PERFORMANS REPRODUKSI BURUNG
MURAI BATU (
Copsychus malabaricus
)
PADA PENANGKARAN SECARA EX-SITU
SKRIPSI
Oleh : Deka Okvianto NPM. E1C012097
PROGRAM STUDI PETERNAKAN JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2018
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ Performans Reproduksi Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) Pada Penangkaran Secara Ex-situ” ini merupakan karya tulis saya sendiri (ASLI) dan isi dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar sarjana di suatu Institusi Pendidikan dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Bengkulu, Januari 2018
Deka Okvianto NPM.E1C012097
PERFORMANS REPRODUKSI BURUNG
MURAI BATU (
Copsychus malabaricus
)
PADA PENANGKARAN SECARA EX-SITU
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh derajat Sarjana Peternakan pada Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu
Oleh :
Deka Okvianto NPM. E1C012097
Pembimbing :
Heri Dwi Putranto, S.Pt., M.Sc., Ph.D. Ir. Hardi Prakoso, M.P.
Bengkulu 2018
PERFORMANS REPRODUKSI BURUNG MURAI BATU
(
Copsychus malabaricus
) PADA PENANGKARAN SECARA EX-SITU
Oleh :
Deka Okvianto NPM. E1C012097
Telah diperiksa dan disetujui untuk diuji pada tanggal : 18 Januari 2018
Pembimbing I
Heri Dwi Putranto, S.Pt., M.Sc., Ph.D NIP. 19740905 200003 1 001
Pembimbing II
Ir. Hardi Prakoso, M.P. NIP. 19531106 198601 1 001 Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan Ir. Fahrurrozi, M.Sc., Ph.D NIP. 19641029 198903 1 002
PERFORMANS REPRODUKSI BURUNG MURAI BATU
(
Copsychus malabaricus
) PADA PENANGKARAN SECARA EX-SITU
Oleh :
Deka Okvianto NPM. E1C012097
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada tanggal : 10 Januari 2018
Ketua
Dr. Ir. Basyaruddin Zain, M.P. NIP. 19550210 198601 1 001
Sekretaris
Heri Dwi Putranto, S.Pt., M.Sc., Ph.D NIP. 19740905 200003 1 001
Anggota
Ir. Hardi Prakoso, M.P. NIP. 19531106 198601 1 001
Anggota
Prof. Dr. Ir. Urip Santoso, M.Sc. NIP. 1960921 198603 1 001 Mengetahui, Fakultas Pertanian Dekan Ir. Fahrurrozi, M.Sc., Ph.D NIP. 19641029 198903 1 002
SUMMARY
REPRODUCTION PERFORMANCE OF MAGPIE (Copsychus malabarius) By EX-SITU BREEDING (Deka Oktavianto, supervised by Heri Dwi Putranto and Hardi Prakoso, 2018, 22 pages)
Nowadays, more pets are kept by people because of their aesthetics. Birds are one of the favorites. Magpie is one of Thruses birds well known by its territorial trait and its perseverance in defending its territory. To overcome natural birds’ exploitation, people carry on ex-situ breeding. This research aimed to find out reproduction performance of magpie (Copsychus malabaricus) in ex-situ breeding. This research was done for 3 months from January 1, 2016 to February 28, 2017. Data observed included number of eggs, brooding period, number of hatching eggs, weaning period, and spacing time of laying eggs. Observation and interview were done to collect data. The data were analyzed descriptively.
The result showed that magpie produced 2.9 eggs, brooding period was 12.1 days, hatching ability was 94.16%, hatching eggs were 2.3 eggs, weaning period was 30 days, and spacing time of laying eggs was 20.1 days /2 period of laying eggs.
(Animal Husbandry Study Program, Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture, University of Bengkulu)
RINGKASAN
PERFORMANS REPRODUKSI BURUNG MURAI BATU (Copsychus malabaricus) PADA PENANGKARAN SECARA EX-SITU.(Deka Okvianto, dibawah bimbingan Heri Dwi Putranto dan Hardi Prakoso, 2018, 22 halaman).
Pada zaman modern seperti saat ini hewan kesayangan semakin banyak digemari dan dipelihara oleh manusia karena memiliki estetika yang tinggi. Burung adalah salah satu jenis hewan peliharaan yang banyak digemari masyarakat saat ini. Burung Murai Batu termasuk ke dalam kelompok burung Thruses yang dikenal bersifat teritorial dan sangat kuat mempertahankan teritorinya. Upaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya mengatasi eksploitasi burung yang ada di alam adalah dengan melakukan penangkaran secara ex-situ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans reproduksi burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) pada penangkaran secara ex-situ. Penelitian ini dilakukan selama tiga bualan dari tanggal 1 Januari 2016 smapai 28 Febuari 2017 dan data yang diamatai yaitu jumlah telur, lama mengerami, jumlah telur yang menetas, lama sapih dan jarak waktu bertelur kembali. Cara pengambilan data yaitu dengan cara observasi dan wawancara. Data yang terkumpul selama penelitian dianalisis secara deskriptif.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa burung Murai Batu menghasilkan telur 2,9 butir, lama mengerami 12,1 hari, daya tetas 94, 16 %, telur berhasil 2,3 ekor disapih pada umur 30 hari, jarak waktu bertelur kembali 20,1 hari/ dua periode bertelur.
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
Tiada tempat mengadu, meminta dan memohon kecuali kepada Allah SWT. Jangan tinggalkan sholat lima waktu, sesungguhnya sholat adalah benteng hidup. Hasil tidak akan mengecewakan perjuangan, dan sabar adalah obat dari segala obat.
Persembahan
Skripsi ini saya persembahkan kepada.
Untuk kedua orang tuaku tercinta, Mak: Ibu terbaik di dalam hidupku, Mak yang selalu mendo’akan saya disetiap sholatnya sehingga saya bisa menyelesaikan kuliah dengan baik.
Bak : Papa yang hebat di dalam hidupku. Papa yang selalu bekerja keras untuk memperjuangkan saya selama masa kuliah baik dalam do’a maupun dalam keuwang. Papa sekaligus menjadi panutan saya dan motovasi hidupku.
Istriku : Mufita Susanti yang selalu mendukung saya untuk menyelesaikan kuliah dan selalu sabar menunggu saya ketika kuliah.
Anak-anakku : M Kian Sandika dan Kinda yang menjadi penyemangat papa untuk menyelesaikan kuliah dan menjadi lebih baik lagi.
Bapak Heri Dwi Putranto, Ph.D dan Ir. Hardi Prakoso, M.P. yang selalu sabar dalam membimbing atas penyelesaian skripsi ini. Bapak bukan hanya sebagai dosen melainkan orangtua yang terbaik. Doa yang tak pernah henti untuk Bapak sekeluarga agar selalu diberi kesehatan, kebaikan dan kebahagiaan.
Bapak Dr. Ir. Rustama Saepudin, M.Sc selaku dosen pembimbing akademik saya yang tak bosan-bosannya membimbing dan mendidik saya selama kuliah.
Teman dekat Andreas Hubri Simatupang, terima kasih telah memberikan motivasi dan arahan.
Seluruh teman-teman Jurusan Peternakan Angkatan 2012 yang selalu berbagi ilmu yang bermanfaat.
Seluruh anggota HIPROMATER.
vi
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Deka Okvianto, lahir di Padang Leban, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu pada tanggal 10 Agustus 1994 dari Bapak Daryanto dan Ibu bernama Niar Suryani. Penulis merupakan anak ke pertama dari tiga bersaudara. Penulis berkewarganegaraan Indonesia dan beragama Islam. Kini penulis beralamat di Jl. Hibrida X, Panti Asuhan 11 RT 12, RW 02 No.53 Kelurahan Sumur Dewa, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri 1 Padang Leban, Kecamatan Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur pada tahun 2006 menyelesaikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SMP Negeri No.01 Tanjung Kemuning, Kabupaten Kaur pada tahun 2009. Kemudian Penulis menyelesaikan pendidikan di SMA N2 Kaur pada tahun 2012. Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu melalui jalur undangan. Selama masa perkuliahan, penulis juga aktif dalam mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti UKM Menwa dan seminar-seminar yang diadakan di lingkungan Jurusan/Fakultasdan Universitas.
Tahun 2015 Penulis melaksanakan Kerja Lapangan (KL) di Farm CV. Unggas Jaya Kabupaten Seluma. Pada tahun 2016 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) reguler, Kecamatan Curup Selatan, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Penulis melaksanakan Penelitian selama tiga bulan. Penelitian dilaksanakan di Hibrida X Panti Asuhan 11 Kecamatan Selebar Kota Bengkulu yang berjudul “Performans Reproduksi Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) Pada Penangkaran Secara Ex-situ” yang
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Rahmat Allah SWT karena berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini dengan baik sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Skripsi yang berjudul “Performans Reproduksi Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) Pada Penangkaran Secara Ex-situ” yang merupakan syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan (S.Pt) pada Program Studi Peternakan yang sudah menjadi pilihan utama untuk ditekuni penulis.
Kesuksesan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak dan bimbingan dari bapak/ibu dosen jurusan peternakan.Oleh karena itu penulis mengucapkan ribuan terimakasih kepada:
1. Bapak Heri Dwi Putranto, Ph.D. selaku dosen pembimbing utama dan bapak Ir. Hardi Prakoso, M.P. selaku dosen pembimbing pendamping yang selama ini telah memberikan ilmu, pengajaran, materi, waktu dan tenaganya seperti kedua orang tua sendiri.
2. Bapak Dr. Ir. Basyarudin zain, M.P dan Prof. Dr. Ir.Urip Santoso, M.Sc.selaku dosen penguji.
3. Bapak Dr. Ir. Rustama Saepudin, M.Sc. selaku dosen pembimbing akademik (PA).
4. Teman-teman seperjuangan Peternakan 2012 yang telah memberikan motivasi dan dukungan selama penelitian serta penyusunan skripsi ini.
5. Teman-teman satu kelompok KKN periode79 terimakasih atas terjalinnya kekeluargaan selama masa KKN dan sampai sekarang.
6. Semua pihak yang telah turut andil membantu dalam proses pengerjaan skripsi ini yang tidak bias diseb utkan satu persatu.
Semoga Allah mencurahkan Rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama masa penelitian sampai penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan.
vii
Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, amin.
Bengkulu, Januari 2018
Deka Okvianto NPM.E1C012097
viii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi I. PENDAHULUAN ... 1 1.1 LatarBelakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Klasifikasi burung Murai Batu ... 3
2.2 Reproduksi ... 4
2.3 Penangkaran ... 6
III. METODE PENELITIAN ... 7
3.1 Waktu dan Tempat ... 7
3.2 Alat dan Bahan ... 7
3.3 Metode penelitian ... 7
3.4 Variabel yang diamati ... 7
3.5 Analisis Data ... 8
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 9
4.1 Deskripsi Penangkaran ... 8
4.2 Pakan dan Minum ... 10
4.3 Kandang ... 13
4.4 Performans Reproduksi ... 14
V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 19
5.1 Kesimpulan ... 19
5.2 Saran ... 19
DAFTAR PUSTAKA ... 20
ix
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Performans Reproduksi ... 12
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Kandang Gantung ... 10
2. Kroto pakan tambahan ... 11
3. Pellet ... 11
4. Jangkrik pakan utama ... 11
5. Ulat Hongkong pakan tambahan ... 12
6. Anjing Tanah ... 12
7. Kandang yang diberi pohon kecil ... 13
8. Kandang burung yang berhadap-hadapan ... 14
9. Glodok yang digunakan ... 14
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Data produksi burung Murai Batu 1 ... 22
2. Data produksi burung Murai Batu 2 ... 22
3. Data produksi burung Murai Batu 3 ... 22
4. Data produksi burung Murai Batu 4 ... 23
5. Data produksi burung Murai Batu 5... 23
6. Wawancara bersama bapak Bayu Candra ... 23
7. Kotak penyimpanan jangkrik ... 24
8. Kandang burung Murai Batu ... 24
9. Anakan burung Murai Batu umur 7 hari ... 24
10.Anakan burung Murai Batu umur 30 hari ... 25
1
1
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada zaman modern seperti saat ini hewan kesayangan semakin banyak digemari dan dipelihara oleh manusia karena memiliki estetika yang tinggi. Banyak jenis hewan yang dijadikan sebagai hewan peliharaan seperti jenis mamalia, reptil dan unggas. Untuk jenis mamalia sendiri seperti kucing, anjing dan jenis reptil seperti ular, kura-kura dan higuana, sedangkan untuk jenis unggas seperti burung dan ayam.
Burung adalah salah satu jenis hewan peliharaan yang banyak digemari masyarakat saat ini. Banyak jenis burung yang dipelihara karena kemerduan suaranya dan keindahan warna bulunya. Disaat aktifitas seharian yang padat dan melelahkan, bermain dengan hewan peliharaan seperti burung, merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk mengurangi stress, karena burung memiliki kicauan yang berirama dan nada yang merdu, sehingga membuat kita menjadi lebih tenang (Sudrajat, 1997).
Terdapat banyak jenis burung kicau yang dijadikan burung peliharaan, salah satunya burung Murai Batu (Copsychus malabaricus). Tidak hanya kicauannya yang merdu, warna dan bentuk badannya pun sangat menarik sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Berdasarkan namanya burung Murai Batu memiliki nama yang berbeda-beda dan biasanya diberi nama berdasarkan asal burung Murai Batu itu sendiri. Seperti burung Murai Batu Medan, burung Murai Batu Aceh dan burung Murai Batu Kalimantan.
Burung Murai Batu termasuk ke dalam kelompok burung Thruses yang dikenal bersifat teritorial dan sangat kuat mempertahankan teritorinya. Tipe teritorinya adalah tipe
mating, nesting, dan feeding territory (Welty, 1982). Dengan kata lain, areal yang dipertahankan burung Murai Batu dalam habitatnya adalah tempat untuk melakukan perkawinan, untuk bersarang, dan untuk mencari makan. Burung Murai Batu memiliki daya tarik yang cukup besar untuk dipelihara karena termasuk kelompok burung yang bersuara bagus atau The Best Song Birds (Delacour, 1947).
Basuni dan Setiyani (1989) mengatakan bahwa burung Murai Batu termasuk ke dalam kelompok burung yang sangat disukai orang karena suaranya dengan spesifikasi “kicauan”. Sedangkan kebutuhan burung Murai Batu selama ini bergantung dari hasil alam atau perburuan liar. Namun ketersediaan burung Murai Batu dialam semakin sedikit dan sulit didapat, karena di era sekarang ini banyak pemburu burung Murai Batu yang sudah
2
2
mencari burung Murai Batu sampai ke hutan lindung. Tidak hanya itu saja penyebab burung Murai Batu menjadi langka adalah semakin banyaknya pembalakan liar dan pembakaran hutan yan menjadi habitat burung Murai Batu. Seperti terjadi pada Murai Batu di hutan dataran rendah Pulau Jawa termasuk jenis burung dengan status populasi hampir punah sebagai akibat banyaknya penangkapan liar (MacKinnon, 1988).
Upaya yang dilakukan oleh masyarakat dalam upaya mengatasi eksploitasi burung yang ada di alam adalah dengan melakukan penangkaran secara ex-situ. Seperti yang dilakukan oleh Grup Penangkaran Pluit BF yang melakukan penangkaran yang bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar akan kebutuhan burung Murai Batu yang saat ini populasi burung Murai Batu di alam semakin sedikit. Pengurangan populasi ini diakibatkan oleh penangkapan liar burung Murai Batu yang harganya relatif mahal. Diharapkan dengan penangkaran secara ex-situ dapat diketahui penampilan reproduksi burung murai batu dan data tersebut sebagai acuan dalam program pelestarian burung Murai Batu.
Sampai saat ini penelitian tentang reproduksi burung Murai Batu masih sangat kurang terutama di Provinsi Bengkulu. Akan tetapi beberapa peneliti telah melakukan penelitian tentang reproduksi pada burung jenis lainnya, seperti burung Cucak Rawa, Tekukur dan Puter.
Salah satu aspek yeng perlu dilakukan penelitian sebagai dasar dalam usaha penangkaran burung Murai Batu adalah sifat-sifat yang terkait dengan reproduksi. Diharapkan dari informasi tentang reproduksi burung Murai Batu yang meliputi jumlah telur, lama mengeram, lama sapih, berat anakan dan bertelur kembali, sehingga usaha penangkaran burung Murai Batu dapat menjadi optimal.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans reproduksi burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) pada penangkaran secara ex-situ.
3
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi Burung Murai Batu
Murai Batu (Copsychus malabaricus) adalah salah satu burung berkicau terbaik di dunia yang termasuk dalam keluarga Turdidae. Burung dari keluarga turdidae memiliki kicauan yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi (Forum Agri, 2012). Mua’rif (2012) mengatakan bahwa berbagai jenis burung turdidae pada umumnya memiliki pola warna yang beragam dan menarik. Ukuran tubuhnya rata-rata sedang, kepalanya bulat, kakinya agak panjang, paruhnya runcing dan ramping, dan sayapnya lebar. Susunan klasifikasi murai batu menurut Mua’rif (2012) adalah
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Aves Ordo : Passeriformes Famili : Muscicapidae Genus : Copsychus
Spesies : Copsychus malabaricus
Hampir semua jenis burung yang termasuk dalam keluarga Turdidae merupakan burung peniru kicauan burung lain dan mempunyai kicauan yang bagus. Jenis-jenis burung yang termasuk dalam keluarga Turdidae adalah cingcoang, cucak rawa, kucica, meninting, tiung, anis, dan kacer (Mua’rif, 2012). Murai batu lebih banyak dijumpai di dataran rendah sampai ketinggian lebih dari 1.000 m dpl (Forum Agri, 2012).
Menurut Putranto (2011), kacer merupakan salah satu kerabat dekat Murai Batu. Kacer mempunyai nama ilmiah Copsychus saularis termasuk dalam phylum Chordata, ordo Passeriformers, family Muscicapidae, dan genus Copsychus. Habitat asli burung kacer adalah di hutan terbuka dan kebun dekat pemukiman penduduk.
Burung ini biasanya banyak ditemukan di hutan dengan pepohonan rimbun tapi tidak terlalu tinggi, dan berada dekat dengan sumber air seperti sungai yang digunakan
4
4
oleh burung untuk mencari serangga, mandi, minum, dan mencari pasangannya pada saat musim kawin.
Daerah penyebarannya meliputi dari Cina, Andaman, hingga Kepulauan Indo-Australia. Pada wilayah Indonesia, murai batu banyak terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan sebagian kecil daerah di pulau Jawa (Doni, 2012).
5
5
Mua’rif (2012) mengatakan bahwa burung Murai Batu cenderung memilih hutan sekunder atau hutan alam yang rapat sebagai habitatnya. Burung Murai Batu merupakan kelompok burung yang dikenal sebagai teritorial dan sangat kuat dalam mempertahankan wilayahnya (Thruses). Jenis teritorinya tempat untuk bersarang, perkawinan dan tempat mencari makan.
2.2. Reproduksi
Siklus kehidupan Murai Batu di alam liar diatur oleh perubahan musim. Selama musim hujan, dimana air hujan turun hampir sepanjang hari, merupakan masa-masa tersulit bagi murai batu untuk mencari pakan hidup seperti serangga. Oleh karena itu, burung mengatur perkembangbiakan dan masa rontok bulu (mabung) pada masa sebelum musim hujan. Hal ini terjadi karena pada masa-masa tersebut persediaan makanan di alam berlimpah sehingga kebutuhan nutrisi mereka dapat terpenuhi.
Aktivitas perkembang biakan burung-burung tropis, termasuk Murai Batu dimulai pada akhir musim hujan antara bulan Januari dan berlanjut sampai akhir Agustus (Suminarsih, 2006). Bersamaan dengan perkembangbiakan tersebut, burung juga mengalami periode tahunan pergantian bulu yang ditandai oleh rontoknya bulu-bulu lama untuk digantikan dengan bulu-bulu baru (mabung) dan proses ini akan berlangsung sebelum musim hujan datang.
Menurut Mu’arif (2012), perkawinan Murai Batu yang ditangkarkan tidak mengenal musim kawin. Setelah berjodoh dan dimasukkan ke dalam kandang penangkaran, biasanya langsung kawin dalam waktu relatif singkat yang ditandai kedua pasangan membawa bahan sarang. Biasanya perkawinan tersebut terjadi setelah 7-10 hari dipasangkan. Murai Batu dapat bertelur 2-3 butir dalam sekali pengeraman. Induk murai batu yang masih muda, biasanya bertelur hingga 3 butir, sedangkan murai batu yang sudah tua hanya bertelur 2 butir (Jalil dan Turut,2012).
Suminarsih (2006) menyatakan bahwa umumnya burung berkicau, Murai Batu yang ditangkarkan mengerami telurnya selama 14-15 hari. Masa mengeram bisa dikatakan masa kritis karena telur yang dierami bisa pecah atau dibuang dari sarang jika ada yang membuatnya ketakutan. Oleh karena itu, lingkungan harus dijaga dari gangguan dan tetap terkendali.
6
6
Akdiatmojo (2017) menyatakan bahwa indukan burung Murai Batu mengerami telur selama 14 hari. Dalam kondisi ini lingkungan dan pemberian pakan untuk indukan harus teratur. Kondisi lingkungan berpengaruh pada kenyamanan indukan betina, suhu pengeraman dan agresifitas indukan.
Telur burung Murai Batu dapat menetas setelah melalui proses pengeraman selama 15 hari. Ada beberapa faktor yang menyebabkan telur tidak menetas, diantaranya indukan sering meningggalkan sarang, suhu dan kuranganya asupan pakan. Sering kali telur yang dihasilkan zonk atau infirtil, penangakar menganggap indukan jantan mandul. Padahal
7
7
utamanya adalah suhu atau iklim kandang yang tidak sesuai. Menurut Akdiatmojo (2017) menyatakan ada beberapa penyebab telur zonk atau infirtil yaitu. 1. Indukan mengalami dihidrasi 2.rendahnya nafsu makan burung berimbas menurunnya jumlah nutrisi yang diserap tubuh induknya. 3. Suhu terlalu panas (suhu dalam kandang lebih dari 31° C dan suhu pengeraman 6° C) dapat meyebabkan kematian embrio dalamtelur setelah pengeraman selama 30 menit.
Menurut Hikmat (2016) ada 3 faktor yang mempengaruhi daya tetas telur yaitu, 1. Kualitas telur. Kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan pada induk dan tingkat kematangan telur. 2. Lingkungan yaitu kualitas air terdiri dari suhu, oksigen, karbon-dioksida, amonia, dan lain lain. 3. Getaran terhadap yang terlalu kuat yang menyebabkan terjadinya benturan yang keras di antara telur atau benda lainnya sehingga mengakibatkan telur pecah.
Menurut Asmari (2016) menyatakan indukan betina akan mulai mengerami telurnya selama 12 sampai 14 hari hingga telur tersebut menetas dan ada sebagian indukan mulai mengeram pada saat telur pertama keluar, adapun saat telur terakhir keluar baru mengeram. Secara umum para penangkar mengambil anakan atau disapih untuk diloloh dengan tangan peternak setelah anakan berumur 7 hari dari masa menetas, ini adalah waktu yang paling ideal apabila peternak ingin meloloh sendiri anakan tersebut. Apabila peternak ingin anakan tersebut diloloh oleh indukan maka anakan dipanen setelah anakan tersebut mulai belajar makan sendiri sekitar usia 2 bulanan.
Sedangkan menurut Akdiatmojo (2017) menyatakan penyapihan anak burung Murai Batu dilakukan ketika anakan sudah berumur 1 minggu, tetapi belum mencapai 10 hari. Anakan beru menetas sangat sensitif, sehingga rentan terserang penyakit. Jika penyapihan dilakukan pada anakan yang berumur kurang dari satu minggu, kondisi anakan terlalu lemah dan menyulitkan untuk pemberian pakan. Sementara itu, penyapihan pada anakan berumur lebih dari 10 hari menyebabkan anakan takut terhadap manusia. Akibatnya, anakan menolak untuk disuapi oleh peternak, padahal saat itu anakan masih belum bisa makan sendiri.
Menurut Jalil dan Turut (2012), Murai Batu termasuk hewan poligami karena satu murai batu jantan dapat dikawinkan dengan 2-3 ekor betina. Namun, pada umumnya murai batu ditangkarkan secara monogami untuk menghindari perkelahian antar murai batu dalam satu kandang dan mempermudah dalam melakukan recording.
8
8
Berdasarkan penelitian (Zulkarnain et al, 2015) bahwa burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) menghasilkan dua butir telur per satu kali periode bertelur. Berat telur bervariasi antara 3,40- 5,37 gram dengan rata-rata 4,60 gram. Burung Cucak Rawa mengeram selama 14 hari terhitung sejak burung tersebut bertelur. Anakan burung Cucak Rawa disapih pada umur 5 hari dengan berat anakan bervariasi antara 18,46 – 29,26 gram dengan rata-rata 23,17 gram. Sedangkan selisih dari awal burung bertelur hingga bertelur kembali bervariasi antara 26 – 31 hari.
Masyud (2007) mengatakan bahwa jumlah telur burung Tekukur dan Puter relatif sama 1,70 ± 0,48 (1-2) butir untuk burung Tekukur dan 2,07 ±0,59 (1-3) butir untuk burung Puter. Untuk lama mengeram relatif sama yakni sekitar 14 hari masing-masing 14,50 ± 0,76 untuk burung Tekukur dan 14,47 ± 0,74 hari untuk burung Puter. Sedangkan untuk jarak periode bertelur kembali yakni terbagi menjadi dua (1) kondisi normal, artinya pada keadaan mulai bertelur, mengeram, menetas sampai anak disapih (alamiah), dan (2) kondisi tidak normal, yakni pada keadaan dimana telur busuk, tidak menetas dan pecah.
Jarak waktu bertelur pada keadaan normal, masing-masing pada burung Tekukur adalah 48,79 ± 3,53 hari relatif lama dibanding pada burung Puter yakni 43,22 ± 1,39 hari. Sedangkan pada keadaan tidak normal jarak waktu bertelur relatif lebih cepat yaitu pada burung Tekukur (31,22 ± 5,63 hari) dan pada burung Puter (27,11 ± 6,72 hari) (Masyud, 2007).
2.3. Penangkaran
Penangkaran adalah pembiakan satwa dan flora diluar habitatnya, dengan campur tangan manusia. Penangkaran merupakan usaha/ kegiatan yang berkaitan dengan penangkaran satwa liar atau tumbuhan alam, yang dapat meliputi kegiatan penangkaran sampai pada kegiatan pemasaran hasil dari penangkaran. Penangkaran di Indonesia yang telah dilakukan, dan dan sudah komersil adalah seperti penangkaran terhadap Buaya, Ikan Siluk dan Monyet (Novi ,2013). Penangkaran in-situ adalah penangkaran atau pemeliharan satwa liar di habitat alam atau aslinya, seperti jenis hewan Badak di Taman Nasional Ujung Kulon. Sedangkan penangkaran ex-situ adalah penangkaran atau pemeliharan satwa liar di luar habitat aslinya. Penangkaran secara ex-situ bertujuan untuk keperluan koleksi, penelitian dan pelestarian (Asri, 2012).
9
9
Menurut Asmari (2016) ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam melakukan penangkaran burung Murai Batu yaitu :
1. Persiapkan mental dan rancangan awal, berkecimpung didalam dunia hobi pada prinsipnya adalh suka, mau dan pantang menyerah. Orentasi dalam menangkarkan burung Murai Batusebaiknya dimulai dari hobi yang memang disukai, jangan ikut-ikutan apalagi target utamanya adalah bisnis, sebab yang dikelolah adalah mahluk hidup bukan mesin.
2. Memilih indukan untuk ditangkarkan, idealnya indukan yang akan di tangkarkan adalah burung Murai Batu yang sudah mapan dari umur, lebih bagus lagi sudah berprestasi.
3. Membuat kandang penangkaran, membuat kandang penangkaran tidak ada patokan yang penting burung Murai Batu merasa nyaman dan dibentuk seperti habitat aslinya dengan cara memberi pohon kecil didalam sebagai tenggeran burung Murai Batu.
4. Penjdohan, pada prinsipnya penjodohan dilakukan secara perlahan mulai dari perkenalan, pendekatan dan terakhir pencampuran kedua indukan, hal ini meminimalisir perkelahian kedua indukan, oleh sebab itu ketiga proses tersebut mutlak harus lakukan dengan sabar.
Menurut Asmari (2016) Adapun beberapa faktor yang menentukan keberhasilan dalam penangkaran burung Murai Batu, yaitu sebagai berikut:
1. Memilih indukan untuk ditangkarkan.
Idealnya indukan yang akan ditangkarkan adalah Murai Batu yang sudah mapan dengan umur 1-2 tahun, lebih bagus lagi jika sudah berpertasi, dengan harapan anakan yang dihasilkan seperti indukan yang nantinya akan dijadikan untuk burung lomba.
2. Pembuatan kandang.
Kandang dibuat senyaman mungkin untuk kedua indukan yaitu dengan cara membuat kandang yang tidak terlalu luas, diberi pohon kecil sebagai tempat bertengger burung Murai Batu. Sirkulasi udara lancar dan sinar matahari masuk kedalam kandang penangkaran.
3. Penjodohan.
Pada prinsipnya penjodohan dilakukan secara perlahan mulai dari perkenalan, pendekatan dan terakhir pencampuran kedua indukkan, hal ini berguna untuk
10
10
meminimalisir perkelahian kedua indukan tersebut. Oleh sebab itulah ketiga proses tersebut mutlak dilakukan dengan sabar.
4. Pemberian pakan.
Setiap harinya, burung ini perlu mendapatkan perawatan rutin. Paling tidak burung ini harus diangin-anginkan sekitar 30 menit sebelum dimandikan. Kemudian dijemur selama 1 hingga 2 jam. Untuk pakan, berikan jangkrik sebagai makanan utama dan beberapa jenis serangga sebagai makanan ekstra.
11
11
III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dimulai pada tanggal 1 Desember 2016 sampai 28 Febuari 2017 dan dilakukan di penangkaran salah satu peternak burung Murai Batu yang tergabung dalam Grup Penagkaran Pluit BF yaitu bapak Bayu Candra S yang beralamat Jl. Hibrida X RT. 12 RW. 02 Kelurahan Sumur Dewa Kecamatan Selebar kota Bengkulu. Lokasi dipilih berdasarkan surve pendahuluan yang menunjukan bahwa bapak Bayu Candra S tersebut berternak burung Murai Batu.
2.2 Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku, pena, kamera, tempat pakan dan minum, kotak kayu tempat bertelur dan kandang penangkaran.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 pasang burung Murai Batu yang sudah dewasa kelamin, serta bahan pakan yang terdiri dari jangkrik, pelet dan kroto. Burung yang diamati adalah burung yang telah didomestikasi dan mengalami adaptasi dalam kandang penangkaran. Dengan mengalami penjodohan terlebih dahulu dan telah berproduksi sebelumnya.
3.3 Metode penelitian 3.3.1 Wawancara
Wawancara dilakukan kepada peternak burung Murai Batu yaitu bapak Bayu Candra. Data hasil wawancara disajikan secara deskriptif.
3.3.2 Observasi
Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung dilokasi penelitian meliputi kondisi kandang dan burung Murai Batu.
3.4 Variabel yang diamati
Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi jumlah telur, lama mengerami, jumlah telur yang berhasil menetas, lama sapih, dan jarak waktu bertelur kembali. Prosedur dan cara dalam pengambilan data dari masing variabel, sebagai berikut :
12
12
Jumlah Telur : jumlah telur burung yang diamati yaitu dengan cara melihat ke dalam kotak kayu yang dijadikan tempat bertelurnya burung, dan menghitung jumlah telur yang terdapat dalam glodok. Unit pengukuran data adalah butir/ betina.
Lama mengerami : lama mengerami dihitung dengan cara pengamatan setiap malam sekitar pukul 19:00 wib di dalam kandang. Pengamatan dengan cara melihat posisi indukan tidur, bila indukan tidur di dalam kotak kayu besar kemungkinan burung Murai Batu telah mengeram dan lama mengerami dihitung sejak indukan tidur pertama kali di dalam glodok sampai dengan telur menetas. Telur menetas ditandai dengan adanya kerabang telur yang dibuang oleh indukan di bawah kotak kayu tempat bertelur. Unit pengukuran data adalah hari/ indukan.
Jumlah telur yang menetas : jumlah telur yang berhasil menetas dihitung dengan cara mengurangkan jumlah telur yang ada dengan jumlah anakan yang berhasil menetas. Unit pengukuran data adalah ekor/ glodok.
Lama sapih : lama sapih dihitung mulai dari anakan pertama kali menetas sampai dipisah dengan induknya oleh peternak karena anakan telah dianggap telah mampu hidup tanpa induknya. Unit pengukuran data adalah hari/ abangan.
Jarak Waktu Bertelur Kembali : jarak waktu bertelur adalah banyaknya hari dari mulai anakan menetas sampai indukan bertelurnya kembali. Jarak waktu ini diukur dengan menghitung banyaknya hari. Unit pengukuran data adalah hari/ indukan.
2.4 Analisis Data
13
13
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Penangkaran
Dari hasil penelitian, penangkar burung Murai Batu ialah Bapak Bayu Candra yang beralamat Jl. Hibrida X RT. 12 RW. 02 Kelurahan Sumur Dewa Kecamatan Selebar Kota Bengkulu. Proses awal penangkaran yaitu berasal dari kehobian yang sama memelihara burung kicau salah satunya burung Murai Batu dan mencoba-coba untuk mengawinkan burung tersebut dan teryanta berhasil. Kemudia mereka membentuk suatu paguyupan yang diberi nama ABF (Andi Bird Farm) beranggotakan 5 orang.tetapi awal produksi mereka terkendala dangan pemasaran, dikarenakan burung Murai Batu termasuk kedalam salah satu burung yang dilindungi habitatnya. Setelah memiliki izin resmi dari BKSDA Provinsi Bengkulu dengan nomor surat SK21/BKSDA BKL-1/2016. Paguyupan peternakan burung Murai Batu berubah nama menjadi Pluit BF (Bird Farm) yang beranggotakan 4 orang. Peternakan burung Murai Batu Bapak Bayu Candra telah berjalan selama 1,5 tahun untuk saat ini Bapak Bayu Candra memiliki indukan burung Murai Batu sebanyak 7 pasang dan masih aktif berproduksi
Awal penangkaran dilakukan karena melihat kondisi burung Murai jantan yang selalu diikut sertakan dalam lomba tidak bisa lagi untuk mengikuti lomba karena diduga burung Murai Batu jantan sudah jenuh. Jika dijual kepasaran harga burung jantan tersebut dengan harga sudah turun dikarenan burung Murai Batu tidak bisa diikut lombakan. Dengan keadaan tersebut sipemilik yaitu Bapak Bayu Candra merasa rugi. Untuk mengatasi keadaan tersebut Bapak Bayu Candra dan kawan kawanya mencoba menangkarkan burung Murai Batu dengan langkah awal yaitu menjodohkan burung Murai Batu jantan dengan burung Murai Batu betina.
Dalam proses penjodohan kedua burung tersebut dilakukan dengan cara mendekatkan kedua burung tersebut dengan menggunakan kandang gantung (Gambar 1). Brung Murai Batu yang sudah dikatakan berjodoh ditandai dengan kedua burung tersebut selalu berdekatan dan berbunyi bersaut sautan. Tetapi proses penjodohan itu tidak menentu antara 2-3 minggu bahkan berbulan bulan menurut Bapak Bayu Candra sebagai penangkar. Menurut Akdiatmojo (2017) bahwa perjodohan biasanya berlangsung 2 minggu sampai 1 bulan. Ciri-ciri indukan yang telah berjodoh ditandai dengan keduanya saling berdekatan setiap hari.
14
14
Gambar 1. Kandang Gantung
Setelah kedua indukan burung Murai Batu telah berjodoh, kedua indukan tersebut dimasukkan kedalam kandang penangkaran yang berukuran 1x2x2 m untuk melakukan perkawinan. Tetapi pada awal proses penangkaran banyak kendala yang dialami terutama pada saat awal penggabungan kedua indukan burung Murai Batu kedalam kandang penangkaran. Indukan burung Murai Batu banyak mengalami kematian dikarenakan pejantan burung Murai Batu yang terbiasa dengan suasana lomba burung kicau itu terlalu agresif. Sehingga indukan burung Murai Batu di cotok terus menerus oleh pejantan sehingga indukan burung Murai Batu mengalami kematian.
Dengan keadaan seperti itu penangkar burung Murai batu mencari solusi yaitu mengamati terus menerus burung Murai Batu tersebut yang telah digabungkan ke dalam kandang penangkaran. Jika terus menerus terjadi perkelahian maka kedua indukan burung Murai Batu tersebut dipisah kembali. Menurut Asmari (2016) menyatakan bahwa jika perkelahian masih terus terjadi sebaiknya pisahkan kembali indukan jantan dengan cara menukar posisi kedua indukan, indukan jantan dilepas didalam kandang tangkaran sedangkan indukan betina dimasukan ke dalam kandang gantung, kembali didekatkan kedua indukan tersebut dan amati sampai mereka terlihat akur.
15
15 4.2 Pakan dan Minum
Dalam dunia peternakan pakan merupakan penunjang produktivitas ternak (Rasyaf. 1996). Pakan yang diberikan pada burung Murai Batu antara lain jangkrik kroto, ulat Hongkong dan pakan berupa pellet.
Berdasarkan hasil penelitian pakan yang digunakan yaitu kroto (Gambar 2), pellet (Gambar 3), jangkrik (Gambar 4), ulat Hongkong (Gambar 5) dan orong-orong/ aning tanah (Gryllotalpidae) (Gambar 6). Pada saat burung Murai Batu belum menghasilkan telur, burung Murai Batu dipenangkaran secara ex-situ diberi pakan berupa jangkrik dan pakan pabrikan berupa pelet yang memiliki kandungan protein cukup tinggi dengan harapan burung Murai Batu cepat mengalami birahi. Kandungan protein kasar tertinggi dalam bahan kering pakan dikandung oleh jenis pakan jengkerik yaitu sebesar 73.05%, diikuti kroto sebesar 53.16%, ulat Hongkong sebesar 48.28% dan pakan buatan sebesar 44.62% (Nahrowi, et al.2001).
Gambar 2. Kroto pakan tambahan
16
16
Gambar 4. Jangkrik pakan utama
Gambar 5 . Ulat Hongkong pakan tambahan
Gambar 6. Orong orong / Anjing tanah
Pemberian kroto atau telur semut rangrang diberikan pada saat burung Murai Batu baru menetas sampai umur satu minggu, pemberian kroto bertujuan agar mempermudah indukan melolo (menyuapi anakan). Kroto yang diberikan adalah kroto segar, harus berkualitas, tidak lengket, berwarna cerah, tidak bercampur dengan jenis semut lain, dan tidak mengandung larva yang berukuran besar. Setelah umur satu minggu pemberian kroto dihentikan karena dianggap anakan burung Murai Batu sudah mampu mencerna jangkring Pemberian pakan ekstra seperti cacing tanah, ulat Hongkong, ulat bambu/ulat daun pisang,
17
17
orong-orong, ataupun belalang diberikan jika pakan tersebut tersedia. Pemberian pakan ini bertujuan untuk mendongkrak tingkat pertumbuhan, stamina dan kebugaran burung, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit yang semuanya harus diberikan dalam keadaan hidup sehingga nutrisi dan cita rasanya tetap terjaga (Widyaningsih, 2008).
Pemberian minum dilakukan dengan cara menggunakan nampan plastik yang diisi setengah bagian nampan tersebut. Air minum diganti setiap hari dengan air yang masih segar supaya lebih steril dan terhindar dari parasit yang bisa mengganggu kesehatan burung. Oleh karena itu, ketersediaan air minum segar menjadi salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pemberian pakan pada burung Murai Batu. Pemberian air dengan menggunakan nampan tidak hanya untuk minum saja tetapi juga untuk tempat mandi burung. Sesuai dengan habitat aslinya bahwasanya burung Murai Batu mandi di waktu pagi hari.
Forum Agri (2012) menyatakan bahwa dalam satu hari rata-rata burung akan membutuhkan air minum sebanyak 4-5 kali jumlah pakannya. Air sangat dibutuhkan dalam proses metabolisme tubuh, termasuk mengatur temperatur (panas) tubuh, mempertahankan keseimbangan volume darah dan melumatkan makanan dalam proses pencernaan.
4.3 Kandang
Kandang adalah struktur atau bangunan dimana ternak dipelihara dan menjadi tempat tinggal burung yang mampu memberikan rasa nyaman bagi burung Murai Batu. Dari hasil penelitian kandang yang digunakan dibuat sedemikian rupa seperti habitat aslinya yaitu dengan memberikan pohon kecil didalam kandang sebagai tempat bertenggernya burung Murai Batu (Gambar 7). Kandang yang dibuat senyaman mungkin dan tidak membuat burung menjadi stress dengan ukuran kandang 1m x 2m x 2 m.
18
18
Kandang dibuat secara berhadap-hadapan, dinding kandang bagian belakang terbuat dari beton sedangkan untuk bagian depan setengah bagian terbuat dari kawat (Gambar 8). Pembuatan kandang dengan setangah bagian kawat bertujuan agar mudah mengamati burung Murai Batu dari luar dan memperlancar sirkulasi udara di dalam kandang, dinding kiri kanan terbuat dari triplek. Untuk atap kandang terbuat dari seng, jarak antara satu kandang dengan kandang yang lainnya beratap seng transparan yang bertujuan agar sinar matahari masuk ke dalam kandang sehingga kandang tetap kering dan burung Murai Batu bisa berjemur ketika selesai mandi.
Gambar 8. Kandang burung yang berhadap-hadapan
Kandang terbagi menjadi dua, yaitu kandang besar yang dijadikan tempat tinggal burung Murai Batu atau kandang utama dan kandang tempat bertelur atau glodok (Gambar 9). Kandang tempat bertelur dibuat senyaman mungkin agar burung Murai Batu tidak mendapat gangguan dari luar.
19
19
Gambar 9. Glodok yang digunakan oleh Bapak Bayu Candra
Kandang juga memiliki fungsi memudahkan pengelolaan ternak dalam proses produksi seperti pemberian pakan, minum, pengelolaaan kotoran/ limbah dan perkawinan, menjaga keamanan ternak dari pencurian, meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja, melindungi ternak dari perubahan cuaca atau iklim yang ekstrim (panas, hujan dan angin), dan mencegah dan melindungi ternak dari penyakit (Saputro, 2015).
4.4 Performans Reproduksi
Berdasarkan hasil penelitian menggunakan 5 pasang burung Murai batu (10 ekor) dalam waktu tiga bulan penelitian menghasilkan data sebagai berikut (Tabel 1). Telur yang dihasilkan dalam penelitian berwarna kebiruan dengan totol-totol coklat seperti telur burung Puyuh dan menghasilkan telur 2-4 butir dalam satu periode bertelur atau rata-rata 2,9 butir/ dua periode bertelur. Jalil dan Turut (2012) menyatakan burung Murai Batu dapat bertelur 2-3 butir dalam sekali pengeraman.
Sedangkan pada penelitian lain yang dilakukan oleh Zulkarnain et al. (2015) pada burung Cucak Rawa di penangkaran secara ex-situ jumlah telur dalam satu periode bertelur menghasilkan 2 butir telur. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Masyud (2007) dengan menggunakan burung Tekukur dalam penangkaran menghasilkan 1-2 butir telur dan pada burung Puter 1-3 butir telur dalam satu kali peristiwa bertelur.
20
20
Tabel 1. Penampilan reproduksi burung Murai Batu di penangkaran secara ex-situ meliputi jumlah telur, lama mengeram, jumlah menetas, lama bertelur kembali dan lama sapih Burung Periode Bertelur Jumlah Telur (butir) Lama Mengeram (hari) Jumlah Menetas (ekor) Daya Tetas (%) Lama Betelur Kembali (hari) Lama Sapih (hari) 1 1 3 11 2 66,66 13 30 2 3 11 3 100 13 30 2 1 2 10 2 100 12 30 2 3 13 3 100 12 30 3 1 4 12 3 75 29 30 2 3 12 3 100 27 30 4 1 3 13 1 33,33 17 30 2 3 14 2 66,66 23 30 5 1 2 12 2 100 19 30 2 3 12 3 100 20 30 Rata-rata 2,9 12,1 2,3 94, 16 20,1 30
Ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap jumlah telur dalam satu kali peristiwa bertelur, diantaranya umur burung, berat badan, makanan, kondisi kesehatan dan lingkungan kandang (luas, suhu dan kelembaban serta gangguan lingkungan) (Parker 1969; Etches, 1996). Umumnya indukan betina akan mengerami telur setelah telur kedua dikeluarkan atau bahkan setelah semua telur dikeluarkan baru indukan akan mengerami (Hamiyanti, 2011).
Lama mengerami dari hasil penelitian untuk kelima indukan antara 11-14 hari atau rata-rata 12,1 hari/ dua periode bertelur. Ini sesuai dengan pendapat Suminarsih (2006) menyatakan bahwa umumnya burung berkicau, Murai yang ditangkarkan mengerami telurnya selama 14-15 hari. Pada saat mengerami indukan sebaiknya jangan terlalu sering dilihat karena dapat mengganggu proses mengerami yang dilakukan oleh indukan burung
21
21
Murai Batu. Apabila indukan terlalu sering mendapat gangguan pada waktu mengeram akan menyebabkan stress sehingga indukan akan enggan mengerami dan bahkan bisa membuang telur tersebut sehingga menyebabkan telur gagal menetas.
. Hasil penelitian menunjukan bahwasanya daya tetas dari ke 5 indukan cukup tinggi dapat dilihat dari jumlah telur yang dihasilkan dalam dua periode sebanyak 29 butir dan berhasil menetas sebanyak 24 butir atau 94,16 %/ dua periode bertelur. Menurut Akdiatmojo (2017) menyatakan bahwa dalam proses penangkaran burung Murai Batu ada beberapa yang menyebabkan tidak semua telur berhasil menetas, diantaranya indukan sering meninggalkan sarang, suhu udara yang dingin, dan kekurangan asupan pakan.
Etches (1996) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap daya tetas telur antara lain umur indukan, suhu dan kelembaban kandang, dan kualitas pakan. Suminarsih (2006) menyatakan bahwa aktivitas perkembangbiakan burung -burung tropis, termasuk Murai Batu dimulai pada akhir musim hujan antara bulan Januari dan berlanjut sampai akhir Agustus.
Dari hasil penelitian anakan akan disapih pada umur 30 hari. Sapih dalam penelitian ini yaitu memisahkan anakkan dari induknya oleh peternak yang dianggap telah mampu hidup tanpak induknya. Berdasarkan hasil dari wawancara dengan bapak Bayu Candra sebagai penangkar, tujuan penyapihan pada umur 30 hari adalah anakan pada saat disapih tidak perlu disuap lagi. Sehingga kematian dalam perawatan anakan akan kurang dibanding disapih pada umur 7 hari, dan harganya cukup tinggi. Menurut Asmari (2016) secara umum para penangkar menyapih anakan untuk diloloh tangan setelah anakan berumur 7 hari dari waku pertama kali menetas, ini adalah waktu yang ideal apabila penangkar ingin meloloh sendiri anakan tersebut. Apabila penangkar ingin diloloh oleh induknya maka penyapihan dilakukan setelah anakan tersebut mulai belajar makan sediri sekitar usia dua bulan.
Sedangkan pada penelitian lain yang dilakukan oleh Zulkarnain et al (2015) dengan menggunakan burung Cucak Rawa pada penangkaran secara ex-situ yaitu lama penyapihan selama 5 hari, dengan tujuan agar indukan segera berproduksi lagi.
Setelah menetas anakan diasuh oleh induknya, pada saat burung baru menetas yang ditandai dengan jatuhnya cangkang telur dari glodok, indukan akan melolo (menyuapi) anaknya dengan kroto yang sebelumnya diberikan di dalam kandang penangkaran. Pemberian kroto dilakukan selama 1 minggu dan seterusnya indukan akan menyuapi
22
22
anaknya dengan jangkrik yang disediakan sebagai pakan indukan. Sebelum menyuapi anaknya dengan jangkrik, induk burung Murai Batu membanting-banting jengkrik pada tanah dengan paruhnya untuk membunuh dan melunakkan tubuh jangkrik agar mudah dimakan oleh anaknya ( Zulkarnain et al, 2015).
Berdasarkan hasil penelitian burung Murai Batu bertelur kembali 12-29 hari setelah anakan menetas atau rata-rata 20,1 hari/ dua periode bertelur (Gambar 10). Tiap indukan burung Murai Batu memiliki siklus reproduksi yang berbeda. Penyebab berbeda jarak siklus reproduksi ini antara lain pakan, musim, dan individu burung itu sendiri
Menurut Soenanto (2002) secara alamiah setiap makhluk hidup memiliki siklus reproduksi yang berbeda seperti halnya manusia dan hewan. Sedangkan menurut Asmari (2016) setelah anakan disapih oleh penangkaran untuk diloloh sendiri, biasanya 3 sampai 5 hari indukan akan mulai menyusun sarang kembali dan mulai kawin setelah sarang tersebut berbentuk sempurna.
Gambar 10. Grafik lama Betelur Kembali
Berdasarkan kondisi jarak bertelur seperti itu maka dalam keadaan normal burung Murai Batu dalam penangkaran dapat bertelur setiap bulannya, tetapi ada waktu tertentu burung Murai Batu tidak berproduksi. Ketika burung Murai Batu mengalami rontok bulu atau mabung burung Murai Batu dipisah dari pejantan sehingga tidak menghasilkan telur,
13 12 29 17 19 13 12 27 23 20 0 5 10 15 20 25 30 35 Periode 1 Periiode 2 Ha ri
Burung Murai Batu
23
23
ini berbeda dengan habitatnya di alam yang cenderung dipengaruhi oleh iklim. Sehingga bertelur pada bulan-bulan tertentu.
Sedangkan pada penelitian lain yang dilakukan oleh Zulkarnain et al.( 2015) dengan menggunakan burung Cucak Rawa secara ex situ bahwasanya burung tersebut bertelur kembali dengan rata-rata 27,8 hari. Sedangkan pada burung Puter dan Tekukur yang dilakukan oleh Masyud (2007) bahwasanya burung Tekukur bertelur kembali dalam keadaan normal yaitu 48,79 hari relatif lebih lama dibanding burung Puter yakni 43,22 hari. Faktor yang berpengaruh kuat terhadap pola reproduksi antara habitat aslinya yaitu alam dengan di penangkaran salah satunya adalah faktor pakan. Terutama yang berkaitan dengan ketersedian paka untuk memenuhi kebutuhan berproduksi.
24
24
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa burung Murai Batu menghasilkan telur rata-rata 2,9 butir/ dua periode bertelur. Lama mengerami telur burung Murai Batu rata-rata 12,1 hari/ dua periode bertelur. Dalam penelitian ini anakan burung Murai Batu yang berhasil menetas cukup tinggi dimana telur berhasil menetas yaitu rata-rata 2,3 ekor dengan daya tetas 94,16 % / dua periode bertelur. Anakan burung Murai Batu disapih pada umur 30 hari sedangkan untuk jarak waktu bertelur kembali rata-rata 20,1 hari/ dua periode bertelur.
5.2 Saran
Penelitian ini hendaknya di teruskan dengan menggunakan burung Murai Batu yang lebih banyak dan di lakukan di berbagai penangkar burung Murai Batu tidak hanya berlokasi di suatu tempat penangkar saja. Sehingga hasilnaya bisa menjadi acuan bagi penangkar pemula.
25
25
DAFTAR PUSTAKA
Akdiatmojo Suprianto. 2017. Panduan Menangkarkan Murai Batu. Agro Media Pustaka. Jakarta
Asmari Andri. 2016. Memilih dan Mencetak Murai Batu Berprestasi. CV. Idzhar. Bandung
Asri, Ade A. 2012. Pengertian ex-situ dan in-situ. http:// adeeamaliae. blogspot.co.id /2012/03/pengertian-eksitu-dan-insitu.html. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018 Basuni, S. 1988. Studi Relung Ekologi Tiga Jenis Burung Srangenge (Famili Nectarinidae)
di Hutan Gunung Walat, Sukabumi. Tesis Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian, Bogor.
Basuni, S. dan Setiyani. 1989. Studi Perdagangan Burung di Pasar Pramuka Jakarta dan Teknik Penangkapan Burung di Alam. Media Konservasi, 2 (2) : 9-18.
Delacour, J. 1947. Birds of Malaysia. The Mac-Millan Company, New York.
Doni, R. 2013. Fenomena Kelangkaan Populasi Murai Batu. http://www.muraibatu. Link/2013/07/fenomena-kelangkaan-populasi-muraibatu.html. Diakses pada 18 Desember 2017.
Etches RJ. 1996. Reproduction in Poultry. Cab International. Canada.
Forum Agri. 2012. Pedoman Lengkap Menangkar dan Mencetak Murai Batu Kelas Jawara. Cahaya Atma Pustaka. Yogyakarta.
Hamiyanti, A A. Achmanu. Putra, Muharlien, A.P. 2011. Pengaruh Jumlah Telur Terhadap Bobot Telur, Lama Mengeram, Fertilitas Serta Daya Tetas Telur Burung Kenari. Ternak Tropika. Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya. Hikmat. 2016. sebutkan 3 faktor yang mempengaruhi daya tetas telur. http://kliksma.
com/2016/04/ sebutkan-3-faktor-yang-mempengaruhi-daya-tetas-telur.html. diakses pada tanggal 23 Januari 2018
Irwanto. 2017. Konservasi in-situ dan ex-situ. Dialmbil dari: https://deslisumatran. wordpress.com/2010/03/13/konservasi-in-situ-dan-ex-situ/. Diakses pada tanggal 13 Januari 2018.
Jalil A., dan R. Turut. 2012. Sukses Beternak Murai Batu. Penebar Swadaya. Jakarta.
MacKinnon, J. 1988. Field Guide to the Birds of Java and Bali. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Masyud Burhanudin.2007. pola reproduksi burung terkukur ( Streptopelia chinensi) dan puter ( Streptopelia risoria) di penangkaran. media konservasi, 12 (2) : 80-88.
26
26
Mulyantini NGA. 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Nahrowi. Riduan, R. dan Sofyan Lili, A.2001. pemberian berbagai jenis pakan untuk mengevaluasi palatabilitas, konsumsi, protein dan energy pada kadal (Mabouya multifasciata) dewasa. Bio diversitas. 2 (1) : 98-103
Novi. 2013. Definisi dan pengertian penangkaran. http://sarasvatnov.blogspot.co.id /2013/04/definisi-dan-pengertian-penangkaran.html. Diakses pada tanggal 20 Januari 2018
Parker JE. 1969. reproduction physiology in poultry. Dalam reproduction in farm animals. second edition. editor ESE. Hafez. Lea and Febiger, Philadelphia. Pp 235-254
Pratiwi, RN., H. I. Wahyuni, dan W. Murningsih. 2013. pengaruh pemberian vitamin a dan e dalam ransum terhadap daya tetas, bobot tetas dan daya hidup DOC ayam kedu hitam yang dipelihara in situ. Animal Agriculture Journal. 2(1) : 240 – 246
Putranto, I. .2011. Budidaya Dan Pemasteran Burung Kacer Siap Menjadi Jawara Kontes. Pustaka Baru Press, Yogyakarta.
Rajab. 2013. hubungan bobot telur dengan fertilitas, daya tetas, dan bobot anak ayam kampung. Agrinimal, 3 (2) : 47-83.
Rasyaf, M., 1996. Memasarkan Hasil Peternakan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudrajat. 1997. Petunjuk Memilih Burung Ocehan Bakalan. Penebar Swadaya. Jakarta
Sudrajat, D. Kardaya D, Dihansih E, Puteri SFS. 2014. performa produksi telur burung puyuh yang diberi ransum mengandung kromium organik. Buletin Penelitian Universitas Djuanda. 19 (4) : 257-262.
Saputro, T. 2015. Fungsi dan Syarat KandangTernak.http://www.ilmuternak.com /2015/04/fungsi-dan-syarat-kandang-ternak.html. Diakses pada 10 Februari 2017.
Suminarsih, E. 2006. Memelihara, Melatih, dan Menangkar Burung Ocehan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Welty, J.C. 1982. The Life Birds. 3rd ed. CBS College Publishing, USA. Widyaningsih, A.M. 2008. Pakan Burung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Zulkarnain et al.2015. performans reproduksi burung cucak rawa (Pycnonotus Zaylanicus) pada penangkaran secara ex-situ. Indonesia Medicus Veterinus, .4 (2) : 139-147
27
27
LAMPIRAN
Lampiran 1. Data reproduksi burung Murai Batu 1
Lampitan 2. Data peoduksi burung Murai Batu 2
Lampiran 3. Data produksi burung Murai Batu 3
DESEMBER 2016 JANUARI 2017 FEBUARI 2017
Senin 28 5 12 19 26 2 9 16 23 30 6 13 20 27 Selasa 29 6 13 20 27 3 10 17 24 31 7 14 21 28 Rabu 30 7 14 21 28 4 11 18 25 1 8 15 22 29 Kamis 1 8 15 22 29 5 12 19 26 2 9 16 23 30 Jum'at 2 9 16 23 30 6 13 20 27 3 10 17 24 31 Sabtu 3 10 17 24 31 7 14 21 28 4 11 18 25 Minggu 4 11 18 25 1 8 15 22 29 5 12 19 26 : Telur Menetas : Di Sapih
: Bertelur Kembali dan ngeram
: Mulai penelitian
DESEMBER 2016 JANUARI 2017 FEBUARI 2017
Senin 28 5 12 19 26 2 9 16 23 30 6 13 20 27 Selasa 29 6 13 20 27 3 10 17 24 31 7 14 21 28 Rabu 30 7 14 21 28 4 11 18 25 1 8 15 22 29 Kamis 1 8 15 22 29 5 12 19 26 2 9 16 23 30 Jum'at 2 9 16 23 30 6 13 20 27 3 10 17 24 31 Sabtu 3 10 17 24 31 7 14 21 28 4 11 18 25 Minggu 4 11 18 25 1 8 15 22 29 5 12 19 26 : Telur Menetas : Di Sapih
: Bertelur Kembali dan ngeram
: Mulai penelitian
DESEMBER 2016 JANUARI 2017 FEBUARI 2017
Senin 28 5 12 19 26 2 9 16 23 30 6 13 20 27 Selasa 29 6 13 20 27 3 10 17 24 31 7 14 21 28 Rabu 30 7 14 21 28 4 11 18 25 1 8 15 22 29 Kamis 1 8 15 22 29 5 12 19 26 2 9 16 23 30 Jum'at 2 9 16 23 30 6 13 20 27 3 10 17 24 31 Sabtu 3 10 17 24 31 7 14 21 28 4 11 18 25 Minggu 4 11 18 25 1 8 15 22 29 5 12 19 26 : Telur Menetas : Di Sapih
: Bertelur Kembali dan ngeram
28
28
Lampitan 4. Data produksi burung Murai Batu 4
Lampiran 5. Data reproduksi burung Murai Batu 5
Lampiran 6 wawancara bersama bapak Bayu Candra
DESEMBER 2016 JANUARI 2017 FEBUARI 2017
Senin 28 5 12 19 26 2 9 16 23 30 6 13 20 27 Selasa 29 6 13 20 27 3 10 17 24 31 7 14 21 28 Rabu 30 7 14 21 28 4 11 18 25 1 8 15 22 29 Kamis 1 8 15 22 29 5 12 19 26 2 9 16 23 30 Jum'at 2 9 16 23 30 6 13 20 27 3 10 17 24 31 Sabtu 3 10 17 24 31 7 14 21 28 4 11 18 25 Minggu 4 11 18 25 1 8 15 22 29 5 12 19 26 : Telur Menetas : Di Sapih
: Bertelur Kembali dan ngeram : Mulai penelitian
DESEMBER 2016 JANUARI 2017 FEBURAI 2017
Senin 28 5 12 19 26 2 9 16 23 30 6 13 20 27 Selasa 29 6 13 20 27 3 10 17 24 31 7 14 21 28 Rabu 30 7 14 21 28 4 11 18 25 1 8 15 22 29 Kamis 1 8 15 22 29 5 12 19 26 2 9 16 23 30 Jum'at 2 9 16 23 30 6 13 20 27 3 10 17 24 31 Sabtu 3 10 17 24 31 7 14 21 28 4 11 18 25 Minggu 4 11 18 25 1 8 15 22 29 5 12 19 26 : Telur Menetas : Di Sapih
: Bertelur Kembali dan ngeram
29
29
Lampiran 7. Kotak penyimpanan jangkrik
30
30
Lampiran 9. Anakan burung Murai Batu umur 7 hari
Lampiran 10. Anakan burung Murai Batu umur 30 hari