Orasi Ilmiah Mohtar Masoed Dies Natalis UGM

21 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Renungan Akhir Tahun tentang Tanggung Jawab Penyelenggaraan Layanan Publik

Pidato

Disampaikan pada Rapat Terbuka dalam Rangka Peringatan Dies Natalis ke-62

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 19 Desember 2011

oleh:

(2)

Tim Penyusun:

Prof. Dr. Mohammad Mohtar Mas'oed Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc.

Prof. Dr. Bambang Purwanto Prof. Dr. Suwardjono, M.Sc.

Prof. Dr. M. Noor Rochman Hadjam, S.U. Prof. Ir. Wahyudi Budi Sediawan, S.U., PhD. Prof. Dr. SM. Widyastuti

Prof. Dr. Ir. Indarto, D.EA

Yth. Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Gadjah Mada,

Yth. Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada,

Yth. Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik Universitas Gadjah Mada,

Yth. Rektor dan Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada,

Yth. Dosen, Mahasiswa, dan Civitas Akademika Universitas Gadjah Mada,

Para hadirin sekalian yang saya hormati, Selamat pagi,

Assa/amu'alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh,

Pertama-tama, perkenankan saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada siapa saja yang telah bekerja keras membuat Universitas Gadjah Mada bisa berkembang menjadi seperti sekarang. Semoga Allah memberikan imbalan pahala yang berlimpah kepada beliau­ beliau itu. Dengan izin Allah karya monumental ini kiranya akan terus memberi manfaat bagi lingkungan sekitamya, bagi bangsa Indonesia dan bagi kemanusiaan umumnya. Insya Allah.

(3)

Di pagi yang penuh kebahagiaan dan rasa syukur memperingati Dies Natalis ke-62 UGM, izinkan saya mengajak Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara yang hadir untuk memper­ bincangkan kondisi layanan publik di negeri ini, terutama yang berkaitan dengan pendidikan tinggi. Mungkin tidak ada yang baru dalam pembicaraan ini. Tetapi kalau sesudah ini semakin banyak yang tergugah perhatiannya dan ikut memikirkan jalan keluar dari kesulitan ini, tercapailah sudah tujuannya.

Majelis Dies Natalis ke-62 UGM yang terhormat,

Saya tidak tahu apakah kita bisa memakai kata "annus horribilis" untuk menggambarkan apa yang terjadi di dunia akhir-akhir ini. Tetapi yang dialami sebagian besar penghuni dunia dewasa ini dekat dengan pengertian konsep itu, "sarwa cilaka." Oi berbagai bagian dunia, manusia mengeluh. Oi antara banyak keluhan itu, satu tema pokok mencuat: kekecewaan pada layanan publik yang tidak memadai.

Sebagian besar konstitusi yang dibuat dan diterapkan oleh berbagai bangsa, untuk mengatur kehidupan kolektifnya sehari-hari, umumnya memuat satu konsensus, yaitu bahwa negara adalah kesepakatan kolektif demi memajukan kepentingan bersama. Oalam teori dan praktik politik modern, negara didirikan untuk melayani warganya.

Nampaknya, inilah yang diperkarakan akhir-akhir ini oleh banyak warga di berbagai negara. Kinerja negara dalam menjalankan kewajiban konstitusionalnya dipertanyakan kembali. Negara digugat, dimana-mana. Cerita "rakyat gugat" muncul seperti cerita bersambung di media massa beberapa tahun belakangan ini. Gugatan yang meruyak, menyebar dan meng-global.

Misalnya, cerita menggetarkan lentang lindakan Mohammad Bouazizi, dari kola kedl Sidi Bouzid, Tunisia.

(4)

Pemuda lulusan perguruan tinggi dengan keahlian komputer ini tidak memperoleh pekerjaan tetap. Ketika mencoba mencari nafkah dengan menjual buah-buahan dan sayuran di kaki-lima, gerobaknya dirampas petugas kotapraja karena dia berjualan tanpa-izin; dia sendiri dipukuli dan dipermalukan. Tak lama sesudah itu, ia protes di depan kantor Gubernur dengan membakar diri. Tanggal 4 Januari 2011 ia mati pad a umur 26 tahun.

Tindakan ini sangat mencekam dan, kemudian, meng­ guncang kesadaran masyarakat. Kejadian itu menggambarkan betapa mendalamnya persoalan sosial yang mereka hadapi, terutama pengangguran dan akibat ikutannya. Sehari setelah Bouazizi bakar-diri, 18 Desember 2010, rakyat dipelopori kaum muda berdemonstrasi di Tunis dan kota-kota lain di Tunisia. Teknologi "new media" memungkinkan gerakan itu menyebar dan memperoleh dukungan semakin kuat. Hasilnya, kekuasa­ an Presiden Zein al Abidin runtuh.

Kejadian ini juga mencengangkan, terutama karena terjadi di wilayah yang selama ini dikenal tenteram. Keamanan, kestabilan politik dan modernitas sosial-ekonomi Tunisia selama ini membuatnya menjadi tujuan populer turis manca­ negara. Banyak pengamat tidak menduga akan terjadi perlawanan rakyat Tunisia, apalagi seluas itu. Kini, Tunisia sudah berubah dan bisa menjadi "model" baru bagi perubahan di Timur Tengah.

Bagaikan tsunami, hentakan martyr Tunisia itu meng­ guncang kawasan tetangganya dan menimbulkan gelombang pergolakan melawan pemerintah yang mengabaikan rakyat­ nya. Pembangkangan sipil ini menyebar melampaui kawasan di tepian Mediterania itu. Peralatan dan cara kerja "new media"

membuat hentakan Tunisia itu meng-global. Bagaikan kobaran api, percikan pemberontakan itu berlompatan ke berbagai penjuru. Sementara masih berlompatan dan hinggap di

(5)

berbagai negara di Timur Tengah, seperti ke Aljazair, Arab Saudi, Bahrain, Libya, Maroko, Mesir, Syria, Yaman dan sekitarnya, percikan itu juga diduga "membakar" para aktivis di Amerika Utara dan Eropa Barat yang demam "occupy".

Begitulah, keprihatinan itu membuana. Yaitu, kepri­ hatinan yang muncul akibat semakin parahnya ketimpangan sosial-ekonomi di seluruh dunia. Ketimpangan yang dilihat sebagai akibat dari merosotnya peran negara dalam pengelolaan kehidupan masyarakat dan peningkatan peran ideologi dan mekanisme pasar dalam menentukan arah kebijakan publik. Upaya penyadaran itu memunculkan slogan

"we are the 99%", untuk menggambarkan banyaknya anggota kelas menengah mengalami kemerosotan kehidupan materiil sehingga masuk ke dalam lapisan di bawahnya. Joseph Stiglitz malah menggambarkan fenomena itu sebagai "the 99,9% vs the 0, 1%". Begitu sedikitnya orang yang menguasai begitu banyak kekayaan dan begitu banyaknya orang yang menderita di sampingnya.

Sebagai simbolisasi betapa pentingnya kejadian­ kejadian ini. Majalah Time ketika memilih calon "Person of the

Year 2011" menjatuhkan pilihannya pad a "The Protestet" yang memenuhi halaman muka banyak media massa dan menjejali

new media sepanjang tahun ini. Annus horribilis.

Para hadirin yang mulia,

Kita tidak kalis dari persoalan itu. Walaupun berbeda dalam hal intensitas maupun magnitude-nya, keprihatinan yang serupa memunculkan keluhan yang sama di sini. Beberapa tahun terakhir, media massa, seperti TV dan koran, maupun saluran baru new media, melaporkan banyaknya demonstrasi dan kritik di berbagai kota di Indonesia mengenai layanan publik, termasuk mengenai bidang pendidikan. Dalam hal pendidikan tinggi, yang menonjol adalah isyu biaya yang

(6)

semakin mahal dan semakin banyak dibebankan pada warga masyarakat. Dalam be rita itu umumnya, negara digambarkan sebagai aktor yang menghadapi banyak kendala sehingga nampak "dis-oriented", tidak bisa menanggapi dengan baik masalah ketimpangan-sosial yang sebagian diakibatkan oleh tindakannya.

Bagaimana memahami semua ini?

Perbincangan ringkas ini mencoba menunjukkan bahwa keprihatinan yang muncul di kejauhan, di wilayah Maghribi itu, yang diteriakkan dengan membahana dan membuana itu, juga merupakan keprihatinan kita. Uraian sederhana ini juga berusaha memahami keprihatinan itu berkaitan dengan kemerosotan peran negara sebagai penyedia layanan publik bagi warganya.

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara yang terhormat,

Seperti halnya bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dari imperialisme pada abad ke-20, para pendiri Republik Indonesia juga meyakini suatu faham bahwa negara modern adalah suatu "collective self-rule". Dengan demikian, ia didirikan untuk melayani kepentingan rakyat, yang sesudah kemerdekaan menikmati posisi sebagai warga negara yang memiliki hak azasi ("citizenship rights'). Unit kolektif itu, yaitu negara modern yang merdeka, diperlukan untuk membantu sehimpunan besar orang-orang yang lama terjajah Inl menangani masalah kolektif mereka. Terutama masalah­ masalah yang muncul akibat kesengsaraan hidup tidak sehat, bodoh, dan miskin. Upaya untuk keluar dari tiga kungkungan itu diyakini tidak mungkin dilakukan secara individual. Itulah nalar yang mendasari pembentukan institusi publik untuk menjamin pemenuhan kebutuhan akan public goods, seperti kesehatan, kecerdasan, dan kesejahteraan.

(7)

Dengan kata lain, kita merdeka karena kita ingin mendirikan negara dengan warga yang sehat, sehingga bisa belajar menjadi cerdas, dan mengusahakan kehidupan yang sejahtera. Pad a gilirannya, itu semua diharapkan akan menjadi landasan untuk mengembangkan kebudayaan bangsa. Wacana dan tindakan para pemimpin kemerdekaan Indonesia menunjukkan bahwa kesehatan, kecerdasan, kesejahteraan dan ke-berbudaya-an merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Baik sebagai tujuan maupun sebagai sarana untuk mencapai cita-cita.

Yang diciptakan oleh para pemimpin kemerdekaan, melalui konsensus konstitusional tahun 1945, adalah negara yang diwajibkan aktif memimpin penanganan dan penyelesai­ an persoalan dasar yang dihadapi warga yang terlalu lama berada di bawah penindasan kuasa asing. Termasuk yang ditekankan adalah peran negara sebagai penjamin layanan publik dasar, yang diperlukan bagi warga untuk mengem­ bangkan potensi dirinya. Bagi individu warganya, negara modern adalah "instrumen emansipatoris" untuk mencapai keadilan sosial. Penyelenggara urusan negara bertanggung jawab atas "emansipasi" warga negara.

Suasana zaman dan moral pada pertengahan abad ke-20 itu memungkinkan penerimaan faham kolektif dengan lebih mudah. Persoalan dasar seperti sakit, bodoh dan miskin dianggap sebagai persoalan kolektif dan memerlukan penyelesaian kolektif, tidak boleh dibiarkan untuk ditanggung sendiri oleh individu penderita. Penyediaan public goods

memerlukan campur tangan institusi publik.

Agar dapat menjalankan tugas itu, negara yang dimaksud harus kuat, yaitu para pemimpinnya berpegang teguh pada kesepakatan bersama, tidak mudah diombang­ ambingkan oleh berbagai pengaruh kepentingan dan berwawasan sempit. Negara itu juga harus mandiri, yaitu para

(8)

aparatnya bisa menetapkan arah kebijakan sendiri, merumus­ kan kebijakan sendiri dan mengelola pengorganisasian penerapan kebijakan itu dengan efektif. Dengan kemampuan itu, kewibawaan pemerintahan dalam pandangan warganya akan terjamin.

Dalam kaitan dengan pemanfaatan wewenang negara untuk melakukan perubahan ini, pendidikan mendapat tempat istimewa. Para pemimpin pendiri Republik Indonesia meman­ dang pendidikan sebagai kelanjutan dari upaya memerdeka­ kan Indonesia, yaitu mendorong munculnya warganegara dengan pikiran dan tindakan merdeka. Perguruan tinggi dipandang sebagai sarana memerdekakan warganegara dan meneguhkan budaya bangsa melatui pendidikan luhur. Yaitu, pendidikan yang dirancang untuk membantu menyiapkan warga sehingga menjadi sehat, cerdas dan sejahtera. Dan sebagaimana diungkapkan sebelumnya, penyelenggaraan pendidikan yang memerdekakan itu memerlukan dukungan kolektif, yang diwujudkan dalam peran negara yang aktif memanfaatkan sumberdaya materiil, personel maupun kelembagaan yang dimilikinya. Negara ditugasi untuk berperan aktif sebagai promotor, fasilitator dan penjamin pelaksanaan pendidikan warga negara.

Terkait dengan ini, patut disimak pendapat Prof. Sardjito pad a pidato Dies Natalis UGM, 19 Desember 1955. Menurut beliau, universitas pada dasamya "merupakan ju�a penjelma­ an daripada jiwa masyarakat, dalam arti menjadi petunjuk jalan, penggalang dan pengasuh serta insan kamil masya­ rakat", dan "diantara universitas dan masyarakat terdapat pertalian mutlak akan tetapi bebaS". Tugas sosial UGM yang "merupakan penjelmaan hubungan mutlak dengan masyarakat "adalah "ikut serta membangun, memelihara dan mengem­ bangkan hidup kemasyarakatan dan kebudayaan".

(9)

Para hadirin yang berbahagia,

Mengingat bahwa sejak awal para pendiri Republik bersepakat untuk menggunakan sumberdaya negara demi menyelesaikan persoalan warga negara secara kolektif, mengapa timbul persoalan yang dikeluhkan sekarang ini? Mengapa muncul berbagai protes itu? Mengapa negara tidak mampu menjalankan amanat konstitusi itu seperti yang diinginkan oleh para perancangnya? Mengapa "semangat" dan "kepentingan" untuk membuat negara bertanggung jawab atas tiga nilai "sehat", "cerdas", dan "sejahtera" tidak lagi berkobar? Kendala struktural apa yang memaksakan "penyimpangan" itu? Apakah telah terjadi perubahan cara berpikir, sudut pandang, paradigma atau ideologi dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik dalam bidang pendidikan sehingga negara tidak harus menjalankan kewajiban konstitusionalnya dalam pemberian layanan publik dan justru mendorong negara mengutamakan peran swasta berdasarkan pertimbangan "pasar"?

Majelis perhelatan yang mulia,

Fenomena yang membuat getir adalah kenyataan bahwa negara di berbagai wilayah dunia sering nampak tidak berdaya. Otonominya sebagai unit berdaulat sering nampak dikompromikan. Kewajibannya melayani kepentingan publik warganya sering diabaikan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pemerintah masa kini di berbagai bagian dunia tidak memiliki kemerdekaan bertindak seperti para pendahulu­ nya. Kalau ukuran paling dasar bagi kemerdekaan adalah kemampuan membuat dan menjalankan kebijakan dan keputusan secara mandiri, masih adakah pemerintah yang sungguh-sungguh merdeka di masa kini? "Pasar" sering disebut sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas kemero­ sotan otonomi negara. Bagaimana dan sejak kapan ini teljadi?

(10)

Untuk memahami ini, kita perlu menengok kembali perubahan besar yang terjadi di dunia kebijakan publik yang dipicu oleh "revolusi konservatif' 1970-an, yang juga dikenal sebagai "Reagan-Thatcherism," Yaitu, perubahan dalam struktur dan "governance" negara, dan keyakinan bahwa layanan dan fungsi publik tidak harus dijalankan oleh institusi publik,

Paling tidak, ada tiga unsur yang mewamai perubahan zaman itu, Pertama, adalah pengenalan "mentalitas pasar" untuk urusan-urusan yang semula merupakan domain negara, Ini muncul, misalnya, dalam kampanye "me-wirausahawan-kan birokrasi", Paling tidak sejak awal 1990-an, kinerja birokrat pemerintahan diukur dengan ukuran bisnis komersial, seperti disiplin anggaran, akunting, audit dan "benchmarking", Dengan demikian, wilayah layanan sosial, kesehatan dan pendidikan harus dijalankan dengan "mentalitas pasar", yaitu selalu siap untuk "economic-style competition", Akibatnya, terjadilah "peng-kultus-an pasar",

Kedua, adalah pergeseran peran, Peran organisasi birokratik besar dipangkas, unit-unit lebih kecil dan lebih responsif digalakkan, Pemilikan publik (yang dipandang "tidak pandai menabung") diperkecil, peran sektor privat (yang dianggap "responsif-terhadap-pasar") diperbesar. Pemberian layanan di-demokratis-kan dengan cara melibatkan "pemang­ ku-kepentingan lokal", Berdasar prinsip ini, pengelolaan rumah sa kit, sekolah dan perguruan tinggi mengharuskan adanya mekanisme kontrol yang dijalankan oleh lembaga-Iembaga seperti "kelompok konsumen", Komite Sekolah, Majelis Wali Amanah, dan semacamnya, Mereka inilah yang berfungsi mewakili "clienf', Hubungan guru-murid berubah menjadi "pemberi jasa" dan "konsumen jasa,"

Ketiga, pengutamaan individu, Warga negara sebagai individu diharap berperan aktif mengurus sendiri

(11)

kehidupan-nya; jangan menggantungkan diri pada layanan pemerintah. Mereka diberi "kebebasan memilih" layanan yang diinginkan dan untuk itu harus membayar sesuai dengan keperluannya. Layanan pendidikan, kesehatan dan bahkan keamanan lingkungan, yang di masa lalu masuk dalam "domain" urusan negara, dialihkan menjadi urusan privat. Ini dikenal dengan istilah "new prudentialism".

Tiga prinsip ini berfungsi seperti "mantra" di dalam diplomasi pinjaman luar negeri antara negara-negara miskin dengan lembaga-Iembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia atau dengan negara-negara kreditor. Didukung oleh "komunitas epistemik" dengan basis di universitas-universitas di Amerika Utara dan Eropa barat, mantra-mantra itu merasuk ke Indonesia lewat universitas dan melalui para dosennya yang menjadi konsultan pemerintah membantu merancang kebijakan publik di negeri ini, masuk ke dalam pikiran pejabat negara. Bacaan pokok para pelajar dan praktisi kebijakan publik pada masa itu adalah buku-buku seperti Reinventing Government (Osborne dan Gaebler, 1992) atau yang lebih

serem, Banishing Bureaucracy (Osborne, 1995), yang pada intinya adalah resep mujarab untuk menanggalkan kewajiban konstitusional pelayanan publik oleh pemerintah.

Akibatnya, tindakan para pejabat negara itu terkendala oleh sesuatu yang disebut "pasar". "Pasar" yang sebenarnya amorfosa, tidak kasat indera, itu seolah seperti pedang Damocles yang siap memancung siapa saja yang melawan petunjuknya.

Begitulah, terjadi pengkultusan mekanisme pasar. Ideologi yang mendasari mantra itu menempatkan pasar sebagai lembaga sosial dominan. Pasar menjadi pengukur segala kinerja, penakar semua karya man usia.

(12)

Para pejabat yang terkekang itu menyebutnya sebagai

"structural necessity", tak-terelakkan. Oengan alasan adanya keharusan untuk mengikuti tuntunan pasar, negara membatal­ kan berbagai komitmen konstitusional untuk melayani publik dan mendorong masyarakat untuk mencari solusi sendiri atas masalah yang mereka hadapi, walaupun masalah itu muncul karena polah pemerintah.

Oi dunia pengelolaan perguruan tinggi, "pengkultusan pasar" ini menimbulkan banyak "tradisi" baru yang seringkali sulit dimengerti. Karena sulit dimengerti mudah memunculkan perselisihan pendapat dan bahkan pertikaian. Misalnya, muncul tradisi "buka-tutup" program studi. Pertimbangannya sederhana, yaitu praktikalitas dan pragmatisme. Apakah suatu kegiatan belajar-mengajar di suatu bidang studi patut dibuka dan diperkuat dengan dukungan "investasi" baru atau ditutup dan dibiarkan sima ditentukan oleh apakah ada calon pelajar yang ingin belajar di situ. Ada "pasar"-nya atau tidak? Oengan pertimbangan seperti ini, banyak program studi yang sangat penting dalam mendukung pengembangan budaya dan peradaban, tetapi tidak muncul dalam peta mental para siswa sekolah menengah, terancam punah. Karena menu rut cara berpikir "tiga mantra" di atas, ia tidak fit untuk survive.

Sebaliknya, program studi yang mendapat dukungan "pasar" memperoleh dukungan dana APBN. Seorang teman bercerita tentang bagaimana seorang pejabat menggebu-gebu mengusulkan pembukaan program studi tertentu, hanya karena peminatnya sangat banyak.

Mantra-mantra baru itu juga meninggalkan "bom waktu" yang lain. Karena APBN untuk layanan harus di-"efisien"-kan, artinya dana subsidi kesejahteraan dipangkas sampai ke pokok, maka para pelaku layanan publik diberi "kebebasan" untuk "me-wirausaha-kan" layanannya. Oi dunia pengelolaan perguruan tinggi ini berarti "insentif' untuk membuka berbagai program studi yang "responsif' terhadap permintaan pasar.

(13)

Inilah sumber ketegangan antara pengelola perguruan tinggi negeri (PTN) dengan perguruan tinggi swasta (PTS). Penge­ lola layanan pendidikan tinggi yang didanai oleh APBN itu dipandang memasuki "pasar" (atau "sawah")-nya PTS. Atas nama pasar, kompetisi tidak sehat ini terus berlangsung.

Para hadirin yang saya hormati,

Di Indonesia, pengenalan mantra-mantra itu terjadi terutama sejak pertengahan 1980-an, ketika negeri ini mengalami beberapa kali "krisis fiskal". Melalui program penanganan krisis ekonomi itu, yang kemudian ternyata terjadi berulang-ulang sejak 1980-an, para kreditor yang rnendukung Bank Dunia-IMF mendukung "penyesuaian ekonomi Indonesia secara struktural" sesuai dengan mantra-mantra itu. Inilah yang memunculkan kendala yang rnengarahkan dan mende­ sakkan perubahan orientasi dan prioritas kebijakan publik nasional. Negara tidak bisa lagi menjalankan fungsi sebagai "penjamin" kesejahteraan sosial warganya seperti sebelumnya. Dalarn bidang pendidikan, negara lebih berkepentingan menggalakkan warga agar siap menjadi aktor yang rnampu bersaing di pasar internasional yang semakin kompetitif. Akibatnya, lembaga pendidikan menjadi bagian dari industri yang harus siap bersaing di pasar internasional. Dalarn bidang kebijakan sosial perburuhan, program kerja pemerintah adalah rnernpertahankan daya-saing buruh Indonesia dengan mening­ katkan mutu sumber daya manusia melalui pendidikan. Sayangnya, bukan dengan cara meningkatkan kualitas kerja buruh, tetapi lebih menekankan upaya mempertahankan upah murah.

lronisnya, upaya melibatkan diri ke dalam ekonomi global itu kita bayar dengan sangat mahal. Agar bisa ikut globalisasi ekonomi kapitalis kita· mematuhi "standards for sound financial systems" (banking system, prudential

(14)

regulation & good governance) dan aturan perdagangan WTO (penghapusan bea cukai, hak milik intelektual, dsb). Kita menghabiskan trilyunan rupiah untuk mempersiapkan institusi dan mendidik tenaga ahli demi menjalankan "aturan main" globalisasi itu. Akibatnya, tidak cukup banyak dana yang tersisa untuk pendidikan dasar, yaitu jenjang pendidikan penjamin pemerataan kecerdasan.

Mungkin kita perlu berhenti di sini dalam memperbin­ cangkan berbagai cabaran atau tantangan, untuk berpindah ke topik yang bisa memunculkan optimisme. Sebagai penutup bagian ini, satu hal yang ingin ditekankan. Yaitu bahwa di seluruh dunia sejak 1980-an telah terjadi perubahan konteks ekonomi-politik yang membuat pemerintah, yang mewakili unit kolektif bemama negara, tidak lagi berperan sentral. la harus bersaing dengan aktor-aktor lain yang menghambat tindakan­ nya. Inilah inti persoalannya.

Majelis yang berbahagia,

Dengan berprasangka-baik, saya bayangkan sebagian besar kita, kalau tidak semuanya, menginginkan kondisi yang lebih baik daripada yang digambarkan di bagian depan. Saya juga, sekali lagi khusnudzan, menganggap para hadirin adalah "cendekiawan", yaitu orang-orang yang bersedia memanfaat­ kan waktu, pikiran dan tenaganya demi kemaslahatan umum, yang bersedia berusaha mencari solusi atas persoalan masyarakat. Terutama untuk menangani cabaran atau tantangan yang digambarkan sebelumnya.

Sebagai anggota civitas academica universitas nasional tertua, mestinya kita terpanggil untuk berinisiatif ikut serta menangani tantangan besar itu. Tanpa bermaksud menggurui, saya ingin mengingatkan betapa "ikut serta menyelesaikan masalah bangsa" merupakan fitrah perguruan tinggi ini.

(15)

Sebagai pelopor di universitas yang sejak awal pendiriannya mencanangkan diri sebagai "Balai Nasional IImu Pengetahuan dan Kebudayaan", para pemimpin UGM telah memberi teladan tentang bagaimana menempatkan universitas di pedalaman Jawa yang pemah menjadi pusat perjuangan bangsa ini sebagai bagian penting dari pemajuan Indonesia. Yaitu, sebagai bag ian dari upaya memerdekakan bangsa Indonesia dari berbagai belenggu yang menghambat aktualisasi potensi dirinya. Tanpa bemiat "menepuk dada", uraian di bawah ini meringkas beberapa suri-tauladan itu, yang temyata jauh melampaui bidang pendidikan dalam arti sempit.

Ciri pokok yang mewamai "praktik terpuji" itu adalah keberpihakan pada Indonesia, dengan nasionalisme yang merengkuh, dan keberpihakan pada "kerakyatan" dan "ke­ ndeso-an". Sebagai Balai Nasional IImu Pengetahuan dan Kebudayaan, UGM sejak awal menjalankan misi keberpihakan kepada rakyat dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dengan tujuan untuk menyehatkan, mencerdaskan dan memakmurkan rakyat Indonesia.

Salah satu contohnya adalah penerapan prinsip yang bisa disebut sebagai "affirmative action" untuk kaum muda dari luar Jawa. Walaupun tidak terdapat ketentuan tertulis yang mengharuskannya, sejak awal penyelenggaraan pembelajaran di "Balai Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan" ini, UGM sejak lama telah memberi alokasi khusus dalam penerimaan mahasiswa baru setiap tahun untuk para lulusan SL TA yang berasal dari luar Pulau Jawa. Tindakan ini disambut dengan bersemangat oleh banyak pemerintah daerah di luar Yogyakarta dan terutama luar Jawa yang ditandai dengan membangun asrama khusus untuk kaum mud a mereka yang dikirim belajar ke kota ini.

Contoh lain adalah sambutan serius UGM terhadap program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) oleh

(16)

Kementerian Pendidikan, Pengajaran & Kebudayaan (PP&K). Program yang diselenggarakan untuk mengatasi persoalan kekurangan tenaga guru tingkat SL TP dan SL TA di luar Pulau Jawa pad a tahun 1950-an itu sejak awal menemukan lahan yang subur di kalangan mahasiswa UGM. Pada Oktober 1951, rombongan PTM pertama yang semuanya terdiri dari maha­ siswa UGM termasuk 2 perempuan, berangkat ke Kotaraja, Balige, Padang, Palembang, Banjarmasin, Tomohon, Singa­ raja, dan Kupang. Keikutsertaan UGM tidak terbatas hanya dengan mengirimkan mahasiswa secara terus menerus sampai program PTM ini dihentikan pada tahun 1963, melainkan juga sekaligus bertindak sebagai Sekretariat Pusat atau koordinator PTM secara nasionai.

lIustrasi lain adalah partisipasi aktif UGM dalam program peningkatan produksi pertanian nasional pada awal tahun 1960-an yang kemudian dikenal dengan BIMAS. Walaupun program ini pada awalnya diperkenalkan oleh lembaga lain, sejak tahun 1964 program yang bertujuan meningkatkan produktivitas petani dan masyarakat pedesaan ini berkembang pesat di UGM dan menjadi sesuatu yang wajib bagi mahasiswa program tertentu yang berhubungan dengan pertanian. Para dosen dan mahasiswa UGM terutama dari Fakultas Pertanian tinggal di pedesaan dalam jangka waktu yang lama, bahkan sampai 6 bulan untuk mendampingi masyarakat dalam pengembangan dan penggunaan teknologi baru.

Seiring dengan itu adalah program pengerahan tenaga kerja sukarela Sarjana Muda dan Sarjana ke seluruh Indonesia dalam program TKS/BUTSI sejak 1968. Dibandingkan dengan alumni dari perguruan tinggi lain, jumlah sarjana dan sarjana muda lulusan UGM yang berpartisipasi dalam program TKS/BUTSI menunjukkan angka yang paling tinggi dan tingkat persebaran yang paling luas di seluruh Indonesia kecuali DKI Jakarta sampai tahun 1980-an.

(17)

Melanjutkan komitmen itu, UGM sejak awal tahun 1960 mulai mendirikan lembaga khusus yang berhubungan dengan pembangunan dan pengabdian kepada masyarakat, yang kemudian lebih dikenal sebagai Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat atau LPM. Selain menjalankan kegiatan pengem­ bangan masyarakat secara terpadu dalam bentuk desa binaan seperti yang dilakukan pada Proyek Mangunan-Girirejo sejak tahun 1960, lembaga ini kemudian menjadi motor bagi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang istilahnya secara resmi mulai digunakan di UGM sejak tahun 1973. Pada awal tahun 1960-an, kegiatan pengabdian masyarakat UGM yang dipadu dengan penelitian telah mencapai wilayah Lampung dan Kalimantan Timur guna mendampingi para transmigran swakarsa bedol desa yang berasal dari Yogyakarta.

Pad a tahun 1979, UGM menjadi perguruan tinggi pertama yang menjadikan KKN sebagai mata kuliah yang wajib dijalani oleh setiap mahasiswa tingkat sarjana. Mereka diwajibkan untuk mendampingi masyarakat melakukan pem­ bangunan di pedesaan secara terpadu berdasarkan bekal ilmu yang telah dimiliki selama perkuliahan. Ketentuan yang wajib ini kemudian menjadi ketentuan nasional sehingga seluruh perguruan tinggi di seluruh Indonesia mewajibkan hal yang serupa. Oleh karena itu tidak mengherankan jika beberapa kegiatan yang berpihak pada rakyat seperti pengembangan usaha kesehatan masyarakat yang telah dimulai pada masa kekuasaan Presiden Sukarno dan menemukan popularitasnya pada masa Presiden Soeharto, tidak dapat dipisahkan dari kreativitas para alumni UGM yang dibesarkan dalam tradisi kepedulian pada masyarakat selama menjadi mahasiswa. Ibu, Bapak, dan Saudara-saudara yang mulia,

Uraian di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa bagi UGM, cendekiawan atau intelektual berfungsi sebagai "pemberi suluh" bagi masyarakat. Mereka diharapkan

(18)

menerapkan ilmu-pengetahuan untuk mencari dan membela apa yang benar. Bagaimana menjamin agar pendidikan tinggi di UGM bisa terus "menghidup-hidupkan" semangat itu? Kondisi struktural dan kultural apakah yang diperlukan?

Cita-cita seperti itu pasti memerlukan enabling setting

yang dapat mendukung secara efektif. Yaitu, setting dimana negara berperan sentral. Bukan sebagai pengatur dan penjamin segalanya, tetapi sebagai pemimpin yang mengkoordinasikan kerja semua kelompok yang ada dalam masyarakat dan yang berkepentingan untuk menyelesaikan masalah bersama.

Enabling setting seperti itu jelas tidak akan mungkin terwujud kalau birokrasi negara dalam menangani kebijakan layanan publik tidak memihak "the bottom 40%". Kepemihakan tidak akan terjadi kalau tidak ada koalisi yang memaksa mereka memihak pada lapisan bawah itu. Kepemihakan juga tidak akan terjadi kalau tidak ada perspektif nilai yang jelas mengutamakan kepentingan masyarakat di lapisan paling bawah itu.

Sementara itu, kita juga harus realistik melihat kenyataan bahwa tindakan negara dan aparatnya terkendala dari berbagai sisi. Negara banyak kehilangan wewenang karena diambil oleh sesuatu yang datang "dari atas," seperti keharusan mematuhi IMF, Bank Dunia, WTO atau badan­ badan internasional seperti Inl. Walaupun organisasi­ organisasi internasional itu bukan badan yang memiliki kedaulatan, tetapi posisinya membuat mereka memiliki kuasa struktural atas perilaku negara-negara seperti Indonesia. Wewenang negara nasional juga banyak digerogoti oleh yang ada di sampingnya, yaitu para pelaku pasar dan berbagai lembaga non-pemerintah yang berjaringan internasional, seperti ratings agencies. Terakhir, wewenang negara sebagian juga sudah didesentralisasi "ke bawah".

(19)

Para hadirin yang saya muliakan,

"Benang merah" dari uraian ringkas ini adalah bahwa pendidikan merupakan "barang kolektif" yang pemenuhannya memerlukan tindakan kolektif, tidak dapat dipenuhi oleh individu secara sendiri-sendiri. Sebagai unit kolektif, negara diperlukan dalam proses ini, terutama karena wewenang yang dimilikinya bisa dipakai untuk menjamin pemerataan akses ke pendidikan.

Masalahnya, negara yang diharapkan temyata menghadapi banyak kendala sehingga tidak bisa secara optimal menjalankan tugas konstitusionalnya. Dalam kondisi itu, yaitu ketika negara tidak se-"sakti" sebelumnya, apa yang bisa dilakukan oleh para "penggiat" yang menginginkan perbaikan dalam pemberian layanan publik, terutama dalam lembaga pendidikan tinggi? Sebagai "Balai Nasional IImu Pengetahuan dan Kebudayaan bagi Pendidikan Tinggi", UGM berkepentingan untuk mempelopori upaya kolaborasi diantara para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk kemaslahatan masyarakat, terutama yang ada di lapisan 40% paling bawah.

Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah membangun koalisi diantara aktor-aktor pemangku kepentingan yang ada di masyarakat dan dunia bisnis yang dipimpin oleh pemerintah dengan tujuan khusus memobilisasi sumber dana bagi pendidikan tinggi. Koalisi ini harus menjamin bahwa masing-masing pemangku kepentingan mencari cara untuk membiayai dunia pendidikan. Negara tetap bertanggung jawab mengalokasikan dana APBN sesuai perintah konstitusi, sementara para pemangku kepentingan yang lain, seperti dunia bisnis dan organisasi kemasyarakatan, perlu dikondisi­ kan agar mengembangkan komitmen lebih besar untuk mendukung mobilisasi dana pendidikan tinggi secara gotong royong. Konsekuensi dari usulan ini adalah reorientasi peran

(20)

negara ke arah yang lebih aktif mempersiapkan kebijakan publik khusus pendidikan tinggi yang responsif terhadap kepentingan masyarakat yang tidak mengutamakan kepentingan pasar.

Langkah lanjut berupa kebijakan publik ini sangat penting dilakukan karena, seperti tersurat dalam kutipan ini,

"kita jangan hanya mempersiapkan anak-anak kita untuk dunia, kita juga harus persiapkan dunia untuk anak-anak kita". Untuk itulah kerja gotong royong diperlukan. Untuk itulah negara didirikan.

Terima kasih.

Wassa/amu'alaikum warakhmatullaahi wabarakaatuh.

DAFT AR PUST AKA

Artha, Arwan Tuti, 2006, Menyingkap Pemikiran Prof. Dr. Sarjito. Serial Pemikiran Tokoh-tokoh UGM. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Hay, Colin, Michel Lister & David Marsh (Eds.), 2006,The State: Theories and Issues. New York: Palgrave.

King, Rose & Gavin Kendall, 2004, The State, Democracy and Globalization. New York: Palgrave.

Nangtjik, Hasjim (ed), 1974, Buku Kenangan Seperempat Abad Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Panitia Dies Seperempat Abad UGM

Prawirohardjo, Soeroso, 1979, "Gadjah Mada University Indonesia and the Impact of Political Change with Particular

(21)

Reference to the Period 1965-1973". Thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy in the University of Oxford Purwanto, Bambang et a/., 1999, Dari Revolusi ke Reformasi. 50 Tahun Univeritas Gadjah Mada. Yogyakarta: UGM

Sardjito, 1955, Uraian Pembukaan Rapat Senat Terbuka pada Dies Natalis Universitas Gadjah Mada Jang ke VI Tanggal 19 Desember 1955. Jogjakarta: Jajasan Badan Penerbit Gadjah Mada.

Siregar, Sori dan Dody Mardanus, 50 Tahun UGM: Di Seputar Dinamika PoUlik Bangsa. Jakarta: LP3ES

Susanto, Sahid et ai, 2001, Masa Ke Masa Menuju

Yogyakarta: UGM.

Universitas Gadjah Mada Dari Otonomi Perguruan Tinggi.

"The Protesters." TIME's Person of the Year 2011.

www.time.com/time/person-of-the-year/2011.

Tim Peneliti dan Penulisan Buku Khanata, 2006,UGM Menuju Universitas Penelitian. Jakarta: Khanata.

Weisbrod, Burton A., Jeffrey P. Ballou & Evelyn D. Asch, 2008, Mission and Money: Understanding the University. Cambridge: Cambridge University Press.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :