• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nawa Sena: Jurnal PGPAUD Volume 1 Nomor 2 Tahun 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Nawa Sena: Jurnal PGPAUD Volume 1 Nomor 2 Tahun 2021"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGGUNAAN METODE PEMBERIAN TUGAS BERBANTUAN MEDIA KARTU ABJAD BERGAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMULA KELOMPOK B1 TK WIDYA KUMARA GRAHA

DESA PEGADUNGAN SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Komang Ardani1, Putu Subawa2, Kadek Hengki Primayana3

1,2,3 STAHN Mpu Kuturan Singaraja

1Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca pemula melalui penggunaan metode pemberian tugas berbantuan media kartu abjad bergambar pada anak kelompok B1 TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Model penelitian yang digunakan adalah Arikunto dengan menggunakan dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan.

Subjek penelitian ini adalah 15 anak terdiri atas 7 anak laki-laki dan 8 anak perempuan.

Objek penelitian ini adalah kemampuan membaca pemula. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan membaca pemula. Hal tersebut dapat dilihat hasil observasi awal menunjukkan rata-rata hasil observasi awal sebesar 50, daya serap 50% dengan kriteria sangat rendah. Pada siklus I, hasil observasi menunjukkan bahwa rata-rata hasil observasi sebesar 71.33, daya serap 71.33% dengan kriteria sedang. Sementara pada siklus II, rata-rata hasil observasi mengalami peningkatan menjadi 84, daya serap sebesar 84% dengan kriteria tinggi.

Kesimpulan penggunaan metode pemberian tugas berbantuan media kartu abjad bergambar pada anak kelompok B1 TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan dapat meningkatkan kemampuan membaca pemula.

Kata kunci: Metode Pemberian Tugas, Media Kartu Abjad Bergambar, Kemampuan Membaca.

ABSTRACT

This study aimed to improve the reading ability of beginners through the use of the assignment method with the help of pictorial alphabet cards for children in the B1 group of Widya Kumara Graha Kindergarten, Pegadungan Village. This type of research was classroom action research. The research model used was Arikunto using two cycles. Each cycle is carried out in two meetings. The subjects of this study were 15 children consisting of 7 boys and 8 girls. The object of this research was the reading ability of beginners. The method of data collection was done through observation. The data analysis technique was carried out in a quantitative descriptive manner. The results showed that there was an increase in the reading ability of beginners. It can be

(2)

seen that the results of the initial observations showed an average of 50 initial observations, 50% absorption with very low criteria. In the first cycle, the observation results showed that the average observation result was 71.33, absorption capacity was 71.33% with moderate criteria. While in cycle II, the average observation result increased to 84, the absorption capacity was 84% with high criteria. The conclusion is that the use of the assignment method with the help of pictorial alphabet card media for children in the B1 group of Widya Kumara Graha Kindergarten in Pegadungan Village can improve the reading skills of beginners.

Keywords: Assignment method, Picture Alphabet Card, Reading ability

PENDAHULUAN

Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 (dalam Permendiknas. No. 58 Tahun 2009) menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantum mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Untuk itu, upaya pembinaan untuk anak usia dini difokuskan melalui aspek-aspek perkembangan seperti, (1) nilai-nilai agama dan moral (2) fisik (3) kognitif (4) bahasa (5) sosial dan emosional. Hal yang perlu diperhatikan guru dalam pemberian stimulasi pada masa golden age (masa emas) ini yakni, tingkat perkembangan masing-masing anak itu sendiri. Peran guru disini adalah memberikan stimulasi yang tepat agar perkembangan anak menjadi optimal.

Salah satu aspek perkembangan yang secara umum dapat dilatih dan dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini adalah melatih perkembangan

bahasa anak yang meliputi berbicara, mendengarkan, menulis, dan membaca.

Melatih perkembagan bahasa dapat dilakukan berdasarkan tahap perkembangan anak itu sendiri karena tiap tahapan perkembangan memiliki tugas yang berbeda-beda. Hal ini juga berlaku pada perkembangan bahasa anak.

Perkembangan bahasa merupakan bidang pengembangan yang sangat memegang peranan penting dalam kehidupan anak usia dini.

Dengan bahasa, anak dapat berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan atau isyarat berdasarkan pada suatu sistem simbol-simbol.

Pengembangan bahasa diarahkan agar anak mampu menggunakan dan mengekspresikan pikirannya dengan menggunakan kata-kata, dengan kata lain pengembangan bahasa lebih diarahkan agar anak mengekspresikan kata dengan bahasa tubuh, mengerti setiap kata dalam penyampaian kepada orang lain, berargumentasi meyakinkan orang melalui kata-kata yang diucapkan.

Menurut Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009, dinyatakan bahwa bagian-bagian bidang pengembangan bahasa yang sudah ditetapkan seperti:

(3)

menerima bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan, dengan indikator ruang lingkup keaksaraan yakni pada anak usia 5-6 tahun tingkat pencapaian perkembangannya seperti menyebutkan simbol- simbol huruf yang dikenal, menyebutkan nama-nama benda yang huruf awalnya sama, menyebutkan kata yang huruf awalnya sama, membaca gambar yang memiliki kata/ kalimat sederhana, menghubungkan tulisan dengan gambar, dan membaca nama sendiri”.

Sesuai dengan indikator ruang lingkup keaksaraan di atas, guru dapat mengembangkan kemampuan membaca pemula anak.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 16 s.d 19 Oktober 2020, diperoleh informasi bahwa rata-rata kemampuan membaca pemula anak berdasarkan format penilaian dari guru TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan pada semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021 baru mencapai 50%, yang menurut Agung (2010:12) rata-rata tersebut berada pada kategori sangat rendah. Dari 15 orang anak yang mendapat bintang (= mulai berkembang) sebanyak 3 orang anak, bintang (= berkembang sesuai harapan) sebanyak 5 orang anak, bintang (= belum berkembang) sebanyak 7 orang anak.

Terkait dengan permasalahan di atas solusi yang dapat diberikan dalam mengatasi permasalahan kemampuan membaca pemula yaitu melalui metode pemberian tugas. Dengan metode ini anak diberikan kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaanya sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh

guru. Sehingga anak memperoleh pengalaman langsung yang sangat berarti bagi kehidupan anak selanjutnya.

Metode pemberian tugas merupakan suatu tata cara untuk melakukan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu yang sengaja diberikan kepada siswa oleh guru.

Menurut Djamarah dan Zain (2002:96) menyatakan bahwa “metode pemberian tugas adalah penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar anak melakukan kegiatan belajar”. Hal senada juga dinyatakan oleh Sagala (2013:219) “metode pemberian tugas dan resitasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar anak melakukan kegiatan belajar, kemudian harus dipertanggungjawabkannya”.

Penggunaan metode pemberian tugas memiliki beberapa manfaat seperti: (1) Pendidik akan memperoleh umpan balik tentang kualitas hasil belajar anak. (2) Pemberian tugas bila dirancang secara tepat dan proposional akan dapat meningkatkan cara belajar yang benar. (3) anak akan semakin terampil mengerjakan, semakin lancar, semakin pasti dan terarah untuk mencapai tujuan pembelajaran. (4) Tugas yang diberikan secara teratur, berkala, dan ajeg akan menanamkan kebiasaan dan sikap belajar yang positif serta dapat memotivasi anak untuk belajar sendiri. (5) Pemberian tugas secara tepat dan dirancang secara seksama dapat menghasilkan prestasi belajar yang optimal. (6) Tugas yang diberikan dengan menggunakan bahan- bahan yang bervariasi akan menarik minat anak untuk mengerjakan tugas

(4)

yang akan diberikan. Wati (dalam Budiartini, 2012:12).

Kartu Abjad bergambar merupakan salah satu media yang dapat mengembangkan potensi anak pada demensi auditory, visual dan memory.

Hal ini sejalan dengan pendapat John Hendrich Petztallozi (Hartati, 2005:41), yang menyatakan bahwa potensi utama yang harus menjasi prioritas untuk anak adalah pengembangan AVM (Auditory, visual, dan memory). Kartu abjad atau dalam istilah lain flash card abjad merupakan bentuk media atau alat permainan yang bersifat mendidik yang dikhususkan bagi anak-anak usia pra sekolah yang terdiri dari kartu-kartu yang bertuliskan 26 kartu alphabet.

Manfaat media abjad bergambar menurut Sadiman (dalam Prideni, 2014:18) adalah: (1). Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis. (2).

Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra. (3).

Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara anak dengan sumber belajar. (4) Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori, dan kinestetiknya. (5). Memberi

rangsangan yang sama,

mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca pemula.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti yakin bahwa metode pemberian tugas berbantuan media kartu abjad bergambar bila diterapkan secara konsisten dalam membaca pemula pada anak Kelompok B1 TK Widya Kumara

Graha Desa Pegadungan Semester II Tahun Pelajaran 2020/2021 mampu meningkatan kemampuan membaca pemula.

METODE

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model Kemmis dan Mc.

Targgat. Penelitian ini dilaksanakan di kelas B1 TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun Pelajaran 2020/2021. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di kelas B1 di TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan, dengan jumlah 15 Orang anak yang terdiri dari 7 orang anak laki- laki dan 8 orang anak perempuan.

Model penelitian yang digunakan adalah model daur (siklus) yaitu dua siklus masing-masing mencakup empat komponen yaitu, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Alur pelaksanaan penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Kelas (Arikunto, dkk. 2008:16)

(5)

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sesuai dengan rancangan penelitian seperti pada gambar di atas.

Penelitian ini dimulai dari siklus I dimulai dengan perencanaan seperti: (1) menyusun Rencana Kegiatan Mingguan (RKM), (2) menyusun Rencana perencanaan (RKH), (3) menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran yaitu media kartu abjad bergambar, (4) mengatur posisi duduk anak dalam melaksanakan kegiatan, (5) menyiapkan instrumen penelitian tentang kemampuan membaca pemula anak.

Pada tahap pelaksanaan, peneliti melaksanakan semua perencanaan pembelajaran yang telah disusun.

Secara garis besar pelaksanaan proses pembelajaran adalah: (1) mengatur posisi duduk anak agar merasa nyaman, (2) menyiapkan media kartu abjad bergambar yang digunakan dengan tema yang diajarkan, (3) menarik perhatian anak dan mengajak anak untuk fokus dengan mengajak anak bernyanyi atau bercakap-cakap, (4) memperlihatkan tentang media kartu abjad bergambar dan langkah- langkah penggunaannya.

Kemudian, memberikan contoh bagaimana cara menggunakan media kartu abjad bergambar sehingga anak dapat memahami isi dari gambar dan kata yang ada di dalam kartu abjad gambar yang diperlihatkan, (5) membimbing anak menggunakan media kartu abjad bergambar tersebut.

Observasi dilakukan untuk mengetahui hasil dalam proses pembelajaran dalam meningkatkan

kemampuan membaca pemula pada anak. Pada tahap ini dilakukan pengamatan dan pencatatan semua hal yang diperlukan yang terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung yakni dari kegiatan pembukaan, inti, hingga kegiatan penutup.

Tahapan refleksi dimaksudkan untuk mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul.

Dari hasil yang diperoleh kemudian dievaluasi untuk menyempurnakan tindakan berikutnya. Sesuai dengan hasil refleksi ini, guru dapat melakukan revisi, perbaiki terhadap rencana awal.

Teknik/metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam mengumpulkan data adalah dengan metode observasi. Metode observasi merupakan pengumpulan data dengan cara pengamatan. Observasi dilakukan pada saat pelaksanaan tindakan pada masing-masing siklus dengan menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi. Setiap kegiatan diobservasi dikategorikan ke dalam kualitas yang berpedoman pada Permendiknas No.58 Tahun 2009 yaitu, satu bintang (*) belum berkembang, (**) mulai berkembang, (***) berkembang sesuai harapan, (****) berkembang sangat baik.

Kriteria penilaian yang digunakan untuk mengukur kemampuan membaca pemula sesuai dengan indikator di atas adalah sebagai berikut.

(6)

Tabel 1. Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca Pemula No Indikator Bintang Deskripsi Kriteria Keberhasilan

1. Menyebutkan huruf-huruf pada media kartu abjad bergambar

(BB)

Anak belum berkembang dalam menyebutkan huruf-huruf pada media kartu abjad bergambar.



(MB)

Anak mulai berkembang dalam menyebutkan huruf-huruf pada media kartu abjad bergambar.



(BSH)

Anak sudah berkembang sesuai harapan dalam menyebutkan huruf-huruf pada media kartu abjad bergambar.



(BSB)

Anak berkembang sangat baik dalam menyebutkan huruf-huruf pada media kartu abjad bergambar.

2. Menyebutkan nama-nama benda yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.

(BB)

Apabila anak belum berkembang dalam menyebutkan nama- nama benda yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(MB)

Apabila anak mulai berkembang dalam menyebutkan nama- nama benda yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(BSH)

Apabila anak sudah berkembang sesuai harapan dalam menyebutkan nama-nama benda yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(BSB)

Apabila anak berkembang sangat baik dalam menyebutkan nama-nama benda yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.

3. Menyebutkan kata-kata yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.

(BB)

Apabila anak belum berkembang dalam menyebutkan kata-kata yang sesuai dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(MB)

Apabila anak mulai berkembang dalam menyebutkan kata-kata yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(BSH)

Apabila anak sudah berkembang sesuai harapan dalam menyebutkan kata-kata yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(BSB)

Apabila anak berkembang sangat baik dalam menyebutkan kata- kata yang suara huruf awalnya sama dengan huruf awal yang ada pada media kartu abjad bergambar.

4. Membaca kata/

kalimat sederhana yang ada pada media kartu abjad bergambar.

(BB)

Apabila anak belum berkembang dalam membaca kata/kalimat sederhana yang ada pada media kartu abjad bergambar.



(MB)

Apabila anak mulai berkembang dalam membaca kata/kalimat sederhana yang ada pada media kartu abjad bergambar



(BSH)

Apabila anak sudah berkembang sesuai harapan dalam membaca kata/kalimat sederhana yang ada pada media abjad kartu bergambar.



(BSB)

Apabila anak berkembang sangat baik dalam membaca kata/kalimat sederhana yang ada pada media kartu abjad bergambar

5. Memasangkan kata dengan dengan media kartu abjad bergambar

(BB)

Apabila anak belum berkembang dalam memasangkan kata dengan dengan media kartu abjad bergambar



(MB)

Apabila anak mulai berkembang dalam memasangkan kata dengan dengan media kartu abjad bergambar



(BSH)

Apabila anak sudah berkembang sesuai harapan dalam memasangkan kata dengan dengan media kartu abjad bergambar



(BSB)

Apabila anak berkembang sangat baik dalam memasangkan kata dengan dengan media kartu abjad bergambar

(Permendiknas No.58, Tahun 2009)

(7)

Metode analisis deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk menentukan tingkatan tinggi rendahnya kemampuan membaca pemula yang dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima.

Analisis Data Hasil Belajar kemampuan membaca pemula sebagai berikut.

a. Rata-Rata kemampuan membaca pemula siswa

(Nurkancana dan Sunartana, 1992:

173)

Keterangan :

X = jumlah skor N = banyak siswa

X = rata-rata hasil belajar siswa b. Daya Serap Siswa

DS = 100

SMIX

%

(Agung, 2012 yang telah dimodifikasi)

Keterangan :

DS = Daya serap siswa X = Nilai rata – rata kelas SMI = Skor Maksimal Ideal

(Daya Serap dikatakan berhasil jika mencapai ≥ 80%)

Peningkatan Kemampuan Membaca Pemula siswa dapat ditentukan dengan membandingkan M (%) atau rata-rata persen ke dalam PAP skala lima dengan kriteria pada Tabel 4.

Penelitian ini dianggap berhasil jika kemampuan membaca pemula melalui metode pemberian tugas dengan berbantuan media kartu abjad bergambar mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus berikutnya.

Tabel 4. Pedoman Konversi PAP Skala Lima tentang Peningkatan Kemampuan Membaca Pemula

Persentase (%)

Kriteria Peningkatan Permulaan Membaca 90 – 100

80 – 89 65 – 79 55 – 64 0 – 54

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Sumber: Agung (2010:12)

PEMBAHASAN

Sebelum menggunakan metode pemberian tugas berbantuan media kartu abjad bergambar pada anak-anak kelompok B1, kemampuan membaca pemula pada anak-anak masih sangat rendah. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang dilakukan oleh guru pada tanggal 16 s.d 19 Oktober 2020, menunjukkan rata-rata membaca pemula masih memperoleh predikat sangat rendah. Secara rinci, data tentang kemampuan awal membaca pemula pada anak-anak.

Table 5. Hasil Observasi Awal

No Uraian Nilai Ket

1 Jumlah 750

2 Rata-Rata 50

3 Daya Serap 50%

4 Kriteria Sangat Rendah

Beberapa kekurangan proses pembelajaran yang berhasil diidentifikasi adalah: (1) sebagian besar siswa masih diam, tidak ikut menirukan kata-kata yang diberikan oleh guru, (2) terlihat bahwa anak hanya mengambil LKA, kemudian anak sekedar mengerjakan saja, (3) terlihat masih banyak anak yang kesulitan mengerjakan, (4) terlihat bahwa pembelajaran kurang dilakukan dengan suasana menyenangkan dan (5) media

(8)

yang digunakan untuk pembelajaran kurang menarik karena hanya dengan menuliskan di papan tulis dan dengan menggunakan LKA yang hanya berupa kertas putih dengan berisi kata dan gambar yang tidak berwarna, serta LKA yang sudah terlalu sering digunakan dalam pembelajaran membuat anak merasa bosan.

Hasil observasi pada siklus I, data tentang kemampuan membaca pemula pada anak-anak kelompok B1 pada observasi siklus I dapat dilihat pada Table 6 berikut.

Table 6. Hasil Observasi Siklus I

No Uraian Nilai Ket

1 Jumlah 1070

2 Rata-Rata 71.33 3 Daya Serap 71.33%

4 Kriteria Sedang

Pelaksanaan refleksi dilakukan pada akhir siklus I oleh guru.

Berdasarkan hasil observasi, beberapa kendala antara lain: (1) terlihat anak- anak sudah mampu untuk membaca kata, walaupun masih ada yang belum mampu, namun terlihat anak-anak mulai hafal dengan kartu abjad bergambar yang sudah digunakan selama dua kali pertemuan, (2) media pembelajaran berupa kartu abjad bergambar yang digunakan masih menggunakan kertas yang kurang tebal, (3) tugas yang diberikan kurang disukai anak, (4) beberapa anak-anak menyuruh temannya untuk membantu dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, (5) saat kegiatan membaca kartu abjad bergambar masih terfokus pada anak yang lancar, (6) penghargaan yang hanya berupa pujian seperti: “iya kamu pintar”, “jempol kamu” membuat anak

yang yang sudah dapat membaca kata- kata terlihat kurang ekspresif atau kurang gembira dan kurang termotivasi.

Hasil observasi pada siklus II, data tentang kemampuan membaca pemula pada anak-anak kelompok B1 pada observasi siklus II dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.

Table 07 Hasil Observasi Siklus II No Uraian Nilai Ket

1 Jumlah 1260 2 Rata-Rata 84 3 Daya Serap 84%

4 Kriteria Tinggi

Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus II diperoleh hasil bahwa kegiatan pembelajaran seperti: (1) terlihat anak-anak mulai tertarik kembali dengan adanya penggunaan kartu abjad bergambar yang berbeda pada siklus I sehingga anak-anak menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran, (2) dengan perbaikan media pembelajaran, yaitu kartu abjad bergambar yang digunakan terlihat pembelajaran menjadi berjalan lebih lancar, (3) anak-anak sudah mampu mengerjakan tugas yang diberikan dengan mandiri, (4) kreativitas anak- anak dalam menyelesaikan tugasnya semakin meningkat, (5) dengan adanya penghargaan berupa stiker atau tanda emotion smile membuat anak terlihat lebih senang karena merasa mendapatkan hadiah berupa benda nyata karena sudah mengikuti pembelajaran. Hal ini membuat anak lebih termotivasi untuk mengikuti pelajaran.

Melihat perkembangan rata-rata hasil observasi siswa dari observasi awal sampai dengan siklus II yang

(9)

cenderung meningkat, dapat dikatakan bahwa guru telah tepat menerapkan metode pembelajaran pemberian tugas sehingga tujuan pembelajaran menjadi berhasil. Hal ini senada dengan pendapat Sutomo (1993:144), yang menyatakan bahwa apabila guru dapat memilih metode yang tepat yang disesuaikan dengan bahan pengajaran, murid, situasi kondisi, media pengajaran maka semakin berhasillah tujuan pengajaran yang ingin dicapai.

Selain itu, metode ini mampu menanamkan kebiasaan dan sikap belajar yang positif serta dapat memotivasi anak untuk belajar sendiri sehingga menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Hal itu semata-mata karena tugas yang dirancang secara tepat dan proporsional akan meningkatkan cara belajar yang benar Selain itu, dengan variasi dari bahan- bahan pelajaran akan mampu menarik minat anak-anak untuk mengerjakan tugas yang akan diberikan. Wati (dalam Budiartini, 2012:12).

Keberhasilan dalam penelitian ini juga ditunjang oleh media kartu abjad bergambar yang interaktif dan visualistik sehingga atraktif menarik minat belajar anak-anak. Media kartu abjad bergambar juga memiliki fungsi untuk memberikan rangsangan yang bervariasi kepada otak, sehingga otak dapat berfungsi secara optimal. Media ini juga mampu mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh anak sehingga anak-anak segera memperoleh pengalaman dan informasi yang benar.

Sesuai dengan hasil observasi pada siklus II yang diperoleh dengan rata-rata sebesar 84, daya serap sebesar

84% dengan kriteria tinggi, maka bila dibandingkan dengan indicator keberhasilan dalam penelitian ini yaitu pada rentangan 80-89 dengan kriteria tinggi, maka hasil observasi pada siklus II telah sesuai dengan indicator keberhasilan tersebut, dapat dinyatakan bahwa penelitian ini dalam dua siklus telah berhasil meningkatkan kemampuan membaca pemula pada anak kelompok B1 Semester I Tahun Pelajaran 2020/2021 Di TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan melalui penggunaan metode pemberian tugas berbantuan media Kartu Abjad bergambar.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan terhadap hasil-hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab IV, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca pemula pada anak kelompok B1 Semester I Tahun Pelajaran 2020/2021 Di TK Widya Kumara Graha Desa Pegadungan dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode pemberian tugas berbantuan media Kartu Abjad bergambar.

DAFTAR PUSTAKA

Agung .A. A. Gede 2010.Penelitian Tindakan Kelas (teori dan analisis data dalam PTK) makalah disajikan dalam woksop jurusan PGSD FIF Undiksa. Universitas Pendidikan Ganesa 27 september 2010 Agung, A. A. Gede. 2012. Pengantar

Evaluasi Pendidikan. Singaraja:

Fakultas Ilmu Pendidikan.

Undiksha.

(10)

Aisyah, Siti, dkk.2008. Perkembangan

Dan Konsep Dasar

Pengembangan Anak Usia Dini Jakarta universitas terbuka Arikunto Suharsimi.dkk, 2008.

Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:

Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi, dkk 2011.

Penelitian Tindakan Kelas.

Jakarta PT Bumi Angkasa Arsyad, A. 2003. Media Pembelajaran.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain.

2002. Strategi Belajar Mengajar. Banjarmasin: Rineka Cipta.

Koyan. 2012. Assesmen dalam Pendidikan. Singaraja:

Undiksha.

Kurnia, Rita, 2009. Metodologi Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini..Pekan Baru Cendikia Insani

Miarso, Yusuf Hadi. 1984. Teknologi Komunikasi Pendidikan. Jakarta:

Rajawali.

Nana Sudjana. 2004. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Rosdakarya.

Riyana, S., dan Susilana, R. 2007.

Media Pembelajaran. Bandung : CV Wacana Prima.

Roestiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Rusyanti, 2014. Pengaruh penggunaan media kartu abjad bergambae terhadap kemampuan membaca anak kelompok B. Jaringan 28 Surabaya.

Sadiman, dkk. 2003. Media Pendidikan.

Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sagala, Syaiful. 2013. Konsep dan Makna Pembelajaran. Alfabeta.

Bandung.

Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Prenada Media Group.

Sardiman, A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.

Jakarta: Rajawali Pers

Sri Anitah, W . (2005). Strategi Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

Suharsimi, Arikunto. 2012. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:

Bumi Aksara.

Susanto, Ahmad. 2011. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Tarigen, Henry, 1986. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung, Angkasa Tegeh, I Made 2008, Media

Pembelajaran. Malang.

Universitas Negeri Malang.

Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2009. Jakarta: Sinar Grafida.

Uno, Hamzah B. 2012. Model Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Gambar

Gambar 1. Model Penelitian Tindakan Kelas  (Arikunto, dkk. 2008:16)
Tabel 1. Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca Pemula  No  Indikator  Bintang  Deskripsi Kriteria Keberhasilan
Tabel 4.  Pedoman  Konversi  PAP  Skala  Lima  tentang  Peningkatan  Kemampuan  Membaca Pemula Persentase  (%)  Kriteria Peningkatan Permulaan Membaca  90 – 100  80 – 89  65 – 79  55 – 64  0 – 54  Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah  Sangat rendah  Sumber:

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan kartu agustus terhadap minat belajar matematika sebesar 50,9% Siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Arso Kabupaten

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian jus buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap penurunan kadar trigliserida tikus putih

Abstrak: Tujuan umum dalam penelitian ini adalah: Apakah penggunaan media kartu kata bergambar dalam pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak usia

Hasil yang didapatkan dari pengabdian ini adalah pelatihan penggunaan aplikasi rapor online sudah berjalan dengan baik dan dapat diimplementasikan oleh para guru di SMA Kristem

Siswa harus mengerjakan tugas- tugas yang diberikan selama terapi sesuai dengan perkembangan dan kemampuan siswa serta harus mampu mengatur tugas dengan baik.(c) Effort (usaha).

Rancangan penelitian ini adalah penelitian korelasi analitik yang bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan Aplikasi zoom clout meeting sebagai pembelajaran

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengalaman kerja, skeptisme profesional dan tekanan waktu terhadap kemampuan auditor dalam mendeteksi

Penggunaan bahan ajar digital Matematika SD menggunakan whiteboard animation juga layak digunakan karena memliki karakteristik sesuai dengan tingkatan mahasiswa dan