PT Pertamina (Persero)
Jln. Medan Merdeka Timur No.1A Jakarta 10110
Telp (62-21) 381 5111 Fax (62-21) 384 6865
http://www.pertamina.com
Jakarta, 30 Mei 2016
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN SPBN/SPDN
DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN BBM
BAGI NELAYAN
Peran KKP, BPH Migas dan Pertamina dalam
Pelaksanaan Pelayanan BBM Subsidi untuk Nelayan :
BPH Migas
Kementrian
KP
•
Menentukan Kuota BBM Bersubsidi untuk sektor
Nelayan di seluruh Indonesia
•
Mengkoordinasikan
kegiatan
pengawasan
penyaluran BBM bersubsidi untuk Nelayan
•
Menentukan lokasi-lokasi sentra nelayan yang
membutuhkan pelayanan BBM bersubsidi
•
Merekomendasikan titik lokasi dan calon pengelola
lembaga penyalur khusus nelayan
•
Mengevaluasi kebutuhan BBM nelayan secara akurat
berdasarkan data jumlah kapal nelayan dan data
pendukung lainnya
SPBU
:
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum
, melayani
konsumen kendaraan bermotor dan konsumen pengguna
lainnya yang berhak sesuai ketetentuan, khususnya di darat.
APMS
:
Agen Premium dan Minyak Solar
,
merupakan cikal bakal SPBU, melayani konsumen
pengguna di daerah terpencil
JENIS LEMBAGA PENYALUR PERTAMINA YANG MELAYANI KEBUTUHAN
BBM PSO UNTUK NELAYAN
SPBN
:
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan
, melayani
konsumen Nelayan dan Usaha Perikanan
SPDN
:
Solar Packed Dealer Nelayan
,
merupakan Cikal Bakal SPBN, melayani
konsumen Nelayan dan usaha Perikanan
SPBB
:
Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Bunker
,
melayani pengisian Bahan Bakar untuk Bungker pada
konsumen yang berhak sesuai ketentuan.
REALISASI VOLUME PENYALURAN PREMIUM & SOLAR SUBSIDI NASIONAL
UNTUK NELAYAN
TAHUN 2008 - 2015
Note : Data diunduh dari SAP BI dipadukan dengan laporan Sales di Region
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
SPBN
68.016
84.682
98.173
100.016
161.876
120.035
128.286
112.136
SPDN
92.283
107.328
124.427
18.397
297.756
242.865
257.940
239.675
SPBB
260.248
24.354
279.235
296.348
479.639
324.469
304.731
183.327
SPBU / APMS
Laut
113.628 115.681
136.601
466.149
754.462
970.063
975.829
870.681
TBBM
130.229
143.891
100.148
127.444
206.268
131.040
130.918
92.992
Total
664.404
475.936
738.584
1.008.354
1.900.001
1.788.472
1.797.704
1.498.810
SEBARAN LEMBAGA PENYALUR NELAYAN
September 1999
DOMESTIC MARKETING & SUPLY
DOMESTIC MARKETING & SUPLY
AND DITRIBUTION PATERN
AND DITRIBUTION PATERN
S
U
M
A
T
E
R
A
IRIAN
JAYA
SULAWESI
KALIMANTAN
SOUTH CHINA SEA
JAWA SEA
BANDA SEA
PACIFIC OCEAN
N
SIS-DIS\MAS TER\ MAP \IN\ 5/9 6
EX. REFINERY
EX. SUPPL Y POINT
PI PE LINES
EX. TRANSIT TERMNAL
DOWN
STREAM
MOR I
MOR II
MOR III
MOR IV
MOR V
MOR VI
MOR VII
Marketing Operation
Region
MOR VIII
JENIS PENYALUR MOR I
MOR II
MOR III MOR IV
MOR V
MOR VI MOR VII MOR VIII TOTAL
1. SPBB
12
7
6
4
9
19
1
0
58
2. SPBN
2
7
3
11
4
6
4
6
43
3.SPDN
44
27
14
18
45
23
62
23
256
JUMLAH SPBU & APMS YANG MELAYANI NELAYAN
Jumlah Lembaga Penyalur Jenis Lembaga Penyalur
Row Labels
APMS
SPBU
Grand Total
Region I
66
91
157
Aceh
6
39
45
Kepulauan Riau
19
9
28
Riau
26
26
Sumatera Barat
1
10
11
Sumatera Utara
14
33
47
Region II
32
21
53
Bangka Belitung
24
7
31
Bengkulu
6
6
Lampung
4
8
12
Sumatera Selatan
4
4
Region III
57
57
Banten
8
8
Jawa Barat
49
49
Region IV
31
31
DI Yogyakarta
8
8
Jawa Tengah
23
23
Region V
33
126
159
Bali
6
6
Jawa Timur
9
72
81
Jumlah Lembaga Penyalur Jenis Lembaga Penyalur
Row Labels
APMS
SPBU
Grand Total
Region VI
90
20
110
Kalimantan Barat
7
7
14
Kalimantan Selatan
3
13
16
Kalimantan Tengah
22
22
Kalimantan Timur
58
58
Region VII
89
125
214
Gorontalo
1
1
Sulawesi Barat
4
4
Sulawesi Selatan
12
74
86
Sulawesi Tengah
28
26
54
Sulawesi Tenggara
44
10
54
Sulawesi Utara
5
10
15
Region VIII
77
10
87
Maluku
25
2
27
Maluku Utara
20
4
24
Papua
19
2
21
Papua Barat
13
2
15
Grand Total
387
481
868
DINAMIKA DALAM PENYALURAN BBM SUBSIDI
UNTUK NELAYAN
1.
Sulitnya menetapkan jumlah kebutuhan BBM yang tepat bagi
kapal-kapal ikan, dikarenakan tidak ada/ sulitnya mendapatkan data kapal-kapal
dan data operasionalnya yang valid dari pihak nelayan maupun
Instansi yang terkait
2.
Kesulitan Nelayan dalam memperoleh surat rekomendasi pembelian
BBM subsidi dari instansi terkait.
3.
Alokasi yang diberikan untuk SPDN seringkali sudah habis di
pertengahan bulan (atau sebaliknya), hal ini terkait dengan musim
melaut nelayan
4.
Adanya perpindahan kelompok nelayan ke lokasi lain (sesuai dengan
musim) sehingga menyulitkan penetapan alokasi secara tetap di
suatu wilayah Kab/Kota tertentu.
5.
Skema pembelian BBM oleh Nelayan
Umumnya BBM dibeli oleh
juragan yang selanjutnya menyuplai paket BBM dan sembako kepada
Nelayan.
UPAYA PENINGKATAN PELAYANAN BBM SUBSIDI
UNTUK NELAYAN
1.
Menambah lembaga penyalur nelayan baru (SPDN/SPBN) di sentra
nelayan yang belum tersedia lembaga penyalur khusus nelayan.
2.
Untuk daerah-daerah yang belum tersedia SPDN/SPBN, Nelayan tetap
dapat membeli BBM di SPBU/APMS dengan Surat Rekomendasi dari
Instansi Teknis terkait (DKP) sesuai ketentuan Pemerintah
3.
Berkoordinasi dengan BPH Migas dan KKP untuk menetapkan kuota
BBM Subsidi khusus Nelayan dan selanjutnya mengalokasikan kuota
tersebut ke masing-masing wilayah Kabupaten/Kota sesuai data
kebutuhan nelayan yang riil
4.
Dalam rangka memastikan penyaluran BBM Subsidi untuk Nelayan
tepat sasaran, Pertamina bekerjasama dengan BRI dan KKP telah
mengujicobakan sistem pembayaran non cash dengan
“Fuel Card” di
beberapa wilayah.
PROSEDUR PERIJINAN DAN PEMBANGUNAN SPDN/SPBN
Calon Pengusaha
Mengajukan Surat ke
Pertamina (GM Fuel Retail
Marketing Region),
dilengkapi :
1. Fotocopy KTP
2. Denah rencana
SPDN/SPBN
3. Akta kepemilikan tanah
4. Surat Rekomendasi
DKP Kab/Kota dan
Provinsi
5. Surat Rekomendasi KKP
Dirjen KP3K
Evaluasi oleh Pertamina
Dengan mempertimbangkan
aspek :
1. Ketersediaan kuota BBM
PSO
2. Kelayakan Operasi
3. Keberadaan lembaga
penyalur lain
4. Potensi pasar
5. Perkembangan daerah
6. Dll.
Jika disetujui
Surat dari Pertamina untuk meminta
kelengkapan administrasi
(Izin Pemda, SITU, SIUP dll).
Calon Pengusaha melengkapi
persyaratan administrasi dalam batas
waktu yang ditentukan.
Pertamina menerbitkan Surat
Persetujuan Pembangunan dan
gambar teknik SPDN/SPBN
Calon Pengusaha membangun
SPDN/SPBN sesuai standar dan batas
waktu yang ditentukan.
Jika lengkap
Pertamina memeriksa fisik bangunan
SPDN/SPBN, aspek teknik,dan HSSE.
Jika sesuai standar
Kontrak dan Surat
Persetujuan Operasi
SPDN/SPBN.
Contoh SPDN
SPDN
PENENTUAN QUOTA SPDN / SPBN
Pihak DKP merekomendasikan kebutuhan BBM di sentra nelayan berdasarkan hasil verifikasi
kebutuhan nelayan
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan petugas Pertamina serta data jumlah dan jenis kapal
yang sudah diverifikasi oleh DKP dilakukan perhitungan perkiraan kebutuhan nelayan, dengan
formula sbb :
Jumlah Kebutuhan Nelayan dipengaruhi oleh:
Kapasitasitas Mesin, Jumlah Mesin, Waktu
Melaut/Trip, dan Jumlah hari Efektif Melaut
Dimana :
α = angka konstanta jenis BBM (ditetapkan 0,16)
KM = Kapasitas mesin (HP),
JM = jumlah mesin,
LP = lama mesin bekerja (jam),
µ = efisiensi (ditetapkan 0,8)
Volume = α X (KM x JM) X LP x µ
Evaluasi Kebutuhan nelayan dilakukan 3 (tiga) bulan sekali dengan mempertimbangkan :
•
Data Realisasi 3 bulan terakhir (data historis)
•
Musim Melaut
•
Perkembangan Jumlah Kapal Nelayan, berdasarkan rekomendasi dari DKP
Dengan pertimbangan diatas, setiap 3 bulan alokasi untuk SPDN/SPBN disesuaikan sesuai
kebutuhan
1. TAHAP AWAL (PENENTUAN QUOTA SPDN/SPBN BARU)
REALISASI PENYALURAN BBM PSO UNTUK NELAYAN
PER REGION
TAHUN 2015
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
PREMIUM
(KL)
SOLAR/BIO
(KL)
I
3.824 5.942
1.494
31.665
-
3.924
700
44.875
3.046
113.623
-
4.474
9.064
204.503
II
1.550 1.008
2.582
10.172
300
12.992
1.104
19.918
3.660
-
-
2.498
9.195
46.587
III
- -
-
82.756
-
8.444
-
18.884
-
218.657
-
16.847
-
345.588
IV
- -
-
13.723
-
54.528
4.040
32.160
994
3.819
-
3.007
5.034
107.237
V
7.186 665
-
17.893
2.202
6.906
8.292
39.202
-
289.713
-
25.933
17.680
380.311
VI
768 7.222
3.485
15.698
576
6.727
-
14.332
4.766
51.828
-
7.491
9.594
103.299
VII
6.759 1.411
-
3.859
891
6.941
696
30.694
83.945
23.083
-
24.214
92.291
90.201
VIII
7.327 6.647
-
-
4.785
2.920
12.685
12.093
9.009
14.230
-
8.529
33.806
44.419
TOTAL
27.414 22.894
7.560
175.767
8.754
103.382
27.517
212.158
105.420
714.954
-
92.992
176.665
1.322.146
TBBM
TOTAL
MOR
APMS
SPBB
SPBN
SPDN
SPBU
REALISASI PENYALURAN BBM PSO UNTUK NELAYAN TAHUN 2015 :
• Premium : 176.665 KL
• M. Solar : 1.322.146 KL
REALISASI PENYALURAN BBM PSO UNTUK NELAYAN
PER PROVINSI TAHUN
2015
PREMIUM PREMIUM PREMIUM PREMIUM PREMIUM TOTAL SOLAR/BIO SOLAR/BIO SOLAR/BIO SOLAR/BIO SOLAR/BIO SOLAR/BIO SOLAR/BIO SOLAR/BIO SPBU APMS SPBB SPDN SPBN PREMIUM SPBU APMS SPBB SPDN SPBN Perikanan Angkutan
Laut TOTAL
I Nanggroe Aceh Daruss - - - - - - 5.813 196 - 9.521 3.924 - 454 19.908
I Sumatera Utara - - - - - - 86.381 2.389 11.128 24.173 - - 665 124.737 I Sumatera Barat - - - 700 - 700 18.943 146 - 6.017 - - 486 25.591 I Riau - 3.137 - - - 3.137 - - 5.282 2.316 - - 403 8.001 I Kepulauan Riau 3.046 688 1.494 - - 5.228 2.486 3.211 15.254 2.848 - - 2.466 26.265 II Jambi - - - - - - - - 30 435 2.144 - - 2.609 II Bengkulu 2.176 - - - - 2.176 - - - 4.584 - - 140 4.724 II Sumatera Selatan 1.484 - 2.582 - - 4.065 - 1.008 10.142 - - - 393 11.543 II Bangka-Belitung - 896 - 1.104 300 2.300 - - - 14.899 6.911 - 1.550 23.360 II Lampung - 654 - - - 654 - - - - 3.937 - 414 4.351
III DKI Jakarta - - - - - - - - 33.523 1.872 - - 16.847 52.242
III Banten - - - - - - 35.136 - 46.675 8.744 2.248 - - 92.803
III Jaw a Barat - - - - - - 183.521 - 2.558 8.268 6.196 - - 200.544
IV Jaw a Tengah - - - 4.040 - 4.040 - - 13.723 32.160 54.528 - 3.007 103.418
IV DI Yogyakarta 994 - - - - 994 3.819 - - - - - - 3.819
V Jaw a Timur - 5.147 - 4.248 - 9.395 280.659 265 12.094 29.520 4.064 20 17.556 344.178
V Bali - - - 3.520 - 3.520 4.040 - 5.799 1.448 2.384 - 2.717 16.388
V Nusa Tenggara Barat - - - 64 2.202 2.266 2.720 - - 1.928 458 - 3.609 8.715
V Nusa Tenggara Timur - 2.039 - 460 - 2.499 2.294 400 - 6.306 - 410 1.620 11.030
VI Kalimantan Barat - - 493 - 72 565 41.918 2.768 8.349 7.332 4.481 - 864 65.712
VI Kalimantan Tengah - - 45 - - 45 2.276 1.626 2.847 2.565 - - 442 9.756
VI Kalimantan Selatan - - - - - - 4.542 329 - 3.200 790 - 1.715 10.576
VI Kalimantan Timur 4.354 - - - 504 4.858 2.979 1.852 2.941 645 1.456 - 4.260 14.133
VI Kalimantan Utara 412 768 2.947 - - 4.127 114 648 1.562 590 - - 209 3.122
VII Sulaw esi Utara - - - 568 - 568 1.725 103 2.381 6.336 - 70 6.801 17.416
VII Gorontalo 1.252 36 - - - 1.288 598 16 - 899 - - 320 1.833
VII Sulaw esi Tengah 6.362 313 - - - 6.675 2.392 313 499 626 - - 883 4.714