• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. GEOLOGI REGIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. GEOLOGI REGIONAL"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

10

BAB II. GEOLOGI REGIONAL

II. 1 Fisiografi Regional

Fisiografi regional yang berada di Provinsi Lampung terbagi menjadi tiga satuan geomorfologi, yakni dataran bergelombang, pegunungan, dan daerah pantai berbukit hingga datar. Pada bagian timur dan timurlaut terdapat dataran bergelombang, kemudian di bagian tengah dan baratdaya terdapat pegunungan serta daerah pantai berbukit sampai datar. 60% luas daerah dari Provinsi Lampung ditempati oleh dataran bergelombang dan endapan vulkanoklastika berumur Tersier – Kuarter, selain itu terdapat aluvium yang terletak pada ketinggian beberapa puluh meter di atas permukaan laut. Kemudian sekitar kurang lebih 25 – 30% dari luas provinsi Lampung ditempati oleh Pegunungan Bukit Barisan.

Pegunungan tersebut terdiri atas batuan beku, metamorf, dan batuan gunungapi muda. Umumnya Lembar Geologi Tanjungkarang ini memiliki ketinggian lereng yang relatif curam dengan kisaran ketinggian 500 – 1.680 meter di atas permukaan laut. Topografi yang berada di daerah pantai pada Lembar Geologi Tanjungkarang bervariasi, umumnya terdiri dari perbukitan yang mempunyai ketinggian hingga mencapai 500 meter di atas permukaan laut dan terdiri dari batuan gunungapi yang memiliki umur Tersier dan Kuarter, selain itu juga terdapat intrusi (Mangga dkk., 1994). Berdasarkan peta fisiografi provinsi lampung, dapat dilihat pada Gambar II.1 bahwa daerah penelitian terletak pada satuan fisiografi lajur bukit barisan dan mempunyai satuan geomorfologi berupa perbukitan bergelombang.

(2)

11

Gambar II.1 Fisiografi regional Provinsi Lampung (Mangga dkk., 1994)

II.2 Tatanan Tektonik Regional

Tektonik regional pada lokasi penelitian terletak di Pulau Sumatera. Pulau ini memiliki bentuk yang memanjang ke arah barat daya, berasal dari Paparan Sunda.

Semenanjung Asia Tenggara yang asalnya dari lempeng tektonik benua Eurasia.

Paparan Sunda ini terbentuk dari beberapa terrain (Gambar II.2), yakni: terrain Malaya Timur, terrain Sibumasu, terrain Sumatera Barat, dan terrain Woyla (Barber dkk., 2005)

Gambar II.2 Blok tektonik Pra – Tersier di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya (Barber dkk., 2005)

Daerah Penelitian

(3)

12

Pada kala Permian Awal, terjadi subduksi pada Laut Paleotetis sehingga menyebabkan Laut Mesotetis menjadi terbuka. Di kala ini juga terrain Sumatera Barat terletak pada posisi awal, ia masih menyatu tergabung dalam terrain Malaya Timur, yaitu terletak di Pulau Kalimantan bagian timur. Kemudian, pada kala Permian Tengah, Laut Paleotetis semakin tertutup sehingga menyebabkan Laut Mesotetis mengalami pemekaran. Hal tersebut menyebabkan terrain Sibamasu mulai mengalami pergerakan ke arah timurlaut menuju terrain Malaya Timur.

Selanjutnya pada kala Permian Akhir terjadi kolisi antara terrain Sibumasu dengan terrain Malaya Timur. Pada kala Trias Awal terjadi fenomena pergerakan sesar mendatar (strike slip) yang terjadi antara terrain Sumatera Barat terhadap terrain Sibumasu, yang mana menyebabkan terrain Sumatera Barat mengalami pergerakan ke arah selatan dari terrain Sibumasu (Barber dkk., 2005). Hal tersebut diilustrasikan seperti yang ditunjukkan pada Gambar II.3.

Gambar II.3 Evolusi tektonik Permian Awal – Trias Awal (Barber dkk., 2005)

Kemudian berlanjut pada kala Kapur Awal, dimana pada kala ini merupakan awal mula pergerakan terrain Woyla menuju ke arah terrain Sumatera Barat dan mulai

(4)

13

mengkolisi Paparan Sunda (95 juta tahun yang lalu). Terrain Woyla tersebut merupakan hasil subduksi dari kontinen Gondwana dengan Lempeng Ngalau.

Pulau Sumatera memiliki basement berumur Pra – Tersier yang mana basement tersebut ditumpang tindih dengan cekungan sedimen yang berumur Tersier. Kemudian basement Pra – Tersier, sedimen dan vulkanik Tersier yang berada di Pulau Sumatera

itu dipotong oleh sesar mendatar Sumatera yang memiliki arah barat laut – tenggara.

Selanjutnya pada zaman Kapur Awal, terjadi subduksi antara Lempeng Ngalau dengan terrain Sumatera Barat hingga zaman Kapur Tengah yang pada saat itu posisi terrain Woyla terletak di bagian atas Lempeng Ngalau (Gambar II.4). Kemudian pada zaman Kapur Tengah, terjadi pertemuan kedua terrain yaitu antara terrain Woyla dengan terrain Sumatera Barat. Sehingga dari pertemuan tersebut mengakibatkan terjadinya kolisi yang kemudian menghasilkan sesar mendatar mengiri (Advokaat dkk., 2018).

Gambar II.4 Cross section terrain Woyla dengan terrain Sumatera Barat (Advokaat dkk., 2018)

Pada kala Paleosen terjadi aktivitas vulkanisme yang berada di sepanjang Pulau Sumatera. Kegiatan tersebut berlanjut hingga pada episode vulkanik yang terjadi pada kala Eosen Akhir hingga Oligosen Tengah sehingga terbentuk Formasi Tarahan (Tpot) pada bagian selatan ujung Pulau Sumatera (Gambar II.5) (Barber dkk., 2005).

(5)

14

Gambar II.5 Sebaran vulkanik dan pluton pada kala Paleosen – Oligosen Tengah (Barber dkk., 2005)

Selanjutnya, pada kala Oligosen Akhir terjadi pengangkatan pada Pegunungan Barisan yang disertai dengan pendalaman cekungan Tersier (Gambar II.6). Pada kala Miosen Tengah, terjadi kembali subduksi hingga resen sehingga menyebabkan terjadinya aktivitas vulkanisme secara besar – besaran pada kala Pliosen hingga Plistosen.

Kemudian pada kala Holosen, kembali terjadi episode vulkanisme sehingga terbentuk Formasi Satuan Endapan Gunung Api Muda (Qhv) (Barber dkk., 2005)

(6)

15

Gambar II.6 Proses tektonik pada zaman Tersier – Kuarter (Barber dkk, 2005)

II. 3 Stratigrafi Regional

Stratigrafi regional daerah penelitian berada di daerah Sidomulyo dan Sekitarnya, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tanjungkarang (1993), daerah penelitian ini berada di dua Formasi batuan, yaitu Formasi Endapan Gunungapi Muda (Qhv) dan Formasi Tarahan (Tpot) (Gambar II.7).

Berikut merupakan beberapa persebaran satuan yang berasal dari stratigrafi regional di Kabupaten Pesawaran dan sekitarnya (Mangga dkk., 1994):

1. Formasi Kompleks Gunung Kasih (Pzg), satuan ini berumur Paleozoikum.

Litologi yang ada pada satuan ini berupa runtunan sedimen – metamorf serta batuan beku – metamorf yang terdiri dari Gneiss, Sekis, Pualam, Kuarsit, dan terdapat sedikit Migmatit. Litologi dari formasi ini adalah bagian dari

(7)

16

bongkahan alohton atau “exotic” yang terakresikan terhadap tepi benua Paparan Sunda pada kala Paleozoikum Akhir atau Mesozoikum Awal.

2. Formasi Menanga (Km), umur dari satuan ini adalah Kapur Awal yang memiliki litologi berupa perselingan Serpih Gampingan, Batulempung, dan Batupasir, dengan sisipan Rijang, Batugamping, dan sedikit Basalt. Formasi Menanga ini berasal dari Lautan yang ditandai dengan adanya batugamping terumbu dan rijang yang mengandung radiolaria, terkadang terdapat sisa foraminifera kecil yang berada di dalam serpih gampingan, sedangkan pada batupasir tufan lebih jarang ditemukan. Diduga formasi ini secara luas setara dengan kumpulan busur gunungapi berumur Jura Akhir – Kapur Awal dan terumbu tepi laut di daerah Garba – Gumai berdasarkan Korelasi regional.

3. Formasi Sabu (Tpos), satuan ini berumur Paleosen – Oligosen Awal. Litologi yang ada pada formasi ini yaitu di bagian bawah terdapat perselingan Breksi Konglomeratan dan Batupasir, dibagian atas terdapat perselingan Tuf Lempungan, Batulempung, dan Batupasir. Formasi ini diendapkan di lingkungan Fluvial dengan komponen batuan gunungapi.

4. Formasi Tarahan (Tpot), satuan ini berumur Paleosen – Oligosen Awal.

Litologi yang ada pada formasi ini adalah Tuf dan Breksi dikuasai oleh sisipan Tufit. Formasi ini tersebar di sekitar Telukbetung dan Tanjungkarang.

Selain itu, formasi ini diendapkan di Lingkungan Benua, yang kemungkinan berada di busur gunungapi dan berkaitan dengan penunjaman di sepanjang Paparan Sunda.

5. Formasi Hulusimpang (Tomh), satuan ini berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal. Litologi pada formasi ini terdiri dari Lava Andesit – Basalt, Tuf dan Breksi Gunungapi yang terubah secara hidrotermal dan memiliki banyak mineral. Formasi ini persebarannya berada di sepanjang Bukit Barisan dan memiliki hubungan dengan penunjaman busur tepi benua.

6. Dasit Piabung (Tmda), merupakan batuan terobosan yang berumur Miosen Tengah. Terdiri dari litologi Dasit yang tersingkap kurang lebih sekitar 15 – 20 km di sebelah selatan Telukbetung.

(8)

17

7. Batuan Granit Tak Terpisahkan (Tmgr), merupakan batuan terobosan yang berumur Miosen Tengah. Litologinya terdiri dari Granit dan Granodiorit 8. Formasi Kantur (Tmpk), formasi ini berumur Miosen Akhir – Pliosen Awal.

Formasi ini memiliki litologi berupa perselingan Batulempung Karbonan, Batulanau Karbonan, dan Batupasir dengan Tufit. Memiliki persebaran di bagian baratdaya Tanjungkarang. Formasi ini kemungkinan diendapkan di lingkungan Fluvial.

9. Satuan Gunungapi Muda (Qhv), berumur Plistosen dan Holosen. Litologinya terdiri dari Lava Andesit – Basalt, Breksi, dan Tuf. Satuan ini tersebar di seluruh daerah Bukit Barisan. Formasi ini tersusun atas batuan vulkanik yang berhubungan dengan penunjaman busur benua, ia dapat menindih secara tidak selaras batuan yang lebih tua.

10. Aluvium (Qa), berumur Holosen – Sekarang. Memiliki litologi berupa Bongkah, Kerikil, Pasir, Lanau, Lumpur, dan Lempung. Sebaran utamanya berada di sepanjang Sungai utama.

(9)

18

Gambar II.7 Stratigrafi regional Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung (Modifikasi Mangga dkk., 1993)

Gambar

Gambar II.2 Blok tektonik Pra – Tersier di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya (Barber dkk.,  2005)
Gambar II.3 Evolusi tektonik Permian Awal – Trias Awal (Barber dkk., 2005)
Gambar II.4 Cross section terrain Woyla dengan terrain Sumatera Barat (Advokaat dkk., 2018)
Gambar II.5 Sebaran vulkanik dan pluton pada kala Paleosen – Oligosen Tengah (Barber dkk., 2005)
+3

Referensi

Dokumen terkait

menurut „Abdullāh Nāṣiḥ „Ulwān perhatian dilakukan seiring dengan perkembangan anak, sehingga segala gerak gerik perkataan dan perbuatan, sampai orientasi dan

Sesuai dengan penjelasan diatas maka untuk perguruan tinggi sebesar Undip diperlukan sarana Gelanggang Olah Raga yang memadai dan dapat digunakan untuk keperluan-keperluan seperti

Bagi yang membacakan dongeng sebelum tidur, alasan yang dikemukakan antara lain karena anak-anak mereka menyukai kegiatan tersebut, dan alasan dongeng sebagai

Pengaruh Quality of Work Life Terhadap Kepuasan Kerja Yang Dimediasi Motivasi Secara keseluruhan nilai rata-rata skor untuk quality of work life adalah sebesar 3.87, dan

Pertamanan dengan pengusaha desa Kandangan tersebut dimanfaatkan oleh Moh Riski untuk sharing dan berdiskusi dan yang paling penting dukungan untuk membangun

Berbagai penyebab fluktuasi indeks keanekaragaman di beberapa titik yang jauh dari tepi hutan adalah ditemukannya serangga-serangga habitat terbuka yang memiliki

Dari hasil inversi menunjukkan bahwa lapisan tufa kasar yang produktif sebagai aquifer (aquifer terbuka/bebas) sehingga sehingga produktivitas serta kualitasnya sangat

Hubungan antara jarak kompas dari kawat penghantar yaitu semakin dekat jarak yang kita ambil terhadap jarum kompas maka pengaruh arus listrik terhadap penyimpangan kompas