• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANGANAN TERORISME: PERSPEKTIF PSIKOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENANGANAN TERORISME: PERSPEKTIF PSIKOLOGI"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Abstract

This paper is a literature study on the roots of terrorism and alternative interventions that can be applied. The root of terrorism described in macro social standpoint, the system of government and politics, religion and ideology doctrination. Meanwhile, from the standpoint of the psychological explained about the special characters mediating the terrorist acts of aggressive behavior. The formation of social identity also participating whenever individual joined the terrorist organization. Intervention offered based on several literature findings. Jerrold (2005) focuses on preventing the entry of young people in a terrorist organization by the monitoring system of education, especially religious education. Rivera & Hancock (2003) mentions several psychological strategies in the fight against terrorism: the Anti-Terrorism, Counter-Terrorism, and Consequence Management. Woolf & Hulsizer (2005) offers a range of psychosocial model of primary prevention, secondary prevention and intervention.

Keywords: terrorism, terrorist, intervention Rena Latifa

Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Jakarta

Email : [email protected]

Terorisme adalah sebuah topik hangat refleksi dari ragam disfungsi sosial atau yang sedang marak diperbincangkan. tanda dari sebuah konflik yang sedang terjadi Banyak orang yang berpikir dan mengkaji pada sistem sosial. Beberapa penyebab yang tentang bagaimana cara menanggulanginya, memungkinkan adalah adanya kemiskinan, sebab meskipun orang-orang yang terlibat di rezim otoriter dan represif, atau tema-tema dalamnya sudah diberantas dan ditangkap latar budaya dan agama (Newman, 2006). namun masih saja muncul kembali dan Para teroris diketahui adalah individu-memakan banyak korban. Penjelasan tentang individu yang masuk ke dalam suatu terorisme biasanya bias oleh asumsi-asumsi kelompok organisasi yang tujuan awalnya politik dan prasangka sosial. Seringkali berusaha melakukan perubahan sosial terjadi terorisme dalam bentuk kekerasan (Kruglanski, 2003). Individu yang rentan politik seperti kerusuhan, demonstrasi, untuk dapat masuk dan bergabung dalam revolusi, bahkan bentuk-bentuk konflik organisasi teroris adalah individu yang militer lingkup internasional (Newman, merasa termarginalisasi (menjadi minoritas 2006). Dibutuhkan pemahaman yang di masyarakat) atau dipinggirkan karena komprehensif dari ragam pendekatan hidup dalam kondisi yang sulit, tidak stabil interdisipliner selain sudut pandang politik secara ekonomi, hak-haknya terpinggirkan, dan sosial, yakni perlunya memahami unsur suaranya tidak didengarkan oleh pemerintah sejarah, budaya, ekonomi, ideologi dan (Staub, 1989). Sebagai minoritas, mereka pemahaman terhadap ajaran suatu agama merasakan krisis yang dapat mengakibatkan tertentu. Tulisan ini akan membahas rendahnya harga diri, rasa takut yang besar, terorisme berdasarkan sudut pandang frustrasi dalam rangka pemenuhan makrososiologi, psikologi dan psikososial kebutuhan, identitas pribadi yang hilang, serta alternatif cara menanggulangi atau hingga meningkatkan prasangka kaum menghadapi serangan terorisme. minoritas terhadap mayoritas. Semakin besar B e r d a s a r s u d u t p a n d a n g kekurangan atau derita yang mereka alami, makrososiologi, terorisme adalah suatu semakin besar kebencian dan prasangka

(2)

yang berkembang. Hingga semakin mau membuat masyarakat menjadi fokus untuk bergabung bersama organisasi teroris memperhatikan tuntutan dan hal yang yang dapat mengembalikan harga dirinya, diinginkan oleh minoritas.

maka semakin tinggi rasa memiliki dan rasa Berikut adalah bentuk-bentuk ideologi

aman. yang disebarkan di kalangan anggota

Isu lain yang berkembang di dalam organisasi teroris, sehingga mereka dapat kelompok organisasi teroris ialah adanya dengan rela melakukan tindakan kekerasan keyakinan dan posisi politik atau isu-isu pada orang lain (De la Corte, 2006): (1) agama yang tidak diterima oleh kelompok Adanya keyakinan yang mendalam bahwa mayoritas di masyarakat. Menurut Allport mereka sah-sah saja bertindak agresi sebab (1954), peran agama dalam kehidupan nyata s u d a h t e r l a l u b a n y a k d a n s e r i n g sangatlah paradoks. Agama yang dijalankan ketidakadilan sosial dirasakan oleh oleh para penganutnya, selain mengajarkan kelompok mereka sebagai minoritas, (2) kebaikan juga mengajarkan kekerasan. Ada Perlakuan tidak adil (ekonomi, sosial, orang yang selalu berbuat kebaikan pada politik, budaya) yang pernah diterima semua orang, tetapi ada pula orang yang menyebabkan kebencian dan balas dendam melakukan kekerasan dan perang atas nama dapat dilakukan dan dianjurkan, (3) Jika agama. Pemeluk masing-masing agama pun telah berhasil memberi rasa takut di tengah memiliki potensi terciptanya dua sisi masyarakat, maka harga dirinya meningkat pandangan yang berbeda tentang agama, di dan tidak dipandang remeh lagi oleh orang-satu sisi menciptakan kebaikan di sisi lain orang yang telah memarginalisasikan menciptakan kejahatan. Mengamati adanya keberadaannya, (4) Kekerasan merupakan peran agama yang paradoks, Allport satu-satunya cara yang dianggap efektif menduga bahwa ada hubungan antara untuk mencapai tujuan, sebab dialog sudah prasangka dengan faktor keberagamaan pada tidak berfungsi. Pendekatan persuasif juga masing-masing pemeluk. Analisis yang bukanlah suatu hal yang dapat dipandang dan diteliti Allport telah membawanya pada tiga dipertimbangkan, (5) Ditumbuhkannya kesimpulan yang saling berhubungan. harapan yang tinggi bahwa tindak terorisme

Pertama, persaudaraan dan kefanatikan akan membuat hidup di masa depan menjadi kerap saling tercampur dalam agama. lebih baik, tidak dipandang sebelah mata Banyak orang saleh penuh dengan rasa oleh masyarakat yang memarginalisasi, prasangka rasial tetapi banyak pula orang dihargai, dan dilibatkan dalam sistem politik saleh yang menganjurkan keadilan rasial. dan kemasyarakatan yang lebih luas. Lebih

Kedua, orang yang rajin ke tempat ibadah jauh lagi, yang perlu diingat adalah bahwa ada yang bersikap toleran dan intoleran dalam penyebaran ideologi ini dibutuhkan terhadap agama lain. Ketiga, hubungan rencana yang strategis, dukungan logistik, antara agama dan prasangka tergantung pada penyandang dana, dan rekrutmen khusus. penghayatan agama yang dimiliki dalam Untuk mendapatkan sumber-sumber ini, hidup pribadi seseorang. anggota organisasi teroris berani melakukan I n d i v i d u - i n d i v i d u y a n g pencurian, penculikan, atau jenis bisnis legal mengembangkan prasangka dan menjadi dan ilegal lainnya.

fanatik ini kemudian menjadi kelompok S e m e n t a r a i t u p e n j e l a s a n minoritas. Minoritas kemudian melakukan psikologisnya ialah terdapatnya ciri persuasi terhadap kelompok mayoritas agar kepribadian 'perusak' dan 'sakit', emosional s u d u t p a n d a n g n y a d a p a t d i t e r i m a . tak stabil, inferioritas (rendah diri yang Dibutuhkan persuasi yang efektif dalam kompleks) dan motif balas dendam. mengkomunikasikan gagasan atau keinginan Individu-individu pelaku teroris diketahui minoritas ini. Menebarkan rasa takut dan k u r a n g m e m i l i k i k e m a m p u a n teror melalui kekerasan dan pembunuhan mengendalikan impuls agresi, tidak massal merupakan bentuk komunikasi yang memiliki empati pada orang-orang yang dianggap efektif oleh kaum minoritas ini menjadi korbannya, mental dan cara pikirnya (Kruglanski, 2003). Serangan teror ini sudah sangat dipengaruhi unsur dogmatis

(3)

atau ideologi tertentu (fanatik), serta cara para penyebar doktrin adalah orang-orang pandang yang utopis terhadap dunia di cerdas yang sudah terbiasa memanipulasi sekitarnya (De la Corte, 2006). Namun pikiran heuristic manusia. Sekali terbentuk demikian, belum diketahui secara jelas satu keyakinan tertentu, maka akan mudah apakah kepribadian atau karakter tersebut b a g i p e n y e b a r d o k t r i n u n t u k adalah karakter yang sudah menetap sejak memodifikasinya menjadi bentuk-bentuk kecil atau karakter tersebut dibentuk oleh pikiran yang disetujui oleh 'korban' yang pengalaman hidupnya hingga ia menjadi akhirnya bersedia bergabung dengan seorang teroris. kelompok organisasi teroris.

I n d i v i d u y a n g t u m b u h d a l a m Individu yang telah bergabung pada lingkungan penuh ide-ide radikal dapat suatu organisasi teroris biasanya berani menggiringnya untuk bergabung pada bertindak agresif karena dalam dirinya telah kelompok teroris yang biasanya memiliki ide terbentuk 'identitas kolektif'. Berikut dan nilai-nilai yang boleh dibilang mirip penjelasannya berdasarkan teori identitas (Sageman, 2004). Berdasarkan penelitian sosial (Taylor, 2003): (1) Terjadinya Sageman (2004) pada pelaku teroris al- d e p e r s o n a l i s a s i , y a k n i t e r o r i s Qaeda, diketahui bahwa interaksi kaum mempersepsikan diri mereka sebagai muda muslim dengan kaum jihadis dapat anggota yang saling mendukung dalam suatu membuatnya memiliki pemahaman jihad organisasi. 'Diri pribadi' menjadi hilang yang juga radikal. Hal lainnya ialah dilatari identitas dan perannya secara personal. Hal oleh pengalaman individu teroris dalam ini memotivasi mereka untuk mencapai menempuh pendidikan khusus Islam dan t u j u a n b e r s a m a . S a y a n g n y a , s a a t atau keterlibatannya pada aktivitas masjid depersonalisasi terjadi, individu jadi 'kurang yang mengembangkan ajaran-ajaran sadar-diri' (less self-awareness) dan radikalisme. Bentuk-bentuk indoktrinasinya menggiringnya untuk menjadi pribadi yang adalah berupa pembentukan mental yang kurang bertanggung jawab atas tiap memiliki komitmen tinggi terhadap tindakannya, dan mudah terprovokasi untuk organisasi dan mempersiapkan mereka untuk melakukan tindakan-tindakan agresi terlibat pada 'aktivitas kriminal' yang dapat (Festinger dkk., 1952), (2) Kohesi sosial, di membahayakan orang lain, namun ada mana identitas kolektif yang telah terbentuk keberanian yang sangat besar di dalamnya. tersebut membuat anggota organisasi dapat Penyebaran virus kebencian (hatred) yang saling mengembangkan hubungan sosial mengakibatkan dendam berkepanjangan yang positif sehingga meningkatkan rasa (hostile) pada rezim pemerintahan tertentu saling percaya, kelekatan dan kerjasama. juga dilakukan terhadap para anggotanya Apabila kohesivitas kelompok sudah sangat (Staub, 1989). Apabila sudah terbentuk solid, maka anggotanya akan senantiasa

hatred dan hostile ini, maka para anggota sepakat terhadap perkataan pimpinan hingga organisasi teroris dapat berbuat apa saja mudah diperintah oleh pimpinannya. termasuk tindak agresivitas. Agresivitas Individu juga dapat mengabaikan logika dan adalah hal yang dianggap normatif dalam sudut pandang pribadinya (Janis, 1982), (3) memecahkan masalah menurut persepsi Konformitas dan kepatuhan. Semakin besar anggota organisasi teroris. Kultur agresi ini identifikasi dirinya terhadap organisasi, berkembang menjadi suatu bentuk semakin besar pula identifikasi individu penghancuran fasilitas publik, pembunuhan terhadap norma-norma yang dianut oleh massal melalui bom dan sejenisnya (Staub, organisasi. Untuk kemudian, mereka akan 1989). berani untuk melakukan hal apa saja yang Tipe individu yang dapat terdoktrinasi dianggap benar oleh pimpinannya. Peran adalah individu yang cara pikirnya heuristic pemimpin di sini sangat menentukan. Tanpa dalam mempersepsikan dunia (Ward & pemimpin yang powerful, kharismatik, rasa Jenkins, 1965). Heuristic adalah cara pikir percaya diri tinggi dan cerdas, anggota seseorang tanpa analisa mendalam dan hanya organisasi tidak akan berani mengambil 'berpikir di permukaan' saja. Sementara itu, tindakan. Terhadap pimpinannya, mereka

(4)

akan bersikap rela berkorban, tidak individu pada organisasi teroris. Tutup mementingkan diri sendiri, dan merasa informasi tentang keberadaan organisasi

heroik jika berhasil mengorbankan dirinya teroris, libatkan masyarakat setempat untuk (Post, 2005). Seorang pemimpin adalah memiliki kesadaran melapor pada polisi individu yang memiliki kemampuan terhadap aktivitas-aktivitas kelompok m e m a n i p u l a s i c a r a p i k i r a n g g o t a minoritas yang dianggap mencurigakan, (3) organisasinya, punya pengaruh dan dapat Fasilitasi kemungkinan keluarnya satu berelasi dengan ragam orang (Woolf & anggota organisasi teroris dari organisasinya. Hulsizer, 2005), (4) Sudut pandang bipolar. Misal, pada pelaku teror yang berhasil Jika individu yang sudah tergabung pada ditangkap polisi, dapat diberikan amnesti organisasi ekstrimis tersebut sudah terlalu dari hukuman dengan syarat keluar dari menjiwai keberadaan organisasinya, maka organisasi tersebut. Persepsinya terhadap dapat menggiringnya untuk senantiasa pemerintah dapat berubah menjadi positif, berprasangka negatif pada orang-orang yang saat diberlakukan amnesti. Namun demikian, berada di luar organisasinya. Dunianya harus tetap dipantau kehidupannya pasca terbagi menjadi 'kami' dan 'mereka'. Tajfel amnesti, (4) Kurangi dukungan terhadap dan Turner (1986) menyebutnya sebagai para pemimpin organisasi radikal teroris dan identitas 'in-groups' dan 'out-groups'. 'In- terhadap organisasinya. Tujuannya adalah

group' atau identitas sebagai 'kami', untuk mengalienasi atau mengucilkan membuat harga diri anggota organisasi organisasi sehingga tidak mendapatkan menjadi terangkat karena menjadi bagian fasilitas dari pemerintah hingga memutus dari anggota kelompok yang 'disegani' atau penyaluran dana organisasi. Akibatnya, 'ditakuti' masyarakat. Menyandang 'identitas anggota organisasinya menjadi sengsara dan s o s i a l ' y a n g b e r g e n g s i i n i d a p a t ada kemungkinan untuk meninggalkan menumbuhkan harga diri anggota organisasi. organisasinya.

Sementara itu, identitas 'out-group' membuat Sementara itu, berdasarkan penelitian anggota organisasi mengembangkan Rivera dan Hancock (2003) disebutkan prasangka, diskriminasi dan kekerasan pada beberapa strategi psikologis dalam komunitas yang berada di luarnya atau yang memerangi terorisme. Pertama: Anti-disebut sebagai 'mereka'. Terrorism. Pihak-pihak yang berkewajiban

Jika tujuan dari gerakan terorisme melindungi masyarakat dari gerakan teroris adalah membentuk teror di masyarakat, hendaknya dapat lebih mempelajari gerakan-maka harus dibuat program yang dapat gerakan terorisme dan kelemahan-memperlemah gerakan terorisme dan kelemahannya. Apa saja infrastruktur yang mempromosikan 'masyarakat sadar dan digunakan, bentuk-bentuk modus tindakan, kebal teroris'. Tiap fase dari daur hidup serta target operasional kaum teroris, teroris adalah fokus yang potensial dalam sehingga destruktivitas massal dapat penanganan terorisme ini. Berikut beberapa diantisipasi, dikurangi bahkan dihambat hal yang dapat dilakukan (Jerrold, 2005): (1) kejadiannya. Di sisi lain, harus ditingkatkan Memutus akar teroris harus sejak dini, di infrastruktur yang menjamin rasa aman mana rekrutmen anggota organisasi mulai masyarakat. Perlu pula diberikan reward terjadi. Waspadai tumbuh kembang kaum pada anggota masyarakat yang melaporkan muda untuk tidak terlibat pada organisasi kelompok yang diduga teroris, dan anggota ekstrim, sebab sejak usia muda penanaman masyarakat yang melaporkan adanya kebencian dan dendam dapat dengan mudah infrastruktur yang membahayakan dan mengakar hingga akhirnya membentuk mengancam keselamatan orang banyak pribadi teroris. Pemerintah sebaiknya (seperti bangunan gedung yang tampak memantau bentuk-bentuk pendidikan agama 'rapuh', atau tidak adanya CCTV (Closed-yang ada, memantau kurikulumnya dan circuit Television) pada suatu gedung yang

melakukan pengawasan secara ketat dianggap berpotensial menjadi sasaran terhadap ajaran yang disampaikan, (2) teroris, tidak adanya sistem keamanan yang Menghambat kemungkinan masuknya satu ketat menggunakan baggage screening di

(5)

bandara-bandara atau hotel). post-traumatic dan treatment psikologis

Kedua: Counter-Terrorism. Upaya dalam menghadapi situasi krisis.

yang dilakukan adalah meningkatkan Wo o l f d a n H u l s i z e r ( 2 0 0 5 ) kesadaran masyarakat akan keberadaan dan menawarkan model psikososial yang bahaya terorisme serta kemampuan deteksi berkisar pada prevensi primer, prevensi dini terhadap kelompok-kelompok yang sekunder dan intervensi. Model yang diduga dapat menjadi pelaku teror. Tiap pertama adalah prevensi primer. Dalam aktivitas terorisme dilakukan melalui rangka menjembatani adanya jurang tahapan perencanaan, persiapan, eksekusi prasangka yang dalam antara pelaku teror dan melarikan diri secara terorganisir dan dan masyarakat yang menjadi korban, matang. Karenanya, penting mengedukasi penting dikembangkan hubungan yang masyarakat untuk 'sadar' dan 'waspada' pada p o s i t i f a n t a r d u a k e l o m p o k y a n g tiap detil ragam aktivitas organisasi teroris. b e r s e b r a n g a n i n i . B a g i p e l a k u Misal, masyarakat dapat melaporkan pola disosialisasikan kerugian dan derita yang aktivitas tertentu yang dianggap tidak biasa dialami para korban teror, sementara itu bagi (contoh: pembelian barang-barang tertentu masyarakat disosialisasikan etiologi atau –bubuk kimia bahan dasar bom- dalam akar terjadinya teroris. Pemerintah juga jumlah banyak) atau masyarakat dapat dapat mendukung keadilan sosial yang m e l a p o r k a n a d a n y a o b j e k y a n g merata bagi masyarakatnya, sehingga tidak mencurigakan seperti bungkusan paket atau ada kelompok masyarakat yang merasa barang yang tergeletak tanpa tuan di suatu m i n o r i t a s d a n t e r m a rg i n a l i s a s i k a n . tempat. Kegiatan menghalau terorisme ini Pemerintah menjamin hak politik dan perlu didukung oleh pemerintah dalam partisipasi politik supaya tidak ada pihak bentuk identifikasi kemampuan dan yang merasa hak-haknya dikebiri. Begitu kelemahan apa saja yang sudah ada pada pula dalam partisipasi politik misalnya, masyarakat dalam menyadari keberadaan keterbukaan atas hak-hak suara rakyat, baik teroris. Selain itu juga harus diidentifikasi mayoritas maupun minoritas dapat dihargai. kondisi seperti apa saja yang dapat membuat Dalam kehidupan berpolitik, sikap toleran kesadaran masyarakat akan terorisme adalah sumber interaksi yang paling utama menjadi melemah atau menjadi tidak peduli dalam kehidupan masyarakat yang plural dan pada terorisme. Pemerintah juga sebaiknya demokratis. Hal yang dibutuhkan dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan toleransi politik terwujud dalam sikap deteksi dini terorisme pada masyarakat: masyarakat yang demokratis dan adanya rasa tingkatkan kemampuan atensi, fokus dalam aman. Seluruh suara dan hak-hak warga mendeteksi suatu sinyal teroris, serta negara ditampung oleh negara tanpa ada kemampuan mengambil keputusan cepat diskriminasi status. Sebaliknya, bentuk u n t u k m e l a p o r k a n s u a t u k e j a d i a n diskriminasi status menandakan masih mencurigakan pada pihak polisi. adanya sikap politik yang intoleran. Robert Ketiga: Consequence Management: Dahl (1971) mensyaratkan delapan jaminan Menjadi korban teroris konsekuensinya institusional yang diperlukan untuk adalah antara hidup dan mati, maka dari itu demokrasi. Delapan jaminan institusional itu dibutuhkan peningkatan kemampuan dalam adalah (1) kebebasan untuk membentuk dan mengelola konsekuensi tersebut. Masyarakat mengikuti organisasi, (2) kebebasan sebaiknya dilatih kemampuan dalam hal berekspresi, (3) hak memberikan suara, (4) melarikan diri dan proses evakuasi korban eligibilitas untuk menduduki jabatan publik, teroris, ditingkatkan resiliensinya (daya (5) hak para pemimpin politik untuk tahan terhadap stress akibat paparan berita berkompetisi secara sehat merebut dukungan terorisme) dan diajarkan bagaimana caranya dan suara, (6) tersedianya sumber-sumber memperlakukan korban terorisme secara informasi alternatif, (7) pemilu yang bebas efektif. Dapat diberlakukan stress exposure dan adil, dan (8) institusi-institusi yang

training dalam mengelola rasa takut akan tersedia untuk menjadikan kebijakan tindakan terorisme, serta dapat diberikan pemerintah tergantung pada suara-suara

(6)

(pemilih, rakyat) dan ekspresi pilihan korban teroris.

(politik) lainnya. Selain itu fokus juga ditujukan untuk Penting pula menanamkan sistem meminimalisasi jumlah pelaku teror. edukasi berbasis 'peace education' (Staub, Tekanan politik yang ekstrem dapat 1989), di mana diajarkan ketrampilan dilakukan terhadap para pelaku teror. Dapat pemecahan masalah tanpa kekerasan (non- diberlakukan boikot dan sanksi yang berat

violent conflict resolution skill). Pada siswa terhadap pelaku, bahkan jika dibutuhkan sekolah dan mahasiswa harus diajarkan dapat digunakan intervensi dari pihak militer ragam jenis resolusi konflik atau cara demi mencegah kerusakan yang lebih jauh. pemecahan masalah yang beragam, serta Upaya untuk mengurangi jumlah ketrampilan berpikir kritis dalam rangka tindakan teroris membutuhkan diplomasi menghindari kemungkinan terjadinya dan komunikasi yang simultan dan kepatuhan yang membabi buta (blind terorganisasi. Untuk mengubah budaya

obedience). Pada remaja dan anak-anak juga kebencian dan kekerasan para anggota harus ditanamkan nilai-nilai toleransi, teroris ini mungkin akan memakan waktu m e n g a p r e s i a s i k e m a j e m u k a n d a n dalam hitungan dekade. Selain itu, penting meminimalisasi prasangka atau kebencian pula untuk memelihara pedoman moral pada golongan tertentu di masyarakat. dalam penegakan hukum, good governance Kehidupan bertoleransi adalah suatu kondisi dan keadilan sosial. Perjuangan melawan masyarakat yang menghargai adanya teroris bukan hanya menjadi tanggung jawab perbedaan. Hadirnya sikap toleran berarti pemerintah atau pihak militer saja, menyadari bahwa manusia tidak hidup melainkan perlu keterlibatan seluruh sendiri (Moscovici & Doise, 1994) masyarakat dan kerjasama antar disiplin melainkan berdampingan bersama orang ilmu. Intervensi berbasis komunitas perlu lain. Sikap toleran dapat menciptakan digalakkan dan dipelihara.

kehidupan yang damai dan tentram,

sedangkan sikap intoleran hanya akan DAFTAR PUSTAKA

menciptakan kehidupan yang penuh

kebencian dan konflik. Allport, G. W. (1954). The Nature of Model yang kedua adalah prevensi Prejudice. Boston: The Beacon

sekunder. Saat di masyarakat sedang terjadi Press. krisis (ekonomi, politik atau krisis

lingkungan hidup), tiap-tiap anggota Dahl, R. (1971). Polirchy. New Haven: Yale masyarakat harus dapat bersikap responsif University Press.

atas kebutuhan anggota masyarakat lainnya,

dalam arti saling membantu satu sama lain. De la Corte, L. (2007). Explaining Media dan sistem informasi dapat digunakan Te r r o r i s m : A P s y c h o s o c i a l

masyarakat untuk menghalau informasi A p p r o a c h . P e r s p e c t i v e s o n

terkait propaganda yang sedang dilakukan Terrorism. Journal of The Terrorism oleh kelompok tertentu. Research Initiative. 1 (2), 78-90.

Model yang ketiga adalah intervensi.

Fokus intervensi adalah seputar penurunan Festinger, L. (1952). Some Consequences of jumlah masyarakat yang menjadi korban Deindividuation in a Group. Journal

terorisme, sebab trauma yang dialami para of Abnormal and Social Psychology,

korban dapat menjadi kontribusi bagi 47, 382-389.

berkembangnya tindak kekerasan di masa

depan dan bukan tidak mungkin jika mereka Janis, I.L. (1982). Groupthink. Boston: yang menjadi korban di saat ini dapat Houghton Mifflin.

menjadi pelaku teror di masa depan. Para

k o r b a n d a p a t d i f a s i l i t a s i d e n g a n Koltko-Rivera, M.E. & Hancock, P.A. menyediakan forum untuk mencurahkan (2003). Psychological Strategies for perasaan dan rasa sakitnya akibat menjadi the Defence Against Terrorism.

(7)

Paper presented at the RTO SCI Sageman, M. (2004). Understanding

Symposium on “Systems, Concepts Terrorist Networks. Pennsylvania: and Integration (SCI) Methods and University of Pennsylvania Press.

Technologies for Defence Against

Terrorism,” held in London, United Staub, E. (1989). The Roots of Evil: The

Kingdom, 25-27 October 2004, and Origins of Genocide and Other

published in RTO-MP-SCI-158. G ro u p Vi o l e n c e . N e w Yo r k :

Cambridge University Press. Kruglanski, A. W. & Webster, D. M. (1991).

Group member's reactions to opinion Tajfel, H. & Turner, J. (1986). The Social deviates and conformists at varying Identity Theory of Intergroup

degrees of proximity to decision Behavior. Chicago: Nelson-Hall.

deadline dan of environmental noise.

Journal of Personality dan Social Taylor, D. M. & Louis, W. (2003). Terrorism

Psychology, 61 (2), 212-225. and The Quest for Identity.

W a s h i n g t o n : A m e r i c a n Moscovici, S., & Doise, W. (1994). Social Psychological Association.

Influence and Conformity. London:

Sage publicataion Ward & Jenkins. (1965). The Display of

Information and The Judgement of

Newman, E. (2006). Exploring the 'root Contingency. Canadian Journal of

causes' of terrorism. Studies in Psychology, 19, 231-241. Conflict and Terrorism, 29, 49-772.

Woolf, L.M & Hulsizer, M.R. (2005). Post, J. (2005). The Psychological and Psychosocial Roots of Genocide: Behavioral Bases of Terrorism: Risk, Prevention, and Intervention. Individual, Group and Collective Journal of Genocide Research, 7,

Referensi

Dokumen terkait

Diagram use case bisnis berfungsi untuk mendokumentasikan informasi proses bisnis dan aktor pada organisasi yang terlibat dengan sekitar sistem yang akan dibangun.. Berikut

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh dukungan suami dan status sosial ekonomi terhadap intensitas kunjungan antenatal care di wilayah kerja Puskesmas

Setalah menganalisis bentuk dan dampak tindak kriminla yang dilakukan oleh Benjamin Engel dalam film who am I karya Baran Bo Odar, penulis memiliki bebrapa

Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor : 13 tahun 2013 tentang Perjalanan Dinas Dilingkungan Pemerintah Propinsi Sumatera Barat yang telah diubah beberapa kali

Hal ini menunjukkan bahwa daerah dengan ketertinggalan sangat parah adalah daerah dari Kawasan Timur Indonesia (KTI). Sebanyak 91.83% kabupaten yang dinyatakan sebagai

1. Secara simultan variabel Disiplin Kerja telah berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai pada Kecamatan Pataruman Kota Banjar, dalam hal ini.. variabel Disiplin Kerja

Lirik adalah puisi yang dinyanyikan, pernyataan itulah yang menjadi landasan bahwa guru dapat menjadikan lirik lagu-lagu terkenal sebagai bahan pembelajaran untuk

Pada kondisi tersebut diperoleh produk shortening dengan kadar air yang memadai, warna sesuai yang diinginkan, bentuk semi padat atau padat dengan tekstur lunak