(Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)
SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata
Satu (S-1) dalam Ilmu Ushuluddin dan Filsafat
Oleh :
ROBBAH MUNJIDDIN AHMADA NIM: E54212058
PROGRAM STUDI FILSAFAT POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
ii
(Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)
Skripsi
Diajukan kepadaUniversitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
dalam Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S-1)
Ilmu (Program Studi Filsafat Politik Islam)
Oleh :
ROBBAH MUNJIDDIN AHMADA NIM: E54212058
PROGRAM STUDI FILSAFAT POLITIK ISLAM FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
iv
Skripsi oleh Robbah Munjiddin Ahmada ini telah disetujui untuk diujikan.
Surabaya, 28 Desember 2016
Pembimbing,
v
Tim Penguji Skripsi Surabaya, 14 Februari 2017
Mengesahkan
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
Dekan,
Dr. Muhid, M.Ag. NIP. 196310021993031002
Tim Penguji Ketua,
Zaky Ismail, M.Si. NIP. 198212302011011007
Sekretaris
Fikri Mahzumi, M.Fil.I. NIP. 198204152015031001
Penguji I
Dr. Ainur Rofiq Al Amin, SH, M.Ag. NIP. 197206252005011007
Penguji II
vi Yang bertanda tangan di bawah ini saya :
Nama : Robbah Munjiddin Ahmada NIM : E54212058
Prodi : Filsafat Politik Islam
dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini secara keseluruhan adalah hasil penelitian/karya saya sendiri, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya.
Surabaya, 28 Desember 2016
Saya yang menyatakan,
iii
Penelitian ini berjudul RELASI KUASA NAHDLATUL ULAMA (NU) DAN POLITIK PASCA-REFORMASI (Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014). Rumusan masalah yang diketengahkan dalam penelitian ini adalah apa bentuk relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi, bagaimana proses terbentuknya relasi, dan prospek relasi dalam suksesi kepemimpinan politik ke depan. Tujuan dari penelitin ini adalah untuk mengklasifikasikan bentuk relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi, mendeskripsikan proses terbentunya relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi, dan menganalisis prospek relasi kuasa NU dan politik dalam suksesi kepemimpinan politik ke depan.
Adapun metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, jenis penelitian studi kasus (case study). Studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang penelahaannya kepada suatu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasca-reformasi ada relasi antara NU Jawa Timur dan Politik berbentuk relasi non-institusional yakni berperannya kiai struktural PWNU Jawa Timur dalam pemenangan pasangan Mega-Hasyim pada Pilpres 2004, dan relasi institusional yakni pada rekomendasi PWNU Jawa Timur terhadap calon anggota DPD pada Pileg 2014. Berpijak pada Teori Pilihan Rasional Baert dan Teori Politik Jawa Anderson, relasi ini terbentuk sebab rasionalitas NU Jawa Timur yang ditopang dengan kultur Jawa yang melingkupi Jawa Timur. Atau bisa disebut, terbentuk sebab sisi rasional dan kultural. Berkenaan dengan prospek relasi, masih akan tetap muncul. Hal ini dikarenakan, pertama, kepercayaan/ajaran di internal NU berupa pemaknaan politik, hubungan kiai dengan politik, khittah NU dan cara berkhidmah kader NU yang terjun dalam politik praktis. Kedua, “terlembaganya” paduan Islam-Jawa. Ketiga, peran pesantren dalam konfigurasi politik yang masih belum beranjak dari vote-getter dan penyedia sumber daya untuk mengisi pos politik.
xi
SAMPUL DALAM ... ii
ABSTRAK ...iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
PENGESAHAN ... v
PERNYATAAN ORISINALITAS ... vi
MOTTO ... vii
PERSEMBAHAN ...viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
PEDOMAN TRANSLITERASI ...xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan penelitian ... 9
D. Kegunaan Penelitian... 10
E. Penelitian Terdahulu ... 10
F. Metode Penelitian... 13
G. Sistematika Pembahasan ... 22
BAB II KERANGKA TEORI ... 24
A. Teori Pilihan Rasional ... 24
xii
B. Peta Sosial Keagamaan Provinsi Jawa Timur ... 51
C. Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Konstelasi Politik ... 53
BAB IV PEMBAHASAN ... 59
A. Bentuk Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Politik Pasca-Reformasi ... 59
B. Proses Terbentuknya Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Politik Pasca-Reformasi ... 74
C. Prospek Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama Jawa Timur dan Politik dalam Suksesi Kepemimpinan ke Depan ... 82
BAB V PENUTUP ... 85
A. Simpulan ... 85
B. Saran ... 86
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang MasalahRelasi antara agama (Islam) dan politik harus diakui menjadi perbincangan
yang tak pernah usai di kalangan para akademisi. Hal ini memang bukanlah
sesuatu yang tabu. Potret relasi ini bisa dilacak genealoginya dengan masa lalu,
pada masa Nabi Muhammad, sang pembawa risalah Islam. Ada sebuah kisah yang
sering disebut mengindikasikan pergulatan antara Islam dan politik.
Seorang pedagang bernama Afif Al-Kindi datang ke Makkah ketika musim
haji. Kemudian ia melihat seorang keluar, diikuti seorang wanita dan pemuda, lalu
mengerjakan shalat di depan ka’bah. Ibnu Abbas (paman Nabi Muhammad) yang
ada di samping Afif Al-Kindi memberi tahu bahwa yang keluar dan melaksanakan
shalat di depan ka’bah adalah keponakannya, Muhammad bin Abdullah.
Sementara sang wanita adalah Khadijah dan sang pemuda adalah Ali bin Abi
Thalib. Ibnu Abbas menuturkan, bahwa Muhammad mengaku dia adalah utusan
Allah dan dia meyakini akan menghancurkan dua negara adidaya, Romawi dan
Persia.1
Kisah di atas acapkali dianggap sebagai bukti historis kuatnya dimensi
politik dalam dakwah Nabi Muhammad. Dalam fakta historis lain, sesaat setelah
wafatnya Nabi Muhammad, bahkan sebelum dimakamkan, terjadi pertemuan yang
mengarah pada kontestasi kepemimpinan politik (atas umat Islam) oleh kaum
Muhajirin dan Anshar. Pertemuan yang terjadi di Saqifah Bani Saidah ini
1
memunculkan perdebatan terkait siapa yang pantas dan sah untuk menggantikan
kepemimpinan pasca-nabi.2
Rangkaian peristiwa munculnya kelompok-kelompok dalam Islam,
umpamanya, juga tidak lepas dari masalah politik. Kelahiran Syi’ah, Khawarij,
Jabariyah, Qodariyah, Murji’ah, hingga Ahlussunnah juga berkelindan dengan
persoalan politik. Narasi tentang politik menjadi bagian integral dari kelahiran
kelompok-kelompok Islam itu. Tentu kita sepakat bahwa persoalan politik
tidaklah identik dengan hal negatif.
Sejarah mencatat, nuansa politik yang melingkupi kelahiran
kelompok-kelompok di atas, ada yang sebab carut marut politik, keluar dari urusan politik,
dan lebih concern pada gerakan kultural, seperti Ahlussunnah yang dimotori Hasan al-Bashri, ada juga yang menggunakan agama untuk kepentingan politik,
seperti Jabariyah. Pergulatan antara Islam dan politik menjadi fase penting yang
akhirnya melahirkan kelompok-kelompok dalam Islam.3 Meskipun motif kelahiran, bagaimana dan sejauh mana hubungan dengan politik mendapati
perbedaan.
Dalam konteks Indonesia juga demikian. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai
organisasi keagamaan di Indonesia bisa dibilang lahir sebab nuansa politik. Lebih
tepatnya merespon kebijakan politik yang dikeluarkan penguasa Tanah Hijaz.
Ketika Muhammad bin Abdul Wahab menjalin kerjasama dengan penguasa
Dir’iyah, Muhammad bin Saud (setelah sebelumnya Muhammad bin Abdul
2
Ibid., 26. Terkait pertemuan ini, Jufri memberikan pandangan bahwa yang menjadi fokus utama adalah tuntutan sosial-politik umat. Tak ada penggunaan (ayat) Al-Qur’an untuk memperkuat klaim masing-masing, baik Muhajirin atau Anshar. Lihat Syed Hussain Mohammad Jafri, Agama dan Negara dalam Pandangan Imam Ali (Yogyakarta: RausyanFikr, 2016), 18.
3
Wahab terusir dari Uyainah) menjadikan pola keberagamaan di tanah Hijaz
berubah. Perkembangan politik di tanah Arab ini berdampak pada pemusnahan
situs-situs peradaban Islam dan pluralitas madzhab keagamaan yang dibatasi.4 Meyikapi hal ini, ulama di Indonesia membentuk delegasi bernama Komite Hijaz
(sebuah kepanitiaan kecil yang dibentuk sekitar tahun 1924-1925) yang menjadi
cikal bakal lahirnya NU.5
Seiring berjalannya waktu, NU ikut dalam perjuangan kemerdekaan,
hingga kondisi mengharuskan NU terjun, secara institusi, ke gelanggang politik
praktis. Sebagai anggota Masyumi di awal kemerdekaan, pada tahun 1952 NU
memutuskan untuk keluar dari wadah aspirasi politik kelompok Islam ini. NU
memilih untuk menjadi partai politik sendiri. Pada pemilu tahun 1955 Partai NU
yang merupakan wadah perjuangan politik bagi warga NU, memperoleh 45 kursi
di DPR. Ini berbeda jauh dengan ketika masih bergabung bersama Masyumi. Saat
masih di Masyumi, NU hanya mendapat jatah 8 kursi.6
Kiprah NU di panggung politik praktis terus berlanjut dari tahun ke tahun.
Hingga akhirnya pada 1973 pemerintah menghendaki penyederhanaan partai
politik, menjadi tiga partai saja. NU memfusikan fungsi politiknya kepada Partai
Persatuan Pembangunan (PPP). Tak berhenti di situ, ketidaknyamanan kini (juga)
menghinggapi NU di “rumah barunya” tersebut. Dalam perkembangannya jatah
kursi untuk NU semakin berkurang.
Pergulatan panjang antara NU dan politik ini, pada akhirnya membawa NU
untuk menjauh dari politik, melalui Muktamar-nya ke 27. Muktamar yang
4
M. Nur Hasan,Ijtihad Politik NU(Yogyakarta: Manhaj, Jember: Ikatan Keluarga PMII Jember, 2010), 49.
5
Majalah AULA, No. 4 Tahun XXXVIII April 2016, 8. 6
dilangsungkan pada tahun 1984 di Situbondo itu memutuskan bahwa NU tidak
(lagi) terikat secara organisatoris, dengan organisasi sosial maupun politik
manapun. Posisi ini ditegaskan lagi pada tahun 1994, dimana NU membebaskan
diri dari keterikatan dengan partai yang ada kala itu dan “memberi lampu hijau”
pada warganya untuk masuk partai politik manapun.7
Ketika reformasi bergulir, dengan segenap hiruk-pikuknya, muncul
tuntutan di kalangan warga NU untuk mendirikan partai politik (lagi). Mencermati
dinamika yang terjadi, bahkan awalnya terjadi penolakan dari beberapa pengurus
PBNU,8namun sesuai dengan Rapat Harian PBNU tanggal 25 Mei 1998, tanggal 17 dan 22 Juni 1998, PBNU mengeluarkan surat tugas nomor 925/A.II/03/6/1998
kepada 14 orang untuk menginventarisir dan merangkum usulan-usulan mengenai
pembentukan partai politik untuk mewadahi aspirasi politik warga NU;
mengkoordinasikan warga NU yang ingin membentuk partai politik untuk
mewadahi aspirasi politik warga NU; dan membatu keinginan warga NU untuk
membentuk satu partai politik yang dapat mewadahi aspirasi politik warga NU.9 Tim yang beranggotakan 14 orang ini (dengan rincian 5 orang sebagai Tim
Lima dan 9 orang sebagai Tim Asistensi) akhirnya memutuskan tidak mendirikan
Partai NU, tetapi memfasilitasi berdirinya partai yang punya hubungan historis,
aspiratif, dan kultural dengan NU, bernama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
7
Ibid., 43 8
Penolakan itu di antaranya muncul dari Sekretaris Jendral PBNU, Ahmad Bagja yang tidak setuju PBNU membuat partai politik. Begitujuga yang tidak mikir partai dari NU dan menganggap penting pembahasan seputar itu. Meskipun pada akhirnya, gelombang ketidak setujuan itu tidak menghalangi pendirian partai. Lihat Mahrus Ali dan MF. Nurhuda Y, Pergulatan Membela yang Benar Biografi Matori Abdul Djalil (Jakarta: Kompas, 2008), 170-171.
9
Deklrasi (kelahiran) PKB dilangsungkan 1 bulan pasca-surat tugas dikeluarkan,
tepatnya pada 23 Juli 1998.
Pada posisi ini, bisa dibaca sebagai wujud relasi antara NU dan politik
pasca-reformasi. Dalam skala lokal Jawa Timur, pola relasi NU dan politik juga
menarik dikaji. Keputusan PBNU yang memfasilitasi berdirinya PKB, juga turut
diikuti kepengurusan tingkat bawah, seperti turut andilnya NU Jember yang saat
itu berada di bawah kepemimpinan H. Mukhson Sudjono dalam memfasilitasi dan
mem-back up pendeklarasian PKB cabang Jember. Pun NU Jember juga mendampingi setiap proses perpolitikan yang dilakukan oleh PKB.10
Beberapa hal lain, yang bisa dibaca sebagai relasi NU dengan politik,
umpamanya ketika Kiai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, peran
tokoh-tokoh NU Jawa Timur juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Kiai
Abdullah Faqih, Langitan, Tuban adalah kiai yang sering disebut-sebut sosok
utama dalam majunya Gus Dur sebagai presiden.11 Begitujuga saat masa Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) tahun 2004. Di kalangan
nahdliyyin (sebutan bagi warga NU) Jawa Timur, bahkan muncul istilah “Poros
10
Abdul Haris, dkk,“Pergeseran Perilaku Politik Kultural Nahdlatul Ulama (NU) di Era Multi Partai Pasca Orde Baru (Studi Kasus NU Jember, Jawa Timur)”, http://www.averroes.or.id/pergeseran-perilaku-politik-kultural-nahdlatul-ulama-nu-di-era-multi-partai-pasca-orde-baru-2.html (Sabtu, 14 Mei 2016, 20.08)
11
Langitan” dan “Poros Lirboyo”. Istilah ini merujuk pada dua pesantren “sepuh”
dan masyhur di lingkungan NU, yakni Pesantren Langitan di Tuban dan Pesantren
Lirboyo di Kediri.
Dua poros di atas merupakan representasi dari diferensiasi aspirasi politik
nahdliyyin Jawa Timur. “Poros Langitan” dengan Kiai Abdullah Faqih-nya
merapat ke Wiranto-Sholahuddin Wahid, sementara “Poros Lirboyo” dibawah
Kiai Idris Marzuki merapat ke pasangan Megawati-Hasyim Muzadi.12 Tak hanya itu, relasi lain juga muncul dalam kontestasi politik lokal Jawa Timur, yakni pada
Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (pilgub) Provinsi Jawa Timur tahun
2008 dan 2013.
Dalam dua Pilkada Jawa Timur (terakhir) itu, warga NU juga dihadapkan
pada diferensiasi aspirasi politik. Pada tahun 2008 antara Soekarwo-Saifullah
Yusuf dan Khofifah-Mudjiono, sementara di tahun 2013 antara
Soekarwo-Saifullah Yusuf dan Khofifah-Herman. Sebagai catatan, Soekarwo-Saifullah Yusuf pernah
menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor dua
periode, yakni 2000-2005, 2005-2010.
Sementara Khofifah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU
sampai sekarang. Tepatnya dari periode 2001-2006, 2006-2011, 2011-2016,
2017-2022. Dua kader NU itu berkontestasi dalam hajatan lima tahunan, Provinsi Jawa
Timur. Tentu sebagai tuan rumah dari hajatan ini, NU Jawa Timur dibayangi
tarik-menarik untuk mendukung kekuatan politik tertentu.
Relasi lain antara NU Jawa Timur dan politik nampak pula dalam
pelaksanaan Pemilihan Legislatif (pileg) terakhir, yakni pada tahun 2014. Pada
12
pileg tahun 2014 ini, muncul rekomendasi dari Pengurus Wilayah NU (PWNU)
Jawa Timur atas calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari Jawa Timur. Ada
lima calon DPD yang mendapat rekomendasi resmi dari PWNU Jawa Timur
untuk mengarungi kontestasi pileg 2014. Lima calon DPD tersebut yakni Kiai
Hasib Wahab, Ainul Yakin, Istibsjarah, Dwi Astutik, dan Khodijatul Qodriah.13 Dalam hal ini, meski sejak tahun 1984 NU menyatakan tidak terikat dengan
organisasi sosial dan politik manapun, namun di lapangan NU masih
memperlihatkan relasi dengan politik yang dibangun baik melalui instrumen
institusi maupun melalui institusi itu sendiri. Relasi melalui instrumen
non-institusi terwujud, umpamanya melalui berperannya kiai struktural NU Jawa
Timur pada pilpres 2004, sementara relasi melalui institusi terwujud pada surat
rekomendasi NU Jawa Timur atas calon anggota DPD.
Berkenaan dengan penelitian ini, dua relasi (baca: NU Jawa Timur dengan
pilpres 2004 dan NU Jawa Timur dengan pileg 2014) akan ditelaah lebih lanjut.
Penekanan pada dua relasi ini berdasar pada beberapa alasan.14 Pertama, pilpres 2004 menempatkan NU pada posisi dilema. Di satu sisi Ketua Tanfidziah PBNU
non-aktif, Kiai Hasyim Muzadi tampil menjadi calon wakil presiden (cawapres)
mendampingi Megawati, di sisi lain, cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Kiai Salahuddin Wahid (Gus Sholah) tampil menjadi cawapres
mendampingi Wiranto.
13
NU Online “PWNU Jatim Rekomendasikan 5 Anggota DPD, ”http://www.nu.or.id/post/read/16193/pwnu-jatim-rekomendasikan-5-anggota-dpd
(Senin, 09 Mei 2016, 14.32). 14
Kedua, pilpres tahun 2004 menjadi pemilihan presiden pertama setelah
“presiden NU”, Gus Dur, jatuh dari kursi kepresidenan. Ketiga, pilpres 2004
menjadi pilpres pertama yang langsung dipilih oleh rakyat. Tiga alasan ini akan
menjadi pijakan untuk membaca kondisi politik di internal NU, tepatnya dalam
kaitan dengan relasi antara NU Jawa Timur dan politik. Termasuk sejauh mana
penggunaan sumber daya NU di tengah kebebasan politik (pasca-reformasi) dan
bagaimana peran NU Jawa Timur dalam konstelasi politik.
Sementara pada pileg (DPD) tahun 2014 beralasan, pertama, lahirnya relasi
antara NU Jawa Timur dengan politik secara institusi (relasi secara institusi ini
tidak terlihat pada pileg (DPR dan DPRD) dan pilpres 2014). Kedua, menjadi
pemilihan terakhir pasca-reformasi yang akan menjadi indikator posisi NU Jawa
Timur dan konstelasi politik. Ketiga, menjadi titik tolak prospek relasi NU Jawa
Timur dan politik kedepannya.
Mengetengahkan dua unsur ini (baca: PWNU Jawa Timur dan politik)
merupakan upaya untuk menelaah dan menjelaskan pola relasi. PWNU Jawa
Timur tak bisa dipungkiri mempunyai posisi dan pengaruh yang sangat
diperhitungkan dalam konstelasi politik. Telaah ini menjadi menarik, sebab akan
memberikan penjelasan tentang posisi elit agama (dalam hal ini NU) dalam
konstelasi politik.
Posisi elit agama ini dapat dibaca sebagai budaya politik yang berkembang
di Indonesia. Berkenaan dengan hal itu, sejauh mana posisi khittah dalam dinamika NU dan politik pasca-reformasi juga akan diketengahkan. Sebab khittah NU ini akan memberikan gambaran tentang prospek posisi elit agama dalam
Terkait pemilihan lokasi di Jawa Timur, beralasan sebab sebagaimana
disampaikan Hilmy, bahwa Jawa Timur adalah wilayah di Pulau Jawa yang paling
dinamis dan heterogen dari perspektif sosial, budaya dan politik.15 Sementara pemilihan pasca-reformasi (2004-2014) beralasan gelagat politik di era kebebasan
yang begitu nampak, di sisi lain sudah ada keputusan tertinggi yang menyatakan
larangan keterlibatan NU secara institusi ke gelanggang politik praktis. Maka
dengan alasan inilah, penulis mengangkat penelitian dengan judul “Relasi Kuasa
Nahdlatul Ulama (NU) dan Politik Pasca-Reformasi (Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)”.
B. Rumusan Masalah
Berpijak dari uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apa Bentuk Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama dan Politik Pasca-Reformasi di
Jawa Timur Tahun 2004-2014 ?
2. Bagaimana Proses Terbentuknya Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama dan Politik
Pasca-Reformasi di Jawa Timur Tahun 2004-2014 ?
3. Bagaimana Prospek Relasi Kuasa NU dan Politik dalam Suksesi
Kepemimpinan Politik ke Depan?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan yang dikehendaki
dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengklasifikasikan bentuk relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan politik
pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.
15
2. Untuk mendeskripsikan proses terbentuknya relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan
politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.
3. Untuk menganalisis prospek relasi kuasa NU dan politik dalam suksesi
kepemimpinan politik ke depan.
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran
dalam keilmuan, antara lain:
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan
memperkaya khazanah keilmuan, khususnya yang berkaitan dengan relasi
kuasa NU dan politik.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan referensi
atau pertimbangan bagi peminat kajian keislaman. Hasil penelitian ini juga
dapat digunakan sebagai bahan acuan atau literatur bagi mahasiswa Fakultas
Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya khususnya dan para
pembaca pada umumnya, ketika mengkaji relasi kuasa NU dan politik.
E. Penelitian Terdahulu
Sejauh pengetahuan penulis, tidak ditemukan penelitian yang secara
khusus membahas relasi kuasa Nahdlatul Ulama (NU) dan politik pasca-reformasi
di Jawa Timur tahun 2004-2014. Namun ada beberapa penelitian yang
mengetengahkan relasi semacam ini, diantaranya :
a. Penelitian dengan judul “Pergeseran Perilaku Politik Kultural
Nahdlatul Ulama (NU) di Era Multi Partai Pasca Orde Baru (Studi
Kasus NU Jember, Jawa Timur)” oleh Abdul Haris, dkk. Dalam
Terdapat perubahan peta sosial-politik yang kemudian direspon dengan
cara, diantaranya mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Langkah ini tentunya tak bisa dilepaskan dari peran partisipatif warga
NU di tingkat daerah, seperti Jember. Menurut keterangan yang
berhasil dihimpun oleh peneliti, ada keterlibatan NU Jember dalam
pembentukan PKB. Bahkan sudah berlangsung lama yakni ketika
muncul wacana pembentukan partai politik di lingkungan internal NU
(pasca-reformasi). Beberapa tokoh dan kader muda NU Jember aktif
melakukan berbagai kegiatan diskusi tentang kemungkinan NU
membentuk partai sendiri. Serangkaian kegiatan diskusi yang
disponsori kader-kader muda NU Jember melibatkan tokoh-tokoh dan
segenap warga NU Jember dari berbagai elemen. Puncaknya, NU
Jember yang saat itu berada di bawah kepemimpinan H. Mukhson
Sudjono memfasilitasi dan sekaligus mem-back up pendeklarasian PKB cabang Jember yang dilakukan di Pondok Pesantren
Sumberwringin pimpinan K.H Khatib Umar. Dalam perjalanannya,
NU Jember juga mendampingi setiap proses perpolitikan yang
dilakukan oleh PKB.16
b. Tesis dengan judul “Transformasi Islam Politik Era Reformasi (Studi
Terhadap Pendidikan Politik PKB Tahun 1998-2008 di Kabupaten
Probolinggo Jawa Timur)” oleh Zuhri Humaidi. Mahasiswa
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Dalam tesis ini dipaparkan bahwa
pasca reformasi, PKB muncul sebagai salah satu partai yang
16
memperoleh reputasi luas. Dalam pandangan peneliti, paling tidak hal
ini disebabkan dua hal pokok, yaitu perolehan suaranya yang cukup
signifikan pada Pemilu 1999 dan 2004 serta kehadirannya sebagai
partai politik yang muncul dari rahim NU –organisasi muslim terbesar
di Indonesia-. Terkait pendidikan politik, di Probolinggo, hal ini
diimplementasikan melalui enam hal, yakni; kampanye Pemilu dan
Pilkada, pelatihan politik kader dan diskusi publik, pembentukan
organisasi tani dan nelayan, penghijauan lingkungan, patronase kyai
dan kegiatan keagamaan, dan pemberdayaan masjid. Pada tataran
praktis, PKB merupakan partai terkuat di daerah ini dengan
memenangi dua kali Pemilu. Keberhasilan PKB tidak bisa dilepaskan
dari struktur sosial dan keagamaan masyarakat Probolinggo yang
notabene merupakan pengikut NU yang taat. Sementara relevansi
pokok dari pendidikan politik PKB adalah memberikan
kontekstualisasi terhadap reformasi yang berlangsung di tingkat
nasional serta meningkatkan kualitas demokrasi yang sedang berjalan.
Pendidikan politik yang dilakukan PKB sekaligus menandai
pergeseran paradigma politik NU, yang juga berarti pergeseran
paradigma Islam politik. Islam politik pasca reformasi relatif tidak
mempermasalahkan posisi formal Islam dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Suatu fenomena yang belum pernah
terjadi dalam sejarah perpolitikan di tanah air pada periode
sebelumnya.17
17
c. Skripsi dengan judul “Pemikiran Politik KH. Badri Mashduqi” oleh
As’ari. Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. Dalam
skripsi ini dipaparkan pemikiran politik KH. Badri Mashduqi, seorang
yang terjun ke dunia politik sejak tahun 1971 saat NU eksis sebagai
partai politik. KH. Badri juga masih aktif tatkala partai NU berfusi ke
PPP. Dalam pandangan KH. Badri Mashduqi, politik bagi kiai adalah
kata lain dari dakwah. Pandangan politik KH. Badri Mashduqi berpijak
pada doktrin Ahlussunnah Wal Jamaah, di mana politik merupakan satu kesatuan dengan agama. Meskipun dalam hal ini ada garis
singgung antara sisi politik dan agama, namun secara fungsional harus
dibedakan. Sisi agama diperankan oleh kiai, sementara politik
diperankan oleh umara. Keterlibatan kiai dalam politik adalah untuk mengontrol kegiatan politik agar tidak bertentangan dengan agama.18 F. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan hal penting dalam penelitian, sebab dengan
ini cara yang ditepuh akan dipaparkan. Untuk itu agar penulisan penelitian ini
dapat tersusun dengan benar, maka penulis memandang perlu untuk
mengemukakan metode penelitian ini yakni sebagai berikut :
a. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian Relasi Kuasa Nahdlatul Ulama (NU) dan Politik Pasca-Reformasi (Studi Kasus NU Jawa Timur Tahun 2004-2014)merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong, penelitian kualitatif adalah
Politik PKB Tahun 1998-2008 di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur)” (Tesis tidak diterbitkan, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, 2010), viii.
18
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan.19 Sementara jenis/tipe penelitian ini adalah studi kasus.
Studi kasus merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang
penelahaannya kepada satu kasus dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail,
dan komprehensif. Pendekatan studi kasus ini pada hakikatnya terfokus kepada
kasus (case). Kasus-kasus ini dapat diperoleh dari kasus yang unik, konteks khusus, isu- isu yang sedang berkembang, budaya, alamiah, holistik, fenomena
dan lain-lain20. Menurut Denzin, berkenaan dengan langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian studi kasus menurut adalah sebagai berikut: (a)
membatasi kasus, menentukan objek dari penelitian, (b) meyeleksi
fenomena-fenomena, tema atau isu (sebagai pertanyaan penelitian, (c) menentukan pola data
untuk mengembangkan isu, (d) obsevasi triangulasi, (e) menyeleksi alternatif
interpretasi, (f) mengembangkan kasus yang telah ditentukan.21 b. Data yang dikumpulkan
Data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :
a) Data tentang bentuk relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan politik
pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.
b) Data tentang terbentuknya relasi kuasa Nahdlatul Ulama dan
politik pasca-reformasi di Jawa Timur Tahun 2004-2014.
c) Data tentang prospek relasi kuasa NU dan politik dalam suksesi
kepemimpinan politik ke depan.
19
Lexy J. Moleong,Metode Penelitian Kualitatif(Bandung: Rosda Karya, 2008), 6. 20
M. Syahran Jailani.Ragam Penelitian Qualitative (Ethnografi, Fenomenology, Grounded Theory dan Studi Kasus),Jurnal Edu-Bio; Vol. 4 Tahun 2013, 48 21
c. Sumber Data
Terkait sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a). Sumber Data Primer
Sumber Primer yaitu data yang diperoleh penulis secara langsung dari
sumber aslinya.22 Dalam penelitian ini teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling, di mana penentuan ditentukan dengan pertimbangan tertentu.23 Dalam hal ini kriteria yang dipakai untuk memilih informan adalah tokoh yang pernah menjabat sebagai pengurus di PWNU Jawa Timur kurun waktu
tahun 2004-2014 dan dinilai memahami tentang relasi kuasa NU dan politik
pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014. Tokoh NU yang dimaksud
yakni; pertama, Kiai Ali Maschan Moesa yang pernah menjabat sebagai Ketua
Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 1999-2008.
Informan kedua adalah Kiai Mutawakkil Alallah. Beliau pernah menjabat
sebagai Wakil Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 1999-2004, Ketua
Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 2008-2013 dan saat ini menjabat sebagai
Ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur untuk periode kedua, tahun 2013-2018.
Informan ketiga adalah Kiai Abdurrahman Navis, yang pernah menjabat sebagai
Syuriah PWNU Jawa Timur periode 2008-2013 dan saat ini sebagai Wakil Ketua
Tanfidziah PWNU Jawa Timur periode 2013-2018). Informan keempat yakni
Prof. Shonhaji Sholeh yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Tanfidziah
PWNU Jawa Timur periode 2013-2018.
22
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), 114.
23
b). Sumber Data Sekunder
Sumber sekunder yaitu data yang diambil dan diperoleh dari bahan
pustaka dengan mencari data atau informasi berupa benda-benda tertulis seperti
buku-buku, majalah, jurnal, dokumen, kliping, atau karya tulis ilmiah.24 Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan beberapa sumber sekunder antara lain:
Buku Kyai di Panggung Pemilu dari Kyai Khos sampai High Cost karya Munawar Fuad Noeh. Buku ini memaparkan bagaimana peran kiai dalam
perpolitikan di Indonesia, kiai dan tatanan politik di Jawa Timur, begitu juga
posisi kiai dalam konstelasi politik di Jawa Timur pada pilpres tahun 2004.25 Buku Aswaja Politisi Nahdlatul Ulama karya Abdul Halim. Buku yang merupakan hasil disertasi ini, memotret intrepretasi Ahlussunnah Wal Jamaah (sebagai basis teologis NU) menurut para elit NU yang berada pada empat partai
politik Islam, yakni PKB, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai
Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di
sisi lain, buku ini juga memotret bergesernya elit agama (kiai) daricultural broker menjadipolitical brokerdanpolitical actor.26
Karya ilmiah berjudul Fiqih Politik NU: Studi Pergeseran dari Politik Kebangsaan ke Politik Kekuasaan karya Achmad Warid dalam Jurnal Asy-Syir’ah vol. 43. No. I, 2009. Dalam karyanya ini, Warid memaparkan terjadinya
pergeseran pola politik kiai NU dari politik kebangsaan ke politik kekuasaan.
Pergeseran ini berkelindan dengan masalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan
posisi di pemerintahan. Hal ini di antaranya berdampak pada polarisasi politik
24
Suharsimi Arikunto,Prosedur Penelitian…115. 25
Munawar Fuad Noeh, Kyai di Panggung Pemilu dari Kiai Khos sampai High Cost (Jakarta Selatan: Renebook, 2014).
26
atau kepentingan politik yang menyebabkan perseteruan yang terjadi antar kiai
dan pesantren.27
Karya ilmiah berjudul Melacak Peran Kyai-Santri dalam Politik Kebangsaan di Indonesia karya Fifi Nofiaturrahmah dalam Jurnal Islamic Review volume III No. 1 April 2014. Dalam karyanya ini, Fifi melihat corak gerakan kiai
pada setiap masa. Di era revolusi, kemerdekaan, pemberontakan dan orde baru
kiai berhasil mengimplementasikan politik kebangsaan sebagai ruh
perjuangannya. Sedangkan pada era reformasi, gerakan kiai tersita pada urusan
politik praktis yang lebih banyak membawa madharat daripada maslahat. Posisi
kiai pada pergulatan politik praktis ini menjadikan citra kiai menjadi negatif di
mata umat. Fifi menilai, idelnya politik kebangsaan kembali menjadi fokus utama
para kiai.28
BukuPedoman Organisasi dan Administrasi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang diterbitkan oleh PW Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jawa Timur. Buku ini memuat aturan-aturan dalam NU, seperti
Muqaddimah Qonun Asasi NU, Surat Komite Hijaz, Anggaran Dasar (AD) NU,
Anggaran Rumah Tangga (ART) NU, dan Pedoman Organisasi dan Administrasi
NU. Buku ini memberikan gambaran bagaimana pengelolaan organisasi NU.29 Majalah AULA No. 4 Tahun XXXVIII April 2016. Majalah yang dikeluarkan oleh PWNU Jawa Timur ini berisi beberapa hal yang bisa dibaca
sebagai kecenderungan sikap politik PWNU Jawa Timur pada pilpres 2004. Di
27
Achmad Warid,Fiqih Politik NU: Studi Pergeseran dari Politik Kebangsaan ke Politik Kekuasaan,Jurnal Asy-Syir’ah vol. 43. No. I, 2009.
28
Fifi Nofiaturrahmah, Melacak Peran Kyai-Santri dalam Politik Kebangsaan di Indonesia,JurnalIslamic Reviewvolume III No. 1 April 2014.
29
antara content dalam majalah tersebut adalah surat pembaca berjudul Menguji Keotentikan Fatwa Gender, Siapa di Balik Fatwa Presiden Perempuan Haram, rubrik Mimbar Aula dengan judul Pemimpin dalam Islam, rubrik Dirosah dengan judul Kriteria Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Versi Fiqih Terapan, rubrik Wawasan dengan tulisan berjudul Kalkulasi Mengapa Pilih Mega-Hasyim dan rubrik An nisak dengan tulisan berjudulPresiden Perempuan dalam Islam.
Selain buku, jurnal, majalah yang disebut di atas, sumber lain yang
berhubungan dengan penelitian ini juga akan digunakan.
d. Metode Pengumpulan Data a). Wawancara
Wawancara adalah memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan
cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden
dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara.30 Berkenaan dengan penelitian ini, informan yang dipilih peneliti adalah tokoh yang memang paham
betul mengenai relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun
2004-2014.
Dalam hal ini tokoh yang dimaksud adalah tokoh NU Jawa Timur guna
mendapatkan data berkenaan dengan permasalahan tentang relasi kuasa NU dan
politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014. Secara spesifik, data
tersebut adalah data tentang bentuk relasi NU dan politik pasca-reformasi, data
tentang proses terbentuknya relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi di Jawa
Timur tahun 2004-2014, dan data tentang prospek relasi NU Jawa Timur dan
politik dalam suksesi politik ke depannya.
30
b). Studi Dokumen
Studi dokumen merupakan salah satu sumber untuk memperoleh data dari
buku dan bahan bacaan mengenai penelitian yang pernah dilakukan. Berkenaan
dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti melakukan
penelaahan dan membaca buku-buku dan literatur-literatur yang berkaitan dengan
judul penelitian.
e. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan saat pengumpulan
data berlangsung dan setelah selesai dari pengumpulan data dalam periode
tertentu. Dalam hal ini peneliti menggunakan analisis data model Miles dan
Huberman.31 Dalam analisis data model ini, setelah data dikumpulkan (periode pengumpulan data), dilakukan reduksi data, penampilan data dan penarikan
kesimpulan. Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,
memfokuskan pada hal yang penting, dicari tema dan polanya.
Proses reduksi ini akan memudahkan dalam penelitian dengan didapati
gambaran yang lebih jelas. Di sisi lain juga akan mempermudah peneliti untuk
melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
Tahapan kedua yakni penampilan data.32 Maksudnya adalah menyajikan data yang diperoleh ke dalam pola, umpamanya, sehingga data semakin mudah
dipahami. Dalam penelitian kualitatif, cara yang paling sering digunakan untuk
menampilkan data adalah dengan teks yang bersifat naratif. Penampilan data ini
akan memudahkan peneliti untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan
kerja selanjutnya, berdasar apa yang dipahami tersebut.
31
Sugiyono,Memahami Penelitian Kualitatif(Bandung: Alfabeta, 2010), 91-92. 32
Sementara tahap terakhir yakni penarikan kesimpulan. Setelah data
dirangkum, ditampilkan, kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian
kualitatif, suatu kesimpulan terkadang bisa menjawab rumusan masalah yang
dirumuskan, terkadang tidak. Sebab masalah dan rumusan masalah dalam
penelitian kualitatif, sifatnya sementara dan akan berkembang tatkala peneliti
terjun ke lapangan. Dalam penelitian kualitatif, kesimpulan merupakan temuan
baru yang sebelumnya belum pernah ada. Berkenaan dengan temuan tersebut,
(temuan) dapat berupa deskripsi atau gambaran yang awalnya belum jelas,
menjadi jelas setelah diteliti.33 f. Uji Keabsahan Data
Dalam uji keabsahan data suatu penelitian, acapkali hanya ditekankan
dalam uji validitas dan uji reabilitas. Selain pula objektifitas. Data penelitian
kualitatif dapat dianggap valid, apabila tidak ada perbedaan antara yang
dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang
diteliti. Terkait validitas, terdapat dua validitas dalam penelitian. Pertama validitas
internal, kedua validitas eksternal. Validitas internal berkaitan dengan derajat
keakuratan yang dicapai. Sementara validitas eksternal berkaitan dengan apakah
hasil penelitian bisa digeneralisasikan atau diterapkan pada populasi di mana
sampel itu diambil.34
Terkait dengan reliabilitas, konsistensi, dalam penelitian kualitatif
memang tidak dijamin. Sebab dalam pandangan kualitatif, suatu realitas sifatnya
majemuk (ganda), selalu berubah dan dinamis. Untuk itu, tidak ada suatu data
33
Ibid., 99. 34
yang tetap, konsisten dan stabil. Tabel di bawah ini mencoba menjelaskan uji
keabsahan data dalam penelitian kualitatif.35
Aspek Metode Kualitatif
Nilai Kebenaran Validitas Internal
Penerapan Validitas Eksternal
Konsistensi Reliabilitas
Netralitas Objektivitas
Terkait uji nilai kebenaran, bisa dilakukan dengan perpanjangan
pengamatan, meningkatkan ketekunan, dan menggunakan bahan referensi.36 Perpanjangan pengamatan dimaksudkan, peneliti kembali ke lapangan, melakukan
pengamatan, dan melakukan wawancara lagi dengan sumber data yang pernah
ditemui, atau yang baru. Diharapkan, sumber data semakin terbuka dan tidak ada
informasi yang disembunyikan lagi.
Di sisi lain, peneliti juga harus meningkatkan ketekunan dengan
mengamati secara lebih cermat dan berkesinambungan. Harapannya, kepastian
data, kronologi, rangkaian peristiwa akan teramati dengan baik. Penggunaan
bahan referensi juga akan menunjang nilai kebenaran. Dalam arti, referensi dapat
mendukung data yang telah ditemukan. Sebagai contoh, hasil wawancara
didukung dengan rekaman wawancara.
Sementara aspek penerapan (validitas eksternal) meniscayakan bahwa
peneliti harus membuat laporan penelitian yang jelas, rinci sistematis, dan dapat
dipercaya. Hal ini diamksudkan agar pembaca hasil penelitian dapat memahami
35
Ibid., 119-120. 36
secara baik, sehingga bisa memperoleh gambaran apakah hasil penelitian tersebut
bisa diterapkan di tempat lain atau tidak37.
Terkait uji reliabilitas, dilakukan dengan audit terhadap seluruh proses
penelitian. Bagaimana peneliti menentukan fokus masalah, masuk ke lapangan,
dan segenap tahapan lain, diaudit oleh auditor yang independen. Umpamanya
dilakukan oleh pembimbing. Terakhir, uji aspek netralitas, yakni apabila data
yang diperoleh adalah data objektif. Objektifitas ini dinilai dengan indikator,
bahwa data disepakati banyak orang. Dalam hal uji netralitas, pengujiannya dapat
dilakukan secara bersamaan38. G. Sistematika Pembahasan
Penulisan skripsi ini disusun dalam lima bab yang masing-masing bab
terdiri dari beberapa subbab sebagai berikut:
Bab pertama tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penelitian terdahulu,
metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua berisi tentang landasan teori, yakni Rational Choice Theoryoleh Patrick Baert dan Teori Politik Jawa Ben Anderson.
Bab ketiga berisi penjelasan tentang lokasi penelitian, termasuk peta sosial
Jawa Timur dan posisi NU Jawa Timur dan konstelasi politik.
Bab keempat merupakan kajian analisis mengenai relasi kuasa NU dan
politik pasca-reformasi di Jawa Timur tahun 2004-2014.
37
Ibid., 130. 38
Bab kelima penutup. Bab ini merupakan bagian akhir yang berisi
kesimpulan dari uraian-uraian yang telah dibahas dalam keseluruhan penelitian
24
KERANGKA TEORI
A. Teori Pilihan Rasional1. Pengertian Pilihan Rasional
Sebagaimana dituturkan George Ritzer dalam Sociology; A Multiple Paradigm Science dikenal tiga rumpun paradigma dalam sosiologi. Tiga paradigma tersebut adalah paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan
paradigma perilaku sosial. Secara istilah, menurut Robert Friedrichs, paradigma
adalah pandangan yang mendasar tentang apa yang semestinya menjadi hal yang
dikaji atau dipelajari. Sementara Ritzer mendefinisikan paradigma sebagai what is the subject matter of science.1 Wirawan juga memberikan perumpamaan lain, bahwa paradigma adalah jendela keilmuan yang digunakan untuk melihat realitas
dunia sosial.2
Berpijak pada hal ini, maka tatkala mengetengahkan suatu teori hendaknya
dilacak pula bahwa suatu teori yang dimaksud, termasuk pada rumpun paradigma
fakta sosial, definisi sosial, atau perilaku sosial.3 Dalam hal ini, teori pilihan rasional dikategorikan dalam rumpun paradigma perilaku sosial. Paradigma
perilaku sosial menjadikan tingkah laku manusia yang tampak dan kemungkinan
pengulangannya (hubungan antar individu dan lingkungannya melalui stimulus
dan respon) sebagai fokus utama.
Jika ditilik sejarahnya, teori pilihan rasional awalnya lekat dengan domain
ekonomi. Namun seiring dengan berjalannya waktu teori pilihan rasional juga
1
Chabib Mustofa,Hand Out Teori Sosiologi Modern (tt) 2
I.B. Wirawan,Teori-teori Sosial dalam Tiga Paradigma(Jakarta: Kencana, 2013), 1-2. 3
digunakan untuk menjelaskan fenomena yang bersifat non-ekonomi. Dalam
catatan Wirawan, selama dua dekade terakhir pilihan rasional telah muncul
sebagai prespektif dominan dalam ilmu politik. Para ahli ekonomi-pun juga tak
luput menggunakan prespektif pilihan rasional untuk menganalisis subjek di luar
wilayah tradisionalnya (ekonomi).4
Secara definitif, Patrick Baert memberikan definisi teori pilihan rasional
sebagai suatu teori sosial yang digunakan untuk menjelaskan perilaku politik dan
sosial dengan mengasumsikan bahwa seseorang bertindak secara rasional.5 Sebagai catatan, dalam penelitian ini teori pilihan rasional yang dikembangkan
oleh Patrick Baert yang akan digunakan sebagai pijakan.6
Patrick Baert dan beberapa teoritis lain menjadikan beberapa asumsi
sebagai dasar teori pilihan rasional.7 Asumsi pertama adalah intensionalitas. Dalam hal ini penjelasan intensionalitas tidak hanya menyatakan bahwa setiap
individu bertindak dengan maksud tertentu –secara intensional–, namun juga
dengan mempertimbangkan praktik sosial seperti keyakinan dan kepercayaan.
Termasuk pula keinginan dari para individu yang terlibat. Penjelasan
intensionalitas juga sering kali disertai dengan suatu pencarian terhadap efek
agregat atau akibat-akibat yang tidak dimaksudkan dari tindakan purposif para
pelaku pilihan rasional.
Patrick Baert adalah professor dalam bidang teori sosial di University of Cambridge. Ia juga editor diInternational Journal of Politics, Culture and Society. Diantara karyanya adalah The Existensialist Moment; Sartre’s Rise as a Public Intellectual, Philosophy of the Social Sciences: Toward Pragmatism,danSocial Theory in the Twienth Century and Beyond(dengan F.C. da Silva). Lihat Departement of Sociology,“Patrick Baert Head of
Departement ”http://www.sociology.cam.ac.uk/people/academic-staff/pbaert (Senin, 08 Agustus 2016 pukul 06.47)
7
Pada asumsi pertama ini, teori pilihan rasional oleh para teoris diberi
catatan berupa “kontradiksi sosial” yakni counterfinality dan suboptimality. Dimaksud dengan counterfinality adalah tatkala ada asumsi seseorang bahwa apa yang dianggap sebagai hal yang bermanfaat bagi seseorang pada wilayah tertentu,
secara otomatis bermanfaat pula bagi semua individu dalam wilayah tertentu.
Terkait counterfinality ini Sartre memberikan perumapamaan tindakan penggundulan hutan yang dilakukan oleh seorang petani. Ketika seorang petani
berasumsi bahwa untuk mendapat lahan luas bisa diperoleh dengan menebangi
pohon, nyatanya apa yang dilakukan oleh petani ini tidak memberikan
kemanfaatan. Sebab hutan yang gundul dan ancaman erosi mengancam lahan
pertanian itu sendiri. Pada posisi ini asumsi seseorang tentang kebermanfaatan,
adalah “asumsi yang salah”.
Sementara suboptimality dimaksudkan ketika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan dan ia juga mengasumsikan bahwa orang lain akan memilih atau
menggunakan strategi yang sama. Di sisi lain, seorang individu juga menyadari
bahwa setiap individu akan mendapatkan keuntungan minimal ketika memilih
stategi yang lain. Sebagai contoh, peperangan antara dua negara besar. Idealnya
dalam kondisi ini dua negara mengurangi jumlah persenjataannya, tetapi
keputusan yang terbaik dari dua negara ini adalah sama-sama menambah jumlah
persenjataan, terlepas apapun keputusan yang diambil pihak lain.
Asumsi kedua adalah rasionalitas. Unsur kerasionalan dalam bertindak atau
beraksi akan diketengahkan dalam penjelasan rasional ini. Rasionalitas seseorang
mencoba untuk memaksimalkan kepuasan dirinya. Meminimalkan biaya yang
akan dikeluarkan juga menjadi poin yang tidak bisa diabaikan.
Adanya rasionalitas ini juga memberikan efek pada munculnya
kecenderungan atau preferensi individu. Maksudnya, ada beberapa pilihan yang
harus diputuskan menjadi pilihan yang pertama. Proses atribusi ini dapat terwujud
melalui kecenderungan yang muncul dari individu saat dihadapkan pada beberapa
pilihan. Sebagai contoh preferensi A atas B, preferensi B atas C, dan seterusnya.
Hal yang juga menjadi perhatian dalam rasionalitas ini adalah rujukan pada
keyakinan dan preferensi individu yang sifatnya subjektif. Kondisi objektif yang
melingkupi individu tidak menjadi perhatian dalam pilihan rasional. Hal ini
memberikan implikasi pada kemungkinan munculnya tindakan rasional, namun
berpijak pada keyakinan yang salah. Oleh karena itu mengumpulkan informasi
untuk memperkuat keyakinannya adalah poin penting agar bisa dikatakan
rasional. Akan tetapi, pengumpulan informasi yang tidak dikalkulasi juga tidak
menutup kemungkinan melahirkan suatu hal yang irrasional. Seagai contoh,
tatkala ada serangan justru terfokus pada pencarian informasi dan seluk-beluknya,
sehingga serangan tersebut menjadi tidak terkendali dan berdampak buruk.
Asumsi ketiga adalah kondisi antara ketidakpastian dan risiko. Dalam hal
ini seorang tidaklah bisa berada pada posisi mendapatkan informasi yang
sempurna. Unsur ketidakpastian dan risiko tetaplah ada. Para teoris teori pilihan
rasional mengamini hal ini, namun cenderung pada kondisi penuh risiko.
Maksudnya adalah tatkala dihadapkan pada risiko seseorang dapat saja
mengatribusikan berbagai kemungkinan yang telah diperkirakan, berikut
Dalam pandangan teoris pilihan rasional, ada dua alasan yang menjadikan
posisi risiko sebagai fokus. Pertama adalah kondisi ketidakpastian jarang ditemui.
Alasan kedua, ketika dihadapkan pada posisi risiko, teori pilihan rasional
mengasumsikan bahwa ada kemampuan untuk mengkalkulasi apayang diharapkan
dari setiap tindakan yang dilakukan.
Sementara asumsi terakhir adalah perbedaan antara pilihan parametrik dan
strategis. Pilihan parametrik adalah ketika seseorang berada pada posisi
independen dari beberapa pilihan yang ditemui. Istilah independen dimaksudkan
bahwa seseorang tidak perlu perhitungan atas perhitungan-perhitungan yang
dilakukan orang lain. Sementara pilihan strategis menghendaki bahwa seseorang
sebelum menentukan pilihan harus mempertimbangkan pilihan-pilihan yang
dibuat oleh orang lain. Penjelasan counterfinality dan suboptimaly kiranya dapat dikaitkan dengan pilihan strategis ini.
Dalam Political Science and Rational Choice William H. Riker menuturkan beberapa elemen pilihan rasional.8 Elemen-elemen tersebut yakni; pertama, para aktor dapat merangking tujuan-tujuan, nilai-nilai, selera dan strategi
yang diinginkan; kedua, para aktor dapat memilih alternatif terbaik yang sekiranya
bisa memaksimalkan kepuasan aktor.
Berpijak pada elemen di atas ada beberapa komponen yang juga menjadi
perhatian penting dalam teori pilihan rasional. Komponen pertama adalah
perangkingan. Dalam perangkingan ini perangkat alternatif diasumsikan tertentu
dan jumlahnya tetap. Sementara hal-hal yang dipercaya tidak relevan
dikategorikan sebagai pilihan yang tidak mungkin.
8
Komponen kedua adalah kepercayaan. Adanya komponen kepercayaan ini
menunjukkan bahwa individu-individu tidak bertindak semata-mata berdasar
kebiasaan dan emosi, tetapi juga atas dasar kepercayaan tentang struktur sebab
akibat. Komponen ketiga adalah kesempatan. Secara prinsipil setiap aktor
mempunyai keinginan, namun tidak semua keinginan dapat tercapai sebab
terbatasnya sumber daya dan kemampuan. Komponen terakhir adalah tindakan
aktor, yang menggariskan adanya pilihan-pilihan dengan pertimbangan atau
respons atas keadaan.
Sebagaimana dituturkan di muka, bahwa teori pilihan rasional telah masuk
pada domain politik, ini juga ditegaskan (lagi) oleh Ismail. Tatkala menggunakan
kerangka pilihan rasional, akan dapat dipahami rasionalitas politik dalam
pemilihan. Sebelum menentukan pilihan, seseorang akan melakukan interpretasi
politik dan perhitungan tentang tujuan, sarana, dan hal lain yang dapat menyokong
terwujudnya harapan.9
2. Aplikasi Pilihan Rasional
Setelah dijelaskan beberapa hal penting yang melingkupi teori pilihan
rasional, kini pengaplikasian melalui teori permainan (bagian dari pilihan
rasional) akan dipaparkan. Lazimnya di dalam permainan terdapat minimal dua
pemain yang berkontestasi untuk memperebutkan sesuatu. Termasuk pula dalam
teori permainan ini. Sejalan dengan apa yang telah disampaikan di atas (poin 1)
terkait penggunaan strategi, maka dalam pengaplikasian pilihan rasional, hal
tersebut juga sangatlah berpengaruh pada hasil.
9
Dalam hal ini, tidak hanya strategi yang direncanakan oleh satu pemain,
namun juga strategi yang digunakan oleh lawannya. Kehadiran teori permainan
mencoba untuk mengulas dan memprediksi strategi-strategi pemain di mana
mereka bertindak secara rasional berdasar pada informasi yang diperoleh.
Walaupun, sekali lagi, terkait informasi ini tentu tidak akan sempurna. Begitujuga
pencarian informasi yang berlebihan (tanpa perhitungan) juga akan berdampak
buruk–seperti disinggung pada pembahasan asumsi kedua; rasionalitas–.
Ada dua model yang lazim dalam teori permainan; pertama teori permainan
kooperatif; kedua teori permainan nonkooperatif. Teori permainan kooperatif
menganalisis permainan-permainan koalisinal, begitujuga kekuatan yang dimiliki
pemain, dan juga seputar pembagian hasil diantara koalisi. Sementara permainan
non-kooperatif menggambarkan detail permainan dari setiap strategi-strategi yang
diambil oleh pemain. Walaupun menggunakan istilah kooperatif dan
nonkooperatif, namun tidak menutup kemungkinan adanya kerjasama dan konflik
baik dalam kooperatif maupun nonkooperatif.10
Lebih lanjut, dalam hal ini ada dua bentuk permainan di dalam permainan
nonkoperatif, yang dapat dibedakan menjadi permainan bentuk strategis dan
permainan bentuk ekstensif. Dalam permainan bentuk strategis, para pemain dapat
memilih strategi secara simultan (waktunya bersamaan). Sementara bentuk
ekstensif cenderung mempertimbangkan sekian pilihan yang dikumpulkan untuk
setiap permainan.
10
Henny I, “Dasar Teori Permainan dan Lelang”,
Patrick Baert memfokuskan pada bentuk permainan strategis, melalui
dilema tahanan. Penggambaran yang ideal sebab relevansi dilema tahanan dengan
hal-hal yang berkaitan dengan unsur sosial-politik. Dilema tahanan yang
dimaksudkan adalah kondisi yang menghendaki pertarungan dan strategi secara
rasional, tatkala dua orang tertangkap oleh petugas keamanan. Seorang dengan
informasi yang dimiliki, bisa saja memilih strategi X agar bebas, dan seorang lain
dihukum seumur hidup, atau memilih strategi Y agar sama-sama dihukum 5
tahun. Berikut uraiannya.
Tatkala si A dan si B tertangkap petugas keamanan, keduanya ditempatkan
di ruang terpisah, kemudian masing-masing diberi pertanyaan tentang
keterlibatan. Jawaban yang keluar dari masing-masing tahanan (si A dan si B)
mempunyai konsekuensi dengan rincian; jika si A mengakui dan si B menolak
mengakui maka si A bebas dan si B dihukum seumur hidup. Jika si A mengakui
dan si B mengakui maka keduanya dihukum 20 tahun. Jika keduanya menolak
mengakui maka keduanya akan dihukum 5 tahun. Rincian hukuman ini juga
menjadi pilihan yang bisa dipilih si B. Tabel di bawah ini mencoba untuk
menggambarkan rincian hukuman tersebut.
Si A Si B
Menolak Mengakui
Menolak 3 3 1 4
Mengakui 4 1 2 2
Catatan :
Pay-off11 : 1 (hukuman seumur hidup), 2 (dua puluh tahun), 3 (lima tahun), 4 (bebas).
Baris : si A dan Kolom : si B
Perhitungannya adalah tatkala si B mengakui dan si A mengakui maka skor
yang ditulis adalah sama-sama 2. Jika si B mengakui dan si A menolak maka si A
mendapat skor 1 dan si B mendapat skor 4. Jika si B menolak dan si A mengakui
maka si B mendapat skor 1 dan si A 4. Jika si B menolak dan si A juga menolak
maka keduanya mendapat skor 3.
Rangkaian teori pilihan rasional ini akan diaplikasikan pada tataran
sosial-politik, untuk menelaah kasus relasi kuasa NU dan politik pasca-reformasi di Jawa
Timur tahun 2004-2014. Lebih praktisnya, teori pilihan rasional akan digunakan
untuk melihat kerja rasional yang dilakukan oleh NU Jawa Timur dalam
kontestasi pilpres 2004 dan pileg 2014.
B. Teori Politik Jawa
1. Tinjauan Wilayah Jawa
Wilayah Jawa, atau tana (tanah) Jawa merupakan jajaran pulau besar dari kepulauan Indonesia. Terkait nama Jawa, dalam arti terkait asal mula penyebutan
nama sebagai wilayah Jawa, memang tidak ada kepastian. Namun beredar cerita
tentang penemuan biji-bijian baru oleh para pendatang India yang diberi nama
jawawut. Ada juga yang menyebut wilayah ini dengan Nusa Hara-hara, atau
11
Nusa Kendang, yang mempunyai makna masih liar atau yang bertepian dengan perbukitan.12
Sebagai sebuah komunitas masyarakat yang mempunyai sejarah panjang
dalam peradabannya, banyak nilai-nilai yang tercermin dalam kehidupan
masyarakat Jawa. Franz Magnis-Suseno menuliskan bahwa ada 4 lingkaran dalam
pandangan dunia masyarakat Jawa. Lingkaran pertama adalah sikap terhadap
dunia luar yang dialami sebagai sebuah kesatuan kesadaran antara manusia, alam
dan dunia adikodrati. Lingkaran kedua adalah penghayatan kekuasaan politik
sebagai perpanjangan tangan kekuatan adikodrati. Lingkaran ketiga adalah
pengalaman mistis-batiniah manusia Jawa dalam memahami eksistensi dirinya
sebagai bagian dari alam. Lingkaran keempat adalah penentuan semua lingkaran
di atas sebagai bagian dari takdir kehidupannya.13
Asal mula penduduk di wilayah Jawa, disebut-sebut berasal dari nenek
moyang dari pulau-pulau di timur semenanjung Asia yang merupakan wilayah
pertamakali ditempati manusia. Di kawasan Asia Timur terdapat suatu bangsa
yang besar, bangsa Cina, bangsa Jepang dan beberapa suku bangsa lain yang
mendiami Semenanjung India di luar Gangga, dan juga di pulau-pulau selatan dan
timurnya, sampai New Guinea.
Di kawasan ini ditemukan kemiripan ciri-ciri yang terdapat pada
masyarakat Jawa dengan ciri-ciri bangsa yang disebut di atas. Begitujuga adanya
kemiripan dengan bangsa Birma dan Siam. Berdasar kemiripan ini, baik secara
12
Thomas Stamford Raffles, The History of Java, terj. Eko Prasetyoningrum, dkk. (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2014), 1.
13
Aryaning A. Kresna, “The Concept of Power and Democracy in Javanese Worldview“
fisik, tingkah laku ataupun adat istiadat, memperkat dugaan bahwa penghuni
pulau Jawa berasal dari pulau-pulau di wilayah antara Cina dan Siam. Terkait
migrasi dan penyebabnya, memang tidak diketahui secara pasti apa yang
melatarbelakanginya.14
Berkenaan dengan agama yang dianut oleh masyarakat Jawa, sebelum
kedatangan agama Islam (yang kini menjadi keyakinan terbesar di kalangan
masyarakat Jawa) masyarakat Jawa menganut agama Hindu. Dalam catatan
sejarah dan tradisi umum di daerah, kerajaan Hindu Majapahit sekitar tahun 1475
M yang berdiri dan berkuasa di tanah Jawa harus tergeser sebab datangnya Islam.
Pengaruh Islam juga dirasakan oleh Portugis ketika ia pertamakali berkunjung ke
Bantam (kini Banten). Portugis menemukan raja Hindu di Bantam yang
kehilangan hak atas propinsinya sebab keberadaan raja Islam yang berkuasa.
Meskipun Islam sudah menjadi agama masyarakat Jawa, namun tak
semua elemen dari kalangan masyarakat Jawa yang masih enggan meninggalkan
kebiasaannya dan memercayai institusi nenek moyang mereka. Secara dzahirnya
masyarakat Jawa sudah tidak pergi ke candi, namun mereka masih menunjukkan
perhatian yang tinggi pada hukum, adat-istiadat dan kebiasaan setempat yang
telah ada sebelum datangnya Islam.15
Terkait suku Jawa, di Indonesia, suku ini menjadi suku mayoritas.
Sebagaimana hasil laporan Badan Pusat Statistik dan Institute of Southeast Asian
Studies (ISEAS) suku Jawa adalah suku terbesar dengan proporsi 40,05 persen
dari jumlah penduduk Indonesia. Sementara suku Sunda berada pada urutan
14
Thomas Stamford Raffles,The History of…32. 15
kedua, sebesar 15,50 persen.16Begitujuga di Jawa Timur, suku Jawa menjadi suku yang dominan disusul suku Madura.17
2. Teori Politik Jawa
Berkenaan dengan Teori Politik Jawa, dalam penelitian ini akan
menggunakan teori yang dirumuskan Ben Anderson. Dalam karyanya ini
Anderson menilai banyak karya ilmiah yang mengetengahkan sejarah dan
kebudayaan Indonesia, terkhusus Jawa, namun sekian karya itu masih sedikit yang
menyentuh wilayah baik mengenai konsep politik tradisional maupun
pengaruhnya yang signifikan atas Indonesia masa kini.
Anderson hadir melakukan sebuah upaya penjabaran sistematis mengenai
konsepsi tradisional Jawa tentang politik. Paparan tentang gambaran kehidupan
sosial dan politik dalam kacamata Jawa ini berkelindan dengan upaya untuk
menjabarkan teori politik pribumi, agar dapat membuktikan bahwa budaya
tradisional Jawa memang memiliki teori politik.18
Dalam kaitannya dengan penelitian ini, tidak sepenuhnya konsepsi Jawa
tentang sosial dan politik mendapati kesesuaiannya. Sebab Anderson memotret
gagasan politik Jawa tradisional sebelum masuknya kolonialisme. Sementara
dalam penelitian ini, Jawa yang dimaksud adalah Jawa pasca-kemerdekaan (kurun
waktu 2004-2014). Meskipun demikian, penggunaan Teori Politik Jawa ini sangat
16
Badan Pusat Statistik, https://www.bps.go.id/KegiatanLain/view/id/127 (Senin, 20 November 2016, 18.08)
17
Website Pemerintah ProvinsiJawa Timur, “Sekilas Jawa Timur” dalam
http://jatimprov.go.id/read/sekilas-jawa-timur/sekilas-jawa-timur (Senin, 20 November 2016, 18.17)
18
relevan. Sebab, sebagaimana dipaparkan Anderson sendiri, Teori Politik Jawa ini
menjadi langkah untuk memahami kondisi politik Jawa era kini.19
Kondisi ini menghendaki perlunya perumusan ulang konsepsi Jawa dengan
tetap berpijak pada apa yang telah disampaikan Ben Anderson. Adapun
perumusan ulang itu terwujud pada poin paduan Islam-Jawa, kekharismatikan
penguasa, konsep kuasa dalam kacamata Jawa dan upaya mendapatkan kuasa.
Poin-poin ini akan dipaparkan berurutan untuk menjelaskan kehidupan sosial
politik suku Jawa sebagai suku mayoritas di Jawa Timur
a) Paduan Islam-Jawa
Tatkala Islam masuk ke tanah Jawa, Islam mengambil alih peranan-peranan
tradisional yang telah ada di masyarakat Jawa sebelum kedatangan Islam. Di
antaranya penasihat Istana, ahli nujum, dan begawan-pertapa. Sifat Islam yang
asimilatif, pada gilirannya mendapati paduan antara apa yang berkembang dengan
masyarakat Jawa dengan ajaran Islam. Sebagaimana dipaparkan di muka bahwa
agama yang dianut oleh masyarakat Jawa, sebelum kedatangan agama Islam
adalah agama Hindu.
Anderson menilai, sifat asmilatif Islam yang masuk pada abad 15-16
menandakan adanya unsur besar yang sebangun dan berkesesuaian antara Islam
dengan tradisi kebudayaan yang ada di masyarakat. Di antara kesesuaian itu
adalah pengasosiasian Islam dengan lambang kuasa dari zaman sebelumnya.
Pengasosiasian itu terwujud pada istilah wali atau pewarta suci yang dikaitkan
dengan budaya penting sebelum datangnya Islam seperti wayang.
19
Tafsiran umum tentang pusaka Serat Kalimasada yang dimilik kakak tertua
pandawa dalam cerita Mahabharata sebagai kalimat syahadat, mewakili
pengasosiasian ini. Pusaka milik Prabu Yudhistira itu dimaknai sebagai ikrar akan
keyakinan terhadap Islam. Di sisi lain, corak Islam ini sebelum sampai ke Jawa
telah melewati daratan Persia dan India sehingga menyimpan unsur patrimonial.
Unsur ini juga menemukan kesesuaiannya dengan pandangan dunia Jawa
tradisional, berkenaan dengan peranan dan pentingnya penguasa.20
Sebagai catatan, karakter Islam yang masuk pada abad 15-16 Masehi ini
menjadi karakter Islam ala NU. Sebagaimana catatan Agus Sunyoto, pada abad
15-16 juru dakwah yang menyebarkan ajaran Islam adalah Walisongo. Istilah
Walisongo dalam pandangan masyarakat adalah ketua kelompok dari sejumlah
mubaligh Islam yang bertugas mendakwahkan Islam di daerah Jawa yang belum
memeluk Islam21. Ajaran dakwah ala Walinsongo ini, pada gilirannya, sebagaimana dituturkan Siradj, (diteruskan) menjadi corak dakwah NU.22
Pada posisi ini, penulis berkesimpulan bahwa konsepsi Jawa tentang kuasa
tidak hanya berkutat pada penguasa tradisional-kerajaan seperti raja, tetapi juga
pada penguasa tradisional-keagamaan seperti kiai.
20
Ibid.,147-149. 21
Agus Sunyoto,Atlas Walisongo(Jakarta: LESBUMI PBNU, Pustaka IIMaN, 2016), 142
22
b) Konsep kuasa
Di dalam tradisi Jawa kekuasaan adalah kenyataan yang nyata adanya,
bukan merupakan postulat teoritis, tetapi merupakan suatu kenyataan eksistensial.
Kekuasaan Jawa bersifat ilahiyah. Pun ada konsepsi bahwa seluruh kekuasaan
sama jenisnya dan berasal dari sumber yang sama. Kuantitas kekuasaan tidak
berubah, dan tidak patut mempertanyakan kekuasaan (yang diperoleh) absah atau
tidak. Hal yang pasti adalah kekuasaan itu ada.23 c) Upaya mendapatkan kuasa
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, upaya untuk mendapatkan kuasa
terdapat dua jalur. Pertama ortodoks, kedua heterodoks. Jalur ortodoks
dimaksudkan pada sebuah usaha yogaistik dan laku tapa umpama puasa, meditasi,
berpangkal seksual dan berbagai tipe “pengorbanan” lain. Nilai penting dari laku tapa yang demikian dimaksudkan semata demi mendapat kuasa. Sementara jalur kedua, heterodoks adalah merujuk pada sistem kepercayaan Bhairava, yang
mengumbar hawa nafsu untuk mendapatkan kuasa. Pengumbaran nafsu dipercaya
sebagai cara menuntaskan gairah-gairah sehigga tujuan akhir konsentrasi guna
mendapat kuasa dapat tercapai.24 d) Kharismatik
Pengatributan para pengikut kepada pemimpin, atau pandangan pengikut
kepada pemimpin yang luar biasa, mempunyai kekesuaian dengan konsepsi Jawa.
Pada posisi ini seorang pemimpin dianggap sebagai titik sentral dari mana kuasa
itu memancar, dan para pengikut melekatkan dirinya kepada pemimpin. Dalam
23
Ben Anderson,Kuasa Kata…49. 24
pandangan Anderson, konsepsi kharismatik didapatkan dari gagasan yang
berkesuaian dengan konsepsi Jawa tentang Kuasa.25
Berpijak pada konstruksi teori politik Jawa ini, dalam pandangan penulis,
akan layak digunakan untuk memotret relitas kultural Jawa Timur. Dalam arti
Jawa Timur dengan suku Jawa sebagai mayoritas, dan di sisi lain kelompok
keagamaan mayoritas adalah NU. Corak NU Jawa Timur yang memadukan Islam
dengan kultur (baca: budaya Jawa), akan ditelaah menggunakan teori politik Jawa
untuk melihat sejauh mana paduan Islam-kultur dalam pembentukan relasi kuasa
NU Jawa Timur dan politik pasca-reformasi tahun 2004-2014.
Perpaduan rational choice-teori politik Jawa diharapkan dapat membedah sisi rasional para tokoh NU dan eratnya unsur Jawa sehingga akan maksimal
dalam mengetengahkan relasi kuasa antara NU Jawa Timur dan konstelasi politik
di Jawa Timur. Lebih spesifiknya, bagaimana proses terbentuknya relasi NU Jawa
Timur dalam kontestasi pilpres 2004 dan pileg (DPD) tahun 2014.
25