• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relasi kuasa Nahdlatul Ulama (NU) dan politik pasca-reformasi: studi kasus NU Jawa Timur tahun 2004-2014.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Relasi kuasa Nahdlatul Ulama (NU) dan politik pasca-reformasi: studi kasus NU Jawa Timur tahun 2004-2014."

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata

Satu (S-1) dalam Ilmu Ushuluddin dan Filsafat

Oleh :

ROBBAH MUNJIDDIN AHMADA NIM: E54212058

PROGRAM STUDI FILSAFAT POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

(2)

ii

(Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)

Skripsi

Diajukan kepada

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S-1)

Ilmu (Program Studi Filsafat Politik Islam)

Oleh :

ROBBAH MUNJIDDIN AHMADA NIM: E54212058

PROGRAM STUDI FILSAFAT POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT

(3)

iv

Skripsi oleh Robbah Munjiddin Ahmada ini telah disetujui untuk diujikan.

Surabaya, 28 Desember 2016

Pembimbing,

(4)

v

Tim Penguji Skripsi Surabaya, 14 Februari 2017

Mengesahkan

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Dekan,

Dr. Muhid, M.Ag. NIP. 196310021993031002

Tim Penguji Ketua,

Zaky Ismail, M.Si. NIP. 198212302011011007

Sekretaris

Fikri Mahzumi, M.Fil.I. NIP. 198204152015031001

Penguji I

Dr. Ainur Rofiq Al Amin, SH, M.Ag. NIP. 197206252005011007

Penguji II

(5)

vi Yang bertanda tangan di bawah ini saya :

Nama : Robbah Munjiddin Ahmada NIM : E54212058

Prodi : Filsafat Politik Islam

dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.

Surabaya, 28 Desember 2016

Saya yang menyatakan,

(6)

iii

Penelitian ini berjudul RELASI KUASA NAHDLATUL ULAMA (NU) DAN POLITIK PASCA-REFORMASI (Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014). Rumusan masalah yang diketengahkan dalam penelitian ini adalah apa bentuk relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi, bagaimana proses terbentuknya relasi, dan prospek relasi dalam suksesi kepemimpinan politik ke depan. Tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengklasifikasikan bentuk relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi, mendeskripsikan proses terbentunya relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi, dan menganalisis prospek relasi kuasa NU dan politik dalam suksesi kepemimpinan politik ke depan.

Adapun metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian studi kasus (case study). Studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang penelahaannya kepada suatu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasca-reformasi ada relasi antara NU Jawa Timur dan Politik berbentuk relasi non-institusional yakni berperannya kiai struktural PWNU Jawa Timur dalam pemenangan pasangan Mega-Hasyim pada Pilpres 2004, dan relasi institusional yakni pada rekomendasi PWNU Jawa Timur terhadap calon anggota DPD pada Pileg 2014. Berpijak pada Teori Pilihan Rasional Baert dan Teori Politik Jawa Anderson, relasi ini terbentuk sebab rasionalitas NU Jawa Timur yang ditopang dengan kultur Jawa yang melingkupi Jawa Timur. Atau bisa disebut, terbentuk sebab sisi rasional dan kultural. Berkenaan dengan prospek relasi, masih akan tetap muncul. Hal ini dikarenakan, pertama, kepercayaan/ajaran di internal NU berupa pemaknaan politik, hubungan kiai dengan politik, khittah NU dan cara berkhidmah kader NU yang terjun dalam politik praktis. Kedua, “terlembaganya” paduan Islam-Jawa. Ketiga, peran pesantren dalam konfigurasi politik yang masih belum beranjak dari vote-getter dan penyedia sumber daya untuk mengisi pos politik.

(7)

xi

SAMPUL DALAM ... ii

ABSTRAK ...iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

PENGESAHAN ... v

PERNYATAAN ORISINALITAS ... vi

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN ...viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

PEDOMAN TRANSLITERASI ...xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan penelitian ... 9

D. Kegunaan Penelitian... 10

E. Penelitian Terdahulu ... 10

F. Metode Penelitian... 13

G. Sistematika Pembahasan ... 22

BAB II KERANGKA TEORI ... 24

A. Teori Pilihan Rasional ... 24

(8)

xii

B. Peta Sosial Keagamaan Provinsi Jawa Timur ... 51

C. Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Konstelasi Politik ... 53

BAB IV PEMBAHASAN ... 59

A. Bentuk Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Politik Pasca-Reformasi ... 59

B. Proses Terbentuknya Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Politik Pasca-Reformasi ... 74

C. Prospek Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Politik dalam Suksesi Kepemimpinan ke Depan ... 82

BAB V PENUTUP ... 85

A. Simpulan ... 85

B. Saran ... 86

(9)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Relasi antara agama (Islam) dan politik harus diakui menjadi perbincangan

yang tak pernah usai di kalangan para akademisi. Hal ini memang bukanlah

sesuatu yang tabu. Potret relasi ini bisa dilacak genealoginya dengan masa lalu,

pada masa Nabi Muhammad, sang pembawa risalah Islam. Ada sebuah kisah yang

sering disebut mengindikasikan pergulatan antara Islam dan politik.

Seorang pedagang bernama Afif Al-Kindi datang ke Makkah ketika musim

haji. Kemudian ia melihat seorang keluar, diikuti seorang wanita dan pemuda, lalu

mengerjakan shalat di depan ka’bah. Ibnu Abbas (paman Nabi Muhammad) yang

ada di samping Afif Al-Kindi memberi tahu bahwa yang keluar dan melaksanakan

shalat di depan ka’bah adalah keponakannya, Muhammad bin Abdullah.

Sementara sang wanita adalah Khadijah dan sang pemuda adalah Ali bin Abi

Thalib. Ibnu Abbas menuturkan, bahwa Muhammad mengaku dia adalah utusan

Allah dan dia meyakini akan menghancurkan dua negara adidaya, Romawi dan

Persia.1

Kisah di atas acapkali dianggap sebagai bukti historis kuatnya dimensi

politik dalam dakwah Nabi Muhammad. Dalam fakta historis lain, sesaat setelah

wafatnya Nabi Muhammad, bahkan sebelum dimakamkan, terjadi pertemuan yang

mengarah pada kontestasi kepemimpinan politik (atas umat Islam) oleh kaum

Muhajirin dan Anshar. Pertemuan yang terjadi di Saqifah Bani Saidah ini

1

(10)

memunculkan perdebatan terkait siapa yang pantas dan sah untuk menggantikan

kepemimpinan pasca-nabi.2

Rangkaian peristiwa munculnya kelompok-kelompok dalam Islam,

umpamanya, juga tidak lepas dari masalah politik. Kelahiran Syi’ah, Khawarij,

Jabariyah, Qodariyah, Murji’ah, hingga Ahlussunnah juga berkelindan dengan

persoalan politik. Narasi tentang politik menjadi bagian integral dari kelahiran

kelompok-kelompok Islam itu. Tentu kita sepakat bahwa persoalan politik

tidaklah identik dengan hal negatif.

Sejarah mencatat, nuansa politik yang melingkupi kelahiran

kelompok-kelompok di atas, ada yang sebab carut marut politik, keluar dari urusan politik,

dan lebih concern pada gerakan kultural, seperti Ahlussunnah yang dimotori Hasan al-Bashri, ada juga yang menggunakan agama untuk kepentingan politik,

seperti Jabariyah. Pergulatan antara Islam dan politik menjadi fase penting yang

akhirnya melahirkan kelompok-kelompok dalam Islam.3 Meskipun motif kelahiran, bagaimana dan sejauh mana hubungan dengan politik mendapati

perbedaan.

Dalam konteks Indonesia juga demikian. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai

organisasi keagamaan di Indonesia bisa dibilang lahir sebab nuansa politik. Lebih

tepatnya merespon kebijakan politik yang dikeluarkan penguasa Tanah Hijaz.

Ketika Muhammad bin Abdul Wahab menjalin kerjasama dengan penguasa

Dir’iyah, Muhammad bin Saud (setelah sebelumnya Muhammad bin Abdul

2

Ibid., 26. Terkait pertemuan ini, Jufri memberikan pandangan bahwa yang menjadi fokus utama adalah tuntutan sosial-politik umat. Tak ada penggunaan (ayat) Al-Qur’an untuk memperkuat klaim masing-masing, baik Muhajirin atau Anshar. Lihat Syed Hussain Mohammad Jafri, Agama dan Negara dalam Pandangan Imam Ali (Yogyakarta: RausyanFikr, 2016), 18.

3

(11)

Wahab terusir dari Uyainah) menjadikan pola keberagamaan di tanah Hijaz

berubah. Perkembangan politik di tanah Arab ini berdampak pada pemusnahan

situs-situs peradaban Islam dan pluralitas madzhab keagamaan yang dibatasi.4 Meyikapi hal ini, ulama di Indonesia membentuk delegasi bernama Komite Hijaz

(sebuah kepanitiaan kecil yang dibentuk sekitar tahun 1924-1925) yang menjadi

cikal bakal lahirnya NU.5

Seiring berjalannya waktu, NU ikut dalam perjuangan kemerdekaan,

hingga kondisi mengharuskan NU terjun, secara institusi, ke gelanggang politik

praktis. Sebagai anggota Masyumi di awal kemerdekaan, pada tahun 1952 NU

memutuskan untuk keluar dari wadah aspirasi politik kelompok Islam ini. NU

memilih untuk menjadi partai politik sendiri. Pada pemilu tahun 1955 Partai NU

yang merupakan wadah perjuangan politik bagi warga NU, memperoleh 45 kursi

di DPR. Ini berbeda jauh dengan ketika masih bergabung bersama Masyumi. Saat

masih di Masyumi, NU hanya mendapat jatah 8 kursi.6

Kiprah NU di panggung politik praktis terus berlanjut dari tahun ke tahun.

Hingga akhirnya pada 1973 pemerintah menghendaki penyederhanaan partai

politik, menjadi tiga partai saja. NU memfusikan fungsi politiknya kepada Partai

Persatuan Pembangunan (PPP). Tak berhenti di situ, ketidaknyamanan kini (juga)

menghinggapi NU di “rumah barunya” tersebut. Dalam perkembangannya jatah

kursi untuk NU semakin berkurang.

Pergulatan panjang antara NU dan politik ini, pada akhirnya membawa NU

untuk menjauh dari politik, melalui Muktamar-nya ke 27. Muktamar yang

4

M. Nur Hasan,Ijtihad Politik NU(Yogyakarta: Manhaj, Jember: Ikatan Keluarga PMII Jember, 2010), 49.

5

Majalah AULA, No. 4 Tahun XXXVIII April 2016, 8. 6

(12)

dilangsungkan pada tahun 1984 di Situbondo itu memutuskan bahwa NU tidak

(lagi) terikat secara organisatoris, dengan organisasi sosial maupun politik

manapun. Posisi ini ditegaskan lagi pada tahun 1994, dimana NU membebaskan

diri dari keterikatan dengan partai yang ada kala itu dan “memberi lampu hijau”

pada warganya untuk masuk partai politik manapun.7

Ketika reformasi bergulir, dengan segenap hiruk-pikuknya, muncul

tuntutan di kalangan warga NU untuk mendirikan partai politik (lagi). Mencermati

dinamika yang terjadi, bahkan awalnya terjadi penolakan dari beberapa pengurus

PBNU,8namun sesuai dengan Rapat Harian PBNU tanggal 25 Mei 1998, tanggal 17 dan 22 Juni 1998, PBNU mengeluarkan surat tugas nomor 925/A.II/03/6/1998

kepada 14 orang untuk menginventarisir dan merangkum usulan-usulan mengenai

pembentukan partai politik untuk mewadahi aspirasi politik warga NU;

mengkoordinasikan warga NU yang ingin membentuk partai politik untuk

mewadahi aspirasi politik warga NU; dan membatu keinginan warga NU untuk

membentuk satu partai politik yang dapat mewadahi aspirasi politik warga NU.9 Tim yang beranggotakan 14 orang ini (dengan rincian 5 orang sebagai Tim

Lima dan 9 orang sebagai Tim Asistensi) akhirnya memutuskan tidak mendirikan

Partai NU, tetapi memfasilitasi berdirinya partai yang punya hubungan historis,

aspiratif, dan kultural dengan NU, bernama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

7

Ibid., 43 8

Penolakan itu di antaranya muncul dari Sekretaris Jendral PBNU, Ahmad Bagja yang tidak setuju PBNU membuat partai politik. Begitujuga yang tidak mikir partai dari NU dan menganggap penting pembahasan seputar itu. Meskipun pada akhirnya, gelombang ketidak setujuan itu tidak menghalangi pendirian partai. Lihat Mahrus Ali dan MF. Nurhuda Y, Pergulatan Membela yang Benar Biografi Matori Abdul Djalil (Jakarta: Kompas, 2008), 170-171.

9

(13)

Deklrasi (kelahiran) PKB dilangsungkan 1 bulan pasca-surat tugas dikeluarkan,

tepatnya pada 23 Juli 1998.

Pada posisi ini, bisa dibaca sebagai wujud relasi antara NU dan politik

pasca-reformasi. Dalam skala lokal Jawa Timur, pola relasi NU dan politik juga

menarik dikaji. Keputusan PBNU yang memfasilitasi berdirinya PKB, juga turut

diikuti kepengurusan tingkat bawah, seperti turut andilnya NU Jember yang saat

itu berada di bawah kepemimpinan H. Mukhson Sudjono dalam memfasilitasi dan

mem-back up pendeklarasian PKB cabang Jember. Pun NU Jember juga mendampingi setiap proses perpolitikan yang dilakukan oleh PKB.10

Beberapa hal lain, yang bisa dibaca sebagai relasi NU dengan politik,

umpamanya ketika Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, peran

tokoh-tokoh NU Jawa Timur juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Kiai

Abdullah Faqih, Langitan, Tuban adalah kiai yang sering disebut-sebut sosok

utama dalam majunya Gus Dur sebagai presiden.11 Begitujuga saat masa Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) tahun 2004. Di kalangan

nahdliyyin (sebutan bagi warga NU) Jawa Timur, bahkan muncul istilah “Poros

10

Abdul Haris, dkk,“Pergeseran Perilaku Politik Kultural Nahdlatul Ulama (NU) di Era Multi Partai Pasca Orde Baru (Studi Kasus NU Jember, Jawa Timur)”, http://www.averroes.or.id/pergeseran-perilaku-politik-kultural-nahdlatul-ulama-nu-di-era-multi-partai-pasca-orde-baru-2.html (Sabtu, 14 Mei 2016, 20.08)

11

(14)

Langitan” dan “Poros Lirboyo”. Istilah ini merujuk pada dua pesantren “sepuh”

dan masyhur di lingkungan NU, yakni Pesantren Langitan di Tuban dan Pesantren

Lirboyo di Kediri.

Dua poros di atas merupakan representasi dari diferensiasi aspirasi politik

nahdliyyin Jawa Timur. “Poros Langitan” dengan Kiai Abdullah Faqih-nya

merapat ke Wiranto-Sholahuddin Wahid, sementara “Poros Lirboyo” dibawah

Kiai Idris Marzuki merapat ke pasangan Megawati-Hasyim Muzadi.12 Tak hanya itu, relasi lain juga muncul dalam kontestasi politik lokal Jawa Timur, yakni pada

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (pilgub) Provinsi Jawa Timur tahun

2008 dan 2013.

Dalam dua Pilkada Jawa Timur (terakhir) itu, warga NU juga dihadapkan

pada diferensiasi aspirasi politik. Pada tahun 2008 antara Soekarwo-Saifullah

Yusuf dan Khofifah-Mudjiono, sementara di tahun 2013 antara

Soekarwo-Saifullah Yusuf dan Khofifah-Herman. Sebagai catatan, Soekarwo-Saifullah Yusuf pernah

menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dua

periode, yakni 2000-2005, 2005-2010.

Sementara Khofifah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU

sampai sekarang. Tepatnya dari periode 2001-2006, 2006-2011, 2011-2016,

2017-2022. Dua kader NU itu berkontestasi dalam hajatan lima tahunan, Provinsi Jawa

Timur. Tentu sebagai tuan rumah dari hajatan ini, NU Jawa Timur dibayangi

tarik-menarik untuk mendukung kekuatan politik tertentu.

Relasi lain antara NU Jawa Timur dan politik nampak pula dalam

pelaksanaan Pemilihan Legislatif (pileg) terakhir, yakni pada tahun 2014. Pada

12

(15)

pileg tahun 2014 ini, muncul rekomendasi dari Pengurus Wilayah NU (PWNU)

Jawa Timur atas calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Timur. Ada

lima calon DPD yang mendapat rekomendasi resmi dari PWNU Jawa Timur

untuk mengarungi kontestasi pileg 2014. Lima calon DPD tersebut yakni Kiai

Hasib Wahab, Ainul Yakin, Istibsjarah, Dwi Astutik, dan Khodijatul Qodriah.13 Dalam hal ini, meski sejak tahun 1984 NU menyatakan tidak terikat dengan

organisasi sosial dan politik manapun, namun di lapangan NU masih

memperlihatkan relasi dengan politik yang dibangun baik melalui instrumen

institusi maupun melalui institusi itu sendiri. Relasi melalui instrumen

non-institusi terwujud, umpamanya melalui berperannya kiai struktural NU Jawa

Timur pada pilpres 2004, sementara relasi melalui institusi terwujud pada surat

rekomendasi NU Jawa Timur atas calon anggota DPD.

Berkenaan dengan penelitian ini, dua relasi (baca: NU Jawa Timur dengan

pilpres 2004 dan NU Jawa Timur dengan pileg 2014) akan ditelaah lebih lanjut.

Penekanan pada dua relasi ini berdasar pada beberapa alasan.14 Pertama, pilpres 2004 menempatkan NU pada posisi dilema. Di satu sisi Ketua Tanfidziah PBNU

non-aktif, Kiai Hasyim Muzadi tampil menjadi calon wakil presiden (cawapres)

mendampingi Megawati, di sisi lain, cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Kiai Salahuddin Wahid (Gus Sholah) tampil menjadi cawapres

mendampingi Wiranto.

13

NU Online “PWNU Jatim Rekomendasikan 5 Anggota DPD, ”http://www.nu.or.id/post/read/16193/pwnu-jatim-rekomendasikan-5-anggota-dpd

(Senin, 09 Mei 2016, 14.32). 14

(16)

Kedua, pilpres tahun 2004 menjadi pemilihan presiden pertama setelah

“presiden NU”, Gus Dur, jatuh dari kursi kepresidenan. Ketiga, pilpres 2004

menjadi pilpres pertama yang langsung dipilih oleh rakyat. Tiga alasan ini akan

menjadi pijakan untuk membaca kondisi politik di internal NU, tepatnya dalam

kaitan dengan relasi antara NU Jawa Timur dan politik. Termasuk sejauh mana

penggunaan sumber daya NU di tengah kebebasan politik (pasca-reformasi) dan

bagaimana peran NU Jawa Timur dalam konstelasi politik.

Sementara pada pileg (DPD) tahun 2014 beralasan, pertama, lahirnya relasi

antara NU Jawa Timur dengan politik secara institusi (relasi secara institusi ini

tidak terlihat pada pileg (DPR dan DPRD) dan pilpres 2014). Kedua, menjadi

pemilihan terakhir pasca-reformasi yang akan menjadi indikator posisi NU Jawa

Timur dan konstelasi politik. Ketiga, menjadi titik tolak prospek relasi NU Jawa

Timur dan politik kedepannya.

Mengetengahkan dua unsur ini (baca: PWNU Jawa Timur dan politik)

merupakan upaya untuk menelaah dan menjelaskan pola relasi. PWNU Jawa

Timur tak bisa dipungkiri mempunyai posisi dan pengaruh yang sangat

diperhitungkan dalam konstelasi politik. Telaah ini menjadi menarik, sebab akan

memberikan penjelasan tentang posisi elit agama (dalam hal ini NU) dalam

konstelasi politik.

Posisi elit agama ini dapat dibaca sebagai budaya politik yang berkembang

di Indonesia. Berkenaan dengan hal itu, sejauh mana posisi khittah dalam dinamika NU dan politik pasca-reformasi juga akan diketengahkan. Sebab khittah NU ini akan memberikan gambaran tentang prospek posisi elit agama dalam

(17)

Terkait pemilihan lokasi di Jawa Timur, beralasan sebab sebagaimana

disampaikan Hilmy, bahwa Jawa Timur adalah wilayah di Pulau Jawa yang paling

dinamis dan heterogen dari perspektif sosial, budaya dan politik.15 Sementara pemilihan pasca-reformasi (2004-2014) beralasan gelagat politik di era kebebasan

yang begitu nampak, di sisi lain sudah ada keputusan tertinggi yang menyatakan

larangan keterlibatan NU secara institusi ke gelanggang politik praktis. Maka

dengan alasan inilah, penulis mengangkat penelitian dengan judul “Relasi Kuasa

Nahdlatul Ulama (NU) dan Politik Pasca-Reformasi (Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)”.

B. Rumusan Masalah

Berpijak dari uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apa Bentuk Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama dan Politik Pasca-Reformasi di

Jawa Timur Tahun 2004-2014 ?

2. Bagaimana Proses Terbentuknya Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama dan Politik

Pasca-Reformasi di Jawa Timur Tahun 2004-2014 ?

3. Bagaimana Prospek Relasi Kuasa NU dan Politik dalam Suksesi

Kepemimpinan Politik ke Depan?

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang dikehendaki

dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengklasifikasikan bentuk relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan politik

pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.

15

(18)

2. Untuk mendeskripsikan proses terbentuknya relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan

politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.

3. Untuk menganalisis prospek relasi kuasa NU dan politik dalam suksesi

kepemimpinan politik ke depan.

D. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran

dalam keilmuan, antara lain:

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan

memperkaya khazanah keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan relasi

kuasa NU dan politik.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi

atau pertimbangan bagi peminat kajian keislaman. Hasil penelitian ini juga

dapat digunakan sebagai bahan acuan atau literatur bagi mahasiswa Fakultas

Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya khususnya dan para

pembaca pada umumnya, ketika mengkaji relasi kuasa NU dan politik.

E. Penelitian Terdahulu

Sejauh pengetahuan penulis, tidak ditemukan penelitian yang secara

khusus membahas relasi kuasa Nahdlatul Ulama (NU) dan politik pasca-reformasi

di Jawa Timur tahun 2004-2014. Namun ada beberapa penelitian yang

mengetengahkan relasi semacam ini, diantaranya :

a. Penelitian dengan judul “Pergeseran Perilaku Politik Kultural

Nahdlatul Ulama (NU) di Era Multi Partai Pasca Orde Baru (Studi

Kasus NU Jember, Jawa Timur)” oleh Abdul Haris, dkk. Dalam

(19)

Terdapat perubahan peta sosial-politik yang kemudian direspon dengan

cara, diantaranya mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Langkah ini tentunya tak bisa dilepaskan dari peran partisipatif warga

NU di tingkat daerah, seperti Jember. Menurut keterangan yang

berhasil dihimpun oleh peneliti, ada keterlibatan NU Jember dalam

pembentukan PKB. Bahkan sudah berlangsung lama yakni ketika

muncul wacana pembentukan partai politik di lingkungan internal NU

(pasca-reformasi). Beberapa tokoh dan kader muda NU Jember aktif

melakukan berbagai kegiatan diskusi tentang kemungkinan NU

membentuk partai sendiri. Serangkaian kegiatan diskusi yang

disponsori kader-kader muda NU Jember melibatkan tokoh-tokoh dan

segenap warga NU Jember dari berbagai elemen. Puncaknya, NU

Jember yang saat itu berada di bawah kepemimpinan H. Mukhson

Sudjono memfasilitasi dan sekaligus mem-back up pendeklarasian PKB cabang Jember yang dilakukan di Pondok Pesantren

Sumberwringin pimpinan K.H Khatib Umar. Dalam perjalanannya,

NU Jember juga mendampingi setiap proses perpolitikan yang

dilakukan oleh PKB.16

b. Tesis dengan judul “Transformasi Islam Politik Era Reformasi (Studi

Terhadap Pendidikan Politik PKB Tahun 1998-2008 di Kabupaten

Probolinggo Jawa Timur)” oleh Zuhri Humaidi. Mahasiswa

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Dalam tesis ini dipaparkan bahwa

pasca reformasi, PKB muncul sebagai salah satu partai yang

16

(20)

memperoleh reputasi luas. Dalam pandangan peneliti, paling tidak hal

ini disebabkan dua hal pokok, yaitu perolehan suaranya yang cukup

signifikan pada Pemilu 1999 dan 2004 serta kehadirannya sebagai

partai politik yang muncul dari rahim NU –organisasi muslim terbesar

di Indonesia-. Terkait pendidikan politik, di Probolinggo, hal ini

diimplementasikan melalui enam hal, yakni; kampanye Pemilu dan

Pilkada, pelatihan politik kader dan diskusi publik, pembentukan

organisasi tani dan nelayan, penghijauan lingkungan, patronase kyai

dan kegiatan keagamaan, dan pemberdayaan masjid. Pada tataran

praktis, PKB merupakan partai terkuat di daerah ini dengan

memenangi dua kali Pemilu. Keberhasilan PKB tidak bisa dilepaskan

dari struktur sosial dan keagamaan masyarakat Probolinggo yang

notabene merupakan pengikut NU yang taat. Sementara relevansi

pokok dari pendidikan politik PKB adalah memberikan

kontekstualisasi terhadap reformasi yang berlangsung di tingkat

nasional serta meningkatkan kualitas demokrasi yang sedang berjalan.

Pendidikan politik yang dilakukan PKB sekaligus menandai

pergeseran paradigma politik NU, yang juga berarti pergeseran

paradigma Islam politik. Islam politik pasca reformasi relatif tidak

mempermasalahkan posisi formal Islam dalam Negara Kesatuan

Republik Indonesia (NKRI). Suatu fenomena yang belum pernah

terjadi dalam sejarah perpolitikan di tanah air pada periode

sebelumnya.17

17

(21)

c. Skripsi dengan judul “Pemikiran Politik KH. Badri Mashduqi” oleh

As’ari. Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. Dalam

skripsi ini dipaparkan pemikiran politik KH. Badri Mashduqi, seorang

yang terjun ke dunia politik sejak tahun 1971 saat NU eksis sebagai

partai politik. KH. Badri juga masih aktif tatkala partai NU berfusi ke

PPP. Dalam pandangan KH. Badri Mashduqi, politik bagi kiai adalah

kata lain dari dakwah. Pandangan politik KH. Badri Mashduqi berpijak

pada doktrin Ahlussunnah Wal Jamaah, di mana politik merupakan satu kesatuan dengan agama. Meskipun dalam hal ini ada garis

singgung antara sisi politik dan agama, namun secara fungsional harus

dibedakan. Sisi agama diperankan oleh kiai, sementara politik

diperankan oleh umara. Keterlibatan kiai dalam politik adalah untuk mengontrol kegiatan politik agar tidak bertentangan dengan agama.18 F. Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan hal penting dalam penelitian, sebab dengan

ini cara yang ditepuh akan dipaparkan. Untuk itu agar penulisan penelitian ini

dapat tersusun dengan benar, maka penulis memandang perlu untuk

mengemukakan metode penelitian ini yakni sebagai berikut :

a. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama (NU) dan Politik Pasca-Reformasi (Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong, penelitian kualitatif adalah

Politik PKB Tahun 1998-2008 di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur)” (Tesis tidak diterbitkan, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2010), viii.

18

(22)

penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami

oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan.19 Sementara jenis/tipe penelitian ini adalah studi kasus.

Studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang

penelahaannya kepada satu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail,

dan komprehensif. Pendekatan studi kasus ini pada hakikatnya terfokus kepada

kasus (case). Kasus-kasus ini dapat diperoleh dari kasus yang unik, konteks khusus, isu- isu yang sedang berkembang, budaya, alamiah, holistik, fenomena

dan lain-lain20. Menurut Denzin, berkenaan dengan langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian studi kasus menurut adalah sebagai berikut: (a)

membatasi kasus, menentukan objek dari penelitian, (b) meyeleksi

fenomena-fenomena, tema atau isu (sebagai pertanyaan penelitian, (c) menentukan pola data

untuk mengembangkan isu, (d) obsevasi triangulasi, (e) menyeleksi alternatif

interpretasi, (f) mengembangkan kasus yang telah ditentukan.21 b. Data yang dikumpulkan

Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :

a) Data tentang bentuk relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan politik

pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.

b) Data tentang terbentuknya relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan

politik pasca-reformasi di Jawa Timur Tahun 2004-2014.

c) Data tentang prospek relasi kuasa NU dan politik dalam suksesi

kepemimpinan politik ke depan.

19

Lexy J. Moleong,Metode Penelitian Kualitatif(Bandung: Rosda Karya, 2008), 6. 20

M. Syahran Jailani.Ragam Penelitian Qualitative (Ethnografi, Fenomenology, Grounded Theory dan Studi Kasus),Jurnal Edu-Bio; Vol. 4 Tahun 2013, 48 21

(23)

c. Sumber Data

Terkait sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a). Sumber Data Primer

Sumber Primer yaitu data yang diperoleh penulis secara langsung dari

sumber aslinya.22 Dalam penelitian ini teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling, di mana penentuan ditentukan dengan pertimbangan tertentu.23 Dalam hal ini kriteria yang dipakai untuk memilih informan adalah tokoh yang pernah menjabat sebagai pengurus di PWNU Jawa Timur kurun waktu

tahun 2004-2014 dan dinilai memahami tentang relasi kuasa NU dan politik

pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014. Tokoh NU yang dimaksud

yakni; pertama, Kiai Ali Maschan Moesa yang pernah menjabat sebagai Ketua

Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 1999-2008.

Informan kedua adalah Kiai Mutawakkil Alallah. Beliau pernah menjabat

sebagai Wakil Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 1999-2004, Ketua

Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 2008-2013 dan saat ini menjabat sebagai

Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur untuk periode kedua, tahun 2013-2018.

Informan ketiga adalah Kiai Abdurrahman Navis, yang pernah menjabat sebagai

Syuriah PWNU Jawa Timur periode 2008-2013 dan saat ini sebagai Wakil Ketua

Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 2013-2018). Informan keempat yakni

Prof. Shonhaji Sholeh yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Tanfidziah

PWNU Jawa Timur periode 2013-2018.

22

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 114.

23

(24)

b). Sumber Data Sekunder

Sumber sekunder yaitu data yang diambil dan diperoleh dari bahan

pustaka dengan mencari data atau informasi berupa benda-benda tertulis seperti

buku-buku, majalah, jurnal, dokumen, kliping, atau karya tulis ilmiah.24 Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan beberapa sumber sekunder antara lain:

Buku Kyai di Panggung Pemilu dari Kyai Khos sampai High Cost karya Munawar Fuad Noeh. Buku ini memaparkan bagaimana peran kiai dalam

perpolitikan di Indonesia, kiai dan tatanan politik di Jawa Timur, begitu juga

posisi kiai dalam konstelasi politik di Jawa Timur pada pilpres tahun 2004.25 Buku Aswaja Politisi Nahdlatul Ulama karya Abdul Halim. Buku yang merupakan hasil disertasi ini, memotret intrepretasi Ahlussunnah Wal Jamaah (sebagai basis teologis NU) menurut para elit NU yang berada pada empat partai

politik Islam, yakni PKB, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai

Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di

sisi lain, buku ini juga memotret bergesernya elit agama (kiai) daricultural broker menjadipolitical brokerdanpolitical actor.26

Karya ilmiah berjudul Fiqih Politik NU: Studi Pergeseran dari Politik Kebangsaan ke Politik Kekuasaan karya Achmad Warid dalam Jurnal Asy-Syir’ah vol. 43. No. I, 2009. Dalam karyanya ini, Warid memaparkan terjadinya

pergeseran pola politik kiai NU dari politik kebangsaan ke politik kekuasaan.

Pergeseran ini berkelindan dengan masalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan

posisi di pemerintahan. Hal ini di antaranya berdampak pada polarisasi politik

24

Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian…115. 25

Munawar Fuad Noeh, Kyai di Panggung Pemilu dari Kiai Khos sampai High Cost (Jakarta Selatan: Renebook, 2014).

26

(25)

atau kepentingan politik yang menyebabkan perseteruan yang terjadi antar kiai

dan pesantren.27

Karya ilmiah berjudul Melacak Peran Kyai-Santri dalam Politik Kebangsaan di Indonesia karya Fifi Nofiaturrahmah dalam Jurnal Islamic Review volume III No. 1 April 2014. Dalam karyanya ini, Fifi melihat corak gerakan kiai

pada setiap masa. Di era revolusi, kemerdekaan, pemberontakan dan orde baru

kiai berhasil mengimplementasikan politik kebangsaan sebagai ruh

perjuangannya. Sedangkan pada era reformasi, gerakan kiai tersita pada urusan

politik praktis yang lebih banyak membawa madharat daripada maslahat. Posisi

kiai pada pergulatan politik praktis ini menjadikan citra kiai menjadi negatif di

mata umat. Fifi menilai, idelnya politik kebangsaan kembali menjadi fokus utama

para kiai.28

BukuPedoman Organisasi dan Administrasi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang diterbitkan oleh PW Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur. Buku ini memuat aturan-aturan dalam NU, seperti

Muqaddimah Qonun Asasi NU, Surat Komite Hijaz, Anggaran Dasar (AD) NU,

Anggaran Rumah Tangga (ART) NU, dan Pedoman Organisasi dan Administrasi

NU. Buku ini memberikan gambaran bagaimana pengelolaan organisasi NU.29 Majalah AULA No. 4 Tahun XXXVIII April 2016. Majalah yang dikeluarkan oleh PWNU Jawa Timur ini berisi beberapa hal yang bisa dibaca

sebagai kecenderungan sikap politik PWNU Jawa Timur pada pilpres 2004. Di

27

Achmad Warid,Fiqih Politik NU: Studi Pergeseran dari Politik Kebangsaan ke Politik Kekuasaan,Jurnal Asy-Syir’ah vol. 43. No. I, 2009.

28

Fifi Nofiaturrahmah, Melacak Peran Kyai-Santri dalam Politik Kebangsaan di Indonesia,JurnalIslamic Reviewvolume III No. 1 April 2014.

29

(26)

antara content dalam majalah tersebut adalah surat pembaca berjudul Menguji Keotentikan Fatwa Gender, Siapa di Balik Fatwa Presiden Perempuan Haram, rubrik Mimbar Aula dengan judul Pemimpin dalam Islam, rubrik Dirosah dengan judul Kriteria Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Versi Fiqih Terapan, rubrik Wawasan dengan tulisan berjudul Kalkulasi Mengapa Pilih Mega-Hasyim dan rubrik An nisak dengan tulisan berjudulPresiden Perempuan dalam Islam.

Selain buku, jurnal, majalah yang disebut di atas, sumber lain yang

berhubungan dengan penelitian ini juga akan digunakan.

d. Metode Pengumpulan Data a). Wawancara

Wawancara adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan

cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden

dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara.30 Berkenaan dengan penelitian ini, informan yang dipilih peneliti adalah tokoh yang memang paham

betul mengenai relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun

2004-2014.

Dalam hal ini tokoh yang dimaksud adalah tokoh NU Jawa Timur guna

mendapatkan data berkenaan dengan permasalahan tentang relasi kuasa NU dan

politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014. Secara spesifik, data

tersebut adalah data tentang bentuk relasi NU dan politik pasca-reformasi, data

tentang proses terbentuknya relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi di Jawa

Timur tahun 2004-2014, dan data tentang prospek relasi NU Jawa Timur dan

politik dalam suksesi politik ke depannya.

30

(27)

b). Studi Dokumen

Studi dokumen merupakan salah satu sumber untuk memperoleh data dari

buku dan bahan bacaan mengenai penelitian yang pernah dilakukan. Berkenaan

dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti melakukan

penelaahan dan membaca buku-buku dan literatur-literatur yang berkaitan dengan

judul penelitian.

e. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan saat pengumpulan

data berlangsung dan setelah selesai dari pengumpulan data dalam periode

tertentu. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis data model Miles dan

Huberman.31 Dalam analisis data model ini, setelah data dikumpulkan (periode pengumpulan data), dilakukan reduksi data, penampilan data dan penarikan

kesimpulan. Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,

memfokuskan pada hal yang penting, dicari tema dan polanya.

Proses reduksi ini akan memudahkan dalam penelitian dengan didapati

gambaran yang lebih jelas. Di sisi lain juga akan mempermudah peneliti untuk

melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

Tahapan kedua yakni penampilan data.32 Maksudnya adalah menyajikan data yang diperoleh ke dalam pola, umpamanya, sehingga data semakin mudah

dipahami. Dalam penelitian kualitatif, cara yang paling sering digunakan untuk

menampilkan data adalah dengan teks yang bersifat naratif. Penampilan data ini

akan memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan

kerja selanjutnya, berdasar apa yang dipahami tersebut.

31

Sugiyono,Memahami Penelitian Kualitatif(Bandung: Alfabeta, 2010), 91-92. 32

(28)

Sementara tahap terakhir yakni penarikan kesimpulan. Setelah data

dirangkum, ditampilkan, kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian

kualitatif, suatu kesimpulan terkadang bisa menjawab rumusan masalah yang

dirumuskan, terkadang tidak. Sebab masalah dan rumusan masalah dalam

penelitian kualitatif, sifatnya sementara dan akan berkembang tatkala peneliti

terjun ke lapangan. Dalam penelitian kualitatif, kesimpulan merupakan temuan

baru yang sebelumnya belum pernah ada. Berkenaan dengan temuan tersebut,

(temuan) dapat berupa deskripsi atau gambaran yang awalnya belum jelas,

menjadi jelas setelah diteliti.33 f. Uji Keabsahan Data

Dalam uji keabsahan data suatu penelitian, acapkali hanya ditekankan

dalam uji validitas dan uji reabilitas. Selain pula objektifitas. Data penelitian

kualitatif dapat dianggap valid, apabila tidak ada perbedaan antara yang

dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang

diteliti. Terkait validitas, terdapat dua validitas dalam penelitian. Pertama validitas

internal, kedua validitas eksternal. Validitas internal berkaitan dengan derajat

keakuratan yang dicapai. Sementara validitas eksternal berkaitan dengan apakah

hasil penelitian bisa digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi di mana

sampel itu diambil.34

Terkait dengan reliabilitas, konsistensi, dalam penelitian kualitatif

memang tidak dijamin. Sebab dalam pandangan kualitatif, suatu realitas sifatnya

majemuk (ganda), selalu berubah dan dinamis. Untuk itu, tidak ada suatu data

33

Ibid., 99. 34

(29)

yang tetap, konsisten dan stabil. Tabel di bawah ini mencoba menjelaskan uji

keabsahan data dalam penelitian kualitatif.35

Aspek Metode Kualitatif

Nilai Kebenaran Validitas Internal

Penerapan Validitas Eksternal

Konsistensi Reliabilitas

Netralitas Objektivitas

Terkait uji nilai kebenaran, bisa dilakukan dengan perpanjangan

pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan menggunakan bahan referensi.36 Perpanjangan pengamatan dimaksudkan, peneliti kembali ke lapangan, melakukan

pengamatan, dan melakukan wawancara lagi dengan sumber data yang pernah

ditemui, atau yang baru. Diharapkan, sumber data semakin terbuka dan tidak ada

informasi yang disembunyikan lagi.

Di sisi lain, peneliti juga harus meningkatkan ketekunan dengan

mengamati secara lebih cermat dan berkesinambungan. Harapannya, kepastian

data, kronologi, rangkaian peristiwa akan teramati dengan baik. Penggunaan

bahan referensi juga akan menunjang nilai kebenaran. Dalam arti, referensi dapat

mendukung data yang telah ditemukan. Sebagai contoh, hasil wawancara

didukung dengan rekaman wawancara.

Sementara aspek penerapan (validitas eksternal) meniscayakan bahwa

peneliti harus membuat laporan penelitian yang jelas, rinci sistematis, dan dapat

dipercaya. Hal ini diamksudkan agar pembaca hasil penelitian dapat memahami

35

Ibid., 119-120. 36

(30)

secara baik, sehingga bisa memperoleh gambaran apakah hasil penelitian tersebut

bisa diterapkan di tempat lain atau tidak37.

Terkait uji reliabilitas, dilakukan dengan audit terhadap seluruh proses

penelitian. Bagaimana peneliti menentukan fokus masalah, masuk ke lapangan,

dan segenap tahapan lain, diaudit oleh auditor yang independen. Umpamanya

dilakukan oleh pembimbing. Terakhir, uji aspek netralitas, yakni apabila data

yang diperoleh adalah data objektif. Objektifitas ini dinilai dengan indikator,

bahwa data disepakati banyak orang. Dalam hal uji netralitas, pengujiannya dapat

dilakukan secara bersamaan38. G. Sistematika Pembahasan

Penulisan skripsi ini disusun dalam lima bab yang masing-masing bab

terdiri dari beberapa subbab sebagai berikut:

Bab pertama tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu,

metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua berisi tentang landasan teori, yakni Rational Choice Theoryoleh Patrick Baert dan Teori Politik Jawa Ben Anderson.

Bab ketiga berisi penjelasan tentang lokasi penelitian, termasuk peta sosial

Jawa Timur dan posisi NU Jawa Timur dan konstelasi politik.

Bab keempat merupakan kajian analisis mengenai relasi kuasa NU dan

politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.

37

Ibid., 130. 38

(31)

Bab kelima penutup. Bab ini merupakan bagian akhir yang berisi

kesimpulan dari uraian-uraian yang telah dibahas dalam keseluruhan penelitian

(32)

24

KERANGKA TEORI

A. Teori Pilihan Rasional

1. Pengertian Pilihan Rasional

Sebagaimana dituturkan George Ritzer dalam Sociology; A Multiple Paradigm Science dikenal tiga rumpun paradigma dalam sosiologi. Tiga paradigma tersebut adalah paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan

paradigma perilaku sosial. Secara istilah, menurut Robert Friedrichs, paradigma

adalah pandangan yang mendasar tentang apa yang semestinya menjadi hal yang

dikaji atau dipelajari. Sementara Ritzer mendefinisikan paradigma sebagai what is the subject matter of science.1 Wirawan juga memberikan perumpamaan lain, bahwa paradigma adalah jendela keilmuan yang digunakan untuk melihat realitas

dunia sosial.2

Berpijak pada hal ini, maka tatkala mengetengahkan suatu teori hendaknya

dilacak pula bahwa suatu teori yang dimaksud, termasuk pada rumpun paradigma

fakta sosial, definisi sosial, atau perilaku sosial.3 Dalam hal ini, teori pilihan rasional dikategorikan dalam rumpun paradigma perilaku sosial. Paradigma

perilaku sosial menjadikan tingkah laku manusia yang tampak dan kemungkinan

pengulangannya (hubungan antar individu dan lingkungannya melalui stimulus

dan respon) sebagai fokus utama.

Jika ditilik sejarahnya, teori pilihan rasional awalnya lekat dengan domain

ekonomi. Namun seiring dengan berjalannya waktu teori pilihan rasional juga

1

Chabib Mustofa,Hand Out Teori Sosiologi Modern (tt) 2

I.B. Wirawan,Teori-teori Sosial dalam Tiga Paradigma(Jakarta: Kencana, 2013), 1-2. 3

(33)

digunakan untuk menjelaskan fenomena yang bersifat non-ekonomi. Dalam

catatan Wirawan, selama dua dekade terakhir pilihan rasional telah muncul

sebagai prespektif dominan dalam ilmu politik. Para ahli ekonomi-pun juga tak

luput menggunakan prespektif pilihan rasional untuk menganalisis subjek di luar

wilayah tradisionalnya (ekonomi).4

Secara definitif, Patrick Baert memberikan definisi teori pilihan rasional

sebagai suatu teori sosial yang digunakan untuk menjelaskan perilaku politik dan

sosial dengan mengasumsikan bahwa seseorang bertindak secara rasional.5 Sebagai catatan, dalam penelitian ini teori pilihan rasional yang dikembangkan

oleh Patrick Baert yang akan digunakan sebagai pijakan.6

Patrick Baert dan beberapa teoritis lain menjadikan beberapa asumsi

sebagai dasar teori pilihan rasional.7 Asumsi pertama adalah intensionalitas. Dalam hal ini penjelasan intensionalitas tidak hanya menyatakan bahwa setiap

individu bertindak dengan maksud tertentu –secara intensional–, namun juga

dengan mempertimbangkan praktik sosial seperti keyakinan dan kepercayaan.

Termasuk pula keinginan dari para individu yang terlibat. Penjelasan

intensionalitas juga sering kali disertai dengan suatu pencarian terhadap efek

agregat atau akibat-akibat yang tidak dimaksudkan dari tindakan purposif para

pelaku pilihan rasional.

Patrick Baert adalah professor dalam bidang teori sosial di University of Cambridge. Ia juga editor diInternational Journal of Politics, Culture and Society. Diantara karyanya adalah The Existensialist Moment; Sartre’s Rise as a Public Intellectual, Philosophy of the Social Sciences: Toward Pragmatism,danSocial Theory in the Twienth Century and Beyond(dengan F.C. da Silva). Lihat Departement of Sociology,“Patrick Baert Head of

Departement ”http://www.sociology.cam.ac.uk/people/academic-staff/pbaert (Senin, 08 Agustus 2016 pukul 06.47)

7

(34)

Pada asumsi pertama ini, teori pilihan rasional oleh para teoris diberi

catatan berupa “kontradiksi sosial” yakni counterfinality dan suboptimality. Dimaksud dengan counterfinality adalah tatkala ada asumsi seseorang bahwa apa yang dianggap sebagai hal yang bermanfaat bagi seseorang pada wilayah tertentu,

secara otomatis bermanfaat pula bagi semua individu dalam wilayah tertentu.

Terkait counterfinality ini Sartre memberikan perumapamaan tindakan penggundulan hutan yang dilakukan oleh seorang petani. Ketika seorang petani

berasumsi bahwa untuk mendapat lahan luas bisa diperoleh dengan menebangi

pohon, nyatanya apa yang dilakukan oleh petani ini tidak memberikan

kemanfaatan. Sebab hutan yang gundul dan ancaman erosi mengancam lahan

pertanian itu sendiri. Pada posisi ini asumsi seseorang tentang kebermanfaatan,

adalah “asumsi yang salah”.

Sementara suboptimality dimaksudkan ketika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan dan ia juga mengasumsikan bahwa orang lain akan memilih atau

menggunakan strategi yang sama. Di sisi lain, seorang individu juga menyadari

bahwa setiap individu akan mendapatkan keuntungan minimal ketika memilih

stategi yang lain. Sebagai contoh, peperangan antara dua negara besar. Idealnya

dalam kondisi ini dua negara mengurangi jumlah persenjataannya, tetapi

keputusan yang terbaik dari dua negara ini adalah sama-sama menambah jumlah

persenjataan, terlepas apapun keputusan yang diambil pihak lain.

Asumsi kedua adalah rasionalitas. Unsur kerasionalan dalam bertindak atau

beraksi akan diketengahkan dalam penjelasan rasional ini. Rasionalitas seseorang

(35)

mencoba untuk memaksimalkan kepuasan dirinya. Meminimalkan biaya yang

akan dikeluarkan juga menjadi poin yang tidak bisa diabaikan.

Adanya rasionalitas ini juga memberikan efek pada munculnya

kecenderungan atau preferensi individu. Maksudnya, ada beberapa pilihan yang

harus diputuskan menjadi pilihan yang pertama. Proses atribusi ini dapat terwujud

melalui kecenderungan yang muncul dari individu saat dihadapkan pada beberapa

pilihan. Sebagai contoh preferensi A atas B, preferensi B atas C, dan seterusnya.

Hal yang juga menjadi perhatian dalam rasionalitas ini adalah rujukan pada

keyakinan dan preferensi individu yang sifatnya subjektif. Kondisi objektif yang

melingkupi individu tidak menjadi perhatian dalam pilihan rasional. Hal ini

memberikan implikasi pada kemungkinan munculnya tindakan rasional, namun

berpijak pada keyakinan yang salah. Oleh karena itu mengumpulkan informasi

untuk memperkuat keyakinannya adalah poin penting agar bisa dikatakan

rasional. Akan tetapi, pengumpulan informasi yang tidak dikalkulasi juga tidak

menutup kemungkinan melahirkan suatu hal yang irrasional. Seagai contoh,

tatkala ada serangan justru terfokus pada pencarian informasi dan seluk-beluknya,

sehingga serangan tersebut menjadi tidak terkendali dan berdampak buruk.

Asumsi ketiga adalah kondisi antara ketidakpastian dan risiko. Dalam hal

ini seorang tidaklah bisa berada pada posisi mendapatkan informasi yang

sempurna. Unsur ketidakpastian dan risiko tetaplah ada. Para teoris teori pilihan

rasional mengamini hal ini, namun cenderung pada kondisi penuh risiko.

Maksudnya adalah tatkala dihadapkan pada risiko seseorang dapat saja

mengatribusikan berbagai kemungkinan yang telah diperkirakan, berikut

(36)

Dalam pandangan teoris pilihan rasional, ada dua alasan yang menjadikan

posisi risiko sebagai fokus. Pertama adalah kondisi ketidakpastian jarang ditemui.

Alasan kedua, ketika dihadapkan pada posisi risiko, teori pilihan rasional

mengasumsikan bahwa ada kemampuan untuk mengkalkulasi apayang diharapkan

dari setiap tindakan yang dilakukan.

Sementara asumsi terakhir adalah perbedaan antara pilihan parametrik dan

strategis. Pilihan parametrik adalah ketika seseorang berada pada posisi

independen dari beberapa pilihan yang ditemui. Istilah independen dimaksudkan

bahwa seseorang tidak perlu perhitungan atas perhitungan-perhitungan yang

dilakukan orang lain. Sementara pilihan strategis menghendaki bahwa seseorang

sebelum menentukan pilihan harus mempertimbangkan pilihan-pilihan yang

dibuat oleh orang lain. Penjelasan counterfinality dan suboptimaly kiranya dapat dikaitkan dengan pilihan strategis ini.

Dalam Political Science and Rational Choice William H. Riker menuturkan beberapa elemen pilihan rasional.8 Elemen-elemen tersebut yakni; pertama, para aktor dapat merangking tujuan-tujuan, nilai-nilai, selera dan strategi

yang diinginkan; kedua, para aktor dapat memilih alternatif terbaik yang sekiranya

bisa memaksimalkan kepuasan aktor.

Berpijak pada elemen di atas ada beberapa komponen yang juga menjadi

perhatian penting dalam teori pilihan rasional. Komponen pertama adalah

perangkingan. Dalam perangkingan ini perangkat alternatif diasumsikan tertentu

dan jumlahnya tetap. Sementara hal-hal yang dipercaya tidak relevan

dikategorikan sebagai pilihan yang tidak mungkin.

8

(37)

Komponen kedua adalah kepercayaan. Adanya komponen kepercayaan ini

menunjukkan bahwa individu-individu tidak bertindak semata-mata berdasar

kebiasaan dan emosi, tetapi juga atas dasar kepercayaan tentang struktur sebab

akibat. Komponen ketiga adalah kesempatan. Secara prinsipil setiap aktor

mempunyai keinginan, namun tidak semua keinginan dapat tercapai sebab

terbatasnya sumber daya dan kemampuan. Komponen terakhir adalah tindakan

aktor, yang menggariskan adanya pilihan-pilihan dengan pertimbangan atau

respons atas keadaan.

Sebagaimana dituturkan di muka, bahwa teori pilihan rasional telah masuk

pada domain politik, ini juga ditegaskan (lagi) oleh Ismail. Tatkala menggunakan

kerangka pilihan rasional, akan dapat dipahami rasionalitas politik dalam

pemilihan. Sebelum menentukan pilihan, seseorang akan melakukan interpretasi

politik dan perhitungan tentang tujuan, sarana, dan hal lain yang dapat menyokong

terwujudnya harapan.9

2. Aplikasi Pilihan Rasional

Setelah dijelaskan beberapa hal penting yang melingkupi teori pilihan

rasional, kini pengaplikasian melalui teori permainan (bagian dari pilihan

rasional) akan dipaparkan. Lazimnya di dalam permainan terdapat minimal dua

pemain yang berkontestasi untuk memperebutkan sesuatu. Termasuk pula dalam

teori permainan ini. Sejalan dengan apa yang telah disampaikan di atas (poin 1)

terkait penggunaan strategi, maka dalam pengaplikasian pilihan rasional, hal

tersebut juga sangatlah berpengaruh pada hasil.

9

(38)

Dalam hal ini, tidak hanya strategi yang direncanakan oleh satu pemain,

namun juga strategi yang digunakan oleh lawannya. Kehadiran teori permainan

mencoba untuk mengulas dan memprediksi strategi-strategi pemain di mana

mereka bertindak secara rasional berdasar pada informasi yang diperoleh.

Walaupun, sekali lagi, terkait informasi ini tentu tidak akan sempurna. Begitujuga

pencarian informasi yang berlebihan (tanpa perhitungan) juga akan berdampak

buruk–seperti disinggung pada pembahasan asumsi kedua; rasionalitas–.

Ada dua model yang lazim dalam teori permainan; pertama teori permainan

kooperatif; kedua teori permainan nonkooperatif. Teori permainan kooperatif

menganalisis permainan-permainan koalisinal, begitujuga kekuatan yang dimiliki

pemain, dan juga seputar pembagian hasil diantara koalisi. Sementara permainan

non-kooperatif menggambarkan detail permainan dari setiap strategi-strategi yang

diambil oleh pemain. Walaupun menggunakan istilah kooperatif dan

nonkooperatif, namun tidak menutup kemungkinan adanya kerjasama dan konflik

baik dalam kooperatif maupun nonkooperatif.10

Lebih lanjut, dalam hal ini ada dua bentuk permainan di dalam permainan

nonkoperatif, yang dapat dibedakan menjadi permainan bentuk strategis dan

permainan bentuk ekstensif. Dalam permainan bentuk strategis, para pemain dapat

memilih strategi secara simultan (waktunya bersamaan). Sementara bentuk

ekstensif cenderung mempertimbangkan sekian pilihan yang dikumpulkan untuk

setiap permainan.

10

Henny I, “Dasar Teori Permainan dan Lelang”,

(39)

Patrick Baert memfokuskan pada bentuk permainan strategis, melalui

dilema tahanan. Penggambaran yang ideal sebab relevansi dilema tahanan dengan

hal-hal yang berkaitan dengan unsur sosial-politik. Dilema tahanan yang

dimaksudkan adalah kondisi yang menghendaki pertarungan dan strategi secara

rasional, tatkala dua orang tertangkap oleh petugas keamanan. Seorang dengan

informasi yang dimiliki, bisa saja memilih strategi X agar bebas, dan seorang lain

dihukum seumur hidup, atau memilih strategi Y agar sama-sama dihukum 5

tahun. Berikut uraiannya.

Tatkala si A dan si B tertangkap petugas keamanan, keduanya ditempatkan

di ruang terpisah, kemudian masing-masing diberi pertanyaan tentang

keterlibatan. Jawaban yang keluar dari masing-masing tahanan (si A dan si B)

mempunyai konsekuensi dengan rincian; jika si A mengakui dan si B menolak

mengakui maka si A bebas dan si B dihukum seumur hidup. Jika si A mengakui

dan si B mengakui maka keduanya dihukum 20 tahun. Jika keduanya menolak

mengakui maka keduanya akan dihukum 5 tahun. Rincian hukuman ini juga

menjadi pilihan yang bisa dipilih si B. Tabel di bawah ini mencoba untuk

menggambarkan rincian hukuman tersebut.

Si A Si B

Menolak Mengakui

Menolak 3 3 1 4

Mengakui 4 1 2 2

(40)

Catatan :

Pay-off11 : 1 (hukuman seumur hidup), 2 (dua puluh tahun), 3 (lima tahun), 4 (bebas).

Baris : si A dan Kolom : si B

Perhitungannya adalah tatkala si B mengakui dan si A mengakui maka skor

yang ditulis adalah sama-sama 2. Jika si B mengakui dan si A menolak maka si A

mendapat skor 1 dan si B mendapat skor 4. Jika si B menolak dan si A mengakui

maka si B mendapat skor 1 dan si A 4. Jika si B menolak dan si A juga menolak

maka keduanya mendapat skor 3.

Rangkaian teori pilihan rasional ini akan diaplikasikan pada tataran

sosial-politik, untuk menelaah kasus relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi di Jawa

Timur tahun 2004-2014. Lebih praktisnya, teori pilihan rasional akan digunakan

untuk melihat kerja rasional yang dilakukan oleh NU Jawa Timur dalam

kontestasi pilpres 2004 dan pileg 2014.

B. Teori Politik Jawa

1. Tinjauan Wilayah Jawa

Wilayah Jawa, atau tana (tanah) Jawa merupakan jajaran pulau besar dari kepulauan Indonesia. Terkait nama Jawa, dalam arti terkait asal mula penyebutan

nama sebagai wilayah Jawa, memang tidak ada kepastian. Namun beredar cerita

tentang penemuan biji-bijian baru oleh para pendatang India yang diberi nama

jawawut. Ada juga yang menyebut wilayah ini dengan Nusa Hara-hara, atau

11

(41)

Nusa Kendang, yang mempunyai makna masih liar atau yang bertepian dengan perbukitan.12

Sebagai sebuah komunitas masyarakat yang mempunyai sejarah panjang

dalam peradabannya, banyak nilai-nilai yang tercermin dalam kehidupan

masyarakat Jawa. Franz Magnis-Suseno menuliskan bahwa ada 4 lingkaran dalam

pandangan dunia masyarakat Jawa. Lingkaran pertama adalah sikap terhadap

dunia luar yang dialami sebagai sebuah kesatuan kesadaran antara manusia, alam

dan dunia adikodrati. Lingkaran kedua adalah penghayatan kekuasaan politik

sebagai perpanjangan tangan kekuatan adikodrati. Lingkaran ketiga adalah

pengalaman mistis-batiniah manusia Jawa dalam memahami eksistensi dirinya

sebagai bagian dari alam. Lingkaran keempat adalah penentuan semua lingkaran

di atas sebagai bagian dari takdir kehidupannya.13

Asal mula penduduk di wilayah Jawa, disebut-sebut berasal dari nenek

moyang dari pulau-pulau di timur semenanjung Asia yang merupakan wilayah

pertamakali ditempati manusia. Di kawasan Asia Timur terdapat suatu bangsa

yang besar, bangsa Cina, bangsa Jepang dan beberapa suku bangsa lain yang

mendiami Semenanjung India di luar Gangga, dan juga di pulau-pulau selatan dan

timurnya, sampai New Guinea.

Di kawasan ini ditemukan kemiripan ciri-ciri yang terdapat pada

masyarakat Jawa dengan ciri-ciri bangsa yang disebut di atas. Begitujuga adanya

kemiripan dengan bangsa Birma dan Siam. Berdasar kemiripan ini, baik secara

12

Thomas Stamford Raffles, The History of Java, terj. Eko Prasetyoningrum, dkk. (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2014), 1.

13

Aryaning A. Kresna, “The Concept of Power and Democracy in Javanese Worldview“

(42)

fisik, tingkah laku ataupun adat istiadat, memperkat dugaan bahwa penghuni

pulau Jawa berasal dari pulau-pulau di wilayah antara Cina dan Siam. Terkait

migrasi dan penyebabnya, memang tidak diketahui secara pasti apa yang

melatarbelakanginya.14

Berkenaan dengan agama yang dianut oleh masyarakat Jawa, sebelum

kedatangan agama Islam (yang kini menjadi keyakinan terbesar di kalangan

masyarakat Jawa) masyarakat Jawa menganut agama Hindu. Dalam catatan

sejarah dan tradisi umum di daerah, kerajaan Hindu Majapahit sekitar tahun 1475

M yang berdiri dan berkuasa di tanah Jawa harus tergeser sebab datangnya Islam.

Pengaruh Islam juga dirasakan oleh Portugis ketika ia pertamakali berkunjung ke

Bantam (kini Banten). Portugis menemukan raja Hindu di Bantam yang

kehilangan hak atas propinsinya sebab keberadaan raja Islam yang berkuasa.

Meskipun Islam sudah menjadi agama masyarakat Jawa, namun tak

semua elemen dari kalangan masyarakat Jawa yang masih enggan meninggalkan

kebiasaannya dan memercayai institusi nenek moyang mereka. Secara dzahirnya

masyarakat Jawa sudah tidak pergi ke candi, namun mereka masih menunjukkan

perhatian yang tinggi pada hukum, adat-istiadat dan kebiasaan setempat yang

telah ada sebelum datangnya Islam.15

Terkait suku Jawa, di Indonesia, suku ini menjadi suku mayoritas.

Sebagaimana hasil laporan Badan Pusat Statistik dan Institute of Southeast Asian

Studies (ISEAS) suku Jawa adalah suku terbesar dengan proporsi 40,05 persen

dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara suku Sunda berada pada urutan

14

Thomas Stamford Raffles,The History of…32. 15

(43)

kedua, sebesar 15,50 persen.16Begitujuga di Jawa Timur, suku Jawa menjadi suku yang dominan disusul suku Madura.17

2. Teori Politik Jawa

Berkenaan dengan Teori Politik Jawa, dalam penelitian ini akan

menggunakan teori yang dirumuskan Ben Anderson. Dalam karyanya ini

Anderson menilai banyak karya ilmiah yang mengetengahkan sejarah dan

kebudayaan Indonesia, terkhusus Jawa, namun sekian karya itu masih sedikit yang

menyentuh wilayah baik mengenai konsep politik tradisional maupun

pengaruhnya yang signifikan atas Indonesia masa kini.

Anderson hadir melakukan sebuah upaya penjabaran sistematis mengenai

konsepsi tradisional Jawa tentang politik. Paparan tentang gambaran kehidupan

sosial dan politik dalam kacamata Jawa ini berkelindan dengan upaya untuk

menjabarkan teori politik pribumi, agar dapat membuktikan bahwa budaya

tradisional Jawa memang memiliki teori politik.18

Dalam kaitannya dengan penelitian ini, tidak sepenuhnya konsepsi Jawa

tentang sosial dan politik mendapati kesesuaiannya. Sebab Anderson memotret

gagasan politik Jawa tradisional sebelum masuknya kolonialisme. Sementara

dalam penelitian ini, Jawa yang dimaksud adalah Jawa pasca-kemerdekaan (kurun

waktu 2004-2014). Meskipun demikian, penggunaan Teori Politik Jawa ini sangat

16

Badan Pusat Statistik, https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127 (Senin, 20 November 2016, 18.08)

17

Website Pemerintah ProvinsiJawa Timur, “Sekilas Jawa Timur” dalam

http://jatimprov.go.id/read/sekilas-jawa-timur/sekilas-jawa-timur (Senin, 20 November 2016, 18.17)

18

(44)

relevan. Sebab, sebagaimana dipaparkan Anderson sendiri, Teori Politik Jawa ini

menjadi langkah untuk memahami kondisi politik Jawa era kini.19

Kondisi ini menghendaki perlunya perumusan ulang konsepsi Jawa dengan

tetap berpijak pada apa yang telah disampaikan Ben Anderson. Adapun

perumusan ulang itu terwujud pada poin paduan Islam-Jawa, kekharismatikan

penguasa, konsep kuasa dalam kacamata Jawa dan upaya mendapatkan kuasa.

Poin-poin ini akan dipaparkan berurutan untuk menjelaskan kehidupan sosial

politik suku Jawa sebagai suku mayoritas di Jawa Timur

a) Paduan Islam-Jawa

Tatkala Islam masuk ke tanah Jawa, Islam mengambil alih peranan-peranan

tradisional yang telah ada di masyarakat Jawa sebelum kedatangan Islam. Di

antaranya penasihat Istana, ahli nujum, dan begawan-pertapa. Sifat Islam yang

asimilatif, pada gilirannya mendapati paduan antara apa yang berkembang dengan

masyarakat Jawa dengan ajaran Islam. Sebagaimana dipaparkan di muka bahwa

agama yang dianut oleh masyarakat Jawa, sebelum kedatangan agama Islam

adalah agama Hindu.

Anderson menilai, sifat asmilatif Islam yang masuk pada abad 15-16

menandakan adanya unsur besar yang sebangun dan berkesesuaian antara Islam

dengan tradisi kebudayaan yang ada di masyarakat. Di antara kesesuaian itu

adalah pengasosiasian Islam dengan lambang kuasa dari zaman sebelumnya.

Pengasosiasian itu terwujud pada istilah wali atau pewarta suci yang dikaitkan

dengan budaya penting sebelum datangnya Islam seperti wayang.

19

(45)

Tafsiran umum tentang pusaka Serat Kalimasada yang dimilik kakak tertua

pandawa dalam cerita Mahabharata sebagai kalimat syahadat, mewakili

pengasosiasian ini. Pusaka milik Prabu Yudhistira itu dimaknai sebagai ikrar akan

keyakinan terhadap Islam. Di sisi lain, corak Islam ini sebelum sampai ke Jawa

telah melewati daratan Persia dan India sehingga menyimpan unsur patrimonial.

Unsur ini juga menemukan kesesuaiannya dengan pandangan dunia Jawa

tradisional, berkenaan dengan peranan dan pentingnya penguasa.20

Sebagai catatan, karakter Islam yang masuk pada abad 15-16 Masehi ini

menjadi karakter Islam ala NU. Sebagaimana catatan Agus Sunyoto, pada abad

15-16 juru dakwah yang menyebarkan ajaran Islam adalah Walisongo. Istilah

Walisongo dalam pandangan masyarakat adalah ketua kelompok dari sejumlah

mubaligh Islam yang bertugas mendakwahkan Islam di daerah Jawa yang belum

memeluk Islam21. Ajaran dakwah ala Walinsongo ini, pada gilirannya, sebagaimana dituturkan Siradj, (diteruskan) menjadi corak dakwah NU.22

Pada posisi ini, penulis berkesimpulan bahwa konsepsi Jawa tentang kuasa

tidak hanya berkutat pada penguasa tradisional-kerajaan seperti raja, tetapi juga

pada penguasa tradisional-keagamaan seperti kiai.

20

Ibid.,147-149. 21

Agus Sunyoto,Atlas Walisongo(Jakarta: LESBUMI PBNU, Pustaka IIMaN, 2016), 142

22

(46)

b) Konsep kuasa

Di dalam tradisi Jawa kekuasaan adalah kenyataan yang nyata adanya,

bukan merupakan postulat teoritis, tetapi merupakan suatu kenyataan eksistensial.

Kekuasaan Jawa bersifat ilahiyah. Pun ada konsepsi bahwa seluruh kekuasaan

sama jenisnya dan berasal dari sumber yang sama. Kuantitas kekuasaan tidak

berubah, dan tidak patut mempertanyakan kekuasaan (yang diperoleh) absah atau

tidak. Hal yang pasti adalah kekuasaan itu ada.23 c) Upaya mendapatkan kuasa

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, upaya untuk mendapatkan kuasa

terdapat dua jalur. Pertama ortodoks, kedua heterodoks. Jalur ortodoks

dimaksudkan pada sebuah usaha yogaistik dan laku tapa umpama puasa, meditasi,

berpangkal seksual dan berbagai tipe “pengorbanan” lain. Nilai penting dari laku tapa yang demikian dimaksudkan semata demi mendapat kuasa. Sementara jalur kedua, heterodoks adalah merujuk pada sistem kepercayaan Bhairava, yang

mengumbar hawa nafsu untuk mendapatkan kuasa. Pengumbaran nafsu dipercaya

sebagai cara menuntaskan gairah-gairah sehigga tujuan akhir konsentrasi guna

mendapat kuasa dapat tercapai.24 d) Kharismatik

Pengatributan para pengikut kepada pemimpin, atau pandangan pengikut

kepada pemimpin yang luar biasa, mempunyai kekesuaian dengan konsepsi Jawa.

Pada posisi ini seorang pemimpin dianggap sebagai titik sentral dari mana kuasa

itu memancar, dan para pengikut melekatkan dirinya kepada pemimpin. Dalam

23

Ben Anderson,Kuasa Kata…49. 24

(47)

pandangan Anderson, konsepsi kharismatik didapatkan dari gagasan yang

berkesuaian dengan konsepsi Jawa tentang Kuasa.25

Berpijak pada konstruksi teori politik Jawa ini, dalam pandangan penulis,

akan layak digunakan untuk memotret relitas kultural Jawa Timur. Dalam arti

Jawa Timur dengan suku Jawa sebagai mayoritas, dan di sisi lain kelompok

keagamaan mayoritas adalah NU. Corak NU Jawa Timur yang memadukan Islam

dengan kultur (baca: budaya Jawa), akan ditelaah menggunakan teori politik Jawa

untuk melihat sejauh mana paduan Islam-kultur dalam pembentukan relasi kuasa

NU Jawa Timur dan politik pasca-reformasi tahun 2004-2014.

Perpaduan rational choice-teori politik Jawa diharapkan dapat membedah sisi rasional para tokoh NU dan eratnya unsur Jawa sehingga akan maksimal

dalam mengetengahkan relasi kuasa antara NU Jawa Timur dan konstelasi politik

di Jawa Timur. Lebih spesifiknya, bagaimana proses terbentuknya relasi NU Jawa

Timur dalam kontestasi pilpres 2004 dan pileg (DPD) tahun 2014.

25

Referensi

Dokumen terkait