• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOOK Eko Hero Strategi Baru Opinion Leader

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "BOOK Eko Hero Strategi Baru Opinion Leader"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

dalam Komunikasi Kesehatan Reproduksi

di Media Baru

Eko Hero

Dosen Fak. Ilmu Komunikasi – Universitas Islam Riau - Pekanbaru – Riau

[email protected]

Latarbelakang Masalah

Perkembangan teknologi Komunikasi telah memudarkan prinsip Tabu dalam perbincangan seksual. Karena setiap orang memiliki peluang untuk membincangkannya di media sosial.Sensitivitas isu rerproduksi ini dapat menimbulkan keresahan di masyarakat awam bahkan mampu menyebabkan kepanikan moral (Critcher, 2008)

Meskipun demikian isu ini penting untuk dibincangkan secara tepat. Menurut Faluso & Odu (2010) isu-isu seks yang dibincangkan secara tidak baik akan mampu mempengaruhi prilaku sosial. Akhirnya berdampak pada kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan atas prilaku seks yang tidak bertanggung jawab, penggunaan alat kontrasepsi dan pengurangan rekan seks.

Untuk dapat membincangkan isu seks secara baik tentu perlu dilakukan oleh lembaga pendidikan dan dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi. Menurut (Lee, 2011) negara-negara budaya konteks rendah seperti USA dan Inggris pemerintah negara melakukan pembatasan untuk membincangkan isu seks di lembaga-lembaga pendidikan. Apalagi di Indonesia, negara belum memberikan peluang yang luas agar isu ini dimasukkan kedalam kurikulum atau sebatas materi dalam pembelajaran dan pengajaran di sekolah (Wamoyi, et.al, 2010).

(2)

anggapan tidak sesuai dengan nilai dan norma, usia yang belum pantas dan sebagainya. Padahal secara usia dan perkembangan biologis, kognitif dan sosial (Steinberg, 1993), remaja mengalami desakan naluri untuk mengetahui hal-hal tersebut.

Kemudian untuk mengatasi desakan tersebut, remaja kemudian memanfaat kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi yaitu melalui media sosial. Namun jika media sosial dengan beragam itur yang tersedia tidak dimanfaatkan secara baik maka akan terjadilah perubahan nilai-nilai pada diri seseorang sesuai dengan informasi yang dikonsumsinya (Antono & Zahroh, 2006).

Wajar jika saat ini, igur orang tua mulai tergantikan oleh media sosial (Boyd, 2008 ; Alyusi, 2011 : Subrahmanyam et.al, 2008). Orangtua bukan lagi menjadi pihak yang dijadikan tempat untuk berkonsultasi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi remaja. Perkembangan teknologi komunikasi telah menyebabkan transformasi dimana igur orang tua telah beralih kepada rekan-rekan dalam kelompok media sosial sebagai igur penting dalam kehidupan sosial remaja.

Transformasi tersebut menimbulkan beberapa persoalan, terutama pada pembahasan terhadap isu-isu yang berkaitan dengan seks dan reproduksi. Keterbatasan pengetahuan, pemikiran dan ketidak mampuan remaja dalam memberikan solusi positif terhadap persoalan rekannya menyebabkan nasihat dan saran yang diberikan cenderung menyimpang. Nasihat dan saran tersebut justru diterima oleh remaja-remaja yang sedang menghadapi persoalan tersebut. Karena pada dasarnya remaja cenderung mengikuti apa dan akan semakin senang dengan hal apa saja yang dapat mendukung keinginan mereka.

Maka hasilnya banyak penelitian yang menunjukkan bahwa persoalan kesehatan reproduksi mengalamai peningkatan yang negatif. Misalnya kasus seks bebas, 16 persen – 20 persen remaja Indonesia telah melakukan seks bebas sebelum menikah (Risnawati, 2016). bahkan kasus seks bebas juga dilakukan oleh para kaum ibu-ibu (Hashimoto & Yanagasiwa, 2016). Belum lagi kasus aborsi baik ilegal maupun legal yang mencapai 1,5 juta – 2.3 juta kasus (Puspitasari, 2015 ; Sarwono, 2016, Lee et.al, 2006.

(3)

tidak mampu menjadi opinion leader yang sebagaimana diharapkan para remaja. Keadaan ini yang menyebabkan remaja mencari alternatif

opinion leader lainnya. Perihal persoalan ini tentu sebagai kalangan akademis perlu melakukan evaluasi terhadap persoalan yang muncul. Untuk itu melalui makalah ini diberi judul “Strategi Baru Opinion Leader Dalam Komunikasi Kesehatan Reproduksi Di Media Baru”.

Pengetahuan Kesehatan Reproduksi pada Remaja

Berbagai literatur menyatakan bahwa kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat isik, mental dan kesejahteraan sosial yang berkaitan dengan fungsi dan proses pengembang biakan disemua level kehidupan (PBB, 2008 ; Kemenkes RI, 2000 ; UNPF, 1994). Melalui pemahaman dan pengertian diatas, menunjukkan bahwa kesehatan reproduksi seseorang perlu dibangun, dibina dan dikelola oleh semua pihak agar kehidupan sosial masyarakat menjadi teratur dan berimbang. Ketika hal ini dianggap sebagai boomerang dalam kehidupan sosial, justru akan memberikan potensi masalah bagi lingkungan sosial itu sendiri. Sudah banyak fakta dan hasil penelitian yang dilakukan bahwa persoalan kesehatan reproduksi merupakan persoalan seperti bola salju. Kian hari semakin menjadi endemic dilingkungan masyarakat.

Meskipun negara sudah melakukan upaya bersama negara-negara lainnya, melalui program Millenium Development Goals (MDGs) (Lisbet, 2013), hingga saat ini masih belum menunjukkan perubahan yang signiikan. Menurut Survey Demograi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2012, lebih dari 50 persen (53,9 persen remaja laki-laki dan 54,3 persen remaja perempuan) tidak mengetahui tentang keberadaan saluran informasi kesehatan reproduksi.

(4)

Filipina, Vietnam, Nepal bahkan di Indonesia (Soubbotine et.al, 2004). Pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh negara tentunya perlu disikapi dengan arif dan bijaksana. Salah satunya adalah pemanfaatan media sosial sebagai saluran komunikasi kepada khalayak.

Tingginya angka penurunan tingkat kesehatan reproduksi yang diikuti dengan beberapa pembatasan distribusi pesan, maka diperlukan kegiatan komunikasi yang baik. Kegiatan tersebut dikenal dengan istilah komunikasi kesehatan reproduksi. Komunikasi kesehatan reproduksi diartikan sebagai upaya pertukaran pesan dan makna tentang informasi-informasi terkait upaya peningkatan taraf kesehatan reproduksi melalui beragam media yang dianggap proporsional agar tingkat kefahaman dan pertisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan reproduksinya semakin meningkat.

Sebagai sebuah bidang keilmuan dalam ilmu komunikasi, komunikasi kesehatan reproduksi disampaikan secara cermat dan bijak. Untuk itu tidak semua orang lantas mampu menyampaikannya dengan baik. Kemajuan teknologi informasi saat ini sudah tidak lagi menjadi kendala, namun teknik dan strategi dalam penyampaiannya yang perlu diperhatikan.

Banyaknya itur dan jumlah pengguna memberikan ruang yang cukup luas bagi pihak-pihak untuk menyampaikan pesan-pesan mengenai kesehatan reproduksi. Pihak-pihak ini kemudian kita sebut dengan Opinion Leaders atau disingkat OL.

Opinion Leader atau yang dikenal dengan pemimpin pendapat merupakan orang-orang yang mendapat kepercayaan dari khalayak karena memiliki dan dianggap memiliki keunggulan. Idealnya seorang OL memiliki kemampuan komunikasi dan mempengaruhi khalayak dengan sangat baik sehingga dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan khalaykanya. Bahkan seorang OL memiliki kemampuan dalam memelihara norma menjadi salah satu konsekuensi logis bentuk pelayanan atau suri teladan yang diberikan atau ditunjukkan kepada masyarakatnya. Menurut Homanas (1961),”Seseorang yang memiliki status sosial tinggi (pemimpin pendapat) akan senantiasa memelihara nilai-nilai serta norma kelompoknya sebagai syarat minimal dalam mempertahankan statusnya.” (Depari dan Andrew, 1982).

(5)

sikap orang lain secara informal dalam suatu sistem sosial. Dalam kenyataannya, orang berpengaruh ini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi penentang. Ia (mereka) berperan sebagai model dimana perilakunya (baik mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya.

Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus menurut Creswell adalah suatu eksplorasi dari sebuah sistem yang terikat atau sebuah kasus (berbagai macam kasus) yang detil. Pengumpulan data-data yang akurat melibatkan berbagai macam sumber dari informasi. Sistem yang terikat diatur oleh waktu dan tempat dan kasus itu dipelajari – sebuah program, sebuah kegiatan individu. Contohnya beberapa program (multi-side study) atau program single (within-side study) dapat dipilih sebagai studi kasus. Sumber informasi meliputi: observasi, wawancara, data-data audio visual dan dokumen-dokumen serta laporan.

Konteks Dari sebuah kasus melibatkan situasi kasus dengan lokasi yang mungkin sebuah lokasi isik atau lingkungan sosial, sejarah dan mungkin ekonomi sebagai suatu kasus. Fokus pada kasus tersebut, karena keunikannya membutuhkan studi (intrinsic Case Study) atau menjadi sebuah isu. Ketika lebih dari satu kasus yang dipelajari maka kasus itu mengacu pada sebuah studi kasus kolektif. Penelitian ini menjadi menarik merujuk pada kenyataan, akun pemerintah yang nota benenya memiliki kekuatan sumber daya manusia dan inansial tetapi justru memiliki jumlah pengikut yang berbanding jauh dengan akun yang dimiliki individu atau perorangan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Opinion Leader di Media Sosial

(6)

perlu memiliki serta mampu menanamkan nilai-nilai dan sifat-sifat kepemimpinan, kecekapan serta memiliki kedudukan sosial yang lebih tinggi (Holiday et.al, 2015) agar setiap informasi dapat diterima dan diyakini kebenarannya oleh pengguna.

Menurut Park (2003) menjadi seorang OL perlu memenuhi beberapa kriteria berikut :

1. Lebih mengutamakan keahlian dibidangnya dan ntidak mengandalkan status sosial

2. Harus sering terlibat dalam proses multilangkah, karena pesan di media sosial cenderung disebarkan melalaui berbagai saluaran pengantara 3. Memiliki interaksi dengan pengikutnya secara berterusan dan aktif.

Namun pada kenyataannya hal ini sangat jarang dilakukan oleh OL-OL pada lembaga pemerintah maupun NGO yang berkecimpung dalam persoalan-persoalan kesehatan reproduksi. Misalnya :

Beberapa akaun resmi yang dimiliki Kemeterian Kesihatan Republik Indonesia

No Nama Lembaga Pemerintah

Jenis Akaun Media Sosial / Jumlah Pengikut Facebook Instagram Twitter

2 Dinas Kesihatan Duta Anti HIV/

AIDS

Sedangkan, beberapa akaun media sosial yang dimiliki oleh pihak-pihak yang tidak dapat dipastikan siapa pemiliknya :

No

Pemilik Akaun Jenis Akaun Media Sosial / Jumlah Pengikut Facebook Instagram Twitter

1 Tidak diketahui

(7)

2 Tidak diketahui

3 Tidak diketahui

secara pasti

@naiilaAyu

(116 K pengikut)

Berdasarkan hasil pantauan dan analisa, peneliti menemukan beberapa perbedaan yang ditemukan diantara akun resmi milik pemerintah dan akun resmi yang identitas pemiliknya tidak dapat dikesan :

No Perbedaan Akun Resmi Pemerintah Akun Individu

1 Makna Kata Jelas Tidak jelas dan membuat

pengikut berimajinasi

2 Kekerapan

Penye-baran Maklumat

Purata 1 – 2 Hari Rata-rata 5 – 10 Menit

sekali

3 Gambar Proil Logo lembaga Gambar Perempuan Seksi

4 Penggunaan

Bahasa

Kaku dan edukatif Bebas nilai

5 Orientasi

Infor-masi

Pendidikan dan pembangu-nan manusia

Negatif dan merusak moral

6 Sasaran

Komu-nikasi

Umum dan lebih sempit (penderita)

Umum dan lebih luas (seluruh remaja)

7 Jenis Perkataan Membangkitkan Motivasi

dan Pengetahuan

Membangkitkan Hasrat dan Birahi

Bila diteliti secara seksama, akun resmi yang dimiliki pemerintah dibangun lebih formal. Kemudian pesan-pesan dibangun tanpa berupaya mengikuti trend remaja baik dari sisi materi maupun penggunaan bahasa dan pesan yang dibangun. Dan yang paling mencolok adalah kontinuitas pengunggahan pesan yang memiliki rentang waktu sangat lama. Hal ini berbanding terbalik dengan akun individu yang tidak diketahui pemiliknya tersebut.

Merujuk pada data analisis berdasarkan kasus yang ada, maka peneliti mengusulkan kepada seluruh pihak yang konsentrasi persoalan kesehatan reproduksi agar memperhatikan hal-hal berikut :

(8)

2. Bahasa yang digunakan mesti mampu menguraikan sifat-sifat pengguna, mudah difahami, memiliki tujuan yang jelas serta mampu memberikan rangsangan yang menarik bagi pengguna untuk berpartisipasi kesihatan (KL. Graso & RA. Bell., 2015). 3. Mengandungi unsur-unsur budaya tempatan, baik dari sisi

penggunaan bahasa, simbol budaya ataupun karakter-karakter budaya yang menarik lainnya (Holliday et al, 2015)

4. Pemimpin pendapat diupayakan dari kalangan yang merupakan idola pengguna, karena ekspektasi dan kredibiliti sumber, penggunaan media sosial dan faktor-faktor yang berorientasi pada kedekatan hubungan dengan keperluan diri masyarakat sangat diperlukan (Men & Sunny Tsai. 2013) dalam perbincangan isu-isu sensitif.

(9)

Datar Pustaka

Adisasmito., W. 2008. Analisis Kemiskinan, MDGs dan Kebijakan Nasional. Case Study : Analisis Kebijakan Kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia. Online paper. P. 5

Akanle f, folusoa, odu b.k. .2010. Efect Of Sexuality Education On he Improvement Of Health Status Of Young People In he University of ado-ekiti, Nigeria. Procedia - Social and Behavioral Sciences;( 5):1009-1016

Alyusi, S,D. 2011. Perilaku Sosial Internet (Online Social Behavior)(Studi Deskriptif Tentang Interaksi Sosial Online di Kalangan Komunitas Online “kaskus” regional surabaya. Surabaya : Universitas Airlangga. Skripsi

Antono. S.F. Zahroh., S. 2006. Determinant of Youth Sexual Behaviour and It’s Implication To Reproductive and Sexual Health Policies and Services in Central Java. Journal of Health Promotion. 1(2). 60-71

Boyd, D. 2008. “Why Youth Social Network Sites: he Role of Networked Publics in Teenage Social Life.” Youth, Identity, and Digital Media.

Cambridge: he MIT Press.

Brunick., K.L. Putnam., M.M. McGarry., L.E. Richard., M.N. Calvert., S.L. 2016. Children Future Parasocial Relationship with Media Characters : he Age of Intellegent Characters. Journal of Children and Media. 10(2). 181-190

Centeno., D.D.G. 2010. Celebriication in Philippine Politics : Exploring he Relationship Betweem Celebrity Endorser Parasociability and he Public’s Vooting Behaviour. Social Science DiliMan. 6(1). 66 - 85

Critcher., C. 2008. Moral Panic Analysis : Past, Present and Future. Sociology Compas. 2(4).1127-1144

Federick., E.L. Lim., C.H., Clavio., G. Walsh., P. 2012. Why We Follow : An Exemination of Parasocial Interaction and Fan Motivations for Following Athlete Archetypes on Twitter. International Journal of Sport Comunication. 5. 481-502

(10)

Graso., K.L. Bell., R.A. 2015. Understanding Health Information Seeking : A Test of the Risk Perception Attitude Framework. Journal of Helath Communications 20(2).1406-1423.

Hargittai., E. And Litt., E. (2011). he Tweet Smell Of Celebrity Success: Explaining Variation In Twitter Adoption Among A Diverse Group Of Young Adults. New Media and Society. 13. 824-842

Hashimoto., H. Yanagisawa., S. 2016. Development of Health Literacy Scale among Brazilian mothers in Japanese. Health Promotions International. Oxfords Journals. Online ISSN 1460-2245

Hindin, M.J., & Fatusi , A.O. 2009. Adolescent Sexual and Reproductive Health in Developing Countries : An Overviews of Trendand Intervention. International Perspective on Sexual and Reproductive Health. 35(2). 58-62

Holliday., J. Audrey., S. Campbell., R. Moore., L. 2015. Identifying Well-Connected Opinion Leaders For Informal Health Promotion : he Example of he ASSIST Smoking Prevention Program. Journal Of Health Communication. 31(8).946-953

Institute for Public Health. 2008). he third National Health Morbidity Survey (NHMS-III) 2006. Kuala Lumpur: Ministry of Health,Malaysia. Vol 2.

Ismali., K. Abd Hamid., S.R. 2016. Communication about Sex-Reproductive Health Issues waith Adolescent : A Taboo among Malaysian Parents. European Journal of Social Sciences. 6(1). 27-41

Langhaug., L.F. Cowan., F. M. Nyamurera.,T. Power. 2003. Improving Young People’s Access To Reproductive Health Care in Rural Zimbabwe. Journal of AIDS Care. 15(2).147-157

Lee., J.C.H. 2011. Policing Sexuality, Sex, Society. And he State. London and New York Zed Book Ltd.

Lee., L. K. Chen., P. C. Lee., K. K. Kaur., J. 2006. Premarital sexual Intercourse Among Adolescents in Malaysia: a Cross-Sectional Malaysian School Survey. Singapore Medical Journal, 47(6), 476-481

(11)

Puspitasari., N. 2015. Tingkat pengetahuan Remaja Putri Tentang Kesehatan Reproduktif di Kelas XI SMK Muhamadiyyah 2 Surakarta. Jurnal Sainstech. 1(3).1-8

Risnawati., I. 2016. he 3rd Universty Research Colloquium. ISSN 2407-9189

Rita Men, L., Sunny Tsai, W.H. 2013. Beyond liking or Following : Understanding Public Engagement on Social Networking Sites in China. Public Relation Review. 39. 13-22

Santrock., J.W. 2007. Remaja. Edisi 11. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sarwono., S.W. Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, Kompas.com, Kamis (25/2/2016) dilayari pada 13 September 2016

Sekarpuri., A.D. 2014. Inklusi Saluran Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Jurnal Studi Pemuda. 3(2).133-139

Sekarpuri., Anindita Dyah., 2014. Inklusi Saluran Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Jurnal Studi Pemuda;3(2); p.133-139

Soubbotine., P. Tatnaya., Sheram. Katherine., 2000. Beyond Economic Growth : Meeting he Chalenges of Global Development. Washington DC dalam Hardee. K., Pine. P., Wasson. L.T., 2004. 9 Policy Papers ; Adolescent and Youth Reproductive Health in the Asia and Near East region Status, Issues, Poliies, Program. US. Agency. P.16

Stehr., P. Rossler., P. 2015. Parasocial Opinion Leadership Media Personalities Inluence whitin Parasocial Relations : heoritical Conceptualization and Preliminary Results. International Journal of Communication. 9. 982-1001

Steinberg., L. 1993. Adolescence. hird Edition, McGraw-Hill, Inc., New York

Subrahmanyam, K, Reich, S.M, Waechter, N & Guadalupe E.2008.

Online and Oline Social Networks : Use Of Social Networking Sites By Merging Adults. Journal of Applied Developmental Psychology, (online), 29, 420-433.

(12)

Zarcadoolas, C., 2010. he Simplicity Complex : Exploring Health Messages in a Complex World. Journal of Health Promotion Internasional, 26(3). p. 338 - 350

Zarcadoolas, C., Plesant, A & Greer, D.S., 2005. Understanding Health Literacy : An Expanded Model. Journal of Health Promotion Internasional, 20(2). p. 195 - 203

Gambar

Gambar Proil

Referensi

Dokumen terkait