MODUL PERKULIAHAN
MATA KULIAH : ILMU BUDAYA BANTEN
Oleh
Aden Wijaya, S.Pd.I.,M.M.
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN BANTEN 2020
MATA KULIAH : ILMU BUDAYA BANTEN
JUMLAH SKS : 2 SKS
PERTEMUAN KE : 2
MATERI : PENGERTIAN ILMU BUDAYA BANTEN
NAMA DOSEN : ADEN WIJAYA, S.Pd.I.,M.M.
NIDN : 0415099302
Dosen Mata Kuliah
ADEN WIJAYA, S.Pd.I.,M.M.
NIDN. 0415099302
Ketua Program Studi
SUARIFQI DIANTAMA, S.Pd.M.Pd.
NIDN. 0405019101
PERTEMUAN 1
PENGERTIAN ILMU BUDAYA BANTEN
A. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu memahami tentang Pengertian Ilmu Budaya Banten B. Isi Materi
a. Pengertian Ilmu Budaya
Dalam disiplin ilmu antropolgi budaya, kebudayaan dan budaya itu artinya sama saja. Menurut Koetjjaraningrat dalam Munandar Soelaeman (1988: 12), kata
―kebudayaan‖ berasal dari kata sanskerta budhayah, yaitu bentuk jamak darai budhi yang bearti ―budi‖ atau ―akal‖. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan ―hal-hal yang yang bersangkutan dengan akal‖. Sedangkan kata ―budaya‖ merupakan perkembangan majemuk dari ―budi daya‖ yang bearti ―daya dari budi‖ yang berupa cipta, karsa dan rasa, dengan ―kebudayaan‖ yang bearti hasil dari cipta, karsa dan rasa. Dalam bahasa inggris budaya atau kebudayaandisebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengelola atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.Kata cultura juga diterjemahkan sebagai ―kultur‖ dalam bahasa Indonesia.
Selanjutnya pengertian budaya menurut para ahli : a. Edward Tylor
Kultur atau peradaban adalah komplesitas menyeluruh yang terdiri dari pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan, dan berbagai kapabilitas lainnya serta kebiasaan apa saja yang diperoleh seseorang manusia sebagai bagian dari sebuah masyarakat.
b. Bronislaw Monilosky
Kultur adalah keseluruhan kehidupan manusia yang integral yang terdiri dari berbagai peralatan dan barang-barang konsumen, berbagai peraturan untuk untuk kehidupan masyarakat, ide-ide dan hasil karya manusia, keyakinan dan kebiasaan manusia.
c. Melville Herskovits
Budaya adalah sebuah kerangka pikir (construct) yang menjelaskan tentang keyakinan, perilaku, pengetahuan, kesepakatan-kesepakatan, nilai-nilai, tujuan yang kesemuanya itu membentuk pandangan hidup (way of life) sekelompok orang.
d. Ruth Benedict
Kultur adalah pola pikir dan tindakan tertentu yang terungkap dalam aktifitas manuasia.
e. Ahmad Sobirin (2002: 51)
Budaya ialah semua yang berkaitan dengan berbagai macam hasil karya manusia mulai dari ilmu pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan, dan berbagai bentuk kapabilitas manusia lainnya termasuk didalamnya organisasi dalam perngertian yang luas (masyarakat) maupun organisasi dalam pengertian yang lebih mikro (perusahaan misalnya).
Selanjutnya B. Malinoski dalam M.Munandar Soelaeman (1987: 13) menentukan unsur-unsur kebudayaan dalam tujuh unsur universal, yakni:
1. Bahasa
2. Sistem teknologi
3. Sistem mata pencaharian 4. Organisasi sosial
5. Sistem pengetahuan 6. Religi
7. Kesenian
Unsur-unsur kebudayaan diatas meliputi semua kebudayaan di dunia, baik yang kecil, bersahaja dan terisolasi, maupun yang besar, kompleks, dan dengan jaringan hubungan yang luas.
Menurut dimensi wujudnya, dalam M.Munandar Soelaeman (1987: 13) membagi kebudayaan dalam tiga wujud, yaitu:
1. Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia: wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya. Seperti nilai budaya, system norma, dan termasuk juga norma agama.
Fungsi sitem budaya ini adalah menata dan memantapkan tindakan-tindakan serta tingkah laku manusia.
2. Kompleks aktifitas, berupa aktifitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat di amanati dan diobservasi. Wujud ini sering disebut sistem sosial, seperti sekelompok masyarakat, rumah tangga, keluarga, organisasi masyarakat dan lain-lain.
3. Wujud sebagai benda; mulai dari benda yang diam samapi pada benda yang bergerak, seperti alat-alat rumah tangga, infrastrutur bagunan, alat transportasi, teknologi dan lain sebagainya.
Kalber dan Smith (Made Pidarta, 2007: 170), menyebutkan ada 6 fungsi utama kebudayaan dalam kehidupan manusia, yaitu:
1. Penerus keturunan dan pengasuh anak. Suatu fungsi yang menjamin kelangsungan hidup biologis kelompok social.
2. Pengembangan kehidupan berekonomi.
3. Transmisi Budaya
4. Meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. engendalian Sosial; pelembagaan konsep-konsep untuk melindungi kesejahteraan individu dan kelompok.
6. Rekreasi.
Selanjutnya Kalber dan Smith (Made Pidarta, 2007: 168), menjelaskan tiga hal yang menimbulkan perubahan kebudayaan yaitu:
1. Origasi, yaitu sesuatu yang baru atau penemuan-penemuan baru. Hasil penemuan ini akan menggeser atau memperbahrui yang lama. Seperti teori bumi bulat menggeser teori bumi lempeng, kalau menelpon menggunakan telpon rumah sekarang lebih bannyak menggunakan hand phone.
2. Difusi, ialah pembentukan kebudayaan baru akibat masuknya elemen-elemen budaya yang baru ke dalam budaya yang lama. Seperti, tarian-tarian kontemporer ada kalanya merupakan difusi antara tarian klasik dengan tarian modern.
3. Reinterprestasi, ialah perubahan kebudayaan akibat terjadinya modifikasi elemen- elemen kebudayaan yang telah ada agar sesuai dengan keadaaan zaman.Seperti, Zaman dulu kawin cukup disahkan oleh warga setempat, sekarang harus ada surat kawin yang disahkan oleh KUA untuk administrasi.
b. Ilmu Budaya Banten
Ilmu Budaya Banten adalah Studi ilmu yang membahas tentang masalah-masalah budaya yang terkait dengan Ke-Banten-an. Dimana di Banten terdapat macam-macam
kehidupan budaya yang menarik dan penting untuk diketahui sebagai upaya mencintai tanah air.
Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak.
Bantenpun mempunyai dialek bahasa penduduk asli yang hidup di Provinsi Banten berbicara menggunakan dialek yang merupakan turunan dari bahasa Sunda Kuno. Dialek tersebut dikelompokkan sebagai bahasa kasar dalam bahasa Sunda modern, yang memiliki beberapa tingkatan dari tingkat halus sampai tingkat kasar (informal), yang pertama tercipta pada masa Kesultanan Mataram menguasai Priangan (bagian timur Provinsi Jawa Barat). Namun demikian, di Wilayah Banten Selatan Seperti Lebak dan Pandeglang menggunakan Bahasa Sunda Campuran Sunda Kuno, Sunda Modern dan Bahasa Indonesia, di Serang dan Cilegon, bahasa Jawa Banten digunakan oleh etnik Jawa. Dan, di bagian utara Kota Tangerang, bahasa Indonesia dengan dialek Betawi juga digunakan oleh pendatang beretnis Betawi. Di samping bahasa Sunda, bahasa Jawa dan dialek Betawi, bahasa Indonesia juga digunakan terutama oleh pendatang dari bagian lain Indonesia. Selain itu terdapat rumah adat, dan berbagai macam kesenian tradisional khas Banten yang lebih lanjutnya akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
PERTEMUAN 2
MASUKNYA ISLAM KE BANTEN
A. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu memahami tentang sejarah masuknya Islam Ke Banten
B. Isi Materi
a. Masuknya Islam Ke Banten
Islam adalah agama yang mula-mula tumbuh di Jazirah Arab,tepatnya di Kota Mekkah. Disampikan oleh seorang Rasul yang bernama Muhammad yang lahir pada tahun 570 M. Pokok ajaran agama islam adalah Tauhid, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang ada di dunia ini. Oleh karenanya manusia hendaknya hanya tunduk kepada sang maha pencipta seluruh alam semesta.
Semula , agama ini hanya dipeluk oleh kelompok kecil saja bahkan karena tekanan- tekanan dari pembesar-pembesar negeri, nabi Muhammad dan pengikutnya duka kali pindak atau hijrah. Yaitu pada tahun 615 M hijrah ke Abesinia di pimpin oleh ja‘far ibnu Abi Thalib, dan sekitar tahun 622 M hijrah ke Yasrib (madinah sekarang).
Kemudian digantikan oleh Abubakar Siddiq, selanjutnya Umar Ibn Khattab, Usman Ibn Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Pada Masa Kekhalifahan Abubakar dan Umar, terjadilah perluasan daerah kekuasaan negara Islam. Damsyik di kuasai pada tahun 629 M, Syam dan Irak pada tahun 637 M, Mesir sampai Maroko pada tahun 645 M, demikian juga Persia pada tahun 646 M, Samarkand tahun 680 M, dan seluruh Andalusia tahun 719. Sehingga pada tahun 732 M, kekuasaan negara Islam telah membentang dari teluk Biskaya di sebelah barat barat hingga Turkestan (Tiongkok) dan India di sebelah timur. Maka atas perjalanan itu perdagangan dan kegiatan.
PERTEMUAN 3
PEMERINTAHAN KESULTANAN BANTEN BAGIAN 1
A. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu memahami sejarah Pemerintahan Kesultanan Banten bagian 1 B. Isi Materi
a. Maulana Hasanudin (1552-1570)
Dalam babad Banten Stelah Hasanudin turun gunung untuk berdakwah dari Gunung Pulasari atas titah ayahnya yaitu Syarif Hidayatullah maka Hasanudin Berkeliling untuk berdakwah dari satu daerah ke daerah lain. Sesekali bertempat di gunung Pulasari, Gunung karang, bahkan sampai ke pulau Panaitan Ujung Kulon.
Setelah banten dikuasai oleh pasukan Demak dan Cirebon pada tahun 1525, atau petunuk Syarif Hidayatullah , pada tanggal 1 Muharam 1526 M. Atau 8 Oktober 1526 M. Pusat pemerintahan Banten yang tadinya berada di pedalam Banten yakni Banten Girang ( 3 Kilometer dari Kota Serag) dipindahkan ke dekat pelabuhan Banten. Banten yang tadinya hanya kadipaten diubah menjadi sebuah negara bagian Demak dengan Hasanudin Sebagai rajanya. Dengan gelar Maulana Hasanudin Panemabahan Surosowan.
Maulana Hasanuddin menjadi penguasa pertama Banten atas pesan ayahnya yang kembali ke Cirebon (Abimanyu, 2014, hal. 454) atau ke Sunda Kelapa menurut Hamka (2001, hal. 777). Pada waktu itu, Banten masih menjadi wilayah kekuasaan Demak. Dia menjadi adipati Banten sejak tahun 1526 sesuai penunjukan Sultan Demak. Karena kemajuan pesat selama kepemimpinannya, Banten menjadi negara Bagian Demak pada tahun 1552 dengan mempertahankan Maulana Hasanuddin menjadi sultan Banten (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Setalah Demak runtuh dan digantikan oleh Pajang pada tahun 1568, Maulana Hasanuddin memproklamasikan Banten sebagai negara merdeka (Abimanyu, 2014, hal. 454).
Maulana Hasanuddin merupakan politikus ulung dan menginginkan perdamaian. Menurut Al-Hatta Kurdie, Kepala Seksi Pendidikan dan Informasi Kenadziran Masjid Agung Maulana Hasanuddin Banten, Ketika menaklukkan Banten, tidak ada pertempuran berarti antara kedua belah pihak. Dia menerima ajakan Prabu Pucuk Umun untuk mengadu ayam jago. Ketentuan yang disepakati adalah jika ayam Prabu Pucuk Umun kalah, dia harus menyerahkan kekuasaannya kepada Maulana Hasanuddin dan dia bebas menyebarkan Islam di Banten. ―Ternyata
ayam Pucuk Umun kalah dan ia melepaskan keadulatannya atas Banten, kemudian bermukim di Ujung Kulon.‖ Tutur Hatta (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Langkah ini dipilih oleh Hasanuddin agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak memicu konflik antar agama.
Langkah awal yang Hasanuddin ambil sebagai penguasa Banten adalah mengajak penduduk Banten untuk memeluk Islam. Ia kemudian 800 orang untuk masuk Islam atau tetap memeluk agama Hindu dengan kewajiban membayar upeti.
Sebagian besar penduduk menerima ajakan tersebut namun sekitar 40 orang mengingkari ajakan ini dan melarikan diri dan merekalah yang saat ini dikenal sebagai suku Badui, sebagaimana yang disampaikan oleh Hatta (Zuraya &
Fakhruddin, 2010). Meskipun demikian, Hasanuddin tetap membiarkan mereka tinggal di sana. Hal ini menunjukkan toleransinya terhadap rakyat yang berbeda keyakinan.
Hasanuddin juga memperluas kekuasaan Banten. Di masa kekuasaannya, kekuasaan Banten meliputi seluruh daerah Banten, Jayakarta, Karawang, Lampung, dan Bengkulu (Zuraya & Fakhruddin, 2010). Selain memperluas wilayah, dia juga memperluas pengaruh Banten di antara kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ia melakukan kontak dagang dengan sultan Malangkabu (Minangkabau, Kesultanan Inderapura) Sultan Munawar Syah dan sultan Inderapura menghadiahinya keris (Berdirinya Kesultan Banten, hal. 2). Suatu ketika, ketika ia mengunjungi Inderapura untuk mendapatkan wilayah Selebar (Bengkulu), ia disambut secara meriah oleh kerajaan Inderapura di laut Muara Sakai. Ia pun dikawinkan oleh Sultan Inderapura dengan puterinya, dan dihadiahilah daerah Selebar untuk memenuhi hajat hidup. Dia pun mengikat janji untuk melanjutkan perjuangan untuk meningkatkan syiar Islam, melawan Portugis dan menentang Hindu (Hamka, 2001, hal. 780).
Pembangunan-pembangunan pesat juga dilakukan pada masanya.
Pembangunan-pembangunan ini meliputi pembanguan keamanan, peningkatan arus perdagangan dan penyebaran agama Islam. Dalam pembangunan keamanan, ia memindahkan pusat pemerintahan dari Banten Girang ke Surosowan membangun Surosowan menjadi pusat pemerintahan yang strategis. Surosowan terletak tidak jauh dari pelabuhan Banten dan dibangunlah di sana istana, pasar, dalem (istana), masjid, alun-alun (Hadiwibowo, 2013, hal. 12). Hasanuddin membangun Surosowan sekitar
tahun 1526, menurut tradisi lokal. Pemindahan ini dimaksudkan untuk memperkuat hubungan dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda dan Samudera Hinda.
Melihat pula kondisi Malaka yang jatuh ke tangan Portugis sehingga pedagang- pedagang berbelok arah ke Banten (Abimanyu, 2014, hal. 454). Sehingga hal ini memberikan keuntungan bagi Banten dalam politik dan ekonomi.
Karena banyaknya pedagang yang berniaga di Banten, Banten pun menjadi kesultanan yang berpengaruh dalam ekonomi melalui pelabuhannya. Banten dengan mudah mengekspor barang-barangnya. Hasil ekspor Banten adalah lada, nila, kayu cendana, cengkih, buah pala, kulit penyu dan gading gajah (Hamka, 2001, hal. 779).
Para pedagang pun banyak menjual barang-barang di pelabuhan ini. Pedagang Arab membawa permata dan obat-obatan, pedagang dari Tiongkok membawa porselen, kertas sutera dan lain-lain. Sementara itu, pedagang-pedagang lokal banyak membawa bahan-bahan makanan. Garam dari Jawa Timur, beras dari Mengkasar (Makassar) dan Sumbawa, dan rempah-rempah dari Maluku. Perdagangan- perdagangan internasional membuat kebudayaan pesisir Banten kala itu lebih heterogen (Hadiwibowo, 2013, hal. 13).
Hasanuddin juga berkontribusi dalam penyebaran Islam di Banten. Ia mendirikan Masjid Agung Banten, Masjid Kasunyatan dan pesantren. Selain mendirikan masjid dan pesantren, ia juga mengirim ulama ke berbagai daerah kekuasaannya (Abimanyu, 2014, hal. 455). Penyebaran Islam di Banten membuahkan hasil yang memuaskan. Banyak orang dari luar daerah yang sengaja belajar di Banten, sehingga banyak berdiri perguruan seperti di Kasunyatan (Zuraya
& Fakhruddin, 2010). Perdagangan pula berpengaruh dalam penyebaran Islam di Banten. Tak jarang, pedagang-pedagang khususnya dari Arab berdagang sambil menyebarkan Islam. Lewat pesisir, awalnya Islam di kesultanan Banten berpengaruh besar terhadap penyebaran Islam di daerah pedalaman. Maka, selain karena faktor ekonomis, pemindahan ibukota dimaksudkan untuk memudahkan penyebaran Islam di daerah pedalaman (Hadiwibowo, 2013, hal. 13).
b. Maulana Yusuf (1570-1580)
Beliau adalah Putera dari Sultan Hasanudin dari pernikahanannya dengan Ratu Ayu Kirana. Seperti juga ayahnya Maulana Yusuf ingin memajukan Banten.
Tapi pada masa Maulana Yusuf disamping pendidikan agama, juga lebih ditekankan
pada bidang pembangunan kota, keamananan dan pertanian. Pada masanya pulalah Ibukota Pajajaran (Pakuan) dapat ditaklukan oleh banten. Para ponggawa kerajaan Pajajaran lalu diislamkan dan masing-masing memegang jabatannya seperti semula.
Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, perdagangan di Banten semakin maju.
bahkan bisa dikatakan bahwa pada saat itu Banten bagaikan kota penimbunan barang-barang dari penjuru dunia yang nantinya disebrakan ke kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. Sehingga banten menjadi begitu ramai dikunjungi, baik dari luar maupun oleh para penduduk nusantara. Sehingga pada masa pemerintahan Maulana Yusuf pulalah dibuatnya peraturan penempatan penduduk berdasarkan keahliannya dan asal daerahnya. Perkampungan untuk orang asing biasanya ditempatkan diluar tembok kota. seperti Kampung Pakojan terletak disebelah barat pasar Karangantu, untuk para pedagang dari Timur Tengah, Pecinan terletak disebalh barat Masjid Agung, untuk para pedagang dari Cina.
Kampung Panjunan (Untuk para Tukang Belanga, gerabah, periuk dsb), Kampung Kepandean (Untuk tukang Pandai besi), Kampung Pangukiran (Untuk Tukang Ukir), Kampung Pagongan (Untuk tukang gong), Kampung Sukadiri (Untuk para pembuat senjata). Demikian pula untuk golongan sosial tertentu, misalkan Kademangan (untuk para demang), Kefakihan (Untuk para ahli Fiqih), Kesatrian (Untuk para Satria, perwira, Senopatai dan prajurit istana). Pengelempokan pemukiman ini selain dimaksudkan untuk kerapihan dan keserasian kota, tapi lebih penting untuk keamanan kota. Tembok kota pun diperkuat dengan membuat parit- parit disekelilingnya, dalam babad banten disebutkan Gawe Kuta bulawarti bata kalawan kawis Perbaikan Masjid Agung Pun dikerjakannya, dan sebagai kelengkapan dibangun sebuah menara dengan bantuan Cek Ban Cut arsitek muslim asal Mongolia Disamping mengembangkan pertanian yang sudah ada,sultanpun mendorong rakyatnya untuk membuka daerah-daerahbaru bagi persawahan.Oleh karenanya sawah di Banten bertambah meluas sampai melewati daerah Serang sekarang.Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah tersebut,dibuatnya terusan-terusan dan bendungan-bendungan.Bagi persawahan yang terletak disekitar kota,dibuatnya juga satu danau buatan yang disebut Tasikardi. Air dari Sungai Cibanten dialirkan melalui terusan khusus ke danau ini.
Lalu dari sana dibagi ke daerah-daerah persawahan di sektarnya.Tasikardi juga digunakanbagi penampungan air bersih bagi kebutuhan kota.Dengan melalui pipa-
pipa yang terbuat dari terakota,setelah dibersihkan/diendapkan air tersebut dialirkan kekeraton dan tempat-tempat lain di dalam kota.
Di tengah-tengah danau buatan tersebut terdapat pulau kecil yang digunakan untuk tempat rekreasi keluarga keraton. Dari permaisuri Ratu Hadijah,Maulana Yusuf mempunyai dua orang anak yaitu Ratu Winaon dan Pangeran Muhammad.Sedangkan dari istri-istri lainnya,baginda dikaruniai anak antara lain :Pangeran Upapati,Pangeran Dikara,Pangeran Mandalika atau Pangeran Padalina,Pangeran Aria Ranamanggala,Pangeran Mandura,Pangeran Seminingrat,Pangeran Dikara ,Ratu Demang atau Ratu Demak,Ratu Pacatanda atau Ratu Mancatanda,Ratu Rangga,Ratu Manis,Ratu Wiyos dan Ratu Balimbing Pada tahun 1580, Maulana yusuf mangkat dan kemudian dimakamkan di Pekalangan Gede dekat Kampung Kasunyatan. Setelah meninggalnya, Maulana Yusuf diberi gelar Pangeran Panembahan Pekalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Dan sebagai penggantinya diangkatlah puteranya yang bernama Pangeran Muhammad.
c. Maulana Muhammad Kajeng Ratu Banten Surosowan (1580-1596)
Keadaan Banten pada masa Maulana Muhammad ini dapat kita ketahui dari kesaksian Willem Lodewycksz, juru tulis Cornelis de Houtman yang mendarat di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dari catatan mereka dapatlah diketahui keadaan kota Banten secara lebih jelas. Ketika itu, Banten telah mempunyai tembok-tembok yang tebalnya lebih dari depa orang dewasa dan terbuat dari bata merah. Tembok- tembok itu tidak mempunyai menara-menara, melainkan semacam tiang gantungan setinggi tiga stagie yang terbuat dari kayu besar (kira-kira 3 m). Orang dapat melayari kota seluruhnya melalui banyak sungai. Diperkirakan besar Kota Banten sebesar kota Amsterdam pada tahun 1480 ketika kota itu dikelilingi tembok untuk pertama kalinya.
Mulai dari pintu gerbang besar istana sampai di luar, terdapat bangunan- bangunan: made bahan, tempat tambak baya melakukan jaga, made mundu dan made gayam, selanjutnya sitiluhur atau sitihinggil yang di dekatnya terdapat bangunan untuk gudang senjata dan kandang kuda kerajaan. Kemudian terdapat pakombalan yaitu penjagaan untuk “wong gunung”.
Di sebelah utara terdapat tempat perbendaharaan dan di sebelah barat berdiri masjid dengan menara di sampingnya. Kemudian terdapat satu perkampungan yang disebut Candi Raras, yang di antaranya terdapat bangunan-bangunan made bobot dan made sirap. Di sebelah timur made bobot terdapat mandapa yaitu suatu bangunan terbuka yang di sana dipasang meriam Ki Jimat yang mengarah ke utara. Dekat srimanganti terdapat waringinkurung dan watugilang. Di tepi sungai terdapat panyurungan atau galangan kapal kerajaan. Di sebelah barat laut terdapat pasar dan di sebelah baratnya terdapat masjid besar kerajaan.
Dekat panyurugan terdapat tonggak yang mengikat gajah raja yang bernama Rara Kawi. Di sebelahnya terdapat jembatan besar dari kayu jati melintasi sungai yang selanjutnya terdapat jalan raya dengan pagar kembar menuju ke arah utara ke perbentengan. Perbentengan sebelah dalam atau baluwarti dalem disebut lawang sademi atau lawang seketeng yang di sebelah baratnya berdiri pohon beringin besar dan perbentengan Sambar Lebu .
Banten mempunyai kapal perang yang menyerupai kapal galai dengan dua tiang layar. Keistimewaan kapal ini mempunyai serambi yang sempit dengan geladak luas. Hal ini memungkinkan tentara lebih leluasa bergerak dalam perang. Di bagian depannya ditempatkan empat pucuk meriam. Sedangkan ruang pengayuh ditempatkan di bagian bawah. Untuk perjalanan jauh seperti ke Maluku, Banda, Kalimantan, Sumatra dan Malaka digunakan kapal jung besar dengan layar kecil di depannya.
Di samping itu ada juga perahu-perahu lesung kecil yang bisa berlayar dengan cepat yang belum pernah dilihat oleh orang Belanda sebelumnya (Tjandrasasmita, 1975:17-18). Setiap kapal asing yang hendak berlabuh di Bandar Banten diharuskan melalui semacam pintu gerbang dan membayar bea masuk (Michrob, 1984:5).
Tentang pasar sebagai pusat perekonomian, dapat dilihat dari catatan Willem Lodewyckz yang mengatakan sebagai berikut: ―Di sebelah timur kota yaitu daerah Karangantu, terdapat sebuah pasar yang pagi maupun siang terdapat pedagang- pedagang dari Portugis, Arab, Turki, Cina, Keling, Pegu, Malaya, Bengali, Gujarat,
Malabar dan Abesinia. Juga terdapat pedagang-pedagang dari Nusantara seperti dari Bugis, Jawa dan lain-lain. Pasar kedua terletak di Paseban, yang memperdagangkan keperluan sehari-hari. Dan pasar ke tiga terletak di Pacinan yang dibuka sebelum dan sesudah pasar-pasar lain tutup.
Barang-barang yang diperdagangkan di pasar ketiga ini bermacam ragam, mulai dari kain sutra dari Cina dan Gujarat sampai sisir dan kipas. Diceritakan pula, bahwa barang-barang tekstil dari Gujarat ini 20 jenis. Transansi perdagangan di pasar ini berjalan mudah, karena mata uang dan pertukaran mata uang (money changer) sudah dikenal‖.
Maulana Muhammad terkenal sebagai orang yang shaleh. Untuk kepentingan menyebaran agama Islam ia banyak mengarang kitab-kitab agama yang kemudian di-wakaf-kan kepada yang membutuhkan. Sultan sangat hormat kepada gurunya yang bernama Kiyai Dukuh yang bergelar Pangeran Kasunyatan di Kampung Kesunyatan.
Untuk sarana ibadat dibangunnya masjid-masjid sampai ke pelosok-pelosok yang di sana terdapat banyak masyarakat muslim. Dalam shalat berjamaah terutama pada shalat Jum‘at dan Hari Raya, Sultan yang selalu menjadi imam dan khotib.
Mesjid Agung yang terletak di tepi alun-alun diperindahnya. Tembok masjid dilapisi dengan porselen dan tiangnya dibuat dari kayu cendana. Untuk tempat shalat perempuan disediakan tempat khusus yang disebut pawestren atau pawadonan.
Peristiwa yang menonjol pada masa Maulana Muhammad adalah peristiwa penyerbuan ke Palembang. Kejadian ini bermula dari hasutan Pangeran Mas yang ingin menjadi raja di Palembang. Pangeran Mas adalah putra dari Aria Pangiri, putra dari Sunan Prawoto atau Pangeran Mu‘min dari Demak. Aria Pangiri tersisih dua kali dari haknya menjadi raja di Demak, dan karena ketahuan hendak melepaskan diri dari kuasa Mataram, Sutawijaya, raja Mataram, hendak membunuhnya. Tapi atas bujukan istrinya hal itu tidak dilakukannya setelah Aria Pangiri berjanji tidak akan kembali ke daerah Mataram untuk selamanya. Akhirnya dia menetap di Banten sampai meninggalnya.
Terdorong oleh darah muda dan pandainya Pangeran Mas membujuk, Sultan pun dapat dipengaruhinya. Saran Mangkubumi dan pembesar-pembesar senior lainnya tidak diindahkannya, sehingga akhirnya disiapkanlah pasukan perang untuk segera mengadakan penyerbuan ke Palembang.
Dengan 200 kapal perang berangkatlah pasukan Banten dipimpin oleh Sultan Muhammad yang didampingi Mangkubumi dan Pangeran Mas. Lampung, Seputih dan Semangka diperintahkan untuk mengerahkan tentaranya menyerang dari darat.
Maka terjadilah pertempuran hebat di Sungai Musi sampai berhari-hari lamanya.
Dan akhirnya pasukan Palembang dapat dipukul mundur. Tapi dalam keadaan yang hampir berhasil itu, sultan yang memimpin pasukan dari kapal Indrajaladri tertembak yang mengakibatkan kematiannya.
Penyerangan ke Palembang ini tidak dilanjutkan, pasukan Banten kembali tanpa hasil . Peristiwa gugurnya Maulana Muhammad ini terjadi menurut sangsakala prabu lepas tataning prang atau tahun 1596 M.
Adapun tentang Pangeran Mas, diceritakan bahwa setelah pulang dari Palembang tidak berani lama-lama menetap di Banten karena rakyat menganggap dialah penyebab kematian sultan, sehingga ia pergi kepada Pangeran Ancol di Jayakarta untuk bisa menetap disana. Tetapi di Jayakarta pun Pangeran Mas tidak disenangi, akhirnya di suatu malam didapati Pangeran Mas dibunuh oleh anak kandungnya sendiri.
Maulana Muhammad meninggal dalam usia yang sangat muda kurang lebih 25 tahun dengan meninggalkan seorang anak yang baru berusia 5 bulan dari permaisuri Ratu Wanagiri, putri dari Mangkubumi. Anak inilah yang menggantikan pemerintahannya. Maulana Muhammad, setelah meninggalnya diberi gelar Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana, dan dikuburkan di serambi Masjid Agung.
Daftar Pustaka
Abimanyu, S. (2014). Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Laksana.
Berdirinya Kesultan Banten. (t.thn.). Dipetik Mei 19, 2016, dari BantenProv.Go.Id |
Website Resmi Pemerintahan Provinsi
Banten: http://bantenprov.go.id/upload/Sejarah/3.%20Berdirinya%20Kesultanan%20 Banten.pdf
Hadiwibowo, T. U. (2013). Perkembangan Kesultanan Banten pada Masa Pemerintahan Sultan Maulana Yusuf (1570-1580). Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Sejarah, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta.
Hamka. (2001). Sejarah Umat Islam. Singapura: Perpustakaan Nasional Pte Ltd.
Zuraya, N., & Fakhruddin, M. (2010). Sultan Maulana Hasanuddin: Penguasa Muslim di Banten. Jakarta: Republika.
PERTEMUAN 4
PEMERINTAHAN KESULTANAN BANTEN BAGIAN 2
A. Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu memahami sejarah Pemerintahan Kesultanan Banten Bagian 2 B. Isi Materi
a. Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir (1596-1651)
Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir, Sultan Banten IV (1596-1651 M) Abul Mafakhir dinobatkan sebagai sultan ketika berusia 5 Bulan, sehingga untuk melaksanakan roda pemerintahan ditunjuklah Mangkubumi Jayanagara sebagai wali.
Mangkubumu Jayanagara adalah juga yang pernah menjadi Mangkubumi bagi Maulana Muhammad, sehingga kesetiannya pada Kesultanan Banten tidaklah diragukan lagi. Mangkubumi ini adalah seorang tua yang lemah lembut dan luas pengalamannya pada bidang pemerintahan. Selain Mangkubumi ditunjuk pula seorang wanita tua yang bijaksana sebagai pengasuh Sultan, yang bernama Nyai Embun Rangkun. Mangkubumi Jayanagara mangkat, setelah 6 Tahun (1602) menjadi Mangkubumi bagi Sultan Abul Mafakhir, dan jabatan Mangkubumi diserahkan kepada adiknya. Namun pada tanggal 17 Nopember 1602 dia dipecat karena kelakuanya dinilai tidak baik. Karena perpecahan dan irihati para pangeran, maka diputuskan untuk tidak mengangkat mangkubumi baru, dan untuk perwalian sultan diserahkan kepada ibunda sultan Nyai Gede Wanagiri.Tidak lama kemudian ibunda sultan menikah dengan seorang bangsawan keluarga istana. dan atas desakannya pula, suaminya ini diangkat sebagai mangkubumi. Namun mangkubumi yang baru ini tidak memiliki wibawa, bahkan sering menerima suap dari pedagang- pedagang asing. Sehingga banyak peraturan yang tidak dapat diterapkan di Banten.
Situasi ini menimbulkan rasa tidak puas dari sebagian pejabat istana yang akhirnya menimbulkan kerusuhan dan kekacauan. Bahkan diantara para pangeran pun terjadi perselisihan, sebagian lebih condong kepada para pedagang dari Portugis, sedang yang lainnya lebih condong ke Belanda. Sedangkan antara Belanda da Portugis saat itu sedang bermusuhan. wajar bila pertentangan ini mengakibatkan banyak kekacauan. Pertentangan antar pangeran ini berlangsung berkepanjangan, sehingga pada bulan Oktober 1604 terjadi peristiwa hebat, yang bermula dari tindakan Pangeran Mandalika (Putera Maulana yusuf). Pangeran Mandalika menyita perahu
Jung dari Johor.Patih Mangkubumi meminta Pangeran Mandalika untuk melepaskannya, namun perintah tersebut tidak dipatuhinya. Untuk menjaga kalau- kalau pasukan kerajaan menyerang dirinya, maka Pangeran Mandalika bergabung dengan pangeran-pangeran lainnya. Mereka membuat pertahanan sendiri di luar kota.
Makin lama kedudukan mereka makin kuat. bahkan rakyatpun semakin simpati pada pasukan Pangeran Mandalika. Pada bulan Juli 1605 datanglah Pangeran Jayakarta datang ke Banten untuk menghadiri acara khitanan Sultan Muda. Pangeran Jayakarta datang dengan membawa para pembesar kerajaan dan para pasukannya. Atas permintaan Mangkubumi, Pangeran Jayakarta bersedia membantu menumpas para pemberontak. Pangeran Jayakarta dengan dibantu pasukan dari Inggris dapat memukul mundur para pemberontak. Tapi dengan diusirnya para pemberontak keadaan Banten, bukannya semakin membaik malah semakin tegang. Puncak ketegangan terjadi pada bulan Juli 1608. Pada tanggal 23 Agustus 1608, Syahbandar dan sekretarisnya dibunuh oleh perusuh. Tidak lama kemudian, yaitu pada tanggal 23 Oktober 1608, Patih Mangkubumi dibunuhnya pula. Peristiwa inilah yang mempercepat terjadinya kerusuhan di Banten yang dikenal dengan Peristiwa pailir.
Selain peristiwa Pailir , pada masa sultan Abul Mafakhir juga terjadi peristiwa Pagarage atau Pacerebonan yang terjadi pada tahun 1650. Peristiwa ini terjadi bermula dari kedatangan pasukan dari Cirebon yang akan menyerbu Banten.
Peristiwa pertempuran ini dimenangkan oleh pasukan dari Kesultanan banten.
Sultan Abul Mafakhir mempunyai putera : Pangeran Pekik (Sultan Abul Maa'li Akhmad) yang wafat setelah peristiwa Pagarage (1650),makamnya terletak di desa Kanari. Ratu Dewi, Ratu Mirah, Ratu Ayu, dan Pangeran Banten. Sultan Abul Maa'li Akhmad (dari perkawinannya dengan Ratu Marta Kusumah puteri Pangeran Jayakarta) memiliki putera : Ratu Kulon, Pangeran Surya, Pangeran Arya Kulon, Pangeran Lor dan pangeran Raja. Dari perkawinannya dengan Ratu Aminah (Ratu Wetan) Sultan memiliki putera: Pangeran Wetan, Pangeran Kidul, Ratu Inten, dan Ratu Tinumpuk. Sedangkan dari isterinya yang lain, sultan memiliki putera : Ratu Petenggak, Ratu Wijil, Ratu Pusmita, Pangeran Arya Dipanegara (Tubagus Abdussalam/Pangeran Raksanagara), Pangeran Arya Dikusuma(Tubagus Abdurahman/Pangeran Singandaru) Sultan Abul Mafakhir mangkat pada tanggal 10 Maret 1651. Jenazahnya dimakamkan di Kanari, dekat makam puteranya (Abul Ma'ali Akhmad). Sebagai penggantinya diangkatnya cucunya (Putera dari Abul Ma'ali Akhmad), yaitu Pangeran Adipati Anom Pangeran Surya Sebagai Sultan
Banten V. (Q) 5. Pangeran Surya / Pangeran Adipati Anom (Sultan Ageng Tirtayasa), Sultan Banten V Penobatan Pangeran Surya terjadi pada tanggal 10 Maret 1651. seperti tanggal surat ucapan selamat Gubernur Kompeni Belanda Kepada Sultan. Untuk memperlancar roda pemerintahan, sultan mengangkat beberapa orang untuk membantu dirinya.
Jabatan Patih Mangkubumi diserahkan kepada Pangeran Mandura dengan wakilnya Tubagus Wiraatmaja, Sebagai Kadhi atau Hakim Agung Negara diserahkan kepada Pangeran JayaSentika. Tapi Pangeran Jayasentika tidak lama menjabat sebagai kadhi, beliau wafat dalam perjalanan menunaikan ibadah haji, maka jabatan Kadhi diserahkan kepada Entol Kawista yang kemudian dikenal dengan nama Faqih Najmudin. Faqih Najmudin adalah menantu dari Sultan Abul Mafakhir yang menikah dengan Ratu Lor. Untuk mempermudah pengawasan daerah kekuasaan, Sultan mengangkat beberapa Ponggawa atau Nayaka. Mereka berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab Mangkubumi. Selain itu Mangkubumi juga mengawasi keadaan para prajurit kerajaan. Senjata-senjata di tambah. Rumah para Senoptai diatur sedemikian rupa, agar mudah mengontrol para prajurit.Pangeran Surya yang kemudian bergelar Pangeran Ratu Ing Banten adalah seorang ahli strategi perang. Hal ini sudah dibuktikannya sejak beliau menjadi putera mahkota. beliau lah yang mengatur strategi perang gerilya saat menyerbu belanda di Batavia. Seperti juga kakeknya, Pangeran Surya pun tidak melepaskan dari Kekhalifahan Islam di Makkah. hubungan ini keharusan untuk memperkuat kekuatan umat Islam dalam menentang segala macam kesewenangan.
Dari dari Kekhalifahan pulalah Pangeran mendapatkan gelar Sultan 'Abulfath Abdulfattah. Dari hubungan ini Sultan mengharapkan bantuan dari Khalifah untuk mengirimkan guru agama ke Banten. Selain itu Sultan pun tidak setuju dengan pendudukan bangsa Asing atas negaranya, dan untuk memperkuat pertahanan (terutama dari serbuan Belanda di Batavia), sultan memperkuat pasukanya di Tangerang yang telah menjadi benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Belanda. Dari tangerang ini pulalah pada tahun 1652 Banten menyerbu Batavia. Melihat situasi yang semakin memanas, pihak kompeni mengajukan usul perdamaian. Namun sultan bertekad untuk menghapuskan para penjajah di bumi Nusantara, sultan melihat berbagai kecurangan pada setiap perjanjian yang diajukan oleh pihak Belanda, sehingga Sultan pun menolaknya. Pada tahun 1656 pasukan Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang melakukan gerilya besar-besaran.
Perusakan dan sabotase yang dilakukan para prajurit Banten banyak merugikan pihak Kompeni. Untuk menghadapi serangan Belanda yang lebih besar, Sultan mempernaiki hubungan dengan Cirebon dana Mataram, bahkan dari Inggris, Prancis dan Denmark, Sultan mendapat kemudahan memperoleh senjata api untuk peperangan.
Daerah kekuasaan Banten (Lampung, Bangka, Solebar, Indragiri dan daerah lainnya) diminta mengirimkan prajuritnya untuk bergabung dengan para prajurit yang berada di Surosowan. Rakyatpun mendukung langkah Sultan untuk mengusir Penjajah. Mereka bertekad lebih baik mati daripada berdamai dnegan penjajah.
Sedangkan kompeni mempekuat pasukkannya dengan prajurit-prajurit sewaan yang berasal dari Kalasi, ternate, Bandan, kejawan, Melayu, Bali, Makasar dan Bugis.
Pada tanggal 29 April 1658 datang utusan Belanda ke Banten membawa surat dari Gubernur Jendral Kompeni yang berisi rancangan perjanjian perdamaian, namun Sultan kembali melihat kecurangan dibalik naskah perjanjian tersebut, pihak kompeni hanya mengharapkan keuntungan sendiri tanpa memperhatikan kepentingan rakyat Banten. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658 Sultan mengirimkan utusan ke Batavia untuk melakukan perubahan perjanjian. Namun perubahan dari Sultan di tiolak oleh Belanda. Kompeni hanya menginginkan Banten membeli rempah-rempah dari Belanda dan itupun harus ditambah pajak. Penolakan tersebut membuat Sultan sadar, bahwa tidaklah mungkin ada persesuaian pendapat antara dua musuh yang saling berbeda kepentingan.
Maka pada tanggal 11 Mei 1658 Sultan mengirim surat balasan yang menyatakan bahwa "BANTEN dan KOMPENI TIDAK AKAN MUNGKIN BISA BERDAMAI .Maka terjadilah pertempuran hebat di darat dan di laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti sejak bulan Juli 1658 hingga tanggal 10 juli 1659. Selain di Tangerang, Sultan juga membuat kampung para prajurit di Tirtayasa, bahkan akhirnya sultan pun menyuruh mendirikan istana di kampung tersebut. Yang nantinya digunakan sebagai pusat kontrol kegiatan di Tangerang dan Batavia disamping untuk tempat peristirahatan. Maka dengan demikian Tirtayasa dijadikan penghubung antara Istana di Surosowan dengan Benteng pertahanan di Tangerang. Hal ini akan mempersingat jalur komunikasi sultan. Disamping jalan darat yang sudah ada, juga dibuat jalan laut yang menghubungkan Surosowan-Tirtayasa-Tangerang. Maka dibuatlah saluran tembus dari Pontang-Tanara-Sungai Untung Jawa menyusuri jalan darat - melalaui sungai CIkande sampai pantai Pasiliyan. Saluran ini dibuat cukup besar, hingga
mampu dilewati kapal perang ukuran sedang. Saluran ini dibuat dari tahun 1660 hingga sekitar tahun 1678. Selain di Tirtayasa Sultan pun berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan didalam ibukota kerajaan.
Dengan bantuan beberapa ahli bangunan dari Portugis dan Belanda yang sudah masuk Islam, diantaranya adalah Hendrik Lucasz Cardeel kemudian dikenal dengan Pangeran Wiraguna diperbaikilah bangunan istana Surosowan. Benteng istana diperkuat dengan diberi Bastion, disetiap penjuur mata angin dan dilengkapi dengan 66 buah meriam yang diarahkan ke segala penjuru. Demikian juga dengan sungai disekeliling benteng, Irigasi diperbaiki dan diperluas jangkauannya, Sehingga areal sawah mendapat pengairan dengan baik. Daerah yang tadinya kesulitan air menjadi subur. Padi dan tanaman produksi lainnya sangat menunjang kemakmuran rakyat Banten. Produksi Merica mecapai 3.375.000 pon pada tahun 1680-1780.
1. Kedatangan Bangsa Belanda di Banten
Berbeda dari abad sebelumnya, pada abad XIV kekuasaan Kesultanan Turki tidak lagi menguasai sebagian besar Eropa dan Asia Timur. Daerah-daerah itu kini dikuasai negara-negara Kristen terutama Portugis, sehingga Lisabon kembali menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Eropa.
Pedagang-pedagang Inggris, Belanda dan sebagainya membeli rempah- rempah dari Lisabon. Apalagi daerah-daerah penghasil rempah-rempah itu hanya diketahui Portugis.
Pengangkutan rempah-rempah dari Lisabon mendatang-kan keuntungan banyak bagi pedagang-pedagang Belanda; yaitu menyalurkannya kembali ke Jerman dan negara-negara lain di Eropa Timur. Tetapi karena pecahnya perang antara Nederland dengan Spanyol pada tahun 1568 yang dikenal dengan “Perang Delapan Puluh Tahun” mengakibatkan perdagangan Belanda di Eropa Selatan menjadi tidak lancar, lebih-lebih sesudah Spanyol berhasil menduduki Portugal pada tahun 1580.
Raja Spanyol, Phillipos II, yang mengetahui bahwa kemakmuran Nederland sebagian besar didapat dari perdagangan di Portugal, memukul Nederland dengan melarang kapal-kapal dagang Belanda mengunjungi bandar-bandar di daerah kekuasaannya. Akibat tindakan itu, perdagangan rempah-rempah Belanda terhenti, kemajuan Lisabon terhambat dan harga rempah-rempah di Eropa menjadi tinggi, karena persediaan berkurang.
Situasi perang antara Spanyol dan Belanda itu banyak membuat pedagang- pedagang Belanda mengalami kesukaran, apalagi sering terjadi perampokan kapal- kapal dagangnya oleh pelaut Inggris dan juga penangkapan oleh armada Spanyol.
Hal-hal semacam inilah yang mendorong pedagang-pedagang Belanda untuk dapat langsung berhubungan dengan negara-negara di Asia sebagai peng-hasil cengkeh dan lada, tanpa diketahui patroli Spanyol.
Gagasan untuk mencari sumber rempah-rempah di Asia itu dilaksanakan melalui persiapan dan perencanaan yang cukup baik. Ahli-ahli ilmu bumi seperti Pancius, seorang pendeta di Amsterdam dan Mercator di Nederland Selatan diserahi menyusun peta dunia dan dimintai pandangan-pandangannya.
Ketika itu (1593) terbitlah sebuah buku Itineratio dalam bahasa Belanda karya Jan Huygen van Linschoten yang menceritakan tentang benua Asia dan mengenai Hindia (Indonesia), lengkap dengan adat istiadat, agama, barang dagangan yang disenangi penduduk, dan sebagainya mengenai daerah Asia itu. Pengarang buku ini pernah ikut dalam expedisi Portugis ke Asia dan pernah tinggal beberapa lama di Goa, India.
Untuk menghindari pengejaran tentara Portugis, beberapa pedagang Belanda, dibantu oleh pemerintah, dengan kapal yang dirancang khusus mencoba mengarungi Laut Es, sebelah utara benua Eropa dengan perhitungan akan memperoleh jalan tersingkat menuju Asia, tanpa melalui Tanjung Harapan. Tiga kali percobaan ekspedisi ini dilaksanakan, namun ketiga-tiganya mengalami kegagalan.
Kapal mereka terjepit di tengah-tengah lautan es di dekat pulau Nova Zembla, sehingga separoh anak buah kapalnya meninggal karena kedinginan.
Laksamana Jacob van Heemskerck yang memimpin pelayaran itu kembali ke Amsterdam dengan susah payah menghabarkan kegagalan ekspedisinya.
Akhirnya pedagang-pedagang Amsterdam memper-siapkan empat buah kapal untuk mencari jalan ke Indonesia melalui Tanjung Harapan. Pada tangga 2 April 1595 kapal-kapal tersebut bertolak dari pangkalan Tessel, Belanda Utara, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan Pieter de Keyser. Cornelis de Houtman mengepalai urusan perdagangan, dan Pieter de Keyser mengepalai urusan navigasi.
Karena adanya dua pimpinan dalam satu ekspedisi pertama ini, maka sering terjadi keributan yang berasal dari perbedaan pendapat di antara keduanya. Hal demikian akhirnya menimbulkan perkelahian di antara anak buah kapal, sehingga sebuah kapal hancur dan sebagian penumpangnya tewas. Namun demikian, ekspedisi
ini akhirnya membuahkan hasil, yakni dengan keberhasilan mereka mendarat di pelabuhan Banten pada tanggal 23 Juni 1596.
Kedatangan kapal dagang Belanda itu disambut ramah oleh penduduk negeri dan seperti biasanya apabila ada kapal asing merapat, banyak penduduk pribumi yang naik ke kapal untuk menawarkan makanan ataupun dagangan lainnya. Hal ini disalah artikan oleh awak kapal, sehingga mereka bertindak kasar dan angkuh.
Walau pun demikian, penduduk negri yang terkenal ramah itu masih menawarkan lada yang memang mereka butuhkan.
Bertepatan dengan kedatangan kapal dagang Belanda itu, Banten sedang bersiap-siap untuk mengadakan penyerangan ke Palembang. Oleh karenanya Banten minta orang Belanda itu meminjamkan kapalnya guna pengangkutan prajurit dengan sewa yang memadai. Permintaan itu ditolak dengan alasan mereka datang ke Banten hanya untuk berdagang dan setelah selesai akan cepat kembali pulang takut ada kapal Portugis yang datang.
Tapi sampai pasukan Banten kembali dari Palembang, mereka masih tetap belum pergi, karena menunggu panen lada yang tidak lama lagi; waktu panen lada harga akan jauh lebih murah. Alasan demikian membuat Mangkubumi Jayanegara marah.
Lebih parah lagi, orang-orang Belanda itu pada suatu malam, menyeret dua buah kapal dari Jawa yang penuh dengan lada ke kapalnya dan memindahkan semua isinya. Dan dengan membawa muatan hasil rampokan itu mereka pergi sambil menembaki kota Banten.
Melihat kelakuan orang Belanda ini, rakyat Banten — yang baru saja kehilangan sultannya — sangat marah. Beberapa tentara Banten menyerbu ke kapal Belanda dan menangkap Houtman beserta delapan anak kapal. Dengan tebusan 45.000 gulden sebagai ganti kerugian, barulah de Houtman dilepaskan dan diusir dari Banten (2 Oktober 1596).
Pada tanggal 1 Mei 1598 rombongan baru pedagang Belanda berangkat dari Nederland menuju Indonesia dengan delapan buah kapal yang di pimpin oleh Jacob van Neck dibantu oleh van Waerwijk dan van Heemskerck. Pada tanggal 28 Nopember 1598 rombongan kedua ini tiba di Banten. Mereka diterima baik oleh rakyat Banten karena tingkah lakunya berbeda dengan pendahulunya. Pengalaman pertama yang merugikan itu rupanya dijadikan pelajaran.
Mereka pandai membawa diri dan sanggup menahan hati bila berhadapan dengan Mangkubumi, bahkan permohonan untuk menghadap Sultan pun dikabulkan.
Dengan membawa hadiah sebuah piala berkaki emas sebagai tanda persahabatan, van Neck menghadap kepada Sultan Abdul Mafakhir.
Mangkubumi Jayanagara membujuk van Neck untuk membantu tentara Banten dalam penyerangan ke Palembang — sebagai pembalasan atas kematian Sultan Muhammad — dengan imbalan lada sebanyak dua kapal penuh. Semula van Neck menyetujui usul Mangkubumi ini, tapi karena van Neck minta dibayar di muka satu kapal dan sisanya sesudahnya, sedangkan Mangkubumi menghendaki pembayaran sekaligus setelah penyerangan selesai, maka penyerangan ke Palembang tidak diteruskan.
Van Neck kembali ke Belanda dengan tiga kapal yang penuh muatan, sedangkan van Waerwijk dan van Heemskerck melanjutkan perjalanannya ke Maluku dengan lima buah kapal.
Dengan keberhasilan dua ekspedisi dagang ke Indonesia ini akhirnya berduyun-duyunlah orang-orang Belanda untuk berdagang. Tercatat pada tahun 1598 saja ada 22 kapal milik perorangan dan perikatan dagang dari Nederland menuju Indonesia. Bahkan tahun 1602 ada 65 kapal yang kembali dari kepulauan Indonesia dengan muatan penuh.
Suatu hari datanglah utusan khusus pemerintah Portugis dari Malaka dengan membawa hadiah uang 10.000 rial dan berbagai perhiasan yang bagus dan mahal.
Mereka minta supaya Banten memutuskan hubungan dagang dengan Belanda dan apabila orang-orang Belanda itu datang supaya kapal-kapalnya dirusak atau diusir.
Dikatakan pula, bahwa nanti akan datang armada Portugis yang akan mengadakan pembersihan terhadap kapal Belanda di perairan Banten dan negeri timur lainnya.
Jayanagara menerima semua hadiah tersebut, tapi, secara rahasia, diutusnya kurir untuk menyam-paikan berita itu kepada pedagang Belanda, supaya mereka segera meninggalkan Banten karena armada Portugis akan menyergap mereka.
Mendengar berita itu, kapal dagang Belanda pun segera meninggalkan Banten.
Tidak lama kemudian pada tahun 1598 sampailah angkatan laut Portugis dipimpim oleh Laurenco de Brito dari pangkalannya di Goa. Setelah dilihatnya tidak ada satu pun kapal Belanda yang berlabuh di Banten, marahlah mereka.
Mangkubumi dituduh telah berhianat dan bersekongkol dengan Belanda karena membocorkan rahasia, dan menuntut supaya Mangkubumi mengembalikan
semua hadiah yang sudah diberikan. Sudah tentu Mangkubumi tidak mau menuruti kemauan mereka, karena Portugis tidak ada hak dan wewenang untuk mengusir kapal-kapal asing yang sedang berlabuh di Banten.
Dengan kemarahan yang amat sangat, diserangnya pelabuhan Banten, barang-barang yang ada di sana dirampas dan diangkut ke kapalnya, bahkan lada kepunyaan pedagang dari Cina pun dirampasnya pula.
Melihat kejadian itu, tentara Banten, yang memang sudah dipersiapkan, menyerang kapal-kapal Portugis itu, sehingga tiga buah kapal Portugis dapat dirampas dan seorang laksamananya tewas; sedangkan yang lainnya melarikan diri, setelah meninggalkan barang hasil rampasannya.
Karena persaingan ketat antar sesama pedagang Belanda yang berlomba- lomba untuk mendapat rempah-rempah dari negeri timur, maka keuntungan mereka pun sedikit, dan bahkan rugi — dari data-data yang dikumpulkan, ternyata kerugiannya mencapai 5 laksa gulden. Melihat kenyataan ini maka pada tahun 1602 dibentuknya persatuan dagang yang kemudian diberi nama “Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dengan modal pertama 6,5 juta gulden dan berkedudukan di Amsterdam; dan tujuannya adalah mencari laba sebanyak- banyaknya, di samping untuk memperkuat kedudukan Belanda melawan kekuasaan Portugis dan Spanyol.
Berdirinya VOC ini dibantu oleh pemerintah kerajaan Belanda, sehingga VOC diberi hak-hak sebagai berikut :
1) Hak monopoli untuk berdagang di wilayah antara Amerika dan Afrika.
2) Dapat membentuk angkatan perang sendiri, mengadakan peperangan, mendirikan benteng dan bahkan menjajah.
3) Berhak untuk mengangkat pegawai sendiri.
4) Berhak untuk membuat peradilan sendiri (justisi).
5) Berhak mencetak dan mengedarkan uang sendiri.
Sebaliknya VOC mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi terhadap pemerintah kerajaan Belanda, yaitu :
1) Bertanggung jawab kepada Staten General (Dewan Perwakilan Rakyat Belanda).
2) Pada waktu perang harus membantu pemerintah dengan uang dan angkatan perang.
Pembentukan VOC di samping untuk menyatukan langkah dalam perdagangan dan modal, juga didorong dengan adanya saingan baru yang dianggapnya berat, yaitu
pedagang-pedagang Inggris yang telah membentuk satu kongsi dagang yang bernama EIC (East India Compagnie) pada tahun 1600.
Untuk memudahkan gerak dan siasat dagangnya, VOC membuka kantor-kantor cabang di Middelberg, Delft, Rotterdam, Hoorn dan Enkhuizen. Setelah dirasa kedudukan VOC sudah mapan, maka pada tahun 1610 dibuka pula kantor dagang untuk Hindia Timur atau Kepulauan Nusantara, dengan Pieter Both menjadi Gubernur Jendral yang dibantu Dewan Penasehat (Raad van Indie) yang anggotanya terdiri dari 5 orang.
Dicarinya daerah-daerah strategis untuk dijadikan pusat kegiatan di Hindia Timur ini. Alternatif pertama dipilihnya Johor, tetapi karena Johor terlalu dekat dengan Malaka yang duduki Portugis, maka dipilihnya alternatif kedua yakni Banten. Walaupun di Banten telah berdiri perwakilan dagang VOC sejak tahun 1603 — yang diketuai oleh Francois Wittert — tapi karena di Banten pun Mangkubumi Arya Ranamanggala selalu bertindak tegas dalam menghadapi orang-orang asing, pilihan ini dibatalkan. Akhirnya VOC menetapkan Jayakarta sebagai pusat kegiatannya, karena walau pun Jayakarta di bawah kuasa Banten, namun penguasa di sana tidak begitu kuat.
Maka pada tahun 1610 berangkatlah Pieter Both dari Amsterdam menuju Jayakarta bersama dengan 8 buah kapal besar. Pada bulan Nopember 1611 VOC berhasil mendirikan kantor dagang di Jayakarta. Untuk mengontrol tindakan VOC, Pangeran Jayakarta membolehkan perusahaan dagang Inggris yang tergabung dalam East India Company (EIC) membuat kantor dagangnya di Jayakarta, berhadapan dengan kantor dagang VOC.
2. Mangkubumi Arya Ranamanggala
Setelah Mangkubumi yang juga ayah tiri Sultan dibunuh orang, maka diangkatlah Pangeran Arya Ranamanggala menjadi penggantinya. Pangeran Arya Ranamanggala adalah putra Maulana Yusuf dari istri yang bukan permaisuri. Tentang tahun kelahirannya tidak jelas, tapi yang pasti dia lebih muda dari Maulana Muhammad.
Tindakan pertama yang dilakukannya sebagai Mangkubumi adalah menertibkan keamanan negara. Yaitu dengan memberikan hukuman tegas kepada pangeran atau ponggawa yang melakukan penyelewengan, bahkan untuk kelancaran pemerintahan Sultan Muda pun tidak diizinkan mempengaruhi urusan pemerintahan.
Hal ini berlangsung hingga Sultan mempunyai anak tiga.
Dengan cara demikian barulah kerajaan Banten dapat diselamatkan dari kehancuran dan perpecahan, baik dari rongrongan di dalam maupun desakan-
desakan dari negara asing. Peraturan-peraturan atau pun keputusan-keputusan Mangkubumi terdahulu diperbaharuinya.
Peraturan yang berisi tentang keharusan pedagang Cina untuk menjual lada hanya kepada Belanda dicabutnya, kemudian dibuatlah peraturan yang isinya menyatakan bahwa siapa pun dapat membeli atau menjual lada kepada siapa saja dengan harga yang disetujui bersama.
Dalam menghadapi pedagang-pedagang asing Eropa, Mangkubumi tidak bertindak “berat sebelah”, tingkah laku mereka yang kadang-kadang menyinggung perasaan, terutama pedagang-pedagang dari Belanda, akan ia tanggapi dengan kepala dingin. Ini dapat dibuktikan sewaktu pedagang Belanda mengajukan perjanjian pada tahun 1609. Naskah perjanjian yang dibuat Belanda itu diajukan kepada Mangkubumi yang isinya adalah:
1. Belanda bersedia membantu Banten apabila diserang oleh negara lain, tapi kalau Banten akan menyerang negara lain Belanda tidak akan membantu.
2. Belanda dibolehkan berniaga dengan rakyat Banten. Dan apabila ada orang Belanda yang ingin menetap di Banten dia tidak dikenakan pajak.
3. Bangsa Eropa selain bangsa Belanda tidak dibolehkan tinggal di Banten.
Perjanjian yang berat sebelah dan sangat menyinggung kewibawaan negara itu tidak ditolaknya dengan kasar, tapi diterimanya dengan senyum biar pun isinya tidak diterima. Bahkan tidak lama kemudian dikeluarkan peraturan tentang kenaikan pajak ekspor untuk lada dan ketentuan pajak import untuk barang-barang yang tadinya belum terkena peraturan pajak.
Dalam hal perpajakan di Banten pada tahun 1609, secara terperinci dicatat oleh pegawai Belanda dimana untuk membeli 8440 karung lada dikenakan pajak sebagai berikut :
Pajak kerajaan sebesar 8 % dari harga beli: (4 real per karung) f. 6.346,00
Ruba-ruba untuk raja, dengan ketentuan: 500 real untuk 6000 karung f 1.625,00
Ruba-ruba untuk Syahbandar 250 real untuk 6000 karung f 625,00
Beli-belian (suatu pajak khusus) 666 real tiap satu karung f 2.202,00
Panggoro, pajak khusus lain : 11,50% cash tiap satu karung f 14,00
Pajak untuk juru tulis dihitung per 100 karung f 198,00
Pajak untu juru timbang per 100 karung f 198,00
Biaya mengangkut lada ke rumah timbang f 98,00Jumlah f 11.533,00
Jumlah f. 11.533,00 ini harus dibayar sebagai pajak ekspor barang seharga f.
33.760,00. Kain yang dimasukkan Belanda dikenakan pajak sebesar 3 % dari harga jual, bahkan untuk barang ekspor yang bukan hasil dalam negeri dikenakan pajak lebih besar.
Ternyata, pajak yang demikian besar itu hanya berlaku untuk orang Belanda.
Karena dalam kenyatannya pedagang dari Cina hanya dikenakan pajak 5% dari harga beli dengan syarat mereka harus membawa hadiah berupa barang porselen Cina.
Dengan demikian tidaklah heran apabila penulis-penulis Belanda menceritakan Mangkubumi Arya Rana-manggala ini adalah orang yang paling jahat, curang dan rakus.
Peraturan ketat semacam ini dilakukan Mangkubumi dengan maksud supaya pedagang-pedagang Belanda tidak lagi berniaga di Banten, karena setelah diperhatikan, mereka bukan saja datang semata-mata untuk berdagang, tapi juga berusaha menanamkan pengaruh dan mencampuri politik negara. Karena faktor Arya Ranamanggala ini pulalah maka VOC tidak memilih Banten sebagai pusat kegiatan dagangnya, tetapi dipilihnya Jayakarta.
Yang berkuasa di Jayakarta pada saat itu ialah Pangeran Jayakarta atau disebut juga Pangeran Wijayakrama, yang memerintah atas nama Kesultanan Banten. Pangeran Jayakarta ingin supaya pelabuhan Jayakarta ramai seperti Banten, sehingga tawaran L‘Hermito untuk menjadikan Jayakarta sebagai pusat perdagangan Belanda diterima dengan senang hati.
Maka pada tanggal 10-13 Nopember 1610, ditandatanganilah perjanjian antara VOC, yang diwakili oleh L‘Hermito dengan Pangeran Jayakarta. Perjanjian tersebut kemudian disyahkan oleh Gubernur Jenderal Pieter Both pada bulan Januari 1611. Isi perjanjian antara lain adalah sebagai berikut:
Orang Belanda dibolehkan membeli tanah di Jayakarta seluas 50 depa dengan harga 1.200 real.
1. Barang-barang yang dibeli orang Belanda dikenakan pajak, kecuali barang tersebut dibeli dari pedagang Cina.
2. Bahan makanan kebutuhan sehari-hari tidak dikenakan pajak.
3. Belanda akan membantu Jayakarta apabila diserang musuh, tapi tidak kalau Jayakarta yang memulai penyerangan.
4. Orang Portugis dan Spanyol tidak dibolehkan berdagang di Jayakarta.
5. Belanda dibolehkan mengambil kayu untuk bahan pembuat kapal di pulau-pulau di depan teluk Jakarta.
6. Pegawai-pegawai yang lari dari kedua belah pihak akan dikembalikan.
7. Pangeran bersedia menagih piutang orang Belanda apabila dimintakan.
8. Kedua belah pihak akan menghukum orang masing-masing apabila mereka bersalah.
Pada bulan Januari 1611, Pieter Both membujuk Pangeran Jayakarta untuk mengizinkan VOC membuat benteng, tetapi permintaan itu dengan tegas ditolak, bahkan Pangeran menginginkan bahan makanan yang dibeli VOC pun harus dikenakan pajak. Terpaksa keinginan itu dituruti Pieter Both.
Karena izin mendirikan benteng tidak diperoleh, maka VOC mendirikanlah sebuah gedung batu yang digunakan sebagai kantor dan gudang di sebelah timur sungai Ciliwung .
Dibukanya hubungan dagang dengan Belanda ini membuat semakin ramainya pelabuhan Jayakarta. Hubungan intim ini membuat gusar Mangkubumi Ranamanggala. Khawatir akan niat baik Belanda terhadap Jayakarta yang nanti akhirnya akan merembet ke daerah Banten lainnya.
Maka Mangkubumi mengutus Nyai Emban Rangkum, seorang yang dianggap berwibawa bagi Pangeran Jayakarta, untuk menghadap Pangeran Jayakarta dan memberi peringatan agar hati-hati dengan orang-orang Belanda.
Peringatan ini bukannya diterima baik oleh Pangeran Jayakarta tapi bahkan membuat curiga dan prasangka buruk terhadap Mangkubumi. Hal inilah yang membuat hubungan antara Jayakarta dan Banten agak sedikit renggang, bahkan kadang-kadang seperti bermusuhan.
Situasi panas antara Jayakarta dan Banten ini sengaja diperuncing lagi oleh Jan Pieterzoon Coen, presiden direktur kantor dagang Belanda di Banten dan Jayakarta yang baru, dengan memindahkan sebagian besar kegiatan dagang Belanda dari Banten ke Jayakarta, sehingga perdagangan di Banten sedikit menurun — walau pun, untuk menjaga membesarnya pengaruh Inggris di Banten, VOC masih tetap membuka kantor perwakilannya di Banten.
Pada tahun 1618, datanglah di Banten kapal berbendera Perancis tetapi awak kapal dan bahkan nahodanya orang Belanda, padahal ada larangan keras dari pemerintah Belanda, bahwa bagi orang Belanda yang bekerja di kapal asing tidak
boleh membocorkan rahasia peta jalan menuju ke negara timur, tapi mungkin karena pembayaran yang tinggi, maka ada juga yang tidak mentaati.
Semua awak kapal Perancis itu ditawan oleh Pieterzoon Coen — yang pada tahun itu (bulan Juni 1618) ia diangkat menjadi Gubernur Jendral VOC untuk Hindia Timur, menggantikan Pieter Both. Tetapi dengan pertolongan orang Inggris, di antara mereka itu ada yang dapat melarikan diri dan minta perlindungan kepada Mangkubumi Ranamanggala.
Jan Pieterszoon Coen mendesak Mangkubumi supaya menye-rahkan orang Belanda yang melarikan diri itu, tapi sebaliknya Mangkubumi pun mendesak supaya melepaskan kapal Perancis dan awaknya, karena Belanda tidak berhak menangkap kapal asing di pelabuhan Banten. Coen bukannya mengindahkan kehendak Mangkubumi, bahkan dibawanya kapal Perancis itu ke Jayakarta. Atas perbuatan Belanda itu Mangkubumi tidak dapat berbuat apa-apa karena memang Banten tidak ada kekuatan untuk menggempur kompeni Belanda.
Makin meruncinglah permusuhan antara Banten dan VOC. Untuk memperlunak sikap keras Mangkubumi dan juga mengacaukan perekonomian Banten, kompeni mengadakan blokade ekonomi; dimana VOC tidak lagi membeli lada dari Banten, bahkan, kapal-kapal asing pun dilarang berlabuh di Banten.
Tindakan VOC ini sangat merugikan Banten, sehingga harga lada di pasar Banten menurun tajam.
Suatu hari datanglah kapal jung dari negeri Cina yang tujuannya hendak membeli lada di Banten, dan dengan mudah terjadilah transaksi jual beli dengan pedagang Banten. Kejadian ini terdengar oleh JP. Coen, sehingga dengan marah diancamnya pedagang Cina itu agar segera mengembalikan lada yang sudah dibelinya, dan apabila tidak maka kapalnya akan ditenggelamkan di tengah laut oleh Belanda. Mangkubumi memprotes tindakan rendah Belanda itu, tapi kembali beliau tidak bisa berbuat apa-apa.
Empat bulan embargo VOC atas Banten ini berlang-sung, sehingga pedagang-pedagang asing tidak dapat membeli lada dari Banten karena takut dengan ancaman Belanda, akibatnya pelabuhan Banten sepi dari kapal-kapal dagang.
Sebaliknya pelabuhan Jayakarta semakin ramai. Perdagangan VOC semakin maju, sehingga untuk menampung barang dagangannya dibutuhkan tambahan gudang yang lebih luas.
Maka dibangunnya lagi sebuah gudang baru di tepi sungai Ciliwung berhadapan dengan Nasau, gudang yang pertama. Gudang ini diberi nama Mauritius sesuai dengan nama raja Belanda, Prins Maurits. Selain itu dibuatnya pula sebuah rumah sakit dan sebuah kubu yang dikawal meriam dengan pasukan yang kuat di pulau Onrust di Teluk Jayakarta. Bahkan pada tanggal 22 Oktober 1618, VOC juga mulai membangun sebuah benteng kuat yang seluruh penjurunya dijaga meriam- meriam besar.
Pembangunan benteng ini ditentang keras oleh Pangeran Jayakarta, tetapi Belanda terus membangunnya juga. Terpukullah rasa harga diri Pangeran, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak ada kemampuan untuk mencegah niat Belanda itu. Maka sadarlah akan bahaya orang Belanda atas Banten dan Jayakarta khususnya. Tapi diingatnya pula akan ketergantungan Jayakarta dengan adanya pedagang Belanda itu, apalagi pangeran dan pejabat-pejabat tingginya sudah sering mendapatkan hadiah-hadiah dari orang Belanda.
Khawatir dengan tindakan orang Belanda selanjutnya dan lemahnya kekuatan tentara Jayakarta, maka diambil kebijaksanaan bahwa semua orang asing yang tinggal di Jayakarta dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan. Dengan keizinan ini orang Inggris segera membuat benteng di tepi barat sungai Ciliwung, berhadapan dengan benteng Belanda. Demikian juga dengan pedagang-pedagang Cina.
Melihat pembangunan benteng Inggris itu Jan Piterzoon Coen mengajukan protes. Karena protesnya tidak ditanggapi, maka ia memerintahkan tentara Belanda menembak hancur benteng yang sedang dibuat Inggris. Orang Inggris tidak mampu melawan serangan Belanda itu karena kekuatannya jauh lebih kecil dibanding dengan tentara Belanda. Demikian juga dengan pedagang-pedagang Cina.
Pada tanggal 23 Desember 1618 berlabuhlah di Jayakarta 11 buah kapal Inggris. Melihat kenyataan bahwa benteng yang baru dibangun Inggris itu telah dihancurkan Belanda, mereka pun menyerang benteng Belanda dari laut, dan Belanda pun membalasnya dengan mengerahkan 7 buah kapal perangnya. Maka terjadilah pertempuran hebat di Teluk Jayakarta antara dua kekuatan yang seimbang.
Tetapi akhirnya Belanda terdesak setelah Inggris mendatangkan lagi 3 buah kapal yang lain. JP. Coen memerintahkan sebagian pasukannya mundur dan melarikan diri ke Ambon untuk mencari bantuan. Hal ini terjadi pada tanggal 31 Desember 1618.
Sedangkan di benteng kompeni sepeninggal JP. Coen, pimpinan benteng dipercayakan kepada Pieter van den Broecke, disertai 250 orang termasuk 25 orang
Jepang dan 70 orang budak belian, mereka diperintahkan untuk tetap bertahan di dalam benteng.
Sementara itu di keraton Surosowan, mendengar adanya pertempuran di Teluk Jayakarta segera diadakan pertemuan pembesar-pembesar keraton untuk segera mengirimkan bantuan ke Jayakarta guna menghancurkan benteng Belanda.
Jayakarta adalah daerah kuasa Banten, sehingga kehancuran Belanda sangat diharapkan Mangkubumi, meski pun tidak mengharapkan Inggris nantinya menggantikan Belanda. Maka berangkatlah 4000 orang tentara Banten, yang kemudian ditempatkan di Muara Angke sambil menunggu perintah selanjutnya.
Benteng Belanda telah dikepung dari tiga jurusan, di Teluk Jayakarta Inggris menempatkan 5 buah kapalnya, sebelah barat oleh pasukan Banten sedangkan di selatan oleh tentara Jayakarta. Dapat dipastikan bila ketiga kekuatan ini menyerang secara bersamaan, benteng Belanda tanpa kesulitan akan mudah direbut.
Tapi tidak demikian keadaannya. Inggris ingin agar benteng Belanda itu direbut dan dikuasai sebagai ganti benteng mereka yang dihancurkan Belanda.
Sedangkan Pangeran Jayakarta dan orang-orang Banten menginginkan benteng Belanda tersebut dihancurkan dan semua penghuninya ditahan, karena, secara ekonomis, Jayakarta dan Banten masih membutuhkan kehadiran pedagang Belanda itu. Tujuan Pangeran Jayakarta dan Pangeran Ranamanggala pun berbeda.
Pangeran Jayakarta menginginkan agar Pangeran Ranamanggala jangan terlalu dekat dengan pihak Belanda, sebab hal itu akan merugikan kedudukan Jayakarta. Sedangkan Pangeran Ranamanggala berprinsip bahwa Jayakarta adalah daerah taklukan Banten sehingga semua tindakan Jayakarta, apalagi tentang hubungan luar negeri, harus atas izin Banten. Dari perbedaan tujuan ini, akhirnya tidak ada satu pasukan pun yang mendahului menyerang benteng.
Setelah beberapa hari benteng Belanda itu dikepung, Pangeran Jayakarta memerintahkan agar perang ditangguhkan dan diajukan perdamaian. Maka pada tanggal 19 Januari 1619 terjadi kesepakatan antara Pangeran Jayakarta dengan Belanda, dimana Belanda diharuskan membayar kerugian 6000 real kepada Pangeran Jayakarta, sedangkan komandan pasukan Belanda yang ada di benteng, Pieter van den Broecke, ditahan sebagai jaminan.
Pada waktu yang hampir bersamaan diadakan pula perjanjian antara Inggris dan Pangeran Jayakarta yang berisi:
Inggris akan membayar kerugian perang kepada Pangeran Jayakarta sebanyak 2000 real.
Orang Belanda dilarang berniaga di Jayakarta
Inggris dan Jayakarta akan bersama-sama menyerang benteng Belanda. Kemudian benteng yang telah direbut itu akan diserahkan kepada Pangeran Jayakarta. Sedangkan harta bendanya dibagi dua antara Inggris dan Pangeran Jayakarta.
Dengan adanya perjanjian antara Pangeran Jayakarta dan pasukan Inggris ini pengepungan benteng diperketat. Diserukan kepada orang-orang Belanda agar menyerah secara baik-baik — yang nanti mereka akan dikirim ke Koromandel atas jaminan Inggris — atau benteng akan direbut secara paksa. Melihat banyaknya pasukan yang mengepung, maka komandan pasukan Belanda menyatakan diri akan menyerah.
Diaturlah tatacara pengambilalihan benteng dan pengamanan tawanan. Disepakati bahwa perjalanan orang Belanda ke Koromandel akan dikawal ketat oleh pasukan Inggris, supaya jangan diganggu tentara Banten dan Jayakarta. Rencana ini telah disetujui baik oleh Belanda, Inggris, maupun Jayakarta.
Tiba-tiba ketika maksud tersebut akan dilaksanakan, datang sanggahan dari Banten.
Pangeran Arya Ranamanggala tetap berprinsip Jayakarta adalah daerah kekuasaan Banten, oleh karenanya tidak ada hak untuk mengadakan perjanjian dengan orang asing tanpa persetujuan Banten.
Di samping itu, Ranamanggala berpendapat bahwa orang Belanda dan orang Inggris sama saja, mereka ingin mengeruk kekayaan negara tanpa memperdulikan keadaan penduduk asli. Bila dalam keadaan lemah, mereka bersedia mentaati perjanjian, tapi bila sudah kuat dirobeklah perjanjian tersebut. Penghancuran benteng Belanda mutlak harus dilaksanakan, dan semua tawanan harus diserahkan serta menjadi wewenang Banten.
Demikian juga dengan pihak Inggris, mereka harus segera pergi dari Jayakarta. Dan apabila mereka tidak mau, maka pemerintah Banten akan menghancurkan semua kapal dan loji Inggris yang ada di Banten.
Utusan Pangeran Ranamanggala, yaitu Tumenggung Pangeran Upapatih, beserta 4000 orang pasukannya mengepung orang-orang Inggris, sehingga mereka kembali ke pangkalannya di Banten. Orang-orang Belanda yang ditawan Pangeran Jayakarta diserahkan kepada Pangeran Upapatih. Dan atas perintah Mangkubumi Ranamanggala, Pangeran Jayakarta dipecat dari jabatannya, kemudian bersama Tumenggung dan lima puluh pengawalnya dikirim ke Tanahara untuk menjalani hukuman. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 15 Pebruari 1619.
Selanjutnya, Banten mendesak agar Belanda menye-rahkan bentengnya untuk kemudian dihancurkan. Tetapi setelah dilihatnya tentara Banten tidak begitu kuat, pasukan