RESENSI BUKU
JANGAN MENANGIS WILLY
Di ajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia Kelas XI Semester 3 Tahun Pelajaran 2011/2012
Di susun oleh:
Fitri Wulandari
Almi Bela Yusinia
SMA NEGERI 3 PURWAKARTA
Jl. Letkol Abdul Kadir No. 15 Telp. (0264) 202424 Purwakarta
41119
Blog:
www.smanti-pwk.blogspot.com
Email:
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufik, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun karya tulis ini .
Di susun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia kelas XI semester 3 di SMAN 3 Purwakarta yang berisi tentang resensi dari novel yang berjudul “Jangan Menangis Willy”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan karya tulis ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Drs. Nana Suryana M.M.Pd selaku Kepala Sekolah SMAN 3 Purwakarta beserta staf Tata Usaha.
2. Dra. Rosma Sundari selaku guru yang membimbing dalam penyusunan karya tulis ini.
3. Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan moril dan materiil sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Penulis sadar bahwa dalam penyusunan karya tulis ini banyak terjadi hambatan dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan karya tulis ini.
Purwakarta, November 2011
A.
IDENTITAS
Judul : Jangan Menangis Willy Pengarang : Ambhita Dhyaningrum Penerbit : Tiga Serangkai
Kota Penerbit : Solo, Jawa Tengah Cetakan Pertama : 2006
Jumlah Halaman: 162 halaman Ukuran : 17 cm
B.
LATAR BELAKANG
Novel yang berjudul “Jangan Menangis Willy” ini menurut saya banyak mengajarkan tentang arti kehidupan. Novel ini memberikan pesan moral kepada kita bahwa hidup adalah pilihan. Tetapi, apa yang kita pilih hanya Allah yang menentukan. Selain itu, dalam novel ini hampir banyak menjelaskan tentang masalah umum yang terjadi di masyarakat masyarakat diantaranya masalah krisis ekonomi dan keadaan masyarakat yang hanya bisa membicarakan tentang keadaan buruk orang lain tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang itu. Selain itu, novel ini mengajarkan bahwa setiap orang harus menyadari bahwa hidup itu adalah sebuah perjuangan yang harus diperjuangkan untuk kebahagian dari hari dengan cara-cara yang positif. Dan kesempurnaan fisik tidak menjamin seseorang itu baik.
C.RINGKASAN CERITA
Latifah Nur Aini. Begitu nama lengkapnya. Dia adalah sosok cewek yang sederhana. Hidupnya yang ditempa oleh berbagai kesulitan hidup. Akan tetapi dia tidak putus asa dan tetap berusaha. Dia tinggal berdua bersama adiknya Haikal yang harus kehilangan kakinya karena kecelakaan.
Tidak seperti biasanya, kali ini Latifah sulit menghubungi sahabatnya Keke. Ia telah mencoba berbagai cara agar dapat berkomunikasi dengannya. Bahkan dia mencoba untuk menghubunginya lewat surat.
membaca majalah di atas tempat tidurnya. Disentuhnya ujung jari kaki Haikal. Adiknya itu tersentak seraya membaca istighfar. Dan ternyata Haikal sedang membaca majalah penjualan kaki palsu. Alangkah pedihnya hati Latifah mendengar keinginan adiknya. Dan dia berjanji akan membelikan kaki palsu untuknya meskipun sulit baginya.
Seperti biasa, untuk mencapai rumah, Latifah harus melalui gang-gang sempit penuh dengan rumah-rumah petak yang berimpit-impit.
Biasanya, suasana pada waktu itu riuh dengan anak-anak yang sedang bermain dan suara melejit dari ibu-ibu yang sedang bergosip. Tetapi, suasana sore itu sangatlah berbeda. Latifah yang heran mengamati suasana yang tampak lengan. Begitu sampai di ujung kompleks, ia melihat ada keramaian.
Ternyata dari sela-sela orang yang berimpitan ia melihat beberapa wartawan sedang menjepretkan kamera. Latifah pun bertanya kepada seorang Ibu yang mengendong anaknya. Dan ibu itu bilang ada anak kecil mau bunuh diri, Latifah tercengang seraya istighfar. Dan terdengar suara menyinyir dari seorang ibu yang mengucapkan kata-kata tidak pantas.
Akhirnya dengan rasa penasaran latifah mencoba mencari tahu tentang anak itu. Dan ternyata, anak itu bernama Willy. Dia terkena penyakit epilepsy. Sehingga terkadang penyakitnya kambuh. Dan karena kekurangan biaya, Willy tidak dibawa ke Dokter melainkan ia hanya diberi jamu-jamuan tradisional.
Keesokan harinya, ketika akan pergi ke kantor Cantik. Latifah melalui rute yang sama dan melewati rumah Willy. Ia melihat Willy sedang duduk sendirian, termenung di depan rumah. Latifah jadi merasa khawatir. Latifah berjalan mendekat. Willy terlihat lebih baik dari sebelumnya. Tak lama, datang Ummi membawa secangkir air yang terlihat berwarna pekat. Ternyata itu adalah jamu yang biasanya Willy minum. Di sela-sela menemani Willy. Latifah pun bercerita tentang adiknya Haikal tentang keadaan kakinya yang cacat. Willy pun merasa bahagia, karena ada orang lain yang lebih menderita dari dia tetapi orang itu tidak berputus asa.
mengapa dia sulit dihubungi dan ia juga bercerita bahwa ia tidak ingin melanjutkan kuliahnya di Fakultas Kedokteran.
Suatu hari, Latifah melihat keramaian di rumah Willy ketika ia lewat di depan rumahnya saat berangkat kuliah. Beberapa tetangga yang bergerombol saling berbisik dengan ekspresi prihatin, meskipun sebagian yang tampak mencibir.
Ternyata Ummi kedatangan Ibu Arum istri Pa Ilham yang pertama. Latifah pun pergi ke bagian belakang rumah Willy, dan melihat Willy sedang termenung di sudut pintu sambil memegang perutnya yang sedang lapar. Tak lama terdengar suara tamparan dari dalam rumah. Latifah tercengang dan berusaha menenangkan Willy.
Putus asa. Dua kata itu terdengar begitu sederhana. Di dalamnya ada kesedihan, rasa tidak percaya diri, hingga hilangnya sebuah harapan. Padahal menurut Latifah, harapan adalah sesuatu yang mengadung daya hidup.
Willy kecil mungkin masih terlalu muda untuk paham semua itu. Keadaanlah yang membuat ia mengenal putus asa. Latifah pernah merasa putus asa dengan hidupnya ketika kedua orang tuanya meninggal, ia merasa semua telah hilang dari hidupnya. Haikalpun pernah mengalami masa sulit sejak kehilangan kaki. Ia menjadi anak penakutdan temperamental. Lalu, bagaimana dengan Keke? Dia sedang mengalami masa sulit. Dia masih bertahan dengan pilihan orang tuanya di Fakultas Kedokteran. Suara teriakan Bibi Hindun membuyarkan lamunan Latifah. Bi Hindun mengatakan bahwa ada seorang ibu bersama anak kecil yang ingin bertemu dengannya, ternyata itu Ummi dan Willy. Mereka membawa tas besar. Ummi pun bercerita, ia dan Willy akan pergi ke kampung halamannya, Ummi berharap semoga di sana dapat membuat hati Willy sedikit tenang. Tetapi, ini sudah terlalu malam. Dan Bi Hindunuh menyuruh mereka untuk menginap di rumah.
Latifah mengajak Willy untuk bertemu dengan Haikal. Sebentar saja Haikal dan Willy sudah akrab. Mereka semalam itu langsung ngobrol dengan asyik di kamar Haikal. Latifah yang melihat keakraban itu merasa senang. Ia memiliki harapan yang besar bahwa keakraban mereka dapat menumbuhkan semangat hidup dalam diri Willy.
hidup sebagai istri kedua adalah pilihan yang rumit dan beresiko yang tidak terbayangkan sebelumnya. Ummi Willy sebenarnya masih cukup muda dan masih mempunyai jalan hidup yang panjang. Kini, ia memutuskan untuk membebaskan dirinya dari segala penderitaannya.
Latifah sedang menyapu lantai ketika Bibi Hindun tergopoh-gopoh datang dari warungya. Di belakangnya menyusul seorang laki-laki yang dikenali Latifah sebagai suami Ummi Willy, Ilham! Ummi Willy kemudian menemui suaminya di ruang tamu. Tak tau apa yang mereka obrolkan. Tetapi, pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap pergi ke Purwokerto dan kapan-kapan Pak Ilham akan menjenguk mereka,
Keesokan harinya, teman Latifah mengatakan bahwa ada toko yang menjual kaki palsu dengan harga yang cukup murah. Latifah merasa lega, akhirnya keinginan adiknya Haikal dapat terwujudkan. Tak lama mereka langsung pergi ke toko tersebut. Mereka bertemu dengan Pak Dharma, pemilik toko tersebut. Dan memutuskan untuk membelikan kaki palsu untuk Haikal.
Akhir yang melegakan. Haikal tinggal menunggu kaki palsunya jadi. Keke menghubungi Latifah, dia menyatakan ingin menjadi seorang PR. Willy? Belum ada kabar tentangnya. Tetapi, setiap kali Latifah melewati rumah itu, ia merasakan kenangan itu hadir di hatinya. Hidup adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk disia-siakan.
D.
PENILAIAN
Unsur Intrinsik
⇝ Tema : Hidup adalah perjuangan ⇝ Judul : Jangan Menangis Willy ⇝ Penokohan
1. Latifah : Sosok perempuan yang harus berusaha untuk tetap hidup di keadaan yang sulit sebagai remaja. Tetapi, dia tetap berusaha, tidak putus asa dan bertawakal.
2. Willy : Anak kecil yang lugu tetapi dia terpaksa merasakan pahitnya kehidupan di usianya yang masih kecil. 3. Haikal : Adik Latifah yang begitu sabar walaupun
4. Keke : Teman Latifah yang baik dan berusaha untuk bias menghargai keinginan orang tuanya.
5. Ummi Willy : Ibu Willy yang sabar.
6. Pak Ilham : Ayah Willy yang kurang tegas dengan keputusannya.
7. Ibu Arum : Istri pertama Pak Ilham yang pemarah, tidak sabar, selalu emosi.
⇝ Alur/Plot : Menarik walaupun agak sedikit membingungkan, karena penyusunan cerita kurang rapih. Tetapi, secara keseluruhan cerita ini menarik untuk dibaca. ⇝ Latar/Setting
- Waktu : Setelah pulang kerja, sebelum berangkat kerja/kuliah.
- Tempat : Rumah Bi Hindun, Rumah Willy, Kantor Cantik, Toko Pak Damar.
⇝ Bahasa : Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti sehingga pesan moral yang terdapat pada cerita dapat dengan mudah tersampaikan.
⇝ Amanat :
Amanat yang terkandung pada cerita ini, diantaranya:
a. Untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan harus dengan usaha, berdo’a dan bertawakal. Jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, janganlah kecewa. Karena Allah SWT melihat dari usaha yang kita lakukan, bukan dari hasil yang kita dapatkan.
b. Jangan menganggap bahwa kekurangan kita sebagai penghancur kehidupan, yakinlah bahwa inilah jalan yang terbaik yang telah Allah SWT tentukan.
Unsur Ekstrinsik
saat melihat keburukan orang lain, mereka hanya dapat mencibirnya, dan hal itu tidak sesuai dengan al-Hadis “Orang muslim ialah orang yang tidak suka mengganggu orang-orang muslim dengan lisan dan tangannya”.
⇝ Nilai Budaya : Masalah ini sangat umum di lingkungan masyarakat. Mungkin karena pengaruh dari program televisi sehingga ini dengan cepat terealisasikan di kehidupan sehari-hari.
⇝ Nilai Ekonomi : Untuk saat ini, biasanya bagi masyarakat menengah ke bawah kurang terperhatikan. Contohnya dalam cerita ini, Ummi tidak memiliki biaya lebih untuk mengobati penyakit yang diderita oleh Willy sehingga hanya diobati dengan obat-obat sederhana,
⇝ Nilai Sosial : Untuk membantu sesama jangan dilihat dari status sosialnya, karena di mata Allah SWT semua manusia itu sama. Dan apa yang telah dilakukan oleh Latifah merupakan hal yang terpuji. Walaupun dia dalam keadaan yang sulit, tetapi ia masih dapat menolong orang lain yang membutuhkan.
E.KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN
Keunggulan:
Dari gambar bagian depan, bisa sedikit memberikan gambaran tentang isi cerita dan sekaligus menarik pembaca untuk membacanya. Selain itu, bahasa yang digunakan cukup mudah di mengerti sehingga pesan moral yang ada dalam cerita dapat tersampaikan, di sertai dengan ayat-ayat Al-Qur’an, Al-Hadis, dan kata-kata mutiara dari tokoh tertentu, yang dapat menegaskan tentang pesan moral di dalamnya.
Isi dalam cerita ini merupakan masalah umum yang ada di sekitar kita. Sehingga, dengan cerita ini semoga saja, masyarakat atau pembaca dapat memahami pesan moral yang tersimpan di dalamnya dan hal positifnya disalurkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kekurangan:
Dan dalam cerita ini tidak dijelaskan peran serta pemerintah yang memperhatikaan sehingga tidak terdapat nilai politik di dalamnya.
F. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
Cerita ini sangat menarik untuk dibaca karena banyak pesan moral yang terdapat dalam cerita ini. Novel ini menceritakan tentang sosok Latifah, walaupun dalam keadaan hidup yang sederhana. Dia masih dapat menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Dalam cerita ini menunjukkan sikap Latifah yang prihatin, sabar dan tidak mengeluh pada keadaannya.
Saran :
Hidup dalam kerasnya kehidupan memang sulit. Tetapi, jalanlah putus asa dan percayalah bahwa inilah jalan yang terbaik yang Allah SWT tentukan. Dan tetaplah bantu orang yang membutuhkan kita. Jangan melihat dari status sosialnya, tapi ingatlah bahwa kita semua sama. Dan Allah SWT, lebih mencintai orang-orang yang selalu bersyukur dengan keadaan.