• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kampung Kuta Dalam Teropong Antropologi Kesehatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kampung Kuta Dalam Teropong Antropologi Kesehatan"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

KAMPUNG KUTA DALAM TEROPONG

KAMPUNG KUTA DALAM TEROPONG

ANTROPOLOGI KESEHATAN

ANTROPOLOGI KESEHATAN

Disusun sebagai La

Disusun sebagai Laporan Hasil Observasi poran Hasil Observasi Kampung Kuta tanggKampung Kuta tanggal 11-13 Mei 20al 11-13 Mei 201010 Oleh :

Oleh : Rahmad

Rahmad Efendi Efendi 170510080013170510080013 Dwi Rahma Safitri

Dwi Rahma Safitri 170510080033170510080033  Januar Firmansyah  Januar Firmansyah 170510080010170510080010 Tuflicatul Ilmiyah Tuflicatul Ilmiyah 170510080006170510080006 M. Arij Syauqi M. Arij Syauqi 170510080025170510080025  JURUSAN ANTROPOLOGI  JURUSAN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKILMU POLITIK UN IVERSITAS PADJADJARAN UN IVERSITAS PADJADJARAN  JATINANGOR  JATINANGOR 2010 2010

(2)

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Masyarakat Kampung Kuta dikenal sebagai masyarakat yang menjaga Masyarakat Kampung Kuta dikenal sebagai masyarakat yang menjaga tradisi yang diamanahkan leluhur mereka. Berdasarkan penjelasan dari tradisi yang diamanahkan leluhur mereka. Berdasarkan penjelasan dari Ketua Adat Kampung Kuta, tradisi yang dipegang erat tersebut merupakan Ketua Adat Kampung Kuta, tradisi yang dipegang erat tersebut merupakan suatu tradisi yang mengatur hubungan antara masyarakat Kampung Kuta suatu tradisi yang mengatur hubungan antara masyarakat Kampung Kuta dan lingkungan alamnya, yang di dalamnya terkandung segala peraturan dan lingkungan alamnya, yang di dalamnya terkandung segala peraturan agar masyarakat Kampung Kuta senantiasa mau menjaga alam agar masyarakat Kampung Kuta senantiasa mau menjaga alam lingkungannya. Tradisi-tradisi tersebut saat ini telah melekat dalam diri lingkungannya. Tradisi-tradisi tersebut saat ini telah melekat dalam diri tiap-tiap masyarakat Kampung Kuta, yang membuat tiap orang di Kampung tiap-tiap masyarakat Kampung Kuta, yang membuat tiap orang di Kampung Kuta begitu welas asih terhadap alam sekitarnya.

Kuta begitu welas asih terhadap alam sekitarnya.

Menurut masyarakat Kampung Kuta, alam yang mereka jaga tersebut Menurut masyarakat Kampung Kuta, alam yang mereka jaga tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting bagi mereka, terutama hutan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi mereka, terutama hutan larangan yang luasnya lebih dari setengah luas seluruh wilayah Kampung larangan yang luasnya lebih dari setengah luas seluruh wilayah Kampung Kuta sendiri. Masyarakat Kampung Kuta memang membutuhkan hutan Kuta sendiri. Masyarakat Kampung Kuta memang membutuhkan hutan tersebut demi ketersediaan sumber daya air untuk mereka. Oleh karena tersebut demi ketersediaan sumber daya air untuk mereka. Oleh karena itulah para leluhur memberkan amanat agar generasi penerus selalu itulah para leluhur memberkan amanat agar generasi penerus selalu menjaga alam kampung Kuta dan hutan keramat tersebut.

menjaga alam kampung Kuta dan hutan keramat tersebut.

Akan tetapi, ada suatu hal yang menarik jika kita melihat kondisi Akan tetapi, ada suatu hal yang menarik jika kita melihat kondisi masyarakat Kampung Kuta saat ini. Berdasarkan pengakuan Kepala Dusun, masyarakat Kampung Kuta saat ini. Berdasarkan pengakuan Kepala Dusun, selaku pemegang jabatan administratif tertinggi di Kampung Kuta, saat ini selaku pemegang jabatan administratif tertinggi di Kampung Kuta, saat ini masyarakat Kampung Kuta sedang mengalami penurunan jumlah penduduk masyarakat Kampung Kuta sedang mengalami penurunan jumlah penduduk yang cukup tajam.

yang cukup tajam.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Faktor apakah yang Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Faktor apakah yang mempengaruhinya? Apakah ada hubungan antara amanah-amanah leluhur mempengaruhinya? Apakah ada hubungan antara amanah-amanah leluhur yang menjadi pedoman bagi kebuduyaan masyarakat kampung Kuta dengan yang menjadi pedoman bagi kebuduyaan masyarakat kampung Kuta dengan fenomena

fenomena penurunan penurunan jumlah jumlah penduduk penduduk tersebut. tersebut. untuk untuk menemukanmenemukan   jawaban dari persoalan tersebut, maka dari itu kami mencoba untuk   jawaban dari persoalan tersebut, maka dari itu kami mencoba untuk

menerangkannya

(3)

Bab II

Hasil Observasi

2.1. Gambaran Lingkungan Alam Kampung Kuta

Kampung Kuta merupakan salah satu Kampung adat yang secara administratif    berada di wilayah desa Karangpaninggal, kecamatan Tambaksari, kabupaten Ciamis,

provinsi Jawa Barat. Secara geografis Kampung Kuta terletak di bagian timur laut kabupaten Ciamis, berada di lembah yang dikelilingi oleh tebing curam setinggi 30-60 meter dengan Ketinggian sekitar 500 m di atas permukaan laut. Adapun jarak pusat pemerintahan ke Kampung Kuta sebagai berikut :

a. Dari desa Karangpaninggal : 1 km

 b. Dari pusat pemerintahan kecamatan Tambaksari : 4 km c. Dari ibukota kabupaten/kota Ciamis : 45 km d. Dari ibukota provinsi Jawa Barat (Bandung ) : 179 km e. Dari ibu kota Negara ( Jakarta ) : 578 km

Dengan batas wilayah, yaitu:

Utara : dusun Margamulya Selatan : desa Bangunhardja Barat : dusun Ciloa

Timur : sungai Cijolang/perbatasan dengan kecamatan Dayeuhluhur kabupaten Cilacap, Jateng

Luas keseluruhan Kampung Kuta adalah 97 hektar yang terdiri dari 40 hektar merupakan tanah larangan dalam bentuk hutan keramat dan 57 hektar lagi merupakan lahan pertanian dan perumahan penduduk. Perumahan penduduk di Kampung Kuta terdiri dari 2 RW dan 4 RT.

(4)

Pembagian fungsi tanah di Kampung Kuta, yakni :

- Tanah larangan : berupa hutan keramat yang tidak boleh diganggu

- Tanah milik warga : lahan persawahan, perkebunan dan perumahan milik warga

- Tanah desa : lahan yang dimiliki desa namun boleh diolah untuk kepentingan warga tapi tidak untuk dimiliki

perseorangan

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala dusun, ketua adat dan ketua RW, dijelaskan bahwa lahan yang bisa dimiliki warga sebenarnya terbatas, pembagian lahan diupayakan sama rata. Jika ada warga yang menjual lahannya, baru warga yang lain   bisa menambah luas lahannya dengan jalan membeli lahan yang dijual tersebut.

Berikut ini adalah alokasi penggunaan lahan, dengan pembagian tanah milik warga  berdasarkan perhitungan luas rata-rata tiap keluarga.

- Hutan : 40 ha - Tanah desa : 4 ha - perumahan : 1,5 ha : 112 KK = 133,92 m2= 0,13 ha - Kolam : 10 ha : 112 KK = 89,28 m2= 0,09 ha - Lahan persawahan : 17 ha : 112 KK = 152,78 m 2= 0,15 ha - Kebun : 24,5 ha + : 112 KK = 218,75 m2= 0,22 ha + 97 ha 0,58 ha /Keluarga

(5)

Keterangan :

a. Hutan larangan di Kampung Kuta ini merupakan hutan lindung dengan flora dan fauna yang tetap terjaga keasliannya. Dalam hutan lindung itu masih dijumpai pohon-pohon keras yang berumur puluhan atau mungkin ratusan tahun yang dibiarkan tumbuh subur tanpa diganggu siapapun. selain itu di hutan tersebut juga menyimpan banyak tanaman obatan. Di dalam hutan tersebut juga terdapat banyak mata air yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Kuta.

Hutan larangan tersebut dijaga secara bersama-sama oleh masyarakat Kuta dengan landasan sebagai bentuk kepatuhan kepada amanah leluhur. Banyak pantangan-pantangan yang mengatur interaksi antara masyarakat dengan hutan ini, termasuk diantaranya tidak boleh sama sekali merusak dengan cara mengambil apapun -selain air/cai karamat- dari hutan.

 b. Perkebunan di Kampung Kuta memiliki potensi tanaman aren yang sangat   besar. Hal inilah yang membuat para pedagang asal Kampung Kuta terkenal

dengan produksi gula arennya. Komoditi inilah yang menjadi andalan perekonomian mereka sejak bertahun-tahun silam. Kemudian tanaman yang dikembangkan masyarakat Kampung Kuta antara lain adalah jagung, kacang

Hutan

Keramat

41%

Tanah

Desa

4%

Perumahan

2%

Persawahan

18%

Perkebunan

25%

Kolam/

balong

10%

(6)

dan lainnya. Selain itu, tanaman sayuran juga banyak yang dikembangkan dalam lahan perkebunan ini.

c. Persawahan di Kampung Kuta memakai sistem pengairan yang b erasal dari mata air sekitar Kampung Kuta. Saat ini, pertanian di Kampung Kuta masih mengandalkan bibit padi, racun hama dan pupuk yang dibeli dari luar. Berdasarkan keterangan dari kepala dusun, saat ini produktifitas pertanian di Kampung Kuta telah mengalami penurunan dibandingkan pada waktu dulu. Hal ini menurut beliau terjadi karena lahan ertanian di Kampung Kuta sudah ketergantungan terhadap pupuk, racun dan bibit yang dibeli dari toko tani.

d. Kolam ikan/ balong sangat mudah ditemui di Kampung Kuta. Banyak balong- balong yang tersebar di sekitar rumah penduduk. Selain untuk tempat beternak ikan, balong tersebut juga digunakan sebagai tempat mandi, cuci dan kakus (mck) bagi sebagian besar penduduk Kampung Kuta. Pemandian umum dan   jamban terletak di atas kolam ikan sehingga rantai kehidupan berjalan baik.

Oleh karena itu, di setiap balong biasanya dilengkapi dengan satu unit kamar mandi yang berbentuk bilik bambu di atas balong tersebut, ditambah dengan adanya satu sumber air bersih yang mengalir sepanjang hari.

Sumber air bersih di Kampung Kuta berasal dari empat sumber mata air, yaitu Cibanguara, Ciasihan, Cinangka dan Cipanyipuhan, yang dialirkan dengan selang plastik dan bambu ke tempat pemandian umum. Masyarakat hanya memanfaatkan sumber mata air ini untuk semua kebutuhan hidup sehari-hari dan dilarang untuk menggali sumur sendiri. Pelarangan penggalian sumur ini untuk menjaga kondisi air bawah tanah agar selalu baik, bersih dan untuk menjaga tanah yang kondisinya sangat labil. Untuk menjaga kesucian tanah pulalah maka dilarang/tabu melakukan penguburan jenazah di Dusun ini. Untuk penguburan jenazah dilakukan di pemakaman umum Dusun Cibodas, sama seperti Ki Bumi yang juga dikuburkan disana.

e. Tanah desa ini disebut warga Kampung Kuta sebagai lahan rambu-rambu. Lahan ini tidak boleh dimiliki orang-perorangan, melainkan dimiliki oleh seluruh warga Kampung Kuta yang digunakan untuk kepentingan mereka. Masyarakat  boleh berusaha di lahan tersebut, tapi tidak boleh memilikinya.

(7)

f. Perumahan masyarakat Kampung Kuta bersifat seperti komplek perumahan. Rumah warga berdekatan dan berkumpul pada satu kawasan saja. tiap rumah   biasanya dilengkapi juga dengan halaman yang cukup luas untuk tempat

menanam bunga dan tanaman obat.

2.2. Gambaran Masyarakat Kampung Kuta

Masyarakat Kampung Kuta merupakan salah satu masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisinya yang mematuhi amanat leluhur dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Meski demikian, penduduk Kampung Kuta mengaku sebagai pemeluk agama Islam yang taat, akan tetapi dalam kehidupan sehari-harinya, ekpresi religi mereka masih diwarnai oleh kepercayaan-kepercayaan bersifat mitos dan animisme.

Secara umum, masyarakat Kampung Kuta adalah masyarakat etnis sunda, namun ada juga sebagian kecil yang berasal dari etnis jawa, terutama yang datang ke Kampung Kuta akibat perkawinan dengan warga Kampung Kuta. System perkawinan pada masyarakat Kuta bersifat bebas, boleh endogami dan juga boleh eksogami. Oleh karena itu, ada orang luar yang bisa menetap dan menyatu dengan masyarakat Kuta. Selain itu, menurut ketua adat Kampung Kuta, syarat untuk menjadi warga Kuta sebenarnya mudah, cukup dengan menetap selama tiga bulan di Kampung Kuta dengan mengikuti semua aturan adat Kuta.

Menurut kepala dusun Kampung Kuta, masyarakat Kampung Kuta mengalami penurunan jumlah penduduk yang cukup besar beberapa waktu belakangan ini. Terhitung sejak tahun 2002 sampai 2010 penduduk yang tinggal di Kuta berkurang hingga 31 jiwa. Dimana pada tahun 2002 warga Kuta berjumlah 358 orang ( dari

Laporan Akhir Studi Kehidupan Sosial Budaya Dan Lingkungan, 2002), namun pada tahun 2010 ini hanya tersisa 327 orang ( dari data ketua RW ). Saat ini warga Kuta terdiri dari 112 KK, dengan rincian 185 laki-laki dan 142 perempuan, 327 : 112 = rata-rata 3 orang tiap keluarga.

(8)

Berdasarkan informasi dari Kepala Dusun, tercatat 301 orang warga Kampung Kuta yang telah terdaftar usianya di database kantor Dusun. Dengan gambarannya datanya adalah sebagai berikut:

Dari data di atas, meski belum mencakup untuk semua penduduk serta belum dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, namun gambaran data di atas telah menunjukkan bahwa saat ini masyarakat Kampung Kuta sedang mengalami kekurangan generasi penerus. Terlihat bahwa jumlah penduduk yang berumuran muda  jauh lebih sedikit dibandingkan penduduk yang sudah tua. Piramida penduduk di atas masuk pada kategori piramida terbalik yang berarti menunjukkan pertumbuhan penduduk menurun. 10 8 24 9 21 14 24 10 24 30 52 75 5 s/d 9 10 s/d 14 15 s/d 19 20 s/d 24 25 s/d 29 30 s/d 34 34 s/d 39 40 s/d 44 45 s/d 49 50 s/d 54 55 keatas 0 20 40 60 80

Gambar 2: Piramida Penduduk Kampung Kuta Berdasarkan Kelompok Umur Total : 301 Orang 

(9)

Kemudian berikut ini adalah presentase jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur (di baca searah putaran jarum).

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa perbandingan antara penduduk usia muda (non-produktif), usia dewasa (produktif) dan usia tua (non-produktif) adalah sebagai  berikut:

Usia muda (0-19) : 17 %

Usia dewasa (20-49) : 51 %

Usia tua ( 50 ke atas) : 42 %

Kemudian terdapat juga keterangan tentang perubahan penduduk dalam dua tahun  belakangan ini. Berdasarkan informasi dari perangkat Kampung, masyarakat Kuta dari

tahun 2008 – 2010 juga mengalami penurunan penduduk. Berikut ini adalah tabel dari data yang kami dapatkan.

No Kasus Jumlah Keterangan

1 Mortalitas/Kematian 5 orang 2 orang Jatuh dari pohon

3 orang Sudah lanjut usia, menderita darah tinggi dan

3% 3% 8% 3% 7% 5% 8% 3% 8% 10% 17% 25%

Gambar 3 : Persentase Penduduk Kampung Kuta Berdasarkan Kelompok Umur

umur 0 s/d 4 5 s/d 9 10 s/d 14 15 s/d 19 20 s/d 24 25 s/d 29 30 s/d 34 34 s/d 39 40 s/d 44 45 s/d 49 50 s/d 54 55 keatas

(10)

penyakit lambung 2 Natalitas/Kalahiran 2 orang

3 Emigrasi/keluar dari Kampung Kuta

5 orang 1 orang, Mengikuti suami

1 orang, Setelah menikah Mengikuti istri

2 orang ( sepasang ), Setelah menikah

Pindah ke Jakarta 4 Imigrasi/masuk

ke Kampung Kuta

-

-Dari sajian data diatas kita dapat menyimpulkan bahwa dari tahun 2008 hingga 2010 ini penduduk Kampung Kuta mengalami pengurangan tujuh orang penduduk, yakni dari perhitungan mortalitas+emigrasi dikurangi kelahiran+imigrasi (5+4-2+0= 7).

2.3. Gambaran tentang aspek Kesehatan dan Reproduksi pada masyarakat Kampung Kuta

2.3.1. Pengetahuan Masyarakat Kuta mengenai aspek Kesehatan Umum

2.3.1.1. Pengetahuan masyarakat Kampung Kuta tentang penyakit

Masyarakat Kampung Kuta merupakan masyarakat yang masih menganut kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan dari makhluk gaib dan arwah para leluhur. Oleh karena itu, keseharian hidup mereka juga ikut dipengaruhi oleh segala larang pantang yang mereka yakini berasal dari para leluhur. Maski tidak mematuhi secara total, akan tetapi sebagian besar dari kepercayaan-kepercayaan tersebut masih dijaga dan dipatuhi oleh masyarakat Kampung Kuta. Adapun beberapa pengetahuan yang menyangkut aspek kesehatan dan reproduksi antara lain.

Dalam kepercayaan masyarakat Kuta, penyakit muncul karena melanggar tabu/pantangan adat yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan hubungan antara manusia dengan alam. seperti contohnya kalau melanggar pantangan berkeliaran pada senja hari, akan terkena panyekit dari makhluk halus. Alasannya karena Pada

(11)

pergantian waktu ( siang-malam), adalah waktunya sanekala /makhluk halus keluar dan mereka akan menghukumi orang-orang yang masih berkeliaran. Begitu juga halnya pada waktu pergantian waktu ditengah hari.

Masyarakat Kuta percaya bahwa leluhur yang membangun Kampung Kuta memunyai kekuatan magis yang masih menjaga setiap penjuru Kampung Kuta. Kekuatan gaib itu terwujud dalam bentuk makhluk gaib yang mereka sebut ambu, rama, raksa  dan bima kalijaga . Mereka dipercaya bisa melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan manusia, seperti contoh membuat orang kesambet, menjalankan kutuk bala penyakit dan sebagainya bagi orang-orang yang melanggar tabu/pantangan adat.

Kemudian ada tokoh yang meraka sucikan yakni Reksabhumi/Aki Bumi . Aki   bumi dipercaya sebagai salah satu tokoh sacral yang menjaga ketuguhan adat

Kampung Kuta. Jika ada yang melanggar, beliau tak segan-segan menegur, baik terhadap pelaku maupun seluruh masyarakat, misalnya dengan memberi penyakit yang sulit disembuhkan atau membuat orang tersebut jadi gila. Upaya penyembuhan harus diweruhkan ( diperlihatkan ) berupa permintaan maaf kepada makhluk gaib tersebut.

Selain menyakini penyakit yang bersifat gaib, masyarakat Kuta juga menyakini adanya berbagai penyakit yang diakibatkan karena faktor makanan, lingkungan, musim dan aktivitas harian. Penyakit-penyakit tersebut merupakan penyakit-penyakit yang sudah dikenal secara umum. Beberapa penyakit yang diderita oleh masyarakat Kuta, yaitu:

1. Muntaber

Dulu sering kali diderita oleh warga adat Kampung Kuta, dan diobati dengan ramuan tumbuh-tumbuhan. Karena keseluruhan warga Kampung adat Kuta yang mengandalkan sumber mata air dari pegunungan setempat ini menjadi suatu indikasi penyakit muntaber itu timbul karena belum ada uji klinis yang menyatakan bahwa air yang dikonsumsi dari pegunungan itu bersih, bisa saja di dalam air tersebut terkandung bakteri Escherichia Coli ( E-coli). Penyakit muntaber ini tidak menjadi wabah hanya sesekali saja menjangkit warga

(12)

mungkin karena arus yang terbawa dari pegunungan tersebut dan tidak ada catatan kematian yang disebabkan oleh penyakit muntaber ini.

2. Panas dalam

Panas dalam juga di alami oleh warga Kampung adat Kuta karena pada asupan makan mereka yang kurang mengandung B12 dan zat besi ini bisa dilihat dari keseharian mereka yang hanya makan nasi tahu, tempe dan lalap mereka juga  jarang mengkonsumsi buah-buahan.

3. Rematik

Rematik menyerang warga Kampung adat Kuta karena kebiasaan atau pola hidup mereka yang setelah melakukan aktivitas-aktivitas berat, seperti bekerja keras di sawah, mengambil air nira dan lainnya hingga larut malam lantas langsung mandi malam dengan air dingin. Selain itu disebabkan juga karena masyarakat Kuta terlalu banyak mengkonsumsi sayuran hijau yang memicu  bangkitnya asam urat.

4. Maag

Akibat pola makan yang tidak teratur yang selalu melewat kan jam makan. Kesibukan bekerja para pria Kampung adat Kuta inilah yang menyebabkan pola makan yang tidak teratur sehingga terkena penyakit maag.

5. Penyakit Panas

Pencetus penyakit ini memang sulit ditentukan, karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan kurang sehat pada Kampung adat Kuta , polusi tinggi, dan ada perokok di rumah. Udara atau suhu yang dingin pada malam hari malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung mampet, sehingga ia  bernafas lewat mulut.

6. Chikungunya

Penyakit ini pernah menjadi wabah di Kuta, mungkin di sebabkan oleh virus yang di bawa oleh warga pendatang atau wisatawan lokal. Secara medis Chikungunya merupakan sejenis penyakit atau sejenis demam virus yang disebabkan oleh alphavirus dari keluarga Togaviridae. Penyakit ini disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti.

7. Stroke

Penyakit ini disebabkan oleh pola hidup mastarakat adat Kuta yang kurang sehat dan asupan makanan yang kurang bergizi . Stroke merupakan penyakit

(13)

neurologi yang utama. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga (setelah penyakit jantung dan kanker), namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Stroke terjadi akibat gangguan pembuluh darah di otak.

2.3.1.2. Pengetahuan masyarakat Kampung Kuta tentang tanaman obat

Nama tanaman Manfaatnya

Kaca piring, untuk menurunkan panas dan sakit lambung Daun hanteup menbobati sakit pinggang, mules

Brotowali mengobati penyakit dalam

Pecah beling mengobati penyakit ginjal Jambu batu mengobati penyakit mencret

Nira menyegarkan badan

Cikur mengobati penyakit batuk

Penisilin (getah) mengobati luka luar

Daun tara obat keseleo, sakir perut, pinggang sakit

Daun sirih obat penyakit panas

Daun cabeling (pecah beling) mengobati penyakit kencing batu Daun alpukat dan pandan mengobati penyakit darah tinggi Daun pancasona/cingcau mengobati penyakit pinggang

Daun kapuk dan daun kaca piring mengobati perut kambung atau penyakit lambung Daun sirih (pucuknya) mengobati penyakit mata

Daun kiampet dan daun jambu  biji

mengobati penyakit mencret-mencret

Cangkudu mengobati penyakit stroke, darah tinggi

Salihara obat luka

Kikoneng mengobati penyakit kuning,

Kibangkong, mengobati penyakit batuk kering Daun sembung mengobati penyakit perut

(14)

2.3.1.3. Perilaku dalam mengatasi kondisi sakit

Dalam kesehariaannya, masyarakat Kuta telah memunyai mekanisme sendiri dalam mengatasi kondisi sakit yang sedang mereka hadapi. Pada tahap awal perilaku sakit, biasanya masyarakat Kuta mencoba mengobati sendiri dulu sakit yang dirasakan, sakit yang dirasakan biasanya batuk, sakit kepala, sakit gigi, demam panas dan masuk angin. Berbekal pengetahuan pribadi dan informasi dari tetangga ataupun kerabat, mereka akan mencari tanaman obat yang kira-kira berguna untuk mengobati penyakit tersebut.

Jika tanaman obat tidak memberikan perubahan dan sakit terus berlanjut,   biasanya kerabat terdekat akan menghadap pada kokolot untuk dimintai

penyembuhannya. Kemudian Kokolot biasanya mendiagnosis penyakit pasiennya dengan menggunakan dua cara, yakni berdasarkan keterangan dari kerabat, atau melihat langsung kondisi pasien. Setelah diagnosis, kokolot akan menerangkan apa penyakitnya dan apa sebabnya. Untuk sakit yang disebabkan makhluk halus, pasien   biasanya dijampe dan di suruh untuk membayar kesalahan yang mungkin menjadi

sebab marahnya makhluk halus tersebut. atau untuk penyakit yang disebabkan karena melanggar pantangan, kesalahan harus melakukan ritual tertentu untuk membeyar kesalahan tersebut. sementara itu jika penyakitnya alami karena factor kondisi lingkungan ataupun kesalahan makan, biasanya kokolot akan menyebutkan tanaman apa saja yang harus dikumpulkan untuk kemudian dijampe, diracik dan diberikan pada pasien.

Kebanyakan dari proses pengobatan berhenti pada tahap ini, karena   berdasarkan pengakuan warga, setelah diobati kokolot biasanya pasien sembuh lagi.

Akan tetapi pada beberapa kasus, pengobatan dilanjutkan ke pengobatan modern di puskesmas kecamatan. Seperti pada kasus merebaknya chikungunya pada beberapa waktu lampau. Namun pada keadaan yang biasa, masyarakat Kuta jarang mau ke puskesmas ini, alasannya mereka tidak terbiasa dengan pengobatan seperti itu, dan   biayanya mahal. Namun pada beberapa kasus, proses pengobatan bahkan sampai ke

tingkat rumah sakit, biasanya terjadi pada kondisi darurat yang tidak bisa lagi ditangani oleh puskesmas. Seperti contoh etika anak pak Udin kecelakaan parah akibat  jatuh dari motor, mereka mengobatinya sampai di rumah sakit di kota Bandung.

(15)

Para pelayan kesehatan di Kampung Kuta

Dalam mengatasi masalah kesehatan, Kampung Kuta punya beberapa orang penyembuh utama yang mereka panggil dengan sebutan para kokolot Kampung, diantaranya adalah :

- Kuncen, pak Maryono dan wakil ketua adat, yakni pak Warja.

- Pak Maryono sendiri, selaku kuncen memang sering diminta tolong untuk memohon kesembuhan kepada para leluhur dengan memberi jampe kepada orang yang sakit. Biasanya pak kuncen cukup memberi air putih yang sudah dijampe saja.

- Kemudian ada juga tukang urut yang terkenal yaitu pak Dasman dan pak Udin. - Selain para penyembuh/tabib, Kampung Kuta juga memiliki seorang dukun

  beranak (paraji) yang mereka kenal sebagai seorang wanita yang bernama Tarsih.

2.3.2. Pengetahuan Masyarakat Kuta mengenai aspek Kesehatan Reproduksi 2.3.2.1. Amanah leluhur yang mengatur masalah reproduksi

a. pada saat upacara akad nikah, biasanya ada petuah-petuah dari ketua adat yang merupakan amanah dari para leluhur. Petuah tersebut menekankan bagaimana pasangan muda tersebut bisa memanejemen keluarganya dengan baik. Termasuk diantaranya mengatur jumlah anak dan waktu untuk memiliki anak. Adapun  bentuk aturan tentang hal itu, yakni:

- Kewajiban bagi suami adalah menafkahi keluarganya. Oleh akrena itu suami harus rajin bekerja untuk mendapatkan reski yang layak bagi keuarganya. - Anak adalah amanah dari Allah SWT, karena itu tidak boleh dizalimi karena

tidak tercukupkan nafkahnya. Oleh karena itu, jika belum mempunyai reski yang cukup, janganlah dulu memounyai anak. Tunggu reski mencukupi,  barulah punya anak.

(16)

 b. Bagi wanita yang baru melahirkan atau yang belum ingin punya anak, dianjurkan untuk meminum ramuan untuk mengeringkan peranakan, yakni : Kunir putih, diparut diperas sarinya, Brotowali, teh pahit juga, dan lainnya.

2.3.2.2. Paraji di Kampung Kuta, pengetahuan dan perannya

Sebagaimana yang dikatakan oleh Foster/Anderson dalam bukunya ‘Antropologi Kesehatan’ bahwa para ahli kesehatan pada masyarakat tradisional memperoleh kererampilan dan pengetahuan dalam hal pengobatan dari kerabat dekat mereka. Dengan pengetahuan tersebut, mereka dapat mencatat pengaruh makanan dan ramu-ramuan pada para pasien dan saling menukar informasi dengan orang-orang lain yang memiliki keterampilan serupa; dengan cara ini mereka dapat membangun reputasi mereka sebagai penyembuh.

Keterampilan dan pengetahuan local tentang kesehatan pada masyarakat Kuta   juga kami dapatkan dari seorang wanita berumur 42 tahun bernama Tarsih.

Keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki oleh Tarsih bergerak di bidang kehamilan dan kelahiran diturunkan oleh neneknya yang dulunya berprofesi sebagai dukun bayi. Orang-orang sekitar memanggilnya dengan sebutan paraji. Walaupun Tarsih bukan orang asli dari Kampung Kuta, tetapi ia tidak segan untuk membagi dan mengabdikan dirinya dengan ilmu yang ia miliki di desa yang telah ditempatinya selama 27 tahun. Walaupun umur Tarsih masih terhitung muda, tetapi warga setempat pun percaya  bahwa Tarsih adalah seorang paraji yang baik di Kampung mereka.

Pemerintah daerah Ciamis menetapkan satu bentuk peraturan bahwa Bidan dan Paraji harus bekerjasama dalam proses kelahiran. Adanya kerjasama yang sinergis antara paraji dan Bidan, tentunya membentuk hubungan yang lebih baik antara paraji,  bidan, dan ibu yang melahirkan. Transformasi ilmu pun dapat terjadi diantara dua ahli tersebut. Dalam proses melahirkan, bidan dan paraji memiliki batasanya masing-masing. Biasanya paraji lebih berperan dalam hal kebatinan sedangkan bidan berperan penting dalam proses kelahiran.

Berbagai ritual dilakukan oleh paraji pada ibu yang sedang mengandung. Ritual itu antara lain :

(17)

1. Pembacaan sahadat sebanyak tiga kali di detik-detik kelahiran bayi.

2. Pembuatan jimat kecil yang berisi bawang putih, kemenyan, rempe,panglai (lengkuas), dan jaringau. Kemudian diselipkan dipakaian dalam sang ibu dengan pembacaan beberapa baris mantra untuk menghindari sang ibu dan anaknya dari gangguan ‘setan kunti’ begitu sebutan yang diberikan oleh Tarsih. Jimat itu digunakan oleh sang ibu seja  umur kandungan menginjak usia empat bulan.

3. Membiasakan para ibu hamil untuk mengkonsumsi rutin ramuan kunyit, madu, gula, minyak kelapa, dan telur yang di campur selama tiga kali di setiap harinya sebelum makan. Hal ini dilakukan agar diberi kemudahan dalam proses kelahiran.

4. Paraji juga melarang para ibu hamil untuk minum minuman yang hangat dan mengkonsumsi obat-obatan baik ringan apalagi keras. Menurutnya ibu hamil harus  bersih dari unsure-unsur kimia agar bayinya tumbuh sehat.

5. Rajin mengkonsumsi makanan-makanan berserat seperti bayam, katuk , kangkung, dan sayuran hijau lainnya yang diakhiri dengan segelas air kunyit.

6. Mengkonsumsi air kelapa hijau agar bayi lahir dalam keadaan bersih.

7. Hindari makanan goreng-gorengan. Paraji selanjutnya mengatakan bahwa ibu hamil  akan lebih sehat jika mengkonsumsi makanan yang dikukus dan direbus.

8. Bagi para ibu yang biasa melakukan ‘nyirih’ saat hamil, kegiatan itu dilarang. Hal itu dilakukan agar nafsu makan ibu tetap terjaga.

9. Pembacaan surat Ayat Kursi dan Yasin setiap hari Jumat agar ketenanan selalu menyertai ibu hamil.

10. Pengambilan air wudhu yang dilakukan oleh paraji sebelum membantu ibu hamil  melahirkan.

Perawatan yang dilakukan oleh paraji tidak hanya terhenti setelah proses kelahiran dilaksanaan. Setelah selesai proses kelahiran, paraji biasanya tetap membantu para ibu untuk memulihkan kondisinya. Paraji biasanya mencatat waktu kelahiran bayi lalu menyerahkan catatan tersebut pada bidan untuk pembuatan akte kelahiran. Beberapa hal yang disarankan oleh paraji bagi ibu yang telah melahirkan adalah :

1. Pembuangan ari-ari bayi ke aliran sungai yang lurus agar kelak anaknya menjadi  anak yang panjang umur dan mudah di setiap langkahnya.

2. Penguburan Bali dengan pembacaan beberapa mantera untuk kesempurnaan sang  bayi.

(18)

3. Pembuatan ramuan Jahe dan Cabai kebun/hutan yang ditumbuk kemudian dimasukan kepada alat kelamin ibu. Ini dimaksudkan agar luka kelahiran cepat  terobati.

4. Tidak melakukan hubungan suami istri selama 40 hari.

5. Ibu yang telah melahirkan pun disarankan untuk selalu dalam posisi ‘duduk n yanda’  ketika duduk. Agar struktur rahim kembali seperti semula.

Pada praktiknya, dalam membantu proses kelahiran parajilah yang berkunjung ke rumah pasiennya. Terkadang jarak bidan yang jauh, menuntut paraji melakukan proses kelahiran seorang diri. Ketika menghadapi proses kelahiran yang sulit, paraji pun segera menghubungi bidan untuk membantunya. Alat kelahiran yang dimiliki oleh paraji hanya sebuah gunting untuk memotong ari-ari. Berbeda dengan bidan memiliki alat-alat yang lebih memadai. Dengan alat-alat dan pengetahuan formal tentang kandungan yang cukup, tentunya bidan dapat menyelesaikan situasi menegangkan yang sedang terjadi.

Tarsih pun mempunyai cara yang unik dalam menebak jenis kelamin dari anak yang berada didalam perut ibu. Biasanya ia akan meminta ibu hamil untuk duduk, selanjutnya penebakan jenis kelamin ia lihat dari tegangan bayi pada posisi ibu saat duduk. Jika tegangan itu lebih condong ke kiri, maka anak yang dikandung tersebut   berkelamin laki-laki. Sebaliknya, jika tegangan lebih condong ke kanan, maka anak

yang dikandung berkelamin perempuan. Sejauh ini Tarsih mengaku bahwa tebakannya selalu tepat.

Paraji tidak mengenal suntik perangsang yang biasanya diberikan oleh bidan pada ibu hamil untuk mempercepat proses kelahiran. Paraji masih memegang teguh   bahwa proses kelahiran yang terjadi secara alami akan lebih baik hasilnya. Ketika

proses melahirkan berhasil dilakukan, tetapi ada kejanggalan yang terjadi pada tubuh  bayi, tarsih biasanya mengoleskan ramuan jeruk nipis, daun kunir, cikur hangat, dan

tumbukan beras pada tubuh bayi.

Hal lain yang kami rasa sangat menarik adalah cara ampuh yang dilakukan paraji untuk mengatasi bayi yang selalu menangis. Paraji biasanya menggunakan buah aren yang telah dimakan musang lalu dibungkus dalam satu kantong kosong selajutnya diletakkan disamping bayi.

(19)

2.3.3. Makanan di Kampung Kuta

2.3.3.1. Makanan sehari-hari

Makanan sehari-hari masyarakat Kampung Kuta adalah sayur mayur yang   biasanya dikonsumsi dalam bentuk lalapan dan sop sayur. Lalapan yang sering

dikonsumsi seperti : Kacang panjang dengan daunnya, Timun, Daun Jintan, Daun cikur, Sampeg ( daun singkong), Surawangi ( kemangi ), Pete dan batang bambu muda. Sedangkan untuk sop mereka sering memasak nangka muda, sukun, kangkung, lobak kol dan sape, terong, melinjo, dan jamur. Kemudian kami juga menemukan bahwa masyarakat Kuta sangat jarang mengkonsumsi daging ikan ataupun ayam. Dari pengakuan mereka, meski banyak kolam ikan dan ternak ayam di sekitar rumah, akan tetapi ternak tersebut bukanlah untuk konsumsi sehari-hari, melainkan suatu bentuk simpanan yang berguna untuk acara-acara khusus, selain untuk dijual nantinya

2.3.3.2. Makanan Sakral

Kemudian masyarakat Kampung Kuta juga mempunyai makanan yang khusus mereka hidangkan pada acara ritual-ritual tertentu. Mereka menyebutnya makanan sajen, adapun jenis-jenis makanannya adalah sebagai berikut :

- Kupat lepet ( kupat selamat segi lima )

- Tang-tang angin ( kupat segi tiga dari bambu) - Cai beureum ( teh )

- Cai bodas ( air putih )

- Cai herang/bening ( air mentah )

- Ci kupi pait dan Cikupi manis ( air kopi pahit dan manis) - Bubur beureum (bubur nasi pakai gula merah)

- Bubur bodas (bubur nasi pakai gula putih) - Cohok ( nasi dari ujung hasupan/periuk ) - Congcot ( sama dengan cohok )

- Ndog ( telur ) ayam Kampung

- Rujakan ( cong, roti, kalapa, cawu raja )

- Supaheun sakumplitna ( cengkeh, apu, gambir, jambe, lemo )

(20)

BAB III

PEMBAHASAN

Para ahli antropologi kesehatan, yang dari definisinya dapat disebutkan   berorientasi ke ekologi, menaruh perhatiannya pada hubungan timbal–balik antara

manusia dan lingkungan alamnya, tingkahlakunya, penyakit-penyakiitnya, dan cara-cara dimana tingkahlaku dan penyakit-penyakitnya mempengaruhi evolusi dari kebudayaannya melaui proses umpan-balik ( Foster/Anderson, 1999: 14)

Sebagaimana fokus penelitian kami sejak awal adalah mencoba untuk melihat   bagaimana kondisi lingkungan Kampung Kuta mempengaruhi system budaya yang

dibagun oleh masyarakat Kampung Kuta, terutama kebudayaan dalam aspek kesehatan dan reproduksi. Kami ingin melihat bagaimana kerangka determinisme infrastructure dalam teori cultural materialism Marvin Harris berlaku pada kebudayaan masyarakat Kampung Kuta. Sejalan dengan hal tersebut, kami juga menggunakan pendekatan ekologis dari para ahli antropologi kesehatan untuk mengupas persoalan tesebut.

Harris dalam bukunya, Cultural Materialism, 1979, berusaha menjelaskan aspek-aspek pengorganisasian politik dan ekonomi (structure) dan simbol dan ideologi (superstructrure) sebagai akibat kombinasi berbagai variabel yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan bio-psikologi (modes of production and reproduction) dalam infrastructure . Cultural materialism ini melihat bahwa kelangsungan hidup dari suatu populasi manusia tergantung kepada bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan alamnya. Dalam proses interaksi tersebut, factor determinan adalah infrastructure , diatur dalam system social  sebagai structure, dan dikuatkan sebagai   bentuk keyakinan di dalam suprastucture. Hasil dari proses Interaksi terhadap alam inilah yang melahirkan suatu bentuk kebudayaan mereka, yang diwariskan kepada generasi penerus.

Sebagai factor determinan, infrastructure mempunyai dua komponen, yakni (1)Mode of production: mencakup teknologi dan aktivitas yang dilakukan untuk mengendalikan produksi kebutuhan dasar (produksi bahan subsisten) dan (2) Mode of  reproduction: mencakup teknologi dan aktivitas untuk mengendalikan ukuran populasi. Kedua komponen ini dipengaruhi dan ditentukan oleh kombinasi varibel-variabel ekologi, teknologi, dan demografi.

Mengapa masyarakat Kuta tidak berani mengganggu hutan yang ada di dekat mereka. Kalau dari jawaban warga Kuta sendiri hal tersebut adalah aturan adat yang merupakan amanah dari para leluhur yang masih menjaga Kampung Kuta itu. Dari hal ini terlihat, bagaimana struktur adat telah bermain untuk mengendalikan

(21)

masyarakatnya untuk tidak mengganggu hutan dengan menggunakan instrumen kepercayaan pada leluhur sebagai penguat.

Berdasarkan hasil observasi kami mengenai variabel-variabel ekologi di Kampung Kuta, seperti hutan karamat, lahan perkebunan, lahan persawahan,lahan kolam, dan lahan perumahan penduduk. Dapat disimpulkan bahwa ketersediaan lahan untuk pengembangan kebutuhan warga Kuta hanyalah 49% dari luas lahan tersebut, yakni seluas 57 ha dari 97 ha. Jika dibagi kepada 112 keluarga di Kampung Kuta, masing-masingnya hanya mendapatkan jatah ± 0,5 ha. Keterbatasan ini tentunya   berpengaruh terhadap eksistensi masyarakat Kuta sendiri. Akibat dari keterbatasan

lahan inilah yang menjadi tolak ukur masyarakat Kampung Kuta ketika berusaha mengendalikan jumlah penduduknya. Di dasarkan pada amanah leluhur, yang mereka takuti sebagai suatu ancaman yang bersifat gaib. Berbagai cara mereka lakukan untuk pengendalian jumlah penduduk tersebut, seperti beberapa cara yang telah kami  jelaskan pada bahasan bab II.

Perilaku-perilaku mereka dalam upaya pengedalian jumlah populasi, seperti penangguhan waktu memiliki anak, meminum ramuan-ramuan pahit yang berefek negative terhadap kesehatan reproduksi mereka sendiri. Sehingga pada akhirnya secara medis, mereka bisa tidak subur lagi untuk bereproduksi. Jika dilihat dari pendekatan mode of reproduction, hal tersebut terjadi karena masyarakat Kuta   berusaha untuk melakukan pengendalian jumlah populasi. Karena ditakutkan, jika

penduduk semakin banyak, tentu akan membutuhkan banyak sumber daya lahan untuk keberlangsungan hidup. Oleh karena itu, mereka membuat aturan agar jangan memiliki anak banyak untuk mengurangi persaingan hidup antar-mereka.

Namun jika hanya masalah ketersediaan lahan, mengapa mereka tidak menggunakan lahan hutan yang masih luas? Mengapa mereka malah mengorbankan keinginan-keinginan untuk memiliki keturunan yang banyak, daripada mengolah lahan yang masih tersedia? Mungkin jawabannya adalah mereka sendiri mau tidak mau, suka atau tidak suka, benar-benar membutuhkan hutan tersebut sebagai sumber kehidupan mereka yang krusial, yakni ketersediaan sumber daya air.

Memang tidak salah jika mereka benar-benar mengikuti amanah leluhur yang mereka akui sangat cerdas tersebut. Alasanya memang masuk akal, karena menjaga kelestarian hutan sama artinya menjaga kelestarian masyarakat Kuta itu sendiri. Para lelhur Kampung Kuta, sebagai pionir yang membangun Kampung Kuta tersebut, mungkin telah menyadari bahwa alam sekitar Kampung Kuta memang benar-benar  bergantung pada ketersediaan air di hutan tersebut. Oleh karena itu, mungkin mereka sengaja membuat sebentuk model adaptasi dengan lingkungan dengan cara mengendalikan jumlah populasi dan berusaha keras untuk tetap menjaga keberadaan hutan tersebut. Sebagaimana pendekatan Harris, hasil dari proses interaksi itulah yang menjadi kebudayaan masyarakat Kampung Kuta hingga saat ini, karena selalu diwariskan turun teumurun.

(22)

Akan tetapi, ada hal yang menjadi persoalan dari system kebudayaan seperti itu. Jika memang kebudayaan tersebut dibentuk sebagai upaya adaptif dalam mempertahankan keeksistensian masyarakat Kampung Kuta, lantas bagamana jika masyarakat Kampung Kuta itu sendiri yang pada akhrnya menjadi semakin sedikit dan kekurangan generasi penerus. Apakah ke depannya mereka masih tetap bisa eksis?

Berdasarkan hasil observasi, demografi Kampung Kuta saat ini berbentuk piramida terbalik, artinya saat ini masyarakat Kampung Kuta sedang mengalami krisis generasi penerus. Dari keseluruhan penduduk, hanya 17 persen penduduk usia muda,  jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penduduk usia tua yang mencapai 42 persen,

selain 51 persen penduduk dewasa yang sebentar lagi juga akan menjadi tua.

Jika dilhat dari kajian dinamika populasi penduduk. Secara umum ada tiga model dinamika populasi penduduk, yaitu (1) apabila fertilitas lebih tinggi dari mortalitas, maka populasi penduduk akan naik sepanjang massa;(2) jika mortalitas lebih tinggi daripada fertilitas, maka populasi penduduk akan turun sepanjang masa: dan (3) jika fertilitas hanya sama dengan mortalitas, angka kelahiran akan sama dengan angka kematian, maka jumlah pupulasi penduduk akan konstan, terjadi dynamic equilibrium (Iskandar, 2009 : 99).

Hal ini sejalan dengan pandangan pendukung ekologi kebudayaan, yang mengemukakan bahwa ciri-ciri kebudayaan, seperti halnya ciri-ciri biologi, dapat dianggap adaptif  atau mal-adaptif . Banyak kalangan ekologi kebudayaan berasumsi  bahwa adaptasi kebudayaan melibatkan mekanisme seleksi secara alami.

Pada umumnya, masyarakat tersebut lebih sering bertahan ( survive ) dan   berhasil berproduksi. Hal ini menunjukkan suatu adaptasi yang lebih baik. Dengan demikian, lingkungan termasuk lingkungan fisik dan lingkungan social, mempengaruhi perkembangan dari ciri kebudayaan, dimana, individu atau populasi yang berperilaku tertentu memiliki tingkat perbedaan terhadap keberhasilan survival dan perproduksi. Di lain pihak, berbagai perilaku tersebut dapat juga diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya ( Iskandar, 2009 : 49).

Melihat kenyataan bahwa saat ini angka pertumbuhan penduduk di Kampung Kuta sangat kecil, angka kematian dan keluar kampung lebih tinggi dari angka kelahiran dan yang masuk ke kampung. Berdasarkan kajian di atas, berarti ke depannya Masyarakat Kampung Kuta akan mengalami penurunan populasi sepanjangan masa.

Jadi, memang di satu sisi kebudayaan masyarakat Kuta bersifat adaptif dengan  jalan menjaga kelestarian alam demi ketersediaan sumber daya. Namun pada sisi lain  bersifat mal-adaptif  bagi masyarakat itu sendiri, karena dari sistem yang mereka kembangkan berakibat menurunnya pertumbuhan penduduk mereka. Disadari atau tidak, saat ini, jika masyarakat Kampung Kuta tetap saja dalam keadaan seperti ini, mungkin sebentar lagi akan terancam keeksistensiaannya dalam kehidupan ini.

(23)

Bab IV

KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dilakukan dapat kami simpulkan bahwa fenomena penurunan jumlah penduduk Kampung Kuta merupakan masalah kesehatan reproduksi yang ditimbulkan oleh kebudayaan masyarakat Kampung Kuta yang  bersifat mal-adaptif .

Amanah-manah yang diciptakan oleh para leluhur yang menjadi dasar kebudayaan tersebut diikuti saja tanpa melakukan telaah lebih jauh bagaimana efek dari amanah tersebut. memang secara umum amanah-amanah tersebut mempunyai manfaat besar dalam upaya pelestarian alam demi kepentingan masyarakat kuta itu sendiri. Namun ada beberapa amanah yang sebenarnya mempunyai dampak negatif terhadap eksistensi masyarakat kampung kuta tersebut.

Diantaranya adalah amanah yang menganjurkan menunda waktu untuk memiliki anak dan amanah yang menganjurkan para wanita mengonsumsi ramuan yang berefek negatif terhadap kesuburan reproduksi wanita tersebut. karena hal ini telah menjadi suatu kebudayaan dalam masyarakat kuta, akibatnya terjadilah penurunan jumlah penduduk yang terus-menerus seperti yang terjadi saat ini.

Jika hal ini tidak dirubah, maka penduduk kampung kuta akan mengalami krisis generasi penerus, yang berarti masalah besar bagi keberlangsungan masyarakat mereka. Jika masyarakat kampung kuta mengaggap hal seperti ini merupakan persoalan, saran kami adalah masayarakat kampung kuta harus melakukan perubahan  besar dalam cara pandang mereka terhdap kesehatan reproduksi masyarakatnya.

Namun, jika masyarakat kampung kuta menganggap hal ini adalah resiko yang mau tidak mau harus mereka tanggung demi kepatuhan pada amanah leluhur, mungkin tidak harus dipaksakan juga. Karena disadari ataupun tidak, suka atupun tidak, memang sistem budaya seperti ini sengaja di desain sesuai dengan kondisi lingkungan kampung kuta itu sendiri dan demi kepentingan masyarakatnya.

Memang hal seperti ini akan susah kita temui pada masyarakat lain, karena ada satu hal istimewa dari masyarakat kampung kuta yang membuatnya berbeda dengan masyarakat lainnya, yakni kebersediaan masing-masing warganya untuk menundukkan ego pribadinya dibawah kepentingan dan keberlangsungan hidup masyarakat kampung kuta itu sendiri.

(24)

Daftar Pustaka

Foster, George M. & Anderson, Barbara Gallatin. 1999. Antropologi Kesehatan. Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta.

Hidayati, Nuri. 2008. Kontribusi Ustadz Bahrudin dalam Perkembangan Islam di  Kampung Adat Kuta Desa Karangpaninggal, Kabupaten Ciamis (1981-1992) . Skripsi S1 Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta.

Ihromi, T.O. 1980. Pokok-pokok Antropologi Budaya . Yayasan Obor Indonesia : Jakarta. Iskandar, Johan. 2009. Ekologi Manusia dan Pembangunan Berkelanjutan. Program

Gambar

Gambar 1 : Alokasi Lahan Di Kampung Kuta
Gambar 2:  Piramida Penduduk Kampung Kuta Berdasarkan Kelompok Umur Total : 301 Orang 
Gambar 3 : Persentase Penduduk Kampung Kuta Berdasarkan Kelompok Umur

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan tujuan Rencana Program Investasi Jangka Menengah ( RPIJM ) adalah sebagai dokumen yang dijadikan acuan dalam perencanaan progam dan anggaran serta

Pada akhir pembelajaran, dosen pengampu melakukan kegiatann sebagai berikut: (1) melakukan evaluasi tentang keberhasilan integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran

Dalam Tugas Akhir ini, dilakukan simulasi untuk mengamati kerusakan pada thyristor dalam suatu rangkaian penyearah tiga fasa terkontrol penuh, dengan beban yang digunakan yaitu

b) Kendala yang dihadapi BMT dalam upaya mencapai profit yang optimal adalah faktor iddle money (kelebihan dana) yaitu penarikan besar-besaran pada bulan Juli- Agustus

Pada semua tingkat umur, pem- berian tepung kunyit aras 1,0% dalam pakan secara nyata (P<0,05) menunjukkan persentase neutrofil yang paling rendah sehingga menyebabkan

TARBIYAH IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA.

Sehingga didapatkan akurasi terbaik sebesar 82.35% dengan menggunakan metode GLCM ( Grey Level Co-occurrence Matrix) dengan parameter orde dua kontras,

Disisi lain pembelajatan politik sebagai sebuah usaha sadar untuk mengubah sikap dan perilaku individu dan masyarakat sehingga mereka memahami dan menghayati