IMPLEMENTATION OF CHARACTER EDUCATION IN THE 2013
CURRICULUM AT ELEMENTARY SCHOOLS OF CLUSTER I,
BONTOMARANNU DISTRICT, GOWA REGENCY
TESIS
Oleh :
HAMRIANA
NOMOR INDUK MAHASISWA : 105.06.03.078.18
PROGRAM PASCASARJANA
MAGISTER PENDIDIKAN DASAR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2021
dibimbing oleh Syarifuddin Sida dan Muhajir.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi nilai karakter dalam Kurikulum 2013 yang sudah mulai ditinggalkan oleh pemiliknya. Dan untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat terimplementasinya nilai karakter siswa dalam kurikulum 2013. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah dasar Gugus I Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa. Dengan menggunakan deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi yang terdiri dari 20 orang responden yaitu kepala sekolah, guru kelas V, guru kelas I, siswa kelas V dan siswa kelas I. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan implementasi pendidikan karakter yang terintegrasi dalam Kurikulum 2013 dapat dilaksanakan jika semua pihak bekerja sama dengan baik yaitu melakukan pembiasaan yang positif seperti kegiatan keagamaan dan tingkah laku yang baik secara berulang dan terus menerus baik itu di lakukan sendiri ataupun secara bersamaan, menjadi teladan buat siswa agar dapat ditiru, memiliki kepedulian dan motivasi atau dukungan dengan memberikan inspirasi dan perubahan terhadap lingkungan, serta menjalin komunikasi yang baik dengan semua pihak yang terlibat. Adapun faktor pendukung dan penghambat terciptanya karakter siswa adalah setiap komponen seperti kepala sekolah yang bijaksana menentukan aturan, guru dan orang tua yang peduli dan selalu memberikan motivasi terhadap karakter anak, serta fasilitas sekolah yang memadai. Sedangkan faktor penghambatnya adalah latar belakang siswa yang berbeda, sarana dan prasarana yang terbatas, kurangnya kepedulian orang tua dan guru, aturan yang kurang mengikat, serta pengaruh lingkungan sekitar dalam hal pergaulan untuk menghadapi kemajuan era globalisasi.
Curriculum at Elementary Schools of Cluster I, Bontomarannu District, Gowa Regency. Supervised by Syarifuddin Sida and Muhajir.
This study aimed to determine the implementation of character values in the 2013 Curriculum which has already been abandoned by their owners as well as to find out the supporting and the inhibiting factors of the implementation of student character values in the 2013 cufriculum. This research was conducted in the elementary school of cluster I, Bontomarannu District, Gowa Regency. This research employed qualitative descriptive and data collection techniques through interviews, observation and documentation consisting of 20 respondents including the principal, class V teacher, grade I teacher, grade V students and grade I students. The data analysis techniques used in this research were data reduction, data presentation, and drawing conclusions.
The results of this study indicated that the implementation of character education that was integrated in the 2013 Curriculum could be carried out if all parties work together by doing positive habituation such as religious activities and good behavior repeatedly and continuously whether it is done alone or simultaneously, becoming role models for students, having concern and motivation or support by providing inspirations and changes to the environment, as well as establishing good communication with all parties involved. The supporting factors of the creation of student character were determined by each component such as the principal who was wise in determining the rules, teachers and parents who cared and always provided motivation for the character of the child, and the availability of adequate school facilities. While the inhibiting factors were including the different backgrounds of students, limited facilities and infrastructure, lack of care from parents and teachers, having loose rules, and the influence of the surrounding environment in terms of social interactions to face the progress of the globalization era.
vi
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah swt, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dalam bentuk tesis dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum 2013 ”, sebagai syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan Dasar, pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Meskipun dalam penyusunan tesis ini banyak menghadapi berbagai macam hambatan, rintangan dan tantangan yang harus dilalui, tetapi berkat pertolongan allah swt, dan berbagai pihak sehingga tesis ini dapat terselesaikan. Dengan segala keterbatasan waktu dan kemampuan yang ada, penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritikan dan saran sangat penulis harapkan. Semoga hal ini bermanfaat bagi seluruh rekan-rekan pembaca. Amin.
Selama proses penyelesaian tesis ini banyak ditunjang dengan bantuan tenaga, pemikiran baik moral maupun material dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sepantasnyalah bila pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan banyak terima kasih yang setulus-tulusnya khususnya kepada kedua orang tua yang tidak bosan mendoakan untuk kelancaran segala usaha anaknya, suami tercinta yang tulus mendukung dan sangat pengertian memberi nafkah serta membiayai semua kebutuhan dalam menyelesaikan pendidikan ini serta
vii
juga setulus-tulusnya kepada Dr Syarifuddin Sida.M.Pd. selaku pembimbing I dan Dr. Muhajir.M.Pd. selaku pembimbing II yang penuh keikhlasan dan kesabaran dalam membimbing dan membantu serta meluangkan waktunya yang cukup banyak untuk penulis sehingga penulisan tesis ini dapat diselesaikan. Ucapan terimah kasih tak lupa juga penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Prof. H. Ambo Asse, M.ag. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag. Selaku Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Ibu Hj. Sulfasyah, S.Pd., M.A., Ph.D. Selaku Ketua Prodi Program Studi Magister Pendidikan Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Bapak Muhlis Madani M.Si. Selaku Asisten Direktur Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar , sekaligus dosen Penguji.
5. Para Dosen serta Staff Universitas Muhammadiyah Makassar, khususnya pada Program Studi Magister Pendidikan Dasar yang telah membina dan memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama berada di bangku perkuliahan .
viii
karena itu, kritik dan saran dari pembaca akan diterima oleh penulis dan semoga tesis ini dapat memberikan manfaat.
Makassar, Januari 2021
xii
HALAMAN PENERIMAAN PENGUJI………..………... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ……… iv
ABSTRAK………...………. v
KATA PENGANTAR ………. vi
DAFTAR ISI ………..……… viii
DAFTAR TABEL ……… x DAFTAR LAMPIRAN ……… xi BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang……… 1 B. Fokus Masalah ………... 7 C. Tujuan Penelitian ………... 7 D. Manfaat Penitian ……… 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 9
A. Tinjauan Hasil penelitian ………... 10
B. Tinjauan Teori Dan Konsep ……….. 11
1. Arti Implementasi ………. 12
2. Pendidikan Karakter ……….. … 13
xii
e. Prinsip-Prinsip Pendidikan Karakter ………. 21
f. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter ………... 24
3. Teori Humanistik ……….. 34
4. Kurikulum 2013 ………. 38
a. Pengertian Kurikulu 2013………. 38
b. Kerangka Dasar Kurikulum 2013………. 39
c. Korangka Konsep ………. 43
BAB III METODE PENELITIAN ………. 45
A. Jenis Dan Penelitian………... 45
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian ………... 46
C. Unit AnalisisDan Penentuan Informan ………... 47
D. Tehnik Pengumpulan Data ………... 47
E. Tehik Analisis Data ………. 49
F. Pengecekan Keabsahan Temuan………. 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……….. 52
A. Deskripsi Karakteristik Objek Penelitian……….. 52
xii
B. Paparan Dimensi Penelitian ……….. 55 1. Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum
2013 ………. 55
2. Faktor Pendukung Dan Penghambat Pendidikan
Karakter Kurikulum 2013………... 81 C. Pembahasan …...……… 94 BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ………. 97 B. Saran ………... 99 DAFTAR PUSTAKA ………. 100 RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN-LAMPIRAN INSTRUMEN PENELETIAN IZIN PENELITIAN
xii
xii 2. Instrument pedoman Observasi 3. Instrumen pedoman dukumentasi 4. Instrumen pedoman wawancara
5. Rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) 6. Ijin peneletian kabupaten Gowa
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan karakter bukan merupakan hal yang baru di dunia pendidikan sekarang ini. Pendidikan karakter sudah di terapkan dalam Kurikulum 2013 yang menuntut para guru untuk berkontribusi penuh dalam rangka menciptakan bangsa yang berbudaya.. Penguatan tentang pendidikan karakter telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 Pasal 3 Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbunyi:
“PPK pelaksanaannya dengan menerapkan berbagai nilai Pancasila dalam pendidikan karakter yang meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab”.
Penekanan pendidikan karakter sejak dari dulu memang telah memiliki landasan yang je las baik secara filosofi maupun aturan formal. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) memiliki program utama tentang pendidikan karakter yang disebut “Pengarusutamaan Pendidikan Karakter”. Artinya, selama ini Pendidikan Karakter sudah ada, tapi kurang mendapatkan perhatian, dan karena itu diberikan penekanan/penguatan. Koesoema (2010) mengungkapkan
karakter bisa menjadi sarana untuk membudayakan dan memanusiakan. Peran pendidikan karakter tidak hanya bersifat integrative atau berarti mengukuhkan moral intelektual namun bersifat kuratif, baik secara personal maupun sosial yang bisa menjadi salah satu sarana penyembuh sosial.
Para remaja yang akan memegang masa depan bangsa harus memiliki perangai yang baik, cita-cita bangsa akan mengalami kehancuran dan meleset jauh dari impiannya, sebagaimana firman Allah swt pada QS. al-Rum 30:41
tygsß
ß$|¡xÿø9$#
Îû
Îhy9ø9$#
Ìóst7ø9$#ur
$yJÎ/
ôMt6|¡x.
Ï÷r&
Ĩ$¨Z9$#
Nßgs)ÉãÏ9
uÙ÷èt/
Ï%©!$#
(#qè=ÏHxå
öNßg¯=yès9
tbqãèÅ_öt
ÇÍÊÈ
Terjemahannya :Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Dalil tersebut seharusnya jadi inspirasi para pendidik supaya dapat membina juga mendidik secara intensif agar terciptalah perangai yang baik, ramah, kuat, bertanggung jawab, memiliki akhlak yang mulia sehingga bisa mengendalikan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti yang dikemukakan Suyanto (2009) karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Sedangkan Lickona (1991), Kertajaya (2010) dan Musfiroh (2008)
karakter adalah pembentukan karakter dengan berbagai cara dengan tujuan memberi pemahaman tentang bagaimana seseorang mengaplikasikan nilai kebaikan dalam artian berperilaku baik dan memiliki etika yang bisa di sosialisasikan dalam lingkungan sekitarnya.
Sebaliknya jika memiliki etika kurang baik menimbulkan perilaku menyimpang memicu terjadinya krisis moralitas di Indonesia yang masih menjadi permasalahan serius bisa terlihat dari maraknya perkelahian yang terjadi dalam golongan masyarakat misalnya saja tawuran antar pelajar atau mahapeserta didik sudah membudaya dan susah dihilangkan. Selain tawuran trend pergaulan bebas bagi sebagian anak bangsa sudah dianggap biasa dan terjadi diberbagai tingkatan pendidikan baik dalam level di sekolah dasar khususnya sampai ke tingkat perguruan tinggi. Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2019) yang menerima laporan sebanyak 24 kasus pada ranah pendidikan dengan korban dan pelaku anak pada bulan Januari sampai Februari, tercatat jumlahnya 17 kasus yang terkait kekerasan. Kasus lain juga berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) banyak muncul jenis narkotika baru yang telah beredar di Indonesia. Merujuk dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2018 prevalensi angka penyalahgunaan narkoba kalangan pelajar di 13 Ibu Kota Provinsi mencapai 3,2% atau setara 2,29% juta orang.
Hal tersebut terjadi tidak hanya berasal dari anak didik tetapi juga dari lingkungan sekitar mereka peserta didik yang jadi korban seperti
akhir-akhir ini diberitakan sering terjadi. Ironisnya, hal tersebut terjadi di tempat yang begitu dekat dengan mereka bahkan menjadi rumah kedua yaitu sekolah yang mestinya menjadi tempat anak didik menjalani proses tumbuh kembang untuk meningkatkan potensi mereka dan orang tua tanpa merasa khawatir menitipkan anak mereka. Alih-alih menjadi tempat bagi proses pendidikan yang membuat menjadi dewasa dan dapat membentuk karakaternya, sebagian justru menjadi tempat dalam eksekusi dan mengambil keceriaan mereka. Dari penyampaian Wibowo (2017), hal tersebut tidak menjadi masalah yang sepele karena peserta didik tidak lagi memiliki karakter bahkan hilang yang berujung hilangnya moral mereka.
Seiring berjalannya waktu, faktor dominan yang mempengaruhi karakter anak adalah lingkungan masyarakat. Maka, pendidikan karakter diimplementasikan di sekolah dengan tujuan mengarahkan anak untuk menuju yang lebih baik sekaligus pendidik meminta kerjasama antara lingkungan keluarga dan sosial guna menciptakan generasi penerus yang memiliki karakter yang unggul dan sukses. Tanpa disadari banyak penelitian yang membuktikan bahwa mengembangkan karakter peserta didik akan melahirkan potensi akademik yang sukses. Meskipun begitu tak dapat dipungkiri bahwa semua sekolah mendambakan situasi yang tentram dan damai dalam arti guru dan peserta didik memiliki kerja sama yang baik untuk membentuk karakter sesuai dengan kehidupan sehari-hari namun hal tersebut cenderung tidak ditemukan pada beberapa sekolah.
Mencermati krisis karakter yang tengah dihadapi bangsa Indonesia saat ini, Menteri Pendidikan Muhammad Nuh mendeklarasikan dimulainya pendidikan karakter bangsa dengan 18 nilai-nilai karakter pada tanggal 10 Mei 2010. Sejak itulah pembangunan karakter bangsa menjadi fokus dalam pendidikan nasional. Deklarasi tersebut berpijak pada pemikiran bahwa strategi pembangunan karakter bangsa dapat dilakukan melalui pendidikan dan pembelajaran.
Keseriusan pemerintah dalam membangun karakter bangsa semakin terlihat dengan adanya Kurikulum 2013 yang disebut dengan kurikulum berbasis karakter, yaitu semua mata pelajaran harus memiliki kontribusi terhadap pembentukan karakter. Salah satu penyebab bergantinya kurikulum KTSP 2006 menjadi Kurikulum 2013 dikarenakan kurikulum KTSP tahun 2006 belum sepenuhnya berkompetensi seperti yang diatur dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Kurikulum 2013 memperkenalkan konsep Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (kD), bahwa setiap KD dari seluruh mata pelajaran harus memuat empat nilai-nilai KI yaitu: kompetensi spiritual, kompetensi sosial, kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan.
Syawal Gultom (2013:1), mengemukakan pengembangan kurikulum 2006 (KTSP) menjadi Kurikulum 2013 dikarenakan pada kurikulum 2006 (KTSP) masih banyak kekurangan antara lain (1) Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya
melampaui tingkat perkembangan usia anak; (2) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional;(3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hardskills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
Merujuk dari hal tersebut salah satu gugus sekolah dasar yang ada di Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa yakni SD Centre Mawang, SD Inpres Mawang, SD Inpres Sandikka, SD Ipres Songkolo dan SD Negeri Bonto Tene memiliki beberapa karakter kuat dan bermacam-macam kurang dapat di pertahankan secara pelan-pelan atau sedikit demi sedikit ditinggalkan oleh pemiliknya tetapi seiring perkembangan zaman terlihat adanya pergeseran nilai yang terjadi dalam kehidupan sosio-kultural dalam hal nilai karakter religius dalam artian hubungan manusia dengan sang penciptanya yang pada kenyatannyan tidak menekankan dan membiasakan. melakukan kegiatan keagaman dengan baik masih ditemukan peserta didik sering tidak mau mengakui perkataan dan perbuatan yang di lakukan . Ditemukan guru dan peserta didik yang kurang disiplin dalam aturan disekolah kurangnya kerja keras yang baik dan rasa tanggung jawab
Berdasarkan perilaku yang terjadi disekolah tersebut Sehingga perlu adanya upaya dalam merevitalisasi nilai-nilai karakter yang mulai ditinggalkan melalui Kurikulum 2013 sehingga penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Gugus I Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa”.
B. Fokus Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang, peneliti tertarik untuk mengangkat fokus penelitian tentang :
1. Bagaimana Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Gugus I Kecamatan Bontomarannu Kab Gowa ?
2. Apa faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Gugus I Kecamatan Bontomarannu Kab Gowa ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah tersebut tujuan penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengetahui Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 di Sekolah Dasar Gugus I Kecamatan Bontomarannu Kab Gowa.
2. Untuk mengetahui faktor yang mendukung dan hambatan dalam melaksanakan Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Gugus I Kecamatan Bontomarannu Kab Gowa.
D. Manfaat Penelitian
Bila tujuan penelitian tercapai, hasil penelitian dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak, seperti:
1. Bagi Peserta Didik
Peserta didik memiliki karakter lebih baik lagi dalam lingkungan sekolah.
2. Bagi Guru
Lebih memaksimalkan cara mengajar dan mendidik agar bisa melahirkan peserta didik memiliki karakter baik dalam setiap jenjang pendidikan.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian bisa digunakan menjadi bahan pertimbangan dan masukan agar mendidik sesuai dengan alur dan yang seharusnya dilakukan guna merubah karakter peserta didik sehingga memilki acuan untuk mendapat prestasi yang baik.
4. Bagi Peneliti
Menambah wawasan serta pengalaman cara mendidik yang tepat agar peserta didik memiliki karakter baik, tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga di lingkungan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Hasil Penelitian
Sama halnya dengan penelitian lain pada umumnya yang sering ditemukan menggunakan atau mengadopsi gagasan orang lain sebagai acuan dalam menentukan suatu masalah yang akan diangkat, penelitian ini juga melakukan hal tersebut melalui penelusuran terhadap hasil penelitian sebelumnya yang dianggap relevan dengan penelitian ini. Hal tersebut dimaksudkan agar penulis mampu mengidentifikasi kemungkinan signifikansi antara penelitian sebelumnya dengan penelitian ini. Berikut penelitian yang relevan dengan judul penelitian yang akan dilakukan, sebagai berikut:
1. Penelitian pada guru Madrasah Aliyah Negeri 4 Jakarta. pada tahun 2016 yang dilakukan oleh Dewi Sutrisna dengan judul “Aktualisas nilai-nilaii pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 ”. Berdasarkan penelitian tersebut , hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) mengimpelementasikan 18 nilai karakter dengan baik, (2) 18 nilai karakter dikelompokkan kedalam 4 bagian yaitu karakter terhadap Tuhan, karakter terhadap diri sendiri, karakter terhadap orang lain, dan karakter terhadap lingkungan dan tanah air.
2. Penelitian pada guru guru SD Negeri Lesampuro 3 Malang pada tahun 2018 yang dilakukan oleh Denna Delawanti Chrisyarani dengan judul
“Modul Tematik Berbasis Penguatan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter Untuk Peserta didik Sekolah Dasar)”. Berdasarkan penelitian tersebut, hasil penelitian ini menunjukkan produk pengembangan berupa modul tematik berbasis PPK dilakukan dengan ran\cangan penelitian pengembangan dengan model Borg dan Gell. 3. Penelitian pada guru SMPN 2 Malang pada tahun 2014 yang dilakukan
oleh Ahmad Khoiri dengan judul “Analisa Pendidikan Karakter dalam Penerpan Kurikulum 2013 di SMPN 2 Malang”. Berdasarkan penelitian tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa, penegmbangan nilai-nilai pendidikn karakter ang berhasil diterapkan oleh SMPN 2 Malang dalam implementasi Kurikulum 2013 antara lain; religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, komunikatif, tanggung jawab,
Adapun penelitian tersebut di gambarkan pada sebagai berikut.
No Judul penelitian Analisis Hasil
1 2 3 4 1. Aktualisasi Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 Madrasah Aliyah Negeri 4 Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Madrasah Aliyah Negeri 4 Jakarta telah
mengimplementasikan delapan belas nilai karakter dengan baik, namun masih ada beberapa guru yang tidak memunculkan
karakter dala pembelajaran yang terkait Kurikulum 2013 yaitu menuliskan dalam RPP tentang karakter apa yang akan dibentuk. hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengimplementasi an nilai-nilai pendidikan karakter tersebut dikelompokkan kedalam empat bagian yaitu karakter terhadap Tuhan, Karakter terhadap diri sendiri, karakter terhadaporanglain dan karakter terhadap lingkunan
1 2 3 4 2. Modul Tematik Berbasis PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) untuk Peserta didik Sekolah Dasar
Temuan penelitian ini adalah pembuatan bahan ajar tematik berbasis PPK sudah terlihat namun masih ada bidang studi yang belum
terimplementasi seperti bidang studi PPKn secara konseptual dan
implementasi kurang luas dan mendalam pada setiap sub tema.
Saran dari
peneitian ini adalah sebaiknya Guru SD perlu
ditingkatkan
semangat kerjanya dlm pembuatan bahan ajar atau modul tematik dengan
menggunakan model Bord & Gall . 3. Analisa Pendidikan Karakter dalam Penerapan Kurikulum 2013 Di SMPN 2 Malang Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, perubahan karakter peserta didik belum sepenuhnya terlihat terhadap perubahan kurikulum yakni Kurikulum 2013 sebagaimana yang telah diterapkan di SMPN 2 malang, di sekolah ini sudah menerapkannya selma satu emester ganji8l dan guru di beri pelatihan, pengarahan sebelum memulai pemberlakuan kurikulum baru. hasil penelitian menunjukkan bahwa, pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter berhasil diterapkan oleh SMPN 2 Malang dalam implementasi Kurikulum 2013 antara lain; religius, jujur, toleransi, disiplin, kreatif, komunikatif, tanggung jawab, Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Berdasarkan dari ketiga peneletian sebelumnya maka peneliti dapat mengalisis bahwa peneletian tersebut mempunyai persamaan yaitu menganalisis bagaimana pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013, sedangkan sedangkan perbedaannya yaitu, (1) pada penelitian yang pertama, meneliti pendidikan karakter denga mengelompokkan kedelapan belas karakter tersebut yaitu karakter terhadap Tuhan, karakter terhadap
diri sendiri, karakter terhadap orang lain dan karakter terhadap lingkungan serta tanah air.(2) Pada penelitian yang kedua, subjek yang diteliti adalah guru SD Negeri Lasempuro Malang. Meneliti tentang pembuatan bahan ajar yang di implementasikan dalam Kurikulum 2013. (3) Pada penelitian yang ketiga, menganalisa pendidikan karakter yang dapat di terapkan di sekolahnya. .sehingga peneliti dapat dapat menyimpulkan bahwa membedakan hanya dari segi penerapannya / pelaksanaannya.
Berdasarkan beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya memiliki persamaan yang persis dan mendukung penulis dalam penelitian yang akan dilakukan karena memiliki arah dan tujuan sama dalam implementasi pendidikan karakter dalam Kurikulum 2013 yang berjalan di sekolah tersebut. Namun Perbedaan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan penelitian terdahulu adalah dari segi penerapan dan pelaksanaanya.
B. Tinjauan Teori dan Konsep 1. Implementasi
Implementasi menurut bahasa adalah “melaksanakan atau menerapkan”. Implementasi sama halnya dengan penanaman ide atau inovasi untuk sebuah perlakuan hingga memberikan dampak positif baik itu dalam hal pengetahuan, skill bisa juga sikap. Pendapat di oxford
advance learner’s dictionary diartikan juga penerapan “put something into effect” (menerapkan ide yang memiliki efek atau pengaruh).
Usman (2002) mengemukakan implementasi berarti aktifitas yang tertuju pada aksi, perlakuan serta mekanisme. Implementasi tidak hanya kegiatan belaka melainkan aktivitas yang tersusun rapi dalam rangka mencapai tujuan. Sedangkan Susilo (2007) berpendapat Implementasi adalah penerapan-penerapan yang telah di rancang dari berbagai inovasi agar lebih praktis. Jadi, implementasi merupakan penerapan baik program atau aktivitas baru dalam berbagai kegiatan yang telah tersusun dan telah direncanakan untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sehingga peneliti dapat menginterpretasi bahwa teori Implementasi pendidikan karakter itu di pelukan keterlibatan semua warga dalam hal penanaman karakter anak dan sangat di perlukan partisipasi dan melibatkan diri dalam pembentukan karakter anak bangsa dengan metode yang dapat di temukan secara terus menerus tanpa merasa bosan membimbing, mengarahkan, dan menjadi motivasi bagi anak sehingga internalisasi nilai-nilai karakter kesehariannya dapat terpatri karena kebiasaan melakukannya pada diri anak dan secara sadar, sehingga dalam diri anak tersebut akan terbentuk kepribadian yang berkarakter dan merasa bersalah jika melanggar aturan yang telah di tetapkan tanpa di tegur atau di nasehati karena mereka akan menyadari dengan sendirinya terhadap apa yang di lakukannya. Sehingga keterlibatan semua warga sangatlah dibutuhkan .
2. Pendidikan Karakter a. Arti Pendidikan
Pendidikan di dasari dengan kata didik yang artinya menjaga dan selalu memberi arahan tentang imtaq yang baik dan berpengaruh pada kecerdasan berpikir. Tambahan awalan “pe” dan akhiran “an” artinya merujuk pada perilaku tentang cara mendidik. Pendidikan merupakan usaha yang telah terencana sebelumnya melalui berbagai proses membimbing dan mengajarkan seorang individu agar berkembang jadi manusia yang mampu bertanggung jawab, berkreasi, memiliki ilmu pengetahuan, kesehatan, juga berakhlak mulia.
Pendapat Mahmud (2004) bahwa pendidikan sebenarnya melalui berbagai proses panjang seperti memperbaiki, merawat juga mengurus peserta didik dengan menggabungkan berbagai bagian-bagian penting pendidikan guna memasuki jiwa agar menjadi anak yang matang dalam karakter yang sempurna menyesuaikan dengan tingkat kemampuan.
Ki Hajar Dewantara dikutip oleh Ahmadi dan Nur (2001) mengartikan bahwa “memberikan didikan sama halnya dengan menjadikan manusia kuat dalam hal ini peserta didik guna di akui dalam masyarakat dan menjadikan mereka bahagia. Sedangkan Tafsir (2001) mengemukakan bahwa pendidikan diartikan
mengusahakan agar peserta didik berkembang secara maksimal dan memberikan dampak positif.
Dari beberapa ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pendidikan mengartikan bahwa sebenarnya arti pendidikan mempunyai penerapan yang sama yakni yang berarti berusaha dalam mempersiapkan peserta didik menjelang mereka dewasa baik itu secara jasmani maupun rohani.
b. Arti Karakter
Secara etimologi, karakter dalam (Inggris: character) asalnya dari Yunani (Greek), yaitu charassein yang artinya “to engrave” di ukir, di lukis, di pahat serta di goreskan. Secara terminologis dari Kementerian Pendidikan, khususnya Direktorat Pendidikan Tinggi dijelaskan secara umum bahwa karakter artinya mempublikasikan sikap atau nilai dari diri sendiri yang baik demi eksistensi yang membangun untuk orang lain.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakter berarti sifat yang berasal dari dalam diri yang berkaitan dengan akhlak dan budi pekerti baik yang menjadikan orang berbeda dari yang lainnya. Sedangkan Suyadi mengemukakan bahwa karakter berkaitan dengan nilai dari perilaku manusia sendiri terdiri atas semua kegiatan yang berhubungan dengan Allah, sesama
manusia dan lingkungan yang diwujudkan dalam pikiran, perasaan, perlakuan bentuk aplikasi dalam adat istiadat, etnis, budaya hukum, tata krama.
Zuhdi (2015) menemukan karakter bentuk sifat yang baik serta di agungkan atau dikagumi karena berarti kebaikan, kekuatan, kemandirian, kedisiplinan dan moral individu.
Dari banyaknya arti tentang karakter tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa karakter adalah penanda seseorang dalam bersikap dan beringkah laku dalam kehidupannya baik itu dengan Allah, sesama manusia ataupun dengan lingkungan. Sesuai dengan banyaknya arti karakter maka secara lebih sederhana karakter di sebut semua yang berkaitan dengan hal positif yang dilakukan baik itu guru sehingga memberi pengaruh pada peserta didik.
Pendidikan karakter di beri arti sebagai ranah pengembangan sikap atau karakter yang baik mulai dari peserta didik yang menerapkan dan mengaplikasikan baik itu nilai moral sehingga bisa memilih solusi yang berguna untuk menjaga hubungan sesama makhluk Allah.
Lain halnya Kesuma (2011) mengartikan nilai karakter dalam lembaga sekolah yang terarah khususnya dalam pembelajaran pada kekuatan dan mengembangkan sikap peserta didik sesuai
dengan standar yang ditetapkan masing-masing pihak sekolah itu sendiri. Hal tersebut berisi makna:
1) Karakter salah satu pembelajaran yang di integrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran.
2) Hal tersebut mengarah pada kekuatan dan perkembangan tingkah laku peserta didik. Artinya peserta didik merupakan merupakan subjek yang berpeluang untuk diberi kekuatan agar lebih berkembang.
3) Arahan sekolah yang berdasar dalam membentuk kekuatan dan mengembangkan yang telah di rencana.
Pelajaran karakter bukan hanya melalui pembelajaran namun di bentuk melalui sikap teladan, baik dari luar ataupun dalam sekolah tersebut.
Berdasarkan dari beberapa bahasan di atas ditekankan jika mendidik dengan karakter adalah usaha yang terencana dan pelaksanaannya sesuai runtutan guna memberikan pemahaman peserta didik mengartikan nilai yang berkaitan dengan Allah swt, lingkungan yang dapat diciptakan ke bentuk berpikir, bersikap, perasaan, bertutur, berbuat sesuai dengan aturan agama, hukum budaya dan adat.
Dengan demiikian pendidikan karakter menurut Megawangi (2004) adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya. Defenisi lainnya dikemukakan oleh Gaffar (2010) bahwa pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu.
c. Fungsi Pendidikan Karakter
Umumnya fungsi pendidikan karakter yang disesuaikan dengan pendidikan nasional, pendidikan dengan karakter berguna untuk pengembangan dan pembentuk sikap peserta didik dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk jiwa cinta bangsa. Sesuai hal itu, Zubaedi (2011) berpendapat ada tiga kegunaan diadakanya pendidikan karakter.
1) Dibentuk dan dikembangkan dorongan yang membentuk karakter berguna untuk menjadikan peserta didik lebih baik sesuai Pancasila. Maka dari itu karakter sangat berguna untuk membangun bakat terpendam dari peserta didik namun tetap menyesuaikan hukum atau norma yang berlaku.
2) Memperbaiki juga memberikan kekuatan guna memperbaiki sikap karakter negatif peserta didik sehingga dapat menggunakan pengaruh keluarga, sekolah dan pengaruh lingkungan sekitar tidak lupa dukungan dari pemerintah yang memiliki tanggung jawab untuk menjadikan anak generasi
muda dalam menjadikan bangsa maju, sejahtra dan berkembang serta berkarakter.
3) Sebagai cara dalam memilah dan memilih nilai yang tepat dalam budaya Indonesia maupun dari bangsa asing. Artinya menyaring nilai positif dalam membangun karakter Indonesia yang tangguh dan mandiri. Senada dengan pendapat ahli sebelumnya, sesuai kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa, karakter seyogyanya memiliki tiga fungsi atau manfaat, yaitu Narwanti (2011):
a) Fungsi dalam membentuk dan mengembangkan keterampilan. Warga negara Indonesia di bentuk untuk mengembangkan kemampuan diri mereka agar berdampak pada karakter diri dan juga pikiran individu sehingga sesuai dengan Pancasila.
b) Fungsi untuk memperbaiki dan menguatkan. Dalam memperbaiki dan menjaga erat hubungan kekeluargaan, hubungan dengan masyarakat, serta ikut menyumbangkan pikiran dan amanah dalam mengembangkan kemampuan dirinya sehingga tercipta bangsa yang di cita-citakan.
c) Fungsi dalam menyaring. Dalam membangun pribadi bangsa berguna dalam memfilter budaya negara sendiri
atapun juga negara asing, serta di pilih yang sesuai dengan falsafah bangsa Indonesia yang mandiri.
Sedangkan karakter intinya berguna untuk membentuk budaya bangsa yang memiliki imtaq baik, kuat, toleransi, bekerja sama, jiwa pancasila, mampu dalam ilmu teknologi dan pengetahuan didasari iman dan bertaqwa pada Allah swt dan juga ideologi Pancasila.
d. Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan pendidikan karakter yang di cita-citakan Kementerian Pendidikan Nasional adalah:
1) Membangun kemampuan hati, sikap pikiran peserta didik untuk menjadi manusia dan menjadi warga negara baik sesuai dengan etika budaya dan sikap bangsa Indonesia.
2) Membangun dan melatih sikap juga membiasakan peserta didik agar mempuyai nilai baik yang sesuai dengan nilai pokok dan juga adat istiadat bangsa Indonesia yang agamis.
3) Membiasakan dan melatih sikap dan jiwa pemimpin dan amanah peserta didik sebagai anak muda generasi bangsa sebagai penerus cita-cita bangsa Indonesia.
4) Membangun keterampilan peserta didik untuk menjadikannya individu yang kuat, cerdas kreatif, berwawasan luas serta cinta kebangsaan; dan
5) Membangun lingkungan sekolah agar nyaman dalam proses belajar mengajar sehingga tercipta pembelajaran yang nyaman, bebas berkreasi, membangun pertemanan, juga membangun jiwa kebangsaan sehingga tercipta kemandirian.
Pendidikan karakter bertujuan untuk membangun kompetensi dalam melaksanakan dan menyusun agar tercipta hasil karakter yang baik di sekolah dan juga terbangun akhlak yang baik dalam mencapai standar lulusan di sekolah. Membangun karakter pada tingkat sekolah dasar di khususkan dalam membentuk karakter sekolah yang berlandaskan sikap, adat istiadat, perilaku, dan sesuatu yang di praktikkan seluruh pihak sekolah dan juga masyarakat yang ada di sekitar. Adat istiadat, aturan dan etika dalam sekolah adalah ciri-ciri kebaikan yang di tunjukkan pada masyarakat sekitar dan masyarakat luas.
Tujuan pendidikan karakter yaitu mendorong agar tercipta peserta didik yang tumbuh dengan karakter yang baik dengan berbagai cita-cita untuk membangun dan melahirkan sesuatu yang special namun dilakukan dengan cara yang tepat karena memiliki capaian tujuan tertentu dengan menjadikan dan menyusun rangka karakter untuk membentuk manusia dalam hal ini pendidik dan peserta didik dengan berbagai harapan salah satunya sadar akan pentingnya karakter atau perilaku. Sehingga manfaat yang didapatkan terciptanya sosok teladan untuk peserta didik dan
memberikan ruang rasa aman, nyaman dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka seperti pengetahuan, sikap, tingkahlaku, keindahan dan religius.
e. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
Proses pembelajaran khususnya di sekolah akan berjalan dengan baik dan lancar, ketika pada saat melaksanakannya memperhatikan berbagai prinsip pendidikan karakter. Suwartini (2017) dalam Kemendiknas memberikan beberapa saran dan masukan prinsip untuk menciptakan pendidikan karakter yang begitu efektif sebagai berikut;
1) Mempublikasikan prinsip tata krama sebagai dasar karakter. 2) Menggabungkan karakter seperti pikiran, rasa dan sikap
secara kompren agar menakup keseluruhan nilai tersebut. 3) Berbagai metode dipakai dalam pendekatan gunanya
membentuk karakter.
4) Menghasilkan Lembaga atau komunitas dalam sekolah dan masyarakat yang berwujud kepedulian.
5) Membiarkan peserta didik untuk berkembang dengan memberikan kebebasan dalam mewujudkan sikap karakter yang baik.
6) Melengkapi dokumen seperti kurikulum yang bermanfaat untuk peserta didik dalam menciptakan makna untuk
menghargai sesama manusia sehingga tercipta karakter baik dan berguna dalam masa depan mereka agar bisa sukses. 7) Berusaha membangun dan memancing terpacunya motivasi
dalam diri peserta didik.
8) Membangun sikap kekeluargaan dalam hal ini bekerja sama seluruh pihak sekolah yang di bentuk dalam suatu organisasi guna memumbuhkan jiwa moral dan amanah agar terciptanya nilai karakter yang baik.
9) Bekerjasama dalam membagi diri untuk mendidik setiap kelompok peserta didik dalam membangun jiwa kepemimpinan yang didukung agar tercipta pendidikan karakter yang inovatif.
10) Membangun kerjasama yang baik antar keluarga peserta didik dan pihak sekolah untuk membentuk karakter peserta didik.
11) Melakukan evaluasi baik itu dalam pihak sekolah dalam rangka mengetahui yang seharusnya dirubah dalam mengatasi kekurangan yang terjadi sebagai pelajaran agar dapat membentuk karakter positif dalam kehidupan peserta didik.
Didasari dengan prinsip-prinsip yang disarankan oleh kemendiknas, Suwartini (2017) dalam Budimanyah (2010) berpendapat bahwa rencana pendidikan karakter disekolah
sebaiknya lebih dikembangkan dengan landasan prinsip-prinsip sebagai berikut;
1) Mendidik dengan karakter disekolah sebaiknya dilakukan secara berkala atau dalam artian selalu berlanjut dengan adanya evaluasi. Hal tersebut berarti dalam mengembangkan proses karakter butuh waktu yang panjang dimulai dari saat peserta didik masuk sekolah dasar sampai dengan lulus sekolah dalam suatu lembaga pendidikan.
2) Mendidik dengan karakter seharusnya di intergrasikan kedalam seluruh mata pelajaran seperti pengembangan diri dan kearifan lokal dalam Lembaga sekolah tersebut. Membina karakter sebenarnya dapat dilakukan dengan menggabungkan kegiatan ekstrakulikuler atau pembelajaran non formal yang bisa di arahkan pada karakter. Membangun karakter peserta didik bisa dilakukan dengan banyak cara seperti mengikut sertakan dalam kegiatan sosial diluar pembelajaran formal yang ada di sekolah contohnya kegitan pramuka atau pelatihan olahraga.
3) Sebenarnya karakter tidak berwujud dalam proses belajar mengajar di sekolah, artinya karakter tidak di intergrasikan dalam pembelajaran terkecuali pendidikan agama Islam yang memang terkandung di dalamnya proses pelajaran yang memuat ajaran makanya tetap di belajarkan dengan pengetahuan dilanjutkan melakukan lalu diakhiri dengan
kebiasaan. Pembelajaran tersebut dilakukan dengan rutin dan dengan cara yang menyenangkan peserta didik dengan melakukan hal tersebut membuktikan bahwa pendidikannya dilakukan oleh peserta didik bukan dengan guru lalu sikap guru selanjutnya melakukan penerapan dengan metode guru yang memberikan arahan dan motivasi pada peserta didik dari belakang yang dikaitkan dengan agama.
f. Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Nilai-nilai yang berkembang dalam penerapan karakter sebaiknya dan seharusnya merujuk pada nilai agama, budaya, etika, tata krama, Pancasila dan pentingnya dengan tujuan pendidikan nasional. Adapun beberapa nilai dalam pendidikan budaya dan juga karakter bangsa yang dikemukakan oleh Kemendinas (2010) sebagai berikut ini:
1) Religius berarti nilai pikiran, ucapan, rasa, tindakan manusia yang harus berlandasakan nilai-nilai Ketuhanan yang sesuai ajaran agama. Sejalan dengan ayat Al-Qur’an:
M¤)ãmur $pkÍh5tÏ9 MtRÏr&ur Terjemahannya:
Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh (QS Al-Insyiqaq-2).
Religius sebenarnya berarti mempunyai ikatan yang lebih dalam pada sang pencipta terkait keyakinan dan kepercayaan yang berasal dari manusia.
2) Jujur berarti sikap yang harus selalu menjadikan diri seseorang yang dapat dipercaya dimanapun dan kapanpun itu situasi dan kondisinya seperti dalam lingkungan kerja, sekolah dalam tindakan berucap dan berperilaku terhadap orang lain. Al-Qur’an yang mengarahkan untuk berbuat jujur seperti Firman Allah SWT tentang kejujuran di antaranya:
g
.
$pkr'¯»t
úïÏ%©!$#
(#qãZtB#uä
(#qà)®?$#
©!$#
(#qçRqä.ur
yìtB
úüÏ%Ï»¢Á9$#
ÇÊÊÒÈ
Terjemahannya:
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar (QS At-Taubah-119).
1) Toleransi artinya ajaran perilaku menghargai dan menghormati seseorang yang berbeda agama, suku, etnis, adat istiadar dan perbedaan pendapat yang berbeda dengan diri kita sendiri. 2) Disiplin berarti perilaku manusia yang taat akan aturan dan patuh
terhadap tata tertib ketentuan misalnya dalam sekolah.
3) Kerja keras berarti sikap yang memperlihatkan kesungguhan dan sikap pantang menyerah dalam melakukan sesuatu atau mengerjakan sesuatu misalnya saja tugas dari guru untuk di pelajari sebaik-baiknya.
4) Kreatif artinya menciptakan hasil atau kreatifitas yang baru dengan ide yang lain daripada yang lain, sesuatu yang baru yang belum ada atau belum terpikir dalam benak orang lain.
5) Mandiri artinya menunjukkan aktivitas yang baik dalam artian tidak dengan mudah bergantung pada orang lain, mampu berdiri sendiri, Tangguh dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugasnya. 6) Demokratis artinya berperilaku dan menerapkan sikap adil dalam menentukan yang menjadi hak dan kewajiban diri sendiri dan kepentingan orang lain.
7) Ingin tahu artinya semangat yang ditunjukkan melalui penerapan atau bertindak dengan usaha yang lebih agar dapat tau lebih dalam atau dapat menggali informasi yang meluas dari apa yang dilihat dan didengar.
8) Nilai kebangsaan artinya menambah pengetahuan wawasan yang berkaitan dengan bangsa dan negara yang didahulukan dibandingkan dengan keperluan diri sendiri dan kelompok dalam artian tidak egois.
9) Nasionalis berarti ditunjukkan dengan cara memikirkan, menyikapi dan memperdulikan segala pemberian dukungan dengan tinggi dalam hal lingkungan budaya, ekonomi, sosial dan system demokrasi bangsa.
10) Menunjukkan sikap antusias terhadap hasil karya dan prestasi orang lain. Hasil karya tersebut bisa dijadikan motivasi dan
dorongan untuk menciptakan hasil karya lain yang dapat berguna bagi diri sendiri dan masyarakat sehingga bisa berguna untuk orang lain dan juga belajar menghargai orang lain serta karyanya.
11) Bersahabat dan komunikatif berarti perilaku yang menunjukkan sikap atau perasaan senang dapat bergaul dan menemukan teman baru yang menjadi pengisi kekosongan.
12) Cinta Damai berarti perilaku yang diwujudkan melalui perasaan nyaman seseorang untuk bercerita dan bergaul serta merasa aman dan senang.
13) Gemar Membaca berarti membiasakan diri untuk membagi waktu khusus dalam diri untuk belajar dan membaca berbagai buku yang berguna untuk diri sendiri.
14) Peduli Lingkungan artinya aktifitas cinta alam dengan selalu berusaha menjaga lingkungan dan selalu berupaya menjalankan sesuatu untuk memperbaiki segala kerusakan alam yang terjadi. 15) Peduli Sosial, artinya berusaha dalam perilakunya untuk selalu
membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan.
16) Tanggung-jawab berarti aktifitas seseorang dalam melakukan sesuatu atau tugas sesuai dengan apa yang telah diamanahkan atau menjadi tanggung jawab orang tersebut yang bisa di terapkan dalam diri sendiri dan orang lain yang berwujud ke alam, budaya dan sosial.
` Kesuma dkk (2011) mengemukakan bahwa pendidikan karakter merupakan suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku anak. Ada 5 karakter yang perlu dikembangkan oleh anak diantaranya religius, jujur, disiplin, kerja keras dan tanggung jawab. Religius memiliki tingkat pencapaian yang tinggi dalam karakter sebab nilai tersebut berasal dari dalam diri manusia yang dapat dipercaya dan diyakini. Religius memiliki arti berhubungan dengan sang penciptanya yang memiliki arti cara berpikir, cara berucap yang harus sesuai dengan tindakan yang baik dan tetap berasal dari nilai agama. Religius sebagai salah satu nilai karakter sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianut, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Karakter religius ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam menghadapi perubahan zaman dan degradasi moral, dalam hal ini peserta didik diharapkan mampu memiliki dan berprilaku dengan ukuran baik dan buruk yang di dasarkan pada ketentuan dan ketetapan agama. Agama dalam kehidupan pemeluknya merupakan ajaran yang mendasar yang menjadi pandangan atau pedoman hidup. Pandangan hidup ialah “konsep nilai yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang mengenai kehidupan”. Apa yang dimaksut nilai-nilai adalah sesuatu yang dipandang berharga dalam kehidupan manusia, yang mempengaruhi sikap hidupnya.
Jujur sebagai sebuah nilai merupakan keputusan seseorang untuk mengungkapkan (dalam bentuk perasaan, kata-kata dan/atauperbuatan
bahwa realitas yang ada tidak dimanipulasi dengan cara berbohong atau menipu orang lain untuk keuntungan dirinya (Kesuma dkk, 2011). Dalam konteks pembangunan karakter di sekolah, kejujuran menjadi amat penting untuk menjadi karakter anak-anak Indonesia saat ini. Karakter ini dapat dilihat secara langsung dalam kehidupan baik di dalam kelas maupun di luar kelas, semisal anak melaksnakan ujian atau belanja di kantin kejujuran. Peranan guru sangat penting dalam mencermati sikap jujur peserta didik tersebut.
Disiplin merupakan aturan yang di buat oleh dirinnya atau institusi pendidikan untuk mencapai tujuan tertentu, dalam hal pendidikan tingkat penerapan belajar dan kecerdasan. Membangun pendidikan yang cerdas di mulai dari disiplin, disiplin yang di terapkan oleh seoarang pelajar tanpa di sadari pelajar akan mendapatkan manfaat yang sangat berharga dari kedisiplinan yang di terapkan.
Kedisiplinan sangat penting bagi para pelajar, disiplin bukan hanya dilakukan dan di jalan hanya karena suatu aturan dan kebijakan yang harus ditaati sesuai dengan aturan itu melainkan kedisiplinan itu dilakukan karena kesadaran sendiri untuk meningkatkan tingkat keberhasilan yang tinggi. Contohnya disiplin waktu, seorang pelajar yang menjalankan aktivitas dengan disiplin Ia cenderung akan menghargai waktu dan mengerjakan tugas sesuai waktu yang di tetapkan.
Disiplin berarti harus taat dan mengikuti segala hal yang dianggap baik dalam melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab yang
harus dikerjakan. Disiplin adalah perilaku yang berarti melakukan sesuatu sesuai dengan peraturan yang telah ada. Hal yang diharapkan dalam membentuk kedisiplinan adalah terbentuknya jiwa disiplin untuk diri sendiri seperti peserta didik memiliki kekuatan dan semangat dalam menyelesaikan segala pekerjaan tanpa di suruh oleh orang lain.
Secara bahasa kerja keras artinya pantang menyerah. Kerja keras adalah kegiatan yang dikerjakan secara sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah atau berhenti sebelum target kerja tercapai dan selalu mengutamakan atau memperhatikan kepuasan hasil pada setiap kegiatan yang dilakukan.
Kerja keras dapat diartikan bekerja mempunyai sifat yang bersungguh-sungguh untuk mencapai sasaran yang ingin dicapai. Mereka dapat memanfaatkan waktu optimal sehingga kadang-kadang tidak mengenal waktu, jarak, dan kesulitan yang dihadapainya. Mereka sangat bersemangat dan berusaha keras untuk meraih hasil yang baik dan maksimal.
Kerja keras merupakan suatu tindakan atas kesadaran diri yang bersumber dari dorongan dan motivasi oleh orang sekelilingnya. Kerja keras peserta didik yang di bentuk sejak dini oleh guru mulai dari melatih dan mengajarkan untuk tidak menyerah dalam mengerjakan tugas tanpa memperdulikan hasil awal karena pada dasarnya saat memulai tetapi mendapat nilai rendah tidak masalah. Manfaat kerja keras pada
kenyataannya akan membuat yakin bahwa suatu saat akan di dapati keberhasilan dari berkali-kali jatuh atas kesalahan.
Tanggung jawab dapat diartikan tingkat kesadaran manusia atas segala perbuatan yang dilakukan baik itu secara sengaja ataupun tidak sengaja oleh setiap manusia. Tanggung jawab merupakan sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara, dan Tuhan. Apabila dalam penggunaan hak dan kewajiban itu bisa. tertib, maka akan timbul rasa tanggung jawab. Tanggung jawab yang baik itu apabila antara perolehan hak dan penuaian kewajiban bisa saling seimbang. Sehingga Tanggung jawab adalah suatu wujud sikap sadar dengan amanah yang jadi kewajiban sebagai peserta didik yang harus menaati segala aturan yang ada di sekolah.
Pendidikan karakter saat ini menjadi wacana utama dalam dunia pendidikan nasional di Indonesia. Semua kegiatan dalam proses kegiatan belajar mengajar di negara Indonesia saat ini harus merujuk pada pelaksanaan pendidikan karakter. Hal ini termuat dalam Naskah Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh kementerian pendidikan pada tahun 2010.
Dalam naskah tersebut disampaikan bahwa pendidikan karakter menjadi salah satu unsur utama dalam pencapaian visi dan misi pembangunan nasional di Indonesia yang termasuk pada RPJP 2005 –
2025. Bukan itu saja, dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional: memasukkan tujuan dan fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan upaya dalam bidang pendidikan.
Kertajaya (2010) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter yaitu ciri khas yang dimiliki oleh suatu individu atau benda tertentu. Ciri khas tersebut merupakan sifat asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut dan merupakan sebuah mesin yang mendorong bagaimana orang tersebut bertindak, berucap, bersikap dan bagaimana orang tersebut dalam merespon sesuatu. Suyanto (2010) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Dengan pendidikan karakter yang diterapakan secara sistematis, dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Sebab kecerdasan emosi ini menjadi bekal penting dalam mempersiapkan anak masa depan dan mampu menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.
Dewantara (1940) menyatakan ada sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu (1) karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; (2) kemandirian dan tanggung jawab; (3) kejujuran/amanah, diplomatis; (4) hormat dan santun; (5) dermawan, suka tolong menolong dan gotong royong/kerjasama; (6) percaya diri dan pekerja keras; (7) kepemimpinan dan keadilan; (8) baik dan rendah hati; (9) karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Kesembilan karakter itu,
perlu ditanamkan dalam pendidikan holistik dengan menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Hal tersebut diperlukan agar anak mampu memahami, merasakan/mencintai dan sekaligus melaksanakan nilai-nilai kebajikan. Bisa dimengerti, jika penyebab ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku baik, walaupun secara kognitif anak mengetahui, karena anak tidak terlatih atau terjadi pembiasaan untuk melakukan kebajikan.
Lembaga pendidikan dan guru dewasa ini dihadapkan pada tuntutan yang semakin berat, terutama untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi berbagai dinamika perubahan yang berkembang pesat. Perubahan yang terjadi bukan saja berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi juga menyentuh perubahan dan pergeseran aspek nilai moral yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat.
Disinilah kunci dari urgensi dilaksanakannya pendidikan karakter untuk membentengi dari krisis multidimensi pada era globalisasi ini. Krisis multidimensi dan keterpurukan bangsa, pada hakekatnya bersumber dari jati diri, dan kegagalan dalam mengembangkan pendidikan karakter bangsa.
Upaya untuk mewujudkan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter, budaya dan moral, tentulah sosok Dewantara (1940) menjadi rujukan utama. Bapak pendidikan bangsa Indonesia ini telah merintis tentang konsep tri pusat pendidikan yang menyebutkan bahwa wilayah
pendidikan guna membangun konstruksi fisik, mental, dan spiritual yang handal dan tangguh dimulai dari; (i) lingkungan keluarga; (ii) lingkungan sekolah; dan (iii) lingkungan masyarakat. Ketika pendidikan di lingkungan keluarga mulai sedikit diabaikan dan dipercayakan pada lingkungan sekolah, serta lingkungan social yang semakin kehilangan kesadaran bahwa aksi mereka pada dasarnya memberikan pengaruh yang cukup besar pada pendidikan seorang individu. Maka lingkungan sekolah dalam hal ini guru menjadi frontliner dalam peningkatan mutu pendidikan karakter, budaya dan moral.tauldan dan contoh buat peserta didiknya dalam berbuat dan bertingkah baik dari hal kegamaan, kejujurannya, kedisiplinan, kerja sama serta percaya diri dan tanggung jawabnya..
3. Teori Humanistik
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut teori humanistik berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Konsep teori belajar Humanistik yaitu proses memanusiakan manusia, dimana seorang individu diharapkan dapat mengaktualisasikan diri artinya manusia dapat menggali kemampuannya sendiri untuk diterapkan dalam lingkungan. Proses belajar Humanistik memusatkan perhatian kepada diri peserta didik sehingga menitikberatkan kepada kebebasan individu. Teori Humanistik menekankan kognitif dan afektif memengaruhi proses. Kognitif adalah aspek penguasaan ilmu pengetahuan sedangkan afektif adalah
aspek sikap yang keduanya perlu dikembangkan dalam membangun individu.
Belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Hal yang penting lagi pada proses pembelajaran Humanisme harus adanya motivasi yang diberikan agar peserta didik dapat terus menjalani pembelajaran dengan baik. Motivasi dapat berasal dari dalam yaitu berasal dari diri sendiri, maupun dari guru sebagai fasilitator.Teori belajar humanistik menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Teori ini menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar.
Pendekatan humanistik adalah pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang dikehendaki secara sosial dan pemerolehan pengetahuan yang luas tentang sejarah, sastra, dan pengolahan strategi berpikir produktif. Makin (2007) menjelaskan bahwa ciri khas teori humanistik adalah berusaha untuk mengamati perilaku seseorang dari sudut si pelaku dan bukan si pengamat. Sebagai makhluk hidup, ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan, hidupnya dengan potensipotensi yang dimilikinya.
Hal ini sesuai dengan Al-Qur’an dalam Surat Al-Baqarah ayat 30.
malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
Tujuan dasar pendidikan Humanistik adalah mendorong peserta didik menjadi mandiri dan independen, mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, menjadi kreatif dan tertarik dengan seni, dan menjadi ingin tahu tentang dunia di sekitar mereka. Sejalan dengan itu, prinsip-prinsip pendidikan humanistik disajikan sebagai berikut.
1. Peserta didik harus dapat memilih apa yang mereka ingin pelajari. Guru humanistik percaya bahwa peserta didik akan termotivasi untuk mengkaji materi bahan ajar jika terkait dengan kebutuhan dan keinginannya.
2. Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan peserta didik untuk belajar dan mengajar mereka tentang cara belajar. Peserta didik harus memotivasi dan merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri.
3. Pendidik Humanistik percaya bahwa nilai tidak relevan dan hanya evaluasi diri (self evaluation) yang bermakna.
Pemeringkatan mendorong peserta didik belajar untuk mencapai tingkat tertentu, bukan untuk kepuasan pribadi. 4. Pendidik Humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun
pengetahuan, sangat penting dalam proses belajar dan tidak memisahkan domain kognitif dan afektif.
5. Pendidik Humanistik menekankan perlunya peserta didik terhindar dari tekanan lingkungan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Setelah peserta didik merasa aman, belajar mereka menjadi lebih mudah dan lebih bermakna.
Teori Humanistik lebih mengedepankan sisi humanis manusia dan tidak menuntut jangka waktu pembelajar mencapai pemahaman yang diinginkan, akan tetapi lebih menekankan pada isi atau materi yang harus dipelajari agar membentuk manusia seutuhnya. Setiap pembelajar memiliki kecepatan belajar yang berbedabeda sehingga keberhasilan belajar akan tercapai apabila pembelajar dapat memahami diri dan lingkungannya. Hal ini karena setiap manusia adalah unik dan tugas pendidik adalah membantu mengenali sisi unik tersebut serta mewujudkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik .
Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan teori belajar humanistik belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
4. Kurikulum 2013 a. Pengertian kurikulum
Kurikulum 2013 merupakan hasil review dari kurikulum sebelumnya, yakni kurikulum KTSP. Proses review kurikulum dalam sejarah pendidikan nasional Indonesia, sudah berlangsung 10 kali. Proses review tersebut dapat dipahami sebagai suatu dinamika konstruktif, selain itu review kurikulum merupakan suatu keniscayaan sekaligus merupakan suatu konsekuensi logis atas tuntutan dan tantangan yang dihadapi sistem pendidikan nasional, baik untuk masa kini sekaligus masa datang. Bahkan, Sidi dalam Kunandar menyebutkan, bahwa kurikulum harus dikembangkan secara futuristic dan mampu menjawab tantangan zaman .Artinya, perancang kurikulum selayaknya memiliki kemampuan menghadirkan masa yang akan datang pada saat sekarang, dalam bentuk mampu memformulasi kecenderungan dan fakta-fakta masa datang yang secara langsung berpengaruh ataupun tidak, terhadap dunia pendidikan.
Istilah kurikulum memiliki beberapa tafsiran yang telah dirumuskan oleh para pakar dalam bidang pengembangan
kurikulum. Tafsiran mereka berbeda-beda sesuai dari sudut cara pandang mereka masing-masing tentang kurikulum. Ada yang mengartikan kurikulum lebih dititik beratkan pada isi dan materi pelajaran, ada juga yang dilihat dari sudut pandang kurikulum sebagai rencana pembelajaran serta dari pengalaman peserta didik. Istilah kurikulum berasal dari bahsa latin yakni “curriculae”,artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelajar.21“Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 (19) tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Tujuan Pendidikan Nasioanal pada dasarnya untuk membentuk peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya yang mempunyai ilmu pengetahuan dan tegnologi serta beriman, bertaqwa. Tujuan tersebut mempunyai arti tujuan yang menyeluruh untuk kelangsungan hidup manusia seutuhnya yang paham akan kemajuan teknologi dan era digital yang semakin berkembang dan sadar akan perubahan tersebut
b. Kerangka Dasar Kurikulum 2013
Kerangka dasar Kurikulum 2013 memuat pertimbangan-pertimbangan mendasar atau landasan penyempurnaan Kurikulum 2013, yaitu:
1) Landasan Filosofis
Mengacu pada Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional, sebagaimana yang termaktub di dalam UU 20 Tahun 2003 pasal 3. Pengembangan kurikulum harus berakar pada budaya bangsa, kehidupan bangsa pada masa kini, dan kehidupan bangsa masa datang. Proses pendidikan merupakan suatu proses pengembangan potensi peserta didik sehingga mereka mampu menjadi pewaris dan pengembang budaya bangsa.. Konten pendidikan dari kehidupan bangsa masa kini memberi landasan bagi pendidikan untuk selalu terkait dengan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan, kemampuan berpartisipasi dalam membangun kehidupan bangsa yang lebih baik, dan memposisikan pendidikan yang tidak terlepas dari lingkungan sosial, budaya, dan alam. Landasan Yuridis
Secara yuridis, kurikulum merupakan suatu kebijakan publik yang didasarkan pada landasan filosofis bangsa dan berbagai regulasi di bidang pendidikan. Landasan yuridis Kurikulum 2013 adalah:
c. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; d. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional
e. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional, beserta
segalaketentuan yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional; dand.Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standan Nasional Pendidikan, revisi dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.
2)Landasan Teoritis
Kurikulum 2013 dikembangkan berdasar teori “pendidikan berdasar standar” (standard-based education)dan teori “kurikulum berbasis kompetensi “(competence-based curriculum). Pendidikan berdasarkan standar menetapkan adanya standar nasional sebagai kualitas minimal warga negara yang dirinci menjadi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
c. Tujuan Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Seperti yang telah dikemukakan oleh media Massa, bahwa melalui pengembangan Kurikulum 2013 kita akan menghsilkan insan yang: Produktif, Kreatif, melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Kurikulum 2013 juga bertujuan mengubah sikap pembelajar agar lebih santun melalui nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya. Artinya jika memiliki sikap dan mental yang terpuji maka pembelajar akan mampu menyerap ilmu dengan baik dan tentu menjadi generasi yang bersih. Untuk mendapatkan konsep tertentu, peserta didik harus melakukan proses yang panjang. Begitu pula guru harus mampu mengendalikan diri untuk tidak segera memberitahu dan harus sabar untuk memberi kesempatan peserta didik menemukan konsep dengan usaha sendiri. Dengan proses semacam ini diharapkan peserta didik mendapatkan ilmu yang sesuai dengan kenyataan, tertanam dalam ingatan dalam waktu lama, menjawab berbagai problem hidup, dan mampu menerapkan perolehan tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Suara Merdeka, 24 Maret 2014).
Dalam hal ini kurikulum difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik, keterampilan, dan sikap yang dapat di demonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya secara kontekstual.
C. Kerangka Konsep
Pendidikan karakter dewasa ini selalu di dengung-dengungkan pemerintah perihal kurangnya moral yang baik pada peserta didik zaman sekarang dikarenakan munculnya sikap hedonisme dan pengaruh global yang merenggut masa muda mereka contohnya saja penggunaan sosial media sehingga melupakan lingkungan bermain bahkan berimbas pada pendidikan dan karakter peserta didik . Oleh karena hal mendasar tersebut sangat penting untuk mengingatkan dan mengarahkan mereka untuk memperbaiki karakter atau watak mereka melalui Kurikulum 2013.
Kendati demikian karakter yang mulai terkikis dalam lingkup sekolah pada Gugus I kecamatan Bontomarannu diantaranya Religius, jujur, Disiplin, bekerja keras dan Tanggungjawab, ,. Meskipun ada beberapa hal yang bisa menghambat diantaranya lingkungan keluarga peserta didik , lingkungan masyarakat dan era globalisasi seperti gadget bermain, latar belakang peserta didik yang dapat di lihat dari orang tua peserta didik yang berbeda, tetapi selalu ada faktor yang bisa mendukung hal tersebut sehingga berjalan sesuai dengan harapan seperti dukungan dari guru, lingkungan sekolah yang sangat mendukung akan terlaksananya penanaman karakter anak .
Sehingga apa yang diharapkan bukan hanya dari seorang guru tetapi terkhusus orangtua peserta didik bisa membantu untuk pembentukan karakter yang hampir hilang terkhusus pada peserta didik di SD Gugus I kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa tersebut.
Berdasarkan uraian sebelumnya, bagan kerangka konsep digambarkan sebagai berikut !
Nilai karakter 1. Religius, 2. Jujur, 3.Tanggungjawab, 4. Disiplin, 5. Bekerja keras.
Pendidikan Karakter dalam Kurikulum
2013
Faktor penghambat
Implementasi pendidikan Karakter dalam Kurikulum 2013 pada Siswa di SD Gugus V Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa.
Faktor pendukung.