Salah satu varietas mangga Indonesia yang memenuhi kebutuhan pasar untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor ialah Arumanis-143. Varietas ini dilepas pada tahun 1984 dan mulai berkembang luas dengan ditandainya usaha skala perkebunan sekitar tahun 1990, sehingga 5 tahun kemudian buah mangga Arumanis-143 dapat mendominasi transaksi bisnis buah mangga Indonesia. Namun sejalan dengan perubahan strategis yang mengikuti pasar bebas, maka berdampak kepada perubahan perilaku konsumen, sehingga mengubah citra bahwa buah yang menarik itu berwarna merah.
Dengan demikian, agar Arumanis-143 yang daging buahnya halus, dan sangat manis, namun berkulit
hijau meskipun buahnya telah matang, tetap mendominasi bisnis buah mangga, maka Arumanis- 143 perlu diperbaiki sifatnya agar menampilkan warna kulit buah merah atau menarik. Perubahan citra tersebut dibangun oleh bukti, bahwa pada tahun 1995 Kementerian Pertanian melepas klon mangga Gedong Gincu dengan warna kulit buah kuning-merah yang nilainya diperkirakan dapat menggeser ekspor Arumanis-143. Tetapi nilai tersebut belum mampu mendongkrak laju ekspor buah mangga segar Indonesia, karena kekuatan dominasi Meksiko dengan varietas Tomy Atkin dan Alphonso dari India, ditunjang lagi produk baru dari Australia dengan Kensington Pride sebagai andalan
MANGGA HIBRIDA HASIL PERSILANGAN
ARUMANIS- 143 DENGAN KLON MANGGA
MERAH
ekspor, di mana buah dari tiga varietas tersebut berwarna merah, serta pelaku ekspor buah mangga segar Indonesia yang nilainya besar, dengan negara tujuan Singapura, Hongkong, dan Taiwan (etnik Cina), dan budaya Cina dengan kesukaan warna merah. Mencermati tren strategis tersebut, agar Arumanis-143 tetap menjadi komoditas ekspor, maka perlu penyediaan varietas unggul baru yang penampilan buahnya seperti Arumanis-143 tetapi kulit buahnya berwarna merah. Upaya perbaikan mutu genetik warna buah tersebut telah dimulai pada tahun 2000 dengan mengumpulkan sumber daya genetik yang menampilkan ciri-ciri buah mangga ideal, khususnya klon mangga Cukurgondang yang kulit buahnya berwarna merah. Evaluasi terhadap koleksi klon mangga Cukurgondang tersebut diperoleh 13 klon yang kulit buahnya mempunyai potensi berwarna merah.
Dalam rangka memperbaiki sifat buah mangga Arumanis-143 dari kulit buah yang berwarna hijau agar menjadi merah atau menarik, Balitbu Tropika Solok sejak tahun 2001 hingga tahun 2004 telah melakukan kegiatan utama yaitu menyilangkan mangga Arumanis-143 dengan klon-klon mangga berkulit buah merah (klon merah Cukurgondang), yaitu (1) Haden, (2) Irwin, (3) Gedong Gincu, (4) Khirsapati Maldah, (5) Apel Merah/Apel, (6) Li’ar, (7) Delima, (8) Saigon, (9) Keitt, (10) Podang, dan (11) Kartikia. Prosedur persilangan mangga yang dilakukan ialah sebagai berikut:
Perlakuan Tanaman Tetua 1.
Tanaman tetua yang terpilih perlu mendapat perlakuan khusus untuk memperoleh hasil persilangan yang optimal, meliputi:
a. Pemupukan
Pemupukan dilakukan menggunakan pupuk kandang dan pupuk buatan. Pupuk kandang sebanyak 10-20 kg/pohon diberikan 2 bulan sebelum induksi pembungaan dengan cara membenamkan pada lobang sekeliling pohon dengan jarak mengikuti lebar tajuk. Pupuk buatan yang digunakan ialah NPK 0,5-1 kg + ZA 1-2 kg per pohon yang diberikan 1 bulan sebelum induksi pembungaan dengan cara menabur pada alur melingkar pada bagian
b. Induksi Pembungaan
Untuk mendapatkan pembungaan yang serentak, maka perlu dilakukan induksi pembungaan dengan pemberian paklobutrazol (kultar) sebanyak 5-7,5 ml per pohon.
Pemberian paklobutrazol dilakukan dengan cara melarutkan kultar ke dalam air sebanyak 1 l kemudian disiramkan secara melingkar pada alur yang telah dibuat dengan jarak 1 m dari pohon. Dengan perlakuan ini tunas/cabang tersier tanaman mangga dapat berbunga secara serentak 2 bulan setelah aplikasi.
c. Pengairan
Setelah pemupukan maupun pemberian kultar, tanaman harus cukup mendapatkan air terutama bila tidak ada hujan. Untuk mempermudah kebutuhan ini, maka pemupukan maupun induksi pembungaan harus dilakukan ketika masih ada hujan.
2. Persiapan Persilangan
Persiapan yang perlu dilakukan antara lain menyiapkan peralatan/bahan yang meliputi:
tangga, cawan petri, pinset, gunting kecil, sungkup dari kain tangerin/kantong plastik (ukuran 5 kg), label, spidol permanen/pensil 2B, dan stapler.
3. Pelaksanaan Persilangan a. Emaskulasi
Emaskulasi adalah membuang semua bunga jantan dan sebagian bunga sempurna yang tidak diperlakukan. Bunga sempurna yang diperlakukan (ditinggalkan) cukup ± 10 kuntum per malai. Bunga sempurna yang ditinggalkan diperkirakan pada esok harinya telah mekar.
Hal ini ditandai oleh nampaknya mahkota bunga yang berwarna putih dan berbentuk tumpul. Emaskulasi dilakukan pada sore hari mulai kira-kira pukul 16:00 hingga matahari terbenam. Setelah emaskulasi selesai, malai bunga disungkup dengan kain tangerin/kantong plastik (PE) dan diikat/ditutup rapat agar tidak terkontaminasi oleh serbuk sari bunga lain.
b. Kastrasi
Kastrasi adalah membuang alat kelamin jantan
Gambar 1. (A) Emaskulasi
Gambar 1. (B) Kuncup bunga yang diperkirakan esok harinya mekar
Gambar 1. (C) Pengrodongan bunga setelah emaskulasi
emaskulasi sebelumnya. Kastrasi dilakukan dalam satu waktu dengan penyilangan, yaitu pada pagi hari mulai pukul 06:00-10:00.
Kastrasi ini dilakukan ketika bunga sempurna telah mekar namun polennya belum masak.
Setelah kastrasi selesai segera dilakukan persilangan.
c. Penyilangan
Untuk melakukan penyilangan, polen diambil dari bunga jantan yang sudah mekar pada pagi hari. Polen yang siap disilangkan (subur) ditandai dengan warna ungu tua, atau secara visual dapat dilihat pada ujung anter telah pecah. Polen dari masing-masing klon diletakkan dalam cawan petri dan diberi kode sesuai dengan klonnya. Untuk menghindari tercampurnya polen antarklon, maka cawan petri harus ditutup, atau panen polen dilakukan secara bergiliran. Penyilangan dilakukan dengan cara: bunga jantan (anter) dijepit dengan pinset dan di pegang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri memegang malai bunga betina yang akan diserbuki, kemudian secara hati-hati ujung anter yang mengandung polen subur dioleskan pada ujung pistil (stigma). Hal ini dilakukan pada seluruh kuntum bunga yang telah dikastrasi (± 10 kuntum/malai). Setelah penyerbukan (penyilangan) selesai, selanjutnya malai bunga disungkup dengan kain tangerin/kantong plastik untuk menghindari kontaminasi dengan polen bunga yang tidak dikehendaki, Gambar 2. Kastrasi
serta diberi label persilangan. Pemberian label persilangan (kode persilangan) harus dilakukan secara konsisten yaitu dengan menulis klon tetua betina x klon tetua jantan dan tanggal persilangan. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan bakal buah yang meliputi pembukaan sungkup (hari ke-3 setelah persilangan) dan pengairan yang cukup untuk menghindari stress tanaman.
4. Prosesing Biji dan Perawatan Semaian Panen buah F1 (hibrid) dilakukan pada tingkat ketuaan optimal, yaitu antara umur 90-110 hari setelah penyerbukan. Ekstraksi biji dilakukan dengan cara memisahkan pelok dari daging buahnya, kemudian pelok dikering anginkan dan dikupas kulit bijinya (epicarp). Biji yang telah terkupas selanjutnya ditanam di media tanah + sekam + pukan (1:1:1/v/v/v) dalam polibag ukuran 15x20 cm. Polibag ditempatkan dalam rumah pembibitan dengan intensitas cahaya 50%.
Untuk menghindari terserangnya cendawan, media tanam perlu disiram dengan larutan fungisida berbahan aktif benomil dengan konsentrasi 0,05% dengan volume 100 ml larutan/polibag.
Biji yang tumbuh menjadi semaian dipelihara secara optimal, yaitu dengan pemupukan NPK (15-15-15) yang dilarutkan dalam air dengan dosis 5 g/l sebanyak 100 ml/polibag yang dilakukan 2 minggu sekali, serta penyemprotan dengan pestisida yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
Semaian dari masing-masing aksesi F1 yang sudah tumbuh optimal, kemudian dipangkas dan diambil entrisnya guna penggandaan F1 yang dipersiapkan untuk evaluasi selanjutnya.
Hibrid Hasil Persilangan Mangga Arumanis- 143 dengan Klon Merah Cukurgondang
Dari hasil kegiatan persilangan dari tahun 2002 sampai 2004 diperoleh 63 aksesi F1 (hibrid), serta ditambah dua aksesi F1 hasil persilangan antara mangga Manalagi dengan mangga Haden dan Apel.
Hibrid-hibrid yang dihasilkan tersebut selanjutnya digandakan. Hasil penggandaan sebagian telah ditanam di KP. Aripan, Balitbu Tropika Solok untuk dievaluasi pertumbuhan dan sekaligus untuk uji adaptasi di dataran rendah basah. Untuk evaluasi pertumbuhan dan seleksi F1 di dataran rendah kering, maka pada tahun 2007 dilakukan penanaman sebanyak 25 aksesi F1 dan pada tahun 2008 sebanyak 40 aksesi F1 di KP. Cukurgondang, Pasuruan, Jawa Timur (Tabel 1 dan 2). Kegiatan evaluasi dan seleksi F1 tersebut dilakukan dalam upaya untuk mendapatkan varietas unggul baru mangga hibrid yang berkualitas ekspor, sehingga mempunyai daya saing yang tinggi baik di pasar domestik maupun pasar internasional. Keragaan tanaman F1 (hibrid) mangga berumur 3 tahun yang ditanam di KP. Cukurgondang dapat dilihat pada Gambar 4.
Bunga Jantan
Penyerbukan
A B
Gambar 3. (A) Penyilangan, (B) Penyungkupan bunga setelah penyilangan
Tabel 1. Daftar hibrid (25 aksesi F1) hasil persilangan mangga Arumanis-143 dengan klon merah Cukurgondang yang ditanam pada tahun 2007 di KP. Cukurgondang
No. Kode
aksesi Persilangan No. Kode
aksesi Persilangan
1. F1-15 Arumanis-143 x Haden 14. F1-87 Arumanis-143 x Gedong Gincu
2. F1-21 Arumanis-143 x Haden 15. F1-16 Arumanis-143 x Khirsapati Maldah
3. F1-26 Arumanis-143 x Haden 16. F1-28 Arumanis-143 x Khirsapati Maldah
4. F1-27 Arumanis-143 x Haden 17. F1-07 Arumanis-143 x Apel Merah
5. F1-46 Arumanis-143 x Haden 18. F1-13 Apel Merah x Arumanis-143
6. F1-02 Haden x Arumanis-143 19. F1-38 Apel Merah x Arumanis-143
7. F1-22 Arumanis-143 x Irwin 20. F1-44 Arumanis-143 x Li’ar
8. F1-35 Arumanis-143 x Irwin 21. F1-47 Arumanis-143 x Li’ar
9. F1-09 Irwin x Arumanis-143 22. F1-50 Arumanis-143 x Li’ar
10. F1-31 Irwin x Arumanis-143 23. F1-25 Arumanis-143 x Delima
11. F1-18 Arumanis-143 x Gedong Gincu 24. F1-49 Arumanis-143 x Saigon 12. F1-33 Arumanis-143 x Gedong Gincu 25. F1-54 Arumanis-143 x Keitt 13. F1-53 Arumanis-143 x Gedong Gincu
Tabel 2. Daftar hibrid (40 aksesi F1) hasil persilangan mangga Arumanis-143 dan Manalagi dengan klon merah Cukurgondang yang ditanam pada tahun 2008
No. Kode
aksesi Persilangan No. Kode
aksesi Persilangan
1. F1-86 Arumanis-143 x Haden 21. F1-73 Arumanis-143 x Gedong Gincu
2. F1-88 Arumanis-143 x Haden 22. F1-82 Arumanis-143 x Gedong Gincu
3. F1-01 Haden x Arumanis-143 23. F1-83 Arumanis-143 x Gedong Gincu
4. F1-30 Haden x Arumanis-143 24. F1-85 Arumanis-143 x Gedong Gincu
5. F1-42 Haden x Arumanis-143 25. F1-03 Apel x Arumanis-143
6. F1-94 Haden x Arumanis-143 26. F1-04 Apel x Arumanis-143
7. F1-69 Arumanis-143 x Irwin 27. F1-37 Apel x Arumanis-143
8. F1-08 Irwin x Arumanis-143 28. F1-39 Apel x Arumanis-143
9. F1-10 Irwin x Arumanis-143 29. F1-41 Apel x Arumanis-143
10. F1-11 Irwin x Arumanis-143 30. F1-55 Apel x Arumanis-143
11. F1-14 Irwin x Arumanis-143 31. F1-51 Delima x Arumanis-143
12. F1-29 Irwin x Arumanis-143 32. F1-45 Arumanis-143 x Saigon
13. F1-36 Irwin x Arumanis-143 33. F1-68 Arumanis-143 x Keitt
14. F1-43 Irwin x Arumanis-143 34. F1-48 Keitt x Arumanis-143
15. F1-59 Arumanis-143 x Gedong Gincu 35. F1-52 Keitt x Arumanis-143
16. F1-61 Arumanis-143 x Gedong Gincu 36. F1-77 Arumanis-143 x Podang
17. F1-62 Arumanis-143 x Gedong Gincu 37. F1-80 Arumanis-143 x Podang
18. F1-65 Arumanis-143 x Gedong Gincu 38. F1-72 Arumanis-143 x Kartikia
19. F1-66 Arumanis-143 x Gedong Gincu 39. F1-19 Manalagi x Haden
20. F1-67 Arumanis-143 x Gedong Gincu 40. F1-23 Apel x Manalagi
Hasil evaluasi pada tahun 2009 telah diperoleh satu hibrid yang berbuah yaitu F1-38, pada tahun 2010 diperoleh dua hibrid yang berbuah yaitu F1- 25 dan F1-54, sedangkan hingga Agustus 2011 terdapat 24 aksesi F1 yang berbunga dan satu aksesi F1 yang sudah dipanen yaitu F1-45. Dari evaluasi awal terhadap karakter buah menunjukkan bahwa F1-38 (Apel Merah x Arumanis-143) mempunyai bobot buah 350 g, rasa dan aroma seperti Arumanis- 143, daging buah tebal, warna daging buah kuning, halus dan tidak berserat (seperti Arumanis-143),
kulit buah berwarna kuning muda/menarik. F1- 25 (Arumanis-143 x Delima) mempunyai bobot buah 600 g, rasa manis, daging buah tebal, warna daging buah kuning, halus, dan tidak berserat (seperti Arumanis-143), kulit buah berwarna hijau kekuningan. F1-54 (Arumanis-143 x Keitt) mempunyai bobot buah 550 g, rasa manis asam, daging buah tebal, warna daging buah kuning, berserat, kulit buah berwarna kekuningan. F1-45 (Arumanis-143 x Saigon) mempunyai bobot buah 245 g, rasa seperti Arumanis-143, warna daging
Gambar 5. Keragaan buah F1-38
Gambar 6. Keragaan tanaman F1-25 yang berbuah
Gambar 7. (A) Keragaan tanaman F1-54 yang berbuah (B) Buah F1-54 (tengah), tetua Arumanis-143 (kiri) dan Keitt (kanan)
Gambar 4. Keragaan tanaman hibrid mangga di KP. Cukurgondang
Gambar 8. Keragaan tanaman berumur 3 tahun (A) dan buah F1-45 (B-D)
A B
C D
buah kuning, tidak berserat (seperti Arumanis- 143), daging buah tipis, aroma kuat, dan kulit buah berwarna merah kekuningan. Keragaan buah dari masing-masing hibrid tersebut dapat dilihat pada Gambar 5-8.
Dari 65 aksesi F1 yang ditanam di KP.
Cukurgondang, hingga bulan Agustus 2011 terdapat 24 aksesi yang telah berbunga, dan buah diperkirakan dapat dipanen pada bulan November 2011, sehingga karakternya dapat dievaluasi secara lengkap, khususnya karakter fisik dan kimia buah.
Dari hasil evaluasi ini dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan seleksi F1 (hibrid) yang mempunyai karakter unggul (warna kulit dan daging buah merah-kuning-jingga atau menarik, daging buah tebal dengan biji tipis, rasa, aroma, tekstur, dan serat seperti Arumanis-143, serta daya simpan lebih baik).
PUSTAKA
1. Anwaruddinsyah, J., Rebin, Sukartini, dan L.
Sadwiyanti. 2004. Pewarisan Warna Merah Buah Mangga Klon CKG pada AR 143. Laporan Hasil Penelitian. Balitbu Solok.
2. Karsinah, S. Purnomo, Rebin, Sukartini, dan L.
Sadwiyanti. 2003. Pewarisan Warna Merah Buah Mangga Klon Cukurgondang pada Arumanis 143. Laporan Hasil Penelitian. Balitbu Solok. 15 3. ________ , R. Triatmingsih, dan Rebin. 2007. Hlm.
Kultur Penyelamatan Embrio Persilangan Mangga Arumanis-143 dengan Klon Merah Cukurgondang dan Arumanis-143. Agrivita. 29(3):237-244.
4. Purnomo, S., Rebin, dan A. R. Effendy. 2002.
Persilangan Mangga Varietas Arumanis 143 x Klon Merah CKG. Laporan Hasil Penelitian.
Balitbu Solok. 12 Hlm.
Karsinah dan Rebin Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Jl. Raya Solok-Aripan Km. 8, Solok
Sumatera Barat 27301