Studi Peningkatan Kinerja Ocean Outfall pada
Pembuangan Limbah Cair di Wilayah Pesisir
J i h a n n u m a A d i b i a h N u r d i n i
4308 100 049
Dosen pembimbing:
P r o f . M u k h t a s o r , M . E n g , P h . D
I r . H a s a n I k h w a n i , M . S c
•
Laut sebagai tempat akhir pembuangan limbah
•
Baku mutu air laut yang harus dipenuhi
•
Ocean Outfall sebagai solusi
•
Pada tahun 2012, Mukhtasor dan Mauludiyah melakukan suatu
kajian terhadap kinerja
ocean outfall
tipe surface discharge di
wilayah pesisir utara Jawa yang saluran pembuangannya masih
menyatu dengan saluran limbah kota. Peneliti berkesimpulan
bahwa kinerja ocean outfall sudah baik, namun masih ada satu
parameter standar kualitas air yang belum terpenuhi yaitu
amoniak
LATAR BELAKANG
Maka diperlukan suatu evaluasi terhadap kinerja
eksisting ocean outfall dan skenario perbaikan
Rumusan Permasalahan & Tujuan
Mendapatkan nilai kinerja
ocean outfall
eksisting tipe pembuangan di
permukaan di wilayah pesisir utara Jawa yang kondisinya menyatu dengan
saluran limbah kota.
Mengevaluasi kinerja
ocean outfall
eksisting tipe pembuangan di permukaan di
wilayah pesisir utara Jawa yang menyatu dengan saluran limbah kota
Mendapatkan nilai skenario perbaikan kinerja
ocean outfall
tipe pembuangan di
permukaan di wilayah pesisir utara Jawa, yang meliputi:
a. Nilai evaluasi kinerja
ocean outfall
ketika debit limbah industri dan limbah
kota terpisah
b. Nilai evaluasi kerja
ocean outfall
pada variasi geometri
Mengevaluasi skenario perbaikan kinerja
ocean outfall
tipe pembuangan di
permukaan di wilayah pesisir utara Jawa. Skenario perbaikan meliputi:
a. Perencanaan pemisahan debit limbah industri dan limbah kota
b. Perencanaan variasi geometri
ocean outfall
1
BATASAN PENELITIAN
Adapun batasan dan asumsi dalam studi ini yaitu sebagai berikut:
•
Data limbah menggunakan data sekunder.
•
Waste water treatment system
disesuaikan dengan aplikasi di lokasi studi,
yaitu industri di Pesisir Utara Jawa.
•
Pemodelan dilusi limbah menggunakan CORMIX 8.0E versi evaluasi.
•
Studi hanya dilakukan pada salah satu
ocean outfall
di Pesisir Utara Jawa.
Kriteria Desain Outfall
Ocean
outfall
yang baik dan benar (
well-designed outfall
) diharapkan akan
menghasilkan proses dilusi limbah yang efektif sehingga tidak menimbulkan
dampak yang membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan manusia
pengguna perairan
(Mukhtasor dan Mauludiyah, 2012).
Dilusi/ Pengenceran
Ocean outfall
memanfaatkan faktor alami di laut untuk
menurunkan konsentrasi limbah. Mekanisme ini disebut dilusi/
pengenceran. Initial dilution pada daerah near field dan
secondary dilution pada daerah far field
Dilusi secara umum didefinisikan sebagai perbandingan antara
konsentrasi limbah pada ujung
port
dengan konsentrasi limbah
pada jarak tertentu dari
port
dengan:
S
= ukuran pengenceran/ dilusi
C
0= konsentrasi awal (di ujung
port
)
Metodologi Penelitian
MulaiMeninjau Lokasi Studi dan Mengumpulkan Data
Sekunder
Menghitung dilusi awal dan dilusi lanjutan dari
ocean outfall ek sisting
Menghitung konsentrasi polutan di air laut
selesai Apakah memenuhi baku mutu air laut? ya tidak merencanakan skenario perbaikan ocean outfall
Mendapatkan lokasi zona percampuran eksisting
Menganalisa Geometri Plume
Kawasan
mangrove
Kawasan
mangrove
Arah pergerakan
arus laut
Area pengolahan limbah cair industriLokasi Inlet Limbah Cair yang
sudah melalui tahapan
b
o
Perpanjangan ocean
outfall/ kanal di laut,
dimana sekitarnya ditanami
mangrove
Kondisi Lingkungan
Gelombang
Gelombang yang terjadi di wilayah pesisir utara Jawa merupakan Gelombang
yang dibangkitkan angin dan gelombang swell. Ketinggian gelombang di lokasi
berkisar antara 0.5 m hingga 1.2 m
Pasang Surut
Kondisi pasang surut di lokasi merupakan tipe campuran dominasi harian
ganda
MSL = 146 cm (terhadap rambu ukur)
LWS = 37 cm (terhadap rambu ukur)
HWS = 266 cm (terhadap rambu ukur)
Angin
Angin di lokasi cenderung bertiup ke Barat dan barat daya dengan kecepatan
angin rata-rata 4.5 m/s
Kondisi Lingkungan
Arus
Pola arus didominasi pola pasang surut. Berikut kecepatan arus laut pada
kondisi pasang surut
KONDISI PASUT
-0,2 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 ve lo cit y ( m /s ) ele va si ( m )hours after high water
Velocity vs Hour
Kondisi Lingkungan
Salinitas & Temperatur
cenderung tidak ada
Kondisi Lingkungan
Bathimetri
lokasi outlet ocean outfall memiliki kedalaman yang dangkal, yaitu 1.14m dari
MSL, kemudian di sekitar outlet berkedalaman rata-rata 1.22 m dari MSL
Kondisi Lingkungan
Bathimetri
lokasi outlet ocean outfall memiliki kedalaman yang dangkal, yaitu 1.14m dari
MSL, kemudian di sekitar outlet berkedalaman rata-rata 1.22 m dari MSL
KONDISI PASUT
+1,09 30 Bottom of Discharge Channel Skematisasi CORMIX3 Jarak (m) HWS MSL +2,29 60 Topography transect 90 -0,45 1,18 m LWS 1,11 m -0,05 1,14 m HD0 -0,15 1,24 m Slope= 40 Elevasi (m) -0,02Kondisi Limbah Discharge
Debit (Flowrate) Limbah
Kondisi Limbah Discharge
Beban Pencemaran Amoniak tahun 2011
Kondisi Limbah Discharge
Konsentrasi Polutan pada
Limbah tahun 2009
Konsentrasi Polutan pada
Ocean Outfall Eksisting
Ocean Outfall Eksisting
Ocean Outfall Eksisting
Ocean Outfall Eksisting
Ocean Outfall
(skenario pemisahan debit limbah)
Dilusi Amoniak pada Near Field
Ocean Outfall
(skenario pemisahan debit limbah)
Konsentrasi Amoniak pada Near Field
Ocean Outfall
(skenario perubahan geometri)
Lebar ocean outfall (m)
Tinggi ocean outfall yang terisi effluent (m)
Konsentrasi Akhir Effluent (mg/l)
Dilusi yang terjadi (kali) 0,5347 1,14 227 4,5 0,5395 1,13 227 4,5 0,5644 1,08 227 4,5 0,5918 1,03 227 4,5 0,6220 0,98 228 4,5 0,6555 0,93 228 4,5 0,6927 0,88 228 4,5 0,7345 0,83 229 4,5 0,7815 0,78 229 4,5 0,8351 0,73 230 4,5
SIMPULAN
1. Evaluasi kinerja ocean outfall eksisting tipe pembuangan di permukaan di wilayah Pesisir Utara Jawa, dapat disimpulkan dari parameter-parameter berikut:
a. Dilusi awal atau dilusi pada near field cenderung meningkat seiring bertambahnya jarak sebaran plume, meskipun dilusi rendah, sebesar 1 - 3,8 kali. Pada zona far field, tingkat percampuran effluent limbah dengan air laut sangat kecil bersamaan dengan berkurangnya ketebalan plume. Tahapan ini menandakan plume akan segera menyatu dengan garis pantai.
b. Konsentrasi akhir polutan amoniak pada keempat kondisi tersebut cenderung menurun bersamaan dengan bertambahnya jarak tempuh plume. Sampai batas near field, nilai konsentrasi masih sangat besar, berkisar di antara 260 mg/l hingga 544 mg/l. Jauh dari baku mutu air laut untuk polutan amoniak 0,3 mg/l.
c. (1) Jangkauan near field untuk kondisi pasang selama satu jam setelah periode istirahat (slack) pada kondisi debit limbah maksimum sejauh 260 m dengan waktu tempuh 0,8 jam, (2) sedangkan pada kondisi debit limbah rata - rata sejauh 258 m dengan waktu tempuh 0,8 jam. (3) Kemudian jangkauan near field
untuk kondisi surut selama satu jam setelah periode istirahat (slack) pada kondisi debit limbah maksimum sejauh 216 m dengan waktu tempuh 1 jam, (4) sedangkan pada kondisi debit limbah rata - rata sejauh 179 m dengan waktu tempuh 0,83 jam.
d. Untuk keempat variasi kondisi lingkungan dan debit limbah, jenis aliran yang terjadi adalah (upstream intruding plume), di mana effluent limbah pada akhir zona far field dibelokan kembali menuju hulu near field
SIMPULAN
2. Evaluasi perbaikan kinerja ocean outfall eksisting tipe pembuangan di permukaan di wilayah Pesisir Utara Jawa ditekankan pada analisa dilusi dan besar konsentrasi akhir polutan.
a. Pada empat kondisi lingkungan, setelah debit limbah kota dipisahkan, dilusi yang terjadi adalah sekitar 1 – 26,3 kali, sedangkan konsentrasi akhir polutan amoniak di air laut berkisar antara 49,9 mg/l – 201 mg/l.
b. Pada salah satu kondisi, yaitu kondisi surut selama dua jam setelah periode istirahat (slack) pada debit rata-rata, dengan konsentrasi awal sebesar 945, 396667 mg/l, setelah disimulasikan dengan variasi geometri ocean outfall, dilusi yang terjadi 4,5 kali dengan konsentrasi akhir berkisar 227 mg/l hingga 230 mg/l.