• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oaral atau hubungan seks untuk uang. Seorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Dalam pengertian yan lebih luas, seorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri.

Mukherji dan Kull (dalam Koentjoro, 2004), mendefinisikan seorang pekerja seks komersial adalah seorang perempuan yang menjual dirinya untuk kepentingan seks kepada beberapa pria berturut-turut yang dirinya sendiri tidak memiliki kesempatan untuk memilih pria mana yang akan menjadi langganannya. Sedangkan Feldman dan Culloch (dalam Koentjoro, 1999) mengatakan bahwa seorang pekerja seks komersial adalah seorang yang menggunakan badannya sebagai komodotis dan menjual seks dalam satuan harga untuk memperoleh uang.

Sesuai dengan namanya, pekerja seks komersial menjajahkan tubuhnya demi mendapatkan sejumlah uang dari para pelanggannya yang merupakan para laki-laki hidung belang. Bagi mereka pekerjaan seperti ini merupakan cara yang cepat dan mudah mendapatkan uang. Biasanya para pekerja seks komersial menjalani pekerjaan ini demi memenuhi kebutuhan perekonomian dan menjadi tulang pungung keluarganya. Walau terkadang pekerjaan ini bertentangan dengan kata hati mereka, namun inilah cara mereka agar bisa bertahan.

Menurut Kartono (2002), pelaku praktik pelacuran biasanya terjadi pada mereka yang distimulasi atau didorong untuk menuntut hak dan kompensani, karena individu tidak merasakan kehangatan, perhatian dan kasih sayang, sehingga mereka mereka mencari kompenasai bagi kekosongan hatinya dengan jalan melakukan intervensi aktif dalam bentuk relasi seksual yang ekstrem dan tidak terkendali alias pelacuran. Sudah menjadi rahasia umum di dunia ini, bahwa praktik pelacuran ini dapat terjadi pada setiap lapisan masyarakat baik si kaya maupun si miskin, mulai dari usia dewasa sampai pada usia anak-anak. Praktik pelacuran ini juga dapat terjadi

(2)

pada setiap kalangan masyarakat, baik yang berstatus pelajar, maupun wanita yang sudah berstatus istri sekalipun.

Istri merupakan seorang wanita yang menjadi pendamping seorang laki-laki di dalam kehidupan berumah tangga. Seorang istri yang baik akan berusaha untuk melaksanakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya terhadap suami dan keluarganya. Istri yang baik harus mampu membahagiakan suaminya, dengan cara menjadi tempat berteduh bagi suaminya baik dalam suka maupun duka, mampu memberikan perhatian terhadap suami dan menjadi pelaku rumah tangga yang baik (Hamdani, 2002).

Suami adalah seorang laki-laki yang mempunyai kewajiban untuk membahagiakan istrinya dengan cara memberikan nafkah lahir (kebutuhan hidup sehari-hari) dan nafkah batin (kasih sayang, pertahian, dan kebutuhan biologis).

Seorang suami yang baik adalah suami yang mampu menjaga sikap baik terhadap istri, keluarga dan anak-anaknya, dapat memenuhi segala hak istrinya dan juga mampu menjalani kewajibanya dengan penuh tanggung jawab.

Untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami terutama dalam hal memberikan nafkah secara lahiriah, maka suami akan berusaha dengan sebaik- baiknya agar mampu memenuhi kewajibannya tersebut dengan cara mencari pekerjaan yang layak dan dapat menghasilkan uang yang halal untuk kehidupan rumah tangganya. Maka tidak jarang ada suami yang harus berusaha ekstra untuk memenuhi kebutuhan ini, walaupun dia harus berpisah jauh dari istrinya.

Di Indonesia bahkan seluruh dunia, terdapat banyak suami yang harus berpisah jauh dari istrinya untuk mencari nafkah, hal ini juga terjadi pada beberapa keluarga di kota Mataram Lombok Nusa Tenggara Barat, dimana sang suami terpaksa mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dengan menjadi tenaga kerja di luar negeri. Dengan bekerjanya suami ke luar negeri, maka secara pasti istri tidak lagi mendapatkan nafkah batin yang menjadi hak mereka.

Setelah beberapa lama berada diluar negeri, sang suami pun menghilang. Suami tidak lagi memberikan nafkah lahir yang berupa kiriman uang kepada istri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, serta tidak lagi memberikan kabar berita tentang keadaan dirinya di negara rantauan.

(3)

Berdasakan keadaan diatas, maka istri pun akhirnya harus berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Istri akhirnya memilih jalan pintas dengan menjadi pekerja seks komersial di salah satu tempat prostitusi di kota mataram yaitu

“Pasar Beras”. Istri memilih menjadi PSK dengan beberapa alasan tertentu, istri merasa bahwa tidak adanya kemampuan lebih di dalam dirinya, baik secara materil maupun pendidikan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih layak, sehingga menyebabkan istri menjadi putus asa dengan keadaan hidupnya.

Melalui survey awal penelitian di yang dilakukan pada tanggal 29 April 2010 pada beberapa subjek, didapatkan hasil bahwa PSK yang berinisial “k” yang berusia 46 tahun, asal Praya Lombok tengah, merupakan seorang istri dengan 3 orang anak.

Semenjak ditinggal oleh suaminya ke luar negeri menjadi TKI,”k” terpaksa menjadi seorang PSK dikarenakan himpitan ekonomi yang tidak memadai untuk membiayai ketiga anaknya, setelah suaminya tidak lagi mengirimkan uang kepadanya.

Penghasilan “k” semenjak jadi seorang PSK tidak menentu, kadang “k” dibayar dengan harga Rp.15.000,- sampai dengan Rp.25.000,-. Tentu penghasilan sebesar itu tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Fenomena yang menimpa subjek “k” di atas berlangsung selama dua tahun.

Dan pekerjaan menjadi PSK ini sebenarnya membuat dirinya malu. Yang bersangkutan mengakui bahwa perbuatanya tidak terhormat. Dia mengaku kepada peneliti. Lebih dari itu, dia berargumentasi bahwa tidak ada satu wanita pun yang bercita-cita ingin menjadi seorang PSK. Yang bersangkutan selalu mengakui bahwa profesi yang dilakukan itu tidak baik.

Berbeda dengan subjek dengan berinisial “sa” yang telah berusia 49 tahun, berasal dari Lombok Timur. Subjek sudah menikah, akan tetapi belum dikaruniai seorang anak. Subjek menjadi seorang PSK semenjak 3 tahun lalu, saat itu subjek ditinggal oleh suaminya pergi merantau Hongkong dan setelah 2 tahun berada di Hongkong sang suami pun hilang kabar, serta tidak lagi mengirimkan nafkah kepada subjek. Sementara itu subjek masih bertempat tinggal bersama dengan mertuanya.

Menurut subjek, mertuanya sangat cerewet, setiap hari subjek selalu dimarahi karena subjek belum memberikan seorang cucu kepada mereka dan subjek tidak mempunyai pekerjaan.

(4)

Dengan kehidupan di mertua seperti itu akhirnya subjek kabur dari rumah mertua dan tinggal di rumah kost temannya yang merupakan seorang PSK. Karena merasa malu ikut menumpang hidup pada temannya, akhirnya subjek turut menjadi seorang PSK. Penghasilannya tidak menentu, kadang jika keadaan banyak dan ramai pelanggan, subjek mendapatkan Rp. 30.000,- akan tetapi jika dalam kondisi sepi, subjek hanya mendapatkan Rp.10.000,-. Penghasilan subjek hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Subjek merasa pasrah akan keadaan dirinya, karena merasa tidak mampu untuk melakukan pekerjaan yang lain kecuali menjadi seorang PSK.

Berankat dari realitas diatas, maka penelitih tertarik untuk mengetahuin apa yang menjadi latar belakang istri menjadi PSK dan bagaimana kondisi psikologis istri yang menjadi PSK.

B. Rumusan Masalah

Bertolak dari latar belakang permasalahan di atas maka peneliti tertarik untuk mengajukan permasalahan “Bagaimanakah Kondisi Psikologis Istri yang Menjadi PSK?” Studi kasus di Pasar Beras Lombok. Dalam meneliti permasalahan ini peneliti mencoba untuk menyusun rumusan masalah dan tujuan penelitian

a. Apa yang melatarbelakangi seorang istri menjadi PSK?

b. Bagaimanakah kondisi psikologis seorang istri yang menjadi PSK?

C. Tujuan Penelitian

Peneliti mempunyai beberapa tujuan dalam penelitian ini. Adapun tujuan dari penetapan masalah tersebut di atas sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui latar belakang seorang istri menjadi PSK.

b. Untuk mengetahui bagaimanakah kondisi psikologis seorang istri yang menjadi PSK di Pasar Beras kota Mataram.

(5)

D. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis

Ada beberapa manfaat yang ingin dicapai dari hasil peneitian ini.

Beberapa manfaat tersebut peneliti uraikan sebagai berikut:

a. Hasil penelitan nanti diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan pengembangan ilmu psikologi.

b. Menambah wawasan pengetahuan kondisi psikologis seorang istri yang menjadi PSK.

c. Mengidentifikasi dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan seorang istri menjadi PSK.

d. Memberi kontribusi akademik kepada instansi (masyarakat pada umumnya) yang berhubungan dengan pembinaan mental PSK seperti lembaga pemasyarakatan dan lain sebagainya.

2. Secara Praktis

Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat riil kepada seluruh element masyarakat yang berhubungan dengan PSK.

Ada pun rincian manfaat tersebut adalah sebagai berikut:

a. Menambah pemahaman lebih detil secara praktis tentang kondisi psikologis PSK kepada masyarakat secara umum

b. Memberi pemahaman tentang dampak negatif pelacuran baik yang kembali kepada dirinya atau pun masyarakat sekitarnya, baik dari aspek psikologis atau materi.

c. Memberi pemahaman yang bijaksana kepada masyarkat tentang faktor-faktor penyebab seorang isteri menjadi PSK.

d. Menanamkan rasa tanggungjawab kepada individu masyarakat agar bersama- sama mengajak komponen masyarakat untuk tidak terjatuh ke jurang pelacuran.

e. Membantu PSK untuk memahami tentang masa depan yang akan diperoleh dengan menjadi PSK, sehingga dia bisa kembali hidup terhormat

Referensi

Dokumen terkait

and you can see from the radar screen – that’s the screen just to the left of Professor Cornish – that the recovery capsule and Mars Probe Seven are now close to convergence..

- SAHAM SEBAGAIMANA DIMAKSUD HARUS DIMILIKI OLEH PALING SEDIKIT 300 PIHAK & MASING2 PIHAK HANYA BOLEH MEMILIKI SAHAM KURANG DARI 5% DARI SAHAM DISETOR SERTA HARUS DIPENUHI

Dalam menetapkan tujuan, Balai Pelatihan Kesehatan Semarang perlu lebih dulu memperhatikan tujuan strategis Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pengembagan dan Pemberdayaan Sumber

Data kuantitatif yang diperoleh berupa: baseline fasilitas pelayanan kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS, tenaga dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi pada

Uji normalitas perlu dilakukan untuk mengamati normalitas terhadap data tunggal maupun multivariate. Untuk menguji normalitas distribusi data yang digunakan

Badan Anggaran DPRD Kota Bekasi mempunyai tugas seperti yang diamanatkan dalam omor 1 Tahun 2010 tentang Tata Tertib DPRD Kota Bekasi, pokok pikiran DPRD kepada Kepala

[r]

Penelitian ini ditujukan untuk pengembangan sistem informasi administrasi, diharapkan dapat menghasilkan sebuah produk berupa Sistem Informasi Administrasi Santri Pada