Selasa, 220518.13:00
Revolusi Industri 4.0
Oleh: Rio Heykhal Belvage
Tiba-tiba ada ide mampir. Kucatet dulu sekenanya. Soal adaptasi perubahan sosial dalam
gelombang revolusi industri keempat yang menurutku mesti dilakuin walau masih menjadi hil
yang mustahal – bahkan untuk sekedar diimajinasikan. Nganuu..sek, udah tahu kan, apa itu
revolusi industri keempat? Kenapa bisa dibilang keempat? Kenapa nggak keseratus sembilan
puluh sembilan ribu lima ratus enam puluh tiga? Kenapa harus keempat? Aku juga tahunya baru
ini (hehehe). Hya, itu sebenarnya soal kategorisasi aja sih. Pengelompokkan yang dilakukan oleh
gerombolan penguasa pengetahuan. Gampangannya istilah revolusi itu dipahami secara
evolusionis. Yang pertama, yaitu mekanisasi, ketika tenaga umat manusia yang bermukim di
planet ini mulai digantikan oleh kedudukan mesin-mesin yang diciptakannya sendiri. Lalu sistem
kapitalisma madafaka yang memproduksi barang2 dalam jumlah massal, elektrisasi, hasil dari
pencapaian revolusi sebelumnya. Trus komputerisasi. Nah, setelah itu barulah para kampret itu
membikin julukan macem sistem IOS android, revolusi 4.0, di mana nyaris seluruh gerak
kehidupan sapiens dikendalikan, dimonitori oleh sistem siber, dari ekonomi sampai hil yang
mustahal: ngeseks.
Oke jadi gini, tadi tu mo ngomong apa yaa...
Oya, begini. Ehem. Agak seriyes ni. Jadi tho, jika dilihat dari statistik jumlah penduduk, aku tu
pernah liat tapi dimana yaa..lupa (duhh), pokoknya itu deh, isinya Indonesia ini, kaum muda
beberapa dasawarsa belakangan menempati komposisi jumlah paling besar. Artinya, komposisi
anak muda menempati posisi potensial. Karena (sek, merujuk ke Leslie White, kalau gak salah
doi nyeletuk bahwa evolusi kebudayaan itu ditopang oleh tenaga dan teknologi. Dua unsur itulah
yang menghasilkan peradaban sapiens) semakin banyak tenaga, maka semakin banyak pula daya
untuk melakukan perubahan sosial. Bukankah begitu? (Iya, anggep aja iya).
Tapi meski kedengarannya hal itu menyenangkan, ternyata kenyataannya ndak demikian. Karena
selama ini sistem sosial terus-menerus menyediakan tempat prestisius dan akses bagi
golongan-golongan tua untuk memproduksi kebijakan dan menentukan arah kemudi kemana perahu besar
ini hendak berlayar, yang akhirnya hya komposisi potensial itu tadi ndak jadi potensial. Lhaa
Padahal mestinya komposisi antara yang muda dan yang tua ini tu dapat dibalik. Didekonstruksi
kalau bahasa asiknya. Salah satu unsur yang paling mendasar misalnya, hyaitu dengan membikin
kesepakatan tentang standarisasi “pemain inti” yang disesuaikan dengan usia – dengan asumsi
bahwa produktivitas sapiens dideterminasi oleh suasana mental (alias unsur biokimia/ hya
serotonin, hya dopamine, hya cortisol, norepinephrine, dst). Dalam hal ini, kaum muda tentu
lebih progresif, yak2an, tabrak sana tabrak sini, ketimbang golongan tua yang sering ngerem
ndadak bikin penumpang jantungan karena seiring waktu beban pikiran mereka semakin banyak.
Jadi pendek kata bila disimulasikan, kita bayangkan saja misalnya untuk mengoperasionalkan
seluruh sistem tatanan sosial dari mulai lembaga terbesar kayak negara, atau parpol, atau
apapunlah, mesti diisi oleh manusia yang usianya tidak lebih dari 30 tahun, titik. Di atas itu,
sapiens-sapiens tua ini mesti ganti posisi, tidak boleh lagi aktif berperan dalam menggerakkan
kelembagaan. Kalau pun masih mencoba utak-utik, ia hanya boleh menduduki posisi maksimal
sebagai penasihat, pembina, sebagai stabilizer, penyeimbang kecepatan dari progresififas pikiran
anak-anak muda yang menggerakkan sistem yang besar itu.
Ngomong2, hari ini, geopolitik negara-dunia selain diributin dengan isu perubahan iklim, kan
juga lagi diributin sama diskursus revolusi industri keempat, kan? World economic forum cukup
sering mbahas hal itu. Sebuah isu yang mulai gencar diobrolin warga dunia sejak ada kumpul2
ilmuwan di Brazil pada tahun 1992. Embuh ngobrolin apa mereka. Yang jelas tentang kondisi
bumi yang stress berat akibat tingkah sapiens.
Nah dalam konteks itu, menurutku tho, hya cuma kaum muda yang bisa berdialog mengenai isu
itu dengan kelopak kepala yang terbuka. Karena selain memang semangat jaman ini adalah
semangat jaman yang sinyal-sinyalnya hanya bisa ditangkap oleh mereka, kaum muda ini juga
belum punya kepentingan sebanyak koleksi kepentingan golongan tua yang menghambat dirinya
sendiri untuk bertingkah progresif. Dengan tingkat adaptif yang tinggi terhadap teknologi dan
juga pengetahuan, tentu saja agensi kaum muda ini tidak akan pernah sebanding bila disejajarkan
dengan energi/daya yang dihasilkan oleh golongan tua yang cenderung merawat pikiran status
quo. Kalau ndak percaya, silahkan coba korek2 sejarah.
Udah gitu aja, sih. Lain waktu tak coba cerita seriyes dalam uraian yang lebih series karena ini