• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA DENG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA DENG"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA SISWA DENGAN

MENGGUNAKAN METODA DISCOVERY

Oleh : Merlin Handayani

Sekolah Asal : SD Negeri 11 Piai Tangah Kec. Pauh

[email protected]

Abstrak

Tujuan penulisan ini untuk mendeskripsikan bentuk perencanaan, pelaksanaan, dan peningkatan hasil belajar IPA dengan menggunakan metoda discovery. Jenis penulisan adalah Penulisan Tindakan Kelas menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Subjek penulisan yaitu guru dan siswa kelas V SDN 11 Piai Kecamatan Pauh Kota Padang. Berdasarkan hasil penulisan siklus I ke Siklus II, rata-rata ketuntasan hasil belajar siswa (kognitif, afektif, dan psikomotor) dari 6,0 meningkat menjadi 8,0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metoda discovery dapat meningkatkan hasil belajar IPA.

Kata kunci : Hasil Belajar; IPA; Metoda Discovery PENDAHULUAN

Berdasarkan refleksi awal selama penulis melaksanakan pembelajaran IPA di kelas V ternyata tidak semua siswa yang mampu menerima materi IPA dengan baik, banyak siswa yang terlihat malas memperhatikan penjelasan guru, siswa suka bermain atau meribut, dan ketika guru bertanya tentang materi yang sedang dibahas siswa tidak mampu menjawab dengan benar, hal tersebut mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan. Masalah ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Dari hasil ulangan harian siswa kelas V pada materi perubahan sifat benda diperoleh nilai rata-rata kelas 5,5 dengan persentase ketuntasan belajar 18%. Artinya dari 11 orang siswa kelas V, 2 orang tuntas belajar dan 9 orang belum tuntas belajar. Sedangkan menurut Masnur (2009:214) ketuntasan belajar ideal adalah 85%. Ini berarti, pembelajaran IPA di kelas V SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang masih rendah dan perlu ditingkatkan.

Menyikapi kenyataan di atas, perlu ada upaya nyata yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan pembelajaran IPA khususnya pada materi perubahan sifat benda.

(2)

pembelajaran yang efektif. Penggunaan metoda pembelajaran yang tepat dapat membantu siswa dalam memperoleh semua informasi yang disajikan dalam pembelajaran.

Metoda yang dapat digunakan dan diterapkan dalam pembelajaran perubahan sifat benda salah satu diantaranya adalah metoda discovery. Menurut Mulyasa (2005:110) “metoda discovery merupakan metoda yang lebih menekankan pada pengalaman langsung dan pembelajaran dengan metoda penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar”. Dari penjelasan tersebut, jelas bahwa penggunaan metoda

discovery dalam pembelajaran menekankan pada aktivitas siswa sebagai subjek belajar yang mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Sehingga peranan guru hanya sebagai fasilitator dan pembimbing siswa dalam belajar.

Dengan melihat banyak kelebihan-kelebihan dari penggunaan metoda discovery tersebut, jelaslah bahwa penggunaan metoda discovery dalam pembelajaran sangatlah baik, dimana metoda discovery (penemuan) lebih menekankan pada pengalaman langsung, sehingga siswa betul-betul merasakan keterlibatan mental mereka untuk penguasaan keterampilan melalui pengamatan, membuat dugaan, menjelaskan, dan lain sebagainya. Sehingga metoda discovery (penemuan) lebih mengutamakan proses dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian yang telah dijabarkan sebelumnya, maka penulis berkeinginan melaksanakan penulisan tindakan kelas (PTK) dengan judul ”Penggunaan Metoda Discovery Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPA Di Kelas V SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang”.

(3)

terutama dalam pemilihan metoda pembelajaran yang sesuai khususnya materi IPA. Serta bagi pembaca, sebagai bahan pertimbangan untuk tugas-tugas di masa yang akan datang. METODOLOGI

Penulisan ini dilaksanakan di SDN 11 Piai TangahKecamatan Pauh Kota Padang. Pemilihan tempat penulisan adalah karena tempat penelitian adalah tempat penulis mengajar serta sekolah bersedia menerima inovasi pendidikan terutama dalam proses pembelajaran.

Penulisan ini merupakan Penulisan Tindakan Kelas (PTK) menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penulisan dilaksanakan dengan menggunakan model siklus yang dikembangkan Kemmis dan Mc. Taggart (dalam Arikunto, 206:104). Model siklus ini mempunyai empat komponen yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penulisan ini dilaksanakan di SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang. Subjek dalam penulisan ini adalah siswa dan guru kelas V SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang dengan jumlah siswa 11 orang yang terdiri dari 5 orang siswa laki-laki dan 6 orang siswa perempuan yang terdaftar pada semester I Tahun Ajaran 2013/2014. Sumber data penulisan ini berasal dari proses pembelajaran IPA dengan metoda discovery di kelas V SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang. Data penulisan dikumpulkan dengan teknik observasi dan tes. Penulisan ini dilaksanakan pada semester I Tahun Ajaran 2013/2014 (Oktober s/d November 2014) dengan rincian tindakan yaitu pada tanggal 22 Oktober 2014 pelaksanaan siklus I dan pada tanggal 05 November 2014 pelaksanaan siklus II.

(4)

Analisis data dilakukan terhadap data yang telah direduksi baik data perencanaan, pelaksanaan, maupun data penilaian. Analisis data dilakukan dengan cara terpisah-pisah. Hal ini dimaksudkan agar dapat ditemukan berbagai informasi yang spesifik dan terfokus kepada berbagai informasi yang mendukung pembelajaran dan yang menghambat pembelajaran. Dengan demikian pengembangan dan perbaikan atas berbagai kekurangan dapat dilakukan tepat pada aspek yang bersangkutan.

HASIL

Tahap Perencanaan

Perencanaan pada siklus I meliputi: membuat persiapan yang terdiri dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS). RPP ini memuat tentang mata pelajaran, kelas, hari/tanggal, alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi, proses pembelajaran, media, metode, sumber dan evaluasi yang dilakukan. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah RPP tentang IPA di kelas V semester I dengan menggunakan metoda discovery, lembar observasi aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Materi yang diajarkan pada siklus I adalah perubahan sifat benda dengan menggunakan metoda discovery. Standar Kompetensi (SK) yang dicapai adalah memahami hubungan antara sifat bahan dengan penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil suatu proses. Kompetensi Dasar (KD) yang ingin dicapai adalah menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap. Indikator yang ingin dicapai dalam pelaksanaan tindakan pada siklus I ini adalah (1) Melakukan eksperimen tentang perubahan sifat benda, (2) Mengamati hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda, (3) Membandingkan hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda, (4) Membedakan perubahan sifat benda baik sementara maupun tetap, (5) Menyimpulkan hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda.

(5)

Perencanaan pada siklus II penulis tetap berkolaborasi dengan guru kelas V SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh. Pada tahap ini, penulis juga membuat persiapan yang terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar pengamatan. Begitu juga dengan instrumen pengumpulan data yang digunakan masih tetap seperti yang terdapat pada siklus I.

Materi pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II ini tidak berbeda dengan siklus I yaitu pembelajaran IPA dengan menggunakan metoda discovery. Kompetensi dasar yang ingin dicapai yaitu menjelaskan arti pecahan dan urutannya.

Sedangkan indikator yang ingin dicapai pada siklus II ini juga sama dengan indikator pada siklus I, yaitu (1) Melakukan eksperimen tentang perubahan sifat benda, (2) Mengamati hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda, (3) Membandingkan hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda, (4) Membedakan perubahan sifat benda baik sementara maupun tetap, (5) Menyimpulkan hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda.

Tahap Pelaksanaan

Pertemuan pada siklus I dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 22 Oktober 2014 mulai pukul 07.30 sampai 09.15. Pelaksanaan pembelajaran ini sesuai dengan rencana yang telah dibuat, yaitu dengan menggunakan metoda discovery. Pada pertemuan I ini indikator yang dibahas adalah 1) Melakukan eksperimen tentang perubahan sifat benda, (2) Mengamati hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda, (3) Membandingkan hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda, (4) Membedakan perubahan sifat benda baik sementara maupun tetap, (5) Menyimpulkan hasil eksperimen tentang perubahan sifat benda. Siklus II dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 05 November 2014 pukul 07.30 sampai 09.15 WIB. Pembelajaran siklus II berlangsung selama 105 menit. Dalam pelaksanaan siklus II ini penulis tetap bertindak sebagai guru (praktisi) seperti dalam siklus I sedangkan guru kelas V SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh sebagai pengamat.

Tahap Pengamatan

(6)

observasinya pada pertemuan ini dari aspek guru pada pembelajaran IPA dengan menggunakan metoda discovery siklus I dapat dilihat bahwa dari 13 karakteristik yang dinilai atau dari 52 skor maksimal diperoleh skor 38. Dengan demikian, persentase perolehan skor kemampuan guru dalam mengajar IPA dengan menggunakan metoda discovery siklus I adalah 66,6% dengan kategori cukup. Hal ini menunjukkan bahwa taraf keberhasilan aktivitas guru selama proses pembelajaran berlangsung belum tuntas karena kurang dari standar ideal ketuntasan mengajar yaitu 75. Dari aspek siswa pada pembelajaran IPA dengan menggunakan metoda discovery siklus I dapat dilihat bahwa dari 12 karakteristik yang dinilai atau dari 52 skor maksimal diperoleh skor 34. Dengan demikian, persentase perolehan skor kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran IPA dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran metoda discovery siklus 1 adalah 50%. Hal ini menunjukkan bahwa taraf keberhasilan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung belum tuntas karena kurang dari standar ideal ketuntasan belajar dan dapat dikategorikan kurang. Hasil belajar siswa pada siklus I bahwa dari 11 orang siswa yang mengikuti tes yang diadakan diakhir siklus I terdapat 3 orang yang mendapatkan nilai 70 ke atas sesuai dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 70, sehingga siswa tersebut dikatakan tuntas dalam belajar. Jadi persentase siswa yang tuntas belajar sebanyak 27%. Sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 8 orang dengan persentase 73%.

(7)

taraf keberhasilan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung tuntas karena berada di atas standar ideal ketuntasan belajar (75%) dan dapat dikategorikan sangat baik. Hasil belajar pada siklus II mengalami peningkatan yaitu nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 8,0. Sedangkan ketuntasan yang diperoleh adalah 82% atau sebanyak 9 orang. Dimana siswa yang tidak tuntas sebanyak 2 orang atau sekitar 18%. Jadi dapat dikatakan penulis sudah berhasil dalam membelajarkan siswa. Selain itu perilaku siswa pun berubah menjadi lebih aktif dalam berdiskusi dan berani menyatakan pendapatnya serta lebih bisa menghargai perbedaan yang ada dalam kelompok maupun kelasnya. Secara umum, hasil penulisan mulai dari sikus I sampai siklus II dapat dilihat pada diagram dibawah ini:

Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dari Siklus I Ke Siklus II

Dilihat dari diagram diatas, dapat disimpulkan bahwa siklus II telah dapat dikatakan berhasil. Hal ini dibuktikan dengan kenaikan dari siklus I ke siklus II yang cukup signifikan. Berdasarkan kesepakatan observer dan penulis bahwa penulisan disukupkan sampai siklus II saja.

Tahap Refleksi

(8)

dalam RPP. Sebahagian dari langkah pada perencanaan terlaksana sesuai yang diinginkan. Tapi terdapat beberapa langkah pada rencana pembelajaran yang tidak berjalan dengan baik seperti media yang digunakan kurang bervariasi, serta langkah pembelajaran kurang dicantumkan secara rinci.

Refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran diperoleh hasil sebagai berikut : pada kegiatan pembelajaran awal diperoleh hal-hal antara lain: (1) guru hendaknya menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, agar siswa mengetahui apa yang dipelajari saat itu dengan agak baik, (2) dalam melakukan tanya jawab, pada tahap appersepsi guru hendaknya bisa membimbing siswa agar siswa tidak menjawab dengan serempak (bersama-sama). Pada kegiatan inti diperoleh hal-hal antara lain: (1) dalam melakukan pembelajaran guru kurang mampu mengelola kelas terutama pengelolaan kelompok, (2) saat melaporkan hasil diskusi kepada kelompok hanya beberapa siswa yang mau berperan aktif, (3) dalam melaksanakan pembelajaran, sebaiknya guru merencanakan waktu seefektif mungkin. Sedangkan pada akhir pembelajaran diperoleh hal-hal antara lain guru masih kurang baik dalam menyimpulkan pelajaran atau membuat ringkasan.

Refleksi pada hasil belajar siswa pada siklus I masih rendah ini terlihat dari hasil evaluasi siswa yang diadakan pada akhir pelajaran. Hasil analisis mengenai data penilaian akhir siklus I dapat dilihat pada tabel diatas. Dari 11 orang siswa yang mengikuti tes yang diadakan diakhir siklus I terdapat 3 orang yang mendapatkan nilai 70 ke atas sesuai dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 70, sehingga siswa tersebut dikatakan tuntas dalam belajar. Jadi persentase siswa yang tuntas belajar sebanyak 27%. Sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 8 orang dengan persentase 73%.

(9)

perencanaan pembelajaran pada siklus I sudah tidak terjadi lagi seperti media yang digunakan sudah bervariasi, serta langkah pembelajaran sudah dicantumkan secara rinci.

Refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran diperoleh hasil sebagai berikut : pada kegiatan pembelajaran awal diperoleh hal-hal antara lain: (1) guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan baik sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajari saat itu dengan agak baik, (2) dalam melakukan tanya jawab, pada tahap appersepsi guru sudah membimbing siswa agar siswa tidak menjawab secara serempak (bersama-sama). Pada kegiatan inti diperoleh hal-hal antara lain: (1) dalam melakukan pembelajaran guru sudah mengelola kelas dengan baik terutama pengelolaan kelompok, (2) saat melaporkan hasil diskusi kepada kelompok siswa sudah mau berperan aktif, (3) dalam melaksanakan pembelajaran, guru sudah merencanakan waktu seefektif mungkin. Sedangkan pada akhir pembelajaran diperoleh hal-hal antara lain guru sudah dengan baik menyimpulkan pelajaran atau membuat ringkasan.

Refleksi pada hasil belajar siswa pada siklus II sudah mulai meningkat dibandingkan dengan siklus I. Dari 11 orang siswa yang mengikuti tes yang diadakan diakhir siklus II terdapat 9 orang yang mendapatkan nilai 70 ke atas sesuai dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 70, sehingga siswa tersebut dikatakan tuntas dalam belajar. Adapun persentase siswa yang tuntas belajar pada siklus II ini sebanyak 82%, sedangkan persentase siswa yang tidak tuntas adalah 18%. Berdasarkan kesepakatan observer dan penulis bahwa penulisan disukupkan sampai siklus II saja.

PEMBAHASAN

1) Pembahasan Siklus I

a. Perencanaan Pembelajaran IPA dengan Metoda discovery

(10)

benda, baik sementara maupun tetap. Adapun materi yang dibahas dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini adalah perubahan sifat benda.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun berdasarkan langkah-langkah metoda discovery seperti yang dikemukakan oleh Menurut Syaiful (2008:197) ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan metoda discovery yaitu : “1) Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa, 2) Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis, 3) Siswa mencari informasi, data, fakta yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis, 4) menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi, dan 5) mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi baru”.

Berdasarkan RPP yang telah dibuat oleh penulis pada siklus I, rancangan yang telah penulis buat sudah tergolong baik, namun ada beberapa aspek yang belum terlihat. Diantaranya yaitu pada pengorganisasian materi ajar, cakupan materi kurang luas dan tidak sesuai dengan alokasi. Sebaiknya cakupan materi ajar luas dan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditetapkan.

Pada pemilihan sumber belajar belum sesuai dengan tujuan pembelajaran serta tidak sesuai dengan materi ajar. Sebaiknya pemilihan sumber belajar harus sesuai dengan tujuan pembelajaran serta materi ajar. Pada kejelasan proses pembelajaran langkah-langkah pembelajaran masih kurang jelas dan rinci. Sebaiknya kejelasan proses pembelajaran langkah-langkah pembelajaran harus jelas dan rinci. Adapun penilaian observer terhadap RPP pada siklus I ini adalah 60,7 dengan kategori cukup.

b. Pelaksanaan Pembelajaran IPA dengan Metoda discovery

(11)

bertanya jawab tentang benda-benda disekitar siswa. Pertanyaan yang diberikan oleh guru menimbulkan jawaban yang serempak dari siswa. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran oleh guru. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru. Pada kegiatan inti menggunakan tahap-tahap pembelajaran metoda discovery. Pada kegiatan akhir proses pembelajaran adalah siswa bersama guru menyimpulkan pelajaran dan meminta siswa untuk berdoa sebagai tanda proses pembelajaran pada hari itu selesai.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis dan observer setelah proses pembelajaran kendala yang dihadapi selama pembelajaran antara lain: (1) penulis masih kaku dalam pembelajaran karena metoda pembelajaran yang digunakan masih baru bagi guru, (2) penggunaan waktu belum sesuai dengan rancangan pembelajaran, (3) masih ada siswa yang belum aktif, (4) pengelolaan kelas yang kurang baik, dan (5) pembagian kelompok yang perlu dirancang ulang agar tidak menjadikan suasana kelas menjadi ribut.

Untuk mengatasi kendala yang dihadapi pada siklus I agar tidak terjadi lagi pada siklus selanjutnya, maka penulis melakukan beberapa tindakan perbaikan seperti : yakni: 1) memperbaiki cara pembagian kelompok dengan cara pemberian nomor pada tiap anggota kelompok agar tidak terlalu meribut. 2) menyampaikan materi dengan jelas agar siswa lebih mudah dalam memahami materi yang akan dipelajari. 3) berusaha memaksimalkan pemakaian waktu dalam pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran dan 4) memperbaiki cara memotivasi siswa agar semua siswa dapat ikut aktif dalam berdiskusi.

Persentase keberhasilan mengajar pada siklus I ini berdasarkan dari rambu-rambu karakteristik mengajarnya untuk siklus I ini persentase mengajar dari aspek guru yaitu 66,6% sedangkan pada aspek siswa baru mencapai 50%. c. Hasil Belajar IPA dengan Metoda discovery

Hasil akhir siklus I dengan nilai rata-rata kelas 6,0 dengan ketuntasan 27% atau sebanyak 3 orang. Hasil ini tidak sesuai dengan target yang ingin dicapai. Apalagi jumlah siswa yang dibawah rata-rata cukup banyak yaitu sekitar 8 orang atau 73%.

(12)

aspek-aspek yang terdapat di dalam pendidikan seperti belajar, proses belajar, dan situasi belajar sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan baik dalam situasi dan suasana pembelajaran tertentu. Menurut Rochman (2006:43)

belajar adalah proses pembinaan yang terus menerus terjadi dalam diri individu yang tidak ditentukan oleh unsur ketururunan, tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor dari luar anak. Dalam belajar siswa banyak memperoleh dari guru, maka guru harus lebih memahami kembali ketiga aspek dalam pendidikan yaitu yang belajar, proses belajar dan situasi belajar. Yang belajar adalah anak didik atau siswa yang secara individu atau kelompok mengikuti proses pembelajaran dalam suasana tertentu.

Guru sebagai penggerak dan pengatur proses pembelajaran sudah seharusnya dapat mengaktifkan semua siswa tanpa terkecuali agar potensi yang ada pada siswa dapat tergali dan berkembang. Guru harus dapat memberikan motivasi kepada siswa dalam pembelajaran.

Peran guru dalam membelajarkan siswa sangat besar, upaya menimbulkan motivasi siswa untuk belajar sangatlah berat seperti yang dinyatakan oleh Rochman (2006:70)

Peran guru dalam memberikan motivasi anak adalah mengenal setiap siswa yang diajarkannya secara pribadi, memperlihatkan interaksi yang menyenangkan, menguasai berbagai metode dan tekhnik mengajar serta menggunakannya dengan tepat, menjaga suasana kelas supaya siswa terhindar dari konflik dan frustasi serta yang amat penting memperlakukan siswa sesuai dengan keadaan dan kemapuannya.

Berdasarkan uraian diatas jelas bahwa dalam pembelajaran, guru seharusnya memberikan motivasi serta menggunakan metode dan model pembelajaran yang bervariasi, karena dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat siswa tidak akan jenuh serta siswa lebih cepat dalam menerima informasi yang disajikan oleh guru. Selain itu, guru seharusnya lebih memotivasi siswa dalam belajar dan pengelolaan kelas yang baik akan menunjang pembelajaran yang baik pula

2) Pembahasan Siklus II

a. Perencanaan Pembelajaran IPA dengan Metoda Discovery

(13)

agar kekurangan-kekurangan pada siklus I tidak muncul lagi pada siklus II. Adapun hasil penilaian observer terhadap RPP pda siklus II yaitu 89,2 dengan kategori baik. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan perencanaan pembelajaran sudah dapat dikatakan berhasil.

b. Pelaksanaan Pembelajaran IPA dengan Metoda Discovery

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II hampir sama dengan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I. namun ada perbaikan terhadap kekuranan yang terdapat pada siklus I sesuai dengan hasil refleksi siklus I. Pada kegiatan inti diperoleh hal-hal antara lain: (1) dalam melakukan pembelajaran guru sudah mengelola kelas dengan baik terutama pengelolaan kelompok, (2) saat melaporkan hasil diskusi kepada kelompok siswa sudah mau berperan aktif, (3) dalam melaksanakan pembelajaran, guru sudah merencanakan waktu seefektif mungkin. Sedangkan pada akhir pembelajaran diperoleh hal-hal antara lain guru sudah dengan baik menyimpulkan pelajaran atau membuat ringkasan. c. Hasil Belajar IPA dengan Metoda discovery

Hasil belajar siswa pada siklus II mengalami peningkatan yaitu nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah 8,0. Sedangkan ketuntasan yang diperoleh adalah 82% atau sebanyak 9 orang. Dimana siswa yang tidak tuntas sebanyak 2 orang atau sekitar 18%. Jadi dapat dikatakan penulis sudah berhasil dalam membelajarkan siswa. Selain itu perilaku siswa pun berubah menjadi lebih aktif dalam berdiskusi dan berani menyatakan pendapatnya serta lebih bisa menghargai perbedaan yang ada dalam kelompok maupun kelasnya.

Berdasarkan hasil pengamatan pada siklus II ini, pembelajaran tentang IPA sudah berjalan dengan baik, walau masih ada beberapa orang siswa yang belum dapat menyelesaikan soal latihan yang diberikan guru. Cara guru dalam membimbing siswa dalam membagi kelompok dan mengisikan LKS sudah baik. Begitu juga dalam hal membimbing siswa untuk melaporkan hasil diskusi kelompok ke depan kelas dan memberikan motivasi bagi siswa yang melaporkan sudah baik.

(14)

yang sudah disiapkan. Pemanfaatan waktu juga sudah baik sehingga pembelajaran IPA pada siklus II ini tidak memakan waktu pelajaran lain.

Pembelajaran yang disajikan guru pada siklus II sangat baik karena perhatian siswa dalam pelajaran sudah terpusat dengan baik. Siswa sudah mampu menyelesaikan soal latihan yang diberikan dengan baik selain itu siswa sudah mampu bekerja sama dalam kelompok.

Untuk mencapai hal tersebut sudah seharusnya guru mampu menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Selain itu, guru juga harus memperhatikan keberhasilan siswa dalam memahami sesuatu dengan cara sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Hal ini disebabkan karena guru bertugas membelajarkan siswa. Untuk membelajarkan siswa tersebut guru haruslah menggunakan berbagai macam cara agar pembelajaran dapat bermakna bagi siswa, seperti menggunakan model pembelajaran yang tepat, metode dalam pembelajaran yang bervariasi, media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa.

(15)

Gambar. Diagram perbandingan nilai rata-rata hasil pembelajaran pada aspek afektif siklus I dan siklus II

Gambar. Diagram perbandingan nilai rata-rata hasil pembelajaran pada aspek psikomotor siklus I dan siklus II

Gambar. Diagram Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II

SIMPULAN DAN SARAN

(16)

generalisasi, dan 5) mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi baru. (b) Pelaksanaan pembelajaran dengan metoda discovery dapat membuat siswa lebih mengerti dan aktif dalam belajar. Hal ini disebabkan karena penggunaan metoda discovery dalam pembelajaran memiliki banyak keunggulan, diantarnya yaitu membantu siswa dalam mengembangkan dan memperbanyak keterampilan dalam proses kognitif, memperdalam pengetahuan siswa serta meningkatkan semangat dan gairah belajar siswa. (c) Meningkatnya hasil belajar siswa dapat dilihat dari rata-rata nilai akhir siswa dari siklus I 6,0 meningkat pada siklus II menjadi 8,0. Pembelajaran belum dianggap tuntas jika hasil yang diperoleh di bawah 75%. Hal ini merupakan bukti pelaksanaan penulisan tindakan kelas berhasil dilakukan di SDN 11 Piai Tangah Kecamatan Pauh Kota Padang.

Berdasarkan kesimpulan yang telah dicantumkan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran yaitu (a) untuk guru, agar dapat mencobakan dan menerapkan model pembelajaran yang lebih bervariasi dengan tujuan agar siswa dapat tertarik untuk mengikuti pelajaran yang diberikan, (b) untuk kepala sekolah, dapat berupaya meningkatkan sarana dan prasarana yang menunjang keberhasilan guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa, (c) untuk penulis selaku guru, dapat menambah pengetahuan yang nanti bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar siswa, dan (d) untuk pembaca, agar bagi siapapun yang membaca tulisan ini dapat menambah wawasan kepada pembaca.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi.2009. Penulisan Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara Muslih, Masnur. 2009. Melaksanakan PTK Itu Mudah. Jakarta:Bumi Aksara Mulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Rochman. 2006. Strategi dan disain pengembangan system pembelaajran. Jakarta: Prestasi Pustakarya

Gambar

Gambar. Diagram perbandingan nilai rata-rata hasil pembelajaran pada aspek kognitif siklus I dan siklus II
Gambar. Diagram perbandingan nilai rata-rata hasil pembelajaran pada aspek afektif siklus I dan siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Detritus, yang pada setiap habitat perairan selalu menduduki urutan kedua dalam komposisi makanan alami ikan baung, merupakan indikator bahwa ikan baung lebih menyukai hidup dekat

Agar dapat mengetahui kendala pada saat melakukan identifikasi sistem dan prosedur pendapatan dan belanja yang dilakukan oleh UPT Puskesmas Kota Yogyakarta sehubungan

(4) Untuk kepentingan Daerah, Bupati berwenang memberi ijin tertulis kepada pejabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tenaga ahli sebagaimana dimaksud pada ayat (2),

Manakala bagi kaum minoriti, mereka pula menuntut lebih banyak kandungan yang berkaitan dengan sejarah masyarakat mereka terutama peranan yang dimainkan dalam pembinaan sebuah

Dalam hal alokasi anggaran, setelah periode yang stagnan dari tahun 2007 hingga 2012, diikuti oleh tren yang menurun di tahun 2013 dan 2014, pertanda positif muncul pada tahun

Ahli yang mampu menganalisis materi yang terpilih untuk dimuat dalam buku ajar tersebut. Hasil validasi ahli materi, produk pengembangan bahan ajar mata

Menurut Usman (2013) beberapa faktor yang menjadi pemicu perilaku bullying pada remaja seperti jenis kelamin, tipe kepribadian anak, kepercayaan diri, iklim sekolah

Program umum MGMP Kabupaten Jombang adalah program yang bertujuan untuk memberikan wawasan kepada guru tentang kebijakan-kebijakan pendidikan di tingkat daerah sampai