• Tidak ada hasil yang ditemukan

“Menelusuri Praktik Pemberian Amplop kepada Wartawan di Semarang” - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "“Menelusuri Praktik Pemberian Amplop kepada Wartawan di Semarang” - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

POTRET WARTAWAN DI KOTA SEMARANG

Bab ini menyajikan sejumlah temuan penelitian yang merupakan hasil

dari wawancara mendalam dengan para informan dan pengamatan di lapangan.

Informan yang dimaksud adalah para wartawan yang merupakan subyek utama

dalam penelitian ini. Adapun hasil penelitian meliputi pemahaman kalangan

profesional media terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ), soal kesejahteraan

wartawan, praktik-praktik amplop wartawan, besaran amplop yang diterima

wartawan, alasan-alasan kenapa mau menerima amplop, dan lain-lain.

Temuan-temuan penelitian dalam bab ini adalah hasil wawancara mendalam dengan 11

jurnalis dari televisi lokal, media cetak lokal, media cetak nasional, radio,

online, dan televisi nasional.

Karena praktik wartawan amplop dianggap sebagai masalah sensitif

maka peneliti menyembunyikan identitas para informan. Peneliti hanya

menyebut informan dengan menggunakan inisial huruf W-1, W-2, W-3 dan

seterusnya hingga W-11. Peneliti lebih memilih penyebutan W-1, W-2

(wartawan satu, wartawan dua) dan seterusnya untuk memudahkan

penyebutannya.1 Sebab, jika disebut inisial maka bisa menimbulkan multitafsir

1

Adapun keterangan W-1, W-2 dan seterusnya dapat dilihat di bab I dalam sub subyek penelitian. Selain itu, transkip wawancara dengan para jurnalis juga kami sajikan dalam lampiran penelitian ini. Adapun penentuan inisial W-1, W-2 dan seterusnya adalah berdasarkan pada urutan pada saat wawancara.

(2)

bagi pembaca. Selain itu, peneliti juga tidak akan menyebutkan nama

perusahaan media tempat para jurnalis bekerja.2

3.1. Pemahaman Jurnalis tentang Kode Etik Jurnalistik (KEJ)

Seperti yang sudah diungkap di bab I bahwa Kode Etik Jurnalistik (KEJ)

adalah pedoman-pedoman moral bagi profesional media dalam menjalankan

tugasnya sehari-hari sebagai wartawan. Ketika dikemukakan pertanyaan tentang

pemahaman KEJ, para jurnalis terbelah menjadi dua, yakni ada yang sudah

pernah membaca tapi ada pula yang belum pernah membaca KEJ sama sekali.

Bagi wartawan yang sudah pernah membaca mengungkapkan bahwa KEJ bagi

mereka sangat penting karena menjadi rambu-rambu untuk menunjukan mana

praktik jurnalistik yang boleh dan mana yang tidak. Sedangkan jurnalis yang

belum pernah membaca KEJ menyatakan belum tahu seberapa pentingnya KEJ

tersebut.

Ketidaktahuan jurnalis terhadap KEJ disebabkan karena tidak semua

jurnalis memiliki latar belakang pendidikan yang terkait dengan ilmu jurnalistik

atau kewartawanan. Seperti yang kita tahu bahwa untuk menjadi seorang

jurnalis bisa berlatarbelakang dari manapun. Banyak wartawan yang tidak

berpendidikan ilmu komunikasi atau jurnalistik. Banyak pula wartawan yang

tidak memiliki latar belakang pengalaman jurnalistik pada saat mereka

mengenyam pendidikan di bangku kuliah.3 Bahkan, para wartawan sebenarnya

tidak memiliki cita-cita untuk bergelut di dunia kewartawanan. Informan W-1

2

Alasan peneliti tidak menyebutkan perusahaan medianya adalah karena masalah praktik amplop adalah masalah yang sensitive sehingga dikhawatirkan terjadi hal-hal yang menyudutkan orang atau pihak-pihak tertentu.

3

(3)

(jurnalis televisi lokal) mengungkapkan pada saat dirinya lulus dari kuliah, lalu

dihadapkan pada kebutuhan pekerjaan maka dia mendaftarkan diri di

perusahaan media. Setelah diterima, dia langsung diterjunkan di lapangan untuk

meliput berita. Sedangkan informan lain berinisial W-6 (jurnalis televisi lokal

lainnya) mengungkapkan bahwa dirinya menjadi wartawan karena keterpaksaan

akibat membutuhkan pekerjaan.

Pemahaman jurnalis tentang KEJ juga tak lepas dari minimnya proses

pendidikan dan pelatihan yang diberikan perusahaan media kepada para

jurnalisnya. Seringkali, perusahaan media absen memberikan pendidikan atau

pelatihan kepada para pekerja medianya. Selama ini, banyak perusahaan media

yang memberikan pelatihan kepada wartawannya sekedar pelatihan

teknik-teknik, misalnya teknik wawancara dengan narasumber, cara-cara atau proses

pembuatan berita, dan pengetahuan teknik-teknik lainnya. Sangat jarang

perusahaan media yang menjangkau hingga materi KEJ secara lebih mendalam.

Salah satu jurnalis televisi lokal berinisial W-1 mengungkapkan bahwa dari

kantornya hanya ada pelatihan pembuatan berita. “Itu pun tidak pasti. Kalau

yang etika malah nggak pernah,” katanya. Pada saat masuk kerja pertama kali

juga tidak ada penekanan soal etika jurnalistik. “Saya hanya tanda tangan

kontrak,” kata W-1. W-1 mengaku dirinya memang belum pernah membaca

KEJ. Sedangkan di salah satu stasiun radio,

W-4 menyatakan bahwa dulu di perusahaannya ada pelatihan bagi

jurnalis yang baru masuk. “Tapi harus diakui sudah dua tahun ini jarang, kayak

(4)

perusahaan media melalui perekrutan sendiri, tidak bersama-sama dalam

perekrutan secara terbuka, juga tidak mendapatkan pelatihan dari

perusahaannya. Sebab, kata W-2 (jurnalis cetak lokal), dirinya masuk ke

perusahaan media tersebut tidak melalui tes secara bertahap. Tapi dia bisa

masuk ke perusahaan itu melalui rekomendasi seseorang. Akibatnya, karena

sendirian maka tidak ada proses pelatihan-pelatihan. Karena dianggap sudah

memiliki latar belakang jurnalis, pada saat diterima maka dia langsung

diturunkan di lapangan untuk meliput berita.

Jurnalis yang berstatus hanya sebagai koresponden atau kontributor juga

tidak pernah mendapatkan pelatihan dari perusahaan medianya. Sebab,

hubungan antara jurnalis dengan perusahaan medianya bukanlah selayaknya

seperti karyawan. Mereka menulis berita dikirim ke perusahaan, jika beritanya

dimuat maka akan mendapatkan honor. Tapi jika berita yang dikirim tidak

dimuat maka tidak dapat honor. Pola hubungan seperti ini menjadikan

hubungan jurnalis koresponden dengan perusahaan media hanya sebatas

kebutuhan berita. Sedangkan soal pelatihan dan pengembangan kapasitasnya

diserahkan kepada masing-masing individu. W-5, salah satu jurnalis dengan

status koresponden media cetak nasional mengungkapkan bahwa dirinya

mendapatkan pemahaman KEJ bukan dari pelatihan di perusahaan media, tapi

berangkat dari keinginan pribadi untuk terus belajar. Salah satunya dari

organisasi profesi. Namun, sayangnya tidak semua wartawan ikut organisasi

(5)

Sedangan W-9 (koresponden televisi nasional) mengungkapkan bahwa

selama ini pelatihan dari perusahaan medianya hanya seputar teknis pembuatan

berita dan evaluasi materi pemberitaan. “Biasanya, produser dari Jakarta

menelpon wartawan di daerah, memberikan pengetahuan tentang cara-cara

pengambilan berita yang baik,” kata W-9.

Kebanyakan perusahaan media massa memang tidak memberikan

pemahaman KEJ secara mendalam kepada wartawannya. Namun, ada salah satu

media nasional yang memberikan pelatihan kepada wartawannya selama tiga

bulan berturut-turut. W-11, salah satu wartawan di perusahaan media tersebut

menyatakan materi pelatihan tidak hanya soal teknis pembuatan berita tapi juga

menyangkut soal KEJ. Sebelum diturunkan ke lapangan, wartawan di media

nasional ini digembleng terlebih dahulu selama tiga bulan di ruang-ruang kelas.

Setelah itu, tiga bulan berikutnya magang untuk terjun ke lapangan. Dalam

proses itu ada evaluasi-evaluasi. Jika dinilai tak layak maka jurnalis akan gugur.

Salah satu penilaian kelayakan adalah jurnalis tidak meminta atau menerima

amplop dari narasumber. “Jika diketahui menerima amplop maka langsung

gugur,” kata W-11.

Terlepas seorang jurnalis pernah membaca KEJ atau tidak, ternyata

pemahaman jurnalis terhadap KEJ tidak menjadi penentu apakah jurnalis

bersikap menolak amplop ataukah tetap mau menerima amplop. Sebab, di

antara jurnalis yang sudah pernah membaca kode etik, dan bahkan dia

memandang bahwa KEJ ini sangat penting, tapi yang bersangkutan tetap mau

(6)

antara nilai idealitas KEJ dengan praktik di lapangan sulit dikompromikan.

“Ada kode etik itu manakala saat gaji dan kesejahteraan sudah sesuai dengan

yang diharapkan wartawan. Sesuai dengan kapasitas dan keringat yang

dipekerjakan. Kalau memang itu belum atau jauh dari harapan maka kode etik

sulit diterapkan,” kata wartawan lajang tersebut. Ada pula jurnalis yang

memandang bahwa KEJ sangat penting untuk rambu-rambu wartawan. Tapi

ketika sudah ada di lapangan, wartawan ini juga tidak bisa menahan untuk

menolak amplop yang diberikan narasumber.

W-7 (jurnalis cetak lokal) menyatakan bahwa KEJ sangat penting untuk

rambu-rambu. “Nggak boleh ini atau nggak boleh itu,” katanya. Namun, dia

sendiri mengakui bahwa KEJ sulit diterapkan di lapangan. Banyak pelanggaran

terjadi. “Termasuk menerima ojir (amplop),” katanya.4

Ada pula wartawan yang sudah pernah membaca kode etik dan dia

benar-benar mematuhi KEJ tersebut, terutama menolak imbalan atau suap dari

narasumber. W-2, salah satu jurnalis cetak lokal menyatakan KEJ sangat

penting karena sebagai alat untuk melakukan pekerjaannya. “KEJ sebagai

rambu-rambu atau gaman (senjata) kita. Kode etik merupakan aturan yang harus

dipatuhi. Kalau tidak melakukan kode etik maka kelayakan dia disebut jurnalis

akan kurang atau bahkan tidak layak disebut jurnalis sama sekali,” kata W-2.

Sedangkan W-11 (cetak nasional) yang sudah pernah membaca KEJ tapi

mengaku tidak hafal pasal per pasal menyatakan bahwa KEJ sangat penting. Di

4

Istilah lain yang digunakan para wartawan di Semarang untuk menyebut amplop adalah Jaran (kuda). Istilah ini diadopsi dari bahasa atau sandi yang sering digunakan para anggota kepolisian pada saat mendapatkan hasil uang.

(7)

perusahaan medianya, para wartawan sudah tahu kode etiknya masing-masing

sehingga jika ada wartawan yang diketahui menerima amplop maka langsung

dipecat.

Sedangkan W-3 juga menyatakan bahwa KEJ sangat penting karena

menjadi acuan bagi para wartawan dalam berpraktik bekerja di lapangan. Tidak

hanya masalah larangan menerima amplop, tapi banyak juga rambu-rambu yang

harus dipatuhi karena kerja wartawan berakibat pada efek ketika kita

berhubungan dengan publik. Misalnya, kata W-3, liputan yang berkaitan dengan

kebijakan, kepentingan orang banyak atau berita hukum. Jika wartawan tidak

tahu untuk hindari jeratan-jeratan hukum maka itu sangat berbahaya. Sebab,

kata W-3, jurnalis tiap hari harus terlibat dengan berita publik. “Yang kita

hadapi bukan orang yang tidak tahu apa-apa. Tapi kita menghadapi orang yang

paham banyak hal,” katanya.

3.2. Pandangan Jurnalis terhadap Amplop

3.2.1. Definisi dan Kategori Amplop

Di kalangan jurnalis sendiri, definisi atau kategori pemberian apa yang

masuk kategori amplop dan yang tidak masih selalu berbeda-beda. Ada yang

memaknai bahwa jenis amplop dari narasumber yang dilarang dalam KEJ

adalah hanya sebatas uang atau fresh money. Tapi ada pula yang menganggap

bahwa fasilitas-fasilitas yang diberikan narasumber adalah bentuk lain dari

amplop yang bisa digunakan untuk menjinakan jurnalis. Seorang jurnalis radio,

W-4 menyebut bahwa yang masuk kategori amplop itu hanya yang berbentuk

(8)

dia, yang diberikan ke wartawan entah dengan embel-embel pengganti uang

transportasi atau ucapan terima kasih atau bahkan dengan pesan: “tolong ini

berita dimuat”. “Tapi kalau makan, souvenir itu mungkin hanya pemberian

biasa,” kata W-4.

Hal yang sama disampaikan W-6 (jurnalis televisi lokal). “Amplop itu

ya yang fresh money,” katanya. Tapi, kata dia, itupun pada saat ada kaitan

dengan isu pemberitaan. “Tidak bisa dikatakan sebagai amplop jika ada

narasumber mengajak mengobrol lalu pergi ke mana, lalu memberikan fresh

money atau makan, maka itu bukan amplop karena tidak ada konteks dengan

pemberitaan,” kata W-6. Namun, ada pula yang menganggap bahwa pemberian

fasilitas-fasilitas—seperti souvenir, akomodasi, penginapan, makan-makan dan

lain-lain—termasuk bentuk lain dari amplop wartawan. “Sama saja, cuma beda

bentuk,” kata W-7, jurnalis cetak lokal yang juga selalu menerima amplop.

Khusus pemberian barang, kira-kira barang apa yang dilarang karena

dikhawatirkan akan bisa mempengaruhi independensi dan obyektifitas

pembuatan berita. Apakah souvenir seperti pulpen atau mug gelas yang

diberikan panitia kegiatan kepada jurnalis harus juga ditolak? Para jurnalis

memberikan jawaban beragam. W-11 (jurnalis cetak nasional) mengakui

masalah seperti itu memang subyektif. Sebab, di perusahaannya sendiri tidak

ada aturan tertulis yang rigid. Namun, kata dia, jika diberi sesuatu maka harus

dilaporkan ke kantor. “Kalau nilai barangnya tinggi, seperti handphone atau jam

tangan maka nanti akan dikembalikan, Tapi kalau barang-barang yang nilai

(9)

biasanya di kumpulin di sekretariat. Barang-barang yang sudah terkumpul itu

biasanya akan dibagi-bagikan bersama-sama pada saat akhir tahun. Tapi ada

pula jika nilai barangnya rendah maka itu untuk wartawannya sendiri ga

masalah,” kata W-11.

Sedangkan W-2 (jurnalis cetak lokal) menganggap bahwa batasan

amplop wartawan sangat ketat. Menurutnya, semua imbalan harus ditolak. Tapi,

W-2 mengakui bahwa kadang di lapangan ada pemberian yang sulit dihindari

untuk ditolak. Misalnya, pemberian souvenir atau diajak makan dengan

narasumber. Padahal, kalau amplop sangat ketat maka pemberian makan pun

tidak boleh karena itu bentuk lain dari amplop. Persoalannya, apakah mungkin

di sebuah acara orang-orang yang lain makan tapi jurnalis tidak mau makan?

W-2 memberikan tips untuk disiasati. “Misalnya dengan mengajak narasumber

mengobrol. Atau kita merokok sambil santai-santai untuk mengalihkan

perhatian pada saat teman-teman kita makan,” katanya.

Kategori amplop yang lebih detail disampaikan W-3 (jurnalis freelance

madia luar negeri). W-3 mengungkapkan bahwa selama mungkin pemberian itu

jika diuangkan minimal seharga Rp 10 ribu maka itu termasuk amplop. “Tapi

itu diluar makanan atau alat tulis,” kata dia. W-3 memberikan contoh jika

jurnalis menjadi peserta seminar dan diberi pulpen dan makanan maka itu tidak

termasuk amplop. “Atau souvenir kecil seperti mug yang ga akan mengikat

wartawan untuk menulis obyektif atau tidak,” kata W-3. W-3 memberikan

contoh pemberian barang yang termasuk amplop adalah seperti televisi,

(10)

Lalu bagaimana dengan pemberian fasilitas transportasi dan akomodasi

yang diberikan narasumber kepada wartawan pada saat meliput, terutama

liputan di luar kota. Misalnya, seorang pejabat melakukan kunjungan kerja ke

sebuah daerah. Pejabat tersebut menyediakan alat transportasi dan penginapan

bagi para wartawan yang ikut meliput. Pertanyaannya, apakah fasilitas

transportasi itu masuk kategori amplop atau tidak? Jika masuk kategori amplop,

lalu bagaimana caranya ikut liputan pejabat tersebut? Sebab, jika tidak ikut

rombongan maka bisa jadi jurnalis akan ketinggalan momentum pemberitaan

sang pejabat.

Menghadapi persoalan seperti ini, jurnalis memiliki pandangan

berbeda-beda. Ada sebagian jurnalis yang memandang bahwa fasilitas itu tidak termasuk

amplop. Tapi ada pula yang memandang bahwa fasilitas seperti itu termasuk

amplop. Jurnalis yang menganggap fasilitas transportasi dan akomodasi sebagai

bukan amplop beralasan bahwa jika tidak ikut rombongan maka sulit

mendapatkan materi berita. “Saya hanya menyebut amplop itu yang berbentuk

fresh money,” kata W-4 (jurnalis radio).

Sedangkan jurnalis yang memandang bahwa fasilitas transportasi

sebagai amplop karena sebenarnya perusahaanlah yang wajib memberikan

fasilitas itu, bukan narasumber. Lalu, bagaimana jika tidak ikut rombongan

maka bisa ketinggalan momentum acara kunjungannya? W-2 (jurnalis cetak

lokal) menyatakan bisa disiasati dengan datang lebih cepat. Tapi, kata dia, jika

memang tidak bisa disiasati, misalnya agenda kunjungannya ke luar negeri

(11)

untuk tetap mandiri maka harus dilakukan. Misalnya: masa’ liputan di Ungaran

yang bisa dijangkau naik motor sendiri kenapa tidak dilakukan,” kata W-2.

Sedangkan W-3 (jurnalis freelance) menyatakan bahwa persoalan

fasilitas transportasi dan akomodasi itu sangat tergantung. Ia mencontohkan

kalau ada event lalu panitia menanggung kebutuhan jurnalis tanpa akan

mengikat jurnalis maka itu tidak masalah. “Kecuali yang mewah yang bisa

pengaruhi wartawan. Selama ala kadarnya sih nggak masalah. Selama aku bisa

menulis kritis diluar dan selama itu wajar-wajar saja. Toh itu bukan uang

pribadi panitia,” kata W-3.

W-5 (koresponden cetak nasional) menyatakan ada batas-batas mana

fasilitas yang masuk kategori amplop dan mana yang tidak. W-5 mencontohkan

undangan makan bersama yang wajar tidak termasuk amplop. Menurutnya,

ukuran wajar memang relatif tetapi tetap bisa dibedakan dengan yang mewah.

Sebab, kata W-5, bagaimanapun wartawan tetap butuh hubungan baik dengan

narasumber dengan cara menghadiri acara makan bersama narasumber. Namun,

W-5 menambahkan seharusnya batasan seperti ini diatur dengat detail, tegas

dalam kode etik jurnalistik. ”Sayangnya masih sangat kompromistis sehingga

relatif "nggrambyang (masih belum jelas atau abu-abu)," katanya.

3.2.2. Sikap Jurnalis terhadap Amplop

Di kalangan wartawan, masih sangat beragam dalam memandang

amplop dari narasumber. Sebagai gambaran umum, dari 11 informasi jurnalis

yang diwawancarai dan diamati di lapangan, sebanyak tujuh jurnalis di

(12)

menerima amplop. Masing-masing jurnalis dalam mengambil keputusannya

memiliki alasan-alasan sendiri. Untuk mempermudah penjelasan alasan-alasan

itu berikut kami sajikan tabel sikap jurnalis terhadap amplop:

Tabel 3.1

Sikap jurnalis terhadap amplop beserta alasannya:

W-4 (wartawan radio) menjelaskan bahwa sikap para wartawan

menanggapi amplop memang berbeda-beda. Ia mengelompokan ada tiga

kategori wartawan kaitan dengan amplop. Pertama, wartawan yang sama sekali

tidak mau menerima dan tidak diperbolehkan menerima amplop. Kedua,

wartawan yang mau menerima amplop dan diperbolehkan menerima amplop.

Tapi wartawan jenis ini tidak meminta dan memaksa-maksa narasumber Informan wartawan Sikap terhadap amplop

W-1 (televisi lokal) Mau menerima dengan alasan dianggap sebagai rezeki

W-2 (media cetak lokal) Menolak karena larangan KEJ. Jika menerima amplop akan malu

W-3 (freelance) Menolak karena bertentangan profesi wartawan

W-4 (jurnalis radio) Menerima karena amplop dianggap sebagai pengganti uang

transport saja

W-5 (cetak nasional) Menolak karena bertentangan dengan KEJ

W-6 (televisi lokal) Menerima amplop karena dianggap sebagai rezeki

W-7 (cetak lokal) Menerima amplop karena sebagai rezeki

W-8 (media online) Menerima

W-9 (televisi nasional) Menerima amplop karena amplop sudah seperti menjadi budaya

W-10 (cetak lokal) Menerima amplop karena dianggap sebagai rezeki

W-11 (cetak nasional) Menolak karena bisa melecehkan profesi wartawan dan membuat

(13)

memberikan amplop. Ketiga, ada kelompok wartawan yang selalu menerima

amplop. Kalau tidak ada tetap upayakan harus ada amplop. Jenis wartawan

ketiga itu adalah wartawan bodrek.

W-4 menyatakan kenyataan di lapangan menunjukan memang ada

teman-teman wartawan yang memaksa meminta amplop kepada para

narasumber. W-4 mengaku dirinya masuk kategori yang kedua, yakni mau

menerima amplop tanpa harus meminta-minta atau memaksa. “Saya menerima

amplop tanpa meminta dan berita saya buat seobyektif mungkin,” katanya.

W-6 (televisi lokal) menyatakan dirinya menghukumi amplop sebagai hal

yang makruh. Terlepas dari itu, kata dia, banyak sekali filosofi tentang amplop.

Ada yang menganggap bahwa amplop itu sebagai rejeki, ada juga itu disebut

upah dari narasumberr kepada wartawan, ada yang menganggap itu sebagai hal

negatif karena wartawan akan bisa dikondisikan, ada yang filosofi bahwa itu

ucapan terima kasih serta ada yang filosofi itu sebagai nilai reward dari

narasumber karena selama ini sudah memberitakan yang bagus-bagus.

Namun, kata W-6, budaya amplop juga tidak sepenuhnya kesalahan

wartawan. W-6 menuding mainset birokrasi yang sangat butuh pencitraan. “Jika

ada birokrasi yang melanggar aturan maka media harus mengkritisnya. Tapi

kecenderungannya itu malah dijadikan politisasi pihak-pihak tertentu,” katanya.

Maksudnya, jika ada kesalahan atau ada penyelewengan maka para pejabat

menutup-nutupinya. W-6 meminta kalau ada kebijakan di birokrasi tidak tepat

ya diakui saja. Tidak perlu memberikan tips ke wartawan. Counter attack pun

(14)

amplop. Biasanya, kalau ada sebuah isu yang ramai dibicarakan tapi tidak lama

kemudian isu itu akan hilang. “Itu ya karena pemberian tips,” katanya.

3.4. Relasi Wartawan dengan Perusahaan Media

3.4.1. Upah dan Kondisi Kerja Jurnalis

Salah satu isu menarik terkait dengan kerja jurnalis adalah masalah

kesejahteraan. Selama ini, jurnalis masuk kategori sebagai buruh di perusahaan

media. Mereka menerima gaji dan tunjangan dari perusahaan media layaknya

sebagai buruh. Meskipun sebenarnya profesi jurnalis dalam praktiknya berbeda

jauh dengan buruh. Sebab, jurnalis memerlukan keahlian khusus. Cara kerjanya

juga sangat padat, tidak terikat dengan waktu. Kapan saja jika ada peristiwa

yang harus diliput maka dia harus segera turun ke lapangan meliputnya. Nah,

salah satu isu menarik kaitannya dengan praktik amplop di jurnalis adalah

masalah gaji atau kesejahteraan.

Ada yang menyatakan bahwa selama ini karena gaji yang diterima

jurnalis masih minim maka praktik amplop di kalangan jurnalis semakin marak.

Mereka dengan bebas menerima amplop dari para narasumber dengan alasan

gaji yang mereka terima dari kantor belum memadai. Apakah, pernyataan itu

benar? Lalu bagaimana kesejahteraan jurnalis di Semarang, terutama yang

berasal dari gaji dan tunjangan di perusahaan? Berikut hasil penelitiannya.

Selama ini, setidaknya ada dua sistem ikatan jurnalis dengan perusahaan media,

yakni jurnalis dengan ikatan sebagai karyawan dan jurnalis yang hanya sebagai

(15)

3.4.1.1. Gaji dan Tunjangan Jurnalis Berstatus Kontrak atau Karyawan

Tetap

Dengan sistem kerja ikatan kontrak atau karyawan tetap di perusahaan

media, maka para jurnalisnya akan menerima gaji secara bulanan. Membuat

berita berapapun, gajinya akan tetap sama. Jurnalis akan menerima gaji yang

rata-rata besaran per bulannya sama. Produktifitas mengirimkan berita yang

dilakukan jurnalis hanya akan memengaruhi penilaian dari perusahaan.

Banyaknya berita yang dikirim tak berpengaruh besar pada besaran gaji yang

akan diterima jurnalis. Sebab, dengan ikatan kontrak atau karyawan tetap maka

gaji yang diterima adalah flet per bulan. Perusahaan media yang yang

menggunakan sistem gaji bulanan biasanya media-media lokal, baik itu cetak

lokal, televisi lokal maupun radio lokal.

Biasanya, sebelum perusahaan media mengangkat seorang jurnalis

sebagai karyawan tetap maka jurnalis harus melewati dulu status kontrak.

Masing-masing perusahaan memiliki perusahaan media di Semarang

menerapkan jenjang karir yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang

menerapkan status kontrak per tahun kepada karyawan selama hamper lima

tahun tapi belum juga diangkat menjadi karyawan tetap. Tapi ada pula

perusahaan media radio yang memberlakukan status kontrak karyawan hanya

dua tahun, setelah itu karyawan tersebut diangkat jadi karyawan tetap.

W-7 (jurnalis cetak lokal) menyatakan sejak masuk di perusahaannya

pada 2006 lalu hingga kini masih berstatus sebagai karyawan kontrak. “Coba

(16)

Kontrak tersebut diperbaharui setiap tahunnya. Lalu, berapa gaji yang diterima

W-7? Laki-laki yang sudah punya anak tiga ini menyatakan gaji pokok yang

diterimanya per bulan adalah sebesar Rp 975 ribu. Gaji pokok itu dicairkan

setiap tanggal 25. Diluar gaji pokok masih ada tunjangan dan bonus-bonus.

“Ada uang bensin dan tetek bengek-nya (dan lain-lainnya) total Rp 500 ribu

yang cair setiap tanggal 1,” kata W-7. Bonus itu itu termasuk bonus

produktivitas pengirimkan berita. Setiap berita, memiliki poin tersendiri,

misalnya berita headline dapat 6 poin, berita kilas dapat 2 poin dan seterusnya.

“Nah poin-poin itu diakumulasikan. kalau dapat poin 300-an dapat bonus Rp

200 ribu. Kalau dapat 200 poin ke bawah dapat bonus Rp 100 ribu,” kata W-7.

Sedangkan W-2 (cetak lokal yang sama) juga mengakui bahwa setiap bulan

dirinya memperoleh pendapatan dari perusahaan sebesar Rp 1,4 juta, terdiri dari

gaji pokok, tunjangan, dan bonus.

Status karyawan kontrak juga masih disandang W-1 (jurnalis televisi

lokal) yang sudah bekerja sejak dua tahun lalu. Pada 2011, gaji yang diterima

W-1 adalah sebesar Rp 800 per bulan. Gaji sebesar itu sudah melalui beberapa

tahap kenaikan. Saat bekerja pada tiga bulan pertama, W-1 digaji sebesar Rp

350 ribu per bulan. Tiga bulan berikutnya naik Rp 500 ribu per bulan.

Selanjutnya, tiga bulan berikutnya naik jadi Rp 650 ribu per bulan. Berikutnya

naik menjadi sebesar Rp 800 per bulan.

W-1 terang-terangan berharap agar gajinya bisa dinaikan lagi. Sebab,

gaji Rp 800 ribu per bulan itu masih dibawah besaran upah minimum Kota

(17)

mengaku hanya mendapatkan uang pengganti bensin, yakni Rp 10 ribu per hari.

“Tapi rata-rata saya hanya ambil dua hari sekali,” kata dia.

Sedangkan W-4 (jurnalis radio) menyatakan dirinya bekerja di

perusahaan sudah hampir empat tahun. Sistem kerjanya adalah tiga bulan

pertama kontrak. Lalu ada evaluasi. Apabila sesuai yang diharapkan perusahaan

maka dilanjut dengan kontrak satu tahun pertama. “Jika cocok maka tahun

kedua sudah bisa jadi karyawan,” kata dia. W-4 mengaku menerima gaji pokok

beserta tunjangan-tunjangan lainnya antara Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per

bulan.

Seorang jurnalis televisi lokal berinisial W-6 menyatakan dirinya masih

berstatus kontrak dengan gaji Rp 1.250.000 per bulan. Gaji tersebut masih

ditambah beberapa tunjangan, yakni uang bensin per bulan Rp 200 ribu, uang

service motor dua bulan sekali Rp 50 ribu, uang lembur Rp 150 ribu per bulan,

serta ada subsidi beras 10 kilo gram per bulan. Adapun W-10 (jurnalis cetak

lokal) menerima gaji dari kantornya sebesar Rp 1,2 juta per bulan. “Istilahnya

itu sudah take home pay (seluruhnya),” kata jurnalis yang juga masih berstatus

karyawan kontrak ini.

Gaji dan tunjangan yang agak besar diterima oleh salah satu wartawan

media cetak nasional. W-11 (jurnalis media cetak nasional) menyatakan pada

saat awal masuk kerja dirinya sudah digaji Rp 2,8 juta per bulan. “Lalu naik

terus setiap tahun. Sekarang gaji pokok saya sekitar Rp 4 juta (per bulan),” kata

(18)

lalu naik menjadi calon reporter. Jika lolos tahapan-tahapan evaluasi maka baru

diangkat menjadi karyawan. Sekarang, W-11 sudah berstatus karyawan tetap.

Tak hanya gaji pokok, W-11 juga menerima berbagai tunjangan, yakni

tunjangan transportasi Rp 700 ribu per bulan, tunjangan pulsa Rp 300 ribu per

bulan, uang makan Rp 25 ribu per hari. Tidak hanya berhenti disitu. Perusahaan

media cetak nasional ini juga memberikan tunjangan anak kepada para

wartawannya. Namun, karena W-11 belum mengambil tunjangan anak itu maka

tidak tahu berapa besarannya. Selain itu, W-11 juga akan menerima tunjangan

kesehatan jika sewaktu-waktu sakit. “Biaya pengobatan bisa diklaim ke kantor,”

katanya. Ada juga fasilitas pinjaman uang untuk membeli rumah tanpa bunga.

Tapi khusus untuk pinjaman tanpa bunga hanya bagi mereka yang sudah

bekerja minimal lima tahun ke atas.

Selanjutnya, apakah para jurnalis yang menggunakan sistem ikatan

kontrak atau karyawan dengan sistem gaji bulanan sudah merasa bahwa gaji dan

tunjangannya sudah cukup memadai? Para jurnalis memiliki jawaban beragam.

W-7 (wartawan cetak lokal) yang menerima gaji pokok Rp 975 ribu ditambah

tunjangan lain-lain sebesar Rp 500 ribu merasa bahwa pendapatannya memang

belum ideal. Dengan tiga anak, maka gajinya kadang tak cukup untuk

memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan W-4 (jurnalis radio) yang

mengaku menerima gaji pokok beserta tunjangan-tunjangan lainnya antara Rp 1

juta hingga Rp 1,5 juta per bulan merasa gaji yang diterimanya juga tak cukup.

“Idealnya, gaji akan cukup memenuhi kebutuhan ya minimal Rp 2 juta per

(19)

gaji pokok Rp 4 juta dengan tambahan berbagai tunjangan merasa bahwa

pendapatannya sudah sangat mencukupi.

3.4.1.2. Gaji dan Tunjangan Jurnalis Berstatus Koresponden atau

Kontributor

Biasanya, perusahaan media yang menggunakan koresponden di

Semarang adalah media-media yang berkantor pusat di Jakarta. Perusahaan

media di Jakarta membutuhkan jurnalis untuk ditempatkan di Semarang tanpa

berstatus sebagai karyawan tetap tapi hanya kontributor. Hampir seluruh stasiun

televisi nasional mempekerjakan wartawan di daerah, termasuk di Semarang.

Ada juga beberapa media cetak nasional yang lebih memilih status koresponden

daripada mengangkat karyawan. Ikatan yang hanya kontributor ini juga

memiliki implikasi dalam masalah gaji.

Dengan status koresponden maka perusahaan media hanya memberikan

gaji sesuai dengan jumlah berita yang dimuat atau ditayangkan. Jika seorang

kontributor mengirimkan berita dan ditayangkan atau dimuat maka dia akan

mendapatkan gaji dari perusahaan media. Tapi jika berita tersebut tak dimuat

maka jurnalis tidak akan mendapatkan imbalan dari perusahaan media.

Makanya dalam sistem kontributor, semakin banyak berita yang

dimuat/ditayangkan maka perolehan gajinya akan semakin banyak. Sebaliknya,

jika berita yang termuat atau ditayangkan sedikit maka gaji yang diterimanya

juga akan semakin sedikit.

Besaran imbalan per berita yang diberikan perusahaan media juga sangat

(20)

berita maka semakin besar nilai harga per beritanya. Tapi perusahaan media

yang materi beritanya mudah tayang maka harga beritanya juga semakin murah.

Karena gaji yang diterima disesuaikan dengan jumlah berita maka pendapatan

jurnalis dengan status koresponden atau kontributor selalu tidak pasti.

W-3 (jurnalis kontributor media luar negeri) menyatakan dirinya digaji

per paragrap di laporan berita. “Per paragraf dihargai sebesar Rp 250 ribu,” kata

mantan wartawan cetak lokal tersebut. Di luar gaji Rp 250 ribu per paragrap itu,

W-3 tidak menerima tunjangan atau bonus, kecuali kalau W-3 ditugaskan

perusahaan untuk meliput sebuah peristiwa di luar daerah. Meski harga per

berita sangat tinggi, tapi berita-berita yang layak dimuat di media luar negeri ini

sangat sulit. Kriterianya sangat berat. W-3 mencontohkan, peristiwa kerusuhan

Temanggung pada 8 Pebruari lalu saja perusahaannya tidak berminat membuat

beritanya. “Mungkin karena tidak ada korban, atau kerusuhannya hanya sesaat,”

kata dia.

Sedangkan W-9 (jurnalis televisi nasional) menyatakan harga per berita

yang dibeli perusahaan medianya adalah sebesar Rp 250 ribu. Namun, kata

W-9, tidak semua berita layak dan bisa diterima redaktur di Jakarta. Sebab, media

televisi membutuhkan gambar yang bagus. “Kalau hanya berita pernyataan

maka sulit tayang,” kata dia. Untuk itu, W-9 hanya mengandalkan berita-berita

peristiwa, seperti unjuk rasa, kebakaran, pembunuhan dan lain-lain.

Untuk wilayah liputan di Semarang, W-9 cukup beruntung karena di

Ibukota Jawa Tengah ini banyak peristiwa atau kejadian yang bisa diliput.

(21)

pengiriman sekitar 40 berita itu, rata-rata sekitar 30 berita di antaranya

ditayangkan. W-9 menyatakan jika ada 30 berita dikalikan Rp 250 ribu maka

sudah ada gaji Rp 7,5 juta per bulan. Namun, penerimaan itu masih kotor,

karena dari perusahaan televisi nasional ini tidak ada bonus atau tunjangan

tambahan. W-9 menceritakan, dulu pernah ada sistem tunjangan dan pemberian

fasilitas. Seluruh keperluan saat meliput ditanggung perusahaan, mulai dari

fasilitas transportasi, bensin, biaya pengiriman kaset dan lain-lain. Namun,

harga per berita hanya Rp 75 ribu. Sistem itu kemudian diganti dengan sistem

per berita Rp 250 ribu dengan konsekuensi seluruh fasilitas ditarik.

Harga per berita bisa dibilang kecil adalah yang diterima W-8 (jurnalis

media online nasional). Harga per berita yang diterima W-8 sangat bervariasi.

Ada kategori berita mulai dari berita dengan bobot A, B, C hingga D. “Ya

rata-rata sekitar Rp 25 ribu per berita. Kalau paling kecil Rp 15 ribu kalau paling

besar Rp 30 ribu,” kata W-8. W-8 mengaku setiap bulan berita yang dikirim

dirinya bisa dimuat hingga 70 berita. “Itu jumlah rata-rata,” kata mantan

mahasiswa jurusan filsafat yang bekerja mulai awal 2009 lalu itu. W-8

menyatakan jika dirinya dinilai bekerja cukup bagus maka ada kemungkinan

untuk mengikuti pendidikan di kantor Jakarta. Biasanya, setelah lulus

pendidikan maka ada kemungkinan untuk diangkat sebagai karyawan tetap.

Sementara itu, W-5 (kontributor media cetak nasional) menyatakan gaji

yang diterima kontributor memang tidak pasti. Tergantung seberapa lincah

kontributor membuat inisiatif berita. Selain itu, juga tergantung situasi dan

(22)

jadi kontributor akan “panen” karena bisa mendapatkan berita banyak.

Sebaliknya, jika tidak ada peristiwa yang layak berita maka berita akan sepi.

W-5 mengaku setiap bulan dirinya mampu mendapatkan gaji kurang lebih Rp 1,W-5

juta.

Bagi jurnalis dengan status kontributor atau koresponden, pada saat

ditanyakan apakah gajinya sudah cukup memadai? Jawaban mereka juga

beragam. W-9 (jurnalis televisi nasional) mengaku dengan harga per berita Rp

250 ribu maka sudah sangat cukup. W-9 mencontohkan rata-rata per bulan

dirinya mampu membuat berita hingga 30 yang bisa tayang. Jika Rp 250 ribu

dikalikan 30 maka Rp 7,5 juta. “Dengan uang Rp 7,5 juta untuk hidup di

Semarang sudah lebih dari cukup,” kata dia. Namun, para jurnalis dengan status

koresponden lainnya tidak bisa mengukur apakah gajinya sudah mencukupi atau

tidak. Sebab, gaji yang mereka terima dari satu bulan ke bulan berikutnya selalu

tidak sama. Jika ada berita ramai di wilayah liputan, atau sering berinisiatif

membuat berita yang bagus maka peluang dimuatnya berita menjadi besar. Jika

berita sering dimuat maka pendapatan mereka akan semakin besar.

3.4.2. Serikat Pekerja dan Kepemilikan Saham Perusahaan

Serikat pekerja menjadi salah satu isu penting karena dengan serikat

maka posisi karyawan (wartawan) dihadapan perusahaan media bisa memiliki

bargaining. Dengan adanya serikat pekerja maka diharapkan bisa

memperjuangkan hak-hak jurnalis. Namun, para jurnalis di Semarang yang

ditemui peneliti menyatakan tidak tahu menahu mengenai masalah serikat

(23)

media yang ikut aktif di serikat pekerja. Bahkan, di Semarang sendiri tidak ada

wartawan yang membuat serikat pekerja di perusahaan medianya.

W-2 (cetak lokal) mengaku tidak tahu kenapa di perusahaan medianya

tidak ada serikat pekerja. “Mungkin tak membutuhkan atau memang tidak tahu

soal serikat pekerja,” ujarnya. Sedangkan W-6 (televisi lokal) memperkirakan

bahwa serikat pekerja tidak ada karena bisa dikatakan itu justru akan menjadi

batu sandungan bagi perusahaan media. Sedangkan W-8 (jurnalis online)

menyatakan serikat pekerja di perusahaan Jakarta ada tapi yang wartawan di

Semarang tidak ada atau tidak ikut terlibat sama sekali. W-9 (koresponden

televisi nasional) menyatakan bahwa para karyawan di perusahaan televisinya

yang ada di Jakarta memang membuat serikat pekerja. Namun, kata W-9,

serikat pekerja tersebut hanya menampung karyawan yang ada di Jakarta.

Serikat pekerja tidak mengakomodir koresponden yang ada di daerah.

Selain masalah gaji dan tunjangan, masalah lain yang juga terkait

dengan kesejahteraan buruh adalah masalah kepemilikan saham. Persoalan

keikutsertaan wartawan dalam memiliki saham digulirkan dengan asumsi agar

para karyawan di perusahaan media, termasuk wartawan, memiliki posisi di

hadapan perusahaan. Masalah saham kolektif di perusahaan media ini bermula

dari Peraturan Menteri Penerangan Nomor 01/PER/MENPEN/1984, pasal 16.

Disana disebutkan, perusahaan media diwajibkan memberikan saham kolektif

yang besarnya 20 persen kepada karyawan.5

5

Pengaruh pemilik media dan kepemilikan saham dengan otonomi keredaksian memang menjadi salah satu masalah media di era reformasi saat ini. Annet Keller, Koresponden Surat

Kabar The Asia Pacific Times dan lulusan S2 bidang jurnalistik dan ilmu politik di Leipzig

(24)

Saham kolektif itu umumnya diberikan perusahaan dalam bentuk saham

kosong. Karyawan mendapat bagian saham tanpa perlu menyetor modal. Tetapi

bukan hibah karena saham itu diberlakukan sebagai hutang. Kalau perusahaan

untung, deviden tidak dibayarkan kepada karyawan tetapi dipakai sebagai

cicilan utang. Jika nasib baik maka setelah tahun kesekian cicilan bisa lunas

sehingga karyawan bisa mendapatkan deviden. Saham itu juga bukan saham

atas nama, jadi dimiliki secara kolektif dan tidak bisa diwariskan.

Kepemilikan saham kolektif di perusahaan media digulirkan sebagai

salah satu upaya untuk memperkuat posisi wartawan di hadapan perusahaan.

Dengan adanya kepemilikan saham itu diharapkan karyawan bisa ikut

menentukan dan mempengaruhi kebijakan perusahaan. Tujuan akhirnya adalah

agar perusahaan lebih memperhatikan kesejahteraan wartawan. Saat bergulirnya

masa reformasi 1998, Permenpen Nomor 01/PER/MENPEN/1984 itu diganti

dengan Surat Keputusan Menteri Penerangan No.132/1998. Pencabutan Menteri

tidak memiliki pemilik saham mayoritas. Sebab, dominasi kepemilikan saham membuat ketidakindependenan redaksi dibawah pemodal. Annet Keller melakukan penelitian kebijakan redaksi di empat media cetak nasional, yaitu Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia dan

Republika. Annet Keller menyimpulkan ternyata sistem kepemilikan dan struktur redaksional

dalam perusahaan media berpengaruh pada tingkat otonomi redaksi dan isi berita. Hasil penelitian Keller menunjukan bahwa wartawan yang bekerja pada surat kabar yang pemiliknya tidak punya latar belakang jurnalisme menerima intervensi yang dominan dari para pemilik modal, hal ini dialami oleh Media Indonesia dan Republika. Media Indonesia bahkan menempatkan salah seorang staf non-redaksional saat berlangsungnya rapat redaksi. Sedangkan wartawan Republika diperkenankan untuk menerima iklan dari klien lalu mendapatkan presentase hasil iklan.

Sedangkan Koran Tempo menurut Annet Keller dinilai sebagai media yang memiliki otonomi redaksi dan isi berita paling independen. Hal ini disebabkan karena tidak adanya pemilik modal yang dominan yang menguasai Koran Tempo. Sedangkan Kompas menurut Annet Keller lebih suka bermain aman. Jakoeb Oetama menyebutnya Kompas mengadopsi gaya "Jurnalisme Kepiting" yang berjalan maju namun mundur kembali. Namun firewall yang paling terlihat jelas terdapat di Kompas dimana divisi redaksi dan marketing berada di tempat terpisah dan tidak saling mengenal. Annet menyimpulkan bahwa media massa yang dinilai paling independen adalah surat kabar yang tidak memiliki pemilik saham mayoritas. Media tersebut adalah Koran Tempo. Annet Keller; Tantangan dari Dalam, Otonomi Redaksi di 4 Media

Nasional: Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia; 2006.

(25)

Penerangan itu terutama menyangkut peraturan baru tentang Surat Izin Usaha

Penerbitan Pers (SIUPP). Di era kebebasan, SIUPP sudah tidak lagi menjadi

syarat penerbitan perusahaan media.

Peneliti menemukan bahwa masalah saham kolektif di perusahaan media

untuk wartawan di Kota Semarang ternyata masih jauh dari panggang api. 11

informan wartawan di Semarang yang diwawancarai peneliti, hanya ada satu

yang menyatakan wartawan diperusahaannya ikut memiliki saham kolektif di

perusahaan, yakni W-11 (cetak nasional). W-11 mengaku tidak tahu menahu

soal sistem dan mekanisme saham kolektif tersebut. Yang jelas, setiap tahun

W-11 ikut dapat pembagian deviden dari perusahaannya. Besaran yang diberikan

biasanya tergantung masa kerja, yang masih baru dapat sedikit tapi yang masa

kerjanya sudah lama ya dapat banyak. ”Terakhir saya dapat deviden Rp 4 juta,”

kata W-11 yang sudah bekerja selama empat tahun. Bonus tahunan ini layaknya

gaji ke-13, seperti yang selama ini biasa diterima para pegawai negeri sipil.

Sedangkan di perusahaan-perusahaan media lainnya, para wartawan di

Semarang mengaku tidak ada yang ikut memiliki saham di perusahaan. Sebab,

rata-rata perusahaan media yang ada didirikan atau dimiliki seorang pengusaha.

Sedangkan para wartawan adalah karyawan yang bekerja di perusahaan milik

pengusaha tersebut. Alih-alih bisa ikut memiliki saham perusahaan, para

wartawan di Semarang menyatakan sudah bisa bekerja sebagai wartawan saja

sudah beruntung. Sebab, kepemilikan perusahaan media hanya dimiliki oleh

(26)

3.5. Gaji Tak Pengaruhi Tolak Amplop.

Setelah mengetahui besaran gaji dan tunjangan yang diterima para

jurnalis, peneliti lalu menelusuri apakah besar kecilnya gaji yang diterima

seorang jurnalis akan berpengaruh pada keputusannya untuk menerima atau

menolak amplop atau tidak. Sebab ada pandangan yang menyatakan bahwa gaji

dan kesejahteraan wartawan yang masih minim menjadi lahan subur maraknya

praktik amplop di dunia kewartawanan. Dengan gaji kecil maka wartawan akan

tergoda untuk menerima pemberian dari narasumber. Dalam wawancara

mendalam dengan para jurnalis menemukan bahwa jurnalis dengan gaji besar

ternyata mereka masih tetap mau menerima amplop dari narasumber.

W-9 (jurnalis televisi nasional) yang rata-rata mendapatkan penghasilan

Rp 7,5 juta per bulan menyatakan praktik amplop di kalangan jurnalis tidak ada

kaitannya dengan besar kecilnya gaji dari perusahaan media. “Kalau soal

kesejahteraan tidaklah. Bagi wartawan televisi di daerah, kerja santai saja sudah

dapat gaji banyak. Misalnya, bekerja dengan target satu hari satu berita maka

jika per berita Rp 250 ribu maka sudah mendapatkan Rp 7,5 juta. Kalau

menurut saya, praktik amplop ini karena lebih pada kultur. Lebih pada

kebiasaan hubungan antara wartawan dengan narasumber,” kata W-9.

Pernyataan W-9 diamini oleh W-7 (jurnalis cetak lokal). Menurut W-7,

sikap permisif para wartawan terhadap pemberian amplop tak ada kaitannya

dengan rendahnya gaji wartawan. “Kalau dihitung-hitung seperti itu ya semua

(27)

masing-masing. Tapi kalau aku, pada prinsipnya saya tidak ada target ke situ

(amplop). Kalau memang ada (amplop) ya saya terima kalau tidak ada ya nggak

apa-apa,” katanya.

Satu sisi ada jurnalis yang sudah mendapatkan gaji besar tapi masih mau

menerima amplop tapi disisi lain ada jurnalis yang gajinya masih tergolong

pas-pasan tapi dia tidak mau menerima amplop. W-2 (jurnalis cetak lokal) yang

menerima gaji sebesar Rp 1,4 juta per bulan mengaku gajinya sangat pas-pasan

untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan istrinya selama sehari-hari. Namun,

karena W-2 merasa bahwa amplop memang melanggar KEJ dan tidak patut

diterima maka hingga kini dirinya tetap kuat menahan godaan pemberian

amplop. Saat ditanya, apakah rendahnya gaji wartawan ada hubungannya

dengan maraknya praktik amplop? W-2 menjawab: “Tidak juga,” kata dia.

Sebab, jika sudah menyangkut kebutuhan maka wartawan akan merasa

kekurangan terus menerus. Jika seorang wartawan selalu menerima amplop

maka dia sudah merasa keinginan-keinginannya akan bisa terpenuhi.

Sedangkan W-3 (jurnalis freelance) yang menerima gaji per berita Rp

250 ribu per paragrap tapi beritanya sangat sulit tayang berprinsip bahwa semua

orang punya rejeki sendiri-sendiri. “Meski jumlahnya berbeda-beda. Tapi kalau

ditotal bisa sama. Misalnya, saya tidak dapat fisik amplop tapi saya bisa ke luar

negeri atau bisa ikut pelatihan-pelatihan yang harganya mahal,” katanya.

Selama ini, W-3 memang sudah sering mengikuti pelatihan-pelatihan baik di

(28)

pelatihan-pelatihan itu karena lembaga-lembaga lain melihat jejak rekam

seseorang yang dinilai bagus.

Sedangkan W-11 (jurnalis cetak nasional) yang menerima gaji Rp 4 juta

ditambah berbagai tunjangan mengakui bahwa setidaknya besaran gaji bisa

menjadi faktor pemicu seseorang menerima amplop atau tidak. Saat peneliti

bertanya, kenapa Anda tak mau menerima amplop, W-11 menyatakan salah satu

alasannya adalah memang gaji yang diterimanya sudah cukup. Tapi, kata dia,

yang paling utama lainnya adalah menjaga idealisme. “Kadang-kadang dalam

kondisi pasrahan dapat tawaran ya dalam hati bilang: wah ini lumayan juga,

dapat ini dan itu. Tetapi karena saya pikir kalau saya menerima maka saya

merasa seperti dipermalukan. Saya merasa dilecehkan karena ini profesi saya,”

kata dia.

Dari pengalamannya di lapangan, W-11 menceritakan bahwa besaran

gaji memang tidak menjadi kunci bagi seorang wartawan tidak mau menerima

amplop. Sebab, ada pula wartawan yang gajinya sudah besar tapi tetap mau

menerima amplop. Pada saat yang sama, ada pula wartawan yang walaupun

gajinya tidak berlebih atau masih minim kondisinya tapi bisa idealis tidak mau

(29)

3.6. Pos Liputan Basah dan Pos Liputan Kering6

Dari 11 jurnalis yang ditemui peneliti, seluruhnya mengaku pernah

mendapatkan tawaran-tawaran amplop dari narasumber. Sebagai gambaran

umum, dari 11 jurnalis yang diwawancarai peneliti, sebanyak tujuh jurnalis

mengaku menerima amplop. Sedangkan empat jurnalis menyatakan tidak mau

menerima tawaran amplop yang diberikan narasumber. Narasumber yang

memberikan tawaran amplop bisa dari berbagai macam penjuru, mulai dari

perorangan, instansi pemerintah maupun instansi swasta. Pos liputan yang

memberikan amplop kepada wartawan juga terbentang luas, mulai dari politik,

ekonomi, hukum, pendidikan, olahraga dan lain-lain. Masing-masing jurnalis

memiliki pengalaman sendiri-sendiri terkait dengan praktik amplop itu.

W-1 (wartawan televisi lokal) yang liputan di DPRD dan Gubernuran

Provinsi Jawa Tengah menyatakan amplop yang diterimanya selalu tidak pasti.

Ia menyebut nominal amplop paling kecil adalah sebesar Rp 50 ribu. Tapi,

kalau dirata-rata besaran amplop yang diberikan narasumber kepada dirinya

adalah antara Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu. W-1 mengaku amplop terbesar

yang dia terima adalah sebesar Rp 1,5 juta. “Yang paling besar itu pada saat ada

6

Pos liputan adalah wilayah atau bidang yang akan diliput wartawan. Misalnya pos ekonomi, maka wartawan tersebut bertugas untuk meliput berita-berita ekonomi. Sedangkan pos wilayah, misalnya seorang ditugaskan di pos Semarang Barat, maka wartawan tersebut bertugas dan bertanggungjawab meliput berita-berita yang ada di Semarang Barat. Istilah lain dari pos liputan adalah beat. Menurut Potter, banyak organisasi berita menugaskan wartawan untuk meliput bidang-bidang khusus, baik dari segi geografis maupun topiknya yang dikenal sebagai “beat”. Ini istilah yang semula dipakai untuk menggambarkan jalur ronda yang tetap bagi petugas jaga atau patrol polisi (Lihat: 6 Deborah Potter. Buku Pegangan Jurnalisme Independen. BAB 7: Etika dan Hukum; halaman 58; Diterbitkan Biro Program Informasi Internasional, Departemen Luar Negeri AS , 2006).

(30)

acara press tour Dinas Perhubungan Jawa Tengah ke Brebes, selama tiga hari,”

katanya.

W-1 menyatakan pendapatan dirinya dari amplop memang bisa untuk

menutupi berbagai kebutuhannya. Hasil amplop yang dia terima, kata dia,

rata-rata satu pekan sudah sama dengan upah sebulan. “Itu kalau rajin, tapi kalau

tidak ya biasanya dua minggu,” kata W-1 yang bergaji Rp 800 ribu itu. Tapi,

kata dia, jika disuruh untuk memilih maka sebenarnya amplop tidak usah

diterima. Sebab, kata dia, bebannya berat. “Ada narasumber minta nomor

telepon. Kalau belum tayang maka mereka tanya terus “kapan mas tayange”.

Mestikan jadi repot. Atau nanti malah lapor ke kantor kita yang kena SP (surat

peringatan). Narasumber bisa komplain sudah diberi kok nggak tayang,”

katanya.

Lalu siapa yang memberikan amplop? W-1 menjawab bahwa banyak

narasumber di DPRD yang sering memberikan amplop. Mulai dari pimpinan

fraksi, pimpinan komisi7 atau pimpinan DPRD8 semuanya pernah memberikan

amplop. Tapi, kalau institusi resmi seperti itu maka pemberiannya pada saat ada

7

Komisi C DPRD Jawa Tengah menggelar rapat kerja dengan beberapa perusahaan daerah (perusda). Usai acara rapat, wartawan mewawancarai direktur perusda. Para anggota DPRD keluar dari ruang sidang dan masuk ke ruang pimpinan. Usai wawancara dengan direktur perusda, ada salah satu wartawan yang masuk ke ruang pimpinan untuk meminta wawancara. Kebetulan saat itu, pimpinan masih makan siang. Wartawan disuruh menunggu di ruang rapat. Setelah itu, pimpinan DPRD datang sehingga wawancara bisa dilakukan. Usai wawancara, pimpinan tersebut meminta agar wartawan menunggunya. Setelah itu, datang seorang staf Komisi C menyodorkan daftar hadir wartawan. Satu per satu wartawan menuliskan nama dan membubuhkan tanda tangan. Salah satu wartawan dipanggil di ruang pimpinan. Saat keluar dari ruang pimpinan, wartawan tersebut sudah membawa amplop untuk dibagi-bagi ke para wartawan. Dalam daftar hadir tertulis: “wartawan @ Rp 100.000”.

8

Rabu, 9 Maret 2011 pagi, Sebuah SMS tersebar di beberapa wartawan. Isinya ajakan makan-makan di Pesta Kebun, Semarang, dalam rangka ulang tahun salah satu pimpinan DPRD. Usai meliput sebuah acara rapat, wartawan lalu menuju ke Rumah Makan Pesta Kebun. Di sana mereka memesan berbagai makanan serta bernyanyi-nyanyi. Tak lupa, si empunya gawe yang ulang tahun juga membagi-bagikan amplop. Seorang informan menyebut isi amplopnya Rp 200 ribu.

(31)

agenda jumpa pers atau setelah ada rapat atau sidang-sidang.9 Selain itu,

anggota DPRD yang atas nama perorangan juga sering memberikan amplop.10

“Kalau anggota (DPRD) kalau ketemu, ya kadang memberi,” katanya. W-1

tidak bisa memetakan siapa yang paling sering memberikan amplop kepada

wartawan. “Ya nggak mesti. Ada perorangan, ada dinas-dinas,” katanya.

Sedangkan kalau amplop di Gubernuran Provinsi Jawa Tengah, kata

W-1, biasanya diberikan pada saat ada acara-acara seremonial atau acara-acara

konferensi pers. Biasanya, setelah acara selesai maka para wartawan menuju ke

lantai 11, ruang bagian humas Provinsi Jawa Tengah. Besaran amplopnya

adalah Rp 150 ribu per wartawan. Masing-masing wartawan membubuhkan

tanda tangan untuk mendapatkan amplop Rp 150 ribu tersebut.11

9

Salah satu fraksi DPRD Jateng menggelar diskusi pada Senin, 24 Januari 2011 pukul 12.00 WIB di ruang fraksinya. Usai diskusi, salah satu staf fraksi memberikan amplop-amplop kepada para wartawan secara terpisah-pisah. Amplop diberikan secara sembunyi-sembunyi tidak terbuka karena staf tersebut masih tergolong baru dalam menjalin hubungan wartawan. Staf tersebut bersalaman sambil memberikan amplop. Cara lain adalah dengan memasukan amplop ke saku wartawan. Ada sekitar 10 wartawan yang hadir di acara itu. Salah satunya adalah seorang mahasiswa yang magang di salah satu media cetak. Staf fraksi tetap memberikan amplop kepada anak mahasiswa yang magang itu.

10

Salah satu lokasi nongkrong para wartawan di DPRD adalah di lantai III Gedung DPRD. Sebab, di lantai ini ada ruang komisi DPRD sehingga banyak anggota DPRD berseliweran. Pada Kamis, 6 Januari 2011 sekitar pukul 09.05, ada seorang anggota DPRD yang keluar dari ruang komisi E. Anggota DPRD tersebut menyapa dan menyalami wartawan. Para wartawan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mewawancara anggota tersebut. Materi wawancara diantaranya soal penyaluran dana bantuan operasional sekolah (BOS). Usai wawancara, anggota DPRD tersebut duduk dan membuka tas yang dibawanya. Dia mengambil uang dari tasnya untuk ditaruh di samping kursi. Ia lalu memanggil salah satu wartawan yang ada didepannya. DPRD tersebut meminta agar wartawan mengambil uang yang ditaruh di kursi tersebut. Tak lupa, DPRD tersebut berbisik pada pengambil uang bernominal Rp 100 ribuan. "Ini, dibagi satu-satu ya," kata anggota DPRD. Wartawan yang mengambil uang pun mengangguk. Setelah itu, anggota DPRD meninggalkan wartawan yang jumlahnya empat. Wartawan pengambil uang tersebut langsung menghambiri wartawan lainnya untuk memberikan uang.

11

(32)

W-2 (wartawan cetak lokal) juga menyatakan tawaran amplop dari

narasumber sangat sering. Bentuknya berbagai macam, mulai dari uang, pulsa

dan barang-barang lain. Biasanya imbalan itu diberikan pada saat ada liputan

acara seremonial, di mana yang menggelar acara meminta agar acaranya

diberitakan. Selain itu imbalan juga diberikan ketika ada liputan di kasus-kasus

penyelewengan atau kasus sengketa. Jika ada ketidakberesan maka narasumber

ingin agar tidak diberitakan wartawan.12

Bahasa yang digunakan untuk memberikan amplop kepada para

wartawan sangat bermacam-macam, mulai dari ini untuk membeli bensin,

membeli pulsa dan lain-lain. Bahkan, kata W-2, ada pula yang menyatakan, “Ini

Mas jangan dimuat ya, saya hanya memberikan segini”. Pemberian yang

pesannya meminta agar beritanya tidak dimuat biasanya yang terkait dengan

kasus-kasus penyelewengan.

W-2 menambahkan, berdasarkan yang diceritakan teman-temannya,

nominal amplop wartawan sangat bermacam-macam, mulai dari Rp 50 ribu

hingga Rp 500 ribu. Bahkan, kata dia, khabarnya ada perusahaan yang

memberikan hingga Rp 1 juta seperti di PT…….13 “Makanya setiap PT ……

ada acara maka banyak sekali wartawan yang datang ke sana,” kata wartawan

menerima amplop. Besaran amplop untuk wartawan dari lantai 11 adalah Rp 150 ribu per orang.

12

Jum’at, 11 Maret 2011, di salah satu koran di Jawa Tengah ada berita PJTKI yang menelantarkan TKI. Berita tersebut dibuat wartawan di luar Semarang dan hanya tayang di salah satu media di Jawa Tengah. PJTKI merasa terganggu karena seolah terpojokan di dalam berita karena dituding menelantarkan TKI. PJTKI tersebut lalu mengudang wartawan untuk mengklarifikasi berita tersebut. Datangnlah empat wartawan ke Rumah Makan Nusantara, Semarang, untuk bertemu dengan narasumber dari PJTKI. PJTKI membantah adanya penelantaran TKI seperti yang diungkap salah satu korban dari TKI. Setelah makan selesai, pengurus PJTKI tersebut memberikan amplop ke wartawan. Seorang wartawan memperlihatkan ke peneliti isi amplonya sebesar Rp 500 ribu.

13

Informan menyebutkan nama salah satu perusahaan besar di Semarang.

(33)

yang menolak pemberian amplop ini. Para narasumber yang memberikan

amplop ada yang sukarela tapi ada pula yang terpaksa. “Sukarela itu biasanya

alasan buat bensin atau wartawan sudah dianggap sebagai teman dekat. Yang

terpaksa biasanya dia diminta amplop wartawan,” katanya.

Sementara W-3 (jurnalis freelance) yang sebelumnya pernah bekerja di

media cetak lokal menyatakan ada perbedaan antara tawaran amplop pada saat

dirinya bekerja di media cetak lokal dibandingkan dengan saat bekerja di

medianya saat ini. “Kalau media saya saat ini kurang dikenal disini (Semarang)

maka jarang narasumber memberikan amplop. Kalau di perusahaan yang dulu

karena sudah dikenal maka sangat sering menerima tawaran amplop,” katanya.

Selama ini, kata W-3, pemberian amplop ke wartawan sangat beragam. Di

institusi terutama ada wartawan pokja (kelompok kerja), misalnya di ekonomi

yang punya pokja di beberapa tempat liputan. Biasanya diserahkan ke satu

wartawan yang dipercaya lalu dibagi-bagi. Tapi kalau sistemnya insidental

biasanya yang mengelola humas. “Atau kalau wawancara langsung ketemu

biasanya langsung memberi dengan dalih untuk tali persaudaraan,” katanya.

Tapi, kata W-3, saat ini juga ada trend pergeseran pemberian amplop.

Ada model baru terutama di beberapa BUMN lebih suka sistem gaji bulanan.

Ada beberapa BUMN mereka menawarkan sistem amplop bulanan untuk

membayar beberapa artikel. Artikel (berita) mengenai perusahaan tersebut yang

sudah dimuat diklaim oleh wartawan di BUMN tersebut. Harganya tergantung

panjang pendeknya artikel. Berita itu bukanlah advertorial. Sebab, kata dia,

(34)

memiliki kelemahan, sumber dan konten beritanya tidak bisa langsung

dipercaya oleh pembaca. “Advertorial-kan iklan yang tingkat kepercayaan

publiknya masih rendah,” katanya.

Sementara itu, W-4 (wartawan radio) yang meliput di bidang ekonomi

menyatakan besaran amplop yang diterimanya kebanyakan dari pihak instansi

atau perusahaan swasta. Nominalnya rata-rata antara Rp 200 ribu hingga Rp 300

ribu. “Paling sedikit ya Rp 100 ribu,” katanya. W-4 mengaku pernah

mendapatkan amplop Rp 500 ribu pada saat ada acara luar kota, berupa pers

gatering. Biasanya, kata W-4, yang memberikan amplop itu adalah bagian

petugas atau pegawai humas. Tapi, alumnus jurusan Komunikasi di salah satu

perguruan tinggi Semarang ini mengaku pernah mendapatkan pengalaman yang

tidak pernah dilupakan. Dimana, yang memberikan amplop adalah langsung

kepala dinas di Provinsi Jawa Tengah. “Pas selesai acara, kami mau pulang,

tiba-tiba kepala dinas itu memanggil. Dia merogoh saku lalu memberikan uang

kepada wartawan. Uangnya fresh money tanpa dibungkus dengan amplop. Saat

itu, teman-teman juga pada tertawa,” katanya.14

W-4 merasakan adanya pembedaan antara wartawan radio, cetak dan

elektronik dalam pemberian amplop dari narasumber. Pembedaan tersebut

menyangkut soal jatah nominal amplop. “Biasanya paling tinggi koran dan

14

Seorang kepala dinas provinsi Jawa Tengah juga memberikan amplop sendiri. Sebuah undangan makan-makan untuk wartawan datang dari salah satu kantor dinas di Provinsi Jawa Tengah. Acara digelar usai sholat jumatan pada 4 Maret 2011. Sekitar 15 wartawan datang ke kantor dinas tersebut. Usai manyantap makanan, barulah kepala dinasnya mengobrol dengan wartawan di sebuah ruangan rapat. Materi pembicaraannya seputar kinerja dinas di bidangnya. Usai wawancara, kepala dinas tersebut lalu menuju ke ruang lain. Ia mengambil beberapa amplop yang sudah disiapkan. Kepala dinas kembali ke ruang rapat dengan membawa amplop. Lalu, kepala dinas tersebut membagi-bagikan amplop sendiri ke para wartawan satu per satu. Seoarang informan menyatakan isi amplopnya Rp 200 ribu.

(35)

televisi. Kalau radio paling buncit,” katanya. Berapa bedanya? W-4 menjawab:

”Ya antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Biasanya kalau saya menerima ada

tulisan amplop untuk radio. Tapi kadang juga ada yang disamakan”. Selain

memberikan amplop, biasanya perusahaan-perusahaan itu juga memberikan

makan siang, souvenir hingga voucher. Bahkan, kata W-4, ada kecenderungan

perusahaan juga memberikan barang-barang yang nominalnya tinggi, seperti

handphone dan flas dish. Namun, biasanya itu tidak semua wartawan

mendapatkannya. Sebab, biasanya setelah ada acara maka souvenir berharga

tersebut diundi. Bagi wartawan yang beruntung maka akan mendapatkan hadiah

tersebut.

Sementara itu, W-5 (koresponden cetak nasional) yang tidak mau

menerima amplop menyatakan tawaran amplop dari narasumber kepada

wartawan sangat sering sekali. Disemua bidang liputan hampir seluruhnya

pernah memberikan tawaran amplop kepada wartawan. Parahnya lagi, kata dia,

jika ada wartawan yang tidak mau menerima amplop, justru narasumber atau

pegawai humasnya memaksa-maksa wartawan tersebut untuk menerima

amplop. “Narasumber seringkali memaksa wartawan untuk menerima amplop,”

katanya.

W-6, (wartawan televisi lokal) yang sebelumnya liputan di politik lalu

pindah ke kriminal menyatakan persoalan besar kecilnya amplop memang

tergantung wartawannya. Ia mengakui bahwa antara pos liputan di politik lebih

sering ada tawaran amplop dibandingkan di pos liputan kriminal. “Tawaran

(36)

kriminal, rata-rata yang memberi amplop siapa? W-6 menjawab: “Ya jarang.

Paling hanya digunakan untuk kirimi pulsa, makan atau rokok,” katanya.

Padahal, kata dia, kalau di politik pemberi amplop sangat beragam, mulai dari

anggota, pimpinan komisi,15 fraksi sampai pimpinan DPRD.

Rata-rata, W-6 mengaku liputan di pos kriminal per bulan hanya

mendapatkan amplop sekitar Rp 1 juta. Nominal itu setengahnya lebih pada saat

dirinya meliput di bagian politik dengan pos liputan di DPRD dan Provinsi Jawa

Tengah. Saat liputan di kriminal juga habis untuk kebutuhan di jalan karena

liputannya sangat mobile sehingga butuh makan, minum dan lain-lain. Ada

pula, narasumber di bidang kriminal yang hanya memberikan uang untuk

makan para wartawan. “Misalnya dikasih Rp 200 ribu nanti dipakai makan

bareng-bareng (bersama-sama),” kata W-6.

W-6 mengaku pernah menerima amplop paling kecil adalah sebesar Rp

10 ribu. “Narasumber memberikan Rp 20 ribu. Karena ada dua wartawan maka

(Rp 10 ribu itu) dibagi dua. Itu uang dari anggota DPRD Jawa Tengah,”

katanya. Sedangkan rata-rata besaran amplop yang diterima W-6 adalah antara

Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. W-6 juga mengakui bahwa ada pembedaan

besaran amplop antara wartawan cetak dan televisi. “Perbedaannya sekitar

15

Salah satu komisi di DPRD Jawa Tengah menggelar acara rapat kerja dengan beberapa dinas. Usai acara, wartawan mewawancarai salah satu pimpinan komisi DPRD Jawa Tengah. Wawancara dilakukan secara santai sambil mengobrol-ngobrol sehingga waktunya agak lama. Karena sudah selesai wawancara, salah satu wartawan hendak pulang duluan. Namun, pimpinan komisi DPRD tersebut meminta agar wartawan jangan pulang dulu. Para wartawan denngan pimpinan Komisi tersebut melanjutkan ngobrol-ngobrol lagi. Sekitar lima menit kemudian, pimpinan komisi tersebut membuka amplop yang ada di sorogan di bawah meja. Sebelumnya, seorang pegawai Komisi D memberikan dua amplop dan menaruhnya di sorogan meja milik pimpinan tersebut. Pimpinan itu lalu membuka amplop itu memberikan kepada salah satu wartawan. “Ini ya bagi satu-satu,” katanya. Saat itu, ada tujuh wartawan. Setelah itu, para wartawan pamit. Salah satu wartawan yang bertugas membagi-bagi memberikan uang Rp 100 ribuan kepada teman-temannya.

(37)

separo atau dua kali lipatnya. Misalnya cetak Rp 200 ribu, televisi lokal Rp 100

ribu dan televisi nasional bisa sampai Rp 300 ribu,” katanya.

W-7 (wartawan cetak lokal) yang bertugas di Balai Kota Semarang

menyatakan amplop berasal dari perorangan dan instansi pemerintahan. Namun,

nominal dan pemberiannya selalu tidak pasti. Biasanya, amplop diberikan setiap

ada apa? W-7 menyatakan, “Kalau perorangan nggak menentu. Sak pawehe

(terserah memberi atau tidak). Kalau di instansi ya tergantung moment acara.

Kalau di DPRD (Semarang) ada moment nggak ada amplopnya karena di

DPRD Kota Semarang nggak ada humasnya. Adapun besaran amplop rata-rata

adalah Rp 200 ribu”. Sedangkan kalau pemberian dari instansi, W-7

mengungkapkan besarannya juga pada kisaran Rp 200 ribu. Paling kecil Rp 150

ribu dan paling besar Rp 500 ribu.

Adapun intensitas penerimaan amplop juga tidak pasti. W-7 menyatakan

pernah juga dirinya selama satu bulan tidak mendapatkan amplop sama sekali.

Tapi, kata dia, pernah ada yang satu pekan mendapatkan amplop lebih dari dua

kali. “Paling sepele ya satu pekan sekali,” katanya. W-7 mengakui bahwa

peredaran amplop wartawan di Balai Kota Semarang masih kalah jauh jika

dibandingkan di pos liputan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. “Harus diakui

yang sangat basah di Pemprov (Jawa Tengah),” katanya. Menurut W-7 hal itu

karena anggaran di Provinsi lebih besar dibandingkan di Balai Kota Semarang.

W-7 menambahkan, kesempatan wartawan di Balai Kota Semarang yang paling

(38)

Balaikota Semarang yang paling banyak amplopnya adalah wartawan cetak.

Sebab, kata dia, frame masyarakat masih mengenal cetak daripada elektronik.

Sementara itu, W-8 (wartawan online) yang meliput di pos pendidikan

menyatakan hampir semua instansi pendidikan pernah memberikan amplop ke

wartawan. “Saya tidak bilang sering lho atau selalu, tapi hampir semua pernah.

Itu kan kebijakan masing-masing Perguruan Tinggi. Mungkin kalau ada

anggarannya ya memberi,” katanya. W-8 menambahkan bahwa pemberian

amplop itu memang tidak pasti. Sepengetahuan W-8, perguruan tinggi akan

membagi-bagikan amplop ke wartawan misalnya ketika ada acara seminar dan

acara lain yang skala acaranya besar sehingga mereka menyediakan anggaran

publikasi. Tapi kalau acara-acara yang bersifat wawancara biasa, ya tidak.

Acara yang membagi amplop di lembaga pendidikan misalnya pada saat ada

acara pengukuhan guru besar (profesor). Besaran amplopnya pun bervariasi.16

Di salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang, misalnya, nominal

amplop yang diberikan kepada wartawan adalah Rp 150 ribu per wartawan.

Selama ini, kata W-8, meski banyak lembaga pendidikan di Semarang tapi

undangan untuk wartawannya sangat jarang. “Tidak seperti di bidang ekonomi.

Seseringnya undangan liputan di pendidikan ya mungkin sepinya undangan

liputan di ekonomi,” katanya.

Adapun W-10 (wartawan cetak lokal) yang meliput di bidang politik

menyatakan pos paling basah amplopnya adalah di pemerintahan provinsi, serta

16

(39)

lembaga politik atau politikus. “Banyak sekali tawaran amplop, kadang nggak

diminta pun moro (datang),” katanya. Rata-rata, pemberian amplop paling

banyak adalah dari pribadi para politikus dan partai politik di Jawa Tengah.17

Menurutnya, ada tingkatan-tingkatan paling basah dan paling kering soal

amplop? “Kalau menurutku, tingkatan paling bawah adalah seni budaya dan

hiburan yang jarang sekali ada amplopnya. Tingkat selanjutnya adalah

pengadilan, terus kriminal. Setelah itu yang paling basah amplopnya adalah pos

yang berhubungan dengan pemerintahan dan politik. Yang terakhir ini

sangat-sangat basah,” kata W-10 yang belum pernah liputan di pos ekonomi ini.

Berapa besaran amplop yang diterima? “Ya nggak mesti,” kata W-10.

Paling kecil? Rp 100 ribu. Sedangkan paling besar, W-10 mengaku pernah

menerima amplop sebesar Rp 2,5 juta dari salah satu pejabat di Jawa Tengah.

17

Salah satu acara yang ditunggu-tunggu para wartawan adalah acara/kegiatan yang digelar partai politik. Sebab, partai politik merupakan salah satu institusi yang sering membagi-bagikan uang kepada wartawan, apalagi jika ada hajat atau momentum politik. Misalnya kegiatan sebuah partai politik di Jawa Tengah berikut ini. Satu hari menjelang pelaksanaan musyawarah wilayah sebuah partai di Jateng, para calon ketua terus berkonsolidasi. Salah satu kandidat mengundang para wartawan di Warung Soto Pak Man, Mugas Semarang. Konferensi pers digelar pagi-pagi, tepatnya pukul 08.00 WIB. Kandidat tersebut didampingi beberapa anggota tim sukses. Sebelum acara konferensi pers selesai, salah satu tim sukses juga bagi-bagi amplop. Pada hari yang sama, pukul 15.00 WIB, kandidat ketua lainnya juga menggelar pertemuan dengan wartawan di lantai 10 Grand Candi Semarang. Pada saat wartawan hendak pulang, salah satu tim sukses calon tersebut mengantar hingga ke lobi hotel. Saat itulah orang tersebut memberikan amplop kepada para wartawan. Keesokan harinya, salah satu informan menyebut isi amplopnya sebesar Rp 500 ribu.

Pada 26 Pebruari 2011, pukul 10.00 WIB, acara musyawarah wilayah partai tersebut dibuka. Banyak peserta muswil dan tamu undangan yang sudah hadir di acara yang digelar di Hotel Patrajasa Semarang itu. Di sebelah aula yang digunakan untuk acara pembukaan, ada ruang untuk menyajikan makanan. Ada beberapa kursi yang digunakan. Disinilah ada beberapa wartawan yang duduk-duduk. Salah satu panitia, membagi-bagi amplop kepada wartawan. Peneliti melihat memberikan amplop kepada para wartawan di saat acara sambutan-sambutan pembukaan masih berlangsung. Acara sudah selesai, para tamu undangan dan wartawan ramai-ramai makan dan minum. Saat itulah, tiba-tiba ada salah satu wartawan menghampiri saya untuk memberikan amplop. Dia menyalami saya dengan membawa sebuah amplop. “Ini titipan dari Pak……,” katanya. Saya bilang: ”Ga usah, saya ga usah pak. Santai saja”. Ia pun sepertinya memahami dengan berkata: “Aku udah tahu kalau kamu ngak mau, tapi saya dititipi ya saya sampaikan”.

Gambar

Tabel 3.1

Referensi

Dokumen terkait

gading tidak lebih dari yang ada di belakang 0,2 L dari haluan.. Di depan sekat tubrukan dan belakang sekat ceruk buritan

Dengan adanya peningkatan lalu lintas yang cukup tinggi di jalur Semarang – Kendal,.. maka diperkirakan dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi kepadatan lalu

proses penyembuhan luka pasca pencabutan gigi dengan intervensi chlorhexidine. sebagai obat kumur pada manusia yang dilakukan di

Yang dimaksud dengan pemegang Hak Cipta adalah, pencipta sebagai pemilik Hak Cipta atau orang lain yang menerima hak tersebut dari pencipta, atau orang lain yang menerima lebih

Hasil penelitian menunjukan bahwa kepemimpinan yang digunakan Marthania dalam menjalankan perusahaan selama 5 tahun terakhir ini dominan kepada gaya kepemimpinan

Ketiga, bagi kelompok publik yang tidak memiliki kemampuan untuk mengorganisasikan kekuatan massa, peluang untuk memperoleh akses ke media guna menyuarakan isu kepentingan

Dimana sebelum adanya pembagian yang teliti antara ilmu satu dengan yang lain, baru tahun kemudian mulai mengkhususkan ilmu tersebut menjadi lebih rinci atau

Untuk mengatasi hambatan dalam ganti kerugan kehilangan sepeda motor yang dititipkan bisa terjadi apabila pemiliki tidak mau menerima ganti kerugian dengan alasan kurang maka