ETIKA BISNIS
Mitos bisnis amoral
Bisnis adalah bisnis.
Bisnis jangan dicampuradukkan dengan etika.
Kerja orang bisnis adalah berbisnis bukan beretika.
Bisnis dan moralitas atau etika tidak ada hubungan sama sekali.
Prinsip-prinsip etika bisnis.
Pertama, prinsip otonomi. Sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Kebebasan
adalah prasyarat utamanya.
Kedua, prinsip kejujuran. Mitos bisnis adalah
kegiatan tipu-menipu demi meraup untung. Prinsip kejujuran dalam pemenuhan perjanjian dan kontrak sangat penting & menentukan keberlangsungan
bisnis. Kejujuran relevan dengan mutu & harga yang sebanding, hubungan kerja intern dalam suatu
perusahaan & terkait erat dengan kepercayaan yang merupakan aset berharga dalam kegiatan bisnis.
Ketiga, prinsip keadilan. Prinsip ini
menuntut agar setiap orang diperlakukan
secara sama sesuai aturan & sesuai dengan kriteria yang rasional dan objektif dan
dapat dipertanggung-jawabkan.
Keempat, prinsip saling menguntungkan (mutual benefit prinicple) yang menuntut bisnis dapat menguntungkan semua pihak.
Prinsip kelima, integritas moral yang
menuntut internal dalam diri pelaku bisnis atau perusahaan agar menjalankan bisnis dengan tetap menjaga nama baiknya atau nama baik perusahaannya.
Kesaling-Tergantungan
Antara Bisnis & Masyarakat.
Perusahaan dianggap sebagai lembaga yang dapat memberikan kesempatan kerja,
menyediakan barang yang dibutuhkan masyarakat untuk konsumsi, membayar pajak, memberi sumbangan, dan lain-lain (Memed dalam Nor Hadi, 2014).
Perusahaan ternyata menimbulkan berbagai
persoalan sosial dan lingkungan seperti: polusi udara, keracunan, kebisingan, diskriminasi,
pemaksaan, kesewenang-wenangan, produksi makanan haram serta bentuk negative
externalities lain.
Obsesi manajer membuat mereka berani mengambil risiko.
Direktur dan eksekutif berkutat pekerjaan mereka yang terancam jika tidak dapat
memenuhi harapan pemegang saham
Kekhawatiran mengenai polusi udara
mengawali protes terhadap perusahaan yang awalnya relatif bersifat lokal memancing
politisi lokal merancang suatu aturan untuk mengendalikan hal tersebut walaupun
penegakan hukum yang efektif tidak terjamin.
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
Physical Quality of air and water, safety
Moral Desire for fairness and equity
at home and abroad
Bad Judgements Operating mistakes, executive compensation Activist Stakeholders Ethical investors, consumers, environmentalists Economic Weakness, pressure to survive, to falsify
Competition Global pressures
Financial malfeasance Numerous scandals, victims, greed
Governance failures Recognition that good governance and ethics risk assessment matter
Accountability Desire for transparency
Synergy Publicity, successful changes
Institutional reinforcement New laws – environment, whistle-blowing, recalls, U.S. Sentencing Guidelines, OECD anti-bribery regime, Sarbanes-Oxley Act (SOX) reforms, professional accounting reform
TABLE 1.1
FACTORS AFFECTING PUBLIC EXPECTATIONS FOR BUSINESS BEHAVIOUR
Lingkungan Bisnis Yang
Mempengaruhi Perilaku Etika
Tujuan bisnis adalah untuk mendapatkan
keuntungan, dapat memberikan dividen bagi pemegang saham, meningkatkan
pertumbuhan perusahaan dan
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
Bisnis semakin disesaki dengan pesaing yang mengakibatkan rendahnya pertumbuhan dan menggerus keuntungan perusahaan.
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
FIGURE 1.1
MAP OF CORPORATE STAKEHOLDER ACCOUNTABILITY
Shareholders Activists
Governments
Creditors
Lenders
Suppliers Customers
Employees
Corporation
Others, including the Media, who can be affected by or who can
affect the achievement of the corporation’s objectives
Kepedulian Pelaku Bisnis Terhadap Etika
Etika sebagai rambu-rambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat
membimbing dan mengingatkan
anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah dalam menciptakan etika bisnis yang antara lain ialah:
Pengendalian diri
Tidak memperoleh apapun dari
siapapun dan dalam bentuk apapun.
Tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan
menekan pihak lain dan keuntungan itu meskipun hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus
memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya.
Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
Dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat.
Tidak memanfaatkan kesempatan2 untuk meraup keuntungan yang
berlipat ganda karena situasi tertentu seperti keadaan excess demand, tetapi mampu mengembangkan dan
memanifestasikan sikap tanggung
jawab terhadap masyarakat sekitarnya.
Mempertahankan jati diri
Tidak mudah terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan
informasi dan teknologi
Informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang
lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya
tranformasi informasi dan teknologi.
Menciptakan persaingan yang sehat
Persaingan perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tidak sampai mematikan yang lemah.
Perkembangan perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya.
Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-
kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.
Menerapkan konsep
“pembangunan berkelanjutan"
Tidak hanya memikirkan keuntungan saat sekarang, tetapi memikirkan
bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang.
Tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan
tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.
Menghindari sifat 5K
(Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang
tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa
dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece"
dari "koneksi" serta melakukan
"kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan
“kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.
Mampu menyatakan yang benar itu benar
Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk
permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang
mencemarkan nama bangsa dan negara.
Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan kuat
dan golongan lemah
Harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan yang lemah agar mampu berkembang
bersama dengan pengusaha lainnya.
Saat ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk
berkiprah dalam dunia bisnis.
Konsekuen dan konsisten
dengan aturan main yang telah disepakati bersama
Ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik
pengusaha sendiri maupun pihak
yang lain mencoba untuk melakukan
"kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.
E tika bisnis perlu dituangkan dalam hukum positif berupa
peraturan perundang-undangan
Untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, sebagai
"proteksi" terhadap pengusaha lemah perlu ada aturan yang mengikat.
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
FIGURE 1.2
CORPORATE GOVERNANCE FRAMEWORK
Key Board Control Functions:
•Set Guidance and Boundaries - Policies, Codes, Culture
•Set Direction
- Strategies, Goals,
Remuneration, Incentives
•Appoint CEO, who appoints other executives
•Arrange for Resources
•Monitor Feedback
- Operations, Policy Compliance, Financial Reports
•Reports to Shareholders, Govern.
•Advises on Auditor Board of Directors
& Subcommittees:
Audit, Governance, Compensation Shareholders Stakeholders
Auditor Elect
Legend: Info Flow Actions
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
Importance
A hypernorm is a value that is almost universally respected by stakeholder
groups. Therefore, if a company’s activities respect a hypernorm, the company is likely to be respected by stakeholder groups and will encourage
stakeholder support for the company activities.
Hypernorms involve the demonstration of the following basic values Honesty, Fairness, Compassion, Integrity, Predictability, Responsibility Source: R. Berenbeim, The Conference Board, Inc., 19995
TABLE 1.2
HYPERNORMS (BASIC VALUES)
UNDERLYING STAKEHOLDER INTERESTS
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
FIGURE 1.3
DETERMINANTS OF REPUTATION
Credibility Reliability
Trustworthiness Responsibility Corporate
Reputation
Fombrun, p. 72
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
Strategic (58%) Customer demand shortfall (24%) Competitive pressure (12%)
M & A Integration problems (7%) Misaligned products (6%)
Others (9%)
Operational (31%) Cost overruns (11%)
Accounting irregularities (7%) Management ineffectiveness (7%) Supply chain pressures (6%)
Financial (6%) Foreign, macro-economic, interest rates Hazard and other (5%) Lawsuits, natural disasters
Source: Mercer Management Consulting/Institute of Internal Auditors, 2001.
TABLE 1.3
RISK EVENTS CAUSING DROPS OF OVER 25% SHARE VALUE, PERCENTAGE OF FORTUNE 1000 COMPANIES, 1993-1998
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
Risk is the chance of something happening that will have an impact on objectives.
Risk Management includes the culture, processes, and structures that are directed towards the effective management of potential opportunities and adverse effects.
Risk Management Process includes the systematic application of management policies, procedures, and practices to the tasks of
establishing the context, identifying, analyzing, assessing, managing, monitoring, and communicating risk.
Source: Managing Risk in the New Economy, AICPA & CICA, 2001, p. 4
TABLE 1.4
IMPORTANT RISK MANAGEMENT TERMS
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
STAKEHOLDER EXPECTATIONS
NOT MET ETHICS RISK
Shareholders
Stealing, misuse of funds or assets Conflict of interests with officers Performance level
Reporting transparency, accuracy
Honesty, integrity
Predictability, responsibility Responsibility, honesty Honesty, integrity
Employees Safety Diversity
Child and/or sweat-shop labour
Fairness Fairness
Compassion, fairness Customers
Safety
Performance Fairness
Fairness, integrity Environmentalists
Pollution Integrity, responsibility
TABLE 1.5
ETHICS RISKS–A REPRESENTATIVE LIST
L.J. Brooks, Business &
Professional Ethics for Directors, Executives, &
Accountants, 3e, Thompson, South-Western, 2004.
Health and Safety Environmental Performance/Impact Sustainability Corporate Social Responsibility Philanthropy Workplace Responsibility
TABLE 1.6
STAKEHOLDER REPORT TOPICS