Jurnal Muhakkamah Vol. 5 No. 1 Juni 2020 P-ISSN : X E-ISSN :

Teks penuh

(1)

EKSISTENSI PENGHUBUNG KOMISI YUDISIAL NUSA TENGGARA BARAT DALAM MELAKUKAN PENGAWASAN KODE ETIK HAKIM

Oleh : Habibi

Dosen STAHN Gde Pudja Mataram Email : Habibi5959866@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui eksistensi penghubung komisi yudisial (PKY) Nusa Tenggra Barat dalam menjaga dan mengawasi perilaku hakim. Adapun metode yang digunakan penulis adalah yuridis-normatif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa secara umum PKY merupakan lembaga pendukung dibawah Komisi Yudisial (KY). PKY termasuk dalam lembaga pendukung tambahan. Hal ini didasarkan pada Pasal 24B UUD 1945 yang memberikan kewenangan kepada KY untuk membentuk lembaga pendukung. Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat memiliki tugas menerima laporan masyarakat, melakukan pemantauan persidangan, advokasi hakim dan tugas lainnya yang diberikan oleh Komisi Yudisial RI. Faktor yang mempengaruhi penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat menjalankan Tugas dan Fungsinya dalam mewujudkan Peradilan Bersih adanya factor penghambat dan pendukung, faktor penghambat meliputi Sumber daya manusia yang masih kurang dan Anggaran Penghubung yang masih kurang, sesangkan faktor penghambat meliputi Sumber Daya Manusia, Kerjasama dan Profesionalisme, dan Jejaring Komisi Yudisial, luas wilayah dan pengadilan yang sedikit. Kata Kunci : Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggra Barat

Abstract

This study intends to find out the existence of the West Nusa Tenggara judicial commission (PKY) liaison in maintaining and overseeing the behavior of judges. The method used by the writer is juridical-normative. The results of this study can be concluded that in general PKY is a supporting institution under the Judicial Commission (KY). PKY is included in an additional supporting institution. This is based on Article 24B of the 1945 Constitution which gives authority to KY to form a supporting institution. The liaison officer of the West Nusa Tenggara Judicial Commission has the duty to receive public reports, conduct court monitoring, judge advocacy and other tasks given by the RI Judicial Commission. Factors influencing the liaison of the West Nusa Tenggara Judicial Commission to carry out their duties and functions in realizing Clean Judiciary, there are inhibiting and supporting factors, inhibiting factors include insufficient human resources and lacking liaison budgets, while inhibiting factors include Human Resources, Collaboration and Professionalism , and the Judicial Commission Network, a small area and court.

(2)

A. Pendahuluan

Komisi Yudisial (KY) merupakan salah satu lembaga yudikatif dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. Tugas dan kewenangan Komisi Yudisial yaitu tercantum di Pasal 24B Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yakni KY bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Komisi Yudisial sebagai lembaga negara yang disebutkan secara eksplisit dalam UUD 1945 seperti lembaga negara lainnya yakni Presiden, DPR, DPD, BI, BPK dan MA yang bersifat

constitutionaly importance1. KY dalam bertujuan untuk menciptakan suatu peradilan yang baik, mandiri, netral (tidak memihak), kompeten, transparan, akuntabel dan berwibawa yang merupakan conditio sine

qua non atau mutlak dalam sebuah negara

yang berdasarkan hukum, maka oleh karena hal tersebut yang melatar belakang Komisi Yudisial harus dibentuk. Indonesia yang menganut sistem Check and balances dalam system ketatanegaraan yaitu suatu sistem pembagian kekuasaan yang bertujuan untuk menjamin terciptanya sistem saling awas dan saling mengimbangi antar lembaga negara terutama dibidang Yudikatif.2

Pembentukan Komisi Yudisial semula merupakan tuntutan reformasi akan perubahan dunia peradilan di Indonesia yang diangap telah kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Lembaga ini diharapkan

1 Jimly Asshiddiqie, Lembaga Negara Pasca

Reformasi (Jakarta: Sekretariat Jenderal Mahkamah

Konstitusi RI, 2006) hal 24.

2 Fandi Saputra, “Kedudukan Komisi

Yudisial Sebagai Lembaga Negara”, Jurnal Ilmu

Hukum, Volume , Edisi 1, 2013. h. 2

mampu memberikan kontribusi dalam pembaharuan peradilan, menegakan keluhuran martabat hakim dan memperjuangkan kesejahteraan hakim3.

Lahirnya Komisi Yudisial diharapkan mampu memberikan masyarakat sebuah tempat untuk mengadu dan melaporkan segala perilaku hakim apabila diduga melanggar atau bila dinilai oleh masyarakat bahwa hakim memperlihatkan sikap yang keliru ketika sedang melakukan tugasnya, dengan demikian adanya pengawas yang independen dan tidak berasal dari lembaga yang sama membuat masyarakat sedikit demi sedikit kembali percaya dengan independensi hakim dalam memutus perkara, Namun posisi Komisi Yudisial yang terletak di ibukota negara tentunya menjadi hambatan tersendiri bagi masyarakat Pencari Keadilan untuk menjangkaunya sehingga dengan pertimbangan itulah serta banyaknya laporan dari daerah-daerah dan sesuai dengan pasal 3 ayat 2 UU No 18 tahun 2011 tentang pengganti UU No 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial maka demi kelancaran segala pemantauan perilaku hakim dan untuk mempermudah masyarakat melaporkan dugaan pelanggaran kode etik hakim dan pedoman perilaku hakim maka Komisi Yudisial melalui Peraturan Komisi Yudisial Republik indonesia Nomor 1 tahun 2012 tentang pembentukan, susunan dan tatakerja penghubung Komisi Yudisial di daerah dan berdasarkan keputusan Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia Nomor:119/KEP/SET.K Y/08/2013 dibentuklah Penghubung Komisi Yudisial di berbagai daerah, Daerah yang

3 Endru Mahendra, Tesis Pengawasan Hakim Oleh Komisi Yudisial Dalam Kaitanya Dengan Kewenangan Mahkamah Agung hal 54

(3)

merupakan kota besar, tingkat dugaan

pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim lumayan banyak berdasarkan laporan dari masyarakat yang masuk ke Komisi Yudisial republik Indonesia.

Penghubung Komisi Yudisial diberbagai daerah yang merupakan perpanjangan tangan dari Komisi Yudisial Republik Indonesia dinilai sebuah langkah yang strategis mengingat wilayah kerja Komisi Yudisial meliputi seluruh hakim yang berjumlah lebih 8000-an diseluruh indonesia sehingga dengan hadirnya berbagai penghubung di delapan kota Ibu kota provinsi akan mempermudah Komisi Yudisial Dalam melaksanakan tugasnya sebagai amanah dari masyarakat untuk melakukan Reformasi Peradilan menuju peradilan yang bersih dan bermartabat. Komisi Yudisial Penghubung telah memberikan akses yang mudah bagi masyarakat pencari keadilan di daerah untuk menyampaikan laporan pengaduan terkait dengan dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim untuk di teruskan ke Komisi Yudisial Republik Indonesia. Selain sebagai akses yang mudah bagi masyarakat untuk melaporkan adanya dugaan pelanggaran kode etik dan pedoman perilaku hakim di daerah, tentunya penghubung Komisi Yudisial daerah diharapkan mampu mengembalikan sistem Peradilan kearah peradilan bersih dari KKN (Kolusi,Korupsi dan Nepotisme) dan senantiasa mengedepankan Keadilan bagi setiap orang.

Kurun waktu tahun 2013-2014, Komisi Yudisial membentuk Penghubung di beberapa daerah, antara lain:1) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Sumatera Utara,. 2)Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Riau. 3) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Sumatera Selatan. 4) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Jawa Tengah. 5)

Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Jawa Timur. 6) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Kalimantan Timur. 7) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Kalimantan Barat. 8) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Sulawesi Selatan. 9) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Sulawesi Utara. 10) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Nusa Tenggara Barat. 11)Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Nusa Tenggara Timur. 11) Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Maluku.

Pembentukan penghubung Komisi Yudisial bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menyampaikan laporan, meningkatkan efektifitas pemantauan persidangan, dan sosialisasi kelembagaan dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku Hakim. Pembentukan Penghubung Komisi Yudisial bertujuan untuk membantu pelaksanaan tugas Komisi Yudisial

Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat yang berkedudukan di ibu kota provinsi yaitu Kota mataram yang terbentuk pada bulan sepetember 2013, keberadaan PKY NTB lahir karena merupakan salah satu propinsi yang cukup tinggi laporan pengaduan masayarakat. B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pelaksanaan pengawasan kode etik yang dilakukan oleh penghubung komisi yudisial nusa tenggara barat ?

2. Apakah Faktor yang mempengaruhi Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat dalam melakukan pengawasan kode etik hakim?

C. Metode Penelitian

Penelitian ini, menggunakan metode penelitian normatif empiris atau disebut jugadengan metode normatif terapan. Penelitian ini mengkaji pelaksanaan atau

(4)

implementasi ketentuan hukum positif dan kontrak secara faktual pada setiap peristiwa hukum tertentuyang terjadi dalam masyarakat guna mencapa itu juan yang telah ditentukan4. Penelitian ini dilakukan di

Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat. Pemilihan lokasi penelitian. Data yang diperoleh baik data primer maupun data sekunder akan dianalisis dan di olah secara kualitatif yaitu uraian menurut mutu dan sifat gejala dalam peristiwa hukum yang berlaku dalam kenyataan sebagai gejala data primer yang di hubungkan dengan teori-teori.

D. Pembahasan

1. Pelaksanaan Pengawasan Kode Etik Hakim Oleh Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat

Komisi Yudisial RI dengan tujuan Reformasi sistem peradilan di indonesia. Kewenangan Komisi Yudisial di pertegas dalam UUD 1945 Pasal 24 a ayat 3 yaitu “calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada dewan perwakilan rakyat untuk mendapatkan persetujuan dan selanjutnya di tetapkan sebagai hakim agung oleh presiden” dan juga terdapat pada pasal 24 b yaitu:

1. Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam rangka menjaga dan menegakkan Kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

2. Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman dibidang hukum serta

4 Habibi, 2019,Perlindungan Hukum

terhadap hak narapidana dalam melakukan ibadah di lembaga pemasyarakatan klas IIA Mataram. Jurnal Belom Bahadat Vol. 9/No.

2/Desember/2019. Hal 4

memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela.

3. Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. 4. Susunan, kedudukan, dan keanggotaan

Komisi Yudisial Republik Indonesia diatur dengan Undang–Undang.5

Ketentuan diatas melahirkan sebuah konsekwensi logis yakni dengan hadirnya Undang–Undang nomor 18 tahun 2011 tentang pengganti Undang– Undang nomor 22 tahun 2004 tentang komisi yudisial. Dalam pasal 3 UU a quo dikatakan bahwa :

1. Komisi Yudisial berkedudukan di ibu kota negara republik Indonesia.

2. Komisi Yudisial dapat mengangkat penghubung di daerah sesuai dengan kebutuhan

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan susunan dan tatakerja penghubung Komisi Yudisial di daerah sebagaimana di maksud pada pasal 2 diatur dengan peraturan komisi yudisial.

Undang-undang tersebut menjadi dasar dikeluarkannya peraturan Komisi Yudisial RI no 1 tahun 2012 tentang pembentukan, susunan dan tata kerja penghubung Komisi Yudisial di daerah. Dalam pasal 2 ayat 2 dikatakan bahwa pembentukan Komisi Yudisial bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam menyampaikan laporan, meningkatkan efektivitas pemantauan persidangan, dan sosialisasi kelembagaan dalam rangka menjaga dan menegakan kehormatan, keluhuran martabat serta perilaku hakim.

Penghubung Komisi Yudisial adalah unit yang membantu pelaksanaan tugas

5 Yohanes Usfunan, Komisi Yudisial, Bunga

Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial,

(5)

Komisi Yudisial di daerah. Pembentukan

Penghubung Komisi Yudisial bertujuan untuk membantu pelaksanaan tugas Komisi Yudisial.

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Komisi Yudisial penghubung dan seluruh Komisi Yudisial Penghubung di daerah diikat dengan Kode Etik berdasarkan peraturan Sekretaris Jenderal Komisi Yudisial RI nomor 4 Tahun 2013 tentang Pedoman Perilaku Penerimaan Laporan Masyarakat, Verifikasi, Anotasi, Pemantauan, Persidangan, Pemeriksaan, dan Investigasi. Adanya Kode Etik tersebut merupakan suatu aturan main yang mengikat seluruh petugas penghubung di daerah sehingga petugas penghubung bisa independen dan mengedepankan integritas dalam melaksanakan Tugasnya6.

Mengenai Tugas Penghubung Komisi Yudisial membantu pelaksanaan tugas Komisi Yudisial dalam pasal 4 peraturan Komisi Yudisial Nomor 1 tahun 2017 yang meliputi:

a. Melakukan Pemantauan Dan Pengawasan Terhadap Perilaku Hakim;

Melakukan penerimaan permohonan pemantauan persidangan untuk diteruskan kepada Komisi Yudisial, kemudian dilakukan pencatatan dan analisis permohonan pemantauan persidangan; pemantauan persidangan; dan penyusunan laporan hasil pemantauan persidangan untuk diteruskan kepada Komisi Yudisial.

b. Menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan dugaan pelanggaran

6 Aztri Fithrayani Alam .Efektivitas Pelaksanaan Tugas Komisi Yudisial Indonesia Penghubung Dalam Mewujudkan Peradilan Bersih. Jurnal Jurisprudentie V5

Kode Etik dan/atau Pedoman Perilaku Hakim (KEPPH);

Penerimaan dan pencatatan Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH,verifikasi kelengkapan persyaratan administrasi Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH, permintaan kelengkapan data dan/atau persyaratan Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH kepada pelapor secara langsung; penerimaan bukti pendukung yang dapat menguatkan Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH, pelayanan informasi atau konsultasi berkaitan dengan Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH sebelum dilakukan registrasi, pemberian dukungan dalam proses pemeriksaan Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH bersama unit kerja yang melakukan fungsi pemeriksaan; dan pemberian informasi perkembangan Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH kepada pelapor.

c. Melakukan Verifikasi Terhadap Laporan Dugaan Pelanggaran KEPPH Secara Tertutup;

d. Mengambil Langkah Hukum Dan/Atau Langkah Lain Terhadap Orang Perseorangan, Kelompok Orang, Atau Badan Hukum Yang Merendahkan Kehormatan Dan Keluhuran Martabat Hakim;

Penerimaan dan pencatatan Laporan Permohonan Advokasi Hakim dan/atau informasi dugaan perbuatan yang merendahkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim, penelaahan awal terhadap Laporan Permohonan Advokasi Hakim dan/atau informasi dugaan perbuatan yang merendahkan kehormatan dan keluhuran martabat hakim; pengumpulan bahan keterangan terkait Laporan Permohonan Advokasi Hakim dan/atau informasi dugaan perbuatan yang merendahkan kehormatan

(6)

dan keluhuran martabat hakim bersama dengan unit kerja yang melakukan fungsi advokasi.

e. Melaksanakan Tugas Lain Yang Diberikan Oleh Komisi Yudisial.

Pemberian tugas lain ini dilakukan sepanjang masih merupakan kewenangan komisi yudisial adapun tugas lain yang dimaksud seperti sosialisasi kelembagaan dan melakukan investigasi terhadap dugaan pelanggaran kode etik yang dilakuakn oleh hakim.

Pemantauan persidangan yang dipantau oleh Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Nusa Tenggara Barat terdiri dari perkara pidana/Tipikor, perdata dan tata usaha Negara. Pemantauan persidangan dilakukan oleh-

Komisi Yudisial Penghubung Wilayah nusa tenggara barat dilakukan berdasarkan dua hal, yaitu: laporan masyarakat terkait dengan adanya dugaan Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim dan inisiatif Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Nusa Tenggara Barat. Inisiatif Komisi Yudisial Penghubung Wilayah Nusa Tenggara Barat dalam memantau persidangan dilakukan karena beberapa indikasi, di antaranya:

Perkara yang menjadi perhatian publik, adanya kerugian negara yang cukup besar, perkaranya bernuansa politik, dan perkaranya menyangkut kepentingan orang banyak.

Data Penerimaan Laporan periode tahun 2014 sampai dengan 2019

No Bidang Tugas 2014 2015 2016 2017 2018 2019

1 Laporan kode etik 23 26 9 9 10 11

2 Pemantauan Persidangan 23 33 9 6 6 5

3 Advokasi hakim - 1 - 1 - -

Jumlah 46 60 18 16 16 16

Dari data diatas laporan pengaduan masyarakat cukup tinggi diawal keberadaan penghubung komisi yudisial nusa tenggara barat dan mengalami penuruanan setelah tahun 2016, menanggapi hal tersebut menurut Desrin Jania7, laporan mengalami penurunan hal ini disebabkan karena diawal keberadaan penghubung banyak masyarakat yang melapor bahkan laporan tersebut bukan

7 Wawancara Asisten Petugas Penghubung KY NTB tanggal 4 Januari 2020

dari tufoksi ky sendiri, meskipun mengalami penurunan tetapi laporan dari segi kualitas mengalami kenaikan hal ini dibuktikan dengan teregisternya laporan di Komisi Yudisial. Pada laporan pemantauan persidangan dilakukan oleh penghubung komisi yudisial . sedangkan advokasi hakim bisa dilakukan oleh komisi yudisial tanpa harus menunggu laporan dari hakim, advokasi sendiri dilakukan bila ada orang

(7)

atau badan/instansi yang merendahkan

martabat hakim.

2. Faktor yang mempengaruhi Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat dalam melakukan pengawasan kode etik hakim

Faktor yang mempengaruhi Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam mewujudkan peradilan bersih terbagi atas faktor penghambat dan faktor pendorong yakni :

 Faktor Penghambat a. Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia yang di maksud adalah kurangnya jumlah pegawai yang ada pada saat ini di kantor Komisi Yudisial Penghubung menjadi salah satu faktor penghambat dalam

melaksanakan tugas dan

fungsinya.sementara menurut pasal 10 tentang pembentukan dan susunan tata kerja Komisi Yudisial Penghubung di daerah menyatakan bahwa: Penghubung Komisi Yudisial terdiri atas: 1 (satu) orang koordinator; dan paling banyak 5 (lima) orang asisten.

Dalam pasal tersebut telah jelas menerangkan bahwa petugas Komisi Yudisial Penghubung di daerah maksimal berjumlah 6 orang sementara batas minimalnya tidak disebutkan. Melihat kondisi internal yang terjadi di Komisi Yudisial Penghubung mnusa tenggara

barat terlihat jelas bahwa dengan hanya 4 orang petugas penghubung sangatlah menjadi kendala untuk mengefektivkan tugas mereka, seharusnya Komisi Yudisial Republik Indonesia seharusnya menambahkan petugas penghubung lagi mengingat luasnya wilayah kerja Komisi Yudisial Penghubung dengan penambahan petugas penghubung yang kompeten diyakini sebagai salah satu langkah untuk membuat Komisi Yudisial Penghubung jauh lebih efektif dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

b. Anggaran Penghubung Minim Anggaran penghubung komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat berada di biro umum komisi yudisial RI Jakarta, adapun anggaran yang diperoleh untuk operasional selama 1 bulan sejumlah 10 juta rupiah, menurut hasyim anggaran ini dinilai cukup tetapi anggaran untuk pemantauan dan penerimaan laporan masyarakat dinilai kurang.

Selain faktor penghambat diatas Salah satu problem mendasar dari Kantor Penghubung KY di daerah adalah karena tupoksi yang diberikan kepadanya terlalu minimalis. KY sebagai organ resmi negara, eksistensi Kantor Penghubung KY hampir mirip dengan lembaga non-negara seperti Lembaga Swadaya

(8)

Masyarakat . Setidaknya hal ini dapat dilihat dari peran Kantor Penghubung yang hanya sebagai penerima laporan dugaan pelanggaran Kode Etik hakim, melakukan pemantauan persidangan, dan melakukan sosialisasi KEPPH dan institusi KY kepada masyarakat luas. Kantor Penghubung tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan resmi atas nama negara, melainkan hanya sebagai perpanjangan institusi KY yang ada di pusat.

 Faktor Pendorong

a. Kerjasama dan Profesionalisme Salah satu faktor untuk mengefektifkan tugas dan fungsi Komisi Yudisial Penghubung adalah faktor sikap kerjasama dan profesionalisme dari para petugas Komisi Yudisial Penghubung. Jadi salah satu cara adalah dengan cara

mengedapankan sikap

propesionalisme. Jika seorang petugas selalu mencampur adukkan urusan-urusan pribadi dengan urusan pekerjaan di kantor maka perilaku tesebut jelas akan menjadi penghambat dalam melaksanakan tugas utamanya. Tetapi jika sesorang petugas dapat mengaplikasikan sikap profesionalisme dalam dirinya maka

8 Refki Saputra, Refleksi Peran Kantor

Penghubung KY dan Partisipasi Masyarakat Jurnal peradilan Indonesia Vol 6 2017 Hal 25

akan tercipta kinerja kerja yang luar biasa. Jika melihat dalam system rekrutemen penghubung komisi yudisial nusa tenggara barat sangatlah ketat mulai dari persyaratan administrasi, uji kemampuan bidang, dan rekam jejak, sehingga profesionalisme petugas penghubung sudah tidak diragukan lagi.

b. Jejaring Komisi Yudisial

Usaha mewujudkan peradilan bersih yang berasal dari luar tubuh penghubung banyak memberikan kontribusi. Hal ini bukan saja berasal dari lembaga atau instansi hukum di luar komisi yudisial, tapi dari semua pihak di semua aspek kehidupan. Seperti pemerintah kota, provinsi, masyarkat awam, mahasiswa, hingga aktivis. Jejaring Komisi Yudisial Republik Indonesia Penghubung yang turut mendorong progress dan pelaksanaan tugas dan fungsi dari Komisi Yudisial Republik Indonesia Penghubung itu sendiri merupakan hal yang paling mampu membantu Komisi Yudisial Republik Indonesia Penghubung dalam melaksanakan berbagai tugas dan fungsinya mengingat bahwa Komisi Yudisial Republik Indonesia Penghubung hanya dijalankan oleh empat

(9)

personil. ketika dilakukan tugas

pemantauan tak jarang tugas itu melibatkan minimal dua orang personil.

Pertanyaannya kemudian siapa yang akan menjalankan tugas sosialisasi dan penerimaan laporan masyarakat pada hari tersebut. Maka dari itulah peran dari jejaring sangat dibutuhkan. Jejaring komisi yudisial yang terbentuk pada tahun 2015 yakni Jepred (Jejaring Peradilan Bersih) yang terdiri dari berbagai macam NGO seperti walhi, Somasi, Grativikasi, AJI, LSBH dan berbagai organisasi lainnya,

c. Luas Wilayah dan Pengadilan Yang Sedikit

Wilayah Nusa Tenggara Barat yang terdiri dari 10 Kabupaten/Kota dengan jumlah pengadilan sebanyak 10 Terdiri 2 Pengadilan Tinggi, 6 Pengadilan Negeri Dan 8 Pengadilan Agama Dan 1 Pengadilan Tata Usaha Negara, jumlah hakim kurang lebih 145 orang, dengan jumlah yang tidak terlalu banyak sangat menguntungkan untuk Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat dalam mengawasi kode etik dan prilaku hakim..

E. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulan sebagai berikut :

1. Penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat memiliki tugas menerima laporan masyarakat, melakukan pemantauan persidangan, advokasi hakim dan tugas lainnya yang diberikan oleh Komisi Yudisial RI. 2. Faktor yang mempengaruhi

penghubung Komisi Yudisial Nusa Tenggara Barat menjalankan Tugas dan Fungsinya dalam mewujudkan Peradilan Bersih adanya factor penghambat dan pendukung, factor penghambat meliputi Sumber daya manusia yang masih kurang dan Anggaran Penghubung yang masih kurang, sesangkan factor penghambat meliputi Sumber Daya Manusia, Kerjasama dan Profesionalisme, dan Jejaring Komisi Yudisial, luas wilayah dan pengadilan yang sedikit.

DAFTAR PUSTAKA

Aztri Fithrayani Alam.2018.Efektivitas

Pelaksanaan Tugas Komisi Yudisial Indonesia Penghubung Dalam Mewujudkan Peradilan Bersih. Jurnal Jurisprudentie Vol 5

Nomor 1.

Endru Mahendra, 2019. Tesis Pengawasan

Hakim Oleh Komisi Yudisial Dalam Kaitanya Dengan Kewenangan Mahkamah Agung, Fakultas Hukum Univesritas Mataram Fandi Saputra,2013.“Kedudukan Komisi

Yudisial Sebagai Lembaga Negara”, Jurnal Ilmu Hukum,

(10)

Habibi, 2019, Perlindungan Hukum Terhadap Hak Narapidana Dalam Melakukan Ibadah Di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Mataram. Jurnal Belom Bahadat

Vol. 9 No 2.

Jimly Asshiddiqie, 2006. Lembaga Negara

Pasca Reformasi (Jakarta: Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi RI.

Refki Saputra, 2017. Refleksi Peran Kantor

Penghubung KY dan Partisipasi Masyarakat Jurnal Peradilan

Indonesia Vol 6

Yohanes Usfunan, 2011. Komisi Yudisial,

Bunga Rampai Refleksi Satu Tahun Komisi Yudisial, Jakarta; Komisi

Yudisial RI Peraturan

Indonesia, Undang Undang Dasar Negara RI Tahun 1945

Indonesia Undang Undang Nomor 18 Tahun 2011 Tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 22 Tahun 2004 Tentang Komisi Yudisial Indonesia, Peraturan Komisi Yudisial

Republik Indonesia Nomor 1

Tahun 2017 Tentang

Pembentukan, Susunan, Dan Tata Kerja Penghubung Komisi Yudisial Di Daerah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :