• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1

I BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pendirian Pabrik

Asam tereftalat (terephthalic acid/TPA) atau 1,4-benzene dicarboxyl acid (C6H6(COOH)2) merupakan produk hasil turunan paraxylene. Lebih dari 90%

produksi TPA dunia digunakan untuk pembuatan PET (polyethylene terephthalate), yaitu suatu serat sintetik untuk industri nontekstil dan film, serat poliester (secara dominan di Asia), resin botol (secara dominan di Amerika Utara dan Eropa), dan plasticizer. Kebutuhan TPA dunia terus berkembang 7-8% per tahun dengan kapasitas dunia melebihi 50 juta MTPA (Li, 2014). Produksi global mencapai 68,79 juta ton pada tahun 2018, yaitu meningkat sebesar 9% dari tahun 2017 yang sebesar 63,05 juta ton (Annual Report PT Asia Pasific Fibers, 2018).

Produsen TPA terbesar secara global adalah negara Cina dengan kapasitas produksi sebesar 57% dari total kapasitas produksi dunia (Asia Chemicals Outlook, 2019). Di Indonesia, TPA telah diproduksi oleh PT Mitsubishi Chemical Indonesia, PT Polyprima Karyareksa, dan PT Amoco Mitsui TPA Indonesia serta beberapa lainnya. Hingga kini, Indonesia masih mengimpor TPA dari Jepang, Korea, Taiwan, Thailand, India, Pakistan, dan Australia untuk memenuhi kebutuhan TPA dalam negeri. Untuk mengatasi kekurangan kapasitas produksi dalam negeri tersebut, pabrik TPA perlu didirikan. Keuntungan yang akan diperoleh dari pendirian pabrik TPA antara lain:

 mengurangi ketergantungan terhadap impor TPA

 memacu pertumbuhan industri dalam negeri yang berbahan dasar TPA

 meningkatkan devisa negara karena dapat mengurangi impor

 membuka lapangan pekerjaan baru, terutama bagi masyarakat sekitar pabrik Ada dua bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan TPA, antara lain:

a) paraxylene, bahan baku ini didatangkan dari PT Trans-Pasific Petrochemical Indotama (TPPI), Tuban, Jawa Timur menggunakan jalur transportasi darat

(2)

2 b) asam asetat, bahan baku ini didatangkan dari PT Indokemika Jayatama,

Surabaya, Jawa Timur menggunakan jalur transportasi darat I.2 Kapasitas Perancangan

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan kapasitas produksi TPA, antara lain:

a) kebutuhan TPA

b) ketersediaan bahan baku c) kapasitas produksi

Pabrik ini akan didirikan pada tahun 2022.

I.2.1 Kebutuhan TPA

Selama ini, pasar produsen TPA dalam negeri masih sangat terbuka karena terdapat banyak industri dalam negeri yang menggunakan TPA sebagai bahan baku masih mengimpor TPA dari beberapa negara lain, seperti Taiwan, Thailand, dan Korea Selatan. Selain itu, terbentuknya pabrik TPA dalam negeri dapat membuka peluang untuk melakukan ekspor TPA ke pasar yang telah ada. Data perbandingan impor ekspor TPA di Indonesia tertera pada Tabel I.1 berikut ini.

Tabel I.1 Data Impor TPA di Indonesia

Tahun Impor

Harga (USD) Berat (ton) 2013 81.174.116 70.358 2014 3.269.912 3.220 2015 2.519.016 4.060 2016 50.465.645 79.851 2017 79.621.102 119.875 2018 85.433.864 105.059

(Sumber: UN Data, 2019) Dari data di atas, dapat dilihat bahwa kebutuhan TPA di Indonesia masih cukup tinggi sehingga dengan dibangunnya pabrik TPA akan memiliki peluang yang besar dalam meningkatkan perekonomian. Dari data-data tersebut, dapat dibuat grafik linierisasi hubungan antara tahun dan besarnya impor TPA di Indonesia seperti pada Gambar I.1.

(3)

3 Gambar I.1 Grafik Impor TPA di Indonesia

I.2.2 Ketersediaan Bahan Baku

Bahan baku paraxylene diperoleh dari PT TPPI, Tuban, Jawa Timur yang memiliki kapasitas 550.000 ton/tahun. Bahan baku asam asetat diperoleh dari PT Indokemika Jayatama, Surabaya, Jawa Timur yang memiliki kapasitas 50.000 ton/tahun.

I.2.3 Kapasitas Produksi

Dari Gambar I.1 mengenai data impor TPA di Indonesia, dapat dilihat bahwa kecenderungan impor TPA meningkat pada setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan TPA Indonesia masih cukup tinggi. Kapasitas pabrik-pabrik TPA yang telah berdiri di Indonesia tertera pada Tabel I.2 berikut ini.

Tabel I.2 Kapasitas Pabrik TPA di Indonesia Nama Perusahaan Lokasi Kapasitas Produksi

Tahun ton/tahun

PT Amoco Mitsui TPA

Indonesia Cilegon, Banten 420.000 1998

PT Mitsubishi Chemical

Indonesia Cilegon, Banten 700.000 2019

Pertamina TPA Plant Plaju, Sumatera

Utara 225.000 2017

PT Asia Pasific Fibers

Karawang, Jawa

Barat 340.000 2018

(dulu PT Polysindo Eka Perkasa)

PT Polyprima Karyareksa Cilegon, Banten 350.000 1997

y = 9272.8x - 2E+07 R² = 0.8506

30,000 60,000 90,000 120,000

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Kapasitas (ton)

Waktu (Tahun)

(4)

4 Pabrik yang dirancang akan menyuplai asam tereftalat ke dalam dan luar negeri. Untuk kebutuhan dalam negeri, perhitungan menggunakan data ekspor- impor dan produksi yang telah ada, sedangkan untuk kebutuhan luar negeri, perhitungan hanya menggunakan data impor Negara tersebut. Pabrik ini direncanakan menyuplai kebutuhan asam tereftalat di tiga Negara ASEAN, yaitu Malaysia, Singapura, dan Vietnam, karena nilai impor ketiga Negara tetangga tersebut cukup tinggi.

Kapasitas penyediaan bahan baku paraxylene dan asam asetat dipertimbangkan agar kapasitas pabrik yang akan dibuat dapat ditentukan Bahan baku paraxylene diperoleh dari PT TPPI yang memiliki kapasitas produksi 550.000 ton/tahun (2019), sedangkan asam asetat diperoleh dari PT Indokemika Jayatama yang memiliki kapasitas produksi 50.000 ton/tahun (2019). Kedua pabrik ini memiliki kapasitas produksi yang lebih tinggi daripada yang dibutuhkan sehingga dapat digunakan sebagai penyuplai bahan baku. Dari data-data di atas, kebutuhan TPA pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 225.000 ton/tahun.

I.3 Pemilihan Lokasi Pabrik

Letak geografis suatu pabrik memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan perusahaan. Pabrik ini direncanakan didirikan di Kawasan Industri Cilegon, Banten, seperti pada Gambar I.3. Pemilihan lokasi pabrik didasarkan beberapa faktor sebagai berikut.

Gambar I.2 Lokasi Pabrik

(5)

5 1. Pemasaran Produk

Produk TPA dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

Untuk kepentingan ekspor, pemasaran dilakukan melalui jalur laut sehingga lokasi yang dekat dengan laut atau pantai akan lebih menguntungkan. Untuk dalam negeri, TPA yang diproduksi akan menyuplai PT Triomega PET Industries (Tangerang), PT MC PET Film Indonesia (Cilegon), PT Paulman Global (Jakarta), dan PT Indonesia Toray Synthetics (Tangerang). Untuk luar negeri, pabrik ini akan menyuplai Malaysia, Singapura, dan Vietnam.

2. Utilitas

Ketersediaan air, listrik, dan bahan bakar sangat penting untuk menunjang keberlangsungan proses produksi. Kebutuhan air disuplai dari PT Krakatau Tirta Industri. Kebutuhan listrik disuplai dari PT PLN dan generator pabrik yang dibangun sendiri. Karena wilayah ini merupakan kawasan industri maka suplai utilitas lebih stabil.

3. Limbah atau Buangan Pabrik

Limbah cair dan B3 yang dihasilkan ditampung terlebih dahulu sebelum diolah oleh PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI). Limbah cair dan B3 yang dihasilkan doileh oleh pihak lain karena limbah yang dihasilkan berisiko untuk diolah sendiri. Limbah gas langsung dibuang ke udara bebas melalui cerobong asap.

4. Tenaga Kerja

Angkatan kerja provinsi Banten cukup tinggi, yaitu sebesar 6,11 juta jiwa (BPS, 2020). Selain itu, tenaga kerja yang dibutuhkan dapat berasal dari masyarakat sekitar dan tenaga ahli yang dapat didatangkan dari luar daerah tersebut.

5. Transportasi dan Telekomunikasi

Transportasi dan telekomunikasi di daerah Cilegon cukup baik. Jalur transportasi darat, laut, dan udara tersedia dengan baik dan relatif mudah diakses. Selain itu, daerah Cilegon dekat dengan laut dan jalan provinsi sehingga transportasi laut dan darat akan berjalan dengan baik.

(6)

6 6. Regulasi Hukum

Cilegon termasuk dalam provinsi Banten sehingga masih termasuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan hal ini tidak melanggar hukum teritorial.

7. Tanah dan Iklim

Cilegon merupakan daerah dataran rendah sehingga mendukung pendirian bangunan. Cilegon memiliki iklim yang sama dengan daerah pantai di sepanjang pulau Jawa dan berada di pantai utara sehingga memiliki tekanan angin yang relatif rendah.

8. Keamanan Masyarakat

Cukup banyak industri kimia yang telah berdiri di Cilegon dan sekitarnya sehingga masyarakat dapat menerima pembangunan industri ini. Selain itu, limbah yang dihasilkan, baik berupa cair ataupun gas, tidak meracuni atau mengotori lingkungan sekitar.

I.4 Tinjauan Pustaka

Menurut Kirk Othmer (1998), asam tereftalat (Terephthalic Acid/TPA) merupakan senyawa petrokimia yang sangat penting, terutama untuk produksi poliester. Asam tereftalat diproduksi menjadi dua jenis, yaitu technical grade dan polymer grade. Technical grade tidak cocok untuk industri poliester sehingga harus diolah menjadi polymer grade terlebih dahulu sebelum hendak digunakan karena masih banyak mengandung impuritas. Secara umum, technical grade digunakan untuk pembuatan dimetil tereftalat (DMT).

I.4.1 Jenis - Jenis Proses Pembuatan Asam Tereftalat 1. Proses Eastman Kodak

Eastman Kodak Co. memproduksi asam tereftalat secara komersial dengan reaksi oksidasi fase cair. Bahan baku yang digunakan dalam proses ini antara lain paraxylene, asam asetat sebagai pelarut, dan asetaldehid sebagai promotor serta kobalt asetat sebagai katalis. Reaksi dijalankan pada suhu 120-175oC dan tekanan moderat 7,5-15 bar (7,6-15,3 kg/cm2) dengan konversi sebesar 82%.

Dari proses ini, produk samping yang diperoleh berupa asam asetat sebanyak 0,55-1,1 kg/kg TPA. Proses ini memiliki beberapa kelebihan, seperti beroperasi

(7)

7 pada tekanan dan suhu moderat sehingga mengurangi biaya alat kompresi dan pemanas dan menghasilkan produk samping asam asetat yang merupakan pelarut dalam proses ini. Namun, proses ini juga memiliki kelemahan, yaitu kemurnian produk yang dihasilkan relatif lebih rendah (Kirk Othmer, 1998).

2. Proses Amoco

Proses Amoco dikembangkan oleh Mid-Century Corporation dan ICI pada tahun 1955. Pada proses ini, asam asetat digunakan sebagai pelarut, oksigen dari udara yang dikompresi sebagai oksidator, dan ion kobalt, mangan, atau bromide sebagai katalis. Berbagai bentuk garam dari kobalt dan mangan dapat digunakan, sedangkan bromin, biasanya berupa asam bromida, berfungsi sebagai promotor. Bentuk katalis berupa kobalt atau mangan asetat yang paling disarankan. Proses ini dijalankan pada suhu 175-230oC dan tekanan 15-30 bar (15,3-30,6 kg/cm2) dengan waktu tinggal 0,5-3 jam dengan konversi lebih dari 98%. Beberapa keuntungan proses ini antara lain:

 bahan baku, yaitu paraxylene, mudah diperoleh karena merupakan hasil samping industri perminyakan

 yield yang diperoleh hampir 100% dengan sangat sedikit hasil samping, yaitu berupa 4-carboxylbenzaldehyde (4-CBA)

 efisiensi proses sangat tinggi dengan konversi lebih dari 95%

 kemurnian produk sangat tinggi, yaitu sekitar 99%

 proses ini ramah lingkungan karena polusi yang ditimbulkan sangat sedikit, terutama limbah gas

 pelarut dan katalis dapat di-recovery dan digunakan kembali. Pelarut dapat di-recovery sampai 90%

Namun, proses ini mempunyai kekurangan, yaitu suhu dan tekanan operasi yang tinggi (Tomas, 2013).

3. Proses Oksidasi Paraxylene dengan Asam Nitrat

Pada proses oksidasi ini, paraxylene dilarutkan dalam larutan HNO3 30-40%

berat pada kisaran suhu 160-200oC dan tekanan 8,5-13,5 bar (8,7-13,8 kg/cm2).

Dari campuran hasil reaksi tersebut, TPA akan mengendap. Proses ini dahulu digunakan oleh beberapa industri, seperti Du Pont, ICI, BASF, dan Montecatini

(8)

8 Edison. Proses ini memiliki keuntungan, yaitu suhu dan tekanan yang digunakan moderat. Namun, proses ini juga memiliki kekurangan, seperti kemungkinan terjadi ledakan tinggi, kebutuhan atau penggunaan asam nitrat tinggi, kemurnian produk rendah, dan proses ini sudah tidak digunakan lagi karena sudah sangat usang (Kirk Othmer, 1998).

4. Proses Toray

Pada proses ini, paraldehid digunakan sebagai promotor. Proses ini dioperasikan dengan tekanan 30 bar absolut (30,6 kg/cm2) dan suhu 100- 130oC. Kemurnian produk yang dihasilkan 99% dengan impuritas berupa p- toluic acid dan garam kobalt. Dalam proses ini, paraldehid teroksidasi menjadi asam asetat sebagai hasil samping. Keuntungan penggunaan proses ini adalah suhu operasi relatif rendah, TPA yang dihasilkan dapat langsung diubah menjadi dimethyl terephthalate (DMT) melalui esterifikasi, dan kemurnian produk sangat tinggi, yaitu mencapai 99%. Kekurangan dari proses ini adalah tekanan operasi tinggi dan terbentuknya garam bromida yang bersifat korosif dari sistem katalis (Kirk Othmer, 1998).

5. Proses Teijin

Proses Teijin dimulai dengan terjadinya reaksi oksidasi naftalena menjadi phthalat anhydride yang kemudian diubah menjadi monopotassium o-phthalate dan dipotassium o-phthalate. Dipotassium o-phthalate diisomerisasikan pada tekanan 10 bar (10,2 kg/cm2) dan suhu 100-130oC menjadi TPA dan dipotassium phthalate dapat di-recycle. Dari proses ini, kristal TPA yang terbentuk diambil dengan filter. Keuntungan menggunakan proses ini antara lain hanya menggunakan oksidasi satu tahap sehingga merupakan proses yang paling sederhana, tidak memerlukan promotor, kondisi operasi moderat, tidak menghasilkan impuritas berwarna, seperti fluorenone dan biphenyl ketone. Di samping itu, proses ini memiliki kekurangan, yaitu kemurnian produk yang relatif rendah (sekitar 95%) dan katalis yang diperlukan dalam jumlah besar.

I.4.2 Pemilihan Proses

Pada prarancangan pabrik asam tereftalat (TPA) ini, dipilih proses Amoco dengan berbagai pertimbangan, seperti:

(9)

9

 bahan baku mudah diperoleh karena merupakan produk samping industri perminyakan

 asam asetat sebagai pelarut mudah diperoleh karena terdapat banyak produsen dalam negeri

 yield asam tereftalat yang dihasilkan sangat tinggi dengan impuritas yang sangat kecil

 efisiensi proses dan konversi yang dihasilkan tinggi, yaitu lebih dari 98%

 kemurnian produk tinggi, yaitu sebesar 99%

 pelarut dan katalis dapat di-recovery dan digunakan kembali Perbandingan proses tertera pada Tabel I.3 berikut ini.

Tabel I.3 Perbandingan Proses Pembuatan Asam Tereftalat

Proses Perbandingan Kondisi Operasi

Suhu (oC) Tekanan (bar) Konversi Yield Kemurnian Eastman Kodak 120 - 175 7,5 - 15 82% 98% Relatif Rendah

Amoco 125 - 230 15 - 30 > 98 % hampir

100 % 99%

Oksidasi Paraxylene dengan Asam Nitrat

160 - 200 8,5 - 13,5 95% 80% Relatif Rendah

Toray 100 - 130 30 99% 90% 99%

Teijin 100 - 130 10 90% 75% 95%

I.4.3 Kegunaan Produk

Asam tereftalat memiliki beberapa kegunaan sebagai berikut:

 sebagai bahan dasar polibutilen tereftalat yang dapat digunakan untuk perekat dengan cara direaksikan dengan 1,4-butanediol

 sebagai bahan dasar serat tekstil atau poliester, kemasan makanan dan minuman dalam bentuk polyethylene terephthalate (PET), film untuk kaset dan foto dalam bentuk film PET, dan berperan penting dalam pembuatan poliester jenuh (polyethylene terephthalate dan 1,2-etanediol)

 sebagai bahan dasar pelapis antilarut

 sebagai bahan plasticizer

 sebagai bahan dasar pelapis peralatan elektronik

(10)

10 (Ullmann, 1999) I.4.4 Sifat-Sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku dan Produk

I.4.4.1 Bahan Baku Paraxylene a. Sifat Fisis

Xylene (C6H4(CH3)2) merupakan senyawa hirokarbon aromatik dengan berat molekul 106,16 gram/mol. Xylene terdapat dalam bentuk ortho, meta, para yang memiliki rumus molekul sebagai berikut:

Ortoxylene Metaxylene Paraxylene Gambar I.3 Rumus Molekul Xylene

(Sumber: Asia – Pacific Journal of Chemical Engineering Vol.5) Tabel I.4 Sifat Fisik Orthoxylene, Methaxylene, dan Paraxylene

Isomer Titik Didih (oC) Titik Leleh (oC) Spesific Gravity

o-xylene 144 -25 0,881

m-xylene 139 -47,4 0,867

p-xylene 138,7 13,2 0,861

Setelah perang dunia ke-2, xylene diproduksi dari petroleum, yaitu fraksi nafta.

Paraxylene mempunyai kemurnian lebih dari 99% dimana sisanya adalah ortho dan meta. Pada kondisi kamar, paraxylene berfase cair, sedikit larut dalam air, dan larut dalam alkohol & pelarut organik. Paraxylene dapat mengalami polimerisasi yang terbentuk melalui tiga tahap:

a) pirolisis paraxylene membentuk siklis dimmer

b) konversi dengan kondisi vakum membentuk polymerisable monomer c) polimerisasi dengan pendinginan pada suhu rendah

Paraxylene memiliki sifat fisis sebagai berikut.

Berat Molekul : 106,17 gram/mol

Wujud : cair, tak berwarna

Titik Didih Normal : 138,7oC

(11)

11

Titik Beku Normal : 13,263oC

Densitas : 0,8657 gram/ml

Panas Pembakaran pada 25oC : 1.088,16 kkal/mol Panas Penguapan pada Titik Didih : 8,60 kkal/mol

Suhu Kritis : 343,2oC

Tekanan Kritis : 34,74 atm (35,89 kg/cm2)

(Othmer, 1998) b. Sifat Kimia

1. Dealkilasi

Dealkilasi xylene membentuk senyawa dengan berat molekul lebih rendah.

Reaksi dealkilasi xylene dengan hidrogen, terjadi pada T = 590-680°C, pada P = 10-40 atm (10,3-41,3 kg/cm2). Perbandingan hidrogen dengan senyawa hidrokarbon 3:1

C6H4(CH3)2(l) + H2(g) → C6H4CH3(l) + CH4(g) (I–1) C6H4(l) + H2(g) → C6H6(l) + CH4(g) (I–2) 2. Oksidasi

Oksidasi paraxylene pada fase cair berlangsung pada T = 100-300°C umumnya menggunakan udara sebagai oksidan. Tekanan operasi bervariasi sampai 40 atm (41,3 kg/cm2). Reaksi berlangsung secara eksotermis.

C6H4(CH3)2(l) + O2(g) → C6H5CH3(COOH)2(aq)+ H2O(l) (I–3) Paraxylene dioksidasikan dengan larutan HNO3 encer pada T = 165°C dan P = 140 psig (9,8 kg/cm2). Reaksi terjadi pada fase cair dengan menggunakan 30-40% larutan HNO3. Oksigen atau udara masuk ke dalam reaktor dimana oksidasi paraxylene terjadi dan produk samping NO diambil 3. Pirolisis

Pirolisis paraxylene akan membentuk p-xylilena, CH2C6H4CH2, pada suhu di atas 1.000°C

4. Ammoksidasi

Merupakan reaksi paraxylene dengan ammonia. Reaksi ini terjadi pada suhu tinggi dan membutuhkan kontak katalis. Suhu reaksi 700-950°C pada tekanan 5-30 atm (5,2-31,0 kg/cm2).

(12)

12 NH3(g) + udara + CH3C6H4CH3(l) → CH3C6H4CN(g) + H2O(g) (I–4) (Othmer, 1998) I.4.4.2 Bahan Baku Udara

a. Sifat Fisis

Berat molekul : 28,975 gram/mol

Wujud : gas tak berwarna, tak berbau

Densitas gas (1 bar) : 0,0749 lb/ft3

Titik leleh : -216,2oC (-357,2oF)

Titik didih : -194,3oC (-317,7oF)

Solubilitas pada air (0oC) : 0,0292

Komposisi (%mol) : O2 = 21%

N2 = 79%

(MSDS) b. Sifat Kimia

1. Stabil pada fase gas. Gas terkompresi dengan oksigen berlebih memiliki bahaya yang sama dengan oksigen cair dan dapat bereaksi keras dengan material organik

2. Dapat bereaksi dengan bahan bakar

(MSDS) I.4.4.3 Pelarut Asam Asetat

a. Sifat Fisis

Berat Molekul : 60 gram/mol

Wujud : cair, tak berwarna

Titik Didih Normal : 117,8oC

Titik Beku Normal : 16,35oC

Densitas : 1,0492 gram/ml

Panas Pembakaran : -209,4 kkal/mol

Panas Pembentukan : -116,2 kkal/mol

Panas Penguapan pada Titik Didih : 566,3 kkal/gram

Suhu Kritis : 321,4oC

Tekanan Kritis : 57,14 atm (59,04 kg/cm2)

(13)

13 (Perry, 1997) b. Sifat Kimia

1. Asam asetat bereaksi dengan lakohol membentuk senyawa ester

 Etil Asetat

CH3COOH(aq) + C2H5OH(l) → CH3COOC2H5(aq) + H2O(l) (I–5)

 Butil Asetat

CH3COOH(aq) + C4H9OH(l) → CH3COOC4H9(aq) + H2O(l) (I–6) 2. Reduksi paladium klorida oleh etilen dalam larutan asam asetat yang

mengandung natrium asetat akan menghasilkan vinil asetat

C2H4(l) + PdCl2(s) +2CH3COONa(aq) → CH2=CH-OCOCH3(aq) +

2NaCl(s) + Pd(s) + CH3COOH(aq) (I–7)

3. Dehidrasi asam asetat terjadi pada suhu 700°C dan tekanan 0,2-0,3 atm (0,21-0,31 kg/cm2)

CH3COOH(aq) → CH2=CO(l) + H2O(l) (I–8) 4. Asam asetat membentuk asetat anhidrat pada suhu 40-60°C dan tekanan 60

psi

5. Asam asetat membentuk garam-garam organik dan anorganik

 Halogenasi, yaitu substitusi pada grup methyl dan mono-, di-, trichloroacetic acid jika gas klorin dilewatkan pada asam asetat panas

 Asam asetat dengan ammonia membentuk amida

CH3COOH(aq) + NH3(g) → CH3CONH2(aq) + H2O(l) (I–9)

 Asam asetat dengan amina membentuk nitril

CH3COOH(aq) + NH3(g) → CH3CN(aq) + 2H2O(aq) (I–10)

 Substitusi gugus hidroksil pada asam asetat dengan atom klorin membentuk senyawa asam klorin

3CH3COOH(aq) + PCl3(aq) → 3CH3COCl(s) + P(OH)3(aq) (I–11)

 Reaksi solvolytic

4CH3COOH(aq) + SO2Cl3(aq) → SO2(OOCH3)2 + 2CH3C(OH)c +

2Cl- (I–12)

 Reaksi dengan perak nitrat membentuk endapan perak asetat putih dan penurunan suhu

(14)

14 CH3COOH(aq) + AgNO3(aq) → CH3COAg(s) (I–13) (Perry, 1997) I.4.4.4 Produk Asam Tereftalat

a. Sifat Fisis

Asam tereftalat mempunyai rumus molekul C6H4(COOH)2, berbentuk kristal putih, tidak larut dalam air, kloroform, eter, sedikit larut dalam alkohol, dan larut dalam alkali.

Spesific gravity : 1,5 Titik sublimasi : 402°C

Asam tereftalat banyak digunakan dalam industri, salah satunya adalah sebagai bahan baku pembuatan serat fiber dimethyl terephtalate (DMT) dengan proses esterifikasi menggunakan methanol. Berikut sifat fisis asam tereftalat:

Spesific gravity : 1,5

Titik Sublimasi : 402oC (menyublim tanpa meleleh) Berat Molekul : 166,133 gram/mol

Wujud : serbuk putih

Densitas (25 oC) : 1,0492 gram/L Panas Pembakaran :3.223 kJ/mol Panas Penguapan : 5.663 kJ/mol

Tabel I.5 Kelarutan Asam Tereftalat dalam Pelarut (gram/100 gram pelarut) Pelarut 25oC 120oC 160oC 200oC 240oC

Metanol 0,1 2,1 2,9 1,5 -

Air 0,0019 0,08 0,37 1,7 9

Asam asetat (glacial) 0,035 0,3 0,75 1,8 4,5

Asam formiat (95% wt) 0,5 - - - -

Asam sulfat (95% wt) 2 - - - -

Dimethylformamide 6,7 - - - -

Dimethyl sulfoxide 20 - - - -

(Perry, 1997) b. Sifat Kimia

Asam terephtalat dengan thionil membentuk senyawa asam klorida

(HOOC)C6H4(COOH)(s) + 2SOCl2(l) → (ClCO)C6H4(COCl)(l) (I–14)

(15)

15 a) klorin, bromin, dan iodin bereaksi dengan asam tereftalat dalam larutan asam sulfat dengan penambahan asam tetrahalogen dan terbentuk hexahalogen benzena

b) reagen penetrasi kuat mengubah asam tereftalat menjadi turunan mononitronya yang dapat direduksi melalui asam amino. Asam amino dengan dizotasi dan hidrolisis menghasilkan asam hidroxyterephtalate c) asam tereftalat bereaksi dengan etilen glikol menghasilkan polietilen

tereftalat

1,4C6H4(COO)2(s) + HOCH2CH2OH(l) → OH-

(aq)CH2CH2O2(C6H4CO2)nCH2CH2OH(s) (I–15) (Perry, 1997) I.4.4.5 Produk Samping 4-CBA

a. Sifat Fisis

Berat Molekul : 150,13 gram/mol

Wujud : padat (bubuk)

Titik Leleh Normal : 247oC

Suhu Kritis : 457,85oC

Tekanan Kritis : 57,10 atm (59,00 kg/cm2)

(MSDS) I.4.4.6 Produk Samping p-Toluic Acid

a. Sifat Fisis

Berat Molekul : 136,15 gram/mol

Wujud : padat

Titik Didih Normal : 274oC Titik Leleh Normal : 182oC

Suhu Kritis : 499,85oC

Tekanan Kritis : 38,09 atm (39,36 kg/cm2)

Kelarutan : larut dalam air

(MSDS) I.4.4.7 Produk Samping Air

a. Sifat Fisis

(16)

16

Rumus Molekul : H2O

Berat Molekul : 18 gram/mol

Titik Didih : 100oC

Titik Lebur : 0oC

Tekanan Kritis : 218 atm (225 kg/cm2)

Suhu Kritis : 374,2oC

Panas Difusi : 1,43 kkal/gmol

Panas Penguapan : 9,71 kkal/gmol Panas Pembentukan : -68,31 kkal/gmol

Indeks Bias : 1,333

Densitas : 0,9982 gram/cm3

Viskositas : 0,6985 cP

(Perry, 2008) b. Sifat Kimia

1. Merupakan senyawa kovalen polar

2. Merupakan elektrolit lemah dan mampu menghantarkan listrik karena terionisasi

H2O → H+ + OH- (I–16)

3. Bersifat netral

4. Dapat menguraikan garam menjadi asam dan basa 5. Pelarut yang baik

6. Bereaksi dengan oksida logam membentuk hidroksida yang bersifat basa dan apabila bereaksi dengan oksida nonlogam membentuk asam

(Pudjaatmaka, 1984) I.4.5 Tinjauan Proses secara Umum

Pembuatan asam tereftalat dengan proses Amoco merupakan reaksi oksidasi fase cair dari paraxylene dengan menggunakan katalis kobalt asetat (Co(II)COOH) dan udara sebagai oksidator. Reaksi berlangsung secara eksotermik pada suhu 175-230oC dan tekanan 15-30 bar (15,3-30,6 kg/cm2).

Dasar reaksi pembuatan asam tereftalat sebagai berikut.

C6H4(CH3)2(l) + 3O2(g) Co(II)COOH C6H4(COOH)2(s) + 2H2O(l) (I–17)

(17)

17 Pada proses ini dihasilkan yield asam tereftalat sebesar > 95% dan konversi > 98% (Tomas, 2013). Bahan baku yang digunakan adalah paraxylene dan oksigen, pelarut asam asetat, dan katalis kobalt asetat direaksikan dalam reaktor RATB dengan bubble sparger pada suhu 229oC dan tekanan 15 bar (15,3 kg/cm2).

Gambar

Tabel I.1 Data Impor TPA di Indonesia
Tabel I.2 Kapasitas Pabrik TPA di Indonesia  Nama Perusahaan  Lokasi  Kapasitas Produksi
Gambar I.2 Lokasi Pabrik
Tabel I.3 Perbandingan Proses Pembuatan Asam Tereftalat
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kelas eksperimen pertama (XIR.1) mendapatkan perlakuan dengan pendekatan ketrampilan proses sains metode eksperimen bebas termodifikasi dan kelas eksperimen kedua XIR.2)

Tindakan adalah realisasi dari pengetahuan dan sikap menjadi suatu perbuatan nyata. Tindakan juga merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk nyata

 Kehilangan pulsa-pulsa CKV, CKVB, STVP ( karena short, jalur putus, atau kehilangan tegangan VGH-VGL) pada kedua sisi akan mengakibatkan layar blank-no osd, sedangkan kalau

(1) Data oseanografi hasil pengukuran lapangan, (2) Citra SPL hasil pengukuran sensor AVHRR satelit NOAA, (3) Citra klorofil-a hasil pengukuran sensor SeaWiFS satelit

Research method: 1) the research design in this study was descriptive research, 2) the subjects of this study were English Teacher and students at SMP Islam Al Azhaar

melaksanakan ketentuan dalam PNPM- MP. Untuk mengoptimalkan pengelolaan program, bagi kecamatan yang memiliki jumlah desa lebih dari 20 disarankan untuk

NAMA PELANGGAR / ATAS. NAMA STNK

Aplikasi akan dijalankan pada perangkat keras berupa prototipe tampilan interaktif yang akan ditempatkan di Museum Mpu Tantular. De- sain prototipe tampak pada Gambar 3.13