Pembuatan dan Pengujian Prime Mover Termoakustik Tipe
Gelombang Berjalan
Danang D. Cahyadi*, Masano P. Hutama, Ikhsan Setiawan, Agung B.S. Utomo
Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada Sekip Utara BLS 21, Yogyakarta 55281, Indonesia.
Abstrak – Makalah ini memaparkan tentang pembuatan dan pengujian sebuah prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan. Prime mover termoakustik ini terdiri dari sebuah tabung resonator melingkar, regenerator, dan dua buah penukar panas. Sebuah alat pemanas listrik dengan daya maksimum 700 W dipasang pada penukar kalor panas untuk memberikan energi termal kepada prime mover. Suhu dan tekanan dinamik di dalam resonator masing-masing diukur dengan menggunakan termokopel tipe-K dan transduser tekanan. Hasil pengujian prime mover pada daya input alat pemanas 651 W memberikan hasil sebagai berikut: kondisi onset (kondisi saat prime mover mulai menghasilkan bunyi) terjadi ketika beda suhu di antara kedua ujung regenerator sebesar 763,9 C, waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi onset adalah 28 menit, gelombang bunyi yang dihasilkan memiliki frekuensi 289 Hz, dan amplitudo tekanan sebesar 1,4 kPa. Hasil-hasil tersebut mengindikasikan bahwa prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan ini telah dapat beroperasi dengan baik. Berbagai upaya peningkatan amplitudo tekanan masih perlu dilakukan, sebagai contoh agar dapat menggerakkan alternator linear untuk menghasilkan energi listrik.
Kata kunci: prime mover, termoakustik, regenerator, kondisi onset, frekuensi, amplitudo tekanan
Abstract – This paper describes the development and testing of a travelling wave prime mover. The thermoacoustic
prime mover mainly consists of a looped-tube resonator, a regenerator and two heat exchangers. An electric heater with a maximum power of 700 W was installed at the hot heat exchanger to provide thermal energy to the prime mover. The temperatures and dynamic pressure within the resonator was measured using type-K thermocouples and pressure transducers. The prime mover was tested using an electric input power 651 W for the heater and achieved an onset condition or a condition when the prime mover begin to produce sound. The onset condition occurred when the
temperature difference between the both ends of regenerator was 763.9 C and the time required to achieve the onset
condition was 28 minutes. Frequency and pressure amplitude of the generated sound were 289 Hz and 1,4 kPa, respectively. These results indicated that the travelling wave prime mover thermoacoustic has been able to operate properly. Though, various effort to increase the pressure amplitude is still need to enhance the thermoacoustic prime mover capability, for example to drive a linear alternator in order to generate electricity.
Keywords: prime mover, thermoacoustic, regenerator, frequency, pressure amplitude
I. PENDAHULUAN
Termoakustika merupakan sebuah bidang kajian tentang interaksi termal antara kalor dan bunyi, yaitu tentang konversi energi termal menjadi energi akustik dan sebaliknya yaitu mengubah energi akustik menjadi energi termal (memompa kalor). Alat yang digunakan untuk mengubah energi termal menjadi energi akustik disebut prime mover termoakustik (thermoacoustic prime
mover), sedangkan perangkat yang memompa kalor dari
tandon kalor suhu rendah ke tandon kalor suhu tinggi disebut pompa kalor termoakustik (thermoacoustic heat
pump) atau alat pendingin termoakustik (thermoacoustic refrigerator).
Perangkat termoakustik telah menarik banyak minat dan perhatian para peneliti dalam beberapa tahun belakangan ini karena bersifat ramah lingkungan, memiliki struktur dan konfigurasi yang sederhana dan daya tahan yang tinggi sehingga dapat dibuat dan dirawat dengan relatif mudah dan murah. Secara khusus,
pengoperasian prime mover termoakustik dapat
menggunakan energi termal matahari [1,2] atau limbah kalor (waste heat) [3] sebagai sumber energi termal input, dan tidak menghasilkan gas buang seperti karbon dioksida yang dihasilkan oleh mesin-mesin konvensional. Di sisi lain, alat pendingin termoakustik dapat menggunakan gas-gas inert seperti udara dan gas-gas mulia sebagai zat kerja [4], tidak menggunakan gas freon dan sejenisnya, sehingga tidak berbahaya terhadap lingkungan.
Disamping banyak keunggulannya, prime mover termoakustik memiliki kekurangan, yaitu secara umum efisiensinya rendah. Sejauh ini, efisiensi termal prime
mover termoakustik tipe gelombang berjalan (travelling wave) sebatas 30% yang dibuat oleh Backhauss dan Swift
[6]. Perangkat termoakustik prime mover tipe gelombang berjalan memiliki efisiensi termal lebih tinggi dari prime
mover tipe gelombang berdiri (standing wave) yang
umumnya terbatas 20% [5,6]. Hal tersebut terjadi karena
prime mover tipe gelombang berdiri bekerja dengan
tak-reversibel, berbeda dengan prime mover tipe gelombang berjalan yang beroprasi dengan siklus Stirling yang secara inheren bersifat reversibel.
Meskipun prime mover termoakustik secara umum memiliki efisiensi termal yang rendah, kemampuan perangkat tersebut bekerja dengan menggunakan limbah kalor membuat penerapan prime mover termoakustik menjadi menarik dan menguntungkan untuk meningkat-kan efisiensi sistem termal secara keseluruhan. Prime
mover termoakustik biasanya diaplikasikan untuk
membangkitkan energi listrik dengan cara mengga-bungkannya dengan sebuah alternator linear [7,8]. Selain itu, apabila prime mover termoakustik dikombinasikan dengan alat pendingin termoakustik, maka dapat diperoleh sebuah sistem pendingin tanpa bagian yang bergerak [9,10].
Penelitian tentang prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan di dunia masih terus dilakukan, salah satunya dilaporkan oleh Abduljalil [11] yang meneliti tentang efisiensi pada mesin prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan. Penelitian ini menggunakan tabung melingkar dengan kalkulasi numerik yang diproses menggunakan perangkat lunak DeltaEC. Penelitian lainnya dilakukan oleh Jacobs [12] melakukan desain dan konstruksi serta penelitian eksperimental tentang prime mover termoakustik dengan fokus mengukur suhu onset, densitas daya akustik output dan efisiensi.
Makalah ini memaparkan tentang rancang bangun sebuah prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan serta pengujiannya secara eksperimen. Dalam bab selanjutnya, prinsip–prinsip dasar prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan disajikan. Setelah
itu komponen perangkat termoakustik mencakup
regenerator, penukar kalor (ambient heat exchanger, hot heat exchanger) dan resonator, diuraikan bersama dengan
penjelasan tentang peralatan eksperimen dan susunannya. Berikutnya hasil eksperimen ditampilkan dan dibahas, dan setelah itu diakhiri dengan kesimpulan.
II. LANDASAN TEORI
A. Prinsip-prinsip Dasar Prime Mover Termoakustik Tipe Gelombang Berjalan
Perangkat prime mover termoakustik terdiri dari tabung resonator, regenerator, gas kerja dan dua buah penukar kalor. Tabung resonator diisi dengan gas kerja seperti udara, gas mulia atau gas-gas inert lainnya.
Regenerator diapit oleh penukar kalor panas (hot heat exchanger/HHX) dan penukar kalor lingkungan (ambient heat exchanger/AHX). Gabungan regenerator dan dua
buah penukar kalor diletakkan di dalam tabung resonator. Kedua penukar kalor akan memberikan gradien suhu yang besar sepanjang regenerator yang searah sumbu resonator. Gradien suhu tersebut diperlukan agar proses konversi energi secara termoakustik dapat terjadi. Beda suhu minimum antara kedua ujung regenerator yang diperlukan untuk memulai osilasi spontan gas kerja (bangkitnya gelombang bunyi) disebut beda suhu onset
Mekanisme terbangkitnya gelombang bunyi dalam hal ini dapat dijelaskan dengan mengikuti hal-hal yang terjadi pada sebuah paket gas di dalam saluran pada
regenerator (menggunakan cara pandang Lagrangian
makroskopik). Proses-proses yang secara pendekatan dijalani oleh sebuah paket gas diilustrasikan secara
Gambar 1. Empat tahap proses termodinamik yang dialami
oleh gas (diadaptasi dari Panhuis, 2009).
skematik oleh Gambar 1, dalam hal ini sisi panas berada di sebelah kanan, sisi dingin sebelah kiri dan pusat paket gas dianggap berjarak satu kali kedalaman penetrasi ternal gas kerja. Paket gas menjalani sebuah siklus termodinamik yang terdiri dari empat tahap [13]. Pada tahap (1) paket gas mengalami kompresi isotermal di dekat sisi dingin regenerator sehingga volume paket gas mengecil dan usaha sebesar dW1 dilakukan pada paket
gas oleh lingkungannya. Selanjutnya pada tahap (2) paket gas bergerak menuju sisi panas regenerator dan pada saat yang bersamaan paket gas mengalami pemanasan pada volume konstan dengan menyerap kalor dQ1 dari dinding
pori regenerator sehingga pada saat itu usaha dW dilakukan pada paket gas. Kemudian, pada tahap (3) paket gas mengalami ekspansi isotermal di dekat sisi panas regenerator sehingga volume paket gas membesar dan paket gas melakukan usaha sebesar dW1. Selanjutnya
regenerator dan pada saat yang bersamaam paket gas
mengalami pendinginan pada volume konstan dengan melepaskan kalor dQ2 ke dinding pori regenerator dan
paket gas melakukan usaha ̍ pada lingkungan
.
Gambar 2. memperlihatkan skema diagram tekanan dan volume untuk keempat proses termodinamik yang dijalani oleh paket gas sebagaimana tersebut di atas. Proses tersebut terjadi berulang-ulang dan tiap proses menghasilkan usaha netto dW1 – dW2 yang dilakukan oleh
paket gas berupa munculnya gelombang bunyi (kerja akustik).
Gambar 2. Skema diagram tekanan-volume yang dijalani oleh paket gas.
B. Beberapa Parameter dalam Perangkat Termoakustik
Dalam perangkat termoakustik, ada beberapa
parameter yang berperan penting menentukan kualitas mesin termoakustik yang digunakan. Parameter yang pertama adalah kedalaman penetrasi termal ( ) yang merupakan jarak difusi kalor yang dapat menyebar di dalam gas selama interval waktu satu periode osilasi akustik osilasi akustik . Kedalaman penetrasi termal merupakan jarak yang diukur dari dinding pori
regenerator dan dirumuskan sebagai [14].
(1) dengan adalah konduktifitas termal gas kerja, adalah frekuensi anguler gelombang bunyi, adalah massa jenis rerata gas kerja dan adalah kapasitas kalor gas kerja dan adalah difusivitas termal gas yaitu . Paket gas yang berada cukup jauh dari dinding kanal ( ) tidak merasakan kontak termal dengan dinding kanal dan hanya mengalami kompresi dan ekspansi isotermal secara adiabatik.
Selain kedalaman penetrasi termal, ukuran kanal
regenerator yang tepat harus dipilih. Untuk melakukan
hal ini, nilai parameter perlu ditinjau, dengan adalah
waktu relaksasi termal pada penampang lintang kanal
regenerator yang diungkapkan sebagai [15]
(2) dengan rh adalah jejari hidrolik kanal regenerator. Dari
Pers. (1) dan Pers. (2), diperoleh ungkapan parameter sebagai
(3) Apabila , gas di dalam kanal akan bergerak secara reversibel dan suhunya selalu sama dengan suhu dinding lokal, sedangkan apabila , maka gerak gas bersifat isentropik tetapi secara pendekatan masih bersifat reversibel. Osilasi gas secara termodinamik bersifat irreversibel sebagai akibat dari adanya transfer kalor tak sempurna ke dinding kanal ketika [16]. Perangkat-perangkat termoakustik tipe gelombang berjalan dapat bekerja dengan baik dalam kondisi [13]. Oleh karena itu, diperlukan ukuran pori atau jejari hidrolik regenerator yang jauh lebih kecil dibandingkan kedalaman penetrasi termal di dalam perangkat-perangkat termoakustik tipe gelombang berjalan.
C. Pemilihan Desain dan Pembuatan Prime Mover Termoakustik Tipe Gelombang Berjalan
Diagram skematik prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan dengan resonator melingkar yang dibuat pada penelitian ini ditunjukkan oleh Gambar 4. Di dalam resonator terdapat regenerator, penukar kalor panas (HHX), penukar kalor lingkungan (AHX) dan udara biasa dengan tekanan atmosfer (1 atm) dan suhu kamar (27 C) dengan cepat rambat bunyi di udara ( ) sekitar 348 m/s.
Resonator terbuat dari pipa baja anti karat
(stainless-steel) dengan diameter nominal 2,5 inci dan diameter
dalam 68 mm yang saling disambung-sambung dengan menggunakan flange baja antikarat. Resonator dibentuk melingkar agar mampu menghasilkan gelombang berjalan yang memiliki beda fase antara osilasi kecepatan dan osilasi tekanan mendekati 0. Resonator melingkar ini memiliki panjang (keliling) total ( ) sebesar 3,64 m
dan membentuk sebuah resonator satu panjang
gelombang. Oleh karena itu, frekuensi-frekuensi harmonik diperkirakan sesuai dengan rumus
(4) dengan = 1, 2, 3, ... adalah orde harmonik dan adalah cepat rambat gelombang bunyi di dalam resonator. Dengan demikian, frekuensi harmonik pertama, kedua, dan ketiga berturut-turut diperkirakan sebesar 95,6 Hz, 191,2 Hz, dan 286,8 Hz.
Selanjutnya, dengan menggunakan nilai frekuensi ini dan nilai-nilai besaran-besaran udara pada tekanan 1 atm dan suhu 27 °C, serta dengan menggunakan Pers. (1), diperoleh bahwa nilai kedalaman penetrasitermal ( di udara pada kondisi tersebut di dalam resonator adalah sebesar 0,27 mm.
Regenerator diapit diantara dua buah penukar kalor,
seperti dapat ditunjukkan oleh skema dalam Gambar 2.
Regenerator dibuat dari tumpukan yang rapat
lembaran-lembaran kasa kawat (wire mesh) baja antikarat yang rapat sehingga panjang regenerator mencapai 4 cm. Dipilih kasa kawat dengan nomor kasa 40 (yaitu 40 pori/inci) yang memiliki diameter kawat ( ) sebesar 0,2 mm. Jejari hidrolik regenerator diperkirakan dengan menggunakan persamaan [17, 18]
(5) dengan adalah porositas regenerator yang ditaksir dengan menggunakan persamaan [17, 18]
(6)
sehingga diperoleh dan = 0,15 mm.
Selanjutnya, digunakan sebuah model pendekatan yang telah teruji untuk regenerator kasa kawat, yaitu larik (array) tabung-tabung berpenampang lingkaran. Dalam model ini, jejari penampang tabung diwakili oleh besaran yang disebut jejari lingkaran efektif [19], yang diungkapkan sebagai
(7) Jejari efektif ini tidak lain adalah jejari hidrolik dari
regenerator larik tabung-tabung berpenampang
lingkaran. Untuk regenerator yang digunakan dalam penelitian ini, nilai jejari efektifnya adalah 0,12 mm. Dengan demikian, untuk prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan yang dibuat pada penelitian ini
mempunyai 0,31.
Tepat di sebelah kanan regenerator, dipasang penukar kalor panas (HHX) terdiri sebuah alat pemanas listrik berupa kawat fleksibel yang terbungkus (sheathed
flexible cable heater) dan sebuah inti berupa blok
tembaga yang berlubang-lubang. Alat pemanas tersebut (model 2M-2-400) memiliki daya input maksimum 700 W dan digulung pada blok tembaga. Blok tembaga memiliki banyak lubang kanal kecil yang memungkinkan gas berosilasi di sepanjang kanal tersebut. Penukar panas ini akan menyalurkan kalor kepada prime mover termoakustik. Daya input alat pemanas diatur dengan
variac dan dihitung dari perkalian tegangan dan arus
listrik dari masing-masing voltmeter dan ampermeter. Di sisi kiri regenerator dipasang sebuah blok tembaga yang juga memiliki lubang kanal kecil. Di bagian luar dipasang sistem keluar-masuk air yang dialirkan dari dan ke tandon air. Gabungan blok tembaga dan sistem keluar-masuk air membentuk penukar kalor lingkungan (AHX). Selain itu, dua buah pipa tipis baja antikarat diletakkan di dalam pipa resonator untuk menahan regenerator dan kedua blok tembaga pada tempatnya.
Tiga buah termokopel tipe-K (model T35105) TP dan
TD masing-masing digunakan untuk mengukur suhu
ujung panas dan suhu ujung dingin pada regenerator. Termokopel yang ketiga, TR digunakan untuk mengukur
suhu di lokasi yang ditunjukkan oleh Gambar 3. Tekanan-tekanan dinamik gelombang bunyi di dalam
resonator di tujuh lokasi yang berbeda, diukur menggunakan transduser tekanan Kyowa PGM-10KH. Lokasi pemasangan termokopel dan transduser tekanan dapat dilihat pada Gambar 3. Termokopel dan transduser tekanan dihubungkan ke sebuah data logger yang dikendalikan dengan komputer.
Gambar 3. Skema peralatan penelitian.
III. PENGUJIAN PRIME MOVER TERMOAKUSTIK
Prime mover termoakustik yang telah dibuat
dioperasikan dengan cara menyalurkan energi termal (kalor) kepada mesin termoakustik melalui penukar kalor panas dengan daya listrik input 651 W. Diamati besar suhu sisi panas (TP) dan suhu sisi dingin (TD) regenerator
ketika terjadi onset, yaitu saat awal terjadinya pembangkitan gelombang bunyi. Suhu referensi (TR) juga
diamati untuk membantu mengidentifikasi terjadinya onset. Dari sini, beda suhu onset ( Tonset) dapat diketahui.
Selain itu, amplitudo tekanan gelombang bunyi yang dihasilkan dicari melalui sinyal tekanan dinamik yang dideteksi oleh transduser-transduser tekanan yang dihubungkan dengan sebuah data logger dan komputer, dengan periode sampling 1 ms. Frekuensi gelombang bunyi kemudian ditentukan dari spektrum frekuensi yang diperoleh dengan melakukan transformasi Fourier cepat (Fast Fourier Transform, FFT) dari sinyal osilasi tekanan gelombang bunyi yang dihasilkan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian yang dilakukan dengan menggunakan daya input pemanas listrik sebesar 651 W memberikan hasil
pengukuran suhu-suhu sebagai fungsi waktu yang ditunjukkan oleh grafik dalam Gambar 4. Terlihat bahwa mula-mula suhu ujung panas regenerator (TP) meningkat
dengan cepat, sedangkan suhu ujung dingin regenerator (TD) meningkat secara lebih lambat. Suhu TR meningkat
secara lambat namun lebih cepat dibandingkan
peningkatan suhu TD. Beda suhu antara kedua ujung
regenerator adalah T = TP – TD, yang bertambah besar
secara cepat seiring dengan kenaikan suhu ujung panas
regenerator. Setelah pemanas dihidupkan selama 28
menit kondisi onset tercapai. Di dalam Gambar 4 hal ini diindikasikan oleh adanya perubahan yang mencolok pada nilai- nilai TR dan TP. Dalam hal ini, diperoleh besar
beda suhu onset ( Tonset) untuk prime mover termoakustik
ini adalah sekitar 763,9˚C. Pada saat onset, nilai TR
menurun tajam karena adanya gelombang bunyi dan efek
mass streaming yang mengakibatkan kalor yang
terkumpul di tempat itu tersebar secara cepat ke arah sisi kanannya. Hal tersebut juga menyebabkan terjadinya sedikit penurunan suhu TP, namun karena kalor terus
diberikan oleh alat pemanas di lokasi ini maka suhu TP
kembali meningkat. Selain itu, gelombang bunyi tersebut juga menyebarkan kalor ke arah sisi dingin regenerator, sehingga suhu sisi dingin regenerator (TD) juga
meningkat secara mencolok pada saat onset. Adanya peningkatan TD tersebut selanjutnya (setelah onset)
menyebabkan beda suhu antara kedua ujung regenerator hanya dapat meningkat secara relatif lebih lambat dibangingkan peningkatan suhu sebelum onset, meskipun kalor terus diberikan oleh alat pemanas ke ujung panas
regenerator. Setelah pemanas dimatikan, sekitar 8 menit
kemudian bunyi yang dihasilkan akan lenyap kondisi tersebut dinamakan kondisi offset.
Gambar 4. Grafik suhu sebagai fungsi waktu.
Kehadiran gelombang bunyi dapat didengar oleh peneliti selain itu juga dapat dideteksi dengan menggunakan transduser-transduser tekanan. Contoh sinyal yang diperoleh data logger dan komputer disimpan dalam dokumen Excel dan dapat diplot kembali sebagaimana ditampilkan oleh Gambar 5 untuk kurun waktu 1 detik. Selanjutnya, dengan melakukan transfor-masi Fourier cepat terhadap sinyal dalam Gambar 5, sebuah spektrum frekuensi dapat diperoleh, seperti
ditunjukkan oleh Gambar 6. Dari Gambar 6 tersebut diketahui bahwa gelombang bunyi yang dihasilkan memiliki amplitudo tekanan sekitar 1,4 kPa dan frekuensi 289 Hz.
Gambar 5. Grafik sinyal osilasi tekanan selama 1 sekon.
Gambar 6. Spektrum frekuensi hasil FFT dari sinyal dalam Gambar 5.
Amplitudo tekanan sebesar 1,4 kPa masih tergolong relatif kecil apabila akan digunakan, misalnya, untuk menggerakkan alternator linear untuk membangkitkan energi listrik. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai upaya peningkatan amplitudo tekanan gelombang bunyi yang dihasilkan oleh prime mover termoakustik ini.
Nilai frekuensi yang terukur (289 Hz) mendekati nilai perkiraan frekuensi harmonik ketiga sebesar 286,8 Hz. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata prime mover termoakustik ini membangkitkan bunyi yang memiliki 3 panjang gelombang di dalam resonator. Masih perlu dipelajari mengapa hal demikian dapat terjadi.
Selain itu, Gambar 6 juga memberi informasi bahwa masih banyak terdapat gangguan (noise) sinyal tekanan dinamik yang direkam, di antaranya yang cukup nyata adalah sinyal berfrekuensi 50 Hz yang berasal dari sumber daya listrik PLN. Selain itu, gangguan sinyal tekanan juga dapat timbul dari getaran resonator. Dalam penelitian selanjutnya, permasalahan ini perlu diatasi. V. KESIMPULAN
Sebuah prime mover termoakustik tipe gelombang berjalan telah berhasil dibuat dan telah diuji dengan hasil baik. Pengujian dilakukan dengan daya listrik input alat
pemanas sebesar 651 W. Diperoleh beda suhu onset sebesar 763,9˚C dengan waktu untuk mencapai kondisi
onset adalah 28 menit. Selain itu, gelombang bunyi yang
dihasilkan memiliki frekuensi 289 Hz (harmonik ketiga) dengan amplitudo tekanan sekitar 1,4 kPa.
Dalam penelitian selanjutnya yang diperlu dilakukan diantaranya adalah upaya peningkatan amplitudo tekanan
gelombang bunyi yang dihasilkan, mempelajari
mekanisme seleksi harmonik gelombang bunyi yang terbangkit, dan upaya menekan gangguan (noise) dalam sistem akuisisi data.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Makoto Nohtomi dari Universitas Waseda, Jepang, atas dukungan beberapa peralatan yang digunakan dalam penelitian ini.
PUSTAKA
[1]. R.L. Chen dan S.L. Garret, Solar/heat-driven thermoacoustic engine, J. Acoust. Soc. Am. Vol. 103, 1998, hal. 2841.
[2]. J.A. Adeff dan T.J. Hoffler, Design and construction of solar-powered, thermoacous-tically driven, thermoacoustic refrigerator, J. Acoust. Soc. Am. Vol. 107, 2000, L37-L42.
[3]. D.L. Gardner dan C.Q. Howard, Waste-heat-driven thermoacoustic engine and refri-gerator, Proc. of Acoustics, 2009, Australian Acoust. Soc., Adelaide, Australia.
[4]. M.E.H. Tijani, Loudspeaker-driven thermoacoustic refrigeration, Tesis Ph.D., 2001, Technische Universiteit Eindhoven, Belanda.
[5]. G.W. Swift, Analysis and performance of a large thermoacoustic engine, J. Acoust. Soc. Am. Vol. 92, 1992, hal. 1551-1563.
[6]. S. Backhaus dan G.W. Swift, A thermoacoustic-Stirling heat engine: Detailed study, J. Acoust. Soc. Am. Vol. 107, 2000, hal. 3148-3166.
[7]. S. Backhaus, E. Tward dan M. Petach, Traveling-wave thermoacoustic electric generator, App. Phys. Lett. Vol. 85, 2004, hal. 1085-1087.
[8]. Y. Kitadani, S. Sakamoto, K. Sahashi dan Y. Watanabe, Basic studi for practical use of thermoacoustic electric generation system, Proc. 20th Int’l Congr. Acoust., 2010, Australian Acoust. Soc., Sidney.
[9]. B. Yu, E.C. Luo, S.F. Li, W. Dai dan Z.H. Wu, Experimental study of a thermo-acoustically-driven traveling wave thermo-acoustic refrigerator, Cryogenics Vol. 51, 2011, hal. 49-54.
[10]. P. Saechan, H. Kang, X. Mao dan A.J. Jaworski, Thermoacoustic refrigerator driven by a combustion powered thermoacoustic engine – Demonstrator of device for rural areas of develoving countries, Proc. World Congr. Engineering, 2013, London, UK.
[11]. Abduljalil, S. A., Investigation of Thermoacoustic Precesses in A Travelling Wave Looped-tube Thermoacoustic Engine, Thesis, University of Manchester, Inggris, 2012
[12]. Jacobs, J. C. B., Design, Construction and Experimental Observation of A Thermoacoustic Prime Mover, Thesis, Delft University of Technology, Belanda, 2014
[13]. In’t Panhuis, P. H. M. W., Mathematical Aspect of Thermoacoustics, Thesis, Eindhoven University of Technology, Jerman, 2009
[14]. Saechan, P., Applicatiom of Thermoacoustic Technologies for Meeting The Refigerator Needs of Remotes and Rural Comunities in Developing Countries, Leinchester University, Jerman, 2014
[15]. Setiawan, I., Murti, P., Achmadin, W., N., Nohtomi, M., Design, Construction, and Evaluation of A Standing Wave Thermoacoustic Prime Mover, AIP Coference Proceeding Vol. 1717, 2016, 050006
[16]. T. Yazaki, A. Iwata, T. Maekawa dan A. Tominaga, Traveling wave thermoacoustic engine in a looped tube, Phys. Rev. Lett. Vol. 81, 1998, hal. 3128-3131.
[17]. G.W. Swift, Thermoacoustics: A unifying persfective for some engines and refrigerators, Acoust. Soc. Am., 2002, New York, USA.
[18]. Setiawan, I., Murti, P., Achmadin, W., N., Nohtomi, M., Experimental Study On A Standing Wave Thermoacoustic Prime Mover with Air as Working Gas at Various Pressure, Journal of Physics : Conference Series Vol. 710, 2016, 012031
[19]. Y. Ueda, T. Kato dan C. Kato, Experimental evaluation of the acoustic properties of stacked-screen regenerators, J. Acoust. Soc. Am. 125, 2009, hal. 780-786
TANYA JAWAB Anonim
Apakah harus harmonik dan apakah harus harmonik 3?
Danang, UGM