5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori 1. Zakat
a. Pengertian zakat
Dari segi bahasa, zakat mempunyai beberapa arti yakni al- barakatu “keberkahan”, al-namaa “pertumbuhan dan perkembangan”, ath-thaharatu “kesucian” dan ash-shalahu
“keberesan”. Secara istilah, zakat dapat diartikan sebagai harta yang mempunyai syarat tertentu dan Allah SWT mewajibkan kepada pemilik harta tersebut untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Sedangkan secara etimologi, zakat adalah menyucikan, memperbaiki, berkembang, dan memuji (Sari, 2020).
Zakat merupakan salah satu rukun islam yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim. Berdasarkan sudut pandang sistem ekonomi, zakat merupakan upaya untuk menciptakan distribusi pendapatan agar menjadi lebih merata. Selain untuk tujuan distribusi, zakat juga dapat dianggap sebagai sumber pendapatan dan pembiayaan kegiatan ekonomi (Sari, 2020). Secara umum zakat terbagi menjadi 2 yaitu : 1) Zakat Fitrah/Zakat Nafs, yaitu kewajiban zakat bagi setiap
muslim baik yang sudah baligh maupun belum, dan pembayarannya pada bulan ramadhan sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fitri.
2) Zakat Harta/Zakat Maal, yaitu zakat yang wajib dikeluarkan apabila harta seorang muslim tersebut mencapai jumlah tertentu (nisab). Secara syara maal sebagai sesuatu yang dikuasai dan dapat digunakan. Seperti hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, serta hasil kerja (profesi).
Zakat merupakan salah satu amal perbuatan yang dalam pelaksanaannya harus diawali dengan niat. Niat merupakan syarat dalam mengeluarkan zakat, karena zakat merupakan ibadah dan ibadah tidak sah kecuali dengan adanya niat (Sari, 2020). Zakat menurut Undang-Undang No.23 Tahun 2011 adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh seorang muslim sesuai dengan ketentuan agama dan diberikan kepada yang berhak menerimanya (Khairunnisa, 2021).
b. Dalil zakat
Zakat sebaiknya disalurkan menggunakan lembaga zakat yang amanah, bertanggungjawab, dan terpercaya agar pendistribusian zakat tepat sasaran dan menghindari penumpukan zakat kepada mustahik tertentu saja yang dikenal oleh muzakki sedangkan mustahik lain masih banyak yang lebih membutuhkan zakat tersebut. Dalam syariat islam pada prinsipnya dibenarkan bahwa seorang muzakki dapat memberikan zakatnya langsung kepada mustahik dengan syarat yang sesuai dengan firman Allah dalam surah At-Taubah (9): 60 yang berbunyi “sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah.” Adapun dalil lain yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist, yakni :
1) Al-Qur’an
a) Surah Al-Baqarah (2): 43
Artinya: “Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.”
b) Surah Al-Maidah (5): 55
Artinya: “Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul- Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan
shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah).”
2) Hadist
a) HR. Bukhari & Muslim
Berbunyi: “Islam dibangun di atas lima landasan: syahadat bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah, menegakkan salat, menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji, dan puasa ramadhan dan haji.”
Dalam hadist tersebut, dijelaskan bahwa zakat merupakan salah satu dari rukun islam, dimana bangunan islam tidak dapat tegak tanpanya.
b) HR. Al Jama’ah
Berbunyi: “Sesungguhnya ketika Rasulullah saw mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman, beliau berkata, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Karena itu, jika engkau menjumpai mereka, serulah mereka kepada syahadat, tidak ada yang berhak disembah dengan haq, kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaati engkau dalam hal itu, maka ajarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas merreka salat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka telah mentaatimu dalam hal tersebut, maka jarilah mereka, bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka sedekat atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan dibagi-bagikan kepada para fakir miskin dari mereka. Jika mereka telah mentaati dalam hal tersebut, maka berhati-hatilah terhadap harta-harta kesayangan mereka dan bertakwalah dari doa- doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang darinya dengan Allah.”
c. Rukun dan syarat zakat
Dalam berzakat sebagai seorang muslim juga harus mengetahui rukun dan syarat dalam berzakat agar zakat yang dikeluarkan sah.
Berikut rukun dan syarat dalam berzakat : 1) Rukun Zakat
a) Muzakki (orang yang berzakat)
b) Mustahik (orang yang menerima zakat) c) Harta yang dizakatkan
2) Syarat Zakat
a) Beragama Islam b) Merdeka
c) Kepemilikan yang sempurna d) Nisab
e) Haul 2. Zakat Perusahaan
Zakat perusahaan adalah zakat yang didasarkan atas prinsip keadilan serta hasil ijtihad para ahli fikih (Khairunnisa, 2021). Kewajiban zakat perusahaan ditunjukkan kepada perusahaan yang memiliki mayoritas beragama islam. Sehingga zakat perusahaan tidak ditujukan pada harta perusahaan yang tidak dimiliki oleh orang yang beragama islam. Zakat perusahaan diharapkan dapat menjadi pemicu pertumbuhan dan pendistribusian ekonomi yang semakin membaik, hal tersebut tentu harus disertai dengan pengelolaan zakat yang tepat dan benar (A’yun, 2019).
Salah satu sumber zakat di Indonesia berdasarkan fatwa MUI adalah Zakat perusahaan, yang mana pada hal ini Zakat perusahaan sebagai representasi syariah suatu perusahaan yang diharapkan dapat memicu pertumbuhan dan distribusi ekonomi yang semakin baik dan harus didukung dengan pelaksanaan sistem yang jelas sebagai upaya pelaksanaan perhitungan dan pencatatan zakat yang benar. Zakat perusahaan yang dimaksud dalam hal ini yakni lembaga keuangan syariah, dalam berbagai wacana disebutkan bahwa lembaga keuangan syariah tercermin dalam metafora zakat artinya lembaga syariah merupakan usaha
bisnis yang berorientasi pada zakat tidak hanya berorientasi pada profit, sehingga perusahaan yang berbasis syariah wajib untuk mengeluarkan pembayaran zakat.
Terdapat beberapa landasan hukum yang dapat dijadikan rujukan zakat perusahaan yakni pada firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 103 yang Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” Juga merujuk pada hadist Imam Bukhari (hadist ke 1450 dan 1451) dari Anas bin Malik bahwa Abu Bakar telah menulis surat yang berisikan kewajiban zakat yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW kepadanya yang berisikan pendapat tentang zakat: “Janganlah digabungkan sesuatu yang terpisah dan jangan pula dipisahkan sesuatu yang tergabung (berserikat) karena takut mengeluarkan zakat. Dan apa apa yang telah digabungkan dari dua orang yang telah berserikat (berkongsi), maka keduanya harus dikembalikan (diperlakukan) secara sama” (H.R.
Bukhari) Hadits tersebut pada awalnya hanya berkaitan dengan perkongsian hewan ternak. Tetapi para ulama mengaplikasikannya sebagai qiyas (analogi) untuk perkongsian atau persekutuan (Rizki et al., 2019).
Berdasarkan hadits-hadits tersebut, keberadaan perusahaan sebagai wadah usaha menjadi badan hukum. Karena itu Muktmar Internasional Pertama tentang zakat di Kuwait (29 Rajab 1404) menyatakan bahwa kewajiban zakat sangat terkait dengan perusahaan, dengan catatan antara lain adanya kesepakatan sebelumnya antara pemegang saham, agar terjadi keridhaan dan keikhlasan ketika mengelurkannya (Rizki et al., 2019). Saat ini zakat telah diatur dalam Undang-undang zakat No.38/1999 yang kemudian diperbaharui menjadi undang-undang zakat No.23/2011.
Undang-undang zakat No.23/2011 memberikan arahan terhadap institusi pengelolaan zakat dalam mengelola zakat, infak, sedekah, terutama dalam pengumpulan, pendistribusian, dan pelaporan penggunaan
dana. Dalam ketentuan umum undang-undang ini, bab 1 pasal 1 ayat 5 menyatakan bahwa pembayar zakat (muzaki) adalah seorang muslim atau badan usaha yang berkewajiban menunaikan zakat. Akan tetapi tidak ada aturan lain yang menyinggung mengenai zakat perusahaan dalam undang- undang ini (Andriani et al., 2020).
Peraturan lain terkait zakat perusahaan diterbitkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Sejak tahun 2012 telah dikeluarkan PSAK No.101 yang mengatur mengenai pelaporan keuangan entitas syariah dan mewajibkan entitas syariah untuk menyajikan pelaporan atas dana zakat dan dana kebajikan (Andriani et al., 2020). Penerapan zakat perusahaan di Indonesia secara umum masih menjadi pertimbangan dalam perusahaan- perusahaan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan adanya isu utama yang membahas bahwa zakat perusahaan hanya dilaksanakan oleh perusahaan yang kepemilikannya seorang muslim serta keputusan-keputusan perusahaan yang dipengaruhi oleh stakeholder seperti rapat umum pemegang saham(Rizki et al., 2019).
Pada tahun 2021 Pusat Kajian Strategis BAZNAS melakukan survei preferensi perusahaan dalam berzakat. Survei tersebut dilakukan pada 60 perusahaan secara acak sebagai responden pada wilayah jabodetabek dengan melalui 4 pendekatan yakni preferensi media sosialisasi dan kampanye, preferensi layanan konsultasi, preferensi kanal pembayaran dan preferensi manfaat pembayaran zakat perusahaan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner skala likert 1-5. Hasil penelitian survei tersebut menunjukan menunjukan bahwa lembaga zakat yang menjadi top of mind bagi perusahaan didominasi oleh BAZNAS sebesar 71%, LAZ Dompet Dhuafa 18%, LAZ Rumah Zakat 5%, LAZ Baitulmal Muamalat, LAZIS Muhammadiyah, Masjid/Mushola masing- masing sebesar 2%. Preferensi Media Sosialisasi dan kampanye menggunakan media sosial, video dan film pendek; Preferensi kanal pembayaran yaitu melalui rekening virtual bank account; Preferensi layanan konsultasi menggunakan tatap muka; Preferensi benefit bagi
perusahaan yakni penyertaan logo perusahaan pada event lembaga zakat;
perusahaan cenderung menginginkan komunikasi zakat perusahaan oleh lembaga zakat Dewan Pengawas Syariah.
3. Lembaga Keuangan Syariah
Lembaga Keuangan Syariah (LKS) adalah sebuah lembaga keuangan yang kegiatan aktivitas operasionalnya berdasarkan pada prinsip syariah baik dari penghimpunan dana maupun dalam menyalurkan (Khairunnisa, 2021). LKS menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah lembaga keuangan yang mengeluarkan produk syariah dan mendapat izin operasional sebagai lembaga keuangan syariah.
LKS didirikan dengan tujuan mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip islam (Soemitra, 2017). Prinsip utama yang dianut oleh lembaga keuangan syariah dalam menjalankan usaha nya yakni pertama, menghindari adanya riba, gharar, dan maysir. Kedua, menjalankan bisnis dan aktivitas perdagangan yang berbasis pada perolehan keuntungan yang sah menurut syariah yakni dengan prinsip jual beli dan bagi hasil. Ketiga menyalurkan zakat, infak, dan sedekah (Soemitra, 2017).
Sistem keuangan syariah di Indonesia dijalankan oleh dua jenis LKS, yakni lembaga keuangan perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah non perbankan atau dengan kata lain institusi keuangan syariah non bank (IKNB). (Soemitra, 2017) Jenis lembaga keuangan syariah di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut: (Soemitra, 2017)
a. Lembaga keuangan perbankan
Usaha lembaga perbankan yang dilakukan yakni menyalurkan dana atau memberikan pembiayaan dan juga melakukan usaha penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan.
Perkembangan perbankan di Indonesia diawali pada tahun 1990 pada lokakarya MUI, disana para peserta sepakat untuk mendirikan Bank Syariah di Indonesia sehingga pada tahun 1992 pada tanggal 1 Mei didirikanlah Bank Syariah pertama di Indonesia yakni Bank Muamalat
Indonesia. Kemunculan BMI ini kemudian diikuti dengan lahirnya Undang-undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang mengakomodasi perbankan dengan prinsip bagi hasil. Setelah itu pada tahun 1998 keluarlah Undang-undang No.10 tentang perubahan Undang-undang No. 7 Tahun 1992 yang mengakui keberadaan Bank Syariah dan Bank Konvensional serta memperkenankan Bank Konvensional membuka kantor cabang syariah yakni disebut dengan Unit Usaha Syariah (UUS). Lembaga keuangan perbankan terdiri dari:
1) Bank umum syariah (BUS)
Bank Umum Syariah (BUS) merupakan institusi yang memberikan layanan jasa perbankan berdasarkan prinsip syariah atau prinsip hukum islam yang kegiatannya berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Menurut UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah yang menjadi payung hukum perbankan syariah nasional disebutkan bahwa bank syariah terdiri dari bank umum syariah dan unit usaha syariah.
2) Unit usaha syariah (UUS)
Unit usaha syariah (UUS) merupakan unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. UUS berada satu tingkat dibawah direksi Bank Umum Konvensional dan dapat berusaha sebagai bank devisa dan non devisa.
3) Bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS)
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan bank yang khusus melayani masyarakat kecil di kecamatan dan pedesaan. BPRS berfungsi sebagai pelaksana sebagian fungsi bank umum, tetapi ditingkat regional dengan berlandaskan prinsip syariah. Jenis produk yang ditawarkan oleh BPRS relatif sempit jika dibandingkan dengan bank umum.
b. Lembaga keuangan non perbankan
Lembaga keuangan non perbankan ini lebih banyak jenis nya jika dibandingkan dengan lembaga keuangan perbankan. Masing-masing lembaga keuangan non bank mempunyai ciri-ciri usahanya sendiri.
Lembaga keuangan non perbankan terdiri dari:
1) Asuransi syariah
Asuransi Syariah (ta’min, takaful, atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Akad syariah yang dimaksud yakni terhindar dari gharar, maysir, riba, zhulm, risywah, barang haram dan maksiat. Perusahaan Asuransi Syariah, Reasuransi Syariah dan Broker Asuransi telah mengikuti menyemarakkan usaha perasuransian di Indonesia. Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia dimulai pada tanggal 25 Agustus 1994, dengan peresmian PT. Takaful Keluarga melalui SK Menkeu No. Kep-385/KMK.017/1994. Pendirian Asuransi Takaful Indonesia diprakarsai oleh Tim Pembentuk Asuransi Takaful Indonesia (TEPATI) yang dipelopori oleh ICMI melalui Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia, Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, Pejabat dari Departemen Keuangan, dan Pengusaha Muslim Indonesia.
2) Pegadaian syariah
Perusahaan Pegadaian Syariah dalam menjalankan operasionalnya berpegang teguh pada prinsip syariah. pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dilakukan dalam bentuk rahn. Pegadaian Syariah hadir di Indonesia dalam bentuk kerja sama Bank Syariah dengan perum pegadaian dan membentuk Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) di Indonesia.
Disamping itu adapula Bank Syariah yang menjalankan kegiatan Pegadaian Syariah sendiri.
Pegadaian Syariah merupakan sebuah lembaga yang relatif baru di Indonesia. Konsep operasi Pegadaian Syariah mengacu pada sistem administrasi modern, yaitu asa rasionalitas, efisiensi, dan efektivitas yang diselaraskan dengan nilai Islam. Pegadaian Syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama ULGS pada bulan Januari tahun 2003. Kemudian pada tahun yang sama, 4 kantor cabang pegadaian di Aceh dikonversi menjadi Pegadaian Syariah. Saat ini jasa Gadai Syariah dikembangkan dalam outlet- outlet Gadai Syariah.
3) Lembaga keuangan mikro syariah
Lembaga Keuangan Mikro Syariah merupakan salah satu alat yang cukup penting untuk mengangkat tingkat perekonomian masyarakat saat ini. Dalam pelaksanaan dan operasionalnya dilakukan dengan pola simpan pinjam dan pola bagi hasil.
Lembaga yang dapat menjalankan peran sebagai Lembaga Keuangan Mikro saat ini adalah Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) dan Baitul Mal Wat Tamwil (BMT).
a) Koperasi jasa keuangan syariah (KJKS)
Dalam keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM Republik Indonesia Nomor 91/Kep/IV/KUKM/IX/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Usaha Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) merupakan sebuah wujud nyata dari pemerintah untuk memberikan payung hukum atas kenyataan berkembangnya pertumbuhan ekonomi syariah dalam masyarakat Indonesia terutama dalam lingkungan Koperasi dan UKM. Dalam keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM tersebut dijelaskan bahwa KJKS atau Koperasi Simpan Pinjam Syariah (KSPS) adalah koperasi
yang kegiatan usahanya di bidang investasi, pembiayaan, dan simpanan sesuai pola bagi hasil.
b) Baitul mal wat tamwil (BMT)
BMT adalah singkatan dari Balai usaha Mandiri Terpadu atau Baitul Mal wat Tamwil yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah. BMT terdiri dari dua fungsi utama yakni Baitul Tamwil dan Baitul Mal. Baitul Tamwil yakni melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha mikro dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi. sedangkan Baitul Mal yakni menerima titipan dana zakat, infak dan sedekah serta menyalurkannya sesuai dengan peraturan dan amanatnya.
Sebagai lembaga keuangan, BMT bertugas menghimpun dana dari masyarakat (anggota BMT) yang mempercayakan dananya disimpan di BMT dan menyalurkannya kepada masyarakat (anggota BMT) dengan memberikan pinjaman dan sebagai lembaga ekonomi, BMT dapat melakukan pengelolaan kegiatan perdagangan, industri, dan pertanian.
LKS dianggap sebagai sebuah perusahaan yang berlabel syariah, maka hal ini dianggap bahwa lembaga keuangan syariah diwajibkan untuk menerapkan penyaluran dan penghimpunan dana zakat. Pada kenyataannya penerapan zakat pada lembaga keuangan syariah hanya sebagian yang melaksanakan secara aktif dan sebagian lagi melaksanakan secara pasif hal tersebut dikarenakan adanya cara perhitungan yang berbeda-beda disetiap lembaga keuangan syariah. Sehingga penerapan zakat pada lembaga keuangan syariah tidak merata (Rizki et al., 2019).
Pada penelitian (A’yun, 2019) diketahui bahwa nilai total realisasi zakat perusahaan oleh BUS berfluktuasi setiap tahunnya. Penambahan jumlah
BUS yang menunaikan zakat perusahaan secara tidak langsung mempengaruhi akumulasi jumlah zakat perusahaan pada seluruh BUS.
4. Preferensi Muzakki Dalam Menyalurkan Zakat
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) preferensi adalah hak untuk didahulukan dan diutamakan dari pada yang lain, prioritas, pilihan, kecenderungan, kesukaan. Istilah referensi digunakan untuk mengganti kata preference dengan arti yang sama atau minat terhadap sesuatu. Minat didefinisi operasionalkan sebagai kecenderungan yang menetap pada diri Muzakki atau masyarakat untuk menyalurkan zakat (Mairijani, 2021).
a. Preferensi muzakki (masyarakat)
Preferensi penyaluran dana zakat terbagi menjadi tiga. Pertama, zakat diberikan langsung dari muzakki kepada mustahiq tanpa perantara. Kedua, dilakukan oleh amil zakat dalam bentuk panitia atau pengurus yang berfungsi dalam waktu tertentu. Ketiga, pengelolaan zakat diserahkan melalui lembaga zakat baik milik pemerintah (BAZNAS) atau pengelola swasta (LAZ) (Pratiwi, 2017). Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi muzakki dalam menyalurkan zakat: (Mairijani, 2021)
1) Faktor religiusitas
Menurut teori Fetzer religiusitas merupakan sesuatu yang menitikberatkan pada masalah perilaku sosial dan merupakan sebuah doktrin dari setiap agama atau golongan. Religiusitas adalah sebuah ekspresi spiritual seseorang yang berkaitan dengan sistem keyakinan, nilai, hukum yang berlaku dan ritual. Karenanya doktrin yang dimiliki oleh setiap agama wajib diikuti oleh setiap pengikutnya. Berdasarkan teori tersebut maka disimpilkan bahwa semakin besar tingkat religiusitas seseorang maka dia akan berhati- hati dalam memilih segala sesuatu yang akan dia kerjakan sesuai dengan ajaran agama islam. Hal tersebut sama seperti semakin besar tingkat religiusitas muzakki, maka preferensi muzakki juga
akan semakin besar untuk menyalurkan dana zakat melalui lembaga zakat yang sesuai dengan ajaran agama islam.
2) Faktor tata kelola
Tata kelola lembaga zakat yang baik akan mampu mendayagunakan zakat sesuai dengan prioritas programnya, demi mengembangkan dan membangun sosial dan ekonomi masyarakat yang berhak menerimanya. Tata kelola dalam lembaga zakat menjadi faktor penting dalam pengoptimalan sumberdaya yang dimiliki lembaga pengelola zakat, sehingga mampu mengelola zakat sesuai dengan prinsip islam. Dengan demikian sistem tata kelola dalam lembaga zakat harus memenuhi standarisasi tata kelola yang baik, maka ini akan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat. Sehingga faktor tata kelola mampu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi minat muzakki dalam menyalurkan zakat.
3) Faktor penggunaan teknologi
Teknologi memegang peranan penting dalam proses dan praktik komunikasi di tengah masyarakat industri yang tengah bertransformasi menjadi masyarakat informasi. Dengan adanya perkembangan teknologi internet sebagai media dalam berkomunikasi baik itu menggunakan website ataupun sosial media lainnya seperti email dapat membantu memudahkan muzakki untuk berkomunikasi secara langsung dengan lembaga pengelola zakat. Secara konseptual peranan teknologi internet dalam pengumpulan dana zakat dari muzakki akan memperluas daya jangkau lembaga zakat dalam mengakses muzakki, begitupun sebaliknya dengan adanya teknologi internet muzakki akan lebih mudah menyalurkan zakatnya kepada lembaga zakat, hal ini dapat meningkatkan penghimpunan dana zakat.
4) Faktor sosial keagamaan
Kehidupan sosial keagamaan dipengaruhi oleh suatu keadaan dan lingkungan dimana manusia itu tinggal. Preferensi dapat dipengaruhi oleh faktor sosial, seperti kelompok kecil, keluarga, peran sosial dan status yang melingkupi nya. Faktor sosial keagamaan dapat mempengaruhi minat muzakki dalam menyalurkan zakat dikarenakan adanya pengaruh secara langsung dan tidak langsung, pengaruh secara langsung seperti keluarga, teman dan tetangga sekitar.
b. Preferensi muzakki (LKS)
Menurut survei penelitian yang dilakukan oleh (Pusat Kajian Strategis BAZNAS, 2020) pada preferensi perusahaan dalam berzakat memiliki empat variabel yakni media sosialisasi dan kampanye, kanal pembayaran, layanan konsultasi dan benefit pembayaran zakat perusahaan. Dalam variabel media sosialisasi dan kampanye terdapat empat indikator yakni :
1) Surat elektronik
Surat Elektronik atau disebut dengan Email berfungsi sebagai alat pengirim pesan dengan menggunakan perantara teknologi seperti laptop, smartphone, ataupun komputer desktop yang sudah terkoneksi dengan jaringan internet (Direktorat Jendral Permasyarakatan, 2018). Email bisa digunakan untuk mengirim berbagai data mulai daro file teks, video, audio, ataupun gambar.
Dengan penggunaan email, maka seluruh kegiatan pengiriman data akan lebih mudah dan cepat (Ibnu, 2017). Surat elektronik dapat menjadi perantara informasi zakat perusahaan yang dikirimkan lembaga pada LKS secara pribadi.
2) Talkshow/event
Talkshow merupakan seni panggung dan teknik wawancara jurnalistik, wawancara yang dilakukan ditengah-tengah atau disela-sela pertunjukkan (Ansyorie et al., 2019). Menurut Salma
M. Hanun talkshow adalah suatu sajian perbincangan menarik yang biasanya mengangkat isu-isu hangat di masyarakat (Ansyorie et al., 2019). Tema yang diangkat dalam talkshow bermacam-macam, mulai dari masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, pendidikan, olahraga, dan sebagainya. Narasumber dalam talkshow biasanya orang yang memiliki pengalaman banyak atau orang yang ahli dalam topik atau masalah yang dibahas (Ansyorie et al., 2019). Talkshow/event yang dilaksanakan lembaga zakat dapat memberikan informasi yang relevan tentang zakat khususnya zakat perusahaan untuk LKS.
3) Media sosial/poster/video pendek
Media Sosial dapat digunakan sebagai alat untuk berbagi, mengekspresikan diri, mempermudah interaksi dengan banyak orang, memperluas relasi serta dapat dijadikan penyebaran informasi yang berlangsung secara cepat (Cahyono, 2016). Poster adalah media publikasi yang terdiri dari kombinasi tulisan dan gambar dengan tujuan memberikan informasi kepada masyarakat (Kustiawan, 2019). Video pendek digunakan untuk memberikan informasi berupa edukasi dan kampanye. Media sosial/poster/video pendek dapat dijadikan sebuah informasi zakat secara singkat.
Pada variabel kanal pembayaran terdapat tiga indikator 1) Pembayaran secara langsung
Pembayaran secara langsung atau tunai digunakan untuk melakukan pembayaran suatu transaksi secara tunai, dimana alat pembayaran masih lazim digunakan untuk transaksi yang bernilai kecil (Ibnu, 2022). Pembayaran zakat secara tunai dapat dilakukan dengan mendatangi lembaga zakat terkait, namun untuk nominal yang besar tidak disarankan menggunakan kanal pembayaran secara tunai karena untuk menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi.
2) Rekening bank/virtual account
Rekening bank/virtual account termasuk dalam alat pembayaran non tunai atau pembayaran digital. Alat pembayaran non tunai semakin berkembang pesat dan lebih banyak digunakan oleh masyarakat karena lebih mudah dalam bertransaksi yang bernilai besar (Ibnu, 2022). Pembayaran zakat dengan menggunakan rekening bank/virtual account lebih relatif aman untuk perusahaan atau lembaga keuangan dikarenakan jumlah transaksi yang dilakukan relatif besar.
3) Layanan penjemputan
Layanan penjemputan merupakan sebuah fasilitas yang memudahkan konsumen agar tidak mengeluarkan tenaga dan biaya apapun (Junior, 2017). Sistem pembayaran dalam bentuk layanan jemputan ini sama halnya dengan pembayaran tunai/secara langsung, hanya saja lembaga zakat terkait yang langsung mendatangi perusahaan untuk membayarkan zakat melalui kurir yang dikirimkan oleh lembaga zakat.
Pada variabel layanan konsultasi terdapat tiga indikator 1) Sambungan telepon
Telepon adalah salah satu alat teknologi komunikasi yang sudah sangat mendunia dan dapat memberikan kemudahan- kemudahan dalam berkomunikasi serta dapat menjangkau di daerah manapun (Iqlima, 2020). Layanan telepon bisa digunakan LKS untuk konsultasi masalah darurat atau masalah mendesak tentang zakat perusahaan yang mengharuskan perusahaan mendapatkan solusi dengan cepat.
2) Surat elektronik
Penjelasan surat elektronik dapat dilihat pada halaman 18 bagian 4b preferensi muzakki (LKS) poin 1. Surat elektronik digunakan LKS untuk melakukan konsultasi masalah zakat perusahaan secara pribadi, namun konsultasi menggunakan alat
komunikasi ini tidak relevan untuk konsultasi masalah yang darurat karena memerlukan waktu yang cukup.
3) Tatap muka
Komunikasi yang dilakukan secara langsung atau tatap muka sangat berguna untuk beberapa situasi seperti adanya konflik yang terjadi diantara sekelompok atau individu ataupun adanya masalah pada sebuah perusahaan, karena dalam kondisi seperti itu sangat disarankan untuk menyelesaikannya secara langsung/tatap muka agar cepat terselesaikan (Lestari, 2019).
Pada variabel benefit pembayaran zakat terdapat lima indikator 1) Penyertaan logo perusahaan pada event
Logo adalah atribut utama yang terlihat secara fisik dan logo juga dapat mencerminkan kepribadian sebuah entitas, jika sebuah brand yang dibangun dengan baik maka akan menimbulkan loyalitas pelanggan (Oscario, 2013). Oleh karena itu dalam event yang dilakukan oleh lembaga zakat, penyertaan logo perusahaan sangat dibutuhkan untuk kepentingan perusahaan.
2) Penyertaan logo patuh zakat pada produk perusahaan
Logo patuh zakat dapat digunakan oleh usahawan muslim maupun LKS sebagai alat pemasaran perniagaan serta dapat membangun brand dan identitas perusahaan yang baik (Wahid et al., 2021). LKS maupun sebuah perusahaan sangat perlu mempunyai identitas yang baik agar dapat menarik masyarakat atau pelanggan, maka penyertaan indikator ini sangat menguntungkan bagi LKS maupun perusahaan.
3) Sinergi program sosial
Program sosial merupakan aktivitas yang dilakukan bersama masyarakat atau lingkungan sekitar, program sosial dilakukan dikarenakan ingin mencapai tujuan bersama (Sampoerna University, 2022). Sinergi program sosial ini sangat memiliki
manfaat bagi perusahaan atau LKS karena dapat berpeluang menarik masyarakat untuk menjadi pelanggan.
4) Peluang networking
Dalam mengembangkan suatu usaha butuh adanya networking (jaringan kerja) untuk mendapatkan akses ke sumber daya manusia, oleh karena itu peluang networking sangat diperlukan dalam dunia bisnis agar suatu perusahaan atau lembaga dapat berjalan dengan lancar (Sienatra, 2016). Sehingga peluang networking merupakan salah satu benefit yang sangat bagus untuk perusahaan ataupun LKS.
5) Pengurangan pajak
Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi maupun badan usaha, pajak sendiri bersifat memaksa karena terdapat Undang-Undang Republik Indonesia (Direktorat Jendral Pajak, 2022). Pemerintah perlu mendukung penerapan zakat perusahaan di Indonesia dengan mengintegrasikan peraturan pengenaan pajak (Andriani et al., 2020). Dengan peraturan yang terintegrasi dapat menghindarkan perusahaan dari pengenaan pajak berganda yakni menunaikan kewajiban zakat dan pajak (Andriani et al., 2020)
B. Hasil Penelitian Terdahulu
Berikut ini terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagaimana ditunjukan pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Aspek Akmalia Qurota A'yun (2019) Noormala Sari (2020) Eka Khairunnisa (2021) Puskas Baznas (2021)
Judul
Penerapan Zakat Oleh Bank Umum Syariah Di Indonesia
Analisis Preferensi Masyarakat Terhadap Organisasi Pengelola Zakat Di Kota Banjarmasin
Praktik Zakat Pada Industri Keuangan Syariah Di Indonesia
Survei Preferensi Perusahaan Dalam Berzakat
Institusi yang Diteliti
Bank Umum Syariah di Indonesia
Organisasi Pengelola Zakat di Kota Banjarmasin
Industri Keuangan Syariah di Indonesia
Perusahaan Swasta dan BUMN
Periode
Analisis 2013 – 2017 2020 2018 – 2020 2021
Rumusan Masalah
- Bagaimana perkembangan penerapan zakat oleh Bank Umum Syariah di Indonesia dari tahun 2013 sampai tahun 2017?
- Analisis atas penerapan zakat perusahaan pada Bank Umum Syariah Di Indonesia dari aspek perlakuan akuntansi zakat
Bagaimana preferensi
masyarakat wajib zakat di Kota Banjarmasin dalam memilih organisasi pengelola zakat ?
- Bagaimana perkembangan zakat oleh industri keuangan syariah di Indonesia?
- Bagaimana pelaporan pembayaran zakat oleh industri keuangan syariah di Indonesia?
- Analisis atas preferensi perusahaan dalam hal pendekatan komunikasi, layanan, kanal pembayaran, dan manfaat pembayaran zakat perusahaan.
Lanjutan
Tujuan Penelitian
- Untuk menjelaskan perkembangan penerapan zakat oleh Bank Umum Syariah di Indonesia dari tahun 2013 sampai tahun 2017.
- Untuk memberikan analisis atas penerapan zakat
perusahaan pada Bank Umum Syariah di Indonesia dari aspek perlakuan akuntansi zakat
Untuk mengetahui preferensi masyarakat wajib zakat di Kota Banjarmasin dalam memilih organisasi pengelola zakat
- Perkembangan zakat oleh industri keuangan syariah di Indonesia.
- Pelaporan pembayaran zakat oleh industri keuangan syariah di Indonesia.
- Mengeksplorasi teori atau model yang relevan terkait pengumpulan zakat perusahaan.
- Mengidentifikasi dan menganalisis preferensi perusahaan dalam hal pendekatan komunikasi, layanan, kanal pembayaran, dan manfaat pembayaran zakat perusahaan.
- Memberikan rekomendasi kepada BAZNAS untuk menyusun kebijakan yang efektif, efisien, dan menguntungkan bagi seluruh stakeholder dalam pengumpulan zakat perusahaan.
Metode Penelitian
Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Kualitatif dan Kuantitatif (mix method)
Hasil Penelitian
10 BUS di Indonesia yang melaksanakan pengelolaan zakat, sumber dana zakatnya berasal dari zakat perusahaan, zakat karyawan, zakat nasabah dan umum. Dalam
mendistribusikan zakat, BUS menggunakan tiga alternatif
Dari 100 orang responden ada sebanyak 40% memilih organisasi pengelolaan zakat bentukan dari masyarakat, sebanyak 33% preferensi langsung kepada mustahik dan sisanya sebanyak 27%
preferensi melalui organisasi
12 dari 14 BUS yang membayar zakat, sumber dana zakat berasal dari zakat perusahaan, zakat karyawan, zakat eksternal dengan jumlah realisasi zakat BUS selama tiga tahun adalah sebesar Rp 325.566.000.000.
Dalam pelaporan zakat dari 14
Dari 75% responden perusahaan swasta dan 25%
perusahaan BUMN menunjukkan bahwa untuk dimensi komunikasi secara umum perusahan-perusahaan cenderung lebih memilih untuk mendapatkan informasi
media yaitu lembaga internal yang dibentuk BUS, lembaga eksternal diluar BUS atau tanpa melalui lembaga perantara.
Peningkatan jumlah BUS yang membayar zakat perusahaan tidak berbanding lurus dengan jumlah realisasi zakat
perusahaan.
pengelolaan zakat resmi bentukan dari pemerintah.
BUS terdapat 13 BUS yang menampilkan LSPDZ pada laporan keuangan. BUS dan IKNBS mengakui zakatnya bervariasi, sebagian sebagai beban operasional, sebagian lainnya sebagai beban non operasional, beban non usaha.
Sebagian zakat IKNBS juga mengakui zakatnya sebagai utang.
mengenai zakat perusahaan melalui media
sosial/poster/video pendek dan juga melalui website, untuk pendekatan layanan menunjukan bahwa secara umum perusahaan-
perusaahaan cenderung lebih memilih untuk menggunakan layanan konsultasi bertatap muka secara langsung dibanding dengan jenis layanan lainnya, untuk kanal pembayaran menunjukan bahwa secara umum sampai saat ini perusahaan cenderung lebih memilih untuk
melakukan pembayaran zakat perusahaan melalui rekening bank yang dimiliki oleh lembaga zakat dan untuk manfaat pembayaran zakat yang didapat perusahaan yaitu penyertaan logo perusahaan dalam kegiatan lembaga zakat dan juga sinergi program sosial menjadi manfaat yang paling banyak dipilih oleh responden perusahaan agar lembaga zakat dapat terus membuka peluang kerjasama dengan berbagai aktivitas pendistribusian dan pendayagunaan zakat agar
perusahaan mendapat manfaat tangible yang sesuai dengan kepentingan perusahaan.
Secara umum, penelitian yang penulis lakukan memiliki kesamaan dengan penelitian-penelitian terdahulu dalam beberapa hal, yakni metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, topik penelitian secara umum membahas tentang zakat, dan objek yang digunakan yakni lembaga keuangan syariah.
Adapun perbedaan dari penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian-penelitian terdahulu yakni pada penelitian (A’yun, 2019) peneliti terfokus pada topik penerapan zakat dan hanya terfokus pada satu lembaga keuangan syariah yakni bank umum syariah. Pada penelitian (Sari, 2020) lebih menekankan kepada preferensi masyarakat dalam memilih organisasi pengelolaan zakat. Pada penelitian (Khairunnisa, 2021) peneliti hanya terfokus pada topik praktik zakat. Dan dari penelitian (Pusat Kajian Strategis BAZNAS, 2020) peneliti hanya terfokus pada perusahaan umum seperti perusahaan jasa, manufaktur, dan dagang.