• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA. Daniel TW, Helms JA dan Baker FS Prinsip-prinsip silvikultur. Edisi Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR PUSTAKA. Daniel TW, Helms JA dan Baker FS Prinsip-prinsip silvikultur. Edisi Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Alrasyid H. 1984. Aspek-aspek pembangunan hutan tanaman industri. Proceedings lokakarya pembangunan timber estate, Fahutan IPB. Bogor. Dok. II/05: Hal 329-349.

Arisman H. dan Widyarsono. 1999. Silvikultur Acacia mangium di Sumatera Selatan. Dalam Eko B. Hardiyanto. 2000. Proseding seminar nasional status silvikultur 1999. Peluang dan tantangan menuju produktifitas dan kelestarian sumberdaya hutan jangka panjang. Wanagama I, Tanggal 1-2 Desember 1999. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yokyakarta.

Astuti IS 1998. Evaluasi status hara dan produksi Acacia mangium di PT Tanjung redep hutani berau Kalimantan Timur [skripsi]. Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Astuti Y. 2004. Kandungan unsur hara kalium pada tanah dan tanaman Acacia mangium Willd [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Butar Butar T, Mas’ud FA dan Suhada DA. 1993. Studi pendahuluan tempat tumbuh tanaman Acacia mangium di padang lawas Sumatera Utara. Buletin Penelitian Kehutanan 10(4) : 329-344.

Chaerudy. 1994. Studi kualita tapak yang dipakai untuk penanaman Acacia (Acacia mangium Wild) di KPH Banten, KPH Indramayu dan KPH Majalengka [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Daniel TW, Helms JA dan Baker FS. 1987. Prinsip-prinsip silvikultur. Edisi Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Dephut. 1990. Imformasi hukum dan per undang-undangan. Dirjen R2L. Biro Hukum dan Administrasi Departemen Kehutanan. Edisi III 1989/1990.

Dirjen RRL 1994. Program pembangunan sumber benih pohon hutan. Depertemen Kehutanan, Jakarta.

Djojosoebroto J. 2003b. Pengelolaan hutan tanaman. Dalam Abidin R, Ontarjo J dan Wasis B. 2003. Kehutanan: Masa lalu, kini dan akan mendatang. Alqaprint Jatinangor dan Fakultas Kehutanan IPB.

Dulsalam. 1987. Catatan singkat tentang Acacia mangium Willd. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor. Sylva Tropika 2: 16-18.

(2)

Fadjar A. 1996. Pertumbuhan luas bidang dasar hutan tanaman Acacia mangium willd yang terbaik melalui differensia model hubungan luas bidang dasar dengan umur, tempat tumbuh dan kerapatan tegakan [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Fauzi. 2001. Respon biaya satuan pertumbuhan tanaman Acacia mangium Willd akibat pemberian bahan organik [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Ginting A. 1998. Pedoman pengelolaan tanah podzolik merah kuning untuk hutan tanaman. Buletin Penelitian Hutan. No. 90/1998. Pusat Penelitian dan Konservasi Alam. Bogor.

Hafiziansyah G. 1997. Evaluasi kesesuaian tanaman Acacia mangium dan Eucalyptus deglupta di areal hutan tanaman industri PT Surya Hutani Jaya Sebulu, Kalimantan Timur [tesis]. Bogor; Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Hardiyanto EB. 2004. Silvikultur dan Pemulian Acacia mangium. Dalam Eko Bhakti Hardiyanto dan Hardjono Arisman. 2004. Pembangunan hutan tanaman Acacia mangium. Pengalaman di PT Musi Hutan Persada, Sumatera Selatan. PT Musi Hutan Persada Sumatera Selatan, Palembang. Hakim N. 1999. Potensi organogenesis tiga tingkat kematangan fisiologis benih

Acacia mangium Willd. Pada 2,4-D dan Thidiazuron dengan waktu induksi selama 4 dan 8 minggu [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Isntitut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Herbagung. 2004. Model hasil tegakan hutan tanaman Acacia mangium Willd. Di Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, Sumatera. Buletin Penelitian Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor, Indonesia.

Islami T dan Utomo WN. 1995. Hubungan tata Air dan tanaman. Ikip Semarang Press. Semarang.

Kusdiantoro S. 1998. Penilaian tingkat degradasi lahan di Cukilan, Dadapayam. [skripsi]. Bogor: Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor.

Kusnandar E. 1996. Pertumbuhan tinggi Acacia mangium pada berbagai tipe pengolahan tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Bogor.

Kusumawati E. 1998. Pengaruh pupuk TSP terhadap pertumbuhan anakan Acacia mangium Willd dari berbagai sumber asal benih [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

(3)

Latifah S. 2000. Keragaan pertumbuhan Acacia mangium Willd. Pada lahan bekas tambang timah (Studi kasus di areal kerja PT Timah Tbk) [tesis]. Bogor; Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Leksono B. 2000. Peningkatan genetik uji keturunan Acacia mangium generasi pertama (F-1) dan rencana pembangunan generasi ke dua (F-2). Proseding ekspos hasil-hasil penelitian perbenihan tanaman hutan. Kerjasama BTP Bogor dan BP3BTH Yogyakarta, di Yogyakarta 21-23 Maret 2000.

Leksono B dan Setiadi D. 2001. Analisis multitapak pada uji provenansi Acacia mangium di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Buletin Penelitian Pemulian Pohon. Vol. 5 No. 1 (2001): 34-39.

Manan S. 1992. Penerapan sistim silvikultur THPB di hutan tanaman industri yang mendukung konservasi biodiversity. Makalah pada lokakarya konservasi biodiversity di hutan produksi. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Mile MY. 1997. Perubahan kesuburan tanah akibat konversi hutan menjadi areal

HTI. Buletin Penelitian Hutan No. 610/1997, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.

Mindawati N. 1999. Produksi dan laju dekomposisi serasah Acacia mangium Willd. Buletin Penelitian Hutan bogor (For. Res. Bull) 618: 65-77. Bogor. ______ 2000. Kondisi hara pada tegakan Acacia mangium Willd umur 9 tahun di

KPH Majalengka, Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan. No. 624 : 29-39. Pusat Penelitian dan Konservasi Alam. Bogpr.

[Pemda Sawahlunto/Sijunjung]. 2007. Keadaan alam Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. www. Sijunjung. go. id Tanggal 8 Pebruari 2007.

Pinyopusarerk K, Liang SB and Gunn BV. 1993. Taxonomy, distribution, biology and use an exotic. In Awang, K and D. Taylor. 1993. Acacia mangium: Growing and Utilization. Winrock International and Food and Agriculture Organization of United Nation. Bangkok.

Purnomo S. 2002. Kebijakan pembangunan hutan tanaman sebagai bahan baku industri. Makalah seminar pengembangan industri pengolahan dan pemasaran hasil hutan, kerjasama Fakultas Kehutanan IPB dengan Depertemen Kehutanan, Tanggal 16-17 Desember 2002. Bogor.

Rahayu M, Soetisna U dan Sumiasri N. 1991. Potensi beberapa jenis Acacia di Indonesia dalam hutan tanaman industri. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Volume VII No 1 Januari 1991. Bogor. Hal 9-13.

(4)

Retnowati E. 1988. Beberapa catatan tentang Acacia mangium Willd. Jenis potensial untuk hutan tanaman industri. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Vol. IV No 1: 24-27. Departemen Kehutanan.

Rukmini BD. 1996. Kajian penetapan bonita pada tegakan Acacia mangium di areal HTI PT Musi Hutan Persada Subanjeriji, Sumatera Selatan [skripsi]. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Sanchez P. 1992. Sifat dan pengelolaan tanah tropika. Jayadinata Johara, Penerjemah; Hadiwijoyo Susanti Purbo, Penyunting. Bandung: ITB. Terjemahan dari: Properties and management of soil in The Tropics, 1st Edition.

Siregar CA, Djaingsastro N dan Satjapradja O. 1991. Model pertumbuhan Acacia mangium Willd berumur 27 bulan di Tanjung Bintang, Lampung. Buletin Penelitian Hutan 539: 1-12. Bogor.

Siahaan H, dan Leksono B. 2004. Evaluasi pertumbuhan uji provenansi Akasia umur lima tahun di Kemampo Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Balai Litbang Hutan Tanaman Palembang. Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemulian Tanaman Hutan.

Soedomo S. 1984. Studi hubungan sifat-sifat tanah dan fisografi dengan peninggi Pinus merkusii Jung et de Vriese. [tesis] Bogor: Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Soemarwoto, O. 1991. Peranan hutan tropik dalam hidro-orologi. Pemanasan global dan keanekaan hayati. Makalah untuk seminar hari pangan sedunia XI. Departemen Kesehatan. Jakarta.

Soerjono. 1989. Acacia mangium, adalah jenis cepat tumbuh yang mandiri. Makalah dalam proseding seminar sehari peningkatan pemanfaatan agrometeorologi dalam pembangunan hutan tanaman industri dan pengembangan perkebunan. Kerjasama Perhimpi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Soepardi G. 1983. Sifat dan ciri tanah. Bogor: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Soekotjo. 1999. Silvikultur intensif untuk meningkatkan produktifitas, efisiensi, kompetitif dan kelestarian hutan humida tropis Indonesia. Dalam Eko B. Hardiyanto. 2000. Prosiding seminar nasional status silvikultur 1999. Peluang dan tantangan menuju produktifitas dan kelestarian sumberdaya hutan jangka panjang. Wanagama I, Tanggal 1-2 Desember 1999. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah, Yogyakarta.

(5)

Suhendang, E. 1990. Hubungan antara dimensi tegakan hutan tanaman dengan faktor tempat tumbuh dan tindakan silvikultur pada hutan tanaman Pinus merkusii Jungh Et De Vriese di pulau Jawa [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

Supriadi R. 1990. Penetapan dasar ekonomi kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Tusam (Pinus Merkusii) sebagai jenis kayu hutan tanaman industri. Makalah penunjang dalam diskusi hasil silvikultur, sifat dan keteguhan jenis kayu HTI. Jakarta.

Susanto M, Nirsatmanto dan Susilowati S. 1997. Korelasi sifat-sifat kayu, pertumbuhan dan bentuk batang Acacia mangium provenansi Claudia river. Makalah disampaikan dalam ekpose hasil penelitian dan pengembangan pemulian pohon 1997 di Ambarukmo Palace Hotel, tanggal 23 Desember 1997. Yogyakarta.

Tampubolon AP, Gintings AN dan Kurniati L. 1996. Penampilan tanaman Acacia mangium di lahan bekas tambang Batubara Cempaka dan lahan bekas alang-alang, Riam Kiwa, Kalimantan Selatan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Bogor.

Tobing D. 1995. Strategi mencapai pengelolaan hutan produksi lestari. Dalam Suhendang E. Haeruman H. dan Soerinegara I. 1995. Pengelolaan Hutan Produksi Lestari di Indonesia. Konsep, permasalahan dan strategi menuju era ekolabel. Proseding Simposium Penerapan Ekolabel di Hutan Produksi. Jakarta pada Tanggal 10-12 Agustus 1995. Yayasan Gunung Menghijau dan Yayasan Pendidikan Ambarwati. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Wahyuningtyas RS, Hadi TS, dan Ariani R. 2002. Pertumbuhan Acacia mangium dengan benih hasil pemulian. Prosiding hasil-hasil penelitian BPPHT Banjarbaru (42-59). Banjarbaru.

Wasis B. 1996. Peningkatan mutu semai sengon (Pareserianthes falcataria (L) Nilsen) melalui pemberian kapur, pupuk TSP dan inokulasi Rhizobium pada tanah masam [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.

_______2006. Perbandingan kualitas tempat tumbuh antara daur pertama dengan daur kedua pada hutan tanaman Acacia mangium Willd [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan. Widiastuti RE. 1998. Karakterisasi dan infektifitas bakteri bintil akar pada akar

Acacia mangium Willd dan Acacia crassicarpa untuk pengembangan Hutan Tanaman Industri di Lahan Gambut [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

(6)
(7)

Lampiran 1. Peta lokasi penelitian

(8)

Lampiran 2 Hasil analisis sifat kimia dan fisika tanah

C-Organik N-Total P Ca Mg K KTK Air tersedia

No Umur Petak Ukur pH …. (%) …. (ppm) …. (me/100g) …. (% Volume) Pa 1 2 I 4.6 2.55 0.15 6.3 1.12 0.53 0.26 11.53 9.45 2 2 II 4.4 3.67 0.14 5.4 1.15 0.44 0.32 13.47 7.65 3 2 III 4.5 1.32 0.14 5.6 0.53 0.41 0.34 11.54 11.65 1 3 I 4.7 1.25 0.1 6.5 0.56 0.27 0.19 9.48 7.05 3 2 3 II 4.8 0.69 0.07 5.8 0.76 0.35 0.15 6.98 13.19 7 3 3 III 4.7 0.7 0.06 6.3 0.72 0.32 0.1 6.68 11.6 1 4 I 4.5 2.05 0.15 5.3 0.83 0.35 0.24 11.97 12.94 2 4 II 4.4 4.66 0.27 8.1 2.27 0.83 0.36 17.57 9.55 3 4 III 4.4 3.91 0.24 6.8 1.18 0.4 0.31 15.53 7.49 1 5 I 4.6 1.83 0.14 4.6 1.61 0.48 0.28 10.24 6.38 3 2 5 II 4.7 0.72 0.08 5.3 0.81 0.36 0.24 6.86 6.4 6 3 5 III 4.5 2.11 0.15 4.9 0.76 0.29 0.23 10.9 12.78 2 1 6 I 4.7 2.84 0.18 6.6 0.94 0.36 0.26 12.55 5.25 2 2 6 II 4.6 2.6 0.17 5.8 0.65 0.28 0.22 10.55 10.32 2 3 6 III 4.7 2.5 0.17 6 1.75 0.53 0.31 10.44 11.49 2

(9)

Lampiran 3. Data volume per petak ukur

No Petak ukur Umur Diameter Tinggi Total Peninggi Volume

1 I 2 0.06 8.03 11.1 2.2449 2 II 2 0.06 7.9 11.4 2.3147 3 III 2 0.06 7.5 10.5 2.3081 4 I 3 0.09 10.5 14.2 5.5129 5 II 3 0.09 10.3 14.3 5.3305 6 III 3 0.08 10.8 14.1 4.1796 7 I 4 0.11 13.6 18.3 11.3632 8 II 4 0.11 13.4 18.1 11.869 9 III 4 0.11 13.1 17.9 10.3496 10 I 5 0.13 16.6 21.2 19.6954 11 II 5 0.13 16.6 21.3 18.7099 12 III 5 0.14 16.7 20.5 19.722 13 I 6 0.15 19.6 28.8 28.2189 14 II 6 0.15 19.8 26.7 27.5674 15 III 6 0.14 19.9 27.4 27.2459

(10)

Lampiran 4. Data diameter, tinggi total, peninggi dan volume

No Umur (th) Diameter(m) Tinggi total(m) Peninggi(m) Volume(m3/ha)

1 2 0,06 7,8 11,0 22,8921

2 3 0,08 10,5 14,2 50,0766

3 4 0,11 13,3 18,1 111,9388

4 5 0.13 16,6 21,0 193,7575

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mendalam tentang bagaimana pelaksanaan program kulliyatu tahfidz al-Qur’an dalam meningkatkan hafalan santri pondok

2017 sebesar Rp42,5 miliar dibandingkan keuntungan selisih kurs bersih sebesar Rp349,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya yang disebabkan oleh apresiasi yang lebih

Sesuai Undang-Undang Dasar 1945 presiden Republik Indonesia bertugas: (a) Menjalankan Undang- Undang Dasar 1945, (b) Menjalankan garis-garis besar haluan Negara, dan

Penentuan waktu kontak optimum adsorpsi bertujuan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh adsorben arang aktif kulit buah kakao dalam menyerap Cr total secara

Pembukaan secara serentak ini disebut tumpang tindih (overlapping). Keuntungan yang diperoleh dari tumpang tindih banyak adalah pembilasan yang lebih baik pada ruang

Oleh karena itu upaya untuk menanamkan ketertarikan, meningkatkan nalar dan mempercayai potensi minyak atsiri sebagai bahan baku biopestisida, maka materi pembekalan

Guru dan siswa bertanya jawab berkaitan dengan identitas diri yang dibutuhkan sebagai warga negara yang baik.. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan

Untuk Pengujian Keausan Wipro Kondisi basah dengan air, diperoleh bahwa, bahan kampas rem dengan Variasi 2 dan 3 paling rendah keausannya yaitu sebesar 0,0014 mm 2 /kg, namun