• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS BENTUK-BENTUK KLAUSA IKLAN MINI DALAM SURAT KABAR TRIBUN TIMUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS BENTUK-BENTUK KLAUSA IKLAN MINI DALAM SURAT KABAR TRIBUN TIMUR"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Meaksanakan Penelitian pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

NUR AFDHALIA USMAN 10533704812

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYA MAKASSAR 2016

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

siiripsi aras liama NUR AFDHALIA

USMAN,

Nlhzi: 10533i04812 na dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surat Kepufttsan

r Liniversitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 105 Tahun 1437 W2016'

-.

_-ga1 10 Oktober 2016 M, sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar

>.irjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Rahasa dan Sastra Indonesia

=.o.rltas Keguruan dmr Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar : ,:a hari Sabtu tanggal 16 Oktobrer 2016.

Mmffifo

2s

i*dhiijah

;fl1437 H

,,ffs

'-.5*e zz Seflffinber

S

2ol6lvl

Pengawas Ur1um

Ketua

,rl,,,-,.:', t' t,

Sekretaris , Penguji

.

PANITIA UJIAI\

Dr. H. Abdul Rahman Rahim, SE', M. Ivl Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M. Hun.

Khaenrddin, S. Pd., M. Pd.

1.

Prof. Dr. Muh. RaPi Tang, M.S

2.

Aliem Balri, S. Pd., M. Pd.

3.

Dr" H. Nursalam, N.'{. Si.

FKIP U

NBM;

iyah Makassar

(3)

h

EE E

G

-::-.

daram Koran rribun

S

";di

: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

: Ke-guruan dan Ilmu pendidikan

Seielah diperiksa dan diteliti, skripsi ini telah memenuhi persyaratan unfirk

Makassar, 20 Oktober 2016

Disetujui oleh

Pembimbingl

t,

n ,tt

I

N/hl/

I

fiVr

Dr. ul$fiah,M. Pd.

Diketahui oleh

suri, M.

HuHr;:, \

.

",; ,,

^r**r#!

-t

rndi Sii

Pd., M. Pd.

Ketua Jurusan Pendidikan ahasa dan Sasfra Indonesia

>I

95t576

(4)

vii

berani berkata “Tidak” pada kata “Menyerah”

Orang yang memandang kesulitan

Sebagai masalah dalam hidupnya akan mempersulit dirinya dalam berkarya.

Janganlah memandang kesulitan sebagai masalah

Namun pandanglah sebagai suatu karunia yang akan merubah kita Menjadi orang yang lebih baik dan mulia.

Kuolah kata,kubaca makna, kuikat dalam alinea,

Kubingkai dalam bab ,jadilah sebuah makna gelar sarjana kuterima.

Kupersembahkan karya ini sebagai tanda baktiku

Kepada ayahanda dan ibunda yang senentiasa mendoakan,memberi Rasa cinta, kasih sayang, dukungan dan semangat

Serta pengorbanan yang tulus ikhlas demi kelancaran studiku Buat saudaraku yang senentiasa memberikan dukungan dan semangat guna sebuah keberhasilan

Dan buat sahabatku, kalian adalah warna keindahan dalam keseharianku Yakinlah kita akan selalu menjadi idola bagi diri kita sendiri.

(5)
(6)

ix

melimpahkan segala rahmar dan hidayah-NYa, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ Analisis Bentuk-Bentuk Klausa Iklan Mini Dalam Koran Tribun Timur. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad Saw, kepada keluarga, beserta para sahabatnya.

Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dengan selesainya Skripsi ini sudah dalam bentuk sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritikan diharapkan dari pembaca demi kesempurnaan Skripsi ini.

Setiap orang berkarya selalu mencari kesempurnaan. Tetapi, untuk mencapainya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesempurnaan bagai fatarmorgaa yang semakin dikejar semakin menghilang dipandangan; bagai pelangit yang terlihat dari kejauhan, tetapi menghilang ketika berada didepan pandangan, dibutuhkan pengorbanan dan motivasi yang tidak kecil untuk menggapainya. Demikian juga tulisan ini kehendak hati ingin sempurna tetapi kemampuan penulis yang terbatas. Segala daya dan upaya telah penulis arahkan untuk membuat skripsi ini selesai dengan baik

Penulis menyadari selama dalam penyusunan skripsi ini,banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungannya baik material maupun moril.

Demikian pula segala bantuan yang penulis peroleh selama dibangku perkuliahan

(7)

x

Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada kepada Dr. Munirah , M. Pd, pembimbing I yang dengan penuh keikhlasan dan ketelitian dalam membimbing, mengarahkan, dan memberikan ide-ide hingga penuliasan dan penyelesaian skripsi ini. .Andi Adam, S. Pd.,M.Pd pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan pikiran , tenaga dalam memberikan bimbingan, arahan, motivasi, dan petunjuk bagi penuis mulai awal hingga akhir penyelesaian Skripsi ini.

Ucapan terima kasih penulis ditunjukkan pula kepada yang pertama yaitu

Dr. H. Abd Rahman Rahim. SE, MM, Rektor Muhammadiyah Makassar beserta stafnya yang telah membantu dan memberi kemudahan kepada penulis dalam penyelesaian studi : Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ; Dr. Munirah, M.Pd , ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, kepada seluruh staf jurusan serta seluruh dosen dalam lingkungan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah membekali penulis engan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Segenap terima kasih Ananda hanturkan kepada Ayahanda Usman dan Ibunda Dinar yang telah mencurahkan cinta dan kasih sayangnya serta keikhlasan dalam membesarkan, mendidik dan membiayai penulis serta doa restu yang tak henti-hentinya untuk keberhasilan penulis.

(8)

xi

pernah berhenti memberikan bantuan doa, moril dan semangat yang selama ini menjadi tempat berbagi dalam suka maupun duka.

Tidak ketinggalan penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh rekan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia khususnya kelas C Angkatan 2012, atas segala kebersamaan, motivasi, saran dan bantuannya kepada penulis.Sahabat-sahabatku Nur Afni Fatani Annisa, Sukriadi, Abd Rahman, Dwi fachrida,Warnida, Mutmmaiina, Agus, Aulia Nur Alam, Fauziah Ridwan, Muh.

Tabri, Haerul Jumasang dan Dyan Rachmad Djafar. Semoga segala bantuannya selama ini bernilai ibadah di sisi-Nya. Amin!

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.

Karena kesempurnaan hanyalah milik Allah swt. Tiada manusia yang luput dari salah dan khilaf. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan krtikan yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan Skripsi.

Makassar, Agustus 2016

Nur Afdhalia Usman

(9)

xi

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

SURAT PERJANJIAN ... vi

MOTO ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR ... 8

A. Kajian Pustaka ... 8

1. Pengertian Klausa ... 10

2. Batasan Klausa ... 11

3. Ciri-Ciri Klausa ... 12

4. Klausa Lengkap dan Tak Lengkap ... 13

5. Klausa Negatif dan Klausa Positif ... 14

6. Klausa Mandiri dan Klausa Tergabung ... 16

7. Klausa Subordinatif ... 17

8. Klausa Terkandung ... 18

9. Klasifikasi Klausa ... 20

10. Bentuk-Bentuk Klausa ... 24

11. Koran Tribun Timur ... 26

B. Kerangka Pikir ... 28

(10)

xii

D. Teknik Analisis Data ... 35

E. Metode Penyajian Data ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 36

A. Hasil Penelitian ... 37

1. Penanda Hubungan Penambahan ... 37

2. Penanda Hubungan Pemilihan ... 45

B. Pembahasan ... 60

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 62

A. SIMPULAN ... 62

B. SARAN ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 64 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(11)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Didalam dunia pendidikan karya ilmiah bukanlah suatu hal yang asing lagi dan kebanyakan karya ilmiah diterbitkan merupakan hasil dari berbagai macam riset yang dilakukan oleh lembaga penelitian ataupun lembaga pendidikan. Karya tulis ilmiah adalah salah satu yang disususn secara sistematis dan bersifat ilmiah.

Pengertian diatas sejalan dengan pengertian yang diberikan Arifin 1998:5 (dalam Dr.Munirah,M.Pd), mengatakan bahwa karangan ilmiah merupakan karangan ilmau pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metedologi penulisan yang baik dan benar.

Manusia tidak pernah terlepas dari sebuah teks. Teks dapat berupa gambar, lisan maupun tulisan. Teks digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesama.

Teks-teks tersebut digunakan untuk menyampaikan suatu gagasan, ide, pendapat, maupun pandangan si penulis kepada seseorang (pembaca) yang ditujukan. Selain itu, teks juga dapat menjadi media yang efektif dalam memotivasi pembaca mengenai suatu hal. Hal ini karena media teks tersebut dapat menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat. Untuk memotivasi seseorang (pembaca) tentunya tidak hanya memberikan motivasi dan pendapat begitu saja, si penulis juga harus memberikan alasan atau fakta-fakta terkait dengan tujuan si penulis.

Bahasa telah mengalami perkembangan. Salah satu sarana pengembangan bahasa. Media merupakan alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah,

(12)

radio, televisi, film, poster, dan spanduk (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008:892).

Media berfungsi untuk mengumpulkan informasi tentang kenyataan sebagai bahan berita. Pada masa sekarang ini, media publik baik cetak maupun elektronik telah dianggap sebagai ikon peradaban masyarakat modern dalam memburu informasi. Media Indonesia merupakan media nasional yang telah cukup lama terbit, tepatnya pada tanggal 19 Januari 1970 di Jakarta. Media ini berada di bawah naungan Media Group. Sebagai surat kabar harian, Media Indonesia memiliki posisi yang sama seperti Tribun Timur, harian Kompas, Repubika, harian Tempo, dan Jawa Pos.

Tribun Timur ialah sebuah portal web yang berisi berita aktual dan artikel dalam jaringan di Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Tribun Timur merupakan salah satu situs berita terpopuler di Sulawesi dan Indonesia timur. Sama seperti situs-situs berita berbahasa Indonesia lainnya, Tribun Timur mempunyai edisi dan menggantungkan pendapatan dari bidang iklan. Tribun Timur dikelola oleh PT. Indopersda Primamedia (Persda Network), Divisi Koran Daerah Kompas Gramedia yang juga mengelola bisnis penyiaran (Kompas TV). Portal Berita ini diluncurkan sejak tahun 2009 dan merupakan situs web berita pertama diluar Pulau Jawa yang dapat diakses selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Tribun-Timur.com didirikan sebagai upaya mencerdaskan Masyarakat Indonesia Timur melalui jurnalisme yang cerdas, tajam, berimbang dan menghibur.

(13)

Tribun Timur merupakan media cetak dengan Brand Tribun Timur yang dikelola oleh PT. Indopersda Primamedia, Divisi Koran Daerah Kompas Gramedia. Sejak pertama kali terbit 9 Februari 2004, Media Cetak Tribun Timur mendapat sambutan yang luar biasa dari pasar. Tribun Timur sekarang menjadi koran utama dan terkemuka di Makassar . Terbukti pada bulan Juni, tepatnya 01 Juni 2011.

Tribun Timur mengumumkan keberhasilannya menjadi koran nomor satu di Sulawesi Selatan (Survey A. Nilsen). Iklan Tribun Timur tahun 2014, menurut survey AC Nielsen, merebut hampir 60 persen kue iklan di Makassar (iklan lokal maupun nasional).

Hampir semua merek nasional dan lokal bermitra dengan Tribun Timur, seperti Suzuki Megahputera Sejahtera, Hotel Grand Clarion & Convention Hall, Bank BCA, Yayasan Kalla (Sekolah Islam Athirah) dan masih banyak lagi. Pada tahun 2014, pertumbuhan iklan Tribun Timur dari pemasang iklan Jakarta lebih dari 100 persen. Pada usia kesebelas, tahun 2015, Persda menobatkan Tribun Timur sebagai koran terbaik dari sisi financial perpective, business process, learn and growth, dan customer perspective.

Iklan bukanlah sesuatu hal yang asing dalam kegiatan perekonomian Indonesia. Bahkan iklan memegang peran untuk menyampaikan pesan penjualan dan untuk mempengaruhi konsumen.

Iklan adalah pesan yang menawarkan suatu produk yang ditunjukan kepada masyarakat lewat suatu media (Kasali, 1995: 9). Iklan berusaha untuk

(14)

memberikan informasi, membujuk, dan menyakinkan. Jika dibandingkan dengan bentuk komunikasi lain, iklan adalah suatu sarana komunikasi yang dipergunakan dalam dunia perdagangan oleh produsen terhadap konsumen yang meraih lebih banyak calon pembeli dengan biaya lebih rendah, dalam waktu yang lebih singkat, sedangkan pengaruhnya akan melekat lebih lama pada ingatan pemirsa.

Periklanan dilakukan di media radio, surat kabar, koran atau majalah, pamflet- pamflet maupun selebaran yang diedarkan kepada konsumen. Kalimat iklan beraneka bentuk, warna, dan bahasa. Hal ini menunjukan bahwa perkembangan bahasa suatu bangsa tergantung pada masyarakat pemakainya.

Bahasa Indonesia dalam media cetak harus mudah dipahami oleh pembaca karena tugasnya sebagai pembawa informasi. Aspek-aspek seperti penguasaan kosakata, diksi, penyusunan kalimat, pembentukan kalimat, pembentukan paragraf, pemahaman secara aplikatif tentang ejaan dan tanda baca, logika serta struktur berpikir runtut harus diperhatikan dengan cermat. Jangan sampai timbul suatu keambiguan dalam penulisannya. Bahasa yang digunakan secara lisan maupun tulisan. Pemakaian bahasa secara lisan akan memberikan tafsiran makna sesuai dengan penutur ungkapkan,dikarenakan penggunaan intonasi, gerak, mimik, pandangan. Apabila menggunakan bahasa tulis makna yang muncul akan berbeda – beda sesuai apa yang dipahaminya

Pada pengamatan awal, dalam kolom editorial harian Media Indonesia ditemukan adanya keragaman penggunaan klausa dalam kalimat. Keragaman penggunaan klausa tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi, kategori, dan peran maasing-masing unsur klausa.

(15)

Klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri dari S, P baik disertai O, Pel, Ket ataupun tidak (Ramlan, 1987: 89). Chaer (2007:231) menyatakan bahwa “klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif.” Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat ; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek,dan sebagai keterangan. Klausa di dalam bahasa Indonesia memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dalam karang-mengarang atau tulis menulis. Klausa menjadi salah satu penyebab kesalahan kebahasaan yang paling dominan dalam tulis-menulis atau karang-mengarang di media cetak.

Surat kabar harian Tribun Timur dijadikan sebagai objek penelitian, karena peneliti beranggapan bahwa surat kabar ini adalah surat kabar lokal yang pada umunya digemari oleh masyarakat kota Madya Makassar dari segala lapisan atas sampai lapisan bawah dan Tribun Timur mempunyai edisi daring dan menggantungkan pendapatan dari bidang iklan.

Kenapa penulis memilih judul tersebut, pada saat penulis membaca Koran, pembaca memerhatikan bentuk -bentuk klausa pada iklan mini dalam Koran Tribun Timur yang ternyata masih ada kesalahan dengan penulisan bentuk – bentuk klausa. Hal ini akan terjadi dampak buruk terhadap para pembaca, ketika pembaca belum memahami bentuk-bentuk klausa yang terdapat pada teks ataupun yang khususnya pada iklan dalam Koran Tribun Timur, maka pembaca akan menganggap bahwa teks tersebut benar walaupun sebenarnya bentuk – bentuk klausa pada teks tersebut masih salah, karena pembaca belum memahami bentuk-

(16)

bentuk klausa yang tepat. Untuk itulah penulis memilih judul ini agar penulis melakukan penelitian dan mencari solusi untuk memecahakan masalah tersebut.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahannya yaitu:

1. Bagaimanakah penanda hubungan penambahan pada iklan mini dalam Koran Tribun Timur?

2. Bagaimanakah penanda hubungan pemilihan pada iklan mini dalam Koran Tribun Timur?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Untuk mendeskripsikan penanda hubungan penambahan pada iklan mini dalam Koran Tribun Timur?.

2. Untuk Mendeskripsikan penanda hubungan pemilihan pada iklan mini dalam Koran Tribun Timur?

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penulisan ini yaitu:

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang aspek kebahasaan dalam bidang linguistic (sintaksis), khususnya klausa.

b. Penelitian ini juga dapat bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama dalam pendidikan bahasa dan sastra.

2. Manfaat Praktis

(17)

a. Bagi peneliti yaitu sebagai pengalaman dalam menuangkan ide secara alamiah dan sistematis dalam memahami bentuk-bentuk klausa dalam sebuah wacana terutama wacana tulis.

b. Bagi pembaca penelitian ini diharapkan memberi manfaat, pengetahuan pembaca tentang bentuk-bentuk klausa dalam kolom harian Tribun Timur.

(18)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian ini bukanlah penelitian yang pertama kali dilakukan. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya. Tetapi penelitian ini mempunyai daya tarik tersendiri untu tetap diteliti. Dengan dasar itulah, sebagai peneliti memilih salah satu hasil penelitian sebagai pertimbagan, diantaranya:

1. Swadayanti 2014, “ Kemampuan menghubungkan Klausa yang tidak Setara dengan Konjungsi Subordinatif Siswa Kelas VII SMP Wahyu Makaassar “ Skripsi jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I. Drs, Muh, Amier, S. Pd., M. Pd. Pembimbing II. Syekh Adiwijaya, S, Pd., M. Pd.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia siswa melalui penerapan model pembelajaran kemampuan siswa kelas VII SMP Wahyu Makassar menghubungkan klausa yang tidak setara dengan konjungsi subordinatif. Subjek penelitian ini adalah siswa adalah siswa kelas VII.a, VII.b, VII,c, dan VII.d. SMP wahyu Makassar pada tahun 2013/2014 dengan jumlah keseluruhan populasi 136 orang siswa. Sampel dalam penelitian ini adalah 25%

ari tiap kelas, sehingga jumlah sampel adalah 34 orang siswa. Pada tahap pengumpulan data, penulis menggunakan tes tertulis. Pada tahap analisis data, penulis menggunakan teknik analisis presentase untuk menggambarkan

(19)

kemampuan siswa kelas VII SMP Wahyu Makassar menghubungkan klausa yang tidak setara dengan kinjungsi subordinatif.

2. Lindawati 2011, “ Kemampuan siswa kelas VII SMP Muhammadiyah X Lembo Makassar membedakan Frase dan Klausa dalam berbahasa Indonesia “.

Skripsi jurusan bahasa dan sastra Indonesia fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, Dibimbing oleh djoko Ruwin dan Dr Munirah M,Pd. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi yang jelas tentang kemampuan siswa kelas VII SMP MUhammadiyah X Lembo membedakan frase dan klausa dalam bahasa Indonesia dengan menggunakn sampel random (random samping) sebanyak dua kelas atau 55 siswa. Kelas VII A dan VII B. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dega rancangan kemampuan membedakan frase dan klausa dalam bahasa Indonesia. Analisis data tang digunakan berupa data deskriptif berupa tes dalam bentuk tes pilihan ganda.

3. Muhammad Agus, 2012 “ Kemampuan siswa kelas VIII SMP PGRI Sungguminasa. Membedakan Frase dan Klausa dalam Bahasa Indonesia.”

Skripsi,jurusan bahasa dan sastra Indonesia di fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing 1, Djiko Ruwin dan Pembimbing 2. Syekh Adiwijaya Latif.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VII SMP PGRI Sungguminasa membedakan frasa dan klausa dalam bahasa Indonesia. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas VIII SMP

(20)

PGRI Sungguminasa Kabupaten Gowa yang berjumlah 206 orang yang terbagi dalam lima kelas. Sampel penelitian sebanyak 41 orang sekitar 20% dari populasi. Teknik pengambilan sampel random (acak). Instrumen yang digunakan, yaitu observasi dan tes. Data yang terkumpul dalam penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik statistic deskriptif kuantitatif.

2. Pengertian Klausa a. klausa

Kiridalaksana (1993:110) klausa adalah satuan gramatikal yang memiliki tataran di atas frasa dan di bawah kalimat, berupa kelompok kata yang sekurang- kurangnya terdiri atas subjek dan predikat, dan berpotensi untuk menjadi kalimat.

Dikatakan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat karena meskipun bukan kalimat, dalam banyak hal klausa tidak berbeda dengan kalimat, kecuali dalam hal belum adanya intonasi akhir atau tanda baca yang menjadi ciri kalimat.

Dalam konstruksinya yang terdiri atas S dan P klausa dapat disertai dengan O, Pel, dan Ket, ataupun tidak. Dalam hal ini, unsur inti klausa adalah S dan P.

tetapi, dalam praktiknya unsur S sering dihilangkan. Misalnya dalam kalimat majemuk (atau lebih tepatnya kalimat plural) dan dalam kalimat yang merupakan jawaban. (Ramlan 1987:89). Misalnya :(1)Bersama dengan istrinya, Bapak Soleh datang membawa oleh-oleh.Kalimat (1) terdiri atas tiga klausa, yaitu klausa (a) Bersama dengan istrinya,klausa (b) Bapak Soleh datang, dan klausa (c) Membawa oleh-oleh.Klausa (a) terdiri atas unsur P, diikuti Pel, klausa (b) terdiri atas S dan

(21)

P, dan klausa (c) terdiri atas P diikuti O. Akibat penggabungan ketiga klausa tersebut, S pada klausa (a) dan (c) dilesapkan.

Klausa umumnya dibagi menjadi klausa dependen dan klausa independen.

Sebuah klausa indipenden dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kalimat, sedangkan dependen harus terhubung dengan klausa lainnya. Klausa independen dapat berupa anak kalimat atau kalimat yang setara dengan klausa lainnya.

b. Batasan Klausa

Menguraiakan bahwa klausa adalah satuan gramatikal terdiri dari subjek (S), dan predikat (P) baik disertai objek (O) dan keterangan (K), serta memiliki potensi untuk menjadi kalimat. Sementara Http/ ivanindrayana.Blgogspot.com, menguraikan bahwa klausa adalah satuan gramatikal yang memiliki tataran diatas frasa dan dibawah kalimat, berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dam predikat.

Sidu (2013:43) menjelaskan bahwa klausa adalah satuan siantaksis berupa runtutan kata berkonstruksi predikat sedangkan yang lain tidak bersifat wajib.

Artinya, didalam konstruksi itu terdapat sebuah kata atau frasa yang berfungsi sebagai subjek. Predikat, objek, dengan kata lain klausa adalah (S), P, (O). (PEL), (KET), Tanda kurung menandakan bahwa ada yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh juga tidak ada. Unsur inti klausa adalah S dan P, S sering dihubungkan. Misalnya dalam kalimat luas sabagai akibat klausa.

Misalnya:

- Tengah Rini menangis menghadapi tembok, bapak Surya diantar suster Mita

(22)

- Sedang bermain-main ( sebagai jawaban pertanyaan anak anak itu sedang mengapa?)

Kalimat pertama terdiri dari empat klausa yaitu (1) Rini menangis, (2) Menghadapi tembok, (3) Bapak Surya masuk, (4) dianatar suster Mita. Klausa 1 terdiri dari unsure S dan P, klausa 2 terdiri dai P diikuti O, klausa 3 terdiri dari unsure S diikuti P, dan klausa 4 terdiri dari unsure P diikuti oleh ket.

c. Ciri - Ciri Klausa

Adapun ciri-ciri klausa adalah sebagai berikut:

(1) Dalam klausa terdapat satu predikat, tidak lebih dan tidak k urang;

(2) Klausa dapat menjadi kalimat jika kepadanya dikenai intonasi final;

(3) Dalam kalimat plural, klausa merupakan bagian dari kalimat;

(4) Klausa dapat diperluas dengan menambahkan atribut fungsi-fungsi yang belum terdapat dalam klausa tersebut; selain dengan penambahan konstituen atribut pada salah satu atau setiap fungsi sintaktis yang ada.

d. Jenis-Jenis Klausa

Chaer (2009: 41-43) menjelaskan bahwa klausa terbagi dalam bagian yaitu:

Klausa dapat diklasifikasikan berdasarkan empat hal, yaitu

(1) Kelengkapan unsur internalnya: klausa lengkap dan klausa tak lengkap, (2) Ada–tidaknya kata yang menegatifkan P klausa negative dan klausa positif, (3) Kategori primer predikatnya: klausa verbal dan klausa nonverbal,

(4) dan kemungkinan kemandiriannya untuk menjadi sebuah kalimat: klausa mandiri dan klausa tergabung

(23)

1. Klausa Lengkap dan Klausa Tak Lengkap

Berdasarkan kelengkapan unsur internalnya, klausa dibedakan menjadi dua yaitu, klausa lengkap dan klausa tak lengkap.

a. Klausa Lengkap

Klausa lengkap ialah klausa yang memiliki unsur internal lengkap, yaitu S dan P.

(1) Kami sedang mengaji, (2) Ketika kami sedang mengaji.

Kalimat (1) merupakan kalimat lengkap, sedangkan kalimat (2) termasuk kalimat tidak lengkap walaupun mengandung (satu) klausa, yaitu kami sedang mengaji.

Klausa lengkap dapat terwujud dalam kalimat tunggal, seperti contoh (1) di atas.klausa lengkap dapat pula terwujud dalam kalimat majemuk jika tidak terjadi penerapan fungsi, baik dalam kalimat majemuk setara maupun majemuk bertingkat.Perhatikan contoh berikut.

(3) Saya akan datang dan sya akan mengikuti kuliah.

(4) Walaupun saya datang, saya tidak akan mengikuti kuliah.

Contoh (3) terdiri atas dua klausa, yakni saya akan dating dan saya akan mengikuti kuliah.Kedua klausa itu merupakan klausa lengkap. Demikian pula klausa (4) yang juga terdiri atas klausa saya datang dan saya tidak akan mengikuti kuliah.

Klausa lengkap ini berdasarkan struktur internalnya, dibedakan lagi menjadi dua yaitu klausa susun biasa dan klausa lengkap susun balik.

(24)

Klausa lengkap susun biasa ialah klausa lengkap yang S-nya terletak di depan P. adapun klausa lengkap susun balik atau klausa lengkap inversi ialah klausa lengkap yang S-nya berada di belakang P, misalnya :

(1) Tulisan Hendi sangat berbobot.

Klausa (1) disebut klausa lengkap susun biasa karena S-nya yaitu tulisan Hendi berada di depan P, sangat berbobot.

b. Klausa Tak Lengkap

Klausa tak lengkap atau dalam istilah Verhaar (1999:279) klausa buntung merupakan klausa yang unsure internalnya tidak lengkap karena di dalamnya tidak terdapat unsur S dan hanya terdapat unsur P, baik disertai maupun tidak disertai unsur P, Pel, dan Ket. Misalnya :

(2) terpaksa berhenti bekerja di perusahaan itu

Klausa (2) bisa berubah menjadi klausa lengkap jika di sebelah kirinya ditambah S, misalnya ditambah frasa istri saya sehingga menjadi (2) Istri saya terpaksa berhenti bekerja di perusahaan itu.

2. Klausa Negatif dan Klausa Positif

Berdasarkan ada tidaknya kata negatif pada P, klausa dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu klausa negatif dan klausa positif. Klausa negatif ialah klausa yang di dalamnya terdapat kata negative, yang menegasikan P.menurut Ramlan (1987: 137), yang termasuk kata negatif, yang menegasikan P ialah tidak, tak, tiada, bukan, dan belum. Berikut ini adalah contoh klausa negative :

(3) Deni tidak mengurus kenaikan pangkatnya.

Klausa (3) merupakan klausa negatif karena terdapat kata tidak yang menegasikan mengurus.

3. Klausa Verbal dan Klausa Nonverbal

Berdasarkan kategori primer kata atau frasa yang menduduki fungsi P pada konstruksinya, klausa dibedakan atas klausa verbal dan klausa nonverbal. Klausa verbal ialah klausa yang P-nya terdiri atas kata atau frasa golongan V. dilihat dari

(25)

golongan verbanya klausa verbal dibagi lagi menjadi klausa verbal intransitif dan klausa verbal transitif. Klausa verbal transitif ialah klausa yang mengandung verba transitif, dan klausa verbal intransitif ialah klausa yang mengandung verba intransitif.

Contoh klausa verbal intransitif ialah sebagai berikut : (4) Taufik Hidayat tampil tidak maksimal di Jepang.

(4) Pengidap AIDS bertambah.

Klausa verbal transitif, dilihat dari wujud ketransitifan P-nya dapat dibedakan menjadi

(1) klausa aktif, (2) klausa pasif,

(3) klausa reflektif, dan

(4) klausa resiprokal (Ramlan, 1987: 145-149).

Klausa aktif ialah klausa yang P-nya berupa verba transitif aktif. Klausa pasif ialah klausa yang P-nya berupa verba transitif pasif. Klausa reflektif ialah klausa yang P-nya berupa verba transitif reflektif, yaitu verba yang menyatakan

“perbuatan’ yang mengenai ‘pelaku’ perbuatan itu sendiri. Pada umumnya verba itu berprefiks meng- yang diikuti kata diri. Adapun klausa resiprokal adalah klausa yang P-nya berupa verba transitif resiprokal, yaitu verba yang menyatakan kesalingan.

Klausa nonverbal ialah klausa yang berpredikat selain verba.

Klausa nonverbal masih bisa dibedakan lagi menjadi (1) klausa nominal,

(2) klausa adjektival, (3) klausa preposisional, (4) klausa numeral, dan (5) klausa adverbial.

Contoh:

(1) Yang kita bela kebenaran (2) Budi pekertinya mulia

(26)

4. Klausa Mandiri dan Klausa Tergabung

Klausa mandiri merupakan klausa yang kehadirannya dapat berdiri sendiri.

Klausa mandiri berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal. Misalnya : - Merokok dapat menyebabkan kanker

a) Klausa Mandiri

Klausa mandiri atau klausa bebas merupakan klausa yan kehadirannya dapat berdiri sendiri. Klausa mandiri berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal.

Misalnya:

- Merokok dapat menyebabkan kanker - Nirina sedang belajar

b) Klausa Tergabung

Klausa tergabung atau klausa terikat adalah klausa yang kehadirannya untuk menjadi sebuah kalimat plural tergabung dengan klausa lainnya. Dalam kalimat plural, klausa tergabung dapat berupa klausa koordinatif, atau klausa subordinatif. Contoh:

(1) Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

(2a) Nirina sedang belajar ketika terjadi gempa itu.

(2b) Karena baru pulang sesudah tugasnya selesai, Sri tidak dapat menghadiri rapat.

Jika dicermati, konstruksi (1) berbeda dengan konstruksi (2). Dalam konatruksi (1) terdapat klausa-klausa tergabung secara koordinatif, sedangkan dalam konstruksi (2) terdapat klausa-klausa tergabung secara subordinatif.

Dalam konatruksi (1) terdapat klausa-klausa tergabung secara koordinatif, sedangkan dalam konstruksi (2) terdapat klausa-klausa tergabung secara subordinatif.

Klausa Koordinatif

Klausa koordinatif dapat dijumpai dalam kalimat plural atau majemuk setara.

Dalam kalimat plural atau majemuk setara, semua klausanya berupa klausa koordinatif. Klausa tersebut dinamakan klausa koordinatif karena secara gramatik

(27)

dihubungka secara koordinatif oleh penghubung-penghubung koordinatif dan, atau, tetapi, lagi pula, lalu, namun, sebaliknya, malahan, dan lain-lain.

Klausa koordinatif terdiri atas (1) koordinasi netral, (2) koordinasi kontrastif, (3) koordinasi alternatif, (4) koordinasi konsekutif, yang berturut-turut dapat dilihat dalam contoh-contoh kalimat berikut.

(1) Saya menulis artikel itu, menyunting, dan mengirimkannya ke media massa (2) Mencari ilmu itu sulit, tetapi mengamalkannyajauh lebih sulit

(3) Saudara mau bekerja atau melanjutkan studi ke jenjang S-2?

(4) Harga sepeda motor itu relative mahal, jadi perlu diangsur.

Klausa Subordinatif

Klausa subordinatif dapat dijumpai dalam kalimat plural bertingkat. Jadi, dalam kalimat plural bertingkat selain terdapat klausa atasan yang biasa dikenal dengan klausa induk, Klausa inti, atau klausa matriks terdapat pula klausa bawahan atau klausa sematan atau klausa subordinatif. Klausa bawahan dapat dibedakan lagi menjadi klausa berbatasan dan klausa terkandung.

Klausa berbatasan, merupakan klausa bawahan yang tidak wajib hadir dalam kalimat plural. Klausa berbatasan dapat dibedakan menjadi enam tipe yaitu klausa-klausa berbatasan:

(1) final, contoh

Irfan rajin mengaji agar tidak menyesal dalam kehidupan setelah mati.

(2) kausal, contoh

Rombogan Suciwati merasa kecewa karena tidak diperkenankan menjenguk Presiden Soeharto

(3) kondisional, contoh

Jika diundang, ia mau datang.

mampu membeli mobil.

(4) konsesif, contoh

Orang itu tetap rendah hati meskipun telah menyandang banyak prestasi.

(5) temporal, contoh

(28)

Rui Costa, playmaker asal Portugal datang ke La Viola setelah tiga musim memperkuat Benfica.

Dalam contoh-contoh tersebut, klausa yang dimulai dengan konjungsi subordinatif seperti agar, karena, jika, sehingga, meskipun, dan setelah-lah yang berturut-turut dinamakan sebagai klausa berbatasan.

Klausa terkandung merupakan klausa bawahan yang kehadirannya bersifat wajib. Berdasarkan fungsinya dalam kalimat plural bertingkat, klausa terkandung dapat dikelompokkan menjadi klausa pewatas atau klausa modifikasi dan klausa pemerlengkap.

 Klausa pewatas

Klausa pewatas atau klausa pewatasan ialah klausa subordinatif yang kehadirannya berfungsi mewatasi atau mempertegas makna kata atau frasa yang diikutinya. Contohnya ialah beberapa klausa dari sejumlah klausa dalam kalimat plural berikut:

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang- orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.

Rombongan Suciwati tidak diperkenankan menjenguk mantan presiden Soeharto yang sedang berbaring di Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

 Klausa Pemerlengkap

Klausa pemerlengkap atau klausa pemerlengkapan merupakan klausa yang berfungsi melengkapi (atau menerangkan spesifikasi hubungan yang terkandung dalam) verba matriks. Klausa pemerlengkap dibedakan lagi menjadi: (1) klausa pemerlengkap preposisional, (2) klausa pemerlengkap eventif, (3) klausa pemerlengkap perbuatan.

Klausa pemerlengkap dikatakan bersifat preposisional karena klausa tersebut biasanya berpenanda kata bahwa yang menyatakan suatu proposisi. Contoh:

(1) klausa pemerlengkap preposisional

(29)

- Dokter berkata, “ASI sangat baik untuk anak.”

Dokter berkata bahwa ASI sangat baik untuk anak.

- Berita bahwa mahasiswa Unnes juara I dalam LKTIM bidang sosial, tingkat wilayah B, pada tanggal 22-23 Mei 2006 menjadi sorotan media kampus.

(2) Klausa eventif

Klausa eventif meliputi klausa yang menyatakan peristiwa dan klausa yang menyatakan proses. Misalnya ialah klausa yang dimulai dengan kata peristiwa dan proses pada kalimat-kalimat berikut.

- Peristiwa Joko mengundurkan diri (Peristiwa pengunduran diri Joko) dari pekerjannya sudah terduga sebelumnya.

- Proses orang menyusun sebuah artikel (Proses penyusunan sebuah artikel) hanya diketahui oleh para penulis.

Adapun klausa perbuatan dapat dibedakan lagi menjadi klausa perbuatan yang dilakukan, klausa perbuatan yang tidak dilakukan, dan klausa perbuatan yang mungkin dilakukan.

Klausa perbuatan yang dilakukan dapat ditandai oleh verba melihat, menyaksikan, mengetahui, berhasil, berhenti, dan mulai. Misalnya:

- Saya melihat (perbuatan) Zahra mendorong Ela Zahra mendorong Ela

- Prof. Dr. Fathur Rokhman mulai meneliti masalah itu pada tahun yang lalu

Prof. Dr. Fathur Rokhman meneliti masalah itu

Klausa perbuatan yang tidak dilakukan dapat ditandai oleh verba mencegah, menolak, gagal, dan lupa. Misalnya:

- Ayah mencegah kami membawa uang saku ke sekolah Kami tidak membawa uang saku ke sekolah

- Imron gagal mengikuti lomba Imron tidak mengikuti lomba

(30)

Adapun klausa perbuatan yang mungkin dilakukan dapat ditandai oleh verba bermaksud, berniat, bertekad, merencanakan, menganjurkan, dan menyarankan.

Misalnya:

- Farah bermaksud memohon izin untuk tidak datang ke kampus Farah memohon izin; Farah tidak memohon izin

- Samdum mengajak Dian pergi ke Mal Ciputra

Dian pergi ke Mal Ciputra; Dian tidak pergi ke Mal Ciputra

Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa

yang menduduki fungsi P. Dapat diklasifikasikan menjadi :

1) Klausa nomina adalah klausa yang P-nya berupa frasa nomina. Contoh : dia seorang sukarelawan.

2) Klausa verba adalah klausa yang P-nya berupa frasa verba. Contoh : dia membantu para korban banjir.

3) Klausa adjective adalah klausa yang P-nya berupa frasa adjective. Contoh : gedung itu sangat tinggi.

4) Klausa numeralia adalah klausa yang P-nya berupa frasa numeralia. Contoh : mahasiswanya sembilan orang.

5) Klausa preposiona adalah klausa yang P-nya berupa frasa preposiona. Contoh : baju saya di dalam lemari.

6) Klausa pronomial adalah klausa yang P-nya berupa frasa pronomial. Contoh : hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah.

a. Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk dijadikan kalimat dapat dibedakan atas :

(31)

1) klausa bebas adalah klausa yang memiliki kalimat mayor, atau sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Contoh : semua orang mengatakan bahwa dia yang bersalah.

2) Klausa terikat adalah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi menjadi kalimat minor. Kalimat minor adalah konsep yang merangkim panggilan. Contoh : semua murid sudah pulang, kecuali yang dihukum Arifin (2008:34).

b. Klasifikasi klausa berdasarkan kriteria

latarnya dalam kalimat klausa dapat dibedakan atas

1) Klausa atasan adalah klausa yang tidak menduduki fungsi sintaksis dari klausa lainnya. Contoh : ketika paman datang, kami sedang belajar.

2) Klausa bawahan adalah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa lainnya. Contoh : dia mengira bahwa hari ini akan hujan.

Klasifikasi dapat dibedakan atas tiga dasar, yaitu : 1. Berdasarkan fungsi unsur-unsurnya.

2. Berdasarkan kategori kata atau frase yang menjadi unsurnya.

3. Berdasarkan makna unsur-unsurnya.

c. Klasifikasi Klausa Berdasarkan Fungsi

Arifin (2008 : 34) berdasarkan fungsinya, Klausa ternyata dapat menduduki fungsi subjek, objek, keterangan, dan pelengkap.

a. Fungsi subjek

Fungsi subjek dalam sebuah klausa dapat diketahui dengan jalan mengajukan pertanyaan apa atau siapa yang dibicarakan oleh predikat (P)

(32)

sebuah klausa. Beberapa ciri yang dapat dikemukakan dalam uraian ini dapat dilihat berikut ini.

1) Sesuatu yang menjadi pankal pembicaraan yang diberitakan/diterangkan oleh predikat (P).

2) Subjek pada umumnya (dengan demikian tidak semuanya) berkategori nomina atau yang dinominakan.

3) Subjek dapat diikuti pronomina demonstrative ini dan itu.

4) Subjek dapat dilekati oleh bentuk klitik ku-, -mu, dan –nya.

b. Fungsi Predikat

Fungsi predikat dalam sebuah klausa biasanya dapat dinyatakan menandai apa yang dinyatakan oleh pembicara tentang subjek tersebut (Kridakssana).Ciri- ciri yang dapat dikemukakan berkaitan dengan fungsi ini adalah sebagai berikut.

1) Predikat umumnya (tidak semua/selalu) terletak di belakang fungsi subjek (S).

2) Bagian yang menjelaskan/menerangkan subjek (S).

3) Predikat umumnya berkategori verba atau yang diverbalkan.

c. Fungsi Objek

Fungsi objek dalam sebuah klausa biasanyan dapat diketahui dengan jalan mengajukan pertanyaan apa atau siapa yang terketak di belakang P atau apa yang menjadi sasaran atau subjek (S) dan predikat (P). Biasanya fungsi objek diduduki kata yang berkategori nomina atau yang dinominakan.

(33)

d. Fungsi Keterangan

Fungsi keterangan (K) dalam sebuah klausa, biasanya dapat diketahui dengan jalan mengajukan pertanyaan, kapan, di mana, ke mana, dari mana, mengapa, untuk apa/siapa, dengan apa/siapa, berapa kali, sesuatu tindakan yang dilakukan. Dari analisis sintaksis, fungsi keterangan dapat dipertukarkan tempatnya, bias di depan, di tengah, atau di belakang, seperti pada saya datang kemarin, kemarin saya datang, dan saya kemarin datang. Menurut (Ramlan) keterangan adalah kata atau kelompok kata yang dipakai untuk meluaskan atau membatasi makna subjek dalam klausa.

5. Konsituten-Konsituten Klausa

Konstituen-konstituen klausa berupa fungsi-fungsi sintaksis. Fungsi-fungsi klausa sintaksis dapat dipilah menjadi dua, yakni fungsi inti dan fungsi luar inti.

Fungsi inti adalah fungsi yang harus hadir jika klausa itu dinyatakan secara bebas, tidak dalam konteks terikat.

Konstituen inti klausa dapat dipolakan menjadi beberapa kemungkinan, yaitu sebagai berikut.

a. Konstituen klausa terdiri atas subjek dan predikat. Biasanya terdapat dalam klausa intransitif.Misalnya Dia menangis, kami barlari.

b. Klausa yang terdiri atas subjek, predikat, dan objek. Biasanya terdapat dalam klausa ekatransitif.Misalnya Dia mengganggu saya, anak itu membeli pensil.

c. Klausa yang terdiri atas subjek, predikat,dan pelengkap. Biasnya terdapat dalam klausa semitransitif.Klausa ini tidak dapat dipastikan, misalnya orang

(34)

itu berjualan emas, Negara ini berdasarkan pancasila.Berbeda dengan klausa transitif yang dapat dipastikan.

d. Klausa itu mencakup lima fungsi, yakni subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Klausa ini biasa disebut klausa dwitransitif, karena verba predikat diikuti oleh dua konstituen, yakni objek dan pelengkap. Misalnya Ali memberi saya uang kemarin.Konstituen uang dan pekerjaan pada contoh ini dinyatakan sebagai konstituen yang wajib hadir. Bila kedua konstituen itu dihilangkan, akan berdampak pada ketidakgramatikalan kalimat tersebut.

Misalnya * Ali memberi saya … kemarin.

e. Klausa dapat pula terdiri atas subjek, predikat, keterangan. Misalnya kami datang kemarin . Dia pergi sebulan yang lalu.

6. Bentuk-Bentuk Klausa a. Klausa Adjektiva

Menurut Ramlan klausa adjektiva adalah klausa yang unsur predikatnya berupa kata sifat.

Contoh :

a. Orang yang pemarah;

b. Harga saham turun.

b. Klausa Intransitif

Menurut Keraf klausa intransitif adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk kedalam kelompok kata kerja.

Contoh:

(35)

i. Siswa-siswa SMA berkompetisi diolimpiade matematika ii. Presiden sedang berpidato kdi depan calaon PNS.

c. Klausa Aktif

Menurut Widjono klausa aktif adalah klausa yang subjeknya berperan sebagai pelaku atau aktor, atau klausa yang subjeknya melakukan perbuatan atau tindakan.

Contoh:

1. Nami sedang menulis surat

2. Irfan sedang menikmati liburan sekolahnya di Bali.

d. Klausa Pasif

Menurut Kridalaksana klausa pasif adalah klausa yang subjeknya berperan sebagai penderita.

Contoh:

1. Dia tahu benar surat itu saya tulis (kutulis).

2. Mereka tahu sekali surat itu ditulis oleh dia (ditulisnya).

e. Klausa Refleksif

Menurut Ramlan klausa refleksif merupakan klausa yang predikatnya menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh sipelaku sendiri.

Contoh:

1. Mereka sedang menenangkan diri;

2. Orang itu mencoba memutus urat nadinya.

(36)

f. Klausa Resiprokal

Menurut Ramlan klausa resiprokal adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk dalam kata kerja yang menyatakan kesalingan.

Contoh:

1. Kami saling berkirim-kirim surat;

2. Mereka saling menuduh-nuduh

7. Koran Tribun Timur

Koran sejenis media massa yang memberitakan kejadian- kejadian sehari- hari dalam kehidupan manusia. Koran biasanya ditunjukkan sebagai kegiatan komersil dari penerbit Koran tersebut.

Menurut Komaruddin (dalam Hamzah, 2007: 17) koran adalah suatu alat komunikasi tertulis yang berisi berita, tajuk berita, tajuk rencana, artikel dan opini, serta reputasi dan juga kadang - kadang disertai dengan hasil tulisan.

Tribun Timur ialah sebuah portal web yang berisi berita aktual dan artikel dalam jaringan di Sulawesi Selatan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Tribun Timur merupakan salah satu situs berita terpopuler di Sulawesi dan Indonesia timur. Sama seperti situs-situs berita berbahasa Indonesia lainnya, Tribun Timur mempunyai edisi daring dan menggantungkan pendapatan dari bidang iklan. Meskipun begitu, Tribun Timur merupakan yang terdepan dalam hal berita-berita baru (breaking news) diluar Pulau Jawa. Tribun Timur.com merupakan portal berita dengan mengandalkan kedalaman, kecepatan, pertumbuhan dan perkembangan yang lebih cepat. Dikelola oleh PT. Indopersda Primamedia (Persda Network), Divisi Koran Daerah Kompas Gramedia yang juga

(37)

mengelola bisnis penyiaran (Kompas TV). Portal Berita ini diluncurkan sejak tahun 2009 dan merupakan situs web berita pertama diluar Pulau Jawa yang dapat diakses selama 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu melalui komputer pribadi, laptop (netbook dan notebook), mobile phone, dan smartphone serta secara kreatif menggabungkan antara teks, foto, video, dan suara.Tribun Timur didirikan sebagai upaya mencerdaskan Masyarakat Indonesia Timur melalui jurnalisme yang cerdas, tajam, berimbang dan menghibur.

Tribun Timur merupakan situs berita yang memiliki media cetak dengan Brand Tribun Timur yang dikelola oleh PT. Indopersda Primamedia, Divisi Koran Daerah Kompas Gramedia. Sejak pertama kali terbit 9 Februari 2004, Media Cetak Tribun Timur mendapat sambutan yang luar biasa dari pasar. Tribun Timur sekarang menjadi koran utama dan terkemuka di Makassar. Terbukti pada bulan Juni, tepatnya 01 Juni 2011 Tribun Timur mengumumkan keberhasilannya menjadi koran nomor satu di Sulawesi Selatan (Survey A.

Nilsen). Iklan Tribun Timur tahun 2014, menurut survey AC Nielsen, merebut hampir 60 persen kue iklan di Makassar (iklan lokal maupun nasional). Sisanya diperebutkan oleh koran lain yang terbit di Makassar.

Tribun Timur update-nya tidak lagi menggunakan karakteristik media cetak Tribun Timur sebagai induknya yang harian, mingguan, bulanan. Yang dijual Tribun Timur adalah breaking news. Dengan bertumpu pada vivid description macam ini, Tribun Timur melesat sebagai situs informasi digital paling populer di kalangan user internet di Sulawesi dan Indonesia timur.

(38)

Perkembangan jumlah pengunjung Tribun Timur, pada Juni 2015 situs Tribun Timur per harinya menerima 1.606.700 hits per hari (ukuran jumlah pengunjung ke sebuah situs) dengan sekitar 700.000 user (pelanggan Internet) atau 48.201.007 hits per bulan (dibulatkan) dengan 21.000.000 user. Selain perhitungan hits, Tribun Timur masih memiliki alat ukur lainnya yang sampai sejauh ini disepakati sebagai ukuran yang mendekati seberapa besar potensi yang dimiliki sebuah situs. Ukuran itu adalah page view (jumlah halaman yang diakses). Page view Tribun Timur sekarang mencapai 5 juta per harinya. Sekarang Tribun Timur menempati posisi ke lima tertinggi dari beberapa Portal Berita di seluruh Indonesia.

Hampir semua merek nasional dan lokal bermitra dengan Tribun Timur, seperti Dapur Umami (Ajinomoto), Suzuki Megahputera Sejahtera, Telkomsel, Hotel Grand Clarion & Convention Hall, Bank BCA, Yayasan Kalla (Sekolah Islam Athirah), Toyota, Yamaha, Bukit Baruga Antang, Batik Air, Garuda Airlines dan masih banyak lagi. Pada tahun 2014, pertumbuhan iklan Tribun Timur dari pemasang iklan Jakarta lebih dari 100 persen. Pada usia kesebelas, tahun 2015, Persda menobatkan Tribun Timur sebagai koran terbaik dari sisi financial perpective, business process, learn and growth, dan customer perspective.

B. Kerangka Pikir

Penggunaan kata terutama klausa terutama bentuk-bentuk klausa yang terdapat dalam media massa Tribun Timur masih ada kesalahan dalam kaitannya dengan berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Anggapan bahwa tanpa

(39)

adanya pembentukan dalam kesalahan penggunaan bentuk klausa, para pembaca yang tidak terbatas jumlahnya akan salah kaprah dalam menggunakan bahasa Indonesia yaitu terjadi kekeliruan dalam pemakaian klausa. Oleh karena itu , pengkajian bentuk-bentuk klausa perlu segera dilakukan. Salah satunya yang terdapat dalam iklan mini pada Koran Tribun Timur. Harian surat kabar Tribun Timur terbit setiap hari. Beritanya tidak hanya menjangkau satu wilayah saja, namun dapat dijangkau oleh wilayah wilayah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan dan mempunyai lebih banyak pembaca dari pada koran-koran lainnya.

Jangkauan peredaran koran Tribun Timur yang cukup luas dan memungkinkan lebih lengkap untuk diteliti, baik dari segi bentuk, kata bacaan, kalimat, pemenggalan dalam kalimat, maupun struktur kalimatnya. Berita dalam surat kabar Tribun Timur merupakan berita yang dapat kita temukan setiap hari dan isi beritanya lengkap. Bahasa yang digunakan oleh koran Tribun Timur pun sebagian besar memenuhi EYD.

Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur gramatikal didalam kata. Unsur bahasa yang termasuk dalam sintaksis adalah frasa, klausa, dan kalimat. Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat. Frase adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. Misalnya: akan datang, kemarin pagi, yang sedang menulis.Dapatlah dikemukakan bahwa frase mempunyai dua sifat, yaitu frase merupakan satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih dan frase merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur

(40)

klausa, maksudnya frase itu selalu terdapat dalam satu fungsi unsur klausa yaitu:

S, P, O, atau K. Sama halnya dengan Klausa adalah satuan gramatika yang terdiri dari subjek (S) dan predikat (P) baik disertai objek (O), dan keterangan (K), serta memilki potensi untuk menjadi kalimat. Misalnya: banyak orang mengatakan.

Kalimat adalah satuan bahasa yang terdiri dari dua kata atau lebih yang mengandung pikiran yang lengkap dan punya pola intonasi akhir.

Setelah dijelaskan beberapa poin yang perlu dijelaskan disini tentang klausa, dimana menyangkut bentuk-bentuk klausa yang terdiri dari enam bentuk klausa diantaranya klausa adjektiva dijelaskan bahwa klausa adjektiva adalah klausa yang unsur predikatnya berupa kata sifat; Klausa intransitif adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk kedalam kelompok kata kerja; Klausa aktif adalah klausa yang subjeknya berperan sebagai pelaku atau aktor, atau klausa yang subjeknya melakukan perbuatan atau tindakan; Klausa pasif adalah klausa yang subjeknya berperan sebagai penderita; Klausa refleksif merupakan klausa yang predikatnya menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh sipelaku sendiri; Klausa resiprokal adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk dalam kata kerja yang menyatakan kesalingan. Dari ke enam bentuk klausa tersebut telah diuraikan sesuai dengan penjelasan masing-masing. Dari ke enam bentuk klausa yang harus ditemukan fokus penelitian yang terdapat penanda hubungan penambahan dan penanda hubungan pemilihan. Kedua penanda hubungan tersebut perlu diketahui klausa apa yang terdapat dalam kedua penanda hubungan yang ditandai (dan) ditandai dengan penambah hubungan penambahan serta (atau) ditandai penambah hubungan pemilihan.

(41)

penggunaan klausa sehingga penelitian terhadap penggunaan klausa dalam iklan mini. Oleh karena itu, judul Proposal dalam penelitian ini yaitu “Analisis Bentuk-Bentuk Klausa Iklan Mini Dalam Koran Tribun Timur ”, dalam berita pada Ruprik Koran Tribun Timur. Uraian di atas menjadi landasan penelitian di dalam penelitian ini. Landasan pemikiran tersebut digambarkan seperti bagan di bawah ini:

(42)

Bagan Kerangka Pikir

Sintaksis

Frasa Klausa Kalimat

Klausa Adjektiva

Klausa Intransitif

Klausa Aktif

Klausa Pasif

Klausa Refleksif

Klausa Resiprokal

Penanda Hubungan

Penambahan

Penanda Hubungan

Pemilihan

Temukan

Iklan Mini

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Oleh karena itu, dalam penyusunan dirancang berdasarkan pada prinsip metode deskriptif kualitatif, yang mengumpulkan, mengelolah, mereduksi, menganalisis dan menyajikan data secara objektif atau sesuai dengan kenyataan yang ada dilapangan untuk memperoleh data.

Metode penelitian dalam penelitian deskriptif kualitatif berusaha mengemukakan pendeskripsian data dengan menggunakan kalimat klausa.

Penggunaan metode ini bertujuan untuk mendeskripsikan klausa yang terdapat dalam Koran pada iklan mini Tribun Timur.

B. Sumber Data Penelitian 1. Data

Data penelitian ini adalah kalimat yang menggunakan bentuk-bentuk klausa iklan mini dalam Koran Tribun Timur.

2. Sumber Data

Sumber data pada peneletian ini adalah kalimat yang didalamnya menggunakan bentuk-bentuk klausa iklan mini dalam Koran Tribun Timur.

Sumber data didapatkan secara acak dengan mengambil sekitar sepuluh sumber data.

(44)

C. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk klausa dalam iklan mini pada Koran Tribun Timur, penulis mengumpulkan data dengan menggunakan teknik membaca, mencatat dan dokumentasi. Teknik baca yang dilakukan adalah membaca secara berulang-ulang dan kalimat dengan cermat kalimat-kalimat dalam Koran Tribun Timur. Dari sumber data yaitu Koran Tribun Timur data dengan mencari kalimat yang mengandung klausa. Selanjutnya, uit analisis yang ada dalam data tersebut dicatat, disaring kemudian diklasifikasikan (dikelompokkan). Teknik dokumentasi didasarkan atas pendapat Moleong (dalam syamsinar, 2003: 7) yang mengatakan bahwa dokumentasi memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan seperti:

1. Dokumentasi merupakan sumber yang kaya dan stabil;

2. Dokumentasi sesuai dengan pendekatan kualitatif, karena sifaitnya alamiah yakni sesuai dengan konteks;

3. Dokumentasi dapat dijadikan bukti untuk suatu penguji.

D. Teknik Analisis Data

Hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan urutan langkah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan data, mencatat data yang diperoleh dari hasil observasi deskriptif;

2. Menganalisis data yang telah terkumpul melalui observasi, dokumentasi;

(45)

3. Mengelompokkan data meliputi pengategorian dan pengklasifikasian data.Semua yang terkumpul dikelompokkan sesuai dengan masalah penelitian;

4. Peyajian data dilakukan dengan cara mengorganisasikan informasi yang sudah direduksi. Penyajian data dilakukan dengan menampilkan informasi secara sistematis sehingga dapat memaknai dan menyimpulkan data penelitian.

Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk klausa iklan mini dalam Koran Tribun Timur, sehingga dapat memaparkan secara benar tanpa rekayasa.

E. Metode Penyajian Data

Setelah melalui tahap teknik analisis data, maka tahap selanjutnya adalah penyajian data. Teknik ini merupakan tahap terakhir dari metedologi penelitian.

Pemaparan hasil penelitian secara informal dilakukan dengan menyajikan deskripsi verbal dengan kata-kata atau kalimat-kalimat, sedangkan secara formal yaitu penulisan dengan tanda dan lambang-lambang. Dari kedua jenis metode tersebut, yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode informal, karena hasil analisis data berisi tentang segala hal dengan menggunakan kata-kata atau kalimat, tidak ada tanda-tanda atau lambang- lambang yang digunakan.

(46)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Data Penelitian

Pada bab ini, penelitian menyajikan dengan cara merangkum dan mengutip bentuk – bentuk klausa yang digunakan pada kolom “ Iklan Mini “ surat kabar Tribun Timur, dan diambil secara berurutan sesuai dengan tanggal terbitan tahun 2016.

Berikut ini penulis menganalisis bentuk-bentuk klausa pada kolom “ Iklan Mini “ surat kabar Tribun Timur. Namun untuk memudahkan dan mendapat hasil yang maksimal dalam penelitian ini diperlukan pokok permasalahan dalam penelitian ini, yaitu bagaima bentuk-bentuk klausa dalam bahasa Indonesia pada kolom “ Iklan Mini “ surat kabar Tribun Timur.

a. Klausa Adjektiva

Menurut Ramlan klausa adjektiva adalah klausa yang unsur predikatnya berupa kata sifat.

Contoh :

a. Orang yang pemarah;

b. Harga saham turun.

b. Klausa Intransitif

Menurut Keraf klausa intransitif adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk kedalam kelompok kata kerja.

Contoh:

a. Siswa-siswa SMA berkompetisi diolimpiade matematika

(47)

b. Presiden sedang berpidato kdi depan calaon PNS.

c. Klausa Aktif

Menurut Widjono klausa aktif adalah klausa yang subjeknya berperan sebagai pelaku atau aktor, atau klausa yang subjeknya melakukan perbuatan atau tindakan.

Contoh:

a. Nami sedang menulis sura

b. Irfan sedang menikmati liburan sekolahnya di Bali.

d. Klausa Pasif

Menurut Kridalaksana klausa pasif adalah klausa yang subjeknya berperan sebagai penderita.

Contoh:

a. Dia tahu benar surat itu saya tulis (kutulis).

b. Mereka tahu sekali surat itu ditulis oleh dia (ditulisnya).

e. Klausa Refleksif

Menurut Ramlan klausa refleksif merupakan klausa yang predikatnya menyatakan suatu perbuatan yang dilakukan oleh sipelaku sendiri.

Contoh:

a. Mereka sedang menenangkan diri

b. Orang itu mencoba memutus urat nadinya.

(48)

f. Klausa Resiprokal

Menurut Ramlan klausa resiprokal adalah klausa yang unsur predikatnya termasuk dalam kata kerja yang menyatakan kesalingan.

Contoh:

a. Kami saling berkirim-kirim surat b. Mereka saling menuduh-nuduh

a. Penanda Hubungan Penambahan Data 1

Kamar berada di lantai teratas dari gedung tertinggi di Tokyo, Jadi sebuah jaminan panorama yang indah ke Imperal Palace (istana kaisar), Reppongi Hills, dan Gunung Fuji. ... (TT, Sabtu, 21 Mei 2016)

Data 1 termasuk bentuk-bentuk klausa adjektiva (jaminan panorama yang indah ke Imperal Palace). Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya penambahan menyatakan kenyataan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran sebuah kamar berada dilantai teratas dari gedung tertinggi di Tokyo, sebuah jaminan panorama yang indah ke Imperal Palace (istana kaisar), Reppongi Hills, dan Gunung Fuji. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase Reppongi Hills dan Gunung Fuji.

Data 2

Klapa breeze memiliki 127 kamar dan 4 vilas. ...(TT, Sabtu 21 Mei 2016).

(49)

Data 2 termasuk bentuk klausa pasif (.Klapa breeze memiliki 127 kamar dan 4 vilas). Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca untuk penawaran candotel dengan klapa breeze memiliki 127 kamar dan 4 vilas. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penamabahan pada frase memiliki 127 kamar dan 4 vila.

Data 3

Selama mengkomsumsi Tangkur Madu selama satu minggu, dirasakan perubahan diantaranya stamina yang meningkat, lebih nyaman tidur dan nafsu makan yang bertambah. (TT, Sabtu 21 Mei 2016)

Data 3 termasuk bentuk klausa refleksif (selama mengkomsumsi Tangkur Madu lebih nyaman tidur dan nafsu makan yang bertambah). Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran Tangkur Madu dirasakan perubahan diantaranya stamina yang meningkat, lebih nyaman tidur dan nafsu makan yang bertambah. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase lebih nyaman tidur dan nafsu makan yang bertambah.

Data 4

Dibuka penerimaan crew maskapai penerbangan posisi staf airlines dan pramugari syarat lulus SMU,SMK, D3 dan S1. (TT, Sabtu 21 Mei 2016)

Data 4 termasuk bentuk klausa pasif (pramugari syarat lulus SMU,SMK, D3 dan S1) . Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan

(50)

karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penerimaan crew maskapai penerbangan posisi staf airines dan pramugari syarat lulus SMA,SMK. D3 dan S1. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase syarat lulus SMU,SMK, D3 dan S1.

Data 5

Apartement VIDA VIEW ( pengembangan Ciputra grup) merupakan perpaduan area residential dan komersil yang memadukan 3 tower apartement, 42 unit shophouse dan 8 unit kios.(TT, Selasa 24 Mei 2016)

Kutipan di atas termasuk bentuk klausa aktif (komersil yang memadukan 3 tower apartement, 42 unit shophouse dan 8 unit kios). Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran apartement perpaduan area residential dan komersil yang memadukan 3 tower apartement, 42 unit shophouse dan 8 unit kios. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase 42 unit shophouse dan 8 unit kios.

Data 6

PT Aplikanusa Lintaserta ( Indosat Grup) adalah perusahaan ICT terkemuka di Indonesia bergerak dalam layanan Information Communications Solutions dibidang komunikasi data, internet dan value added services. Membuka kesempatan bergabung Helpdesk Call Center (kode HD): Menguasai minimal

(51)

dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) secara tertulis dan lisan.(TT, Selasa 24 Mei 2016)

Data 6 termasuk bentuk klausa aktif (ICT terkemuka di Indonesia bergerak dalam layanan Information Communications Solutions). Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran Helpdesk Call Center: menguasai minimal dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) secara tertulis dan lisan. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase secara tertulis dan lisan.

Data 7

Di dalam kamar juga ada area living room dan ruang makan.(TT, Selasa 24 Mei 2016)

Data 7 termasuk bentuk klausa pasif (kamar juga ada area living room).

Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran resor yang terkenal menawarkan kemewahan yang tidak tanggung-tanggung yang di dalam kamar ada area living room dan ruang makan. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase living room dan ruang makan.

(52)

Data 8

Memiliki sumber daya yang sangat berpengalaman, profesional, sabar dan ikhlas dalam melayani jamaah. (TT, Selasa 24 Mei 2016)

Data 8 termasuk bentuk klausa Pasif (sumber daya yang sangat berpengalaman, profesional, sabar dan ikhlas dalam melayani jamaah).

Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran Global Tour Makassar yang memiliki sumber daya yang sangat berpengalaman, profesional, sabar dan ikhlas dalam melayani jamaah. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase sabar dan ikhlas dalam melayani jamaah.

Data 9

Dalam waktu 30 hari (tiga puluh) hari sejak tanggal diumumkannya pengumuman ini, bagi mereka yang merasa keberatan dapat mengajukan keberatan-keberatan kepada kami dengan disertai alasan dan bukti yang kuat.(TT, Rabu 25 Mei 2016)

Data 9 termasuk bentuk klausa Klausa Resiprokal (mereka yang merasa keberatan dapat mengajukan keberatan-keberatan kepada kami dengan disertai alasan dan bukti yang kuat). Kaliamt tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam pengumuman tentang sertifikat hilang diumumkannya pengumuman ini, bagi

(53)

mereka yang merasa keberatan dapat mengajukan keberatan-keberatan kepada kami dengan disertai alasan dan bukti yang kuat. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase disertai alasan dan bukti yang kuat.

Data 10

Menyediakan pengobatan yang aman dan alami, menggunakan kapsul dan salaf untuk mengempiskan benjolan-benjolan, bengkak-bengkak, menghilangkan rasa sakit/nyeri radang, gatal-gatal di dubur/anus serta menghentikan keluar darah pada waktu BAB. (TT, Jumat 27 Mei 2016)

Data 10 termasuk bentuk klausa Adjektiva (menghilangkan rasa sakit/nyeri radang). Kalimat tersebut termasuk penanda hubungan penambahan karena adanya makna penambahan menyatakan penambahan yang ditunjukkan dari penulis kepada pembaca dalam penawaran dalam pengobatan yang menyediakan pengobatan yang aman dan alami, menggunakan kapsul dan salaf untuk mengempiskan benjolan-benjolan, bengkak-bengkak, menghilangkan rasa sakit/nyeri radang, gatal-gatal di dubur/anus serta menghentikan keluar darah pada waktu BAB. Hal itu ditandai dengan penggunaan bentuk penambahan pada frase menggunakan kapsul dan salaf untuk mengempiskan benjolan-benjolan.

Data 11

Dijual cepat tanah, SHM, LT 3.515 M dekat polsek dan kantor camat Moncongloe 10 menit dari BTP. (TT, Jumat 27 Mei 2016)

Referensi

Dokumen terkait