1
Oleh Muhammad Maimun
A. Latar Belakang Masalah
Resepsi al-Quran dalam kehidupan masyarakat berwujud dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah ada yang berbentuk Film. Dengan Film, spirit al-Quran dapat membumi melalui vusialisasi. Dalam kajian al-Quran, ada dua alur pemahaman dalam tradisi Al-Qur’an, yakni transmisi dan transformasi. Transmisi berarti pengalihan pengetahuan dan praktek dari generasi ke generasi seperti hubugnan guru dan murid hal ini yang kemudian dalam al-Quran dan hadis memunculkan jalur sanad hadis1 atau jalur sanad tahfid al-Quran. Sementara itu, transformasi adalah perubahan bentuk pengetahuan dan praktek sesuai kondisi masing-masing generasi, seperti khataman al-Quran, Musabaqah Tilawatil al-Quran (MTQ), membaca surat al-Quran tertentu dan pada waktu atau kegiatan tertentu, penulisan kaligrafi, dan lain sebagainya2
Pada era teknologi informasi, tansformasi spirit al-Quran berwujud dalam multimedia. Dalam bentuk audio seperti murattal dalam ringtons atau Ring Back Tone (RBT), dalam visual tafsir juz amma untuk anak-anak, al-Quran dan terjemahan dilengkapi dengan tajwid full color, dan lainnya. Adapun dalam bentuk audio visual tanformasi berbentuk film. degnan memadukan spirit al-Quran dan realitas sosial, masyarakat dapat melihat suatu kehidupan nyata melalui film karena film dapat mencerminkan kebudayaan suatu bangsa dan mempengaruhi kebudayaan itu sendiri.
1Ada bebrapa keutaman surat-surat di dalam al-Quran. Sebagai contoh tentang khasiat surah Al-Fatihah.
Riwayat Abu Sa’id al-Khudry menyebutkan bahwa Rasulullah telah mengabarkan tentang manfaat surah Al- Fatihah. Pengetahuan ini ditransmisikan melalui mata rantai sanad hadis dan tercantum dalam Shahih Bukhari. Kemudian informasi tersebut ditransmisikan lagi dari generasi ke generasi sebagaimana dalam tradisi sunnah, hingga ada dalam at-Tibyan fi Adab Hamalati al-Qur’an karya An-Nawawi di dalam bab tentang bacaan bagi orang sakit. Lalu muncul lagi dalam Khazinatu al-Asrar dengan tata baca yang berbeda, namun idenya tetap sama; khasiat Al-Fatihah. Lihat Ahmad Rafiq, “Tradisi Resepsi Al-Qur’an di Indonesia”.
http://sarbinidamai.blogspot.co.id/2015/06/tradisi-resepsi-al-quran-di-indonesia.html
2 Misalnya tradisi khataman al-Quran. Secara historis, pada mulanya, ada sahabat yang telah mengkhatamkan al-Quran kemudian sahabat tersebut mengundang sahabat-sahabanya untuk berkumpul. Hal ini belum pernah ada pada masa Rasulullah. Kemudian pengetahuan tentang khataman ini ditransmisikan melewati ruang dan waktu, sekaligus mengalami transformasi terhadap bentuk khataman itu. Pada masa sekarang, di beberapa tempat bentuk khataman berbeda satu sama lain, apalagi berbeda dengan masa sahabat namun memiliki tujuan atau muatan yang sama. Misalnya, di Jawa Barat bagi yang sudah menghatamkan al- Quran diarak dengan Sisingaan. Di Banjar ada tradisi Payung Kembang, di pesantren-pesantren atau sekolah-sekolah ada prosesi wisuda, dan lain sebagainya. Ahmad Rafiq, Ibid.
Sumber: http://www.elhooda.net/2016/03/f 1
Di sini film dapat berfungsi sebagai proses budaya atau proses sejarah yang terjadi pada suatu masyarakat yang dapat disajikan dalam bentuk gambar bergerak Di samping itu, film banyak memiliki fungsi di antaranya fungsi informative, edukatif, persuasif, bahkan promosi pariwisata.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis Resepsi al-Quran dalam Film Kalam-kalam Langit. Film ini menyajikan tentang Musabaqah tilawatil Quran dengan latar belakang keindahan pulau Lombok. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah pertama dari seting waktu tayang, film ini direncanalan diputar pada tanggal 14 April 2016 di bioskop seluruh Indonesia. Untuk di Cirebon beberapa bioskop yang menayangkan film-film terbaru di antaranya Cinema XXI yang berada di Mall Cirebon Superblok (CSB) Lantai 2 Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo No. 26 Cirebon;
Bioskop Grage 21, Grage Mall Cirebon Lantai Jl. Tentara Pelajar No. 1 Cirebon.
Sementara itu, pelaksanaan MTQ ke 26 tahun 2016 di Lombok akan diselenggarakan pada tanggal 30 juli – 6 Agustus 2016. MTQ merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI. Produksi film itu sendiri diharapkan, dapat mengenalkan Lombok melalui film dengan sebutan Pulau Kalam- kalam Langit selain dengan sebutan Negeri Seribu Masjid.
Kedua dari konten dan setting tempat. Berdasarkan sinopsis, film Kalam- Kalam Langit merupakan film yang menyajikan tentang mahabbah (cinta) dari seorang anak yang bernama Ja’far. Sejak kecil Ja’far dididik membaca tilawah al-Quran oleh ibunya yang mantan Qariah. Namun, di luar dugaan, ayah justru menentang keras Ja’far untuk mengikuti ajang lomba Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Beliau beralasan bahwa ajang tersebut hanya menjualbelikan ayat-ayat Allah saja. Film tersebut mengetengahkan drama dengan setting lokasi pesantren dan keindahan alam Kota Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kehadiran film tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran awal bagi wisatawan untuk mengenali keindahan di Lombok. Sehingga para wisatawan yang akan menghadiri kegiatan MTQ Ke 26 tahun 2016 dapat juga menikmati objek wisata keindahan alam di Provinsi NTB. Film tersebut terinspirasi dari kesuksesan pariwisata
Pulau Belitung yang berawal dari kesuksesan film Laskar Pelangi.
Dalam kontestasi pengelolaan pariwisata, Lombok menjadi destinasi halat terbaik di dunia. Lombok mendapatkan penghargaan dunia, yakni berhasil memenangkan 2 kategori yaitu World Best Halal Tourism Destination dan World Best Halal Honeymoon Destination. 3 Acara pemberian penghargaan tersebut berlangsung di The Emirates Palace Ballroom, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Budaya Uni Emirat Arab (UEA) pada Selasa 20 Oktober 2015.4 Sejak dinobatkan, pariwisata di Lombok semakin meningkat. Hadi Faisal, pemilik hotel di dekat Bandara International Lombok (BIL) mengatakan sebagaimana diutarakan media online sidonews, sejak Lombok menjadi pariwisata halal banyak wisatawan asal Arab Saudi dan Singapura yang datang berkunjung.5
3 Ada beberapa alasan yang dimungkinkan Lombok meraih penghargaan. Yaitu Pertama karena warga Timur Tengah dan wisatawan dari negara 4 musim senang dengan destinasi tropis. Kedua, Lombok dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid. Hal ini yang menjadi daya tarik objek wisata bagi peminat Islam, dan dapat memudahkan bagi traveler Muslim yang ingin beribadah.n Ketiga perihal makanan, pulau Lombok mayoritas muslim. Hal ini dapat memudahkan untuk mencari makanan yang halal bagi wisatawan muslim. Keempat, Terakhir adalah penginapan yang Muslim Friendly. Meski belum bisa disebutkan hotel mana yang sudah siap Muslim Friendly atau Halal Ready. Namun di dalam hotel-hotel terdapat petunjuk arah kiblat, alat salat, dan kitab suci di dalam kama. Lihat “Ini Alasan Lombok Jadi Destinasi Halal Terbaik di Dunia” dalam.
http://travel.detik.com/read/2015/10/21/184432/3050023/1382/ini-alasan-lombok-jadi-destinasi-halal- terbaik-di-dunia
4 Dengan Jaminan Produk Halal, Lombok Raih Gelar Destinasi Halal Terbaik Dunia
http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/dengan-jaminan-produk-halal-lombok-raih-gelar-destinasi- halal-terbaik-dunia
5Menteri Pariwisara Arief Yahya mengatakan, permintaan pengelolaan wisata halal meningkat juga di berbagai wilayah Indonesia yang lain seperti Mandeh Sumatera Barat ada tradisi halal yang amat kultural.
Begitu pun di Nangroe Aceh Darussalam, tiga kawasan itu memang diproyeksikan untuk memaksimalkan budaya halal. Hal ini merupakan moment yang sangat penting untuk mengembangkan pariwisata dan ekonomi daerah. Lombok merupakan 10 destinasi utama, selain Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung Banten, Pulau Seribu Jakarta, Borobudur, Bromo Jawa Timur, Mandalika Lombok, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra dan Morotai Malut. Lihat Acep Suherlan “Masuk Wisata Halal, Lombok Banjir Turis asal Arab dalam http://daerah.sindonews.com/read/1069750/174/masuk-wisata-halal-lombok-banjir-turis-asal- arab-1450192919
Ketiga, film ini melibatkan anak bangsa yang menjadi juara MTQ Nasional dari Lombok sebagai aktor dan aktris cilik, seperti Nasron Azizan sebagai Ja’far kecil dan Amira Syakira sebagai Anisa kecil, yang keduanya masih berusia 8 tahun. Kedua pemeran cilik ini adalah cucu dari TGH Mustafa Umar Abdul Aziz dari Pondok Pesantren Tahfidz Al-Azizah, Kapek, Mataram.
Dengan demikian, penelitian ini dimaksudkan untuk menelaah resepsi al-Quran multimedia. Penelitian ini akan mengkaji film kalam-kalam langit.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini dapat diformalisakan sebagai berikut
1. Bagaimana unsur intrinsik dan ekstrinsik film Kalam-kalam Langit?
2. Bagaimana pembacaan masyarakat terhadap film Kalam-kalam Langit?
3. Bagaimana bentuk resepsi al-Quran di dalam film Kalam-kalam Langit?
C. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetaui unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik film Kalam-kalam Langit.
2. Untuk mengetahui analisis pembacaan masyarakat terhadap film Kalam-kalam Langit.
3. Untuk mengetahui bentuk resepsi al-Quran di dalam film Kalam-kalam Langit berdasarkan analisis semiotika.
Adapun manfaat penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretik dan praksis. Secara teoretik, penelitian dapat memberikan kontribusi perkembangan kajian al-Quran dan media. Dengan model ini kajian al- Quran dan tafsir berbasis riset, khusunya penjelasan tentang living quran yand ada pada senias perfilman. Penelitian juga diharapkan mampu memberikan khazanah pengetahuan secara praksis tentang al-Quran dan media.
D. Tinjauan Pustaka
Fadlil Munawwar Manshur meneliti kisah Nabi Yusuf dalam dua karya Islam khas pesantren, yaitu Raudhatul-lrfani fi Ma'rifatil-Our'an dan Tafsir AI-
Quran Basa Sunda yang keduanya lahir dalam tradisi pesantren Sunda yang diresepsi oleh masyarakat Sunda yang religius. Raudhatul-Irjani fi Ma'rifatil-Qur' an adalah kitab tafsir Al-Quran yang terjemahan matan dan syarahnya menggunakan bahasa Sunda. Sebagai tafsir Al-Quran, Raudhatul-irfani fi Ma'rifatil-Quran sudah tentu memuat ajaran-ajaran Islam, baik ajaran yang dikemas dalam teks-teks hukum maupun ajaran yang dikemas dalam teks-teks naratif. Di antara teks-teks naratif yang ada dalam Raudhatul-lrfanifi Ma'rifatil- Quran, adalah kisah-kisah para nabi di antaranya kisah Nabi Yusuf.6
Lebih lanjut, Fadlil Munawwar Manshur menjelaskan kisah Nabi Yusuf yang dijelaskan di dalam kitab Raudhatul-irfani fi Ma'rifatil-Qur'an mendapat sambutan baik di masyarakat Sunda, khususnya masyarakat pesantren. Bentuknya adalah pembacaan teks (resepsi) Raudhatul-lrfani fi Ma'rifatil-Quran. Kegiatan membaca terhadap teks tersebut melahirkan teks-teks keagamaan. Salah satunya adalah kitab Tafsir AI-Quran Basa Sunda. Hal ini dapat dikatakan bahwa Kisah NabiYusuf yang termuat dalam Tafsir AI-Quran Basa Sunda, pada hakikatnya merupakan hasil resepsi dari teks Kisah Nabi Yusuf yang terdapat dalam Raudhatul-Irfanift Ma'rifatil-Quran.7
Achmad Yafik Mursyid menjelaskan bahwa masyarakat Arab generasi awal dan komunitas Sufi. Poin penting dalam horizon harapan untuk melihat fenomena masyarakat generasi awal. Pertama, bahwa sistem masyarakat Arab sangat membedakan antara kelas atas dan bawah. Kedua, bahwa masyarakat Arab pra- Islam adalah komunitas budaya yang dibedakan dan diidentifikasi melalui bahasa dan puisi. ketiga, daya tarik yang luar biasa berasal dari pembacaan al-Qur’an.
Begitu juga dengan Komunitas Sufi memiliki horizon harapan. Pertama, tingkat spiritual merupakan indikator kesalehan seseorang Sufi. Kedua, doktrin Sufi yang mengajarkan bahwa Musik sebagai media untuk mencapai derajat Sufi. Ketiga, kebiasaan komunitas Sufi mendengarkan nyanyian. Dengan demikian dilihat dari horizon harapan komunitas Sufi menunjukan reaksi bahwa Semakin tinggi tingkat spiritual seorang Sufi semakin tinggi tingkat penghayatan terhadap al-Qur’an.8
6Fadlil Munawwar Manshur, Telaah Resepsi atas Kisah Nabi Yusuf dalam Karya-Karya Sastra Islam Khas Pesantren, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008)
7Ibid.
8 Achmad Yafik Mursyid, “Resepsi Estetis Terhadap Al-Qur’an Implikasi Teori Efek Estetik Navid Kermani Terhadap Dimensi Musikalitas: dalam Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013)
Nafizatus Zahro meneliti resepsi al-Quran pada Tafsir Juz ‘Amma For Kids.
Dari penelitian ini penulis menyimpulkan bahwa Tafsir Juz ‘Amma for Kids menjadi warna baru dalam dunia tafsir karena dikemas dengan menyesuaikan dimensi anak. Resepsi yang dilakukan mufasir berhasil dikonkretisasikan ke dalam teks tafsir dengan bahasa sederhana, sedangkan resepsi yang dilakukan oleh ilustrator berhasil dikonkretisasikan ke dalam bahasa visual, yaitu ilustrasi. Resepsi merupakan resepsi bertingkat yang mengantarkan pada suatu relasi fungsional.
Keberadaan tafsir dan ilustrasi merupakan sebuah bentuk dari integrasi- interkoneksi. Terdapat dua fungsi ilustrasi bagi teks tafsir, yaitu sebagai penjelas dan sebagai ornamen. Ilustrasi yang secara fungsional semula menjadi sebuah media pembantu, pada akhirnya bersamaan dengan teks tafsir dalam satu kesatuan menjadi sebuah tafsir, yaitu “Tafsir Visual”.9
Di antara karya-karya lain yang terkait resepsi al-Qur’an yang ditemukan adalah penelitian yang dilakukan oleh Aswak.10Aswak berupaya untuk mengungkap latar belakang para mahasiswa Yogyakarta menggunakan ayat-ayat al-Qur’an sebagai ringtone Dalam karya ini juga ditampilkan bagaimana resepsi estetis ini sering pula menimbulkan kontroversi.
Selanjutnya adalah skripsi yang ditulis oleh Muhammad Mukhtar yang berjudul “Resepsi Santri Lembaga Tahfidz al-Qur’an Pondok Pesantren Wahid Hasyim terhadap al-Qur’an (Surat al-Mu’awwidzataini, Yasiin, al-Rahmān, al- Wāqi’ah dan ayat Kursi)”. Skripsi ini menjelaskan bagaimana perilaku konkrit atas pemahaman dan pemaknaan santri Wahid Hasyim terhadap al-Qur’an. Karya ini juga berusaha mengungkap bentuk implementasi dari hasil pemaknaan santri Lembaga Tahfidz al-Qur’an terhadap al-Qur’an.11
Muha Fadlulloh mengkaji tentang resepsi al-Qur’an yang terkait dengan tanda waqaf di dalam al-Quran. Fadlulloh mengungkap wujud resepsi al-Qur’an
9 Nafizatus Zahro, Pesan Dan Ilustrasi Sosial Dalam Tafsir Juz ‘Amma For Kids (Kajian Resepsi atas Tafsir dan Ilustrasi), Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014)
10Aswak, “Resepsi Estetis Masyarakat Muslim terhadapAl-Qur'an (Studi tentang Penggunaan RingtoneAyat-Ayat Al-Qur'an di Kalangan Mahasiswa Yogyakarta),” Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hdis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2011)
11 Muhammad Mukhtar, “Resepsi Santri Lembaga Tahfidz al-Qur‟an Pondok Pesantren Wahid Hasyim terhadap al-Qur‟an (Surat al-Mu’awwidzataini, Yasiin, al-Rahmān, al-Wāqi’ah dan ayat Kursi), Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007)
dalam penggunaan tanda waqaf al-Waqf wa al-Ibtidā’ pada Mushaf al-Quddūs bi al-Rasm al-Usmāni. 12
Selain skripsi yang penulis peroleh, ada beberapa tulisan berupa artikel dan makalah yang setema dengan tema yang diangkat penulis, seperti artikel yang ditulis Ahmad Rafiq dengan judul “Sejarah al-Qur’an: Dari Pewahyuan ke Resepsi (Sebuah Pencarian Awal Metodologi)”. Tulisan ini menyajikan penjelasan terkait sejarah al-Qur’an secara umum dan juga penjelasan sejarah resepsi al-Qur’an berikut metodologi-metodologi yang mungkin dapat digunakan dalam kajian sejarah resepsi al-Qur’an. 13
Selanjutnya adalah artikel yang ditulis oleh Ahmad Baidowi tentang pembagian resepsi al-Qur’an yang mengulas Akhbār Ākhirat fi Ahwāl al-Qiyāmah yaitu teori resepsi and teori intertekstual. Ahmad Baidowi menjelaskan bahwa teori pertama digunakan untuk melihat tanggapan ar-Raniri sebagai pembaca ayat-ayat al-Qur’an. Teori intertekstual digunakan untuk melihat perubahan atau transformasi dalam pengutipan, penerjemahan dan penjelasan ayat-ayat al-Qur’an dalam kitab Akhbār Ākhirat fi Ahwāl al-Qiyāmah. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa gambaran kiamat itu merupakan wujud resepsi ar-Raniri dan setiap ayat yang dijelaskan ar- Raniri di dalam Akhbār Ākhirat fi Ahwāl al-Qiyāmah.
Penelitian lain yang terkait dengan kajian al-Quran adalah terkait dengan resepsi khususnya tentang MTQ Musabaqah Tilawah al-Quran. Bahrudin meneliti tentang Model Asesmen Musabaqah Tilawah al-Quran (MTQ). Penelitian ini menggnuakan analisis research and development. Kajian ini dilakukan dengan diawali proses research dan diteruskan dengan pengembangan model. Research ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai kelemahan-kelemahan model penilaian MTQ Cabang Tilawah yang digunakan selama ini, dan informasi mengenai perlu atau tidaknya dilakukan pengembangan model penilaian MTQ Cabang Tilawah tersebut. Pengembangan model mengacu pada prosedur yang dikemukakan oleh Borg & Gall (1983), yang dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
12Muha Fadlulloh, “Penggunaan Tanda Waqaf al-Waqf wa al-Ibtidā’ pada Mushaf al-Quddūs bi al- Rasm al-Usmāni (Tinjauan Resepsi al-Qur’an)”, Skripsi (Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013)
13 Ahmad Rafiq, “Sejarah al-Qur an: dari pewahyuan ke resepsi (sebuah pencarian awal metodologis)”, dalam Sahiron Syamsuddin (dkk.),Islam, Tradisi dan Peradaban, (Yogyakarta: Bina Mulia Press,2012), hlm.
74.
tahap pra-pengembangan, tahap pengembangan, dan tahap implementasi/
diseminasi.
Penelitian tersebut menghasilkan pedoman penilaian MTQ Cabang Tilawah, serta instrumen penilaian tajwid, fashahah, suara, dan lagu, yang format masing- masingnya berbeda dengan yang digunakan dalam penilaian MTQ Cabang Tilawah selama ini. Dari uji coba II (kelompok profesional) dan III (kelompok amatir) diketahui bahwa instrumen tersebut memiliki bukti validitas konstruk, yang terlihat dari perbedaan mean-score di antara keduanya. Dari uji beda rata-rata dua kelompok independen diketahui bahwa perbedaan mean-score tajwid adalah signifikan, dengan nilai t hitung sebesar 31,371 dan nilai signifikansi 0,000;
perbedaan mean-score fashahah signifikan, dengan nilai t hitung sebesar 18,031 dan nilai signifikansi 0,000; perbedaan mean-score suara adalah signifikan, dengan nilai t hitung sebesar 11.627 dan nilai signifikansi 0,000; dan perbedaan mean score lagu signifikan, dengan nilai t hitung 9,831 dan nilai signifikansi 0,000. Instrumen penilaian MTQ Cabang Tilawah hasil pengembangan juga reliabel dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,97 untuk uji coba II, dan 0,96 untuk uji coba III.14
Defri Nor Arif membahas tentang tradisi terkait dengan kitab suci al-Qur’an yang melahirkan praktek-praktek komunal yang menunjukkan resepsi sosial masyarakat atau kelompok tertentu. Penelitian ini dilakukan di Pondok Tahfiz Yanbu’ul Qur’an (PTYQ) Kelurahan Kajeksan, Kec. Kota, Kab. Kudus. Di PTYQ, seluruh santri dilarang untuk mengikuti kegiatan MTQ. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa ada beberapa alasan PTYQ yang melarang mengikuti MTQ.
Pertama, ada pandangan bahwa al-Qur’an dijadikan sangat sakral bagi PTYQ. Di sapming itu, PTYQ menganggap bahwa lomba membaca ayat-ayat suci al-Qur’an dengan berorientasi kemenangan bukan merupakan memmasyarakatkan nilai-nilai al-Qur’an dan pembacaan al- Qur’an tetapi suatu tindakan yang merendahkan martabat kalamullah. Larangan tersebut sebagai usaha preventif kepada komunitas PTYQ supaya dalam belajar dan menghafal al-Qur’an hanya karena Allah SWT.
Pandangan tersebut muncul dari ekspresi kesalehan komunitas santri PTYQ sehingga menimbulkan keyakinan bahwa kitab suci al-Qur’an harus dihormati dengan tidak melakukan perbuatan yang dapat merendahkan kesucian al-Qur’an.
14Teliti Model Penilaian MTQ, dalam http://www.uny.ac.id/berita/teliti-model-penilaian-mtq-bahrudin- raih-gelar-doktor.html Lihat Juga Bahrudin Model Asesmen Musabaqah Tilawah al-Quran (MTQ)Cabang Tilawah Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 18 No 2 Tahun 2014 Program Pascasarjana UNY.
Faktor terakhir yang melatar belakangi munculnya larangan mengikuti MTQ adalah keadaan sosio-kultural keagamaan masyarakat Kudus yang memiliki tradisi Islam yang cukup kuat. Masyarakat Kudus pada umumnya juga mensucikan al-Qur’an. Umat Islam di Kudus memiliki tradisi menghatamkan al-Qur’an dengan mengundang para penghafal al-Qur’an di setiap kesempatan lalu diberikan imbalan sebagai bentuk penghormatan kepada penghafal al-Qur’an. KH. Arwani tidak mau santri-santrinya memanfaatkan kondisi tersebut sebagai lahan pencaharian dengan mengeluarkan larangan menjadikan bacaan al- Qur’an sebagai alat untuk mendapatkan kepentingan duniawi.15
Dari keseluruhan karya terkait kajian resepsi al-Quran yang penulis kemukakan di atas, secara terang dari sisi obyek materialnya peneliti belum menemukan karya yang melakukan kajian resepsi al-Quran pada media berupa film. Sementara itu,dari sisi konten kajian, penulis belum menemukan kajian resepsi yang menyentuh ranah tafsir yang secara langsung berkolaborasi dengan sinema. Suatu yang menarik dari penelitian ini adalah karena dari beberapa karya yang ada, belum menemukan kajian yang memusatkan kajian al-Quran pada sineas perfilman yang tampil secara audio-visual. Secara sekilas, film ini menampilkan kajian al-Quran media dan pariwisata.
E. Kerangka Teori
Studi tentang resepsi berkaitan erat dengan displin pengetahuan sosial dan humaniora. Keilmuan sosial dan humaniora merupakan kajian tentang tentang perilaku masyarakat dalam merespon kitab-kitab (yang dianggap) suci. Di dalam bukunya, William Graham mengatakan bahwa kitab suci tak sekedar teks yang dibaca. Tetapi ia hidup bersama orang-orang yang meyakininya dan menaatinya.16
Teori yang akan digunakan dalam penelitian adalah teori resepsi, teori semantik, dan teori tentang media. Teori-teori tersebut diuraikan sebagai berikut.
1. Resepsi al-Quran
Teori resepsi yaitu suatu teori yang memandang faktor pembaca sangat menentukan dalam menelaah sebuah karya. Faktor pernbaca yang dominan ini
15Defri Nor Arif, MTQ Dan Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an (Studi Terhadap Larangan Mengikuti Mtq Bagi Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus), Skripsi (Yogyakarta: Program Studi IAT Fakultas Ushuluddin Adab dakwah, 2015)
16William Albert Graham, Beyond the Written Word: Oral Aspects of Scripture in the History of Religion (Sedney: Melbourne University Press 1988)
karena makna sebuah teks, antara lain, ditentukan oleh peran pembaca. Dengan kata lain, sebuah teks hanya dapat mempunyai makna setelah teks tersebut dibaca. Kegiatan membaca ini, pada hakikatnya. merupakan penjelasan sesuatu yang abstrak menjadi kongrit. Dalam hal ini mengkongkretkan sebuah teks yang sebelumnya dianggap masih belum bermakna. Dengan teori ini, diharapkan peneliti mendapat penuntun dalam menelaah pembacaan dalam flm Kalam-kalam Langit.
Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Dalam hal ini, kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya.
Menurut Ahmad Rafiq, ada lima sistem bahasa Al-Qur’an yang menjadi obyek resepsi. Pertama, bunyi (fon), misalnya seperti fenomena yang terjadi di salah satu daerah. Ketika ada ibu hamil, ia dianjurkan –secara tradisional- untuk membaca surat At-Takatsur ayat pertama, padahal tidak ada hubungan makna maupun sejarah antara surat At-Takatsur dengan ibu hamil. Ternyata setelah ditelusuri, alasan tradisi ini adalah agar proses kelahiran bayi bisa berlangsung dengan ‘mendlusur’ (lancar keluarnya). Maka bisa dipahami bahwa fenomena ini mengasosiasikan antara kelahiran secara ‘mendlusur’ dengan rima bunyi awal surat At-Takatsur. Kedua, kata (morfem). Karena dianggap sebagai bagian suatu yang mulia dalam kitab suci, maka kata-kata yang ada di dalam Al- Qur’an disematkan sebagai nama seseorang. Hal ini merupakan suatu yang paling lumrah terjadi dalam kehidupan umat Islam. Ketiga, kalimat (syntak), contohnya ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an yang dijadikan mantra atau jimat. Bahkan ada satu daerah yang percaya, dengan membaca potongan ayat
‘Walyatalatthaf wala yusy’ironna bikum ahadaa’ ketika tendangan penalti, maka bola akan gol dan tidak akan meleset. Keempat, makna (semantik), yakni
penggunaan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an sesuai dalam kondisi tertentu dengan maknanya. Kelima, fungsi (pragmatik). Lima obyek ini mengalami resepsinya masing-masing.17
Sementara itu, jika dilihat dari segi gaya, maka resepsi lima obyek tersebut dapat dikaji dengan tiga model yaitu 1) resepsi eksegesis atau hermeneutik. 2) resepsi estetis, dan 3) resepsi fungsional. Pertama, resepsi Eksegesis atau hermeneutik. Yakni ketika Al-Qur’an diposisikan sebagai teks yang berbahasa—Arab—dan bermakna secara bahasa. Resepsi exegesis mewujud dalam bentuk praktik penafsiran al-Quran dan karya-karya Tafsir.
Kedua, resepsi Estetis. Dalam resepsi ini, Al-Quran diposisikan sebagai teks yang bernilai estetis (keindahan) atau diterima dengan cara yang estetis pula.
Al-Qur’an sebagai teks yang estetis, artinya resepsi ini berusaha menunjukkan keindahan inheren Al-Qur’an, antara lain berupa kajian puitik atau melodik yang terkandung dalam bahasa Al-Qur’an. Al-Qur’an diterima dengan cara yang estetis, artinya Al-Qur’an dapat ditulis, dibaca, disuarakan, atau ditampilkan dengan cara yang estetik. Ketiga, resepsi Fungsional. Dalam gaya resepsi ini, Al-Qur’an diposisikan sebagai kitab yang ditujukan kepada manusia untuk dipergunakan demi tujuan tertentu. Maksudnya, khithab Al-Qur’an adalah manusia, baik karena merespon suatu kejadian ataupun mengarahkan manusia (humanistic hermeneutics). Serta dipergunakan demi tujuan tertentu, berupa tujuan normatif maupun praktis yang mendorong lahirnya sikap atau perilaku.18
2. Teori Semiotik
Analisis semiotika atau yang sering disebut dengan analisis semiologi merupakan salah satu cara, tekhnik atau metode untuk menganalisa dan menginterpretasi teks dalam hubungannya dengan segala bentuk lambang atau gambar yang terkandung dalam media massa seperti komik, film, iklan, karikatur, sandiwara radio dan sebagainya. Kajian pokok dalam analisa semiologi adalah melacak bagaimana makna yang diberikan terhadap dan atau
17 Ahmad Rafiq, “Tradisi Resepsi Al-Qur’an di Indonesia”...Ibid.
18 Ibid.
diangkut dengan teks berupa lambang-lambang. Dalam pemikiran demikian dapat dimaksudkan bahwa lambang-lambanglah yang secara operasional diteliti (menjadi unit analisis) dalam penelitian ini. Studi semiotik mengambil fokus penelitian pada seputar tanda.
Pada penelitian ini, tanda yang diteliti adalah tanda verbal dan nonverbal, tanda verbal meliputi kalimat atau ucapan, sedangkan tanda nonverbal adalah lambang yang digunakan dalam komunikasi, bukan bahasa, misalnya gambar atau foto, gesture (isyarat dengan anggota tubuh, misal lambaian tangan dan sebagainya). Tanda atau lambang yang diteliti dalam penelitian ini adalah kalimat (ucapan lisan), gesture, dan ekspresi wajah.
Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah model Roland Barthes. sebagaimana dijelaskan oleh Sumbo Tinarbuko, Roland Barthes menganalisis sistem “denotasi-konotasi” yang mengarah pada makna-makna kultural yang melibatkan simbol-simbol, historis dan hal-hal yang berhubungan dengan emosional. Denotasi menunjukkan arti literatur atau eksplisit dari kata- kata dan fenomena lain atau yang nyata. Konotasi mengarah pada ondisi sosial budaya dan asosiasi personal.Denotasi dan konotasi menguraikan hubungan antara signifier dan refent-nya. Roland Barthes mengatakan bahwa ada level makna yang berbeda, penandaan tingkat pertama (first-order significations) disebut denotasi, yang pada level ini tanda disebutkan terdiri dari signifier dan signified. Konotasi pada penanda tingkat kedua adah (second-order significant) yaitu menggunakan tanda denotasi (signifier dan signified) sebagai signifier- nya.
Berikut ini penulis menyertakan peta tanda dari Roland Barthes.19
1. Signifiee (Penanda)
2. Signified (Petanda) 3. Denotative sign (Tanda denotatif)
4. Connotative Signifer (Penanda Konotatif)
5. Connotative Signified (Penanda Konotatif) 6. Connotative Sign (Tanda Konotatif)
19 Sumbo Tinarbuko, Semiotika Komunikasi Visual edisi Revisi, (Yogyakarta: Jalasutra, 2009) hlm. 13- 14.
Dari peta tanda Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3), terdiri atas penanda (2). Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, tanda denotatif adalah penanda konotatif (4). Dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.20 Sistem yang dikembangkan oleh Roland Barthes tersebut dapat digunakan untuk mengkaji bagaiman unsur semiotika dalam resepsi al-Quran.
3. Teori Film
Film memiliki peran sebagai indrusti dan komunikasi. Sebagai industri, film merupakan salah satu bagian dari produksi ekonomi suatu masyarakat dan ia perlu dipandang terkait hubungannya dengan produk-produk lainnya.
Sebagai komunikasi, film merupakan bagian penting dari sistem yang digunakan oleh para individu dan kelompok untuk mengirim dan menerima pesan. Dari sini kemudian, film telah menjadi media komunikasi audio visual yang akrab dinikmati oleh masyarakat dari berbagai kalangan sosial maupun usia. Kekuatan dan kemampuan film dalam menjangkau banyak segmen sosial, lantas membuat para ahli bahwa film memiliki potensi untuk mempengaruhi khalayaknya. Berdasarkan dari sionpsis film kalam langit, industri dan komunikasi merupakan bagian penting dalam rangka membangun image religiusitas yang akan menjadi trend mark pulau seribu masjid dan pulau kalam- kalam langit serta keindahan pulau yang dipromosikan dengan pariwisata halal.
Namun, selain itu ada hipotes awal yaitu beberapa kritik sosial dari pesan film kalam-kalam langit. Karena itu penting kerangka teori film dari segi industri dan pesan komunikasi yang memiliki dampak positif dan negatif.
Melalui pesan yang terkandung di dalamnya, film mampu memberi pengaruh bahkan mengubah dan membentuk karakter penontonnya. Pada hakikatnya, semua film adalah dokumen sosial dan budaya yang membantu mengkomunikasikan zaman ketika film itu dibuat bahkan sekalipun ia tak pernah dimaksudkan untuk itu.
20 Alex Shobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), hlm. 24.
Berdasarkan beberapa kerangka teori di atas, peneliti memformlasikan kerangka konseptual resepsi al-quran dan media. Kreangka ini dilakukan sebagai bentuk framwork untuk melakukan penelitian resepsi al-quran dalam film kalam-kalam lanigt
Bagan 1
Kerangka Konseptual Pemikiran Resepsi Qurani Multimedia
F. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif .21 Metode penelitian kualitatif membuka ruang dialog dalam pengembangan ilmu pengetahuan.22 Karena
21 Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.157.
22Gumilar Rusliwa Somantri, “Memahami Metode Kualitatif,” dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, Desember 2005, hlom. 57-65.
Al-Quran Realitas Sosial
Penulis Naskah
MTQ Pariwisata
Unsur-unsur Film Karya Film
Struktur Film Anslisis Resepsi
Resepsi Eksegetik Resepsi Estetik Resepsi Fungsional
Resepsi Qurani Multimedia
penelitian ini berawal dari fenomena atau realitas sosial. Dengan metode kualitatif, penelitian diharapkan mampu menghasilan pijakan yang kuat terhadap realitas, berbasis kontekstual, dan historis khusunya dalam kajian al-Quran.
Dalam penelitian ini, ada hal yang mendasar dari penelitian kualitatif yaitu 1) jenis penelitian, lokasi penelitian, 2) metode sumber data baik primer maupun sekunder, 3) metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan, Focus Group Discussion (FGD), dan Dokumentasi, 4) metode analisis data dilakukan dengan pendekatan hermenutik dengan melibatkan analsis semiotik untuk mengkaji dan menginterpretasi film dan tanggapan atau analisis audien.
Memadukan interpretasi dari segi peneliti terhadap subjek film yang merupakan aspek internal dan aspek eksternal interpretasi dari masyarakat penikmat film.
1. Jenis penelitian dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian yang memadukan penelitian pustaka (library reseach) dan penelitian lapangan (field research). Penelitian pustaka dilakukan untuk menganalisis interpretasi dari unsur-unsur film Kalam-kalam Lanigt, sedangkan penelitian lapangan dilakukan untuk mengamati pembacaan masyarakat terhadap suatu film yang terkait dengan resepsi al-Quran.
Jenis penelitian ini adalah untuk menelaah resepsi al-Quran di dalam film sebagai fenomena living qur’an. Adapun unsur-unsur yang hendak dipaparkan dalam rancangan penelitian kualitatif adalah menentukan lokasi.
Lokasi penelitian adalah masyarakat Cirebon.
2. Metode Penentuan Sumber Data
Sumber penelitian ini berupa sumber primer dan sumber skunder.
Sumber primer ada dua macam pertama film Kalam-kalam Langit dan kedua hasil dari wawancara keberbagai pihak. Masyarakat Cirebon adalah bagi mereka yang telah menyaksikan tayangan film Kalam-kalam Langit baik yang di bioskop atau mereka yanga mengikuti FGD. Sementara itu, sumber skunder akan diperoleh dari data-data pustaka yang terkait dengan penelitian di atas.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data adalah dengan melakukan observasi partisipan, wawancara, focus group discussion dan dokumentasi. Berikut ini dijelasan dibawah ini
a. Obervasi Partisipan
Pengamatan atau pencatatan secara sistematis terhadap fenomena- fenomena yang diselidiki.23 Metode ini mengamati secara langsung terhadap hal-hal yang mendukung dalam penelitian, seperti mengamati dan menyaksikan langsung film Kalam-kalam Langit baik di bioskop maupun melalu VCD (Video Compact Disk)
b. Wawancara Mendalam
Teknik pengumpulan data selanjutnya adalah indepth interview.
Teknik wawancara mendalam dilakukan dengan baik dengan wawancara secara Individu maupun kolektif yang dilakukan dalam FGD. dengan teknik penentuan informan secara purposif sampling.
Untuk informan dipilih adalah masyawakat Cirebon dan sekitarnya khususnya bagi yang telah menyaksikan Penonton film Kalam-kalam Langit yang ada di Cirebon.
c. Focus Group Discussion
Focus Group Discussion dilakukan dengan dimulai nonton bareng.
Kemudian berdiskusi mengenai film kalam-kalam langit. Dari diskusi tersebut akan diperoleh interpretasi dari masyarakat yang telah menyaksikan.
d. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan penelaahan terhadap dokumen-dokumen yang menyimpan kegiatan resepsi al-Qur’an. Dokumentasi yang dimaksudkan di sini berbentuk VCD, foto, dan dokumen tertulis lainnya.
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau literatur yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lenger, agenda dan sebagainya.24 Dokumenter yang digunakan peneliti ini adalah catatan-catatan berupa transkip dialog yang terdapat dalam film dan dialog terhadap masyarakat.
23 Sutrisno Hadi, Metode Research, Jilid I (Yogyakarta: Andi Offset, 1989), hlm. 136.
24 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penulisan Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), hlm. 117.
4. Metode Analisis Data
Penelitian ini akan menggunakan analisis resepsi menggunakan pendekatan hermeneutik. Pendekatan penelitian atau analisis data merupakan upaya mencari data dan menata secara sistematis catatan hasil pengumpulan data untuk meningkatkan pemahaman terhadap obyek yang sedang diteliti.25 Analisis Hermeneutik dilakukan dengan melibatkan pendekatan semiotika.
Semiotik adalah analisis tanda-tanda untuk menemukan arti serta mengetahui sistem tanda seperti bahasa, gerak, musik, gambar dan lain sebagainya.
Kemudian menganalisis hasil wawancara dangan informan terkait dengan melakukan interpretasi, menjelaskan analisis semiotika dengan menggunakan teori dari Ferdinand De Saussure serta menganalisis data berdasarkan Kamus, Ideologi, Frame Work Budaya dan interpretasi komunitas.
Kemudian melakukan penarikan kesimpulan
Oleh karena itu, penelitian ini akan dilakukan analisis dalam tiga tahap, tahap pertama adalah melakukan kajian dengan tanda-tanda yang terdapat di dalam unsur film, yaitu tanda-tanda (dengan simbol) di dalam unsur-unsur film yang menunjukkan bentuk resepsi al-Quran dalam film Kalam-kalam Langit.
Tahap kedua melakukan anlisis interpretasi terhapat pembacaan bagi masyarakat yang telah menyaksikan film Kalam-klam Langit. Hal ini merupakan bentuk analisis wawancara dengan informan (Interpretan Kelompok), untuk diperoleh makna pesan yang positif dari resepsi pesan Qurani di dalam film Kalam-Kalam Lagit sehingga dapat membumikan pesan al-Quran melalui media, khususnya mengetahui terkait dengan kajian al-Quran, media dan pariwisata.
Tahapan ketiga, menarik kesimpulan berdasarkan atas analisis resepsi.
Pada tahap ini peneliti akan mengungkapkan bagaimana film Kalam-kalam Lanigt yang menampilkan resepsi multimedia.
25 Noeng Muhadjir, Metode Penelitian Kualitatif. Cet II (Yogyakarta: Rake Sarasin, tt), hlm. 183.
G. Alokasi Biaya dan Jadwal Penelitian
NO
Kegiatan
Bulan ke:
1 2 3 4 5
1 Mengumpulkan Data √
2 Melakukan survei awal dan menentukan
Lokasi Penlitian √
3 Menyusun Proposal √
4 Mempresentasikan Proposal √
5 Melakukan Penelitian √ √
6 Menganalisis data berdasarkan penelitian dan
mengambil keputusan √
7 Membuat draf laporan penelitian √
8 Mendiskusikan draf laporan √
9 Menyempurnakan Laporan √
10 Menyampaikan Hasil Laporam √ √
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Defri Nor. “MTQ Dan Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an (Studi Terhadap Larangan Mengikuti Mtq Bagi Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus)”, Skripsi. Yogyakarta:
Program Studi IAT Fakultas Ushuluddin Adab dakwah, 2015.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penulisan Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.
Aswak, “Resepsi Estetis Masyarakat Muslim terhadapAl-Qur'an (Studi tentang Penggunaan RingtoneAyat-Ayat Al-Qur'an di Kalangan Mahasiswa Yogyakarta),” Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hdis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2011.
Bahrudin “Model Asesmen Musabaqah Tilawah al-Quran (MTQ)Cabang Tilawah” Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 18 No 2 Tahun 2014 Program Pascasarjana UNY.
Fadlulloh, Muha. “Penggunaan Tanda Waqaf al-Waqf wa al-Ibtidā’ pada Mushaf al- Quddūs bi al-Rasm al-Usmāni (Tinjauan Resepsi al-Qur’an)”, Skripsi.Yogyakarta:
Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin, Studi Agama, dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.
Graham, William Albert. Beyond the Written Word: Oral Aspects of Scripture in the History of Religion. Sedney: Melbourne University Press 1988.
Hadi, Sutrisno. Metode Research, Jilid I. Yogyakarta: Andi Offset, 1989), hlm. 136.
Manshur, Fadlil Munawwar, Telaah Resepsi atas Kisah Nabi Yusuf dalam Karya-Karya Sastra Islam Khas Pesantren, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008
Moeloeng, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2012.
Muhadjir, Noeng. Metode Penelitian Kualitatif. Cet II Yogyakarta: Rake Sarasin, t.th.
Mukhtar, Muhammad. “Resepsi Santri Lembaga Tahfidz al-Qur‟an Pondok Pesantren Wahid Hasyim terhadap al-Qur‟an (Surat al-Mu’awwidzataini, Yasiin, al- Rahmān, al-Wāqi’ah dan ayat Kursi), Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007.
Mursyid, Achmad Yafik. “Resepsi Estetis Terhadap Al-Qur’an Implikasi Teori Efek Estetik Navid Kermani Terhadap Dimensi Musikalitas: dalam Skripsi.
Yogyakarta: Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2013.
Rafiq, Ahmad. “Sejarah al-Qur an: dari pewahyuan ke resepsi (sebuah pencarian awal metodologis)”, dalam Sahiron Syamsuddin (dkk.), Islam, Tradisi dan Peradaban .Yogyakarta: Bina Mulia Press,2012.
Rafiq, Ahmad. “Tradisi Resepsi Al-Qur’an di Indonesia”.
http://sarbinidamai.blogspot.co.id/2015/06/tradisi-resepsi-al-quran-di- indonesia.html
Shobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009.
Somantri, Gumilar Rusliwa. “Memahami Metode Kualitatif,” dalam Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 9, No. 2, Desember 2005.
Tinarbuko, Sumbo. Semiotika Komunikasi Visual edisi Revisi. Yogyakarta: Jalasutra, 2009 Zahro, Nafizatus. “Pesan Dan Ilustrasi Sosial Dalam Tafsir Juz ‘Amma For Kids (Kajian
Resepsi atas Tafsir dan Ilustrasi),” Skripsi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014.
“Dengan Jaminan Produk Halal, Lombok Raih Gelar Destinasi Halal Terbaik Dunia”
http://bimasislam.kemenag.go.id/post/berita/dengan-jaminan-produk-halal-lombok-raih- gelar-destinasi-halal-terbaik-dunia
“Ini Alasan Lombok Jadi Destinasi Halal Terbaik di Dunia” dalam.
http://travel.detik.com/read/2015/10/21/184432/3050023/1382/ini-alasan-lombok- jadi-destinasi-halal-terbaik-di-dunia
“Masuk Wisata Halal, Lombok Banjir Turis asal Arab dalam http://daerah.sindonews.com/read/1069750/174/masuk-wisata-halal-lombok- banjir-turis-asal-arab-1450192919
“Teliti Model Penilaian MTQ”, dalam http://www.uny.ac.id/berita/teliti-model-penilaian- mtq-bahrudin-raih-gelar-doktor.html
http://www.diposkan.com/wp-content/uploads/2016/02/Lombok-NTB.jpg http://1.bp.blogspot.com/-
MLw6SLpXYpk/Vcw_PrktP4I/AAAAAAAAbNw/c7OnVe3GZcI/s1600/lombok1.JP G\
http://nginepmana.com/wp-content/uploads/2015/05/1167.jpg