• Tidak ada hasil yang ditemukan

t mtk 1005025 chapter3

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "t mtk 1005025 chapter3"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini adalah kuasi eksperimen untuk menelaah peningkatan

kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematis siswa melalui

pembelajaran inkuiri berbantuan software Cinderella. Penelitian ini dilakukan

terhadap dua kelompok siswa, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Kelompok eksperimen adalah kelompok siswa yang memperoleh pembelajaran

geometri dengan metode inkuiri berbantuan software Cinderella, sedangkan

kelompok kontrol adalah kelompok siswa yang pembelajaran geometrinya dengan

metode konvensional. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Nonequivalent Control Group Design yang melibatkan dua kelompok siswa.

Desain penelitian ini digambarkan sebagai berikut :

O X O

O O (Sugiyono, 2010)

Keterangan : O = Pretes dan Postes (tes kemampuan penalaran matematik

dan tes kemampuan pemecahan masalah matematik).

X = Pembelajaran dengan metode inkuiri berbantuan

software Cinderella.

Dalam pola ini pengaruh treatment X diamati dalam situasi yang lebih terkontrol

yaitu dengan membandingkan selisih postes dan pretes pada kelompok

(2)

B. Populasi dan Sampel

Penelitian ini dilaksanakan di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri

yang ada di Kabupaten Kuningan, Pelaksanaan penelitian dilakukan pada siswa

kelas VIII, dengan demikian populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa

kelas VIII yang ada di MTs Negeri tersebut.

Pemilihan kelas VIII ini berdasarkan beberapa pertimbangan yang diantaranya

merupakan masukan dari guru-guru MTs Negeri tersebut yaitu sebagai berikut :

a. Untuk kelas VII kondisi siswa belum memungkinkan secara akademik, hal

ini karena siswa kelas VII baru mengenal komputer pada tingkat dasar.

b. Untuk kelas IX pada semester genap ini akan dikonsentrasikan pada

kegiatan pengayaan guna menghadapi Ujian Nasional.

Kelas VIII berjumlah lima kelas sehingga untuk memilih sampel penelitian,

dilakukan pengundian secara acak yaitu untuk memilih dua kelas. Kondisi dan

karakteristik siswa pada masing-masing kelas adalah sama, hal ini berdasarkan

informasi dari bidang kurikulum bahwa pada saat pembagian siswa kelas VIII,

siswa disebar secara merata ke tiap-tiap kelas. Dari lima kelas yang ada dipilih

secara acak dua kelas untuk masing-masing dijadikan kelas eksperimen dan kelas

kontrol. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 70 siswa yang terdiri dari 35

orang sebagai kelas eksperimen dan 35 orang sebagai kelas kontrol.

C. Pengembangan Instrumen Penelitian

Pada penelitian ini digunakan beberapa instrumen pengumpul data yaitu soal

tes dan skala sikap siswa. Soal tes menurut Arikunto (2010: 53) “…adalah

(3)

sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan”.

Pada penelitian ini soal tes terdiri dari tes kemampuan penalaran dan kemampuan

pemecahan masalah matematis. Sedangkan skala sikap yang diberikan kepada

siswa bertujuan untuk mengetahui pendapat siswa terhadap pembelajaran dengan

metode inkuiri berbantuan software Cinderella. Dengan skala likert maka variabel

yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator

tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang

berupa pernyataan.

1. Tes Kemampuan Penalaran Matematis

Soal tes untuk menguji kemampuan penalaran matematik siswa berjumlah 5

butir soal yang terdiri dari 2 soal analogi berbentuk pilihan ganda beralasan dan 3

soal generalisasi. Pedoman penskoran soal tes kemampuan penalaran matematik

ini mengacu pada pedoman penskoran “Holistic scale” dari North Carolina

Departmen of Public Instruction (Subakti, 2009), seperti tercantum pada Tabel

3.1 dan Tabel 3.2 berikut ini.

Tabel 3.1 Tabel Penskoran

Soal Tes Kemampuan Penalaran Matematik Bentuk Analogi

Pilihan Ganda Alasan/Penjelasan Skor

Tidak diisi Tidak diisi 0

Salah Salah 1

Benar Salah 2

Benar Sebagian/Tidak

lengkap 3

(4)

Tabel 3.2 Tabel Penskoran

Soal Tes Kemampuan Penalaran Matematik Bentuk Generalisasi

Pilihan Jawaban Skor

Tidak ada jawaban 0

Menjawab tidak sesuai dengan pertanyaan / tidak ada yang

benar 1

Hanya ada Identifikasi masalah dan konjektur tetapi masih ada

yang salah 2

Identifikasi masalah dan konjektur sudah benar 3

Hanya sebagian aspek dari pertanyaan dijawab dengan benar 4

Hampir semua aspek dari pertanyaan dijawab dengan benar 5 Semua aspek dari pertanyaan dijawab dengan lengkap/jelas dan

benar 6

2. Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis

Soal untuk menguji kemampuan pemecahan masalah matematik siswa

berjumlah 5 butir soal. Pedoman penskoran kemampuan pemecahan masalah

matematik menggunakan pedoman penskoran yang dikemukakan oleh Schoen dan

Ochmke (Sumarmo, 1993: 16). Pemberian skor didasarkan pada proses

pemecahan masalah yang dilakukan siswa yaitu mulai dari memahami masalah,

membuat rencana pemecahan masalah, melakukan perhitungan, dan memeriksa

kembali terhadap semua langkah-langkah pemecahan masalah yang telah

dilakukannya. Disamping itu, peneliti juga memberikan skor dengan sangat

hati-hati sehubungan pada soal pemecahan masalah matematik ini siswa bisa

menjawab dengan berbagai cara/alternatif penyelesaian.

Berikut ini tabel penskoran butir soal kemampuan pemecahan masalah

(5)

.Tabel 3.3

Tabel Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik

MEMAHAMI

Kedua jenis soal tes kemampuan matematik tersebut diuji validitas isinya dengan

mengkonsultasikan kepada dosen pembimbing, kemudian soal tes diujicobakan

kepada siswa kelas IX yang telah menerima materi yang akan diujikan untuk

selanjutnya diuji reliabilitas, validitas, Indeks Kesukaran, dan Daya Pembeda dari

(6)

3. Analisis Reliabilitas

Sesuai dengan bentuk soal tesnya yaitu bentuk uraian, maka untuk

menghitung koefisien reliabilitasnya menggunakan rumus Alpha (Russefendi,

2005) . Rumusnya adalah :

Keterangan : = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya soal

= Jumlah varians butir

= Jumlah varians total

Klasifikasi besarnya koefisien reliabilitas didasarkan kepada patokan yang

dikemukakan oleh Suherman (2003: 139) sebagai berikut :

Tabel 3.4

Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas instrumen, diperoleh tingkat reliabilitas

untuk perangkat tes kemampuan penalaran tergolong sedang dan pemecahan

masalah matematik tergolong tinggi. Lebih jelas data tingkat reliabilitas

instrument dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(7)

Tabel 3.5

Hasil Analisis Reliabilitas Soal Tes

No Jenis Soal Tes Kemampuan Cronbach’sNilai Alpha Tingkat Reliabilitas

1 Penalaran Matematik 0,43 Sedang

2 Pemecahan Masalah Matematik 0,70 Tinggi

4. Analisis Validitas

Untuk mengukur validitas butir soal hasil uji coba perangkat tes digunakan

rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh Pearson, yaitu sebagai

berikut :

Keterangan : rxy = Nilai korelasi product moment

N = Banyaknya sampel

X = Skor item

Y = Skor total (Arikunto, 1999: 170)

Interpretasi besarnya rxy (koefisien korelasi) menurut Arikunto (1999: 175) adalah

sebagai berikut :

Tabel 3.6

Klasifikasi Koefisien Korelasi

Nilai Koefisien Korelasi Interpretasi

(8)

Berikut ini tabel hasil penghitungan uji validitas untuk masing-masing soal tes

kemampuan berpikir matematik.

Tabel 3.7

Nilai validitas butir soal tes kemampuan penalaran matematik

No Soal Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan Tingkat validitas

1 0,69 0,334 signifikan Tinggi

2 0,40 0,334 Signifikan Rendah

3 0,63 0,334 Signifikan Tinggi

4 0,55 0,334 Signifikan Sedang

5 0,47 0,334 signifikan Sedang

Tabel 3.8

Nilai validitas butir soal tes kemampuan pemecahan masalah matematik

No Soal Nilai r hitung Nilai r tabel Keterangan Tingkat validitas

1 0,81 0,334 signifikan Sangat tinggi

2 0,64 0,334 Signifikan Tinggi

3 0,59 0,334 Signifikan Sedang

4 0,65 0,334 Signifikan Tinggi

5 0,67 0,334 signifikan Tinggi

5. Analisis Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda

Analisis tingkat kesukaran setiap butir soal dimaksudkan untuk mengetahui

apakah soal-soal tersebut termasuk kategori mudah, sedang atau sukar. Untuk

(9)

jawaban seluruh siswa yang mengikuti tes. Rumus yang digunakan adalah sebagai

berikut :

(Arikunto, 1999: 208)

Keterangan : TK = Indeks tingkat kesukaran

B = Jumlah siswa yang menjawab benar

N = Jumlah seluruh siswa

Selanjutnya interpretasi hasil penghitungan indeks tingkat kesukaran tersebut

diklasifikasikan sebagai berikut :

Tabel 3.9

Klasifikasi Tingkat Kesukaran Butir Soal Tes

Nilai Indeks Tingkat

Kesukaran Interpretasi

0,00 ≤ TK ≤ 0,30 Sukar

0,30 < TK ≤ 0,70 Sedang

0,70 < TK ≤ 1,00 Mudah

Berdasarkan hasil penghitungan indeks kesukaran pada masing-masing soal tes

kemampuan berpikir matematik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.10

Tingkat Kesukaran Soal Tes Kemampuan Penalaran Matematik

No Soal Indeks Tingkat Kesukaran Keterangan

1 0,76 Mudah

2 0,87 Mudah

3 0,51 Sedang

4 0,62 Sedang

5 0,50 Sedang

(10)

Tabel 3.11

Tingkat Kesukaran Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik

No Soal Indeks Tingkat Kesukaran Keterangan

1 0,56 Sedang

2 0,49 Sedang

3 0,41 Sedang

4 0,41 Sedang

5 0,39 Sedang

Selanjutnya untuk mengukur daya pembeda butir soal dilakukan dengan cara

mengkaji skor dari soal tes yang diberikan. Langkah pertama yaitu mengurutkan

skor siswa dari yang tertinggi sampai yang terendah. Setelah dirutkan, kemudian

diambil 30% dari skor tertinggi (kelompok atas) dan 30% dari skor terendah

(kelompok bawah). Analisis daya pembeda ini dimaksudkan untuk mengetahui

kualitas soal tes yang diberikan, apakah dapat membedakan kemampuan siswa

atau tidak. Daya pembeda untuk tiap butir soal ditentukan dengan rumus :

A B A

JB JB JB

DP 

Keterangan : DP = Indeks Daya Pembeda

JBA = Jumlah siswa dari kelompok atas yang menjawab benar

JBB = Jumlah siswa dari kelompok bawah yang menjawab

benar

Klasifikasi daya pembeda yang digunakan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.12

Klasifikasi Daya Pembeda Butir Soal Tes

Nilai Indeks Daya

Pembeda Interpretasi

0,00 ≤ DP ≤ 0,20 Sangat jelek

0,20 < DP ≤ 0,40 Cukup

0,40 < DP ≤ 0,70 Baik

(11)

Hasil analisis Daya Pembeda terhadap masing-masing soal tes kemampuan

berpikir matematik yang diberikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.13

Daya Pembeda Soal Tes Kemampuan Penalaran Matematik

No Soal Indeks Daya Pembeda Keterangan

1 0,60 Baik

2 0,21 Cukup

3 0,47 Baik

4 0,42 Baik

5 0,48 Baik

Tabel 3.14

Daya Pembeda Soal Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik

No Soal Indeks Daya Pembeda Keterangan

1 0,52 Baik

2 0,52 Baik

3 0,41 Baik

4 0,44 Baik

5 0,58 Baik

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa rata-rata soal tes kemampuan berpikir

matematik yang diberikan, Daya Pembedanya mempunyai kualifikasi baik.

Hasil analisis Daya Pembeda lebih rinci dapat dilihat pada lampiran.

6. Skala Sikap

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sugiyono (2010: 134) bahwa untuk

mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang

tentang fenomena sosial dapat digunakan skala likert. Skala likert yang digunakan

pada penelitian ini yaitu dengan memberikan pilihan SS (sangat setuju),

S (setuju), TS (tidak setuju) dan STS (sangat tidak setuju) pada tiap butir

(12)

pernyataan negatif yang meliputi aspek-aspek minat, motivasi dan aktivitaas

siswa. Sikap siswa yang ditelaah meliputi sikap siswa terhadap pelajaran

matematika, sikap siswa terhadap soal-soal tes kemampuan penalaran dan

pemecahan masalah matematik dan sikap siswa terhadap pembelajaran dengan

model inkuiri berbantuan software Cinderella. Hasil yang diperoleh dari

pemberian angket skala sikap ini kemudian dianalisis reliabilitas dan validitasnya.

Untuk menguji reliabilitas skala sikap ini digunakan rumus berikut.

Berdasarkan penghitungan diperoleh indek reliabilitas skala sikap sebesar 0,632.

Hal ini memberikan keterangan bahwa soal skala sikap cukup reliabel.

Selanjutnya untuk menentukan validitas angket skala sikap digunakan rumus

(13)

Kriteria yang digunakan yaitu jika harga r lebih kecil dari harga kritis dalam tabel,

maka korelasi tersebut tidak signifikan. Jika harga r lebih besar dari harga kritis

dalam tabel, maka korelasi tersebut signifikan dan berarti butir-butir skala sikap

tersebut dapat diambil. Berdasarkan perhitungan diperoleh bahwa 32 item tersebut

cukup valid.

D. Bahan Ajar dan Pengembangannya

Sebagai penunjang pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran model

inkuiri berbantuan software Cinderella, selain buku paket siswa, juga digunakan

Lembar Kegiatan Siswa (LKS) sebagai bahan ajar yang disusun oleh peneliti.

Pembelajaran dilaksanakan di dalam laboratorium komputer yang masing-masing

perangkat komputer telah memiliki software Cinderella. Sedangkan pada

pembelajaran konvensional dalam proses pembelajarannya tidak menggunakan

bahan ajar yang dibuat peneliti, tetapi hanya menggunakan buku paket siswa

sebagai bahan ajar. Pada kelompok siswa yang pembelajarannya konvensional

hanya dilaksanakan di dalam kelas biasa, namun soal-soal latihan dan ulangan

harian yang digunakan pada kelompok eksperimen juga digunakan pada

kelompok kontrol.

Pada kelompok eksperimen maupun kontrol pembelajaran sama-sama

diarahkan kepada kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematik,

yang membedakan hanyalah pada model pembelajarannya, yaitu model inkuiri

berbantuan software Cinderella pada kelompok eksperimen dan model

(14)

Materi pokok dalam bahan ajar/LKS ini adalah Lingkaran dan

Unsur-unsurnya yang merujuk pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

tahun 2006 untuk SMP/MTs dan dikembangkan dalam bahan ajar/LKS.

E. Prosedur Penelitian

1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini peneliti mengajukan proposal untuk kemudian diseminarkan.

Setelah berbagai persiapan penelitian terpenuhi, kemudian peneliti menghubungi

sekolah yang akan dijadikan objek penelitian yaitu MTs Negeri Maleber di

Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Pada tahap persiapan penelitian ini, dipilih

sampel penelitian dengan berkonsultasi pada pihak sekolah. Kemudian

menyesuaikan waktu penelitian dimulai dari masalah uji coba instrument,

penyesuaian jadwal mengajar dan memilih buku pelajaran yang biasa digunakan

di sekolah tersebut ditambah dengan buku pelajaran yang disiapkan peneliti

sebagai bahan referensi siswa. Untuk kelas eksperimen, selain buku pelajaran,

juga diberikan bahan ajar yang disusun sendiri oleh peneliti berupa LKS.

Kemudian peneliti juga meninjau ketersediaan fasilitas laboratorium komputer

untuk digunakan pada pembelajaran di kelas eksperimen. Setelah semuanya

terpenuhi, peneliti memulai melaksanakan penelitian dengan mengadakan tatap

muka pada masing-masing kelas (eksperimen dan kontrol).

2. Tahap pelaksanaan

Setelah berbagai persyaratan dan perlengkapan penelitian terpenuhi, langkah

selanjutnya yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan penelitian adalah

(15)

melaksanakan pembelajaran dengan model inkuiri berbantuan software Cinderella

pada kelas eksperimen dan pembelajaran dengan model konvensional pada kelas

kontrol. Pembelajaran dilaksanakan 8 kali pertemuan untuk masing-masing kelas.

Peneliti berperan sebagai guru matematika pada saat proses pembelajaran

berlangsung, hal ini dilakukan agar tidak terjadi bias dalam perlakuan terhadap

masing-masing kelas yang diteliti. Setelah selesai semua kegiatan proses

pembelajaran maka diberikan tes akhir berupa tes kemampuan penalaran dan

pemecahan masalah matematik (tes akhir sama dengan tes awal) kepada kelas

ekperimen dan kelas kontrol. Sedangkan angket hanya diberikan kepada kelas

ekperimen saja.

Terakhir, setelah semua data terkumpul maka dilakukan pengolahan dan

analisis data untuk keperluan penarikan kesimpulan. Hasil pengolahan dan

analisis data dapat dilihat secara lengkap pada lampiran.

3. Tahap Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil tes dan angket skala sikap kemudian dianalisis

untuk dapat menginterpretasikan hasil penelitian. Langkah-langkah analisis data

dilakukan sebagai berikut :

a. Pengolahan data hasil tes

1) Menguji Normalitas

Sebagai analisis awal data hasil tes, peneliti menguji normalitas data dengan

menggunakan rumus Chi Kuadrat (Chi Square) berikut ini.

e e o

f f

f 2

2

(16)

Keterangan : 2 = chi kuadrat

fo = frekuensi dari yang diamati

fe = frekuensi yang diharapkan (Ruseffendi, 1998)

Kriteria :

Data berdistribusi normal jika hasil hitung2 tabel2 dengan tabel2 21j3 untuk

taraf signifikansi  0,05 dan j adalah banyaknya kelas interval. Untuk

kejadian yang lain, maka data tidak berdistribusi normal. Adapun proses

pengolahan datanya peneliti menggunakan software komputer SPSS 17.

2) Menguji Homogenitas

Untuk menguji homogenitas varians data tes akhir kedua kelompok dilakukan

dengan menggunakan rumus berikut :

Keterangan : 2

b

S = Varians terbesar

2

k

S = Varians terkecil

Kriteria :

Pada taraf signifikansi α varians sampel dikatakan homogen jika FhitungFtabel

dengan

2 1,dk

dk tabel F

F untuk taraf keberartian α = 0,05 dan derajat kebebasan dk1

dan dk2. Dalam proses analisis data peneliti menggunakan program SPSS 17 yaitu

dengan uji Lavene dengan kriteria sig(2-tailed) > α maka varians data dinyatakan

homogen (Sulistyo, 2011).

2 2

k b hitung

S S

(17)

3) Uji Hipotesis

Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji perbedaan dua

rata-rata. Pengujian ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan jika suatu

karakteristik diberi perlakuan yang berbeda. Secara umum rumusan hipotesisnya

adalah :

Ho; e k

H1 ; e k

Keterangan : e  nilai rata-rata kelompok eksperimen

k

 nilai rata-rata kelompok kontrol

4) Menguji perbedaan rata-rata pada kedua kelompok dengan menggunakan uji-t

Rumus yang digunakan dalam uji-t ini adalah sebagai berikut :

Keterangan : X1 = rata-rata kelompok kontrol

2

X = rata-rata kelompok eksperimen

1

n = banyak subjek kelompok kontrol

2

n = banyak subjek kelompok eksperimen

s = deviasi standar gabungan

2 1

s = varians kelompok kontrol

2 2

(18)

Kriteria :

Terima Ho jika thitungttabel dengan ttabelt1 untuk taraf keberartian α = 0,05

dan dk = n1n2 2. Dalam proses analisis digunakan software komputer SPSS

17 yaitu dengan uji statistik Independent Sampel t-Test dengan kriteria terima Ho

Gambar

Tabel 3.1 Tabel Penskoran
Tabel 3.2 Tabel Penskoran
Tabel Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik
Tabel 3.4 Klasifikasi Koefisien Reliabilitas
+6

Referensi

Dokumen terkait

kesesuaian soal dengan indikator soal dan materi ajar penelitian. Berdasarkan hasil validitas muka dan isi yang telah dilakukan, diperoleh.. hasil bahwa yang harus

Validitas muka dilakukan dengan melihat tampilan dari soal itu yaitu keabsahan susunan kalimat atau kata-kata dalam soal sehingga jelas pengertiannya dan tidak salah

Maka dari itu, dalam penelitian ini yang subyek penelitiannya merupakan siswa tunantera SMPLB kelas VIII, VHGT yang diberikan hanya 15 soal yang berisi soal-soal

Data Hasil Uji Validitas Butir Soal Kemampuan Pemahaman dan Visual Thinking. Kemampuan Nomor

Dengan demikian, melihat hasil analisis secara keseluruhan dari validitas butir soal, reliabilitas tes, daya pembeda butir soal, dan tingkat kesukaran butir soal,

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan pada data yang diperoleh dari. hasil uji coba soal, diperoleh koefisien reliabilitas sebesar

Mengidentifikasi soal (diketahui, ditanyakan, kecukupan unsur) dan membuat model matematika dengan benar, tetapi terdapat kesalahan perhitungan dalam penyelesaian

Rangkuman hasil perhitungan uji tingkat kesukaran untuk tiap butir soal tes kemampuan spasial matematis dapat dilihat pada tabel berikut. Hal ini menunjukkan bahwa soal