ANNUR KABUPATEN MALANG: UPAYA KONSERVASI BAHASA JAWA MELALUI PENANAMAN NILAI-NILAI AGAMA
Muhammad Rivai Sakka 227
REPRESENTASI BUDAYA NTT DALAM STAND UP COMEDY EPHY PAE
Richard Oematan 241
vii
KAJIAN SOSIOLINGUISTIK PADA STIKER PENDUKUNG SEPAK BOLA AREMA FC DI MALANG
Rizki Amsari Saragih 246
KAJIAN SEMIOTIK PADA PUISI-PUISI BERTEMA PERJUANGAN
Anisa Wahyu Ifanti 252
REPRESENTASI CANTIK DALAM NOVEL CANTIK ITU LUKA KARYA EKA KURNIAWAN DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA
Runi Fazalani
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 257
REVITALISASI BUDAYA DAN TRADISI SEBAGAI DASAR MELAKUKAN
Adi Irfan Marjuqi 258
PENGEMBANGAN KURIKULUM DARI ASPEK NORMATIVE DAN HISTORIS DALAM PERJALANAN SEJARAH KELEMBAGAAN PENDIDIKAN ISLAM
Akbarlita Ari Kurnia 268
THE SCIENCE REVOLUTION AS THE BASE FOR THE DEVELOPMENT OF ISLAMIC EDUCATION CURRICULUM MATERIALS
Fahmi Arief Hidayat 280
REKONSTRUKSI KAJIAN PENDIDIKAN SEBAGAI SALAH SATU BASIS PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM
Muhammad Arief 291
MAGISTER AGRIBISNIS 301
PENGARUH PROMOSI MELALUI KEGIATAN BAKING DEMO DALAM
MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN PRODUK DI PT. WILMAR NABATI INDONESIA
Azhar Rohmadi 302
PERCEPTION OF FARMERS IN ORGANIC FARMING SYSTEMS IN BATU CITY
Sinta Dewi Andaru 308
MAGISTER MANAJEMEN 315
PENERAPAN BALANCED SCORECARD SEBAGAI ALTERNATIF PENILAIAN KINERJA ORGANISASI PUBLIK
Afnita 316
EMOTION MANAGEMENT, SPIRITUALITY, MOTIVATION, AND WORKING SPIRIT : AN EXPERIMENTAL STUDY
Andry Syuhada Caesar Saefullah 327
LEADERSHIP STYLE AND ITS EFFECT ON EMPLOYEE PERFORMANCE
Eka Widiantini 336
STUDI LITERATUR PENGARUH BUDAYA ORGANISASI ,PERILAKU
KEPEMIMPINAN, KOMITMEN ORGANISASI, TERHADAP KEPUASAN KERJA DAN KINERJA
Eni Sumadi 344
THE RELATIONSHIP OF GOAL SETTING AND FEEDBACKON PERFORMANCE
Eria Ayu Kudria 353
ANALISIS KOMUNIKASI ORGANISASI, MOTIVASI KERJA,DAN
KOMPENSASIUNTUK MENINGKATKAN KINERJA GURU (STUDI LITERATUR)
Farokh Khoirun Nisa’ 361
POLITICAL RISKS OF GLOBAL BUSINESS : A CRITICAL CONCERN TO TERRORISM AND CORRUPTION IN INDONESIA
Muhammad Zulfiqar Mahmud 370
CULTURAL STUDY IN INTERNATIONAL MARKETING: SUKSES DALAM PEMASARAN GLOBAL
Nur Sakinah 367
PENERIMAAN APLIKASI P-CARE DI PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN METODE TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL – SEBUAH STUDI LITERATUR
Nurul Zuroidah 390
PENERAPAN PRINSIP TQM (TOTAL QUALITY MANAGEMENT) PADA PERUSAHAAN DI INDONESIA
Taufiq Fitrianto 397
HUBUNGAN WORK FAMILY CONFLICT, JOB STRESS, BURNOUT DENGAN KINERJA KARYAWAN
Uswatun Hasanah 405
CONSUMERS' INTENTION TO CHOOSE HALAL FOOD IN GLOBAL MARKETS
Yayuk Yuniarti 415
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN JOB CRAFTING: REVIEW
Zumrotul Sholihah 423
MAGISTER ILMU HUKUM 431
SELAYANG PANDANG PEMERINTAH DESA DONOWARIH
Ary Widy Hartono 432
ANALISIS HUKUM PERTAMBANGAN EMAS TANPA IZIN DI WILAYAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT
Bakti Bina Darmayanti 438
ix
DEMOKRASI PANCASILA: MEWUJUDKAN IDEALISME DAN KEDAULATAN RAKYAT BERDASARKAN PANCASILA
Ifan Taufikurrohman 444
PENGAKUAN TERHADAP SAKSI DAN KETERANGA “TESTIMONIUM DE AUDITU” DALAM SISTEM PEMBUKTIAN (SEBUAH TINJAUAN MENGENAI URGENSI PEMBAHARUAN KUHAP)
Naili Ariyani 451
MASA PENAHANAN DI TINGKAT PENYIDIKAN TERHADAP TERSANGKA TINDAK PIDANA TERORISME DITINJAU DARI PRINSIP-PRINSIP HAK ASASI MANUSIA
Siti Wulandari 465
MENAKAR REGULASI HUKUM AGRARIA KEHUTANAN DI INDONESIA DALAM PRESPEKTIF SEJARAH DITINJAU DARI TEORI HUKUM RESPONSIF
Tasya Moedy Agusti 473
MAGISTER SOSIOLOGI 481
ANALYSIS OF FUJOSHI'S SOCIAL BEHAVIOR IN THE NEGATIVE STIGMA OF LGBT
Aimah Mopashari 482
THE CONSTRUCTION OF STIGMA FROM THE REALITY OF SINGLE PARENTS
Cahyo Budiman 490
RASIONALITAS DAN PREFERENSI KONSUMEN DALAM BELANJA ONLINE
Ita Kosasih 499
GENDER GROUPS IN AGRICULTURE AND RURAL DEVELOPMENT IN TIMOR LESTE: THE ROLE OF WOMEN IN HOME ECONOMICS
Joao Ximenes 511
AGRICULTURAL LAND TRANSFER FUNCTION AND SHIFTS IN LOCAL CULTURAL VALUES IN THE CITY OF STONE
Suhariyanti 516
CONFLICT OF THE IDEOLOGICAL MOVEMENT OF TERRORISM
Suprapto 522
RASIONALITAS KONSUMSI PRODUK REPLIKA (COUNTERFEIT PRODUCT) DALAM MEMBANGUN MODAL SIMBOLIK
Vinggi Oktaviari 528
FORMAT DAN ATURAN PENULISAN MANUSKRIP PROSIDING 535
MAGISTER manajemen
377
Nur Sakinah 201710280211004 Magister Manajemen
Universitas Muhammadiyah Malang
PENDAHULUAN
Pada era millennium Mitchel (2000) memaparkan bahwa setiap tahun ribuan produk dan layanan diperkenalkan ke pasar luar negeri. Aksi pemasaran yang tak terhitung jumlahnya dengan jangkauan internasional diambil. Hingga 85% dari tindakan ini gagal, dalam banyak kasus karena kesalahpahaman dengan latar belakang antar budaya. Ilusi dunia tanpa batas membuat banyak perusahaan dan organisasi mengabaikan peran perbedaan antar budaya dalam proses tindakan internasional mereka. Akibatnya, hasil yang dicapai dalam banyak kasus jauh dari harapan. Pengalaman-pengalaman ini telah menunjukkan bahwa mengambil semua jenis tindakan komersial (dan tidak hanya) dengan jangkauan internasional, perlu untuk memberikan perhatian khusus pada perbedaan budaya yang ada untuk mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan strategi yang direncanakan (Ghemawat, 2007).
Tujuan dari artikel ini menunjukkan bagaimana menentukan keberhasilan dalam pemasaran internasional. Perhatian khusus ditujukan pada keputusan yang terkait dengan komunikasi pemasaran, yaitu berbagai macam cara cara di mana faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi kita mengenai gaya komunikasi dan apa dua gaya dasar yang dibedakan dalam komunikasi antar budaya. Atas dasar contoh kasus yang diolah dan dianalisa oleh para ahli sebelumnya, pada artikel kali ini disajikan secara umum bagaimana menentukan keberhasilan sebuah keputusan dan komunikasi dalam pemasaran global.
Menurut Raport Future World 202, pada tahun 2020 kompetensi antar budaya dianggap sebagai salah satu keterampilan penting dari orang, tim dan organisasi yang berfungsi dalam lingkungan internasional. Franklin dan Comfor (2011) menambahkan bahwa mengembangkan kompetensi ini memungkinkan untuk menggunakan pengaruh juga di luar batas negara sendiri, yang juga diakui sebagai salah satu yang paling penting kompetensi internasional.
Pembahasan tentang pemasaran di dunia internasional merupakan topik menarik yang akan selalu hangat diperbincangkan dan diulas oleh para pemerhati pemasaran. Berdasarkan
penjelasan dan pendapat beberapa ahli dibidang pemasaran, artikel ini dibuat untuk menyederhanakan pola piker pembaca dalam menentukan langkah dan mempertimbangkan aspek-aspek penting dalam pemasaran global.
KAJIAN LITERATUR Budaya (Culture)
Menurut McSweeney (2013) gagasan “budaya” lebih mudah ditimbulkan daripada didefinisikan dan konsep sering tidak jelas. Memang, budaya istilah digunakan dalam berbagai cara dalam berbagai disiplin ilmu, dimana beberapa definisi menyangkut nilai-nilai budaya dan praktik lainnya. Masalahnya adalah dalam kebiasaan para peneliti lintas budaya untuk tidak menentukan konsep budaya yang mereka rujuk ketika menyajikan atau mengkritik penelitian.
Budaya dapat didefinisikan sebagai sistem makna bersama (Fischer, 2009; Schwartz, 2006) atau sebagai "pemrograman kolektif pikiran yang membedakan anggota satu kelompok atau kategori orang dari yang lain" (Hofstede, 2001, hal 9). Nilai-nilai digunakan sebagai komponen kunci dari pemrograman mental seperti itu (Fischer, 2009) dan penekanan nilai yang berlaku dalam masyarakat mungkin merupakan ciri paling sentral dari budaya (Schwartz, 2006).
Budaya bukanlah karakteristik individu; itu meliputi sejumlah orang yang dikondisikan oleh pendidikan dan pengalaman hidup yang sama (Hofstede et al., 2010).
Pusat dalam definisi adalah budaya sebagai fenomena kolektif yang dibagi di antara anggotanya. Kebersamaan adalah common denominator dari sebagian besar definisi budaya dalam psikologi lintas budaya dan budaya (Fischer dan Schwartz, 2011). Ketika menerima prinsip ini, pernyataan seperti “budaya tingkat individu dan pengambilan keputusan terkait”
(Brewer dan Venaik, 2012), “nilai-nilai budaya individu” dan “nilai-nilai budaya pribadi” (Yoo dan Donthu, 2002), atau “nilai budaya individu orientasi” (Schoefer, 2010), adalah kontradiksi dalam istilah. Praktik budaya dapat ditemukan di pasar global (memakai jeans, minum Coca- Cola), tetapi nilai-nilai yang mendasari yang menjelaskan motif untuk membeli ini tidak bersifat global. Sedangkan di beberapa budaya konsumen dapat minum Coca-Cola untuk memuaskan dahaga mereka, di lain pihak mereka dapat melakukannya untuk alasan status.
Pemasar internasional perlu mengetahui perbedaan-perbedaan ini untuk mengembangkan pemasaran global yang efektif dan kampanye iklan.
Biasanya istilah Global Consumer Culture (GCC) mengacu pada praktik, produk atau merek yang dibeli oleh segmen pasar tertentu di seluruh dunia yang ditemukan serupa sehubungan dengan gaya hidup mereka. Manrai dan Manrai (2011) menyatakan bahwa globalisasi telah mempengaruhi orientasi budaya konsumen pada beberapa level, dari GCC, ke Regional Consumer Culture (RCC), ke National Consumer Culture (NCC), ke Ethnic Consumer Culture (ECC), dan Individual Consumer Culture (Budaya Konsumen Etnik). ICC). Ini mengacu pada tingkat praktik, bukan pada nilai-nilai. Jika demikian, GCC akan menyiratkan nilai yang dibagikan di seluruh dunia. Saat ini ada banyak bukti tentang tidak adanya nilai global universal atau prioritas nilai. Sehubungan dengan ICC, berbagi nilai dalam satu orang akan mengarah pada kepribadian ganda.
Budaya adalah norma dan nilai bersama dari setiap organisasi. Budaya mencerminkan
379
disebut budaya nasional, yang mencerminkan keseluruhan keyakinan agama, adat istiadat dan tradisi perusahaan. Sebagai contoh, Arab Saudi adalah negara Islam dan budayanya mencerminkan nilai-nilai dan keyakinan Islam. Muslim menawarkan doa lima kali dalam sehari, sementara budaya Amerika, yang barat, berfokus pada pencapaian pribadi. Budaya suatu organisasi disebut budaya perusahaan. Seperti budaya nasional, budaya perusahaan bervariasi dari organisasi ke organisasi negara: perusahaan di AS dan Inggris fokus pada individualisme, sementara di Indonesia dan Afrika Barat, mereka fokus pada kolektivisme.
Budaya Pemasaran (Cultural Marketing)
Sejak tahun 1960-an ada diskusi mengenai peran pemasaran lokal dan global (Müller et al, 2004), serta manfaat yang diperoleh dari standardisasi dan individualisasi strategi pemasaran internasional (Ghemawat, 2007). Tanpa masuk ke rincian diskusi ini, perlu menunjukkan bahwa dalam kasus pertimbangan teoritis, serta tindakan komersial tertentu dari karakter internasional, termasuk kegiatan pemasaran, fokusnya adalah pada standardisasi dan ekspansi internasional, tanpa menghargai signifikansi perbedaan budaya. Ini terjadi sampai batas tertentu karena globalisasi sering disalahartikan sebagai homogenisasi. Efek dari pendekatan semacam ini adalah daftar contoh kegiatan yang sangat panjang yang terkait dengan pengenalan produk dan layanan ke pasar internasional, yang berakhir dengan kegagalan yang ditentukan oleh latar belakang budaya (Haig, et, al, 2011). Kegagalan semacam ini telah dialami baik oleh perusahaan kecil maupun organisasi, serta perusahaan dan lembaga dengan jangkauan global.
Pada saat yang sama peran budaya dalam pemasaran akan kembali lagi dalam visi pemasaran masa depan yang disajikan oleh Philip Kotler (2010) dan disebut pemasaran 3.0.9 Seiring dengan pemasaran kooperatif dan spiritual, pemasaran budaya adalah salah satu komponen dari marketing 3.0 yang berkaitan dengan kekhawatiran dan keinginan warga global. Menurut penulis, pemasaran budaya akan memainkan peran utama juga di masa depan, karena globalisasi membawa fenomena penyeimbang, yang merupakan sumber banyak paradoks.
Di satu sisi, globalisasi memberi peluang bagi negara-negara di seluruh dunia, tetapi pada saat yang sama menimbulkan ancaman, karena negara berusaha melindungi pasar lokal mereka. Dengan cara ini globalisasi memprovokasi nasionalisme. Selain itu, globalisasi bersifat ekonomi dan bukan bersifat politis. Lanskap politik masih sangat nasionalistis. Ini adalah paradoks politik globalisasi. Dari perspektif ekonomi, globalisasi membantu beberapa negara dan merugikan yang lain, yang mengarah pada paradoks ekonomi globalisasi. Akhirnya, globalisasi tidak menciptakan budaya yang homogen, tetapi budaya yang terdiversifikasi, mengarah pada paradoks sosial-budaya, di mana polarisasi mengarah pada dua kecenderungan yang saling bertentangan, yaitu, globalisme dan kesukuan. Untuk alasan ini, merek budaya harus bertujuan untuk memecahkan paradoks dalam masyarakat dan mengatasi masalah sosial, ekonomi dan lingkungan yang mengganggu masyarakat.
Berbagai pendapat ahli setuju dengan klaim bahwa pemasaran 3.0 adalah semacam pemasaran di mana masalah budaya harus berada di pusat model bisnis perusahaan. Untuk alasan ini, selama bekerja pada kampanye pemasaran internasional, spesialis pemasaran harus
memahami isu-isu dasar dari bidang sosiologi dan antropologi dan mampu mengenali paradoks budaya yang muncul.13 Pada bagian selanjutnya dari artikel gagasan budaya, model dan dimensinya akan disajikan.
Ketika sebuah perusahaan melakukan bisnis di luar negeri, keberhasilan bisnis tergantung pada bagaimana karyawan menggunakan keterampilan mereka dalam budaya yang berbeda. Itu tergantung apakah karyawan mampu atau tidak. Jika mereka ahli dalam pekerjaan mereka atau tidak, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa karyawan tidak dapat memahami budaya lain dan dapat menjadi penghalang dalam keberhasilan bisnis di luar negeri (Ferraro, 2006) “Budaya ditularkan melalui proses pembelajaran dan berinteraksi dengan lingkungan seseorang, daripada melalui proses genetik “dan” Budaya adalah pengetahuan yang diperoleh yang digunakan orang untuk menafsirkan pengalaman dan menghasilkan perilaku sosial”.
Dalam pandangan luas, istilah bisnis internasional (pemasaran global) merujuk pada hasil interaksi manusia. Sebagian besar ahli budaya akan setuju pada karakteristik budaya berikut:
1. Dipelajari: Kita tidak dapat mewarisi budaya; kita hanya bisa belajar dan mengalami budaya.
2. Dibagi: Orang-orang dari organisasi dan masyarakat dapat berbagi budaya; itu bukan untuk satu orang saja.
3. Bermotif: Budaya memiliki desain yang tepat jika kita mengubah satu bagian desain budaya maka bagian lain harus diubah secara otomatis.
4. Adaptif: Budaya tergantung pada kapasitas manusia bahwa orang tersebut ingin mengubah atau mengadopsinya.
Model dan Dimensi Budaya
Lipinska (2008) mendefinisikan bahwa budaya yang paling sederhana adalah berbagai gaya hidup. Gaya hidup dapat dipahami sebagai jumlah yang tak terhitung rincian perilaku sehari-hari, yang dibagi oleh kebanyakan orang yang membentuk masyarakat tertentu. Ini berarti bahwa kebanyakan orang dari kelompok sosial tertentu akan bereaksi terhadap situasi tertentu dengan cara yang sama. Kesesuaian perilaku seperti itu dan penerimaan sosialnya menciptakan model budaya, dalam psikologi juga menguraikan skrip perilaku. Budaya adalah kumpulan model-model seperti itu dan bagi anggota setiap masyarakat, itu merupakan panduan yang sangat diperlukan untuk semua masalah kehidupan. Tanpa itu kita tidak akan bisa berfungsi secara efisien. Budaya memberi perasaan keamanan dan kontinuitas. Itu juga membuat hidup dapat diduga, selama kita tidak melanggar model budaya yang ditentukan (Linton, 2000).
Namun, perlu diingat bahwa budaya bukan hanya penyebab tindakan manusia, tetapi juga efek dari tindakan ini, karena merupakan kumpulan produk manusia tertentu (Skupna, et, al, 2006). Juga, pesan pemasaran, termasuk semua pesan yang ditujukan kepada penerima kami, adalah produk dari budaya yang kami wakili. Budaya sering dibandingkan dengan gunung es. Model ini menunjukkan bahwa perilaku anggota suatu budaya partikular dihasilkan dari asumsi, nilai, norma dan keyakinan yang tersembunyi dan kadang-kadang
381
tidak terealisasi. Hampir sama seperti gunung es, budaya juga terdiri dari elemen yang terlihat dan tak terlihat.
Bagian yang terlihat dari gunung es atau budaya kecil, dibandingkan dengan bagian pendukung, jauh lebih besar, tidak terlihat. Unsur-unsur yang terlihat dari suatu budaya adalah refleksi dari aspek-aspek yang tak terlihat dan tidak mungkin untuk memahami yang pertama tanpa yang terakhir. Unsur-unsur budaya yang terlihat adalah, misalnya, arsitektur, seni, masakan, musik atau bahasa. Elemen-elemen yang mungkin ada, misalnya, sejarah, norma, nilai, asumsi dasar tentang ruang, alam, waktu, kepemimpinan, penyelesaian konflik atau komunikasi. Jika pengetahuan kita tentang budaya hanya terbatas pada pengetahuan tentang unsur-unsur yang terlihat, kita akan dapat memiliki wawasan ke dalam hanya sebagian kecil darinya.
Globalisasi untuk sebagian besar terjadi di atas permukaan yaitu mempengaruhi elemen- elemen yang terlihat dari budaya, seperti pakaian, musik, teknologi, tetapi lebih jarang itu mempengaruhi tingkat sistem nilai. Mempersiapkan kegiatan pemasaran kami yang ditargetkan pada penerima internasional, kami harus melihat pesan kami dari perspektif gunung es penerima ini, untuk memahami apa bagian dari pesan kami dan dalam bentuk apa pesan itu benar-benar mencapai mereka.
Membandingkan budaya dan menganalisis perbedaan antar budaya, kita sangat sering menerapkan metode yang disebut dimensi psikologis budaya. Ini adalah tren umum tertentu, yang mempengaruhi perilaku manusia dan mencerminkan aspek signifikan dari variabilitas budaya (Lipinska, 2008). Dimensi memungkinkan untuk mengurangi keragaman budaya ke sejumlah variabel terbatas. Pada saat yang sama mereka adalah efek dari konsep bekerja dan konstruksi mengukur skala, terima kasih kepada budaya yang diatur dan dijelaskan dengan cara sistematis (Matsumoto, 2001). Mengambil keuntungan dari dimensi budaya memungkinkan kita untuk menginterpretasikan perbedaan budaya tanpa menggunakan stereotip, penilaian atau pendapat. Proses ini juga disebut pembongkaran budaya.
Dimensi yang paling populer dan paling sering dalam karya penelitian yang paling interkultural adalah individualisme dan kolektivisme (Bhagat, 2000). Dalam budaya individualis unit survival terkecil adalah individu. Orang-orang mengidentifikasi diri mereka di atas semua dengan diri mereka sendiri dan kebutuhan individu lebih penting daripada kebutuhan kelompok. Kemandirian dan kebebasan pribadi adalah nilai-nilai yang berharga.
Pada saat yang sama, dalam budaya kolektivis, kelompok primal, biasanya keluarga terdekat adalah unit kelangsungan hidup terkecil. Identitas seorang individu sebagian besar dibentuk oleh keanggotaan dan perannya dalam suatu kelompok. Berkat pengakuan kebutuhan dan perasaan orang lain, seorang individu melindungi dirinya sendiri. Harmoni dan interdependensi adalah nilai penting (Rosinski, 2011). Yang lain sering menerapkan dimensi budaya adalah, misalnya, jarak kekuasaan, sekuensial dan sinkronisitas sebagai berbagai bentuk organisasi dalam waktu, orientasi jangka panjang atau pendek, atau menghindari ketidakpastian. Di bagian selanjutnya dari dimensi artikel budaya yang terkait dengan gaya komunikasi akan dibahas.
Komunikasi
Anthropologist E.T. Hall dalam karya Beyond Culture (2001) mengacu pada pengalamannya di Texas di perbatasan budaya antara Amerika Serikat dan Meksiko, di mana perbedaan budaya tidak mendidih hanya perbedaan struktural antara bahasa Inggris dan Spanyol, tetapi diungkapkan dalam berbagai cara menggunakan bahasa untuk komunikasi antarpribadi. Pengalaman-pengalaman ini mendorong Hall untuk menyusun dimensi komunikatif yang disebut konteks tinggi dan rendah, atau komunikasi langsung dan tidak langsung. Dimensi ini menentukan peran konteks dalam penerimaan pesan. Sesuai definisi tersebut, komunikasi yang mempengaruhi pemasaran adalah konteks penyampaiannya yang melalui tatap muka (langsung) atau melalui media (tidak langsung).
Dalam budaya konteks rendah, pesan sering dinyatakan secara langsung dan bebas konteks, yaitu, pesan dapat dipahami tanpa perlu menafsirkannya. Yang penting adalah apa yang dikatakan dan bukan oleh siapa, atau dalam keadaan apa (Onkvisit, 1993). Ekspresi pesan hanya sebagian kecil mempertimbangkan situasi saat ini. Dengan cara ini, sebagian besar informasi disampaikan melalui pesan verbal langsung. Orang-orang dari wilayah budaya konteks rendah lebih memilih pesan yang jelas dan langsung. Tujuan dari gaya komunikasi langsung adalah mentransfer informasi dan fakta. Tujuan pengirim adalah mempermudah penerima untuk memahami pesan dengan benar. Ini dimungkinkan berkat formulasi pesan yang tepat. Hubungan interpersonal disederhanakan dan untuk sebagian kecil mempengaruhi komunikasi. Komunikasi tertulis lebih disukai. Orang yang berbicara lebih penting daripada pendengar.
Gaya komunikasi langsung biasanya dikaitkan dengan cara berpikir linear, logis dan inferensial yang berfokus pada pemecahan masalah (Hollensen, et al, 2001). Ini adalah gaya komunikasi yang khas dari budaya berorientasi tugas, di mana kejujuran adalah nilai penting dan komunikasi langsung seharusnya memimpin sepanjang jalur terpendek ke tujuan pragmatis, yaitu mencapai sesuatu yang khusus atau menyelesaikan tugas tertentu. Ini terkait dengan preferensi untuk fokus pada satu tugas pada suatu waktu, yaitu, dengan pengorganisasian berurutan tugas dalam waktu, yang dilakukan secara berurutan, satu demi satu.
PEMBAHASAN
Menurut Hofsted (1980), seorang peneliti Belanda, perbedaan budaya cenderung berputar di sekitar lima dimensi kunci. Dimensi-dimensi ini memainkan peran penting dalam memahami budaya nasional serta budaya perusahaan.
1. Individualisme versus Kolektivisme
Ide individualisme didasarkan pada filosofi bahwa seseorang adalah pemilik hidupnya dan dia memiliki hak mutlak untuk menjalaninya sesuai dengan keinginan dan keinginannya dan dia memiliki pilihan untuk mengejar nilai-nilai yang dia anggap terbaik untuk dirinya sendiri. Di sisi lain, gagasan Kolektivisme didasarkan pada konsep bahwa kehidupan seseorang bukanlah miliknya melainkan milik kelompok atau masyarakat di mana ia menjadi bagiannya. Ia harus mengutamakan nilai dan tujuan
383
seseorang tidak memiliki hak kecuali orang-orang yang diizinkan masyarakat untuk menikmatinya. Misalnya. Budaya Amerika Serikat adalah individualisme berdasarkan, sedangkan budaya Jepang adalah kolektivisme berbasis.
2. Jarak Daya:
Jarak kekuasaan adalah jumlah daya yang didistribusikan oleh budaya antara manajemen dan bawahan mereka. Dengan kata lain kita dapat mengatakan bahwa jarak kekuasaan menunjukkan jenis hubungan apa yang ada di antara bawahan dan manajemen. Ketika kita mengatakan bahwa ada jarak daya yang rendah dalam suatu organisasi maka itu berarti bahwa ada lebih banyak interaksi antara manajemen dan karyawan, yang pertama lebih demokratis dan mendelegasikan tanggung jawab kepada bawahan. Jika pendapat manajemen salah pada beberapa masalah maka bawahan dapat menolak pendapatnya tanpa peduli bahwa ia berada dalam posisi superior. Fenomena manajemen yang selalu benar tidak berlaku dalam budaya jarak daya rendah. Manajemen menganggap dirinya anggota kelompok dan tidak suka menekan bawahannya sementara ketika ada budaya jarak kekuasaan yang tinggi dalam suatu organisasi maka manajemen selalu benar, menganggap dirinya lebih unggul dari yang lain dalam organisasi. Itu tidak mendelegasikan wewenangnya kepada orang lain, keputusan selalu berdasarkan terpusat. Manajemen melihat dirinya pada satu tingkat sementara bawahannya pada tingkat yang lebih rendah. Australia dan AS adalah budaya jarak daya rendah, sementara Cina atau Arab Saudi dianggap budaya jarak kekuatan tinggi.
3. Maskulinitas v/s Feminitas:
Maskulinitas menyatakan negara, masyarakat atau budaya dominan laki-laki. Misalnya.
Negara-negara Asia adalah basis maskulinitas. Negara-negara di mana hak-hak perempuan sama dengan laki-laki adalah negara, masyarakat atau budaya yang berdasarkan feminitas. Misalnya. Di negara-negara barat, pria dan wanita bekerja sama untuk menghasilkan uang dan wanita memiliki hak yang sama di tempat kerja.
4. Penghindaran Ketidakpastian:
Ketidakpastian Penghindaran menyatakan bahwa orang menghindari berpartisipasi dalam kegiatan di mana mereka tidak yakin bahwa mereka akan menguntungkan mereka. Mereka senang terlibat dalam kegiatan yang mereka yakini akan mereka manfaatkan dan mereka tidak memiliki toleransi terhadap risiko. Pakistan, India, dan negara-negara Arab memiliki jenis budaya seperti itu sementara di negara-negara lain yang memiliki penghindaran ketidakpastian yang rendah, mereka memiliki lebih banyak toleransi terhadap risiko. Misalnya. Jepang memiliki penghindaran ketidakpastian yang rendah dan ini adalah alasan sebagian besar investasi dilakukan di Jepang oleh negara- negara AS dan Eropa.
5. Jangka Panjang versus Orientasi Jangka Pendek:
Ketika seseorang terfokus pada masa depan dan bersedia untuk menunda materi jangka pendek atau kesuksesan sosial demi pencapaian jangka panjang maka persepsi ini dikenal sebagai orientasi jangka panjang dan budaya ini memiliki nilai-nilai seperti ketekunan dan ketekunan. Budaya orientasi jangka pendek memberikan arti penting untuk hadir atau masa lalu daripada ke masa depan. Orang-orang dengan orientasi jangka pendek
memberi nilai pada tradisi kewajiban sosial dan hirarki sosial saat ini. Keberhasilan dan pencapaian gratifikasi saat ini lebih penting daripada masa depan. Ini lima dimensi yang disebutkan di atas Hofsted mencerminkan budaya dari setiap organisasi. Sebelum melakukan bisnis di pasar internasional, penting untuk memahami dimensi-dimensi ini.
Pemasaran internasional perlu memahami budaya lokal negara di mana seorang pengusaha ingin mengembangkan bisnis.
Gambar 1. 5 Dimensi dalam Perbedaan Budaya
Setelah memahami konsep 5 role vital dalam menentukan keberhasilan budaya dalam pemasaran internasional, maka konsep tersebut dapat dilanjutkan dengan membuat kerangka budaya yang berkaitan dengan pemasaran global. Kerangka budaya ini membantu manajer pemasaran untuk mengidentifikasi sifat budaya dari pasar internasional. Di bawah ini ada delapan atribut kerangka budaya yang membantu manajer pemasaran untuk memahami budaya pasar internasional.
Bahasa
Bahasa adalah atribut terpenting dalam suatu budaya. Jika ada manajer pemasaran yang ingin melakukan aktivitas bisnisnya di pasar internasional, Anda perlu memahami bahasa verbal dan non-verbal dari budaya tersebut. Bahasa verbal dan non-verbal setiap negara berbeda satu sama lain. Bahasa dan budaya memiliki hubungan yang erat. Dengan memahami bahasa, manajer pemasaran dapat dengan mudah berinteraksi dengan pelanggan budaya tersebut dengan lebih efektif. Sebagai contoh, jika seorang manajer pemasaran Arab Saudi memiliki cengkeraman yang kuat pada bahasa Mandarin maka dia dapat dengan mudah melakukan aktivitas bisnisnya di China.
Agama
Agama adalah elemen budaya yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar pada gaya hidup, keyakinan, nilai-nilai dan sikap orang-orang. Orang yang berbeda mengikuti agama yang berbeda dan masing-masing agama memiliki konsepnya sendiri tentang hal-hal
385
agama suatu negara dan kemudian makan siang produknya di pasar. Jika dia meluncurkan produk yang tidak diperbolehkan dalam agama mereka maka pasti produknya akan menghadapi kegagalan di pasar. Misalkan seseorang ingin mengekspor daging babi ke Pakistan atau Arab Saudi atau negara Islam lainnya, maka ia tidak akan berhasil dalam bisnisnya karena daging babi dilarang oleh Islam. Demikian pula jika seorang manajer pemasaran Muslim ingin memulai operasi bisnisnya di negara-negara Barat maka dia harus terlebih dahulu memahami gaya hidup, keyakinan, nilai-nilai dan sikap negara barat di mana ia akan memulai operasi bisnisnya karena negara-negara barat memiliki preferensi yang berbeda. Jika seorang manajer pemasaran Muslim ingin mencapai kesuksesan, maka dia harus menyediakan layanan atau produk sesuai dengan preferensi barat atau yang diizinkan dalam agama mereka.
Nilai dan Sikap:
Setiap negara berbeda satu sama lain. Jika manajer pemasaran ingin pergi ke pasar internasional untuk memulai operasinya, maka pertama-tama dia harus memahami nilai dan sikap negara tersebut. Organisasi harus mengatur sesi pelatihan untuk manajer pemasaran dan memotivasi mereka untuk mempelajari semua nilai dan sikap budaya itu. Misalnya pekerja di Prancis ingin mengambil liburan mereka di bulan Agustus sementara di Amerika Serikat karyawan ingin mengambil liburan beberapa minggu dalam setahun. Pendidikan: Tingkat pendidikan di suatu negara penting untuk dipahami. Misalnya di negara-negara yang memiliki tingkat melek huruf yang rendah, manajer pemasaran harus menghindari komunikasi yang terdiri dari dokumen tertulis dan mereka tidak boleh menggunakan media visual. Di negara- negara yang memiliki tingkat melek huruf yang tinggi, manajer pemasaran harus menggunakan salinan iklan tertulis dan metode iklan yang berbeda yang dapat dengan mudah dipahami orang, seperti spanduk.
Organisasi Sosial:
Untuk bisnis dalam pemasaran internasional, orang harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti - apa peran wanita di negara itu, atau tingkat pengaruh kelas atau pemeran dalam masyarakat. Misalnya, India memiliki sistem cor yang mapan dan kaku.
Hukum dan Praktik: Ini adalah faktor penting untuk memahami budaya pasar internasional dan kepentingannya juga sangat tinggi untuk manajer pemasaran. Pertama-tama, manajer pemasaran harus memahami hukum dan praktik di negara tempat dia ingin berbisnis.
Misalnya politik Pakistan bersifat dinamis sehingga sangat sulit untuk melakukan operasi bisnis di Pakistan. Dengan peristiwa kematian Banazir Bhutto, banyak perusahaan asing menggulirkan kembali bisnis mereka dari Pakistan. Penting untuk memahami budaya negara manapun karena jika seorang pengusaha mampu memahami budaya maka ia dapat menyelamatkan dirinya sendiri dari masalah yang berbeda seperti masalah komunikasi. Jadi, pertama-tama, memahami berbagai aspek budaya itu penting.
Model lain dari penentu keberhasilan dari global marketing adalah keterkaitan interaksi antara budaya dan perilaku konsumen. Teori ini dikemukakan oleh Peter dan Olson (1998) yang dapat dipahami pada gambar skema dibawah ini:
Gambar 2. Konsep Komunikasi Pemasaran antara Budaya dan Perilaku Konsumen Gambar 2 menggambarkan model pengaruh timbal balik dari budaya dan perilaku konsumen. Perilaku seseorang adalah hasil dari sistem nilai budaya individu untuk konteks tertentu. Sistem nilai budaya individu dikembangkan seiring waktu ketika mereka disosialisasikan ke dalam kelompok tertentu. Budaya masyarakat serta subkultur regional dan nilai-nilai keluarga semua mempengaruhi pembentukan sistem nilai budaya individu. Dengan demikian, sistem nilai budaya mencakup unsur-unsur budaya yang dimiliki oleh setiap individu dengan kelompok-kelompok di mana mereka berasal, serta nilai-nilai idiosynkratik yang unik bagi individu. Seperti yang ditunjukkan oleh model, budaya memengaruhi perilaku konsumen, yang dengan sendirinya dapat memperkuat manifestasi budaya (Peter dan Olson, 1998).
Perilaku konsumsi individu dapat dilihat dan ditiru atau ditolak oleh orang lain. Ini kemudian dapat menjadi norma perilaku kelompok dan diidentifikasi sebagai bagian dari budaya suatu populasi tertentu. Tindakan pemasar berfungsi sebagai kendaraan untuk mentransfer makna atau nilai dari dunia yang dikonstruksi secara budaya ke barang-barang konsumen (McCracken, 1988), sehingga komunikasi pemasaran direpresentasikan dalam model sebagai moderator pengaruh budaya pada perilaku konsumen. Pada saat yang sama, komunikasi pemasaran juga dapat mempengaruhi manifestasi budaya melalui iklan (misalnya, iklan Calvin Klein telah memperkuat nilai "ketipisan" dalam masyarakat Amerika). Tentu saja, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 2, komunikasi pemasaran dapat mempengaruhi perilaku konsumen yang bebas dari budaya. Ketika mempertimbangkan model ini, itu sangat berharga.
Dengan memperhatikan hal itu, dari perspektif emik, budaya tidak dapat dilihat sebagai sebuah konstruksi yang terpisah dari dan menyebabkan perilaku. Peneliti Emic memandang budaya sebagai tidak terpisahkan dari individu, sebagai kualitas yang melekat (Geertz, 1973).
Kami menggambarkan budaya sebagai penyebab perilaku konsumen untuk mengembangkan
387
perilaku konsumen dari budaya yang berbeda dan mengisolasi penyebab budaya perbedaan perilaku konsumen.
Budaya mempengaruhi perilaku melalui manifestasinya: nilai-nilai, pahlawan, ritual, dan simbol (Hofstede, 1997). Ini adalah bentuk-bentuk di mana pengetahuan yang ditentukan secara kultural disimpan dan diekspresikan. Dengan demikian, setiap kelompok budaya memiliki manifestasi budaya yang berbeda. Kami menggunakan manifestasi ini, karena mereka mencakup sebagian besar elemen budaya yang dijelaskan oleh penulis lain (misalnya Sojka dan Tansuhaj, 1995). Kami sekarang akan menjelaskan empat manifestasi secara rinci.
Nilai-nilai.
Nilai-nilai istilah terletak di jantung sebagian besar definisi budaya. Bahkan, sebagian besar penelitian tampaknya setuju bahwa nilai-nilai mendorong perilaku seseorang. Secara historis, peneliti konsumen sering mengutip Rokeach (1968, hal. 161), yang memandang "nilai sebagai keyakinan yang dipegang secara terpusat, yang memandu tindakan dan penilaian di seluruh situasi tertentu dan di luar tujuan segera ke negara akhir eksistensi yang lebih utama".
Contoh nilai adalah kebebasan, kesenangan, harmoni dalam, dan kebahagiaan (Rokeach, 1973).
Ada taksonomi nilai yang berbeda. Sebagai contoh, pandangan Rokeach tentang nilai menyiratkan diferensiasi antara akhir yang disukai keadaan (nilai terminal) dan mode perilaku yang disukai atau sarana untuk mencapai keadaan akhir (nilai instrumental). Penulis lain membagi nilai ke dalam yang diinginkan dan diinginkan (Hofstede, 1980). Namun penulis lain mengklasifikasikan nilai ke dalam nilai global, nilai spesifik per domain, dan evaluasi atribut produk (Vinson et al., 1977). Nilai-nilai global adalah yang paling terpusat, sementara evaluasi atribut adalah yang paling tidak sentral dan bersifat spesifik.
KESIMPULAN
Artikel ini membahas tentang keberhasilan pemasaran global dari sudut pandang budaya dan konsep interaksi antara budaya dengan perilaku konsumen. Pembahasan tentang pemasaran global terus berkembang dan memiliki karakteristik yang beragam. Penulis membahas dua sudut pandang yang menurut penulis memiliki karakteristik yang khusus dan memiliki tingkat rasionalisasi keberhasilan yang lebih baik daripada berbagai metode lainnya.
Pada metode pendekatan komunikasi berdasarkan budaya, para penggiat pemasaran dapat menentukan keputusan strategi pemasaran yang lebih efektif dan efisien. Sedangkan dalam pemahaman perilaku konsumen dapat lebih membantu penetrasi pemasaran dalam lingkungan masyarakat tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Brewer, P. and Venaik, S. 2012. “On the misuse of national culture dimensions”, International Marketing Review, Vol. 29 No. 6, pp. 673-683.
C. Mitchel. 2000 A Short Course in International Business Culture, World Trade Press, California, p. 169.
D. Matsumoto, Culture and emotion, (in:) D. Matsumoto (ed.). 2001. The Handbook of Culture and Psychology, Oxford University Press, Oxford, p. 184.
E.T. Hall. 2001. Poza kulturą, Wydawnictwo Naukowe PWN, Warszawa.
Ferraro, Gary P. 2006. The cultural dimensions of international business. 5th Ed. Upper Saddle River: Pearson. Prentice Hall. Houghton Mifflin Company.
Fischer, R. 2009. “Where is culture in cross-cultural research? An outline of a multilevel research process for measuring culture as a shared meaning system”, International Journal of Cross Cultural Management, Vol. 9 No. 1, pp. 25-49
Fischer, R. and Schwartz, S.H. 2011. “Whence differences in value priorities? Individual, cultural and artifactual sources”, Journal of Cross-Cultural Psychology, Vol. 42 No. 7, pp. 1127-1144.
Geertz, Cliffortz, 1973, The Interpretation of Cultures, New York: Basic Books Inc.
Hofstede, G. 1980. Cultures consequences: International differences in Work-Related Values.
Beverly Hills, CA: Sage.
Hofstede, G. 2001. Culture’s Consequences, 2nd ed., Sage, Thousand Oaks, CA.
Hofstede, G. and Minkov, M. 2011. “Is national culture a meaningful concept? Cultural values delineate homogeneous national clusters of in-country regions”, Cross- Cultural Research, Vol. XX No. X, pp. 1-27.
J. Comfort, P. Franklin. 2011. The Mindful International Manager. How to work effectively across cultures, KoganPage, London 2011, p. 54.
M. Haig. 2011. Brand Failures. The Truth About the 100 Biggest Branding Mistakes of All Time, Kogan Page Limited, London, p. 153-178.
M. Lipińska. 2008. Warsztaty kompetencji międzykulturowych–podręcznik dla trenerów, Międzykulturowe Centrum Adaptacji Zawodowej, Warszawa, p. 29.
Manrai, L.A. and Manrai, A.K. 2011. “Cross-cultural and cross-national consumer research in the global economy of the twenty-first century”, Journal of International Consumer Marketing, Vol. 23 Nos 3-4, pp. 167-180.
McCracken RJ, Cannavan A, Hewitt SA. 1998. Use of liquid chromatopography – mass spectrometry in the analysis of residues of antibiotics in meat and milk. J Chroma 812:77–
98.
McSweeney, B. 2013. “Fashion founded on a flaw. The ecological mono-deterministic fallacy of Hofstede, GLOBE, and followers”, International Marketing Review, Vol. 30 No. 5, pp. 483-504.
O. Skupna, M. Waszczy, Różnice Kulturowe w Marketingu Międzynarodowym, (in:) J. Kubka (ed.). 2006. Zarządzanie-Etyka-Człowiek. Odpowiedzialnośći humanizacja w procesach gospodarwowania i zarządzania, Politechnika Gdańska, Gdańsk, p. 125.
P. Ghemawat. 2007 Redefining Global Strategy. Crossing Borders in the World Where Differences Still Matter, Harvard Business School Press, Boston, p. 2.
P. Kotler. 2010. Marketing 3.0, MT Biznes, Warszawa.
P. Rosinski. 2011. Coaching międzykulturowy, Wydawnictwo New Dawn, Warszawa, p. 139.
Peter, J Paul dan Olson, Jerry C., 1998. Consumer Behavior: Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran, Edisi keempat, Erlangga.
Pietrasieński. 2005. Międzynarodowe strategie marketingowe, Polskie Wydawnictwo Ekonomiczne, Warszawa, p. 64.
389
R.S. Bhagat, R.M. Steers, (ed.). 2000. Cambridge Handbook of Culture, Organizations, and Work, Cambridge University Press, 2000, p. 11.
Raport FutureWorld Skills 202: http://www.iftf.org/our-work/global-landscape/work/future- work-skills-2020/
Schoefer, K. 2010. “Cultural moderation in the formation of recovery satisfaction judgments: a cognitive-affective perspective”, Journal of Service Research, Vol. 13 No.
1, pp. 52-66.
Schwartz, S.H. 2006. “A theory of cultural value orientations: explication and applications”, Comparative Sociology, Vol. 5 Nos 2-3, pp. 138-182.
Yoo, B, Donthu, N. and Lenartowicz, T. 2011. “Measuring Hofstede’s five dimensions of cultural values at the individual level: development and validation of CVSCALE ”, Journal of International Consumer Marketing, Vol. 23 Nos 3-4, pp. 193-210.