LAPORAN KASUS
A. LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN :
Nama : Mujiono
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat Tanggal Lahir: Magelang, 20 Oktober 1966
Umur : 47 tahun
Alamat : Asrama RST, Magelang
Agama : Islam
Pekerjaan : TNI AD
Masuk Tanggal : 4 Juli 2013 pukul 07.00 WIB di Ruang Edelweis
SUBJEKTIF : KU :
o Datang dari IGD dengan keluhan utama nyeri pada bahu kanan dan sebagian lengan atas
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :
o Nyeri pada bahu kanan dan sebagian lengan atas dirasa setelah mengalami kecelakaan lalu lintas motor vs motor pada tanggal 4 Juli 2013 pukul 6.35 WIB dengan posisi jatuh tengkurap dan lengan kanan menopang badan.
2 o Nyeri bertambah saat ekstremitas kanan digerakkan
Keluhan Tambahan (KT):
o Saat dan setelah kejadian kecelakaan lalu lintas keadaan sadar (+), amnesia(-), helm (+)
o Pusing (-)
o Mual (-), muntah (-)
o Luka pada bibir bagian atas (+) o Makan (+), minum (+)
o BAK dbn, BAB dbn
Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) :
o Riwayat trauma akibat kecelakaan lalu lintas (+)
o Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung dan stroke disangkal o Riwayat alergi obat, makanan, dan lain-lain disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) :
o Riwayat keluhan yang sama pada keluarga di sangkal
o Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung dan stroke disangkal Riwayat Pengobatan (RPO) :
o Belum melakukan pengobatan sebelum masuk rumah sakit
OBJEKTIF :
1. Status Generalis
Keadaan umum : sakit sedang
GCS : E4V5M6 Vital sign : o Tekanan darah: 110/70 mmHg o Nadi : 68 x/menit o Suhu : 36.3˚C o Pernafasan : 22 x/menit
Kepala dan Leher : o Konjungtiva anemis : (-/-) o Sklera ikterik : (-/-) o Pupil isokor : (± 2mm/± 2mm) o Sianosis : (-) o Dyspneu : (-) o Pembesaran KGB : (-)
o Jejas : vulnus ekskoriasi diatas bibir (+) Thorax :
o Paru :
- I : simetris kanan dan kiri, retraksi (-)
- P : gerakan nafas hemithorax kanan dan kiri simetris - P : perkusi paru sonor kanan dan kiri
- A : suara nafas dasar vesikuler, wheezing , rhonki -/-o Jantung :
- I : iktus kordis tidak terlihat
- P : iktus kordis teraba dan kuat angkat - P : batas jantung dalam batas normal
- A : bunyi jantung I dan II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen :
o I : soefl
o A : bising usus (+) normal
o P : nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba o P : timpani
Ekstremitas :
o Motorik sde-5/5-5 o Akral hangat ++/++ o Edema
+-/--4 Ekstremitas superior bagian proksimal :
Look o Luka : (-) o Eritema : (+) o Edema : (+) o False movement : (+) o Deformitas / asimetri : (+) Feel o Tenderness : (+) o Edema : (+) o Krepitasi : (+) o False movement : (+) o Evaluasi status neurovascular :
- Pulsasi : (+) dbn - Pain : (+) - Pallor : (-) - Paralyze : (-) - Parestesia : (-) - Functio laesa : (+) Move o Gerakan aktif :
- Limitation (+) dan pain (+) pada abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, endorotasi, eksorotasi ekstremitas atas.
- Clear (+) dan pain (-) pada supinasi, pronasi sendi pergelangan tangan. - Clear (+) dan pain (-) pada fleksi, ekstensi, abduksi, ekstensi jari-jari
tangan.
- Limitation (+) dan pain (+) pada abduksi, adduksi, fleksi, ekstensi, endorotasi, eksorotasi ekstremitas atas.
- Clear (+) dan pain (-) pada supinasi, pronasi sendi pergelangan tangan. - Clear (+) dan pain (-) pada fleksi, ekstensi, abduksi, ekstensi jari-jari
tangan.
6 WBC : 10.3 x 10³ /mm3 %LYM : 13.4 % RBC : 4.73 x 106/mm3 %MON : 3.1 % HGB : 13.5 g/dl %GRA : 83.5 % HCT : 39.4 % #LYM : 1.3 x 10³ /mm3 PLT : 170 x 10³ /mm3 #MON : 0.3 x 10³ /mm3 PCT : 0.110 % #GRA : 8.7 x 10³ /mm3 MCV : 83 μm3 GLUCOSE : 144 mg/dl MCH : 28.6 pg UREADIASYS : 14 mg/dl MCHC : 34.3 g/dl CREATININE : 1.2 mg/dl RDW : 14.3 % SGOT : 31 U/I MPV : 6.4 μm3 SGPT : 29 U/I PDW : 14.5 % CT/BT : 4’/1’-30”
ASSESSMENT :
Dislokasi anterior bahu Fraktur leher humerus
PLANNING :
Planning diagnostik : - Darah lengkap
- Rontgen shoulder joint dextra AP - Rontgen thorax
- Elektrocardiografi - Elektromiografi Planning monitoring :
- Observasi keadaan umum - Observasi vital sign
- Observasi gejala yang muncul - Observasi efek samping obat Planning terapi (IGD) :
Terapi kausatif - Perawatan luka
8 Terapi simtomatis
- Injeksi ketorolac IV 1x1 Terapi suportif
- Infus ringer laktat 16 tpm
- Pasang elastic verband dan arm sling Planning edukasi :
- Edukasi meliputi penjelasan penyakit yang dialami hingga prognosisnya, tindakan imobilisasi untuk waktu ± 6 minggu, makan makanan tinggi kalori dan tinggi protein untuk membantu proses penyembuhan dan rutin control kesehatan.
B. HASIL FOLLOW UP
TANGGAL S O A P
4 Juli 2013 - Nyeri bahu kanan dan sebagian lengan atas (+)
- Pembengkakan (+) - Nyeri tekan (+) - Gerakan terbatas (+) - Luka pada bibir
bagian atas (+)
- Makan (+), minum (+) - BAK dbn, BAB dbn
- GCS : E4V5M6 - Tampak sakit sedang - Tanda vital : TD : 110/70 mmHg N : 72 x/mnt RR : 24 x/mnt S : 36.8˚C - Status generalis : Dbn
- Status lokalis : ekstremitas superior bagian proksimal
Look
oTerpasang elastic verband (+), false movement (+), deformitas / asimetri (+) Feel oTenderness (+), edema (+), - Dislokasi anterior bahu - Fraktur leher humerus - Planning diagnostik : Darah lengkap Rontgen shoulder joint dextra AP Rontgen thorax Elektrocardiografi Elektromiografi - Planning terapi :
Infus ringer laktat 16 tpm Injeksi cefotaxim IV 3x1g Injeksi ketorolac 3x30mg Rencana operasi reposisi dan orif
10 krepitasi (+), false movement
(+)
oEvaluasi status neurovascular : pulsasi (+), pain (+), pallor (-), paralyze (-), parestesia (-), functio laesa (+)
Move
oGerakan aktif : limitation (+), pain (+)
oGerakan pasif : limitation (+), pain (+)
12 FOTO RONTGEN SHOULDER JOINT DEXTRA AP PRE-OPERASI DAN POST-OPERASI :
TANGGAL S O A P 5 Juli 2013 - Nyeri bahu kanan dan
sebagian lengan atas (+)
- Pembengkakan (+) - Nyeri tekan (+) - Gerakan terbatas (+) - Luka pada bibir
bagian atas (+)
- Mual (+), muntah (+) 1x
- Makan (+), minum (+) - BAK dbn, BAB dbn
- Post operasi reposisi dan orif - GCS : E4V5M6
- Tampak sakit sedang - Tanda vital : TD : 140/100 mmHg N : 74 x/mnt RR : 28 x/mnt S : 36.3˚C - Status generalis : Dbn
- Status lokalis : ekstremitas superior bagian proksimal
Look
oTerpasang verband (+) dan armsling (+), false movement (-), deformitas / asimetri (-) Feel oTenderness (+), edema (+), - Dislokasi anterior bahu - Fraktur leher humerus - Planning diagnostik : Darah lengkap Rontgen shoulder joint dextra AP Rontgen thorax Elektrocardiografi Elektromiografi - Planning terapi :
Infus ringer laktat dan D5 2 :1 20-30 tpm Injeksi cefotaxim IV 3x1g Injeksi ketorolac 3x30mg Injeksi kalnex 3x500mg
14 krepitasi ), false movement
(-)
oEvaluasi status neurovascular : pulsasi (+), pain (+), pallor (-), paralyze (-), parestesia (-), functio laesa (+)
Move
oGerakan aktif : limitation (+), pain (+)
oGerakan pasif : limitation (+), pain (+)
TANGGAL S O A P 6 Juli 2013 - Nyeri bahu kanan dan
sebagian lengan atas (+)
- Pembengkakan (↓) - Nyeri tekan (+) - Gerakan terbatas (+) - Luka pada bibir
bagian atas (+) - Mual (+), muntah (-) - Demam (+) pada
malam hari - Pusing (+)
- Nyeri pada daerah infus (+)
- Makan (+), minum (+) - BAK dbn, BAB dbn
- Post operasi reposisi dan orif - GCS : E4V5M6
- Tampak sakit sedang - Tanda vital : TD : 120/80 mmHg N : 74 x/mnt RR : 24 x/mnt S : 39˚C - Status generalis : Dbn
- Status lokalis : ekstremitas superior bagian proksimal
Look
oTerpasang verband (+) dan armsling (+), false movement (-), deformitas / asimetri (-) Feel oTenderness (+), edema (↓), - Dislokasi anterior bahu - Fraktur leher humerus - Suspek flebitis - Planning diagnostik : Darah lengkap Rontgen shoulder joint dextra AP Rontgen thorax Elektrocardiografi Elektromiografi - Planning terapi :
Infus ringer laktat dan D5 2 :1 20-30 tpm Injeksi cefotaxim IV 3x1g Injeksi ketorolac 3x30mg Injeksi kalnex 3x500mg Ekstra
16 krepitasi ), false movement
(-)
oEvaluasi status neurovascular : pulsasi (+), pain (+), pallor (-), paralyze (-), parestesia (-), functio laesa (+)
Move
oGerakan aktif : limitation (+), pain (+)
oGerakan pasif : limitation (+), pain (+)
paracetamol tablet p.o 1x500mg
TANGGAL S O A P 7 Juli 2013 - Nyeri bahu kanan dan
sebagian lengan atas (↓)
- Pembengkakan (↓) - Nyeri tekan (+) - Gerakan terbatas (+) - Luka pada bibir
bagian atas (+) - Mual (-), muntah (-) - Demam (-)
- Pusing (-)
- Nyeri pada daerah infus (-)
- Makan (+), minum (+) - BAK dbn, BAB dbn
- Post operasi reposisi dan orif - GCS : E4V5M6
- Tampak sakit sedang - Tanda vital : TD : 120/80 mmHg N : 72 x/mnt RR : 24 x/mnt S : 36.9˚C - Status generalis : Dbn
- Status lokalis : ekstremitas superior bagian proksimal
Look
oTerpasang verband (+) dan armsling (+), false movement (-), deformitas / asimetri (-) Feel oTenderness (+), edema (↓), - Dislokasi anterior bahu - Fraktur leher humerus - Suspek flebitis - Planning diagnostik : Darah lengkap Rontgen shoulder joint dextra AP Rontgen thorax Elektrocardiografi Elektromiografi - Planning terapi : Aff infus Ciprofloxacin tablet p.o 2x500mg Paracetamol tablet p.o 3x500mg
Mefast caplet p.o 2x1
18 krepitasi ), false movement
(-)
oEvaluasi status neurovascular : pulsasi (+), pain (+), pallor (-), paralyze (-), parestesia (-), functio laesa (+)
Move
oGerakan aktif : limitation (+), pain (+)
oGerakan pasif : limitation (+), pain (+)
TANGGAL S O A P 8 Juli 2013 - Nyeri bahu kanan dan
sebagian lengan atas (↓)
- Pembengkakan (-) - Nyeri tekan (+) - Gerakan terbatas (+) - Luka pada bibir
bagian atas (+) - Mual (-), muntah (-) - Demam (-)
- Pusing (-)
- Nyeri pada daerah infus (-)
- Makan (+), minum (+) - BAK dbn, BAB dbn
- Post operasi reposisi dan orif - GCS : E4V5M6
- Tampak sakit sedang - Tanda vital : TD : 110/70 mmHg N : 80 x/mnt RR : 20 x/mnt S : 36.3˚C - Status generalis : Dbn
- Status lokalis : ekstremitas superior bagian proksimal
Look
oTerpasang verband (+) dan armsling (+), false movement (-), deformitas / asimetri (-) Feel oTenderness (+), edema (-), - Dislokasi anterior bahu - Fraktur leher humerus - Suspek flebitis - Planning diagnostik : Darah lengkap Rontgen shoulder joint dextra AP Rontgen thorax Elektrocardiografi Elektromiografi - Planning terapi : Ciprofloxacin tablet p.o 2x500mg Paracetamol tablet p.o 3x500mg
Mefast caplet p.o 2x1
↓ BLPL
20 krepitasi ), false movement
(-)
oEvaluasi status neurovascular : pulsasi (+), pain (+), pallor (-), paralyze (-), parestesia (-), functio laesa (+)
Move
oGerakan aktif : limitation (+), pain (+)
oGerakan pasif : limitation (+), pain (+)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
A. ANATOMI BAHU DAN LENGAN ATAS
Extremitas superior terdiri dari 5 bagian : 1. Bahu
Penyambung lengan dengan batang tubuh, dengan clavicula dan scapula sebagai intinya.
2. Lengan atas
Dengan humerus sebagai intinya dan menghubungkan bahu pada siku. 3. Lengan bawah
Dengan ulna dan radius sebagai intinya, dan menghubungkan siku pada pergelangan tangan.
4. Pergelangan tangan
Dengan carpus sebagai intinya, menghubungkan lengan bawah pada tangan. 5. Tangan
Dengan metacarpus dan phalanx sebagai intinya.
CLAVICULA
Clavicula menghubungkan lengan atas pada batang tubuh. Ujung medial clavicula bersendi pada manubrium sterni melalui articulatio sternoclavicularis. Ujung lateralnya bersendi pada acromion melalui articulatio acromioclavicularis. Bagian dua pertiga medial corpus claviculae berbentuk cembung ke ventral, sedangkan
22 bagian sepertiga lateral menggepeng dan cekung ke ventral. Karena lengkung-lengkung ini, clavicula tampak sebagai huruf S besar yang memanjang.
SCAPULA
Scapula terletak pada aspek posterolateral thorax, menutupi costa II sampai costa IV. Badan scapula berbentuk segitiga. Facies costalis scapula yang cekung membentuk fossa subscapularis yang luas dan permukaannya di sebelah dorsal (facies posterior) yang cembung, terbagi oleh spina scapulae menjadi fossa supraspinata yang lebih kecil dan fossa infraspinata yang lebih besar. Ke arah lateral spina scapulae melanjutkan diri sebagai acromion yang membentuk ujung bahu dan bersendi pada clavicula. Di sebelah kraniolateral permukaan lateral scapulae membentuk cavitas gleinodalis yang bersendi dengan caput humeri pada articulatio humeri. Processus coracoideus yang menyerupai paruh, terletak cranial dari cavitas gleinodalis dan menganjur ke ventrolaterale.
HUMERUS
Humerus bersendi dengan scapula pada articulatio humeri dan dengan radius pada articulatio cubiti. Caput femoris yang menyerupai bola, bersendi pada cavitas gleinodalis scapulae. Sulcus intertubercularis membatasi tuberculum minus terhadap tuberculum majus. Tepat distal dari caput femoris, collum anatomicum membatasi caput femoris terdapat dua ciri yang mencolok yakni tuberositas deltoidea di sebelah lateral dan sulcus nervi radialis di sebelah posterior. Crista supracondylaris medialis dan crista suoracondylaris lateralis yang menonjol. Ujung distal humerus memiliki dua permukaan artikular, sebuah capitulum humeri disebelah lateral untuk bersendi dengan caput radii dan sebuah trochlea di sebelah medial untuk bersendi dengan ulna. Di sebelah depan dan proksimal dari trochlea, terdapat fossa coronoidea untuk processus coronoideus dan di sebelah belakang fossa olecrani untuk olecranon ulnae.
Di sebelah depan proksimal terdapat capitulum humeri terlihat fossa radialis untuk tepi caput radii sewaktu lengan bawah terfleksi.
28 B. DISLOKASI ANTERIOR BAHU
Stabilitas sendi bahu tergantung dari otot-otot dan kapsul tendon yang mengitari sendi bahu. Sedang hubungan antara kepala humerus dengan cekungan glenoid terlalu dangkal. Karena susunan anatomi tersebut di atas mudah dimengerti bahwa sendi bahu merupakan sendi yang mudah mengalami dislokasi. Pada waktu terjadinya dislokasi yang pertama terjadi kerusakan atau avulsi dari fibrokartilage antara kapsul sendi dengan gleinodalis di bagian anterior dan inferior. Dengan adanya robekan tadi, maka sendi bahu akan mudah mengalami dislokasi ulang bila mengalami cedera lagi. Hal ini disebut sebagairecurrentdislokasi.
Ada beberapa macam bentuk dislokasi sendi bahu, yaitu bentuk anterior, posterior, superior dan inferior (luxatio erecta).
EPIDEMIOLOGI
Dislokasi anterior sering terjadi pada penderita usia muda, kecelakaan lalu lintas maupun cedera olahraga.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Usia muda √
Kecelakaan lalu lintas √
Cedera olahraga
-MEKANISME TRAUMA
Pada dislokasi anterior, kaput humerus berada di bawah glenoid, subkorakoid dan subklavikuler. Dislokasi anterior merupakan kelainan yang terjadi karena :
1. Gerakan puntiran keluar (external rotational), tekanan ke arah ekstensi dari sendi bahu, posisi lengan atas dalam posisi abduksi. Dalam posisi tersebut akan terjadi regangan yang berat pada kapsul yang melekat pada glenoid bagian depan bawah. Pertemuan kapsul dengan glenoid ini berupa fibrokartilage. Kalau daya dorongnya terlalu kuat terjadi avulsi fibrokartilage di bagian bawah dan depan glenoid. Lesi ini disebut sebagaibankart laesi. Karena terjadinya robekan kapsul, kepala humerus akan keluar dari cekungan glenoid kea rah depan dan medial kebanyakan tertahan di bawah coracoid.
2. Trauma langsung di mana penderita jatuh, pundak bagian belakang humerus terbentur lantai atau tanah. Gaya akan mendorong permukaan belakang humerus bagian proksimal ke depan.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Gerakan puntiran keluar (external rotational)
√
Trauma langsung pundak bagian belakang humerus terbentur lantai atau tanah
-GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis dislokasi anterior meliputi :
- Pundak terasa sakit sekali, bentuk pundak asimetris, di mana bentuk deltoid pada sisi yang cedera tampak mendatar. Hal ini disebabkan karena kepala humerus sudah keluar dari cekungan glenoid ke depan.
- Gangguan pergerakan sendi bahu.
- Pada palpasi, di daerah subakromius jelas teraba cekung.
30 - Kadang-kadang terjadi lesi pada n. aksilaris di mana sensibilitas kulit bagian
lateral humerus hilang atau lesi n. muskulokutaneus di mana sensibilitas kulit bagian belakang lengan bawah hilang.
- Kadang-kadang juga terjadi gangguan pada plexus brakialis karena tertekannya oleh kepala humerus.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Pundak terasa sakit sekali √
Bentuk pundak asimetris, deltoid tampak mendatar
√
Gangguan pergerakan sendi bahu √
Daerah subakromius jelas teraba cekung
Sde
Posisi lengan bawah dalam kedudukan abduksi ringan
Sde
Lesi n. aksilaris di mana sensibilitas kulit bagian lateral humerus hilang
-Lesi n. muskulokutaneus di mana sensibilitas kulit bagian belakang lengan bawah hilang
-Gangguan pada plexus brakialis
-KOMPLIKASI
Komplikasi dislokasi anterior berdasarkan waktu dibagi menjadi 2 yaitu : 1. Dini
- Cedera saraf aksila sehingga pasien tidak dapat mengerutkan otot deltoid - Cedera korda posterior pleksus brakialis
- Cedera pembuluh darah yaitu arteri aksila
- Fraktur-dislokasi terutama fraktur pada bagian proksimal humerus - Tuberositas mayor dapat terlepas selama dislokasi
2. Belakangan
- Kekakuan bahu akibat imobilisasi yang lama, dapat terjadi kehilangan rotasi lateral dan membatasi abduksi
- Dislokasi yang tak direduksi, karena tidak terdiagnosis biasanya pada tidak sadar atau sangat tua
- Dislokasi berulang
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Dini
Cedera saraf aksila
-Cedera korda posterior pleksus brakialis -Cedera pembuluh darah yaitu arteri aksila -Fraktur-dislokasi terutama fraktur pada
bagian proksimal humerus
√
Tuberositas mayor dapat terlepas selama dislokasi
-Belakangan
Kekakuan bahu
-Dislokasi yang tak direduksi
-Dislokasi berulang
-PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan sinar-X pada bagian anteroposterior akan memperlihatkan bayangan yang tumpang tindih antara kaput humerus dan fossa glenoid, kaput biasanya terletak di bawah dan medial terhadap mangkuk sendi. Foto lateral yang diarahkan pada daun
32 Kalau sendi pernah dislokasi, sinar-X dapat memperlihatkan perataan atau cekungan kontur posterolateral kaput humerus, tempat ini pernah dibuat melesak oleh tepi anterior mangkuk glenoid.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Sinar-X :
Bagian anteroposterior akan memperlihatkan bayangan yang tumpang tindih antara kaput humerus dan fossa glenoid. Foto lateral yang diarahkan pada daun scapula akan memperlihatkan kaput humerus keluar dari mangkuk sendi.
√
PENATALAKSANAAN
Dilakukan tindakan reposisi tertutup. Ada tiga macam cara untuk mereposisi yaitu : 1. Cara Hippocrates
Penderita tidur terlentang di atas meja, lengan penderita pada sisi yang sakit ditarik ke distal, posisi lengan sedikit abduksi. Sementara itu kaki penolong ditekankan ke aksila.
2. Cara Kocher
Penderita ditidurkan di atas meja. Penolong melakukan gerakan yang dapat dibagi menjadi empat tahap yakni :
- Tahap pertama, dalam posisi siku fleksi penolong menarik lengan atas ke arah distal.
- Tahap kedua, dilakukan gerakan eksorotasi dari sendi bahu.
- Tahap ketiga, melakukan gerakan adduksi dan fleksi pada sendi bahu. - Tahap keempat, melakukakan gerakan endorotasi sendi bahu.
3. Cara Stimson
Penderita tidur tengkurap di atas meja, lengan yang cedera dibiarkan tergelantung ke bawah, lengan diberi beban seberat 5-7½ kg. dibiarkan selama 20-25 menit.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Cara Hippocrates
-Cara Kocher √
Cara Stimson
-C. FRAKTUR LEHER HUMERUS
Fraktur pada humerus dapat terjadi mulai dari proksimal (kaput) sampai bagian distal (kondilus) humerus, berikut pembagian berdasarkan lokasi frakturnya :
1. Fraktur tuberkulum mayus 2. Fraktur leher
3. Fraktur diafisis 4. Fraktur suprakondiler 5. Fraktur kondiler
6. Fraktur epikondilus medialis
EPIDEMIOLOGI
Sering terjadi pada penderita wanita yang sudah tua, karena tulangnya sudah osteoporosis sehingga terjadi kelemahan pada tulang. Dapat pula pada usia muda yang mengalami trauma biasanya trauma langsung.
34 PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Wanita tua dan osteoporosis
-Usia muda √
Mengalami trauma √
MEKANISME TRAUMA
Pada penderita wanita yang sudah tua dan osteoporosis sehingga terjadi kelemahan pada tulang. Trauma biasanya ringan, trauma tidak langsung, dimana pada waktu jatuh lengan penderita menahan badan dalam posisi ekstensi. Garis patah biasanya transversal. Fragmen distal akan mendorong kuat masuk ke fragmen proksimal. Keadaan ini disebut impacted fraktur.
Pada penderita yang masih muda belum ada tanda-tanda osteoporosis. Trauma biasanya lebih berat berupa trauma langsung. Terjadi dislokasi antara fragmen distal dan proksimal. Bagian proksimal dislokasi kearah abduksi. Hal ini disebabkan karena tarikan otot-otot rotator.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Trauma tidak langsung
-Trauma langsung √
GAMBARAN KLINIS
Gambaran klinis fraktur leher humerus meliputi :
1. Impacted fraktur / fraktur impaksi biasanya ditemukan pada wanita tua. Gejalanya ringan, berupa sakit di daerah bahu, fungsi lengannya masih baik. Hal ini mudah dimengerti karena impacted fraktur merupakan fraktur yang stabil.
2. Pada penderita yang masih muda, gejala-gejala fraktur lebih jelas berupa functio laesa, bengkak, nyeri tekan, nyeri sumbu.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Tanda impacted fraktur : sakit di daerah bahu, fungsi lengannya masih baik
-Nyeri sumbu √ Nyeri tekan √ Bengkak √ Functio laesa √ KOMPLIKASI
- Kekakuan sendi bahu (ankilosis).
- Lesi pada n. sirkumfleksi aksilaris menyebabkan paralisis m. deltoid. - Dislokasi sendi bahu.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Kekakuan sendi bahu (ankilosis)
-Lesi pada n. sirkumfleksi aksilaris menyebabkan paralisis m. deltoid
-Dislokasi sendi bahu √
PEMERIKSAAN PENUNJANG
X-ray pada impacted fraktur ditemukan garis patah transversal, namun kadang-kadang susah dikenali. Pada pasien muda, fragmen biasanya terpisah secara lebih
36
batang bergeser ke atas dan ke depan, meninggalkan kaput dalam mangkuk sendi. Foto aksila harus selalu diambil untuk menyingkirkan dislokasi bahu.
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Sinar-X
Pada impacted fraktur ditemukan garis patah transversal.
-Pada pasien muda, fragmen biasanya terpisah secara lebih jelas.
√
PENATALAKSANAAN
Pada impacted fraktur tidak diperlukan tindakan reposisi. Lengan yang cedera cukup diistirahatkan dengan memakai gendongan (sling) selama 6 minggu. Selama waktu itu penderita dilatih untuk menggerakkan sendi bahu berputar sambil membongkokkan badan meniru gerakan bandul (pendulum exercise). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kekakuan sendi bahu.
Pada penderita dewasa bila terjadi dislokasi abduksi dilakukan reposisi dan diimobilisasi dengan gips spica, posisi lengan dalam abduksi (shoulder spica)
PEMBAHASAN
TEORI TEMUAN KASUS
Impacted fraktur
Imobilisasi dengan memakai gendongan (sling) selama 6 minggu
-Latihan meniru gerakan bandul (pendulum exercise)
-Non impacted fraktur
Tindakan reposisi √
Imobilisasi dengan gips spica atau memakai gendongan (sling)
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer,A., et al. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Moore,K.L., Agur,A.M.R., 2002.Anatomi Klinis Dasar. Jakarta :Hipokrates Nugroho,E., 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem Apley. Jakarta :
Widya Medika
Putz,R., Pabst,R., 2003.Atlas Anatomi Manusia. Jakarta : EGC
Rasjad,C., 2007.Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : Yarsif Watampone Reksoprodjo,S., et al. 2012.Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa
Aksara
38