• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROCEEDING. SEMINAR NASIONAL 6 th UNS SME s SUMMIT & AWARDS ʹ7

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROCEEDING. SEMINAR NASIONAL 6 th UNS SME s SUMMIT & AWARDS ʹ7"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PROCEEDING

SEMINAR NASIONAL

6

th

UNS SME

’s SUMMIT & AWARDS ʹ฀฀7

DzPeningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif

dalam Era Masyarakat Ekonomi

ASEANdz

Gedung UNS Inn, Jl. Ir Sutami No 36 Surakarta Tanggal 13 Juli 2017

Penerbit :

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Universitas Sebelas Maret Surakarta

(3)

PROCEEDING

SEMINAR NASIONAL 6th UNS SME’s SUMMIT & AWARDS 2017 “Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret

Jl. Slamet Riyadi No. 435 Purwosari Surakarta

Telp /Fax : (0271) 714997, e-mail : [email protected]

SUSUNAN PANITIA : Ketua Panitia

R. Kunto Adi, SP., MP

Wakil Ketua

Emi Widiyanti, SP., M.Si

Sekretaris

Nuning Setyowati, S.P., M.Sc Aditya Kurniawan

Bendahara

Erlyna Wida Riptanti, S.P., M.P

Reviewer dan Editor

Dr. Ir. Eka Handayanta, M.P Dr. Ir. Heru Irianto, MM Nuning Setyowati, SP., M.Sc Bekti Wahyu Utami, SP., M.Si

Perancang Sampul

Hermansyah Muttaqin, S.Sn., M.Sn

Penerbit

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret

Jalan Ir. Sutami 36a Kentingan Surakarta Telp. (0271) 632916 Fax. (0271) 632368 Website : http://www.lppm.uns.ac.id, e-mail: [email protected]

ISBN : 978-602-73832-9-6

Cetakan 1, Edisi I, Juli 2017

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang All Right Reserved

(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Negara-negara ASEAN termasuk Indonesia pada tahun 2017 telah setahun tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Pada ERA MEA tersebut UMKM membutuhkan kemampuan daya saing yang tinggi yang berkelanjutan, yang dapat dicapai dengan selalu terus berinovasi. Berbagai usaha telah dilakukan oleh UMKM, pemerintah maupun pemerhati UMKM dalam kerangka meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan di pasar MEA melalui berbagai program pemberdayaan berbasis ekonomi kreatif. Upaya dalam meningkatkan daya saing UMKM melalui peningkatan kreativitas dan inovasi produk UMKM dilakukan dengan pelibatan secara aktif berbagai pemangku kepentingan, yaitu akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media, sehingga diharapkan sinergitas antara pemangku kepentingan tersebut akan semakin meningkatkan daya saing produk UMKM berbasis ekonomi kreatif di Era MEA.

Upaya-upaya pengembangan UMKM kreatif menunjukkan keberagaman hasil, sehingga keberhasilan, kendala dan pendorong keberhasilan tersebut dirasa perlu untuk didiseminasikan ke berbagai pelaku pemberdaya maupun pelaku UMKM dengan harapan mampu menjadi motivasi untuk terus berusaha mengembangkan diri agar tetap eksis dan kreatif dalam pasar yang terus berkembang. Diseminasi tersebut pada tahun 2017 kami kemas dalam acara Seminar Nasional yang merupakan rangkaian kegiatan

6th UNS SME’s SUMMIT & AWARDS dengan bertema : “Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”.

Kegiatan Seminar Nasional ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendesiminasikan hasil kajian, pengetahuan maupun pengalaman pemberdayaan UMKM baik dalam aspek sosial ekonomi maupun teknologi dari pemangku kebijakan, peneliti dan pengabdi maupun praktisi untuk direkomendasikan sebagai arahan dan strategi pemberdayaan UMKM, dan membangun kerjasama para pemangku kepentingan (lembaga pemerintah, Perguruan Tinggi, dunia usaha, dan LSM) dalam pemberdayaan UMKM.

Adapun artikel-artikel yang sudah dipresentasikan pada Seminar Nasional tersebut, diterbitkan dalam E-Prosiding Seminar Nasional. Semoga E-Prosiding

(6)

Seminar Nasional yang telah disusun ini dapat bermanfaat sebagai bahan rekomendasi dalam pengembangan KUMKM kepada pemangku kepentingan, baik Pemerintah Daerah, BUMN/Swasta maupun pihak-pihak terkait lain. Terakhir kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para peserta Seminar Nasional

“Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN”, yang telah memberikan kontribusi dalam Seminar

Nasional tersebut. Kami berharap E-Prosiding Seminar Nasional ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, terutama pihak-pihak yang selama ini berperan aktif dalam pengembangan UMKM. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Surakarta, Juli 2017

(7)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Kata Pengantar ... iii

Sambutan Rektor ... v

Keynote Speaker ... vii

Daftar Isi ... xv

Makalah Utama

1 Assct. Prof. Tamat Sarmidi

(Kaprodi Ilmu Ekonomi FEM UKM Malaysia) ... 1 – 15 2 Pri Hartanto

(PT Pertamina RU VI Balongan) ... 16 – 50 3 Hanes Utama

(PT Badak NGL) ... 51 – 62

Makalah Penunjang

Sub Tema Inovasi dan Teknologi 1

1 IbM Kelompok Istri Petani Sayuran Organik Dalam Pengembangan Produk Nutrasetika Berbasis Sayuran Organik Di Dusun Selongisor Desa Batur Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang

Asyhari, Heru Sulistyo, Naniek Widyaningrum (UNISSULA

2

Semarang-Universitas Islam Sultan Agung Semarang) ...

Sifat-Sifat Mekanis Laminasi Limbah Kertas Kantong Semen

63 – 72

Sebagai Bahan Dasar Alternatif Pembuatan Produk

Purwanto (Universitas Kristen Duta Wacana) ... 73 – 82 3 Meningkatkan Produktivitas Pengrajin Krupuk Jadah Melalui

Pengrajang Mekanik

Ireng Sigit Atmanto, Edy Supriyo, Wahyuningsih (Universitas

Diponegoro) ... 83 – 90 4 Mencari Solusi Peningkatan Daya Saing UMKM Di Sulawesi

Tenggara

Abdul Rahman Haruddin, Nisa Nasyra Rezki (Badan Penelitian dan

Pengembangan Provinsi Sulawesi Tenggara) ... 91 – 101 5 Implementasi Standardisasi Produk Olahan Perikanan Bagi

Usaha Mikro Kecil dan Menengah Di Kota Semarang

(8)

6 Pengembangan Industri Kreatif Dan Persaingan Pasar Bebas Global Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) Dalam Menghadapi Bonus Demografi 2045 Di Indonesia

Ketut Darmana (Universitas Udayana, Denpasar-Bali) ... 112 – 124

7 Mocaf Meningkatkan Kelezatan Ganjel-Rel Kue Langka Dari Semarang

Siswo Sumardiono, Edy Supriyo, Isti Pudjihastuti (Universitas

Diponegoro) ... 125 – 130 8 Usaha Jubah Dele (Jus Buah Sari Dele Dengan Jelly Beras Hitam)

Sebagai Inovasi Pangan Sehat Fungsional Berbasis Ekonomi Kreatif

Farah Fadzilah Aziis, Iqbal Luthfi Ramadhan, Febriana Ramadhani,

Lisnawati, Erlyna Wida Riptanti (Universitas Sebelas Maret) ... 131 – 140 9 Kerupuk Karak Beras Tanpa Borak MSG dan Pengawet

Sri Sumarni (Universitas Sebelas Maret) ... 141 – 148 10 Pemberdayaan Pengrajin Batik Melalui Introduksi Desain Motif

Batik Berbasis Cerita Rakyat Sebagai Upaya Peningkatan Daya Saing Umkm Batik Di Kabupaten Sampang

Wendra G Rohmah, Susinggih Wijana, M. Andhy Nurmansyah, Ika

Atsari Dewi, Romy Setiawan (Universitas Brawijaya) ... 149 – 158 Sub Tema Inovasi dan Teknologi 2

1 Iptek Bagi Masyarakat (IbM) Peningkatan Daya Saing Usaha Telur Asin di Kabupaten Sukoharjo

Emi Widiyanti, Harini dan Arief Iman Santoso (Universitas Sebelas

Maret) ... 159 – 168 2 Iptek Bagi Masyarakat (IbM) Pengolahan Limbah Kain Perca di

Kelurahan Tipes Kecamatan Serengan Kota Solo

Arief Iman Santoso, Hermansyah Muttaqin dan Emi Widiyanti

(Universitas Sebelas Maret) ... 169 – 177 3 Kulit Salak Pondoh Sebagai Ikon Potensi Craft Design Kabupaten

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Winta Adhitia Guspara, Kristian Oentoro, Chintia (Universitas Kristen

(9)

4 Pengembangan Usaha Mikro Melalui Pelatihan Telemarketing Terintegrasi Website Pada Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Aneka Karya dan Kriya Sejahtera

Erna Yuliandari, Wijianto (Universitas Sebelas Maret) ... 188 – 193 5 Kreativitas dari Semangkok Soto: Menuju Usaha Warung Soto

Pada Era Ekonomi Kreatif

Susilaningsih, Martina Andriani, Bara Yudhistira (Universitas Sebelas

Maret) ... 194 – 202 6 Sistem Rak Bertingkat Pada Budidaya Cacing Tanah

Rr. Aulia Qonita dan Nur Her Riyadi Parnanto (Universitas Sebelas

Maret) ... 203 – 210 7 Pemberdayaan UKM Kripik Singkong Rasa Gadung di Desa Pule

Kecamatan Jatisrono Kabupaten Wonogiri

Wiwit Rahayu dan Erlyna Wida Riptantti (Universitas Sebelas Maret) .. 211 – 220 8 Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Ternak Berupa Feses

dan Urin Pada Kandang Kelompok Sapi Potong di Kec. Tasikmadu Kab. Karanganyar

Sutrisno Hadi Purnomo, Endang Tri Rahayu (Universitas Sebelas

Maret) ... 221 – 227 9 Miss Gepeng (Mie Sukun Sehat Gepeng): Inovasi Produk Mie

Berbahan Baku Sukun Sebagai Pengganti Gandum Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional

Rohmatul Ummah Tsani, Fitri Sari, Widya Ayu Pradani, Ramadhani

Kusuma Dewi, Erlyna Wida Riptanti (Universitas Sebelas Maret) ... 228 – 237 10 Pengembangan Agrobisnis Jamur Pada Kelompok Tani Jamur

Bekonang Mojolaban Kabupaten Sukoharjo

Setyowati, R. Kunto Adi, Fanny W (Universitas Sebelas Maret) ... 238 – 244 Sub Tema Bisnis dan Manajemen

1 Dunia Datar : Suatu Tinjauan Pemasaran dan Pelayanan Terhadap Pelanggan

Ellectrananda Anugerah Ash-Shidiqqi (Universitas Sebelas Maret) ... 245 – 254 2 Analisis Struktur Pasar Industri Mikro Dan Kecil Di Indonesia

Tahun 2015

(10)

3 Efisiensi Industri Mikro dan Kecil di Indonesia dengan

Pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA)

Lely Ratwianingsih, Malik Cahyadin (Universitas Sebelas Maret) ... 262 – 269 4 Urgensi Dan Strategi Peningkatan Sertifikasi Halal Bagi UMKM

Di Kota Semarang

Dewi Sulistianingsih (Univeritas Negeri Semarang) ... 270 – 281 5 UKM Carica Dieng Perluas Pangsa Pasar Ke Eropa

Edy Supriyo, Wisnu Broto, Retno Hartati (Universitas Diponegoro –

Semarang) ... 282 – 290 6 Industri Kreatif: Motor Penggerak UMKM Menghadapi

Masyarakat Ekonomi ASEAN

Vita Kartika Sari (Universitas Sebelas Maret) ... 291 – 300 7 Strategi Merk Dan Analisa Target Pasar Yang Tepat Dalam

Meningkatkan Performa UMKM Indonesia

Dwiko Gunawan, Mariam Magdalena Fatimah, Muhammad Rifqi (PT.

Serambi Botani Indonesia) ... 301 – 310 8 Kemampuan Operasi, Pemasaran Dan Praktek Manajemen

Lingkungan Terhadap Kinerja Lingkungan Hidup

Anwar Hamdani, Mulyanto, I Gusti Putu Diva Awatara (STIE Adi

Unggul Bhirawa) ... 311 – 322 9 Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Pembelian

Keripik kentang dengan Metode Structural Equation Modelling (SEM) (Studi Kasus Pada Agronas Gizi Food, Kota Batu)

Nur Amalia Ma’rufah, panji Deorant, Rizky Luthfian Ramadhan

Silalahi (Universitas Brawijaya, Malang) ... 323 – 332

10 Model Kewirausahaan Bidang Pangan Olahan Dalam

Peningkatan Kinerja Usaha Mikro Kecil Di Era Masyarakat Ekonomi Asean

Warcito, Indupurnahayu, Tintin Sarianti (Universitas Ibn Khaldun,

Bogor) ... 333 – 345 11 Model Penerapan Joint Cost Pada Produk Berbahan Baku Susu

Kambing

(11)

Khaldun, Bogor) ... 12 Diversifikasi Produk Sebagai Upaya Strategi Pemasaran Produk

Olahan Jagung (Kasus UKM Marning Desa Sidomukti Kecamatan Jenawi Karanganyar)

Agustono, Bekti Wahyu Utami, Nuning Setyowati (Universitas

Sebelas Maret) ... 355 – 364 Sub Tema Pemberdayaan dan Kelembagaan

1 Pendampingan Kelompok Pengrajin Rajut Desa Batur Untuk Meningkatkan Daya Saing Usaha

Wiwiek Fatmawati, Nurwidiana, Novi Marlyana (Universitas Islam

Sultan Agung Semarang) ... 365 – 374 2 Pendampingan Industri Kerajinan Kulit Ikan Pari di Kota

Semarang Untuk Menembus Pasar Eksport

Nurwidiana, Novi Marlyana, Asyhari (Universitas Islam Sultan Agung

Semarang) ... 375 – 385 3 Pemberdayaan Masyarakat Maluku Tengah Untuk Mewujudkan

UMKM Pengolahan Kelapa Terpadu Dan Berkelanjutan

Sutardi, H. Sulistyo, M. M. Azis, Purwanto, L. R. Waluyati dan F.

Matulessy (Universitas Gajah Mada, Universitas Pattimura Ambon) ... 386 – 395 4 Perkembangan Enterpreneurship Pada Transportasi E-Garage

yang Berbasis Pada Pelayanan Publik

Khalsiah, Yuliusdarma (Universitas Malikussaleh Lhokseumawe) 396 – 406 5 Bumdes Sebagai Dewa Penolong Eksistensi UMKM Pada Era

Globalisasi

Dr Sutopo MS (Universitas Sebelas Maret) ... 407 – 417 6 Peran Pondok Pesantren Kyai Abdul Jalal Dalam Pemberdayaan

UMKM Di Sekitarnya

Sugihardjo dan Agung Wibowo (Universitas Sebelas Maret) ... 418 –430 7 Inisiasi Mewujudkan Desa Organik di Desa Kletekan, Jogorogo,

Ngawi Melalui Pemanfaatan Kompos Jerami

Jauhari Syamsiyah, Mujiyo, Rahayu, Sri Hartati, Aktavia Herawati

(12)

8 Keberdayaan Petani Dalam Pengembangan Mata Pencaharian

(Studi Kasus Eks Penerima Manfaat Proyek Sector Enhancement For Economic Development (Seed) di Kabupaten Bojonegoro)

Samsul Hadi (Universitas Sebelas Maret) ...439 – 449 9 Peran Modal Sosial Dalam Pemberdayaan Masyarakat (Studi

Kasus Pembinaan UMKM Oleh PT Pertamina RU II Sungai Pakning)

Rahmat Hidayat, Miftah Faridl Widhagdha (PT Pertamina RU II

Sungai Pakning - Universitas Gadjah Mada) ... 450 – 458 10 Profil dan Karakteristik Pengrajin Sutera dalam Pemanfaatan

Kerajinan Sutera Berbasis Ekonomi Kreatif di Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan

Helda Ibrahim, Majdah M. Zain dan Awaluddin Rauf (Universitas

(13)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

PENGEMBANGAN INDUSRTI KREATIF DAN

PERSAINGAN PASAR BEBAS GLOBAL MASYARAKAT

EKONOMI ASEAN (MEA) DALAM MENGHADAPI

BONUS DEMOGRAFI 2045 DI INDONESIA

Ketut Darmana

Program Studi Antropologi,Fakultas Ilmu Budaya, UNIVERSITAS UDAYANA, DENPASAR-BALI

Email: [email protected]

ABSTRAK

Industri kreatif dengan ekonomi kreatif korelasinya sangat jelas, karena industri yang bersumber dari pemanfaatan kreativitas manusia berdasarkan ketrampilan dan bakat/talenta individu dari alam sana. Perpaduan antara ketrampilan dan bakat/talenta dipoles lewat pembinaan dengan baik, seperti pendidikan formal (sekolah), pendidikan non-formal (kursus-kursus pelatihan ketrampilan), dan pendidikan informal (keluarga dan masyarakat).Inilah bibit-bibit potensi sumber daya manusia (SDM) yang unggul, mandiri, dan berbudaya untuk menciptakan industri kreatif yang berkolerasi signifikan terhadap ekonomi kreatif.Oleh sebab itu, industri kreatif ini kontribusinya sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi suatu Negara dibandingkan dengan industri manufaktur.Di Negara Inggris industri kreatif tumbuh 9%/tahun jauh dari rata-rata pertumbuhan ekonomi negara itu, hanya 2—3%.Berikut Negara Singapura ekonomi kreatif menyumbang 5%/tahun terhadap PDB. Di era pasar global dunia ekonomi kreatif terus tumbuh dan berkembang dari USS 2,2 triliun pada tahun 2000 menjadi USS 6,1 triliun di tahun 2020 (Sucipta, 2017). Untuk Negara Indonesia semenjak terbentuknya Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) rupanya pemerintah mulai melirik bahwa industri kreatif disatukan dengan ekonomi kreatif merupakan potensi yang luar biasa terhadap pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia di masa depan.

Hal itu, terkait (1) berkorelasi dengan perluasan lapangan kerja untuk mengatasi pengangguran akibat bonus demografi 2045, sehingga tenaga kerja produktif lebih besar dibandingkan tenaga kerja non produktif (0—15 tahun + 65 tahun ke atas).Belum lagi menghadapi persaingan tenaga kerja (outshorsing) antar Negara, baik di level regional dan Internasional, dan (2) pemerataan pembangunan ekonomi bagi masyarakat sekaligus untuk mengatasi berbagai kesenjangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam makalah ini, seperti di uraikan di atas, foKus yang dibahas tulisan artikel ini adalah (1) kebangkitkan ekonomi kerakyatan berbasis industri kreatif dan ekonomi kreatif pada UKM di Bali, (2) peluang dan tantangan dalam menghadapi pasar bebas global Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), dengan mengangkat sebuah kasus Perajin Prasi di Bali yang mengacu pada analisis dengan pendekatan etnosains dan globalisasi.

(14)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

PENDAHULUAN

Semenjak terbentuknya Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2017 ini sebagai suatu institusi (lembaga) non departemental yang digagas oleh pemerintah untuk memerdayakan usaha ekonomi yang berbasis kerakyatan dan inovatif. Pemerintah sedang menggenjot pembangunan dalam konteks pertumbuhan ekonomi pada sektor riil untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus pula memperbaiki kualitas dan taraf hidup masyarakat.Selain itu, pembangunan ekonomi nasional tidak hanya difokuskan pada skala ekonomi makro juga sangat memperhatikan perkembangan yang berskala ekonomi mikro.Kemudian yang tergolong ke dalam sektor ekonomi mikro ini adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), di mana unit-unit usaha ini yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya dan mandiri. Oleh sebab itu, pemerdayaan UMKM sebagai basis ekonomi kerakyatan yang berlandaskan pada pengembangan industri kreatif diintegraskan dengan ekonomi kreatif.Rupanya pemerintah mulai melirik bahwa hal ini merupakan potensi yang luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia di masa depan. Begitu pula UMKM ini jumlahnya sangat banyak dan hampir tersebar di seluruh pelosok nusantara, baik itu dalam aktivitas pengembangan usahanya dilakukan di pedesaan maupun di perkotaan. Mengingat karakteristik prilaku UMKM ini sebagian besar masih dikategrorikan sektor informal, maka sentra produksi pada rumah tangga (home industry) Kontribusinya sangat signifikan dalam menghadapi badai goncangan akibat gejolak ekonomi yang disebabkan oleh kondisi stabilitas ekonomi dalam negeri maupun situasi perekonomian global yang dihadapi oleh Negara- negara dunia, baik Negara maju dan Negara berkembang.

Oleh karena itu, industri kreatif dengan ekonomi kreatif korelasinya sangat jelas, karena industri ini yang bersumber dari pemanfaatan kreativitas manusia berdasarkan ketrampilan dan bakat/talenta individu dari alam sana. Perpaduan antara ketrampilan dan bakat/talenta dipoles lewat pembinaan dengan baik, seperti pendidikan formal, pendidikan non-formal (kursus-kursus pelatihan ketrampilan), dan pendidikan informal.Inilah bibit-bibit potensi sumber daya manusia (SDM) yang unggul, mandiri, dan berbudaya untuk menciptakan industri kreatif yang berkolerasi signifikan terhadap ekonomi kreatif.Oleh sebab itu, industri kreatif ini kontribusinya sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi negara dibandingkan dengan industri manufaktur. Di Negara Inggris industri kreatif tumbuh 9%/tahun jauh dari rata-rata pertumbuhan ekonomi

(15)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

negara itu, hanya 2—3%.Negara Singapura ekonomi kreatif menyumbang 5%/tahun terhadap PDB. Di era pasar global ekonomi kreatif tumbuh dan berkembang dari US$ 2,2 triliun pada tahun 2000 menjadi US$ 6,1 triliun di tahun 2020 (Sucipta, 2017).

Sayangnya di Indonesia, industri kreatif maupun ekonomi kreatif dalam skala nasional baru digarap oleh pemrintah secara serius. Sesungguhnya, keberadaan unit-unit UMKM ini sebagai penggerak perekonomian kerakyatan sudah dilakukan dari sejak dahulu (Geertz, 1987).Seiring perkembangan waktu dan dinamika kehidupan masyarakat pada subsektor ekonomi secara kontinuitas mengalami perubahan sesuai dengan kemajuan sains dan teknologi.Akibat pengaruh sains dan teknologi ini, kemudian berimplikasi terhadap pola-pola kehidupan pasar tradisional bergeser pada pola-pola kehidupan pasar modern.Lebih-lebih di era globalisasi ini dengan dukungan informasi teknologi (IT) yang serba canggih bahkan supercanggih (shopisticated) maka semua keinginan terhadap berbagai kebutuhan hidup dapat digapai dengan gampang, jika finansial (uang) yang dimiliki cukup mendukung dan sekaligus juga memadai.Apa yang terjadi semakin termarginalisasi pasar-pasar tradisional oleh kekuatan ekonomi modern karena dapat ruang (space) dan sokongan dari kapitalisme neoliberalisme dengan kedok pasar tunggal global. Hal ini berkaitan dengan kualitas hasil produksi (benda/barang) dan kualitas jasa pelayanannya maka ditentukan standarnya hasus sama di seluruh dunia. Sebagai contoh: MacDonal, KFC, Minuman Teh Sosro dan lain- lainnya, maka produk-produk barang ini sudah masuk dalam pasar bebas global. Artinya di Negara manapun di dunia, kalau membeli barang tersebut konsumen merasakan sama.

Hal itu, terkait (1) berkorelasi dengan perluasan lapangan kerja untuk mengatasi pengangguran akibat bonus demografi 2045, sehingga tenaga kerja produktif lebih besar dibandingkan tenaga kerja non produktif (0—15 tahun + 65 tahun ke atas).Belum lagi menghadapi persaingan tenaga kerja (outshorsing) antar Negara, baik di level regional dan Internasional, dan (2) pemerataan pembangunan ekonomi bagi masyarakat sekaligus untuk mengatasi berbagai kesenjangan sosial-ekonomi dalam kehidupan masyarakat.Dalam makalah ini dengan topik “Pengembangan Industri Kreatif dan Persaingan Pasar Bebas Global Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) dalam Menghadapi Bonus Demografi 2045 di Indonesia”.Selanjutnya, fokus yang dibahas dalam tulisan artikel ini berkaitan dengan masalah di antara sebagai berikut: (1) kebangkitan ekonomi

(16)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

kerakyatan berbasis industri kreatif dan ekonomi kreatif pada UMKM di Bali, (2) peluang dan tantangan dalam menghadapi pasar bebas global Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), dengan mengangkat sebuah kasus Perajin Prasi di Bali.

Pendekatan yang digunakan untuk mengukapan masalah tersebut dari sudut pandang etnosains.Pendekatan ini sering dimanfaatkan oleh kalangan ahli antropologi untuk menjelaskan dan mengungkapkan fenomena sosial-budaya pada kehidupan sosio- kultural masyarakat itu secara emik maupun etik.Mengingat kedua pandangan dapat dipadukan berdasarkan realitas empiris dari data yang dikumpulkan di lapangan untuk dijadikan sebagai obyek penelitian.Sesungguhnya, menurut pandangan Spradley (1997) bahwa pendekatan ini bersumber dari satu aliran baru dalam ilmu antropologi yang dinamakan dengan cognitive anthropologi atau ethnoscience (etnografi baru).Penekanan pokok pada pendekatan etnografi baru lebih terfokus mempehatikan usaha dalam menemukan upaya masyarakat mengorganisasikan budaya yang dimiliki dalam pikirannya, selanjutnya menggunakan budaya itu dalam kehidupan manusia.Kemudian, mengacu pandangan Ahimsa-Putra (2009) menjelaskan bahwa dalam piradigma ilmu sosial-budaya maka ethnoscience sebagai salah satu sebuah perspektif termasuk fenomenologi. Pendekatan etnosains sebagai landasan orientasi teoretis untuk mengungkapkan fenomena industry kreatif dan ekonomi kreatif memasuki pasar bebas global MEA serta masalah bonus demografi 2045 di masa akan datang

Teori globalisai digunakan untuk menganalisis pasarisasi sebagai agenda bagi kapitalilisme neoliberalisme untuk menghegomoni dunia perdagangan yang dikendalikan oleh Negara-negara industri maju untuk memasarkan hasil produk industrinya.Bila hal ini, dipandang dari segi ruang dan waktu dunia kelihatan tanpa batas atau sekat yang begitu ketat.Keterhubungan mobilitas manusia antar negara, provinsi, kabupaten, kecamatan dan desa amat mudah dapat dilakukan.Mengingat faktor penemuan di bidang sains dan teknologi yang berhubungan dengan mode alat transporatasi dan media komunikasi yang supercanggih sebagai suatu dorongan untuk mengatasi hambatan gerakan manusia dalam ruang dan waktu tersebut.Akibat pengaruh tersebut, tidak hanya menggeser, namun juga menggantikan pasar tradisionalyang kondisinya sudah mapan karena tuntutan kemajuan zaman maka diganti dengan pasar modern, seperti swalayan supermarket dan hypermarket.

(17)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Selain itu, secara teoretis maupun konsepsional, keduanya belum memiliki landasan yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition) yang masih tergantung pada sudut pandang masing-masing (Eriksen, 2003; Tsing, 2005). Ada yang berpendapat bahwa globalisasi akan mampu membuat praktik pasar ekonomi tradisional semakin kuat dan tergantung satu sama lainnya. Sebaliknya, juga ada yang berpadangan bahwa pasar ekonomi tradisionalakan terlibas habis oleh globalisasi karena ketertutupannya terhadap unsur-unsur baru yang dibawa oleh dunia modern yang mengglobal. Oleh karena itu, pada masa sekarang ini pengaruh globalisasi akan begitu besar terhadap keberlangsungan perekonomian masyarakat tradisionalharus mampu beradaptasi dengan perekonomian global agar bisa tetap eksis dalam menghadapi berbagai kompetitordengan menghasilan produk-produk unggulan yang tidak diproduksi oleh negara lain atau orang mana saja melalui indutri kreatif dan ekonomi kreatif (Lewellen, 2002).

Penulisan makalah ini, masih merupakan rintisan dari repleksi pemikiran, sehingga metode yang digunakan lebih menekankan pada aspek pengamatan (observasi), baik secara langsung melihat aktivitas perajin di rumah penduduk.Di Bali penduduk yang bergelut bidang industri kreatif maupun ekonomi kreatif diwadahi oleh unit-unit usaha yang disebut UMKM ini hampir tersebar di seluruh wilayah kabupaten di daerah ini. Jenis kerajinan ini beraneka ragam dilihat dari bahan baku yang digunakan untuk produk kerajinan tersebut. Selain itu, para perajin maupun seniman diberikan ruang untuk memamerkan produk kerajinan setiap tahun bertepatan dengan digelarnya Pesta Kesenian Bali, saat ini sudah memasuki PKB XXXIX tahun 2017 dipusatkan di Art Center-Denpasar. Untuk menajamkan analisa maka dalam penulisan makalah ini ditunjang pula dengan studi pustaka yang terkait masalah yang dibahas ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Kebangkitan ekonomi kerakyatan berbasis industri kreatif dan ekonomi kreatif pada UMKM di Bali.

Pemerintah pusat dewasa ini sungguh-sungguh memperhatikan pembangunan ekonomi dari daerah pinggiran atau wilayah terluar, termasuk daerah pedalaman dan pulau-pulau terluar di seluruh kawasan tanah air. Desa-desa yang terletak pada daerah- daerah perbatasan dengan Negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Brunai

(18)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Darusalam, Philipina, dan Papua New Gini, maka akses perekonomian masyarakat lebih dekat pada Negara tetangga tersebut, dibandingkan ke Negara Republik Indonesia. Faktor penyebab utama karena belum ada infra struktur yang memadai yang bisa menghubungkan penduduk yang tinggal pada daerah-daerah perbatasan tersebut ke dalam satuan wilayah NKRI.Jadi posisinya masih tetap terisolasi, sehingga mobilitas masyarakat sangat terhambat oleh kondisi sarana transportasi yang tidak memadai untuk melalkukan aktivitas tersebut.Pembangunan ekonomi yang diawali dari daerah terluar atau pinggiran dengan membangunan infra struktur jalan merupakan salah satu strategis pemerintah untuk membuka akses bagi penduduk yang bermukim daerah pedalaman untuk melancarkan roda perekonomian masyarakat di wiliyah tersebut.Kalau ini sudah berhasil diwujudkan maka persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kesenjangan ekonomi antar wilayah di Indonesia dapat diatasi.Pada akhirnya, tujuan pembangunan ekonomi itu bagi masyarakat merata di seluruh tanah air. Hal ini, juga berimplikasi terhadap perluasan kesempatan kerja bagi penduduk usia produktif, sekaligus pula mengatasi masalah-masalah rumah tangga miskin, paling tidak mengurangi penduduk miskin, karena beban ekonomi keluarga yang disebabkan oleh pendapatan keluarga dalam rumah tangga tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Pada awal tahun 2017 dengan terbentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF), karena lembaga ini bersifat non departemental untuk mengemban tugas dan wewenang secara khusus membina, mengembangkan, dan menggerakkan ekonomi kerakyatan yang berbasiskan pada sumber daya manusia (SDM). Salah satu langkah strategis untuk menggarap aspek industri kreatif yang berkolaborasi dengan aspek ekonomi kreatif. Walaupun sebenarnya kedua konsep ini selalu terkait satu sama lainnya, bagaikan mata uang kedua sisinya tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, baik industri kreatif dan ekonomi kreatif saling melengkapi satu sama lainnya dan berjalan beriringan secara bersama. Secara konsepsional Departemen Perdagangan (2009) menjelaskan bahwa industri kreatif yaitu industri yang berasal dari pemanfaatan keterampilan, kreativitas, dan bakat individu dalam menciptakan kesejahteraan dan membuka lapangan pekerjaan bagi penduduk.Industri ini lebih terfokus untuk memberdayakan daya cipta dan daya kreasi bagi setiap individu.Oleh sebab itu, industri kreatif ini yang bersumber pada kreativitas, keterampilan dan bakat (talenta) yang melekat dari individu yang secara

(19)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

potensial mampu untuk menciptakan kekayaan dan lapangan pekerjaan melalui eksploitasi serta pembangkitan daya cipta dan kekayaan intelektual dari individu bersangkutan. Adapun ciri-ciri keunggulan daripada industri kreatif antara lain sebagai berikut: (1) menghasilkan berbagai desain kreatif yang melekat pada produk barang atau jasa yang dihasilkan, dan (2) industri ini juga pada umumnya merupakan hasil produk teknologi informasi yang dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah pada kehidupan masyarakat sehari-hari.

Jadi industri kreatif kontribusinya sangat signifikan terhadap perkembangan ekonomi suatu Negara, dan bahkan ikut mendorong peningkatan ekonomi secara global.Sebagaimana dipahami bahwa kreativitas manusia ini merupakan potensi sumber daya ekonomi yang dilahirkan dari sektor industri kreativitas dan motivasi dari setiap individu. Di Indonesia sektor industri kreatif yang berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi secara garis besarnya meliputi beberapa sektor antara lain sebagai berikut: (1) arsitektur; (2) periklanan; (3) pasar barang seni; (4) kerajinan; (5) design; (6) fashion; (7) video, film, dan fotografi; (8) seni pertunjukkan; (9) musik tradisional (sejenis gamelan, angklung, dllnya); (10) riset desaign (R&D); dan (11) kuliner. Ke-11 jenis sektor industri kreatif ini masih bersifat manual, karena belum berbasis pada penerapan teknologi.Namun, berbeda dengan sektor industri kreatif yang berbasis teknologi. Di antara jenis industri kreatif yang berbasis teknologi meliputi sebagai berikut: (1) indusri permainan, (2) industri musik, (3) industri layanan komputer dan perangkat lunak, dan (4) industri pertelevisian.

Selanjutnya, ekonomi kreatif yang telah dirumuskan pada tahun 2005 oleh World

Intellectual Property Organization (WIPO) menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi

masyarakat menghabiskan sebagian waktunya untuk menghasilkan gagasan (ide). Namun, ide ini yang dihasilkan ini tidak hanya melakukan hal-hal yang bersifat rutinitas atau pengulangan, sebab bagi masyarakat menghasilkan gagasan menjadi keharusan untuk dilakukan demi kemajuan ke masa depan. Pada tahun 2010, pandangan senada juga diungkapkan oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) adalah sebagai berikut:

“……….An evolving concept based on creative assets potentially generating economic

(20)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Lebih lanjut, jika mengacu pada penjabaran perumusan terhadap pemahaman ekonomi kreatif tersebut di atas, maka ada beberapa aspek yang berkaitan dengan hal tersebut, antara lain sebagai berikut: (1)Mendorong peningkatan pendapatan, penciptaan pekerjaan, dan pendapatan ekspor sekaligus mempromosikan kepedulian sosial, keragaman budaya, dan pengembangan manusia, (2) Menyertakan aspek sosial, budaya, dan ekonomi dalam pengembangan teknologi, hak kekayaan intelektual (HKI), dan pariwisata, (3) Kumpulan aktivitas ekonomi berbasiskan pengetahuan dengan dimensi pengembangan dan keterhubungan lintas sektoral pada level ekonomi mikro dan makro secara keseluruhan, (4) Suatu pilihan strategi pengembangan yang membutuhkan tindakan lintas kementerian dan kebijakan yang inovatif dan multidisiplin, dan (5)pada jantung ekonomi kreatif melekat jugaindustri kreatif.

Berikutnya, Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional 2009-2015 (2008) Ekonomi Kreatif didefinisikan sebagai berikut:“Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya”.

Berdasarkan kutipan dari beberapa institusi yang telah mengkonsepsikan tentang formulasi, baikitu yang berkaitan dengan industri kreatif maupun ekonomi kreatif, pada hakekatnya ke dua bentuk prilaku aktivitas manusia berkorelasi sangat positif untuk kemaslatan umat manusia menuju taraf kehidupan yang makmur dan sejahtera.Kemudian, untuk melihat lebih jauh terhadap konteks pemahaman ini, sekaligus implementasinya dalam praktik kehidupan sehari-hari.Dalam tulisan makalah ini, maka menelusuri dan mengungkapkan salah satu kasus tentang produk perajin prasi di Bali.Secara diskriptif dapat digambarkan bahwa prasi adalah ilustrasi yang dibuat di atas daun lontar, dan ilustrasi dalam konteks ini berupa gambar maupun lukisan yang berfungsi menyertai teks atau naskah dengan maksud untuk menjelaskan teks dan naskah tersebut.Oleh karena itu, prasi ini termasuk karya seni yang tergolong genre kesenirupaan dua dimensi sebagai ilustrasi pada lembaran daun lontar.Untuk menciptakan sebuah karya seni prasi ini bagi para perajin ada dua hal yang harus diperhatikan dan dicermati serta dipahami dengan sungguh-sungguh. Pertama, bakat (talenta) pada diri perajin itu sendiri (inner beauty) untuk bisa menciptakan kreativitas sehingga dapat mengejawantahkan ide-ide dalam sebuah karya seni secara berkualitas

(21)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

digoreskan atau dipahatkan pada lembaran daun lontar.Kemudian menarik bagi penikmat seni (konsumen), maka perlu ada sentuhan yang lebih dalam menciptakan kreasi-kreasi baru yang bersifat inovatif sesuai dengan tuntutan kebutuhan pangsa pasar. Kedua, dalam proses penggarapan (seni) prasi oleh perajin adalah ketekunan, keuletan, kerajinan, kedisiplinan melatih diri, dan juga didukung dengan perasaan hati yang lemah-lembut. Mengingat, dalam menggoreskan pengerupak (pisau kecil pada ujungnya lancip dan tajam) bukan perkara mudah seperti yang dilihat, namun sungguhnya sangat rumit dan pelik.Selain itu, juga harus memahami cerita-cerita pewangan, seperti epos Ramayana dan Mahabharata.Tema-tema pewayangan ini yang diilustrasikan dalam lukisan yang digoreskan pada daun lontas. Begitu pula, para perajin hanya mengilustrasikan tokoh-tokoh utama yang berperan dalam cerita tersebut, tetapi tidak menghilangkan makna alur carita itu secara keseluruhan (Darmana, 2014).

2. Peluang dan tantangan dalam menghadapi pasar bebas global Masyarakat Ekonomi Asia (MEA)

Seiring dengan dinamika kehidupan masyarakat di Bali yang terus tumbuh dan berkembang pada semua segi-segi sosial-budaya dan subsektor ekonomi.Perubahan dari sektor agraris beralih ke sektor non agraris.Kecenderungan generasi muda sebagian besar tidak menggeluti pekerjaan sebagai petani.Justru, lebih memilih pekerjaan di sektor perdagangan dan jasa.Ke dua sektor ini lebih menjanjikan, karena memberikan penghasilan lebih baikberdasarkan ketentuan upah minimum regional (UMR). Peluang kerja semakin luas bisa diperoleh pada sektor industri pariwisata.Pulau Bali dengan obyek wisata budayanya tersohor di seluruh penjuru dunia.Geliat perekonomian di Bali dipengaruhi secara signifikan oleh kunjungan wisatawan tersebut.

Kemudian berkaitan dengan peluang dan tantangan industri kreatif dan ekonomi kreatif ini dalam era pasar bebas global MEA serta penyerapan tenaga kerja akibat bonus demografi 2045 dipaparkan secara singkat di bawah ini sebagai berikut.Pertama, peluang industri kreatif dan ekonomi kreatif ini dalam era pasar bebas global MEA.Bali sebagai destinasi kunjungan wisata dunia, maka pelancong luar negeri, yang datang ke Bali berasal dari seluruh belahan dunia.Kunjungan wisatawan asing setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.Belum lagi waktu tinggal rata-rata 4-5 hari, selain itu, melakukan kunjungan ke obyek-obyek wisata, baik sifatnya naturalistik maupun atraksi

(22)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

kesenian.Wisatawan luar negari yang datang ke daerah ini, memang sungguh-sungguh untuk berlibur.Namun, ada juga wisatawan luar negeri itu berlibur sambil bisnis.Produk barang kerajinan yang paling diminati terutama jenis-jenis produk kerajinan.

Produk kerajinan ini dikerjakan secara apik oleh para perajin profesional, sehingga hasil produksi sebagai sebuah karya seni beraura kharismatik, sehingga konsumen sebagai penikmat seni merasakan sebuah karya seni yang agung.Peluang ini bisa digunakan oleh perajin dan pengusaha yang bergerak di sektor industri pariwisata, seperti artshop, gallery, showroom patung kayu, pemandu wisata. Oleh sebab itu, kerajinan tangan (handicraft) orang Bali mampu menembus pasar global, sehingga ekonomi kreatif orang Bali dijadikan role model untuk meraup dolar, tahan banting, dan selalu inovatif. Peluang lainnya dapat diwujudkan dengan industri kreatif dengan memasarkan produk-produk barang kerajinan melalui jaringan internet.Transaksi dan pemasaran produk kerajinan itu bisa dilakukan secara online dengan membuka situs website. Hal ini, akan lebih mudah dilakukan,sehingga dapat menekan biaya dan waktu lebih cepat.

Kedua, tantangan industri kreatif dan ekonomi kreatif ini dalam era pasar bebas

global MEA. Hambatan mendasar dalam pengembangan industri kreatif dan ekonomi kreatif ini untuk memasuki pasar bebas global MEA.Ada beberapa hal perlu diperhatikan bagi pelaku bisnis (pengusaha) bergerak pada sektor usaha perdagangan.Pertama, dewasa ini, memasarkan produk barang kerajinan, tidak cukup mengandalkan dari satu pintu ke pintu lain. Perlu menciptakan terobosan baru mengingat kemajuan informasi dan teknologi (IT) yang semakin supercanggih.Oleh karena itu konsumen (bayer) bisa dengan mudah mengakses barang itu melalui mode pemasaran online. Model cara pemasaran ini, pembeli luar negeri dapat mengetahui produk barang itu, baik model, kualitas, dan harganya sesuai seleranya. Kedua, bentuk promosi produk kerajinan ini, hendaknya juga memperkenalkan semua produk kerajinan yang dibuat oleh masyarakat Bali, baik bahan bakunya, jenis model, dan variasinya.

Ketiga, pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi, untuk mengatasi

persoalan ini, jaringan kerjasama antara dunia usaha, pemerintah, akademisi, komunitas perajin, disinergikan untuk menghasilkan produk yang baik dan berkualitas serta bervariasi daripada jalan sendiri.

(23)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Ketiga, penyerapan tenaga kerja akibat bonus demografi 2045.Jika idustri kreatif

dan ekonomi kreatif menjadi basis pengembangan ekonomi Nasional ke depan, maka penduduk yang berumur 0—20 tahun sekarang. Pada tahun 2045, penduduk ini sudah memasuki usia 28—48 tahun. Penduduk ini tergolong usia produktif dan setiap tahunnya tbertambah, maka disediakan lapangan kerja untuk mengatasi pengangguran. Bonus demografi 2045 ini, sekaligus merubah paradigma struktur demografi di Indonesia. Struktur demografi ini terjadi pada usia produktif (15—64 tahun) lebih tinggi jumlahnya dibandingkan dengan usia non produktif (0—14 tahnu, dan 65+ tahun). Implikasi pada rasio beban ketergantungan, penduduk usia produktif memikul beban lebih rendah terhadap penduduk belum dan tidak produktif. Industri kreatif maupun ekonomi kreatif merupakan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja, namun perlu ada pembenahan sumber daya manusia (SDM) lewat pendidikan formal/kejuruan, pelatihan/kursus keterampilan oleh stakeholder yang berkopeten dalam bidangnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Industri kreatif dan ekonomi kreatif dalam praktiknya harus berkolaborasi, karena ke dua bentuk perilaku akvitas ini bersinergi sata sama lainnya dan selalu berjalan pada rel sama. Hal ini, merupakan akses modal dari sumber daya manusia (SDM) di masa depan merupakan basis pembangunan Nasional.

2. Kebangkitan industri kreatif dan ekonomi kreatif melalui pembentukan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) merupakan salah satu upaya untuk memerdayakan ekonomi kerakyatan, karena basis UMKM, mengingat kontribusinya sangat signifikan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

3. Peluang dan tantangan industri kreatif dan ekonomi kreatif dalam era pasar bebas global MEA serta penyerapan tenaga kerja akibat bonus demografi 2045. Peluang terbuka luas memasarkan produk-produk barang kerajinan bisa dipasarkan langsung kepada wisatawan manca Negara yang berkunjung ke Bali. Selain itu, sebagai mata dagangan eksport melalui jaringan internet secara online sebagai terobosan baru untuk memasarkan produk kerajinan tersebut. Tantangannya, perlu ada kesamaan persepsi dan sinergisitas sesama komunitas, perajin, pengusaha dan pemerintah sebagai regulator untuk mengatasi masalah kualitas produk yang baik. Begitu juga

(24)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

sektor industri kreatif dan ekonomi kreatif memberikan kesempatan kerja seluas- luasnya untuk mengatasi pengangguran.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa-Putra, HS. 1985. “Etnosains dan Etnometodologi Sebuah Perbandingan” dalam

Masyarakat Indonesia Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, Nomor 2, Tahun Ke II,

Hal 103—133. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Ami Fitri Utami, A.F. dan Kitri, M.L. 2015. Rencana Pengembangan Penelitian dan

Pengembangan Nasional 2015—2019. Jakarta: PT Republik Solusi

Comaroff, J dan Comaroff, J.L. 2001. “Millennial Capitalism: First Thoughts on a Second coming” dalam Capitalism and the Culture of Neoleberalism. Durham

& London: Duke University Press.

Darmana, K. 2004. Kajian tentang Bentuk dan Makna Simbolik Seni Prasi dalam Kehidupan Sosio-Kultural Masyarakat Bali, Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada.

Eriksen, H. (Ed). 2003. Globalization Studies in Anthropology. London-Sterling, Virginia: Pluto Press.

Geertz. C. “Keyakinan Religius dan Perilaku Ekonomi di Sebuah Desa di Jawa Tengah: Beberapa Pemikiran Awal”, Kebudayaan Dan Pembangunan Sebuah Pendekatan

Terhadap Antropologi Terapan di Indonesia (Penyunting: Colletta, Nat.J. dan Umar

Kayam). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lewellen, T.C. 2002. The Anthropology of Globalization: Cultural Anthropology Enters The 21

St. Century. London: Bergin & Garvey.

Sucipta, I N. 2017. Model Pengembangan Industri Kreatif. Bali Post Nomor 265 Tahun Ke-69 Hal. 6 Kolom 2—5. Denpasar: PT Bali Post.

Tsing, A.L. 2005. Friction An Ethnography of Global Connection: Princeton & Oxford. Princeton University Press.

(25)

Seminar Nasional 6th UNS SME’s SUMMIT & Awards ϮϬϭ7 Peningkatan Daya Saing UMKM Berbasis Ekonomi Kreatif dalam Era Masyarakat Ekonomi ASEAN

Referensi

Dokumen terkait