• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Trade-off Theory

Trade-off Theory pertama kali dikemukakan oleh Modigliani dan Miller tahun 1958. Trade-off Theory menyatakan bahwa penggunaan utang (leverage) akan meningkatkan nilai perusahaan karena biaya bunga utang adalah biaya yang mengurangi pembayaran pajak (tax deductible expense). Trade off theory menyatakan bahwa perusahaan menyeimbangkan manfaat dari pendanaan dengan utang, suku bunga dan pajak (Frank dan Goyal, 2007).

Menurut trade-off theory perusahaan akan berutang sampai pada tingkat utang tertentu, dimana penghematan pajak (tax shields) dari tambahan utang sama dengan biaya financial distress. Pada awalnya Modigliani dan Miller (1958) mengemukakan bahwa pendanaan dengan utang dan ekuitas tidak mempengaruhi nilai perusahaan dengan asumsi tidak ada pajak, kemudian mengubah asumsi tersebut dengan memasukkan faktor pajak ke dalam teorinya. Biaya bunga adalah pengurang penghasilan kena pajak sehingga dapat digunakan dalam penghematan pajak. Sehingga semakin tinggi proporsi pendanaan dengan utang akan meningkatkan nilai perusahaan (Masri dan Martani, 2012).

Dari penelitian Lim (2011) mengatakan bahwa trade-off theory diharapkan dapat memberi pengaruh negatif cost of debt terhadap kebijakan utang perusahaan, biaya utang memberikan wawasan tentang isu hubungan sebab akibat dari efek substitusi dari tax avoidance dengan penggunaan utang. Terdapat hubungan yang konsisten antara trade-off theory dengan hubungan substitusi tax avoidance dan cost of debt (Lim, 2011)

2.2 Tax Avoidance – Non Debt Tax Shield

Penghindaran pajak (tax avoidance) merupakan bagian dari tax planning dengan tujuan untuk meminimalkan pembayaran pajak terutang. Tax avoidance merupakan pemanfaatan celah-celah yang ada dalam undang-undang perpajakan, dimana pemanfaatan undang-undang ini dikatakan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan perpajakan (Mangoting, 1999). Menurut Lim (2011), tax avoidance sebagai penghematan pajak yang timbul dengan

(2)

memanfaatkan ketentuan perpajakan yang dilakukan secara legal untuk meminimalkan kewajiban pajak. Desai dan Dharmapala (2009) mendefinisikan tax avoidance sebagai pengalihan nilai dari negara kepada pemegang saham. Tax avoidance sebagai langkah penghematan pajak dengan mentransfer sumber daya dari pemerintah kepada pemegang saham, dan harus meningkatkan nilai setelah pajak dari perusahaan.

Tax avoidance dapat digunakan sebagai substitusi dari penggunaan utang.

Menurut Lim (2011) tax avoidance berhubungan negatif dengan cost of debt.

Desai dan Dharmapala (2009) menyatakan bahwa perusahaan menggunakan tax avoidance dapat lebih mengurangi kewajiban pajak dengan mengarah ke non-debt tax shields (NDTS) yaitu misalnya biaya depresiasi dan amortisasi. Biaya depresiasi dapat menjadi pengurang pajak penghasilan dengan metode penghitungan yang diperbolehkan yaitu straight-line method dan declining- balance method diatur dalam UU Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 11. Contoh lain yaitu R & D expense yang menurut peraturan Nomor 769/KMK.04/1990 perlakukan perpajakan atas R & D expense ialah biaya harus diamotisasi atau disusutkan misalnya gedung untuk R & D dan perlengkapan, biaya usaha sehari- hari seperti biaya pegawai R & D dan pembelian bahan dibebankan sebagai biaya sehari-hari, serta biaya yang tidka termasuk yang telah disebutkan seperti biaya konsultan diperlakukan sesuai prinsip akuntansi (PSAK 20) yaitu apabila cukup material maka dilakukan amortisasi. Contoh ini menunjukkan bahwa penghindaran pajak dapat dilakukan karena tersedianya pilihan atau celah untuk memilih jalan mana yang efisien dilakukan perusahaan guna peningkatan nilai perusahaan.

Graham dan Tucker (2006) mengestimasikan sejauh mana tax avoidance dapat menggantikan penggunaan utang. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa tingkat utang berhubungan negatif dengan tingkat non-debt tax shield (NDTS). non-debt tax shield dapat berupa seperti depresiasi dan kredit pajak (DeAngelo and Masulis, 1980; Graham and Tucker, 2006) dan penelitian lainnya menyatakan bahwa depresiasi dan kredit pajak investasi dapat menjadi substitusi terhadap utang (Macckie-Marson, 1990; Trezevant, 1992) dalam Kholbadalov (2012).

(3)

2.3 Cost of debt

Yunita (2012) mendefinisikan biaya utang (cost of debt) merupakan tingkat bunga yang diterima oleh kreditur sebagai tingkat pengembalian yang diisyaratkan dalam pendanaan kepada perusahaan. Pittman dan Fortin (2004) mengukur cost of debt sebagai beban bunga yang dibayarkan oleh perusahaan dalam periode satu tahun dibagi dengan jumlah rata-rata pinjaman jangka panjang dan jangka pendek yang berbunga selama tahun tersebut. Menurut Masri dan Martani (2012) biaya utang adalah unsur penting dalam struktur modal yang dipengaruhi oleh faktor pajak yaitu sebagai debt tax shields dimana bisa menjadi pengurang pajak yang terutang. Bhoraj and Sengupta (2003) menunjukkan bahwa cost of debt ditentukan oleh karakteristik perusahaan tersebut, dapat dilihat dari penerbitan obligasi yang mempengaruhi resiko kebangkrutan, agency cost dan masalah asimetri informasi.

Fabozzi (2008) dalam Masri dan Martani (2012) mengatakan bahwa cost of debt merupakan tingkat pengembalian pinjaman yang di inginkan debitur atas pinjaman yang di berikan kepada perusahaan. Cost of debt secara tradisional didefinisikan sebagai tingkat efektif bahwa perusahaan membayar utang saat ini Kholbadalov (2012). Bhojraj dan Sengupta (2003) dalam Kholbadalov (2012) menyatakan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi cost of debt perusahaan beberapa diantaranya adalah karakteristik perusahaan, biaya agensi, dan risiko default untuk obligasi, dan masalah asimetri informasi.

Tax avoidance sendiri dapat berfungsi sebagai biaya penggantian penggunaan utang (Graham dan Tucker, 2006; Lim, 2011), hal itu meningkatkan kualitas kredit, risiko gagal bayar yang lebih rendah, mengurangi biaya kebangkrutan yang diharapkan, dan akibatnya, mengurangi cost of debt (Lim 2011). Menurut Graham dan Tucker (2006) perusahaan menggunakan lebih sedikit utang ketika mereka melakukan tax avoidance pada perusahaannya. Cost of debt yang dibayarkan perusahaan dapat menjadi pengurang penghasilan kena pajak diatur dalam Peraturan No. 169/PMK.010/2015. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa untuk keperluan penghitungan pajak penghasilan maka ditentukan perbandingan antara utang dan modal yaitu 4 : 1.

(4)

2.4 Good Corporate Governance – Komite Audit

Good corporate governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengawasi perusahaan. Dewan Komisaris merupakan inti dari Corporate Governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas (Zehnder, 2000 dalam Sosroraharjo, 2013) dimana wajib membentuk komite audit sebagai pihak independen perusahaan. Pelaksanaan prinsip-prinsip good corporate governance (GCG) dalam aktivitas komite audit diantaranya adalah prinsip independensi, transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban dan kewajaran (Effendi, 2009).

Menurut Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor IX.I.5 Tahun 2012 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit, Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi Dewan Komisaris. Di Indonesia setiap perusahaan publik diwajibkan untuk memiliki komite audit yang bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.

Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi Dewan Komisaris. (Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep- 643/BL/2012). Salah satu tugas komite audit adalah melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan Emiten atau Perusahaan Publik kepada publik dan/atau pihak otoritas antara lain laporan keuangan, proyeksi, dan laporan lainnya terkait dengan informasi keuangan Emiten atau Perusahaan Publik.

Komite audit memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam mekanisme pengawasan perusahaan. Komite audit merupakan salah satu organ perusahaan yang melakukan pengawasan terhadap efektifitas corporate governance perusahaan. Fungsi pengawasan yang dijalankan komite audit meliputi lingkup

(5)

manajeman perusahaan, informasi keuangan perusahaan, kinerja dan resiko yang dihadapi perusahaan.

Komite audit memiliki peran dalam mengawasi proses manajeman perusahaan. Kualitas laporan keuangan dipengaruhi oleh kualitas dan karakteristik komite audit (Prastiti & Meiranto, 2013). Bapepam menghendaki agar salah seorang anggota komite audit memiliki latar belakang pendidikan akuntansi dan keuangan. Keahlian pada bidang akuntansi dan keuangan sangat penting karena tugas dari komite audit adalah mengawasi proses pelaporan laporan keuangan perusahaan. Xie, Davidson, dan DaDalt (2003) menyatakan bahwa anggota komite audit yang merupakan pihak independen dan ahli dalam bidang keuangan merupakan pihak yang efektif dalam mengurangi manajemen laba.

Menurut Hermawan (2011), semakin banyak komite audit dalam suatu organisasi akan dapat memudahkan pekerjaan karena pekerjaan dapat dibagi-bagi ke lebih banyak orang dan lebih mudah melakukan spesialisasi karena mempunyai jumlah pakar yang lebih banyak dan lebih efektif melakukan pengawasan, sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Kompetensi komite audit dapat dilihat dari latar belakang pendidikan dan pengalaman dari anggota.

Untuk dapat mampu memahami dan mengawasi proses penyajian laporan keuangan perusahaan, secara spesifik diharapkan anggota komite audit memiliki pengetahuan atau latar belakang di bidang keuangan dan akuntansi (Hermawan, 2011). Sesuai yang diwajibkan dalam peraturan otoritas jasa keuangan.

2.5 Kajian Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Kajian Penelitian Terdahulu N

o

Nama Peneliti

Judul Penelitian

Variabel / Hipotesis Hasil Penelitian

1. Lim, Youngdeo

k. (2011)

Tax avoidance, cost of debt,

and shareholder

activism:

Independen:

Tax avoidance

Dependen:

Cost of debt

1. Tax Avoidance berpengaruh negatif terhadap cost of debt didukung dengan trade-off-theory.

(6)

Evidence from Korea.

Moderasi:

Shareholder activism:

institutional ownership

Kontrol:

1. Firm age 2. CFO 3. Leverage 4. Big6 5. Size 6. Asset 7. Negequity 8. Chaebol

2. Semakin tinggi level of

institutional ownership maka hubungan negatif menjadi lebih kuat antara tax

avoidance dengan cost of debt.

2. Kholbadal ov, Utkir (2012)

The relationship of corporate

tax avoidance, cost of debt

and institutional

ownership:

evidence from Malaysia

Dependen : Cost of debt (Y) Independen :

Tax avoidance (X)

Moderasi : Institutional ownership

Kontrol : 1. Age 2. Leverage 3. CFO 4. size

1. Aktivitas tax avoidance dapat mengurangi cost of debt perusahaan 2. Tidak ada

pengaruh yang signifikan dari kepemilikan

institusional pada hubungan tax avoidance

perusahaan dan cost of debt , terlepas apakah tingkat

kepemilikan

(7)

institusional tinggi atau rendah.

3. Masri, Indah &

Martani, Dwi (2012)

Pengaruh tax avoidance terhadap cost

of debt

Dependen : Cost of debt (Y) Independen :

Tax avoidance (X)

Moderasi :

1. Perubahan tarif pajak

2. Struktur kepemilikan keluarga

1. Tax avoidance berpengaruh positif terhadap cost of debt.

2. Perubahan tarif pajak berpengaruh negatif terhadap

hubungan tax

avoidance terhadap cost of debt.

3. Struktur

kepemilikan keluarga berpengaruh positif terhadap hubungan tax avoidance terhadap cost of debt.

4. Sosrorahar jo, M.

(2013)

Analisis hubungan penghindaran

pajak, moderasi

dewan komisaris dan

komite audit terhadap biaya utang

Dependen:

Biaya utang Independen:

Penghindaran pajak

Moderasi:

Dewan Komisaris Komite Audit Kontrol:

Kualitas auditor Ukuran

Umur

1. Terdapat hubungan negatif penghindaran pajak dengan biaya utang 2. Keberadaan dewan komisaris

tidak dapat

memperkuat

hubungan negatif tax avoidance dan cost of debt

3. Komite audit tidak mempengaruhi

(8)

hubungan antara penghindaran pajak dan bunga utang 5. Simanjunt

ak & Sari (2014)

Peran penghindaran

pajak dalam mengurangi biaya utang

dengan efektifitas komite audit

sebagai variabel pemoderasi

Dependen:

Cost of Debt Independen:

Tax Avoidance Moderasi:

Efektifitas Komite Audit

1. Terdapat hubungan yang negatif signifikan antara penghindaran pajak dan biaya utang dimana terdapat hubungan

substitusi antara penghindaran pajak dan biaya utang 2. Efektifitas komite

audit terbukti tidak berpengaruh

signifikan dalam mempengaruhi hubungan negatif antara

penghindaran pajak dan biya utang

2.6 Perumusan Hipotesis

2.6.1 Tax avoidance (non debt tax shield) dan cost of debt

DeAngelo dan Masulis (1980) menyatakan bahwa utang perusahaan berhubungan negatif dengan non-debt tax shields (seperti pemotongan biaya depresiasi atau investasi kredit pajak). Graham dan Tucker (2006), dan Lim (2011) menunjukkan bahwa the tax-favored activity seperti tax shelters dan tax avoidance adalah pengganti dari penggunaan utang. Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan menggunakan utang lebih kecil ketika mereka terlibat dalam perencanaan pajak. Desai and Darmapala (2009) menemukan adanya efek

(9)

substitusi dari tax avoidance dengan cost of debt. Efek tersebut digunakan perusahaan dalam melakukan tax saving.

Penelitian yang telah diungkapkan diatas menunjukkan bahwa tax avoidance dapat mengurangi kecenderungan perusahaan untuk berutang sehingga meningkatkan financial slack, mengurangi kemungkinan terjadinya kebangkrutan, memiliki risiko kebangrutan lebih rendah sehingga akan mengurangi cost of debt.

Tax avoidance mempunyai pengaruh yang negatif terhadap cost of debt dan mendukung hipotesis trade off theory.

Tax avoidance sendiri dapat berfungsi sebagai biaya penggantian penggunaan utang (Graham dan Tucker, 2006; Lim, 2011), Lim (2011) menyatakan bahwa Tax avoidance dapat meningkatkan kualitas kredit, risiko gagal bayar yang lebih rendah, mengurangi biaya kebangkrutan yang diharapkan, dan akibatnya, mengurangi cost of debt. Tax avoidance mempunyai pengaruh yang negatif terhadap cost of debt atau mendukung hipotesis trade off theory (Masri dan Martani, 2012). DeAngelo dan Masulis (1980) menyatakan bahwa perusahaan yang mempunyai utang akan berhubungan negatif dengan non-debt tax shields (seperti pemotongan biaya depresiasi atau investasi kredit pajak). Hal ini membuktikan bahwa Tax avoidance yang di lakukan perusahaan dapat membuat cost of debt menjadi lebih kecil, sehingga hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

H1 : non-debt tax shields berpengaruh negatif dengan cost of debt.

2.6.2 Tax avoidance, cost of debt, komite audit

Corporate governance adalah alat pengendalian dari perilaku penghindaran pajak yang dilakukan oleh manajerial. Manajeman pajak yang baik dapat mengurangi beban pajak terutang sehingga perusahaan dapat memaksimalkan laba mereka (Koanantachai, 2013). Menurut Simanjuntak dan Sari (2014) bahwa di dalam manajeman pajak corporate governance diharapkan dapat menjadi pengawas dan pengendali manajeman sehingga ketika perusahaan berusaha untuk mengurangi biaya pajak yang harus dibayarkan tidak cenderung kepada tindakan manipulasi atau kecurangan dengan melanggar peraturan yang berlaku. Menurut Koanantachai (2013) perusahaan dengan corporate governance

(10)

yang baik cenderung membayar pajak lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki corporate governance yang rendah.

Dalam penelitian ini, sistem tata kelola perusahaan (corporate governance) yang baik difokuskan terhadap fungsi pengawasan yang dijalankan oleh Komite Audit. Fungsi pengawasan oleh komite audit berguna untuk menjaga stabilitas perencanaan pajak oleh perusahaan sehingga tingkat tax saving atau penghematan pajak dapat terjadi demi mencapai laba yang maksimal serta meningkatkan kualitas informasi akuntansi yang dihasilkan oleh perusahaan (Yodhianto dan Diyanty, 2016). Pengawasan yang dilakukan oleh komite audit tentunya ditunjang dari berbagai faktor.

Salah satu faktor yang menunjang keefektifan komite audit yaitu kompetensi komite audit. Xie, Davidson, dan DaDalt (2003) menemukan bahwa manajeman laba cenderung jarang terjadi pada perusahaan yang dijalankan oleh komite audit yang memiliki expertise financial, sehingga komite audit yang merupakan komisaris independen yang ahli dibidang keuangan merupakan pihak yang efektif dalam mengurangi manajeman laba yang buruk. Keahlian dalam akuntansi dan keuangan akan bermanfaat bagi komite audit dalam memahami laporan keuangan dan masalah-masalah dalam pelaporan keuangan dengan lebih baik.

Peran komite audit seringkali dihubungkan dengan kualitas pelaporan keuangan karena dapat membantu dewan komisaris dalam mengawasi proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan (Suaryana, 2005). Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI) menegaskan keberadaan komite audit diharapkan mampu meningkatkan kualitas pengawasan internal perusahaan, serta mampu mengoptimalkan mekanisme checks and balances, yang pada akhirnya ditujukan untuk memberikan perlindungan yang optimum kepada para pemegang saham dan stakeholder lainnya. Alzoubi &

Selamat (2012) menyatakan bahwa komite audit yang memiliki kompetensi akuntansi dan keuangan (financial expertise) berpengaruh signifikan terhadap earnings management. Kompetensi komite audit memungkinkan untuk melaksanakan tugas dengan baik. Tugas komite audit terkait erat dengan proses penyusunan dan audit (Hermawan, 2011). Oleh karena itu, komite audit harus

(11)

memiliki kompetensi dalam bidang akuntansi atau keuangan untuk dapat berfungsi secara efektif. Kinerja komite audit yang efektif dapat sebagai jaminan atas integritas pelaporan keuangan (Prasetyo dan Raharja, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Ferreira (2008) juga mempertimbangkan skil dari anggota komite audit sebagai faktor dalam mengukur keefektifan komite audit. Tanggung jawab komite audit untuk mengawasi pengendalian dan pelaporan mengenai laporan perusahaan tentang akuntansi dan keuangan yaitu laporan keuangan, oleh karena itu komite audit jelas memiliki kebutuhan yang lebih dapat menunjang tugasnya yaitu anggota dengan keahlian akuntansi dan/atau keahlian keuangan (Ferreira, 2008).

Tugas komite audit meliputi menelaah kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, menilai pengendalian internal, menelaah sistem pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan. Di dalam pelaksanaan tugasnya komite menyediakan komunikasi formal antara dewan, manajemen, auditor eksternal dan auditor internal (Bradbury et al. 2004 dalam Suaryana, 2005). Adanya komunikasi formal antara komite audit, auditor internal, dan auditor eksternal akan menjamin proses audit internal dan eksternal dilakukan dengan baik. Proses audit internal dan eksternal yang baik akan meningkatkan akurasi laporan keuangan dan kemudian meningkatkan kepercayaan terhadap laporan keuangan (Anderson et al. 2003).

Menurut Report on the Observation and Codes (ROSC) dalam penelitian Sari dan Diyanty (2016), penerapan corporate governance yang baik akan meningkatkan pengambilan keputusan yang baik, meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kinerja keuangan perusahaan yang baik karena adanya tindakan monitoring. Dalam rangkah tindakan monitoring, keefektifan pengawasan oleh komite audit sebagai sumber jaminan atas integritas nilai dalam laporan keuangan (Sosroraharjo, 2013).

Beberapa penelitian menjelaskan bahwa salah satu cara memitigasi permasalahan keagenan adalah dengan penerapan sistem good corporate governance perusahaan yang baik. Piot dan Missonier-Piera (2007) menemukan bahwa kualitas good corporate governance perusahaan memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengurangi biaya utang perusahaan. Keberadaan komite audit

(12)

memiliki hubungan negatif dengan cost of debt dan selanjutnya diharapkan dapat memperkuat hubungan negatif antara tax avoidance dengan cost of debt dengan mengurangi tindakan oportunistik yang dilakukan oleh manajemen terkait dengan tax avoidance. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H2 = Komite audit sebagai variabel moderasi memperkuat pengaruh non debt tax shield terhadap cost of debt.

2.3.3 Variabel Kontrol dan Cost of Debt

Umur perusahaan akan mempengaruhi cost of debt. Hal ini bisa terjadi karena suku bunga akan menurun dari waktu ke waktu karena semakin lama perusahaan listing di BEI maka akan semakin banyak informasi seperti informasi mengenai credit history dari perusahaan tersebut sehingga pihak eksternal yaitu kreditur dapat melihat resiko dari perusahaan (Lim, 2011). Umur perusahaan memiliki hubungan negatif dengan biaya utang karena perusahaan yang lebih lama melakukan go public memiliki tingkat risiko yang lebih rendah. Umur perusahaan merupakan ukuran seberapa lama perusahaan melakukan go public (Lim, 2011). Semakin lama perusahaan berada dalam BEI diprediksikan akan menyebabkan biaya utang yang semakin menurun karena perusahaan yang lebih lama melakukan go public memilki tingkat risiko yang lebih rendah (Lim, 2011).

Sehingga rumusan hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H3 = Age berpengaruh negatif terhadap cost of debt.

Leverage atau struktur modal adalah perbandingan nilai utang dengan nilai modal. Leverage memiliki hubungan positif dengan cost of debt (Petersen Dan Rajan, 1994 dalam Kholbadalov, 2012). Leverage merupakan rasio yang mengukur seberapa besar sebuah perusahaan menggunakan utang dari pihak luar untuk membiayai kegiatan operasional (Martono dan Harjito, 2001 dalam Sari dan Diyanty, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Lim (2011) & Anderson et al.

(2004) menghasilkan leverage memiliki hubungan positif dengan cost of debt.

Apabila perusahaan memiliki tingkat leverage yang tinggi makan perusahaan menggunakan utang pada komposisi pendanaannya sehingga tingkat resiko perusahaan akan semakin besar dan berdampak pada tingginya tingkat biaya utang

(13)

perusahaan. Tingkat leverage ini akan menggambarkan ketergantungan perusahaan akan utang. Rumusan hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H4 = Leverage berpengaruh positif terhadap cost of debt.

Sejak kreditur menganggap bahwa perusahaan besar pasti kurang berisiko dan ada skala ekonomi dalam biaya produksi utang, ada hubungan negatif antara suku bunga dan ukuran perusahaan (Carey et al., 1993 dalam Kholbadalov, 2012).

Jadi, ukuran perusahaan juga memiliki dampak pada harga utang. Penelitian Sosroraharjo (2013) menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan tidak memiliki hubungan yang signifikan terdahap biaya utang. Hal ini mungkin dikarenakan besarnya ukuran perusahaan tidak mengindikasikan besarnya kemampuan perusahan untuk membayar kewajiban dimasa depan sehingga tidak berpengaruh terhadap biaya utang. Lim (2011), Sartika (2012) dan Masri (2012) menyatakan ukuran perusahaan adalah natural logaritma dari total aset. Semakin besar ukuran perusahaan maka akan menyebabkan biaya utang yang semakin rendah karena memiliki risiko yang lebih rendah (Carey (1993) dalam Lim, 2011). Rahadi (2010) menyatakan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban di masa depan sehingga berhubungan negatif dengan cost of debt. Sehingga rumusan hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H5 = Size berpengaruh negatif terhadap cost of debt.

Property, plant, equipment (PPE) menggambarkan seberapa besar jaminan yang dapat diberikan perusahaan ketika mereka terlibat utang. Menurut John et al. (2003) tingkat suku bunga memiliki hubungan positif dengan agunan (jaminan kepada bank atas pinjaman) yang konsisten dengan persepsi dalam industri perbankan bahwa semakin tinggi rasio utang sebuah persahaan meningkat pula resiko perusahaan tersebut. Sehingga meningkatnya resiko maka akan meningkatkan biaya bunga yang harus dibayarkan. Sesuai dengan pendapat Morsman (1986) bahwa peminjam yang berisiko harus memberikan jaminan bagi pinjaman mereka (Morsman, 1986). Ini berarti bahwa variabel asset untuk struktur aktiva yaitu properti, plant, dan equipment dengan skala aset akan

(14)

berhubungan positif dengan biaya utang Lim (2011). Sehingga rumusan hipotesis keenam dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H6 = PPE berpengaruh positif terhadap cost of debt.

Auditor berfungsi untuk melakukan audit terhadap laporan keuangan perusahaan yang diterbitkan. Hasil dari pengauditan yang dilakukan oleh auditor dapat menjadi jaminan kehandalan informasi perusahaan bagi pemangku kepentingan seperti pihak kreditur. Menurut Sanjaya (2008) KAP Big Four memiliki kualitas audit yang tinggi dengan keahlian dan reputasi yang lebih baik dibandingkan dengan KAP non-Big Four di mata masyarakat. Kualitas auditor memiliki hubungan negatif terdahap biaya utang. Hasil penelitian Lim (2011), Sartika (2012), yang menyatakan bahwa auditor eksternal memiliki hubungan negatif terhadap biaya utang. Kualitas auditor ditentukan sebagai Big4, variabel yang menunjukkan apakah perusahaan mempertahankan auditor yang berafiliasi dengan auditor Big4 (Lim, 2011). Sehingga rumusan hipotesis ketujuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H7 = Kualitas auditor (Big4) berpengaruh negatif terhadap cost of debt.

Cash flow from operation (CFO) adalah variabel untuk profitabilitas.

Perusahaan dapat berada dalam posisi yang lebih baik untuk membayar utangnya ketika mereka mampu menciptakan arus kas lebih dari operasi (Kholbadalov, 2012). Perusahaan yang memiliki arus kas yang baik berarti mampu untuk menciptakan laba yang tnggi karena memiliki kas yang bias digunakan utnuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. Menurut Lim (2011) tingkat profitabilitas perusahaan yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat membayar utang dengan baik sehingga tingkat resiko lebih rendah dan menurunkan tingkat bunga utang. Rumusan hipotesis kedelapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H8 = CFO berpengaruh negatif terhadap cost of debt.

Negequity untuk mengidentifikasi perusahaan dengan nilai buku negatif dari common equity. Perusahaan-perusahaan ini mengalami kesulitan keuangan dan umumnya dikenakan biaya pinjaman yang lebih tinggi (Graham et al., 1998) dalam Lim (2012). Perusahaan dengan ekuitas yang negatif umumnya mengalami kerugian yang besar sehingga membutuhkan utang untuk pendanaan

(15)

operasionalnya. Perusahaan tersebut akan dikenakan bunga yang tinggi dikarenakan tingkat resiko yang tinggi. Rumusan hipotesis kesembilan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H9 = Negequity berpengaruh positif terhadap cost of debt.

Gambar

Tabel 2.1 Kajian Penelitian Terdahulu  N o  Nama  Peneliti  Judul  Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Ketika akses atas tanah hilang akibat konfilk agraria yang terjadi, gerakan petani menjadi wujud reaksi terhadap kemerosotan status sosial ekonomi yang dialami oleh

Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengusulkan pendekatan untuk mengamati pengaruh pola hubungan pengembang terhadap jumlah isu yang berhasil diselesaikan

Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sherly Rakhmawati yang berjudul ―pengaruh kepercayaan, persepsi kegunaan, persepsi kemudahan,

Berdasarkan uraian yang telah di paparkan terdahulu maka berikut ini pe- nulis akan menguraikan inti dari bentuk kesimpulan adalah sebagai berikut bahwa dalam penerapan sangsi

Zakat produktif dengan demikian adalah zakat dimana harta atau dana zakat yang diberikan kepada mustahiq ( penerima zakat ) tidak dihabiskan, akan tetapi

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul “Pengaruh

Terdapat hubungan yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan optimisme orang tua yang memiliki anak penyandang tunagrahita di SLB (Sekolah Luar Biasa) Putra

Area display untuk produk garmen, fashion, dan suvenir diletakkan pada sisi kiri area toko dengan proporsi kapasitas yang lebih kecil yaitu (garmen 20%, suvenir 10%)