• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nomor : 01/SOP/DEB.02/2012 Tanggal : 14 Agustus 2012 Unit Eselon II : Direktorat Bioenergi Revisi : 00

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nomor : 01/SOP/DEB.02/2012 Tanggal : 14 Agustus 2012 Unit Eselon II : Direktorat Bioenergi Revisi : 00"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) PEMBERIAN IZIN USAHA NIAGA

BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL)

Nomor : 01/SOP/DEB.02/2012 Tanggal : 14 Agustus 2012 Unit Eselon II : Direktorat Bioenergi

Revisi : 00

I. Tujuan

Memberikan panduan yang berfungsi sebagai acuan terkait dengan pelayanan pemberian Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) oleh Direktorat Jenderal EBTKE kepada publik dalam rangka konsistensi dan standardisasi kinerja penyelesaian pekerjaan sesuai peraturan yang berlaku.

II. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.

2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.

3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.

4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2005 Tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu.

5. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara.

6. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.

7. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.

(2)

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

9. Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 13483K/24/DJM/2006 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Biodiesel sebagai Bahan Bakar Lain yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

10. Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 23204.K/10/DJM.S/2008 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Bioetanol sebagai Bahan Bakar Lain yang Dipasarkan di Dalam Negeri.

11. Standar Nasional Indonesia (SNI) Biodiesel 04-7182-2006.

12. Standar Nasional Indonesia (SNI) Bioetanol Terdenaturasi untuk Gasohol 7390:2008.

13. Berita Acara Serah Terima Pengelolaan Urusan Energi Baru dan Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Tanggal 24 Agustus 2010.

III. Ruang Lingkup

Penyusunan prosedur kerja dalam bentuk standard operating procedures (SOP) ini meliputi langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pejabat yang berwenang agar proses pelayanan dalam rangka penerbitan Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati dapat dilakukan dengan transparan dan menjaga kualitas pelayanan publik dalam hal penerbitan izin usaha yang dimaksud. SOP ini diberlakukan secara internal di lingkungan Direktorat Jenderal EBTKE dalam rangka kejelasan teknis pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pejabat yang berwenang di Direktorat Jenderal EBTKE, sedangkan pengaturan yang terikat langsung dengan masyarakat tetap diberlakukan dasar hukum sebagaimana tercantum pada bagian ke-II di atas.

Pemberian Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati ini dilakukan berdasarkan amanat Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan, dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain yang mewajibkan Badan Usaha yang melakukan kegiatan usaha hilir Bahan Bakar Nabati harus memiliki izin usaha niaga. Berkaitan dengan hal tersebut maka Direktorat Jenderal EBTKE sebagai institusi yang memiliki wewenang, tugas dan tanggung jawab terhadap penerbitan izin usaha ini memberikan pelayanan publik yang efektif dan efisien demi tercapainya lingkungan usaha hilir Bahan Bakar Nabati yang wajar, adil, dan transparan.

(3)

IV. Definisi

1. Direktorat Jenderal EBTKE adalah Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, yaitu Direktorat Jenderal di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi kegiatan usaha di bidang bioenergi/Bahan Bakar Nabati.

2. Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain adalah bahan bakar yang berasal dari bahan-bahan nabati dan/atau dihasilkan dari bahan-bahan organik lain, yang ditataniagakan sebagai bahan bakar lain.

3. Kegiatan Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) adalah kegiatan usaha untuk menyediakan dan/atau mendistribusikan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) meliputi kegiatan pembelian, penjualan, pengolahan, ekspor, dan/atau impor serta pengangkutan dan penyimpanannya sampai dengan pemasaran Bahan Bakar Nabati (Biofuel) ke konsumen akhir.

4. Badan Usaha adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang menjalankan jenis usaha yang bersifat tetap, terus menerus, dan didirikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5. Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) adalah izin yang diberikan kepada Badan Usaha untuk melakukan kegiatan usaha niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel).

V. Penanggung Jawab

Direktur Bioenergi c.q. Kepala Subdirektorat Pelayanan dan Pengawasan Usaha Bioenergi.

VI. Prosedur

Prosedur pengajuan Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) adalah sebagaimana bagan alir terlampir.

(4)

VII. Penjelasan Kegiatan

1. Badan Usaha mengajukan permohonan Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral c.q. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi dengan melampirkan persyaratan administrasi dan teknis yang ditentukan. Permohonan akan diproses lebih lanjut apabila persyaratan yang disampaikan dinyatakan lengkap dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Seluruh dokumen permohonan akan dikembalikan jika persyaratan tidak lengkap. Badan Usaha dapat mengajukan permohonan kembali dengan melengkapi seluruh permohonan yang ditentukan.

2. Persyaratan administratif dan teknis yang sudah lengkap dari Badan Usaha akan dilakukan penilaian dan evaluasi oleh Direktorat Jenderal EBTKE.

Persyaratan administrasi dan teknis untuk mengajukan Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Persyaratan Administrasi:

1) Akte Pendirian Badan Usaha dengan lingkup usaha bidang energi dan perubahannya yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi yang berwenang;

2) Biodata Badan Usaha (Company Profile);

3) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);

4) Surat Tanda Daftar Perusahaan (TDP);

5) Surat Keterangan Domisili Perusahaan (yang masih berlaku);

6) Surat Penyataan tertulis di atas materai mengenai kesanggupan memenuhi ketentuan peraturan perundang- undangan;

(5)

b. Persyaratan Teknis:

1) Sumber perolehan bahan baku/Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain yang diusahakan;

2) Data standar dan mutu (spesifikasi) Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain yang akan diniagakan;

3) Nama dan merek dagang Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain untuk retail;

4) Informasi Kelayakan Usaha;

5) Surat pernyataan tertulis di atas materai mengenai kemampuan penyediaan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain;

6) Surat Pernyataan secara tertulis dinatas materai kesanggupan untuk memenuhi aspek keselataman dan kesehatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup.

3. a. Apabila dokumen yang disampaikan tidak lengkap, Petugas langsung mengembalikan surat permohonan beserta seluruh lampirannya kepada Badan Usaha untuk dilengkapi.

b. Apabila dokumen yang disampaikan sudah lengkap, Petugas menyampaikan kepada Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi yang kemudian oleh Direktur Jenderal didisposisikan kepada Direktur Bioenergi.

4. Apabila dokumen yang disampaikan sudah lengkap maka Direktur Bioenergi memberikan disposisi kepada Kepala Subdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Bioenergi.

5. Subdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Bioenergi melakukan evaluasi kebenaran masing-masing dokumen dalam surat permohonan dan terhadap kesesuaian antara kegiatan yang akan dilakukan dengan izin yang dimohonkan.

6. a. Apabila terdapat data yang tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan maka dibuatkan konsep surat dari Direktur Bioenergi kepada Badan Usaha untuk memperbaiki data yang tidak memenuhi.

b. Apabila data telah memenuhi persyaratan yang tetah ditentukan dan sesuai dengan peruntukkan permohonan izin usahanya maka dibuatkan konsep surat dari Direktur Bioenergi kepada Badan Usaha untuk melakukan presentasi dan

(6)

7. Apabila terdapat data yang tidak memenuhi persyaratan maka Direktur Bioenergi mengirimkan surat kepada Badan Usaha untuk memperbaiki data dan menenuhi kelengkapan persyaratan dalam surat permohonan izin tersebut.

8. Badan usaha melakukan perbaikan terhadap data dalam surat permohonan Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati tersebut.

9. Badan usaha melakukan perbaikan terhadap data yang masih belum lengkap.

10. Apabila data telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan maka Direktur Bioenergi mengirimkan surat kepada Badan Usaha untuk melakukan presentasi dan klarifikasi terhadap data administrasi dan teknis terhadap kegiatan usaha niaga Bahan Bakar Nabati.

11. Badan Usaha menyusun bahan presentasi yang akan disampaikan.

12. Badan Usaha melakukan presentasi dan klarifikasi terhadap data administrasi dan teknis kepada Direktorat Jenderal EBTKE yang juga melibatkan beberapa instansi terkait lainnya.

13. a. Apabila hasil berita cara presentasi dan klarifikasi terdapat perbaikan dokumen yang masih perlu diperbaikan maka diberikan kesempatan kepada Badan Usaha untuk memperbaiki kembali dokumen dimaksud.

b. Apabila hasil berita cara presentasi dan klarifikasi seluruh dokumen telah sesuai dengan persyaratan dalam kegiatan usahanya maka disusun konsep surat untuk peninjauan lokasi dalam rangka pemeriksaan kesesuaian data administrasi dan teknis serta informasi mengenai rencana Badan Usaha.

14. Apabila hasil berita cara presentasi dan klarifikasi terdapat perbaikan dokumen yang masih perlu diperbaikan maka Badan Usaha mengirimkan kembali data yang telah diperbaiki sesuai berita acara presentasi dan klarifikasi.

15. Apabila hasil berita cara presentasi dan klarifikasi seluruh dokumen telah sesuai dengan persyaratan maka Direktur Bioenergi mengirimkan surat dan menugaskan staf untuk melakukan peninjauan lokasi dalam rangka pemeriksaan kesesuaian data administrasi dan teknis serta informasi mengenai rencana Badan Usaha serta klarifikasi visual langsung di lokasi Badan Usaha sesuai yang disampaikan dalam permohonan izin usahanya.

(7)

18. Direktur Bioenergi mengesahkan konsep Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati dan disampaikan kepada Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi untuk disetujui.

19. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi menyetujui dan menerbitkan Izin Usaha Niaga Bahan Bakar Nabati.

VIII. Lampiran

Disahkan Oleh:

Direktur Bioenergi

Ir. Maritje Hutapea NIP. 195712061983032001

(8)

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PEMBERIAN IZIN USAHA NIAGA

BAHAN BAKAR NABATI (BIOFUEL)

Nomor : 01/SOP/DEB.02/2012 Tanggal : 14 Agustus 2012 Unit : Direktorat Bioenergi Revisi : 00

Kegiatan

Pelaku

Waktu Badan Usaha Dirjen EBTKE Direktur Bioenergi Subdit Pelayanan dan

Pengawasan Usaha Bioenergi

1. Permohonan Izin

Niaga BBN 1 hari kerja

2. Evaluasi

Kelengkapan dan

Kebenaran 10 hari kerja

mulai Pemeriksaan Data oleh

Petugas

memenuhi 2

tidak

Disposisi 3a

3b ya

Evaluasi Dokumen

8

9

5 4

1

Surat

Kebenaran Dokumen

10 hari kerja

3. Presentasi dan

Klarifikasi dokumen 1 hari kerja

4. Perbaikan dokumen 10 hari kerja

6a memenuhi

14

12 10

13a 11

7

6b 5

Surat tidak

Undangan Presentasi Bahan

Presentasi

Presentasi & Klarifikasi Data

ya

Kesesuaian Dokumen & Kegiatan

Usaha

13b tidak

ya Perbakan

Dokumen Perbaikan Dokumen

(9)

Kegiatan

Pelaku

Waktu Badan Usaha Dirjen EBTKE Direktur Bioenergi Subdit Pelayanan dan

Pengawasan Usaha Bioenergi

6. Penerbitan Izin Usaha Niaga BBN

Maksimal 5 hari kerja

16 Penyusunan Konsep

Izin Usaha

19

18 17

Konsep Izin Usaha Izin Usaha

STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) PEMBERIAN IZIN USAHA NIAGA

BAHAN BAKAR NABATI

Nomor : 01/SOP/DEB/02/2012 Tanggal : 14 Agustus 2012 Unit : Direktorat Bioenergi Revisi : 00

Referensi

Dokumen terkait

a. Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak khususnya perempuan, anak-anak dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas mempunyai akses dalam

Dari hasil keluaran perangkat lunak yang telah didapatkan, maka selanjutnya dilakukan analisis hasil tersebut agar dapat dinilai apakah hasil keluaran tersebut

Balok merupakan batang horizontal dari rangka struktur yang memikul beban tegak lurus sepanjang batang tersebut biasanya terdiri dari dinding, pelat atau atap bangunan

(ii) Any alteration to the existing building on this land or any new building to be erected thereon shall be in accordance with plans sections and elevations approved

Tesis ini berjudul : Analisis Pencemaran Bahan Toksik Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Ternak Sapi Potong di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Putri Cempo

Perintah Get dan Let adalah sepasang dan digunakan untuk mendefenisikan property yang akan kita buat, demikian juga dengan WriteProperties dan

Guru membuat susana belajar dengan inovatif dan menyenangkan, tidak ada salahnya guru menjelaskan dengan menggunakan metode ceramah tandan media pembelajaran akan

(4)Penyedia angkutan udara domestik, pesawat Negara, atau tambahan dapat menugaskan pramugari pada jadual jam kerja lebih dari 14 jam, tapi tidak lebih dari 16 jam, jika