• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pest Tropical Journal, Vol. 1 No. 1, Juli 2003 ISSN Key words: Antagonist fungi, control, Sclerotium rolfsiisacc,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pest Tropical Journal, Vol. 1 No. 1, Juli 2003 ISSN Key words: Antagonist fungi, control, Sclerotium rolfsiisacc,"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 1693-2854

Penggunaan Beberapa Jamur Antagonis Untuk Menekan

Pertumbuhan Jamur Sclerotium Rolfsii Sacc. Penyebab Penyakit

Rebah Kecambah Bibit Cabe

Ade Yulfida dan Rustam

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau

ABSTRACT

Using of some antagonists fungi to control Sclerotium rolfsii Sacc caused damping-off of pepper, Ade Yulfida and Rustam. The experiment was conducted at Laboratorium of As-sessment Institute of Agricultural Technology and Screen House of Food Crop Service of Riau Province, in March to June 2003. Two stage of assessments were in laboratory and screen house. The experiment consisted of four treatments with five replications in com-pletely randomize design. T h e four treatments were A=Trichoderma harzianum, B =

Tricfioderma coningii, C = Gliocladium sp and D = control (Sclerotium rolfsii S a c c ) . The result showed that antagonists fungi used were effectively control damping-off of pepper caused Sclerotium rolfsiiSacc. Using fungus of Trichodenna harzianum\NasthebesWteaLl-ment in controlling damping-off pepper.

Key words: Antagonist fungi, control, Sclerotium rolfsiiSacc, and pepper

PENDAHULUAN

Cabe (Capsicum annuumL) merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempu-nyai nilai ekonomi tinggi dan digemari masya-rakat. Buah yang masih berwarna hijau banyak digunakan sebagai sayur dan setelah menjadi merah digunakan sebagai bumbu masakan, acar, sambal dan macam-macam saus. (Purwati, J a y a dan Duriat, 2000).

Didaerah tropik seperti Indonesia, tanaman cabe tergolong tanaman yang c u -kup toleran terhadap berbagai kondisi iing-kungan sehingga dapat diusahakan mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.

Permintaan terhadap cabe terus me-ningkat setiap tahunnya sejalan dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk.

Luas areal pertanaman cabe di Indonesia mencapai 162.000 h a dengan rata-rata produktif itas nasional 4,3 ton/ha (Direktorat Bina Program Tanaman Pangan, 1994). Di Riau, luas pertanaman cabe pada tahun 2000 telah mencapai 3.364 ha dengan rata-rata produksi 1,25 ton/ha (Bappeda Propinsi Riau, 2001). Rendahnya produktifitas cabe di Riau disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adanya serangan penyakit.

Penyakit rebah kecambah adalah salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman di persemaian. Penyakit ini disebabkan oleh b e b e r a p a jamur patogen tanah seperti Rhizoctonia so/an/Kuhn, Ptiytium sp, Scle-rotium rolfsiiSacc. dan Fusariumsp (Agrios, 1988; S e m a n g u n , 1989). P a d a tanaman

(2)

Jamur Antagonis dalam Menekan Pertumbuhan Sclerotium Rolfsii

cabe, penyakit rebah kecambah ini sering disebabkan oleh jamur Sclerotium rolfsii Sacc. (Djafaruddin, 1984). Serangan jamur ini dapat menurunkan hasil sampai 4 3 % pada tanaman cabe (Jenkins and Averre, 1986).

Usaha-usaha untuk mengendalikan penyakit rebah kecambah ini telah banyak dilakukan, diantaranya dengan penggunaan fungisida (Sinaga, 1989), kulturteknis, rotasi tanaman dan perlakuan benih (Djafaruddin, 1984). Namun hasilnya kurang memuaskan, bahkan penggunaan fungisida telah menim-bulkan permasalahan baru yang merugikan balk terhadap manusia, hewan ternak, ling-kungan, maupuntertiadap tanaman itu sendiri (Sinaga, 1989).

Pengendalian hayati dengan m e n g -gunakan musuh-musuh alami yang bersifat antagonis, merupakan altematif pengendalian yang cukup aman. Prinsip pengendalian ini tidak memusnahkan patogen, tetapi menye-babkan patogen berada dalam keseimbangan biologi (Sitepu, 1987; C a m p b e l l , 1989). Selanjutnya menurut Purdiantoro (1993) pengendalian ini secara ekologi lebih me-nguntungkan karena akan mengarah pada keseimbangan kehidupan komponen penyu-sun ekosistem dalam tanah.

Tricfioderma spp dan Gliocladium sp merupakan mikroba potensial untuk menekan perkembangan Sclerotium rolfsiiSacc. pada persemaian cabe (Anita, 1992). Lewis dan Papavizas (1984) telah menguji kemampuan 4 strain dari Tricfioderma fiarzianum untuk menekan serangan Sclerotium rolfsii pada tanaman buncis di rumah kaca dan ternyata jamur antagonis ini dapat menekan 30-50% rebah kecambah dan 36-74% hawar pada tanaman buncis. Disamping sebagai agen pelindung tanaman, Trichiodeima spp juga memiliki kemampuan memicu pertumbuhan t a n a m a n s a y u r a n ( A l t o m a r e , N o r v e l l , Bjorkman, H a r m a n , 1999). S e l a n j u t n y a Nurbailis (1992) juga melaporkan bahwa jamur Trichodermaspp dan Gliocladiumsp mampu menghambat pertumbuhan Sclerotium rolfsii Sacc pada tanaman kacang tanah.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh p e n g g u n a a n b e b e r a p a jamur antagonis dan mendapatkan jamur antagonis yang lebih efektif dalam menekan pertum-buhan jamur Sclerotium rolfsiiSacc penyebab penyakit rebah kecambah pada bibit cabe. "

BAHANDANMETODE

Penelitian ini dilaksanakan di Labora-torium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau dan di Rumah Kawat (Screen House) D i n a s T a n a m a n P a n g a n Propinsi R i a u . Penelitian dilaksanakan selama4 bulan mulai bulan Maret 2003 sampai dengan Juni 2003.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini a d a l a h : bibit cabe varietas lokal dengan persentase d a y a kecambah 94 %, pupuk kandang, tanah, tepung jagung, pasir, medium P D A , alkohol 70%, kantong plastik tahan panas (ukuran 15 x 28 cm), cincin pipa paralon, biakan jamur Sclerotium rolfsii, Tricfioderma koningii, Tricfioderma tiarzianum dan Gliocladiumsp.

A l a t - a l a t y a n g d i g u n a k a n d a l a m penelitian ini antara lain: mikroskop, kaca objek, kaca penutup, gelas piala, gelas ukur, cawan petri, eriemeyer, lampu spritus, jarum o s e , tabung reaksi, pisau isolasi, batang pengaduk, bak kecambah, ent-case, auto-clove, oven dan alat-alat tulis.

Penelitian menggunakan Rancangan A c a k L e n g k a p ( R A L ) dengan d u a tahap pengujian, yaitu di lab>oratorium dan di rumah kawat. Pengujian di laboratorium dimak-sudkan untuk mengetahui penekanan pertum-buhan jamur Sclerotium rolfsii S a c c pada cawan petri berisi medium P D A . Pengujian dilakukan dengan cara menumbuhkan jamur patogen pada satu belahan cawan petri dan jamur antagonis di belahan lainnya pada cawan yang s a m a . Sedangkan pengujian di rumah kawat dimaksudkan untuk mengetahui penekanan terhadap penyakit rebah kecam-bah pada bibit cabe dalam bak perkecam-bahan yang berisi tanah steril dan benih cabe sebanyak 100 bibit per bak perkecambahan. Penelitian terdiri dari 4 perlakuan dan 5

(3)

ulangan. Perlakuan tersebut adalah penggu-naan beberapa jamur antagonis:

A = Trichoderma koningii B = Trichoderma harzianum C = Gliocladium sp

D = Sclerotium rolfsii (kontrol) Peubah yang diamati meliputi:

1. Persentase pertumbuhan jamur patogen (di laboratorium), dihitung menggunakan r u m u s :

P = t x 1 0 0 % c

Keterangan:

P = persentase pertumbuhan jamur patogen akibat perlakuan

t = luas z o n a pertumbuhan jamur patogen yang diuji

c = luas z o n a pertumbuhan jamur patogen kontrol

2. Persentase daya kecambah benih, dihitung menggunakan r u m u s :

D = b X 100% B

Keterangan:

D - persentase daya kecambah

b = jumlah benih yang berkecambah nor-mal

B = jumlah benih yang dikecambahkan 3. Persentase serangan sebelum muncul ke atas permukaan tanah, dihitung menggu-nakan r u m u s :

S ^ ( A - B X 100%) - (100% - D) A

Keterangan:

S - P e r s e n t a s e bibit terserang sebelum muncul ke atas permukaan tanah A - Jumlah benih yang disemaikan B = Jumlah bibit yang muncul D = Persentase d a y a kecambah bibit 4. Persentase serangan setelah muncul ke atas permukaan tanah, dihitung

menggu-nakan rumus:

K = n X 100% N

Keterangan:

K = Persentase bibit yang terserang setelah muncul ke atas permukaan tanah n = Jumlah bibit yang terserang

N = Jumlah bibit yang tumbuh dan diamati 5. Saat timbulnya gejala pertama

6. Persentase bibit tumbuh sehat, dihitung menggunakan rumus:

H = 100 - P - K - D X 100% N

Keterangan:

H = persentase bibit tumbuh sehat P = jumlah pre emergence damping-off K = jumlah post emergence damping-off D = persentase benih tidak Ijerkecambah (di

latwratorium)

N = jumlah benih disemaikan 7. Berat basah dan berat kering bibit 8. Tinggi bibit.

Data hasil pengamatan dianalisa secara statistik dengan sidik ragam dan uji lanjutan Duncan's New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf nyata 5%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. P e r s e n t a s e p e r t u m b u h a n jamur patogen

Perlakuan dengan Trichoderma koni-ngii 6an Gliocladiumsp berbeda tidak nyata sesamanya, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan T. harzianum 6ar\ Sclerotium rolfsii /kontrol (Tabel 1). Persentase pertumbuhan jamur patogen terendah diperlihatkan oleh perlakuan Trichoderma harzianum yaitu sebesar 31,52 %, disusul oleh perlakuan

Trichoderma koningii, Gliocladium s p . , p e r l a k u a n Trichoderma koningii d a n perlakuan Sclerotium rolfsii (kontrol)

(4)

masing-Jamur Antagonis dalam Menekan Pertumbuhan Sclerotium Rolfsii

Tabel 1. Persentase pertumbuhan Sclerotium ra/fe//pada pengujian dalam cawan petri

Jamur Antagonis Persentase pertumbuhan

Sclerotium rolfsii (kontrol) 100 a Trichoderma koningii 53,19 b

Gliocladium sp 47,06 b Tricfioderma tiarzianum 31,52 c

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf nyata 5%.

masing sebesar 47,06 %, 53,19%, dan 100 %. Semakin rendah persentase pertumbuhan jamur patogen berarti semakin tinggi d a y a hambat jamur antagonis yang dipergunakan. Dengan kata lain, jamur Tricfioderma harzia-num mempunyai daya antagonis paling tinggi dibanding jamur antagonis lainnya.

Hasil pengujian pada cawan petri yang berisi media P D A memperlihatkan bahwa pemberian jamur antagonis dapat menekan/ menghambat pertumbuhan koloni jamur Scle-rotium rolfsii (Tabel 1). Hal ini dikarenakan jamur antagonis bersifat antibiosis, kompe-tisi, dan hiperparasit atau predator terhadap jamur patogen.

Dari Tabel 1 terlihat bahwa dengan pem-berian berbagai macam jamur antagonis yang berbeda memberikan pertumbuhan koloni jamur patogen yang berbeda pula. Hal ini diduga masing-masing s p e s i e s jamur antagonis menghasilkan toksin yang berbeda dan mempunyai kemampuan hiperparasit yang berbeda pula. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Elad, Chet, and Katan (1986) bahwa spesies-spesies dari Trichoderma seperti Trichoderma harzianum d a n

Trichoderma hamatum mampu bertindak sebagai hiperparasit dan mempunyai sifat antagonisme yang tinggi terhadap jamur-jamur patogen tanah, seperti jamur-jamur Sclero-tium rolfsii, Rhizoctonia solani, dan PhySclero-tium sp. Menurut Rossiana (1992) jamur Gliocla-dium wrenstjersifat antibiosis dan mikoparasit

dengan menghasilkan beberapa macam toksin, yaitu gliotoxin dan gliovirin.

2. Saat timbulnya gejala pertama, per-sentase bibit terserang sebelum dan setelah muncul ke atas permukaan tanah (pre and post emergence damp-ing-off)

Hasil pengamatan terhadap saat timbul-nya gejala pertama, persentase bibit terse-rang sebelum dan setelah muncul ke atas permukaan tanah (pre and post emergence damping-off) disajikan pada Tabel 2.

Persentase bibit terserang sebelum muncul ke atas permukaan tanah (pre emer-gence damping-off) pada perlakuan Gliocla-dium sp dan Trichoderma koningii berbeda tidak nyata sesamanya, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan Trichoderma harzianum dan Sclerotium rolfsii. Kemudian perlakuan

Trichoderma harzianum 6ar\ Sclerotium rolfsii berbeda nyata sesamanya.

Sedangkan pada pengamatan terhadap saat timbulnya gejala pertama dan persen-tase bibit terserang setelah muncul ke atas permukaan tanah (post emergence damping-off) terlihat bahwa perlakuan Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum dan Gliocladium sp tidak berbeda nyata sesa-manya tetapi berbeda nyata dengan perla-kuan Sclerotium rolfsii.

Persentase bibit terserang sebelum muncul ke atas permukaan tanah (pre

(5)

Tabel 2. Saat timbulnya gejala pertama (hari), bibit terserang sebelum dan setelah muncul ke atas permukaan tanah (pre and post emergence damping-off) (%)

Jamur Antagonis Pre emergence damping-off Saat timbulnya gejala pertama Post emergence damping-off Trichoderma l<oningii 3,6 b 9,6 a 1,60 b Trichoderma harzianum 2,0 c 1 0 a 1,12b Gliocladium sp 4,0 b 1 0 a 1,15b

Sclerotium rolfsii (kontrol) 10 a 8 b 4,95 a

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti olefi huruf kecil yang sarra adalah berbeda tidak nyata menurut D N M R T pada taraf nyata 5%.

fiience damping-off) terkecil diperlihatkan oleh perlakuan Tricfioderma fiarzianum yaitu s e b s a r 2 , 0 %. Kemudian disusul oleh perla-kuan Tricfioderma koningii, Gliocladium sp dan Sclerotium ro/fe//berturut-turut sebesar 3,6 %, 4,0 %, dan 10 %. Saat timbulnya gejala pertama tercepat ditunjukkan oleh perlakuan Sclerotium rolfsii yaitu p a d a hari ke 8, kemudian disusul oleh perlakuan Trictiodemia koningii, Gliocladium sp dan Tricfioderma tiarzianum, berturut-turut secara rata-rata pada hari ke 9,6; 10 dan 10. Persentase bibit terserang setelah muncul ke atas permukaan tanah (post emergence damping-off) terbesar ditunjukkan oleh perlakuan Sclerotium rolfsii yaitu sebesar 4,95 %, kemudian disusul oleh perlakuan Trictiodemia koningii, Gliocladium sp dan Trictiodemia harzianum, berturut-turut sebesar 1,60 %, 1,15 % dan 1,12 %.

Berbedanya saat timbulnya gejala per-tama dan persentase bibit terserang sebelum ataupun setelah muncul ke atas permukaan tanah dikarenakan pemberian jamur anta-gonis yang berbeda memberikan penekanan yang yang berbeda pula terhadap Sclerotium rolfsii, sehingga terjadi variasi dalam perlin-dungan bibit dari serangan patogen. Menurut Sugiharso dan Suseno (1982) patogen tular tanah tidak mampu bersaing dalam pere-butan ruang (tempat) dan makanan dengan antagonis yang bersifat saprofit, sehingga m e n g u r a n g i p e r t u m b u h a n patogen dan mempengaruhi timbulnya gejala. Kemudian

hasil penelitian O e z e r (1987) menunjukkan bahwa proses antagonisme dimulai seminggu setelah introduksi jamur antagonis, s e -dangkan pengaruh nyata baru terlihat 2 minggu kemudian.

Dari Tabel 2 diketahui bahwa penggu-naan Trichodenva harzianum lebih efektif dibandingkan jamur antagonis lainnya dalam menekan saat timbulnya gejala pertama dan persentase bibit terserang s e b e l u m atau setelah muncul ke atas permukaan tanah. Hal ini diduga dikarenakan Trichoderma harzianum dapat memainkan peran meka-nisme antagonisnya dengan lebih efektif. Mekanisme tersebut dapat berupa antibiosis, lysis, persaingan dan parasistime (Lewis and Papavizas, 1984).

3. Persentase bibit tumbuli sehiat

Persentase bibit tumbuh sehat pada perlakuan Trichoderma koningii berbeda nyata dengan perlakuan Trichodenva harzia-num dan Sclerotium rolfsii tetapi tidak berbe-da nyata dengan perlakuan Gliocladium sp. Perlakuan Trichodemna harzianum dan Scle-rotium rolfsii berbeda nyata sesamnya (Tabel 3). Persentase bibit tumbuh sehat tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan Trichoderma harzianumi yaWu sebesar 79 %, kemudian disusul oleh perlakuan Trichoderma koningii) dan Gliocladium sp yaitu sebesar 77 %, serta Sclerotium rolfsii sebesar 68 %.

(6)

Jamuf Antagonis dalam Menekan Pertumbuhan Sclerotium Rolfsii

Tabel 3. Persentase bibit tumbuh sehat (%)

Jamur Antagonis Persentase bibit tumbuh sehat

Trichoderma harzianum 79 a Trichoderma koningii 77 b Gliocladium sp 77 b Sclerotium rolfsii (kontrol) 68 c

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut DNMRT pada taraf nyata 5%.

Seluruh perlakuan menunjukkan per-sentase bibit cabe yang tumbuh sehat cukup tinggi kecuali perlakuan Sclerotium rolfsii. Persentase bibit tumbuh sehat tertinggi adalah perlakuan B. Menurut Wells, Bell, and Jaworski (1971) pada tanaman blue lupins dengan mengintroduksi Tricfioderma fiarzia-num 10 g/kg tanah menghasilkan 8 0 % bibit sehat, dan peningkatannya mencapai 88,8% dibandingkan dengan perlakuan pemberian Sclerotium rolfsii.

4. Tinggi bibit, berat basah dan berat

kering

Pada Tabel 4 terlihat bahwa perlakuan Tricfioderma koningii) dan Trichoderma harzianum t\(ia\^ berbeda nyata sesamanya tetapi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan Gliocladiumsp dan Scle-rotium rolfsii berbeda nyata s e s a m a n y a . Tinggi bibit, berat basah dan berat kering bibit t e r b e s a r d i p e r l i h a t k a n o l e h p e r l a k u a n

Trichoderma harzianum kemudian disusul o l e h p e r l a k u a n Trichoderma koningii, Gliocladium s p dan Sclerotium rolfsii, masing-masing sebesar 20,36; 19,83; 13,17 dan 7,37 c m (tinggi bibit), dan 1,21; 1,03; 0,55 dan 0,18 g (berat basah), serta 0,12; 0,15; 0,06 dan 0,02 g (berat kering).

Perlakuan Trichoderma harzianum dan Trichoderma koningii ieblh besar tinggi bibit, berat basah dan berat keringnya dari perla-kuan lainnya. Hal ini diduga jamur antagonis tersebut m e r a n g s a n g pertumbuhan dan p e r k e m b a n g a n vegetatif tanaman c a b e , sehingga meningkatkan tinggi bibit, berat basah dan berat kering. Menurut Chang etal (1986) dengan pemberian Trichoderma spp ke dalam tanah dapat meningkatkan pertum-buhan tanaman sayuran, mempercepat per-kecambahan, mempercepat pembungaan, p e n a m b a h a n tinggi tanaman, serta berat basah dan berat kering pada bibit cabe, tomat dan ketimun.

Tabel 4. Rata-rata berat basah bibit (g), berat kering bibit (g) dan tinggi bibit (cm) Jamur antagonis Tinggi bibit Berat basah Berat kering

Trichoderma koningii 19,83 a 1,03 a 0,12a

Trichoderma harzianum 20,36 a 1,21 a 0,15a

GIbcladium sp 13,17 b 0,55 b 0,06 b

Sclerotium ro/fe;/(kontrol) 7,37 c 0,18c 0,02 c

Angka-angka pada kolom yang sama diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut DNMf^T pada taraf nyata 5%.

(7)

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilaku-kan dapat disimpuldilaku-kan bahwa dengan pem-berian jamur antagonis dapat m e n e k a n pertumbuhan jamur patogen Sclerotium rolfsiii S a c c . p e n y e b a b penyakit rebah kecambah pada bibit c a b e . Penggunaan jamur antagonis Trichoderma harzianum memberikan pengaruh terbaik dibandingkan penggunaan jamur antagonis lainnya.

DAFTARPUSTAKA

Agrios, G . N . 1988. Plant Pathology. Third Edi-tion. Academic P r e s s . New York. 703 pp. Alexopoulus, C . J . and C . W. Mims. 1979.

Intro-ductory Micology. J o h n Wiley and S o n s . New York. 632 pp.

A l t o m a r e , C , N o r v e l l , W . A . , B j o r k m a n , T., H a r m a n , G . E . 1999. S o l u b i l i z a t i o n of Phosphates and Micronutrients by PlantGrowth Promoting and Biocontrol F u n -gus Trichoderma harzianum Rifai 1295-22. A p p l . Environ. Microbiol. 65:2926-2 9 3 3 .

A n i t a , A . N . 1 9 9 2 . P e n g a r u h P e m b e r i a n B e b e r a p a J a m u r A n t a g o n i s Terhadap P e n e k a n a n S e r a n g a n Penyakit R e b a h Kecambah Sclerotium rolfsii S a c c . P a d a P e r s e m a i a n C a b e . T e s i s S a r j a n a Pertanian Universitas Andalas. P a d a n g . 72 hal.

Baker, K. F. 1985. Biological control of plant pathogens : Definition in biological con-trol in agricultural IPM system, ed M. A . Hoy and D. G . Herzog. Florida. 2 5 99. B a p p e d a P r o p i n s i R i a u . 2 0 0 1 . R i a u d a l a m

a n g k a 2 0 0 1 . K e r j a s a m a B a p p e d a P r o p i n s i R i a u d e n g a n B P S P r o p i n s i Riau. Pekanbaru.

Campbell, R. 1989. Biological control of microbial plant pathogens. C a m b r i d g e U n i -versity Press. Cambridge. 20 pp C h a n g , Y. C , R. Baker, O . Kleifeld, and I. Chet.

1986. Increaced growth of plant in the presence of the biological control agent

Trichoderma harzianum. P l a n t D i s

-eases 70 : pp 145 - 148.

Direktorat B i n a P r o g r a m T a n a m a n P a n g a n . 1994. L u a s p a n e n , rata-rata hasil dan produksi tanaman hortikultura di Indo-n e s i a . Direktorat J e Indo-n d e r a l P e r t a Indo-n i a Indo-n Tanaman P a n g a n . Jakarta.

Djafaruddin. 1984. Dasar-dasar pengendalian penyakit tanaman. Fakultas Pertanian Universitas Andalas. P a d a n g . 281 hal. Elad, Y , I. Chet, and J . Katan. 1980. Physical, biological, a n d c h e m i c a l control inte-grated for soil bornr d i s e a s e s in pota-toes. Phytophatology 70 : pp 418 - 422. Jenkins, S . F. and C . G . Averre. 1986. Problema

a n d p r o g r e s s in integrated control of southern blight of vegetables. Plant Dis-e a s Dis-e s A n IntDis-ernational Journall of ApliDis-ed Plant Pathology 70 : pp 614 - 619. Lewis, J . A . , and G . C . Papavizas. 1984. Effects

of fumigan methan on Trichoderma spp. C a n J . Mycrobial 30 : pp 1 - 7.

Nurbailis. 1992. Pengendalian hayati

Sclero-tium rolfsiiSacc. penyebab busuk batang

k a c a n g t a n a h (Arachis hipogaea L.) d e n g a n k o m p o s d a n c e n d a w a n antagonis. Tesis P a s c a s a r j a n a Institut Pertanian Bogor. Bogor. 58 hal.

Purdiantoro, F. X . 1993. P e n g g u n a a n azolla p a d a antagonisme Trichoderma

harzianum terhadap Rhizoctonia solani

p e n y e b a b penyakit rebah k e c a m b a h c a b e b e s a r . T e s i s S a r j a n a P e r t a n i a n U n i v e r s i t a s G a j a h M a d a . Universitas Gajah M a d a P r e s s . Yogyakarta. 65 hal. Purwati, E, B. J a y a dan A . S . Duriat. 2000.

Penampilan beberapa varietas cabe dan uji resistensi terhadap penyakit virus k e r u p u k . J u r n a l H o r t i k u l t u r a . P u s a t P e n e l i t i a n H o r t i k u l t u r a d a n A n e k a T a n a m a n B a d a n P e n e l i t i a n d a n Pengembangan Pertanian. Jakarta. Vol-ume 10 Nomor 2.

S e m a n g u n , H . 1 9 8 9 . P e n y a k i t - p e n y a k i t t a n a m a n h o r t i k u l t u r a di I n d o n e s i a . G a j a h m a d a U n i v e r s i t y P r e s s . Yogyakarta. 850 hal.

Sinaga, M. S . 1989. Pofensi Gliocladium spp s e b a g a i a g e n p e n g e n d a l i h a y a t i beberapa cendawan patogen tumbuhan y a n g b e r s i f a t s o i l b o r n e . S P P / D P P F a k u l t a s P e r t a n i a n Institut Pertanian Bogor. Bogor. 41 hal.

(8)

Jamur Antagonis dalam Menekan Pertumbuhan Sclerotium Rolfsii

Sitepu, Djiman. 1987. P e n g e n d a l i a n biologi untuk p e n y a k i t t a n a m a n . G a t r a penelitian penyakit t u m b u h a n d a l a m p e n g e n d a l i a n t e r p a d u . P e r h i m p u n a n Fitopatologi Indonesia. Jakarta. Hal 17 - 1 8 .

Gambar

Tabel 1. Persentase pertumbuhan Sclerotium ra/fe//pada pengujian dalam cawan petri
Tabel 4. Rata-rata berat basah bibit (g), berat kering bibit (g) dan tinggi bibit (cm)

Referensi

Dokumen terkait